Perjalanan Panjang Meraih Ilmu

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Long Straight Road

Dari Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil, dia mendengar Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِفَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عليه  رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ، فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ: قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ. فَقَالَ: ابْنُ عَبْدِ اللهِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ  فَقُلْتُ: حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ: يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْقَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ، ثُمَّ يُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍيَسْمَعُهُ مِنْ قُرْبٍ: أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الدَّيَّانُ وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَنْ يَدْخُلَ النَّارَ وَلَهُ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ، وَلَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَلِأَحَدٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عِنْدَهُ حَقٌّ حَتَّى أَقُصَّهُ مِنْهُ حَتَّى اللَّطْمَةُ. قَالَ: قُلْنَا: كَيْفَ وَإِنَّا إِنَّمَا نَأْتِي اللهَ عَزَّ وَجَلَّ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا؟ قَالَ: بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ

“Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang langsung mendengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sedangkan aku tidak mendengar dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, –pen).”

Jabir berkata, “Aku pun bersegera membeli seekor unta. Aku persiapkan bekal perjalananku dan aku tempuh perjalanan satu bulan untuk menemuinya, hingga sampailah aku ke Syam. Ternyata orang tersebut adalah Abdullah bin Unais.”

Aku berkata kepada penjaga pintu rumahnya, “Sampaikan kepada tuanmu bahwa Jabir sedang menunggu di pintu.”

Penjaga itu masuk dan menyampaikan pesan itu kepada Abdullah bin Unais. Abdullah bertanya, “Jabir bin Abdillah?”

Aku menjawab, “Ya, benar!”

(Begitu tahu kedatanganku), Abdullah bin Unais bergegas keluar, lalu dia merangkulku dan aku pun merangkulnya.”

Aku berkata kepadanya, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits, dikabarkan bahwa engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishash (pembalasan atas kezaliman di hari kiamat, –pen.). Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dahulu meninggal sementara aku belum sempat mendengarnya.”

Abdullah bin Unais berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seluruh manusia atau hamba nanti akan dikumpulkan di hari kiamat dalam keadaan telanjang, tidak berkhitan, dan buhma.’

Kami bertanya, ‘Apa itu buhma?’

Beliau menjawab, ‘Tidak membawa apa pun.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla menyeru mereka dengan suara yang semua mendengar, ‘Aku adalah al-Malik (Maharaja)! Aku adalah ad-Dayyan (Yang Maha Membalas amalan hamba)! Tidaklah pantas bagi siapa pun dari kalangan penghuni neraka untuk masuk ke dalam neraka sementara masih ada hak penghuni surga pada dirinya hingga Aku mengqishashnya (yakni diselesaikan hak penghuni surga itu darinya). Tidak pantas pula bagi siapa pun dari kalangan penghuni surga untuk masuk ke dalam surga sementara masih ada hak penghuni neraka pada dirinya hingga Ku-selesaikan hak penghuni neraka itu darinya, meskipun hanya sebuah tamparan.”

Kami bertanya, “Bagaimana caranya menunaikan hak mereka sedangkan kita menemui Allah k dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak memiliki apa pun?”

Nabi menjawab, “Diselesaikan dengan kebaikan dan kejelekan yang kita miliki.”

 

Takhrij Hadits

Kisah perjalanan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu dari Madinah menuju Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu di negeri Syam, diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam al-Musnad (3/495), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (No. 970), al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/574), demikian pula al-Baihaqi dalam al-Asma hlm. 78—79.

Semua meriwayatkan kisah ini melalui jalan Hammam bin Yahya, dari al-Qasim bin Abdul Wahid al-Makki, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu.

Ibnu ‘Aqil seorang yang hasan haditsnya.

Al-Qasim bin Abdul Wahid dihukumi tsiqah hanya oleh Ibnu Hibban. Sementara itu, Abu Hatim ar-Razi mengatakan tentangnya, “Yuktabu haditsuhu.”

Al-Hakim berkata tentang hadits ini, “Shahihul isnad (sanadnya sahih),” dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Al-Hafizh al-Mundziri berkata tentang hadits ini, “Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad hasan.”

Hadits perjalanan Jabir mengunjungi Abdullah bin Unais diriwayatkan oleh al-Bukhari secara mu’allaq[1] dalam Shahih-nya dengan jazm. Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari dalam al-Fath (1/159), “(Diriwayatkan dengan shigat jazm, -pen) karena hadits ini hasan, dan hadits ini dikuatkan).”

Ibnu Hajar rahimahullah kemudian menyebutkan jalan-jalan hadits ini, “Hadits ini memiliki jalan lain yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani dalam Musnad Syamiyyin, dan (diriwayatkan pula oleh) Tamam dalam Fawaid-nya melalui jalan al-Hajjaj bin Dinar, dari Muhammad bin al-Munkadir, dari Jabir…, sanadnya shalih.

Hadits ini memiliki jalan ketiga yang dikeluarkan oleh al-Khathib dalam kitabnya, ar-Rihlah, dari jalan al-Jarud al-’Ansi dari Jabir, namun dalam sanadnya ada kelemahan.

Hadits di atas dengan semua jalannya sahih insya Allah, sebagaimana disimpulkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Zhilalil Jannah fi Takhrij as-Sunnah, hlm. 237. Wallahu a’lam.

 

Perjalanan yang Menakjubkan

Perjalanan panjang yang sangat menakjubkan! Satu bulan perjalanan ditempuh hanya untuk sebuah hadits yang bisa dibaca tidak lebih dari lima menit. Subhanallah.

Demi mendengarkan hadits ini secara lengkap dan utuh melalui sumber yang langsung mendengar dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jabir mengencangkan ikat pinggang, menembus panas sahara meninggalkan kota Madinah menuju negeri Syam. Ia menjumpai Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu, sang pemilik hadits.

Demikian agung nilai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mata generasi terbaik umat ini. Para sahabat benar-benar memandang bahwa satu kalimat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik dari dunia dan seisinya, bahkan tidak bisa dibandingkan. Demikian pula seharusnya cara pandang seorang muslim terhadap sabda-sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena besarnya nilai ilmu itulah, sudah sepantasnya jalan-jalan yang panjang ditempuh demi meraihnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang keutamaan menempuh jalan menuntut ilmu,

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan meraih ilmu (al-Kitab dan as-Sunnah) niscaya akan Allah ‘azza wa jalla mudahkan jalan baginya menuju jannah.” (HR. Muslim no. 1390)

Melakukan rihlah (perjalanan jauh) menuntut ilmu telah menjadi kebiasaan ulama pendahulu umat ini baik dari kalangan sahabat maupun sesudahnya. Salaf (pendahulu) umat ini memahami benar bahwa ilmu itu harus dicari dan didatangi, tidak datang dengan sendirinya! Ilmu dicapai dengan upaya, bukan ditunggu dengan berleha-leha. Perjalanan panjang menuntut ilmu telah dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalaam dalam perjalanan panjangnya bersama Khidhir yang diabadikan dalam surat al-Kahfi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (al-Kahfi: 60)

Dalam riwayat-riwayat sirah (sejarah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kita dapatkan contoh yang sangat banyak. Para sahabat yang berdatangan dari segala penjuru menuju kota Madinah untuk belajar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau menanyakan problem yang mereka hadapi, kemudian kembali ke kampung halaman masing-masing mendakwahkan ilmu yang telah ditimba.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat terus bersemangat melakukan perjalanan menimba ilmu, sebagaimana semangat mereka menyebarkannya kepada umat. Hal ini bisa dilihat pada kisah Jabir bin Abdullah bersama Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma di atas.

Jejak generasi terbaik diikuti oleh para tabi’in, atbaut tabi’in, dan ulama setelah mereka. Tidak sedikit dari mereka yang menempuh perjalanan yang begitu jauh untuk menuntut ilmu.

Al-Imam Abu Hatim ar-Razi rahimahullah mengatakan bahwa dirinya pernah berjalan kaki lebih dari 1.000 farsakh. Padahal satu farsakh lebih dari 5 km, belum lagi perjalanan beliau menaiki kendaraan.

Setiap kali membaca biografi ulama, kita dapatkan sejarah perjalanan mereka menuntut ilmu, baik berjalan kaki maupun berkendaraan, menuju Makkah, Madinah, Baghdad, Yaman, Mesir, Damaskus, dan negeri-negeri lain yang menjadi pusat ilmu kala itu.

Baqi bin Makhlad al-Andalusi rahimahullah melakukan perjalanan dari Andalusia ke Afrika lalu menuju Baghdad untuk belajar kepada al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sendiri telah melakukan perjalanan yang begitu jauh. Ibnu Jauzi rahimahullah mengatakan, “Al-Imam Ahmad pernah mengelilingi dunia dua kali sampai ia menyusun kitab al-Musnad.”

Ilmu al-Kitab dan as-Sunnah memang demikian mahal. Sungguh, untuk meraihnya harus ditempuh jalanjalannya, baik jalan yang bersifat indrawi seperti berjalan menuju masjid dan menghadiri majelis-majelis ilmu, maupun jalan yang sifatnya maknawi seperti duduk membaca kitab-kitab ulama dan berusaha memahaminya.

Barang siapa menempuh jalan tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan mudahkan baginya jalan menuju jannah. Sebab, hanya dengan ilmu syar’i itulah seorang mengenal hak-hak Allah ‘azza wa jalla, mengenal nama-nama Allah ‘azza wa jalla dan sifat-sifat-Nya Yang Mahaagung, serta mengerti tauhid dan kesyirikan.

Dengan ilmu syar’i itu pula Anda akan mengerti hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla yang terkait dengan diri Anda atau orang lain. Anda akan mengetahui cara bersuci, shalat, dan seterusnya. Anda akan mengerti pula apa yang diperintahkan dan yang dilarang-Nya. Anda akan mampu membedakan antara yang haq dan yang batil.

Dengan menuntut ilmu syariat, jalan pun menjadi terang dan segala kebaikan akan diraih. Hal ini dijanjikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Siapa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki kebaikan atasnya, Allah ‘azza wa jalla akan pahamkan dia dalam agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika seorang telah mengetahui betapa agungnya ilmu syar’i, sudah sepantasnya ia bersegera mempergunakan kesempatan. Lebih-lebih masa muda, saat segala kemampuan dimiliki dan belum datang kesibukan serta masa tua.

 

Rihlah untuk Membela Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Kedustaan

Bukan hanya rihlah menuntut hadits yang sahih, para ulama pun rela menempuh perjalanan jauh untuk meneliti keabsahan suatu hadits. Makar-makar musuh Islam pun terbongkar, pintalanpintalannya terurai.

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dalam kitabnya, al-Maudhu’at, tentang terbongkarnya kepalsuan hadits Ubai bin Ka’b tentang fadhail al-Qur’an. Beliau berkata, “… Dari Mahmud bin Ghailan[2] dia berkata, Aku mendengar Muammal berkata, Seorang syaikh menyampaikan kepadaku (hadits) fadhail surat-surat al-Qur’an yang diriwayatkan dari Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Aku bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia berkata, ‘Seorang syaikh di negeri Mada’in, dia masih hidup.’

(Muammal berkata,) aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Wasith dan dia masih hidup.’

Aku pun pergi kepadanya dan bertanya, ‘Siapa yang menyampaikan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Seorang syaikh di negeri Bashrah.’

Aku pergi kepadanya. Dia berkata, ‘Yang menyampaikan kepadaku adalah seorang syaikh dari negeri Ba’adan.’

Aku pun menjumpai syaikh tersebut. (Ketika aku telah bertemu dengannya di Ba’adan, aku tanyakan, siapa yang menyampaikan hadits ini?) Dia pun meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam sebuah rumah yang ternyata terdapat sejumlah penganut sufi beserta seorang syaikh. Dia berkata, ‘Syaikh inilah yang menyampaikan hadits (Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu kepadaku).’

Aku (Muammal) bertanya pada syaikh (sufi), ‘Siapa yang menyampaikan hadits ini?’ Dia berkata, ‘Tidak ada seorang pun menyampaikannya kepadaku. Akan tetapi, kami menyaksikan manusia lari darial-Qur’an, maka kami membuat (baca: memalsukan) hadits untuk (kebaikan) manusia agar mereka mau kembali pada al-Qur’an’.” (al-Maudhu’at [1/239—241])

Perhatikanlah kesungguhan ahlul hadits memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla dan membela sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara membersihkan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kepalsuan. Seorang dari mereka bersedia berjalan jauh, berkeliling ke berbagai negeri, hanya untuk meneliti kebenaran sebuah hadits. Semoga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan kita bersama mereka dalam jannah-Nya yang penuh kenikmatan.

 

Keadaan Umat yang Menyedihkan

Apa yang kita kisahkan di atas demikian indah. Namun, keadaannya terbalik dengan kebanyakan kaum muslimin di akhir zaman, termasuk di negeri kita.

Saat ini, jarang terlihat sosok muslim duduk bersimpuh di hadapan Allah ‘azza wa jalla membaca kalam-Nya. Sangat sukar didapatkan pemandangan seorang muslim membaca hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menghafalkannya, dan mentadaburi makna yang terkandung di dalamnya.

Lihatlah para pemuda generasi Islam di sekitar kita. Apakah mereka menekuni shalat lima waktu yang Allah ‘azza wa jalla wajibkan atas manusia? Betapa banyak pemudapemudi menyia-nyiakan shalat. Jarang ada pemuda yang mengisi shaf-shaf shalat lima waktu di masjid.

Lihat pula generasi muda umat ini, kesibukan apa yang sering mereka tekuni? Ternyata banyak di antara mereka disibukkan dengan pergaulan bebas dan dunia maya. Bukan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang didatangi, melainkan tempat hiburan, keramaian, dan kemaksiatan yang mereka gandrungi. Pemandangan yang sangat menyesakkan dan berat untuk diceritakan. Nasalullah as-salamah wal ‘afiyah.

Di sisi lain, kaum muslimin bercerai-berai. Umat dikotak-kotakkan dalam banyak partai politik setelah terpecah-pecah dalam aliran dan sekte-sekte Islam.

Mendengar ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, mereka menghindar atau pura-pura tidak tahu. Duduk menuntut ilmu seakan-akan tidak mendatangkan apa yang mereka inginkan! Dalam kancah politik, yang ada dalam benak mereka adalah bagaimana mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya dan menggapai kursi kedudukan.

Walhasil, banyak kaum muslimin menjadi korban pesta demokrasi. Harta, pikiran, dan tenaga, terkuras habis. Waktu pun terbuang sia-sia tanpa satu ayat atau satu hadits pun dibaca dan ditadaburi.

Wahai kaum muslimin, tidakkah kita sadar, berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta menjauh dari jalan generasi terbaik umat ini (yakni sahabat), adalah salah satu target makar musuh-musuh Islam?

 

Akibat Berpaling dari al-Kitab dan as-Sunnah

Berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah bukan urusan yang sepele. Masalah ini sangat besar. Akibat yang buruk benar-benar akan dituai oleh mereka yang berpaling dari peringatan Allah ‘azza wa jalla.

Di antara akibat buruknya ialah apa yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan,

Barang siapa berpaling dari pengajaran Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benarbenar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat), dia berkata, “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara timur dan barat, maka setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. (az-Zukhruf: 36—39)

Ya, Allah ‘azza wa jalla menguasakan setan atas orang yang berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla menjadikan setan sebagai teman dekatnya yang selalu mengiringinya. Dalam ayat lain,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

Jangan engkau sangka mereka yang sibuk dengan dunia, sibuk memburu kursi dalam ajang pesta demokrasi merasakan kebahagiaan. Tidak, demi Allah! Perjalanan pencari dunia akan terputus, diakhiri dengan kekecewaan dan kebinasaan.

Layaknya seorang yang berjudi, para pencari kekuasaan mempertaruhkan seluruh sumber daya yang dimiliki hanya demi sebuah kursi.

Segala cara ditempuh: berdusta, mengumbar janji, praktik suap, menghidupkan premanisme, mencela dan menjatuhkan lawan politik, menebarkan kecurigaan dan kebencian kepada saudara seiman, dan akibat-akibat buruk lain yang tidak samar bagi setiap yang berakal. Lebih menyedihkan lagi ketika praktik-praktik perdukunan juga makin merebak seiring trend mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Agama tidak lagi dijaga, bahkan kini dijual semurah-murahnya demi sebuah kata: Kursi!

 

Oleh-Oleh Perjalanan Sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu

Berbeda halnya dengan perjalanan Jabir radhiallahu ‘anhu menuntut ilmu. Perjuangan beliau dikenang sepanjang masa. Ilmu yang beliau cari di negeri Syam dengan perjalanan panjangnya sungguh tidak sia-sia, sebagaimana sia-sianya harta para pencari dunia dan kekuasaan.Setiap langkah menuju ilmu dicatat sebagai amalan kebaikan. Hadits yang diperoleh Jabir radhiallahu ‘anhu dalam perjalanan itu pun terus dikenang dan dibaca kaum muslimin yang tidak terhingga jumlahnya hingga hari kiamat, terus diambil manfaatnya, diriwayatkan para ulama…

Pahala pun terus mengalir kepada sahabat Jabir bin Abdillah dan Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhuma, insya Allah. Hal ini sebagaimana janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika anak Adam mati maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1389 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka

kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada

hari ini kamu pun dilupakan.”

Sungguh, keadaan kaum muslimin secara umum dan negeri ini secara  khusus akan terus menyedihkan jika tidak bersegera kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah, serta meniti jejak sahabat dalam memahami keduanya.

Wahai kaum muslimin, marilah kita kembali kepada kejayaan Islam dengan kembali mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah. Kembali meniti jalan para sahabat dalam memahami dan mengamalkan Islam.

Kaum muslimin harus segera bangun dari tidur yang lelap. Mereka harus menyadari betapa besar makar musuh-musuh Islam menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Di akhir majelis, kita ingatkan sebuah sabda yang sangat agung tentang jalan kejayaan bagi umat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian telah berjual beli dengan cara al-’inah (jenis jual beli riba, -pen), telah mengambil ekor-ekor sapi, telah ridha dengan perkebunan, dan meninggalkan jihad, Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian. Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan lain-lainnya dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 11)

Itulah jalan kejayaan. Menempuh jalan-jalan meraih ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana halnya Jabir radhiallahu ‘anhu menempuhnya.

 

Beberapa Faedah

  1. 1. Hadits ini menunjukkan keutamaan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kaum yang sangat bersemangat menuntut ilmu, menyebarkannya, dan sangat mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. 2. Di antara adab menuntut ilmu adalah mencurahkan segala potensi dan kemampuan, harta, tenaga, dan waktu untuk menimba ilmu, seperti halnya yang dicontohkan oleh Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhu.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya ucapan indah dari Yahya bin Abi Katsir rahimahullah,

لاَ يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu tidak akan dicapai dengan santainya badan.” (HR. Muslim)

  1. Pentingnya tatsabbut (meneliti) berita-berita yang datang, lebih-lebih jika berita tersebut terkait dengan agama, terkait dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Hadits ini menerangkan salah satu adab bertamu, yaitu al-isti’dzan (meminta izin).

Di antara hikmah disyariatkannya meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain adalah menjaga pandangan mata dari hal-hal yang tidak baik atau tidak pantas untuk dilihat.

  1. 5. Hadits di atas merupakan salah satu contoh riwayat sahabat dari sahabat yang lain.
  2. 6. Mengingat kematian menjadi penyemangat seorang muslim untuk bersegera melakukan amalan saleh dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Dalam kisah di atas, Jabir radhiallahu ‘anhu berkata kepada Abdullah bin Unais radhiallahu ‘anhu,

فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ

“Saya khawatir engkau meninggal terlebih dahulu atau aku yang lebih dulu meninggal, sementara itu aku belum sempat mendengarnya.”

  1. Hadits ini menetapkan nama Allah ‘azza wa jalla al-Malik dan ad-Dayyan. Al-Malik artinya adalah Yang Maha Menguasai (Maharaja) dan ad-Dayyan artinya adalah Yang Maha memberikan balasan.
  2. Hadits ini menetapkan sifat “kalam” (berbicara) bagi Allah ‘azza wa jalla.
  3. Penduduk mahsyar mendengar firman Allah ‘azza wa jalla.
  4. Hadits di atas menetapkan adanya qishash di hari kiamat yang menunjukkan kemahaadilan Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada sedikit pun perkara kezaliman kecuali akan diselesaikan oleh Allah ‘azza wa jalla di hari kiamat walaupun kezaliman tersebut dilakukan seorang penduduk jannah kepada seorang penduduk neraka, Allah ‘azza wa jalla akan menyelesaikannya.
  5. Haramnya segala bentuk kezaliman terhadap siapa pun, termasuk kepada orang-orang kafir.
  6. Kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain, akan dibayar pada hari kiamat dengan pahala yang dia miliki, diberikan kepada orang yang terzalimi.

Apabila tidak ada pahala padanya sementara kezaliman belum terbayar, dosa dari orang yang terzalimi ditimpakan kepada orang yang menzalimi.

Bisa jadi pada awalnya seseorang membawa sekian banyak amalan kebaikan. Namun, karena kezaliman-kezalimannya, kebaikannya habis, kemudian ditimpakan atasnya dosa-dosa orang yang ia zalimi. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَ مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?”

Mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta/barang.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun, ia juga datang membawa dosa kezaliman. Ia pernah mencerca si fulan, menuduh (zina dan lainnya, -pen) tanpa bukti terhadap si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul fulan. Sebagai tebusan atas kezalimannya, diberikanlah sebagian kebaikannya kepada fulan, demikian pula kepada fulan dan fulan. Apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizaliminya sementara belum semua kezalimannya tertebus, diambillah kejelekan/kesalahan yang dimiliki oleh orang yang dizaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 6522)

  1. Manusia kelak akan dibangkitkan lalu dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak membawa apa pun.
  2. Pertanyaan murid kepada sang guru mengenai perkara yang belum dipahami dari pembicaraan.

Dalam hadits ini, sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang makna buhma.

  1. Bolehnya menyambut tamu yang datang dari safar dengan merangkul atau memeluknya.

Al-Imam al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad memberi judul kisah Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dengan bab “Mu’anaqah”.


[1] Hadits mu’allaq adalah hadits yang dibuang satu orang perawi atau lebih pada bagian awal sanadnya. Dalam Shahih al-Bukhari, banyak hadits mu’allaq yang disebutkan dalam judul-judul bab yang dibuat al-Bukhari.

[2] Dia adalah Abu Ahmad Mahmud bin Ghailan al-‘Adawi al-Marwazi, tsiqah, meninggal 239 H.

Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anha suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

‘Siapa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki kebaikan baginya, Allah subhanahu wa ta’ala akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama’.”

Lanjutkan membaca Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikannya dan Pemiliknya