Tanya Jawab Ringkas Edisi 102

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Salah Baca Surat, Sujud Sahwi?

Apakah ada sujud sahwi setelah salam bagi imam yang lupa/salah dalam membaca surat setelah al-Fatihah?

0811XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada.

 

Waktu Akikah

Jika bayi lahir tanggal 30 Agustus jam dua malam, kapan tanggal akikahnya?

085786XXXXXX

 

Jawaban:

Dasar pertanyaan Anda salah. Hukum-hukum dalam syariat Islam semuanya berdasarkan perhitungan bulan Qamariah (tahun Hijriah) bukan Masehi. Pergantian tanggal dalam bulan Qamariah dimulai sejak terbenamnya matahari, dan siangnya mengikutinya.

Akikah disunnahkan pada hari ketujuh. Rumusnya, hari lahir dikurangi satu. Jika lahir malam Kamis, terhitung hari Kamis; dikurangi satu, berarti akikahnya hari Rabu.

 

Tidak Sempat Qadha Puasa Karena Praktikum Kuliah

Sewaktu saya (perempuan) kuliah, saya pernah tidak menjalankan puasa Ramadhan 3—5 hari. Karena sibuk praktikum, saya tidak dapat mengganti puasa tersebut pada bulan lain sampai beberapa tahun kemudian. Apakah saya masih wajib membayar fidyah dan ganti puasa tersebut?

082271XXXXXX

 

Jawaban:

Jika praktikum itu tidak menyebabkan Anda pada kondisi sangat tersiksa oleh puasa, khawatir binasa, atau termudaratkan karenanya, Anda tidak punya uzur untuk berbuka. Bahkan, kuliah dan praktikum itu bukan hal yang wajib bagi Anda untuk dijadikan alasan berbuka karena sampai pada kondisi tersebut. Jika demikian, yang rajih, orang yang berbuka tanpa uzur tidak disyariatkan mengqadha apalagi membayar fidyah. Hal itu adalah dosa besar, wajib bagi pelakunya bertobat dan memperbanyak puasa sunnah serta amalan sunnah lainnya untuk mengimbanginya.

 

Cara Pemberian Kafarat Puasa

Apakah boleh pembayaran kafarat memberi makan 60 orang miskin diberikan kepada satu orang karena dia benar-benar membutuhkan? Bolehkah kita berikan dalam bentuk uang?

085728XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah memberikan kafarat kepada satu orang miskin saja, walaupun ia sangat butuh; kafarat harus diberikan kepada 60 fakir miskin. Selain itu, kafarat tidak boleh dan tidak sah dibayarkan dalam bentuk uang; harus dalam bentuk makanan pokok (beras atau nasi) sebagaimana perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Antara Puasa Syawal dan Puasa Qadha Ramadhan

Manakah yang afdal dikerjakan puasa enam hari pada bulan Syawal atau puasa qadha puasa Ramadhan?

085869XXXXXX

 

Jawaban:

Yang benar, dahulukan puasa qadha, karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Bahkan, fadhilah puasa enam hari Syawal tidak berlaku bagi orang yang belum menyelesaikan puasa Ramadhan karena belum mengqadhanya.

Bagaimana jika sudah telanjur puasa Syawal terlebih dahulu, dalam keadaan baru mengetahui bahwa yang lebih rajih demikian. Bagaimana halnya dengan hadits Aisyah yang mengqadha puasa sampai bulan Sya’ban?

08586XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap dapat pahala, insya Allah. Tidak ada dalil pada hadits qadha Aisyah tersebut. Sebab, jika puasa qadha yang bersifat wajib saja ditunda oleh beliau karena kepentingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi puasa sunnah 6 hari bulan Syawal, besar kemungkinan Aisyah tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

 

Belum Hapal Bacaan Shalat

Saya seorang muslim yang melakukan shalat tetapi belum hapal bacaannya. Apakah shalat saya itu sah?

085768XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib mempelajarinya semampu Anda, terutama bacaan al-Fatihah yang merupakan rukun shalat sendiri dan wajib bagi makmum. Jika Anda telah berusaha semampunya dan shalat dengan kemampuan yang ada, insya Allah sah. Teruslah belajar untuk menyempurnakannya, Allah tidak membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya.

 

Nazar Puasa Seumur Hidup

Sewaktu saya masih menderita penyakit kulit, saya bernazar untuk berpuasa seumur hidup (jika sembuh). Apakah saya wajib memenuhi nazar tersebut?

089682XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa seumur hidup hukumnya haram. Dengan demikian, nazar Anda tergolong nazar maksiat yang tidak boleh ditunaikan dan wajib ditebus dengan kafarat menurut pendapat yang rajih. Kafaratnya adalah kafarat sumpah, yaitu:

  • Memberi makan sepuluh fakir miskin dengan makanan yang layak (pertengahan) dari yang Anda nafkahkan kepada keluarga, atau memberi pakaian.
  • Jika tidak mampu melaksanakan pilihan pertama, berpuasa tiga hari berturut-turut.

Lain kali jangan bernazar, karena bernazar hukumnya makruh dan tidak pernah menjadi faktor tercapainya suatu maksud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan tidak pernah melakukannya. Begitu pula para sahabat tidak berlomba-lomba melakukannya.

 

Konsultasi Nama Anak

Insya Allah sebentar lagi saya punya momongan. Saya masih awam bahasa Arab. Seandainya diberi nama Abdan Syakur Wafi, mohon dijelaskan artinya.

08572XXXXXX

 

Jawaban:

Abdan Syakur Wafi artinya hamba yang banyak bersyukur lagi menunaikan. Sebaiknya, nama itu satu kata saja, meniru nama salah satu nabi atau sahabat, atau nama Abdu digandengkan setelahnya dengan salah satu asma Allah, seperti Abdusy Syakur atau semisalnya. Tidak mengapa nama selain itu yang bermakna baik, selama tidak mengandung rekomendasi terhadapnya.

34

Hukum Makan Burung Berparuh Panjang

Apa hukum memakan burung bangau dan sejenisnya yang berparuh panjang?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Burung bangau dan semacamnya yang berparuh panjang dan makan ikan hukumnya halal, karena bukan predator yang memburu mangsa dengan cakarnya.

 

Shalat di Dalam Penjara

Seseorang berada di lapas (lembaga pemasyarakatan/penjara). Jika hendak melaksanakan shalat di dalam kamar, apakah dia perlu azan dan iqamat?

085397XXXXXX

 

Jawaban:

Jika di sekitar penjara ada masjid yang azannya menjangkau penjara—yaitu seandainya azan itu tanpa mikrofon, di keheningan, tanpa ada gedung penghalang—dia tidak wajib azan lagi, cukup iqamat. Akan tetapi, tetap disunnahkan untuk azan. Jika tidak demikian keadaannya, ia wajib azan dan iqamat setiap kali hendak shalat.

 

Jual Beli Emas

Jika kita ingin menjual emas pada saat harga emas sedang naik, kemudian kita menerima selisih kelebihan dari harga penjualan saat membelinya; apakah tergolong riba?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Jual beli emas dengan uang rupiah boleh ada selisih harga (mengambil keuntungan, ed.) dengan syarat serah terima langsung (taqabudh), tidak ada yang ditunda serah terimanya.

 

Utang Ditanggung Ahli Waris?

Apabila suami meninggal dunia dalam keadaan mempunyai utang dan meninggalkan seorang istri dan beberapa orang anak, apakah yang menanggung utang suami adalah para ahli warisnya (anak dan istri)? Apakah seseorang yang mempunyai utang boleh dishalatkan waktu meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Jika ia meninggalkan harta waris, wajib dibayarkan dari harta waris itu sebelum dibagi oleh ahli warisnya, meski habis untuk membayar utang. Jika tidak mempunyai harta peninggalan, ahli warisnya tidak berkewajiban membayarnya, tetapi sebaiknya mereka membayarkannya jika mampu.

Seseorang yang meninggal dan mempunyai utang tetap dishalati.

 

Musafir Shalat Maghrib Berjamaah dengan Jamaah Isya’

Ketika saya safar, dalam perjalanan masuk waktu isya. Shalat maghrib dijamak dengan shalat isya. Berhubung shalat berjamaah dengan jamaah setempat, saat saya duduk tasyahud akhir rakaat ketiga dari shalat maghrib, imam bangkit. Setelah itu, bagaimana cara pelaksanaan shalat isya?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib duduk tasyahud di akhir rakaat ketiga. Setelah itu, Anda punya dua pilihan:

  1. Memperlama doa untuk menunggu sampai imam duduk tasyahud juga, lalu salam bersamanya.
  2. Berniat keluar dari jamaah dan menyelesaikan shalat sendiri dengan cepat agar dapat melanjutkan shalat isya secara berjamaah dengan imam, jika diduga kuat bisa bergabung dengannya sebelum i’tidal.

 

Mantan Mertua Masih Mahram?

Apakah mantan istri/suami dan mertua masih mahram?

08123XXXXXX

 

Jawaban:

Mantan istri/suami masih mahram dengan mertuanya.

 

Contoh Kasus Waris

Ayah kami menikah dengan seorang wanita dan tidak mempunyai anak dari pernikahan itu. Kemudian ayah kami meninggal dengan meninggalkan harta bersama istrinya tersebut berupa tanah, rumah, dan kendaraan. Apakah kami (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan) berhak atas harta tersebut? Bagaimana pembagiannya?

085646XXXXXX

 

Jawaban:

Kalian sebagai anak-anaknya berhak, istri yang ditinggalkannya juga berhak. Pastikan dari harta itu yang merupakan milik ayah kalian untuk dibagi dengan rincian:

  • istri mendapat 1/8;
  • 2 anak (laki-laki dan perempuan) mendapat sisanya dengan perbandingan untuk laki-laki 2 bagian, perempuan 1 bagian. Wallahu a’lam.

 

Shalat Bagi Penderita Alzheimer

Apakah lansia yang menderita penyakit alzheimer boleh meninggalkan kewajiban shalat? Karena beliau benar-benar sudah banyak lupa dengan rukun shalat.

082182XXXXXX

 

Jawaban:

Orang yang kehilangan akal karena gila atau pikun tidak terkena kewajiban shalat, puasa, dan lainnya.

 

Larangan Mengucapkan Hari Raya Agama Lain

Tolong jelaskan dalil larangan mengucapkan selamat hari raya agama lain seperti galungan, kuningan, nyepi, dll.

081337XXXXXX

 

Jawaban:

Hari raya Islam hanya ada dua, Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun hari raya selain Islam tidak boleh diikuti. Kita tidak boleh berpartisipasi dan memberi ucapan selamat. Ini termasuk dalam prinsip alwala’ al-bara’ (mencintai dan memusuhi) karena Allah dan di jalan Allah.

 

18 Tahun Belum Bayar Fidyah

Saya belum membayar fidyah sewaktu menyusui anak pada bulan Ramadhan 18 tahun yang lalu. Bolehkah kita membayarkannya kepada keluarga kita yang tidak mampu?

085381XXXXXX

 

Jawaban:

Jika Anda berkeyakinan ibu menyusui membayar fidyah, boleh memberikan kepada keluarga yang tidak mampu. Namun, yang benar wanita menyusui tidak boleh berbuka kecuali jika khawatir terhadap bayinya atau dirinya berdasarkan indikasi yang ada; kewajibannya adalah qadha, bukan fidyah.

 

Jejaring Sosial

Mohon nasihatnya bagi ikhwan dan akhwat yang sering menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, dengan dalih untuk berdakwah atau menambah ilmu. Akan tetapi, mereka malah terjerumus dalam ikhtilath dan perkataan sia-sia dengan saling memberi komentar terhadap lawan jenis dan menceritakan masalah masing-masing. Hal ini juga sering menimpa orang yang sudah berkeluarga sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan suami-istri.

0896XXXXXXX

 

Jawaban:

Kami nasihatkan bagi mereka yang terjerumus dalam keburukan facebook dan semacamnya agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa terfitnah dengan ‘pergaulan’ facebook dan semacamnya, hendaklah dia bertakwa dan malu akan hal itu. Ketahuilah, malu itu merupakan keimanan.

Masih banyak media lain yang aman untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Berkah itu dari Allah semata.

 

Suami Marah, Menawarkan Cerai

Apabila suami saya sedang marah sering berkata, “Bagaimana kalau kita cerai saja,” apakah dengan kalimat tersebut sudah jatuh talak?

082326XXXXXX

 

Jawaban:

Tampaknya kalimat itu masih sebatas tawaran atau ancaman kepada istri, dia belum mantap untuk menjatuhkan talak. Dengan demikian, talak belum jatuh dengan ucapan itu belaka.

 

Cukur Rambut dan Potong Kuku Sebelum Niat Kurban

Seseorang memasuki bulan Dzulhijjah dan belum memiliki niat untuk berkurban sebab belum ada dana. Dia sudah mencukur rambut atau potong kuku. Kemudian dia mendapatkan rejeki sehingga bisa berkurban. Bolehkah?

085292XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak mengapa, karena dia melakukannya sebelum berniat. Larangan berlaku sejak berniat berkurban.

 

Rasul Tidak Puasa Arafah

Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah/sempat melakukan puasa Arafah? Sebab, sebagian orang tidak mau puasa dengan alasan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Rasul tidak melakukan puasa Arafah ketika berhaji (hajjatul wada’) dan hal itu menunjukkan tidak disunnahkan bagi jamaah haji di Arafah. Adapun bagi orang lainnya yang tidak berhaji, terdapat hadits sahih yang menganjurkannya dengan keutamaan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setelahnya. Lihat buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

 

Gabung Niat Puasa Arafah dengan Senin-Kamis

Bolehkah menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa Arafah yang bertepatan dengan hari Kamis?

082134XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa Senin-Kamis dan puasa Arafah adalah puasa sunnah khusus yang diperintahkan. Jadi, tidak boleh digabung niatnya. Jika hari Arafah jatuh pada hari Kamis, berpuasalah dengan niat puasa Arafah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bagi yang Akan Berkurban

Jika suami akan berkurban, apakah anak dan istri terkena hukum larangan memotong kuku, rambut, dll.?

085275XXXXXX

37

Jawaban:

Pemahaman tersebut salah. Yang benar adalah hadits Ummu Salamah dalam Shahih Muslim yang melarang hal itu bagi yang berniat berkurban. Adapun keluarganya tidak terkena hukum tersebut.

 

Zakat Usaha

Saya mendirikan usaha menjual kayu kelapa, bambu, tepas, dan kayu. Apakah usaha saya terkena zakat jika sudah cukup satu tahun?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Zakat usaha/dagang tidak ada menurut pendapat yang rajih. Namun, uang hasil usaha tersebut jika mencapai nishab perak (harga 595 gr perak) lantas nishab itu bertahan setahun, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 (2,5%).

Dinasihatkan bagi para pengusaha yang sukses agar banyak bersedekah dan berinfak.

 

Zakat Fitrah

Nenek saya janda dan mempunyai sawah yang dikerjakan oleh orang lain. Hasilnya bisa digunakan untuk keperluan harian. Apakah nenek saya berhak mendapat zakat fitrah?

081329XXXXXX

 

Jawaban:

Jika nenek Anda miskin, hasil sawah itu belum mencukupinya, ia berhak mendapat zakat. Namun, seseorang tidak tidak boleh menyalurkan zakat kepada kerabat yang dia tanggung nafkahnya.

 

Haji dengan Uang Riba

Bagaimana hukumnya jika naik haji dengan uang riba yang sudah dibayarkan dan akan berangkat tiga tahun lagi? Bagaimana cara bertobat dari perbuatan tersebut?

085279XXXXXX

 

Jawaban:

Bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesal, berhenti dari hal itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ambil uang riba itu dan bersihkan diri Anda darinya dengan cara menghabiskannya untuk pembangunan fasilitas umum, seperti jalan umum, selokan, WC umum, dan yang semisalnya.

 

Mimisan Sewaktu Shalat

Bagaimana jika ketika kita shalat, hidung kita mimisan? Apakah shalat kita batal?

085710XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap lanjutkan shalat Anda. Darah mimisan tidak membatalkan wudhu dan shalat, bukan pula najis menurut pendapat yang rajih.

 

Anak Menjadi Wali Nikah Ibu

Apakah anak kandung laki-laki dewasa bisa menjadi wali nikah ibunya?

085866XXXXXX

 

Jawaban:

Ya. Jika ayah wanita itu sudah tidak ada atau ada halangan syar’i untuk menjadi wali, tugas wali beralih kepada anak tersebut.

 

Shalat dalam Keadaan Junub karena Lupa

Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?

38

Jawaban:

Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.

Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi,  setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.

 

Shaf Anak dalam Shalat Jamaah

Bolehkah anak usia lima tahun berada di shaf orang dewasa saat shalat berjamaah? Ia sudah bisa berwudhu tetapi belum paham bacaan shalat. Apakah syarat seorang anak sudah boleh bershaf bersama orang dewasa saat shalat berjamaah?

 

Jawaban:

Syaratnya adalah usia tamyiz, biasanya tujuh tahun dan dia telah bersuci dari hadats. Wallahu a’lam.

 

Shalat Setelah Keguguran

Jika seorang wanita keguguran pada usia kehamilan empat bulan dan dikuret, apakah dia boleh shalat lima waktu?

 

Jawaban:

Janin yang berusia empat bulan sepertinya belum berbentuk fisik manusia yang terdiri dari kepala, jari, dst. Jika benar demikian, bukan termasuk nifas menurut pendapat yang terkuat. Hukumnya adalah darah fasad seperti istihadhah, tetap wajib shalat.

 

Hukum Sembelihan

Hukum sembelihan bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53) Apakah maksud tidak sah pada kalimat di atas bermakna haram dimakan walau telah membaca takbir waktu menyembelih?

 

Jawaban:

Terpotongnya kedua wadjan (urat/pembuluh darah besar) yang berada di leher adalah syarat sahnya sembelihan, tetapi tidak harus putus. Jika yang terpotong hanya salah satunya, sembelihan tidak sah dan haram dimakan. Ini menurut pendapat yang rajih dan lebih hati-hati. Wallahu a’lam.

 

Bekerja di Koperasi Simpan-Pinjam

Jika kita bekerja di koperasi simpan-pinjam (riba) yang mempunyai usaha lain berupa wisma/hotel, dengan laba mayoritas berasal dari koperasi riba, apakah hal ini diperbolehkan? Apa boleh pula bekerja sebagai karyawan wisma?

 

Jawaban:

Jika perputaran usaha wisma/hotel itu juga bermodal dari dana hasil riba itu, haram bekerja di situ. Apalagi jika pada usaha wisma itu terjadi ikhtilat/perbauran karyawan wanita dan pria, hal itu haram dari sisi lainnya.

 

Gadai Motor Riba

Saat ini saya sedang terjerat riba. BPKB motor saya gadaikan 4 juta. Untuk melunasinya, saya harus membayar 4 juta (pokok) dan 150 ribu (bunga). Uang tersebut saya gunakan untuk modal dagang. Apakah modal dan keuntungan dagangan saya halal? Saya ingin segera melunasinya sebisa mungkin karena takut sekali terjatuh dalam dosa.

 

Jawaban:

Jika Anda melakukan itu dalam keadaan tidak tahu hukumnya, ada uzur bagi Anda. Jika sudah tahu hukumnya haram, wajib bertobat. Baik yang pertama maupun yang kedua, upayakan menasihati/melobi pihak yang mengutangi agar menggugurkan tuntutan bunga (riba) itu. Jika berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak berhasil, tetap lunasi dengan terpaksa dan dia yang menanggung dosanya. Wallahu a’lam.

 

Mahar Kitab, Harus Diajarkan?

Apakah seseorang yang menikah dengan mahar sebuah kitab harus memberikan faidah/mengajarkan kitab tersebut?

 

Jawaban:

Tidak harus, karena kitab itu sendiri sudah berharga.

 

Hak Tinggal Pascacerai

Jika istri minta cerai dari suaminya, siapakah yang berhak untuk tinggal di rumah, istri atau suami?

 

Jawaban:

Yang berhak tinggal di rumah itu adalah yang mempunyai rumah. Jika yang mempunyai adalah suami, berarti istri yang keluar; begitu pula sebaliknya.

 

Hukum Wudhu setelah Mandi Wajib

Bagaimana hukum wudhu sebelum mandi wajib? Apakah kita harus wudhu lagi setelah itu karena akan melaksanakan shalat?

 

Jawaban:

Wudhu atau mendahulukan anggota wudhu sebelum mandi wajib, hanya sunnah. Jika hal itu diamalkan dan tidak berhadats setelahnya, itu sudah cukup tanpa perlu berwudhu lagi.

 

Mengubur Janin

Bagaimana cara menanam/mengubur janin keguguran yang baru berusia dua bulan?

 

Jawaban:

Tidak disyariatkan dikuburkan, cukup dipendam di mana saja.

 

Utang Puasa karena Sakit

Ibu kami utang puasa 25 hari karena sakit. Sekarang beliau masih dalam pengobatan pasca operasi (tumor ganas) hingga dua bulan ke depan, sedangkan beliau belum mampu mengqadhanya. Padahal bulan Ramadhan akan segera. Bagaimana solusinya?

 

Jawaban:

Jika dokter spesialis mengatakan masih ada harapan sembuh dan tidak ada keharusan untuk selalu minum obat pada siang hari, tunggu saja sampai sembuh. Setelah itu ibu Anda mengqadha seluruh utang puasa di luar Ramdhan walaupun melewati sekian kali Ramadhan. Hal ini disebabkan adanya uzur.

 

Kembalian Pembeli yang Tertunda

Bagaimana hukumnya jika dalam transaksi jual-beli ada uang kembalian pembeli yang ditunda kembaliannya oleh penjual?

 

Jawaban:

Boleh. Yang tidak boleh apabila menukar uang dengan uang, karena diharuskan serah-terima dengan tuntas di majelis itu sebelum berpisah, tanpa ada yang tersisa/tertunda, di samping nilainya harus sama.

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Memberi Nama Anak

Pada hari ketujuh dari kelahiran bayi ia sudah harus diberi nama. Hal ini demi menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menamai anak pada hari ketujuh. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2832 cet. al-Ma’arif)

Namun, dibolehkan memberi nama anak sebelum hari ketujuh. Landasannya adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tadi malam terlahir bagiku anak laki-laki lalu aku memberinya nama (seperti nama) bapakku, (Nabi) Ibrahim ‘alaihissalam.” (Shahih Muslim no. 2310)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Boleh menamai anak pada hari kelahirannya.” (Syarh Shahih Muslim 14/100)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya, hakikat penamaan adalah memperkenalkan sesuatu yang diberi nama. Sebab, jika sesuatu itu ada dan tidak diketahui namanya, tentu tidak ada sesuatu yang menyebabkannya dikenal.

Maka dari itu, boleh untuk memberi nama pada hari kelahirannya, dan boleh mengakhirkannya sampai tiga hari dan sampai hari diakikahi (hari ketujuh) dan boleh (juga) sebelum itu dan setelahnya, perkaranya di sini lapang.”

Di sini, Ibnul Qayyim rahimahullah membolehkan memberi nama anak setelah hari akikah (setelah hari ketujuh), namun demi mengamalkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya dihari ketujuh sudah diberi nama, atau kalau seorang mau maka boleh memberi nama sebelum hari ketujuh. (Tuhfatul Maudud hlm. 71)

Siapa yang Berhak Memberi Nama?

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini bahwa jika terjadi perselisihan antara ayah dan ibu dalam hal penamaan anak, ayahlah yang memiliki hak.” (Tuhfatul Maudud hlm. 85)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pada dasarnya (masalah) penamaan dikembalikan kepada (hak) ayah, karena dia yang memiliki hak kewalian. Akan tetapi, seyogianya sang ayah bermusyawarah dengan ibu dan saudara-saudara si bayi dalam hal ini… Telah dimaklumi, apabila seseorang bersikap lapang terhadap keluarganya dan bermusyawarah dalam urusan seperti ini, tentu itu termasuk kebaikan.

Terkadang ibu berbeda pendapat dengan ayah dalam hal pemberian nama. Jika demikian, yang dijadikan pegangan adalah pendapat ayahnya. Namun, apabila mampu memadukan dua pendapat tersebut dengan memilih nama lain yang bisa disepakati kedua belah pihak, tentu ini lebih baik. Sebab, apabila terjadi kecocokan tentu lebih baik dan enak di hati.” (asy-Syarhul Mumti’, 7/322)

Memberi Nama yang Bagus

Hendaknya orang tua atau yang berkedudukan sebagai orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang bagus, yaitu bagus secara makna dan tidak bertentangan dengan aturan agama.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Dalam kesempatan ini hendaknya seorang memilihkan untuk anaknya nama yang nantinya anak tidak akan menanggung celaan di saat dewasa dan tidak merasa tersakiti dengan nama itu, karena terkadang seorang ayah menyukai suatu nama tertentu akan tetapi di kemudian hari sang anak merasa tersakiti dengan nama tersebut sehingga menjadi sebab anak itu terganggu. Suatu hal yang maklum bahwa menyakiti seorang mukmin itu haram, maka seseorang (hendaknya) memilihkan nama yang terbagus dan paling dicintai Allah ‘azza wa jalla….” (asy-Syarhul Mumti’ 7/320—321)

Secara fitrah, orang senang dengan sebutan yang baik serta suka mendengarkan dan melihat sesuatu yang indah sehingga sangat tidak tepat bila ada yang mengatakan, “Apa arti sebuah nama.”

Bila kita melihat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan dapati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai nama yang baik dengan bukti ketika ada seorang sahabat memiliki nama yang tidak baik beliau menggantinya. Dahulu sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki anak perempuan yang diberi nama ‘Ashiyah ( عَاصِيَةُ ) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama ia dengan Jamilah جَمِيْلة) ). ‘Ashiyah artinya wanita yang bermaksiat sedangkan Jamilah artinya wanita yang cantik.

Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, bahwa ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Ia (kakeknya Sa’id) menjawab, “Hazn.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau Sahl.” Hazn berkata, “Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan oleh bapakku.” (Shahih al-Bukhari no. 6190)

Hazn artinya keras, kaku, dan kasar.

Adapun Sahl artinya mudah dan lunak.

Sa’id bin al-Musayyib bin Hazn rahimahullah berkata,

“Perangai kaku/keras setelah itu selalu ada di tengah-tengah (keluarga) kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik. Sebab, nama yang baik mengandung pengharapan kebaikan, sedangkan nama yang jelek menjadikan seseorang beranggapan ada kesialan pada dirinya.

Memang, nama punya pengaruh dan sarat akan makna. Coba Anda perhatikan hadits Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah di atas, bagaimana pengaruh nama yang jelek dirasakan keluarganya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyarankan kakeknya untuk mengubah namanya (Hazn) menjadi yang baik, yaitu Sahl. Ia menolaknya dengan alasan tidak mau mengubah nama yang telah diberikan kepadanya oleh orang tuanya. Karena bersikukuh dengan nama jelek yang diberikan oleh orang tuanya, pengaruh nama jelek itu dirasakan hingga oleh anak cucunya.

Dahulu ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah antara pihak muslimin dan kafir, delegasi kafir Quraisy datang untuk berunding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak ada yang berhasil. Sampai datang utusan dari mereka yang bernama Suhail bin ‘Amr. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Suhail datang, beliau menyatakan,

Perkara kalian telah mudah.” (Shahih al-Bukhari no. 2732)

Suhail artinya mudah.

Nama yang Paling Bagus

Disunnahkan bagi keluarga yang dianugerahi anak untuk memilihkan nama dari nama-nama yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla dan nama-nama yang baik yang mendekatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah ‘Abdullah dan Abdurrahman.” (Shahih Muslim no. 2132 dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah k adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Nama yang paling jujur/cocok adalah Harits dan Hammam, dan yang paling jelek adalah Harb dan Murrah.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinyatakan sahiholeh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adab no. 625)

Hammam artinya adalah orang yang punya tekad/kehendak, sedangkan Harits artinya adalah orang yang berusaha.

Dikatakan nama yang paling jujur karena nama tersebut sesuai dengan maknanya. Sebab, tekad adalah permulaan suatu keinginan, dan dari keinginan ini akan muncul adanya usaha. Orang yang diberi nama dengan dua nama tersebut tidak terlepas dari hakikat maknanya. Berbeda halnya dengan orang yang diberi nama selain dua nama ini. (Faidhul Qadir 1/219)

Harb artinya adalah perang dan Murrah artinya pahit.

Adapun hadits yang berbunyi,

“Nama yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah yang menunjukkan kepada (arti) penghambaan (kepada Allah ‘azza wa jalla) dan (arti) pujian.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, tidak ada asal-usulnya. Hal ini telah ditegaskan oleh as-Suyuthi dan selainnya. (as-Silsilah adh-Dhaifah no. 411)

Alangkah bagusnya jika bayi diberi nama dengan nama-nama para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ambillah nama (seperti) namaku.” (Shahih Muslim no. 2134)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi nama sebagian anak sahabatnya dengan nama para nabi, seperti dalam Shahih al-Bukhari (no. 6198).

Nama-Nama yang Diharamkan

Ada penamaan anak yang diharamkan agama, di antaranya:

  1. Seluruh nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, semisal Abdu Husain (hamba Husain) dan Abdur Rasul (hamba Rasul).

Nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla wajib diganti. Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

“Mereka (ulama) sepakat tentang haramnya setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfatul Maudud hlm. 72)

Apabila kita memiliki ayah atau kakek yang namanya mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, sedangkan mereka telah meninggal, nama tersebut tidak harus diubah. Hal ini berlandaskan hadits,

“Saya putra Abdul Muththalib.” (Shahih al-Bukhari no. 2864)

Hal ini (tidak mengganti nama yang sudah meninggal) diperbolehkan karena bersifat pengabaran, bukan memulai membuat nama. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

  1. Nama مَلِكُ الْمُلُكِ (rajanya seluruh raja), سُلْطَانُ السَّلَاطَيْن (penguasanya para penguasa), dan شَاهٍ شَاه (raja diraja) Landasannya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang paling dimurkai dan paling jelek di sisi Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat adalah seorang yang diberi nama مَلِكَ الْأَمْلَاكِ (raja seluruh makhluk), (padahal) tiada raja yang sesungguhnya selain Allah ‘azza wa jalla.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Nama سَيِّدُ النَّاسِ ( sayyidun nas/ pemimpin manusia) dan سَيِّدُ الْكُلِّ (sayyidul kulli/pemimpin seluruhnya) karena nama ini hanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Nama yang khusus untuk Allah ‘azza wa jalla, seperti اَلْاَحَدُ (Yang Maha Esa) dan اَلرَّزَّاقُ (Sang Pemberi Rezeki). (lihat Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Nama-Nama yang Dimakruhkan

Yang dimaksud di sini adalah namanama yang dilarang namun tidak sampai tingkatan haram, seperti Yasar (mudah), Rabah (orang yang untung), Najah (sukses), dan Aflah (beruntung). Hal ini berlandaskan hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menamai budak kami dengan empat nama: (yaitu) Aflah, Rabah, Yasar, dan Nafi’.” (Shahih Muslim no. 2136)

Nama-nama di atas pada dasarnya memiliki arti yang bagus, tetapi mengandung hal lain. Misalnya, ada yang mencari seseorang yang bernama Rabah (orang yang beruntung) lalu dikatakan bahwa Rabah tidak ada. Orang yang mendengarnya bisa jadi tidak suka dengan jawaban itu, yaitu Rabah tidak ada, yang apabila diartikan menunjukkan tidak ada orang yang beruntung di sana. Hal ini dikhawatirkan akan memunculkan anggapan sial.

Al- Imam an-Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa larangan di sini adalah makruh, bukan haram. (Syarh Shahih Muslim 14/96)

Berikut ini beberapa penamaan yang dilarang:

  1. Memberi nama anak dengan nama para setan, seperti Khinzab.
  2. Nama para thaghut dan diktator zalim, semisal Fir’aun dan Qarun.
  3. Nama yang memiliki arti yang tidak disukai oleh jiwa dan sulit diterima oleh hati orang yang mendengarnya, seperti Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (anjing), dan Hayyah (ular).
  4. Nama-nama malaikat.

Hal ini diperselisihkan tentang kebolehannya. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah lebih condong bahwa hal itu makruh. (asy-Syarhul Mumti’ 7/322)

  1. Memberi nama anak dengan nama al-Qur’an dan surat al-Qur’an (selain nama-nama nabi dan rasul) seperti طَهَ (Thaha), يَس (Yasin), dan حَم (Hamim).

As-Suhaili menyebutkan bahwa al-Imam Malik rahimahullah memakruhkan memberi nama Yasin. Adapun apa yang disebutkan oleh orang-orang awam bahwa Thaha dan Yasin termasuk nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini tidak benar. Sebab, hal ini tidak disebutkan oleh hadits yang sahih, hasan, atau mursal, dan tidak ada pula penukilan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini hanyalah huruf-huruf hijaiyah yang berada di awal beberapa surat al-Qur’an. (Tuhfatul Maudud hlm. 75—80)

  1. Penamaan yang mengandung unsur tazkiyah.

Demikian pula , dilarang memberi nama anak dengan nama yang mengandung bentuk tazkiyah (menganggap dirinya baik), seperti Mubarak (orang yang diberkahi), Muflih (orang yang sukses), dan Barrah (wanita yang baik), karena bisa jadi kenyataannya tidak seperti itu. (Tuhfatul Maudud hlm. 74)

Telah disebutkan dalam ShahihMuslim pada kitab “al-Adab” bahwa

Zainab bintu Abi Salamah dahulu bernaman Barrah (wanita yang baik) lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dengan mengatakan,

“Janganlah kamu menganggap baik dirimu, (karena) Allah ‘azza wa jalla lebih tahu tentang orang yang baik di antara kalian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan untuk menggantinya dengan nama Zainab.

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata,

“Tidak sepantasnya seorang memberi nama yang jelek maknanya, mengarah pada anggapan baik terhadap diri, atau nama yang artinya celaan. Meski nama hanyalah tanda bagi seseorang yang tidak dimaksudkan artinya, tetapi sisi tidak disukainya adalah jika ada orang yang mendengarnya akan menganggap bahwa nama itu adalah sifat bagi orang tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti nama dengan nama lain yang jika pemilik nama itu dipanggil, nama itu benar (sesuai dengan sifatnya).(Fathul Bari 10/577, cet. as-Salafiyah)

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata setelah menukil ucapan ath-Thabari rahimahullah di atas, “Berdasarkan hal ini, tidak boleh bayi diberi nama عِزُّالدِّيْنِ (‘izzuddin/ pemulia agama), مُحْيِ الدِّيْن (muhyiddin/ orang yang menghidupkan agama), نَاصِرُالدِّيْن (nashiruddin/penolong agama), dan yang semisalnya.(ash-Shahihah 1/427 cet. Maktabah al-Ma’arif)

Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.