Masuk Islamlah, Untukmu Dua Pahala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk neraka.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahihnya (no. 153) dari gurunya, Yunus bin Abdil ‘A’la. Beliau berkata, “Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami; ‘Amr mengabarkan bahwa Abu Yunus memperoleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Yunus namanya Sulaim bin Jubair. Beliau adalah maula (mantan budak) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Selain perawi di dalam Shahih Muslim, beliau juga perawi di dalam al-Adabul Mufrad karya al-Bukhari rahimahullah, Sunan Abu Dawud, dan Jami at-Tirmidzi. ‘Amr yang dimaksud di dalam sanad ini adalah ‘Amr bin al-Harits bin Ya’qub bin Abdillah al-Anshari, maula Qais, Abu Umayyah. Beliau termasuk dalam jajaran perawi di dalam kutubus sittah. Ibnu Wahb adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Qurasyi, maula Quraisy. Abu Muhammad al-Mishri al-Faqih. Beliau termasuk perawi di dalam kutubus sittah. Yunus bin ‘Abdil ‘A’la bin Maisarah bin Hafs ash-Shadafi. Selain al-Imam Muslim rahimahullah, an-Nasa’i dan Ibnu Majah rahimahumallah juga menyebutkan beliau sebagai perawi di dalam Sunan.

Kedudukan Hadits di dalam Islam

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah memberikan penjelasan mengenai hadits di atas yang diriwayatkan melalui jalur lain (Ibnu Mandah, 1/44), “Hadits ini begitu jelasnya menerangkan; siapa pun orangnya, ia mendengar tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa, sampai kepadanya sesuai dengan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, neraka adalah tempat kembalinya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara Yahudi, Nasrani, Majusi, atau pemeluk agama lain. Saya yakin, andai saja ada kesempatan bagi orang-orang kafir untuk menelaah prinsip pokok, akidah, dan ibadah yang diajarkan oleh Islam, niscaya banyak di antara mereka yang bergegas memeluk Islam dengan berbondong-bondong.

Hal ini sebagaimana yang telah terjadi di awal sejarah Islam. Duhai indah rasanya, jika negaranegara Islam mau mengirimkan juru dakwah yang menyerukan Islam ke negara-negara Barat. Yang dimaksud ialah juru dakwah yang benar-benar mengerti tentang hakikat Islam dan hal-hal lain yang dianggap sebagai bagian dari Islam (padahal bukan), seperti berbagai khurafat, bidah, dan kedustaan. Hal ini tentu sangat baik jika disampaikan kepada madu. Agenda semacam ini membutuhkan seorang juru dakwah yang menguasai ilmu al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan beberapa bahasa asing secara baik. Hal ini adalah sesuatu yang cukup sulit, hampir-hampir tidak dapat dipenuhi. Jadi, cita-cita ini memang menuntut banyak persiapan yang berat. Mudahmudahan mereka mau melakukannya.” (ash-Shahihah, 1/241) Benar sekali harapan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan sebuah atsar, “Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjuk Ibnu Abbas c sebagai pengganti untuk Amirul Haj pada musim haji. Saat itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkesempatan untuk menyampaikan khutbah. Di dalam khutbah tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat al-Baqarah (dalam riwayat lain, surat an-Nur) lalu menafsirkannya dengan seindahindahnya. Andai saja tafsir itu didengar oleh orang-orang Romawi, Turki, dan Dailam (sebuah kota di wilayah Persia, dekat Laut Kaspia), pasti mereka masuk Islam.” (Tafsir ath-Thabari [1/81], al- Fasawi dalam Tarikh [1/495])

Mereka Pun Masuk Islam

Demikianlah, sejarah telah mencatat dengan apik dan indah tentang kisah masuk islamnya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Yakni, mereka yang memperoleh hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, di dalam Taurat dan Injil yang asli, terdapat ayat-ayat yang memberitakan tentang kedatangan nabi terakhir, nabi penutup. Ciri-ciri tentang nabi tersebut disebutkan secara lengkap di dalam Taurat dan Injil. Begitu lengkapnya, sampai Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan tentang pengetahuan mereka sebagaimana mereka mengenal anak kandungnya sendiri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (al-Baqarah: 146)

Di dalam kisah perjalanan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu untuk menjemput hidayah, pendeta Nasrani terakhir yang diangkat Salman sebagai guru juga berpesan dalam wasiatnya,

أَيْ بُنَيَّ، وَاللهِ مَا أَعْلَمُهُ أَصْبَحَ عَلَى مَا كُنَّا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَكِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكَ زَمَانُ نَبِيٍّ هُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ مُهَاجِرًا إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَخْلٌ، بِهِ عَلَامَاتٌ لَا تَخْفَى يَأْكُلُ الْهَدِيَّةَ وَلَا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ، بَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَلْحَقَ بِتِلْكَ الْبِلَادِ فَافْعَلْ

Wahai anakku, demi Allah, tidak ada lagi satu orang pun tersisa yang melaksanakan ajaran Nasrani secara murni sehingga aku bisa menyuruhmu ke sana. Akan tetapi, telah dekat denganmu diutusnya seorang nabi yang membawa ajaran seperti ajaran Ibrahim. Nabi tersebut akan muncul dari tanah Arab. Ia akan berhijrah menuju sebuah negeri yang terletak di antara dua gugusan gunung yang dipenuhi dengan kebun-kebun kurma. Nabi tersebut memiliki ciri-ciri yang tidak tersembunyi; mau memakan hadiah, tidak memakan sedekah, dan ada cap kenabian di antara dua pundaknya. Jika engkau mampu untuk berangkat menuju negeri tersebut, lakukanlah! (HR. Ahmad [5/441—444])

Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi n. Dahulu, beliau termasuk pendeta dan ahli agama di kalangan Yahudi yang sangat dihormati dan disegani. Pada saat Rasulullah tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu sangat berbahagia. Sebab, kedatangan nabi terakhir itu telah diberitakan di dalam Taurat. Namun, untuk memastikannya, Abdullah bin Salam terlebih dahulu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Sebab, hanya benar-benar seorang nabi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya (no. 3082) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baru tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu segera datang menemui. Ia menyampaikan,

إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ: مَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ، وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ إِلَى أَخْوَالِهِ؟

Sungguh, aku ingin bertanya kepadamu tentang tiga hal. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali nabi saja. Apakah tanda pertama hari kiamat, apakah makanan pertama yang disantap penduduk surga, dan bagaimanakah proses kemiripan seorang anak kepada ayahnya atau keluarga ibunya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Setelah selesai menjawab, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu lantas mengucapkan kalimat syahadat. Subhanallah! Demikianlah keimanan yang dibangun di atas fondasi kejujuran. Tidak ada gengsi dan tidak mengenal malu atau takut.

Keimanan Musa dan Isa e kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Seluruh nabi dan rasul diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk membela, menolong, dan membenarkan syariat yang diemban oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah mengambil sumpah dan perjanjian dari seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab, Kami mengakui. Allah berfirman, Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. (Ali Imran: 81)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menerangkan di dalam Tafsir-nya, “Dengan demikian, telah diketahui bahwa Muhammad n adalah penutup para nabi. Seandainya seluruh nabi bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka diwajibkan untuk beriman kepada beliau, mengikuti, dan membelanya. Jadi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah imam, pemimpin, dan panutan mereka.”  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah marah saat melihat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu membawa selembar kertas Taurat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفِيْ شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِnبِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ

Apakah engkau sedang mengalami keraguan, wahai putra al-Khaththab? Bukankah yang aku bawa adalah ajaran yang putih bersih? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, tentu ia tidak diperkenankan kecuali memang harus mengikutiku! ( HR. Ahmad [3/387] dengan sanad yang hasan, Irwaul Ghalil no. 1589)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat sebuah judul di dalam Shahih Muslim bab “Turunnya Isa bin Maryam dengan Berhukum Berdasarkan Syariat Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam”. Setelah itu, al-Imam Muslim rahimahullah menyebutkan beberapa hadits tentang hal-hal yang akan dilakukan oleh Nabi Isa ‘Alaihisslam di akhir zaman. Di antaranya, mematahkan salib, membunuh anjing, menghapuskan jizyah, dan bentuk-bentuk keadilan lainnya. Bahkan, sebagai bukti keutuhan janji Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihisslam kepada Allah Subhanahu wata’ala, saat shalat akan ditegakkan, pemimpin kaum muslimin meminta kepada Nabi Isa ‘Alaihisslam untuk menjadi imam. Namun, beliau menolak dan meminta agar dari mereka saja yang menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Bagaimanakah keadaan kalian, ketika Ibnu Maryam turun sementara imam shalat berasal dari kalian? (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dua Pahala Untuk Mereka

Sungguh demi Allah Subhanahu wata’ala, Islam sangat menghargai dan memberikan apresiasi tinggi kepada seorang pemeluk agama ahli kitab yang kemudian beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memeluk Islam. Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan dua pahala untuknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ؛ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ فَآمَنَ بِهِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

Ada tiga jenis hamba yang akan diberi dua pahala: (1) Seorang pemeluk ahli kitab, ia beriman kepada nabinya lalu menemui Nabi Muhammad dan beriman kepada beliau, mengikuti dan membenarkannya, maka ia beroleh dua pahala; (2) Seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah Subhanahu wata’ala dan majikannya, ia pun beroleh dua pahala; (3) Seorang hamba yang memiliki budak perempuan, ia memberikan makanan dengan baik dan mendidiknya dengan adab yang baik setelah itu ia nikahi, orang seperti ini pun mendapat dua pahala.

Lebih Mahal Daripada Unta Merah

Pembahasan di atas dapat disimpulkan menjadi beberapa poin besar:

1. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wata’alauntuk umat manusia. Karena tu, setelah datangnya Islam, agama-agama samawi sebelumnya pun otomatis terhapus dan gugur.

2. Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.

3. Seluruh nabi dan rasul diharuskan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beriman, mengikuti dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Setiap pemeluk ahli kitab yang beriman dan masuk Islam, maka ia akan beroleh pahala sebanyak dua kali.

5. Keutamaan mendakwahi pemeluk ahli kitab dan pemeluk agama lainnya. Namun, untuk mendakwahi mereka diperlukan bekal yang cukup dan matang dari segala segi dan sisi. Adapun metode, cara, dan bekal untuk mendakwahi mereka telah dijelaskan ulama secara lengkap. Oleh sebab itu, marilah kita bersungguh-sungguh mempelajari agama Islam dengan baik dan berusaha

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, kita dapat mendakwahkannya kepada orang lain. Ingat-ingatlah selalu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, lebih baik untukmu dibandingkan unta merah. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Mengapa Mereka Ragukan Keindahan Islam?

Islam seluruhnya indah. Akidahnya adalah akidah yang paling benar, paling lurus, dan menyucikan jiwa. Adab adab yang diajarkannya paling terpuji. Demikian pula amalan-amalan dan  hukum-hukumnya adalah amalan dan hukum yang paling baik dan paling adil. Islam adalah agama kebahagiaan, ketenteraman, serta kemenangan di dunia dan akhirat.

Islam tidak membiarkan manusia dalam kesendiriannya, atau bersama keluarga, sanak saudara, tetangga, atau bersama saudara-saudara seagamanya, bahkan bersama manusia lainnya, tetapi Islam mengajarkan adab-adabnya secara rinci, serta menunjukkan cara-cara bergaul yang membuat kehidupannya damai dan penuh kebahagiaan.

Ketika seseorang mau menatap dan mentadabburi mahasin (keindahan) Islam, sungguh Allah subhanahu wata’ala akan meresapkan keimanan dan kelezatan iman ke dalam kalbunya. Allah subhanahu wata’alaberfirman,

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, menjadikan iman itu indah dalam kalbumu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (al-Hujurat: 7)

Keindahan yang Tidak Terlukiskan Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata, “Jika Anda perhatikan hikmah yang sangat agung pada agama yang lurus, syariat yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan segala kesempurnaannya, niscaya keindahan syariat ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tidak kuasa untuk disifatkan, serta tidak dapat digambarkan oleh orang-orang yang akalnya cemerlang sekalipun. Mereka tidak bisa melakukannya meskipun mereka berkumpul untuk memikirkannya, meskipun mereka semua memiliki akal yang paling sempurna—menurut ukuran akal yang paling cemerlang untuk mengenali keindahan Islam dan menyaksikan keutamaannya.

Sungguh, di alam semesta ini tidak pernah ada syariat yang lebih sempurna, lebih mulia, dan lebih agung darinya. Syariat Islam itu sendirilah yang menjadi saksi dan yang disaksikan, menjadi hujah dan yang didukung oleh hujah, tentang keagungan dan keindahannya. Bahkan seandainya Rasul tidak datang membawa bukti keterangan niscaya sudah cukup syariat ini menjadi bukti dan saksi bahwa ia diturunkan dari sisi Allah subhanahu wata’ala.” ( Miftah Dar as-Sa’adah)

Syariat Islam sangat agung dan penuh keindahan. Cahaya keindahannya telah menyinari semesta dan setiap orang mampu menatapnya. Akan tetapi, bersama dengan terangnya cahaya kebenaran tersebut, tetap saja kebanyakan manusia lebih suka memilih jalan-jalan setan.

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk ( memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (al-Baqarah: 256)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ajaran Islam mencapai puncak-puncak keindahan, kesempurnaan, dan keadilan karena yang mensyariatkan adalah Allah subhanahu wata’ala, Dzat yang Mahaindah, Mahasempurna, dan Maha adil. Untuk memeluk agama Islam yang penuh dengan keindahan inilah, seluruh manusia diseru agar tunduk berserah diri beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Ilah (sesembahan) kalian semua ialah Ilah Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh ( kepada Alah).” (al-Hajj: 34)

Sebenarnya Mereka Tahu

Musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala sebenarnya sadar bahwa Islam adalah agama yang mulia, agama yang penuh dengan keindahan. Bahkan, kekaguman itu terucap dari lisan sebagian mereka atau telah masuk dalam relung hati mereka. Akan tetapi, kedengkian dan hasad menghalangi mereka dari hidayah. Kejahilan dan hawa nafsu membuatnhati mereka terbalik, seperti kekufuran Fir’aun dan kaumnya.

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ آيَاتُنَا مُبْصِرَةً قَالُوا هَٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ () وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

“Tatkala mukjizat-mukjizat Kami yang jelas itu sampai kepada mereka, berkatalah mereka‘Ini adalah sihir yang nyata.’ Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)-nya. Maka dari itu, perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (an-Naml: 13—14)

Demikian pula ahlul kitab yang di atas ilmu. Mereka berpaling dari hidayah dalam keadaan mengenal kebenaran Islam dan Nabi Muhammad, serta lebih memilih jahannam. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mengenal anak-anak mereka sendiri. Sungguh, sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 146)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang ahlul kitab,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِّنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَٰؤُلَاءِ أَهْدَىٰ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا

“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 51)

Ayat ini turun berkenaan dengan dua tokoh ahlul kitab, Huyai bin Akhthab dan Ka’b al-Asyraf. Keduanya mengerti betul kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya juga sangat yakin akan kebenaran Islam.

Namun, ketika musyrikin Makkah bertanya kepada keduanya saat datang ke Makkah, “Kalian adalah ahlul kitab. Kabarkanlah kepada kami siapa yang lebih mendapat petunjuk, kami atau Muhammad dan pengikutnya?” Keduanya menjawab dengan jawaban yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam ayat di atas, “Kalian (musyrikin Makkah) lebih baik dan lebih lurus jalannya daripada Muhammad dan sahabatnya.”

Demikian pula munafikin, mereka tahu kebenaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keindahan Islam, namun kebencian dan hasad membutakan hati mereka. Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. sekawanan munafikin mengolok-olok beliau dan para sahabat, menjadikan beliau sebagai bahan ejekan dan senda gurau. Ketika Perang Tabuk, di antara mereka memberikan komentar tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dengan ucapan kekafiran,

“Belum pernah kita melihat semisal mereka para pembaca al-Qur’an (yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat), yang paling rakus makannya, paling dusta ucapannya, dan paling penakut kala berhadapan dengan musuh.”

Allahu Akbar, sungguh mereka telah mengucapkan sebuah perkataan yang bertolak belakang dengan yang mereka ketahui. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah orang yang rakus atau banyak makan, sebaliknya beliau bersabar dengan kelaparan yang beliau derita. Beliau pernah mengganjal perut dengan bebatuan. Beliau bukan pula pendusta, bahkan manusia menjulukinya sebagai al-Amin sebelum kerasulan beliau.

Tidak sekalipun beliau berdusta. Demikian pula dalam perang, tidak ada seorang pun yang lebih pemberani daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semua tuduhan munafikin dan orang kafir kepada Islam dan Nabi Islam adalah dusta. Sepanjang sejarah, iblis dan bala tentaranya berusaha memalingkan manusia dari Islam dengan menyematkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Islam.

Padahal Islam diliputi dengan keindahan. Enam tahun silam misalnya, sebagian orang menyebarkan gambar karikatur Nabi bersorbankan rudal, menggambarkan kekejaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan syariat Islam yang beliau bawa. Padahal semua tahu, sejarah manusia menyaksikan, dunia pun menjadi saksi bisu bahwa orang-orang kafirlah yang justru telahmembuat kerusakan di muka bumi.

Merekalah yang telah menumpahkan darah-darah manusia. Merekalah yang menebarkan kekejaman dan kekejian. Terkait kejadian ini, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Media massa, baik surat kabar maupun yang lainnya, telah menyebarkan berita-berita menyedihkan dan melukai (umat), yang bersumber dari musuhmusuh Islam yang dengki dan terputus dari kebaikan, yang menyudutkan agama dan nabi Islam. (Di antaranya) perbuatan yang mengandung celaan terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjelek-jelekkan risalahnya, baik yang muncul dari individu maupun organisasi Nasrani yang menyimpan kedengkian.

Juga dari sebagian penulis yang dengki dan orang yang tidak peduli, seperti para karikaturis sebuah surat kabar Denmark, Jylland Posten, yang menghina sebaik-baik manusia dan rasul paling sempurna, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Padahal, bumi tidak pernah mengetahui ada orang yang lebih cerdas dan lebih mulia daripada beliau dalam hal akhlak, keadilan, dan kasih sayang. Tidak pernah diketahui ada satu risalah pun yang lebih sempurna, lebih menyeluruh, lebih adil, dan lebih kasih sayang daripada risalah beliau.

Risalah ini mengandung keimanan terhadap seluruh nabi dan rasul, menghormati mereka dan menjaga mereka dari tikaman dan penghinaan, serta menjaga sejarah mereka. Di antara para rasul tersebut adalah ‘Isa dan Musa ‘alaihisslam. Barang siapa kafir terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menghinanya, berarti dia telah kafir terhadap para rasul dan menghina mereka semuanya.

Sungguh, orang-orang rendahan dan buas itu telah mengolok-olok beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka telah membuat beragam karikatur, berjumlah dua belas karikatur yang sangat menghina. Salah satunya menampilkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengenakan sorban yang menyerupai bom di atas kepalanya.”

Pembaca, demikianlah musuh-musuh Islam mengolok-olok dan menuduh Islam sebagai agama kejam, keji, dan agama yang menyebarkan teror. Tidak tanggungtanggung, mereka merobek kehormatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia, padahal sesungguhnya mereka mengetahui kemuliaan Islam dan kebobrokan diri mereka sendiri….

Asy-Syaikh Rabi’ berkata selanjutnya, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para khalifahnya yang terbimbing, dan para sahabatnya yang mulia, tidak pernah membuat pabrik-pabrik senjata, meski persenjataan kuno sekalipun, baik pedang maupun tombak, lebih-lebih bom atom dan rudal antarbenua, serta semua jenis senjata pemusnah massal. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membuat satu pun pabrik senjata karena beliau diutus sebagai rahmat bagi alam semesta….

Adapun kalian, wahai orangorang Barat yang sok mengaku modern, kami nyatakan kepada kalian bahwa sesungguhnya kalian memiliki aturan dan perundang-undangan yang menghancurkan akhlak dan membolehkan berbagai perkara yang haram. Di antaranya adalah zina dan penyimpangan seksual. Di antaranya juga adalah riba yang menghancurkan ekonomi umat. Kalian menghalalkan bangkai dan daging babi yang mengakibatkan sifat dayyuts sehingga seorang laki-laki tidak merasa cemburu terhadap istrinya, saudara wanitanya, dan anak perempuannya. Kemudian wanita-wanita itu berzina dan mencari pasangan kumpul kebo semaunya. Ini adalah sarana-sarana penghancur yang diharamkan oleh risalah semua rasul.

Adapun bom dan seluruh senjata pemusnah serta sarana-sarananya, baik  pesawat tempur, tank, maupun rudal jelajah, sesungguhnya kalianlah para insinyur dan produsennya. Semua itu dengan akal setan kalian yang tidak berpikir selain demi permusuhan, kezaliman, kekerasan, melampaui batas, ketamakan menguasai seluruh jenis manusia serta memperbudak mereka, menumpahkan darah dan merampok kekayaan mereka… Semua itu dipoles dengan nama kemajuan, membela hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan….”1

Wahai orang-orang yang tertipu, siapakah yang berbuat kerusakan di muka bumi? Para nabi dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mereka para kafir durjana?

Faedah Mempelajari Keindahan Islam

Di tengah-tengah badai fitnah dan perang pemikiran, serta semakin jauhnya sebagian kaum muslimin dari mengenal keindahan agamanya, pembahasan mengenai mahasin dinul Islam menjadi perkara yang sangat penting karena:

1. Mentadabburi dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah tentang keindahan Islam termasuk amalan yang termulia. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

2. Mempelajari dan mentadabburi keindahan Islam adalah salah satu bentuk syukur terhadap nikmat Islam yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Rabbmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (adh-Dhuha: 11)

3. Merenungkan keindahan Islam dan kesempurnaan syariat Allah subhanahu wata’ala adalah salah satu sebab bertambahnya keimanan, hingga ia merasakan kelezatan iman. Semakin kuat perhatian seorang muslim terhadap keindahan agama ini, semakin kokoh tapak kakinya dalam mengenal agama ini, mengenal keindahan dan kesempurnaannya, serta keburukan apa pun yang menyelisihinya. Ia pun menjadi orang yang kuat keimanannya.

Barang siapa mengenal Islam di atas ilmu, dia akan ridha Allah subhanahu wata’ala sebagai Rabbnya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabinya, dan Islam sebagai agamanya, serta tidak pernah terbetik dalam kalbunya untuk mencari ganti selain Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tiga sifat yang jika itu ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: (Pertama) Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya (Kedua) ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah Subhanahu wata’ala (Ketiga) ia membenci untuk kembali kepada kekafira setelah Allah menyelamatkannya darinya  sebagaimana ia benci untuk dilempar dalam api.”

4. Mempelajari dan menyebarkan mahasin Islam termasuk sebesar-besar dakwah kepada orang kafir untuk masuk ke dalam agama Islam.

5. Mempelajari dan menyebarkan mahasin Islam termasuk sebesar-besar dakwah (ajakan) kepada kaum muslimin untuk lebih bertamassuk (berpegang teguh) dengan Islam.

6. Pembahasan mahasinul Islam juga sebagai bantahan bagi musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala yang selalu memutarbalikkan fakta, dan menyematkan tuduhan-tuduhan keji terhadap Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demi Allah, pembahasan mahasinul Islam, seperti diungkapkan oleh Ibnul Qayyim rahimahumullah, tidak mungkin kita ibaratkan dengan kata-kata. Seandainya seluruh orang cerdas mendiskusikannya tidaklah mungkin mereka mampu menunaikan hak-haknya.

Apa yang kita lakukan hanyalah upaya kecil untuk menyadarkan diri kita dari kelalaian, dan usaha untuk mensyukuri nikmat Islam yang Allah Subhanahuwata’ala anugerahkan kepada kita. Di samping itu, kita berusaha memberikan peringatan kepada musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala yang berupaya mengolok-olok Islam bahwa makar busuk mereka tidak pernah akan berhasil.

Sebab, Allah Subhanahu wata’ala lah yang menyempurnakan cahaya agama-Nya, kemudian di hadapan mereka sungguh ada azab yang pedih.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaff: 8)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.