Khutbah Jum’at dan Adab-Adab Khatib

Dalam penjelasan al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah sebelumnya disebutkan bahwa khutbah adalah syarat sahnya Jum’atan karena tidak pernah dinukil dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat Jum’at tanpa didahului oleh dua khutbah.

Khutbah Jum’at adalah bagian dari zikir yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam surat al-Jumu’ah dan Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk bersegera mendatanginya. Khutbah juga momen yang sangat tepat untuk menjelaskan perkara agama karena saat itu kaum muslimin berkumpul pada sebuah tempat atau kampung yang tidak seperti hari-hari biasa.

Membuat Mimbar

Disyariatkan berkhutbah di atas mimbar seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara hikmah berkhutbah di atas mimbar adalah memudahkan makmum untuk melihat khatib dan mendengarkan khutbahnya. (Fathul Bari 2/400)

Waktu Azan Jum’at

Al Imam Al Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari as-Saib bin Yazid bahwa ia berkata, “Adalah azan Jum’at awalnya apabila imam sudah duduk di atas mimbar di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Ketika di masa Utsman radhiyallahu ‘anhu  -dan manusia telah banyak- Utsman menambahkan azan yang ketiga di Zaura.1” (HR. al-Bukhari no. 912)

Yang dimaksud dengan tiga azan di sini adalah azan pertama sebelum Utsman keluar untuk khutbah, azan kedua adalah ketika beliau sudah duduk di atas mimbar, dan azan yang ketiga adalah iqamah. Jadi, iqamah juga dinamakan azan.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Saya menyukai untuk dikumandangkan azan pada hari Jum’at ketika imam (khatib) telah masuk masjid dan duduk di tempat ia berkhutbah (mimbar)…. Apabila imam telah melakukan hal itu, muazin memulai mengumandangkan azan. Apabila telah selesai azan, imam berdiri menyampaikan khutbahnya, tidak lebih dari itu.”

Asy-Syafi’i lalu menyebutkan hadits as-Saib bin Yazid di atas kemudian berkata, “Atha’ mengingkari/tidak menyetujui bahwa yang melakukan azan ketiga itu adalah Utsman. Atha’ mengatakan bahwa yang membuat-buat azan Jum’at tiga itu adalah Mu’awiyah2.”

Lalu asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Namun, siapa pun yang melakukan tiga azan pertama kali, perkara yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu (yakni hanya satu azan dan satu iqamat, -red.) tetap lebih saya sukai.” (al-Umm 1/503-504)

Sifat Khutbah

Setelah selesai azan, khatib berdiri menyampaikan khutbahnya yang diawali dengan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan mengucapkan dua kalimat syahadat seperti halnya yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Asy-Syaukani rahimahullah menerangkan, “Tentang pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, mayoritas ulama berpendapat wajibnya hal itu dalam khutbah. Demikian pula tentang shalawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Ahaditsul Jumu’ah hlm. 340)

Adapun syahadatain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Semua khutbah yang tidak ada padanya tasyahud (ucapan dua kalimat syahadat) maka khutbah itu seperti tangan yang terkena penyakit lepra.” (Sunan Abu Dawud no. 4841, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Tamamul Minnah hlm. 334)

Seyogianya diketahui, khutbah yang disyariatkan adalah apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mendorong manusia untuk menjalankan perintah agama dan menjauhi laranganlarangannya. Ini adalah ruh khutbah dan karena itu pula khutbah disyariatkan.

Jadi, syarat utama dalam khutbah adalah nasihat yang melembutkan hati dan memberi faedah untuk para hadirin. Adapun memulai khutbah dengan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalawat atas Nabi, membaca sesuatu dari al-Qur’an, dan semisalnya, ini termasuk kesempurnaan khutbah, namun bukan syarat sahnya.

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah al-‘Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Ajwibah an-Nafi’ah (hlm. 54) dan asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam Hasyiah asy-Syarhul Mumti’ (5/73).

Meskipun bukan syarat sahnya khutbah, tidak sepantasnya hal itu untuk ditinggalkan -agar terhindar dari perselisihan pendapat tentang apakah hal tersebut syarat khutbah atau bukan- karena dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakannya.

Di sini ada sebuah hal yang perlu diingatkan, yakni sebagian khatib menyebutkan hadits-hadits lemah dan palsu dalam khutbahnya tanpa menyebutkan derajat haditsnya. Ini adalah salah satu sebab tersebarnya kebid’ahan di tengah-tengah masyarakat, disadari atau tidak. Oleh karena itu, hendaknya khatib mencukupkan diri dengan menyebutkan hadits yang sahih dan kuat.

Demikian pula jika sebagian khatib memanfaatkan kesempatan khutbahnya untuk berkampanye, mengajak kepada partai politik tertentu dan memperingatkan umat dari partai politik yang lain. Perbuatan ini telah mencederai kedudukan khutbah yang sejatinya adalah zikrullah. Hendaknya para khatib takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak mengkhianati umat.

Bolehkah Berkhutbah dengan Selain Bahasa Arab?

Agar para jamaah mengambil faedah dari khutbah yang disampaikan, sepantasnya seorang khatib memilih bahasa yang mudah dipahami. Oleh karena itu, menurut pendapat yang terkuat, boleh berkhutbah dengan selain bahasa Arab apabila para jamaah tidak mengerti bahasa Arab.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Dalam masalah ini, yang benar adalah khatib Jum’at itu tidak boleh berkhutbah dengan bahasa yang tidak dipahami oleh para hadirin dan selainnya. Jika para hadirin bukan orang Arab, misalnya, dia berkhutbah dengan bahasa mereka, karena ini adalah sarana penjelas bagi mereka. Tujuan khutbah adalah menjelaskan batasanbatasan Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya serta menasihati dan membimbing mereka. Adapun ayat-ayat al-Qur’an harus (disebutkan) dengan bahasa Arab, lalu dijelaskan dengan bahasa hadirin.

Dalil bolehnya berkhutbah dengan selain bahasa Arab adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ اِلَّابِلِسَانِ قَوْمِهِ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun selain dengan bahasa kaumnya.” (Ibrahim: 4)

Allah Subhanahu wata’ala menerangkan (pada ayat di atas), sarana penjelas hanyalah dengan bahasa yang dipahami oleh orang-orang yang diajak bicara. (Fatawa Arkanil Islam hlm. 393)

Beberapa Adab Khatib

1. Mengucapkan salam kepada makmum ketika naik mimbar.

Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa setelah naik mimbar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 917)

2. Duduk setelah menaikinya, sebelum menyampaikan khutbah sambil mendengarkan azan Jum’at yang dikumandangkan muazin serta menjawab azannya.

3. Selesai azan, ia berdiri menghadap makmum dan menyampaikan khutbah dengan menyandarkan tangannya pada tongkat atau busur panah.

Ini berlandaskan pada hadits al-Hakam bin Hazm al-Kulafi radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menyaksikan/mengikuti Jum’atan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau berdiri

(dalam khutbah) bersandarkan pada tongkat atau busur panah. (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nyadanal-Hafizh menyatakannya hasan dalam at-Talkish al-Habir 2/65). Dalam masalah ini memang ada pebedaan pendapat, sebagian ulama memandangnya tidak perlu. (-red.)

4. Duduk di antara dua khutbah untuk istirahat sejenak lalu berdiri lagi untuk menyampaikan khutbah kedua.

Hal ini seperti penuturan sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dengan berdiri lalu duduk kemudian berdiri. (Shahih al-Bukhari no. 920)

5. Mengeraskan suara (secara wajar) agar makmum mendengar apa yang diucapkannya.

Dahulu, apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, kedua matanya memerah dan suaranya tinggi, seolah-olah beliau adalah seorang pemberi peringatan kepada pasukan bahwa musuh akan menyerang di waktu pagi atau sore. (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)

6. Memendekkan khutbah dan memanjangkan shalat.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ طُوْلَ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيْلُواالصُّلَاةَ وَاقْصُرُواالْخُطْبَةَ

Sesungguhnya panjangnya shalat dan pendeknya khutbah seseorang adalah pertanda (mendalam) pemahamannya. Panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah!” (ShahihMuslim no. 869 dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhuma)

Hadist ini menunjukkan disyariatkannya memendekkan waktu (durasi) khutbah. Yang dimaksud adalah khutbah yang sedang, sebagaimana disebutkan dalam riwayat lain, yaitu pertengahan, antara pendek yang tidak mencukupi dan panjang yang berlebihan.

Pendeknya khutbah menandakan keilmuan khatib yang mendalam, dilihat dari sisi bahwa dia bisa mengungkapkan sesuatu yang luas dengan kata-kata yang ringkas (padat). Apabila panjang, tidak sampai memberatkan para makmum atau sampai keluar waktu.(Ahaditsul Jumu’ah hlm. 355)

Namun, jika sesekali khatib memanjangkan khutbah karena kebutuhan, hal ini tidak mengapa.

Di antara faedah memendekkan durasi khutbah adalah agar materi khutbah mudah diserap dan dipahami serta agar makmum tidak bosan mendengarkannya.

7. Dimakruhkan bagi khatib mengangkat kedua tangannya saat berdoa karena apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya berisyarat dengan jarinya ketika berdoa saat khutbah.

Hal ini berlandaskan hadits ‘Umarah bin Ruwaibah radhiyallahu ‘anhu bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan di atas mimbar mengangkat kedua tangannya. ‘Umarah berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menjelekkan kedua tangannya. Sungguh, aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari melakukan seperti ini -beliau berisyarat dengan jari

telunjuknya.” (Shahih Muslim, “Kitabul Jumu’ah”)

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bid’ahnya mengangkat kedua tangan saat berdoa di atas mimbar. (Nailul Authar, 3/32)

Lain halnya ketika berdoa saat istisqa’ (meminta hujan), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu mengangkat kedua tangannya sampai terlihat putih ketiaknya.

8. Berkhutbah sesuai dengan kondisi.

Misalnya, berkhutbah menjelaskan perkara-perkara yang terkait puasa Ramadhan menjelang masuknya bulan Ramadhan atau di awal-awal Ramadhan. Hal ini agar manusia menjalankan ibadah puasa di atas pengetahuan yang mendalam.

Demikian pula berkhutbah dengan bahasa yang jelas dipahami sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.

——————————————————————

1. Zaura adalah rumah milik Utsman yang ada di pasar. Azan di Zaura dikumandangkan sebelum Utsman keluar (untuk khutbah) agar manusia tahu bahwa waktu Jum’atan telah datang. (Fathul Bari 2/394)

Azan ini disebut azan ketiga walaupun pelaksanaannya lebih dahulu, karena azan tersebut belum ada pada zaman Nabi dan baru ada setelahnya. Wallahu a’lam. (-red.)

2. Pengingkaran Atha’ tidak tepat karena riwayat-riwayat telah menyebutkan bahwa yang melakukannya adalah Utsman radhiyallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari, 2/394-395)

KEBID’AHAN-KEBID’AHAN DALAM KHUTBAH

Ada beberapa perkara bid’ah yang dilakukan di saat khatib berkhutbah, di antaranya:

1. Sebagian muazin mengeraskan suara dengan menyebutkan hadits,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ: أَنْصِتْ فَقَدْلَغَوْتَ

“Apabila engkau mengatakan kepada temanmu,‘Diamlah,’ pada hari Jum’at dalam keadaan imam sedang berkhutbah, engkau telah melakukan yang sia-sia.”

Ini diucapkannya ketika imam keluar untuk khutbah sampai naik di atas mimbar.

2. Khatib menaiki mimbar dengan perlahan-lahan secara sengaja.

3. Khatib memukulkan tongkat atau semisalnya pada anak tangga mimbar ketika menaikinya.

4. Duduk di bawah mimbar saat berlangsungnya khutbah untuk mencari kesembuhan.

5. Mengkhususkan khutbah kedua untuk shalawat atas Rasul dan doa, serta mengosongkannya dari nasihat dan peringatan.

6. Melagukan khutbah.

7. Khatib selalu mengakhiri khutbah dengan menyebutkan ayat,

إِنّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

Atau ucapan,

اُذْكُرُوااللهَ يَذْكُرْكُمْ

(Lihat al-Ajwibah an-Nafi’ah karya asy-Syaikh al-Albani)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc

Adab Orang yang Mendengarkan Khutbah

Ada beberapa adab yang dituntunkan bagi orang yang mendengarkan khutbah.

1. Bila seseorang masuk masjid, jangan duduk sampai shalat sunnah tahiyatul masjid meskipun khatib sedang berkhutbah.

Ini berlandaskan hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwa datang seorang lelaki di hari Jum’at dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apakah kamu sudah shalat?” Ia menjawab, “Belum.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalatlah dua rakaat!” (Shahih al-Bukhari no. 931)

2. Jika seseorang masuk masjid di hari Jum’at dan azan Jum’at sedang dikumandangkan, apakah dia tetap berdiri menunggu sampai selesainya azan atau dia langsung shalat tahiyatul masjid?

Ulama menyebutkan bahwa dia langsung shalat tahiyatul masjid karena mendengarkan khutbah itu wajib sedangkan menjawab azan itu sunnah. (Majmu’ Fatawa asy-SyaikhMuhammad bin Shalih al-‘Utsaimin 12/202)

3. Duduk di mana saja dia mendapatkan tempat dimasjid dan dianjurkan mendekat kepada imam.

4. Tidak melewati pundak-pundak orang dan tidak memisahkan antara dua orang.

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunan-nya (1118) dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Datang seorang lelaki pada hari Jum’at dengan melangkahi leher-leher manusia dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

إِجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ

“Duduklah, kamu telah mengganggu!”
(Hadits ini dinyatakan sahih oleh Ibnul Munzir rahimahullah seperti dalam al-Majmu’ 4/421 karya an-Nawawi rahimahullah)

Melangkahi pundak-pundak orang menurut pendapat yang kuat hukumnya haram, lebih-lebih jika hal itu terjadi ketika berlangsungnya khutbah karena terkandung bentuk menyakiti orang lain dan menyibukkan orang dari mendengarkan khutbah. Dikecualikan dalam hal ini adalah imam, karena memang tempatnya di depan. Apabila imam bisa sampai di depan tanpa harus melewati pundak-pundak orang, maka itu yang seharusnya dilakukan. Misalnya, ada pintu masuk imam di bagian depan.

Dikecualikan pula dari larangan ini orang yang ingin mengisi tempat yang masih kosong di bagian depan. Misalnya, orang-orang yang datang lebih awal mengambil tempat duduk di bagian belakang masjid atau tengah-tengahnya dan membiarkan shaf-shaf depan tidak ditempati. Dibolehkannya melewati mereka karena biasanya mereka sendiri yang telah meremehkan shaf-shaf terdepan sehingga tidak mengapa untuk ditempati walaupun terpaksa harus melewati pundak-pundak manusia. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/125-126)

 

5. Diam saat berlangsungnya khutbah.

Hal ini berlandaskan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Apabila kamu mengatakan kepada temanmu di hari Jum’at,‘Diamlah kamu!’ dalam keadaan imam sedang berkhutbah maka kamu telah berkata yang sia-sia.” (HR. al-Bukhari no. 394dan Muslim)

Orang yang seperti ini telah sia-sia Jum’atannya meskipun telah gugur kewajibannya.
Hadits ini menunjukkan larangan dari seluruh percakapan saat berlangsungnya khutbah, karena jika ucapan “diamlah kamu” yang terkandung bentuk amar ma’ruf saja dikatakan sia-sia karena bukan pada waktu yang tepat, tentunya perkataan yang sifatnya biasa saja lebih dilarang lagi.

Khutbah sebagai salah satu syiar Jum’atan yang terbesar, tentu yang dimaukan agar para jamaah mendengarkannya dan tidak menyibukkan dengan selainnya. Diharapkan, selesai dari Jum’atan mereka telah menyerap materi khutbah yang mendorongnya kepada kebaikan dan mencegah dari
kemungkaran.

Namun, suatu hal yang sangat menyedihkan bahwa kita masih mendapatkan sebagian jamaah asyik mengobrol pada saat khatib dengan seriusnya menyampaikan khutbah. Yang lebih memilukan, sebagian mereka tenggelam dalam percakapan yang haram dan melukai kehormatan saudaranya.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa larangan berkata-kata adalah hanya saat berlangsungnya khutbah. Adapun ketika khatib tidak sedang berkhutbah, seperti ketika duduk di antara dua khutbah, hal ini tidak mengapa.

Demikian pula, perintah untuk diam saat khutbah tidak hanya diam dari mengajak bicara orang lain namun juga diam dari berzikir dan membaca al-Qur’an.(lihat Subulus Salam 2/51)

Adapun menjawab salam, membaca hamdalah kalau bersin dan mengucapkan shalawat ketika nama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam disebut, diperselisihkan kebolehannya saat berlangsung khutbah. Sebagian ulama mengatakan hal itu tidak boleh karena ucapan “diamlah kamu” sudah dianggap sia-sia, padahal ia termasuk kategori al-ma’ruf (sesuatu yang baik), Maka, semua ma’ruf yang lainnya juga dilarang karena memang bukan waktunya, dan bahwa dilarangnya hal tersebut termasuk masalah “mendahulukan yang terpenting dari yang penting”, wallahu a’lam. (lihat al-Ajwibah an-Nafi’ah karya asy-Syaikh al-Albani hlm. 60)

Apakah orang yang tidak mendengar ceramah khatib boleh berbicara? Dalam permasalahan ini juga ada perbedaan pendapat. Jumhur ulama berpendapat tidak boleh. (lihat Syarh Shahih Muslim, karya an-Nawawi 6/377)

Pendapat jumhur ini tampaknya lebih kuat, karena hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang telah disebutkan secara tekstualnya adalah perintah untuk diam dari seluruh ucapan saat khutbah berlangsung kecuali yang telah dikhususkan oleh dalil. Wallahu a’lam. (lihat Ahaditsul Jumu’ah)

Di antara yang dikecualikan oleh dalil adalah shalat tahiyatul masjid, jamaah berbincang dengan khatib dan jamaah diajak bicara oleh khatib. Adapun ucapan yang sifatnya harus seperti memperingatkan orang buta yang akan jatuh ke sumur atau orang yang dikhawatirkan tersengat api, ular, atau kebakaran, dan yang semisalnya, maka hal ini boleh. (Lihat al-Mughni 3/198)

Apabila khatib menyampaikan materi khutbah yang tidak layak, sebagian salaf membolehkan berbicara di saat khutbah. (Fathul Bari 2/415 dan Mushannaf Abdurrazzaq 3/213)

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Apabila khatib memasukkan dalam khutbahnya sesuatu yang bukan kategori zikir kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula doa yang diperintahkan, maka berbicara di saat itu boleh.” (al-Muhalla 5/62)

6. Larangan duduk ihtiba, yaitu seseorang duduk menegakkan kedua lutut dan kedua kakinya lalu menggabungkannya ke perutnya dengan cara mengikatnya dengan kain atau kedua tangannya.

Ini berlandaskan hadits Abu Dawud dalam Sunan-nya dari Mu’adz bin Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari ihtiba di hari Jum’at dalam keadaan imam sedang berkhutbah. (no. 1110)

Dilarang duduk seperti ini karena akan bisa membuat seorang tertidur dan menjadi pengantar untuk batalnya wudhunya.1 (Lihat ‘Aunul Ma’bud 3/322)

7. Tidak bermain-main saat berlangsungnya khutbah karena akan mengganggu konsentrasi. Demikian pula tidak melakukan sesuatu yang bisa menyibukkan dari mendengar khutbah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa memegang/menyentuh kerikil maka dia telah melakukan perkara yang sia-sia.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 901 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Di sini, kami mengajak para takmir atau pengelola masjid untuk tidak mengedarkan kotak infak di saat berlangsungnya khutbah, karena sangat mengganggu konsentrasi para jamaah. Mungkin bisa dicari cara selain ini. (-red.)

8. Bergeser dari tempat duduknya apabila mengantuk.

Ini berlandaskan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Apabila salah seorang kalian mengantuk pada hari Jum’at, hendaklah ia berpindah dari tempat duduknya itu.” (ShahihSunanat-Tirmidzi no. 526)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc

————————————————————-
1. Tentang duduk ihtiba, ada pendapat lain. Sebagian ulama membolehkannya dengan alas an bahwa hadits yang melarang duduk ihtiba derajatnya lemah. Untuk mengompromikan kedua pendapat tersebut, al-Iraqi menyatakan,”Seandainya dianggap semua hadits tersebut shahih, larangan itu dimaksudkan agar seseorang tidak mulai memasang hibwah (melakukan duduk ihtiba) ketika imam sudah berdiri untuk berkhutbah hingga ia menyelesaikannya.” (Syarh Musykil al-Atsar, 7/344-345) (-ed.)

Tata Cara Shalat Jum’at

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa shalat Jum’at adalah fardhu/wajib atas laki-laki yang berakal dan sudah baligh yang bukan musafir, serta tidak ada uzur/halangan yang membolehkannya untuk meninggalkan Jum’atan. Shalat Jum’at dikerjakan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga seseorang meraih surga-Nya dan terhindar dari azab-Nya.

Shalat Jum’at dilangsungkan setelah didahului dengan dua khutbah. Apabila khatib telah selesai berkhutbah maka muazin mengumandangkan iqamah, dan yang utama bahwa khatib itu juga yang memimpin shalat Jum’at, meskipun boleh jika khatib dan imam Jum’at itu berbeda. Hal ini dibolehkan karena khutbah adalah amalan tersendiri dan terpisah dari shalat, hanya saja hal ini menyelisihi sunnah. (Lihat Fatawa al- Lajnah ad-Daimah 8/237)

Telah mutawatir dan masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shalat Jum’at hanya dua rakaat1. Demikian pula bahwa kaum muslimin telah sepakat bahwa shalat Jum’at itu dua rakaat. Dengan ini, shalat Jum’at adalah shalat tersendiri, bukan zhuhur dan bukan ganti dari zhuhur. Barang siapa menyangka bahwa Jum’atan adalah shalat zhuhur yang diqashar/diringkas maka dia telah jauh rimbanya. Akan tetapi, Jum’atan adalah shalat tersendiri yang memiliki syarat dan sifat yang khusus. Oleh karena itu, shalat Jum’at dilakukan dua rakaat meskipun dalam kondisi mukim. (lihat asy-Syarhul Mumti’ 5/88-89)

Surat Apa yang Dibaca dalam Shalat Jum’at?

Surat apa saja dari al-Qur’an yang dibaca imam setelah al-Fatihah maka telah mencukupi. Namun ada beberapa surat yang disunnahkan untuk dibaca pada shalat Jum’at yaitu surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun atau surat al-A’la

(سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى)

dan surat al-Ghasyiyah

(هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ).

Hal ini berlandaskan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun dalam shalat Jum’at (HR. Muslim no. 879)

Dari sahabat an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca :

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

dan

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ

pada shalat ‘Ied dan Jum’at.” (HR. Muslim 878)

Ulama menyebutkan di antara hikmah membaca surat al-Jumu’ah karena ia memuat tentang wajibnya Jum’atan dan hukum-hukum Jum’atan. Adapun hikmah dibacanya surat al-Munafiqun karena orang-orang munafik tidaklah berkumpul pada suatu majelis yang lebih banyak daripada saat Jum’atan. Oleh karena itu, dibaca surat ini sebagai celaan atas mereka dan peringatan agar mereka bertobat. (lihat Syarh Shahih Muslim 6/404 karya an-Nawawi rahimahullah)

Bacaan al-Fatihah dan surat pada shalat Jum’at itu dengan jahr (dikeraskan) sebagaimana dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini tentu menjadi salah satu bukti bahwa shalat Jum’at tidak sama dengan shalat zhuhur. Adapun bacaan-bacaan yang lain di saat sujud, ruku’, dan semisalnya, serta gerakan-gerakannya sama dengan shalat-shalat yang lain.

Kapan Seseorang Dikatakan telah Mendapatkan Shalat Jum’at?

Jika mendapatkan satu rakaat bersama imam yang minimalnya mendapatkan ruku’ bersama imam pada rakaat kedua berarti dia telah mendapatkan shalat Jum’at sehingga dia tinggal menambah satu rakaat yang tertinggal. Ini berlandaskan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الْجُمُعَةِ رَكْعَةً فَلْيَصِلْ إِلَيْهَا أُخْرَى

“Barangsiapa mendapatkan satu rakaat dari (shalat) Jum’at hendaklah dia menyambung kepadanya rakaat yang lain.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 927)

Hadits ini dijadikan landasan dalam beramal menurut mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan yang lainnya. Mereka mengatakan, “Barang siapa mendapati satu rakaat dari Jum’atan maka ia shalat (satu rakaat) yang lain untuk (menyempurnakannya). Barang siapa mendapati mereka sudah duduk maka ia shalat empat rakaat.” (Sunan at-Tirmidzi 2/403)

Maka dari itu, barang siapa yang tidak mendapati shalat Jum’at bersama imam ia shalat zhuhur empat rakaat, bukan shalat Jum’at.

Adakah Shalat Sunnah Qabliah Jum’at?

Perlu diketahui bahwa disunnahkan bagi seseorang yang masuk masjid pada hari Jum’at untuk shalat sunnah sampai imam naik mimbar untuk berkhutbah. Shalat sunnah ini tidak ada bilangan dan waktu tertentu. Jadi, ini tergolong shalat sunnah mutlak, bukan qabliah. Adapun masalah apakah untuk shalat Jum’at ada shalat sunnah qabliah yang khusus selain tahiyatul masjid sebagaimana ada shalat qabliah zhuhur? Maka dalam hal ini tidak ada dalil yang kuat sedikit pun dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sebelum Jum’at empat rakaat tanpa memisahkan padanya (dengan salam) maka sanadnya lemah sekali. An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam al-Khulashah bahwasanya itu adalah hadits batil. (AhaditsulJumu’ah hlm. 315 dan al-Ajwibah an-Nafi’ah hlm. 32)

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “Apabila Bilal telah selesai mengumandangkan azan maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai berkhutbah. Tidak ada seorang pun (dari sahabat) yang berdiri melakukan shalat dua rakaat sama sekali. Dahulu, azan tidak ada selain satu saja, ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at seperti (shalat) hari raya, tidak ada sunnah qabliah.

Ini adalah yang paling sahih dari dua pendapat ulama, dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan hal ini. Sebab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu keluar rumahnya (untuk khutbah Jum’at) dan ketika naik mimbar, Bilal mengumandangkan azan. Jika Bilal telah menyempurnakan azan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah tanpa adanya pemisah.

Hal ini terlihat jelas oleh mata, lalu kapan mereka (para sahabat) shalat sunnah (qabliah)?! Barang siapa mengira bahwa mereka semuanya berdiri lalu shalat dua rakaat, dia adalah orang yang paling bodoh tentang sunnah. Apa yang kami sebutkan bahwa tidak ada shalat sunnah sebelum shalat Jum’at adalah pendapat Malik, Ahmad dalam pendapatnya yang masyhur, dan salah satu sisi (pendapat) pengikut-pengikut asy-Syafi’i.”

Lalu Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan pendalilan orang-orang yang menyatakan adanya sunnah qabliah dan memberi bantahan yang luar biasa bagusnya kepada mereka. (lihat Zadul Ma’ad, 1/417—424) Sesungguhnya, di antara yang menyebabkan sebagian orang melakukan shalat sunnah qabliah Jum’at yang tidak ada contohnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah adanya azan awal sebelum khatib naik mimbar.

Oleh karena itu, kami tegaskan kembali ucapan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam al-Umm bahwa azan Jum’at yang beliau sukai adalah seperti yang ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam naik mimbar. Jika ada yang berdalil dengan hadits,

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ

“Antara dua azan ada shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi) Yang dimaksud dua azan adalah azan dan iqamah, sehingga bukan antara azan Jum’at pertama sebelum naik mimbar dengan azan ketika khatib telah naik mimbar. Hal ini karena azan Jum’at di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ketika beliau naik mimbar.

Shalat Sunnah Ba’diyah Jum’at

Disunnahkan untuk shalat sunnah selesai shalat Jum’at setelah berzikir atau beralih dari tempat yang ia shalat Jum’at. Shalat sunnah setelah Jum’atan ada dua macam: dua rakaat atau empat rakaat. Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari jalan sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu shalat sebelum zhuhur dua rakaat dan setelah zhuhur dua rakaat, setelah maghrib dua rakaat di rumahnya, dan dua rakaat setelah isya’. Beliau tidak shalat setelah Jum’at sampai beliau pergi lalu shalat dua rakaat. (Shahih al-Bukhari no. 937)

Adapun yang empat rakaat, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكَمْ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا

“Apabila salah seorang kalian telah shalat Jum’at, hendaknya ia shalat setelahnya empat rakaat.” (HR. Muslim no. 881 dan selainnya)

Jika Hari Raya Jatuh Pada Hari Jum’at

Di sana ada rukhsah/keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at dan menggantinya dengan zhuhur bila seseorang telah shalat hari raya yang jatuh pada hari Jum’at. Hal ini berlandaskan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

قَدْ اِجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ عَنِ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ

“Telah terkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Barang siapa yang mau maka (shalat hari raya) telah mencukupinya dari Jum’atan, dan sesungguhnya kami akan mengadakan Jum’atan.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 4365)

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata,“Sesungguhnya shalat Jum’at setelah shalat ied menjadi rukhsah (suatu keringanan) boleh melakukannya dan boleh meninggalkannya, dan ini khusus bagi yang shalat ied dan bukan bagi orang yang tidak shalat ied.” (Subulus Salam, 2/52)

Rukhsah di sini umum sifatnya bagi imam dan makmum. Adapun pengabaran dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa “Kami akan menjalankan Jum’atan” hal ini tidak menunjukkan bahwa imam wajib melaksanakan Jum’atan. Sebab, ucapan ini bersifat pemberitaan yang tidak pas untuk dijadikan dalil tentang wajibnya Jum’atan bagi imam.

Di antara dalil bahwa imam juga mendapatkan rukhsah adalah sahabat Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu, yang waktu itu sebagai penguasa, tidak shalat Jum’at pada hari raya. Ketika Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ditanya tentang itu, beliau menjawab, “Sesuai dengan sunnah.” (Sunan an-Nasai no. 1590)

Selain itu, tidak ada seorang sahabat pun yang mengingkari sahabat Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu. (Nailul Authar 3/336) Meskipun demikian, imam disyariatkan untuk tetap hadir di masjid dengan tujuan menegakkan shalat Jum’at bersama orang-orang yang menghadirinya. Hal ini berlandaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah berlalu penyebutannya

وَأَنَا مُجَمِّعُوْنَ

(“Dan kami akan menegakkan Jum’atan.”)

Wanita Menghadiri Shalat Jum’at

Shalat Jum’at dan shalat berjamaah tidak wajib atas wanita. Yang sunnah bagi mereka di hari Jum’at dan selainnya adalah shalat di rumahnya dan ini lebih utama. Namun, jika ia ikut shalat Jum’at bersama kaum muslimin, ini menggugurkan kewajibannya untuk shalat zhuhur. Hanya saja, ketika keluar, dia harus mengenakan hijab dan pakaian yang menutupi auratnya dan tidak memakai minyak wangi. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلْيَخْرُجْنَ تَفِ تَالِ

“Hendaknya mereka keluar tanpa memakai wewangian.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌلَهُنَّ

“Dan rumah-rumah mereka lebih baik.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa wanita tidak wajib Jum’atan, tetapi shalat zhuhur di rumahnya. Namun, apabila ia shalat Jum’at bersama orang banyak, Jum’atannya sah dan menggantikan shalat zhuhur. (Diringkas dari Majmu’ Fatawa 12/333-334, asy-Syaikh Ibnu Baz)

Jum’atannya dianggap sah karena wanita tersebut bermakmum kepada imam shalat Jum’at, sehingga sah baginya karena sebagai pengikut. Dan tidak sah Jum’atan wanita itu kalau dia shalat sendirian.(Lihat asy-Syarhual-Mumti’ 5/21)

Menjamak Shalat Ashar dengan Shalat Jum’at

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menerangkan, “Sebatas pengetahuan kami, dalam hal ini tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya menjamak (menggabungkan) shalat ashar dengan shalat Jum’at. Tidak ada nukilan tentang menjamak shalat tersebut dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari seorang sahabat Rasul radhiyallahu ‘anhum. Maka dari itu, yang menjadi keharusan adalah tidak melakukannya. Orang yang telah melakukannya harus mengulangi shalat ashar apabila telah masuk waktunya.” (Majmu’ Fatawa 12/300, asy-Syaikh Ibnu Baz)

Senada dengan itu adalah pernyataan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin, “Shalat ashar tidak dijamak dengan Jum’atan karena tidak adanya sunnah yang menjelaskan hal itu. Tidak benar hal itu dikiaskan dengan menjamak ashar dengan zhuhur, karena perbedaan yang banyak antara Jum’at dengan zhuhur. Hukum asalnya, setiap shalat harus dikerjakan pada waktunya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk menjamaknya dengan yang lain.” (Fatawa Arkanil Islam hlm. 383)

Masalah ini memang diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ulama membolehkan menjamak shalat Jum’at dengan shalat ashar, sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi. Alasan mereka, shalat Jum’at adalah pengganti shalat zhuhur sehingga ia mengambil hukum-hukum shalat zhuhur, termasuk dalam hal bolehnya dijamak dengan shalat ashar. Wallahu a’lam. (-ed.)

Shalat Zhuhur Setelah Shalat Jum’at

Telah diketahui dari agama ini secara pasti dan dengan dalil-dalil syariat bahwa Allah Subhanahu wata’ala Yang Mahasuci tidaklah mensyariatkan di waktu zhuhur hari Jum’at kecuali satu (shalat) wajib yaitu shalat Jum’at atas para lelaki yang mukim/tinggal dan menetap, merdeka/bukan budak dan yang telah dibebani oleh panggilan syariat. Bila kaum muslimin menjalankan hal itu maka tidak ada kewajiban yang lain, baik zhuhur maupun selainnya. Bahkan shalat Jum’at itulah yang harus dilakukan saat itu.

Sungguh, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, dan as-salaf ash-shalih setelah mereka, tidaklah melakukan shalat wajib yang lain setelah Jum’atan… dan tidak diragukan bahwa hal itu (shalat zhuhur setelah Jum’atan) merupakan kebid’ahan yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan (yang artinya), “Berhati-hatilah kamu dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah sesat.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 12/363)

Bolehkah Shalat Jum’at di Rumah dengan Keluarga?

Ada banyak riwayat tentang pelaksanaan shalat Jum’at di masjid, yang menunjukkan bahwa shalat Jum’at tidak boleh dikerjakan selain di masjid. Oleh karena itu, orang yang shalat Jum’at di rumah dengan keluarganya harus mengulangi dengan melakukan shalat zhuhur dan tidak sah Jum’atannya. Sebab, yang wajib atas para lelaki adalah shalat Jum’at bersama saudara-saudaranya kaum muslimin di rumah-rumah Allah Subhanahu wata’ala (masjid-masjid). (Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/196)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Shalat Jum’at tidak sah selain di masjid (baik) di kota maupun desa.” (Fatawa Arkanil Islam, 391)

Shalat Jum’at bagi Orang yang Bekerja di Anjungan Lepas Pantai

Di sini kami akan menampilkan pertanyaan yang ditujukan kepada al-Lajnah ad-Daimah lil-Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta’ (Komite Fatwa Ulama Saudi Arabia) beserta jawabannya dengan nomor fatwa 6113.

Berikut ini petikan terjemahannya. Kami para karyawan minyak perusahaan Aramco. Kebiasaan tugas kami adalah bekerja di tengah-tengah laut selama setengah bulan berturut-turut. Jumlah kami terkadang mencapai delapan orang. Pertanyaannya, apakah sah bagi kami shalat Jum’at padahal kami tidak menjadikannya tempat tinggal dan tidak selalu menetap, dan jumlah kami seperti yang telah disebutkan, ataukah kami shalat zhuhur? Kami berharap faedah dan semoga Anda semua selalu dalam kebaikan. Al-Lajnah ad-Daimah menjawab sebagai berikut : Jika kenyataannya seperti yang telah disebutkan bahwa kalian tidak menjadikannya tempat tinggal bersama orang-orang yang menetap dan kalian bekerja dalam kondisi terpencil di tengah-tengah laut selama lima belas hari, yang wajib atas kalian selama masa itu adalah shalat zhuhur, bukan Jum’at. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/219—220)2

Membaca Surat Tertentu setelah Shalat Jum’at

Ada riwayat yang menyebutkan keutamaan membaca surat al-Ikhlas dan Mu’awidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas) setelah shalat Jum’at, namun sanadnya lemah dan tidak bisa dijadikan landasan dalam beramal. Ibnus Sunni rahimahullah meriwayatkan dalam kitab ‘Amalul Yaumi Wallailah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barangsiapa yang membaca setelah shalat Jum’at

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, قُلْ أعُوذُ بِرَبِّالفَلَقِ

dan

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

tujuh kali maka Allah Subhanahu wata’ala akan melindunginya dengan bacaan tadi dari kejelekan sampai Jum’at berikutnya.” Di dalam sanad hadits ini ada rawi bernama al-Khalil bin Murrah, ia seorang yang dhaif (lemah), dinyatakan lemah oleh Abu Hatim. Al-Bukhari rahimahullah juga berkata bahwa haditsnya munkar. (Ahaditsul Jumu’ah hlm. 133)

Bepergian di Hari Jum’at

Tidak mengapa seseorang bepergian di hari Jum’at karena tidak ada dalil yang kuat yang melarangnya. Adapun mengawali bepergian di waktu shalat Jum’at, pendapat yang kuat adalah tidak boleh bagi orang yang berkewajiban menghadiri Jum’atan, kecuali kalau dikhawatirkan akan terpisah dari rombongan yang tidak memungkinkan bepergian selain bersama mereka, dan uzur-uzur semisal itu. Sebab, apabila syariat telah membolehkan seseorang untuk tidak menghadiri Jum’atan karena uzur hujan, meninggalkan Jum’atan bagi orang yang kesulitannya melebihi itu tentu lebih boleh lagi. Demikian pula dibolehkan bagi yang khawatir tertinggal pesawat, kereta, dan semisalnya, padahal ia telah memesan tiketnya. (Lihat Nailul Authar, 3/273-274 dan Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 8/203)

Mendirikan Shalat Jum’at Lebih Dari Satu Masjid di Satu Kampung atau Tempat

Jika keadaan menuntut dilaksanakannya shalat Jum’at lebih dari satu masjid di satu kampung, hal ini tidak mengapa. Misalnya, masjid yang biasa untuk Jum’atan sudah tidak bisa menampung banyaknya jamaah karena sempitnya masjid, atau antar warga terjadi pertikaian yang apabila disatukan Jum’atannya akan timbul kekacauan dan tidak bisa didamaikan, dan yang semisalnya. Adapun apabila Jum’atan dilaksanakan di banyak tempat (masjid) tanpa ada hajat (tuntutan) demikian, hal ini menyelisihi sunnah dan menyelisihi apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para khulafarasyidun berada di atasnya. (Lihat Fatawa Arkanil Islam hlm. 390)

Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah menerangkan, “Suatu hal yang maklum bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membedakan secara praktik amaliah antara Jum’at dan shalat lima waktu. Sungguh telah kuat (riwayat) bahwasanya di Madinah banyak masjid yang didirikan shalat jamaah …

Adapun Jum’atan dahulu tidaklah berbilang. Jamaah masjid-masjid yang lain semuanya mendatangi masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Jum’atan di sana. Pemisahan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam secara amaliah antara shalat jamaah dan shalat Jum’at tidaklah sia-sia. Jadi, ini seharusnya dicermati. Meskipun ini bukan menjadi syarat (sahnya Jum’atan) … ,

setidaknya hal ini menunjukkan bahwa berbilangnya Jum’atan tanpa ada keperluan yang mendesak adalah menyelisihi sunnah3. Apabila seperti itu urusannya, seyogianya dicegah untuk tidak (terjadi) banyaknya Jum’atan dan bersungguh-sungguh agar Jum’atan disatukan sebisa mungkin dalam rangka mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat setelahnya. Dengan demikian, akan terwujud secara sempurna hikmah disyariatkannya shalat Jum’at dan faedah-faedahnya.

Akan berakhir pula perpecahan yang muncul karena dijalankannya Jum’atan di setiap masjid yang besar dan masjid yang kecil, sampai-sampai sebagian masjid (yang diadakan Jum’atan) itu hampir saling menempel (sangat berdekatan). Sebuah hal yang tidak mungkin dikatakan boleh oleh orang yang mencium bau fikih yang benar. (al-Ajwibahan-Nafi’ah hlm. 47) Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan shalat Jum’at yang bisa kami tampilkan. Tentu masih banyak hal yang belum bisa disebutkan di ruang yang terbatas ini. Atas segala kekurangan dan kekhilafan, kami meminta maaf. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

————————————————————

1. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Shalat (ied) al-Adha dua rakaat, shalat Jum’at dua rakaat, shalat (ied) al-Fithri dua rakaat, dan shalat musafir dua rakaat, sempurna tanpa diringkas, melalui lisan Nabi kalian, dan telah merugi orang yang membuat kedustaan.” (Shahih Ibnu Khuzaimah no. 1425) 2. Namun, bilamana seseorang hendak melakukan shalat Jum’at di tempat tersebut, tetap diperbolehkan, sebagaimana difatwakan oleh sebagian ulama. 3. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menerangkan, “Tidak termasuk keperluan yang mendesak apabila imamnya seorang yang isbal (pakaiannya menutupi mata kaki) atau fasik. Sebab, para sahabat dahulu shalat dibelakang al-Hajjaj bin Yusuf. Padahal dia seorang yang sangat zalim dan melampaui batas, membunuh para ulama, dan orang-orang yang tidak bersalah. Mereka shalat dibelakangnya. Bahkan, yang benar adalah boleh jika imam itu orang fasik walaupun di selain shalat Jum’at selama kefasikannya tidak mencacati satu syarat (sahnya) shalat yang diyakininya sebagai syarat. (Apabila imam melanggarnya), ketika itulah ia tidak boleh shalat dibelakangnya. (asy-Syarhul Mumti’, 5/96)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc

Doa dalam Khutbah Jum’at

وَعَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ كُلَّ جُمُعَةٍ

“Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu,“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampun bagi orang-orang mukmin, muslimin, dan muslimat setiap hari Jum’at.”

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/307-308) Kasyful Astar. Al-Bazzar rahimahullah meriwayatkan dari Khalid bin Yusuf bin Khalid, dari bapaknya -Yusuf bin Khalid-, dari Ja’far bin Sa’d bin Samurah, dari Khubaib bin Sulaiman bin Samurah, dari ayahnya Sulaiman bin Samurah, dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu.

Al-Bazzar rahimahullah berkata, “Saya tidak tahu hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selain dengan sanad ini.” Melalui jalan Ja’far bin Sa’d bin Samurah pula ath-Thabarani rahimahullah meriwayatkan dalam al-Kabir (7/264 no. 7079) dengan lafadz,

كاَنَ النَّبِيُّ صل الله عليه وسلم يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلِلْمُسْلِمِينَ وَلِلْمُسْلِمَاتِ كُلَّ يَوْمِ جُمُعَةٍ

“Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa memintakan ampunan bagi mukminin, mukminat, muslimin, dan muslimat.”

Sanad hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu dipenuhi dengan perawi-perawi lemah.

1. Khalid bin Yusuf bin Khalid

“Dha’if (lemah),” demikian dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam Mizanul I’tidal (2/649).

2. Yusuf bin Khalid bin ‘Umair as-Samti

Ibnu Ma’in rahimahullah dalam Tarikh ad-Duri (2/684), “Kadzdzab, zindiq la yuktabu haditsuhu (Tukang dusta, zindiq tidak boleh ditulis haditsnya).”
Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata dalam al-‘Ilal (2/101), “Kadzdzab. Khabits, ‘Aduwullahi ta’ala (Tukang dusta, busuk, musuh Allah Subhanahu wata’ala).”

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Taqrib, “Tarakuuhu, kadzdzabahu Ibnu Ma’in.” (Ulama meninggalkannya, dan Ibnu Ma’in menyatakannya sebagai pendusta)

Al-Haitsami rahimahullah dalam Majma’ (2/190) berkata, “Dalam sanad al-Bazzar terdapat seorang perawi bernama Yusuf bin Khalid as-Samti, seorang yang dha’if.”

3. Ja’far bin Sa’d bin Samurah bin Jundub al-Fazari

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Laisabil Qawiy (bukan orang yang kuat).”

4. Khubaib bin Sulaiman bin Samurah

Dia dinyatakan majhul oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib. Adz-Dzahabi rahimahullah (al-Mizan 2/649) berkata, “Laa Yu’raf wa Qad Dhu’if (dia tidak dikenal, dan ia didhaifkan/dinyatakan lemah).”

5. Sulaiman bin Samurah bin Jundub al-Fazari

Al-Hafizh Abul Hasan al-Qaththan rahimahullah berkata, “Laa tu’raf lahul hal (Dia tidak dikenal keadaannya).” (Bayanul Wahm wal Iham, 5/138)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Taqrib berkata, “Maqbul.”
Dari tinjauan sanad, kita dapatkan bahwa hadits ini sangat lemah, bahkan batil, tidak dapat dijadikan sebagai hujah.

 

Apakah Doa Khatib untuk Kebaikan Kaum Muslimin Sunnah dalam Khutbah?

Sering kita mendengar khatib selalu berdoa memohonkan ampun atau doa kebaikan lainnya bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebagian khatib kita dapatkan tidak berdoa dalam khutbahnya.

Muncullah sebuah pertanyaan, apakah seorang khatib disunnahkan untuk selalu mendoakan kaum muslimin? Atau apakah doa khatib bukan sesuatu yang disyariatkan? Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu adalah dalil yang tegas, nash yang menunjukkan disyariatkannya imam mendoakan kaum mukminin, bahkan menunjukkan merutinkan doa untuk kaum mukminin pada hari Jum’at, saat berkhutbah, kalau seandainya hadits ini tidak dha’if. Namun telah kita lalui bahwa hadits Samurah sangat lemah dan tidak bisa dijadikan sandaran, sehingga butuh akan dalil lain.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberikan keterangan dalam Syarhul Mumti’ ketika menjelaskan perkataan penulis Zaad al-Mustaqni’, “(Dan hendaknya khatib) mendoakan kaum muslimin.”

Syaikh berkata, “(Maksudnya) disunnahkan pula (bagi khatib) dalam khutbah mendoakan kaum muslimin, pemerintah, dan rakyatnya, (alasannya) karena waktu tersebut adalah saat yang sangat diharapkan terkabulnya doa, dan doa untuk kaum muslimin tidak diragukan adalah kebaikan. Oleh karena itu, fuqaha menganggap sunnah doa bagi kaum muslimin.”

Boleh jadi ada yang menyanggah, “Alasan bahwa waktu tersebut adalah waktu yang mustajab, dan doa bagi kaum muslimin adalah maslahat yang sangat besar, (dua alasan yang mendasari disunnahkannya doa untuk kaum muslimin ini) sudah ada di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun ternyata beliau tidak melakukannya1 maka (yang semestinya dikatakan) adalah meninggalkan doa tersebut; karena seandainya perkara ini termasuk yang disyariatkan niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan dalil khusus yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mendoakan kaum muslimin (dalam khutbah Jum’at). Jika dalil khusus tersebut tidak ada maka kita tidak mengatakan bahwa doa tersebut termasuk sunnah khutbah, maksimalnya kita katakana bahwa mendoakan kaum muslimin dalam khutbah adalah jaiz (boleh). Diriwayatkan dalam sebuah hadits,

أَنَّ النَّبِيَّ صل الله عليه وسلم كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa mendoakan kaum mukminin setiap Jum’at.”

Seandainya hadits ini sahih maka hadits ini adalah dalil dalam masalah ini, dan kita katakan bahwa mendoakan kaum muslimin termasuk sunnah dalam khutbah. Namun, seandainya hadits ini tidak sahih, kita katakan bahwa mendoakan kaum mukminin (dalam khutbah) adalah perkara yang boleh. Hanya saja, hal ini tidak dijadikan sebagai sunnah yang selalu dilakukan, karena jika selalu dilakukan, manusia akan menyangka bahwa hal ini termasuk sunnah….(asy-Syarhul Mumti’, 5/65-66, dengan sedikit perubahan)

 

Dalil-Dalil Lain Disyariatkannya Doa bagi Khatib

Ulama Syafi’iyah, demikian pula fuqaha Hanabilah memandang bahwa doa khatib pada hari Jum’at untuk kebaikan kaum muslimin adalah perkara yang mustahab. Zahirnya ini pula yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Meskipun hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu dha’if, namun ada dalil lain tentang disyariatkannya doa secara umum.

Al Imam al Baihaqi rahimahullah menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan disyariatkannya doa bagi khatib dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra (3/210). Beliau memberinya judul, “Bab Mayustadallubihi‘alaan yad’uwa fi khutbatihi.” Artinya, bab tentang nash-nash yang dijadikan dalil atas disyariatkannya khatib berdoa dalam khutbahnya.

Dalam bab tersebut, beliau meriwayatkan hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُوَيْبَةَ قَالَ: رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ: قَبَّحَ اللهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ، لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا-وَأَشَارَ بِأَصْبِعِهِ الْمَسْبَحَةَ

“Dari ‘Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu, beliau melihat Bisyr bin Marwan mengangkat kedua tangannya (ketika berkhutbah) lalu beliau berkata,“Semoga Allah menjelekkan dua tangan itu, sungguh aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak lebih dari memberikan isyarat demikian,” ‘Umarah mengisyaratkan jari telunjuk.

Kemudian al-Baihaqi meriwayatkan hadits Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صل الله عليه وسلم شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالْإِبْهَامِ

“Tidak pernah sama sekali aku melihat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa di atas mimbar tidak pula di atas lainnya, namun aku melihat beliau mengisyaratkan telunjuknya dan menggenggam jari tengah dan ibu jari.”

Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Maksud (penyebutan) dua hadits ini adalah menetapkan (disyariatkannya) doa dalam khutbah, kemudian sunnah dalam doa khutbah untuk tidak mengangkat kedua tangan, dan mencukupkan isyarat dengan telunjuk….”(Sunan al-Kubra, 3/210)

Hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu shahih, diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (873), an-Nasai (3/108), Abu Dawud (no. 1104), at-Tirmidzi (no. 515), dan Ibnu Majah (no. 1103).

Hadits Sahl bin Sa’d dikeluarkan pula oleh Abu Dawud (no. 1105) dengan kelemahan dalam sanadnya, namun dikuatkan oleh hadits Umarah bin Ru’aibah radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil (3/77) menyatakan hadits Sahl sebagai hadits hasan.

Apakah Khatib Mengangkat Dua Tangan Saat Berdoa?

Tidak ada satu riwayat pun menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau dalam berdoa ketika khutbah Jum’at selain saat memohon turun hujan (istisqa’) atau memohon dihentikan hujan (istisha’).

Riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan saat memohon hujan atau mohon dihentikan hujan dalam khutbah banyak disebutkan dalam kitab-kitab hadits baik Shahihain atau lainnya.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Paceklik (kekeringan) menimpa manusia di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga suatu saat, ketika Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas mimbar berkhutbah di hari Jum’at datang seorang Arab badui dari arah yang menghadap mimbar, dari pintu yang menghadap ke arah Darul Qadha’.2 Ketika itu beliau sedang berdiri berkhutbah.

Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta benda binasa, keluarga kelaparan, kuda-kuda binasa, kambing-kambing binasa, ternak-ternak binasa, dan jalan-jalan terputus, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk kami agar Dia menurunkan hujan’.”
(Anas radhiyallahu ‘anhu berkata), “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau untuk berdoa, hingga saya bisa melihat putih ketiaknya,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Orang-orang pun mengangkat tangan-tangan mereka berdoa bersama beliau.”

(Tidak disebutkan bahwa beliau membalik rida’ [selendang] tidak pula disebutkan beliau berbalik menghadap kiblat) (Berkata Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu), “Demi Allah, kami sama sekali tidak melihat segumpal awan pun di langit, tidak pula pelangi, dan sungguh langit ketika itu bersih seperti kaca.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lalu dari balik bukit muncul awan seperti perisai. Ketika sampai ke tengah-tengah langit, awan itu menyebar, kemudian turun hujan. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurunkan kedua tangannya –saat berdoa- datanglah awan bergulung-gulung laksana gunung, dan belum lagi beliau turun dari mimbar kecuali hujan telah turun dengan lebat hingga air hujan berjatuhan dari jenggot Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

(Dalam satu riwayat: Maka bertiuplah angin membawa awan, lalu awan itu berkumpul, langit pun mengembangkan awan yang tidak membawa hujan. “Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam turun dari mimbar mengerjakan shalat. Lalu kami keluar sambil mencebur ke air hingga kami tiba di rumah (karena begitu lebatnya hujan) hampir-hampir seseorang tidak dapat sampai ke rumahnya.”

(Kota Madinah pun) dituruni hujan pada hari itu, esoknya, esok lusa, dan hari-hari berikutnya sampai hari Jum’at berikutnya tanpa henti. Sehingga, saluran-saluran air kota Madinah penuh air.”

Berkata Anas radhiyallahu ‘anhu selanjutnya, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari.”

Pada hari Jum’at berikutnya, seorang badui yang dahulu atau badui lainnya datang ke masjid dari pintu yang sama. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sedang berdiri berkhutbah, dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak binasa, para musafir tidak dapat bepergian, jalan-jalan terhalang, harta benda pun tenggelam, maka berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menahan hujan itu untuk kami.’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa,‘Ya Allah, (hujanilah) sekeliling kami, namun jangan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas puncak-puncak gunung dan dataran tinggi, di perut-perut lembah dan tempat-tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.’

Tidaklah beliau menunjukkan kedua tangan beliau ke suatu awan melainkan awan tersebut terbelah seperti lubang bulat yang luas, terbelah seperti terbelahnya kain.”

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya lihat awan menyingkir di sekitar Madinah ke kanan dan ke kiri seperti kumpulan kambing. Turunlah hujan di sekeliling kami, tetapi tidak diturunkan sedikit pun di dalam kota Madinah. Sehingga, kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari.”

Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kepada manusia mukjizat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabulkan doanya. Lembah Qanah mengalir selama sebulan. Tidak ada seorang pun dari suatu daerah kecuali ia menceritakan hujan lebat (di kota Madinah tahun itu.)3

Khatib Mengangkat Telunjuk ketika Berdoa

Dari hadits Umarah bin Ru’aibah dan Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhuma, diambil faedah bahwa khatib cukup memberikan isyarat telunjuk saat berdoa dalam khutbah Jum’at.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin pernah ditanya tentang mengangkat dua tangan saat khatib berdoa, demikian pula mengangkat telunjuk ketika berdoa dan ketika nama Allah Subhanahu wata’ala disebut.

Jawaban beliau, “Tentang mengangkat kedua tangan saat berdoa dalam khutbah, para sahabat mengingkari Bisyr bin Marwan saat ia berkhutbah dan mengangkat kedua tangannya. Ya, telah sahih riwayat kedatangan badui saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, sang badui berkata, ‘Wahai Rasulullah, harta-harta musnah, jalan-jalan terputus, dan berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Dia menurunkan hujan.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya berdoa,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

“Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.”

Dari riwayat-riwayat ini menjadi terang bahwasanya,
1. Mengangkat kedua tangan dalam khutbah Jum’at disyariatkan ketika meminta hujan (istisqa) atau memohon dihentikan hujan (istishha’).

2. Manusia ketika itu mengangkat kedua tangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat doa istisqa’. Ini adalah dalil bahwa makmum yang mendengarkan khutbah hanya mengangkat kedua tangan dalam doa istisqa’, (dan istishha’).

3. Jika khatib berdoa dengan doa selain istisqa maka khatib tidak mengangkat kedua tangan, demikian pula makmum tidak mengangkat kedua tangan mereka.4

Tentang mengangkat telunjuk ketika berdoa, amalan ini dilakukan dalam duduk tasyahhud,… mengisyaratkan telunjuk juga datang dalilnya dalam khutbah Jum’at atau saat beliau berdoa, selain doa istisqa’. Adapun apa yang dilakukan keumuman manusia yang mereka mengisyaratkan telunjuk setiap kali imam menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala dengan maksud mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, maka saya tidak tahu ada dalil dalam masalah ini.”5

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Doa imam saat sesudah naiknya (ke mimbar) tidak ada asalnya (yakni dalilnya), dan dibenci imam mengangkat kedua tangannya saat berdoa dalam khutbah dan ini pendapat yang paling sahih dari dua pendapat Hanabilah, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengisyaratkan telunjuknya ketika berdoa, adapun dalam istisqa maka beliau mengangkat kedua tangannya, ketika beliau meminta hujan di atas mimbar.”6

Wallahu ta’ala a’lam

Ditulis oleh : Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal
————————————————
1. Yakni tidak ada dalil sahih yang tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa dalam khutbah.
2. Darul Qadha’ adalah rumah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Dinamai Darul Qadha’ karena rumah ini dijual untuk membayar utangUmar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, dan al-qadha’ sendiri bermakna menunaikan atau membayar.
3. Kisah istisqa’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat Jum’at diriwayatkan banyak ahlul hadits dalam kitab-kitab mereka dengan lafadz yang beragam, dan apa yang kita sebutkan dalam tulisan ini diambil dari Muhtashar Shahih al-Bukhari (1/282—284) karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, beliau mengumpulkan lafadz-lafadz yang berserakan dalam satu kisah.
4. Karena tidak ada dalil yang menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya dalam khutbah Jum’at selain doa istisqa. Tidak adanya penukilan sahabat padahal shalat Jum’at terjadi berulang-ulang dihadapan seluruh sahabat demikian pula factor pendorong untuk menukilkan berita yang semacam ini sangat kuat, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam shalat Jum’at melainkan dalam istisqa dan istishha’. Demikian pula pengingkaran sahabat terhadap Bisyr bin Marwan dalam riwayat Muslim menguatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang tidak mengangkat kedua tangan, wallahu ta’ala a’lam.
5. Majmu’ Fatawa wa Rasail (16/67).
6. Ikhtiyarat Fiqhiyyah.