Nasihat Ali Bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu

Asy-Sya’bi rahimahullah mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,

“Wahai sekalian manusia, ambillah kalimat-kalimat ini dariku. Seandainya kalian menaiki binatang tunggangan hingga mencelakainya, kalian belum tentu mendapati yang semisalnya.

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدًا إِلاَّ رَبَّهُ، وَلاَ يَخَافَنَّ إِلاَّ ذَنْبَهُ، وَلاَ يَسْتَحِي إِذَا لَمْ يَعْلَمْ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَلاَ يَسْتَحِي إِذَا سُئِلَ عَمَّا لاَ يَعْلَمُ أَنْ يَقُولَ: لاَ أَعْلَمُ؛ وَاعْلَمُوا أَنَّ الصَّبْرَ مِنَ الْإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، وَلاَ خَيْرَ فِي الْجَسَدِ لاَ رَأْسَ لَهُ

Hendaknya seorang hamba benar-benar :

(1) tidak berharap selain kepada Rabbnya,

(2) tidak khawatir selain terhadap dosanya,

(3) tidak malu untuk belajar ketika tidak tahu,

(4) tidak malu untuk menjawab, Aku tidak tahu,’ ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak diketahuinya, dan

Ketahuilah, kedudukan sabar bagi iman layaknya kepala bagi jasad tidak ada kebaikan pada jasad yang tidak berkepala.”

(Shifatu ash-Shafwah hlm. 121)

Sumber Kerusakan dalam Agama

‘Ali bin Qasim Hanasy rahimahullah mengatakan,

“Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan:

1) Tingkatan tertinggi, yaitu para ulama kibar.

Mereka mengetahui yang benar dan yang batil. Jika mereka berbeda pendapat, tidak akan muncul fitnah (kerusakan) dari perselisihan tersebut, karena mereka mengetahui ilmu yang dimiliki oleh pihak yang lain.

2) Tingkatan terendah, yaitu orang awam yang berada di atas fitrah.

Mereka tidak lari dari kebenaran. Mereka hanya mengikuti orang yang mereka jadikan anutan. Jika anutan mereka berada di atas kebenaran, mereka pun serupa. Ketika anutan mereka berada di atas kebatilan, demikian pula keadaan mereka.

3) Tingkatan pertengahan.

Inilah sumber keburukan dan asal munculnya fitnah (kerusakan) dalam agama. Ilmu mereka belum mapan sehingga tidak termasuk tingkatan pertama. Akan tetapi, mereka juga tidak meninggalkan ilmu sehingga tidak tergolong tingkatan terendah.

Ketika melihat seseorang yang termasuk tingkatan pertama mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menyelisihi keyakinan mereka yang keliru, mereka lemparkan panah-panah kecaman terhadapnya dan menyalahkannya dengan segala ucapan yang buruk.

Dengan berbagai pemalsuan yang batil, mereka mengubah fitrah tingkatan yang terendah sehingga tidak mau menerima kebenaran. Saat itulah, muncul fitnah (kerusakan) yang besar dalam agama.”

(al-Badru ath-Thali’ karya asy-Syaukani, 1/473)

Saling Menasihati, Jalan Keselamatan

KHUTBAH PERTAMA:

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Ad-Din_An-Nashihah

Kaum muslimin rahimakumullah!

Pemberian paling berharga dari seseorang untuk saudaranya yang tidak bisa dinilai dengan emas dan perak adalah nasihat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sebab, nasihat merupakan urusan yang paling pokok di dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.” ( HR. Muslim dari Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu)

Upaya saling menasihati dalam kebaikan merupakan salah satu jalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kerugian dunia dan akhiratnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَٱلۡعَصۡرِ ١   إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢   إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1—3)

Sikap saling meminta dan saling memberi nasihat adalah interaksi kemasyarakatan kaum muslimin yang dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menyebutkan enam perkara yang merupakan hak dan kewajiban seorang muslim atas saudaranya,

فَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ أَخُوكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu meminta nasihatmu, berilah nasihat untuknya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Sudah tidak asing bagi kita tentang keutamaan menyampaikan nasihat, karena nasihat adalah salah satu bentuk perwujudan amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak sekali dalilnya baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Akan tetapi, yang ingin kita tekankan dalam khutbah ini adalah pentingnya mendengar dan menerima nasihat serta tercelanya sikap menolak dan mengabaikan nasihat.

 nasihat

Ayyuhal muslimun rahimakumullah!

Nasihat yang benar, yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, wajib didengar dan diterima, karena nasihat tersebut adalah agama dan pemberian yang sangat berharga dari saudara kita. Orang yang menerima nasihat berarti dia telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan kerugian.

Sebaliknya, orang yang menolak nasihat berarti dia telah menghadapkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana yang dialami oleh umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ketika menolak nasihat dari para nabi. Contohnya ialah kaum Tsamud ketika menolak nasihat Nabi Shalih ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٧٨ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ٧٩

Lalu datanglah goncangan gempa menimpa mereka sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah mereka. Nabi Shalih pun pergi berpaling meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan risalah dari Rabbku. Aku telah berusaha untuk menyampaikan nasihatku kepada kalian. Namun, kalian tidak menyukai orang yang memberi nasihat.” (Al-A’raf: 78—79)

Di dalam ayat tersebut, terdapat anjuran untuk mencintai nasihat dan mencintai para pemberi nasihat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membuka hati kita sehingga diberi kelapangan dada untuk menerima nasihat kebenaran, karena hal itu merupakan tanda keimanan.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Sungguh demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan dirimu (Nabi Muhammad) sebagai penengah dari apa yang mereka perselisihkan. Kemudian, tidaklah ada keberatan di hati mereka untuk menerima apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.” (An-Nisa’: 65)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan,

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٨

“Orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka itulah orang yang memiliki akal sehat.” (Az-Zumar: 18)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم،ِ أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Hendaknya kita memperbanyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dikaruniai hidayah dan taufik sehingga kita mudah menerima nasihat dan kebenaran. Di antara faktor yang menghalangi seseorang menerima nasihat adalah tidak mendapatkan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Sepantasnya pula kita sering memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari tipu daya setan yang senantiasa berusaha menghalangi manusia dari nasihat dan kebenaran. Sebab, Iblis telah menyatakan—sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam al-Qur’an,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih.” (Shad: 82—83)

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦

Iblis berkata, “Karena Engkau (Allah) telah menyesatkanku, aku pasti akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Hendaknya pula kita senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu sangat kuat berperan dalam menghalangi seseorang untuk menerima nasihat.

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣

“Sesungguhnya hawa nafsu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Rabbku.” (Yusuf: 53)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Jauhilah sikap sombong dan angkuh, karena kesombongan menyebabkan seseorang menolak nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍالْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Seseorang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk surga…. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 arang-api

Hadirin rahimakumullah!

Hasad (iri, dengki) juga merupakan faktor penghalang seseorang untuk menerima nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Tinggalkanlah hasad (sifat iri), karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar.”

Di antara faktor yang membantu seseorang mudah menerima nasihat adalah sifat jujur. Sebaliknya, dusta adalah sebab yang menyulitkan seseorang menerima nasihat dan kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

… عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ 

“Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa ke surga…”

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Tinggalkanlah kedustaan, karena dusta akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِ وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami bahwa kebenaran itu kebenaran, dan berilah rezeki kepada kami untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kebatilan itu kebatilan, dan berilah rezeki kepada kami untuk menjauhinya.”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Adab Menyertai Ilmu

Asy-Sya’bi rahimahullah berkata,

Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu menyalati jenazah. Setelah itu, seekor bagal didekatkan untuk beliau naiki. Datanglah Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengambil tali kekangnya sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan terhadap ilmu dan keutamaan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu. Zaid pun berkata kepada Ibnu Abbas, “Lepaskan tali itu darimu, wahai sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab, “Tidak. Demikianlah yang kami lakukan terhadap ulama dan para pembesar.”

 

Abu Zakariya Yahya bin Muhammad al-‘Anbari rahimahullah mengatakan,

“Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar. Adapun adab tanpa ilmu ibarat ruh tanpa jasad.”

 

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,

Aku bertanya kepada Abu Malik, “Engkau tidak mendengar hadits dari Ibrahim bin Sa’d, padahal dia tinggal bertetangga denganmu di Baghdad?”

Abu Malik menjawab, “Ketahuilah, wahai anakku, dia pernah duduk satu kali menyampaikan hadits kepada kami. Setelah selesai, dia pun keluar dalam keadaan manusia berkerumun. Dia melihat anak-anak muda mendahului orang-orang tua. Dia pun berkata, ‘Betapa jelek adab kalian. Kalian mendahului orang-orang tua. Aku tidak akan menyampaikan hadits kepada kalian selama satu tahun.’

Dia pun meninggal sebelum menyampaikan hadits.”

 

(Diambil dari Lammud Durril Mantsur hlm. 76—77)

Jalan Menuju Kebahagian

Banyak jalan diciptakan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak! Kalau begitu, bagaimana cara meraih kebahagiaan yang benar?

Lanjutkan membaca Jalan Menuju Kebahagian

Serius Beramal

Dahulu para salaf serius beramal saleh karena khawatir celaan jiwa akan ketidakseriusan beramal ketika kesempatan beramal telah terputus.

Dikatakan kepada Masruq rahimahullah, “Alangkah baiknya kalau engkau mengurangi keseriusanmu (dalam beramal).”

Dia pun menukas, “Demi Allah, jika ada seseorang datang dan mengabariku bahwa Dia tidak akan mengazabku, aku akan tetap serius beribadah.”

Ditanyakan kepada beliau, “Mengapa demikian?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Agar jiwaku tidak mencelaku jika aku masuk neraka. Belum sampaikah kepadamu firman Allah:

وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ ٢

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (al-Qiyamah: 2)

Mereka mencela jiwa mereka sendiri tidak lain ketika menuju neraka. Malaikat Zabaniyah pun mendekap mereka. Mereka terhalangi dari apa yang mereka inginkan. Angan-angan mereka terputus. Rahmat pun diangkat dari mereka. Setiap orang mencela jiwa mereka.”

(Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 312)

Wasiat untuk Pendamba Surga

Kenikmatan surga luar biasa tak terbayangkan.

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ

“Tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka dari kenikmatan yang menyenangkan pandangan mata….” (as-Sajdah: 17)

Rasul yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah bertitah tentang kenikmatan surga. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh (kenikmatan yang) tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pula terdengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik dalam kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karena mengetahui nikmat yang sangat agung tersebut, setiap insan yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan percaya adanya hari akhir hendaknya menjadikan surga sebagai impian puncak dan cita-cita tertinggi.

Bagaimana tidak, surga adalah kenikmatan yang tidak ada duanya, kekal abadi, tiada pernah berakhir. Barang siapa masuk ke dalamnya, dia akan terus bersenang-senang dan tidak pernah keluar darinya. Barang siapa dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung karena selamat dari kengerian api neraka.

Apabila Anda, wahai muslimah, termasuk pendamba surga abadi, ada sebuah wasiat yang perlu Anda cermati. Wasiat ini disampaikan oleh sayyidul basyar, pemuka dan junjungan anak manusia, yang memiliki sifat pengasih penyayang kepada umatnya shallallahu ‘alaihi wa sallam[1]. Apakah wasiat tersebut?

Sahabat yang mulia, Abdullah ibnu ‘Amr ibnul Ash radhiallahu ‘anhuma meridhai beliau dan ayahnya, berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمنُ باِللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaknya dalam keadaan beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir saat kematian mendatanginya. Hendaklah dia berbuat kepada manusia apa yang dia suka untuk diperbuat terhadap dirinya.” (HR. Muslim)

Dalam wasiat yang terangkum dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dua sebab meraih kesuksesan hakiki—dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, yaitu:

  1. Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada hari akhir.
  2. Berbuat baik kepada manusia, dalam bentuk ucapan, perbuatan, harta, muamalah, dan sebagainya.

Dengan demikian, sebab pertama agar seseorang dimasukkan ke dalam surga mengandung penunaian terhadap hak Allah ‘azza wa jalla. Adapun sebab kedua mengandung penunaian hak sesama insan. (Bahjah Qulub al-Abrar, asy-Syaikh al-Allamah as-Sa’di, hlm. 218)

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla

Beriman kepada Allah ‘azza wa jalla mencakup beriman akan wujud-Nya, beriman akan hak rububiyah-Nya[2], beriman akan uluhiyah-Nya[3], dan beriman akan nama dan sifat-Nya[4]. Apabila hilang salah satu dari empat pokok ini pada diri seorang hamba, niscaya cacatlah keimanannya kepada Allah ‘azza wa jalla. (Syarh Tsalatsah al-Ushul, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin)

Beriman kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir mencakup tiga hal:

  • Mengimani adanya kebangkitan dari dalam kubur,
  • Mengimani adanya hisab atau perhitungan amalan dan balasannya, dan
  • Mengimani adanya surga dan neraka.

Termasuk dalam keimanan kepada hari akhir adalah memercayai seluruh kejadian setelah kematian, seperti adanya fitnah (ujian) kubur—pertanyaan dua malaikat kepada si mayat tentang tiga masalah—dan mengimani adanya nikmat dan azab kubur. (Syarh Tsalatsah al-Ushul)

Keimanan terhadap hari akhir ini berkonsekuensi seseorang beramal untuk “menyambut” hari tersebut. Tidaklah bermanfaat sekadar percaya tanpa dibarengi usaha.

Berbuat Baik kepada Manusia

Timbangan yang menjadi tolok ukur berbuat baik kepada manusia adalah lakukan kepada manusia apa yang Anda suka dilakukan kepada Anda.

Di sisi lain, tinggalkan semua kelakuan atau perbuatan kepada manusia yang Anda tidak suka apabila Anda diperlakukan demikian.

Semua yang Anda suka untuk diperbuat kepada Anda, maka lakukanlah kepada manusia. Sebaliknya, apa saja yang Anda tidak sukai untuk diperlakukan kepada Anda, jangan lakukan hal tersebut kepada manusia.

Abu Hamzah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, sahabat yang sejak berusia 10 tahun berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , menyampaikan sebuah hadits dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Apabila ada sebuah kejelekan yang Anda tidak sukai jika menimpa Anda, tetapi Anda lakukan hal tersebut kepada manusia, berarti Anda telah menyianyiakan pokok yang agung ini.

Hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas menunjukkan wajibnya mencintai untuk saudara seiman apa yang kita sukai untuk diri kita. Sebab, ditiadakannya keimanan (yang sempurna) dari orang yang tidak sukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, menunjukkan bahwa hal tersebut hukumnya.

Selain itu, hadits di atas memperingatkan kita dari sifat hasad dan iri dengki kepada sesama saudara seiman. Sebab, orang yang hasad jelas tidak suka kebaikan diperoleh orang lain, dan justru menginginkan yang sebaliknya.

Apabila ada yang menganggap bahwa hal ini sulit, yakni beratnya mencintai kebaikan agar diperoleh orang lain, sebenarnya tidak demikian. Tidak ada kesulitan asalkan seseorang mau melatih jiwanya untuk berbuat demikian. Apabila sudah terlatih, dengan izin Allah ‘azza wa jalla akan mudah. Sebaliknya, apabila seseorang mengikuti keinginan jiwa dan hawa nafsunya, tentu akan sulit baginya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, Fadhilatusy Syaikh al-Allamah Ibnu Utsaimin, hlm. 186—187)

Hasil dari menjalankan dua sebab di atas (iman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, serta mencintai kebaikan untuk manusia) tentulah sangat kita impikan. Sebab, itulah kesuksesan sejati. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ

“Siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah sukses/beruntung.” (Ali ‘Imran: 185)

Makna “zuhziha” (زُحۡزِحَ ) adalah didorong mundur. Sebab, neraka dikelilingi oleh syahwat yang jiwa sebenarnya condong kepadanya. Jiwa ini sebenarnya sangat suka dan menyenanginya. Hampir-hampir seorang insan tidaklah berpaling dari syahwat ini kecuali karena didorong mundur agar menjauhinya. Allah ‘azza wa jalla mengatakan,

فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ

Maknanya, dia didorong mundur agar menjauh dari neraka.

Dia pun kemudian dimasukkan ke dalam surga. Dengan demikian, dia meraih kesuksesan, selamat dari apa yang ditakuti dan mendapat apa yang dicari. (Tafsir al-Qur’an al-Karim, al-‘Allamah Ibnu Utsaimin, 2/512)

Kesuksesan atau keberuntungan tidak akan sempurna kecuali dengan dua hal, yaitu diselamatkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Telah dimaklumi, siapa yang diselamatkan dari neraka, tentulah akan dimasukkan ke dalam surga. Sebab, di akhirat hanya ada dua negeri, yaitu surga dan neraka.

Hendaknya setiap kita melihat diri masing-masing. Apabila kita dapati diri kita beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, dan suka memperlakukan manusia dengan apa yang kita sukai untuk diperbuat kepada kita, hendaknya kita bergembira dengan hadits ini. Sebaliknya tentunya….

Wallahul musta’an. (Bahjah Qulub al-Abrar, hlm. 515)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan sifat Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari diri-diri kalian, terasa berat atas Rasul tersebut apa yang menyusahkan kalian, dia sangat bersemangat agar kalian beroleh kebaikan, terhadap orang-orang beriman beliau memiliki sifat pengasih lagi penyayang.(at-Taubah: 128)

[2] Dia bersendiri dalam hak rububiyah ini. Dia-lah sendiri yang menciptakan, yang memiliki, memerintah, mengatur, memberi rezeki, dan sebagainya. Secara ringkas, bisa dikatakan tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam perbuatan-Nya.

[3] Hanya Dia sendiri yang pantas dan berhak untuk diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam seluruh macam ibadah. Hak uluhiyah bisa dimaknakan mengesakan Dia dalam perbuatan hamba. Sebab, ibadah adalah perbuatan hamba; dan semuanya secara total ditujukan kepada Allah ‘azza wa jalla semata.

[4] Allah ‘azza wa jalla sajalah yang memiliki al-Asma’ul Husna, nama-nama yang baik yang mencapai puncak kebaikan; Dia sajalah yang memiliki ash-Shifah al-Ulya, sifat-sifat yang tinggi. Nama-nama dan sifat-sifat tersebut (sesuai dengan kabar yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah) ditetapkan untuk Allah ‘azza wa jalla sesuai dengan sisi yang layak bagi-Nya, tanpa memalingkannya, menolaknya, memisalkan, ataupun menyerupakannya dengan makhluk.

Sebab, Dia Yang Mahasuci berfirman,

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ

“Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan-Nya.” (asy-Syura: 11)

Tiga Hal yang Diridhai dan Tiga Hal yang Dimurkai Allah

KHUTBAH PERTAMA:

 

الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

Hadirin rahimakumullah,

Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)

Tidak bosan-bosannya para khatib dan penceramah mengajak kaum muslimin agar bertakwa kepada Allah, yaitu dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Sebab, itulah pangkal kesejahteraan.

 

Hadirin rahimakumullah,

Di antara bentuk ketakwaan kepada Allah ‘azza wa jalla adalah mencari keridhaan-Nya serta menjauhi kemurkaan-Nya. Allah ‘azza wa jalla berfirman di dalam al-Qur’anul karim,

          أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأۡوَىٰهُ جَهَنَّمُۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ١٦٢

Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Allah dan tempatnya adalah Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Ali Imran: 162)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Dalam khutbah kali ini, kami akan menyebutkan beberapa hal yang diridhai dan yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla. Beberapa hal tersebut disebutkan oleh hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَ ثَالًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَ ثَالًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَن وَ هَّالُ اللهُ أَمْرَكُمْ، وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal dan memurkai kalian karena tiga hal. Allah meridhai kalian jika,

  • Kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya
  • Kalian semua berpegang teguh dengan tali Allah serta tidak berpecah belah
  • Kalian saling memberi nasihat dengan orang yang Allah kuasakan padanya urusan kalian,

Allah ‘azza wa jalla akan memurkai kalian pada tiga hal,

  • Berkata-kata dengan berprasangka
  • Banyak meminta-minta atau banyak bertanya-tanya
  • Membuang-buang harta.”

(HR . Muslim)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Hadits tersebut menunjukkan bahwa perkara pertama yang diridhai oleh Allah adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam hal beribadah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ

“Sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (an-Nisa’: 36)

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Tauhid adalah modal utama untuk seseorang masuk surga dan selamat dari neraka sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ لَقِيَ اللهَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa berjumpa dengan Allah dengan tidak menyekutukan apapun dengan-Nya, niscaya akan masuk surga.” (HR . al-Bukhari dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu)

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka bagi orang70 orang yang berkata, ‘La ilaha ilallah,’ (Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah ‘azza wa jalla) dengan ikhlas sepenuh hati mengharap wajah Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Utbah radhiallahu ‘anhu)

Kesyirikan adalah penyebab utama masuk dan kekalnya seseorang dalam neraka serta terhalangnya dari masuk surga. Firman Allah ‘azza wa jalla,

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِيحُ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ ٧٢

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah al-Masih putra Maryam.”

Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabbmu.”

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. (al-Maidah: 72)

 

Hadirin rahimakumullah!

Perkara kedua yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam hadits di atas, “Berpegang teguhlah dengan tali Allah ‘azza wa jalla dan jangan berpecah belah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ

“Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.” (Ali Imran:103)

Maksudnya adalah berpegang teguh dan berpedoman dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam segala aspek kehidupan beragama (ibadah, akhlak, akidah, maupun muamalah) serta mengedepankan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah daripada ajaran lain apa pun bentuk ajarannya.

Larangan bercerai berai dari ayat dan hadits tadi menuntut kita untuk bersatu dan bersepakat di atas al-haq, al-Qur’an, dan as-Sunnah sebagaimana yang ditegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Ini tidak akan terealisasi kecuali dengan mengembalikan segala perselisihan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan orang yang mengikuti jejak mereka.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemegang kekuasaan dan alim ulama) di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul (as-Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah bersabda,

سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي إِلَى ثَ ثَالٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قَالُوا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: هُمْ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya berada di neraka kecuali satu. (Para sahabat) bertanya, ‘Siapa mereka yang selamat wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah yang seperti aku dan para sahabatku sekarang ini’.” (HR . at-Tirmidzi dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hal ketiga yang diridhai Allah ‘azza wa jalla dalam hadits di atas adalah saling menasihati dan bekerja sama dengan pemegang kekuasaan pemerintahan negeri kaum muslimin. Keputusan dan peraturan penguasa kaum muslimin temasuk pihak yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk kita taati dan patuhi, dalam hal yang baik.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri (pemegang kekuasaan dan alim ulama) di antara kalian. Jika kalian berbeda pendapat, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (as-Sunnah) jika kalian beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)

Kita juga berhak memberi usulan, masukan, dan untaian nasihat secara sopan, diam-diam, tidak terang-terangan. Kita dituntut untuk bersabar menghadapi berbagai hal atau sikap penguasa yang menurut kita tidak cocok, baik terhadap kita pribadi atau masyarakat umum. Di antara nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُفَارِقُ الْجَمَاعَةَ شِبْرَا فَيَمُوتُ إِ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat dari tindakan pemimpinnya kurang berkenan di hatinya, hendaknya dia bersabar. Karena tidaklah seseorang yang menyelisihi jamaah walaupun hanya sejengkal, kemudian dia mati, melainkan dia mati jahiliah.” (HR . al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ الْكَرِيم،ِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتَ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ.


KHUTBAH KEDUA

 

الْحَمْدُ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وِدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ شَرِيكَ لَهُ إِقْرَارًا بِهِ وَتَوْحِيدًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُه، صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا مَزِيدًا. أَمَّا بَعْدُ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Adapun tiga hal yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam hadits di atas;

Pertama, suka membicarakan berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلظَّنِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah dari banyak berprasangka.” (al-Hujurat: 12)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

“Tinggalkanlah berprasangka, karena berprasangka adalah sedusta-dustanya pembicaraan.” (HR . Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Bahkan Islam melarang seseorang memberitakan setiap apa yang dia dengar dan setiap apa yang dia lihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap dusta dengan dia membicarakan setiap apa yang dia dengar.” (HR . Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Terlebih lagi kalau sampai berdusta, padahal Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

وَٱجۡتَنِبُواْ قَوۡلَ ٱلزُّورِ ٣٠

“Jauhilah perkataan dusta.” (al-Hajj: 30)

Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

“Jauhilah dusta, karena berdusta akan mengantarkan kepada keburukan, sedangkan keburukan akan mengantarkan ke neraka. Jika seseorang selalu berdusta dan menekuninya, niscaya akan ditulis di sisi Allah ‘azza wa jalla sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 

Hal kedua yang dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla adalah banyak meminta-minta apa yang dimiliki oleh orang lain serta senang mengajukan kebutuhannya kepada orang lain. Tidaklah sepantasnya seorang muslim yang sehat menghinakan dirinya dengan cara meminta-minta.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

لاَ تَزَالُ الْمَسْأَلَةَ بِأَحَدِكُمْ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مَزْعَةُ لَحْمٍ

“Tidaklah perbuatan meminta-minta ditekuni oleh seseorang kecuali dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Pada hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Perbuatan meminta-minta adalah penggaruk yang mengoyak wajah seseorang. Kecuali jika seseorang meminta kepada penguasa atau dalam urusan yang mengharuskannya meminta.” (HR . at-Tirmidzi, dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu)

 

Hal ketiga yang dimurkai oleh Allah dalam hadits di atas adalah perbuatan menyia-nyiakan harta. Sebab, harta adalah karunia dan kenikmatan dari Allah ‘azza wa jalla yang wajib disyukuri. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman,

وَٱشۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١١٤

“Syukurilah kenikmatan Allah atas kalian jika kalian hanya beribadah kepadanya.” (an-Nahl: 114)

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, mudahkanlah kami dalam berzikir, bersyukur, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ