Nabi Sulaiman Wafat

(bagian ke-3)

 

Telah dikisahkan tentang keistimewaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagai seorang hamba Allah subhanahu wa ta’ala, sekaligus Nabi dan Raja Bani Israil. Sebaik-baik hamba dan memiliki kedudukan mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِسُلَيۡمَٰنَ ٱلرِّيحَ غُدُوُّهَا شَهۡرٞ وَرَوَاحُهَا شَهۡرٞۖ وَأَسَلۡنَا لَهُۥ عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖ وَمِنَ ٱلۡجِنِّ مَن يَعۡمَلُ بَيۡنَ يَدَيۡهِ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ١٢

يَعۡمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَٰرِيبَ وَتَمَٰثِيلَ وَجِفَانٖ كَٱلۡجَوَابِ وَقُدُورٖ رَّاسِيَٰتٍۚ ٱعۡمَلُوٓاْ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكۡرٗاۚ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ ١٣

فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ ٱلۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلَىٰ مَوۡتِهِۦٓ إِلَّا دَآبَّةُ ٱلۡأَرۡضِ تَأۡكُلُ مِنسَأَتَهُۥۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلۡجِنُّ أَن لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud, untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba: 12—14)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Setelah menerangkan karunia-Nya kepada Dawud ‘alaihissalam, Allah menerangkan pula karunia-Nya kepada Sulaiman putra Dawud ‘alaihissalam. Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan angin baginya agar bertiup sesuai dengan perintahnya, agar membawanya dan apa saja yang menyertainya, melintasi jarak yang sangat jauh dalam waktu yang sangat singkat, dalam satu hari menempuh jarak yang seharusnya ditempuh selama satu bulan.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula untuk beliau cairan tembaga dan memudahkan berbagai sarana untuk mengeluarkan apa yang dapat dihasilkan dari tembaga itu, berupa bejana-bejana dan sebagainya.

Allah subhanahu wa ta’ala menundukkan pula para jin dan setan serta Ifrit, yang melakukan pekerjaan besar menurut keinginan beliau. Di antara jin dan setan itu ada yang diperintah oleh beliau agar menyelam dan mengeluarkan berbagai kekayaan alam yang ada di dasar laut, seperti mutiara dan permata berharga lainnya. Ada pula yang melakukan pekerjaan yang lain dan tidak ada satupun yang keluar dari perintah beliau. Siapa saja di antara mereka yang berani melanggar, niscaya terkena azab yang bernyala-nyala dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَن يَزِغۡ مِنۡهُمۡ عَنۡ أَمۡرِنَا نُذِقۡهُ مِنۡ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ

“Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.”

Apa saja yang dikehendaki oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, pasti mereka kerjakan. Mereka membuat bangunan yang kokoh dan megah, patung-patung dalam berbagai bentuk. Mereka juga membuatkan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tidak bergeser dari tempatnya, karena sangat besar ukurannya.

Akan tetapi, sebagai sebuah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak akan berubah, bahwa segala sesuatu di alam ini adalah fana. Yang kekal hanya Allah Yang Mahamulia.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

           كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (ar-Rahman: 26—27)

Dalam ayat lainnya, Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?” (al-Anbiya: 34)

Demikianlah kematian itu, apabila sudah tiba waktunya tidak mungkin dapat dipercepat ataupun ditunda, meskipun sesaat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ ٣٤

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raf: 34)

Akhirnya, setiap orang pasti akan merasakannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pun wafat.

Dinukil oleh para ulama dari sebagian riwayat Israiliyat bahwa di antara kebiasaan Nabi Sulaiman adalah senang i’tikaf di Baitil Maqdis. Kadang beliau beribadah di dalamnya selama setahun, kadang dua tahun, atau satu sampai dua bulan. Beliau menetap di sana membawa makanan dan minumannya. Seperti biasa, beliau masuk ke dalam masjid pada hari beliau wafat. Adapun sebabnya, setiap pagi selalu tumbuh satu tanaman di mihrab beliau. Kemudian beliau menanyai tanaman itu, “Tanaman apa kamu ini?”

“Aku tanaman anu,” jawab tumbuhan itu.

“Untuk apa kamu diciptakan?” Kalau dia menjawab untuk ditanam (dipanen), beliau memerintahkan dicabut dan ditanam di tempat lain. Kalau untuk obat, beliau menuliskan keterangan untuk apa tanaman tersebut. Akhirnya tumbuh tanaman kharubah.

Beliau menanyai tanaman itu, “Untuk apa kamu tumbuh?”

“Untuk meruntuhkan masjidmu ini.”

Kata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, “Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala meruntuhkannya sedangkan aku masih hidup. Engkaulah tanda kematianku dan runtuhnya Baitul Maqdis.”

Kemudian beliau mencabutnya dan menanamnya di salah satu dinding, seraya berdoa, “Ya Allah, butakan mata jin itu tentang kematianku (jangan sampai mereka tahu), sampai manusia menyadari bahwa jin-jin itu sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.”

Dahulu, para setan dan jin-jin kafir itu selalu menyebut-nyebut kepada manusia bahwa mereka mengetahui hal-hal yang gaib dan mengerti rahasia alam ini. Mereka sesumbar bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala ingin menampakkan kebohongan ucapan mereka kepada para hamba-Nya.

Pada hari yang telah ditetapkan, Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memasuki mihrabnya. Di depan dan belakang beliau dalam mihrab itu ada semacam ventilasi, sehingga apa yang terjadi dalam mihrab itu jelas dapat dilihat dari luar. Nabi Sulaiman mulai shalat sambil berdiri dengan bertelekan di atas tongkat beliau. Masih sambil berdiri, Malaikat Maut datang mencabut ruh suci beliau, dan beliau pun wafat dalam keadaan masih berdiri.

Di luar mihrab, seperti biasanya, jin-jin itu melaksanakan pekerjaan berat yang diperintahkan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Sambil bekerja, mereka mengintip ke arah mihrab, ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam masih berdiri dalam shalatnya. Sama sekali mereka tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman sudah sejak tadi meninggal. Mereka tidak merasa aneh, karena memang demikian kebiasaan Nabi Sulaiman jika sudah larut dalam shalatnya.

Itu adalah pekerjaan yang menyusahkan mereka. Seandainya mereka mengetahui yang gaib, pasti mereka mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam yang mereka nanti-nantikan, agar terbebas dari keadaan mereka saat itu. Setelah itu, setiap kali melewati beliau yang sedang bertelekan di atas tongkatnya, mereka mengira beliau masih hidup, sehingga mereka merasa takut. Mereka pun tetap melaksanakan tugas mereka seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setahun penuh.

Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala mengirimkan rayap memakan tongkat beliau ‘alaihissalam. Akhirnya, tongkat itu rapuh dan jasad Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersungkur. Demi mengetahui hal ini, para setan itu melarikan diri. Barulah mereka menyadari ternyata Nabi Sulaiman ‘alaihissalam telah lama wafat. Para jin itu sangat berterima kasih kepada rayap-rayap tersebut, karena telah memberitahukan mereka kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Akhirnya jelaslah bagi manusia bahwa jin-jin itu membohongi mereka, dan sebagaimana (firman Allah subhanahu wa ta’ala),

لَّوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٱلۡغَيۡبَ مَا لَبِثُواْ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلۡمُهِينِ ١٤

“Sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”

Maksudnya, tidak mungkin mereka merasakan kepayahan dan ditundukkan untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

 

Faedah

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sebagaimana nabi lainnya, adalah manusia biasa yang pasti merasakan kematian.
  2. Yang menundukkan para jin agar bekerja menurut perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan mereka.

Dinukil dari Ibnu ‘Abbas c, Allah subhanahu wa ta’ala menugaskan malaikat untuk mencambuk mereka dengan pecut api, jika mereka menentang perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

  1. Para jin yang sampai saat ini masih saja ada manusia yang meyakini mereka mengetahui hal yang gaib, sebetulnya tidak mengetahui yang gaib. Mereka juga tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri mereka atau orang lain.
  2. Siapa yang mengaku-aku mengetahui perkara gaib, dia kafir, bahkan termasuk salah satu dari lima pimpinan thaghut. Mengetahui perkara gaib adalah salah satu kekhususan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada yang mengetahui perkara gaib di langit dan di bumi melainkan Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Tunduknya para jin mematuhi perintah Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, menunjukkan bahwa para jin itu adalah makhluk yang lemah sehingga tidak layak seorang manusia—yang lebih mulia daripada jin—meminta perlindungan dan bantuan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Ujian Nabi Sulaiman, bagian ke-2

bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Traditional-Arabic-Chair 

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala memuji-muji Nabi Dawud ‘alaihissalam, menerangkan apa yang diterima dan dirasakan oleh beliau, Allah subhanahu wa ta’ala memuji pula putra Nabi Dawud, yaitu Sulaiman ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman.” (Shad: 30)

Maksudnya, Kami memberinya karunia kepda Dawud berupa Sulaiman, dan Kami jadikan pandangan matanya sedap kepada Sulaiman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah sebaik-baik hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena beliau memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji. Beliau adalah hamba yang selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Terkait dengan hal ini, sebagian ulama menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya), (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’

‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad: 30-33)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dia adalah sebaik-baik hamba” adalah Sulaiman ‘alaihissalam, karena memang memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji, bahwa dia,

“Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),” selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Oleh sebab itulah, ketika diperlihatkan kepadanya kuda-kuda pacuan yang bagus dan tenang, yang selalu mengangkat salah satu kakinya ketika berdiri tegak, sehingga menjadi pemandangan yang menarik, keindahan yang menakjubkan, khususnya bagi mereka yang sangat memerlukannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu tidak henti-hentinya diperlihatkan kepada beliau sampai matahari terbenam, hingga beliau lupa shalat dan zikir di sore hari.

Akhirnya, beliau pun berkata dalam keadaan menyesali yang telah lalu, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena apa yang telah melalaikan beliau dari zikir kepada-Nya, serta demi mendahulukan cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala daripada cinta kepada yang lain,

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda).”

Kata أَحْبَبَتُ (menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (mementingkan). Artinya, aku lebih mementingkan kesenangan الخَيْرِ (terhadap barang yang baik), yang umumnya berupa harta, sedangkan di sini maknanya ialah kuda;

“Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,” mereka pun membawanya kembali;

فَطَفِقَ  “Lalu,” mulailah

“Ia potong kaki dan leher kuda itu.”

Artinya, beliau mulai menebaskan pedangnya ke kaki dan leher kuda itu. Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya memilih pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menafsirkan ayat ini dengan mengusap leher dan kaki kuda tersebut. Tidak mungkin beliau ‘alaihissalam akan menyiksa hewan dan membuang harta tanpa alasan selain hanya lalai shalat karena memerhatikan kuda yang tidak berdosa itu.

Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah mengomentarinya sebagai berikut.

Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir ini perlu diteliti kembali, karena bisa jadi dalam syariat mereka boleh berbuat demikian. Apalagi jika dilakukan dengan alasan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena membuatnya lalai hingga habis waktu shalat.

Oleh sebab itulah, ketika beliau tinggalkan semua itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu angin yang bertiup menurut perintahnya ke tempat-tempat yang pulang pergi jauhnya sebulan perjalanan.

Wallahu a’lam.

Telah dipaparkan pada edisi sebelumnya bahwa dunia ini adalah ladang ujian bagi setiap manusia. Adapun yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang paling mulia sesudah mereka dan berikutnya.

Itulah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Bahkan, setiap mereka yang telah menyatakan diri beriman, tidak akan lepas dari berbagai ujian, besar ataupun kecil, banyak ataupun sedikit.

Kadang, ada manusia yang lolos menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan. Begitu pula sebaliknya, dan ada pula yang berhasil menghadapi dua bentuk ujian tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat Shad ayat 34,

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman,” yakni Kami menimpakan bala dan cobaan kepadanya,

“dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),”

Ahli tahqiq meriwayatkan tentang maksud ayat ini dalam beberapa bentuk, di antaranya;

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam baru memiliki seorang putra setelah berkuasa selama dua puluh tahun. Kemudian, para setan berkata, “Kalau anak itu hidup, kita tidak pernah lepas dari petaka dan penindasan, maka kita harus membunuh anak itu.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengetahui rencana mereka, lalu memerintahkan awan untuk menjaganya dari gangguan setan. Tidak lama ternyata anak itu tergeletak di atas kursi beliau dalam keadaan mati. Nabi Sulaiman sadar akan kekeliruannya, yaitu tidak bertawakal kepada Rabbnya menghadapi gangguan setan. Beliau akhirnya meminta ampunan kepada Rabbnya dan bertobat.

  1. Riwayat kedua, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa NabiSulaiman ‘alaihissalam berkata, “Malam ini saya akan menggiliri tujuh puluh istri saya—ada yang menyebutkan seratus, ada pula yang mengatakan seribu. Semua akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala,” Beliau lupa mengucapkan, “Insya Allah.”

Mulailah beliau mendatangi istrinya satu per satu malam itu juga. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang mengandung, kecuali seorang istri yang melahirkan anak yang cacat.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, andaikata beliau mengatakan ‘Insya Allah’, niscaya benar-benar akan lahir anak-anak yang menjadi mujahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ahliahli berkuda, semuanya.”

  1. Ada juga riwayat yang ketiga yang menyebutkan beliau sakit berat hingga terduduk di kursinya tanpa daya.
  2. Yang masyhur di kalangan jumhur ulama adalah kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehilangan kekuasaannya selama empat puluh hari.

Namun, dalam kisah tersebut banyak kejanggalan yang tidak sesuai dengan kedudukan beliau sebagai Nabi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Sanad kisah ini kuat sampai pada Ibnu ‘Abbas, tetapi lahiriahnya dinukil beliau—kalaupun sahih—dari ahli kitab, sedangkan di kalangan ahli kitab itu ada kelompok yang tidak meyakini kenabian Sulaiman ‘alaihissalam. Jadi, yang tampak adalah bahwa mereka berdusta terhadap beliau.

Sebab itulah di dalam riwayat tersebut terdapat berita yang mungkar, bahkan yang paling beratnya adalah cerita tentang istri-istri Nabi Sulaiman yang didatangi oleh setan. Sebab, yang masyhur adalah bahwa jin/setan itu tidak diberi kekuasaan mendekati mereka, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi mereka dari setan tersebut, sebagai kemuliaan dan penghormatan terhadap Nabi-Nya ‘alaihissalam.”[1]

Oleh sebab itu, sebagian ahli tahqiq menguatkan bahwa ujian yang dimaksud adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana dalam bentuk kedua di atas.

Kata para ‘ulama, “Asy-Syiqq adalah jasad yang diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai hukuman atas kelalaian beliau mengucapkan ‘Insya Allah,’ karena sangat antusias dan dikalahkan oleh harapan yang sangat besar.”

 

Beberapa Faedah

Dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kejadian ini kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hiburan bagi beliau, menguatkan hati beliau, dan menenteramkan jiwa beliau serta menerangkan hebatnya ibadah dan kesabaran mereka dalam ketaatan, hingga mendorong beliau untuk berlomba dengan mereka.
  2. Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap urusan adalah sifat para nabi dan hamba Allah ‘azza wa jalla yang istimewa. Hendaknya orang yang datang sesudah mereka mengikuti petunjuk dengan apa yang telah mereka peroleh.
  3. Karamah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dengan menundukkan para jin untuk bekerja atas perintah beliau dan di bawah pengawasan beliau.
  4. Nikmat paling besar yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba adalah ilmu yang bermanfaat, mengenali hukum, dan kemampuan memutuskan perselisihan di antara manusia.
  5. Perhatian dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada para wali dan hamba pilihan-Nya, ketika muncul kekurangan dari mereka dengan memberikan ujian dan petaka yang menghilangkan kejelekan dari mereka, sehingga dengan ujian itu mereka justru kembali kepada keadaan yang lebih sempurna dari sebelumnya.
  6. Para nabi itu maksum (terjaga) dari dosa. Namun, mungkin saja muncul dari mereka dosa, sebagaimana tabiat manusia. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala segera menegur mereka dengan kelembutan-Nya.
  7. Istighfar dan ibadah, terutama shalat, termasuk amalan yang menghapus dosa.
  8. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah salah satu tanda kemuliaan Nabi Dawud ‘alaihissalam sekaligus karunia yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada beliau. Inilah salah satu karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar kepada seorang hamba, yaitu anak yang saleh.

Inilah yang selalu diharapkan dan senantiasa diminta oleh para nabi dan orang-orang yang saleh yang mengikuti mereka.

  1. Pujian Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam karena beliau senantiasa kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan. Itulah salah satu kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya, Dia memberi mereka taufik untuk beramal saleh dan akhlak yang mulia, kemudian memuji mereka ketika mereka mengerjakannya.
  2. Ditundukkannya setan hanya untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tidak untuk siapa pun sesudah beliau, sebagaimana permintaan beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Nabi Sulaiman adalah seorang raja sekaligus nabi, melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi tidak ada yang diinginkan beliau selain berbuat adil. Berbeda halnya dengan nabi yang statusnya hamba Allah subhanahu wa ta’ala biasa, bukan seorang raja, karena dia berbuat menurut perintah Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana keadaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang hebat dan jumlah pasukan yang besar. Akan tetapi, hati beliau selalu terikat kepada akhirat, sebagaimana doa beliau yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (Shad: 35)

Ini menunjukkan pula bolehnya meminta kekuasaan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat adanya kesiapan dan kekuatan menunaikan haknya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini.

Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman; bagian ke-1

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

WALL

Pertempuran antara Thalut dan Jalut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin yang dipimpin Thalut (Saul). Jalut yang terkenal lalim dan ahli dalam peperangan tewas di tangan seorang prajurit muda, yaitu Dawud.

Sebagian ahli sejarah mengisahkan, ketika menghasung Bani Israil berperang dan menghadapi pasukan Jalut, Raja Thalut menjanjikan, siapa saja yang berhasil membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan akan diberi separuh dari kerajaannya. Setelah perang selesai, Raja Thalut menepati janji dan menikahkan Dawud dengan putrinya serta membagi dua kerajaan Bani Israil.

Para ahli sejarah berbeda-beda dalam menguraikan kisah yang terjadi sejak Bani Israil yang dipimpin oleh Thalut menyeberangi sungai sampai berkecamuknya pertempuran hingga terbunuhnya Jalut yang lalim dan berkuasanya Dawud sebagai Raja Bani Israil. Kisah tersebut telah dipaparkan pada beberapa edisi yang lalu.

Yang jelas, Nabi Dawud ‘alaihissalam akhirnya menjadi raja Bani Israil dan memimpin serta membimbing mereka di jalan Allah.

Sebelum menjadi raja, Nabi Dawud ‘alaihissalam hanya seseorang di antara rakyat jelata di kalangan Bani Israil. Di masa kecil dan remajanya, beliau bekerja menggembala kambing, tetapi Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan kekuatan yang sangat besar pada tubuh beliau.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan nasab beliau adalah Dawud bin Isya bin ‘Uwaid bin ‘Abir bin Salmun bin Nahsyun bin ‘Uwainadib bin Iram bin Hashrun bin Faridh bin Yahuda bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam.

Beliau diberi suara yang merdu oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga burung-burung berhenti terbang untuk mengiringi beliau bertasbih memuji Allah ‘azza wa jalla. Beliaulah yang pertama kali membuat perisai dan pakaian perang dari besi.

Beliau diberi karunia usia yang panjang, sampai seratus tahun, yang diambil dari usia bapaknya, Adam ‘alaihissalam, sebagaimana diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ جَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصاً مِنْ نُورٍ ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هؤُلاَءِ؟ قالَ: هؤُلاَءِ ذُرِّيَّتُكَ. فَرَأَى رَجُلاً مِنْهُمْ أَعْجَبَهُ نُورُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَذَا؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ فِي آخِرِ الْأُمَمِ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ. قاَلَ: أَيْ رَبِّ، كَمْ عُمْرُهُ؟ قَالَ: سِتُّونَ سَنَةً. قالَ: فَزِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً. قَالَ: إِذَنْ يُكْتَبُ وَيُخْتَمُ وَلاَ يُبَدَّلُ. فَلَمَّا انْقَضَى عُمْرُ آدَمَ جَاءَ مَلَكُ الْمَوْتِ فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ؟ فَجَحَدَ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ وَخَطِىءَ آدَمَ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ

Setelah Allah menciptakan Adam, Dia mengusap punggung Adam, maka bertaburanlah semua ruh yang Allahlah Yang menciptakannya sampai hari kiamat. Kemudian Dia letakkan di antara kedua mata masing-masing mereka itu seberkas cahaya, lalu Dia tunjukkan kepada Adam.

Adam pun bertanya, “Duhai Rabbku, siapakah mereka ini?”

Kata Allah, “Mereka ini adalah anak cucumu.”

Lalu dia melihat salah seorang dari mereka yang cahaya orang itu menakjubkannya, katanya, “Duhai Rabbku, siapakah dia ini?”

Kata Allah, “Dia salah seorang anak cucumu di kalangan umat belakangan, namanya Dawud.”

“Duhai Rabbku, berapakah panjang umurnya?”

“Enam puluh tahun.”

“Tambahkanlah untuk dia dari umurku sebanyak empat puluh tahun.”

“Kalau begitu, akan ditulis dan ditetapkan serta tidak akan diubah lagi.”

Ketika habis usia Adam, datanglah Malakul Maut. Beliau pun berkata, “Bukankah masih tersisa usiaku ini empat puluh tahun?”

“Bukankah telah engkau berikan untuk putramu Dawud?” jawab Malakul Maut.

Adam mengingkari, anak cucunya juga demikian. Adam lupa, maka lupa pula anak cucunya. Adam bersalah, maka anak cucunya juga bersalah.[1]

Demikianlah, Nabi Dawud ‘alaihissalam hidup di dunia selama seratus tahun. Sebagian besarnya adalah sebagai seorang nabi sekaligus raja Bani Israil dengan kekuasaan yang sangat luas.

Akan tetapi, kehidupan sebagai seorang raja, bahkan nabi sekalipun, tidak membuat beliau berbeda dengan kebanyakan manusia. Beliau tetap sebagai manusia biasa, yang kadang sedih, marah, dan gembira. Beliau juga bisa lupa dan keliru. Begitulah sunnatullah dalam hidup manusia.

Tidak ada satupun yang lolos dari sunnatullah. Itulah kebaikan dan keburukan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla kepada hamba-hamba-Nya, sebagai ujian bagi mereka.

Memang demikianlah. Tiada satupun makhluk yang lepas dari ujian. Namun, ujian itu berbeda-beda tingkatannya, sesuai dengan keadaan iman dalam diri masing-masing. Itulah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, ketika ditanya, “Siapakah yang sangat berat cobaan yang menimpanya?”

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“(Yang paling berat ujiannya ialah) para nabi, kemudian yang lebih mulia setelah mereka, lalu yang lebih utama di bawahnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya kokoh, beratlah ujian yang dirasakannya. Kalau dalam agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Tidak henti-hentinya ujian itu menimpa seorang hamba sampai meninggalkannya berjalan di muka bumi dalam keadaan (hamba itu) tidak lagi mempunyai kesalahan.”[2]

Ada beberapa kejadian di masa pemerintahan beliau, seperti kisah petani dan penggembala kambing, juga tentang dua orang wanita yang memperebutkan seorang bayi. Semua ini telah dikisahkan dalam edisi-edisi yang lalu bersama putranya Sulaiman ‘alaihissalam.

Karena itu, dalam edisi kali ini, kami paparkan sebuah kisah yang diabadikan dalam al-Qur’an tentang ujian yang beliau terima.

 

Dua Orang yang Bertikai

Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya,

Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar?

Ketika mereka masuk (menemui) Dawud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.”

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata, ‘Serahkanlah kambingmu itu kepadaku,’ dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

Dawud berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.”

Dan Dawud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.

Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Shad: 21—26)

Demikianlah kisah yang diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya. Memang benarlah sebuah berita yang menakjubkan.

Seperti biasa, Nabi Dawud ‘alaihissalam tidak lupa beribadah kepada Rabbnya. Pada waktu itu, tidak ada seorangpun boleh mengganggu. Namun, di luar istana, dua orang dengan tenang memanjat pagar tembok istana tanpa diketahui oleh siapapun. Dengan cepat keduanya menuju ruangan tempat Nabi Dawud ‘alaihissalam biasa beribadah.

Nabi Dawud yang sedang khusyuk beribadah tersentak kaget. Rasa takut mulai merayapi hati beliau, karena tiba-tiba melihat dua orang telah berada di mihrab tempat beliau beribadah.

Melihat kekagetan dan rasa takut Nabi Dawud ‘alaihissalam, dua orang ini berkata, “Jangan takut, kami adalah dua orang yang sedang bertikai. Salah satu dari kami berbuat zalim kepada yang lain, maka berilah keputusan antara kami dengan adil tanpa berpihak kepada salah satu dari kami. Jangan pula menyimpang dan tunjukilah kami kepada jalan yang lurus.”

Mendengar keterangan mereka, bahwa mereka menginginkan kebenaran, Nabi Dawud tidak lagi marah dan takut. Kemudian salah satu dari mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Sesungguhnya saudaraku ini,” yang seiman dan satu manhaj, bukan senasab, sehingga apabila muncul sikap bermusuhan dari saudara tentu lebih besar urusannya. Dia melanjutkan (sebagaimana dalam ayat),

“Mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,” yakni istri, sebagaimana kebiasaan orang Arab. Tentu saja keadaan itu merupakan kebaikan dan mengharuskan dia merasa cukup serta bersyukur dengan apa yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla kepadanya.

Orang itu melanjutkan, “Sedangkan aku hanya mempunyai seekor kambing betina,” yakni hanya seorang istri.

Lalu dia menginginkannya dan mengatakan, “Serahkanlah kambing itu (istrimu) untukku agar menjadi tanggunganku dan dia mengalahkan alasan-alasanku,” bahkan kalaupun aku memukul, dia lebih keras memukulku sampai dia berhasil memperolehnya.

Sebelum mendengarkan dari pihak yang lain, Nabi Dawud sudah mendahului berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu, ketika memaksa meminta kambingmu untuk menjadi milik dan tanggungannya. Sungguh, kebanyakan orang yang bekerja sama itu sebagin mereka berbuat zalim kepada yang lain. Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, karena iman dan amal saleh itu akan mencegah mereka berbuat zalim. Akan tetapi, alangkah sedikitnya jumlah mereka di tengah-tengah manusia.”

Namun, seketika itu juga Nabi Dawud memahami, ketika memutuskan perkara di antara kedua orang tersebut, bahwa itu adalah ujian dari Allah. Segera saja, Nabi Dawud meminta ampunan dan tobat dengan sebenar-benarnya kepada Rabbnya dan menyungkur sujud sambil menangis.

Allah ‘azza wa jalla mengampuni dan menerima tobat Nabi Dawud. Sungguh, beliau memiliki kedudukan sangat dekat lagi mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla serta tempat kembali yang baik.

Kata asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya, Allah tidak memaparkan dosa apa yang diperbuat oleh Nabi Dawud sehingga mendorong beliau meminta ampun dan bertobat, karena memang tidak ada gunanya diterangkan. Mencoba menguraikan hanya memberat-beratkan diri.

Yang jelas, faedah kisah ini ialah apa yang diterangkan Allah kepada kita ini, yaitu kelembutan-Nya kepada Nabi Dawud, tobat dan inabah (sikap kembali) beliau, serta terangkatnya kedudukan beliau. Bahkan, setelah bertobat, keadaan beliau lebih baik daripada sebelumnya. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla mewahyukan kepada beliau,

“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi,” memberlakukan padanya ketetapan agama dan dunia,

“Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan haq,” yakni adil. Tentu saja, hal ini tidak mungkin beliau mampu melaksanakannya kecuali dengan mempunyai ilmu yang wajib dan ilmu-ilmu tentang persoalan kekinian (di masa itu), serta kemampuan untuk memberlakukan yang haq;

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.” Janganlah berjalan di belakang hawa nafsu dalam hal memberi keputusan, lalu berpihak kepada salah satu pihak, apakah karena dia kerabat, teman, orang yang dicintai, atau karena membenci pihak lain, karena hal itu akan membuatmu menyimpang dari jalan Allah dan menyebabkanmu tersesat dari jalan yang lurus.

Kemudian Allah ‘azza wa jalla memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah,” terutama orang-orang yang sengaja di antara mereka;

“Akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Sebab, andaikata mereka mengingatnya, lalu tumbuh rasa takut dalam hati mereka, niscaya mereka tidak akan menyimpang bersama hawa nafsu yang menyesatkan.

Begitu hebat tobat Nabi Dawud, hingga dalam sebagian riwayat yang sampai kepada Wahb bin Munabbih disebutkan, akibat tangis beliau begitu pilu dan panjangnya sujud beliau sambil menangis, tumbuhlah lumut di tempat sujud itu.

Demikianlah, seorang Nabi dan raja besar, yang tentu saja maksum, merasakan betapa dia memiliki kesalahan yang sangat besar, hingga mendorongnya menjatuhkan diri sujud kepada Rabbnya.

(insya Allah bersambung)


[1] HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 5208).

[2] HR. Ahmad (no. 1607), at-Tirmidzi (no. 2400) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ (no. 992).

Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman

Keyakinan dan pemikiran yang menyimpang dapat menguasai akal siapa pun dan mengurangi kecerdasannya, sampai dia mendapatkan sebab atau jalan yang diberkahi yang menerangkan kepadanya hakikat kebenaran dan membimbingnya untuk mengikuti kebenaran itu. Inilah keadaan Ratu Saba’ dan para pengikutnya. Mereka memiliki otak yang cerdas, tetapi mereka justru melakukan peribadatan kepada sesuatu yang tidak mampu memberi kemanfaatan dan kemudaratan. Setelah terjadi dialog dengan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, Ratu Saba’ akhirnya mau kembali kepada fitrahnya, yaitu beribadah kepada Allah.

Lanjutkan membaca Kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman