Berita-Berita Mukjizat Nabi dan Rasul

Di antara perkara yang wajib diyakini, setiap nabi dan rasul pasti membawa bukti-bukti kebenaran dakwah mereka, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عَلَيْهِ الْبَشَرُ

“Tidak ada seorang nabi pun, kecuali diberi bukti-bukti (mukjizat) yang dengan semisal itu manusia beriman.” ( HR. Muslim)

Bukti-bukti inilah yang disebut sebagai ayat, bayyinat, atau burhan, yang kemudian lebih masyhur dengan sebutan mukjizat, meskipun kata terakhir ini lebih sempit maknanya. Mukjizat nabi dan rasul, secara global bukanlah pembahasan yang asing bagi kaum muslimin. Namun, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sabdakan, Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, demikian pula pemahaman yang benar tentang mukjizat pada kebanyakan manusia.

Sebagai contoh, sebagian kelompok Islam sempalan tidak meyakini adanya mukjizat, bahkan tidak meyakini keberadaannya. Mereka meniru kaum yang tidak memercayai adanya Rabbul ‘Alamin, yakni kelompok atheis. Sebagian lagi meyakini keberadaan mukjizat namun memandangnya dengan tinjauan yang menyimpang. Di antara mereka melampaui batas dalam menetapkan mukjizat sehingga menetapkan mukjizat-mukjizat yang tidak ditetapkan oleh syariat dan tidak disahkan oleh dalil yang sahih. Mereka menetapkan mukjizat melalui berita-berita maudhu’ (palsu), bahkan bertentangan dengan pokok-pokok Islam. Kaum Sufi ekstrem misalnya. Mereka menetapkan ilmu gaib bagi Rasulullah n. Beliau diyakini mengetahui segala yang ada di Lauhul Mahfuzh.

Padahal hanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala sajalah ilmu gaib. Sebagian mereka menetapkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mampu mengatur alam setelah wafatnya. Sungguh, keyakinan ini bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, bahkan termasuk bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Sayyid Quthub Bicara Soal Mukjizat

Pemikiran-pemikiran yang salah mengenai mukjizat ternyata memengaruhi sebagian tokoh yang dipuja dan disanjung, semisal Sayyid Quthub. Tokoh Ikhwanul Muslimin ini memiliki cara pandang yang salah terhadap masalah mukjizat para rasul secara umum. Katanya, Sesungguhnya Islam (yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) tidak menghendaki paksaan dan tekanan sebagai metode agar manusia memeluk Islam, dengan segala bentuknya. Sampai pun bentuk pemaksaan akal dalam kemasan mukjizat juga tidak. (Mukjizat) bukan salah satu dari jalan-jalan keislaman. Berbeda halnya dengan agamaagama sebelumnya (yakni nabi dan rasul sebelum Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam), seperti sembilan ayat (mukjizat) yang dibawa oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, demikian pula mukjizat Nabi Isa q yang bisa berbicara di masa bayinya, menghidupkan orang mati, serta menyembuhkan kebutaan dan peyakit sopak….

Islam menghendaki berkomunikasi dengan kemampuan akal yang dimiliki oleh manusia dan bersandar padanya untuk meyakinkan mereka tentang kebenaran syariat Islam dan akidah (kemudian menerimanya tanpa adanya paksaan), (bukan dengan menampakkan mukjizat yang merupakan bentuk pemaksaan akal, -pen.). Itu semua sesuai dengan landasan umum (Islam) berupa penghormatan dan pemuliaan manusia.” Perhatikan bagaimana Sayyid Qutub memandang mukjizat dengan keliru. Di satu sisi dia menetapkan mukjizat para nabi sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, namun menganggapnya sebagai bentuk pemaksaan beragama. Alhasil, pokok pemikiran dia dalam masalah mukjizat yang bisa kita pahami dari ucapannya adalah sebagai berikut.

1. Dia menganggap mukjizat adalah cara meyakinkan kebenaran yang mengandung unsur pemaksaan, yaitu pemaksaan akal.

2. Hanya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sajalah yang mendakwahkan Islam tanpa paksaan dan tekanan, baik fisik maupun akal.

3. Menurutnya, mukjizat mengandung paksaan terhadap akal sehingga tidak sesuai dengan dasar pijakan Islam berupa penghormatan kepada manusia.

Atas dasar itulah , Sayyid berkesimpulan bahwa mukjizat hanya ada pada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Seakan-akan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki mukjizat. Perkataan Sayyid ini sangat berbahaya, di samping pemikiranpemikiran lain yang banyak tertera dalam tulisan-tulisannya yang banyak meracuni kepala para pengagum dan pecintanya, seperti dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an.

Dalam salah satu bantahan terhadap pemikiran Sayyid, asy-Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali menanggapi pemikiran Sayyid dalam hal mukjizat, “Sesungguhnya mukjizat yang Allah Subhanahu wata’ala tampakkan melalui tangan para rasul-Nya sama sekali tidak mengandung bentuk tekanan dan paksaan, tidak pula bertentangan dengan pandangan Islam yang menghormati manusia. Mukjizat justru memuliakan para nabi Allah Subhanahu wata’ala dan rasul-Nya, menguatkan mereka, dan membuktikan kebenaran (dakwah mereka). Mukjizat juga memuliakan pengikut para nabi, di samping mengokohkan dan menguatkan iman mereka. Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala telah memuliakan Nabi kita, penutup para nabi, rasul yang paling tinggi derajatnya, dengan mukjizat yang tidak terhitung. Banyak disusun karya-karya ulama secara khusus dalam hal ini. Banyak pula kitab hadits yang menukilkan mukjizat-mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini.”

Pengertian Mukjizat

Secara bahasa, mukjizat berasal dari kata ( أَعْجَزَ ) yang berarti melemahkan, dari kata dasar ( عَجَزَ ) yang artinya lemah. Adapun secara istilah, mukjizat dimaknakan sebagai suatu peristiwa atau kejadian menakjubkan yang terjadi di luar kebiasaan. Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kejadian tersebut melalui tangan para nabi dan rasul-Nya sebagai bukti kebenaran dakwah mereka. Kejadian itu tidak mungkin dikalahkan. Selain itu, mukjizat selalu diiringi dengan pengakuan kenabian. Diistilahkan dengan mukjizat karena apa yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala itu membuat manusia lemah untuk mendatangkan yang semisal, apalagi mengalahkannya.

Berita Mukjizat dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an tidak ada penyebutan kalimat mukjizat. Buktibukti kebenaran nabi dan rasul disebutkan dalam al-Qur’an dengan kata-kata yang lebih luas maknanya. Bukti-bukti kenabian disebut dengan al-ayat, al-bayyinah, al-burhan, as-sulthan, dan al-basha’ir. Istilah-istilah dalam al-Qur’an inilah yang semestinya digunakan. Namun, yang masyhur di kalangan kaum muslimin adalah penggunaan kata ‘mukjizat’ untuk menyebut bukti-bukti kenabian dan kerasulan. Pembaca yang budiman… Marilah kita tadabburi beberapa ayat yang berisi mukjizat para nabi dan rasul dengan ungkapan-ungkapan al-Qur’an.

وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ ۖ وَإِن يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِن يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

Seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, ‘Rabbku ialah Allah,’ padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bayyinat (keterangan-keterangan) dari Rabbmu. Jika ia seorang pendusta, dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.” Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (al- Mu’min: 28)

وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ ۖ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُم مِّنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ ۖ وَأُنَبِّئُكُم بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Dan (sebagai) rasul kepada bani Israil (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa ayat (sesuatu tanda) dari Rabbmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku juga menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak. Aku juga menghidupkan orang mati dengan izin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada hal itu ada suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Ali ‘Imran: 49)

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ () وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ () اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ ۖ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِن رَّبِّكَ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu, “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah, Rabb semesta alam, dan lemparkanlah tongkatmu.” Tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerakgerak seolah-olah seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru), “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada) mu bila ketakutan. Itulah dua burhan (mukjizat) dari Rabbmu (yang akan kamu hadapkan) kepada Firaun dan para pembesarnya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al- Qashash: 30—32)

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِن بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الْأُولَىٰ بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab (Taurat) sesudah Kami binasakan generasi-generasi yang terdahulu, untuk menjadi pelita bagi manusia dan petunjuk dan rahmat, agar mereka ingat.” (al-Qashash: 43)

Mukjizat Sesuai dengan Zaman Diturunkannya

Mukjizat sering berisi tantangan terhadap hal-hal yang sedang menjadi kebanggaan kaum kafir pada zaman diturunkannya mukjizat. Hal ini sesungguhnya salah satu bentuk rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Tatkala manusia bangga dengan sesuatu yang menyebabkan mereka berpaling dari Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya dengan mukjizat yang mengalahkan dan mematahkan apa yang mereka banggakan. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih memahami mukjizat dan mengakui bahwa mukjizat datang dari sisi Allah Subhanahu wata’ala.

Di zaman Nabi Musa ‘Alaihissalam, sihir menempati kedudukan yang tinggi dalam peradaban Mesir. Allah Subhanahu wata’ala pun mengutus Nabi Musa ‘Alaihissalam dengan mukjizat yang sesuai dengan keadaan kaumnya yang bangga dengan ilmu sihir. Tongkat Nabi Musa ‘Alaihissalam berubah menjadi ular mengalahkan tukang sihirtukang sihir Fir’aun. Saat itu tukangtukang sihir Fir’aun sujud kepada Allah Subhanahu wata’ala karena menyaksikan kebesaran-Nya dan meyakini bahwa apa yang mereka lihat bukanlah sihir.

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ () قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ () رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

Ahli-ahli sihir itu serta-merta meniarapkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Rabb semesta alam, (yaitu) Rabb Musa dan Harun.” (al-A’raf: 120—122)

Lebih dari itu, tongkat Nabi Musa ‘Alaihissalam membelah Laut Merah menjadi jalan-jalan kering bagi bani Israil. Subhanallah, sihir mana yang mampu membelah samudra? Jangankan samudra, membelah air dalam panci pun tak ada seorang pun mampu melakukannya.

فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu!” Maka terbelahlah lautan itu dan tiaptiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 63)

Seharusnya Fir’aun dan bala tentaranya berhenti mengejar Musa dan bersegera beriman ketika menyaksikan tanda yang luar biasa. Namun, hati mereka telah keras sehingga mereka terus memasuki Laut Merah menuju kebinasaan. Ilmu pengobatan. Tabib dan ahli pengobatan mendapatkan kedudukan penting di masa Nabi Isa ‘Alaihissalam. Maka dari itu, di antara mukjizat Isa ‘Alaihissalam adalah menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit sopak, bahkan menghidupkan burung dan menghidupkan orang yang sudah mati. Adakah ilmu kedokteran yang mampu menghidupkan orang yang telah mati?

Pada zaman Nabi Shalih ‘Alaihissalam, kaum Tsamud bangga dengan kemampuan mereka menjadikan batu-batu gunung menjadi rumah-rumah tempat tinggal. Allah Subhanahu wata’ala tampakkan mukjizat berupa unta yang keluar dari bebatuan. Allahu Akbar, batu melahirkan unta.

قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ () مَا أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ () قَالَ هَٰذِهِ نَاقَةٌ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَّعْلُومٍ () وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيمٍ () فَعَقَرُوهَا فَأَصْبَحُوا نَادِمِينَ () فَأَخَذَهُمُ الْعَذَابُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Mereka berkata, “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orangorang yang kena sihir. Kamu tidak lain seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” Shalih menjawab, “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar.” Kemudian mereka membunuhnya, lalu mereka menjadi menyesal, maka mereka ditimpa azab. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar terdapat bukti yang Mukjizat dan Karamah, di Tengah Penyimpangan Akidah nyata. Adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (asy-Syu’ara: 153—158)

Demikian pula pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Manusia sangat bangga dengan sastra, maka saat itulah diturunkan al-Qur’an sebagai salah satu mukjizat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan yang terbesar dan kekal, di samping sekian banyak bukti lain yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi yang pada saat itu tidak bisa membaca dan menulis bisa menunjukkan al-Qur’an yang diyakini oleh umat muslim memiliki nilai sastra tinggi. Tidak hanya dari cara pemilihan kata-kata, tetapi juga kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu, al-Qur’an dapat terus digunakan sebagai rujukan hukum yang tertinggi sejak masa hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai akhir zaman nanti. Kemukjizatan al-Qur’an akan kita bahas secara khusus, insya Allah.

Karya-Karya Ulama tentang Mukjizat

Meyakini mukjizat nabi dan rasul termasuk bagian iman kepada Allah Subhanahu wata’alal dan iman kepada rasul-rasul-Nya. Mengingat pentingnya masalah ini, ulama Ahlus Sunnah mencurahkan perhatian yang sangat besar untuk menyebarkan berita-berita mukjizat kepada umat. Muncullah karya-karya yang memuat berita-berita tersebut, seperti kitab-kitab sirah, kitab-kitab Syamail, demikian pula kitab-kitab hadits yang banyak menukilkan riwayat-riwayat mengenai mukjizat. Dalam Shahih Muslim misalnya, al-Imam Muslim Subhanahu wata’ala membuat sebuah pembahasan khusus berjudul Kitab Fadhail, yang memuat beberapa pembahasan mukjizat dan keutamaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, secara khusus telah dikumpulkan riwayat-riwayat tentang mukjizat rasul dalam karya-karya ilmiah. Di antara tulisan ulama baik yang terbit atau masih dalam bentuk manuskrip adalah:

Ayatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Ali bin Muhammad al-Madaini (210 H)

Amarat an-Nubuwwah, Ibrahim bin Ya’qub al-Jauzajani (259 H)

Dalail an-Nubuwah, Ubaidullah bin Abdul Karim ar-Razi Abu Zur’ah (264 H)

A’lamun Nubuwwah, al-Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy-’ats (275 H)

A’lamur Rasul al-Munazzalah ‘ala Rusulihi, Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (276 H)

Dalail an-Nubuwah, Ibrahim bin al-Haitsam al-Baladi (277 H)

Dalail an-Nubuwah, Abdullah bin Muhammad bin Abid Dunya (281 H)

Dalail an-Nubuwah, Ibrahim bin Ishaq al-Harby (285 H)

Dalail an-Nubuwah, Ja’far bin Muhammad bin al-Hasan al-Firyabi (301 H)

Dalail an-Nubuwah, Tsabit bin Hazm as-Sarqasthi (313 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan an-Naqqasy, al-Muqri (351 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu asy- Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Hayyan al-Ashbahani (369 H)

Dalail an-Nubuwah, Abu Nu’aim Ahmad bin Abdillah al-Ashbahani (430 H)

Dalail an-Nubuwah, Sulaiman bin Ahmad ath-Thabarani (430 H)

al-Arba’una Haditsan ad-Dalah ‘ala Nubuwatihi ‘Alahissalam, Ali bin al-Hasan bin Hibatullah, Ibnu ‘Asakir (571 H)

Dalail an-Nubuwah, al-Hafizh Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi. Masih banyak karya ulama lainnya tentang masalah ini. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Perbedaan Mukjizat, Karamah, dan Sihir

Tukang-tukang sihir, dukun, dan manusia semodel mereka seringkali memamerkan “kehebatan” mereka, kebal api atau kebal bacokan pedang. Sebagian mereka tidur di atas paku-paku tajam atau dengan bangganya memakan pecahan-pecahan kaca. Aneh memang. Televisi pun tak ketinggalan menayangkan acara-acara tersebut. Anehnya, perbuatan syirik tersebut dianggap kesenian, budaya yang mendatangkan devisa, dan lebih menyedihkan manakala seorang yang menyatakan dirinya muslim berdecak kagum menyaksikan “kehebatan” mereka. Allahul Musta’an. Sepintas, fenomena aneh di hadapan kita itu mirip dengan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang utuh tidak terbakar tatkala dilempar kaumnya di tengah kobaran api. Karena kemiripan antara mukjizat dan sihir dari sisi keduanya menyelisihi adat kebiasaan dan hukum alam, maka kita perlu memahami perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir.

Di antara hal penting yang menjadi kaidah membedakan antara mukjizat dan sihir:

1. Mukjizat berasal dari Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk pemuliaan terhadap nabi dan rasul-Nya. Adapun sihir adalah amalan-amalan setan.

Bagaimana sihir terwujud? Tukang sihir dan dukun tidak mungkin melakukan perkara-perkara aneh tersebut melainkan jika mau memberikan persembahan kepada setan-setan, seperti menyembelih untuk jin, memberikan sesaji, atau yang semisalnya. Oleh karena itu, sihir adalah bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala dan pelakunya kafir sebagaimana firman-Nya,

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102)

2. Di antara perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir, mukjizat mengandung tantangan yang bersifat umum bagi penentang dakwah rasul untuk menghadapi mukjizat itu, kalau memang mereka mampu.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang mukjizat al-Qur’an,

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)

Berbeda halnya dengan sihir, tidak ada seorang penyihir pun berani membuka tantangan secara umum. Sebab, mereka tahu, banyak pula manusia yang seprofesi yang mungkin mendatangkan sihir yang lebih kuat, dan ini merugikan mereka sendiri. Apalagi saat sihir dihadapkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan zikir, niscaya mereka akan menuai kekalahan dan kebinasaan.

3. Mukjizat diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada nabi dan rasul-Nya tanpa laku/latihan tertentu, belajar, atau kaidah-kaidah yang harus senantiasa diterapkan.

Tidak pernah Nabi Musa ‘Alaihissalam mempelajari bagaimana tongkatnya berubah menjadi ular atau membelah lautan. Demikian pula semua mukjizat nabi dan rasul. Adapun sihir, ilmu ini memiliki kaidah-kaidah yang bisa dipelajari setiap orang, dengan syarat dia mau menjual agamanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ

Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. (al-Baqarah: 102)

4. Sihir selalu bisa dikalahkan, baik dengan sihir yang lebih kuat maupun dengan zikir dan bacaan al-Qur’an. Berbeda halnya dengan mukjizat, tidak mungkin dikalahkan.

Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kekalahan sihir-sihir terhebat di zaman Musa ‘Alaihissalam. Sihir tidak mampu berhadapan dengan mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam.

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ () فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانقَلَبُوا صَاغِرِينَ

Dan kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sihirkan. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (al-A’raf: 117—119)

Demikian empat hal di antara pokok-pokok perbedaan antara sihir dan mukjizat. Lantas bagaimana halnya dengan karamah, yaitu kejadian menakjubkan di luar kebiasaan yang mungkin terjadi pada wali-wali Allah Subhanahu wata’ala sebagai karamah (pemuliaan) bagi mereka, apakah sama dengan mukjizat? Karamah diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada wali-wali-Nya, seperti apa yang Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada Ashabul Kahfi berupa penjagaan dari kejelekan kaumnya dengan cara yang luar biasa. Mereka tidur selama 309 tahun dalam goa, seperti dikisahkan oleh al-Qur’an,

لَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (al-Kahfi: 25)

Karamah hampir sama dengan mukjizat. Keduanya dari Allah Subhanahu wata’ala, hanya saja karamah tidak diiringi dengan pengakuan kenabian. Pembahasan tentang karamah insya Allah akan kita khususkan pada rubrik “Hadits.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Mengenal Beberapa Faedah Mukjizat

Ketetapan Allah Subhanahu wata’ala baik yang kauni maupun syar’i selalu dipenuhi hikmah. Tidak ada satu perkara pun yang Allah Subhanahu wata’ala takdirkan melainkan penuh dengan hikmah yang sangat mendalam. Demikian pula mukjizat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada nabi dan rasul-Nya, bukanlah perkara sia-sia. Berbagai hikmah dan faedah mengitari mukjizat nabi dan rasul. Di antara faedahnya adalah:

1. Sebagai bukti kebenaran dakwah para nabi dan rasul.

Dalam perjalanan dakwah, tidak jarang orang-orang kafir menantang agar nabi dan rasul mendatangkan bukti akan kebenaran dakwah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْلَا يَأْتِينَا بِآيَةٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ أَوَلَمْ تَأْتِهِم بَيِّنَةُ مَا فِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ

Mereka berkata, “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada kami dari Rabbnya?” Apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam kitab-kitab yang dahulu? (Thaha: 133)

Kaum Nabi Shalih ‘Alaihissalam berkata kepada beliau ‘Alaihissalam,

مَا أَنتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Kamu tidak lain seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.” (asy-Syu’ara: 154)

Di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, orangorang musyrikin Quraisy pernah meminta agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangkan bukti kebenaran dakwah beliau. Ditampakkanlah salah satu mukjizat dari Allah Subhanahu wata’ala , yaitu terbelahnya bulan, sebagai jawaban atas tantangan mereka. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

أَنْ يُرِيَهُمْ آيَةً  أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ سَأَلُوا رَسُولَ اللهِ فَأَرَاهُمُ الْقَمَرَ شِقَّتَيْنِ حَتَّى رَأَوْا حِرَاءَ بَيْنَهُمَا

 “Penduduk kota Makkah menantang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menunjukkan kepada mereka ayat (bukti kebenaran dakwahnya), maka beliau menunjukkan kepada mereka bulan yang terbelah menjadi dua, hingga mereka melihat Gunung Hira’ berada di antara kedua belahan bulan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Namun, tidak semua permintaan dan tantangan mereka ditanggapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

2. Menguatkan iman para nabi.

Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam,

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِن ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab, “Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” Allah berfirman, “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu.” (Allah berfirman), “Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (al-Baqarah: 260)

Ketika para nabi dan rasul menyaksikan mukjizat, keimanan mereka semakin kokoh dan semakin kokoh pula mereka berdakwah.

3. Menghibur nabi dan rasul dalam menghadapi beban dakwah dan gangguan kaumnya.

Dakwah di Makkah dilalui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kesabaran. Tidak samar bagi pembaca betapa berat perjalanan dakwah beliau. Permusuhan Quraisy semakin gencar dengan kematian Abu Thalib, kesedihan pun semakin mendera dengan wafatnya Khadijah radhiyallahu ‘anha, istri yang selalu menemani beliau dalam suka dan duka. Sesaat kemudian, Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada Nabi-Nya mukjizat Isra’. Perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis dan dilanjutkan ke langit ketujuh hanya dalam satu malam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Isra’: 1)

Dalam perjalanan tersebut, Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kebesaran-Nya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala berbicara langsung dengan Nabi dan Kekasih-Nya. Perjalanan yang penuh dengan ibrah semakin mengokohkan jiwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengemban dakwah yang lebih berat. Termasuk hiburan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berita-berita gaib tentang kisah nabi-nabi sebelum beliau yang sebelumnya tidak beliau ketahui. Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan beban yang menimpa Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa , yang di antara faedahnya ialah menghibur Nabi dan Khalil-Nya.

4. Menambah keimanan orangorang yang beriman.

Ini seperti permintaan pengikut Isa ‘Alaihissalam agar diturunkan makanan dari langit. Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan mukjizat tersebut dalam surat al-Maidah,

إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ ۖ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ () قَالُوا نُرِيدُ أَن نَّأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَن قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ () قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata, “Hai Isa putra Maryam, bersediakah Rabbmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab, “Bertakwalah kepada Allah jika kamu benar-benar orang yang beriman.” Mereka berkata, “Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.” Isa putra Maryam berdoa, “Wahai Rabb kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah sebaikbaik pemberi rezeki.” (al-Maidah: 112—114)

Demikian pula mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terjadi di hadapan para sahabat, seperti bertambahnya makanan dan air pada saat para sahabat kekurangan bekal. Semua itu menambah keimanan dan ketenteraman jiwa kaum mukminin. Mereka sedikit pun tidak ragu akan kebenaran dakwah Rasul. Namun, Allah Subhanahu wata’ala menampakkan mukjizat-mukjizat tersebut agar iman mereka semakin bertambah.

5. Menjadi jalan keluar bagi nabi dan orang-orang yang beriman ketika mendapatkan ujian.

Hal ini seperti saat Nabi Ibrahim ‘Alaihisslam dibakar oleh kaumnya. Allah Subhanahu wata’ala menampakkan mukjizat, di samping sebagai bukti kebenaran dakwah Ibrahim ‘Alaihissalam, juga sebagai jalan keluar bagi beliau. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ () أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ () قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَاعِلِينَ () قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ () وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

Ibrahim berkata, “Mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian? Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Apakah kamu tidak memahami?” Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak.” Kami berfirman, “Hai api dinginlah, dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.” Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi. (al- Anbiya: 66—70)

Demikian pula saat Musa ‘Alaihissalam dan kaum mukminin terimpit tentara Fir’aun, datanglah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala berupa mukjizat Musa ‘Alaihissalam. Tentang hal ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

Setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, “Sekalikali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar. (asy-Syu’ara: 61—63)

6. Untuk mengalahkan sihir, sehingga para pengikut setan menyadari bahwa sihir tidak ada sedikit pun kekuatannya di hadapan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala.

Hal ini seperti kisah Musa ‘Alaihissalam ketika Fir’aun mendatangkan seluruh tokoh sihir untuk mengalahkan beliau ‘Alaihissalam. Namun, makar mereka tidak mungkin mengalahkan mukjizat Musa ‘Alaihissalam. Sihir memiliki kemiripan dengan mukjizat dari sisi bahwa keduanya adalah perkara di luar kebiasaan, walaupun tentu saja perbedaannya sangat jauh dan kentara. Namun, boleh jadi seseorang tertipu dengan sihir dan menganggapnya sebagai mukjizat atau karamah.

7. Sebagai ujian bagi manusia.

Apakah mereka mau menerima dan membenarkan bukti-bukti yang dibawa rasul, ataukah mereka mendustakannya setelah datangnya tanda. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ

“Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan (pula). Mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna.” (Ali ‘Imran: 184)

Seperti halnya Yahudi, mereka yakin betul bahwa Muhammad bin Abdillah adalah nabi dan rasul Allah Subhanahu wata’aladengan bukti-bukti yang mereka saksikan. Akan tetapi, mereka tidak mau beriman karena hasad.

8. Sebagai peringatan dan ancaman bagi penentang Rasul.

Allah Subhanahu wata’ala mengingatkan tenggelamnya Fir’aun agar selalu menjadi peringatan bagi orang yang beriman dan orangorang kafir, para penentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا () فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” (al-Muzzammil: 15—16)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Mukjizat-Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Bukti-bukti kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat banyak, tidak mampu kita batasi dengan angka atau jumlah tertentu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Ayat-ayat dan burhan yang menunjukkan kenabian Nabi kita Muhammad n sangat banyak dan beragam, lebih banyak dan lebih agung daripada ayat-ayat nabi sebelum beliau.” (al-Jawab ash-Shahih) Semakna dengan Syaikhul Islam, al-Qadhi ‘Iyadh rahimahumallah berkata, “Beliau adalah rasul yang paling banyak membawa mukjizat, paling menakjubkan tanda (kerasulannya), dan paling tampak bukti (kerasulannya), sebagaimana akan kita jelaskan. Tidak ada tulisan yang mengumpulkan semua mukjizat beliau yang sangat banyak itu. Bahkan, satu saja dari mukjizat beliau, yaitu al-Qur’an, tidak ada yang bisa menyebutkan jumlah mukjizat yang terkandung (di dalamnya) dengan angka seribu, dua ribu, atau lebih….” (asy-Syifa bi Ta’rifi Huquqil Musthafa)

Sebagian ulama berkata, “Beliau telah diberi tiga ribu mukjizat, selain al-Qur’an. Adapun al-Qur’an sendiri, di dalamnya kurang lebih ada enam puluh atau tujuh puluh ribu mukjizat.” Apa yang dikatakan oleh para ulama memang demikianlah keadaannya. Sebab, setiap gerak-gerik, ucapan, perbuatan dan sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bukti kebenaran dakwah beliau. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Perjalanan hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sesungguhnya termasuk tanda kenabian. Demikian pula akhlak, sabda, perbuatan, syariat, umatnya, dan karamah-karamah orang-orang saleh dari umat beliau, semua itu termasuk ayat (tanda kenabian) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Lebih Banyak dan Lebih Menakjubkan dari Mukjizat Nabi Sebelumnya

Jika dibandingkan dengan mukjizat nabi-nabi sebelum beliau, kita dapatkan mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih banyak dan lebih menakjubkan. Nabi Isa ‘Alaihissalam menyembuhkan kebutaan—dengan izin Allah Subhanahu wata’ala—dengan cara mengusap mata dalam keadaan mata berada di tempatnya. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau menyembuhkan—dengan izin Allah Subhanahu wata’ala—mata yang telah keluar dari lubangnya. Beliau masukkan kembali pada tempatnya, seperti terjadi pada sahabat Qatadah radhiyallahu ‘anhu. Matanya tercongkel dalam Perang Uhud. Bola matanya keluar bersama urat-uratnya, menjulur ke wajah beserta darah yang mengalir, buta, diiringi sakit tiada tara. Keluarga Qatadah hampir saja memotong dan membuang mata Qatadah radhiyallahu ‘anhu yang buta, karena sakit semacam ini mustahil untuk disembuhkan.

Namun, sebelum hal itu dilakukan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar kabar apa yang akan dilakukan oleh keluarga Qatadah. Segera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Qatadah. Dengan telapak tangan beliau yang mulia, bola mata Qatadah didorong masuk ke dalam lubang mata kepalanya. Subhanallah! Seketika itu pula sembuh mata Qatadah seperti tidak pernah terluka. Sungguh, mukjizat yang sangat menakjubkan. Mahasuci Allah, mukjizat itu tidak mungkin dikalahkan atau dicapai oleh kehebatan ilmu kedokteran mana pun. Mukjizat ini lebih menakjubkan daripada mukjizat Nabi Isa ‘Alaihissalam. Kisah ini diriwayatkan Abu Ya’la al-Maushili dalam al-Musnad melalui jalan ‘Ashim bin Umar bin Qatadah dari bapaknya dari kakeknya. Al- Albani menguatkan hadits ini dengan syawahidnya dalam takhrij beliau terhadap risalah Bidayatus Sul fi Tafdhili ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam hlm. 42.

Muhammad bin Sa’ad dalam ath- Thabaqat juga meriwayatkan dari Zaid bin Aslam radhiyallahu ‘anhu, bahwa mata Qatadah bin an-Nu’man terluka sehingga biji matanya keluar sampai ke pipi.Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengembalikan mata itu hingga sembuh kembali. Ath-Thabarani dan Abu Nu’aim al- Ashbahani meriwayatkan dari Qatadah, ia berkata, “Pada waktu Perang Uhud, aku menjaga wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari serangan anak panah, tiba-tiba sebuah anak panah melesat mengenai biji mataku. Aku mengambilnya dengan tangan dan berusaha mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ketika beliau melihat apa yang ada di telapak tanganku, dua mata beliau berlinangan seraya bersabda, ‘Ya Allah, peliharalah mata Qatadah sebagaimana dia telah memelihara wajah nabinya dengan wajahnya. Jadikanlah kedua matanya lebih baik dan lebih elok serta tajam penglihatannya.’ Sembuhlah mata Qatadah, dan terkabullah doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allahu Akbar. Contoh lain, mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam. Nabi Musa ‘Alaihissalam memukulkan tongkat ke batu, air pun memancar deras dari 12 mata air. Allah Subhanahu wata’alaberfirman,

وَإِذِ اسْتَسْقَىٰ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِب بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ ۖ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۖ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ ۖ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِن رِّزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah darinya dua belas mata air. Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masingmasing) makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (al-Baqarah: 60)

Keluarnya mata air dari batu setelah dipukulkan tongkat sungguh menakjubkan. Namun, lebih menakjubkan lagi ketika air keluar dari sela-sela jari-jemari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jabir bin Abdillah z berkata, “Kehausan menimpa para sahabat pada Perang Hudaibiyah. Ketika itu di hadapan Nabi ada bejana (berisi air), beliau pun berwudhu. Manusia menghampiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan wajah-wajah yang tampak kesusahan dan kesedihan.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada apa dengan kalian?’ ‘Wahai Rasulullah, Kami tidak memiliki air untuk berwudhu, tidak pula untuk minum selain air yang ada di hadapanmu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu meletakkan tangan beliau ke dalam bejana, seketika itu air memancar deras dari sela-sela jari jemari beliau seperti mata air, kami segera minum dan berwudhu dengan air itu.” Jabir ditanya, “Berapa jumlah sahabat ketika itu?” Jabir menjawab, “Seandainya jumlah kami seratus ribu, niscaya air itu mencukupi kami. Ketika itu jumlah kami seribu lima ratus orang.” (HR. al-Bukhari)

Dua Jenis Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak dan beragam itu mungkin dikelompokkan dalam dua bagian.

1. Mukjizat-mukjizat yang terjadi semasa hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berakhir dengan wafatnya beliau.

Contohnya, keluarnya air dari jarijemari beliau yang mulia, bertambahnya makanan dari sedikit menjadi banyak.

2. Mukjizat-mukjizat yang terus berlangsung setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga hari kiamat.

Contohnya, berita-berita gaib, kejadian-kejadian sepeninggal beliau, yang beliau kabarkan berdasarkan wahyu Allah Subhanahu wata’ala kemudian terjadi sesuai dengan apa yang beliau kabarkan. Termasuk mukjizat yang kekal adalah al-Qur’an al-Karim.

Dengan memohon pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, akan kita kaji beberapa mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tentu sangatlah sedikit jika dibanding dengan samudra mukjizat beliau yang luas dan dalam. Kita nukilkan dari kitab-kitab hadits, kitab dalail an-nubuwah, dan kitab-kitab dan sirah nabawiyah.

 Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Berupa Berita- Berita Gaib

Sebelumnya perlu diingat, Allah Subhanahu wata’ala sajalah yang mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala menyingkap sebagian tabir gaib kepada nabi dan rasul sebagai bukti kebenaran dakwah mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu kecuali kepada rasul yang diridhai- Nya. Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُونَ، أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحَقٌّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ؛ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا عَزَّ وَجَلَّ، وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ، وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي شَجَرَةٌ تُعْضَدُ

“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar, langit-langit bergoncang, dan pantas jika langitlangit bergoncang. Tidak ada ruang lebih dari empat jari di langit kecuali ada malaikat yang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah Subhanahu wata’ala. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis, serta kalian juga akan sedikit bermesraan dengan istri-istri di atas ranjang. Sungguh, kalian pasti akan keluar ke jalan-jalan untuk meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berteriak-teriak. Aku berharap kalaulah aku hanya sebuah pohon yang terpotong.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu ‘anhu)

Di antara berita gaib, ketika Perang Badr, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada para sahabat tentang beberapa pembesar pasukan kafir Quraisy yang akan menemui ajalnya di Badr, bahkan beliau tunjukkan tempat-tempat kematian mereka. Apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi. Nama-nama para tokoh musyrikin Quraisy yang beliau sebut mati terhina di tempat-tempat yang beliau tunjukkan. Di antara berita gaib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhu wafat dalam keadaan syahid. Berita ini pun terwujud.

Al-Imam al-Bukhari rahimahumallah dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa suatu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke atas Gunung Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung bergoncang, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْكُنْ أُحُدُ، مَا عَلَيْكَ إِلا نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah, wahai Uhud, karena sungguh di atasmu ada seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid (yakni Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhu).”

Pada 23 H, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu meninggal syahid, dibunuh oleh Abu Lu’lu’ al-Majusi. Pada 35 H Utsman radhiyallahu ‘anhu juga terbunuh syahid dalam sebuah tragedi berdarah yang didalangi oleh Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengabarkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu terbunuh syahid, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَشْقَى الْأَوَّلِينَ عَاقِرُ النَّاقَةِ وَأَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَطْعَنُكَ يَا عَلِيُّ-وَأَشَارَ حَيْثُ يُطْعَنُ

“Orang yang paling binasa dari umat terdahulu adalah penyembelih unta (dari kaum Nabi Shalih ‘Alaihissalam), dan manusia paling celaka dari umat ini adalah orang yang membunuhmu wahai ‘Ali!” seraya menunjuk letak tikaman di tubuh Ali radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqatul Kubra (35/3) dengan sanad mursal, tetapi memiliki syawahid (penguat-penguat) dari hadits lain. (Lihat ash-Shahihah 78/3 no 1088)

Di antara berita gaib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan wafatnya para panglima perang muslimin dalam Perang Mu’tah. Pada Jumadal Ula tahun kedelapan Hijriah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus tiga ribu tentara Islam menuju Syam. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuk Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin pasukan. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ قُتِلَ زَيْدٌ فَجَعْفَرٌ، فَإِنْ قُتِلَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Jika Zaid terbunuh, penggantinya adalah Ja’far. Jika Ja’far terbunuh, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.” (HR. al-Bukhari [16/98] no. 4261)

Ibnu Sa’d rahimahumallah dalam ath-Thabaqat al-Kubra menambahkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Apabila Abdullah terbunuh, hendaknya kaum muslimin memilih salah seorang mereka sebagai penggantinya.” (ath-Thabaqat [2/128] namun sanadnya mu’allaq)

Subhanallah, nama-nama panglima perang Rasul meninggal sesuai urutan yang beliau sebutkan, Zaid bin Haritsah, Ja’far, kemudian Abdullah bin Rawahah. Setelah itu Khalid bin al-Walid  memimpin pasukan dan melanjutkan pertempuran. Di antara saksi hidup Perang Mu’tah adalah Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata tentang wafatnya Ja’far,

فَكُنْتُ مَعَهُمْ فِي تِلْكَ الْغَزْوَةِ، فَالْتَمَسْنَا جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ فَوَجَدْنَا بِمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ بِضْعًا وَتِسْعِينَ مَا بَيْنَ رَمْيَةٍ وَطَعْنَةٍ

“Ketika itu aku bersama mereka dalam Perang Mu’tah. Kami mencari Ja’far bin Abi Thalib. Kami mendapati di bagian depan jasadnya ada sembilan puluh sekian luka bekas anak panah atau tikaman.”

Di antara berita gaib adalah berita angin topan yang beliau kabarkan dalam Perang Tabuk, perang terakhir yang beliau ikuti. Mukjizat ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Sahabat Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Perang Tabuk. Dengan mengharap ridha-Nya, sahara kami lalui. Dalam perjalanan itu, kami pun tiba di Wadi al- Qura dan singgah di sebuah perkebunan kurma milik seorang wanita. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, Coba kalian taksir (berapa kirakira kebun ini menghasilkan panennya)!’ Kita pun mengira-ira berapa kurma yang dihasilkan dari kebun itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menaksirnya sebanyak sepuluh wasaq. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Wahai pemilik kebun, hitunglah hasil kebunmu, sampai nanti kita kembali kepadamu insya Allah.’

Tentara – tentara Allah Subhanahu wata’ala kembali melanjutkan perjalanan. Kami meninggalkan Wadi al-Qura. Setiba di Tabuk, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Angin besar akan menimpa kalian malam ini. Maka dari itu, jangan sekali-kali salah seorang dari kalian berdiri. Siapa yang memiliki unta hendaknya dia ikat erat-erat untanya.” Kabar Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi, angin yang sangat besar menerpa. Semua yang mengiringi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Perang Tabuk menyaksikan kebenaran berita beliau, sebagai mukjizat dari Allah Subhanahu wata’ala. Badai angin datang mengempaskan apa saja yang dilaluinya. Saat angin bertiup kencang, seorang laki-laki berdiri. Angin pun mengempas dan membawanya hingga terlempar di Gunung Thayyi….

Itulah sebagian kejadian di Tabuk. Waktu berlalu hingga datanglah saat kembali ke Madinah. Seperti dijanjikan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali singgah di Wadi al-Qura, di kebun wanita tempat dahulu mereka singgah. Rasulullah n bertanya pada wanita pemilik kebun, “Berapa kurma-kurma yang dihasilkan dari kebunmu?” Wanita itu berkata, “Sepuluh wasaq.”—sesuai taksiran Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Thaibah. Di antara berita gaib, saat sakit menjelang Rasulullah n wafat, beliau mengabarkan kepada Fathimah bahwa sakit yang beliau derita berakhir dengan wafatnya beliau. Beliau kabarkan pula kepada Fathimah bahwa dialah orang pertama dari keluarga Rasulullah n yang akan menyusul beliau. Kabar itu pun terjadi.

Di waktu dhuha saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sakit, beliau memanggil Fathimah radhiyallahu ‘anha dan membisikkan sesuatu kepada sang putri. Tiba-tiba Fathimah radhiyallahu ‘anha menangis berlinangan air mata. Lalu beliau membisikkan sesuatu lagi, tibatiba Fathimah radhiyallahu ‘anha tertawa. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Fathimah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang apa yang dibisikkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang membuat Fathimah menangis dan tertawa. Fathimah menjawab,

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepadaku bahwa beliau akan wafat karena sakit beliau, aku pun menangis mendengarnya. Lalu beliau membisikkan bahwa aku adalah keluarga beliau yang pertama segera menyusul mengikuti beliau, aku pun tertawa.” ( HR. al- Bukhari no. 4433, 4434 dan Muslim [4/1904 no. 2450])

Dalam sebagian riwayat, yang menyebabkan Fathimah radhiyallahu ‘anha tertawa adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Fathimah, tidakkah engkau ridha engkau menjadi pemuka wanitawanita kaum mukminin, pemuka wanitawanita umat ini….” (HR. al-Bukhari no. 3623 dan Muslim [4/1905 no. 2450])

Berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar terjadi, beliau wafat. Kurang lebih enam bulan sepeninggal beliau, Fathimah radhiyallahu ‘anhu menyusul, meraih janji surga yang telah dikabarkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Enam berita gaib di atas telah terjadi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan banyak hal gaib yang sampai saat ini belum terjadi dan pasti akan terjadi. Di antara berita tersebut adalah pertempuran akhir zaman antara kaum muslimin dan Yahudi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُالْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ : يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ. إِ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi, membunuhi mereka. Sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon berkata, ‘Wahai muslim, wahai Abdullah, Yahudi ada di belakangku. Kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.”

Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Berupa Penjagaan Allah Subhanahu wata’ala atas Beliau

Bukan hal yang asing bagi seluruh manusia, baik kaum mukminin maupun orang-orang kafir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memulai dakwah di kota Makkah saat tidak ada seorang pun beriman kepada beliau. Penentangan kaumnya bahkan muncul dari kerabat dekat beliau, seperti Abu Lahab. Berbagai makar dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk memadamkan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, beberapa kali mereka berupaya membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perencanaan yang sangat matang. Kita tidak lupa upaya Quraisy membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang hijrah, tidak lupa pula upaya bani Nadhir membunuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berkunjung, termasuk upaya Yahudi meracuni beliau seusai Perang Khaibar.

Adakah makar mereka yang mampu memadamkan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhasil? Tidak ada satu makar pun berhasil menimpa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak pula makar mereka memudaratkan dakwah Islam…. Cukuplah semua ini sebagai bukti atau mukjizat yang menunjukkan kebenaran dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berupa penjagaan Allah Subhanahu wata’ala ini ditunjukkan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (al-Maidah: 67)

Tentang turunnya ayat ini, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,

سَهَرَ رَسُولُ اللهِ رَسُولَ اللهِ، ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُلْتُ: يَا  مَا شَأْنُكَ؟ قَالَ: أَ رَجُلٌ صَالِحٌ يَحْرُسُنَا اللَّيْلَةَ؟ فَقَالَتْ: بَيْنَمَا نَحْنُ فِي ذَلِكَ قَالَ   سَمِعْتُ صَوْتَ السِّلاَحِ، فَقَالَ: مَنْ هَذَا؟ سَعْدٌ وَحُذَيْفَةُ، جِئْنَا نَحْرُسُكَ. فَنَامَ رَسُولُ اللهِ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ، وَنَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ,فَأَخْرَجَ رَسُولُ اللهِ رَأْسَهُ مِنْ قُبَّةِ أُدْمٍ، وَقَالَ:  انْصَرِفُوا يَا أَيُّهَا النَّاسُ فَقَدْ عَصَمَنِيَ اللَّهُ

Suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur hingga larut. Berkatalah Aisyah, “Wahai Rasulullah, apa yang terjadi kepadamu?” Beliau menjawab, “Adakah seorang lelaki saleh menjaga kita malam ini?” Tiba-tiba kami mendengar suara senjata (mendekat). Rasulullah bertanya, “Siapa itu?” “Sa’d dan Hudzaifah, kami datang untuk menjagamu.” Tidurlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga aku mendengar beliau mendengkur. Kemudian turunlah ayat ini. Seketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan kepala beliau dari tenda yang terbuat dari kulit dan bersabda, “Pulanglah kalian, wahai manusia, sungguh Allah Subhanahu wata’ala menjagaku.”

Mukjizat Berupa Doa-Doa yang Terkabulkan

Inilah salah satu tanda kenabian, mukjizat yang disaksikan kaum mukminin, bahkan musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala. Doadoa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkabul. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Kekeringan pernah melanda di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu saat, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah di hari Jumat, datang seorang Arab gunung dari arah yang menghadap mimbar, dari pintu yang menghadap ke arah Darul Qadha (rumah pelunasan).”

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda binasa, keluarga kelaparan, kuda-kuda, kambing-kambing, ternakternak binasa, jalan-jalan pun terputus, berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk kami agar Dia menurunkan hujan.” (Anas radhiyallahu ‘anhu berkata), “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangan beliau berdoa, hingga saya bisa melihat putih ketiaknya,

اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اللَّهُمَّ أَغِثْنَا

‘Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.’

Orang-orang pun mengangkat tangan mereka, berdoa bersama beliau’.” “Demi Allah, kami sama sekali tidak melihat segumpal awan pun di langit, tidak pula pelangi. Sungguh, langit ketika itu bersih seperti kaca.” Anas berkata, “Lalu dari balik Gungung Sala’ muncul awan seperti perisai. Ketika sampai ke tengah-tengah langit, awan itu menyebar, kemudian turun hujan. Demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, belum lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menurunkan kedua tangannya—saat berdoa—datanglah awan berbondong seperti gunung. Tidaklah beliau turun dari mimbar kecuali hujan telah turun dengan lebat hingga air hujan berjatuhan dari jenggot Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Dalam satu riwayat: … lalu kami keluar, berjalan dalam genangan air hingga kami tiba di rumah (karena begitu lebatnya hujan). Hampir-hampir seseorang tidak dapat sampai ke rumahnya.” (Kota Madinah) dituruni hujan di hari itu, esoknya, esok lusa, dan hari-hari selanjutnya sampai hari Jumat berikutnya tanpa henti. Jalan-jalan kota Madinah pun penuh air.”

Anas radhiyallahu ‘anhu selanjutnya berkata, “Demi Allah, kami tidak melihat matahari selama enam hari.” Jumat berikutnya, seorang badui yang dahulu atau badui lainnya datang ke masjid dari pintu yang sama. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga sedang berkhutbah. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, rumahrumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak binasa, para musafir tidak dapat bepergian, jalan-jalan terhalang, harta benda pun tenggelam. Berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar menahan hujan itu untuk kami.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum, kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, ‘Ya Allah, (hujanilah) sekeliling kami, namun jangan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas puncak-puncak gunung dan dataran tinggi, di perut-perut lembah dan tempattempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan.’

Tidaklah beliau menunjukkan kedua tangan beliau ke suatu awan kecuali awan tersebut terbelah seperti lubang bulat yang luas, terbelah seperti terbelahnya kain.” Anas berkata, “Saya lihat awan menyingkir di sekitar Madinah ke kanan dan ke kiri seperti kumpulan kambing. Turunlah hujan di sekeliling kami, tetapi tidak diturunkan sedikit pun di dalam kota Madinah. Akhirnya, kami dapat keluar dan berjalan di bawah sinar matahari.” Allah Subhanahu wata’ala menampakkan kepada manusia mukjizat Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengabulkan doanya. Lembah Qanah mengalir selama sebulan. Tidak ada seorang pun dari suatu daerah kecuali ia menceritakan hujan lebat (di kota Madinah tahun itu.)

Pohon Kurma Berbuah Seketika

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sewaktu ayahku meninggal, ia masih mempunyai utang yang banyak. Kemudian, aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melaporkan kepada beliau mengenai utang ayahku. Aku berkata kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, ayahku telah meninggalkan banyak utang. Aku sendiri sudah tidak mempunyai apa-apa lagi selain yang keluar dari pohon kurma. Akan tetapi, pohon kurma itu sudah dua tahun tidak berbuah.’ Hal ini sengaja aku sampaikan kepada Rasulullah agar orang yang memiliki piutang tersebut tidak berbuat buruk kepadaku.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajakku pergi ke kebun kurma. Sesampainya di sana beliau mengitari pohon kurmaku yang dilanjutkan dengan berdoa. Setelah itu beliau duduk seraya berkata kepadaku, ‘Ambillah buahnya.’ Mendengar perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut, aku langsung memanjat pohon kurma untuk memetik buahnya yang tiba-tiba berbuah. Buah kurma itu kupetik sampai cukup jumlahnya untuk menutupi utang ayahku, bahkan lebih.” (HR. al-Bukhari juz 4 no. 780)

Kambing Muda Mengeluarkan Air Susu

Inilah kisah masuk Islamnya Abdullah bin Mas’ud al-Hudzali radhiyallahu ‘anhu. Beliau menyaksikan sebuah mukjizat. Berikut ini kisah beliau. Ketika itu aku masih muda belia. Aku sedang menggembalakan kambingkambing milik ‘Uqbah bin Abi Mu’aith di Makkah. Ketika itu datang kepadaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Keduanya menghindar dari kaum musyrikin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai anak muda, adakah susu segar untuk kami minum?” Aku menjawab, “Aku orang yang mendapatkan amanat. Aku tidak mungkin memberi minum kamu berdua.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bersabda, “Adakah di antara kambing-kambing ini jadza’ah, yang belum dikawini pejantan?” Aku katakan, “Ya, ada.” Aku pun membawa kambing betina yang dimaksud. Abu Bakr memeganginya sementara Rasulullah n memegang perut kambing dan berdoa. Tiba-tiba besarlah kantung susu kambing tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerahnya dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menampung susu pada sebuah piring batu. Beliau pun minum, disusul oleh Abu Bakr. Keduanya lalu memberiku minum susu segar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kantung susu, “Kempislah!” Kembalilah ia seperti semula. Beberapa waktu kemudian aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku meminta kepada beliau, ‘Ajarilah aku bacaan yang indah itu—yakni al-Qur’an.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh, engkau orang yang terpelajar.’ Aku pun mengambil dari mulut beliau tujuh puluh surat….” (HR. Ahmad dan Abu Dawud ath-Thayalisi)

Mukjizat Berupa Makanan dan Minuman yang Bertambah Banyak

Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuberkata, “Semasa parit Khandaq digali, aku melihat Rasulullah n dalam keadaan sangat lapar—bahkan disebutkan dalam riwayat, beliau mengganjal perut beliau dengan batu. Aku segera kembali ke rumahku dan bertanya kepada istriku, ‘Apakah engkau memiliki sesuatu untuk disuguhkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat lapar.’ Istriku mengeluarkan sebuah wadah yang berisi satu cupak gandum. Kami juga mempunyai seekor anak kambing dan beberapa ekor ayam. Aku lalu menyembelihnya, sementara istriku menumbuk gandum. Kami sama-sama selesai, kemudian aku memotong-motong anak kambing itu dan memasukkannya ke dalam kuali.

Setelah dirasa cukup, aku bersiap pergi memberi tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Istriku berpesan, ‘Jangan engkau permalukan aku di hadapan Rasulullah dan orangorang yang bersamanya.’ Aku menghampiri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbisik kepadanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah menyembelih anak kambing kami. Istriku juga telah menumbuk satu cupak gandum yang ada pada kami. Karena itu, kami menjemput Anda dan beberapa orang bersamamu.’ Demikian Jabir berbisik. Undangan hanya tertuju untuk Rasulullah n dan beberapa sahabat, mengingat sedikitnya makanan yang dipersiapkan. Tiba-tiba—di luar dugaan Jabir— RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallamn berseru, ‘Wahai penggali Khandaq! Jabir telah membuat makanan untuk kalian.

Kalian semua dipersilakan ke rumahnya.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata kepadaku, ‘Jangan engkau turunkan kualimu dan jangan engkau buat roti adonanmu sebelum aku datang.’ Aku pun datang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendahului orang lain. Aku menemui istriku. Dia marah kepadaku dan berkata, ‘Ini semua karenamu.’ Aku berkata, ‘Aku telah sampaikan semua pesanmu itu.’ Istriku mengeluarkan adonan roti tersebut, Rasulullah n meludahinya dan mendoakan keberkahannya.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju ke kuali kami lalu meludahinya dan mendoakan keberkahannya. Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sekarang panggillah pembuat roti untuk membantumu dan cedoklah dari kualimu, tetapi jangan engkau turunkan.’ Ternyata kaum muslimin yang datang sebanyak seribu orang. Aku bersumpah, demi Allah, mereka semua dapat memakannya hingga kenyang dan pulang. Sementara itu, kuali kami masih mendidih seperti sediakala. Demikian juga adonan roti itu masih tetap seperti asalnya.” (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kitab Minuman)

Menyembuhkan Penyakit dengan Izin Allah Subhanahu wata’ala

Telah kita lalui kisah mata Qatadah bin an-Nu’man radhiyallahu ‘anhu yang tercongkel di Perang Uhud. Allah Subhanahu wata’ala menyembuhkan matanya dengan mukjizat yang DiaS ubhanahu wata’ala tampakkan bagi Rasul dan kekasih- Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Bukhari meriwayatkan dari Yazid bin Abu Ubaid, ia berkata, “Aku melihat bekas luka tersayat di betis Salamah bin al-Akwa.” Aku bertanya, “Luka apa ini?” “Aku terluka pada Perang Khaibar,” jawabnya. Selanjutnya ia pergi kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu meniup luka tiga kali tiupan dan aku tidak lagi merasakan sakit. Di antara penyakit yang sembuh melalui mukjizat yang Allah Subhanahu wata’ala tampakkan kepada Rasul dan Kekasih-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah luka bakar yang menimpa sahabat kecil, Muhammad bin Hathib radhiyallahu ‘anhu. Al-Imam adz-Dzahabi rahimahumallah meriwayatkan dalam Siyar A’lamun Nubala, dari Simak bin Harb dari Muhammad bin Hathib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

تَنَاوَلْتُ قِدْرًا، فَاحْتَرَقَتْ يَدِي ، فَانْطَلَقَتْ بِي أُمِّي إِلَى رَجُلٍ جَالِسٍ، فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُول اللهِ، وَأَدْنَتْنِي مِنْهُ، فَجَعَلَ يَنْفُثُ، وَيَتَكَلَّمُ بِكَ مَالٍ أَدْرِي مَا هُوَ، فَسَأَلْتُ أُمِّي بَعْدَ ذَلِكَ مَا كَانَ يَقُولُ. قَالَتْ: كَانَ يَقُولُ: أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ

Pernah aku mengambil periuk hingga terbakarlah tanganku. (Aku teringat), ibuku kemudian membawaku kepada seorang yang sedang duduk. Ibu berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah,” dan mendekatkanku kepada beliau. Lalu beliau meniup lukaku dengan mengucapkan kalimat yang aku tidak tahu (saat itu). Aku lalu bertanya pada ibu, apa yang dahulu Rasulullah n baca? Ibuku menjawab, “Dahulu beliau membaca,

أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لاَ شَافِيَ إِلاَّ أَنْتَ

‘Jauhkan (hilangkanlah) lah penyakit ini, wahai Rabb sekalian manusia, sembuhkanlah karena Engkaulah yang mampu menyembuhkan, tidak ada yang menyembuhkan kecuali Engkau’.”

Dalam riwayat an-Nasai, Muhammad bin Hathib berkata, “Aku pun menjadi sehat, tidak merasakan apa-apa.” (HR. an-Nasai)

Kisah lain diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, al-Baihaqi, ath- Thabarani, dan Abu Nuaim dari jalan Sulaiman bin Amru bin al-Ash, dari ibunya, ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu Jamrah Aqabah. Beliau melempar batu dan orang-orang pun melakukannya. Setelah selesai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kembali, tiba-tiba ada seorang perempuan membawa anaknya yang bisu datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini anakku yang sedang mendapat bala. Ia tidak bisa berbicara.’ Baginda n meminta sebuah bejana yang dibuat dari batu yang berisi air. Setelah itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memegangnya, meludahinya, dan berdoa. Beliau ulangi sekali lagi dan menyuruh agar air itu diminumkan kepada anak perempuan itu. Akhirnya anak itu sembuh, malah menjadi lebih baik daripada yang lainnya.”

Hewan dan Pepohonan Memberikan Persaksian Kerasulan

Suatu hari seorang penggembala Yahudi menggembalakan kambingkambingnya. Di tengah kesibukannya, datang serigala memangsa seekor kambing. Penggembala mengejar serigala hingga berhasil merebut kambing yang dimangsanya. Setelah gagal memangsa, sang serigala duduk di atas ekornya. Sambil menatap penggembala, tiba-tiba ia berkata seperti layaknya manusia, “Wahai penggembala, tidakkah kamu takut kepada Allah Subhanahu wata’ala? Kamu telah merebut rezekiku yang Allah Subhanahu wata’ala berikan untukku?” Penggembala berkata, “Menakjubkan, serigala berbicara seperti manusia!”

Sang serigala berkata, “Maukah kukabarkan kepadamu yang lebih menakjubkan dari ini? Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tinggal di Yatsrib (Madinah), ia mengabarkan kepada manusia beritaberita (gaib) dari umat-umat terdahulu.” Sambil menggiring kambingkambingnya, bergegas sang penggembala menuju Madinah untuk bersua dengan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang dikabarkan oleh serigala. Setibanya di Madinah ia ceritakan semua kejadian kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Waktu itu para sahabat tengah berkumpul. Mendengar cerita penggembala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun membenarkannya lalu bersabda, “Ini adalah tanda dari tanda-tanda kiamat….”

Kisah menakjubkan ini diceritakan Abu Sa’id al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Hadits Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan Ahmad dalam al-Musnad (3/83—84).

Ibnu Katsir rahimahumallah berkata, “Sanad hadits ini sesuai dengan syarat al- Imam Muslim rahimahumallah dan al-Baihaqi rahimahumallah menyatakannya sahih.” Sanadnya juga dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/241—242 no. 122). Adapun hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam Musnad Imam Ahmad (no. 8049 dengan tahqiq beliau).

Allah Mahakuasa menjadikan hewan berbicara, sebagaimana halnya Mahakuasa menjadikan kita semua berbicara. Di hari kiamat, kulit-kulit manusia akan berbicara sebagai saksi atas perbuatan mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدتُّمْ عَلَيْنَا ۖ قَالُوا أَنطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ () وَمَا كُنتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَن يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِّمَّا تَعْمَلُونَ

Mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (al- Fushshilat: 21—22)

Demikianlah persaksian seekor serigala. Adapun persaksian pepohonan ada beberapa kejadian, di antaranya sebagai berikut.

Suatu saat seorang Arab badui mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Hai orang Arab dusun, engkau akan pergi ke mana?” Dia menjawab, “Pulang ke rumah.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau ingin kebaikan?” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Kebaikan apa?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan aku adalah Rasul-Nya.” Orang Arab dusun tersebut berkata, “Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pohon ini.” Beliau bersabda begitu sambil menunjuk ke arah salah satu pohon di tepi lembah. Kemudian pohon tersebut berjalan hingga berdiri di depan beliau.

Beliau meminta pohon tersebut bersaksi hingga tiga kali, dan pohon tersebut pun bersaksi seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dikisahkan pula oleh Ibnu Abbas bahwa seorang Arab Badui datang kepada Muhammad dan berkata, “Bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau seorang nabi?” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Dengan kesaksian pohon kurma itu bahwa saya adalah Rasul Allah.” Sang Badui menyetujuinya. Rasul kemudian memanggil pohon kurma itu, spontan pohon itu bergerak menghampiri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu merunduk di hadapannya. Setelah itu, Rasul menyuruh pohon tersebut untuk kembali lalu ia pun kembali ke tempatnya. Si Arab Badui memeluk Islam saat itu, di tempat itu juga. Demikian diriwayatkan oleh at-Tirmidzi.

Mukjizat Dibelahnya Dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dibelahnya dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terjadi di masa kecil beliau dan setelah beliau diangkat menjadi rasul. Apa yang dikisahkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim terjadi ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berusia sekitar empat tahun. Saat itu beliau berada di perkampungan bani Sa’d ketika masa susuan kepada Halimah as-Sa’diyah. Peristiwa ini menjadi sebab beliau dikembalikan kepada Aminah. Peristiwa pembelahan dada beliau terulang kembali 50 tahun kemudian saat beliau di-isra’-kan, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang sahih.

Beberapa berita tentang mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah kita lalui. Kewajiban kita adalah meyakini berita-berita yang sahih tentang mukjizat walaupun segala kejadian tersebut menyelisihi kebiasaan hukum alam yang berlaku. Termasuk mukjizat terakhir yang baru kita baca, dibelahnya dada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah berkata, “Semua berita tentang dibelahnya dada dan dikeluarkannya jantung serta berita-berita (mukjizat lain) yang menakjubkan dan di luar kebiasaan, wajib kita terima (yakini) tanpa mencoba-coba (mengingkarinya) dengan memalingkannya dari hakikatnya. (Kita wajib mengimaninya) karena semua itu mungkin dan tidak mustahil di hadapan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Al-Qur’an, Bukti Abadi Kenabian

Sebagai penutup para nabi, Allah Subhanahu wata’ala menguatkan dakwah beliau dengan berbagai mukjizat dan bukti-bukti kenabian. Sebagian bukti kenabian berupa mukjizat telah kita baca bersama. Sebagai penyempurna pembahasan, mari kita menyelami mukjizat terbesar dan bukti teragung dari kenabian beliau. Al- Qur’an, itulah mukjizat yang kekal hingga hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الْآيَاتِ مَا مِثْلُهُ آمَنَ عِلَيْهِ الْبَشَرُ. وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوْتِيْتُ وَحْيًا أَوْحَى اللهُ إِلَيَّ. فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak ada seorang nabi pun, kecuali diberi bukti-bukti (mukjizat) yang dengan semisal itu manusia beriman, dan (di antara bukti kenabian/mukjizat yang aku dianugerahi adalah wahyu yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepadaku, dan aku berharap menjadi nabi yang terbanyak pengikutnya di hari kiamat.” (HR. Muslim no. 152 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hadits ini menegaskan bahwa wahyu yang diturunan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada beliau adalah bukti kebenaran dakwah. Banyak sisi kemukjizatan al-Qur’an, bahkan seluruh ayat al-Qur’an adalah bukti kebenaran dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qur’an, Kitab Hidayah Al-Qur’an adalah jalan yang terang, petunjuk Allah Subhanahu wata’ala yang membimbing manusia di atas hidayah. Inilah sesungguhnya sisi terbesar dari keagungan al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab hidayah.

Ia menunjukkan manusia ke jalan kebenaran, membedakan antara yang haq dan yang batil, menjelaskan jalan ahlul jannah dan jalan-jalan kesesatan. Melalui ayat-ayat al-Qur’an, hamba mengenal Allah Subhanahu wata’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya. Melalui ayat-ayat al- Qur’an jugalah hamba mengenal segala jalan yang mengantarkan ke jannah (surga) dan menyelamatkan dari neraka.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra’: 9)

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ () قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik.” (al-Kahfi: 1—2)

Al-Qur’an Terpelihara Keotentikannya

Di antara sisi kemukjizatan al- Qur’an, ia adalah kitab yang senantiasa terjaga keasliannya. Tidak ada satu huruf, bahkan satu harakat pun, yang berubah dari apa yang Allah Subhanahu wata’ala turunkan kepada Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Betapa lemahnya manusia di hadapan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Seribu empat ratus tiga puluh tiga tahun sejak hijrah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak ada seorang kafir pun mampu mengubahnya walaupun satu harakat, padahal orang kafir demikian banyak, bahkan tidak sedikit dari mereka yang jenius. Mereka juga sangat bersemangat memerangi Islam… Manakah kemampuan mereka di hadapan kekuasaan penjagaan Allah Subhanahu wata’ala? Allah Subhanahu wata’ala berjanji dalam sebuah ayat,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

Wahai manusia yang masih meragukan kebenaran dakwah Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika kalian mau merenungkan satu sisi ini saja, sudah seharusnya kalian segera memeluk Islam, agama para nabi dan rasul.

Tantangan Kepada Seluruh Manusia dan Jin untuk Mendatangkan yang Serupa dengan al-Qur’an

Di antara sisi kemukjizatan al- Qur’an, tidak ada seorang pun, bahkan gabungan seluruh manusia dan jin, yang mampu membuat yang semisal dengan al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala memberikan tantangan kepada seluruh jin dan manusia untuk mendatangkan yang serupa dengan al- Qur’an secara utuh, atau beberapa surat, atau satu surat, jika mereka mampu. Tahapan tantangan Allah Subhanahu wata’ala kepada manusia dan jin untuk mendatangkan yang serupa dengan kalam-Nya tersebut dalam beberapa ayat berikut.

1. Allah Subhanahu wata’ala menantang jin dan manusia untuk membuat yang seperti al-Qur’an.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ يَقُولُونَ تَقَوَّلَهُ ۚ بَل لَّا يُؤْمِنُونَ () فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِّثْلِهِ إِن كَانُوا صَادِقِينَ

Ataukah mereka mengatakan, “Dia (Muhammad) membuat-buatnya.” Sebenarnya mereka tidak beriman. Hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. (ath-Thur: 33—34)

2. Allah Subhanahu wata’ala meringankan tantangan-Nya, jika tidak mampu mendatangkan semisal al-Qur’an, datangkanlah yang menandinginya beberapa surat saja.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Bahkan, mereka mengatakan, “Muhammad telah membuat-buat al-Qur’an itu.” Katakanlah, “(Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Hud: 13)

3. Allah Subhanahu wata’ala menantang yang ketiga kalinya, yang lebih ringan dari sebelumnya.

Dengan hanya membuat satu surat saja. Hal ini tertera dalam firman-Nya,

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللَّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapasiapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Yunus: 38)

Tantangan Allah Subhanahu wata’ala kepada seluruh manusia dan jin telah berlalu 14 abad. Adakah yang mampu mendatangkan yang semisal dengan al-Qur’an?

Terbongkarnya Semua Upaya Pemalsuan dan Tandingan Al-Qur’an

Upaya pemalsuan dan usaha menandingi al-Qur’an sebenarnya sudah ada sejak awal Islam. Makar yang ditujukan kepada al-Qur’an mungkin akan berlanjut dari generasi ke generasi, namun semua makar tersebut terbongkar dan menemui kegagalan. Musailamah al-Kadzdzab, sosok nabi palsu yang muncul di akhir hayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kebusukan kalbunya, ingin menandingi Rasulullah Subhanahu wata’ala dengan mengaku dirinya sebagai nabi. Diriwayatkan, Musailamah al- Kadzdzab berjumpa dengan ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu.

Musailamah bertanya, “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Makkah itu?” ‘Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang sangat ringkas, namun sangat luas maknanya.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat al-‘Ashr dibacakan oleh ‘Amr bin Ash. Musailamah merenung sejenak, ia berkata, “Kepadaku juga turun surat persisi seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab, “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunani wa shadr. Wa sairuka hafrun naqr. (Hai marmut, hai marmut. Engkau hanyalah dua daun telinga dan dada. Adapun selebihnya adalah hina dan berpenyakit.)”

Mendengar itu ‘Amr bin Ash, yang saat itu masih kafir, tertawa terbahakbahak, “Demi Allah, engkau tahu bahwa aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan itu adalah dusta.” Makar serupa juga diupayakan kaum Syiah Rafidhah. Mereka mengubah-ubah ayat. Mereka tambahi dan kurangi sesuai dengan kebutuhan agama mereka. Namun, seluruh ulama bangkit memperingatkan kekafiran Rafidhah ini. Di era modern, upaya pemalsuan al-Qur’an rupa-rupanya masih terus dilakukan oleh kaum kafir, seperti pembuatan al-Qur’an palsu pada tahun 2009 yang dilakukan oleh Penerbit Amerika, Omega 2001 dan One Press dengan judul “Furqanul Haq” dalam huruf Arab dan “True Furqan” dalam huruf Latin. Semua usaha di atas gagal. Justru semua kejadian itu semakin membuktikan bahwa al-Qur’an tidak tertandingi.Semua kejadian itu semakin menambah keimanan kaum muslimin terhadap janji Allah Subhanahu wata’ala.

Dihafalkan Banyak Manusia

Al-Qur’an dijaga oleh Allah Subhanahu wata’ala dari perubahan lafadz dan makna. Di antara bentuk penjagaan al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala memudahkan al-Qur’an untuk dihafalkan. Al-Qur’an adalah satu-satunya kitab suci yang dihafalkan oleh banyak manusia. Firman Allah Subhanahu wata’ala yang terdiri dari enam ribu sekian ayat dihafal oleh banyak kaum muslimin di seluruh belahan bumi dengan tepat, sampai huruf per huruf, bahkan panjang pendeknya bacaan. Kaum muslimin terus mempelajari dan menghafalkan al-Qur’an dari mulut ke mulut dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan malaikat Jibril, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Jangan Anda anggap penghafal al-Qur’an hanya orang-orang Arab. Yang sangat menakjubkan, al-Qur’an dihafalkan oleh orang yang sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Demi Allah, hal ini tidak mungkin terjadi pada kitabkitab lainnya. Bukan hanya orang dewasa yang menghafalkannya, bahkan al-Qur’an dihafalkan oleh anak-anak yang masih sangat belia sebelum masa balig mereka. Subhanallah, benarlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk diingat, apakah ada yang mau mengingatnya?” (al-Qamar: 17)

Banyak Fakta Ilmiah Disebutkan atau Diisyaratkan oleh Al-Qur’an

Banyak fakta ilmiah yang baru terbongkar pada era modern ini dan ternyata telah disebutkan oleh al-Qur’an, demikian pula oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua ini menunjukkan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah datang dari Allah Subhanahu wata’ala, dan ini pula salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an. Sebagai contoh, al-Qur’an al-Karim menggambarkan secara detail proses pembentukan embrio dengan sangat tepat, di saat teknologi masa itu sama sekali belum menjangkaunya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang  itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mukminun: 14)

Dipertegas oleh hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu jangka waktu setiap fase perkembangan embrio hingga jabang bayi memiliki ruh. Allahu Akbar! Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan, ‘Sesungguhnya setiap orang di antara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang malaikat kepadanya, lalu malaikat itu meniupkan ruh padanya….” (Muttafaqun ‘alaih)

Proses terjadinya hujan juga digambarkan secara detail oleh al- Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ

“Dialah Allah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai para hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (ar-Rum: 48)

Gaya Bahasa yang Sangat Tinggi

Sebagaimana telah berlalu pembahasannya, banyak mukjizat para nabi dan rasul sesuai dengan keadaan zaman nabi tersebut. Ketika sihir mendapatkan posisi di masa Musa, Allah Subhanahu wata’ala pun memberikan mukjizat untuk mengalahkan sihir. Pada masa jahiliah, syair mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam peradaban mereka. Syair di masa itu mencapai puncak-puncak kehebatan. Pada setiap musim haji, di pasar Ukaz sering diadakan perayaan sastra dan perlombaan membuat serta membaca syair. Makkah benar-benar menjadi pusat perdagangan dan kebudayaan kala itu. Karya-karya sastra terbaik dan monumental yang layak ditulis dengan tinta emas digantungkan di Ka’bah. Terkenallah Mu’allaqat as-Sab’ah, syair tujuh penyair terbaik yang digantungkan di Ka’bah. Syair ini dinamakan mu’allaqat karena indahnya syair-syair tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan di leher seorang wanita.

Dikatakan assab’ah karena sesuai dengan jumlah penyairnya yang tujuh, Umru’ul Qais, Zuhair, Tarfah, Antarah, Labid, Amru ibn Kultsum, dan al-Haris ibn Hilza. Ya, manusia saat itu memuja syair dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi. Maka dari itu salah satu bentuk rahmat Allah l dan hikmah-Nya yang mendalam, Dia Subhanahu wata’ala anugerahkan kepada Rasul-Nya bukti kenabian dan mukjizat yang mengagumkan, yaitu al-Qur’an yang turun dengan gaya bahasa yang tinggi dan tidak mampu ditandingi oleh siapa pun. Semua ahli sastra mengakui ketinggian bahasa al-Qur’an. Mereka pun mengakui kelemahan manusia untuk mendatangkan yang semisal dengan al-Qur’an. Mereka yakin sepenuhnya bahwa al-Qur’an bukan buatan manusia.

Allah Subhanahu wata’ala pun menakdirkan bahwa kekasih-Nya Rasulullah n adalah seorang ummi, tidak bisa membaca dan tidak menulis, sehingga semakin mengokohkan bahwa al-Qur’an bukan karya manusia. Keindahan dan kesempurnaan bahasa al-Qur’an benar-benar diakui, bukan hanya kaum muslimin, bahkan musuhmusuh Islam saat itu pun mengakuinya. Al-Walid bin Mughirah, seorang tokoh pembesar musyrikin Quraisy, berkata, “Demi Allah, ini bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula igauan orang gila. Sesungguhnya ia adalah Kalamullah yang memiliki kemanisan dan keindahan. Sesungguhnya ia (al-Qur’an) sangat tinggi (agung) dan tidak ada yang melebihinya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Al-Qur’an Mempunyai Pengaruh yang Kuat Terhadap Jiwa Manusia dan Jin

Salah satu sisi kemukjizatan al- Qur’an adalah memiliki pengaruh yang kuat terhadap jiwa manusia dan jin. Bahkan, seandainya al-Qur’an diturunkan kepada gunung, niscaya ia akan luluh lantak dan hancur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.” (al-Hasyr: 21)

Banyak riwayat di masa lalu atau berita-berita masa ini yang semuanya membuktikan betapa kuat pengaruh al-Qur’an pada jiwa manusia dan jin. Suatu hari di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Masjidil Haram. Saat itu kaum muslimin dan musyrikin sedang berkumpul. Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan surat an-Najm. Semuanya mendengarkan dengan saksama. Ketika sampai firman Allah Subhanahu wata’ala di akhir surat,

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا

“Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (an-Najm: 62)

Seluruh yang mendengarnya serempak bersujud pada Allah Subhanahu wata’ala. Tidak ada satu pun yang mampu menahan dirinya untuk tidak bersujud, muslim ataupun kafir. Begitu juga kisah Utbah bin Rabi’ah yang diutus oleh kaumnya untuk meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghentikan dakwahnya. Ketika dia berjumpa dengan Rasulullah dan kemudian beliau bacakan surat Fushshilat 1—5, tersentuhlah jiwanya. Ketika kembali ke kaumnya dia berkata, “(Berita) yang aku bawa, aku telah mendengar suatu perkataan yang— demi Allah—belum pernah sama sekali aku dengar semisalnya.

Demi Allah, ia bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula perkataan dukun.…” Riwayat lain yang menunjukkan betapa besar pengaruh al-Qur’an terhadap jiwa adalah kisah masuk Islamnya sahabat Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah tawanan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, di saat shalat maghrib beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat ath-Thur. Begitu mendengar bacaan kalamullah, hampir-hampir kalbu Jubair terbang. Itulah awal kali Islam masuk ke dalam relung kalbunya. Bukan hanya jiwa manusia, al- Qur’an juga memberikan pengaruh kepada jin, hingga mereka beriman dan mendakwahkan Islam kepada kaumnya. Kisah menakjubkan tentang alam jin diberitakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman- Nya,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ () قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ () يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitabkitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (al-Ahqaf: 29—31)

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا () يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ ۖ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Katakanlah (Wahai Nabi), “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorang pun dengan Rabb kami’.” (al-Jin: 1—2)

Bahkan, dengan penuh semangat, sekawanan jin meminta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri alam mereka untuk membacakan al-Qur’an. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu malam kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba kami kehilangan beliau. Kita pun segera mencari beliau di lembahlembah dan jalan-jalan di celah bukit. Kami berkata, ‘Jangan-jangan jin telah membawa beliau terbang atau beliau dibunuh dengan licik (oleh musyrikin Makkah). Sungguh, malam itu kami merasakan sejelek-jelek malam bagi suatu kaum. Di pagi hari kami dikejutkan dengan kedatangan beliau dari arah Harra’.

Kami berseru, “Wahai Rasulullah, kami kehilangan engkau. Kami cari engkau namun tidak ada hasil. Kami pun bermalam dalam keadaan yang paling menyedihkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seorang penyeru dari kalangan jin mendatangiku. Aku pergi bersamanya dan membacakan al-Qur’an kepada mereka.’ Beliau lalu mengajak kami dan menunjukkan bekas-bekas jin dan api mereka. (HR. Muslim, at-Tirmidzi, dan Ahmad)

Demikian hebat pengaruh al-Qur’an pada jiwa-jiwa jin dan manusia, namun kebanyakan manusia dan jin mencari jalan lain selain al-Qur’an, mengambil nyanyian dan alat musik sebagai penghibur jiwa. Demi Allah, bukan ketenangan yang diperoleh, justru kerugian dan kesempitan dadalah yang didapat.

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ () وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّىٰ مُسْتَكْبِرًا كَأَن لَّمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا ۖ فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri, seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (Luqman: 6—7)

Al-Qur’an, Obat Segala Penyakit

Ini sisi lain kemukjizatan al-Qur’an. Al-Qur’an adalah obat segala penyakit jasmani maupun rohani, penyakit jiwa atau badan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Isra’: 82)

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ

Dan jika Kami jadikan al-Qur’an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut al-Qur’an) dalam bahasa asing, sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah, “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar (obat) bagi orangorang yang beriman. (Fushshilat: 44)

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Al- Qur’an adalah obat yang sempurna dari seluruh penyakit kalbu dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat.… Jika seorang yang sakit terusmenerus berobat dengannya dan meletakkan (obat ini) pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kokoh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apa pun tidak mampu menghadapinya selamalamanya. Bagaimana mungkin penyakit mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi; yang jika diturunkan kepada gunung, ia akan menghancurkannya? … Jadi, tidak ada satu pun penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, kecuali dalam al-Qur’an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.” (Zadul Ma’ad, 4/287)

Sebuah kisah tentang pengobatan dengan al-Qur’an perlu kita renungkan sebagai bukti sekaligus contoh bahwa al-Qur’an bukan hanya obat penyakit kalbu berupa kekafiran, kemunafikan, hasad, riya, atau semisalnya, melainkan juga obat bagi penyakit jasmani. Al-Imam al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah meriwayatkan, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar menempuh suatu perjalanan. Singgahlah mereka di sebuah kampung dari kampung-kampung Arab. Mereka pun meminta agar dijamu sebagai tamu, namun penduduk kampung enggan menjamu mereka. Selang beberapa waktu, kepala kampung tersebut terkena sengatan hewan berbisa. Penduduk kampung telah berusaha mencari segala upaya penyembuhan, namun sedikit pun tak membuahkan hasil. Sebagian mereka berkata, ‘Sekiranya kalian mendatangi sekelompok orang itu (yaitu para sahabat), mungkin sebagian mereka ada yang memiliki sesuatu.’ Mereka pun mendatanginya, lalu berkata, ‘Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat hewan berbisa.

Kami telah mengupayakan segala sesuatu untuk pemimpin kami, namun belum ada hasilnya. Apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu (untuk mengobati pemimpin kami)?’ Sebagian sahabat menjawab, ‘Ya. Demi Allah, aku bisa meruqyah (pengobatan dengan cara bacaan)1. Namun, demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian namun kalian tidak menjamu kami. Aku tidak akan meruqyah untuk kalian hingga kalian memberikan upah kepada kami.’ Mereka pun setuju untuk memberi sekawanan kambing. Salah seorang sahabat pun meludahinya dan membacakan atas pemimpin kaum itu surat al-Fatihah. Pemimpin kampung tersebut pun merasa seolah-olah terlepas dari ikatan, lalu berjalan tanpa ada gangguan. Mereka lalu memberikan upah sebagaimana telah disepakati. (Selepas kambing-kambing upah diterima) sebagian sahabat berkata, “Bagilah!” Yang meruqyah berkata, “Jangan kalian lakukan hingga kita menghadap Rasulullah n lalu kita kabarkan apa yang telah terjadi kepada beliau. Kemudian kita tunggu apa yang beliau perintahkan kepada kita.” Mereka pun menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal tersebut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟

‘Dari mana engkau tahu bahwa al-Fatihah itu ruqyah?’ Lalu beliau berkata sembari tertawa,

لَقَدْ أَصَبْتُمْ، اقْتَسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ سَهْمًا

‘Sungguh kalian telah benar. Bagilah (upahnya) dan berilah untukku bagian bersama kalian.’

Tentang hadits ini, Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Obat berupa (bacaan al- Qur’an ini) telah memberikan pengaruh kepada penyakit (lumpuh akibat sengatan berbisa) ini, bahkan menghilangkannya (dengan izin Allah Subhanahu wata’ala) seakan-akan penyakit itu tidak pernah menimpa. Pengobatan (dengan bacaan al-Qur’an) adalah pengobatan termudah. Seandainya seorang hamba menggunakan bacaan al- Fatihah dengan baik dalam pengobatan, sungguh ia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku sendiri pernah tinggal di kota Makkah beberapa waktu. Penyakitpenyakit menimpaku, sementara aku tidak dapatkan tabib atau obat. Aku berobat (meruqyah) diriku dengan al-Fatihah dan melihat pengaruh menakjubkan dalam al-Fatihah….” (ad-Da’u wad Dawa hlm. 8)

Al-Qur’an Membawa Berita-Berita Gaib

Di antara sisi keagungan dan kemukjizatan al-Qur’an, ia mengabarkan berita-berita gaib. Al-Qur’an mengabarkan awal penciptaan alam, penciptaan Adam dan Hawa, dan berita-berita tentang para nabi, rasul, dan orang-orang terdahulu. Sekelompok Yahudi meminta musyrikin Quraisy untuk menanyakan tiga hal kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang Ashabul Kahfi, ruh, dan Dzul Qarnain. Pertanyaan ini tidak mungkin dijawab kecuali oleh seorang nabi, demikian kata ahlul kitab kepada musyrikin Quraisy. Datangkah ayat-ayat al-Qur’an menjawab tantangan-tantangan musyrikin dengan membawa berita-berita gaib.

وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرًا () إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا () فَأَتْبَعَ سَبَبًا

Mereka akan bertanya kepadamu(Muhammad) tentang Dzul Qarnain. Katakanlah, “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.” Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan. (al-Kahfi: 83—85)

Al-Qur’an juga mengabarkan banyak hal gaib yang akan datang, seperti berita kemenangan Romawi yang sebelumnya mengalami kekalahan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الم () غُلِبَتِ الرُّومُ () فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُم مِّن بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ () فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ ۚ وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

“Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).” (ar Rum: 1—4)

Apa yang diberitakan al-Qur’an benar-benar terjadi. Kurang lebih tujuh tahun setelah diturunkannya ayat di atas, terjadilah perang sengit antara kekaisaran Romawi dan Persia pada Desember 627 M. Secara mengejutkan, pasukan Romawi mengalahkan kekuatan Persia. Persia pun harus membuat perjanjian dengan Romawi untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Romawi. Akhirnya, kemenangan bangsa Romawi yang diumumkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an menjadi kenyataan. Termasuk berita gaib yang disampaikan oleh al-Qur’an adalah hari kiamat, tanda-tandanya, kebangkitan, surga, dan neraka. Semua itu pasti terjadi sesuai dengan yang dikabarkan, sebagaimana halnya beberapa peristiwa di atas.

Al-Qur’an, Benteng dari Kejelekan

Di antara sisi lain kemukjizatan al-Qur’an, al-Qur’an adalah benteng segala kejelekan di dunia atau akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengabarkan, barang siapa membaca ayat Kursi ketika hendak tidur Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan penjagaan dan keselamatan dari gangguan setan. Al-Imam Ibnu Hibban rahimahumallah dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa sahabat Ubai bin Ka’b radhiyallahu ‘anhu memiliki wadah besar berisi kurma. Suatu saat beliau heran dengan kurma yang selalu berkurang tanpa kejelasan ke mana hilangnya. Suatu malam beliau menjaganya hingga datang sesosok makhluk menyerupai anak. Ubai mendekatinya dan mengucapkan salam. Beliau dapati tangan dan kulit anak ini seperti tangan anjing dan bulu-bulu anjing. Ternyata ia bukan manusia, melainkan dari bangsa jin.

Terjadilah percakapan antara keduanya. Ubai bertanya, “Apa yang bisa membentengi kami dari kalian?” Jin berkata, “Ayat kursi.” Ubai melepaskan makhluk ini. Pagi harinya beliau menjumpai Rasulullah Subhanahu wata’ala dam menceritakan kejadian itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Makhluk yang buruk itu telah jujur.” Sungguh, sangat banyak sisi keagungan al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Membacanya bernilai ibadah. Mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan al-Qur’an adalah sebab tercapainya kemuliaan. Malaikat-malaikat akan bersama orang yang membacanya. Rasulullah Subhanahu wata’ala bersabda,

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari al-Qur’an, dia mendapat satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan الم satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. al- Bukhari)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari)

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca al- Qur’an bersama malaikat yang mulia, sedangkan orang yang membaca al- Qur’an dengan tertatih-tatih dan ia bersemangat (bersungguh-sungguh), ia mendapat dua pahala.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Saudaraku fillah, marilah kita bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kita beriman kepada Kalam Allah Subhanahu wata’ala dan dimudahkan menyelami sebagian kecil dari samudra keagungan dan kemukjizatannya. Sungguh, segala puji adalah milik- Nya, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal