Umar Ibnul Khathtab (1): Hari-hari Berdarah di Qadasiyah

Pertempuran hari kedua sudah berhenti, korban bertambah banyak dari kedua pasukan.

Pada hari ketiga, kaum muslimin dan pasukan Persia kembali berhadapan. Jarak antara kedua pasukan ini tidak berubah, hampir satu mil. Di pihak kaum muslimin telah gugur hampir dua ribu orang, sementara di pihak lawan sudah terbunuh sepuluh ribu orang.

Kata Sa’d, “Siapa yang mau memandikan para syuhada silakan, dan siapa yang mau menguburkan mereka, segeralah kubur dengan sisa-sisa darah di tubuh mereka.”

Kemudian kaum muslimin menguburkan saudara-saudara mereka di belakang barisan muslimin.

 al-qadisiyah

Yaumu ‘Imas

Malam itu, Qa’qa’ bin ‘Amr berjaga sambil mengawasi pasukannya yang ditinggalkannya kemarin. Kemudian dia memerintah mereka, apabila matahari terbit, hendaklah maju seratus orang disusul seratus orang berikutnya. Kalau datang Hisyam dari Syam, itulah yang diharapkan. Kalau belum, mereka harus memperbarui harapan kaum muslimin. Pasukan menjalankan perintah, yang tanpa mereka sadari, ternyata itulah yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan untuk mereka.

Setelah matahari muncul di hari ketiga itu, Qa’qa’ kembali mengawasi dari kejauhan. Matanya yang tajam melihat kepala-kepala kuda bergerak-gerak di kejauhan. Qa’qa’ bertakbir, diikuti oleh kaum muslimin, “Bala bantuan datang.”

Sementara itu, pasukan Persia sudah memperbaiki keadaan gajah-gajah mereka sehingga di hari ‘Imas itu kembali menimbulkan bencana bagi pasukan muslimin.

Pada hari ‘Imas, seorang prajurit musuh maju ke tengah-tengah lapangan di antara kedua pasukan tersebut. Dia menantang agar satu prajurit muslim maju untuk bertanding satu lawan satu dengannya.

Dari barisan muslimin, seorang laki-laki bernama Syibr bin ‘Alqamah maju menyambut tantangannya. Laki-laki ini berwajah buruk dan tubuhnya pendek. Dia berkata, “Wahai kaum muslimin, dia telah berbuat adil menantang satu lawan satu!”

Akan tetapi, tidak ada satu pun dari barisan muslimin yang maju menghadapi orang ajam itu.

“Demi Allah, seandainya kamu tidak merendahkanku, pasti aku maju menerima tantangannya.”

Ketika dia melihat tidak seorang pun yang menghalanginya, dia segera menghunus pedangnya dan melangkah maju.

Melihat laki-laki ini, orang Persia itu segera maju dan turun menghadapinya. Orang Persia itu mengangkat dan membanting prajurit muslim itu kemudian menindihnya dan mulai mencabut pedangnya untuk menyembelih si muslim. Tidak disadari oleh prajurit Persia itu bahwa kakinya terbelit tali kekang kudanya.

Ketika si Persia itu menghunus pedangnya untuk menyembelih Syibr, tiba-tiba kuda itu mengangkat kedua kakinya. Akibatnya, tali kekang itu menarik kaki prajurit Persia tersebut dan membuatnya terjatuh. Prajurit muslim itu berdiri di dada si Persia. Terdengar teriakan dari barisan muslimin, membuat Syibr semakin berani, “Bersoraklah sekehendak kamu, demi Allah, saya tidak akan membiarkannya sampai berhasil membunuhnya lalu merampas perlengkapannya.”

Akhirnya dia berhasil membunuh prajurit Persia itu dan membawa semua barang perlengkapan si Persia yang sudah tewas kepada Panglima Sa’d. Kemudian, Sa’d menyerahkan barang-barang itu kepadanya. Kemudian prajurit itu menjualnya seharga dua belas ribu dirham.

Ketika Sa’d melihat jalannya pertempuran, ternyata gajah-gajah itu kembali mencerai-beraikan barisan muslimin dan berbuat seperti kemarin. Dia bertanya, “Apa yang bisa membunuh gajah itu?”

Ada yang menjawab, “Mata dan belalai, kalau sudah hilang, gajah-gajah itu tidak ada gunanya.”

Kemudian dia memanggil Qa’qa’ dan ‘Ashim, “Selesaikan gajah putih itu oleh kamu berdua.”

Setelah itu, Sa’d memanggil Hammal dan Rubayyil dari Bani Asad, “Kamu berdua, selesaikan gajah yang abu-abu itu,” perintah Sa’d.

Qa’qa’ dan ‘Amr segera menyiapkan tombak mereka dan mendekat bersama beberapa prajurit berkuda dan jalan kaki, “Dekati gajah putih itu.”

Akhirnya, gajah putih itu berhasil mereka bunuh dan yang abu-abu berhasil dilukai. Kedua gajah itu menjerit seperti jeritan babi. Gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari dan menceburkan diri ke dalam sungai ‘Atiq.

Melihat gajah putih itu mati, sedangkan yang abu-abu lari, gajah-gajah lain segera mengikuti gajah abu-abu itu. Gajah-gajah itu menerobos pasukan Persia hingga pasukan itu kocar-kacir. Mereka terus berlari membawa peti-peti tempat para sais yang sudah tewas semuanya, sampai tiba di Madain.

Setelah gajah-gajah itu pergi, tinggallah pasukan Persia berhadapan dengan kaum muslimin dengan apa yang ada pada mereka. Pedang-pedang dan tombak serta desingan panah berkecamuk lagi.

Pertempuran masih berlangsung seru sampai hari mulai gelap. Kedua pasukan tetap saling menyerang, tidak seperti kemarin. Malam itu, selesai shalat Isya, pasukan muslimin maju kembali menyerang pasukan Persia. Saking hebatnya suasana pertempuran, tidak ada yang bersuara kecuali seperti bergumam, sehingga malam itu dinamakan lailatul hariri.

Kaum muslimin bertempur hebat dengan pedang di tangan mereka dari permulaan malam sampai menjelang subuh. Mereka benar-benar menumpahkan kesabaran mereka menghadapi musuh, menang atau syahid. Malam itu juga dikenal sebagai lailatul qadisiyah. Tidak terjadi pertempuran di malam hari kecuali malam itu (lailatul hariri).

Malam itu kaum muslimin membagi pasukan mereka menjadi tiga barisan, yaitu barisan pasukan jalan kaki, tombak dan pedang, barisan pemanah dan barisan berkuda yang berada di depan pasukan jalan kaki. Semua pasukan menyerang, dan bertambah hebat serangan itu di waktu subuh. Malam itu tidak kurang dari sepuluh ribu dari pasukan musuh yang terbunuh, selain yang sudah tewas hari-hari sebelumnya.

Begitu sengitnya pertempuran, hingga berita tentang jalannya pertempuran terputus, tidak sampai kepada Sa’d dan Rustum.

Malam itu, Sa’d menghabiskan malamnya dengan gelisah, menunggu berita pasukannya, bagaimana keadaan mereka? Berapa yang terluka, atau syahid, ataukah berhasil mengalahkan musuh? Akhirnya, beliau habiskan malam itu dengan shalat dan doa, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala, sampai subuh.

 

Hari Keempat (Yaumul Qadisiyah)

Pagi hari keempat itu, pertempuran sengit bukan semakin berkurang, melainkan bertambah hebat. Kaum muslimin semakin tinggi semangat tempur mereka. Yang mereka cari hanya ridha Allah subhanahu wa ta’ala, menang atau syahid. Sayatan pedang, tusukan tombak dan panah, serta luka yang menganga di sekujur tubuh, seakan-akan menjadi obat kuat yang menambah tenaga mereka berlipat ganda.

Persenjataan dan bekal yang jauh di bawah pasukan Persia, keterampilan dan seni tempur yang tidak pernah mereka pelajari seperti halnya pasukan musyrik ini, tidak membuat mereka jeri terhadap ‘nama besar’ Persia yang pernah mengalahkan Romawi dan mencuri Salib besar milik Kerajaan Bizantium itu.

Menang atau mati sebagai syuhada dan meraih surga, itulah tekad mereka. Didorong niat mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan membuktikan janji-Nya yang pasti benar, lewat lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang benar lagi dibenarkan, mereka semakin gigih menyerang.

Lebih dari dua ratus ribu kekuatan musyrik Persia seakan-akan tidak ada artinya di hadapan mereka. Teknik perang dan persenjataan yang lengkap lawan tidak menyurutkan keberanian mereka, tetapi justru menambah kekuatan mereka.

Apalagi yang mereka cari? Tidak ada lain, menang dan Islam tersebar atau mati sebagai syahid dan ditunggu bidadari surga.

Inilah yang tidak ada di hati budak-budak api itu. Inilah yang tidak pernah terbetik dalam benak para pecinta dunia. Mereka menganggap materi adalah segalanya, yang akan membuat mereka dan kekuasaan mereka abadi. Ternyata tidak.

Kekuatan tubuh mereka, perlengkapan dan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak dari pasukan muslimin, ternyata tidak ada artinya. Sebab, yang mereka lawan bukanlah kekuatan manusia biasa. Yang mereka lawan adalah kekuatan iman yang ada di dalam dada kaum muslimin, yang lebih kokoh dari gunung yang tinggi menjulang. Allah subhanahu wa ta’ala yang menggerakkan tangan, kaki dan tubuh mereka mengayunkan pedang, mengejar dan menerjang musuh mereka.

Pedang-pedang Allah subhanahu wa ta’ala itu semakin kuat mendesak musuh mereka. Serangan mereka semakin sengit, lebih-lebih gempuran para komandan pasukan muslimin. Semua punya cita-cita dan tujuan yang sama, menang dan Islam tersebar, atau mati sebagai syuhada.

Qa’qa’ dan saudaranya, ‘Ashim, Khalid bin ‘Urfuthah yang mewakili panglima Sa’d, Dhirar bin al-Azwar, Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali, dan Thulaihah al-Asadi—yang sempat murtad lalu kembali ke dalam Islam—serta ‘Amr bin Ma’dikarib, punya peran yang sangat penting dalam pertempuran hari itu. Mereka menjadi bintang pertempuran sengit siang hari keempat tersebut.

debu

Di tengah-tengah pasukan itu banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang pernah mendengar janji pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar lagi dibenarkan. Memang tidak ada wahyu yang turun, atau Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi panglima di depan mereka. Akan tetapi, janji yang pernah diucapkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti terbukti. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ عَلَيْهِمْ، ثُمَّ يَغْزُونَ فَيُقَالُ لَهُمْ: هَلْ فِيكُمْ مَنْ صَحِبَ مَنْ صَحِبَ الرَّسُولَ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ؛ فَيُفْتَحُ لَهُمْ

Akan datang kepada manusia suatu masa, mereka akan berperang. Lalu dikatakan kepada mereka, “Apakah di tengah-tengah kalian ada yang pernah menyertai (bersahabat dengan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka berkata, “Ya,” maka diberilah mereka kemenangan.

Kemudian mereka berperang, lalu dikatakan kepada mereka, “Adakah di tengah-tengah kalian orang yang pernah menyertai sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Mereka menjawab, “Ya,” maka mereka juga diberi kemenangan. (HR. al-Bukhari (359) dan Muslim (2532) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu.)

Dalam pasukan muslimin, masih banyak sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula murid-murid mereka dari kalangan tabi’in.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendaharaan Kerajaan Persia kepada kaum muslimin untuk mereka nafkahkan di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Itu semua sudah ditakdirkan dan disiapkan oleh Allah ‘azza wa jalla bagi orang-orang yang beriman. Allah subhanahu wa ta’ala akan mewariskan bumi ini untuk orang-orang yang senantiasa tunduk dan menaati-Nya.

Kemenangan itu menyertai kesabaran, dengan semua jenis kesabaran. Inilah yang selalu terpatri dalam hati orang-orang yang beriman. Inilah yang tidak ada dalam hati orang-orang musyrik Persia.

Pagi itu, setelah semalaman mereka tidak tidur sekejap pun, Qa’qa’ mengingatkan pasukannya, “Sungguh, kekalahan adalah sesudah waktu ini, bagi yang memulai (menyerang) pada hari ini. Maka dari itu, bersabarlah dan bertahanlah, karena kemenangan itu bersama kesabaran.”

Saat itu juga mendekatlah Hilal bin ‘Ulaffah, Malik bin Rabi’ah, al-Kalih bin adh-Dhabbi, Dhirar bin al-Khaththab dan Dhirah bin al-Hudzail, Ghalib, Thulaihah, dan ‘Ashim kepada Qa’qa’. Kemudian mereka bersama-sama bergerak menyerbu ke arah pengawal Rustum.

Beberapa kabilah lain melihat kejadian ini, berseru, “Jangan sampai mereka lebih berani mati daripada kalian dan jiwa mereka lebih tidak peduli akan urusan dunia daripada kalian. Karena itu, berlombalah dengan mereka.”

Mereka pun bergerak menyerang pasukan lawan di hadapan mereka. ‘Utbah bin Nahhas, Furat bin Hayyan, Mu’anna bin Haritsah, dan Sa’id bin Murrah bangkit memompa semangat orang-orang suku Rabi’ah, “Kalian lebih tahu tentang Persia dan lebih berani di masa lalu. Apa yang menghalangi kalian untuk tidak berani seperti dahulu?”

Mereka segera bangkit menyerbu lebih semangat.

Kedua pasukan betul-betul mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Kaum muslimin sudah menetapkan pilihan, menang dan Islam tersebar, atau mati syahid. Karena itu, mereka bertempur seakan-akan telah mati rasa sakit di tubuh mereka.

Pertempuran saat itu benar-benar dahsyat dan mengerikan. Jantung orang-orang musyrik seakan-akan pecah karena ketakutan melihat semangat kaum muslimin. Hilang akal mereka. Tidak berguna keterampilan dan persenjataan mereka.

Mana Jalenus, Rustum, Hurmuzan, yang kata mereka satu saja di antara panglima ini sama kekuatannya dengan seribu prajurit?

Siang itu bumi seolah-olah terpanggang panas matahari. Angin kencang bertiup menerbangkan debu pasir dan rumputan kering ke arah pasukan Persia. Kemah besar Rustum diterjang angin hingga menjungkirbalikkan singgasananya. Rustum yang sudah dihantui ketakutan dan dugaan akan kekalahan pasukannya semakin bertambah kalut. Melihat kemahnya hancur, dia segera menuju bighalnya yang datang dengan sejumlah harta.

Akan tetapi, sebelum melarikan diri, Rustum mencoba mengelabui pasukan muslimin dengan bersembunyi di balik bighal.

Hilal bin ‘Ulaffah mendekati bighal dan memotong tandu yang ada di atas bighal. Rustum bersembunyi di bawah tandu itu, tetapi tidak terlihat dan disadari oleh Hilal. Kemudian Hilal memotong tandu itu. Rustum segera berlari menuju sungai ‘Atiq dan menceburkan diri ke dalamnya.

Hilal segera mengejarnya dan melompat ke dalam sungai, bahkan berhasil menangkap kaki Rustum yang sudah berenang. Hilal menyeret Rustum ke tepi sungai dan memukul kening Rustum sampai Rustum mati.

Kemudian Rustum yang sudah mati diseret oleh Hilal dan dilemparkannya ke bawah kaki bighal. Kemudian Hilal menaiki singgasana Rustum dan berseru, “Demi Rabb Ka’bah, aku sudah membunuh Rustum. Kemarilah.”

Kaum muslimin berlari mendekatinya dan mengelilinginya, lalu bertakbir. Semakin pecah hati kaum musyrikin ketika mengetahui panglima mereka sudah terbunuh. Kegoncangan merasuki jiwa mereka yang sudah semakin kalut ketakutan.

Jalenus memerintahkan mundur, tetapi tetap dikejar oleh pasukan muslimin. Ketika sampai di sebuah tempat dan merasa aman dari kejaran kaum muslimin, mereka berpesta. Saat itulah mereka diserbu oleh kaum muslimin. Jalenus akhirnya dibunuh oleh Zuhrah bin Hawiyah.

Hurmuzan dan Mahran ar-Razi serta komandan perang Persia lainnya juga tewas di tangan pasukan muslimin. Tiga puluh ribu prajurit yang tergabung dalam pasukan rantai, mencoba melarikan diri ke sungai, tetapi tidak satu pun dari mereka yang selamat, karena kaum muslimin segera menyergap mereka. Semua pasukan rantai tewas.

Pasukan Persia lainnya segera lari meninggalkan gelanggang pertempuran, tetapi dikejar oleh pasukan muslimin. Hari itu, tidak kurang dari seratus ribu prajurit Persia terbunuh. Belum lagi yang tewas tadi malam, hampir sepuluh ribu orang. Sementara itu, di barisan muslimin, yang gugur sebagai syuhada hampir tiga ribu orang, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka.

Di siang hari, mereka lebih ganas dari singa-singa padang pasir. Di malam hari terdengar dengungan suara mereka membaca al-Qur’an seperti dengungan lebah.

Menjelang usai pertempuran, Sa’d menemui Hilal dan bertanya, “Di mana lawanmu itu?”

“Aku lemparkan di bawah bighal,” katanya.

“Bawalah kemari dan ambil mana yang kamu mau dari perlengkapannya.”

Hilal mengambil semuanya dan diceritakan bahwa kemudian dia menjualnya seharga tujuh puluh ribu dirham. Dia tidak menemukan kopiah Rustum yang nilainya hampir seratus ribu dirham.

 Pasukan Persia kalah total. Yang masih hidup digiring oleh pasukan muslimin menuju Jalula dan terus masuk ke Kotaraja Madain, tempat istana Kisra Persia.

Kemenangan itu sangat mengesankan kaum muslimin. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja api setan itu. Mereka benar-benar terpukul.

Betapa tidak?

Bangsa yang dianggap terbelakang, tidak berbudaya, dan tidak mengenal peradaban seperti mereka yang sudah maju, ternyata berhasil meluluhlantakkan pasukan mereka dengan memberikan kekalahan yang memalukan?

Ya. Kekalahan yang memalukan dalam sejarah Persia (Iran). Di tangan bangsa yang tidak terkenal dalam sejarah saat itu.

Mereka tidak begitu kecewa ketika dikalahkan Romawi dan Salib besar berhasil direbut kembali oleh orang-orang Nasrani. Akan tetapi, bangsa Arab, yang hampir tidak diperhitungkan dalam sejarah dunia ketika itu? Berhasil menundukkan dua kerajaan besar dunia dalam waktu yang singkat?

Dari mana kekuatan mereka?

Tentu saja, dari hati mereka yang terisi iman yang lurus dan kokoh, sehingga menimbulkan kekuatan dahsyat bagai gugur gunung. Bagaimana mungkin mampu ditahan oleh budak-budak api yang memiliki hati yang rapuh, kosong dari keimanan?

Kekalahan ini akhirnya menimbulkan dendam berkarat dalam dada bangsa Persia, sampai hari ini.

(insya Allah bersambung, Faedah Kemenangan Qadisiyah, Perang Jalula)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Setelah gagal menangkap panglima Sa’d di markasnya, Rustum semakin marah sekaligus cemas. Bayang-bayang kekalahan semakin menghantuinya. Dengan setengah hati dia mengatur pasukannya. Semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi pasukan muslimin. Tiga puluh tiga ekor gajah dikerahkan bersama pawangnya. Puluhan ribu pasukan berjalan kaki diperintahkan memasang rantai di kaki-kaki mereka, agar mereka bertempur sampai mati. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (14) :Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Sejak keberangkatan Rustum hingga bertemu dengan Sa’d, terhitung empat bulan. Hal itu disengaja oleh Rustum karena dia sudah mencium kegagalan dan bencana yang akan menimpa pasukannya.

Rustum selain ahli perang, juga seorang dukun, ahli nujum. Dia pernah bermimpi melihat tanda-tanda kekalahan Persia di tangan bangsa Arab ini. Karena itulah dia setengah hati menjalankan perintah Yazdajird serta berusaha mengulur-ulur waktu agar kaum muslimin bosan dan pulang ke negeri mereka. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (14) :Runtuhnya Dinasti Sasanid

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (13) : Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Muharram tahun 14 H. Sa’d masih bertahan di ‘Uzaib dan memperkuat pasukan muslimin di daerah itu. Setelah itu, Sa’d mulai bertolak menuju Qadisiyah sambil tetap melaporkan situasi Qadisiyah kepada Amirul Mukminin di Madinah.

Beberapa prajurit disebar untuk mencari berita tentang pasukan Persia. Di antara mereka ada yang diutus ke Hirah. Pasukan intelijen itu segera berangkat dan tidak lama kemudian kembali membawa berita bahwa Raja Persia, Yazdajird, telah menyiapkan pasukan besar untuk mengusir pasukan muslimin dari Irak.

Yazdajird betul-betul menyiapkan semua yang dimiliki oleh Kerajaan Persia baik personil maupun perlengkapannya untuk menyerang kaum muslimin. Bahkan, tokoh-tokoh pilihan dan ahli-ahli perang Persia diturunkan untuk memperkuat pasukan, seperti Jalinus, Hurmuzan, Mahran ar-Razi, Bairuzan, dan Dzul Hajib. Yazdajird menyerahkan pimpinan tertinggi pasukan ini kepada Rustum bin al-Farrakhzad.

Sa’d mulai menceritakan keadaan Qadisiyah kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab. Dalam suratnya, beliau menjelaskan bahwa Persia sudah menyiapkan pasukan besar untuk menghadapi kaum muslimin dan sudah bermarkas di Sabath.

Amirul Mukminin tetap memberi arahan, seakan-akan beliaulah yang mengatur jalannya peperangan, sedangkan Sa’d hanya melaksanakan perintah dan arahan Amirul Mukminin.

Di antara nasihat Amirul Mukmin kepada Sa’d ialah agar Sa’d dan pasukannya tidak merasa risau dan tetap yakin akan menang. “Seakan-akan dibisikkan ke dalam hatiku, bahwa engkau akan mengalahkan mereka. Mintalah pertolongan kepada Allah dan serahkanlah semua urusan ini kepada-Nya.”

Setelah itu, Amirul memerintahkan agar menepati perjanjian, tidak berbuat khianat, dan mengirim beberapa tokoh untuk mengajak pembesar Persia kepada Islam.

Berangkatlah Nu’man bin Muqarrin dan teman-temannya hingga melewati Sabath, di barat daya Madain. Setibanya di Madain, mereka bertemu dengan para panglima dan menawarkan Islam dengan lemah lembut.

“Kami mengajak anda kepada Islam. Agama yang menampakan kebaikan yang baik dan menyatakan buruknya semua yang buruk. Kalau anda menerima, kami tinggalkan pada anda Kitab Allah (al-Qur’an), agar anda berhukum dengannya dan kami biarkan anda mengatur urusan negeri anda. Kalau anda tidak menerima, anda harus menyerahkan jizyah; dan kalau tidak, anda kami perangi.”

Melihat sikap para delegasi itu, lemah lembut dalam berdialog, Yazdajird mengira itu adalah kelemahan dan dia mulai mengingatkan keadaan duta-duta itu sebelum Islam.“Dahulu kamu adalah bangsa yang paling terbelakang, sangat sedikit jumlahnya, paling lemah dan paling buruk keadaannya. Jangan mimpi ingin bertempur dengan pasukan Persia. Kalau kamu kesulitan, kami akan beri kamu makanan, pakaian, bahkan kami siapkan seorang raja untuk mengurusi kamu.”

Akhirnya, Qais bin Zurarah mulai berbicara, “Anda menyebutkan keadaan kami tanpa ilmu.” Kemudian beliau menceritakan bagaimana buruknya keadaan mereka sebelum menerima hidayah Islam. Mereka berada dalam kesesatan, perpecahan dan kehinaan, tetapi Allah menggantikan semua itu dengan Islam.

Setelah itu, bangsa Arab menjadi bangsa yang terhormat, keyakinan mereka adalah keyakinan yang paling baik, akhlak mereka adalah akhlak yang paling mulia, hati merekapun bersatu, dan kokoh di atas kebenaran.

Kemudian, kata Qais, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kami mengajak orang-orang yang ada di sekeliling kami kepada Islam. Karena itu, pilihlah apa yang kamu mau; kamu masuk Islam agar dirimu selamat, atau menyerahkan jizyah (pajak) dengan tanganmu sendiri dalam keadaan hina, atau pedang.”

Dengan berang, Yazdajird berkata, “Apakah seperti ini caranya kamu menghadapku?”

Kata Qais pula, “Saya tidak menghadapi kecuali orang yang mengajak saya bicara. Seandainya orang lain yang mengajak bicara, juga akan saya hadapi seperti ini.”

Yazdajird bertambah marah. Kesombongan bangkit, apalagi dia termasuk orang yang tidak beradab, gampang tersinggung, dan tidak suka bertukar pikiran atau bermusyawarah. Dia menyuruh para utusan itu pulang, “Kalau bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, pasti kubunuh kamu. Pulanglah kamu. Aku akan kirimkan Rustum untuk mengubur kalian di parit Qadisiyah.”

Kemudian dia memerintahkan agar diambil sekeranjang tanah dan berkata, “Suruh orang yang paling mulia di antara mereka memikulnya.”

‘Ashim bin ‘Amr berkata, “Saya yang paling mulia di antara mereka.”

Lalu diapun memikul tanah itu menemui teman-temannya yang bertanya-tanya, “Untuk apa kamu membawa tanah itu?”

“Harapan positif. Allah sudah memberi kamu kekuatan menguasai tanah mereka.”

Para utusan itu kembali menemui Panglima Sa’d bin Abi Waqqash dan berkata, “Gembiralah, Allah telah memberi kita ikatan kerajaan mereka.”

Semakin hari, kaum muslimin semakin kuat dan optimis. Berbeda halnya dengan Persia, mereka semakin lemah dan bertambah lemah pula keadaan para pembesar Yazdajird melihat kegembiraan kaum muslimin mendapat sekeranjang tanah Persia.

Rustum yang berada di Sabath berangkat menemui Yazdajird untuk menanyakan, mengapa kaum muslimin kelihatan tenang, bahkan bergembira? Yazdajird menerangkan apa yang telah terjadi.

Kata Rustum menyalahkan, “Wahai Paduka, tanah itu diambil oleh orang yang paling cerdik di antara mereka. Mereka memikulnya karena tidak lain sebagai sikap optimis bahwa mereka pasti menguasai tanah Persia.”

Sambil menahan marah, Rustum keluar dan memerintahkan prajuritnya mengejar utusan yang membawa tanah itu, “Jangan sampai dia membawanya pulang ke negeri mereka. Kalau kamu gagal, pasti Allah lepaskan tanah kamu untuk mereka.”

Beberapa prajurit segera berangkat mengejar, tetapi mereka gagal dan kembali menemui Rustum. Kata Rustum, “Mereka telah pergi membawa tanah kamu. Mereka telah membawa kunci-kunci bumi Persia.”

Kejadian itu semakin menambah kekalutan dan kecemasan di kalangan Persia. Rustum sendiri adalah seorang ahli nujum dan seakan-akan telah melihat tanda-tanda kekalahan Persia. Oleh karena itu, dia berusaha mengulur-ulur waktu, agar kaum muslimin bosan dan pergi meninggalkan Persia. Ternyata, kaum muslimin semakin kuat bertahan dan tetap menunggu terjadinya pertempuran.

Di sisi lain, Rustum yang sengaja menunda-nunda, justru mendapat tekanan dari Yazdajird agar segera menyerang dan mengusir kaum muslimin. Mau tidak mau, Rustum pun berangkat bersama 60.000 tentara Persia, dengan Jalinus di bagian depan dengan jumlah yang sama.

Di sayap kanan ada Hurmuzan, sedangkan di sayap kiri ada Mahran bin Bahram ar-Razi. Pasukan ini membawa pula 30 ekor gajah. Lima belas ekor ditempatkan di bagian inti pasukan, sedangkan lima belas lainnya di kedua sayap pasukan.

Dalam perjalanannya, Rustum singgah di Kautsa dan menangkap seorang laki-laki Arab. Rustum bertanya, “Apa yang kamu cari di sini?”

Pria itu menjawab, “Kami hanya mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah, yaitu negerimu dan anak-anakmu, jika kamu tidak masuk Islam.”

“Kalau kalian kalah dan terbunuh?” tanya Rustum.

“Kalau kami ada yang terbunuh, kami masuk surga, sedangkan yang masih hidup, pasti Allah buktikan janji-Nya.”

“Kalau kami menjadi tawanan di tangan kalian?”

“Amalan kamu itulah yang membuat kamu tertawan, dan semoga Allah menyelamatkan kamu karenanya. Janganlah kamu terkecoh dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Kamu bukannya menghadapi manusia, melainkan menghadapi takdir.”

Rustum sangat marah dan membunuh orang tersebut. Setelah itu, Rustum membawa pasukannya hingga tiba di Hirah. Di tempat lain, Sa’d mulai mengirim beberapa orang tentara muslimin menuju Sawad. Rustum mengetahui hal ini, maka diapun mengirim pasukannya untuk menghadang.

Sa’d mendengar berita ini lalu mengirim ‘Ashim bin ‘Amr untuk memperkuat pasukan kecil itu. Begitu melihat pasukan ‘Ashim, tentara Persia itu lari ketakutan. ‘Ashim pun kembali ke pasukan induk dengan ghanimah.

 

“Dua Ribu” Prajurit Musuh

Kemudian, Sa’d mengirim ‘Amr bin Ma’dikariba dan Thulaihah al-Asadi untuk mengintai pasukan Persia. Setelah berjalan sejauh satu farsakh lebih, keduanya sampai di gudang senjata Persia.

‘Amr berhenti di sana, sedangkan Thulaihah terus melanjutkan pengintaiannya. Tidak lama, dia sampai di perkemahan pasukan Persia. Ketika malam mulai menjulurkan tirainya, Thulaihah mendekam di tempat persembunyiannya.

Ketika malam semakin gelap, Thulaihah mendekati tenda yang lebih bagus dan melihat seekor kuda yang baik. Perlahan, Thulaihah merayap lalu mematahkan satu atau dua tiang tenda dan membawa lari kuda itu. Pasukan yang berjumlah sekitar 70.000 orang itu tersentak.

Tiga orang prajurit Persia segera mengejar. Menjelang pagi, mereka berhasil mendekati Thulaihah. Thulaihah sengaja berhenti, menunggu mereka mendekat.

Prajurit pertama yang paling depan segera menyerang Thulaihah, tetapi dengan mudah Thulaihah membunuhnya. Begitu pula prajurit kedua. Prajurit ketiga semakin marah, dua prajurit tadi adalah sepupunya.

Dia nekat menyerang, tetapi dengan mudah serangannya dipatahkan oleh Thulaihah. Akhirnya, dia menyerah dan minta ditawan oleh Thulaihah. Thulaihah menyuruhnya berjalan di depan dan membawanya ke induk pasukan lalu menghadapkannya kepada Panglima Sa’d.

Mulanya Sa’d marah melihat ketidakdisiplinan Thulaihah, “Ke mana kamu dan apa yang kamu bawa?”

“Dia prajurit Persia, tanyailah tentang pasukan mereka.”

Prajurit itu mulai takut, tetapi dia berkata, “Apakah kamu menjamin keselamatanku kalau aku jujur?”

“Ya, jujur meskipun dalam peperangan, lebih kami sukai daripada kebohongan,” kata Sa’d.

“Aku akan ceritakan kejadian yang aku alami dengan orang ini (dia menunjuk Thulaihah) sebelum yang lainnya (boleh)?” prajurit itu mulai bercerita.

Aku sudah terjun dalam berbagai pertempuran dan sering mendengar cerita tentang para pahlawan, bahkan sudah pernah bertemu dengan mereka sejak masih belia. Sampai aku mengalami kejadian yang kamu lihat ini. Aku belum pernah mendengar ada seorang laki-laki yang sendirian menerobos perkemahan 70.000 tentara.

Dia membawa lari seekor kuda dan kami bertiga mengejarnya. Prajurit pertama, yang kekuatannya setanding dengan seribu prajurit berhasil mendekat dan menyerang orang itu, tetapi dengan mudah dia mengalahkan dan membunuhnya. Begitu pula yang kedua, yang juga mempunyai kekuatan yang setanding dengan seribu prajurit. Kemudian aku berhasil mengejarnya dan aku tidak tahu berapa yang setanding denganku. Aku sangat dendam dengan terbunuhnya dua prajurit pertama, karena mereka adalah sepupuku.

Kematian seakan membayang di mataku, maka akupun menyerah dan membiarkannya membawaku kepadamu. Pasukan Persia dipimpin langsung oleh Rustum dengan kekuatan 120. 000 orang. Para pengikut yang melayani mereka, sebanyak itu juga. Orang itu masuk Islam dan diganti namanya oleh Sa’d menjadi Muslim.

Dia kembali kepada Thulaihah dan berkata, “Demi Allah, kamu tidak akan terkalahkan selama kamu tetap seperti yang aku lihat, menepati janji, jujur, dan berupaya memperbaiki serta menyantuni orang lain. Aku tidak lagi perlu bergaul dengan orang Persia.” Laki-laki Persia, yang kemudian bernama Muslim ini gugur sebagai syahid dalam pertempuran itu.

(Insya Allah bersambung)

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Ketika menerima tugas ketentaraan itu, Sa’d menyadari bahwa dengan pasukannya yang serbakekurangan baik bekal dan perlengkapan, dia harus menghadapi pasukan Persia yang berjumlah besar, kuat, dan terlatih, serta bersenjata lengkap. Akan tetapi, Sa’d sangat yakin, janji Allah subhanahu wa ta’ala yang diberitakan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti terlaksana.

Ya, Allah subhanahu wa ta’ala akan menyerahkan perbendarahan Persia dan Romawi kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerajaan Bizantium Romawi telah dipatahkan oleh kaum muslimin di Yarmuk. Kini, Istana Putih Persia, pasti di ambang kehancurannya.

Pasukan al-Mutsanna bin Haritsah telah memulai penaklukan di sekitar tanah Persia.

Ketika hendak melepas Sa’d, ‘Umar memberi pesan, “Hai Sa’d, putra Ibu Sa’d. Janganlah kamu tertipu karena dipanggil khali (paman dari pihak ibu)[1] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi Dia menghapus kejelekan dengan kebaikan. Tidak ada antara Allah subhanahu wa ta’ala dan siapa pun hubungan, kecuali dengan menaati-Nya.

Manusia di dalam agama Allah subhanahu wa ta’ala ini, sama. Allah Rabb (Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemelihara) mereka, dan mereka adalah hamba-hamba-Nya. Mereka berbeda-beda dalam hal kesejahteraan dan mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya dengan ketaatan. Karena itu, perhatikanlah urusan yang kalian lihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakannya, maka tekunilah dan bersabarlah.”

Sebelum berpisah, ‘Umar berkata lagi, “Kamu akan menghadapi urusan berat, maka bersabarlah menerima semuanya. Pusatkan rasa takutmu hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ketahuilah rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala itu berpangkal pada dua hal, yaitu menaati-Nya dan menjauhi maksiat terhadap-Nya. Ketaatan orang yang menaati-Nya adalah dengan membenci dunia dan mencintai akhirat, sedangkan kedurhakaan orang yang mendurhakai-Nya adalah karena mencintai dunia dan membenci akhirat.”

Setelah itu, bergeraklah rombongan pasukan yang berjumlah empat ribu orang itu menuju Irak (Persia).

Berturut-turut, untuk memperkuat pasukan kaum muslimin yang dipimpin Sa’d, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengirim Ba’ashmah bin ‘Abdullah dengan sepasukan tentara, menugaskan pula al-Mutsanna bin Haritsah yang sudah berada di tanah Persia sejak masa Khalid Saifullah, agar bergabung dengan Sa’d. Bahkan, al-‘Ala’ bin al-Hadhrami yang sedang bertugas di Bahrain juga diperintahkan bergerak menuju Babil.

Al-‘Ala’ berangkat setelah menunjuk Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menggantikannya di Bahrain. Tetapi, dalam perjalanan, al-‘Ala meninggal dunia.

Al-Mutsanna bin Haritsah juga sudah bertolak. Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala berlaku lain. Luka yang dideritanya dalam peristiwa jembatan (al-Jusr) yang heroik, pecah kembali hingga membawa kematiannya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.

 

Mengatur Barisan Muslimin

Muharram tahun empat belas hijriah. Pasukan Persia sudah mempersiapkan diri untuk menghancurkan orang-orang Arab. Tujuh belas ekor gajah diikutsertakan dalam pasukan Persia diiringi dua puluh prajurit khusus. Di atas gajah-gajah itu diberi tutup dari besi. Gading-gadingnya dibungkus sutra berhias dan setiap gajah dikawal oleh pasukan berkuda.

Setelah keberangkatan Sa’d, beberapa kekuatan prajurit tiba di Madinah memenuhi panggilan jihad dari Amirul Mukminin. Tanpa menunggu waktu, ‘Umar mengirim mereka menyusul Sa’d bin Abi Waqqash. Dengan demikian, kekuatan pasukan Sa’d semakin bertambah.

Berturut-turut, para pahlawan Islam di Tanah Arab mulai bergabung dalam pasukan yang dipimpin Sa’d. Para pahlawan itu sendiri tidak hanya jago dalam memainkan pedang dan tombak, tetapi juga ahli dalam berpidato dan bersyair. Mereka mempunyai kedudukan di kabilah dan negeri mereka masing-masing. Di antara mereka ada Asy’ats bin Qais, Thulaihah al-Asadi, dan ‘Amr bin Ma’dikariba, serta yang lainnya.

Mendekati Zamrud, kekuatan pasukan muslimin sudah bertambah menjadi 20.000 orang. Setelah pasukan al-Mutsanna dan beberapa kabilah berdekatan bergabung, demikian pula yang akan datang dari Syam, jumlah pasukan menjadi 36.000 orang.

Sambil menunggu pasukan yang datang dari Syam, Sa’d berhenti di Syaraf. Menunggu kedatangan sahabatnya al-Mutsanna. Akan tetapi, yang muncul adalah saudara al-Mutsanna, Mu’anna bin Haritsah bersama Salma, istri al-Mutsanna.

Setelah bertemu dengan Sa’d, Mu’anna menyampaikan pesan-pesan al-Mutsanna, di antaranya agar tidak menyerang Persia di dalam wilayah mereka sendiri, tetapi seranglah mereka di perbatasan yang dekat tanah Arab, tetapi tidak jauh dari perkotaan. Sebab, jika kaum muslimin menang, semua yang dibawa bangsa Persia akan menjadi milik kaum muslimin dan bila kebalikannya, orang-orang Majusi itu lebih tahu menyelamatkan diri dan lebih berani di negeri mereka sendiri.

Sa’d memahami pendapat dan pesan al-Mutsanna yang disampaikan Mu’anna. Hal ini membuat Sa’d semakin sedih, maka dia pun mendoakan al-Mutsanna. Sebetulnya, jarak pertemuan antara Sa’d dan al-Mutsanna sudah dekat, tetapi kematian lebih dahulu menjemput al-Mutsanna. Pahlawan besar itu pun berangkat memenuhi janjinya.

Al-Mutsanna memang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, keimanan dan keberaniannya serta keahliannya dalam peperangan telah mengantarkannya menjadi panglima kaum muslimin sesudah Khalid, untuk memimpin pasukan menaklukkan Persia. Selain itu, sebagaimana telah diceritakan, al-Mutsanna sangat mengenal keadaan di wilayah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Sa’d melamar Salma dan menikahinya. Inilah salah satu kebiasaan orang Arab sebagai penghargaan dan mengenang jasa serta kemuliaan pemimpin yang sudah meninggal dunia, sekaligus penghormatan terhadap jandanya, agar dengan demikian wanita yang mulia itu tetap berstatus mulia sebagaimana bersama suaminya dahulu.

Qadisiyah, di zaman jahiliah adalah gerbang menuju tanah Persia. Daerah ini pintu masuk berbagai bahan keperluan bangsa ini. Pelabuhan-pelabuhannya luas, tanahnya subur dan diperkuat dengan benteng-benteng yang kokoh serta jembatan penyeberangan yang melengkung dengan sungai-sungai yang jarang ada.

Sa’d juga melaporkan keadaan di setiap tempat yang disinggahi pasukannya. Dia menceritakan keadaan Qadisiyah yang hijau membentang panjang ke Hirah. Dia melaporkan bagaimana penduduk Sawad yang pernah berdamai dengan pasukan muslimin sekarang bergabung dengan Persia.

Amirul Mukminin tetap memantau dan meminta Sa’d agar tetap di tempatnya, dan baru betul-betul menyerang setelah berada di Madain. Sebab, menurut beliau di situlah kehancuran mereka, Insya Allah. Keyakinan Amirul Mukminin bukan karena meremehkan bangsa Persia, melainkan janji yang sudah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu pun, bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala menzalimi bangsa Persia, melainkan merekalah yang menzalimi diri sendiri dengan kesyirikan dan kekejaman serta keingkaran yang mereka perbuat. Wallahu a’lam.

Setelah menerima perintah dari Amirul Mukminin melalui surat-menyurat yang terus berlangsung sampai peperangan berlangsung, Sa’d pun bergerak menuju Qadisiyah sesudah mengatur pasukannya sedemikian rupa.

Sa’d mulai menunjuk beberapa komandan pasukan dan memecahnya menjadi beberapa regu. Kemudian, Sa’d menetapkan posisi masing-masing regu dengan komandannya.

Di barisan depan, beliau tempatkan para sahabat senior yang pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berperang. Tujuh puluh orang di antara mereka adalah veteran Perang Badr. Sekitar 300-an sisanya adalah orang-orang yang pernah ikut dalam Sumpah Setia di Hudaibiyah (Bai’atur Ridhwan).

Sa’d membawa mereka ke ‘Uzaib dan menetap beberapa lama sebelum melanjutkan perjalanan menuju Qadisiyah. ‘Uzaib adalah sebuah gudang senjata bangsa Persia yang dijaga ketat. Di setiap benteng ada orang yang mengawasi. Pasukan muslimin yang bertindak sebagai perintis sudah tiba di waktu subuh. Mereka tidak segera maju sampai datang satu regu pasukan yang akan menyerang benteng itu.

Setelah mendekat ke arah benteng, mereka melihat ada orang yang memacu kudanya menuju Qadisiyah. Ternyata orang-orang yang mereka lihat adalah bagian taktik Persia untuk mengintai kekuatan pasukan muslimin yang datang ke negeri mereka. Begitu kaum muslimin memasuki benteng, orang-orang itu sudah tidak ada di sana. Kaum muslimin hanya menemukan sejumlah tombak dan panah.

Sa’d tetap di ‘Uzaib walaupun pasukan Persia sudah tidak ada di sana. Kesempatan itu digunakan Sa’d menanamkan rasa takut di hati penduduk di sekitar ‘Uzaib dengan serangkaian serangan kecil. Ketika mereka tiba di ibu kota Bani Lakhm, mereka menyergap iring-iringan pengantin putri yang akan diserahkan kepada seorang pejabat di Sinnain.

Barang-barang berharga berikut pengiring rombongan itu ditawan dan diserahkan kepada Sa’d. Kemudian, Sa’d membagi-bagikannya kepada pasukan muslimin.

Demi mengetahui kejadian tersebut, penduduk Irak semakin ketakutan. Mereka tidak lagi mampu membangkang terhadap pasukan muslimin.

Sa’d semakin kuat di ‘Uzaib dan mulai membuat markas di Qudais.

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Sa’d dari Bani Zuhrah, kabilah Ibunda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menjadi Ahli Hadits – Sebuah Doa Untuk Anak

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma di masa kecilnya pernah menginap di rumah Maimunah bintu al-Harits radhiallahu ‘anha, bibinya. Maimunah sendiri adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunda kaum muslimin. Saat itu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menyiapkan air untuk wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban Maimunah bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma lah yang melakukannya, beliau pun berdoa untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

 

Takhrij Hadits

Apabila dicermati, doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ada dalam dua permohonan; menjadi faqih di dalam agama Islam dan menguasai ilmu tafsir. Sebagian orang menyangka bahwa kedua doa Rasulullah di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim. Apakah memang demikian?

Hadits dengan lafadz di atas, dengan menyebutkan dua permohoan doa sekaligus, diriwayatkan oleh at-Thabarani (3/164/2), Abu Ali ash-Shawwaf dalam kitab al-Fawaid (3/166—167), ad-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (2/226) dengan dua sanad, dari Syibl bin Abbad, dari Sulaiman al-Ahwal, dari Said bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, al-Imam al-Bukhari (no. 75) dan Muslim (no. 2477) hanya meriwayatkan lafadz pertama, yakni permohonan menjadi faqih di dalam agama. Adh-Dhiya’ menyatakan, “Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan lafadz wa ‘allimhu at ta’wiil. Tambahan lafadz ini adalah tambahan yang hasan.”

Al-Albani menambahkan, “Al-Hakim menyatakan sahih (3/534) dan disepakati oleh adz-Dzahabi.”

Setelah menyebutkan beberapa bentuk lafadz lain, asy-Syaikh al-Albani menyimpulkan (Silsilah ash-Shahihah no. 2589), “Secara umum, dengan lafadz demikian hadits ini sahih. Di dalam syarah ath-Thahawiyah hlm. 234, penulis menyandarkan lafadz ini kepada al-Bukhari. Ini adalah wahm (kekeliruan), sebagaimana telah saya ingatkan dalam takhrij hadits di sana.”

 Doa

Mendoakan Anak

Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya. Sekian banyak dalil menyebutkan pentingnya orang tua sering mendoakan kebaikan untuk anak. Selain sebagai tanda kasih orang tua dan hak seorang anak, doa kebaikan menjadi salah satu sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat kelak.

Selain itu, Islam juga melarang orang tua mendoakan kejelekan untuk anaknya. Apapun alasannya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui orang tua yang saat emosi dan marah melaknat atau mendoakan kejelekan untuk anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُم

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri sendiri! Janganlah mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian! Janganlah mendoakan kejelekan untuk harta milik kalian! Jangan sampai kalian (berdoa) dan tepat pada waktu yang ditentukan Allah ‘azza wa jalla untuk dikabulkan doa padanya, lantas doa kalian diwujudkan.” (HR . Muslim no. 3009, dari Jabir bin Abdillah)

Di dalam syarah Riyadhus Shalihin, asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin menyatakan, “Seandainya engkau menegur anakmu dengan mengatakan, ‘Kemari! Mengapa engkau melakukan perbuatan ini?! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak melimpahkan taufik untukmu! Semoga Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Allah ‘azza wa jalla tidak membuatmu beruntung! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikanmu baik!’, dikhawatirkan bertepatan dengan waktu istijabah (dikabulkannya doa). Semua hal ini haram, tidak boleh!”

Alangkah lebih baiknya jika orang tua, pengajar atau siapa pun, ketika melihat dan bergaul dengan anak-anak untuk sering-sering mendoakan kebaikan. Barangkali saja tepat pada waktu istijabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering mendoakan kebaikan untuk anak-anak kecil semasa hidupnya. Salah satu contohnya adalah doa beliau untuk Abdullah bin Abbas di dalam hadits kita ini.

 

Doa Rasulullah Terkabul?

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pada waktunya benar-benar terkabul. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikenal dan diakui sebagai ahli tafsir terkemuka di kalangan sahabat. Referensi-referensi Islam dipenuhi dengan riwayat, pendapat, dan fatwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Untuk menggambarkan profil Ibnu Abbas, kami akan menukilkan sedikit biografi beliau dari karya monumental al-Imam adz-Dzahabi yang berjudul Siyar A’lam an-Nubala.

Nama lengkap beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi. Adz-Dzahabi menyebutnya dengan Habrul Ummah (Tinta Umat)[1], Faqiihul ‘Ashr (Tokoh Fiqih di Masanya), dan Imam at-Tafsir (Pemuka Utama dalam Tafsir). Secara garis nasab, Ibnu Abbas merupakan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abbas dilahirkan di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Yusuf, sebuah daerah milik bani Hasyim. Syi’ib adalah lembah yang pernah digunakan oleh Rasulullah dan bani Hasyim untuk menetap ketika kaum kafir Quraisy melakukan blokade. Menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Oleh sebab itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Ibnu Abbas telah berusia 13 tahun.

Secara fisik, Ibnu Abbas memiliki perawakan yang tegap, dada bidang, berwibawa, gagah rupawan, cerdas , berkulit putih, dan berpostur tinggi. Apabila Ibnu Abbas berjalan dan melewati rumah-rumah, orang dapat mengenalnya hanya dengan mencium harum wangi yang berasal dari tubuhnya.

Walaupun hanya sekitar tiga puluh bulan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, riwayat hadits Ibnu Abbas menyentuh bilangan 1.660 hadits. Di dalam ash-Shahihain ada 75 hadits; 120 hadits hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari, sementara al-Imam Muslim ada 9 hadits yang hanya beliau yang meriwayatkan.

Selain meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas juga berguru dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, al-Abbas ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan, Abu Dzar, dan sahabat-sahabat lainnya g. Secara lebih khusus, Ibnu Abbas belajar al-Qur’an beserta ilmu-ilmu terapannya dari sahabat Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma.

Melihat nama-nama besar sahabat tempat Ibnu Abbas berguru dan menimba ilmu, maka tidaklah heran jika sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyanjung, “Andai Ibnu Abbas berusia seperti kami (sezaman sahabat senior), tentu tidak ada seorang pun yang mampu menyainginya.” Dalam kesempatan lain, Ibnu Mas’ud memuji, “Sebaik-baik penafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas.”

Siapakah sahabat yang paling mengerti dan memahami tentang al-Qur’an berikut kandungan maknanya? Di antara mereka adalah Ibnu Abbas. Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengakuinya dengan mengatakan, “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengerti tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk Nabi Muhammad.”

Pengakuan akan keilmuan Ibnu Abbas juga datang dari gurunya sendiri, Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Ubai pernah berkata, “Anak muda ini kelak akan menjadi tinta umat ini. Aku menyaksikan kecerdasan dan kepintaran terpancar dari dirinya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikannya faqih di dalam agama.”

Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma juga mengakui taraf keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang amat tinggi. Suatu saat Mu’awiyah berbicara kepada Ikrimah rahimahullah, mantan budak milik Ibnu Abbas sekaligus muridnya, “Demi Allah! Maula-mu (mantan majikanmu) adalah orang yang paling faqih di antara orang-orang yang telah meninggal, juga dibandingkan dengan orang-orang yang masih hidup.”

Demikianlah para sahabat memuji, menyanjung, dan mengakui keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Kemampuannya di dalam bidang tafsir, kefaqihannya dalam banyak masalah agama telah menempatkan beliau pada posisi istimewa di kalangan sahabat. Hal ini merupakan bukti bahwa doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau sungguh-sungguh dikabulkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sebagai salah satu indikator keluasan ilmu Ibnu Abbas adalah sebuah keterangan dari Ibnu Hazm di dalam kitabnya, al-Ihkam. Di sana Ibnu Hazm mengatakan, “Abu Bakr Muhammad bin Musa bin Ya’qub bin al-Makmun, seorang ulama besar Islam, mengumpulkan fatwa-fatwa Ibnu Abbas dalam dua puluh jilid kitab.”

Subhanallah! Fatwa Ibnu Abbas terhimpun dalam dua puluh jilid kitab? Sungguh, telah dikabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Fatwa-fatwa Ibnu Abbas yang dibangun di atas ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bukti kuat akan keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

 

Menuju Ahli Tafsir

Usia Ibnu Abbas masih 13 tahun ketika Rasulullah wafat. Akan tetapi, semangat juangnya untuk menimba dan mencari ilmu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ibnu Abbas sempat mengajak seorang kawannya dari kaum Anshar untuk berkeliling belajar dari seorang sahabat ke sahabat lainnya. Namun, ajakan itu ditolak. Katanya, buat apa belajar sementara sahabat-sahabat Nabi g masih banyak yang hidup. Apakah orang-orang akan bertanya kepada kita?

Namun, semangat Ibnu Abbas selalu bergelora. Digambarkan oleh beliau sendiri, untuk bisa memperoleh sebuah riwayat, beliau terkadang harus rela menunggu sampai tertidur di depan rumah sahabat yang dituju. Usia muda, semangat tinggi, kecerdasan yang luar biasa ditambah lisan yang selalu bertanya, pada akhirnya membuat Ibnu Abbas menjadi salah satu sumber rujukan utama dalam masalah agama.

Bagaimana tidak menjadi seorang pemuka agama yang mumpuni, ilmu yang dihimpun dan dikumpulkan oleh Ibnu Abbas benar-benar berkualitas. Buktinya? Ibnu Abbas pernah menyatakan, “Sungguh! Untuk satu masalah saja, terkadang saya menanyakan jawabannya kepada tiga puluh orang sahabat Nabi.”

Kawannya yang sempat menolak ajakan Ibnu Abbas lalu berkomentar, “Anak muda yang satu ini memang lebih cerdas daripada saya.”

Dari beberapa hal di atas, seharusnya membuka harapan baru untuk anak-anak kita kelak. Kesempatan untuk menjadi seorang ahli tafsir, seseorang yang memahami makna dan kandungan al-Qur’an secara luas masih selalu ada. Asalkan kita sebagai orangtua atau pengajar selalu menanamkan semangat dan menaburkan benih motivasi dalam dada mereka. Menjadi seorang ahli tafsir? Mengapa tidak?

 

Warisan Ahli Tafsir, Murid-Murid Ahli Tafsir

Keilmuan Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan al-Qur’an kemudian diwarisi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu, mayoritas tokoh dan pemuka ahli tafsir di kalangan tabi’in adalah murid-murid Ibnu Abbas. Tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang ditafsirkan lalu dituliskan di dalam karya-karya tafsir kecuali pasti tersebut salah satu dari nama murid-murid Ibnu Abbas.

Siapa yang tidak mengenal Mujahid bin Jabr? Seorang ahli tafsir yang disebut oleh ats-Tsauri, “Jika datang tafsir dari Mujahid, peganglah kuat-kuat!”

Siapa yang tidak mengenal Sa’id bin Jubair? Muhammad bin Sirin, Ikrimah, Thawus, Atha’ bin Yasar, asy-Sya’bi, Amr bin Dinar, Urwah bin az-Zubair, dan Arbadah at-Tamimi Shahibut Tafsir? Mereka semua adalah murid-murid utama Ibnu Abbas yang dikenal sebagai ahli tafsir juga.

Bagaimanakah Ibnu Abbas dalam pandangan murid-muridnya? Abu Wa’il bercerita, “Ibnu Abbas pernah menyampaikan khutbah untuk kami. Saat itu, beliau menjadi Amirul Hajj. Beliau membacakan surat an-Nur dan menafsirkannya. Sampai-sampai aku berkata, ‘Aku tidak pernah mendengar khutbah seindah ini. Andai khutbah ini didengar oleh orang-orang Persia, Romawi, dan Turki, niscaya mereka akan masuk Islam’.”

Mujahid memuji, “Aku tidak pernah melihat orang semacam Ibnu Abbas. Beliau adalah tinta umat ini.” Di waktu lain Mujahid menjelaskan, “Ibnu Abbas digelari dengan al-Bahr (Samudra) karena banyaknya ilmu yang dimiliki.”

Pujian yang sama juga dilayangkan oleh Ikrimah, murid beliau yang lain. Katanya, “Ibnu Abbas benar-benar samudra ilmu.”

Thawus menggambarkan untuk kita tentang keilmuan Ibnu Abbas di tengahtengah para sahabat. Kata Thawus, “Aku pernah bertemu sekitar lima ratus orang sahabat Nabi. Jika mereka berbeda pendapat, Ibnu Abbas selalu berusaha untuk meyakinkan mereka pada satu pendapat sampai akhirnya mereka pun sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas.”

 

Ibnu Abbas di Mata Khalifah Umar bin al-Khaththab

Kefaqihan dan keluasan ilmu tafsir yang dimiliki Ibnu Abbas adalah alasan yang membuat Khalifah Umar bin al-Khaththab menunjuk beliau sebagai salah satu anggota Syura. Semula, sebagian sahabat kurang bisa menerima keputusan Umar. “Kalau anak muda ini bisa masuk dalam Syura, anak-anak kita yang seumur dengannya pun seharusnya bisa,” kata mereka.

Suatu saat, Khalifah Umar hendak menunjukkan bukti di hadapan seluruh anggota Syura bahwa Ibnu Abbas memang layak berada di sana. Umar lalu bertanya tentang makna firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat an-Nashr. Sebagian sahabat diam, meski ada juga yang berusaha menjawab.

Di akhir diskusi, Umar bin al-Khaththab mempersilakan Ibnu Abbas untuk menjawab. Kata Ibnu Abbas, “Yang dimaksud adalah ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah mendengar jawaban Ibnu Abbas, Umar menanggapi, “Aku pun tidak memahami ayat tersebut kecuali seperti yang engkau pahami!”

Dalam waktu yang berbeda, seorang utusan dari daerah datang bertemu dengan Khalifah Umar. Di dalam laporannya, utusan tersebut menceritakan semangat kaum muslimin di daerahnya yang begitu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Ibnu Abbas secara terus terang menyatakan tidak senang dengan fenomena tersebut. Namun, Umar tidak menerima keberatan yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas kemudian pulang ke rumah dalam keadaan sedih atas sikap Umar. Beliau berbaring sampai disangka jatuh sakit oleh sebagian anggota keluarganya. Akhirnya datang panggilan dari Umar untuk Ibnu Abbas agar datang menghadap. Berbicara berdua, Umar menanyakan tentang pernyataan Ibnu Abbas di hadapan utusan tersebut. Apa alasannya?

Ibnu Abbas lalu menjelaskan, “Jika orang-orang terlalu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an, mereka akan mengklaim saling benar. Apabila hal itu terjadi, mereka akan berdebat. Setelah itu mereka akan berselisih. Pada akhirnya mereka akan saling membunuh.”

Kata Umar menilai keterangan Ibnu Abbas, “Sungguh menakjubkan pikiranmu! Sungguh, selama ini aku menyembunyikan perasaan semacam itu dari orang-orang, sampai akhirnya engkau pun mengutarakannya.”

 

Doakanlah Kebaikan!

Kekhawatiran Ibnu Abbas akhirnya benar-benar nyata terjadi. Akibat dari berbicara tentang al-Qur’an tanpa landasan ilmiah hanya akan menimbulkan kekacauan dalam beragama. Menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu, kepentingan kelompok, atau kesenangan pribadi terlihat jelas pada kelompok-kelompok sempalan Islam. Serahkan

tafsir al-Qur’an pada ahlinya!

Sungguh benar ucapan sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang pernah menggambarkan semacam ini. Sebagian muridnya bertanya, kapankah hal itu terjadi?

Ibnu Mas’ud menjawab,

إِذَا كَثُرَ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّ أُمَنَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ، وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ

“Apabila ahli membaca al-Qur’an banyak jumlahnya, tetapi yang mengerti tentang fiqihnya hanya sedikit. Banyak pemimpin bermunculan, namun yang bersikap amanah amat jarang. Dunia dicari dengan mengorbankan agama, dan orang belajar tetapi tidak tulus demi agama.” (Riwayat al-Hakim 4/514 dan ad-Darimi 1/64)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kaum muslimin kembali kepada paham Salafus Shalih dalam hal menafsirkan al-Qur’an. Semoga kita dan anak-anak kita kelak selalu istiqamah mempelajari al-Qur’an, mencintai, mengamalkan, mengajarkan, dan mendakwahkannya.

Seperti Ibnu Abbas! Walaupun telah buta di masa tuanya, Ibnu Abbas tetap mengajarkan al-Qur’an beserta tafsirnya. Ibnu Abbas adalah figur panutan kita dalam ilmu tafsir. Semoga Allah meridhai beliau dan orang tuanya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai


[1] Kata hibr dengan meng-kasrah huruf ha, maknanya tinta atau ulama. Adapun dengan habr maknanya ialah ulama. (Mishbahul Munir, al-Fayyumi)

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Baiknya rakyat baru terwujud jika pemimpinnya telah memperbaiki dirinya. Walau tidak mutlak, tetapi kalimat ini banyak benarnya. Sebab, bisa jadi pula jika rakyat itu rusak iman dan akhlaknya, Allah subhanahu wa ta’ala akan pilihkan bagi mereka pemimpin yang sama seperti mereka. Bahkan, bisa jadi lebih jahat, sebagai hukuman terhadap mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Demikianlah sunnatullah, Dia menjadikan sebagian orang zalim itu menguasai orang yang zalim lainnya, mengajaknya kepada kejahatan, membuatnya tidak memerhatikan kebaikan, bahkan membuat mereka meninggalkan kebaikan itu. Itu semua adalah sebagian hukuman yang Allah subhanahu wa ta’ala timpakan kepada mereka.

Oleh karena itu, kaum muslimin di mana saja mereka bermukim, mendapati penguasa mereka berbuat zalim terhadap mereka, hendaklah mereka menyadari keadaan diri mereka sendiri lebih dahulu, sebelum mereka menyalahkan penguasa mereka. Sebagaimana dalam ayat yang mulia ini, bisa jadi penguasa yang mereka anggap berbuat zalim terhadap mereka, merampas hak-hak mereka, tidak mengayomi mereka, tidak membimbing mereka kepada yang haq, adalah hukuman atas kezaliman yang telah mereka lakukan lebih dahulu.

Kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang mereka lakukan akhirnya membuahkan kejelekan demi kejelekan, sampai munculnya penguasa yang menimpakan kejelekan yang lebih berat kepada mereka. Wallahul musta’an.

Ketika kaum muslimin yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu masih berpegang teguh dengan agamanya, menjalankan sunnah Nabi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan untuk mereka pemimpin yang setara dengan mereka. Sama baiknya, bahkan lebih, baik dalam hal ilmu, iman, takwa, maupun amal.

Itulah ‘Umar bin al-Khththab radhiallahu ‘anhu. Dia telah memperbaiki dirinya lebih dahulu sejak mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikrarkan keislamannya. Demikian pula selama menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendampingi Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

‘Umar selalu memperbaiki hubungan antara dia dan Rabbnya k. Kaum muslimin juga telah memperbaiki hubungan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala, juga dengan sesama mereka, maka Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan mereka dengan memilihkan seorang pemimpin yang sebaik mereka, bahkan lebih.

‘Umar sangat takut kalau dia ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagaimana bisa jiwa seorang muslim melayang begitu saja. Sering beliau terlihat mengantuk di siang hari, hingga ada yang menyarankan agar beliau tidur saja.

“Kalau aku tidur lelap di malam hari, hilang bagianku dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau aku tidur di siang hari, telantarlah urusan rakyat yang menjadi tanggung jawabku,”

Tidak hanya urusan rakyat di dalam kota Madinah yang menjadi perhatian beliau, tetapi juga pasukan muslimin yang sedang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Beliau selalu mengingatkan para panglima agar jangan membawa pasukannya ke dalam bahaya.

Pernah diceritakan, salah seorang prajurit muslim mengalami kelumpuhan karena kedinginan. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin. Beliau kemudian berkata kepada Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, yang menjadi komandan, “Hai Jarir, ini sum’ah (agar didengar dan dipuji orang). Sesungguhnya siapa yang berbuat sum’ah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala perdengarkan.”

Maksudnya, seseorang berangkat pada musim dingin agar disebut-sebut bahwa dirinya berperang di musim dingin.

Begitu besar perhatian beliau terhadap jiwa pasukan muslimin, sampai-sampai beliau melarang mereka mengendarai kapal dan bertempur di laut. Ketika Mu’awiyah mendesak untuk berperang di laut, ‘Umar bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash bagaimana naik kapal. ‘Amr menerangkan, “Seperti seekor ulat di atas sebatang ranting, kalau oleng, ulat itu tenggelam….”

Kemudian beliau menulis surat kepada Mu’awiyah, “Demi yang mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa al-haq, Aku tidak akan membawa seorang muslimin pun dengan kapal.”

Cintanya yang besar kepada seorang muslim dan antusiasnya atas keselamatan mereka membawa kepada keadaan yang mengherankan kaum muslimin; baik yang berada bersama beliau di Madinah, maupun yang sedang berada jauh di negeri lain, berhadapan dengan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu ketika, Amirul Mukminin berdiri menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Nabawi. Belum lama berkhutbah, beliau berseru, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan. Siapa yang mengambil serigala sebagai penggembala, berarti dia zalim.”

Kaum muslimin yang sedang mendengarkan khutbah tercengang keheranan. Ada apa dengan Amirul Mukminin? Mereka tidak paham apa maksud beliau berkata demikian? Siapa yang dimaksud?

Selesai shalat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang Anda serukan ini?”

“Apakah kamu mendengarnya?” beliau balik bertanya.

Kata ‘Ali, “Ya. Saya dan semua yang di Masjid mendengarnya.”

“Muncul dalam batinku, orang-orang yang musyrik itu menyerang saudara-saudara kita dan mendesak mereka, sementara mereka (kaum muslimin) melewati sebuah gunung. Kalau mereka menuju ke gunung itu tentu mereka bisa menyerang siapa saja yang mereka temui dan pasti mereka menang. Kalau mereka melampauinya, niscaya mereka binasa, maka terucaplah olehku kalimat tadi.”

Sebulan kemudian, datanglah seorang kurir membawa berita gembira, lalu dia menyebutkan bahwa pada hari Jum’at itu, ketika mereka melewati sebuah gunung, mendengar suara yang mirip dengan suara ‘Umar yang menyerukan, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan.” Mereka segera ke gunung itu, lalu Allah memberi kemenangan kepada mereka.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa wahyu turun menyetujui pendapatnya. Firasatnya sering terbukti terhadap beberapa kejadian. Namun, beliau tidak selalu mengandalkan firasatnya memutuskan persoalan. Sebaliknya, beliau sering bermusyawarah dengan para sahabat.

Nun, di negeri seberang, dari balik gunung-gunung batu dan padang sahara, terdengar berita bahwa bangsa Persia telah bersiap-siap menyerang kaum muslimin. Amirul Mukminin segera mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Beliau berniat memimpin sendiri pasukan kaum muslimin.

Akan tetapi, beberapa sahabat senior melarang beliau berbuat demikian. Mereka meminta agar Amirul Mukminin tetap di Madinah dan menunjuk seseorang untuk menjadi panglima kaum muslimin menghadapi Persia.

Siapakah dia?

Waktu itu, Sa’d bin Abi Waqqash sedang bertugas menarik zakat di Hawazin. Beliau menulis surat kepada Amirul Mukminin melaporkan tugasnya, bertepatan saat Amirul Mukminin sedang berdiskusi dengan para sahabatnya tentang siapa yang layak ditunjuk sebagai panglima.

Saat mereka berdiskusi, tiba-tiba ‘Abdurrahman bin ‘Auf berseru, “Saya menemukan calonnya, wahai Amirul Mukminin.”

“Siapa?” tanya ‘Umar.

“Si Singa, Sa’d bin Abi Waqqash,” jawab ‘Abdurrahman.

Ketika semua menyetujui Sa’d sebagai panglima, ‘Umar berkata, “Dia memang pemberani, juga ahli pedang dan panah.”

Setelah itu, Amirul Mukminin memerintahkan agar Sa’d segera pulang ke Madinah. Begitu keduanya bertemu, ‘Umar berkata, “Saya ingin memberimu tugas besar.”

“Kalau menarik zakat atau jizyah, saya tidak mau. Kalau berperang, saya siap,” jawab Sa’d dengan gagah.

“Memang untuk perang.”

Akhirnya, Sa’d menerima tugas panglima itu dalam keadaan menyadari betul bahaya besar yang akan dihadapi, karena mereka akan melawan para Kisra Persia, yang terkenal sebagai ahli-ahli perang. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al Faruq ‘Umar bin al-Khaththab (10)

 

Penyebaran Islam
III: Penyebaran Islam di Masa Khalifah Umar bin al-Khaththab

 

Futuhat Islamiyah Di Masa ‘Umar

Bermula dari sumpah setia para sahabat Anshar di bukit ‘Aqabah, dekat kota Makkah. Beberapa bulan sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah hijrah ke Madinah. Selesai menunaikan ibadah haji, orang-orang Anshar membuat kesepakatan untuk bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bukit ‘Aqabah.

Dalam pertemuan itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan, “Aku membai’at kalian semua untuk membelaku seperti kalian membela anak istri kalian.”

Barra’ bin Ma’rur segera menggenggam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Siap. Demi Yang mengutus Anda membawa yang haq, pasti kami betul-betul membela Anda seperti kami membela keluarga kami. Bai’atlah kami, ya Rasulullah. Kami ahli perang dan ahli pertahanan yang kami warisi turun-temurun….”

Tiba-tiba Abul Haitsam bin at-Taihan memotong sambil bertanya, “Sebetulnya, antara kami dan mereka (Yahudi) ada ikatan perjanjian dan kami akan memutuskannya. Apakah kalau kami melakukannya, kemudian Allah ‘azza wa jalla memenangkan Anda, lalu Anda akan kembali kepada kerabat Anda dan meninggalkan kami?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan berkata, “Bahkan, darah darah (sama-sama luka), hancur hancur (sama-sama binasa). Aku bagian dari kalian dan kalian bagian dariku. Aku memerangi siapa saja yang kalian perangi dan berdamai dengan siapa saja kalian berdamai.”

Setelah itu beliau meminta dua belas orang ditunjuk sebagai pemuka bagi dua masyarakat Anshar. Mereka menunjuk tiga dari Aus dan sembilan dari Khazraj.

Inilah peristiwa bersejarah yang dianggap sebagai mata rantai pertama dari Futuhat Islamiyah hingga terjadinya peristiwa Badr, sampai jatuhnya kota Makkah ke dalam pangkuan Islam. Dan kemenangan itu tidak berhenti hanya sampai di situ….

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu mengirim Pedang Allah ‘azza wa jalla menembus batas negeri Irak, setelah menundukkan orang-orang yang murtad. Kemudian, beliau mengarahkannya ke Syam untuk menghadang ambisi Romawi.

Kemudian, diteruskan oleh al-Faruq radhiallahu ‘anhu.

Sesungguhnya, Futuhat yang terjadi di beberapa wilayah yang berdekatan dengan negara Islam, ataupun yang lebih jauh, tidak lain adalah gerakan hidayah kepada manusia yang terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Gerakan besar untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kesyirikan, kekafiran, kebodohan, dan kamaksiatan menuju cahaya tauhid, keimanan, ilmu, dan ketaatan.

Kaum muslimin yang meninggalkan kampung halaman mereka, menembus padang sahara adalah untuk meninggikan Kalam Allah, menyampaikan berita gembira kepada manusia dengan agama-Nya, serta rela mengorbankan jiwa raga dan harta mereka, bukan untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Tujuan utama mereka adalah agar manusia terangkat derajatnya sebagai manusia, beribadah hanya kepada Rabb yang telah menciptakan manusia dan memberi mereka rezeki, bukan kepada sesama makhluk yang sarat dengan kekurangan.

Ketika negeri yang mereka datangi menolak semua pilihan yang ditawarkan, mereka mulai menyerang. Itu pun tanpa melakukan penganiayaan atau penyiksaan terhadap yang luka, dan tidak mengganggu wanita dan anak-anak serta orang-orang yang sudah renta. Tidak pula menghancurkan rumah ibadah penduduk setempat, apalagi membakar rumah penduduk.

Bukan harta rampasan yang mereka cari, bukan pula kemuliaan, ketenaran sebagai penakluk. Mereka lakukan semua hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, meninggikan Kalimat-Nya (al-Islam). Senantiasa terbayang di depan mata mereka ketika seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Seseorang berperang demi memperoleh rampasan perang, seseorang berperang agar dikenang (sebagai pahlawan) dan seseorang berperang agar diketahui kedudukannya, maka siapakah yang dikatakan (berperang) di jalan Allah ‘azza wa jalla?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Siapa yang berperang agar Kalimat Allah itulah yang tinggi, dialah yang (dikatakan) berperang di jalan Allah.” (HR. al-Bukhari (2810) dan Muslim (1904) dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Itulah tujuan utama mereka. Kekayaan negeri yang mereka taklukan, tidak menyilaukan mata mereka, hingga melalaikan mereka dari tujuan tersebut. Secantik apa pun wanita yang ada di negeri itu, tidak pula memabukkan mereka sehingga lupa dengan tujuan mulia ini.

Setelah mengalahkan semua prajurit lawan dan menembus ibu kota mereka, pasukan muslimin tidak menjadi sombong dan merendahkan orang-orang yang telah mereka taklukkan. Lebih-lebih lagi, ketika di antara penduduk pribumi ada yang menerima Islam. Kaum muslimin menyambutnya gembira, menjadikannya salah seorang saudara mereka, dengan hak dan kewajiban yang sama.

Memang, pasukan muslimin di negeri taklukan tidak hanya menampakkan Islam dari ritual ibadah, tetapi juga dari akhlak dan kepribadian mereka. Karena itulah, dengan mudah penduduk setempat menerima Islam.

Itu pula sebabnya, Futuhat Islamiyah menjadi monumen abadi dalam sejarah peradaban manusia. Sudah seharusnya dunia berterima kasih kepada Islam dan kaum muslimin yang melebarkan sayapnya sampai ke negeri-negeri yang jauh, mulai dari Granada, Spanyol, Belanda, terus ke Rusia, atau ke pedalaman Afrika dan ujung timur India.

Akan tetapi, kebanyakan manusia itu ingkar kepada kebaikan. Yang mereka tonjolkan adalah dendam jahiliah. Tidak menerima kenyataan bahwa mereka dikalahkan oleh orang-orang yang menurut mereka selama ini bukan apa-apa.

Bandingkan dengan penaklukan yang dilakukan imperium Romawi dan Persia. Demikian pula yang dilakukan oleh negeri-negeri kafir ke mana saja mereka meluaskan wilayah. Apa yang terjadi di negeri taklukan?

Para pemimpin negeri-negeri yang mereka taklukan menjadi tawanan, atau budak-budak hina yang melayani dan memuaskan hawa nafsu dan keserakahan mereka. Tanah yang subur dan kaya dengan sumber alamnya, mereka kuras lalu dibawa ke negeri mereka, bukan untuk memakmurkan penduduk yang mereka taklukan.

Belum lagi perilaku dan kepribadian penduduk yang mereka datangi. Mereka merusaknya dengan akhlak dan akidah mereka yang sudah rusak. Semua itu adalah bukti yang tidak mungkin terbantah oleh mereka yang masih hidup hatinya dan sehat akalnya.

Kemenangan demi kemenangan diraih kaum muslimin, hingga akhir tiga generasi terbaik umat ini. Dan sudah menjadi sunnah (ketetapan) Allah ‘azza wa jalla, bahwa setiap kenikmatan tentu ada yang dengki terhadap mereka yang merasakannya. Begitulah sampai semesta ini diwarisi oleh Allah ‘azza wa jalla.

Orang-orang yang menekuni sejarah dari kalangan Nasrani dan orientalis berusaha menampilkan kemenangan Islam ini dengan rupa yang sangat buruk. Mereka menuduh bahwa kemenangan (Futuhat) Islam tidak lain adalah perang agama, yang kaum muslimin memaksakan Islam kepada penduduk wilayah yang mereka taklukkan. Mereka gambarkan seakan-akan, di tangan kanannya seorang muslim memegang Kitab Suci al-Quran, sedang yang lain menggenggam senjata.

Mereka menutup mata dengan kenyataan yang menjadi sebab mereka ditaklukkan oleh tentara Allah ‘azza wa jalla.

Mereka lupa, kekalahan mereka yang sangat tragis sekalipun tidak lain adalah karena dosa yang mereka lakukan. Kedurhakaan mereka kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya adalah sumber kelemahan dan kemunduran serta kehancuran mereka. Ditambah pula kezaliman penguasa mereka terhadap rakyat, mempercepat jatuhnya kekuasaan raja-raja mereka.

Lagi pula, dengan persenjataan dan perbekalan yang serba lengkap dan terlatih, jumlah prajurit yang jauh lebih banyak daripada tentara muslimin, bagaimana mereka bisa dihancurkan? Dari mana kekalahan itu?

Alhasil, jelas tidak sama antara Futuhat dan penjajahan. Itulah realita yang ditorehkan sejarah dengan tinta emas, walaupun orangorang yang buta hatinya tidak menyukai.

Namun, di balik itu semua, kita juga tidak boleh lupa siapa tokoh yang berperan dalam berbagai Futuhat tersebut. Mulai dari panglimanya, hingga pucuk pimpinan tertinggi yang mengirim mereka ke wilayah-wilayah tersebut.

Tentu, setelah Abu Bakr ash-Shiddiq, tidak ada nama lain yang kedua kecuali ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Meski tidak pernah mengenyam pendidikan olah keprajuritan seperti yang dilakukan di negara maju, Byzantium dan Persia, pasukan yang beliau kirim mampu meruntuhkan kesombongan kedua kekaisaran besar dunia saat itu.

Sebagaimana ketatnya sikap ‘Umar dalam memilih gubernur wilayah yang dikuasai kaum muslimin, begitu pula dalam memilih panglima perang untuk memimpin pasukan muslimin.

Panglima harus dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya beliau terpaksa mengangkat seseorang yang bukan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menekankan agar panglima tidak bertindak sebelum bermusyawarah dengan sahabat.

Di antara mereka, yang didahulukan oleh ‘Umar adalah para sahabat yang terdahulu dan mula-mula masuk Islam, kecuali jika dia kurang mampu dalam bidangnya.

Bagi ‘Umar, seorang panglima adalah orang yang tenang dan tidak ceroboh, sehingga mampu memanfaatkan setiap peluang, kapan dia menyerang, kapan pula dia berhenti menyerang.

Seorang panglima harus memiliki kekuatan dan pengaruh, juga harus memiliki keberanian dan ahli tempur, apakah memanah, melempar tombak, bermain pedang atau senjata lainnya.

Adalah ‘Umar, jika pasukan sudah berkumpul, beliau mengangkat seorang amir yang memiliki ilmu dan ahli fikih.

Ringkasnya, seorang panglima perang dalam kriteria ‘Umar adalah laki-laki yang ahli dalam bertempur, besar khidmatnya terhadap Islam, tenang dan cermat, memiliki kepribadian yang berpengaruh, dan pemberani.

 (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Terbunuhnya Husain bin Ali bin Abi Thalib

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

pisau darah

Saat Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma pada tahun 60 H meninggal, anaknya yang bernama Yazid dibai’at sebagai khalifah. Adapun Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma dan Abdullah bin Zubair termasuk yang enggan berbai’at kepada Yazid. Mereka berdua berangkat menuju Makkah dan menetap di sana. Kaum muslimin banyak yang mendatangi Husain radhiallahu ‘anhu untuk mendengar ilmu dan wejangan dari beliau. Adapun Ibnu Zubair radhiallahu ‘anhu menetap di tempat ibadahnya di sisi Ka’bah.

Tidak berapa lama kemudian, berdatanganlah surat-surat yang berasal dari penduduk Kufah yang menghendaki kedatangan Husain radhiallahu ‘anhu ke negeri mereka agar mereka segera membaiatnya sebagai pengganti Yazid bin Muawiyah.

Yang pertama kali mendatangi Husain radhiallahu ‘anhu adalah Abdullah bin Saba’, al-Hamdani, dan Abdullah bin Wal. Mereka membawa surat yang berisi ucapan selamat atas kematian Muawiyah radhiallahu ‘anhu. Setelah itu, disusul oleh ratusan surat yang meminta Husain radhiallahu ‘anhu untuk segera datang ke Kufah.

Akhirnya Husain radhiallahu ‘anhu mengutus anak pamannya yang bernama Muslim bin Aqil bin Abi Thalib ke Irak untuk meneliti duduk permasalahan sebenarnya dan kesepakatan mereka. Apabila hal ini sesuatu yang jelas dan mesti, Husain akan berangkat bersama keluarga dan kerabatnya.

Tatkala Muslim bin Aqil tiba di Kufah, beliau singgah di rumah Muslim bin Ausajah al-Asadi. Ada pula yang berkata bahwa beliau singgah di rumah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi. Wallahu a’lam.

Penduduk Kufah berbondong-bondong mendatangi Muslim untuk membaiatnya atas nama kepemimpinan Husain radhiallahu ‘anhu. Jumlah mereka mencapai 18.000 orang. Akhirnya, Muslim mengirim surat kepada Husain radhiallahu ‘anhu agar segera datang ke Kufah karena pembaiatan telah siap. Husain radhiallahu ‘anhu bersiap berangkat dari Makkah menuju Kufah.

Berita kedatangan Husain radhiallahu ‘anhu kian tersiar dan sampai kepada an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhuma yang ketika itu menjadi Gubernur Kufah bagi pemerintahan Yazid. Beliau seakan-akan tidak peduli dengan semakin gencarnya isu pembaiatan terhadap Husain radhiallahu ‘anhu.

Berita ketidakpedulian Nu’man radhiallahu ‘anhuma sampai kepada Yazid. Yazid melengserkan Nu’man radhiallahu ‘anhuma dari kedudukannya dan memerintah Ubaidullah bin Ziyad untuk menguasai Kufah dan Basrah sekaligus. Yazid berpesan kepada Ibnu Ziyad, “Jika engkau datang ke Kufah, carilah Muslim bin Aqil. Jika engkau mampu membunuhnya, bunuhlah.”

Ibnu Ziyad berangkat dari Basrah menuju Kufah. Tatkala memasuki Kufah, ia menutup wajahnya dengan sorban hitam. Setiap kali dia melewati sekumpulan manusia, ia berkata, “Assalamu’alaikum.”

Mereka menjawab, “Wa‘alaikassalam, selamat datang wahai anak Rasulullah.”

Mereka menyangka bahwa dia adalah Husain radhiallahu ‘anhu, karena memang telah menunggu kedatangannya sampai akhirnya banyak penduduk mengerumuninya.

Muslim bin Amr berkata, “Mundurlah kalian, ini adalah Gubernur Ubaidullah bin Ziyad.”

Tatkala mereka mengetahui bahwa itu bukan Husain, mereka bersedih. Ubaidullah akhirnya yakin bahwa hal ini adalah kesungguhan.

Dia kemudian memasuki istana Gubernur Kufah dan mengutus Ma’qil, maula Ubaidullah bin Ziyad, untuk meneliti keadaan dan melacak siapa dalang utama yang mengatur pembaiatan terhadap Husain radhiallahu ‘anhu.

Ma’qil berangkat dengan membawa uang 3.000 dirham sambil menyamar sebagai orang yang berasal dari Hims yang datang untuk membaiat Husain radhiallahu ‘anhu. Dia terus berlemah lembut hingga ditunjukkan kepadanya tempat Muslim bin Aqil dibaiat; yaitu rumah milik Hani bin Urwah. Akhirnya, dia mengetahui bahwa Muslim bin Aqil merupakan otaknya. Dia pun kembali dan mengabarkan hal ini kepada Ubaidullah.

Setelah Muslim bin Aqil merasa bahwa segala sesuatu telah siap, dia mengirim berita kepada Husain radhiallahu ‘anhu untuk segera datang ke Kufah. Husain akhirnya berangkat menuju Kufah, sementara Ubaidullah mengetahui apa yang dilakukan oleh Muslim bin Aqil. Keberangkatan Husain radhiallahu ‘anhu bertepatan pada hari tarwiyah.

Tatkala Husain radhiallahu ‘anhu hendak berangkat, para sahabat Rasulullah g yang masih hidup ketika itu berusaha mencegah keberangkatan beliau.

Di antara yang berusaha mencegahnya adalah Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Ketika itu Ibnu ‘Umar sedang berada di Makkah. Tatkala mendengar Husain radhiallahu ‘anhu menuju Irak, ia menyusulnya dalam perjalanan selama 3 malam.

Setelah bertemu Husain, Ibnu ‘Umar bertanya, “Hendak kemana engkau?”

Husain menjawab, “Menuju Irak.” Sambil memperlihatkan surat-surat yang dikirim dari Irak kepadanya, “Ini surat-surat dan bai’at mereka.”

Ibnu Umar berkata, “Jangan engkau datangi mereka.”

Husain bersikeras berangkat sehingga Ibnu ‘Umar berpesan, “Aku memberitakan kepadamu satu hadits, bahwa Jibril q mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memberi pilihan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam antara dunia dan akhirat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih akhirat dan tidak menghendaki dunia. Sesungguhnya engkau adalah bagian dari diri beliau. Demi Allah, jangan sekali-kali ada di antara kalian yang memilih dunia. Tidaklah Allah ‘azza wa jalla palingkan kalian darinya kecuali kepada sesuatu yang jauh lebih baik.”

Namun, Husain enggan untuk kembali. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma menangis dan berkata, “Aku titipkan dirimu kepada Allah ‘azza wa jalla agar tidak menjadi orang yang terbunuh.”

Selain Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, yang berusaha mencegah beliau adalah Abdullah bin ‘Abbas, Abu Sa’id al-Khudri, dan Abdullah bin Zubair g.

Di Kufah, Ubaidullah yang telah mengetahui bahwa Muslim bin Aqil bersembunyi di balik Hani bin Urwah, memanggil Hani ke istananya. Ubaidullah bertanya, “Di manakah Muslim bin Aqil berada?”

Hani menjawab, “Saya tidak tahu.”

Ubaidullah bin Ziyad memanggil Ma’qil yang pernah menyamar menjadi seorang dari Hims untuk membaiat Husain radhiallahu ‘anhu. Ubaidullah bertanya, “Apakah engkau mengenal orang ini?”

Hani menjawab, “Ya.”

Hani pun kebingungan. Akhirnya ia mengetahui bahwa hal ini ternyata makar dari Ubaidullah bin Ziyad.

Ubaidullah bertanya, “Di mana Muslim bin Aqil?”

Hani menjawab, “Demi Allah, seandainya dia berada di bawah kakiku, aku tidak akan mengangkatnya.”

Ubaidullah memukul wajah Hani dengan tongkat hingga melukai bagian keningnya dan mematahkan hidungnya. Dia lalu memerintahkan agar Hani dipenjara.

Muslim bin Aqil mendengar berita Hani ditahan. Ia mengerahkan para pendukungnya sejumlah 4.000 orang penduduk Kufah. Di antara mereka ialah Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi yang memegang bendera hijau, dan Abdullah bin Harits bin Naufal yang memegang bendera merah. Keduanya diatur menjadi pasukan sayap kanan dan kiri.

Mendengar Muslim bin Aqil datang, Ubaidullah dan yang bersamanya segera memasuki istana dan menutup gerbangnya. Sebagian pemimpin kabilah yang berada di pihak Ubaidullah menasihati kaumnya agar meninggalkan Muslim bin Aqil. Sebagian lagi diperintahkan oleh Ubaidullah untuk mengelilingi Kufah untuk menghalangi bantuan kepada pasukan Muslim bin Aqil. Mereka pun melakukannya.

Sampai-sampai, seorang wanita berkata kepada anak dan saudaranya, “Kembalilah, yang lain telah mencukupimu.”

Seorang lelaki berkata, kepada anak dan saudaranya, “Sepertinya besok pasukan dari negeri Syam akan tiba. Apa yang dapat engkau perbuat menghadapi mereka?”

Akhirnya mereka yang berkumpul bersama Muslim meninggalkannya satu per satu. Belum tiba sore hari, jumlah pasukan Muslim tersisa 500 orang, lalu menjadi 300 orang, kemudian menjadi 30 orang.

Beliau shalat Maghrib bersama jamaahnya yang tersisa 10 orang. Setelah selesai shalat, Muslim pun tinggal sendirian, beliau bingung hendak pergi ke mana.

Ia pun mengetuk salah satu rumah, keluarlah seorang wanita. Muslim berkata, “Berilah aku air.” Wanita itu memberikan air kepadanya. Muslim menceritakan tentang jati dirinya, “Penduduk Kufah telah berdusta dan menipuku,” ujarnya.

Wanita itu memasukkan Muslim ke dalam rumah yang berdampingan dengan rumahnya. Anak wanita tersebut, Bilal bin Asid, mengetahui keberadaan Muslim. Ia segera memberitakan hal ini kepada Ubaidullah bin Ziyad.

Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy’ats memberitakan kepada ayahnya, Muhammad bin Asy’ats yang sedang berada di sisi Ibnu Ziyad. Ibnu Ziyad mengutus 70 orang tentara berkuda untuk mengepung rumah tempat Muslim berdiam. Muslim sempat melakukan perlawanan, meski akhirnya menyerahkan diri dan dibawa ke istana Ibnu Ziyad.

Ibnu Ziyad berkata kepada Muslim, “Aku akan membunuhmu.”

Muslim berkata, “Beri aku kesempatan untuk memberi wasiat.”

Ibnu Ziyad berkata, “Silakan beri wasiat.”

Muslim melihat di sekelilingnya lalu menatap Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Muslim berkata, “Engkau orang yang paling dekat hubungan kerabatnya denganku. Kemarilah, aku ingin memberi wasiat kepadamu.”

Muslim berpesan kepadanya agar menyampaikan kepada Husain radhiallahu ‘anhu, “Kembalilah engkau bersama keluargamu. Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya mereka telah berdusta kepadamu dan kepadaku. Dan pendusta tidak pantas memiliki pendapat.”

Setelah itu, dipenggallah kepala Muslim radhiallahu ‘anhu oleh Bukair bin Humran. Ini terjadi pada hari ‘Arafah bulan Dzulhijjah. Sementara itu, Husain telah berangkat dari Makkah pada hari tarwiyah.

Setiba Husain radhiallahu ‘anhu di Qadisiah, beliau mendengar berita terbunuhnya Muslim bin Aqil melalui utusan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Husain radhiallahu ‘anhu ingin kembali dan berdiskusi dengan anak-anak Muslim bin Aqil. Anak-anaknya menjawab, “Tidak, demi Allah, kami tidak akan kembali hingga kami membalas kematian ayah kami.”

Akhirnya, Husain radhiallahu ‘anhu mengikuti kemauan mereka.

Setelah Ubaidullah bin Ziyad mengetahui bahwa Husain tetap berangkat menuju Irak, ia memerintahkan al-Hur bin Yazid at-Tamimi keluar membawa 1.000 tentara sebagai pasukan pembuka yang akan menemui Husain radhiallahu ‘anhu di tengah perjalanan.

Al-Hur menemui Husain di Qadisiah dan bertanya, “Hendak kemana wahai anak dari anak perempuan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”

Beliau menjawab, “Menuju Irak.”

Al-Hur memerintahkan Husain untuk kembali atau menuju Syam dan tidak memasuki Kufah. Namun, Husain tidak mengindahkannya.

Tatkala Husain radhiallahu ‘anhu tiba di Karbala, beliau bertanya, “Tempat apakah ini?”

Dijawab, “Karbala.”

Husain berkata, “Karbun wa bala (kesulitan dan bencana).”

Setelah itu, tibalah pasukan Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dengan 4.000 tentara yang berusaha membujuk Husain radhiallahu ‘anhu agar mendatangi Irak untuk bertemu dengan Ubaidullah bin Ziyad. Tatkala Husain melihat bahwa urusannya semakin genting, Husain berkata kepada Umar bin Sa’ad, “Aku memberimu tiga pilihan, silahkan engkau pilih. (1) Engkau membiarkan aku kembali, (2) Aku pergi ke salah satu tempat berjihad kaum muslimin, atau (3) Aku mendatangi Yazid agar aku dapat meletakkan tanganku di bawah tangannya di Syam.”

Umar menjawab, “Ya. Silakan engkau kirim utusan kepada Yazid, dan aku mengirim utusan kepada Ubaidullah untuk melihat keputusannya.”

Namun, Husain tidak mengirim utusan kepada Yazid, sementara Umar telah mengirim utusan kepada Ubaidullah. Setibanya utusan Umar di hadapan Ubaidullah dan menceritakan apa yang dikatakan Husain radhiallahu ‘anhu, pada awalnya Ubaidullah menyetujui pilihan mana saja. Namun, di sisi Ubaidullah ada seorang yang bernama Syamir bin Dzil Jausyan, termasuk orang yang sangat dekat dengan Ubaidullah. Ia berkata, “Tidak demi Allah, hingga dia tunduk kepada hukum yang engkau tetapkan.”

Ubaidullah akhirnya menyetujui usulan Syamir dan berkata, “Ya, hingga ia tunduk kepada hukumku.”

Ubaidullah kemudian mengutus Syamir dan mengambil alih kepemimpinan Umar bin Sa’ad. Setelah Husain radhiallahu ‘anhu mengetahui berita bahwa dia harus tunduk kepada hukum Ubaidullah, beliau berkata, “Tidak demi Allah, Aku tidak akan tunduk kepada hukum Ubaidullah sama sekali.”

Jumlah pasukan berkuda yang bersama Husain radhiallahu ‘anhu ada 70 orang, sementara pasukan yang berasal dari Kufah berjumlah 5.000 orang. Pada hari Jumat, pertumpahan darah tak terelakkan tatkala Husain radhiallahu ‘anhu enggan menjadi tahanan bagi Ubaidullah bin Ziyad.

Dua kekuatan yang tidak seimbang. Satu-satunya keinginan pasukan Husain radhiallahu ‘anhu adalah meninggal sebagai pembela Husain radhiallahu ‘anhu. Satu per satu mereka gugur hingga tidak tinggal seorang pun selain Husain radhiallahu ‘anhu dan anaknya, Ali bin Husain radhiallahu ‘anhuma, yang ketika itu dalam keadaan sakit.

Sepanjang hari Husain radhiallahu ‘anhu sendirian, tidak seorang pun berani mendekatinya. Mereka tidak ingin menjadi pembunuh Husain radhiallahu ‘anhu. Hingga datanglah Syamir bin Dzil Jausyan yang dengan lantang, “Celaka kalian, kepung dia dan bunuhlah dia.”

Mereka mengepung Husain hingga beliau berkeliling dengan pedangnya sambil membunuh siapa saja yang mendekatinya. Namun, jumlah yang banyak tetap saja mengalahkan sikap kepahlawanan beliau.

Syamir pun berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Majulah kalian.”

Mereka pun merangsek maju mendekati Husain. Syamir termasuk yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu dengan tangannya. Sinan bin Anas an-Nakha’i adalah orang yang memenggal kepala beliau.

 

Jadi, Siapa yang Membunuh Husain?

Telah sepakat referensi Syiah dan Ahlus Sunnah bahwa yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu adalah kaum Syiah sendiri.

Dalam kitab-kitab Syiah, diriwayatkan bahwa Ali bin Husain yang dikenal dengan sebutan “Zainul Abidin”, berkata mencela kaum Syiah yang telah menipu dan membunuh ayahnya, Husain radhiallahu ‘anhu, “Wahai sekalian manusia, aku menuntut kalian karena Allah. Apakah kalian mengetahui bahwa kalian menulis surat kepada ayahku dan kalian telah menipunya? Kalian berikan kepadanya janji dan bai’at, lantas kalian membunuh dan menelantarkannya. Sungguh, celaka apa yang dilakukan oleh diri kalian dan buruknya sikap kalian. Dengan pandangan apa kalian melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berkata kepada kalian, ‘Kalian telah membunuh keluargaku. Kalian telah merusak kehormatanku. Kalian bukanlah dari umatku’.”

Terangkatlah suara tangisan para wanita tangisan dari setiap sudut diselingi ucapan mereka kepada yang lain, “Kalian telah binasa dengan apa yang kalian ketahui.”

Ali bin Husain lalu berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang menerima nasihatku, dan memelihara wasiatku tentang Allah, Rasul-Nya, serta keluargaku. Sesungguhnya pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada suri teladan yang baik bagi kita.” (ath-Thabrasi dalam kitab al-Ihtijaj, 2/32; Ibnu Thawus dalam al-Malhuf, hlm. 92)

Ketika al-Imam Zainul Abidin melihat penduduk Kufah meratap dan menangis, beliau menghardik mereka sambil berkata, “Kalian meratap dan menangis karena kami?! Siapa yang membunuh kami?!” (al-Malhuf, hlm. 357, Maqtal al-Husain, Murtadha ‘Iyadh, hlm. 83)

Ummu Kultsum bintu Ali radhiallahu ‘anhuma berkata, “Wahai penduduk Kufah, aib bagi kalian. Mengapa kalian tidak menolong Husain, namun justru membunuhnya. Kalian merampas hartanya lalu kalian warisi. Kalian menahan para wanitanya dan membuatnya binasa. Celaka kalian! Keanehan apa yang kalian lakukan? Dosa apa yang kalian pikul di atas punggung kalian? Darah apa yang telah kalian tumpahkan? Kemuliaan apa yang telah kalian raih? Anak wanita siapa yang telah kalian hilangkan kehormatannya? Harta apa yang telah kalian rampas? Kalian telah membunuh orang-orang terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya. Telah dicabut rasa kasih sayang dari hati-hati kalian.” (al-Malhuf, hlm. 91, Maqtal al-Husain, Murtadha Iyadh, hlm. 86)

Demikian pula yang diucapkan oleh Zainab bintu Ali radhiallahu ‘anhuma, “Wahai penduduk Kufah, kaum lelaki kalian membunuh kami, tetapi para wanita kalian menangisi kami. Yang menjadi hakim antara kami dan kalian adalah Allah ‘azza wa jalla, pada hari ditetapkannya segala keputusan.” (Ridha bin Nabi al-Qazwini dalam Tazhallumu az-Zahra, hlm. 264)

Kazhim al-Ahsa’i berkata, “Sesungguhnya, pasukan yang keluar untuk memerangi Imam Husain radhiallahu ‘anhu berjumlah 3.000 orang. Seluruhnya adalah penduduk Kufah. Tidak ada seorang pun yang berasal dari Syam, Hijaz, India, Pakistan, Sudan, Mesir, dan Afrika. Bahkan, mereka seluruhnya adalah penduduk Kufah, yang berkumpul dari berbagai kabilah.” (Asyura, hlm. 89)

Husain bin Ahmad al-Baraqi an-Najafi mengatakan, “Termasuk yang dicerca dari penduduk Kufah ialah tindakan mereka menusuk Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma dan membunuh Husain radhiallahu ‘anhuma setelah mereka memanggilnya.” (Tarikh al-Kufah, hlm. 113)

Muhsin al-Amin berkata, “Dua puluh ribu penduduk Irak yang telah membai’at Husain, menipu dan melakukan perlawanan terhadapnya. Bai’at berada di pundak mereka, sementara mereka membunuhnya.” (A’yanu asy-Syiah, 1/26)

Murtadha Muthahhari, salah seorang tokoh Syiah Rafidhah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa Penduduk Kufah adalah termasuk Syiah (pengikut) Ali radhiallahu ‘anhu. Yang membunuh Husain radhiallahu ‘anhu adalah Syiah sendiri.” (al-Malhamah al-Husainiyah, 1/129)

Ia berkata pula, “Kami juga mengatakan bahwa terbunuhnya Husain radhiallahu ‘anhu di tangan kaum muslimin, tetapi di tangan kaum Syiah setelah 50 tahun kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini membingungkan dan tanda tanya mengherankan yang sangat menarik perhatian.” (al-Malhamah al-Husainiyah, 3/95)