Buah Keimanan (8)

Keimanan yang benar akan mencegah seorang hamba dari terjatuh ke dalam dosa-dosa besar yang membinasakan. Hal ini disebutkan dalam ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Tidaklah seorang pezina yang berzina saat ia berzina dikatakan orang yang beriman. Tidaklah seorang pencuri saat ia mencuri dikatakan orang yang beriman. Tidaklah peminum khamr saat ia meminumnya dikatakan orang yang beriman.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Barang siapa terjatuh ke dalamnya, itu disebabkan oleh imannya yang lemah. Hilang cahaya iman pada dirinya, ia tidak memiliki rasa malu dari Dzat yang selalu melihat padahal Dia Subhanahu wata’ala telah melarang perbuatan tersebut. Ini adalah hal yang nyata dan dapat disaksikan. Keimanan yang jujur dan benar, senantiasa disertai oleh rasa malu terhadap Allah Subhanahu wata’ala, rasa cinta kepada- Nya, rasa harap yang kuat akan pahala dari-Nya, rasa takut akan hukuman- Nya, dan cahaya yang menghilangkan kegelapan dalam hati. Hal-hal yang menjadi penyempurna keimanan tersebut—tidak diragukan lagi—akan mendorong pemiliknya menuju segala amalan kebaikan dan mencegahnya dari segala amalan keburukan. Ketahuilah, apabila keimanan menyertai seseorang saat dihadapkan pada sebab-sebab yang dapat mengantarkannya pada perbuatan keji, cahaya keimanan akan mencegahnya untuk terjatuh ke dalam perbuatan keji tersebut. Rasa malunya kepada Allah Subhanahu wata’ala—yang merupakan salah satu cabang keimanan terbesar—akan mencegahnya dari terjatuh ke dalam perbuatanperbuatan keji tersebut. (diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 59—60, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Buah keimanan (7)

Iman adalah sandaran kaum mukminin di setiap keadaan mereka, baik suka maupun duka, takut maupun aman, ketika mengerjakan ketaatan maupun jatuh ke dalam kemaksiatan, dan setiap urusan yang dilalui oleh setiap manusia. Saat mendapat kebahagiaan dan kesenangan, mereka bersandar kepada keimanan sehingga mereka memuji Allah Subhanahu wata’ala, menyanjung-Nya, dan menggunakan kenikmatan tersebut dalam hal yang dicintai oleh Dzat yang memberikannya.

Saat ditimpa kesusahan dan kesedihan, mereka bersandar kepada keimanan dari berbagai sisi. Mereka menghibur diri dengan iman dan kemanisannya. Mereka menghibur diri dengan mengharap pahala yang akan diperoleh dari musibah itu. Mereka menghadapi kesedihan dan kegoncangan dengan hati yang lapang. Kehidupan bahagia pun menjadi penangkal segala kesedihan dan duka. Ketika datang rasa takut, mereka bersandar pada keimanan sehingga merasa tenang dengannya. Saat datang rasa takut, justru bertambah keimanan, kekokohan, kekuatan, dan keberanian mereka. Sirnalah ketakutan yang menimpa. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang para manusia pilihan, yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhuma,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ {}فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Mereka pun kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah. Mereka tidak mendapat bencana apaapa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali ‘Imran: 173—174)

Telah sirna rasa takut dari hati orang-orang pilihan itu. Kekuatan dan kemanisan iman, kuatnya tawakal, serta keyakinan terhadap janji-Nya telah menggantikan rasa takut yang hinggap di hati mereka. Ketika mendapat rasa aman, mereka kembali kepada keimanan sehingga rasa aman tersebut tidak membuat mereka angkuh dan sombong. Mereka justru bertawadhu’, bersikap rendah hati. Mereka menyadari bahwa rasa aman itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala, karunia dan kemudahan dari-Nya. Mereka bersyukur kepada Dzat yang telah memberi kenikmatan kepada mereka berupa keamanan dan sebab-sebabnya. Mereka sadar, apabila mereka mampu mengalahkan musuh-musuh, itu hanyalah daya, upaya, dan karunia dari Allah  Subhanahu wata’ala semata, bukan daya dan upaya mereka. Ketika mendapatkan taufik untuk berbuat ketaatan dan mengerjakan amalan saleh, mereka bersandar kepada keimanan. Mereka menyadari bahwa amalan saleh tersebut adalah nikmat Allah  Subhanahu wata’ala atas mereka.

Mereka meyakini bahwa nikmat berupa amal saleh itu lebih besar daripada nikmat yang berupa rezeki dan kesehatan. Demikian pula, mereka bersemangat untuk menyempurnakan amalan dan menjalani segala sebab agar amalan diterima, tidak tertolak, dan tidak terdapat kekurangan di dalamnya. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka agar menyempurnakan nikmat tersebut dengan menerima amalan mereka. Mereka memohon kepada Dzat yang telah mengaruniakan taufik kepada mereka untuk menjalankan pokok sebuah amalan agar menyempurnakan berbagai kekurangan amalan mereka. Mereka bersandar kepada keimanan saat mereka tertimpa musibah, terjatuh dalam perbuatan maksiat. Mereka bersegera bertobat darinya, sekaligus berjuang sekuat tenaga menjalankan amalan kebaikan untuk menutupi segala kekurangan yang disebabkan oleh kemaksiatannya. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” ( al-A’raf: 201)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الْإِيمَانِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ الْمَرْبُوطِ فِي آخِيَتِهِ، يَجُولُ مَا يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَتِهِ

“Permisalan mukmin dan permisalan iman bagaikan kuda yang terikat di tali pancangnya. Ia pergi ke mana ia pergi, kemudian kembali ke tali pancangnya.” (HR. Ahmad, Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dll, dinyatakan dhaif oleh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 6637)

Demikianlah keadaan orang yang beriman. Ia pergi sekehendaknya dalam kelalaian dan kelancangan, mengerjakan sebagian dosa, kemudian segera kembali dengan cepat menuju keimanan yang seluruh urusannya dibangun di atasnya. Seorang mukmin hendaknya senantiasa bersandar kepada iman dalam kondisi apa pun. Keinginan mereka hanyalah merealisasikan iman dan menolak segala hal yang bertentangan dengan keimanan. Itulah keutamaan dan karunia dari Allah Subhanahu wata’ala untuk mereka. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman karya asy-Syaikh as- Sa’di, hlm. 57-59)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Buah Keimanan (6)

Sesungguhnya keimanan akan menghilangkan keragu-raguan yang menghinggapi kebanyakan manusia sehingga merusak agama mereka. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (al-Hujurat: 15)

Maknanya, keimanan yang benar akan menolak keragu-raguan yang ada pada mereka, menghilangkan seluruhnya, mengobati keragu-raguan yang dibisikbisikkan setan-setan dari kalangan manusia dan jin, serta menolak jiwa yang mengajak kepada kejelekan. Karena itu, tidak ada obat bagi penyakit yang membinasakan ini selain keimanan yang benar.

Oleh karena itu, telah datang dalam ash-Shahihain sebuah hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya),

“Manusia akan terus-menerus saling bertanya sampai-sampai akan dikatakan, ‘Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan makhluk- Nya, lantas siapa yang menciptakan Allah Subhanahu wata’ala?’ Barang siapa yang mendapatkan demikian itu, hendaklah mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berhenti dan berlindung kepada Allah dari godaan setan’.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan penyakit yang berbahaya ini beserta obat yang bermanfaat untuknya berupa tiga perkara,

a. berhenti/meninggalkan waswas setan ini,

b. berlindung (kepada Allah Subhanahu wata’ala) dari (setan) yang membisikkannya dan yang membuat kerancuan padanya untuk menyurutkan hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala,

c. berpegang teguh dengan keimanan yang benar, karena barang siapa yang berpegang teguh dengannya, maka ia termasuk orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Sebab, kebatilan akan tampak jelas dengan banyak perkara. Di antaranya yang paling besar adalah dengan ilmu, sedangkan semua perkara yang bertentangan dengan kebenaran (al- Haq) adalah kebatilan.

فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ

“Tidak ada setelah kebenaran itu selain kesesatan.” (Yunus: 32)

(Diambil dari at-Taudhih wal Bayan lisy Syajaratil Iman hlm. 56—57 karya asy-Syaikh ‘Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di)

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Buah Mengimani Takdir

Di antara rukun iman yang wajib kita imani adalah iman kepada takdir. Iman kepada takdir merupakan perkara yang disepakati kaum muslimin, sampai akhirnya muncullah kelompok bid’ah Qadariyah yang menyempal dari akidah kaum muslimin dalam hal takdir.

Dua orang tabi’in pernah menghadap seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Keduanya mengadu kepada beliau tentang munculnya beberapa orang yang memiliki pemikiran bid’ah dalam masalah takdir, yakni menolak takdir.

Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau bertemu mereka, kabarkan bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya, jika salah seorang memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu menginfakkannya, tidaklah Allah subhanahu wa ta’ala akan menerimanya sampai ia beriman kepada takdir.” (Lihat Shahih Muslim no. 1)

Karena pentingnya masalah ini, para ulama pun memasukkan masalah ini dalam kitab-kitab akidah. Semua kitab Ahlus Sunnah yang membahas akidah pasti menyebutkan prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah takdir dan membantah kelompok yang menyimpang dalam masalah ini, seperti Qadariyah dan Jabriyah serta orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Dalil-Dalil Wajibnya Mengimani Takdir

Dalil-dalil yang menunjukkan masalah ini sangatlah banyak. Kami hanya menyebutkan sebagian kecil darinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam salah satu ayatnya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (al-Qamar: 49)
Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” (al-Ahzab: 38)
Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu yang masyhur ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang iman. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir baik buruknya.” (HR. Muslim)

Ucapan Sahabat, Tabi’in, dan Ulama Setelah Mereka

Di antara ucapan sahabat yang telah sampai kepada kita adalah ucapan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Kabarkan kepada mereka (yakni kepada orang-orang yang menolak takdir). Aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku.” (Shahih Muslim)

Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.

Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ. قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah qalam (pena). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Tulislah!’ Dia menjawab, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berfirman, ‘Tulislah takdir segala sesuatu hingga hari kiamat!’.”

Ubadah berkata, “Wahai anakku, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَنْ مَاتَ عَلَى غَيْرِ هَذَا فَلَيْسَ مِنِّي

‘Barang siapa yang meninggal tidak dalam keyakinan seperti ini, dia tidak termasuk golonganku’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Demikian pula sahabat yang lain, mereka telah berbicara keras mengancam orang-orang yang tidak mau meyakini takdir. Dari Ibnu Dailami rahimahullah, “Aku pernah mendatangi Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu dan aku katakan, ‘Ada satu ganjalan pada diriku tentang masalah qadar. Sampaikanlah kepadaku satu hadits, mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan ganjalan tersebut dariku.’

Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Walaupun engkau berinfak emas sebesar Uhud, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala tak akan menerimanya sampai engkau beriman kepada takdir. Engkau meyakini bahwa apa yang ditetapkan menimpamu tak akan meleset dan sesuatu yang ditetapkan meleset maka tiada akan pernah mengenaimu. Jika engkau mati dalam keadaan tidak di atas akidah ini, engkau masuk neraka’.”

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Kemudian aku menemui para sahabat yang lain: Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit g. Mereka semua menyampaikan hal yang sama kepadaku dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud dan lainnya, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan tiga ratus sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala’.”

Dalam Shahih Muslim, Thawus rahimahullah berkata, “Aku berjumpa dengan manusia dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya berkata, ‘Segala sesuatu terjadi dengan takdir’.”

Orang yang Mengingkari Takdir Bukan Orang Bertauhid

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Semua atsar menegaskan masalah ini dan menjelaskan bahwa barang siapa tidak beriman kepada takdir berarti telah lepas dari tauhid dan mengenakan pakaian kesyirikan, bahkan tidak beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak mengenal-Nya.”
(Lihat Tanbihatus Saniyah syarah al-Aqidah al-Wasithiyah)

Tingkatan Mengimani Takdir

Iman kepada takdir ada empat tingkatan.

  1. Ilmu

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu secara global dan rinci, azali (terdahulu) dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya.

  1. Kitabah (penulisan)

Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat semuanya di Lauhul Mahfuzh.
Dalil dua masalah di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Haj: 70)

  1. Masyi’ah (kehendak)

Meyakini bahwa semua yang terjadi, terjadinya dengan masyi’atullah (kehendak Allah subhanahu wa ta’ala), baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk.

Allah lberfirman tentang perbuatan-Nya:

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Rabbmu. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir.” (al-Qashash: 86)

  1. Al-Khalq (penciptaan)

Meyakini bahwa semua yang terjadi adalah makhluk ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala: benda (zat), sifat, dan pergerakannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”

(ash-Shaffat: 96)

(Lihat Syarah Tsalasatul Ushul, hlm. 111—112)

Buah Iman Kepada Takdir

Faedah yang akan didapat ketika seorang beriman kepada takdir sangatlah banyak. Para ulama Ahlus Sunnah telah menyebutkannya, kami hanya menukilkan sebagian yang mereka sebutkan. Di antara faedah iman kepada takdir adalah:

  1. Menumbuhkan sifat ridha dan yakin dengan apa yang terjadi. Dengan sebab itu pula, dia akan mendapatkan hidayah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)

  1. Menjadi sebab dihapuskannya dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا أَصَابَ الْمُسْلِمَ مِنْ مَرَضٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمَّ يُهِمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah ada sesuatu yang menimpa seorang muslim baik berupa sakit, rasa capai, kesedihan, maupun rasa gundah yang menimpanya melainkan pasti Allah subhanahu wa ta’ala akan menghapus dosanya dengan sebab itu.” (Muttafaq ‘alaih)

  1. Menjadi sebab mendapat balasan yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala.
    Dalil yang menunjukkan masalah ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, serta berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.”

Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)

  1. Menjadi seorang yang kaya hati (senantiasa merasa cukup dengan pemberian Allah subhanahu wa ta’ala).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Yang namanya kaya bukanlah dengan banyaknya harta, namun kaya yang hakiki adalah kaya hati.”

  1. Tidak sombong ketika mendapatkan kesenangan dan tidak sedih ketika musibah.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)

  1. Menumbuhkan keberanian
  2. Tidak takut terhadap kejahatan manusia

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ

“Jika umat manusia berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan mampu menimpakan mudarat kepadamu sedikit pun melainkan dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. at-Tirmidzi)

  1. Tidak takut mati

Dia meyakini bahwa umurnya telah ditetapkan sejak ia masih di perut ibunya, sebagaimana disebutkan oleh hadits Abdullah bin Masud radhiallahu ‘anhu.

  1. Tidak bersedih karena sesuatu yang luput darinya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah, masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah dalam mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah kamu lemah. Jika menimpamu satu perkara, janganlah kamu berkata, ‘Kalau aku lakukan ini, niscaya akan terjadi demikian dan demikian’, tetapi ucapkanlah, ‘Qadarullah wa masya’a fa’ala’, karena ucapan (kalau/berandai-andai) akan membuka amalan setan.” (Muttafaq alaih)

  1. Bersandar hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika melakukan sebab (ikhtiar) sehingga tidak bersandar kepada sebab-sebab semata, karena segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
  2. Mendatangkan ketenteraman dan mendapatkan ketenangan jiwa.
    Ubadah bin ash-Shamit radhiallahu ‘anhu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman sampai meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yakni, engkau tak akan mendapatkan dan merasakan tenangnya iman sampai engkau meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tak akan menimpamu. Itulah iman kepada takdir. Jika dia mengimani takdir, akan lapang hatinya dan mengamalkan apa yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. (Syarah Kitabut Tauhid, asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah)

Lihat Taujihul Muslimin ila Thariqin Nashr wat Tamkin (hlm. 5—7) dan syarah Tsalatsatul Ushul karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

Sebagai penutup, kami ingin mengingatkan satu masalah yang disebutkan oleh asy-Syaikh Hafizh al-Hakami rahimahullah bahwa iman kepada takdir akan sempurna dengan menafikan enam perkara berikut ini, karena enam perkara ini telah dinafikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1. Menafikan tathayur

Tathayur adalah beranggapan akan terjadinya kesialan dengan terbangnya burung ke arah tertentu, atau dengan sesuatu yang dilihat atau didengarnya, atau dengan hari dan bulan tertentu.

  1. Menafikan nau’

Nau’ adalah keyakinan jahiliah bahwa bintang mempunyai pengaruh atau menjadi sebab dari peristiwa-peristiwa di bumi.

  1. Menafikan ‘adwa

‘Adwa adalah keyakinan jahiliah tentang adanya penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa takdir Allah.

  1. Menafikan ghul

Ghul adalah keyakinan jahiliah tentang adanya jin yang jahat. Yang dinafikan adalah keyakinan jahiliah bahwa jin tersebut berkuasa untuk memberi manfaat dan mudarat, sehingga orang-orang jahiliah sangat menakutinya dan meminta perlindungan kepada mereka (jin).

  1. Menafikan hamah

Hamah adalah keyakinan jahiliah tentang adanya burung yang mendatangkan kesialan.

  1. Menafikan shafar

Ada dua penafsiran tentang shafar. Ada yang mengatakan, maknanya adalah sejenis cacing yang diyakini bisa menular dengan sendiriya. Adapun menurut penafsiran yang lain, shafar adalah beranggapan sial dengan bulan Shafar.
(Lihat Ma’arijul Qabul, Fathul Majid, dan al-Qaulul Mufid)

Seorang muslim hendaknya menjauhkan dirinya dari enam perkara tersebut sehingga menjadi sempurnalah keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penyakit menular (dengan sendirinya), tidak ada tathayur, tidak ada hamah dan shafar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lafadz Muslim:

وَلَا نَوْءَ وَلَا غُولَ

“Tidak ada nau’, tidak pula ghul.”

Asy-Syaikh Hafizh al-Hakami berkata, “Menafikan enam perkara ini dan yang semakna dengannya adalah bentuk tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Pencipta kebaikan dan kejelekan, yang hanya di tangan-Nya lah manfaat dan mudarat. Sebaliknya, meyakini satu dari enam perkara tersebut berarti menafikan tauhid atau mengurangi kesempurnaannya serta membatalkan tawakalnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala darinya.” (Lihat Ma’arijul Qabul)

Mudah-mudahan apa yang kami tulis ini bermanfaat, bisa menambah iman dan amal kita semua.

Walhamdulillah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Ata