Nabi Musa dan Nabi Harun Wafat

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 Arabian-Desert-1

Di Padang Tih, bertahun-tahun hidup di sana, usia Nabi Musa dan Harun bertambah lanjut. Bani Israil benar-benar dibersihkan dari orang-orang yang fasik, yang disebutkan dalam doa Nabi Musa. Kemudian lahirlah generasi baru yang insya Allah lebih baik dari orang-orang yang fasik tersebut.

Tak berapa lama sampailah ajal Nabi Harun ‘alaihissalam. Bersama Nabi Musa, beliau dipanggil ke Bukit Thursina. Di sanalah Nabi Harun berpulang ke rahmat Allah ‘azza wa jalla.

Sepeninggal saudaranya Harun ‘alaihissalam, Nabi Musa masih melanjutkan tugas membimbing Bani Israil. Beliau dengan penuh semangat tetap mengajari mereka agar taat dan tunduk kepada aturan Allah ‘azza wa jalla Yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka.

Menjelang dekatnya ajal beliau, Allah ‘azza wa jalla mengutus salah seorang hamba-Nya yang mulia di kalangan para malaikat. Seorang malaikat yang menghancurkan semua kelezatan dan memutuskan semua kesenangan hidup, Malaikat Maut. Makhluk suci yang diciptakan Allah ‘azza wa jalla dari cahaya.

Peristiwa ini diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat (bahkan umatnya),

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ. فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ. قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَوْتُ. قَالَ: فَالْآنَ. فَسَأَلَ اللهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Malaikat Maut diutus kepada Musa ‘alaihissalam. Ketika dia mendatanginya, beliau menamparnya. Malaikat itu kembali kepada Rabbnya, lalu berkata, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menyukai maut.”

Kemudian, Allah mengembalikan matanya dan berkata, Kembalilah dan katakan kepadanya, supaya meletakkan tangannya di lambung seekor sapi jantan, lalu dia berhak pada setiap bulu yang ditutupi tangannya adalah satu tahun.”

Musa berkata, Wahai Rabbku, kemudian apa lagi?”

Kemudian adalah maut.”

Kata Musa, Maka sekaranglah,” beliau pun memohon kepada Allah agar mendekatkannya ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.

Kata rawi, Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya aku di sana, sungguh, pasti akan aku perlihatkan kepada kamu kuburannya di samping jalan dekat bukit merah.’.” (H.R. al-Bukhari no. 1339 dan Muslim no. 2372 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Begitulah kisahnya. Sebuah berita gaib yang diceritakan oleh ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tentu menjadi berita dan kisah yang tidak disangsikan lagi kebenarannya. Orang-orang yang beriman pasti menerima berita ini sebagaimana adanya. Sebab, mereka yakin terhadap apa yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, bahwa Rasul-Nya tidak berbicara dengan hawa nafsu. Apa yang beliau sampaikan tidak lain adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kedatangan Malakul Maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan secara jelas bahwa malaikat tersebut menemui Nabi Musa dalam wujud aslinya.

Di dalam al-Qur’an, disebutkan pula peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan kisah ini. Beberapa malaikat pernah menemui Nabi Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sangat memuliakan tamu, segera menyuguhkan hidangan lezat, daging anak sapi yang sudah matang. Akan tetapi, kemudian, muncul rasa takut beliau tatkala para tamu itu tidak menyentuh daging itu sama sekali.

Begitu pula Nabi Luth ‘alaihissalam. Beliau sangat cemas akan keselamatan tamu-tamunya yang berwujud pemuda gagah dan tampan ini. Beliau khawatir, kaumnya yang terbelenggu oleh nafsu akan menyerbu rumahnya dan menangkap para pemuda ini.

Akan tetapi, setelah para tamu itu menerangkan bahwa mereka adalah utusan Allah ‘azza wa jalla, barulah kedua nabi yang mulia ini tenang. Kemudian, mengalirlah dialog di antara mereka, sebagaimana diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya, yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun belakang.

Nabi Musa ‘alaihissalam juga demikian. Saat sedang menyendiri, beliau didatangi seseorang yang meminta nyawanya. Tentu saja beliau marah dan menampar orang tersebut. Dengan kekuatan beliau yang luar biasa, pukulan itu menyebabkan mata malaikat yang sedang berwujud manusia itu lepas dari rongganya.

Malaikat itu segera kembali menemui Rabb (Allah ‘azza wa jalla) yang mengutusnya. Allah ‘azza wa jalla mengembalikan mata itu ke tempatnya semula.

Kemudian, malaikat itu kembali lagi menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Kali ini, Nabi Musa ‘alaihissalam mengenalinya. Setelah dialog singkat, malaikat itu menyampaikan perintah Allah ‘azza wa jalla agar Nabi Musa ‘alaihissalam meletakkan tangannya di atas tubuh seekor sapi jantan. Untuk beliau adalah semua yang tertutup tangan beliau dihitung satu tahun.

Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya, “Sesudah itu apa lagi, duhai Rabbku?”

“Al-Maut,” kata Allah ‘azza wa jalla.

Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menyambut dan memilih bertemu dengan Rabbnya, “Kalau begitu, sekaranglah.”

Beliau pun memohon agar Allah ‘azza wa jalla mendekatkan jasad beliau ke Baitil Maqdis sejauh lemparan batu.

Wallahu a’lam.

 

Beberapa Faedah

Hadits ini termasuk hadits-hadits yang diingkari oleh Jahmiyah dan orang-orang yang sesat lainnya. Menurut mereka, bisa jadi Nabi Musa sudah mengenal Malaikat Maut, bisa jadi pula tidak mengenalnya. Kalau beliau mengenalnya, dengan memukulnya berarti beliau telah menzalimi Malaikat Maut tersebut. Seandainya belum, riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Maut itu menemui Nabi Musa dalam keadaan terang-terangan tidak ada artinya.

Sanggahan ini tidak lain berasal dari orang-orang yang telah dibutakan oleh Allah ‘azza wa jalla mata hatinya. Pengertian hadits ini sahih, tidak seperti dugaan kaum Jahmiyah. Sebab, Allah ‘azza wa jalla tidak mengutus kepada beliau sosok Malaikat Maut yang ketika itu ingin mencabut ruhnya, tetapi untuk menguji beliau, seperti Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail bin Ibrahim ‘alaihissalam. Andaikata Allah ‘azza wa jalla ingin mencabut ruh beliau ketika mengilhamkan Malaikat Maut untuk itu, pastilah terjadi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla.

Mustahil Nabi Musa mengenali Malaikat Maut lalu menamparnya hingga lepas matanya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga pernah didatangi para malaikat dalam keadaan beliau tidak mengenali mereka pada awalnya. Seandainya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengenali mereka, tentu tidak akan menyuguhkan hidangan lezat agar mereka memakannya dan tidak merasa takut ketika mereka tidak menyentuh makanan itu. Lantas, mengapa harus heran kalau Nabi Musa tidak mengenali Malaikat Maut?

Pendapat mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mengkisas Nabi Musa, menunjukkan kebodohan mereka. Siapa yang menerangkan kepada mereka bahwa antara malaikat dan Bani Adam ada hukum kisas? Siapa pula yang mengabarkan kepada mereka bahwa Malaikat Maut menuntut kisas lalu Allah ‘azza wa jalla tidak mengabulkannya? Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah memukul seorang Qibti hingga Qibti itu mati tetapi tidak mengkisas beliau.

Alhasil, kisah ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, karena beritanya sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang sudah mengikrarkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah ‘azza wa jalla serta utusan (Rasul)-Nya, tidak ada alasan lain kecuali tunduk menerima berita ini. Sebab, ketundukan dan kelapangan hatinya membenarkan dan menerima berita ini adalah salah satu bukti kejujurannya bersyahadat.

Selain itu, berita ini adalah perkara gaib yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bukan hak kita untuk menanyakan bagaimana dan mengapa-nya? Lebih-lebih lagi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang jujur lagi dibenarkan. Beliau tidak berbicara kecuali dengan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Adakah seorang yang beriman akan mengingkari berita yang sahih dari beliau? Tentu tidak ada.

Faedah lainnya, bahwa syariat para Nabi sebelum kita adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya. Nabi Musa meminta didekatkan ke Tanah Suci agar dikuburkan di sana, bahkan membawa serta jasad Nabi Yusuf ketika mereka meninggalkan Mesir. Akan tetapi, semua ini dihapus berdasarkan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keinginan beberapa sahabat yang hendak menguburkan syuhada Uhud di Madinah, wallahu a’lam.

Mengapa makam Nabi Musa berada di luar Baitul Maqdis?

Ibnu Hajar rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i, hakim negeri Mesir, menukilkan pendapat Ibnu Baththal dari ulama sebelumnya, bahwa hikmah makam Nabi Musa ‘alaihissalam tidak berada di dalam Baitul Maqdis adalah agar menyamarkan letaknya, sehingga tidak dijadikan berhala (sesuatu yang disembah dan dipuja-puja selain Allah ‘azza wa jalla) oleh orang-orang yang jahil di kalangan pengikut beliau.

Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya memindahkan jenazah dari satu daerah ke daerah yang lain. Mengapa?

Ada beberapa alasan. Di antaranya ialah bahwa syariat umat terdahulu adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya di dalam syariat kita. Ternyata, hal ini ada penjelasannya dalam syariat kita, yaitu larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan syuhada perang Uhud dan memerintahkan para sahabat menguburkan mereka di tempat mereka terbunuh. Jadi, yang sesuai dengan sunnah ialah menguburkan seorang muslim di mana dia meninggal dunia, selama tidak ada penghalang yang syar’i.

Hadits ini dicantumkan dalam masalah akidah karena adanya segolongan ahli bid’ah yang mengingkari berita yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Mereka menganggap mustahil. Alasannya, karena tidak mungkin Nabi Musa ‘alaihissalam yang mulia akan menampar seorang malaikat. Bantahan atas keraguan dan pengingkaran mereka, telah disebutkan di atas.

Wallahul Muwaffiq.

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (2)

Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui kasih sayang Nabi-Nya kepada sesama manusia, terutama kepada kaumnya, Bani Israil. Atas dasar itu, mungkin Nabi Musa akan terbawa kesedihan melihat keadaan Bani Israil yang telah didoakannya, sehingga mendorong beliau meminta agar dibatalkan hukuman itu, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan demikian. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 26)

Seakan-akan, beliau diingatkan agar jangan merasa menyesal dan sedih terhadap keadaan mereka, karena sesungguhnya mereka telah fasik; keluar dari sikap menaati Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, sedangkan kefasikan itu menyebabkan jatuhnya hukuman atas mereka, bukan kezaliman dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah keadaan Bani Israil yang hidup di sahara yang sunyi dan terpencil. Semua itu berlangsung selama empat puluh tahun.

Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha Pemurah selalu merahmati mereka. Allah subhanahu wa ta’ala menaungi mereka dari sengatan matahari dengan awan tipis yang senantiasa berarak di atas kepala mereka. Dia juga menurunkan manna dan salwa sebagai makanan terbaik mereka tanpa mereka harus bersusah payah.

Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan pula untuk mereka pakaian yang tidak mudah rusak dan kotor. Setiap kali mereka ingin minum, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam agar memukul sebuah batu yang ada di tengah-tengah mereka dengan tongkatnya. Akibatnya, memancarlah dua belas mata air untuk minum masing-masing kabilah yang ada.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu al-manna dan as-salwa.” (al-Baqarah: 57)

Al-Manna ialah nama bagi semua rezeki yang baik dan diperoleh tanpa susah payah. Di antaranya adalah jahe, jamur, roti, dan sebagainya. Adapun as-salwa ialah burung kecil yang dinamakan juga as-sammani, dagingnya lezat. Turun kepada mereka dari manna dan salwa itu sesuatu yang mencukupi mereka dan menjadi makanan pokok mereka.

Akan tetapi, Bani Israil ketika itu kebanyakan tidak memelihara nikmat itu dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mensyukuri kesenangan dan kemudahan yang mereka rasakan dalam kondisi yang sebetulnya mereka sedang menerima hukuman. Muncullah rasa bosan dalam hati mereka melihat yang mereka santap setiap hari adalah itu-itu saja.

Mereka datang menemui Nabi Musa ‘alaihissalam mengeluhkan keadaan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Musa berkata, “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.”

Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.

Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. (al-Baqarah: 61)

Mendengar perkataan mereka itu, Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras, bahkan mencela mereka, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah,” yaitu makanan yang kamu sebutkan (bawang merah, bawang putih, dan adasnya),

Bumbu Dapur

“Sebagai pengganti dari yang lebih baik?” yaitu al-manna dan as-salwa. Ini tidak layak bagimu, karena makanan yang kamu minta ini, kota mana pun yang kamu datangi, tentu kamu mendapatkannya. Adapun makanan kamu diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada kamu, adalah sebaik-baik makanan dan paling mulia, mengapa kamu meminta ganti yang lain?

Seakan-akan Nabi Musa ‘alaihissalam mengatakan, “Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian yang sangat tidak layak bagi kalian. Aku tidak akan menyampaikan permohonan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar mengabulkan keinginan kalian.”

Kejadian ini adalah bukti terbesar kurangnya kesabaran mereka dan adanya sikap meremehkan perintah dan nikmat Allah subhanahu wa ta’ala, karena itu Dia membalas mereka sesuai dengan amalan mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista,” yang mereka saksikan terlihat pada penampilan tubuh mereka.

“dan kehinaan,” di hati mereka, sehingga Anda tidak akan melihat diri mereka dalam keadaan mulia, tidak pula mempunyai cita-cita yang tinggi. Bahkan sebaliknya, jiwa mereka begitu hina dan cita-cita mereka adalah cita-cita yang sangat rendah.

“Serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah,” yakni tidak ada keuntungan yang mereka bawa kembali melainkan kemurkaan-Nya terhadap mereka. Itulah seburuk-buruk ghanimah yang mereka peroleh dan seburuk-buruk keadaan yang mereka rasakan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Hal itu (terjadi),” yaitu orang-orang yang berhak menerima kemurkaan-Nya.

“Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah,” yang menunjukkan kebenaran yang jelas bagi mereka. Akan tetapi, ketika mereka kufur kepadanya, Dia timpakan kepada mereka kemurkaan-Nya. Selain itu juga karena mereka dahulu

“Membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala , “yang memang tidak dibenarkan,’ menegaskan betapa buruknya perbuatan itu. Kalau tidak, seperti diketahui bahwa membunuh seorang nabi tidak mungkin dibenarkan, tetapi agar tidak ada yang menduga bahwa hal itu boleh karena kejahilan dan ketiadaan ilmu mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka,” yakni berbuat maksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan melampaui batas,” terhadap hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya, kemaksiatan itu tarik-menarik satu sama lain. Adapun kelalaian akan memunculkan dosa yang kecil, lalu berkembang darinya dosa yang besar, dan dari situ muncullah berbagai kebid’ahan, kekafiran, dan sebagainya. Kita mohon keselamatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dari berbagai petaka.

Perlu diketahui bahwa dialog dalam ayat ini diarahkan kepada satu golongan Bani Israil yang ada pada masa-masa turunnya al-Qur’an. Adapun perbuatan-perbuatan yang diceritakan itu tertuju kepada para pendahulu mereka. Dihubungkannya hal itu kepada mereka karena beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Mereka dahulu sangat membanggakan dan menganggap suci diri mereka serta memiliki keutamaan yang lebih dari Muhammad n dan orang-orang yang beriman kepadanya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan keadaan para pendahulu mereka yang telah mereka ketahui, yang menampakkan kepada siapa pun di antara mereka bahwa mereka bukan orang-orang yang sabar dan memiliki akhlak mulia serta amalan yang tinggi.

Maka dari itu, setelah diketahui demikianlah keadaan pendahulu mereka, padahal dianggap mereka itu lebih utama dan lebih mulia keadaannya daripada orang-orang yang datang setelahnya, bagaimana pula halnya dengan orang-orang yang ditujukan dialog ini kepadanya?

  1. Nikmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang-orang yang terdahulu di antara mereka adalah nikmat yang dirasakan pula oleh orang yang datang belakangan. Nikmat yang dirasakan oleh bapak, nikmat pula bagi anak-anaknya.

Karena itulah, mereka diajak bicara dengan kalimat-kalimat ini. Sebab, semua itu adalah nikmat yang bersifat umum, meliputi mereka juga.

  1. Pembicaraan perbuatan orang lain dengan mereka menunjukkan bahwa sebuah bangsa yang bersatu di atas satu agama, saling membantu dan menjamin kemaslahatannya, hingga seolah-olah orang-orang yang datang lebih dahulu berada pada satu masa dengan yang belakangan, dan peristiwa yang menimpa sebagian mereka adalah kejadian yang dialami oleh mereka seluruhnya.

Di samping itu, kebaikan yang dikerjakan sebagian dari mereka kemaslahatannya juga kembali kepada seluruhnya. Demikian pula mudarat akibat kejahatan yang dikerjakan oleh sebagian dari bangsa itu, kembali kepada seluruhnya.

  1. Perbuatan jelek mereka itu sebagian besarnya tidak mereka ingkari. Padahal, orang-orang yang meridhai sebuah kemaksiatan adalah rekan bagi orang yang bermaksiat.

Tentu saja masih ada hikmah lain yang tidak ada yang mengetahuinya selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Di saat mereka hidup di Padang Tiih itulah Nabi Harun ‘alaihissalam wafat, yang disusul meninggalnya Nabi Musa ‘alaihissalam beberapa waktu kemudian. Sepeninggal kedua Nabiyullah ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat Nabi Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam sebagai nabi Bani Israil. Melalui beliaulah Palestina berhasil dibebaskan dari tangan penjajah. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Melintasi Laut Merah

 

Tentara Fir’aun semakin dekat. Bani Israil pun bertambah takut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut pengikut Musa,‘ Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab,‘Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (asy-Syu’ara: 61—63)

Itulah jawaban tegas Nabi Musa ‘alaihis salam. Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang kalian takutkan karena Allah Subhanahu wata’ala lah yang memerintahkanku membawa kalian ke sini. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah menukil riwayat bahwa di barisan bani Israil itu ada Nabi Harun dan Yusya’ bin Nun. Di bagian belakang, ada salah seorang pengikut Fir’aun yang sudah beriman. Pengikut Fir’aun yang beriman itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah ke sini Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Anda membawa kami?”

“Ya,” jawab Nabi Musa ‘alaihis salam. Akhirnya, orang-orang yang beriman itu merasa tenang. Mereka yakin pertolongan Allah Subhanahu wata’ala akan segera tiba.

Fir’aun dan bala tentaranya semakin dekat. Pada saat itulah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam memukul laut itu dengan tongkatnya. Serta-merta, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu terbelah menjadi dua belas jalanan yang kering. Air laut yang terbelah itu masing-masing membentuk dinding setinggi gunung yang menjulang.

Melihat dua belas jalan membentang di hadapan mereka, sedangkan air laut membentuk dinding setinggi gunung memisahkan masing-masing jalan itu, bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa

dan Harun segera masuk ke celah-celah dinding ‘kaca’ dan melintasi jalan tersebut. Dua belas jalan itu sesuai dengan jumlah suku bani Israil, dan masing-masing sudah tahu jalan mana yang dilewati oleh sukunya.

Dinding-dinding air itu seolah-olah kaca tembus pandang, sehingga bani Israil dapat melihat saudaranya yang sedang berjalan di bagian yang lain.

Di belakang mereka, di tepi pantai Laut Merah, Allah Subhanahu wata’ala menggerakkan Fir’aun dan bala tentaranya mendekati laut yang masih mengering membentuk jalan. Fir’aun dan pasukannya yang tetap mengejar, segera menerobos masuk ke laut yang sudah membentuk jalan itu.

Sementara itu, Nabi Musa, Nabi Harun, dan bani Israil sudah tiba di seberang laut tersebut. Begitu seluruh bani Israil telah menapakkan kakinya di seberang -Fir’aun yang masih berada di tengah, demikian pula pasukannya, tidak ada yang tertinggal- muncullah rasa takut dalam hati Fir’aun dan pengikutnya. Tetapi, terlambat, untuk kembali sudah tidak mungkin, maju juga tidak.

Dalam keadaan demikian, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu pun bertaut kembali. Dinding-dinding ‘kaca’ yang tadi tegak menjulang setinggi gunung, bergerak sambil mengeluarkan suara kematian, mengempas dan membenamkan Fir’aun dan pasukannya ke dasarnya. Jerit kematian bersama ringkik kuda yang ketakutan tenggelam dalam deru air yang bergemuruh dahsyat. Tidak ada yang selamat. Semua tenggelam, mati. Keadaan pun menjadi sunyi, sepi. Di sela-sela riak dan gelombang Laut Merah itu….

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ () آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ () فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Dan Kami memungkinkan bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia,‘Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 90-92)

Ternyata, dalam keadaan panik, napas tinggal satu-satu, Fir’aun berusaha bertahan dan berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil,” tetapi ucapan itu tidak berguna, dia pun mati terbenam. Jasadnya ditemukan dalam keadaan terdampar di wilayah Mesir, kemudian diawetkan dan masih utuh hingga saat ini.

Demikianlah, bani Israil telah diselamatkan Allah Subhanahu wata’ala dari kehinaan dan kekejaman Fir’aun. Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan musuh mereka bahkan memperlihatkan kepada mereka kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya yang tenggelam di Laut Merah. Tidak hanya itu, jasad Fir’aun yang telah kehilangan nyawa, Allah Subhanahu wata’ala tunjukkan dan Allah Subhanahu wata’ala abadikan agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi orangorang yang datang sesudahnya.

Setelah melihat sendiri kehancuran musuh mereka, bani Israil merasa puas dan lega. Dengan penuh rasa syukur, Nabi Musa ‘alaihis salam membawa mereka meninggalkan tempat tersebut.

Nabi Musa membawa bani Israil menjauh dari tepi Laut Merah. Di depan, mulai tampak tanda-tanda kehidupan. Atap-atap rumah penduduk daerah itu mulai terlihat.

Di sebuah tempat, masih dalam perjalanan, mereka melihat penduduk negeri yang akan mereka lewati itu sedang tirakat, beribadah kepada berhalaberhala mereka.

Melihat perbuatan penduduk negeri itu, bani Israil berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ () إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ () قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Hai Musa, buatlah untuk kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” Musa menjawab,“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sesungguhnya atas mereka itu, akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Musa menjawab, “Patutkah aku mencari satu sesembahan (ilah) untuk kamu selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat?” (al-A’raf: 138-140)

Mendengar teguran keras Nabi Musa ‘alaihis salam ini, mereka terdiam dan tidak jadi melanjutkan keinginan tersebut. Seandainya mereka tetap melanjutkan keinginan itu, pasti mereka ditimpa azab; dihancurkan, sebagaimana dalam ayat tersebut. Beliau mengingatkan mereka akan karunia Allah Subhanahu wata’ala yang telah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir’aun, bahkan memperlihatkan bagaimana Allah Subhanahu wata’ala membinasakan Fir’aun dan bala tentaranya, serta melebihkan mereka dari seluruh manusia pada masa itu.

Ribuan tahun kemudian, sebagian sahabat yang baru masuk Islam, ada yang meminta hal yang sama kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Hunain, sementara kami baru saja meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam) dan orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon sidr (bidara) yang selalu mereka i’tikaf (tirakat) di dekatnya. Mereka biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, yang namanya Dzatu Anwath.

Kami pun melewati pohon seperti itu, lalu kami berkata,‘YaRasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwath.”

Serta-merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Allahu Akbar, sungguh ini (ucapan kalian ini) adalah sunnah (jalan hidup, kebiasaan), kalian telah berkata – demi yang jiwaku di Tangan-Nya- sebagaimana yang dikatakan bani Israil (dalam ayat),

يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

‘Ya Musa, buatkanlah kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.’ Musa menjawab,‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian’.”1

Benarlah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berita nubuwah yang tidak mungkin disanggah dengan akal secerdas apa pun. Berita yang keluar dari manusia terbaik, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya, bahwa dari kalangan umat ini pasti akan ada yang mengikuti cara hidup orangorang sebelum mereka, baik itu Yahudi dan Nasrani maupun Persia dan Romawi.

Akan tetapi, ada satu hal yang harus dicermati, bahwa meskipun hadits tersebut sahih, ada pula hadits lain yang juga sahih, yang menegaskan tidak semua umat beliau terjerumus melakukan perbuatan yang meniru orang-orang Yahudi, Nasrani, Romawi, dan Persia.

Itulah orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala; orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan Kitab Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Insya Allah bersambung)

Oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

———————————————————————–

1 HR. at-Tirmidzi (2180) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah (Shahih Sunan at-Tirmidzi [1/235]).

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalam banyak memberikan pelajaran berharga bagi umat sesudahnya. Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan kisah tersebut di dalam Al-Qur’an juga agar umat Islam bisa mengambil pelajaran tersebut. Berikut ini beberapa pelajaran yang bisa dipetik.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun (bagian 2)

Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Siapakah yang mampu menolak ketetapan Allah ketika Ia menakdirkan lahirnya seorang nabi yang kemudian dibesarkan di lingkungan musuh besarnya. Dialah Musa ‘alaihissalam, nabi yang sempat mengenyam asuhan dari istri sang angkara murka, Fir’aun. Kisahnya yang agung banyak menghiasi lembar al-Qur’an serta memberikan banyak pelajaran berharga bagi umat nabi lain di kemudian hari.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun