Meraih Kemuliaan dengan Al-Qur’an

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Al_Quran

Pembaca yang budiman, ketahuilah Allah ‘azza wa jalla telah menjamin jika seorang berpegang dengan al-Qur’an, dia tidak akan tersesat di dunia dan akhirat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apabila datang petunjuk dari-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tak akan tersesat dan tak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengikuti apa yang ada padanya, tak akan tersesat di dunia dan tak akan celaka di akhirat.” (Tafsir at-Thabari)

Adapun orang yang berpaling darinya akan mendapatkan kehidupan yang sempit,

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku (dari al-Qur’an), maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kami akan kumpulkan dia pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” (Thaha:124)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan mengangkat derajat satu kaum dengan al-Qur’an dan merendahkan sebagian kaum dengannya.” (HR. Muslim)

Dengan ini kita tahu bahwasanya al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan jika seorang muslim senantiasa berpegang teguh dengannya dan beramal dengannya. Namun, jika seorang berpaling dari al-Qur’an, dia terancam dengan kehinaan dan kecelakaan. Lebih-lebih lagi jika melakukan hal-hal yang justru bertentangan dengan al-Qur’anul Karim.

 

Sebelas Perkara yang Menyelisihi Tuntunan al-Qur’an

Pembaca yang budiman, dalam tulisan ini penulis ingin menyebutkan beberapa perbuatan sebagian muslimin yang jauh bahkan bertentangan dengan tuntunan al-Qur’an.

Perkara-perkara ini terjadi ketika seorang muslim tidak mempelajari al-Qur’an sebagaimana mestinya dan tidak mengamalkan al-Qur’an sebagaimana amalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.

Hal ini kita paparkan untuk kita bisa menjauhi dan meninggalkannya, sebagaimana sahabat yang mulia Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun aku bertanya kepada beliau tentang kejelekan khawatir akan mengenai diriku.”

Di antara perkara yang harus kita jauhi adalah:

  1. Mengingkari keyakinan al-Qur’an kalamullah

 Telah kita singgung dalam edisi sebelumnya[1] bahwa akidah kita Ahlus Sunnah adalah meyakini al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Kemudian muncullah bid’ah jahmiyah yang menyuarakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Bahkan, pada masa al-Imam Ahmad hidup, penguasa ketika itu memaksakan kepada rakyatnya untuk menyatakan demikian.

Bid’ah Mu’tazilah ini terus bergulir di zaman kita ini seiring menyebarnya tokoh-tokoh mereka. Demikian juga di Indonesia, sebagai contoh tokoh-tokoh JIL terus menyerukan dan mempropagandakan pemikiran Mu’tazilah tersebut.[2]

 

  1. Istihza’ (memperolok) ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla

Al-Qur’an adalah kalamullah yang harus diagungkan. Melecehkan dan memperolok al-Qur’an adalah satu bentuk kekufuran. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (wahai Muhamad), “Apakah kepada Allah, kepada ayat-ayat dan rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada uzur bagi kalian. Kalian telah kafir setelah keimanan kalian.” (at-Taubah: 66—65)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mengolok-olok Allah ‘azza wa jalla, ayat, dan Rasul-Nya adalah kekufuran yang mengeluarkan dari Islam.…” (Tafsir as-Sa’di)

Di antara bentuk istihza’ kepada al-Qur’an,

  1. Menyebut satu ayat tertentu untuk bahan tertawaan atau membuat tertawa orang lain,
  2. Membawakan ayat Allah k dalam lagu-lagu dan semisalnya.
  3. Menggantungkan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla sebagai hiasan termasuk bentuk istihza’ (Liqa’ Bab al-Maftuh).

Di antara bentuk istihza adalah apa yang dilakukan Muhammad al-‘Arifi ketika dia mengucapkan beberapa kalimat kemudian dengan lancang dia sebut sebagai surat tuffah (apel). Alhamdulillah, ucapan kufurnya tersebut telah dibantah oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.

 

  1. Tabarruk dengan al-Qur’an

Al-Qur’anul Karim diturunkan untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan apa yang terkandung padanya; bukan untuk dicari berkah dengan lembaran kertas mushafnya.

Di antara kesalahan sebagian kaum muslimin adalah mencari berkah dengan lembaran-lembaran mushaf semata seperti:

  1. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah air untuk mencari berkah dengan meminum airnya.
  2. Mencelupkan beberapa lembaran mushaf ke dalam wadah berisi air kemudian meminum airnya supaya bisa hafal al-Qur’an.

Di sebagian daerah Jawa Barat terdapat hari “Rebo wekasan” yang biasa dilakukan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar. Mereka melakukan acara pada hari tersebut dengan mengaji meletakkan lembaran-lembaran ayat Kursi di wadah yang telah berisi air. Kemudian mereka membagikan air ini dengan keyakinan bisa menolak penyakit yang menyebar pada waktu tersebut.

Cara mencari berkah al-Qur’an yang benar dari Allah ialah dengan membacanya dan mengamalkannya.

  1. Menjadikan al-Qur’an sebagai tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan atau dipakaikan seseorang pada tubuhnya, anaknya, hewan tunggangannya, atau rumahnya dengan keyakinan untuk menolak bala. Rasulullah berkata, “Sesungguhnya ruqyah[3], tamimah[4], dan thiyarah[5] adalah perbuatan syirik.” (HR. Abu Dawud, sahih)

Apakah boleh membuat tamimah dari al-Qur’an?

Inilah pembahasan kita. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh telah menjawab bahwa tidak bolehnya membuat tamimah dari al-Qur’an dengan tiga alasan,

  1. Keumuman larangan menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil khusus yang membolehkan.
  2. Dalam rangka menutup pintu kesyirikan.
  3. Jika dibolehkan tamimah dari al-Qur’an, tentu akan mengantarkan kepada perbuatan menghinakan al-Qur’an. (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid)

Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi rahimahullah menyampaikan bahwa tamimah yang terbuat dari al-Qur’an adalah bid’ah. (al-Qaulul Mufid fi Adilati at-Tauhid)

 

  1. Tathayur dengan al-Qur’an

Sebagaimana telah dibahas dalam edisi-edisi sebelumnya, tathayur adalah satu perbuatan syirik yang harus dijauhi oleh seorang muslim.

Sangat disayangkan, karena jauhnya sebagian muslimin hingga mereka mencari sebab kebaikan dengan cara apa pun. Salah satu yang mereka lakukan adalah bertatahyur dengan mushaf al-Qur’an. Di antara bentuk tathayur yang mereka lakukan adalah saat membuka lembaran mushaf dan terbuka ayat tentang surga, maka mereka menganggap ini tanda kebaikan. Namun, bila yang terbuka tentang neraka, maka ini adalah tanda kejelekan

 

  1. Mentahrif al-Qur’an

Di antara perkara yang dilakukan ahlul batil adalah men-tahrif kitabullah; yakni menyelewengkan makna ayat dari makna yang sebenarnya. Tahrif ada dua; tahrif lafdzi dan tahrif maknawi.

Tahrif lafdzi adalah mengubah makna ayat dari makna yang benar kepada makna yang batil disertai mengubah lafadznya. Sebagai contohnya adalah tahrif yang dilakukan pada ayat Allah ‘azza wa jalla,

“Ar-Rahman berada di atas arsy.” (Thaha: 5)

Inilah makna yang haq dari ayat ini. Muncullah ahlul ahwa memaknakan ayat ini dengan mengartikannya ‘menguasai Arsy’.

Ini adalah tahrif yang batil, menyelewengkan makna ayat dari makna sebenarnya. Kalau kita perhatikan, mereka mengartikan seperti ini setelah mengubah lafadz اسْتَوَى menjadi .اسْتَوْلَى

Adapun tahrif maknawi adalah mengubah makna ayat tanpa mengubah lafadznya. Misalnya, memaknai yad (tangan) sebagai kekuasaan.

 

  1. Membaca al-Qur’an di kuburan

Di antara perkara bid’ah yang banyak dilakukan kaum muslimin adalah membaca al-Qur’an di kuburan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Membaca al-Qur’an di sisi kubur adalah bid’ah, baik yang dibaca itu al-Fatihah, al-Ikhlas, maupun Yasin. Seorang tidak sepatutnya membaca al-Qur’an di pekuburan. Dia cukup mengucapkan apa yang ada dalam sunnah,

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ، يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ، وَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ

“Semoga keselamatan atas kalian wahai para penghuni negeri (kubur) ini dari kalangan orang mukmin dan muslim. Kami insya Allah akan menyusul kalian. Semoga Allah merahmati yang terdahulu di antara kalian dan yang kemudian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk diri kami dan kalian. Ya Allah, janganlah engkau haramkan pahala mereka bagi kami, janganlah engkau meimpakan musibah kepada kami sepeninggal mereka, ampunilah kami dan mereka.”

Kemudian pergi tanpa menambahnya dengan membaca surat tersebut ataupun yang lainnya. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menghinakan al-Qur’an

Di antara perkara yang harus dijauhi seorang muslim adalah menghinakan al-Qur’an. Kadang seorang muslim tidak tahu kalau perkara yang dilakukannya adalah bentuk menghinakan al-Qur’an.

Di bawah ini adalah perkara-perkara yang dihukumi oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah sebagai bentuk menghinakan al-Qur’an,

  1. Memutar murotal di mobil, padahal speaker ada di bawah telapak kaki.
  2. Memutar murotal tetapi tersibukkan dengan yang lain.
  3. Menulis ayat kursi dan semisalnya di meja tempat bertelekan atau lembaran alas makanan. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Menggantungkan mushaf atau lembaran mushaf di rumah

Ada pertanyaan kepada asy-Syaikh Muhamad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Apa hukum menggantungkan al-Qur’an atau ayat al-Qur’an di rumah? Apakah termasuk tiwalah?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Menggantungkan ayat al-Qur’an di rumah, kalau diniatkan mencari berkah, maka ini adalah bid’ah. Demikian pula kalau berniat ibadah dengannya, maka itu adalah bid’ah. Adapun kalau niatnya untuk mengingatkan, maka itu pun tak ada faedahnya, karena kadang ditulis di majelis dan orang yang duduk tahu ada tulisan di atas kepala mereka

“Janganlah sebagian kalian menggibahi yang lain.” (al-Hujurat: 12)

Namun, keadaan perbincangan mereka semuanya adalah ghibah. Ini adalah bentuk penghinaan kepada al-Qur’an, bahkan bisa masuk ke dalam memperolok ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla.

Demikian salafus shalih adalah orang lebih semangat dari kita dalam memberikan peringatan dan mengingatkan. Namun mereka tidak melakukan hal yang demikian. (Liqa’ Bab al-Maftuh)

 

  1. Membakar al Qur’an

Membakar mushaf al-Qur’an kalau didasari kebencian kepadanya adalah satu bentuk kekufuran. Pernah dilontarkan satu pertanyaan kepada syaikh Ibnu Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Apa balasan bagi seorang yang pernah membakar al-Qur’anul karim karena lupa dan tidak mengetahuinya kecuali setelah beberapa lama?”

Asy-Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak ada kewajiban apa pun atas dia jika melakukan karena lupa, seperti dia membakarnya dalam keadaan tidak tahu itu adalah al-Qur’an. Dia juga tidak berdosa jika membakar potongan (lembaran) mushaf yang tidak dimanfaatkan lagi agar tidak dihinakan. Sebab, al-Qur’an yang tercecer, robek, dan tidak dimanfaaatkan lagi, dibakar atau ditimbun di tempat yang baik hingga tidak dihinakan. Adapun jika membakar al-Qur’an karena ketidaksenangan, mencerca, dan membencinya, ini kemungkaran yang besar dan kemurtadan dari Islam.

Demikian pula kalau dia menduduki mushaf al-Qur’an, menginjaknya dengan kaki dalam rangka menghinakannya, melumurinya dengan najis, atau mencercanya dan mencerca orang yang berbicara dengannya, ini semua adalah kufur akbar dan kemurtadan dari Islam—kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla darinya.” (Fatawa Nur Ala Darb asy-Syaikh Ibn Baz)

 

  1. Meninggalkan al-Qur’an

Di antara masalah yang ingin penulis ingatkan adalah jauhnya sebagian muslimin dari al-Qur’an; dari membaca, menelaah makna, dan mengamalkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.” (al-Furqan: 30)

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa perkara yang dimasukkan sebagai bentuk hajr al-Qur’an.

  1. Meninggalkan iman kepada-Nya, tidak mendengar, dan memerhatikannya
  2. Meninggalkan amal dengannya serta tidak mengikuti apa yang dihalalkan dan diharamkannya, walaupun membacadan mengimaninya.
  3. Tidak berhukum dengannya dalam perkara ushuluddin dan furu’-nya.
  4. Tidak mentadaburinya untuk mengetahui maksud yang mengucapkannya.
  5. Tidak berobat dengannya untuk mengobati seluruh penyakit hati. Dia justru mencari obat selain al-Qur’an dan tidak berobat dengannya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa semua hal ini termasuk makna surat al-Furqan ayat 30 (yang telah kami sebutkan di atas, -ed) walaupun sebagiannya lebih ringan dibandingkan dengan yang lain. (al-Fawaid)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik kepada kita untuk membaca, memahami, dan mengamalkan al-Qur’anul Karim.

Wallahul Muwaffiq.


[1] Lihat rubrik “Akidah” Majalah Asy Syariah edisi 93.

[2] Tentang kelompok JIL dan faham sesat mereka silahkan lihat Majalah Asy Syariah edisi 09. Bisa dibaca pula di www.asysyariah.com.

[3] Ruqyah adalah doa dan bacaan-bacaan yang mengandung permintaan tolong dan perlindungan kepada Allahluntuk mencegah atau mengangkat bala/penyakit. (-red.)

[4] Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah. (-red.)

[5] Thiyarah atau tathayur ialah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (-red.)

Di Balik Keagungan Kitab Suci Al-Qur’an

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

langit

Al-Qur’an adalah wahyu ilahi, bukan produk budaya.[1] Keberadaannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) memosisikannya sebagai kitab suci yang mulia. Ia bukan makhluk, bukan perkataan Malaikat Jibril ‘alaihissallam, bukan perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pula perkataan makhluk manapun. Allah ‘azza wa jalla telah menulisnya secara sempurna dalam Lauh Mahfuzh sejak langit dan bumi belum tercipta.

Demikianlah yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas c dan selain beliau dari as-Salaf (pendahulu umat ini) yang mulia.[2] Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Haa Miim. Demi kitab (al-Qur’an) yang menerangkan. Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa arab supaya kalian memahami(nya). Dan sesungguhnya al-Qur’an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah.”  (az-Zukhruf: 1—4)

“Bahkan, yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.” (al-Buruj: 21—22)

“Sesungguhnya al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan, diturunkan dari Rabbil ‘alamin.” (al-Waqi’ah: 77—80)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Al-Qur’an telah ditulis oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Lauh Mahfuzh sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Syifa’ul ‘Alil, hlm. 41)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa ini adalah perkataan as-Salaf dan Ahlus Sunnah tentang al-Qur’an. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 225 dan Syarh al-Aqidah as-Safariniyah 1/215, catatan kaki no. 1)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke Baitul ‘Izzah di langit dunia secara sekaligus pada malam Lailatul Qadar yang penuh berkah di Bulan Suci Ramadhan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadr.” (al-Qadr: 1)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasanpenjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menurunkannya ke dunia kepada Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissallam selama 23 tahun secara berangsur-angsur. Dengan sebuah hikmah, agar lebih mudah dalam proses penyampaian dan pengajarannya kepada umat, dan lebih mengokohkan jiwa beliau dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan yang ada. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (asy-Syu’ara’: 192—194)

“Dan al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (al-Isra’: 106)

“Berkatalah orang-orang yang kafir, ‘Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya secara sekaligus saja?’; demikianlah supaya Kami mengokohkan jiwamu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (al-Furqan: 32)

Abdullah bin Abbas c berkata, “Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an secara sekaligus dari Lauh Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian menurunkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terperinci selama 23 tahun, sesuai dengan kasus dan peristiwa yang ada.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Dalam kurun waktu 23 tahun itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat-ayat al-Qur’an kepada para sahabatnya,mengajarkan tafsir (rincian makna)-nya, dan mencontohkan berbagai bentuk pengamalannya dalam kehidupan sebagai pembelajaran dan keteladanan terbaik untuk mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh Allah telah memberi anugerah kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan bahwa al-Qur’an mempunyai dua keadaan; tertulis (maktub) dan didengar (masmu’). Adapun yang tertulis (maktub) maka ada pada tiga hal:

1) Lauh Mahfuzh, ditulis padanya al-Qur’an secara sempurna dari awal hingga akhir.

2) Baitul Izzah di langit dunia. Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an (dari Lauh Mahfuzh) secara sekaligus dalam bentuk tulisan dan menempatkannya di Baitul Izzah.

3) Mushaf al-Qur’an yang ada di tangan kaum muslimin.

Dalam tiga hal ini, tidak ada peran dari Malaikat Jibril sama sekali. Berikutnya, al-Qur’an yang tertulis di Lauh Mahfuzh, Baitul Izzah, dan Mushaf al-Qur’an semuanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) bukan makhluk. Adapun yang didengar (masmu’) maka terjadi saat al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla menyampaikannya kepada Malaikat Jibril ‘alaihissallam dengan huruf (lafadz) dan maknanya yang didengar, kemudian Malaikat Jibril ‘alaihissallam menyampaikannya secara langsung apa yang didengarnya dari Allah ‘azza wa jalla tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan dengan cara seperti itu. (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 382 dan Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 1/363)

 

Kedudukan Al-Qur’an dalam Kehidupan Umat Manusia

Al-Qur’an merupakan pedoman dan lentera kehidupan bagi umat manusia. Kedudukannya sangat tinggi dan hikmah yang dikandungnya pun sangat berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, cahaya kebenaran, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena, karena ia sumber segala ilmu dan hikmah, tempat semua petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an merupakan bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya maka sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat. Barang siapa yang berjalan di atasnya maka sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (Al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)

Tak heran, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghasung umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengannya, predikat terbaik akan diraih dan dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Al-Qur’an, Kitab Suci yang Sangat Terpelihara

Al-Qur’an kitab suci yang sangat terpelihara. Tidak akan datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya. Karena yang menurunkannya ialah Allah ‘azza wa jalla Dzat yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. Dia ‘azza wa jalla telah berjanji memeliharanya untuk selama-lamanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Lebih dari itu, al-Qur’an berkedudukan sebagai tolok ukur kebenaran terhadap kandungan kitab-kitab sebelumnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan tolok ukur kebenaran terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (al-Maidah: 48)

Demikian agung dan terpeliharanya Kitab Suci al-Qur’an. Namun, di mata kaum Syi’ah yang sesat ternyata tidak demikian adanya. Al-Qur’an yang merupakan kitab suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih al-Bukhari di sisi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini 2/634 dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada 1/239—240 disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa Mushaf Fatimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’ Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

“Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (al-Kahfi: 5)

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain’.” (al-Isra’: 88)

 

Al-Qur’an Kalamullah, Bukan Makhluk

Di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah yang paling mendasar adalah keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), bukan makhluk. Allah ‘azza wa jalla berfirman dengannya secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Termasuk dari keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kitab-kitab-Nya adalah beriman bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang diturunkan dari Allah ‘azza wa jalla, bukan makhluk. Dari Allah ‘azza wa jalla al-Qur’an itu berasal dan kepada-Nya pula ia akan kembali. Allah ‘azza wa jalla berfirman (berkata) dengannya secara hakiki. Al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) secara hakiki, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh menyatakan bahwa al-Qur’an hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) atau ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla). Bahkan, jika al-Qur’an itu dibaca oleh manusia atau ditulis dalam mushaf-mushaf, tidaklah mengeluarkan dia dari kedudukannya sebagai kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) yang sebenarnya. Sebab, sebuah perkataan disandarkan hanya kepada yang pertama kali mengatakannya, tidak kepada pihak (kedua, -pen.) yang berstatus sebagai penyampainya. Al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), huruf (lafadz) dan maknanya. Kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) itu bukanlah huruf (lafadz) semata tanpa makna, dan bukan pula makna semata tanpa huruf (lafadz).” (al-Aqidah al-Wasithiyah)

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut sungguh berbeda dengan prinsip kelompok sesat Mu’tazilah[3] dan Jahmiyah[4] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Berawal dari niatan ingin menyucikan Allah ‘azza wa jalla dari sifat-sifat makhluk-Nya—dengan mengandalkan akal tanpa bimbingan ilmu—akhirnya terjatuh dalam sikap yang lebih ekstrem, yaitu ta’thil (meniadakan) sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla secara total, termasuk sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla. Dengan itu, mereka menetapkan bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mempunyai sifat berbicara alias bisu. Mahasuci Allah ‘azza wa jalla dari pernyataan keji mereka itu. Karenanya, para ulama Ahlus Sunnah menyatakan, “Barang siapa mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk maka dia kafir.”

Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan sifat kalam (berbicara) untuk diri-Nya yang  Mahamulia sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat dari al-Qur’an, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya. Tentunya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla tersebut sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, tidak serupa sama sekali dengan sifat makhluk-Nya. Adapun al-Qur’an, dengan tegas Allah ‘azza wa jalla menyatakan bahwa ia adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana dalam firman-Nya,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya sempat mendengar kalamullah (Al-Qur’an), kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Padanya terdapat hujah (argumen) yang gamblang bagi mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang menyatakan bahwa al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, karena Dia ‘azza wa jalla yang berfirman dengannya (al-Qur’an). Allah ‘azza wa jalla menyandarkan (mengidhafahkan) al-Qur’an kepada diri-Nya sebagai bentuk penyandaran sifat kepada Dzat yang disifati (yakni Allah ‘azza wa jalla). Padanya pula terdapat bukti kebatilan mazhab Mu’tazilah dan yang mengikuti mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Betapa banyak dalil yang menunjukkan batilnya pernyataan tersebut, namun bukan di sini tempat untuk membahasnya.” (Taisir al-Karimirrahman 1/329)

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah syubhat-syubhat Mu’tazilah dan Jahmiyah cukup banyak, terkhusus dalam permasalahan al-Qur’an. Di antaranya; ar-Rad ‘ala az-Zanadiqah wal Jahmiyah karya al- Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Mandah rahimahullah, ar-Rad ‘ala al-Jahmiyah karya al-Imam ‘Utsman bin Sa’id ad-Darimi rahimahullah, al-Haidah wa al-I’tidzar firraddi ‘ala Man Qala Bikhalqi al-Qur’an karya al-Imam Abdul Aziz bin Yahya al-Kinani rahimahullah, dan yang lainnya.

Prinsip Ahlus Sunnah tersebut juga sangat berbeda dengan prinsip kelompok sesat Kullabiyah[5] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah hikayat tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla), atau kelompok sesat Asya’irah[6] yang menyatakan bahwa al-Qur’an adalah ungkapan tentang kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).[7]

Dasar mereka adalah bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla adalah qadim (azali), sama dengan sifat ilmu (mengetahui) bagi Allah ‘azza wa jalla, sehingga tidak berbilang karena adanya suatu kehendak atau kejadian. Maka dari itu, al-Qur’an adalah kalam nafsi bagi Allah ‘azza wa jalla bukan kalam hakiki. Maksudnya, Allah ‘azza wa jalla berbicara dalam jiwanya (tidak terdengar), lantas menjadikan Malaikat Jibril ‘alaihissallam paham tentangnya, kemudian Malaikat Jibrillah yang mengungkapkannya dalam bentuk firman yang mempunyai huruf dan lafadz (suara). Jadi, maknanya berasal dari Allah ‘azza wa jalla sedangkan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam. (Ajwibah Mufidah ‘an As’ilah ‘Adidah, asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hlm. 26 dan Syarh al- Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hlm. 113)

Menurut asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah, prinsip Asya’irah tentang al-Qur’an ini sama dengan prinsip orang Kristen tentang Isa al-Masih. Menurut orang Kristen, Isa al-Masih merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan Maryam (makhluk). Demikian pula menurut Asya’irah, al-Qur’an merupakan gabungan dari Dzat Allah ‘azza wa jalla dan makhluk. Yakni maknanya dari Allah ‘azza wa jalla (kalam nafsi), sedangkan huruf dan lafadznya dari Malaikat Jibril ‘alaihissallam atau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 98)

Para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka menjelaskan bahwa sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jallaqadimun nau’ wa haditsul ahad”. Qadimun nau’ maksudnya, sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla itu qadim (azali), selalu ada dan melekat pada Dzat Allah ‘azza wa jalla. Haditsul ahad maksudnya, Allah ‘azza wa jalla Maha Berbicara kapan saja Dia ‘azza wa jalla berkendak untuk berbicara, sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara secara hakiki, dengan huruf (lafadz) dan maknanya. Tidak dengan huruf (lafadz)-nya semata tanpa maknanya sebagaimana klaim Mu’tazilah dan Jahmiyah, dan tidak pula dengan maknanya semata tanpa huruf (lafadz) sebagaimana klaim Kullabiyah dan Asya’irah. Dengan itulah, pemahaman tentang sifat kalam (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla menjadi benar, dan dengan itu pula pemahaman tentang hakikat al-Qur’an menjadi lurus.[8]

Kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang membantah secara detail kelompok sesat Asya’irah dan yang semisalnya cukup banyak, di antaranya Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (di beberapa tempat darinya), kitab at-Tis’iniyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang disebutkan padanya sembilan puluh sisi bantahan terhadap syubhat-syubhat mereka, karena itu disebut dengan at-Tis’iniyah, karya-karya al-Imam Ibnul Qayyim terutama kitab Mukhtashar ash-Shawaiq al-Mursalah, dan selainnya dari kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah yang mulia.

Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 113), dan asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah dalam Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah (hlm. 119) dan Syarh al-Aqidah al- Wasithiyah (1/354).

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai penyejuk hati kami, cahaya jiwa kami, pelipur lara kesedihan kami, dan penyirna kegundahan kami.


[1] Belakangan ini muncul statemen sesat bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, dalam hal ini budaya masyarakat Arab yang al-Qur’an turun di tengah-tengah mereka. Statemen ini datang dari antek-antek para orientalis barat, semisal Nasr Hamid Abu Zaid asal Mesir. Ujungnya, al-Qur’an bukan kitab suci yang sakral sehingga layak dikritisi secara teks apalagi maknanya karena ia hanyalah produk budaya. Betapa bahayanya statemen tersebut. Fakta membuktikan bahwa al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang justru banyak membongkar berbagai kesesatan budaya Arab ketika itu, bahkan memaparkan jalan-jalan kebenaran yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Lebih dari itu, al-Qur’an meluruskan makna kosa kata Arab yang lekat dengan budaya mereka kepada makna yang islami. Misalnya kosa kata ikhwah, dalam budaya Arab ketika itu berkonotasi pada kekuatan dan fanatik kesukuan, lantas diubah maknanya dengan memperkenalkan gagasan persaudaraan yang dibangun di atas dasar iman, yang lebih tinggi dari sebatas hubungan darah dan kesukuan.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Abbas (2/135), Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (15/223—224), Fatawa wa Rasail Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh (1/225), dan Adhwa’ul Bayan karya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, tafsir QS. Fushshilat: 2 dan QS. al-Qadr: 1

[3] Pengikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazzal al-Bashri, mantan murid al-Imam Hasan al-Bashri yang

menyimpang dari kebenaran.

[4] Pengikut Jahm bin Shafwan at-Tirmidzi yang merupakan murid dari Ja’ad bin Dirham. Ja’ad bin Dirham sendiri tergolong orang pertama dari umat ini yang meniadakan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

[5] Pengikut Abu Muhammad Abdullah bin Sa’id bin Kullab al-Bashri.

[6] Pengikut Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari yang berpegang dengan prinsip-prinsip beliau pada fase ketika bersama Kullabiyah. Adapun beliau sendiri, telah menyatakan rujuk dari berbagai penyimpangan tersebut dan berupaya berpijak di atas prinsip Ahlus Sunnah (fase ketiga), walaupun masih ada beberapa hal yang terluput dari beliau. Lihat Majalah asy-Syari’ah edisi Mengupas Paham Asy’ariyah.

[7] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (12/160—161).

[8] Lihat at-Ta’liqat al-Mukhtasharah ‘ala Matni al-Aqidah ath-Thahawiyah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan (hlm. 66—71), Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras (hlm. 181—187), Syarh Lum’atul I’tiqad karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (hlm. 19—20), dll.