Siapakah yang Berhak Mentahdzir?

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata tatkala menjelaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa agama itu nasihat, “Di antara bentuk nasihat karena Allah ‘azza wa jalla, kitab-Nya, dan Rasul-Nya (dan ini adalah kekhususan para ulama) ialah membantah hawa nafsu yang menyesatkan, dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menjelaskan kandungan keduanya yang menyelisihi seluruh hawa nafsu. Lanjutkan membaca Siapakah yang Berhak Mentahdzir?

‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah[1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ وَخَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ.

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.

Lanjutkan membaca ‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal dengan perbuatannya itu.” (al-Hujurat: 6)

  Lanjutkan membaca Al-Qur’an Berbicara Tentang Al-Jarh dan At-Ta’dil

Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Sebagai sebuah prinsip yang agung, al-jarh wat-ta’dil tentu tidak dibangun di atas hasil pemikiran seseorang atau bahkan anggapan baik seseorang. Namun ia dibangun di atas fondasi yang kuat, yang tidak mungkin dirobohkan oleh siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang telah meletakkan fondasi tersebut di dalam Al-Qur’an, menjelaskan kepada manusia tentang prinsip memuji dan mencela ini, demi sebuah kemaslahatan yang besar yaitu selamatnya umat manusia di dunia dan akhirat.

Lanjutkan membaca Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Ketika Nasehat Dianggap Celaan

Menerangkan penyimpangan seseorang agar umat tidak ikut terjatuh dalam penyimpangan yang dilakukannya adalah termasuk amar ma’ruf nahi munkar yang besar. al-Imam Ahmad rahimahullah bahkan menganggapnya lebih afdal (lebih utama) dibanding puasa atau shalat (sunnah). Namun bagi orang-orang yang tidak memahami permasalahan ini, mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai kezaliman, bahkan ghibah. Bagaimana duduk permasalahan yang sebenarnya?

Lanjutkan membaca Ketika Nasehat Dianggap Celaan

Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Upaya Menjaga Kemurnian Syariat

Al-jarh wat-ta’dil adalah sebuah metode yang dipakai para ulama Ahlus Sunnah untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Pada intinya, ia berisi pujian terhadap segala yang bersesuaian dengan al-Qur’an dan as-Sunnah serta celaan terhadap segala yang berlawanan dengan keduanya. Prinsip ini telah menjadi pedang Ahlus Sunnah bagi segenap ahlul bid’ah yang ingin melakukan perusakan terhadap agama. Tak heran banyak pengikut hawa nafsu mencoba meruntuhkan prinsip ini agar kebid’ahan mereka bisa dianggap sebagai agama. Namun sampai hari kiamat, mereka tak akan pernah mampu melakukannya.

Lanjutkan membaca Al-Jarh Wa At-Ta’dil, Upaya Menjaga Kemurnian Syariat

Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Sikap kritis tampaknya memang tidak mudah dibudayakan di tengah masyarakat yang tenggelam dalam kultus individu dan fanatisme golongan. Yang muncul justru sikap kritis yang kebablasan: kebenaran yang telah pasti justru diotak-atik, sementara yang nyata-nyata menyimpang justru dibiarkan tanpa dikritisi dengan dalih ukhuwah Islam ataupun demi persatuan umat. Lanjutkan membaca Kritik terhadap Kebatilan dan Para Perilakunya, Prinsip Islam yang Kian Ditinggalkan

Al-Jarh wa At-Ta’dil

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

“Konon”, “kabarnya”, “menurut sumber terpercaya”, “berdasarkan informasi yang masuk ke redaksi” adalah istilah-istilah yang jamak dipakai oleh media penyebar informasi kita saat ini. Di sini, kita tentu tak hendak mengulas itu semua dari perspektif kelayakan bahasa. Namun kita hendak menunjukkan betapa berita, kabar, atau apapun yang bersifat informatif yang beredar di masyarakat kita, sesungguhnya memiliki akurasi yang diragukan.

Selama ini, media banyak dicitrakan sebagai pengontrol kebijakan pemerintah, agen perubahan, penyambung lidah masyarakat, dan sebagainya.  Namun kita sering lupa, bahwa yang namanya media sulit untuk bisa bersikap objektif dan independen. Media yang anti pemerintah atau TNI/Polri misalnya, di balik ‘keindahan’ redaksionalnya, tentu akan menebar amunisi –sekecil apapun– untuk menyerang ‘musuh’-nya. Demikian juga media yang ditunggangi (kepentingan) sekelompok LSM, dipastikan bakal mendewakan penggiatnya sebagai sosok yang bersih dan tanpa cela.

Berbeda dengan Islam. Sebagai agama ilmiah, Islam –bukan oknum pemeluknya– mengedepankan sikap kehati-hatian yang tinggi dalam menyebarkan informasi kepada umatnya. Hadits, atsar shahabat, perkataan ulama, tarikh (sejarah) dan sebagainya, semuanya merupakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kepada publik. Sehingga dalam Islam tidak dikenal istilah “legenda rakyat” atau “cerita mitos”, karena Islam memang bukan rekaan atau karya sastra.

Namun demikian bukan berarti Islam menihilkan perbedaan. Perbedaan dalam mengukur kesahihan informasi memang terkadang muncul tanpa bisa dielakkan. Tapi perbedaan yang ditolerir Islam di sini adalah perbedaan yang dilatari dalil-dalil ilmiah. Bukan dalil yang dibangun di atas fanatisme madzhab atau golongan. Bukan pula pembenaran yang dibangun di atas logika yang dangkal.
Nah, al-jarh wat ta’dil adalah bagian dari proses keilmiahan Islam ini. Dengan metode ini, kesahihan informasi didasarkan atas integritas dan kapabilitas penyampainya. Bukan laiknya media agitator di mana mata rantai informasinya berdasarkan katanya dan katanya. Siapa sesungguhnya pembawa informasi tidak begitu menjadi soal. Yang penting bombastis, layak jual, syukur-syukur bisa melahirkan polemik.

Selain sebagai dasar ilmu hadits, al-jarh wat ta’dil juga diterapkan sebagai benteng bagi tersebarnya pemikiran atau isme-isme menyimpang yang banyak dikumandangkan sejumlah ‘intelektual’ Islam, orientalis, para ‘penjaja’ dan pengekor ideologi Barat. Lebih jauh tentang apa dan bagaimana al-jarh wat ta’dil ini dapat anda simak dalam Kajian Utama.

Lembar Sakinah, masih menghadirkan kajian-kajian menarik seputar kewanitaan dan keluarga. Di rubrik Mengayuh Biduk, giliran “khidmat” menjadi tema ulasan. Sikap khidmat (bakti) istri kepada suami, secara teori, sepertinya memang bukan hal yang sulit dilakukan oleh seorang istri. Namun prakteknya justru jauh panggang dari api. Banyak kita jumpai fenomena rumah tangga di mana istri cenderung bermalas-malasan dan menyerahkan segalanya kepada pembantu. Padahal bagi suami, nilai ketulusan istri, meski itu hanya menyajikan secangkir teh setiap pagi bisa menjadi penyemai cinta suami kepada sang istri. Repotnya, jika sang suamilah yang selama ini justru melakukan rutinitas rumah tangga setelah seharian lelah bekerja. Sementara sang istri justru asyik ngrumpi di rumah tetangga. Bahkan, bagi yang sibuk meniti karir, sekedar berbincang dengan suami hanya bisa dilakukan saat sarapan dan akhir pekan.

Lanjutan dari edisi sebelumnya, Wanita dalam Sorotan kali ini masih mengulas hukum berhijab. Kali ini yang diulas adalah Hukum Berhijab di hadapan Pria Banci atau lazim disebut waria. Detilnya, pembaca dapat menyimaknya di halaman 68.

Nah pembaca, langsung saja anda buka majalah kesayangan anda ini, simak kajian menarik dan temukan lautan ilmu di dalamnya, karena ilmu adalah ciri khas kami!

والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته