Mewaspadai Kebangkitan Komunisme

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَ مَالُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah jumat rahimakumullah,

Perkenankanlah kami pada kesempatan khutbah kali ini menyampaikan informasi seputar bahayanya paham komunisme terhadap NKRI.

Akhir-akhir ini, ada pihak-pihak yang berusaha memunculkan kembali paham yang berbahaya ini di bumi persada. Mereka berupaya dengan memasang poster para tokohnya, menggunakan atribut dan lambang palu arit. Bahkan, ada yang membanggakan dirinya sebagai anak PKI lantas menulis buku untuk menggambarkan kebanggaannya tersebut. Wal ‘iyadzu billah.

 

Jamaah jumat rahimakumullah!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak sepantasnya seorang mukmin tersengat sampai dua kali dari lubang yang sama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kita kaum muslimin yang berwarga negara Indonesia sudah merasa jera dan trauma dengan yang namanya gerakan dan paham komunisme. Sejarah kelam dan tragedi berdarah yang dimotori oleh gerakan komunis jangan sampai terulang lagi di negeri kita tercinta ini.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, paham komunisme dicetuskan oleh orang-orang ateis yang antiagama dan tidak percaya dengan adanya Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥

“Apakah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (ath-Thur: 35)

 

Saudara-saudaraku kaum muslimin… semoga kita dirahmati oleh Allah

Kita telah ridha dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi kita. Maka dari itu, kita tidak akan rela paham komunisme ada di tengah-tengah kita.

Agama Islam memiliki konsep:

لاَ ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya, menolak madarat terhadap dirinya dan menolak madarat terhadap pihak lain, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh, paham komunisme sangatlah bermadarat bagi individu, masyarakat, agama, dan bangsa.

 

Hadirin rahimakumullah,

Mari kita dukung bangsa kita dalam menolak paham komunisme. Agama dan negara kita menolak terorisme, dan komunisme tidak lepas dari praktik terorisme.

Agama dan negara kita menolak tindakan anarkisme (tindakan kekejaman), dan komunisme tidak bisa lepas dari praktik anarkisme.

Semoga taufik Allah senantiasa tercurahkan kepada kita dan para pemimpin negara ini untuk berjalan di atas jalan yang lurus.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهِ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ ا لْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Hadirin rahimakumullah,

Memang benar bahwa agama Islam selalu mengajak untuk bersikap adil. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ

“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar bersikap adil….” (an-Nahl: 90)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Bersikap adillah, karena sikap adil lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Pada ayat yang lain,

وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩

“Dan berbuat adillah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (al-Hujurat: 9)

Sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajari kita untuk menjadi orang yang adil.

Akan tetapi, bukan seperti keadilan yang disuarakan oleh orang-orang yang bepemahaman komunis, yang seakan-akan ingin memperjuangkan para petani, pekerja, dan kaum buruh. Padahal apa yang mereka lakukan jauh dari keadilan dan tidak pula membela hak rakyat. Mereka justru merampas hak rakyat.

Sebagai contoh, konsep keadilandalam paham komunisme adalah alat-alat produksi, tanah, modal, dan tenaga kerja menjadi milik bersama, diatur oleh negara; tidak ada kepemilikan individu. Sudah barang tentu, konsep ini bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan syariat Islam

Syariat Islam mengakui adanya kepemilikan manusia secara individu. Akan tetapi, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal-hal bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat. Selain itu, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya sebagai zakat yang disalurkan kepada para fakir miskin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ، رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Mewaspadai Komunisme dan Bisikan Kaum Komunis

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ: مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ مَنْ خَلَقَ كَذَا؟ حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan akan mendatangi salah seorang di antara kalian dan berkata, ‘Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga ia bertanya, ‘Siapa yang menciptakan Rabbmu?’

Apabila setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

 Takhrij Hadits

Hadits ini muttafaqun ’alaihi. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (6/336), Bab “Shifatu Iblis wa Junudihi” (Sifat Iblis dan bala tentaranya) melalui jalan Yahya bin Bukair, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin Zubair, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Dengan lafadz ini pula al-Imam Muslim meriwayatkan dari Zuhair bin Harb dan ‘Abd bin Humaid; juga melalui jalan Ibnu Syihab, dari Urwah, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim meriwayatkan pula dengan lafadz,

لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ: هَذَا خَلَقَ اللهُ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Senantiasa manusia saling bertanya, hingga dikatakan, “Allah-lah yang menciptakan semua makhluk. Siapa yang menciptakan Allah?” Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan pula oleh Abu Dawud (no. 4732) dalam as-Sunan dan Ibnu Sunni (no. 621) dengan lafadz,

يُوْشِكُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُوْنَ بَيْنَهُمْ حَتىَّ يَقُوْلَ قَائِلُهُم: هَذَا اللهُ خَلَقَ الْخَلْقَ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ؟ فَإِذَا قَالُوْا ذَلِكَ فَقُوْلُوا: ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢  لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣  وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤

ثُمَّ لْيَتْفُلْ أَحَدُكُمْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

Hampir-hampir manusia saling bertanya di antara mereka hingga ada yang berkata, “Ini Allah menciptakan mahluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah?”

Katakanlah, “Allah Maha Esa, Allah adalah Dzat yang bergantung segala sesuatu pada-Nya. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kemudian hendaklah dia mengusir (isyarat) meludah ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan dari setan.

Hadits serupa diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam kitab “al-I’tisham” (13/264). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَنْ يَبْرَحَ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يَقُولُوا: هَذَا اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، فَمَنْ خَلَقَ اللهَ؟

Tidak henti-hentinya manusia saling bertanya, hingga mereka mengatakan, “Allah, Dialah pencipta segala sesuatu, lalu siapa yang menciptakan Allah?”

 Permusuhan Iblis dan Bala Tentaranya

Setan-setan dari kalangan manusia dan jin bahu-membahu berupaya menyimpangkan hamba dari jalan Allah. Orang-orang kafir dibisiki agar semakin kokoh dalam kekufuran dan penentangan.

Orang-orang beriman pun tidak lepas dari bisikan-bisikan setan untuk mengeluarkan mereka dari cahaya atau menjadikannya ragu terhadap kebenaran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُونَ ١١٢ وَلِتَصۡغَىٰٓ إِلَيۡهِ أَفۡ‍ِٔدَةُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ وَلِيَرۡضَوۡهُ وَلِيَقۡتَرِفُواْ مَا هُم مُّقۡتَرِفُونَ ١١٣

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (al-An’am: 112—113)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantahmu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan beragam upaya setan untuk menyesatkan manusia. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ يَوْمًا خَطًّا ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ، عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ. ثُمَّ تَلاَ   وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِي مُسۡتَقِيمٗا فَٱتَّبِعُوهُۖ وَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦۚ

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggoreskan sebuah garis untuk kami lalu bersabda, “Ini adalah jalan Allah.”

Kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya dan bersabda, “Garis-garis ini adalah jalan-jalan, pada setiap jalan ada setan yang mengajak kepadanya.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153) (HR. ad-Darimi dalam as-Sunan no. 208, cet. Darul Ma’rifah)

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa setan terus membisikkan kebatilan adalah hadits Abu Hurairah yang ada di hadapan kita.

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa setan akan melemparkan berbagai kerancuan kepada manusia melalui bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau melalui lisan-lisan manusia.

Dalam hadits ini, Rasulullah mengabarkan bahwa setan mendatangi manusia dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menciptakan langit? Siapa yang menciptakan bumi? Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?”

Semua pertanyaan dijawab, “Allah yang menciptakannya.”

Kemudian setan menggiring manusia untuk bertanya, “Siapa yang menciptakan Allah?”

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu contoh bisikan setan. Pertanyaan-pertanyaan serupa dan syubhat-syubhat batil terus bermunculan.

Manusia pun terbagi menjadi dua. Di antara mereka ada yang menghadapinya dengan keimanan sehingga ia selamat. Akan tetapi, banyak manusia larut dan terbawa arus kerancuan setan sehingga terjerumus dalam kebinasaan.

 

Komunisme, Buah Bisikan Setan

Berbagai kelompok sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabriyah, Mu’tazilah, Murji’ah, demikian pula ideologi batil, semacam liberalisme, komunisme, semua itu sesungguhnya hasil syubhat-syubhat setan yang dia hembuskan.

Sungguh, berbagai syubhat dan pertanyaan kekufuran yang mengarah kepada ideologi batil, seperti komunisme dan ateisme, akan terus bermunculan, baik dari setan manusia maupun setan jin. Persis seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kabarkan dalam hadits di atas.

Dalam al-Qur’an Allah juga menyebutkan beberapa ucapan orang-orang yang kufur, di antaranya,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” (Yasin: 78)

Apa yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam surat Yasin adalah contoh pertanyaan-pertanyaan aneh yang dibisikkan oleh setan untuk mengingkari hari kebangkitan; salah satu keyakinan kaum ateis yang sangat kental dengan paham komunisme.

Pertanyaan pengingkaran mereka, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya,

قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ٧٩

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (Yasin: 79)

Telah ada dan akan terus ada manusia yang mengingkari hari kebangkitan. Seraya membawa tulang yang telah lapuk dan remuk, dengan nada pengingkaran, dia bertanya, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang belulang yang sudah hancur seperti ini?”

Sungguh aneh pertanyaan ini! Tidakkah kalian sedikit menggunakan akal untuk bertanya tentang penciptaan diri kalian?

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dari tanah, lalu menciptakan kalian dari setetes air mani. Apakah Dzat yang telah menciptakan manusia tidak mampu membangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tentu hal tersebut sangat mudah bagi Allah.

أَلَمۡ يَكُ نُطۡفَةٗ مِّن مَّنِيّٖ يُمۡنَىٰ ٣٧ ثُمَّ كَانَ عَلَقَةٗ فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ ٣٨ فَجَعَلَ مِنۡهُ ٱلزَّوۡجَيۡنِ ٱلذَّكَرَ وَٱلۡأُنثَىٰٓ ٣٩  أَلَيۡسَ ذَٰلِكَ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يُحۡـِۧيَ ٱلۡمَوۡتَىٰ ٤٠

“Bukankah dia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki laki dan perempuan? Bukankah (Allah yang melakukan) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 37—40)

Pertanyaan bisikan setan ini,

  • Siapa yang menciptakan Allah?
  • Apa mungkin tulang yang telah menjadi debu akan dibangkitkan kembali?

apabila diikuti, tidak dihadapi dengan keimanan, bisa jadi membawa manusia kepada kesesatan.

Pertanyaan tersebut mengantarkan mereka menuju keyakinan antituhan, ateisme, komunisme, dan kesesatan lainnya.

 

Bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menghadapi Bisikan Setan

Sebagai agama yang sempurna, Islam memberikan jalan keluar ketika bisikan setan datang. Dalam hadits yang mulia di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umat agar menempuh tiga hal untuk menolak bisikan-bisikan setan dari kalangan jin atau manusia.

  1. Ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari setan.

Penyebab munculnya bisikan dan syubhat-syubhat batil adalah setan, maka dengan ta’awudz, Allah subhanahu wa ta’ala akan menjauhkan setan dari seorang hamba.

  1. Segera memutus bisikan.

Dengan menghentikan bisikan yang dihembuskan oleh setan jin dalam kalbu atau oleh lisan setan manusia, insya Allah akal berhenti melayani pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang menyesatkan. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal manusia terbatas sehingga mustahil bisa menjangkau segala sesuatu.

Dua hal ini ditunjukkan oleh sabda beliau,

فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ وَلْيَنْتَهِ

“Jika setan telah sampai pada pertanyaan ini, mohonlah perlindungan kepada Allah, dan berhentilah.”

  1. Iman

Hal ketiga yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menolak bisikanbisikan setan adalah iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ

Barang siapa mendapatkan sesuatu dari pertanyaan ini, ucapkanlah, “Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya.”

Ketika datang bisikan apapun dari setan, meniupkan kerancuan akidah, tangkal segera dengan keimanan. Sebagai contoh, ketika setan membisikkan bahwa manusia yang telah menjadi tanah, mustahil dibangkitkan. Segeralah hadapi dengan keimanan.

Katakanlah, “Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya beriman kepada al-Qur’an dan hadits. Saya beriman kepada kabar dari Allah dan Rasul-Nya bahwa manusia akan dihidupkan kembali oleh Allah untuk mempertanggungjawabkan amalannya.”

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang sahih ini menunjukkan bahwa orang yang digoda oleh setan dan bisikannya, “Siapakah yang menciptakan Allah?” harus menghindari perdebatan. Ia harus menjawabnya dengan mengatakan sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits tersebut. Dia katakan,

آمَنْتُ بِاللهِ وَرُسُلِهِ، اللهُ أَحَدٌ اللهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلًدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Saya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Esa. Allah tempat meminta. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’

Setelah itu, hendaklah ia meludah ke kiri tiga kali, dan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, serta menepis keragu-raguan itu.

Saya berpendapat, orang yang melakukannya semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta ikhlas, keraguan dan godaan itu akan hilang darinya. Setan pun menjauh darinya. Ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Sesungguhnya godaan itu akan hilang darinya.’

Pelajaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini jelas lebih bermanfaat dan lebih dapat mengusir keraguan daripada terlibat dalam perdebatan logika yang sengit seputar persoalan ini.

Sesungguhnya perdebatan dalam pesoalan ini amatlah sedikit gunanya, bahkan boleh jadi tidak ada gunanya sama sekali. Namun sayang, kebanyakan manusia tidak menghiraukan pelajaran yang amat bagus ini.

Oleh karena itu, ingatlah wahai kaum muslimin, kenalilah sunnah Nabimu dan amalkanlah. Sesungguhnya dalam sunnah itu ada obat dan kemuliaan bagimu.” (ash-Shahihah)

 

Kekhawatiran Seorang Muslim Terhadap Bisikan Setan

Bisikan-bisikan setan dihembuskan kepada siapapun—termasuk orang yang beriman—kecuali yang diselamatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika mendapat bisikan tersebut, orang yang beriman akan merasa berat dan berusaha menolaknya.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,

جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ: إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ. قَالَ: وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: ذَلِكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

Beberapa sahabat Rasul datang dan bertanya kepada beliau, “Sungguh, kami mendapatkan dalam diri kami (bisikan setan –pen.) yang kami merasa berat untuk mengucapkannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian telah mendapatkan bisikan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Ya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itulah tanda keimanan yang jelas.” ( HR. Muslim)

Dalam syarah hadits ini, an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasa berat hati kalian untuk mengucapkan bisikan tersebut menunjukkan keimanan kalian yang jelas. Sebab, perasaan berat dan rasa takut mengucapkannya, apalagi meyakini (bisikan setan tersebut), tidaklah muncul kecuali pada orang yang menyempurnakan imannya dan selamat dari kerancuan serta keraguan.”

 

Komunisme, Jalan Setan

Komunisme dan seluruh jenis kesesatan pasti akan runtuh di hadapan al-Kitab dan as-Sunnah. Kebatilan tidak akan mampu tegak di hadapan al-haq. Akan tetapi, pergulatan dan peperangan antara al-haq dan batil tidak akan berakhir hingga dunia berakhir.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, komunisme adalah paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Dalam masalah kepemilikan, paham komunis menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi, seperti tanah, tenaga kerja, dan modal. Menurut paham ini, masyarakat semua sama, tidak ada kelas dan strata. Semua orang sama, segala sesuatu adalah milik bersama. Komunisme tidak mengakui kepemilikan individu.

Dalam masalah kepemilikan ini saja, paham komunis sangat bertentangan dengan akal, fitrah, dan syariat Allah subhanahu wa ta’ala—syariat yang menjamin terwujudnya keadilan dan kemakmuran.

Islam mengakui kepemilikan pribadi. Manusia boleh memiliki tanah, alatalat produksi, pabrik, mesin produksi, perkebunan, peternakan, dan semisalnya. Meski demikian, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal yang bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat.

Di sisi lain, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya, dalam bentuk zakat. Zakat ialah hak fakir miskin. Inilah sepintas konsep kepemilikan dalam Islam, sangat bertolak belakang dengan konsep kepemilikan menurut paham komunisme.

Dalam kehidupan beragama, orang-orang komunis tidak memedulikan

agama. Vladimir Lenin dalam tulisannya  “Sosialisme dan Agama” mengatakan bahwa agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Lenin juga menginginkan agar penyebutan agama seseorang dalam dokumen dibatasi.

Menurut ideologi komunisme, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia. Karena itu, negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap atheistik dan antiagama. Inilah yang tampak di negara-negara sosialis komunis, seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok.

Dalam hal agama, mayoritas kaum komunis adalah ateis, seperti kaum Dahriyun yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an. Mereka menganggap bahwa hidup dan mati terjadi karena perputaran masa semata. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَقَالُواْ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍۖ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ٢٤

Mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,” dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (al-Jatsiyah: 24 )

Mereka tidak memercayai adanya kebangkitan setelah kematian, tidak pula meyakini hari kiamat.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِ‍َٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٢٥ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٦

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, “Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 25—26)

 

Mewaspadai Komunisme di Indonesia

Di bumi Indonesia, catatan sejarah masih tersimpan rapi bagaimana kaum komunis berupaya menancapkan kukunya di negeri ini.

Mereka berupaya masuk ke seluruh lini kehidupan dan berupaya menjadikan bumi nyiur melambai sebagai negeri komunis, seperti Uni Soviet kala itu. Berbagai upaya mereka lakukan; kekerasan, kudeta, dan pembantaian manusia, terjadi di negeri ini. Tidak berbeda dengan kekejaman tokoh-tokoh komunisme dunia, semacam Vladimir Lenin, Joseph Stalin, Mao Zedong, dan lainnya.

Alam demokrasi Indonesia ternyata cukup sejuk dan subur bagi berbagai kesesatan—termasuk komunisme—untuk terus hidup dan berkembang. Seruanseruan kepada ideologi komunis, terbit dan menyebarnya buku serta tulisan berideologi komunis, bahkan film-film yang sangat kental berpaham komunis juga diproduksi dan dipertontonkan.

Semua ini adalah indikasi tentang gerakan dan perkembangan paham komunisme di Indonesia.

Kondisi ini menuntut kaum muslimin, terlebih Ahlus Sunnah wal Jamaah, segera berupaya membendungnya. Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari segala kejelekan. Amin.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Dusta! Komunis Membela Kaum Tertindas

Ada di antara kalangan muda yang tertarik marxisme lantaran pembelaannya terhadap kaum miskin tertindas. Mereka cemburu melihat kaum papa dimarjinalkan. Mereka terusik melihat ketidakadilan menyelimuti kaum miskin yang dipinggirkan. Hatinya berontak melihat kaum kapitalis (sang pemilik modal) memeras para buruh nan papa.

Semangat pembelaannya meledak melihat para borjuis (tuan tanah) menyabot hak-hak petani guram. Ketertindasan telah membangkitkan jiwa untuk bangkit membela. Ketertindasan telah membakar kecemburuannya untuk melakukan perlawanan. Telapak tangan kiri yang terkepal diacungkan: lawan!

Itulah anak muda. Awal reformasi di negeri ini mereka tergabung dalam partai anak muda yang kekiri-kirian. Atas nama ketertindasan mereka lantang bersuara. Serdadu bersenjata pun mereka lawan. Seakan-akan kematian bagi mereka adalah sebuah kemuliaan.

Namun, setelah reformasi mereda… Setelah mereka tidak muda lagi semangatnya, setelah sepatu kulit mengkilat mereka kenakan, setelah kursi jabatan diduduki, setelah lembaran fulus mengelus mereka, tak ada lagi suara lantang melawan ketidakadilan. Lidah telah kelu. Tangan sudah tak mampu mengepal lagi. Mereka telah terpesona dan jatuh cinta dengan dunia. Dulu, kapitalis adalah lawannya. Kini, jadi teman kencannya. Dulu, borjuis adalah musuhnya. Kini, jadi sahabatnya.

Kaum buruh yang dahulu mereka eksploitasi, tak sedikit pun merasakan manis dunia yang telah mereka raih. Petani guram cuma bisa mengelus dada menikmati kemiskinan yang makin mengimpit. Tak ada lagi anak muda yang dahulu mengunjunginya, mengajak berunjuk rasa, berdemo yang konon katanya untuk memperjuangkan hak-haknya yang dikebiri.

Kaum buruh dan para petani kecil tentu tak memahami arti pertentangan kelas. Mereka adalah orang-orang polos yang tak pernah belajar beragitasi dalam sebuah pertarungan kelas. Mereka lugu.

Karena keluguannya, mereka dieksploitasi, digunakan sebagai alat politik. Mereka ditarungkan melawan kapitalis, melawan borjuis. Begitulah keadaan senyatanya. Jadi, jika komunis memperjuangkan kaum miskin, buruh, petani, rakyat kecil, pedagang kaki lima, sebenarnya hanya sebuah kedustaan. Rakyat kecil itu hanya sebagai alat untuk sebuah aksi pertentangan kelas ala mereka. Aksi politik.

Adakah kesejahteraan bagi rakyat kecil di alam komunis? Tidak! Justru rakyat hidup terkekang. Berani mengkritisi partai komunis, berarti bersiap untuk ditindas. Dahulu, di Uni Soviet, berani buka suara melawan komunis, berarti bersiap dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Di Korea Utara pun demikian. Para anti-komunis digelandang ke kamp konsentrasi di Kaechon.

Yang senyatanya memperjuangkan kaum fakir dan miskin hanyalah Islam. Pembelaan Islam terhadap kaum papa adalah tanpa mengeksploitasi mereka. Apalagi dijadikan alat pertarungan kelas. Pembelaan Islam terhadap mereka dengan memberdayakannya, memberi perhatian, menyayangi, dan membantu mengatasi kesulitannya.

Bagi yang tak memiliki kepedulian, Islam memberi peringatan keras. Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَرَءَيۡتَ ٱلَّذِي يُكَذِّبُ بِٱلدِّينِ ١  فَذَٰلِكَ ٱلَّذِي يَدُعُّ ٱلۡيَتِيمَ ٢  وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلۡمِسۡكِينِ ٣

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama itu? Maka, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan enggan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1—3)

Firman-Nya,

فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠

“Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9—10)

Firman-Nya,

وَهَدَيۡنَٰهُ ٱلنَّجۡدَيۡنِ ١٠  فَلَا ٱقۡتَحَمَ ٱلۡعَقَبَةَ ١١  وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا ٱلۡعَقَبَةُ ١٢ فَكُّ رَقَبَةٍ ١٣  أَوۡ إِطۡعَٰمٞ فِي يَوۡمٖ ذِي مَسۡغَبَةٖ ١٤ يَتِيمٗا ذَا مَقۡرَبَةٍ ١٥  أَوۡ مِسۡكِينٗا ذَا مَتۡرَبَةٖ ١٦ ثُمَّ كَانَ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡمَرۡحَمَةِ ١٧

“Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan). Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu jalan yang mendaki dan sukar itu? (Yaitu) melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.

Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling menasihati untuk bersabar dan berkasih sayang.” (al-Balad: 10—17)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan sosok yang sangat penyayang dan pemurah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128)

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Beliau lebih pemurah lagi di bulan Ramadhan kala Jibril menemuinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat keluhan dari kaum fakir. Sesungguhnya orang-orang berharta telah melampaui kaum fakir dalam beramal (sedekah dan membebaskan budak).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat, “Maukah aku kabari sesuatu bilamana kalian mengamalkannya bisa menjangkau (amalan) yang melampauimu? Tidak akan bisa menjangkau amalan ini kecuali orang yang turut mengamalkan hal serupa ini.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setelah selesai shalat masing-masing 33 kali.”

Lantas kaum fakir itu pun mengamalkannya. Kemudian orang-orang berharta pun mengetahui hal itu. Apa yang diajarkan kepada kaum fakir itu diamalkan juga oleh orang-orang berharta.

Kaum fakir pun mengadukan kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata beliau,

ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ

Itulah karunia Allah diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Lihatlah, betapa bersemangat para sahabat untuk melakukan kebaikan. Mereka berpacu untuk bisa beramal saleh. Mereka berlomba mengejar urusan akhirat. Kecemburuan mereka terhadap para pemilik harta lantaran dengan harta yang ada bisa beramal kebaikan. Mereka selalu merasa kurang dalam mengerjakan amal saleh.

Ini tentu sangat bertolak belakang dengan paham marxisme. Marxisme tak mengaitkan keberadaan materi untuk kehidupan akhirat. Mereka tak memiliki keimanan terhadap perkara yang gaib. Bagi mereka, kehidupan hanya di dunia. Islam pun mengajarkan agar tidak meremehkan kaum lemah. Tak boleh merasa diri lebih dari yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan pertolongan dan rezeki dengan sebab kaum lemah. Ini dilatari karena doa, shalat, dan keikhlasan orang-orang yang lemah.

Pesan itu terungkap dalam hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya, yang menyebutkan,

“Sesungguhnya Sa’ad menyangka memiliki keutamaan dari sahabat Nabi lainnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini dengan (kaum) yang lemah lantaran doa, shalat, dan keikhlasan mereka’.” (HR. an-Nasai, no. 3178)

Demikian pula yang disebutkan dalam hadits Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu. Ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ابْغُونِي الضَّعِيفَ فَإِنَّكُمْ إِنَّمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعُفُائِكُمْ

Carikanlah aku kaum yang lemah! Sungguh, kalian akan diberi rezeki dan pertolongan dengan sebab orang-orang lemah (di antara) kalian.” (HR. Abu Dawud, no. 2335. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

Kepedulian Islam terhadap kaum yang lemah, tertindas, marjinal (terpinggirkan), sedemikian kuat. Bentuk bantuan materi bisa diwujudkan dalam bentuk zakat, infak, dan sedekah, atau bentuk bantuan lainnya. Islam senantiasa mendorong umatnya untuk tolong-menolong dalam perbuatan baik dan takwa. Islam tak menghendaki umatnya saling menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Dan Allah subhanahu wa ta’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau membantu saudaranya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Islam adalah pembela sejati kaum miskin, kaum lemah, dan tertindas. Cara yang ditempuh dalam agama mulia ini pun tidak sebagaimana dilakukan kaum marxis. Islam mengentaskan kaum papa melalui cara yang elegan. Tanpa harus mengeksploitasi kaum miskin. Tanpa harus mempertarungkannya. Tanpa harus memperalatnya.

Kaum yang tak berdaya benar-benar diperlakukan dengan sebaik-baiknya, diperlakukan dengan penuh manusiawi. Perlakuan-perlakuan itu didasari penuh keikhlasan. Upaya bantuan tersebut dilakukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Hanya mengharap balasan dari Yang Maha Pemurah, Allah subhanahu wa ta’ala.

Berbeda halnya dengan kaum marxis yang peduli kepada kaum miskin karena ada unsur kepentingan dunia. Bantuan yang sarat muatan politis. Jadi, adalah dusta, komunis membela kaum papa tertindas. Allahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Komunis Kaum Pemberontak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi nasihat kepada kami. Nasihat itu begitu menggetarkan hati sehingga air mata pun menetes. Seorang sahabat mulia, Abu Najih al-‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, pernah mengisahkan hal itu dalam sebuah hadits. Di antara nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

Aku wasiatkan kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, hendaklah mendengar dan taat walau yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Sebuah wasiat agung. Wasiat yang mengajarkan prinsip untuk menaati penguasa kaum muslimin. Sebuah prinsip yang senantiasa dijaga dan ditegakkan oleh kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan prinsip ini, seorang muslim dididik untuk tidak merongrong kewibawaan penguasa kaum muslimin. Dengan prinsip ini pula, seorang muslim dibimbing agar tidak terjatuh melakukan aksi angkat senjata ke hadapan penguasanya. Menentang dan memberontak.

Hendaknya seorang muslim menaatipenguasanya dalam hal yang ma’ruf, yang tidak menjadikannya bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang muslim dibimbing untuk bersabar menghadapi situasi yang tak nyaman, penuh hiruk pikuk, dan kegaduhan politik. Sabar dalam memegang kukuh wasiat di atas.

Itulah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Berbeda dengan orang-orang yang lalai dengan agamanya. Tak mengingat dan mengamalkan wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka mudah terpancing situasi politik yang memanas. Tak sabar saat stabilitas negara dalam keadaan goncang. Kritik berhamburan di depan publik. Cacat cela penguasa tersingkap di hadapan rakyat jelata. Yang semestinya, bila hendak menasihati penguasa, dilakukan secara tertutup sebagaimana adab yang diajarkan agama yang mulia, Islam.

Aksi Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan potret berpolitik penuh nista. Cara berpolitik yang jauh dari kesantunan. Trik-trik politik yang penuh tipu muslihat. Aksi-aksi yang dilandasi kebencian, menyikut teman seiring, membantai lawan, haus kekuasaan, menghasut dan menghalalkan semua cara. Selama tampil di pentas jagat Nusantara, PKI cuma bisa menyajikan kekacauan demi kekacauan. Rakyat Indonesia, khususnya rakyat kecil, dimanipulasi untuk selalu menyibukkan diri dalam perpolitikan. Rakyat jelata diagitasi untuk selalu bangkit melakukan perlawanan terhadap siapa pun yang tak segaris dengan PKI.

Seakan-akan memperjuangkan kaum proletar, yaitu rakyat jelata. Padahal, senyatanya banyak menyengsarakan rakyat. Bahkan, mengorbankan rakyat. Ya, mengorbankan rakyat miskin. Tak semata miskin harta, namun miskin ilmu. Rakyat semacam ini yang dijadikan tumbal perjuangan PKI. Berkedok pertentangan kelas, rakyat jelata dibodohi segelintir elite partai. Rakyat disuguhi kebohongan demi kebohongan. Itulah PKI.

 Berjuang Berarti Memberontak

Tak bisa dimungkiri, doktrin pertentangan kelas yang ditanamkan kepada kader PKI telah banyak memberi pengaruh untuk berontak. Kaum miskin, buruh tani, buruh perkebunan, para pekerja tambang dan pabrik adalah sosok manusia yang sangat rentan disusupi paham komunis. Nyaris semua pemberontakan di Nusantara yang dilakukan komunis melibatkan kaum marjinal (pinggiran), seperti petani atau buruh.

Mengingat doktrin pertentangan kelas pula, kaum marxis-komunis membangun kekuatan massa di pusat-pusat perburuhan atau pertanian. Di situ banyak buruh, di situ pula kader-kader komunis melakukan perekrutan pengikut. Di situ banyak petani miskin, di situ pula agen-agen marxis bergerilya menancapkan cakar komunismenya.

Sebab, sesungguhnya, doktrin pertentangan kelas tak bisa diwujudkan manakala masyarakat tidak dipilah menjadi miskin-kaya, borjuis-proletar, atau kapitalis-proletar. Doktrin pertentangan kelas akan mengalami resistensi (penolakan) dari masyarakat, manakala masyarakat hidup harmoni. Yang kaya menolong yang miskin, yang miskin mengerti keadaan dirinya untuk bersabar dan membangun relasi baik terhadap yang kaya. Pemilik modal (kapitalis) tidak bersikap arogan terhadap kaum buruh atau petani. Begitu pula para buruh atau petani bisa membawa diri dalam bermuamalah. Manakala dibingkai akhlak yang baik, harmoni itu bisa terwujud. Biidznillah.

Sebagai agama yang sempurna dan universal, Islam telah memberikan bimbingan tentang hal itu. Antara kaya dan miskin tidak terjadi jurang pemisah. Ketentuan zakat, sedekah, dan infaq, di antara hikmahnya adalah membangun relasi yang sehat, penuh kasih, hangat, dan perhatian antara yang kaya dan miskin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَفِيٓ أَمۡوَٰلِهِمۡ حَقّٞ لِّلسَّآئِلِ وَٱلۡمَحۡرُومِ ١٩

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta dan orang miskin yang menahan diri dari meminta-minta.” (adz-Dzariyat: 19)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan untuk tidak meremehkan kaum yang lemah, memerhatikan dan peduli terhadap mereka. Berdasarkan hadits dari Mush’ab bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu, dari ayahnya,

أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَبِصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

Sesungguhnya ia (Sa’ad) menyangka memiliki kelebihan atas para sahabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong umat ini melalui (kaum) yang lemah karena doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” (HR. an-Nasai, no. 3178, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah)

 Upaya Pemberontakan 1926—1946

Tengoklah perjalanan sejarah. Pemberontakan di wilayah Banten pada November 1926, kaum komunis berhasil memprovokasi massa buruh dan petani untuk memberontak dan membuat kerusuhan.

Nyaris bersamaan waktu, terjadi pula pemberontakan di wilayah Karesidenan Jakarta dan wilayah Priangan, Jawa Barat. Beriring waktunya dengan pemberontakan komunis di Solo. Jelang tutup tahun 1926, di Kediri meletus pula pemberontakan orang-orang komunis. Awal Januari 1927, orang-orang komunis membuat onar, berontak, dan membantai masyarakat Silungkang, Sumatra Barat.

Sekian banyak makar ditorehkan oleh para pengusung ideologi marxisme di nusantara. Sekian banyak pula korban berjatuhan, kerugian finansial dan kerusakan infrastruktur masyarakat. Apa yang dilakukan orang-orang komunis tak memberi kebaikan sedikit pun terhadap kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Komunisme hanya menjadikan situasi tidak kondusif. Fakta sejarah yang terpapar di atas adalah fakta yang terekam saat kemerdekaan Republik Indonesia belum diproklamirkan.

Pasca-kemerdekaan, komunis berulah juga. Antara Oktober—Desember 1945, dikenal “Peristiwa Tiga Daerah”. Para pengusung PKI berusaha melakukan pemberontakan untuk menguasai Tegal, Brebes, dan Pemalang. Mereka melakukan konsentrasi massa di Desa Talang, Kabupaten Tegal. Namun, upaya permufakatan jahat kaum komunis berhasil ditebas pasukan pemerintah.

Pungkas di “Peristiwa Tiga Daerah” ternyata tak menjerakan para pengusung ideologi anti agama ini. Februari 1946, mereka membuat aksi berontak di Cirebon. Upaya merebut kekuasaan pemerintahan daerah tak mampu dilakukan. Massa PKI dipukul mundur oleh pasukan pemerintah dan kaum muslimin.

 Muso Datang, Madiun Meradang

Sekembali dari Rusia, Muso mengambil alih kendali partai. Tanggal 1 September 1948 Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC PKI) kali pertama terbentuk. Muso dipilih sebagai Ketua PKI. Aroma Rusia pun masih kental tercium. Bara revolusi kaum marxis-leninis di Rusia masih kuat membakarnya. Keberhasilan kaum komunis di Rusia coba ingin diwujudkan di Indonesia. Muso pun ambil langkah.

Sejak Muso memegang tali kekang partai, wajah garang PKI semakin menguat. Para pimpinan partai sering melakukan orasi di hadapan masa. Isi orasi pun sarat muatan yang membakar emosi masa. Menghasut. Memberi janji-janji muluk. Mendiskreditkan pemerintah Republik Indonesia.

Yogyakarta, Sragen, Solo, dan Madiun adalah jalur aksi agitasi mereka. SOBSI, sebagai organisasi sayap PKI untuk para buruh, menggalang kekuatan massa buruh di Klaten, Jawa Tengah untuk mogok kerja. Tak hanya itu, kaum komunis pun melakukan aksi-aksi teror terhadap orang-orang yang tak segaris, seperti terhadap para pegawai pemerintah dan tokoh kaum muslimin di daerah.

Akibat berbagai aksi itu, situasi pun memanas. Kerusuhan meletus di Solo. Darah merah tertumpah. Kolonel Soetarto, Panglima Divisi IV/Panembahan Senopati, dibunuh. Setelah itu, dr. Moewardi pun diculik dan dibantai. Nama terakhir ini kemudian disematkan menjadi nama Rumah Sakit Umum Daerah di Surakarta, RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang terletak di Jl. Kolonel Soetarto.

Saat perhatian terfokus ke Solo, di Madiun situasi menegang. Pada 18 September 1948, Muso memberi komando untuk menguasai Madiun dan sekitarnya. Operasi pemberontakan berhasil dilaksanakan. Hari itu Madiun dikuasai kaum komunis. Pasukan TNI terdesak ke pinggiran Madiun. Perkantoran pemerintah dan beberapa objek vital dikuasai komunis.

Proklamasi berdirinya negara “Republik Soviet Indonesia” segera dipublikasikan. Sebagai pimpinan pemberontakan, Muso membentuk Pemerintah Front Nasional. Tak berlangsung lama, komunis menguasai Karesidenan Madiun, Purwodadi, dan Cepu.

Pemberontakan ini memakan korban yang tidak sedikit. Di antara para korban pembantaian ialah para pejabat pemerintahan, TNI, polisi, dan tokoh masyarakat. Sebuah sumur tua di Desa Soco, Kecamatan Benda, Kabupaten Magetan merupakan tempat kuburan massal korban pembantaian PKI. Ada 108 jenazah ditemukan, 78 jenazah dikenali, sedang sisanya tak bisa dikenali. Di antara korban, Bupati Magetan Soedibjo. Juga ditemukan korban pembantaian PKI di sebuah sumur di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di tempat ini ada 17 nama korban, diantaranya Kolonel Marhadi. Adapun di sumur tua yang berada di Desa Cigrok ditemukan jenazah 22 orang. Di antaranya jenazah para kiai pengasuh pondok pesantren.

Pemberontakan PKI di Madiun tidak berlangsung lama. Dalam kurun kurang dari dua pekan, para pemberontak bertekuk lutut. Pasukan pemerintah membasmi anasir PKI. Bahkan, Muso ditembak mati saat melarikan diri ke luar kota Madiun. Para pelaku lainnya, seperti Amir Sjarifuddin, dieksekusi mati.

 G 30 S/PKI

Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G 30 S/PKI) merupakan gerakan penggulingan kekuasaan. G30 S/PKI, sering disebut juga Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), melancarkan pemberontakan dengan melakukan penculikan dan pembantaian terhadap para perwira tinggi TNI. Enam jenderal dan satu perwira menengah dibunuh secara keji oleh kelompok Gestapu. Sementara itu, satu jenderal yang menjadi target penculikan berhasil lolos. Para korban penculikan selanjutnya dibawa ke daerah Lubang Buaya, dekat Bandar Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

Pada 1 Oktober 1965 sekira jam 05.30, pasukan Gatotkaca dibawah pimpinan Mayor Udara Gathut Soekrisno menerima hasil penculikan dari pasukan Pasopati. Sementara itu, para sukwan (sukarelawan) PKI, di antaranya ada dari kalangan sukwati (sukarelawati) Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, organisasi sayap PKI untuk para wanita), telah menunggu kedatangan para korban penculikan. Mereka menunggu di dekat sumur tua Lubang Buaya. Tempat itu merupakan basis gerakan mereka.

Empat korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan mata ditutup kain merah dan kedua tangannya diikat ke belakang. Adapun tiga orang jenderal korban penculikan diturunkan dari kendaraan dalam keadaan telah meninggal. Tubuh ketiganya bersimbah darah akibat diberondong senjata api laras

panjang dan ditusuk sangkur terhunus. Mereka dibunuh ketika masih di rumahnya masing-masing. Adapun empat korban penculikan yang masih hidup disiksa hingga meninggal.

Saat fajar merekah, hutan karet Lubang Buaya menjadi area pembantaian. Setelah keempatnya meninggal, lalu para sukwan PKI melemparkan para korban ke dalam sumur tua. Untuk menghilangkan jejak, sumur tua itu ditimbun tanah dan ditanami pohon pisang.

Peristiwa 30 September 1965 tidak bisa dilupakan oleh bangsa Indonesia. Awan kelam menyelimuti persada. Pengkhiatan PKI terulang kembali. Karena ambisi politik, mereka menghalalkan segala cara. PKI membuat makar. Perilaku binatang nan menjijikan dipertontonkan dihadapan umat manusia. Sekian banyak pemberontakan dilakukan, dan pemberontakan G 30 S/PKI merupakan antiklimaks partai berlambang palu arit ini. Pupus sudah mimpi D.N. Aidit dan para pendukungnya untuk menjadikan republik ini sebagai negara komunis. Tekadnya untuk mengomuniskan Indonesia terhenti akibat perbuatan terkutuknya. Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan makar kaum komunis PKI.

Setelah kebiadaban yang dilakukan orang-orang PKI, maka rakyat Indonesia bersepakat untuk mengenyahkan PKI. Ideologi, organisasi, atribut partai dan segala bentuk kegiatan PKI dilarang di wilayah Republik Indonesia. PKI dibubarkan dan paham komunisme/marxisme-leninisme dilarang. Sebagai lembaga tertinggi di Republik Indonesia, Majelis Permusjawaratan Rakjat Sementara (MPRS) telah membuat ketetapan tentang pelarangan tersebut. Lahirlah Tap MPRS Nomor XXV/MPRS/1966.

Walau PKI telah dilarang di Indonesia, bukan berarti paham komunisme itu mati. Partai hanyalah sebuah kendaraan politik. Partai bisa dibubarkan. Namun, komunisme sebagai ideologi bisa terus hidup. Ketika kendaraan politik tidak dimiliki, kader komunis bisa menumpang ke dalam partai politik yang ada sekarang ini. Kader komunis bisa saja menyusup ke dalam partai yang berkuasa. Mereka mencari tempat yang aman. Karena itu, kewaspadaan harus tetap dijaga. Sebagai ideologi, PKI belum mati.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

 

Referensi

Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994

Dari Seorang Marxis Lahirlah PKI

Nama H.J.F.M. Sneevliet atau dikenal juga Henk Sneevliet tak bisa dilepaskan dari sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Pria berkebangsaan Belanda yang datang ke Hindia Belanda (sekarang Republik Indonesia) tahun 1913 adalah seorang berhaluan marxis.

Saat di Belanda, Sneevliet adalah anggota sebuah partai politik bermanhaj komunis. Bahkan melalui Sociaal Democratisch Arbeiders Partij (SDAP: Partai Buruh Sosial Demokrat), ia sempat menjadi anggota perwakilan rakyat.

Di Hindia Belanda, Sneevliet bekerja pada sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya, Soerabajasche Handelsblad. Surat kabar ini milik sindikat perusahaan-perusahaan gula di Jawa Timur. Selang berapa lama ia pindah ke Semarang. Di Semarang inilah Sneevliet menemukan media untuk menebarkan paham marxisme. Saat itu, di Semarang, terdapat organisasi buruh kereta api yang bernama Vereniging van Spoor en Tramsweg Personeel (VSTP).

Melalui organisasi buruh kereta api inilah Sneevliet menanamkan pemahaman radikal marxis. Kondisi sosial politik yang menekan kaum buruh, serta jiwa imperialis kapitalis pemerintah Belanda di Hindia Belanda, menjadikan ajaran marxisme yang dibawa Sneevliet mendapat sambutan. Kaum buruh kereta api seakan mendapat daya untuk bangkit dari ketertindasan.

Mendapat kesempatan emas yang semacam ini, Sneevliet tak menyia-nyiakannya. Ia ajak rekan-rekannya yang berpaham marxis di negeri Belanda untuk tandang ke Hindia Belanda. Datanglah rekan-rekannya, J.A. Brandsteder, H.W. Dekker, dan P. Bergsma. Semuanya kader marxisme yang memiliki militansi tinggi.

Tak berselang lama dari kedatangan teman-temannya, pada 1914 mereka mendirikan organisasi bernama Indische Sociaal Democraticshe Vereniging (ISDV: Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia Belanda). ISDV merupakan organisasi pertama berhaluan marxisme di Asia Tenggara. Organisasi inilah yang kelak menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sebagai media propaganda marxisme, diterbitkanlah majalah Het Vrije Woord (Suara Kebebasan). Selain itu, diterbitkan pula surat kabar Soeara Mardika dan Soeara Rakjat. Tiga media cetak yang mereka terbitkan merupakan sarana menanamkan paham komunisme kepada masyarakat. Mereka memahami benar arti penting sebuah media dalam melakukan aksi propaganda.

Metode infiltrasi (penyusupan) pun dilakukan. Mereka melakukan gerakan penyusupan ke dalam organisasi Sarikat Islam (SI). Akibat gerakan infiltrasi yang mereka lakukan, banyak kader SI yang kemudian menjadi penganut marxis. Di antara kader SI yang membelot dari SI adalah Semaoen dan Darsono. Nama kader SI yang disebutkan, di kemudian hari menjadi orang penting dalam membidani lahirnya PKI.

Dalam perkembangannya, ISDV yang menamakan dirinya sebagai kelompok merah, memperalat para serdadu dan pelaut untuk melakukan demonstrasi melawan polisi. Media cetak yang dikuasai ISDV pun menyajikan tulisan-tulisan yang menghasut massa. Tujuannya agar terjadi pemberontakan dan berkibarlah bendera merah (komunis).

Aksi kaum komunis yang tergabung dalam ISDV ini membangkitkan kemarahan pemerintah Hindia Belanda. Pihak pemerintah akhirnya menangkap Sneevliet dan teman-temannya, kemudian mengusirnya pulang ke negeri Belanda. Pengusiran paksa dilakukan berturutan antara tahun 1918—1923.

Setelah pengusiran paksa Sneevliet dan teman-temannya, ISDV dikendalikan kader komunis binaan Sneevliet, Semaoen dan Darsono. Sejak itu mulailah organisasi perhimpunan marxisme di Hindia Belanda secara murni dipegang kaum pribumi. Komunis di Hindia Belanda sudah tidak lagi berkulit bule. Sudah tidak lagi makan keju dan roti. Komunis di negeri jajahan\ Belanda, semenjak itu telah sama dengan putra pribumi. Sneevliet telah menanam kader yang berkulit sawo matang, bisa makan nasi, dan berbicara dengan bahasa ibunya. Komunis dan komunisme telah memasuki babak baru dalam sejarah di wilayah Nusantara.

Sebuah hasil pertemanan yang membawa dampak buruk. Tak hanya memberi keburukan kepada orang bersangkutan. Bahkan, berdampak negatif dalam skala yang sangat luas, yaitu skala kehidupan bangsa Indonesia.

Benarlah apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkait pertemanan. Teman yang buruk diibaratkan pandai besi. Adapun pandai besi bisa menjadikan pakaian seseorang terbakar. Atau, minimalnya bisa mencium sesuatu yang beraroma buruk. Itulah pengibaratan bagi seseorang yang bergaul dengan teman yang buruk.

Komunis tak semata menebar aroma bau busuk, lebih dari itu menjadikan seseorang terjungkal ke arah kekufuran. Wal ‘iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala).

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَناَفِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا مُنْتِنَةً

Sesugguhya permisalan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang buruk, seperti seorang pembawa minyak wangi dan pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, bisa jadi ia memberimu (minyak wangi), bisa juga engkau membelinya dari dia, dan bisa jadi pula engkau cuma mendapati aromanya yang harum. Adapun pandai besi, bisa menjadikan pakaianmu terbakar dan bisa pula engkau akan dapati bau yang tak sedap.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Seiring perjalanan waktu, peta perkembangan global pun mengalami perubahan. Revolusi Bolshevik 1917 di Rusia telah memberi semangat melimpah bagi para penganut marxisme di berbagai belahan bumi. Tak terkecuali yang ada di Hindia Belanda saat itu. Berbagai konsolidasi pun dilakukan, termasuk melakukan konsolidasi struktural dalam partai.

Selang beberapa tahun dari revolusi di Rusia, setelah dirasa tepat untuk melakukan kongres, pada Juni 1924 diadakan kongres kali pertama kaum komunis di Jakarta. Pada kongres inilah nama PKI secara resmi disematkan menjadi nama partai untuk kaum pengusung marxisme. PKI pun lahir di bumi Nusantara.

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Komunisme, Ideologi Antiagama

Komunisme diartikan sebagai paham atau ideologi (dalam bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol negara. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Dengan kata lain, komunisme adalah sebuah paham yang menekankan kepemilikan bersama atas alat-alat produksi (seperti tanah, tenaga kerja, modal) yang bertujuan untuk mencapai masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa kelas dan semua orang sama. Komunis artinya orang yang menganut ideologi komunisme.

Sisi lain, komunisme merupakan ideologi yang mendasarkan segala sesuatu pada materi, mengingkari keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala dan tiap perkara yang bersifat gaib. (www.sahab.net/forums/indeks.php?showtopic=91799)

Karena bersandar kepada prinsip materialisme, komunisme tidak menerima kepercayaan mitos, takhayul, dan agama. Bahkan, agama dianggap sebagai candu yang membuat orang berangan-angan dan tidak rasional.

Dengan demikian, komunisme adalah ideologi antiagama. Komunisme adalah ideologi yang tidak mengakui adanya Allah subhanahu wa ta’ala (ateisme) dan hal-hal yang bersifat gaib karena dianggap sebagai mitos dan takhayul. Prinsip dasar itulah yang ditanamkan oleh Karl Marx dalam membangun ideologi komunismenya.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyebutkan, termasuk bentuk keyakinan yang kufur, bertentangan dengan akidah yang benar, menyelisihi syariat yang dibawa oleh para rasul ‘alaihimussalam, ialah keyakinan menyimpang (ateis) kalangan pengikut Marx, Lenin, serta para penyeru ateisme dan kekufuran. Ideologi mereka bisa bernama sosialisme, komunisme, ba’tsiyah (para pengikut Partai Ba’ts), atau lainnya. Mereka memiliki prinsip ideologi ateisme yang menyatakan tidak ada ilah (tuhan) dan kehidupan adalah sesuatu yang bersifat materi. Mereka memiliki prinsip ideologi yang mengingkari kehidupan akhirat, surga, dan neraka. (Arkanu al-Islam, hlm. 36)

Dinyatakan pula oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah bahwa Partai Ba’ts, Komunisme, dan seluruh ideologi yang sejenis, menjadikan para penganutnya kafir. Mereka lebih kafir dari Yahudi dan Nasrani.

Sebab, makanan dan sembelihan Yahudi dan Nasrani masih diperkenankan untuk seorang muslim. Demikian pula para wanita mereka (Yahudi dan Nasrani) masih diperkenankan dinikahi. Setiap ateis (orang yang tak meyakini keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala) tidak memercayai Islam, itu lebih jelek dari Yahudi dan Nasrani. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz, 6/85)

 Beriman Kepada Allah Meliputi Iman Kepada Wujud Allah subhanahu wa ta’ala

Dalam Nubdzah fi al-‘Aqidah al-Islamiyah (hlm. 16), asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala meliputi keimanan terhadap wujud (keberadaan) Allah subhanahu wa ta’ala. Keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala bisa ditunjukkan secara fitrah, akal, syariat, dan fisik. Disebutkan dalam sebuah hadits,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وَيُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Tiada anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api).” (HR. al-Bukhari, no. 1319)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Akidah Islam dibangun atas asas beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir, yang baik atau buruk. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ١٧٧

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang-orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orangorang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kesusahan dan derita serta dalam masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

Juga firman-Nya,

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ ٤٩

 “Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (al-Qamar: 49)

Demikian pula di dalam hadits dijelaskan tentang prinsip keimanan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْإيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهَ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْم الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Keimanan adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir yang baik dan buruknya.” (HR. Muslim no. 93)

Itulah keyakinan seorang muslim. Keyakinan yang sangat bertolak belakang dengan keyakinan seorang komunis. Sungguh lemah dasar pijak materialisme yang dianut oleh kaum komunis. Mereka bergantung pada sesuatu yang fana, mudah hancur, dan sirna. Mereka menjadikan materi sebagai pijakan keyakinannya.

Sungguh, apa yang dijajakan oleh Karl Marx, Vladimir Lenin (tokoh komunis Uni Soviet), atau Mao Tse-Tung (tokoh komunis Tiongkok) adalah kekufuran yang akan menghancurkan peradaban manusia. Ideologi yang menghalalkan segala cara. Ideologi yang mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya untuk meraih kekuasaan.

Pertentangan Kelas adalah Adu Domba

Pertentangan kelas menjadi doktrin kuat yang dianut oleh para kader Marxisme. Karena prinsip ideologi komunis semacam itu, maka para petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin menjadi ladang garap utamanya.

Komunis Uni Soviet membangun kekuatan partai di lingkungan para pekerja (buruh). Adapun komunis Cina membangun garda pertahanan partainya di wilayah berbasis petani. Kalangan fakir, miskin, orang-orang lemah, orang-orang tertindas, menjadi lahan subur bagi tumbuhnya komunisme.

Di Indonesia tak jauh berbeda. Sejarah perkembangan Partai Komunis Indonesia (PKI) tak bisa dipisahkan dari kaum proletar (rakyat jelata, seperti kaum buruh, petani, dan nelayan). Dalam keorganisasian pun, PKI memiliki organisasi sayap, seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), dan organisasi berbasis massa lainnya.

Melalui organisasi sayap petani, BTI, PKI melakukan aksi pertentangan kelas. Dengan dalih membela para petani miskin, PKI menuntut dilaksanakannya Undang-Undang Perjanjian Bagi Hasil Tanah Pertanian (UU No. 2/1960) dan Undang-Undang Pokok Agraria (UU No. 5/1960).

Sejalan dengan propaganda yang dicanangkan, dalam rangka mempertajam pertentangan kelas sesuai dengan doktrin Marxisme-Leninisme, PKI mengampanyekan pula sikap anti “Tujuh Setan Desa”. Adapun yang dimaksud sebutan “Tujuh Setan Desa” adalah tuan tanah, lintah darat, tengkulak, tukang ijon, kapitalis birokrat, bandit desa, dan pemungut/pengumpul zakat.

Pada 26 Maret 1964, BTI Jawa Tengah melakukan aksi di Desa Kingkang, Kecamatan Wonosari. BTI memprovokasi para petani sehingga terjadi konflik. Atas hasutan BTI, massa anggota BTI melakukan tindak kekerasan terhadap tuan tanah di desa tersebut.

Melalui BTI, PKI menumbuhkan saling membenci di antara komponen masyarakat. Bahkan, penganiayaan secara fisik pun terjadi. Masyarakat diadu domba. Doktrin pertentangan kelas menjadi andalan kaum komunis untuk membenturkan antaranak bangsa.

Tanggal 15—16 Oktober 1964 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, aksi masa BTI pun tak kalah sadis. Tujuh anggota petugas perkebunan milik negara dianiaya oleh massa komunis dari BTI.

Sekali lagi, kampanye PKI untuk melakukan aksi pertentangan kelas terus digalakkan saat itu. Akhirnya, berbagai kasus konflik di tengah masyarakat bermunculan, seperti di Kediri (Jawa Timur), Simalungun (Sumatra Utara), dan tempat lainnya. (Lihat Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1994)

Demikianlah orang-orang komunis. Melalui organisasi tani BTI, mereka menghasut anggota dan simpatisannya untuk bertindak onar tanpa kendali. Mereka hendak memaksa pemilik tanah untuk menyerahkan tanahnya dengan dalih melaksanakan undang-undang. Akibat tindakan mereka terjadilah konflik di berbagai daerah.

PKI menghalalkan segala cara untuk meraih tujuannya. Termasuk menggunakan cara adu domba, yang mereka sebut dengan “pertentangan kelas”. Pertentangan antara kelas borjuis (pemilik tanah) dan kaum proletar (rakyat jelata, buruh tani miskin). Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ

“Tidak akan masuk surga, orang yang suka mengadu domba.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah radhiallahu ‘anhu)

Allahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Geliat Komunisme Di Tanah Air

Tanpa risih anak muda itu mengenakan kaos bersimbol palu arit. Kaos bersimbol Partai Komunis itu dikenakan seakan tanpa beban sejarah. Anak muda di Jombang, Jawa Timur, yang mengenakan kaos bergambar palu arit itu mengungkapkan bila dirinya tak tahu itu lambang Partai Komunis.

Seorang lagi, yang tinggal di Jakarta, menyebutkan, kaos itu berasal dari temannya sebagai cinderamata saat ia kunjung ke Vietnam. Pemakai kaos palu arit itu dengan ringan menepis tuduhan mempropagandakan komunisme. Keduanya mengenakan kaos berlogo palu arit karena ketidaktahuan semata.

Anak-anak muda yang rabun sejarah semacam ini jumlahnya tak sedikit. Keterputusan dari akar sejarah bisa menjadi celah masuknya kepentingan paham kaum komunis.

Di sebuah universitas negeri di Jember, salah satu sudutnya ditulisi secara berderet memanjang grafiti palu arit. Aksi spontanitas ataukah aksi angkatan muda komunis?

Yang jelas, sekian banyak fenomena itu tidak bisa dianggap sepele. Beragam fenomena kebangkitan komunisme dengan tampilan kekinian tetap harus diwaspadai dan dicegah sedini mungkin. Mempertebal jiwa agamis nan lurus merupakan cara ampuh menolak komunisme dengan segala variannya.

Di Pamekasan, Jawa Timur, di tengah keramaian pawai bermunculan simbol-simbol Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak cuma gambar palu arit yang dipertunjukkan. Foto beberapa tokoh PKI pun disertakan dalam pawai itu. Tanpa beban sejarah, anak-anak sekolah itu dengan gagah membawa beragam atribut PKI.

Yang lebih memprihatinkan, membawa dan mempertunjukkan foto-foto tokoh PKI dan atribut komunisme lainnya itu atas perintah guru di sekolahnya. Walaupun setelah peristiwa itu tersebar di tengah masyarakat, pihak guru buru-buru mengklarifikasinya. Namun, apa pun di balik penayangan atribut PKI di depan umum, tentu merupakan insiden yang menodai kehidupan bangsa.

Aku Bangga Menjadi Anak PKI. Buku karya anak seorang tokoh PKI ini sempat mencuatkan polemik di tengah masyarakat. Betapa tidak. Anak PKI yang kini bisa duduk di lembaga legislatif pusat ini bertutur perihal dirinya yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut komunisme.

Sebuah tuturan tabu bagi masyarakat Indonesia yang telah merasakan pedihnya digasak orang-orang komunis. Pengkhianatan DN. Aidit dan kawan-kawannya terhadap Republik ini tentu masih sulit dilupakan. Bahkan, jauh sebelumnya, Muso, Amir Sjarifuddin, beserta teman-teman sealirannya, pada 1948 melakukan pemberontakan menentang pemerintahan Republik Indonesia di Madiun, Jawa Timur.

Akibat pengkhianatan ini, tak sedikit dari masyarakat Madiun yang menjadi korban keganasan orang-orang komunis. Semua peristiwa itu masih tetap segar dalam ingatan rakyat Indonesia.

Aroma komunisme pun terselip pula di spanduk sebuah partai politik. Angka 45 yang tertera di spanduk direka sedemikian rupa hingga menyisipkan rupa palu arit. Kebijakan menebar spanduk beraroma komunisme itu tak sekadar di tingkat lokal. Terbukti, spanduk serupa bertebaran pula di kota-kota, seperti Tasikmalaya (Jawa Barat), Magelang, dan Solo. Ketika pemunculan spanduk bermasalah ini mendapat kritik masyarakat, pihak partai pun mengklarifikasinya.

Geliat komunisme di Tanah Air tak sekadar menampilkan atribut komunisme di tengah khalayak. Para pegiat yang pro-komunisme memanfaatkan situasi politik yang ada. Saat kekuasaan beralih ke kader PDI-P, para pegiat pro-komunisme ramai-ramai mendorong sang presiden untuk menyampaikan permohonan maaf. Tuntutan permohonan maaf ini sebagai bentuk rehabilitasi dan rekonsiliasi terhadap para korban dari kalangan komunis. Terutama, anggota PKI yang menjadi korban pihak militer.

Tuntutan agar presiden menyampaikan permohonan maaf sempat menguat. Peristiwa ini menjadi sinyal bahwa beberapa anak keturunan PKI masih menyimpan dendam sejarah.

Kondisi psikologis semacam ini tentu bisa menjadi bahaya laten bagi kelangsungan hidup berbangsa. Ketidakpuasan terhadap sikap pemerintah yang mengabaikan permohonan mereka bisa menjadi daya untuk melakukan langkah yang lebih jauh.

Komunisme tetap hidup di dada mereka. Semangat juang para orang tua mereka melawan pemerintah yang dianggap sebagai antek-antek para borjuis (tuan tanah) dan kapitalis (pemegang modal) bisa jadi terus menginspirasi. Dengan ini semangat untuk menghidupkan paham komunisme pun terus berkobar. Komunisme tak akan pernah mati.

Apa buktinya?

Setelah terpentok di Tanah Air, mereka mengangkat isu di negeri Belanda. Didukung para aktivis di bidang hukum, mereka mempersoalkan hak-hak para korban di pihak komunis. Pengadilan Rakyat Internasional 1965 pun di gelar di Den Haag, Belanda. Para saksi sejarah mereka hadirkan. Mereka begitu bersemangat menggelar aksi Pengadilan Rakyat Internasional.

Tak ada lagi perasaan risih telah mempermalukan bangsa di hadapan masyarakat dunia. Upaya menginternasionalisasikan korban dari kalangan komunis di Indonesia tetap berlanjut. Itulah semangat para kader komunis. Mereka dibantu para aktivis yang tak segan untuk menjual bangsanya.

Tak ketinggalan para mantan anggota PKI di Solo. Setelah menghirup udara bebas dalam alam demokrasi yang karut-marut, para mantan anggota PKI coba menyuarakan ganjalan hatinya. Sebuah seminar pun coba diselenggarakan pada akhir Februari 2015 lalu. Dengan tajuk “Layanan Kesehatan Korban Tragedi 1965/1966 untuk Mewujudkan Rekonsiliasi” mereka menaruh harapan dari terselenggaranya seminar tersebut.

Namun, apa yang mereka lakukan tak mendapat restu masyarakat Solo. Seminar itu pun bubar. Walau seminar batal, setidaknya para mantan anggota partai terlarang ini telah menunjukkan keberaniannya untuk bersuara.

Mereka benar-benar memanfaatkan demokratisasi dan liberalisasi yang tengah disuntikkan para imperialis Barat ke negeri-negeri Kaum Muslimin. Momentum kebebasan (liberalisasi), isu Hak Asasi Manusia (HAM), dan demokratisasi menjadi senjata ampuh untuk menghidupkan komunisme.

Tiga faktor tersebut merupakan lahan subur untuk tumbuhnya komunisme dan paham lainnya yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain tentu saja, masyarakat yang tidak memiliki orientasi kehidupan berislam yang lurus dan benar, bisa menjadi titik rawan tersusupinya pemahaman komunis dan paham-paham sesat lainnya.

Tingkat kewaspadaan harus tetap tinggi. Kaum muslimin harus membekali diri, terutama dengan pemahaman Islam yang benar, yang akan membentengi setiap muslim dari pemahaman menyimpang. Berpegang teguh kepada Islam yang benar menjadi sebab turunnya pertolongan

Allah subhanahu wa ta’ala. Firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمَكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai Ananda, sungguh, aku akan mengajarimu beberapa kalimat. Jagalah (hukum-hukum) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (hukumhukum) Allah, niscaya engkau akan mendapati Allah sebagai pembimbing (pemandu)mu. Apabila engkau meminta, hendaklah meminta kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, hendaklah memohon pertolongan kepada Allah.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Komunis selalu menghalalkan segala cara guna meraih tujuannya. Walau harus dengan cara menumpahkan darah, membantai lawan politiknya, atau cara-cara lain yang jauh dari nilai-nilai perikemanusiaan.

Sejarah komunis di Indonesia telah menorehkan catatan kelam. Tak sedikit korban berjatuhan dari kalangan muslimin. Mereka dibantai, disiksa, hingga meregang nyawa. Sadis. Itulah aksi orang-orang komunis. Sedemikian besar permusuhannya kepada kaum muslimin.

Karena itu, waspadai kebangkitan komunisme di Tanah Air ini. Geliat komunisme telah hadir di depan mata. Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Bom Waktu Komunisme

Komunis adalah sebuah kata yang tabu di telinga mayoritas rakyat Indonesia, terlebih kaum muslimin. Bahkan, sebagian orang mungkin sangat trauma ketika mendengar kata-kata komunis, karena dapat membuka luka lama dan mengingatkan rekam jejak orang-orang komunis yang sadis, kejam,  dan tak berperikemanusiaan. Dengan kendaraan Partai Komunis Indonesia (PKI), mereka bergerak. Berbagai operasi berdarah pun mereka lakukan atas nama revolusi.

Menelisik sejarahnya, orang-orang komunis di negeri ini tak pernah patah arang mewujudkan cita-cita jahat mereka, yaitu merebut kekuasaan tertinggi di bumi Nusantara ini dan menjadikannya sebagai negara komunis. Makar dan kekuatan terselubung senantiasa mereka himpun. Kader-kader setia mereka, baik sipil maupun militer, didoktrin siaga untuk menjalankan komando atasan.

Pada saatnya mereka akan bergerak dengan cepat. Bila demikian, segala cara akan mereka halalkan. Meskipun harus membunuh, menyiksa, dan berjalan di atas darah mayat-mayat manusia yang mati bergelimpangan. Sebagaimana yang terjadi di Uni Soviet, induk semang PKI baik di masa Vladimir Ilyich Lenin maupun Joseph Stalin.

Pada November 1926, PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial Belanda di Jawa Barat dan Sumatera Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dapat dihancurkan secara brutal oleh penguasa kolonial dan pada 1927 PKI dinyatakan terlarang. Walau demikian PKI tak putus asa. Sebagai kekuatan komunisme terbesar nomor tiga dunia saat itu setelah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), PKI terus bergerak di bawah tanah.

Pada 1945, setelah Jepang menyerah, PKI muncul kembali di panggung politik dan secara aktif mengambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan dari Belanda. Banyak unit bersenjata berada di bawah kontrol atau pengaruh PKI.

Pada 11 Agustus 1948 Musso (salah seorang tokoh senior PKI) kembali ke Jakarta setelah dua belas tahun tinggal di Uni Soviet. Politbiro PKI direkonstruksi, termasuk D.N. Aidit, M.H. Lukman dan Njoto. Pada 5 September 1948 Musso memberikan pidato anjuran agar Indonesia merapat kepada Uni Soviet. Anjuran itu akhirnya berujung pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun, Jawa Timur.

Ketika bangsa Indonesia dalam keadaan genting, sedang bersiap-siap menghadapi kemungkinan agresi Belanda II, PKI berkhianat terhadap bangsa dan negara dengan melakukan pemberontakan di Kota Madiun, Jawa Timur.

Pada 18 September 1948, PKI mengumumkan proklamasi ‘Republik Soviet Indonesia’ dengan Musso sebagai Presiden dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri. Namun, dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala, pada 30 September Madiun bisa diambil alih oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Divisi Siliwangi. Musso dan beberapa pemimpin PKI lainnya berhasil ditangkap dan dieksekusi pada 31 Oktober 1948.

PKI bangkit kembali pada tahun 1950. Berbagai kegiatannya mulai aktif, termasuk penerbitan dengan organ utamanya Harian Rakjat dan Bintang Merah. Di bawah kepemimpinan D.N. Aidit, PKI berkembang sangat pesat. Di samping kaderisasi ke dalam terus dilakukan, pendekatan kepada kaum nasionalis dan agamis pun digalakkan. Tak heran, pada era 1960-an dicetuskan istilah NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme) oleh Presiden Soekarno. Sekian tahun lamanya, PKI dapat mengambil hati presiden. Tokoh-tokohnya pun banyak yang menduduki jabatan strategis pemerintahan.

Pada 14 September 1965, D.N. Aidit mengalamatkan kepada gerilyawan PKI untuk mendesak anggota agar waspada dari berbagai kemungkinan yang akan datang. Pada 30 September 1965, Pemuda Rakyat dan Gerwani—dua organisasi PKI—menggelar unjuk rasa massal di Jakarta terkait dengan inflasi yang melanda.

Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur. Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan. Mereka menyebut diri sebagai Gerakan 30 September (G30S).

Dengan pertolongan dari Allah subhanahu wa ta’ala kemudian kerja sama yang baik antara TNI dengan rakyat terutama kaum muslimin, pemberontakan G30S/PKI ini dapat dihancurkan dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya. (Disadur dari https://id.m.wikipedia.org/wiki/Partai_Komunis_Indonesia/ dengan beberapa tambahan)

Demikianlah Partai Komunis Indonesia alias PKI, mereka sangat berambisi untuk menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis. Walau sudah puluhan tahun dibatasi ruang gerak mereka, namun geliat gerakan bawah tanahnya terus berjalan. Secara senyap mereka bermetamorfosa menjadi bentuk baru, dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.

Manakala banyak tokoh pelaku sejarah yang kontra-PKI telah meninggal dunia, mereka pun mulai bangkit secara nyata dan sok tampil sebagai penuntut keadilan dengan memutar fakta sejarah seolah-olah mereka adalah korban.      Terkait hal di atas, KASAD TNI Jenderal Mulyono pada 30 September 2015 lalu memberikan peringatan waspada kepada seluruh rakyat Indonesia sebagaimana berikut.

“Komunis akan bermetamorfosa menjadi bentuk baru, gerakannya makin sulit dikenali dan menyusup ke berbagai lini tanpa disadari.”

“Kebangkitan ideologi komunis makin terlihat nyata, ada kelompok yang ingin memutar fakta sejarah seolah mereka adalah korban.” (http://m.detik.com/news/berita/3032290/ksad-kebangkitan-ideologi-komunis-semakin-nyata-waspada/)

Bila demikian, PKI dan ideologi komunisme dengan segala bentuknya ibarat bom waktu yang setiap saat siap meledak di Negara Kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini. Maka dari itu, wajib bagi seluruh warga negara terutama kaum muslimin untuk waspada. Dengan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berpegang teguh dengan Kitab Suci al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya yang mulia dengan pemahaman para sahabat yang mulia, serta bahu-membahu dengan pemerintah, baik sipil maupun militer.

Namun, tak kalah pentingnya bagi kita untuk mengetahui kesesatan komunisme selaku ideologi. Sebab, dari situlah semua gerakan mereka berawal: di ranah politik, sosial, agama, berbangsa, dan bernegara. Harapannya, dengan mengetahui kesesatan ideologinya akan lebih kokoh dalam membentengi diri, keluarga, bangsa dan negara dari bahaya laten komunis.

 Komunisme dan Latar Belakangnya

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa komunisme adalah paham atau ideologi (di bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Fredrich Engels yang bermaksud menghapus hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama yang dikontrol oleh negara.

Merunut asal usulnya, komunisme merupakan buah dari akar-akar ideologi sosialisme yang digulirkan oleh seorang keturunan Yahudi Jerman yang bernama Karl Marx. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan, sosialisme adalah ajaran atau paham kenegaraan dan ekonomi yang berusaha supaya harta benda, industri, dan perusahaan menjadi milik negara.

Dari sisi latar belakang, ideologi sosialisme-komunisme muncul ketika kalangan atas alias borjuis banyak menguasai permodalan usaha dan tak memedulikan kalangan bawah (proletar). Dengan kata lain, sosialisme-komunisme muncul untuk menumbangkan kapitalisme-imperialisme barat yang saat itu sedang berjaya.

Kaum sosialis-komunis bercita-cita agar kalangan bawah (proletar) yang mayoritasnya adalah buruh dan petani bisa sejahtera dan berkuasa. Menurut anggapan mereka, hanya dengan sosialisme-komunisme cita-cita tersebut akan tercapai.

Di antara langkah yang harus ditempuh adalah memasukkan harta benda, industri, dan perusahaan ke dalam kepemilikan negara, tidak boleh dimiliki oleh perseorangan (swasta). Dengan demikian, tidak ada kesempatan bagi kalangan borjuis untuk menguasai modal dan menimbun harta. Dengan itulah—menurut mereka—kapitalisme dapat ditumbangkan dan keadilan dapat ditegakkan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pemantik utama bergulirnya sosialisme adalah perbedaan kelas atau tingkat sosial kemasyarakatan yang dinilai dengan standar materi dan pembelaan terhadap kalangan bawah (proletar). Adapun komunisme merupakan penerapan radikal dari sosialisme dalam lapangan politik. Untuk pertama kalinya, komunisme diterapkan dalam lapangan politik di Uni Soviet oleh Vladimir Ilyich Lenin.

Asy-Syaikh al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali y ketika mengkritisi paham sosialis yang ada pada Sayyid Quthb mengatakan, “Tidak tersembunyi bahwa ini adalah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis untuk menguasai harta manusia dan menjadikannya milik bersama dengan isu keadilan, persamaan, dan kepentingan bersama.

Itulah argumentasi orang-orang komunis dan sosialis, padahal itu adalah kezaliman, kecurangan, pendiskreditan umat manusia dan berbagai kepentingan mereka, serta menjadikan orang-orang kaya di antara mereka dan orang-orang miskin sebagai budak-budak yang hina setelah harta mereka dirampas.

Berbagai jaminan palsu yang dipromosikan oleh orang-orang sosialis itu pun pasti akan menguap dan sirna. Cukuplah rekam jejak pemerintahan-pemerintahan sosialis-komunis sebagai pelajaran terbesar bagi orang-orang yang dapat mengambil pelajaran.” (Adhwa’ Islamiyyah ala Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi, hlm. 215—216)

Islam menolak komunisme dan kapitalisme. Islam berada di antara keduanya dan tidak membutuhkan keduanya. Komunisme memasung hakhak kalangan atas. Kapitalisme memasung hak-hak kalangan bawah.

Islam tidak memasung hak-hak keduanya, justru memerhatikannya. Kalangan atas dan kalangan bawah, sama-sama mendapatkan haknya secara adil, sesuai kapasitas dan porsinya. Islam tidak menjadikan kalangan atas dan kalangan bawah sebagai dua tingkatan yang bermusuhan. Bahkan, Islam berupaya merapatkan keduanya dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang indah dan menjadikan keduanya sebagai dua kekuatan yang saling melengkapi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyandingkan sahabat yang kaya dengan yang miskin dalam majelis-majelis beliau. Bahkan, dalam shalat berjamaah lima waktu yang merupakan momen bermunajat kepada Allah paling mulia dalam Islam, nyaris tak terbedakan antara si kaya dan si miskin. Semua berdiri sama tinggi dan sama rendah menghadap Allah subhanahu wa ta’ala. Nilai kemuliaan seseorang tidak terletak pada materi atau tingkatan sosialnya, tetapi pada ketakwaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di dalam Islam, kekayaan berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain merupakan rezeki yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan keadilan-Nya yang Mahasempurna, Allah subhanahu wa ta’ala mengatur pembagian rezeki tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki sesuai dengan porsinya masing-masing. Ada yang diberi kelapangan dan ada pula yang diberi kesempitan. Semua itu sebagai tanda kekuasaan-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَوَ لَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ٥٢

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.” (az-Zumar: 52)

وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلرِّزۡقِۚ

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rejeki.” (an-Nahl: 71)

Islam selalu merekatkan hubungan antara kalangan atas dan kalangan bawah, si kaya dan si miskin. Tidak seperti kapitalisme yang memposisikan kalangan atas pada posisi yang tinggi, sementara kalangan bawah menjadi orang rendahan yang tak mungkin disandingkan. Tidak pula seperti komunisme yang memosisikan kalangan atas sebagai musuh yang harus diperangi dan diambil hartanya, sementara kalangan bawah menjadi kaum tertindas yang harus dibela dan diperjuangkan haknya.

Di antara bentuk bimbingan Islam yang indah dalam merekatkan hubungan antara kalangan atas dengan kalangan bawah adalah adanya zakat, infak, dan sedekah dengan berbagai jenisnya; zakat mal (harta), zakat peternakan, zakat hasil pertanian, rikaz, dan lain-lain. Ia dikeluarkan oleh si kaya lalu disalurkan kepada yang berhak mendapatkannya, termasuk orang-orang fakir dan miskin. Bahkan, tidaklah zakat fitrah disalurkan melainkan untuk kalangan bawah fakir dan miskin semata.

Adanya kaffarah (denda) karena pelanggaran tertentu dalam agama dengan cara membebaskan budak atau memberi makan fakir dan miskin juga merupakan sentuhan langsung terhadap kalangan bawah. Tuntunan memasak daging dengan kuah yang banyak supaya bisa berbagi dengan tetangga, menyantuni anak-anak yatim dan para janda, larangan membunuh anak-anak, wanita, dan orang lanjut usia (lansia) dalam pertempuran, hingga anjuran tebar senyum sebagai bentuk sedekah; merupakan bukti tentang perhatian Islam terhadap kalangan bawah.

Di sisi lain, Islam memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk mencari rezeki. Segala yang dihasilkan dari jerih payah tersebut berupa harta benda, industri, perusahaan dan lain-lain pun sah menjadi hak miliknya. Dia berkewenangan untuk mengelolanya dan menikmati hasilnya. Ini menunjukkan bahwa Islam memerhatikan kalangan atas.

Namun, Islam mengharamkan kezaliman dan tindakan semena-mena. Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan meraup keuntungan. Maka dari itu Islam mengharamkan riba, suap, monopoli perdagangan, kecurangan, penimbunan barang dagangan agar harga melambung, dan tindakan liar lainnya. Ini menunjukkan bahwa Islam kontra-kapitalisme.

Pokok-Pokok Ideologi Komunis

Banyak orang mengira bahwa sosialisme-komunisme hanyalah sebatas ideologi yang berkaitan dengan sistem ekonomi dan politik yang bermaksud menghapus milik perseorangan dan menggantikannya dengan milik bersama. Sebuah ideologi yang kontra total dengan kapitalisme dan berusaha mengangkat derajat kalangan bawah. Padahal masalahnya tak sebatas itu.

Sosialisme-komunisme mempunyai pokok-pokok ideologi kufur yang sangat bertentangan dengan Islam bahkan semua agama samawi. Pokok-pokok ideologi komunis tersebut antara lain,

  1. Tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis)
  2. Ingkar terhadap hari kiamat
  3. Ingkar terhadap al-Jannah (surga) dan an-Naar (neraka)
  4. Menentang semua agama

 

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Di antara akidah kufur yang bertentangan dengan akidah yang benar dan menyelisihi agama yang dibawa oleh para rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah keyakinan kaum ateis masa kini pengikut Karl Marx, Vladimir Ilyich Lenin, dan para penyeru ateis dan kekufuran selain mereka, baik mereka beri nama dengan sosialisme, komunisme, ba’ts, atau yang selainnya.

Di antara pokok-pokok ideologi mereka antara lain; tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis), ingkar terhadap hari kiamat, ingkar terhadap al-Jannah dan an-Naar, dan menentang semua agama.

Barang siapa meneliti buku-buku referensi mereka dan mengkaji pokok-pokok ideologi mereka, niscaya ia akan tahu dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan bahwa akidah ini bertentangan dengan semua agama samawi. Dia juga akan yakin bahwa akidah ini akan mengantarkan penganutnya kepada kesudahan terburuk di dunia dan di akhirat.” (al-Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha, hlm. 12—13)

Ideologi mereka bahwa tidak ada tuhan, dan hidup adalah materi (materialistis); sungguh merupakan kekufuran yang nyata. Ideologi bahwa tidak ada tuhan (baca: Rabb) yang menciptakan alam semesta dan seisinya adalah ideologi ateis yang membinasakan. Ia bertentangan dengan Kitab Suci dan fitrah yang suci. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ ٣٥ أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٦

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (ath-Thur: 35—36)

Asy-Syaikh al-Allamah Abdur Rahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini merupakan bentuk penyajian argumen, dengan sesuatu yang mau tidak mau mereka harus tunduk kepada kebenaran atau keluar dari konsekuensi akal dan agama. Penjelasannya adalah bahwa mereka mengingkari tauhidullah dan mendustakan Rasul-Nya yang mengharuskan pengingkaran bahwa Allah yang menciptakan mereka.

Sungguh, telah ditetapkan sebagai hukum akal dan syariat bahwa hal ini tidak keluar dari tiga keadaan, yaitu

(1) bisa jadi mereka tercipta dengan sendirinya, yakni tanpa ada Sang Pencipta yang menciptakan mereka, tetapi ada dengan sendirinya. Ini tentunya sangat mustahil. Atau

(2) mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini juga mustahil. Jika dua kemungkinan itu batil dan mustahil terjadi, tinggal kemungkinan ketiga bahwa

(3) Allah yang menciptakan mereka.

Jika hal ini telah diakui maka dapatlah diketahui bahwa Allah-lah satu-satunya Dzat yang patut diibadahi dan tidaklah pantas suatu ibadah diberikan kecuali hanya kepada-Nya.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 816)

Setiap manusia yang mengarungi kehidupan ini pasti mempunyai problem. Terkadang problem itu amat berat dan sulit dipecahkan. Saat itulah jiwanya terfitrah mencari tempat bersandar dan mengadu yang di atas manusia, bahkan yang menciptakan manusia dan seluruh jagat raya.

Ideologi mereka bahwa hidup adalah materi (materialistis) sangat bertentangan dengan prinsip Islam yang menekankan bahwa hidup adalah berserah diri dan menghamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tunduk dan patuh kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Materi adalah bagian dari kehidupan dunia yang fana. Ia adalah fitnah yang dapat menjadikan pemiliknya semena-mena dan melampaui batas. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧

“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena Dia melihat dirinya serba cukup.” (al-Alaq: 6—7)

Kehidupan materialistis tak ubahnya kehidupan binatang. Itulah kehidupan orang-orang kafir di muka bumi ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُدۡخِلُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يَتَمَتَّعُونَ وَيَأۡكُلُونَ كَمَا تَأۡكُلُ ٱلۡأَنۡعَٰمُ وَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡ ١٢

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam al-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (Muhammad: 12)

Ideologi mengingkari hari kiamat, al-Jannah dan an-Naar merupakan kekufuran yang nyata. Beriman kepada hari kiamat, al-Jannah, dan an-Naar merupakan salah satu rukun iman yang harus diyakini oleh setiap muslim. Barang siapa mengingkarinya, dia kafir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَوۡمَ تَمُورُ ٱلسَّمَآءُ مَوۡرٗا ٩  وَتَسِيرُ ٱلۡجِبَالُ سَيۡرٗا ١٠ فَوَيۡلٞ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُكَذِّبِينَ ١١  ٱلَّذِينَ هُمۡ فِي خَوۡضٖ يَلۡعَبُونَ ١٢ يَوۡمَ يُدَعُّونَ إِلَىٰ نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا ١٣  هَٰذِهِ ٱلنَّارُ ٱلَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ١٤

“Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang, dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan. Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat- kuatnya. (Dikatakan kepada mereka), ‘Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya’.”  (ath-Thur: 9—14)

Ideologi mereka menentang semua agama merupakan bukti nyata bahwa orang-orang komunis itu liar dan tak mau diatur oleh aturan agama. Menurut bapak komunisme dunia, Karl Marx, agama adalah opium alias candu. Maksudnya, agama tidak membawa kebaikan dan hanya mendatangkan malapetaka. Agama hanya menipu dan menyesatkan masyarakat.

Maka dari itu, orang-orang komunis sangat membenci orang yang taat beragama, terkhusus muslim. Tak heran, di kala mereka mempunyai kekuasaan dan merajalela, tokoh-tokoh muslimlah yang pertama kali menjadi target kekejaman dan kebengisan mereka.

Dari paparan di atas dapatlah disimpulkan bahwa komunisme sangat berbahaya bagi kehidupan umat manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Maka dari itu, komunisme tak boleh hidup di Indonesia. Pokok-pokok ideologinya yang notabene kekufuran nyata dapat menghancurkan kehidupan beragama kita. Sistem ekonomi dan politiknya yang radikal terhadap kepemilikan swasta dapat merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembelaan yang berlebihan terhadap kalangan bawah alias proletar dan kebencian yang akut terhadap kalangan atas alias borjuis dapat menimbulkan konflik internal yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini.

Komunisme adalah bahaya laten yang harus senantiasa dipantau, diwaspadai, dan dipangkas akarnya. Komunisme bagaikan bom waktu yang harus segera dijinakkan. Untuk menjinakkannya membutuhkan ilmu, keberanian, ketangkasan, dan penanganan yang tepat. Kalau tidak, bukan suatu hal yang mustahil peristiwa 1948 di Madiun dan G30S/PKI 1965 terulang kembali. Na’udzu billahi min dzalik…

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi bangsa dan negara Indonesia dari rongrongan dan makar jahat PKI, menjaga para pemimpin bangsa dan rakyat dari pokok-pokok ideologi komunis yang sesat dan menyesatkan, dan mencurahkan limpahan barakah kepada segenap insan muslim yang berteguh diri di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Amiin….

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.

Indonesia Siaga Komunis

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Komunisme belum mati. Ibarat ilalang, setiap kali dibabat, ia tetap saja tumbuh. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai representasi komunisme di Indonesia, meski secara fisik sudah mati, tetapi tetap hidup sebagai ideologi. Di masa lalu, PKI pernah menjadi partai besar, bahkan disebut-sebut yang terbesar di luar Uni Soviet dan China. Wajar jika sisa kekuatannya tidak bisa dipandang remeh. Anak biologis mereka yang dididik secara komunis atau kader-kader militannya, akan melanjutkan “estafet” ideologinya, berupaya mengembalikan kejayaan PKI.

Bermetamorfosa ke mana-mana, diiringi pemutarbalikan fakta sejarah, penyusupan/infiltrasi, agitasi dan propaganda, upaya untuk kembali menghidupkan paham komunisme tidak lagi hanya retorika.

Reformasi yang kebablasan memberi peluang munculnya multiideologi, termasuk komunis yang terus unjuk gigi. Maraknya simbol palu arit di berbagai tempat dan peristiwa, kelompok-kelompok diskusi yang membela “HAM” PKI, konsolidasi kader PKI melalui kongres, temu raya, dll., hingga munculnya buku Aku Bangga Jadi Anak PKI menjadi bukti keberanian komunis untuk eksis.

Gagal masuk parlemen melalui PRD dan Papernas, mereka menyusup di partai-partai. Selama bisa mengantongi suara yang cukup, mudah saja kader komunis melenggang ke Senayan.

Dengan bumbu fitnah dan pemutarbalikan fakta, Komunis Gaya Baru (KGB) juga melakukan propaganda melalui film-film “pelurusan sejarah” terkait peristiwa G30S PKI, versi komunis tentu saja. Masyarakat mau dininabobokkan bahwa isu PKI sudah tidak lagi relevan, paham komunis tidak lagi berbahaya, bahkan sudah tidak ada.

Dengan percaya diri, mereka menuntut lawan-lawannya dengan isu pelanggaran HAM berat, meminta digelar pengadilan HAM atas tragedi 1965, menuntut dicabutnya TAP MPRS No. XXV Tahun 1966 yang menetapkan PKI sebagai partai terlarang di Indonesia, meminta rekonsiliasi, rehabilitasi, dan kompensasi atas “korban-korban” dari PKI.

Hasilnya, kini kekejaman PKI tak lagi dibahas dalam buku-buku sejarah di sekolah, padahal sejarah kekejaman komunis harus diketahui dari generasi ke generasi. Sejarah dunia pun mencatat, komunisme internasional telah melancarkan kudeta di puluhan negara. Hasilnya, puluhan juta jiwa jadi “tumbal”nya. Rezim “4 besar komunis” (Lenin, Stalin, Mao Tse-Tung, dan Pol-Pot) saja telah membantai rakyatnya lebih dari 100 juta jiwa. Haruskah kita lupakan begitu saja?

Modus perjuangan KGB di Indonesia tak jauh-jauh dari isu kemiskinan dan kebodohan, menghabisi korupsi, penegakan hukum, dan ketidakadilan di berbagai bidang. Seolah-olah mereka yang terdepan membela rakyat. Padahal saat berkuasa, siapa yang menggunakan cara kekerasan dan “menghalalkan segala cara”, terlihat jelas. Kekejian mereka terhadap pihak yang berseberangan secara politik, bukan rahasia lagi. Apalagi komunis punya wajah ganda: legal dan ilegal (gerakan bawah tanah), mirip akidah taqiyah ala Syiah.

Komunis yang peletak dasarnya adalah Karl Marx, seorang Yahudi berkebangsaan Jerman, memang menjadikan Islam sebagai musuh bebuyutan. Maka, jangan sampai kaum muslimin lemah. Lemahnya Islam akan menjadi lahan subur tumbuhnya beragam ideologi merusak. Tak hanya komunis, tetapi juga Islam Liberal, Ahmadiyah, Syiah, dan sebagainya.

Maka dari itu, sejarah hitam komunis tidak bisa dilupakan begitu saja. Kekejaman komunis yang menyasar umat Islam perlu diantisipasi sejak dini. Pemerintah dan segenap komponen bangsa, TNI dan umat Islam, harus bersinergi menjadi benteng dari serangan kaum komunis. Tutup semua celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di Indonesia.

Ironi jika bahaya laten komunis ini masih saja ditanggapi dingin. Ancaman kebangkitan komunis ini bukan isapan jempol lagi. Mari kita hilangkan ilalang yang akan merusak negeri ini! Tak hanya dibabat, tetapi cabut hingga ke akar-akarnya!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته