Bersabar di Atas Kebenaran Kewajiban Insan yang Beriman

Kebenaran adalah mutiara kehidupan yang sangat berharga bagi setiap insan. Titian jalannya mengantarkan kepada kebahagiaan. Keberadaannya di tengah kehidupan, laksana pelita dalam kegelapan. Cahayanya terang-benderang menerangi loronglorong kehidupan sepanjang zaman. Berpegang teguh dengannya adalah kemuliaan, sedangkan mengabaikannya adalah kebinasaan. Kebenaran adalah anugerah agung dari Allah Subhanahu wata’ala untuk para hamba-Nya yang beriman. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu (datang) dari Rabbmu, karena itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

Kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala  itu tercermin pada agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah (Allah Subhanahu wata’ala) yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaff: 9)

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman1, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(an-Nisa’: 115)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ الَّهلِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ

“Umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan. Beliau ditanya, ‘Siapakah dia wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘(Golongan) yang berada di atas jalan hidup (manhaj) yang aku dan para sahabatku berada’.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya; “Kitabul Iman”, bab “Iftiraqul Hadzihil Ummah”, dari ‘Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  juga bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak (dalam memahami agama ini). Maka dari itu, kalian wajib berpegang teguh dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian (maksudnya, berpeganglah erat-erat dengannya, –pen.)… (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah, dan yang lainnya dari al- ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu. Lihat Irwaul Ghalil, hadits no. 2455)

Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala menyeru seluruh umat manusia untuk mengikuti kebenaran tersebut dengan sebaikbaiknya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ بِالْحَقِّ مِن رَّبِّكُمْ فَآمِنُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepada kalian dengan (membawa) kebenaran dari Rabb kalian maka berimanlah kalian, itulah yang lebih baik bagi kalian. Jika kalian kafir, (kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 170)

Tak terlewatkan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), Allah Subhanahu wata’ala menyeru mereka kepada kebenaran tersebut yang sekaligus sebagai peringatan bahwa jalan hidup yang mereka tempuh selama ini adalah batil. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ۚ قَدْ جَاءَكُم مِّنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ () يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orangyang mengikuti keridhaan-Nya kepada Meraih Kebahagian dengan Kesabaran jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran itu bukan akal, bukan rajutan hawa nafsu, dan bukan pula budaya warisan leluhur. Kebenaran adalah agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diterapkan oleh para sahabat yang mulia. Itulah jalan hidup (manhaj) yang penuh berkah dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Jalan hidup yang dicatat oleh para ulama dengan sebutan manhaj salaf. Barang siapa mengikuti manhaj tersebut dengan baik kemudian istiqamah di atasnya, niscaya akan beruntung hidupnya di dunia dan di akhirat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ ۚ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf (baik), melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar (buruk), menghalalkan bagi mereka segala yang baik, mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, serta membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 157)

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga (al-Jannah) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Konsekuensi Kebenaran

Mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya menghadirkan konsekuensi besar dalam kehidupan. Secara sunnatullah, siapa saja yang mengetahui kebenaran, mengikutinya, dan istiqamah di atasnya pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman,

الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو

Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, “Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)

Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah berkata, “Maksudnya, Kami (Allah Subhanahu wata’ala) akan menguji kalian, kadang dengan musibah dan kadang dengan kenikmatan, untuk Kami nilai siapa yang bersyukur dan siapa pula yang kufur, siapa yang bersabar dan siapa pula yang berputus asa. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Maksud dari ayat (yang artinya) [Kami akan menguji kalian] adalah Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kelapangan, sehat dan sakit, kecukupan dan kemiskinan, halal dan haram, ketaatan dan kemaksiatan, petunjuk dan kesesatan…’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Ketika Ujian & Cobaan Menerpa

Sesungguhnya, ragam ujian dan cobaan dalam kehidupan beragama telah lama ada. Para rasul terdahulu dan umatnya yang beriman benar-benar telah mengalami beragam ujian dan cobaan tersebut. Karena itu, ketika ujian dan cobaan menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, datanglah berita dari langit menghibur mereka semua. Di antaranya firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ ۖ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ () وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ۚ وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janjijanji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari beritan rasul-rasul itu.” (al-An’am: 33—34)

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orangorang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Tak jarang pula, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan tentang ujian dan cobaan yang menerpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, sebagai teladan dalam kesabaran sekaligus sebagai hiburan bagi orang-orang yang berteguh diri di atas kebenaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian melihatnya, dan adalah Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kalian naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hati mereka) dengan goncangan yang dahsyat.” (al- Ahzab: 9—11)

الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ () الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ () فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

“(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam Perang Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia (kafir Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian, karena itu takutlah kepada mereka.’ Maka perkataan itu justru membuat keimanan mereka bertambah lalu mereka pun menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.’ Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imran: 172—174)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupan orang yang beriman. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dan cobaan itu kecuali dengan bersabar di atasnya meski sadar sepenuhnya bahwa hal itu sangat berat dilakukan. Goncangan hati dan dentuman urat saraf benar benar menegangkan.

Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maha Penyayang. Karena itu, balasan yang mulia Allah Subhanahu wata’ala peruntukkan bagi hamba-Nya yang bersabar di atas kebenaran itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Dan Dia (Allah) memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (berupa) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menggigit. Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkanmemetiknya semudah-mudahnya. Diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda, apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengiramereka adalah mutiara yang bertaburan. Apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikann kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian, dan usaha kalian adalah disyukuri (diberi balasan).” (al-Insan: 12—22)

Demikianlah buah kesabaran. Buah yang tangkainya dihiasi bunga-bunga yang indah. Tiada seindah kata yang patut diucapkan melainkan lantunan doa,

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dari orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 250)

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Menengok Kesabaran Diri Kala Ujian dan Cobaan Menerpa

Tak ada jalan yang tak berkelok Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal-hal yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)

Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama

Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dancobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maharahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya. Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,

1. Perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala yang wajib ditaati.

2. Larangan-larangan Allah Subhanahu wata’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.

3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).

Para ulama sepakat bahwa senjata utama untuk menghadapi tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah kesabaran, yaitu;

1. Sabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya Subhanahu wata’ala.

2. Sabar dari perbuatan maksiat, dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala.

3. Sabar atas segala musibah yang menimpa dengan diiringi sikap ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala. (Lihat Qa’idah fish Shabr karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [hlm. 90—91], Syarh Shahih Muslim karya al-Hafizh an-Nawawi [3/101], dan Madarijus Salikin [2/156], dll.)

Sejauh manakah kesabaran dan penghambaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis ujian dan cobaan itu? Sudahkah kita bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dengan selalu mengerjakan segala perintah-Nya?

Sudahkah kita bersabar dari perbuatan maksiat dengan selalu menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala? Sudahkah kita bersabar atas segala musibah yang menimpa dengan ikhlas dan ridha terhadap takdir yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wata’ala?

Marilah kita menengok kesabaran diri masing-masing. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menutupi segala kekurangan kita dan mengampuni segala kesalahan kita. Wallahul musta’an.

Dalam menjalani kehidupan beragama, setiap muslim tak bisa dipisahkan dengan lingkungan tempat hidupnya. Lingkungan yang bersifat majemuk baik dari sisi karakter, latar belakang keluarga dan pendidikan, maupun pemahaman agama. Di situlah seorang muslim akan diberi ujian dan cobaan oleh Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan tiga jenis kesabaran di atas. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الم () أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُو

“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (al-‘Ankabut: 1—2)

Ujian dan cobaan itu pun beragam bentuknya. Terkadang dalam bentuk keburukan dan terkadang pula dalam bentuk kebaikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan “Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)

Di antara ujian dan cobaan itu adalah adanya orang-orang jahat yang tidak suka terhadap orang-orang yang istiqamah di atas jalan kebenaran. Mereka mencela, menghina, mencibir, bahkan memusuhi orang-orang yang istiqamah itu. Kondisi semacam ini bahkan telah dialami oleh para nabi terdahulu yang mulia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dariorang-orang yang berdosa. Cukuplah Rabb-mu sebagai pemberi petunjuk dan penolong.” (al-Furqan: 31)

Maka dari itu, siapa saja dari hamba Allah Subhanahu wata’ala , baik muslim maupun muslimah yang berupaya istiqamah, dengan meniti jejak Rasulullah n dan para sahabatnya (bermanhaj salaf) akan mengalami ujian terkait dengan keistiqamahannya itu. Tudingan sok alim, eksklusif, merasa benar sendiri, bertentangan dengan adat dan tradisi masyarakat, teroris, dan ujung-ujungnya vonis sesat, kerap kali menerpa. Semua itu Allah Subhanahu wata’ala tetapkan untuk menguji kesabaran para hamba- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi sebagian yang lain, maukah kalian bersabar? Dan adalah Rabb-mu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

Dengan demikian, tiada jalan keselamatan dari segala ujian itu selain bersabar di atas kebenaran dengan mengedepankan sikap ilmiah, berpijak di atas hikmah, tidak mengedepankan hawa nafsu ataupun perasaan, penuh kehatihatian dalam menilai dan melangkah (ta’anni), tidak mudah bereaksi, dan tidak serampangan bertindak. Tentu saja, tidak lupa memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wata’ala Penguasa alam semesta dan berkonsultasi dengan para ulama yang mulia.

Satu hal penting yang patut dicatat, patokan kebenaran bukanlah banyaknya\ jumlah pengikut atau orang yang mengerjakan sebuah amalan. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Jadi, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan mereka dalam hal menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)

وَمَا وَجَدْنَا لِأَكْثَرِهِم مِّنْ عَهْدٍ ۖ وَإِن وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya  Kami mendapati mayoritas mereka orangorang yang fasik.” (al-A’raf: 102)

dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyah, hlm. 60)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah, lebih-lebih manakala dakwah tersebut berpijak di atas bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya— tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti oleh segelintir orang, bahkan sebagian lainnya tidak mempunyai pengikut! Namun, itu semua tak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban dan tak menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari 10 orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh rahimahumallah berkata, “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah seseorang mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm.106)

Fenomena Syahwat dan Syubhat

Di era globalisasi modern ini, syahwat dan syubhat menjadi ujian tersendiri bagi setiap muslim yang istiqamah di atas kebenaran. Ragam ujian itu pun benar-benar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang sangat tinggi. Godaan syahwat demikian gencarnya menerpa iman dan jiwa seseorang. Wanita dengan berbagai model dan aksen selalu mengiringi derap langkah manusia sepanjang zaman. Penampilan yang norak dan pakaian serba minim telah merambah putri-putri kaum muslimin.

Tak hanya kawula muda, para ibu rumah tangga sekalipun tak luput darinya. Akibatnya, mental dan rasa malunya setahap demi setahap terkikis seiring dengan lajunya arus modernisasi. Tak mengherankan apabila mereka menjadi ikon utama dalam dunia iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan setelahku sebuah godaan yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada wanita.” (HR. al-Bukhari no. 5096 dan Muslim no. 2741, dari Usamah bin Zaid rahimahumallah)

Betapa banyak para pemuda yang tak bisa bersabar terhadap godaan wanita. Betapa banyak para suami yang tak mampu bersabar di atas ketaatan karena godaan sang istri. Enggan untuk istiqamah karena tak disetujui oleh istri. Tak mau hadir di majelis-majelis taklim karena “takut” dengan istri. Bahkan, terkadang ia siap melakukan perbuatan maksiat; wirausaha dengan cara yang haram, mencuri, merampok, menipu, dan semisalnya demi memenuhi tuntutanistri. Dunia dan akhiratnya rusak akibat godaan wanita. Wallahul musta’an.

Di antara godaan syahwat yang juga berbahaya bagi kehidupan beragama seorang muslim adalah harta. Slogan “waktu adalah uang” menjadi prinsip hidup sebagian orang. Berpegang teguh dengan agama akan mewariskan kemiskinan dan kesengsaraan, dianggap suatu keniscayaan. Tak mengherankan apabila sebagian orang ada yang menjadikan harta sebagai tolok ukur kesuksesan dan keberhasilan. Fenomena ini sungguh telah terjadi pada diri Qarun, seorang konglomerat di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam yang dibinasakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Menurut Qarun, limpahan harta yang ada pada dirinya merupakan bukti kesuksesan dan keridhaan Allah Subhanahu wata’ala kepadanya, sedangkan Nabi Musa q dan yang bersamanya tidak mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wata’ala karena tak sukses dari sisi harta. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala membantah persangkaan Qarun yang batil itu dengan firman-Nya Subhanahu wata’ala,

أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْأَلُ عَن ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Apakah dia tidak mengetahui bahwa Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang jahat itu tentang dosa-dosa mereka.” (al-Qashash: 78)

Ujian harta ternyata tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan semata, tetapi orang berilmu pun nyaris terancam manakala orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada “lahan basah” dia pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big boss-nya yang kerap kali tak sesuai dengan syariat dan hati nuraninya. Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya, ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala (agama) dia jual dengan harga yang murah dan manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari perbuatan yang tercela itu, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۙ أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ () أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalamperutnya melainkan api. Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (al-Baqarah: 174—175)

Ada hal penting yang patut diperhatikan. Sikap selektif dan sensitif dalam mendapatkan harta harus selalu dimiliki oleh setiap muslim, baik untuk kehidupan pribadi maupun kepentingan dakwahnya. Tidak asal comot. Tidak pula pakai prinsip “aji mumpung”. Mumpung ada dana, diterima sajalah!? Tanpa mencermati dari mana datangnya dana tersebut, apa latar belakangnya, dan apa pula efek setelah mendapatkannya, baik yang berkaitan dengan dirinya maupun dakwah secara umum.

Langkah-langkah di atas seyogianya ditempuh oleh setiap muslim sekalipun dana tersebut berasal dari lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau bahkan yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah. Betapa banyak lembaga/yayasan yang bergerak di bidang keagamaan atau yang mengatasnamakan Ahlus Sunnah, realitasnya jauh panggang dari api. Sudahkah kita bersabar menghadapi kondisi yang semacam ini? Marilah kita menengok kesabaran diri, mudahmudahan taufik dan inayah Allah Subhanahu wata’ala selalu bersama kita. Amiin…

Adapun godaan syubhat yang berupa kerancuan berpikir tak kalah dahsyatnya dengan godaan syahwat. Aliran-aliran sesat yang mengatasnamakan Islam bermunculan, kesyirikan dipromosikan tanpa ada halangan, para dukun alias orang pintar dijadikan rujukan, ngalap berkah di kuburan para wali menjadi tren wisata religius (agama), dan praktik bid’ah (sesuatu yang diada-adakan) dalam agama meruak dengan dalih bid’ah hasanah. Semua itu mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

بَادِرُوا بِا عْألَْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِم،ِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا وَيُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang) fitnah-fitnah (ujian dan cobaan) layaknya potongan-potongan malam. Di pagi hari seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari (gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al- Madkhali hafizhahullah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seorang yang jujur lagi tepercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu (di atas, -pen.) tentang bermunculannya ragam ujian di tengah umat. Sungguh, telah datang berbagai ujian besar yang sangat kuat menghempas akidah dan manhaj (prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka, menyebabkan pertumpahan darah antarmereka, dan menjatuhkan kehormatan mereka. Bahkan, benarbenar telah menjadi kenyataan (pada umat ini) apa yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْراً بِشِبْرٍ وَذِرَاعاً بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبِعْتُمُوْهُمْ

‘Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani, -pen.) sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup di padang pasir, -pen.) pasti kalian akan mengikutinya’.”

Lebih lanjut, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Saat ini di banyak negeri kaum muslimin muncul berbagai keburukan, seperti komunis, liberal, sekuler, sosialis, dan demokrasi dengan segala perangkatnya. Kelompok sesat Syiah Rafidhah dan Khawarij pun semakin gencar mengembuskan racun-racun yang dahulu mereka sembunyikan. Sebagaimana pula telah muncul kelompok sesat Qadiyaniah dan Bahaiah.” (Haqiqah al-Manhaj al- Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hlm. 2)

Di era globalisasi modern ini, keberadaan ujian syahwat dan syubhat semakin mengglobal. Terpaannya pun semakin dahsyat terhadap iman dan jiwa seseorang. Bagaimana tidak?! Ragam godaan syahwat dan syubhat dari manca negara dengan mudah dapat disaksikan di berbagai kanal televisi. Terlebih lagi di internet, semuanya dapat diakses secara bebas dan mudah. Bahkan, di dunia maya, semua orang—termasuk “pegiat dakwah”—dapat berkenalan dan bertemandengan siapa saja secara bebas dalam ajang FB (facebook) yang mengerikan itu. Para pencinta syahwat terfasilitasi untuk mengumbar syahwatnya. Demikian pula para penjaja syubhat terfasilitasi untuk menjajakan syubhatnya. Betapa banyak kasus perselingkuhan, perceraian, dan kasus-kasus rumah tangga lainnya terjadi akibat pertemanan bebas di facebook. Betapa banyak pula orangorang yang sebelumnya istiqamah di atas manhaj yang lurus menjadi melenceng akibat pertemanan bebas di facebook itu. Wallahul musta’an.

Akhir kata, semoga Allah Subhanahu wata’ala  menganugerahkan kesabaran diri kepada kita sehingga dimudahkan untuk istiqamah di atas kebenaran kala ujian dan coban menerpa. Amiin, Ya Mujibas sailin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Mereka adalah Teladan dalam Kesabaran

Di antara hamba Allah Subhanahu wata’ala ada orang-orang yang bersabar kala ujian dan cobaan menerpa. Mereka adalah para rasul yang mulia dan orang-orang yang meniti jejak mereka dengan sebaik-baiknya. Kisah-kisah mereka ada yang Allah Subhanahu wata’ala abadikan dalam Kitab Suci al-Qur’an sebagai pengajaran dan teladan terbaik bagi umat manusia. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisahmereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf: 111)

Dengan merenungi kisah-kisahmereka, akan terhunjam kesabaran dalam jiwa dan bersemi bunga-bunganya dalam kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari para rasul itu Kami ceritakan kepadamu, ialah kisahkisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yangberiman.” (Hud: 120)

Di antara para rasul yang menjaditeladan dalam kesabaran adalah yang bergelar Ulul Azmi (orang-orang yang mempunyai keteguhan hati). Tidak hanya teladan bagi kaum muslimin, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun diperintahkan oleh Allah luntuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ

“Maka bersabarlah kamu seperti kesabaran orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah ketika menafsirkan ayat di atas menyebutkan bahwa pendapat yang paling masyhur tentang para rasul Ulul Azmi itu adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, Nabi Musa ‘Alaihissalam, Nabi Isa ‘Alaihissalam, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim)

Terkait kesabaran para rasul Ulul Azmi selain Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh telah disebutkan secara rinci oleh Allah Subhanahu wata’aladalam banyak ayat al-Qur’an. Simaklah sepenggal dari kisah mereka berikut ini, Nabi Nuh ‘Alaihissalam adalah rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini. Beliau berdakwah di tengah-tengah kaumnya selama 950 tahun. Tiada yang menyambut dakwah beliau itu kecuali sedikit dari mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)

Mayoritas mereka sangat kuat penentangannya terhadap Nabi Nuh ‘Alaihissalam. Waktu yang sangat panjang, bukti-bukti kebenaran yang cukup banyak, dan pendekatan yang maksimal telah ditempuh oleh beliau. Namun, sambutan mereka hanyalah penentangan dan permusuhan belaka. Dengan sombong mereka mengancam,

لَئِن لَّمْ تَنتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ

“Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti, hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (asy-Syu’ara: 116)

Permusuhan mereka yang keras itu dapat pula dilihat dari keluh kesah Nabi Nuh ‘Alaihissalam kepada Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا () فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا () وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا

“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.” (Nuh: 5—7)

Meski demikian, Nabi Nuh ‘Alaihissalam tetap bersabar dalam dakwahnya meskipun badai permusuhan dari kaumnya menerpa dengan dahsyat. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dan membinasakan musuh-musuhnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَن مَّعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنذَرِينَ

“Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan Dia dan orangorang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayatayat Kami. Perhatikanlah bagaimana kesesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.” (Yunus: 73)

Adapun Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, beliau adalah ayah para nabi setelahnya (abulanbiya’). Beliau benar-benar diberi ujian dan cobaan yang sangat besar. Hampir sepanjang hidupnya dipenuhi oleh ujian dan cobaan yang sangat berat. Namun, beliau dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim’.” (al-Baqarah: 124)

Dalam kehidupan beragama, dakwah tauhid yang beliau lakukan ditentang keras oleh ayah beliau sendiri. Tak luput pula penentangan dari kaumnya yang didukung oleh sang raja, penguasa saat itu. Terjadilah kesepakatan mereka untuk membakar beliau hidup-hidup dengan tumpukan kayu bakar yang menggunung. Beliau ditangkap dan digiring oleh massa menuju tumpukan kayu bakar yang tengah menyala-nyala. Beliau tetap tegar dan bersabar atas semua itu hingga dilemparkanlah tubuh beliau ke dalam kobaran api yang sangat dahsyat itu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ () قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ () وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

“Mereka berkata, ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.’ Kami berfirman, ‘Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.’ Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia (negeri Syam, termasuk di dalamnya Palestina, -pen.).” (al-Anbiya’: 68—71)

Dalam kehidupan rumah tangga, beliau diuji dengan hampanya keturunan dalam waktu yang cukup lama. Manakala dikaruniai keturunan seorang anak lelaki dari istri beliau, Hajar , yang dinantikan itu, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau agar menempatkan si buah hati, Ismail, dan ibunya di Makkah, lembah yang kering kerontang dan tak berpenghuni kala itu. Dengan penuh kesabaran, beliau jalani ujian tersebut.

Waktu berjalan, Ismail si buah hati pun tumbuh berkembang menyejukkan siapa saja yang memandangnya. Kemudian datanglah ujian berikutnya dari Allah Subhanahu wata’ala agar menyembelih si buah hati. Subhanallah, dengan penuh kesabaran ujian yang sangat berat itu beliau jalani. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ () قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ () إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ () وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ () وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ () سَلَامٌ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’.” (ash- Shaffat: 103—109)

Adapun Nabi Musa ‘Alaihissalam, kisah Meraih Kebahagian dengan Kesabaran kesabaran dan ketegaran beliau di atas kebenaran telah diabadikan dalam beberapa surat al-Qur’an. Beliau yang berasal dari bani Israil diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk menyampaikan dakwah tauhid kepada Fir’aun, Raja Mesir yang sangat kejam, diktator, dan sangat benci kepada bani Israil.

Para wanita bani Israil diperlakukan secara tak senonoh, bayi-bayi mereka disembelih secara massal, sedangkan kaum lelakinya dijadikan budak. Kendati demikian, beliau jalankan tugas kerasulan dengan penuh kesabaran. Dakwah tauhid beliau sampaikan kepada Fir’aun dengan segala risikonya. Hari-harinya dipenuhi dengan ketegangan, berhadapan dengan Fir’aun dan bala tentaranya. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ () وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ () وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ () ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ

“Setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab, ‘Sekalikali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabb-ku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. Di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (Fir’aun dan bala tentaranya, -pen.). Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya semuanya dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu.” (asy-Syu’ara’: 61—66)

Seiring dengan kejamnya musuh yang dihadapi, Nabi Musa ‘Alaihissalam harus menghadapi umatnya yang sangat bandel dan sulit diatur. Berbagai gangguan, ungkapan kekecewaan, dan pembangkangan seringkali mereka tujukan kepada beliau. Namun, semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran. Di antaranya adalah sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالُوا أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِيَنَا وَمِن بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

“Kaum Musa berkata, ‘Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.’ Musa menjawab, ‘Mudahmudahan Allah membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatan kalian’.” (al- A’raf: 129)

قَالُوا يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَدًا مَّا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ

“Mereka berkata, ‘Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja’.” (al-Maidah: 24)

Kesabaran Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap gangguan dan pembangkangan umatnya telah diakui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَحِمَ اللهُ مُوسَى، قَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Nabi Musa ‘Alaihissalam, sungguh telah disakiti lebih banyak dari ini, namun beliau bersabar.” (HR. al-Bukhari no. 4336 dan 6059, dari Abdullah bin Mas’ud z)

Adapun Nabi Isa ‘Alaihissalam, beliau diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil untuk memperingatkan mereka yang telah menyimpang dari agama Nabi Musa ‘Alaihissalam. Mereka telah apriori terhadap keabsahan nasab beliau. Klaim sebagai anak zina pun mereka tujukan kepada beliau. Sudah tentu, seseorang yang tersisihkan dari kaumnya karena sebuah klaim nista (walaupun dusta), amat berat baginya secara psikis untuk tampil sebagai pegiat dakwah yang mengajak mereka kepada kebenaran dan memperingatkan mereka dari segala penyimpangan yang ada. Namun, tugas kerasulan yang mulia itu beliau jalani dengan penuh ketaatan dan kesungguhan. Beliau pun bersabar atas segala permusuhan dan cercaan kaumnya. Dengan itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan mukjizat dan kenikmatan yang besar kepada beliau. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman (yang artinya),

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan, ‘Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat- Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus, kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) di waktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin- Ku. Dan (ingatlah) di waktu kamu menyembuhkan orang yang dilahirkan dalam keadaan buta dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu aku menghalangi bani Israil (dari keinginan mereka membunuh kamu) di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir diantara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata’.” (al-Maidah: 110)

Demikianlah para rasul Ulul Azmi yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’ala mengabadikan nama sebagian mereka sebagai nama surat al-Qur’an, seperti surat Ibrahim dan surat Nuh. Sebagaimana pula Allah Subhanahu wata’ala  mengabadikan nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam  untuk sebuah surat al- Qur’an, yaitu surat Muhammad. Sejauh manakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi sebelum beliau itu, sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam termasuk dari mereka, bahkan menjadi yang paling mulia di antara mereka?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjalankan perintah Rabbnya (meneladani kesabaran para rasul Ulul Azmi). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dicapai oleh seorang nabi pun sebelumnya. Ketika para musuh menggalang perlawanan terhadap beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara serempak, bersatu padu menghalau dakwah ilallah yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan, serta menjalankan segala aksi permusuhan dan penyerangan yang dimampui oleh mereka, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap tegar di atas perintah Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabar atas segala gangguanyang mendera, hingga akhirnya Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengokohkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di muka bumi ini, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas semua umat.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 784)

Dalam kesempatan lain, ketika menafsirkan surat al-Muddatstsir: 1—7, asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersegera menjalankan perintah Rabbnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan peringatan kepada umat manusia. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam jelaskan kepada mereka semua permasalahan agama dengan ayat-ayat (bukti-bukti) yang nyata. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala dan menyeru umat manusia untuk mengagungkan-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersihkan segenap amalan yang zahir dan yang batin dari kejelekan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berpaling dari segala sesuatu yang dapat menjauhkan diri dari Allah Subhanahu wata’ala; berhala dan para pemujanya, serta kejelekan dan para pelakunya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berjasa bagi umat manusia—setelah jasa dari Allah Subhanahu wata’ala—tanpa menuntut pamrih dan balasan dari mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ikhlas dalam kesabarannya itu dengan kesabaran yang sempurna; bersabar di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala , bersabar dari perbuatan maksiat, dan bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala yang buruk. Tak mengherankan apabila beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akhirnya mengungguli semua Ulul Azmi dari para rasul. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada mereka semua.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 895)

Di antara para rasul selain Ulul Azmi yang juga menjadi teladan dalam kesabaran adalah:

• Nabi Ismail ‘Alaihissalam, Nabi Idris’ Alaihissalam, dan Nabi Dzulkifli ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang bersabar.” (al- Anbiya’: 85)

• Nabi Ayyub ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ () ارْكُضْ بِرِجْلِكَ ۖ هَٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وَشَرَابٌ () وَوَهَبْنَا لَهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ () وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِب بِّهِ وَلَا تَحْنَثْ ۗ إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya, ‘Sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’ (Allah berfirman), ‘Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’ Kami anugerahkan kepadanya (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabb-nya).” (Shad: 41—44)

• Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan ayah beliau, Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam. Surat Yusuf menjadi bukti atas kesabaran mereka. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar atas musibah yang menimpa diri beliau manakala saudara-saudaranya bersepakat untuk membuang beliau ke dalam sumur. Lalu ada sekelompok musafir yang menimba air dari sumur itu dan beliau pun terangkut naik ke atas sumur, hingga dijuallah beliau kepada seorang penguasa negeri Mesir dengan harga yang sangat murah (beberapa dirham saja) layaknya hamba sahaya. Semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran.

Manakala beliau telah tumbuh dewasa di rumah ayah pungutnya yang penguasa itu, dengan perawakan yang bagus dan wajah yang sangat tampan, ternyata istri sang penguasa itu tergoda dengan kebagusan dan ketampanan beliau. Ketika tak ada orang lain di dalam rumah itu selain mereka berdua, wanita itu pun menutup rapat-rapat semua pintu, kemudian merayu beliau untuk melakukan perbuatan yang tak senonoh. Dengan petunjuk dari Allah Subhanahu wata’ala beliau mampu menahan diri (bersabar) dari perbuatan maksiat. Beliau tetap tegar dan tak luluh dengan rayuan wanita bangsawan lagi rupawan itu.

Bahkan, beliau lari menuju pintu untuk bisa keluar dari rumah tersebut dan lolos dari jeratjerat setan. Wanita yang sedang gelap mata itu pun terus memburu beliau dan berhasil menarik baju beliau dari belakang hingga terkoyak. Di situlah mereka kepergok oleh suami si wanita yang tak lain adalah penguasa negeri Mesir. Namun, berkat kepandaian dan kedudukannya, si wanita berkilah di hadapan suaminya. Ia menyalahkan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dan

membenarkan dirinya. Akhirnya, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam dijebloskan ke dalam penjara karenanya. Semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran seraya mengadukan permasalahannya hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

ۀ ۀ ہ ہ ہ ہ ھ ھ ھ ھ ے

Yusuf berkata, ‘Wahai Rabb-ku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku, dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.’ Rabbnya pun mengabulkan doa Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf) bahwa mereka harus memenjarakannya sampai waktu tertentu (untuk mengesankan bahwa Yusuflah yang bersalah dalam kasus itu).” (Yusuf: 33—35)

Manakala Nabi Yusuf ‘Alaihissalam keluar dari penjara, Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau hingga dipercaya menduduki jabatan penting di negeri Mesir. Dalam kondisi demikian , dengan segala hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala mempertemukan beliau dengan saudara-saudara beliau yang dahulu berbuat jahat kepada beliau (membuang beliau ke dalam sumur). Apakah beliau membalas kejahatan mereka? Tidak, beliau memaafkan mereka semua dan tak membalasnya sedikit pun. Allah l mengabadikan kisah mulia itu di dalam al-Qur’anul Karim,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ () فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ () ثُمَّ بَدَا لَهُم مِّن بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّىٰ حِينٍ

“Yusuf berkata, ‘Apakah kalian mengetahui (kejelekan) apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak mengetahui (akibat) perbuatan kalian itu?’ Mereka berkata, ‘Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?’ Yusuf menjawab, ‘Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.’ Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orangorang yang berbuat baik.’ Mereka berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).’ Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni (kalian), dan Dia adalah Dzat Yang Maha Penyayang’.” (Yusuf: 89—92)

Adapun Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam, beliau adalah teladan yang baik dalam hal bersabar atas segala musibah yang menimpa. Beliau bersabar dan bertawakal manakala seorang putra yang sangat disayanginya, yakni Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, hilang tak menentu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Mereka datang membawa baju gamis Yusuf (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata, ‘Sebenarnya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka dari itu, kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan’.” (Yusuf: 18)

Setelah beberapa tahun dari “kepergian” Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, disusul kepergian adik kandung Nabi Yusuf ‘Alaihissalam ke negeri Mesir sebagai persyaratan bagi saudara-saudaranya yang lain (anak-anak Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam) untuk mendapatkan persediaan bahan makanan dari pemerintah negeri Mesir. Namun, sang adik ternyata harus ditahan di sana dan tak bisa turut pulang bersama yang lain, karena tertuduh mengambil piala (gelas minum) raja. Semua itu dihadapi oleh Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam dengan penuh kesabaran. Beliau tiada berkeluh kesah selain hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

“Ya’qub berkata, ‘Hanya diri kalian sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudahmudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’ Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf.’ Kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anakanaknya). Mereka berkata, ‘Demi Allah, senantiasa kamu mengingati Yusuf hingga kamu mengidap penyakit yang berat atau termasuk orang-orang yang binasa.’ Ya’qub menjawab, ‘Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tiada tahu’.” (Yusuf: 83—86)

Mahabenar Allah Subhanahu wata’ala dengan segala firman-Nya manakala berfirman,

لَّقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِّلسَّائِلِينَ

“Sesungguhnya ada beberapa tandatanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf: 7)

Demikianlah secercah cahaya dari kisah kesabaran para teladan yang mulia. Semoga menjadi lentera yang menerangi jalan hidup kita dan menjadi titian emas menuju kesabaran. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Menggenggam Bara Kesabaran

Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”

Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits di atas memang dhaif,hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (Silsilah Shahihah 2/682)

menerangkan, ”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi shahih tsabit dengan adanya haditshadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at- Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan. Wallahu a’lam.

Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi. Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad tsulatsi (antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam Sunan at-Tirmidzi. Bayangkan saja! Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. Lebih dari 200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja. Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad tsulatsi. Di dalam Shahih al-Bukhari terdapat 22 sanad tsulatsi. Adapun dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan Sunan an-Nasa’i tidak terdapat satu pun sanad tsulatsi. Ada lima sanad tsulatsi di dalam Sunan Ibnu Majah. Yang paling banyak, sanad tsulatsi ditemukan di dalam al-Musnad karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. (Tahqiqur Raghbah lil Khudair)

Menggenggam Bara Api?

Sebagai bentuk kesempurnaan iblagh risalah (penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki. Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang bertekad menegakkan dinul islam secara utuh dan kaffah harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api. Nas’alullahul i’anah.

Al-Imam al-Munawi rahimahumallah (Faidhul Qadir 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”

Ath-Thibi rahimahumallah (Marqatil Mafatih 15/307) menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya. Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.”

Bukan Sebatas Berita

Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih! Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.

Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.

Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.

Para Nabi Pun Merasakan

Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi. Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)

Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya!

Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!

Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

“Apakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?”

Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin? Namun,kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah Subhanahu wata’ala kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan ayat di atas, “Allah lberfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”

Sikap Seorang Muslim

Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wata’ala pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.

Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berikutini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas (dalam Bahjah Qulubil Abrar), beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, “Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

“Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.

Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Allah Subhanahu wata’alaakan memudahkan seluruh urusannya.”

Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Sabar Tidak Berarti Diam Dari Kemungkaran

Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu. Ungkapan yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu. Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu, kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk melampiaskannya, kemampuan untuk melaksanakannya ada, tidak ada mata manusia yang melihatnya, gejolak nafsu membara, oleh Allah Subhanahu wata’ala kita diperintahkan untuk mengerem diri dan menahannya. Sungguh, betapa berat.

Di saat kita berada dalam amal saleh dan ketaatan, bisa jadi amal itu berisikopada hilangnya nyawa, harta benda, dan keturunan, kita diperintahkan untuk tegar di atasnya. Tidak boleh mundur dan goyah, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaannya. Lebih-lebih, ketaatan tersebut sangat tidak disenangi oleh hawa nafsu serta dibenci oleh iblis dan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin. Sungguh, betapa berat sabar di atasnya. Di saat kita mengerahkan segala kemampuan untuk mengejar sebuah cita-cita dalam hidup ini, pengorbanan yang tidak sedikit telah dikeluarkan, usaha dengan segala cara sudah ditempuh, segala yang dibutuhkan untuk mengejar cita-cita tersebut telah dikerahkan, keberhasilan sudah di ujung tanduk dan di pelupuk mata—menurut perkiraan—, teman teman dan saudara telah menyaksikan akan terjadinya sebuah keberhasilan, sanjungan dan pujian kerap kali menyapa dan menggiurkan seolah-olah dunia berada dalam genggaman, tiba-tiba tanpa diduga terjadi sebaliknya. Kegagalan yang sangat dalam. Luluh lantak segala usaha yang kita bangun. Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Itulah sabar, betapa beratnya. Sungguh, pahit dan berat, namun akibatnya di kemudian hari akan manis nan indah.

Sabar, Lentera Jiwa

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ

“Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk di dalam hatinya.” (at-Taghabun: 11)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abu Hatim dari Alqamah, ia berkata, “Yaitu seseorang yang ditimpa oleh sebuah musibah dan dia mengetahui bahwa semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala, lalu dia ridha dan menerimanya.”

Saudaraku, adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat hidayah yang telah merasuk dalam sanubari? Adakah nikmat yang lebih besar daripada hati yang telah dilumuri hidayah Allah Subhanahu wata’ala? Tentu, tidak ada akhir dan akibat dari kesabaran selain kebahagiaan dan kelezatan. Allah Subhanahu wata’ala  akan menggantikan dunia yang telah luput darinya dengan petunjuk di dalam hati, keyakinan yang penuh kejujuran. Allah Subhanahu wata’ala pun akan mengganti apa yang telah diambil-Nya.

Al-Imam Ahmad rahimahumallah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sabar dalam sembilan puluh tempat di dalam kitab-Nya.”

Sabar, Senjata yang Ampuh dan Berharga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa (10/48), menjelaskan, “Musibah-musibah adalah nikmat. Sebab, ia akan menghapus dosa-dosa dan mendorong seseorang untuk bersabar sehingga mendapatkan ganjaran. Musibah akan mengajakseseorang untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan merendah diri di hadapan-Nya, berpaling dari makhluk (yang tidakmampu berbuat apa-apa, -pen.), dan  berbagai maslahat lain. Cobaan itu sendiri berfungsi menghapuskan segala dosa dan kesalahan, dan ini sendiri sudah termasuk nikmat yang sangat besar.”

Musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat bagi seluruh manusia, kecualiapabila musibah itu menyeretnya ke  dalam kubangan maksiat, tentu ini adalah musibah yang lebih besar lagi dibanding sebelumnya. Dari sisi inilah, yaitu akibat yang akan merusak agamanya, musibah itu menjadi kejelekan baginya. Di antara manusia ada yang ditimpa oleh kefakiran, penyakit, atau rasa sakit lalu timbullah pada dirinya kemunafikan, keluh kesah, penyakit di dalam hati, meninggalkan beberapa kewajiban, dan melaksanakan hal-hal yang diharamkan. Ini mengakibatkan kemudaratan bagi agamanya.

Karena itu, sehat lebih baik baginya ditinjau dari musibah yang terjadi setelahnya, bukan ditinjau dari esensi musibah itu sendiri. Sebagaimana halnya jika musibah itu membuahkan kesabaran dan ketaatan, berarti di dalamnya terkandung nikmat agama. Musibah itu merupakan perbuatan Allah Subhanahu wata’ala yang akan menjadi rahmat bagi si makhluk.

Allah Maha Terpuji atas semuanya. Barang siapa diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan musibah dan diberi kesabaran, kesabaran itu menjadi sebuah nikmat dalam agamanya. Setelah kesalahankesalahannya dihapuskan, niscaya dia akan mendapatkan taburan rahmat. Bila dia memuji Allah Subhanahu wata’ala atas ujian yang dia derita, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memujinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka.” (al- Baqarah: 157)

Dia akan memetik buahnya, yaitudiampuni kesalahan-kesalahannya dan diangkat derajatnya. Karena itu, barang siapa menerima musibah itu dengan kesabaran yang wajib, niscaya dia akan  memperoleh semuanya.”

Sabar dan Cinta, Teman Sejoli?

Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/162) menjelaskan, “Sesungguhnya kesabarandalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala  adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta.

Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, namun saat Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain orang-orang yang bersabar. Kalaulah tidak sabar memikul segala beban berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta. Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, tentang kekasih-Nya Ayyub ‘Alaihissalam,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia dalam keadaan bersabar, dia adalah sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia orang yang banyak bertobat.” (Shad: 44)

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan hamba- Nya yang terbaik untuk bersabar terhadap segala hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’alamemberitakan pula bahwa Dia yang telah menjadikan beliau bersabar. Allah Subhanahu wata’ala memuji orang-orang yang bersabar dengan sebaik-baik pujian dan telah menjamin dengan ganjaran yang besar. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan ganjaran selain orang-orang yang bersabar terbilang, sedangkan ganjaran untuk mereka tidak terbatas. Allah Subhanahu wata’ala menggandengkan sabar dengan Islam, iman, dan ihsan.Allah menjadikan sabar sebagai saudara yakin, tawakal, iman, amalan-amalan, dan takwa.

Allah Subhanahu wata’ala memberitakan bahwa orang yang bersabarlah yang akan mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Da memberitakan juga bahwa kesabaran itu benar-benar sebuah keberuntunganbagi pemiliknya, dan para malaikat mengucapkan salam kepada mereka di dalam surga karena kesabaran mereka.”

Kesabaran Sebagian Ulul ‘Azmi

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul. Janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

As-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar dari gangguan para pendusta dan penentang agar beliau terus mendakwahi mereka ke jalan Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil ibrah dengan kesabaran ulul azmi dari para rasul—para pemimpin makhluk ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki azam dan keinginan yang tinggi, kesabaran yang mendalam, keyakinan yang sempurna. Mereka paling berhak untuk diteladani, diikuti langkahlangkahnya dan diterima bimbingan mereka. Rasulullah n melaksanakan perintah Rabbnya, lalu bersabar dengan kesabaran yang tidak pernah terwujud pada nabi dan rasul sebelum beliau.

Para musuhnya melemparkan panahnya dari satu busur. Mereka bangkit untuk menghadapi beliau dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk permusuhan dan peperangan. Namun, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tabah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, bersabar menanggung beban gangguan hingga Allah Subhanahu wata’ala mengokohkan beliau di muka bumi, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas seluruh umat. Shalawat dan salam atas beliau. Jangan engkau tergesa-gesa terhadap para pendusta yang menantang azab Allah Subhanahu wata’ala disegerakan.

Ini merupakan bukti kejahilan dan ketololan mereka. Jangan pula sekali-kali engkau berputus asa karena kejahilan mereka. Jangan pula permintaan mereka untuk disegerakannya azab Allah Subhanahu wata’ala menyebabkanmu mendoakan kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang pasti datang itu adalah dekat.

Di saat mereka melihat apa yang telah dijanjikan, mereka merasa tinggal di dunia ini hanyalah sesaat. Janganlah engkau sedih karena bernikmat-nikmatnya mereka di dunia, padahal mereka sedang berjalan menuju azab yang sangat pedih. Sementara itu, dunia ini, kenikmatan di dalamnya, syahwat-syahwatnya, hanya sementara dan penghilang dahaga yang berkamuflase. Kami telah jelaskan al-Qur’an yang agung ini dengan terang dan gamblang sebagai bekal kalian (di dunia) serta sebagai bekal untuk ke negeri akhirat. Sebaik-baik bekal adalah bekal yang akan menyampaikan ke negeri kenikmatan dan yang menjaga dari azab yang pedih.

Sungguh, al-Qur’an merupakan sebaik-baik bekal bagi setiap makhluk dan nikmat teragung yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka. Tidaklah akan binasa dengan azab dan hukuman kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka telah keluar dari ketaatan kepada Rabb mereka dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan uzur kepada mereka dan memberikan peringatan, namun setelah itu mereka terus-menerus berada dalam pendustaan dan kekafiran. Kita meminta dari Allah Subhanahu wata’ala perlindungan.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Allah Subhanahu wata’ala banyak bercerita di dalam al-Qur’an tentang kepribadian Nabi Nuh’Alaihissalam sebagai rasul pertama kali di muka bumi ini. Ayat-ayat tersebut menggambarkan kepribadian yang tangguh, kesabaran yang tinggi, semangat yang kuat, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Umur panjang yang dianugerahkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, 950 tahun, dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yangsuci, siang dan malam tanpa rasa lelah dan bosan.

Di sisi lain, keluarga beliau, yaitu istri dan anak, bangkit melakukan manuver-manuver penentangan dan pembangkangan terhadap segala yang dibawanya. Begitu pula mayoritas kaum beliau, menentang seruan beliau. Yang ada hanya kesedihan dan pasrah atas semuanya itu. Sebab, apa yang bisa diperbuat tatkala keputusan Allah Subhanahu wata’ala  berbeda dengan keinginan diri. Beban derita yang didapatinya dalam mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala tidak menyebabkan beliau putus asa dalam tugas yang berat itu. Justru sebaliknya, hal itu menambah keyakinan dan semangat beliau akan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Beragam ejekan, olokan, dan cemoohan kaumnya datang silih berganti, namun tidak menggoyahkan beliau sedikit pun. Kegigihan beliau berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan kesabaran menanggung beban derita di jalan dakwah tidak menjadi penghalang beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sosok nabi yang tabah dan sabar. Hal itu tergambar dalam sirah (sejarah) hidupnya yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an.

Tatkala bertambah umur dan belum dikaruniai keturunan, beliau bermunajat kepada Allah Subhanahu wata’ala  agar mendapatkan keturunan. Allah Subhanahu wata’ala mendengar dan mengabulkan permintaannya. Tatkala si buah hati tumbuh berkembang hingga menjadi dewasa, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau. Allah perintahkan si buah hati yang diidam-idamkannya disembelih. Bagaimanakah beliau menyikapi perintah tersebut?

Ternyata, perintah itu sedikit pun tidak menggoyahkan keimanan beliau kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak melemahkan dan menodai cintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Perintah itu beliau junjung tinggi dan laksanakan tanpa keraguan sedikit pun. Sungguh, sangat berat ujian menimpa beliau. Beliau lulus dan berhasil menjalani ujian tersebut. Itulah akhir bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau dengan kekafiran sang bapak dan penentangan kaumnya yang sangat besar. Beliau menghadapi semuanya dengan penuh keberanian, kesabaran, ketabahan, dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sang bapak mengancam untukmerajam dan mengusirnya jika tidak berhenti dari seruannya. Kaumnya sendiri dengan angkara murka mengobarkan api menggunung untuk membakarnya. Semua itu tidak menjadikan beliau berhenti mengingkari kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan.

Kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan agama-Nya dengan pengutusan beliau sekaligus sebagai penyempurna atas agama yang lain. Nasib beliau dalam dakwah tidaklah berbeda dengan para rasul sebelumnya. Bahkan, beliau mendapatkan ujian yang lebih berat dibandingkan dengan para nabi dan rasul sebelum beliau. Orang yang pernah membaca sirah beliau pasti mengetahuinya.

Siang dan malam, tanpa rasa lelah dan bosan beliau menyeru umatnya untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata. Keluarga terdekat beliau bangkit menghadang dakwahnya. Celaan dan caci makian bertubi-tubi datang dengan berbagai bentuk. Bahkan, tindak kekerasan dan ancaman kerap menimpa beliau. Sekali lagi, kemenangan bagi hamba-Nya yang bertakwa. Semuanya tidak menjadikan beliau takut untuk menyuarakan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala.

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasululah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka dari kalangan manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kokoh, bertambahlah ujian itu. Jika pada agamanya kelemahan, dikurangi ujiannya. Terus-menerus ujian itu menyertai seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi ini tanpa membawa kesalahan.” ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 143)

Contoh Ujian yang Menimpa Ulama

Umat Rasulullah adalah umat terbaik di tengah umat-umat yang ada. Mereka umat terakhir, namun menjadi umat yang pertama kelak di akhirat, sebagaimana halnya nabi dan rasul mereka adalah yang terbaik dan imam para rasul. Kemurnian dan kesempurnaan agama yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dijaga dan dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai akhir zaman. Allah Subhanahu wata’ala membangkitkan tokoh umat ini sebagai tentara-Nya untuk mengawal dan menjaga kesempurnaan serta kemurnian agama-Nya. Dia membangkitkan para mujaddid yang akan melakukan pembaruan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang telah dirusak, dinodai, dikotori, dan dimatikan.

Tepatnya pada abad ke-3 H, Allah Subhanahu wata’ala memunculkan sederetan mujaddid dan mujtahid, di antaranya al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu Abdillah. Beliau harus berhadapan dengan tiga penguasa bani Abbasiah yang telah terperosok ke jurang kesesatan, yaitu pemahaman bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Tiga pengausa itu adalah al- Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq. Al-Baihaqi berkata, “Tidak ada khalifah sebelumnya (al-Ma’mun) kecuali berada di atas mazhab dan manhaj salaf.” Hidup di bawah kekuasaan mereka, al-Imam Ahmad rahimahumallah mendapatkan teror, ancaman, dan penyiksaan.

Mereka memaksa agar al-Imam Ahmad mau mengikrarkan, “Al-Qur’an itu makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahumallah kokoh dalam prinsip, “Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.” Beliau tampil menghadapi ancaman tanpa rasa gentar dan takut, bagaikan kokohnya gunung batu yang menjulang tinggi. Bak pohon yang akarnya kokoh menancap di bumi, tidak diombang-ambingkan oleh badai. Bagaikan karang menggunung di lautan, tidak tergoyahkan oleh ombak yang dahsyat.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah dalam kitab beliau al-Bidayah wa an-Nihayah (14/396—399) menceritakan perjalanan pahit hidup al-Imam Ahmad di bawah tekanan tiga penguasa bani Abbasiah tersebut. Semuanya menunjukkan tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala  di umat ini dan akhir yang baik bersama orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi. Ulamaulama di masa al-Imam Ahmad rahimahumallah, serta umat ini turut menyaksikan kekokohan, kekuatan, kesabaran, keberanian, kecerdasan, keilmuan, kezuhudan, ketakwaan, ketawadhuan, serta berbagai sifat agung dan mulia lainnya. Kesabaran beliau menanggung beban hidup dalam memperjuangkan kebenaran tidak menghalangi beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah