Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya),

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang muk min) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

  Lanjutkan membaca Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

Makar Orang Kafir Melalui Media Massa

Freedom of the Press. Ya, kebebasan pers. Bebas tanpa batas. Kalau pun ada batas, maka batas itu pun masih ditafsir bebas tiada berbatas.

Freedom of the Press. Deret kalimat ampuh untuk memayungi keberadaan media massa di tengah masyarakat dan di hadapan penguasa. Dengan slogan ‘Kebebasan Pers’ media massa bebas melakukan pemberitaan sesuai misinya. Ungkapan ‘Kebebasan Pers’ sendiri bila ditelisik bukan asli karya anak bangsa Indonesia. Ungkapan itu muncul bersumber dari Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat: “Congress shall make no law… abridging the freedom of speech, or of the press.” (Kongres dilarang membuat hukum… yang membatasi kebebasan berbicara atau pers).

Karena itu, tak aneh bila ‘Kebebasan Pers’ sangat kental beraroma Amerika. Lebih-lebih, lahirnya Undang-undang Pers No. 40/1999 di Indonesia tak lepas dari keterlibatan ahli hukum Article 19, Toby Mendel. Sisi lain, UU Pers No. 40/1999 melandasi dengan Pasal 19 UU HAM: “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan mempunyai pendapat-pendapat dengan tidak mendapat gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat-pendapat dengan cara apa pun juga dengan tidak memandang batas-batas.” (Lihat Membincang Pers, Kepala Negara, dan Etika Media, Sirikat Syah, hlm. 3—4)

Lengkaplah sudah arti sebuah kebebasan. Bebas menerabas kultur masyarakat Indonesia yang banyak diwarnai norma agamis. Bebas tidak memandang batas-batas. Jadi, media massa pun bebas menyiarkan berita selama ada fakta. Tak memedulikan dampak berita itu di tengah masyarakat. Juga tak memedulikan asas kepatutan dan moral. Sebut saja, siaran televisi berisi talk show yang mengadu domba, sinetron yang menyesatkan dan membodohkan, atau sebuah acara yang menayangkan naluri dan perilaku rendah manusia digali dan diekspos (Lihat Membincang Pers, hlm.194), infotainment yang banyak membongkar aib, serta berita yang dikemas sesuai misi meraup dunia dan kekuasaan. Bahkan, tak sedikit yang terang-terangan menyajikan menu yang mengundang syahwat selera rendah.

Media massa telah menjadi alat untuk menyuarakan kebebasan yang tiada kendali. Walau dengan kebebasan itu bakal menimbulkan berbagai kerusakan di tengah masyarakat. Media massa semakin jauh dari kesantunan. Media massa menjadi pupuk penyubur para kapitalis tak berhati lurus.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah memberi penjelasan terkait ayat di atas bahwa yang dimaksud “menyukai penyebaran perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar di tengah kaum muslimin.

Terkait hal ini, menyebarkan beragam film cabul dan surat kabar (atau media lainnya –red.) yang jelek, jahat dan porno. Media-media semacam ini, tak diragukan lagi, merupakan media yang menyukai penyebaran al-fahisyah di tengah masyarakat muslimin. Mereka menghendaki timbulnya kerusakan agama pada diri seorang muslim. Tentunya, kerusakan itu timbul melalui sebab perbuatan mereka (yang menyebarkan al-fahisyah) melalui beragam majalah, surat kabar, dan media lainnya. Barang siapa menyukai al-fahisyah itu tersebar di tengah kaum muslimin, dia berhak untuk mendapatkan azab nan pedih di dunia dan akhirat.

  1. Menyukai al-fahisyah tersebar pada kalangan tertentu, bukan lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh.

Balasan bagi yang berbuat demikian ialah diazab di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, I/598)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menyebutkan pula bahwa musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani, musyrikin, komunis, dan para kaki tangannya sangat bersemangat menebarkan godaan wanita di tengah kaum muslimin. Mereka menyerukan tabarruj, mendedahkan aurat wanita, menghasung ikhtilat, mengajak pada kerusakan akhlak. Mereka dengan gencar menyuarakan semua itu melalui media yang mereka miliki, baik secara lisan maupun tulisan. Mereka mengetahui, ini merupakan godaan terbesar yang akan menjadikan manusia lupa kepada Rabb dan agamanya. Semua itu bisa terjadi melalui pintu godaan wanita. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/48)

Membincang fitnah wanita, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan perihal itu, sebagaimana diungkap hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً هِيَ أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

Tiada fitnah sepeninggalku kelak yang lebih membahayakan (selain godaan) wanita terhadap laki-laki.” ( HR. al-Bukhari no. 5096, Muslim, no. 97)

Apa yang terjadi kini? Makar orang kafir untuk menghancurkan kaum muslimin di antaranya dengan memperalat kaum wanita. Lebih memprihatinkan lagi, banyak kaum muslimah tidak menyadari bahwa dirinya diperalat untuk kepentingan busuk orang-orang kafir. Hingga kaum muslimah berbondongbondong menjajakan diri, memamerkan kecantikan dan kemolekannya, guna dipasarkan oleh kaum kafir melalui media mereka. Nas’alullaha as-salaamah.

“Hendaknya, kita jangan tertipu oleh seruan orang-orang yang berbuat kejelekan dan kerusakan dari kalangan yang membebek orang-orang kafir. Mereka mengajak untuk berikhtilath (membaurkan antara wanita dan laki-laki). Sebab, sungguh itu ajakan setan. Wal ‘iyadzu billah,” demikian penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ’Utsaimin rahimahullah.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memerintahkan kaum wanita untuk menghadiri Shalat ‘Id di lapangan. Namun, tidak menyatukan (membaurkan) antara kaum wanita dan laki-laki. Para wanita dikumpulkan secara khusus di satu tempat yang terpisah dari kaum laki-laki,” kata beliau rahimahullah lebih jelas. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 1/674—675)

 

Propaganda ala Yahudi

Dalam lintasan sejarah terpatri nama Abdullah bin Saba. Sosok pria keturunan Yahudi kelahiran Kota Shan’a, Yaman. Hidupnya menampakkan seorang muslim, namun yang terpendam dalam hatinya; permusuhan dan kebencian nan sengit kepada Islam dan kaum muslimin. Hidupnya nomaden, selalu berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Di setiap wilayah yang disinggahinya senantiasa menebarkan pemahaman sesatnya.

Abdullah bin Saba memompa masyarakat dengan propaganda licik. Menyemai permusuhan dalam tubuh umat agar membenci penguasa muslim, yaitu Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Upaya menghasut kaum muslimin yang dilakukan Yahudi satu ini, digalang di beberapa daerah. Bashrah, Kufah, Syam, Hijaz, dan Mesir adalah lahan garap untuk menumbuhsuburkan kebencian umat kepada pemerintahan kaum muslimin.

Saat pergerakannya tidak menampakkan hasil yang memuaskan, sang Yahudi ini beralih menuju Mesir. Di tempat ini ia melancarkan makarnya. Penduduk Mesir dihasut. Ia tebar beragam informasi menyesatkan. Dalam tempo yang dirasa tepat, penduduk Mesir itu pun digerakkan menuju Kota Madinah.

Aksi provokasi Yahudi telah memerdaya umat. Kebencian, permusuhan, dan kemarahan telah menyelimuti. Mereka tiada segan untuk menekan dan melawan Amirul mukminin, sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan khalifah, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Mata hati mereka telah terkunci. Hawa nafsu mencengkram kukuh, menggelapkan pandangan akal mereka. Terjadilah apa yang terjadi. Para demonstran mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Suplai makanan dan minuman dihentikan. Khalifah beserta keluarga dikungkung.

Akhir dari konspirasi jahat ini, terbunuhlah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman pedang mengoyak tubuh sahabat mulia ini. Tetesan darah seorang syahid membasahi mushaf al-Qur’an. Tindak angkara murka telah menodai sejarah umat Islam. Melalui beragam media yang dikuasai, Abdullah bin Saba’ berhasil merekrut para pengikutnya untuk berbuat anarkis. Sebuah tindak zalim menjijikkan. Persekongkolan jahat telah membuahkan malapetaka. Kekacauan melingkupi umat. Semua tercatat dalam lembaran hitam kelam sejarah umat. Ingat, Yahudi di balik semua peristiwa bersimbah darah ini. (Lihat Mukhtashar Sirah ar-Rasul, asy-Syaikh Muhammad bin Abdilwahhab, hlm. 218)

Begitulah watak Yahudi. Lihai melakukan beragam hilah (tipu muslihat). Dahulu, kaum Yahudi melakukan hilah sebagai upaya menolak kebenaran. Mereka tak segan melakukan tipu muslihat dalam rangka menjaga kekufuran dan kesesatan yang diyakininya. Mereka lakukan tipu muslihat lantaran tak mampu secara kesatria dan terang-terangan menunjukkan hujahnya. Karena itu, seringkali mereka berbuat makar secara sembunyi-sembunyi.

Ketika Perang Badr usai, manusia berbondong-bondong memeluk Islam. Orang-orang Yahudi pun tak kuasa menghalanginya. Lalu, orang-orang Yahudi di Madinah membuat makar. Mereka ucapkan, “Masuklah Islam saat awal siang. Jika telah akhir siang, murtadlah kalian dari Islam. Katakan, ‘Kami tak memperoleh kebaikan dalam agama Muhammad.’ Niscaya orang akan mengikuti jejak kalian karena kalian ahli kitab.”

Makar Yahudi ini dibongkar Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

“Sekelompok ahli kitab (kepada sesamanya) berkata, ‘Perlihatkanlah (seolah-olah) kalian beriman pada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

 

Makar Yahudi Kini

Yahudi kerap kali memanfaatkan media guna menyusupkan pemahamannya. Melalui media, disusupkanlah pemahaman-pemahaman yang mengagungkan kaum kafir. Diopinikan, seakan persenjataan dan kelengkapan militer orang-orang kafir itu canggih dan tak ada yang mampu menandinginya.

Propaganda melalui tayangan telivisi, misalnya, bisa berakibat menumbuhkan jiwa inferior (minder, merasa kecil dan tak berdaya) pada sebagian kaum muslimin di hadapan kaum kafir. Seakan-akan orang-orang kafir itu hebat, sedangkan kaum muslimin lemah. Seakan-akan kaum kafir itu unggul, sedangkan kaum muslimin tersisih.

Secara perlahan namun pasti, nilai-nilai itu tertanam dalam benak sebagian kaum muslimin. Mereka mengelu-elukan kehidupan orang-orang kafir, bahkan meniru gaya hidup mereka dan membuang ajaran Islam. Begitu dahsyat pengaruh media massa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ لَوْ دَخُلُوا حُجْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوهُ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Andai mereka masuk ke lubang dhab (binatang sejenis reptil), niscaya kalian akan mengikutinya. Ditanyakan, ‘Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nasranikah?’ Jawabnya, ‘Siapa lagi?’” ( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abi Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Dunia film, sinetron, drama dengan segala bentuk aktingnya menjadi daya tarik. Sebagian kaum muslimin bahkan tergiur dengan pertunjukan akting tersebut. Lebih tragis, ada sekelompok aktivis dakwah yang melabelkan diri dengan sebutan “salaf” pun turut berakting. Melalui sarana televisi yang dikelolanya, mereka tayangkan bentuk-bentuk drama berdurasi pendek. Setapak demi setapak program siaran televisi yang dikelolanya telah membuka celah untuk mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani.

Melalui tayangan televisi yang dikelola mereka terkuak pintu petaka. Di antara pemirsa yang sebagiannya para ibu, mulai tergoda. Para ibu muda belia yang masih bersuami ini mulai berceloteh tentang sang ustadz, tentang baju yang dikenakan sang ustadz, tentang sesuatu yang membangkitkan daya tarik.

Siapa yang bisa menjamin hati bisa tetap selamat? Siapa pula yang bisa menjamin bulir-bulir syahwat tak akan bersemi di lubuk hati terdalam?

Kala pintu fitnah itu dikuak semakin terbuka, saat itu rindu dan cinta membara. Syahwat pun menggelora. Nafsu bergejolak. Telah tiadakah kecemburuan di relung hati sang suami kala celoteh sang istri berucap tentang pria lain? Melalui televisi yang dikelolanya, mereka tengah menabur badai. Nas’alullaha as-salamah.

 

Propaganda ala Munafikin

Peristiwa itu terjadi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari peperangan Bani Musthaliq. Adapun Bani Musthaliq itu sendiri merupakan salah satu nama kabilah dari rumpun kabilah Khuza’ah. Bani Musthaliq menetap di wilayah Qudaid, berdekatan dengan mata air al-Muraisi.

Setelah kaum muslimin berhasil menaklukan pasukan Bani Musthaliq, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pasukan kaum muslimin pulang ke Madinah. Saat tiba di satu daerah dekat Madinah, beliau beserta pasukannya beristirahat. Turut dalam rombongan pasukan istri beliau, Aisyah radhiallahu ‘anha. Kala malam tiba, beliau dan pasukannya bergerak meninggalkan tempat itu menuju Madinah.

Namun, saat pasukan itu bergerak. Aisyah radhiallahu ‘anha tidak bersama mereka. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal. Itu terjadi tatkala Aisyah radhiallahu ‘anha telah menunaikan keperluannya, lalu terasa kalungnya terjatuh. Maka, ia pun segera kembali ke tempat tadi untuk mencari kalungnya. Akhirnya, setelah dicari, kalung itu pun ditemukannya. Ia pun bergegas kembali ke rombongan pasukan. Namun, ternyata rombongan pasukan telah berangkat menuju Madinah. Aisyah radhiallahu ‘anha tertinggal.

Lantas Aisyah radhiallahu ‘anha berdiam diri di tempatnya semula. Harapannya, rombongan pasukan yang bersamanya mengetahui kalau dirinya tertinggal lalu kembali ke tempat itu. Saat menunggu, Aisyah radhiallahu ‘anha tertidur.

Dalam waktu bersamaan, ada juga seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as-Sulami radhiallahu ‘anhu tertinggal dari pasukannya. Ia tertinggal lantaran tertidur dan tidak diketahui oleh anggota pasukan lainnya. Maka, ketika ia bergerak mengejar rombongan pasukan, Shafwan radhiallahu ‘anhu melihat sesuatu. Ia dekati. Ternyata, yang ada di hadapannya adalah Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat itu perintah berhijab belum turun sehingga Shafwan radhiallahu ‘anhu mengenali bahwa itu adalah Aisyah radhiallahu ‘anha. “Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun, seorang istri Rasulullah?” Kata-kata itu terucap olehnya.

Aisyah radhiallahu ‘anha pun terbangun lalu menutupkan jilbab ke wajahnya.

Shafwan pun mendekatkan untanya. Setelah Shafwan dudukkan binatang tunggangannya, Aisyah radhiallahu ‘anha pun menaikinya. Shafwan berjalan di depan binatang tunggangannya seraya memegang tali kendali. Ia berjalan cepat tanpa berkata sepatah kata pun. Hingga kemudian dirinya berhasil mengejar rombongan pasukan di satu daerah bernama Nahru azh-Zhahirah.

Abdullah bin Ubay, sang munafik, melihat hal itu. Akal busuknya langsung bergerak. Kebenciannya nan memuncak mendapat angin untuk dimuntahkan. Ia langsung mencari informasi. Menampung beragam berita. Menyebarkannya. Dengan gencar provokasi dilancarkan. Tuduhan keji pun dilontarkan. Aisyah radhiallahu ‘anha dituduh melakukan maksiat. Masyarakat pun goncang. Bara telah menyala.

Keadaan runyam di tengah kaum muslimin tentu menyenangkan orang-orang munafik di Madinah. Kesempatan untuk menggunjing rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah menguat. Fitnah berkecamuk.

Namun, makar orang-orang munafik itu hancur berserak setelah wahyu turun. Aisyah radhiallahu ‘anha dinyatakan suci bersih. Tuduhan keji tiada terbukti. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam para penyebar berita dusta nan keji dengan ancaman mengerikan. Firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ١١

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian, bahkan itu ada baiknya (hikmahnya) bagi kalian. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapatkan balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam menyiarkan berita bohong itu, maka baginya siksa yang besar.” (an-Nur: 11)

 

Upaya Menghancurkan Agama Allah ‘azza wa jalla

Orang-orang kafir dan munafik tiada henti untuk menghancurkan agama Allah ‘azza wa jalla. Semenjak dahulu hingga sekarang makar itu terus berlangsung. Mereka hendak memadamkan cahaya Islam melalui beragam media yang dimilikinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya.” (ash-Shaf: 8)

Untuk menghancurkan akhlak kaum muslimin, orang-orang kafir, dan munafik merancang strategi dengan menerbitkan majalah, tabloid, surat kabar, dan media audio-visual, seperti televisi, yang menyuguhkan kisah-kisah berselera rendah. Menampilkan gambar-gambar seronok. Menyajikan informasi yang membangkitkan birahi.

Sementara itu, dalam dunia sosial politik ditebar beragam berita yang merendahkan penguasa, bahkan mencela dan mencacatnya. Walau pun mereka membungkusnya dengan kemasan kata “mengkritisi” atau dengan bahasa “pers sebagai alat kontrol sosial”.

Dampak dari media semacam ini, masyarakat terdidik untuk suka mencela pemerintah. Padahal tindakan demikian bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa yang merendahkan (menghina, mencela) penguasa Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, Allah ‘azza wa jalla akan merendahkan (menghinakan)nya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2224, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 2296)

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحُ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ، فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, hendaknya jangan melakukannya di hadapan publik (secara terbuka). Akan tetapi, lakukanlah dengan cara mengambil tangannya lantas (menasihatinya) di tempat tersembunyi bersamanya (tidak dipublikasikan). Jika ia menerima (nasihat)nya, itulah (yang diharap). Jika tidak menerima nasihatnya, sungguh nasihat itu telah sampai kepadanya.” (HR. Ahmad dari Syuraih bin Ubaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun untuk menebar kerancuan memahami Islam, sejumlah media telah getol menyuguhkannya. Pemahaman Islam Liberal, Syiah, Mu’tazilah dijajakan dalam beragam bentuk, baik secara terang-terangan maupun melalui cara halus tersembunyi. Bahkan, ada sebuah terbitan yang menyediakan halaman khusus.

Selain itu, media pun kerapkali menggiring masyarakat untuk membenci dan tak menyukai orang-orang yang menampakkan syiar-syiar keislaman. Peristiwa terorisme dijadikan kuda tunggangan untuk menghantam orang-orang yang berpegang teguh kepada Islam yang benar. Tak sedikit media yang tak mampu membedakan siapa teroris dan siapa yang benar-benar mengamalkan Islam secara baik dan benar. Satu contoh, tuduhan Wahabi identik terorisme seringkali dilontarkan media. Padahal, bila ditelisik, pengelola media itu sendiri tidak memahami sejatinya apa dan bagaimana Wahabi itu. Tragis!

Kini, tampak di hadapan kita betapa banyak anggota masyarakat yang tak mengindahkan bimbingan Islam yang mulia ini. Senyatanya, inilah yang dikehendaki orang-orang kafir dan munafik. Mereka menghendaki agar ajaran Islam ditinggalkan oleh umatnya. Dengan begitu Islam tiada menyinari kehidupan manusia. Begitulah makar orang-orang kafir dan munafik. Wal ‘iyadzu billah.

Namun, yang menjaga Islam adalah Allah ‘azza wa jalla. Kesucian dan keberadaannya dipelihara Allah ‘azza wa jalla. Betapa pun busuk makar orang-orang kafir dan munafik, Allah ‘azza wa jalla tetap akan menampakkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Kebenaran akan tetap tampak walau orang-orang kafir, munafik, musyrik membencinya.

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (ash-Shaf: 9)

Hati-hati memilih media. Sebab, hal ini menyangkut keselamatan agama yang ada pada kita.

Allahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin

Agama Islam Telah Sempurna

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ

“Pada hari ini, telah Kusempurnakan agama kalian untuk kalian, dan telah Kucukupkan Nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama kalian.” (al-Maidah: 3)

Lanjutkan membaca Agama Islam Telah Sempurna

Islam Diantara Hantaman Badai Peradaban Kuffar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai seandainya mereka masuk ke lubang dhabb (binatang sejenis biawak), niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya.

Kami tanyakan, “Wahai Rasulullah, apakah mereka yang dimaksud itu adalah Yahudi dan Nasrani?”

Beliau berkata, “Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Hadits yang mulia di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Ahaditsul Anbiya, bab “Ma Dzukira ‘an Bani Israil” (no. 3456) dan Kitab al-I‘tisham bil Kitab was-Sunnah, bab “Qaulin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Latattabi‘unna sanana man kana qablakum’.” (no. 7320) dan al-Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-‘Ilmi (no. 2669) dan diberi judul bab oleh al-Imam an-Nawawi dalam kitab syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab “Ittiba‘u Sananil Yahudi

wan Nasrani”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang senada dengan hadits di atas dalam hadits yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ. فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَفَارِسَ وَالرُّوْمِ؟ فَقَالَ: وَمَنِ النَّاسِ إِلاَّ أُولَئِكَ؟

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelumnya sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.”

Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, seperti Persia dan Romawi?[1]

Beliau menjawab, “Siapa lagi dari manusia kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 7319)

Pengabaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merupakan mukjizat beliau yang dzahir karena telah tampak dan telah terjadi apa yang beliau beritakan tersebut. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Kitabut Tauhid, hlm. 26, asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab)

Lebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini, kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yang notabene mereka itu adalah orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani, merupakan fenomena yang biasa namun menyakitkan dan menyedihkan. Dengan budaya penjajah ini, kalangan muda maupun orang-orang tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajatnya bila tidak sama dengan gaya hidup, model, dan budaya orang-orang kafir (peradaban kuffar). Sebaliknya, mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tidak sekedar mirip dengan orang-orang kafir.

Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dengan Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang-orang metropolitan, merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yang terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yang telah disiapkan oleh orang-orang kafir sehingga semua yang datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dengan penuh ketundukan. Ibaratnya mereka berkata sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat), baik itu cara berpakaian, cara bergaul, cara makan, cara berbicara, gaya hidup, dan sebagainya.

Budaya-budaya impor yang diobral orang-orang Barat lewat media massa baik di televisi yang merupakan da’i yang paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yang laku keras diterima oleh kaum muslimin yang maghru (tertipu) dan buta mata hatinya dari semua lapisan. Jangankan mereka yang dikatakan bodoh terhadap agamanya, orang yang dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.

Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yang lainnya dari kalangan salaf berkata, “Sungguh orang yang rusak dari kalangan ulama kita, karena penyerupaannya dengan Yahudi. Orang yang rusak dari kalangan ahli ibadah kita, karena penyerupaannya dengan Nasrani.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 23—23)

Gelombang badai yang besar ini menghantam segala apa yang ada di hadapannya dan membawa korban yang besar. Wallahu al-Musta‘an wa ilallahi al-Musytaka (Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta tolong dan mengadu).

Sungguh benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupanya dengan peradaban kafirin, bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yang sedemikian sempit, maka umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah as-Salamah wal ‘Afiyah (hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita memohon keselamatan).

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menyatakan, “Dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb karena lubangnya sangat sempit. Namun bersamaan dengan itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka, walaupun seandainya mereka masuk ke lubang yang sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.” (Fathul Bari, 6/602)

Yang dimaksud dengan sejengkal, sehasta dan penyebutan lubang dhabb dalam hadits ini adalah untuk menggambarkan betapa semangatnya umat ini mencocoki umat terdahulu dalam penyelisihan dan maksiat, mencontoh mereka dalam segala sesuatu yang dilarang dan dicela oleh syariat. (Syarah Shahih Muslim, 16/219, Fathul Bari, 13/313)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru (yang diada-adakan), bid’ah, dan hawa nafsu, sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam hadits yang banyak bahwasanya di akhir zaman akan ada kejelekan. Hari kiamat tidak akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang-orang yang khusus.”[2] (Fathul Bari, 13/314)

Dalam hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Yahudi dan Nasrani, sedangkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Persia dan Romawi. Karena memang Romawi identik dengan Nasrani, sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah memberikan jawaban sesuai dengan tempatnya, yakni dalam perkara yang berkaitan dengan hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan, umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Dalam perkara yang berkaitan dengan agama yang pokok maupun yang cabangnya, umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani. (Fathul Bari, 13/314)

Keharusan Menyelisihi Kuffar dan Tercelanya Tasyabbuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan dalam sabda beliau,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.”

Tidaklah dimaksudkan beliau memberikan pengesahan dan penetapan tentang bolehnya hal tersebut, namun justru yang beliau inginkan adalah memberi tahdzir (peringatan) dari mengikuti orang kafir dalam perkara kesesatan dan penyimpangan. (al- Qaulul Mufid, 1/202, I’anatul Mustafid, 1/224)

Ketika para sahabat radhiallahu ‘anhum yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah ingin ber-tabarruk (mencari berkah) dengan pohon, beliau mengingkari dengan keras dan menyatakan bahwa ucapan mereka menyerupai dan persis dengan ucapan bani Israil yang minta sesembahan (ilaah) kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu, beliau mengabarkan bahwa umat beliau akan mengikuti jalannya umat terdahulu.

Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain sementara kami ketika itu baru saja meninggalkan kekufuran—mereka baru berislam ketika Fathu Makkah.”

Abu Waqid berkata setelah itu, “Lalu kami melewati sebuah pohon, kami pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath[3] sebagaimana mereka (orang-orang kafir musyrikin) memiliki Dzatu Anwath yang berupa sebuah pohon, tempat mereka beri’tikaf (berdiam) di sekitarnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut.’ Mendengar permintaan kami seperti itu, bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اللهُ أَكْبَرُ وَقُلْتُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِكَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: اِجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُم آلِهَةٌ. قَالَ: إِنَّكُم قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

‘Allah Mahabesar![4] Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian telah berucap sebagaimana ucapan bani Israil kepada Musa: (‘Buatkanlah untuk kami ilaah sebagaimana mereka memiliki ilaah-ilaah.’ Musa pun berkata, ‘Sesungguhnya kalian ini adalah orang-orang yang bodoh.’)[5]. Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian.’ (HR. Ahmad dalam Musnad-nya, 5/218, at-Tirmidzi, 6/343, Ibnu Abi ‘Ashim dalam as- Sunnah, no. 76, berkata asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah, “Isnadnya hasan.”)

Dalam kisah di atas jelas sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dalam rangka peringatan dan pengingkaran beliau bila umat beliau mengikuti umat terdahulu. Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata, “Di sini ada larangan dari perbuatan tasyabbuh dengan orang-orang jahiliah dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 143)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “(Hadits) ini merupakan pengabaran tentang akan terjadinya perkara tersebut dan celaan bagi orang yang melakukannya. Hal ini seperti pengabaran beliau tentang apa yang akan dilakukan manusia menjelang datangnya hari kiamat sebagai tanda-tanda kiamat dan perbuatan-perbuatan mereka nantinya berupa perkara-perkara yang diharamkan.

Dengan demikian diketahui, penyerupaan (tasyabbuh) umat ini dengan Yahudi dan Nasrani serta Persia dan Romawi termasuk perkara yang dicela oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.” (Iqtidha’ Ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 77)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda sebagai peringatan dari menyerupai suatu kaum,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang tasyabbuh (menyerupai) suatu kaum maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud no. 3012, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Hijabul Mar’ah hlm. 104 dan al-Irwa no. 1269)

Al-Qari rahimahullah berkata, “Siapa yang menyerupai orang-orang kafir, fasik, fajir (jahat), pengikut tashawwuf, atau menyerupai orang yang berbuat kebaikan semisal dalam berpakaian dan selainnya, (maka ia termasuk mereka) yakni dalam dosa ataupun dalam kebaikan.” (‘Aunul Ma’bud, 11/51)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apa yang menimpa sebagian kaum muslimin berupa perkara-perkara yang jelek lagi mengerikan, mayoritas terjadi dikarenakan tasyabbuh dengan kuffar. Semisal kesyirikan yang terjadi di Makkah, awalnya disebabkan karena tasyabbuh dengan kuffar.” (I’anatul Mustafid, 1/220)

Merupakan sifat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengubah kemungkaran apabila beliau melihatnya dan menyerukan kepada yang ma‘ruf dan menganjurkannya apabila beliau mengetahuinya. Ketika ada perkara mungkar baik itu maksiat, kesyirikan, ataupun kekufuran, beliau pasti mengingkarinya. Di antara pengingkaran itu adalah, beliau paling tidak suka bila ada satu perkara yang dilakukan oleh kaum muslimin menyepakati atau menyerupai orang-orang kafir. Hal tersebut salah satunya bisa kita lihat dalam peristiwa disyariatkannya adzan.

Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Kaum muslimin ketika telah menetap di Madinah, mereka berkumpul dan memperkirakan datangnya waktu shalat dan ketika itu belum ada seruan untuk shalat (belum ada azan). Suatu hari mereka membicarakan hal tersebut. Sebagian mereka berkata, ‘Ambillah lonceng (dibunyikan sebagai tanda seruan untuk shalat) seperti loncengnya Nasrani.’ Yang lain berkata, ‘Gunakan terompet seperti terompetnya Yahudi.’

‘Umar berkata, ‘Apakah tidak sebaiknya kalian mengutus seseorang untuk memanggil manusia agar berkumpul untuk shalat?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Bilal, bangkitlah, serukan azan untuk shalat’.” (HR. al-Bukhari no. 604 dan Muslim no. 277)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai terompet Yahudi yang ditiup dengan mulut dan lonceng Nasrani yang dipukul dengan tangan, karena meniup terompet dan membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini menunjukkan larangan beliau dari seluruh perkara yang merupakan kebiasaan Yahudi dan Nasrani. (Iqtidha ash-Shirathil Mustaqim, hlm. 189)

 

Faedah

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun dalam perkara-perkara yang mubah maka tidak masalah mengambilnya (dari selain muslimin). Kita boleh mengambil pengetahuan-pengetahuan yang bermanfaat dari musyrikin. Demikian juga barang-barang dagangan dan persenjataan. Perkara-perkara ini sebetulnya asalnya untuk kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ مَنۡ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِيٓ أَخۡرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزۡقِۚ قُلۡ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا خَالِصَةٗ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ

Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) yang baik-baik dari rezeki?’ Katakanlah, ‘Perhiasan dan yang baik-baik dari rezeki ini diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan khusus bagi mereka nantinya pada hari kiamat.’ (al-A’raf: 32)

Perkara-perkara yang bermanfaat asalnya diperuntukkan bagi kaum muslimin. Namun ketika kaum muslimin bermalas-malasan dan bermusuh-musuhan, mereka pun mengambil bagiannya. Dengan begitu tidak ada penghalang bagi kaum muslimin untuk mengambil perkara-perkara yang bermanfaat tersebut, dan ini bukanlah termasuk tasyabbuh. Karena yang dinamakan tasyabbuh hanyalah mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang tidak ada faedahnya dan tidak ada nilainya, atau mengikuti mereka dalam perkara-perkara yang termasuk dalam ibadah, akidah, dan agama.” (I‘anatul Mustafid, 1/224)

 

Kekokohan Islam

Islam bagaikan mercusuar yang menerangi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal di tengah samudra di malam yang kelam dan pekat sehingga kapal-kapal tersebut bisa terarahkan dan terbimbing di dalam pelayarannya. Kapal yang mau mengambil penerangan dan petunjuknya, akan selamat berlayar di tengah lautan. Namun bagi yang enggan akan memperoleh hasil kebinasaannya.

Walaupun dengan keberadaannya di tengah samudra, mercusuar tidak luput dari hantaman badai dan gelombang samudra yang begitu keras dan dasyhat, namun ia tetap kokoh berdiri, memberikan cahayanya untuk kemanfaatan. Demikian juga gambaran Islam, walaupun ia terus dihantam badai dan gelombang yang dahsyat dari musuh-musuhnya dengan segala makar yang ditujukan untuk meruntuhkannya, namun ia tetap kokoh berdiri dengan sinarnya yang tetap menerangi. Hal ini tentunya karena Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menyempurnakan cahaya Islam tersebut.

        يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir itu benci (tidak menyukainya).” (ash-Shaff: 8)

Sungguh, siapa yang mengambil petunjuk Islam, ia akan selamat. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan dan tidak memerhatikan Islam, ia akan celaka dan binasa. Namun, mengambil petunjuk Islam itu haruslah secara keseluruhan, tidak hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain. Hal ini tidak akan menyelamatkan. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan,

ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ

“Masukkanlah kalian ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan).” (al-Baqarah: 208)

Islam pun tetap akan berdiri kokoh selamanya hingga akhir zaman, tidak akan runtuh dengan perjalanan waktu, yang demikian ini karena Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikan jaminan terhadap penjagaannya yang sejalan dengan penjagaan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap kitab suci agama ini (al-Qur’an) sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ ٩

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikra dan Kami pula yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala memberikan jaminan terhadapnya dengan mendatangkan dan memilih para penjaga agama-Nya dari kalangan hamba-hamba- Nya yang saleh yang selalu membela agama-Nya, sebagaimana Dia Yang Mahasuci berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَآئِمٖۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa yang murtad dari agamanya di antara kalian, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka itu merendahkan diri dan lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan si pencela.” (al-Maidah: 54)

Demikian pula Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam sabdanya.

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus-menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan (menampakkan) alhaq, tidak bermudarat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no. 7459 dan Muslim no. 1920)

Syaikhuna Muqbil bin Hadi al-Wadi‘i rahimahullah berkata, “Thaifah (kelompok) yang ditolong ini dikatakan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah bahwasanya mereka adalah ahlul ilmi. Sementara itu, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan, ‘Bila mereka itu bukan ahlul hadits maka aku tidak tahu lagi siapa yang dimaksud dengan mereka.’ Hadits ini walaupun tidak secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Ahmad rahimahumallah, namun sesungguhnya Ahlul Hadits-lah yang seharusnya dimasukkan paling awal dalam thaifah ini karena kekokohan mereka di atas al-haq, pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas mereka dengan kebaikan yang banyak atas apa yang mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.” (al- Jami‘us Shahih, 1/11)

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Yang diinginkan al-Imam Ahmad rahimahullah (dengan thaifah ini) adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yang meyakini mazhab ahlul hadits.” Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Dimungkinkan kelompok ini tersebar di berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga ada di antara mereka orang-orang pemberani yang berperang (di jalan Allah subhanahu wa ta’ala), ada fuqaha (ahli fiqih/orang yang faqih), ada muhadditsun (ahlul hadits), ada orang-orang yang zuhud, ada orang-orang yang memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar dan dari kalangan orang-orang yang berbuat kebaikan yang lainnya. Tidak mesti terkumpul/ terkonsentrasi (di suatu tempat/negara), bahkan yang terjadi, mereka terkadang terpencar dan tersebar di berbagai penjuru bumi.

Hadits ini merupakan mukjizat yang jelas (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) karena thaifah yang bersifat seperti ini terus-menerus ada, alhamdulillah, sejak zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang. Terus-menerus mereka ada sampai datang perkara Allah subhanahu wa ta’ala yang disebutkan dalam hadits.” (Syarah Shahih Muslim, 13/67)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita dari kalangan mereka. Taqabbal da’wana ya Mujibas sailin.

Wallahu ta‘ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari


[1] Persia dengan raja mereka Kisra, dan Romawi dengan raja mereka Qaishar, merupakan dua bangsa yang terkenal (adi daya) di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi, paling banyak penduduknya dan paling luas wilayahnya. (Fathul Bari, 13/313)

[2] Mereka inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِيْنَ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ وَهُمْ كذَلِكَ

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yang mendzahirkan al-haq, tidak bermudharat bagi mereka orang yang menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala, sementara mereka dalam keadaan demikian.” (HR. al-Bukhari no.7459 dan Muslim no.1920)-pen.

[3] Mereka ingin menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut karena mengharapkan barakah dari pohon tersebut. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir karena menganggap besar permintaan tersebut dan merasa heran, bukan bertakbir karena senang. Beliau heran, bagaimana bisa mereka mengatakan ucapan seperti itu dalam keadaan mereka beriman bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja. (al-Qaulul Mufid, 1/201)

[5] Surat al-A‘raf ayat 138.