Kehidupan Dunia Menurut Generasi Salaf

Al-Hasan al-Bashri rahimahumallah mengatakan,

“Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari harta dengan cara yang baik, membelanjakannya dengan sederhana, dan memberikan sisanya.

Arahkanlah sisa harta ini sesuai dengan yang diarahkan oleh Allah. Letakkanlah di tempat yang diperintahkan oleh Allah. Sungguh, generasi sebelum kalian mengambil dunia sebatas yang mereka perlukan. Adapun yang lebih dari itu, mereka mendahulukan orang lain.

Ketahuilah, sesungguhnya kematian amat dekat dengan dunia hingga memperlihatkan berbagai keburukannya. Demi Allah, tidak seorang berakal pun yang merasa senang di dunia. Karena itu, berhati-hatilah kalian dari jalan-jalan yang bercabang ini, yang muaranya adalah kesesatan dan janjinya adalah neraka.

Aku menjumpai sekumpulan orang dari generasi awal umat ini. Apabila malam telah menurunkan tirai kegelapannya, mereka berdiri, lalu (bersujud) menghamparkan wajah mereka. Air mata mereka berlinangan di pipi. Mereka bermunajat kepada Maula (yakni Rabb) mereka agar memerdekakan hamba-Nya (dari neraka).
Apabila melakukan amal saleh, mereka gembira dan memohon kepada Allah agar menerima amalan tersebut. Sebaliknya, apabila melakukan kejelekan, mereka bersedih dan memohon kepada Allah agar mengampuni kesalahan tersebut.”

(Mawa’izh al-Hasan al-Bashri, hlm. 41—42)

Berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari Empat Hal

Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini, lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

 “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.

1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat

Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.

Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di antaranya:

a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas petunjuk.

b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَتَعَلَّمَهُ إِ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)

c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan. Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain, niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.

d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan dipraktikkan.

2. Hati yang Tidak Khusyuk

Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala) sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)

Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepada-Nya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dari- Nya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,

أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)

Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingat-Nya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat, di antaranya:

a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi akan ditegakkan.

b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah disuguhkan. Nabi n bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu apabila melewati ayat yang menyebutkan azab, Rasulullah n berlindung kepada AllahSubhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)

d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.

e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam shalat.

f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh, apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.

Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat. Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا مِنِ امْرِئٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوْبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا إِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يُؤْتَ كَبِيْرَةٌ

“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya, kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)

3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas

Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu mengantarkan seorang kepada kebahagiaan hidup. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)

Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia. Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat. Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan, minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut, terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah l.” (HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.

a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicita-citakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala. Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk bermaksiat.

b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban baginya.

c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan yang semisalnya.

Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab, ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi n bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian. Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan kondisi keduniaan.

4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala

Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Ghafir: 60)

Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah l ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan, tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul, namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga, tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka, tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya. Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’ fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)

Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah (introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan, atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita. Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu, koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam, semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Nikmat Berganti Petaka

Asal Usul Saba’

Ribuan tahun sebelum Masehi, berdiri sebuah kerajaan Arab kuno di bagian selatan Semenanjung Arab. Kerajaan yang makmur, aman, dan sentosa itu adalah Saba’. Saba’ adalah nama gelar salah seorang raja Yaman kuno, yaitu Saba’ bin Yasyjub. Dia digelari Saba’ karena dialah orang Arab yang pertama kali menjadikan musuh-musuh yang telah ditaklukkannya sebagai sabaya (tawanan). Dia dijuluki juga ar-Raisy, karena dialah yang pertama mengambil rampasan perang (ghanimah) lalu membagi-bagikannya kepada bangsanya. Bangsawan-bangsawan Tubba’ juga berasal dari keturunan Saba’, demikian pula Ratu Saba’ yang terkenal dan diceritakan bertemu dengan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, yaitu Bilqis.

Nama asli Saba’ sendiri ialah ‘Abd Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Tetapi, ahli sejarah dan nasab berselisih tentang Qahthan ini, keturunan siapakah dia? Ada yang berpendapat bahwa dia adalah anak cucu Iram bin Sam bin Nuh. Yang lain mengatakan dia keturunan ‘Abir, yaitu Hud ‘Alaihissalam, dan ada pula yang berpendapat dia adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘Alaihissalam. Yang terakhir ini, disimpulkan dari riwayat yang ada di dalam Shahih al- Bukhari, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu suku Anshar, yaitu Aslam, yang sedang berlomba memanah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ارْمُوا يَا بَنِي إِسْمَاعِيلَ، ارْمُوا فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا

“Panahlah, hai bani Isma’il, karena bapak kalian dahulu seorang pemanah.”

Hal ini karena orang-orang Anshar, baik Aus maupun Khazraj, berasal dari suku Azdi. Suku Azdi ini adalah keturunan Saba’ yang dahulu melakukan migrasi dari Yaman ke daerah sekitarnya, bahkan sampai ke Syam, Irak, dan Hijaz. Wallahu a’lam.

Kebanyakan peneliti menyebutkan bahwa kerajaan Saba’ adalah kerajaan tertua di Semenanjung Arab, dan telah berdiri di tanah Arab sejak 1300 SM. Ada juga yang berpendapat lebih tua dari itu (sekitar 2500 SM). Ibu kota pertama negeri ini adalah Shirwah, kemudian pindah ke Ma’rib yang akhirnya menjadi pusat perdagangan penting saat itu. Kerajaan Saba’ sudah dikenal di kalangan umat-umat terdahulu sebelum Islam. Di dalam Taurat, demikian pula dalam prasasti di zaman Raja Asyiria (720—705 SM), termaktub cerita yang menerangkan bahwa Kerajaan Saba’ pernah mengirimkan hadiah berupa emas, wangi-wangian, dan kayu a’syab kepada Raja Asyiria.  Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba’, nama apakah itu, apakah seorang laki-laki ataukah perempuan, ataukah sebuah negeri?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَلْ هُوَ رَجُلٌ وَلَدَ عَشَرَةً فَسَكَنَ الْيَمَنَ مِنْهُمْ سِتَّةٌ وَبِالشَّامِ مِنْهُمْ أَرْبَعَةٌ فَأَمَّا الْيَمَانِيُّونَ فَمَذْحِجٌ وَكِنْدَةُ وَالْأَزْدُ وَالْأَشْعَرِيُّونَ وَأَنْمَارٌ وَحِمْيَرُ، عَرَبًا كُلَّهَا، وَأَمَّا الشَّامِيَّةُ فَلَخْمٌ وَجُذَامُ وَعَامِلَةُ وَغَسَّانُ

“Dia adalah (nama) seorang lakilaki yang mempunyai sepuluh orang anak. Enam di antara mereka menetap di Yaman, sedangkan yang empat lagi bermukim di Syam. Yang menetap di Yaman ialah Madzhij, Kindah, Azdi, Asy’ari, Anmar, dan Himyar. Semua adalah bangsa Arab. Adapun yang menetap di Syam ialah Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan Ghassan.”

Jadi, Saba’ adalah nama orang yang kemudian diabadikan sebagai nama sebuah kerajaan besar masa itu. Dialah yang pertama kali membangun kota Ma’rib (tiga marhalah5 dari ibu kota Shan’a). Sebagian ulama mengatakan bahwa dia seorang muslim. Dia mempunyai beberapa bait syair yang menerangkan berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Akan menguasai kerajaan besar sepeninggal kami Seorang nabi yang tidak memberi keringanan terhadap yang haram Penduduk Saba’ bertempat tinggal di Yaman, sebagian mereka mendiami kota-kota besar dengan bentengbentengnya yang kokoh. Sisa-sisa peninggalan bangunan tersebut masih dapat kita lihat di zaman kita ini, meskipun kebanyakannya berupa puing-puing. Bekas-bekas tersebut menjadi bukti ‘kemajuan’ mereka saat itu dalam bidang arsitektur. Sebagaimana di atas, Saba’ di zaman itu adalah negeri yang subur dan makmur. Curah hujan yang tinggi adalah salah satu sebabnya, dan itu semua adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala bagi mereka. Kebun kurma dan anggur tumbuh dengan subur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (Saba’: 15)

Kebun-kebun itu berada di kanan kiri wadi yang luas (biasanya dilalui air jika hujan turun). Begitu luasnya, diceritakan bahwa siapa saja yang berjalan di kebun-kebun itu tidak akan keluar dari naungan pepohonannya, karena subur dan lebatnya. Bahkan, para wanita yang ingin memetik hasil kebun mereka, cukup hanya membawa sebuah keranjang yang dijunjung di atas kepalanya dan berjalan di bawah rimbunan pohon di kebun mereka. Begitu mereka keluar, keranjang itu sudah penuh dengan buah-buahan. Sistem pemerintahan mereka juga lebih maju, angkatan perang negeri itu terkenal kuat. Seperti diceritakan di dalam al-Qur’an, betapa besar percaya diri para pembesar istana Ratu Saba’ ketika dimintai pendapat mereka oleh sang Ratu sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala

نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ

“Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan).” (an-Naml: 33)

Allah Subhanahu wata’ala benar-benar melimpahkan berbagai kesenangan hidup kepada mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukil cerita sebagian ahli bahwa di negeri itu dahulunya tidak terdapat serangga berbisa, nyamuk, dan kutu, karena iklim yang stabil. Semua itu adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satu-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Penduduk Saba’ benar-benar menikmati kesenangan yang berlimpah di negeri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala mengutus para rasul yang memerintahkan mereka memakan sebagian rezeki yang Allah Subhanahu wata’ala berikan dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لُوا مِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.” (Saba’: 15)

Ibnu Ishaq menukilkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus tiga belas orang nabi kepada penduduk Saba’, sementara as-Suddi mengatakan ada sekitar 12.000 nabi yang diutus kepada mereka. Demikian dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya tentang surat ini.

Bendungan (Sadd) Ma’rib

Mulanya, air sungai mengalir begitu saja dari tempat yang sangat jauh tanpa mereka manfaatkan. Ada yang menyebutkan hampir tujuh puluh cabang anak sungai yang mengalir di sekeliling mereka. Penguasa Himyar yang memerintah saat itu menawarkan kepada rakyatnya untuk membuat bendungan sebagai tempat yang menampung dan mengatur sirkulasi air tersebut. Rakyat menerima dan mulai bekerja sama membuat bendungan tersebut dengan batu dan besi.

Di beberapa tempat mereka membuat saluran untuk mengatur sirkulasi air ke sawah ladang mereka, sehingga air itu benar-benar tersebar merata. Tinggi bendungan ini ada yang mengatakan 16 meter, sedangkan lebarnya 60 meter dan panjangnya 620 meter. Tetapi, melihat keadaan yang senantiasa menyenangkan itu, tumbuhlah dalam hati mereka keyakinan seakanakan kerajaan mereka tidak mungkin ada yang dapat menghancurkannya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai menyembah matahari. Mereka merasa, mataharilah yang memberi kehidupan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا

“Tetapi mereka berpaling,” (Saba’: 16)

dari beribadah dan mensyukuri Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang telah dilimpahkan- Nya kepada mereka. Setan menggiring mereka agar beribadah kepada matahari. Kebiasaan baru yang buruk dan keji ini terus berlanjut turun-temurun, bahkan sampai pada masa pemerintahan Ratu Saba’, yang merupakan penguasa generasi ke-17 di kerajaan itu. Mereka merasa aman, yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah budaya leluhur dan adat-istiadat yang baik. Para rasul yang diutus kepada mereka justru diingkari dan dimusuhi. Setelah Ratu Saba’ beriman kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam, rakyatnya ikut pula beriman. Sampai beberapa kurun, mereka tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Namun, lama kelamaan, semakin jauh dari masa nubuwah, kehidupan yang serbanyaman, membuat mereka sombong.

Kesenangan yang mereka rasakan diakui sebagai milik mereka dan diperoleh karena usaha keras mereka. Sedikit demi sedikit, mereka kembali kepada budaya leluhur mereka yang salah jalan, menyembah matahari. Keadaan itu berlanjut sampai memasuki abad setelah masehi. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lain menyebutkan, ketika Allah Subhanahu wata’ala hendak menimpakan hukuman-Nya atas kekafiran mereka, dengan mengirimkan banjir besar kepada mereka, Dia mengirimkan seekor binatang sebangsa tikus yang menggerogoti bendungan itu. Menurut Ibnu Munabbih rahimahullah, penduduk Saba’ telah mendapati dalam kitab mereka bahwa bendungan itu akan dihancurkan oleh binatang sebangsa tikus, maka mereka menyiapkan kucing untuk menangkap tikus tersebut.

Tetapi, ketika waktu datangnya bencana itu sudah tiba, kucing yang mereka persiapkan tidak mampu menangkap tikus yang lari memasuki celah bendungan lalu menggerogoti bendungan itu. Tidak lama setelah itu, air pun menjebol dinding bendungan lalu menelan semua yang dilaluinya. Kebun-kebun yang hijau dengan buah-buahan yang rimbun hancur luluh. Pohon-pohon di kiri kanan wadi itu menjadi kering, mati. Kebun-kebun itu akhirnya ditumbuhi pohon atsl yang rasanya pahit dan sedikit pohon sidr (bidara). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُم بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِّن سِدْرٍ قَلِيلٍ () ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُم بِمَا كَفَرُوا ۖ وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ

“Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan duakebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka, dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16—17)

Negeri Saba’ hancur. Bendungan itu pun akhirnya tinggal puing-puing yang tidak berguna. Sawah, ladang, manusia, dan ternak binasa. Ayah kehilangan anaknya, atau sebaliknya, dan istri kehilangan suaminya, demikian sebaliknya. Penduduk Saba’ pun pindah mencari tempat tinggal yang lain. Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Kebanyakan mereka pindah ke utara semenanjung Arab dan pantai timurnya serta wilayah Syam dan Irak. Termasuk yang eksodus ialah Aus dan Khazraj yang menetap di Yatsrib (sekarang Madinah), Ghassan yang mendirikan kerajaan di Syam, juga Lakhm yang mendirikan kerajaan di Irak, dan bani ‘Abd Qais yang mendirikan daulah ‘Amman.Menurut sebagian ahli sejarah, penyebaran itu terjadi 400 tahun sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Kini, Yaman termasuk negara paling miskin di Semenanjung Arab. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah Kisah

Dari kisah yang ringkas ini, ada beberapa faedah yang dapat dipetik, antara lain:

1. Kesenangan yang diberikan Allah Subhanahu wata’ala kepada penduduk Saba’ tidak hanya bersifat jasmani berupa kesuburan tanah atau hasil panen yang berlimpah dan berkualitas, tetapi juga janji ampunan dan maaf atas kekurangan dan kesalahan. Tetapi Saba’ berpaling dari syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak pula mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wata’ala.

2. Kemaksiatan menjadi sebab turunnya azab dan hilangnya kenikmatan. Kehancuran umat-umat sebelum kita adalah karena mereka mengingkari nikmat yang dilimpahkan kepada mereka, kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jauh dari agama.

3. Semua kesenangan yang dirasakan oleh manusia adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak memiliki apa-apa ketika keluar dari rahim ibunya. Mata, telinga, dan akalnya belum berfungsi. Beranjak dewasa, Allah Subhanahu wata’ala memberikan fungsi bagi alat-alat tersebut sehingga seorang manusia dapat mengupayakan manfaat untuk dirinya, atau menolak mudarat dari dirinya.

4. Tidak ada yang melepaskan seseorang atau masyarakat dari kehancuran dan murka Allah Subhanahu wata’ala selain kembali bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mmemperbaiki dirinya di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Saat Anda Dalam Kebatilan : 10 Bahan Renungan

Renungan Kelima
Renungkan, anggaplah bahwa Anda tumbuh dalam kebatilan. Itu tidak lepas dari (dua keadaan): didahului oleh sikap menyepelekan dan tidak. Pada kondisi yang pertama, apabila dia terus melakukan kekurangan tersebut dan tidak meninggalkannya, itu berarti kehancurannya. Jika ia kemudian belajar dan kebenaran menjadi jelas baginya, lalu kembali kepada kebenaran, berarti ia memperoleh kesempurnaan. Hilanglah darinya kekurangan yang ada sebelumnya. Sebab, tobat menghilangkan kekurangan yang sebelumnya. Orang yang bertobat dari dosa seperti halnya orang yang tidak pernah berdosa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyucikan diri.” (al-Baqarah: 222)

Dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak Adam sering salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang senantiasa bertobat.” (HR . at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi, dan Ahmad)

Kondisi kedua, seseorang tumbuh dalam kebatilan tanpa didahului oleh sikap menyepelekan. Pada kondisi ini, ia tidak tercela sama sekali dengan sebab kekurangan yang lalu. Penilaian itu berlaku terhadap kondisinya setelah dia diingatkan. Kalau setelah diingatkan, ia berpikir dan sadar, lalu mengetahui yang benar dan mengikutinya, ia beruntung. Demikian pula jika dia mengalami ketidakjelasan, lalu bersikap hati-hati (ia juga termasuk yang beruntung). Namun, apabila saat diingatkan dia berpaling dan menjauh, itulah kebinasaannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Ketika Dunia Menjadi Harga Keyakinan

Allah telah menguji setiap hamba-Nya dengan ujian yang berbedabeda. Tidak ada sedikit pun dalam ujian tersebut, Allah l menzalimi mereka. Semua terjadi dan berjalan di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Terjadinya, tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya, menghalanginya, mengubahnya, dan menggantikannya. Itulah ketentuan yang tidak akan berubah dan itulah sunnatullah yang tidak akan berganti.

Termasuk ujian yang bersifat menyeluruh atas para hamba-Nya adalah dunia yang indah dan hijau ini, perhiasan yang selalu dilirik, kemegahan yang senantiasa dikejar. Tahukah Anda, di belakang gemerlap dan keindahannya yang memikat, tersimpan bencana dan penipuan yang besar?

Cermati, lihat, dan belajarlah dari orang yang telah tenggelam di dalamnya. Dia mengira bahwa dunia ini diciptakan untuknya dan dia diciptakan untuk dunia. Lihat pula kemajuan yang telah diraih oleh negeri-negeri kafir, ternyata semua itu menjadi bumerang dan senjata makan tuan.

Dunia telah memikat, menjerat, membungkam, meninabobokan, dan merongrong agama seseorang. Menurut al-Imam Ibnu Qayyim, dunia itu bagaikan seorang wanita pelacur yang tidak pernah puas dengan satu suami. Dia akan mencari laki- laki yang akan berbuat baik kepada dirinya dan dia tidak menyukai seorang lelaki yang pencemburu.

Orang yang berjalan mengejar dunia bagaikan orang yang berjalan di daerah yang penuh binatang buas. Jika dia berenang ingin menggapainya, ia bagaikan orang yang mengejarnya dalam pusaran air yang penuh buaya.” (Lihat al-Fawaid karya Ibnul Qayyim hlm. 53)

Allah Subhanahuwata’ala  mencela Dunia

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiadalah kehidupan dunia selain kesenangan yang menipu.”( Al‘iI mran: 185)

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Berilah perumpamaan kepada mereka, kehidupan dunia bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit. Menjadi suburlah tumbuh-tumbuhan karenanya di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Adalah Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia,tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh lebih baik pahalanya disisi Rabbmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (al-Kahfi: 45—46)

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaituwanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yangbaik(jannah/ surga). Katakanlah,‘Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baikdari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa( kepadaA llah),pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka di karuniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah, dan AllahMahaMelihat akan hamba-hamba-Nya.” (AliImran: 14-15)

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka, dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu memahaminya?”( al- An’am: 32)

إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالْأَنْعَامُ حَتَّىٰ إِذَا أَخَذَتِ الْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan hidup dunia ini adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya tanaman-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai perhiasannya, serta para pemiliknya menyangka bahwa mereka sanggup menguasainya, tiba-tiba datanglah kepada mereka azab Kami diwaktu malam atau siang. KemudianKami jadikan tanaman-tanamannya laksana tanaman yang sudah disabit, seakan akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami bagi orangyang berpikir.” (Yunus: 24)

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Tidaklah kehidupan dunia ini selain senda gurau dan main-main belaka. Dan sesungguhnya akhirat itu sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 64)

إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Sesungguhnyajanji-janji Alla itu benar , maka janganlah kehidupan dunia menipu kalian dan jangan sekali-kali setan menipu kalian dijalan Allah.” (Luqman: 33)

Ketika membahas tafisr surat al-Fath, as-Sa’di menerangkan, “Ini adalah bentuk pendidikan kezuhudan dari Allah l kepada segenap hamba-Nya terhadap kehidupan dunia, yakni dengan memberi tahu mereka tentang hakikat dunia. Sesungguhnya dunia itu adalah main-main dan sia-sia. Main main dalam urusan badan dan sia-sia dalam urusan hati. Seorang hamba

senantiasa berada dalam kelalaian karena urusan harta, anak-anak, perhiasan, dan segala bentuk kelezatannya, baik dari sisi wanita, makanan, minuman, tempat tinggal, tempat peristirahatan, pemandangan, maupun kepemimpinan. Sia-sia dalam setiap amal yang tidak ada faedahnya. Bahkan, dia berada dalam kemalasan, kelalaian, dan kemaksiatan sampai dunianya terpenuhi dan ajalnya datang menghampiri. Hal ini menuntut orang yang berakal untuk bersikap zuhud terhadap dunia, tidak mencintainya, dan benar-benar mewaspadainya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 790)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  Mencela Dunia

Diriwayatkan dari Jabir , Rasulullah melewati sebuah pasar di daerah Awali dan orang-orang berada di sekelilingnya. Beliau melewati seekor anak kambing yang telah mati. Anak kambing itu bertelinga kecil. Beliau mengambilnya dan memegang telinganya lalu berkata, “Siapa yang mau membelinya dengan harga satu dirham?” Mereka menjawab, “Siapa di antara kami yang senang memilikinya? Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau berkata, “Apakah kalian senang memilikinya?” Mereka berkata, “Jikapun dia hidup, dia tetaplah cacat. Lantas bagaimana lagi ketika dia sudah mati?” Beliau bersabda, “Demi Allah, dunia lebih hina di hadapan Allah daripada hinanya (bangkai) ini di hadapan kalian.” (HR. Muslim no. 5257)

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ

فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا،

وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ

كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau(enak rasanya dan menyenangkan tatkala dipandang), dan sungguh Allah mengangkat kalian silih berganti dengan yang lain didunia ini, lantas Dia akan melihat apayangkalian perbuat(dengan duniaitu). Oleh karena itu, hati-hatilah kalian terhadap urusan dunia dan wanita, karena awal petaka yang menimpa Bani Israil adalah dalam halwanita.” (HR. Muslim no. 4925 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu anhu )

وَاللهِ، مَا الدُّنْيَا فِي ا خْآلِرَةِ إِ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ
أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ-وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ
فِي الْيَمِّ-فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ

“Demi Allah, tidaklahdunia dibandingkan dengan akhirat selain seperti seseorang yang meletakkan jarinya ini—Yahya, salah seorangperawi, mengisyaratkan dengan telunjuknya ke dalam air—hendaknya dia melihat apa yang ada dijarinya tersebut.” (HR. Muslim no. 5101 dari sahabat al- Mustaurid radhiyallahu anhu )

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Setiap umat ditimpa oleh ujian, dan ujian yang akan menimpa umatku adalah harta benda.” (HR. at-Tirmidzi no. 2258 dari Ka’b bin ‘Iyadh radhiyallahu anhu )

عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ  نَامَ رَسُولُ اللهِ
أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا

لَكَ وِطَاءً؟ فَقَالَ: مَا لِي وَمَا لِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي

الدُّنْيَا إِ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ

رَاحَ وَتَرَكَهَا

Rasulullah tidur diatas sebuah tikar. Tikar tersebut membekas di bagian lambung beliau. Lantas kami mengatakan,“Wahai Rasululah, bolehkah kami membuatkan kasur?” Beliau bersabda,“Tiadalah saya dengan dunia selain seperti orang yang bepergian lalu berteduh dibawah pohon kemudian dia pergi meninggalkannya.”( HR.a t-Tirmidzi no. 2299 dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu )

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا

مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua ekor serigala dalam keadaan lapar dilepas pada sekawanan kambing akan lebih merusak dibandingkan dengan ambisi harta dan kedudukan terhadap agama seseorang.”(HR. at-Tirmidzi no. 2298 dari sahabat Ka’b bin Malik radhiyallahu anhu )

Allah Subhanawata’ala telah menyebutkan dunia pada banyak tempat dalam kitab suci- Nya dalam rangka menghinakannya, demikian pula Rasul-Nya di dalam as-Sunnah. Tentu tujuannya agar para hamba tidak tertipu dan terlena. Dalam hal menanggapi berita dari Allah Subhanahuwata’ala dan menyikapi pengutusan imam para rasul, Nabi Muhammad, manusia terbagi menjadi beberapa golongan.

1. Golongan yang acuh tak acuh terhadap peringatan tersebut. Mereka tidak mau tahu tentangnya. Yang penting, segala hasratnya terpenuhi, semua keinginannya terwujud, dan citacitanya tercapai.

2. Golongan yang mau mendengarkan berita dari Pemilik dunia ini, Yang mengatur dan Yang menciptakannya. Namun, karena dorongan hawa nafsunya yang besar, semua berita itu tidak memiliki nilai kesakralan dan keabsahan. Masuk dari telinga kanan dan keluar dari telingakiri.

3. Golongan yang mendengar,mematuhi, dan melaksanakan segala apa yang diwahyukan oleh Allah tentang dunia.

Dia berusaha mendudukkan dunia dan menjadikannya sebagai alat bantu untuk mewujudkan ketaatan kepada Allah. Dia mencarinya karena melaksanakan tugas. Apabila dia mendapatkannya, dia tidak tergolong orang yang kufur. Sebaliknya, apabila tidak mendapatkannya,dia tidak tergolong orang yang putus asa. Dia mengetahui bahwa dunia ini adalah kenikmatan yang semu dan menipu.

Dunia, Sumber Malapetaka

Tidak samar lagi bagi orang yang berakal tentang bahaya dunia terhadap kehidupan manusia ketika dunia itu tidak ditundukkan untuk membantunya melakukan ketaatan kepada Allah. Dunia telah menyebabkan turunnya berbagai bentuk peringatan dari Allah .Dunia menjadi sebab hancurnya hubungan kekerabatan dan kekeluargaan.

Dunia pula yang menghancurkanpersatuan dan kesatuan umat sehingga berujung pada malapetaka kelemahan, (yang dengan sebab itu) mereka kemudian dihinakan oleh musuh Allah.Dunia telah menjadikan seseorang terhina dan menghinakan diri. Dunia telah mengobrak-abrik tatanan kehidupan manusia secara umum dan kaum muslimin secara khusus.

Dunia telah menyebabkan hilangnya nyawa, terhinakannya kehormatan, dan hancurnya harta benda. Dunia telah menjadikan seseorang buta dari kebenaran, dia menolaknya karena dunia, menentangnya karena dunia, dan memeranginya karena dunia. Dunia telah menjadikan hati seseorang mati. Dunia adalah asal segala malapetaka.

Dunia, Sebab Utama Menolak Kebenaran

Kebenaran datang dari Allah dan tidak ada setelah kebenaran tersebut selain kesesatan. Terangnya kebenaran dan jelasnya jalan kebatilan bagi sebagian kalangan bisa menjadi tersembunyi. Bahkan, terangnya kebenaran itu akan ditolak oleh orang yang dibutakan oleh dunia. Tidak ada keraguan lagi bahwa setiap nafsu memiliki berbagai keinginan yang tercela, seperti cinta kepada dunia,

mencari ketinggian, berlomba-lomba di hadapan makhluk, mencari kedudukan, dan sebagainya. Ditambah lagi, manusia memiliki tabiat zalim dan melampaui batas. Allah  berfirman,

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat zalim dan jahil.”( al-Ahzab:7 2)

Terkadang, banyak sebab yang mendorong sifat yang tersimpan pada diri setiap manusia itu muncul. Di antaranya adalah hawa nafsu sehingga dia menolak kebenaran padahal dia mengilmuinya. Sikap ini muncul karena ia mengikuti hawa nafsu dan menuntut kemuliaannya terjaga atau ingin memperoleh sedikit dunia.

Anda bisa menemukan mereka dalam kondisi menyelisihi kebenaran, padahal mereka mengetahuinya, karena ingin memperoleh dunia. Mereka berteriak seolah-olah pembela kebenaran. Abu Wafa’ Ali bin ‘Aqil al-Hambali berkata, “Cinta kepada pamor dan condong kepada dunia, berbanggabangga, bermegah-megahan, dan menyibukkan diri dengan segala bentuk kelezatan dunia dan segala hal yang akan mendorong kepada kemewahan, semua itu bisa menjadi sebab seseorangberpaling dan menolak kebenaran.” (al-Wadhih fi Ushulil Fiqh, 1/522)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Pencari kedudukan, walaupun dengan kebatilan, akan menyukai satu kalimat yang mengagungkan dirinya sekalipun itu batil. Sebaliknya, ia akan membenci ucapan yang mencelanya, kendati hal itu benar. Adapun orang yang beriman mencintai kalimat yang haq untuknya meskipun itu “menyerangnya”, serta membenci kedustaan dan perbuatan zalim.”(Majmu’ al-Fatawa 10/600) Al-’Allamah Abdul Lathif bin

Abdurrahman Alusy Syaikh berkata tentang orang-orang yang berpaling dari kebenaran, “Golongan yang kedua, para pemimpin dan pemilik harta benda yang telah tenggelam dalam dunia dan syahwat mereka. Sebab, mereka mengetahui bahwa kebenaran bisa menghalangi mereka dari segala keinginan, kesenangan, dan syahwat mereka. Mereka tidak memedulikan segala bentuk seruan menuju kebenaran dan tidak mau menerimanya.” (Uyun ar-Rasail hlm. 2/650)

Perilaku setiap orang yang berpaling dari kebenaran karena harta, kedudukan, atau pamor, mirip dengan perilaku orang-orang Yahudi. Sesungguhnya ulama-ulama Yahudi memiliki “sumber” penghidupan pada orang-orang kaya kaumnya.

Oleh karena itu, saat Rasulullah datang membawa kebenaran, mereka mengetahui bahwa yang dibawanya adalah haq. Namun, karena dunialah mereka mengingkari dan mengkufurinya. Mereka menyembunyikan kebenaran yang mereka ketahui dari bani Israil.

Dunia, Sebab Utama Kesesatan

Saat menafsirkan firman Allah l,

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا

“Dan janganlah kalian menjual ayat-ayat-Ku dengan harga sedikit.” (al-Baqarah: 41)

Abul Muzhaffar as-Sam’ani berkata, “Mereka adalah para ulama Yahudi dan para pendeta yang telah memiliki sumber penghasilan dari orang-orang kaya mereka dan orang-orang jahil yang mengikuti mereka. Mereka khawatir penghasilan tersebut hilang apabila mereka beriman kepada Muhammad, Rasulullah.

Akhirnya, mereka mengubah ciriciri beliau (yang tercantum dalam kitab mereka, red.) dan menyembunyikan nama beliau. Inilah makna menjual ayat-ayat Allah dengan harga sedikit.” (Tafsir al-Qur’an 1/22)

Kedudukan, kewibawaan, dan kepemimpinan juga telah melandasi para pemuka Quraisy untuk mengingkari Nabi Muhammad, memerangi, dan memusuhinya. Bersamaan dengan itu, mereka mengetahui dan mengakui kebenaran yang diserukan beliau. Al-Miswar bin Makhramah berkata kepada Abu Jahl, pamannya, “Wahai pamanku, apakah kalian menuduh Muhammad berdusta sebelum dia mendakwahkan apa yang diserukan?” Abu Jahl berkata, “Hai anaksaudaraku. Demi Allah, sungguh saat mudanya, di tengah-tengah kami dia dikenal sebagai seorang yang tepercaya (jujur). Kami tidak pernah mengetahui dia berdusta. Tentu setelah bertambah usia dia tidak mungkin akan berdusta atas nama Allah.”

Al-Miswar berkata, “Hai pamanku, mengapa kalian tidak mengikutinya?” Dia berkata, “Hai anak saudaraku, kami telah berselisih dengan bani Hasyim dalam hal kepemimpinan. Mereka memberi makan (orang-orang), kami juga memberi makan. Mereka memberi minum, kami pun memberi minum. Mereka memberi perlindungan, kami juga melakukannya. Tatkala kami saling berlomba-lomba, bani Hasyim berkata, ‘Dari kami ada seorang nabi. Kapan kalian mendapatkannya?’.” (Lihat Miftah Daar as-Sa’adah 1/93)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Meskipun Abu Thalib mengetahui bahwa Muhammad adalah Rasulullah dan dia mencintainya, cintanya bukan karena Allah l, melainkan karena dia adalah anak saudaranya. Dia mencintainya karena kekerabatan. Kalaupun dia membela beliau, itu karena ingin memperoleh kedudukan dan kepemimpinan.

Jadi, asal muasal cintanya adalah karena sebuah kedudukan. Hal itu terbukti saat Rasulullah menawarinya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat menjelang ajalnya. Dia melihat bahwa mengikrarkannya akan melenyapkan agama yang dicintainya. Agamanya lebih dia cintai daripadaanak saudaranya. Oleh karena itu, dia menolak mengikrarkannya.” (Fatawa Kubra’ 6/244)

Asy – Syaukani  berkata ,“Terkadang, sebuah ucapan yang haq ditinggalkan karena seseorang ingin menjaga apa yang telah dia peroleh dari negaranya baik berbentuk materi maupun kedudukan. Bahkan, terkadang ucapan yang haq itu ditinggalkan karena berbeda dengan apa yang terjadi di tengah tengah manusia, dalam rangka mencari simpati mereka dan agar mereka tidak lari. Terkadang pula, dia meninggalkan ucapan yang benar karena ketamakannya terhadap apa yang diharapkan dari negaranya atau dari banyak orang di kemudian hari.” (Adabuath-Thalib wa Muntaha al-Arb hlm. 41)

Al-Imam Ibnu Qayyim berkata, “Saya telah berdialog dengan ulama Nasrani yang kelasnya terpandang pada hari ini. Saat jelas kebenaran dihadapannya, dia terdiam. Saya berkata kepadanya tatkala menyendiri dengannya, ‘Sekarang, apa yang menghalangi Anda untuk menerima kebenaran?’ Dia berkata kepadaku, ‘Apabila saya datang ke tengah-tengah kaum Himyar, mereka menaburkan bunga yang semerbak di bawah kaki kendaraanku. Mereka menjadikanku sebagai hakim dalam urusan harta benda dan istri mereka. Mereka tidak pernah menentang segala hal yang aku perintahkan.

Aku ini tidak punya keahlian untuk bekerja. Aku tidak bisa menghafal al-Qur’an, tidak pula mengetahui ilmu nahwu dan fikih. Andaikan aku masuk Islam, niscaya aku akan berkeliling di pasar-pasar, meminta-minta kepada orang banyak. Siapa yang tega hal itu terjadi?’

Aku mengatakan, ‘Itu tidak akan terjadi. Bagaimana sangkaan Anda kepada Allah l saat Anda mengutamakan ridha-Nya di atas nafsu Anda, apakah Dia akan menghinakan, merendahkan, dan menjadikan Anda miskin?

Jika hal itu benar-benar menimpa Anda, kebenaran yang telah Anda raih, keselamatan dari neraka, murka, dan marah Allah adalah harga yang jauh lebih pantas dibandingkan dengan apa yang luput dari Anda.’

Dia berkata, ‘Sampai Allah merestui.’ Saya lalu berkata, ‘Takdir bukan alasan. Jika takdir bisa menjadi alasan, tentu takdir bisa menjadi alasan orang orangYahudi saat mendustakan Nabi Isa . Demikian pula, dia akan menjadi hujah bagi kaum musyrikin ketika mendustakan seruan Rasulullah. Kalian sendiri menolak takdir, bagaimana bisa kalian berhujah dengannya?’ Dia berkata, ‘Biarkan kami dari ini.’ Diapun terdiam.”(Hidayatul HayarafiAjwibatil YahudiwanNashara hlm. 12)

Oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Nasehat Untuk Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menjadikan umat ini sebaik-baik umat yang dimunculkan untuk manusia. Predikat mulia ini mereka raih karena menegakkan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan memperjuangkan agama-Nya. Di antaranya adalah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu mengajak manusia untuk menjalankan kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Amar ma’ruf nahi mungkar adalah urusan pokok dalam agama ini. Jika perkara ini dijalankan dengan tulus dan benar niscaya kebaikan akan merata, kejahatan akan menyempit dan mereda, serta kehidupan manusia akan lurus lagi terbimbing.

Penyakit yang Harus Diobati

Sungguh, tidak akan beres kehidupan manusia tanpa adanya amar ma’ruf nahi mungkar karena tabiat manusia adalah suka melampaui batas dan berbuat zalim, kecuali yang memang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Tabiat jelek ini memiliki faktor yang melandasinya, di antaranya: jiwa yang jelek, setan dari golongan jin dan manusia yang memperindah perbuatan jelek untuk menipu. Belum lagi beragam bujuk rayu syahwat yang diharamkan dan berbagai syubhat yang ditebarkan. Inilah di antara perkara-perkara yang menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kemaksiatan sehingga tersendat derap langkah hatinya menuju negeri kedamaian di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Seseorang yang telah terjangkiti penyakit syahwat yang diharamkan dan penyakit syubhat (pemikiran yang menyimpang dari kebenaran) hendaknya segera diobati. Jika tidak, hati akan mati atau setidaknya berpenyakit.

Jika di tengah-tengah manusia berdiri sekian rumah sakit untuk mengobati beragam penyakit badan berikut beragam dokter spesialis, tentu penyakit syahwat dan syubhat lebih berhak mendapatkan penanganan yang serius, karena jika tidak segera diobati akan membahayakan kalbu dan agama. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila baik, akan baik pula seluruh tubuh, dan bila rusak akan rusak seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah kalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Agar Terhindar dari Azab Allah subhanahu wa ta’ala

Kita meyakini bahwa segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala, larangan dan aturan-Nya, adalah semata-mata maslahat bagi manusia. Apabila dilanggar, kesemrawutan hidup tidak bisa dihindarkan. Bahkan, jika kemaksiatan telah merajalela, laknat dan azab Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa ditangkal. Hal ini seperti yang dialami oleh bani Israil, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

Oleh karena itu, amar ma’ruf nahi mungkar harus kita tegakkan agar terhindar dari ancaman Allah subhanahu wa ta’ala, tentu sebatas kemampuan kita masing-masing.

Sifat-Sifat yang Harus Disandang oleh Pelaku Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Ketahuilah bahwa amar ma’ruf nahi mungkar adalah amalan yang paling mulia dan memiliki tujuan yang sangat utama. Oleh karena itu, amalan ini tidak bisa dilakukan serampangan dan hanya bermodalkan semangat. Ada hal-hal yang semestinya diperhatikan dan rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh orang yang terjun di kancah dakwah ini. Di antaranya:

  1. Berilmu tentang hal yang ma’ruf (baik) dari yang mungkar (jelek)
    Hal ini harus ada karena amar ma’ruf nahi mungkar adalah bagian dari dakwah yang menuntut adanya bashirah (pengetahuan) tentang perkara yang akan disampaikan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)

Tanpa mengenal yang ma’ruf dan yang mungkar, seseorang tidak akan mungkin menjalankan amalan yang mulia ini. Pepatah arab mengatakan:

فَاقِدُ الشَّيءِ لَا يُعْطِيهِ

“Orang yang tidak punya sesuatu pun, tidak bisa memberi.”

Amar ma’ruf nahi mungkar tanpa ilmu tidak akan membuahkan perbaikan apa pun, justru akan lebih banyak mendatangkan mudarat. Hal ini seperti yang dilakukan oleh sebagian da’i yang suka menyampaikan hadits-hadits lemah atau palsu tentang keutamaan-keutamaan amalan. Tanpa terasa, dengan ini mereka telah menebarkan kebid’ahan dalam amalan, sementara mereka menyangka sedang mengajak kepada Sunnah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perlu diketahui bahwa timbangan untuk mengukur yang baik dan yang buruk adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah yang kuat (sahih) sesuai dengan yang dipahami oleh generasi salaf umat ini.

Tak lupa pula kita ingatkan bahwa ada masalah-masalah khilafiyah (yang masih diperselisihkan oleh ulama). Ada perkara khilafiyah yang menyisakan ruang bagi ulama untuk berijtihad dan tidak ada bentuk penyelisihan terhadap dalil Al-Qur’an, hadits yang kuat, dan kesepakatan ulama. Pada jenis khilafiyah yang seperti ini, seseorang harus berlapang dada jika ada yang menyelisihinya serta tidak boleh melakukan pengingkaran terhadap yang menyelisihi pendapatnya. Al-Imam Ibnu Muflih rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh mengingkari orang yang berijtihad dalam hal yang diperbolehkan berbeda pendapat dalam masalah cabang (bukan pokok agama).” Sufyan ats-Tsauri berkata, “Jika kamu melihat seseorang melakukan suatu amalan yang masih diperselisihkan sedangkan kamu berpendapat lain, engkau tidak boleh melarangnya.” (Lihat Adabul Khilaf karya Dr. Shalih bin Abdillah bin Humaid hlm. 39)

  1. Ikhlas

Jika keikhlasan menyertai amalan yang mulia ini niscaya akan membuahkan kebaikan bagi semua pihak. Orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sedangkan orang yang diajak sangat besar kemungkinannya menerima dakwah. Bisa jadi, satu kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang berasal dari hati yang tulus memiliki pengaruh yang hebat. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Akan tetapi, ketahuilah bahwa apabila kamu mengatakan yang haq (kebenaran) dengan mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan ada pengaruh (yang baik), meskipun kebenaran itu (pada awalnya) ditolak di hadapanmu.”
Kalimat yang haq pasti akan membekas, cepat atau lambat. (Syarah al-Arba’in hlm. 154)

Keikhlasan dalam amar ma’ruf nahi mungkar bisa muncul jika hati seseorang merasa terpanggil untuk menegakkan agama Allah subhanahu wa ta’ala dan memperjuangkannya. Demikian pula, beragam penyelewengan yang ia saksikan di tengah-tengah umat mendorongnya melakukan langkah perbaikan. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap umat menjadikan hatinya tidak rela jika umat jauh dari kebaikan dan terjerumus dalam jurang kenistaan. Memang tidak sama orang yang menangis karena ditinggal mati oleh kekasihnya dengan orang yang menangis karena bayaran.

  1. Mengamalkan apa yang disampaikan

Sangat tercela jika engkau melarang sesuatu padahal engkau sendiri terjatuh di dalamnya. Kapan kata-kata nasihatmu akan bernilai jika ucapan tidak selaras dengan perbuatan? Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan Nabi Syu’aib q dengan firman-Nya:

“(Patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang.” (Hud: 88)

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia namun melupakan dirinya sendiri, seperti sumbu (lampu) yang menyinari manusia sedangkan dirinya sendiri terbakar.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir, lihat Shahih al-Jami’ no. 5837)

  1. Lemah lembut, bijak, dan tidak terburu-buru

Tidaklah kelemahlembutan melekat pada sesuatu melainkan menjadikannya indah. Adapun kekakuan merupakan kebodohan, dan sikap terburu-buru termasuk dari setan.
Amar ma’ruf nahi mungkar hendaknya menggunakan metode yang baik sehingga mudah berterima. Perkara ini memerlukan bimbingan dan penjelasan tentang yang baik dan yang buruk. Selain itu, perlu diingat bahwa seseorang yang meninggalkan kewajiban atau melakukan yang dilarang bisa jadi karena ketidaktahuannya akan hal yang diwajibkan dan yang dilarang, sehingga memerlukan bimbingan.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Termasuk kelemahlembutan dan hikmah adalah memerhatikan kondisi seorang yang akan diperintah dan dilarang (karena) orang yang terjatuh dalam maksiat memiliki tiga keadaan:

  1. Orang yang tidak tahu bahwa yang ia lakukan itu adalah maksiat dan diharamkan.
    Terhadap orang yang seperti ini Anda cukup menjelaskan, “Wahai fulan, kamu telah melakukan perbuatan maksiat dan hal yang diharamkan.” Jika memang orang ini terjerumus ke dalam maksiat karena kebodohan, (dengan penjelasan ini) dia akan meninggalkannya.
  2. Orang yang mengetahui apa yang dilakukannya itu maksiat, ia diberi nasihat dan ditakut-takuti dengan hukuman.
  3. Orang yang suka membantah dan menebarkan syubhat.
    Orang yang seperti ini dibantah dengan cara yang lebih baik, sehingga syubhat (pemikiran yang menyimpang dari kebenaran) itu runtuh. (Muhadharah fil Aqidah wad Da’wah, 2/315—316)

Termasuk bentuk kelemahlembutan dan bijak adalah bertahap dalam menyampaikan kebaikan. Hal ini seperti pesan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman. Beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan agar Mu’adz memulai dakwahnya dengan ajakan untuk mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian shalat lima waktu, lalu yang berikutnya, dan yang berikutnya. Dengan adanya tahapan, seorang yang diajak akan mudah menyerapnya lalu mengamalkannya.

Demikian pula, termasuk bijak dalam berdakwah adalah mengetahui kondisi orang yang diajak dan menggunakan kalimat-kalimat yang mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Ajak bicaralah orang dengan yang mereka pahami. Apakah kamu mau Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya didustakan?” (Shahih al-Bukhari, “Kitabul Ilmi” bab ke-49)

  1. Bersabar

Dalam hal kebaikan, manusia terbagi menjadi dua: ada yang menerima dan ada yang menolak. Seperti itu pula jalan dakwah, bukan jalan yang sunyi dari aral yang menghadang. Akan ada orang yang menolak ajakan, bahkan ada yang mengajak berkonfrontasi. Namun, tidak perlu berkecil hati, karena Allah subhanahu wa ta’ala akan menolong kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 40—41)

Segala makar jahat tidak akan ada pengaruhnya jika Allah subhanahu wa ta’ala tidak menghendaki.

  1. Sayang kepada kaum muslimin

Melengkapi penjelasan di atas, sikap sayang terhadap kaum muslimin adalah hal yang mendorong seseorang untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Seorang mukmin akan ikut senang dengan kesenangan mereka dan ikut prihatin dengan kondisi buruk yang ada di tengah-tengah mereka. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِن

“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Ausath dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Sikap sayang ini akan melahirkan ketulusan, kelemahlembutan, dan selalu menginginkan kebaikan bagi kaum muslimin. Nasihat yang diberikan adalah untuk memperbaiki dan membangun, tidak membeberkan cacat dan menumbangkan (kepribadian seseorang). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berbicara tentang ciri-ciri Ahlus Sunnah, “Para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahlul ilmi, mereka memiliki ilmu, keadilan, dan kasih sayang. Mereka mengenali kebenaran yang dengannya mereka mencocoki sunnah dan terhindar dari bid’ah.

Mereka (juga) berbuat adil terhadap orang yang keluar dari sunnah, bahkan walaupun menzalimi Ahlus Sunnah. Mereka menyayangi manusia, menginginkan kebaikan, petunjuk, dan ilmu bagi manusia. Tidak ada dari awal niat untuk berbuat jelek terhadap manusia. Bahkan, apabila Ahlus Sunnah membalas (kejelekan) manusia dan menjelaskan kesalahan, kebodohan, dan kezaliman mereka, tujuannya adalah menjelaskan yang benar, menyayangi manusia, amar ma’ruf nahi mungkar, serta bertujuan agar agama ini hanya milik Allah subhanahu wa ta’ala dan supaya kalimat Allah subhanahu wa ta’ala itu yang paling mulia.” (al-Ibanah karya asy-Syaikh Muhammad al-Imam hlm. 26—27)

Berita Gembira

Kabar baik bagi Anda yang tengah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar. Anda telah berusaha menyelamatkan akidah umat, ibadah, akhlak, dan muamalah mereka dari berbagai penyimpangan. Semoga dengan usaha Anda ini, Allah subhanahu wa ta’ala memalingkan azab dari umat ini serta menurunkan berkah-Nya untuk kita semua. Anda termasuk orang yang terbaik ucapannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (Fushshilat: 33)

Anda sedang mengikuti jejak para nabi dan rasul. Terimalah hadiah yang mulia berikut ini. Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, baginya pahala seperti yang melakukan kebaikan.” (Sahih, HR. al-Imam Muslim, Ahmad, dll dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئاً

“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, ia mendapat pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sebagai penutup, mari kita senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar pada diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa kita, bahkan seluruh manusia. Sungguh, inilah jalan keselamatan dan pintu menuju keberkahan. Namun, jangan lupa untuk meluruskan niat serta meningkatkan kualitas ilmu dan amal.

Curahkanlah kebaikan kepada seluruh manusia dengan penuh kasih sayang. Berteladanlah kepada Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terbaik umat ini dalam menjalankan tugas dakwah yang mulia ini serta bersabarlah atas segala rintangan karena Allah subhanahu wa ta’ala bersama orang-orang yang sabar.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ أَجْمَعِينَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc

 

Mengubah Kemungkaran dengan Kekuatan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa setiap muslim mempunyai kewajiban untuk mengingatkan dan memerintahkan yang ma’ruf serta mengingatkan dan mencegah dari yang mungkar sesuai dengan tuntunan syariat.

Persoalannya, jika dalam menjalankan itu semua menggunakan kekuatan, seperti yang kerap dilakukan oleh sekelompok orang, apakah syariat membolehkannya? Apakah hal tersebut menjadi kewenangan tiap orang, ataukah menjadi kewenangan penguasa dan pemerintah?

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Para ulama menjelaskan, amar ma’ruf nahi mungkar bagi para umara adalah dengan tangan, bagi para ulama dengan lisan, kemudian bagi mereka yang lemah dan keumuman orang adalah dengan hati.”

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah berkata, “Apabila diperkirakan mengubah kemungkaran dengan tangan akan menyebabkan timbulnya kemungkaran yang lebih besar, seperti terbunuhnya (si pelaku kemungkaran) atau terbunuhnya pihak lain, hendaknya seseorang menahan tangannya dan cukup menyampaikan nasihat secara lisan.

Jika penyampaian nasihat secara lisan juga dikhawatirkan menimbulkan hal yang sama, hendaknya ia mengubah kemungkaran dengan hatinya. Inilah yang dimaksud oleh hadits.

Kemudian, kalau ada yang meminta bantuan untuk mengubah suatu kemungkaran, hendaknya diberi bantuan selama proses tersebut tidak mengarah pada penggunaan senjata tajam dan penyerangan (karena ini mengandung kemungkaran dari sisi yang lain). Jika terjadi demikian, sebaiknya hal itu diserahkan kepada yang mempunyai wewenang, atau sebaiknya mengingkari kemungkaran dengan hati.

Inilah duduk persoalan yang sesungguhnya dan penerapan yang benar menurut para ulama. Berbeda dengan pandangan (keliru) yang membolehkan pengubahan kemungkaran secara terang-terangan pada setiap keadaan, meski menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka, serta memunculkan banyak pertentangan.” (dikutip dari Syarh Shahih Muslim)

Pihak penguasa atau pemerintah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan, wajib menegakkan yang ma’ruf dan menghilangkan yang mungkar dengan kekuatan. Demikian pula, para ulama dapat menunaikan kewajibannya, yaitu mengarahkan dan menciptakan perbaikan. Kewajiban ulama adalah memotivasi manusia untuk melakukan yang ma’ruf dan menerangkan tentang keburukan, bahaya, dan akibat kemungkaran.

Adapun yang tidak berkemampuan untuk itu, tak ada jalan lain bagi mereka selain mencintai yang ma’ruf dan membenci segala kemungkaran dengan hatinya.
Apa yang telah disampaikan di atas tadi, tidak berarti bahwa siapa yang melihat suatu kemaksiatan dan mendekatinya berdalih tidak punya wewenang dan hukum, lantas mendiamkannya tanpa ada kesungguhan usaha untuk mencegah dan menghilangkannya.

Islam menuntut siapa saja yang melihat kemungkaran agar mencegah dan mengubahnya dengan ucapan yang lembut. Jika tidak berhasil dan ia mempunyai kemampuan untuk mengubahnya dengan kekuatan, ubahlah menggunakan kekuatan.

Ada baiknya, jika pihak pemerintah memiliki lembaga khusus amar ma’ruf nahi mungkar—semacam membentuk Densus 88 untuk memburu dan membasmi para teroris—, sehingga setiap orang, kelompok, atau organisasi tidak semaunya mengubah kemungkaran dengan kekuatan menurut caranya sendiri.

Tentu sangat dikhawatirkan jika semua pihak mengubah kemungkaran dengan kekuatannya. Hal itu hanya akan memunculkan fitnah, keresahan, dan kekacauan. Bahkan, sangat mungkin menjadi pemicu munculnya kemungkaran baru yang lebih besar.

Tidak dimungkiri, mungkin saja ada yang melakukan itu semua dengan niat yang baik. Akan tetapi, juga tidak menutup kemungkinan para aktornya malah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, yang hanya bertujuan membuat kericuhan, keonaran, dan menebar kejelekan.

Melarang Kemungkaran Berbeda dengan Mengubahnya

Masalah yang sangat penting untuk diketahui dalam pembahasan amar ma’ruf nahi mungkar adalah mengetahui perbedaan antara mengubah kemungkaran dan mencegah/melarangnya. Ternyata, banyak orang yang masih tidak memahami persoalan ini dengan baik. Akibatnya, tak sedikit yang justru terjatuh dalam kesalahan yang fatal. Perbedaan-perbedaan tersebut di antaranya sebagai berikut.

  1. Mengubah kemungkaran pada hakikatnya adalah menghilangkan dan melenyapkan wujudnya, seperti menumpahkan miras, menghancurkan sarana perjudian, dan lain-lain. Adapun mealrang kemungkaran berarti menyampaikan nasihat, peringatan, dan ancaman.
  2. Mengubah kemungkaran dilakukan pada saat kemungkaran itu terjadi. Adapun hukuman bagi si pelaku kemungkaran menjadi wewenang penguasa atau pemerintah.

Berbeda halnya dengan mencegah/melarang. Hal ini dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah kemungkaran itu terjadi. Tidak terkait waktu sama sekali.

  1. Mengubah kemungkaran membutuhkan kekuasaan dan kekuatan, terutama dalam hal menghentikannya. Adapun melarang, setiap orang memiliki kemampuan, baik dengan nasihat yang menyentuh maupun dengan dialog yang bijak.
  2. Mengubah kemungkaran adalah fardhu kifayah menurut pendapat mayoritas ahli fikih, dan dapat menjadi fardhu ‘ain bagi yang mengetahuinya dan memiliki kemampuan.

Adapun mencegah/melarang kemungkaran, karena ada kemudahan dan kemungkinan tidak ada fitnah saat melakukannya, maka menjadi wajib ‘ain bagi setiap muslim, dalam setiap keadaan, sesuai dengan kemampuannya. (al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sebuah cincin emas di tangan seorang lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melepas dan melemparnya sembari berkata, “Salah seorang dari kalian pergi menuju bara api neraka lalu dia memakainya di tangannya.” Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi, dikatakan kepada lelaki itu, “Ambillah cincinmu, manfaatkanlah!” Dia menjawab, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan mengambilnya selamanya padahal cincin itu telah dilempar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyebutkan beberapa faedah hadits ini dalam Syarh Riyadhish Shalihin (1/225). Di antara yang beliau sebutkan berkaitan dengan pembahasan amar ma’ruf nahi mungkar. Berikut ini petikannya.

“Hadits ini menunjukkan pemakaian cara keras dalam hal mengubah kemungkaran ketika dibutuhkan. (Dalam hadits di atas) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan kepada lelaki tersebut, ‘Emas itu haram (bagi lelaki), engkau jangan memakainya’, atau ‘maka lepaslah’. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam justru melepas dan melemparnya ke tanah. Telah diketahui bahwa amar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar) itu berbeda dengan mengubah kemungkaran. Mengubah kemungkaran dilakukan oleh pihak yang memiliki kekuasaan dan mampu melaksanakannya, seperti penguasa atau yang ditunjuk mewakilinya, atau seperti seorang kepala rumah tangga terhadap keluarganya, atau seperti seorang wanita terhadap urusan rumahnya, atau yang semisalnya. Pihak-pihak seperti ini memiliki kekuasaan untuk mengubah kemungkaran dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika masih tidak mampu, dengan hatinya. Adapun memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar hukumnya wajib dalam segala keadaan karena di dalamnya tidak ada pengubahan, hanya perintah kepada kebaikan dan larangan dari kemungkaran.”

Selain itu, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin juga menyatakan, “Faedah lainnya, seseorang hendaknya berlaku hikmah dalam hal mengubah kemungkaran. Lelaki ini disikapi keras oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, seorang A’rabi (penduduk pedalaman) yang kencing di masjid tidak disikapi demikian. Kemungkinan, lelaki yang mengenakan cincin emas tersebut sudah mengetahui hukumnya dan keharamannya, tetapi dia bermudah-mudahan. Berbeda halnya dengan A’rabi yang kencing di masjid, dia jahil, tidak mengetahui hukumnya. Dia datang dan melihat ada tempat yang kosong di masjid, lalu kencing di situ. Dia menganggap dirinya berada di padang pasir yang luas …. Demikian pula, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap lemah lembut terhadap Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu ‘anhu yang berbicara ketika sedang shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersikap lembut terhadap seorang lelaki yang menggauli istrinya pada siang hari bulan Ramadhan. Keadaan yang berbeda membutuhkan sikap yang berbeda pula. Oleh karena itu, saudaraku muslim, hendaknya engkau menerapkan hikmah pada setiap ucapan dan perbuatanmu….

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang dianugerahi hikmah dan mendapat kebaikan yang banyak dengan sebab itu.”

Wal ‘ilmu ‘indallah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Sesungguhnya, dalam membangun serta membina akidah dan akhlak seorang muslim, Islam tidak sekadar menjadikannya sebagai pribadi yang saleh. Akan tetapi, juga mendorongnya untuk menjadi pribadi yang mushlih (selalu mengupayakan terciptanya perbaikan), saleh bagi dirinya dan mengupayakan kesalehan bagi selainnya.

Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar mengajarkan kepada setiap muslim untuk menjadi pribadi yang saleh dan mushlih. Untuk itu, menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar haruslah mengetahui tahapan-tahapannya, dari mana memulainya dan apa yang mesti diperhatikannya.

Memulai dari yang Paling Penting Kemudian yang Penting Berikutnya
Mendahulukan yang terpenting dari yang penting adalah bagian dari kaidah penerapan amar ma’ruf nahi mungkar. Seseorang yang akan menerapkannya hendaknya memulai langkahnya dengan memperbaiki dasar-dasar keyakinan, yaitu memerintahkan tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, serta mencegah kesyirikan, kebid’ahan, dan hal-hal yang berbau sihir.

Kemudian ia memerintahkan menegakkan shalat, menunaikan zakat, serta kewajiban-kewajiban lainnya. Lalu ia memerintahkan meninggalkan perkara-perkara haram. Berikutnya, ia memerintahkan perkara-perkara yang sunnah, diikuti dengan meninggalkan hal-hal yang makruh.

Demikianlah metode dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar yang diterapkan oleh seluruh rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka memberikan porsi yang lebih terhadap pembenahan akidah tanpa mengesampingkan perkara-perkara penting lainnya, karena pada dasarnya tidak ada masalah yang tidak penting dalam Islam.

Melihat Maslahat dan Mafsadah

Ada satu kaidah yang tidak boleh diabaikan oleh orang yang hendak menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu ‘menolak mafsadah (kerusakan) lebih diutamakan daripada mengambil maslahat’. Oleh karena itu, menjadi keharusan mengetahui maslahat yang dihasilkan dan mafsadah yang ditimbulkan dari penerapan amar ma’ruf nahi mungkar. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut.

Pertama: Apabila kemaslahatan yang dihasilkan lebih besar dibandingkan mafsadahnya, wajib beramar ma’ruf nahi mungkar.

Kedua: Apabila yang terjadi kebalikannya, yakni mafsadahnya lebih besar dari maslahatnya, menjadi tidak wajib menegakkannya bahkan diharamkan.

Ketiga: Jika keadaannya seimbang antara maslahat dan mafsadahnya, atau yang ma’ruf dan yang mungkar sama-sama dilakukan, maka tidak boleh memerintah kepada yang ma’ruf, tidak pula mencegah yang mungkar. Artinya, dalam kondisi ini, menghindari terjadinya mafsadah yang lebih besar diutamakan daripada mengambil maslahat.

Keempat: Apabila bercampur antara yang ma’ruf dengan yang mungkar, langkah yang diambil adalah menyampaikan seruan/dakwah secara khusus kepada yang ma’ruf dan menyampaikan ajakan secara khusus agar menjauh dari segala hal yang mungkar.

Sebenarnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menjelaskan kaidah ini dengan gamblang. Beliau mengatakan, “Apabila maslahat dan mafsadah, kebaikan dan kejelekan, sama-sama mencuat atau sama-sama menguat, yang wajib adalah mendahulukan mana yang lebih dominan. Hal ini karena amar ma’ruf nahi mungkar, sekalipun membawa misi untuk mewujudkan maslahat dan menolak mafsadah, tetap harus mempertimbangkan apa yang menjadi rintangannya.

Jika maslahat yang hendak dicapai tidak sebesar mafsadah yang akan muncul, tidak boleh menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar, bahkan menjadi haram dalam kondisi tersebut.

Tetapi, mengukur maslahat dan mafsadah itu harus dengan timbangan syariat. Artinya, kapan seseorang itu punya kemampuan untuk mengikuti dalil, maka tidak boleh berpaling darinya. Kalau tidak, maka berijtihad dengan pendapatnya jika ia termasuk ahli ijtihad. Namun, sangat sedikit orang yang berkemampuan seperti di atas. Intinya, ini adalah bagian yang dikembalikan kepada ahlul ilmi dan ulama.
Dengan demikian, apabila seseorang atau suatu kelompok mencampuradukkan antara yang ma’ruf dan yang mungkar, serta tidak lagi membedakan keduanya (bisa jadi kedua-duanya dilakukan atau ditinggalkan), tidak diperkenankan memerintah mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, akan tetapi hendaknya mempertimbangkan hal berikut.

Apabila jumlah yang ma’rufnya lebih banyak dilakukan, maka sampaikan perintah kepada (yang ma’ruf). Meskipun masih terjadi kemungkaran yang jumlahnya lebih sedikit, tidak boleh dicegah dari melakukannya (nahi mungkar), karena hal tersebut justru akan menyebabkan hilangnya yang ma’ruf yang secara kuantitas jauh lebih banyak.

Bahkan, mencegahnya (nahi mungkar) ketika itu sama saja dengan menghalang-halangi dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala, mengusahakan hilangnya ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, serta dianggap menghilangkan perbuatan baik.
Sebaliknya, apabila kemungkaran yang dilakukannya lebih banyak, maka harus dicegah (nahi mungkar) meskipun mengakibatkan ditinggalkannya kebaikan yang jumlahnya lebih sedikit. Ini karena memerintahkan kepada yang ma’ruf yang lebih sedikit dilakukan hanya akan menyebabkan bertambahnya kemungkaran, sehingga hal itu (amar ma’ruf) justru masuk dalam kategori mengupayakan terjadinya kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Kemudian, kalau kedua-duanya sama-sama dilakukan, baik yang ma’ruf maupun yang mungkar dan keduanya saling terkait, maka tidak boleh menerapkan amar ma’ruf, tidak pula nahi mungkar. Kadang-kadang amar ma’ruf lebih tepat, tapi kadang juga sebaliknya nahi mungkar yang lebih tepat. Atau justru lebih tepat untuk tidak menerapkan (menahan dulu) amar ma’ruf nahi mungkar. Hal ini bisa terjadi dalam perkara tertentu yang nyata.”

Meneliti dan Memastikan Kemungkaran

Di antara yang membawa keberhasilan dalam menerapkan amar ma’ruf nahi mungkar adalah meneliti dan memastikan kemungkaran yang hendak diubah dan ditiadakan. Karena itu, memiliki ilmu tentang yang ma’ruf dan yang mungkar menurut kacamata syariat adalah penting. (lihat kembali pembahasan ini di rubrik ”Manhaji” edisi ini)

Oleh sebab itu, pastikanlah bahwa kemungkaran yang akan dicegah benar-benar perkara mungkar yang diingkari oleh Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika sebagian orang melihat suatu perbuatan atau mendengar suatu ucapan, terkadang dianggapnya sebagai suatu kemungkaran karena berpatokan kepada kebiasaan yang berlaku dan adat istiadat manusia pada umumnya. Ternyata menurut syariat Islam ternyata bukan sesuatu yang mungkar, bahkan boleh jadi malah sesuatu yang ma’ruf. Atau bahkan sebaliknya, melihat sesuatu yang sebenarnya ma’ruf menurut syariat, tetapi dianggapnya sebagai sesuatu yang mungkar.

Inilah fenomena yang sering terjadi dan tampak di sebagian wilayah Islam. Semua itu terjadi semata-mata karena kebodohan yang melekat dalam diri umat Islam.
Jadi, langkah kroscek (memastikan) dari suatu kemungkaran adalah hal yang dituntut dari siapa saja yang hendak mengingkari kemungkaran, termasuk kita pastikanlah bahwa itu adalah kemungkaran dan benar-benar dilakukan.

Hal lain yang wajib diperhatikan adalah jangan tergesa-gesa untuk mencegah seseorang atau sekelompok orang dari suatu kemungkaran, jika dasarnya hanya prasangka tanpa melalui proses mencari kepastian (tabayyun dan tatsabbut).
Mungkin saja seseorang dihinggapi perasaan ingin melakukan yang baik atau bahkan yang buruk, atau berpikir untuk melakukan kemungkaran namun ternyata tidak jadi melakukannya.

Apabila seseorang mendapatkan informasi tentang adanya kemungkaran, maka hendaknya ia mencari kepastian tentang keadaan si pembawa informasi. Mungkin saja ia seorang munafik, orang yang fasik, penyebar fitnah, atau tukang ghibah yang ingin menciptakan kerusakan dan tidak membuat perbaikan.
Boleh jadi, ada sekelompok orang yang sebenarnya tidak punya tujuan untuk mencegah dan menghilangkan kemungkaran, yang mereka inginkan hanya sekadar mengacaukan dan memalingkan konsentrasi.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahukan kepada kita tentang orang-orang munafik, penyebar fitnah dan tukang ghibah, serta orang-orang fasik dalam firman-Nya:
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui bahwa engkau adalah rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (al-Munafiqun: 1)

“Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (al-Qalam: 10—11)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatan kamu itu.” (al-Hujurat: 6)

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

(al-Amru bil Ma’ruf wan Nahi ‘anil Mungkar fi Dha’ui Kitabillah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf al-Atsari

 

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Simbol Keimanan dan Kepedulian Umat

Perjalanan hidup suatu umat seringkali tidak selalu dalam satu keadaan. Pasang surutnya iman, berat ringannya tantangan, dan besar kecilnya godaan sangat berpengaruh bagi eksistensi mereka dalam kehidupan. Terkadang ia mampu bertahan di atas kebaikan, dan terkadang pula terseok-seok diempaskan oleh badai kemungkaran. Mahasuci Allah dengan segala hikmah-Nya yang telah membimbing para hamba untuk saling menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, serta menjadikannya sebagai amalan mulia dalam semua syariat (agama) yang dibawa oleh para nabi dan rasul-Nya. Bahkan, karenanya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kitab suci dan mengutus para rasul di muka bumi. Demikianlah penuturan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab al-Istiqamah (2/198).

Dalam istilah agama, amalan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran disebut dengan al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil mungkar

(اَلْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ)

– al-amru (اَلْأَمْرُ): menyeru/memerintah.

– bil ma’ruf (بِالْمَعْرُوفِ): dengan (kepada) kebaikan.

– wan nahyu (وَالنَّهْيُ): dan mencegah/melarang.

– ‘anil mungkar (عَنِ الْمُنْكَرِ): dari kemungkaran.

Istilah itu pun kemudian lebih dikenal di masyarakat kita dengan sebutan amar ma’ruf nahi mungkar..

Para pembaca yang mulia, amar ma’ruf nahi mungkar adalah simbol keimanan dan kepedulian suatu umat. Keberadaannya pada suatu umat laksana tonggak bagi kehidupan mereka. Ketika tonggak amar ma’ruf nahi mungkar itu roboh, akan roboh pula tatanan kehidupan mereka dan akan berakhir dengan kebinasaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain (selalu) tidak saling mencegah dari kemungkaran yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

“Mengapa orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka tidak mencegah mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (al-Maidah: 63)

Sebaliknya, ketika tonggak amar ma’ruf nahi mungkar pada suatu umat itu tegak, akan tegak pula tatanan kehidupan mereka dan akan berakhir dengan keberuntungan. Dengan sebab itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyematkan gelar “sebaik-baik umat” kepada umat Islam yang dipelopori oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali Imran: 110)

Dengan sebab itu pula, terbedakan antara kehidupan orang-orang yang beriman dengan kehidupan orang-orang yang munafik. Allah subhanahu wa ta’ala memuji kehidupan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyeru (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Allah subhanahu wa ta’ala pun mencela kehidupan orang-orang yang munafik, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Orang-orang munafik lelaki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyeru membuat yang mungkar dan mencegah berbuat yang ma’ruf, serta menggenggamkan tangannya (berlaku kikir). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 67)

Kewajiban Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar adalah tonggak yang kuat untuk mempertahankan keberadaan suatu umat, kemuliaan dan keutuhannya. Dengannya, suatu umat tidak bisa diporak-porandakan oleh hawa nafsu dan tidak bisa pula dicerai-beraikan oleh jalan-jalan kesesatan.” (Majalis Syahri Ramadhan, al-Majlis al-‘Isyrun)

Betapa tinggi kedudukan amar ma’ruf nahi mungkar itu. Betapa besar manfaatnya bagi kehidupan umat. Ketika ia dicampakkan, ilmu tentangnya diremehkan, dan pelaksanaannya tidak dipedulikan, niscaya akan tersebar kesesatan dan kebodohan di tengah umat, negeri-negeri akan hancur, dan umat manusia pun akan binasa.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya amar ma’ruf nahi mungkar merupakan poros terkuat agama ini. Dengan misi itulah, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus para nabi dan rasul. Ketika ia dicampakkan, ilmu tentangnya diremehkan, dan pelaksanaannya tidak dipedulikan, niscaya akan tersebar kesesatan dan kebodohan (di tengah umat, pen.), negeri-negeri akan hancur, dan umat manusia pun akan binasa.” (ad-Durar as-Saniyyah 15/15)

Tak heran jika Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan amar ma’ruf nahi mungkar tersebut sebagai kewajiban yang harus diperhatikan. Dalam kalam ilahi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Demikian halnya dalam as-Sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lisannya yang mulia bersabda:

وَالَّذِي نَفْسي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاباً مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُوْنَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi (Allah subhanahu wa ta’ala) Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tegakkanlah oleh kalian amar ma’ruf nahi mungkar (perintah kepada yang ma’ruf dan larangan dari yang mungkar). Jika kalian tidak melakukannya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menurunkan kepada kalian hukuman dari-Nya, kemudian doa kalian tidak lagi dikabulkan-Nya.” (HR. at-Tirmidzi dalam kitab Sunan-nya, no. 2169 dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-Misykah, no. 5140 dan Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 2313)

Al-Hafizh Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah berkata, “Sungguh telah sepakat (dalil-dalil) dari Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ (kesepakatan) ulama tentang kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar.” (Syarh Shahih Muslim 2/212)

Al-Imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban terbesar dalam syariat (Islam) yang suci ini. Ia adalah salah satu landasannya yang utama dan tonggaknya yang terkokoh. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar, segala aturan dalam syariat ini menjadi sempurna dan puncak kemuliaannya pun tampak semakin tinggi.” (Fathul Qadir, tafsir Ali Imran: 104)

Mungkin di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar itu berlaku untuk semua elemen umat ataukah ada rinciannya?”
Al-Hafizh Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar itu sifatnya fardhu kifayah. Apabila sebagian dari umat ini ada yang melakukannya, gugurlah kewajiban tersebut dari sebagian yang lain. Namun, jika semua elemen umat meninggalkannya, semua yang berkemampuan tanpa ada uzur dan rasa takut, akan berdosa karenanya. Beramar ma’ruf nahi mungkar pun bisa menjadi kewajiban bagi orang tertentu secara khusus, ketika tidak ada yang mengetahui hal itu selain dia atau tidak ada yang mampu mencegah dari kemungkaran selainnya. (Lihat Syarh Shahih Muslim 2/213)

Al-Imam Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh rahimahullah menambahkan bahwa kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar itu dapat dilakukan dengan menggunakan tangan, lisan, dan hati dalam lingkup yang dimampui. Kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar dengan menggunakan tangan dan lisan hukumnya fardhu kifayah. Apabila sebagian umat ini ada yang melakukannya, gugurlah kewajiban tersebut dari sebagian yang lain. Namun, jika semua elemen umat meninggalkannya, semuanya pun berdosa karenanya. Adapun kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar dengan menggunakan hati berlaku bagi setiap muslim dalam segala kondisinya. (Lihat ad-Durar as-Saniyyah 8/62)

Kaidah Penentuan yang Ma’ruf dan yang Mungkar

Para Pembaca yang mulia, kewajiban beramar ma’ruf nahi mungkar tidak mungkin terlaksana tanpa mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar. Demikian pula pelaku amar ma’ruf nahi mungkar, tidak mungkin menegakkannya dengan benar tanpa mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar itu. Bahkan, mudarat (efek negatif) yang ditimbulkannya seringkali lebih besar daripada manfaatnya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Seseorang yang melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar harus mengilmui (memahami dengan baik) hukum-hukum syar’i terkait dengan yang ma’ruf dan yang mungkar. Jika pelaku amar ma’ruf nahi mungkar tidak memahaminya dengan baik, lalu menyeru orang kepada sesuatu yang dianggapnya ma’ruf padahal dalam pandangan syariat bukan ma’ruf, mudarat (efek negatif) yang ditimbulkannya akan lebih besar daripada manfaatnya.” (Majmu’ah Rasail asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 5/208)

Jika demikian, apa kaidah penentuan yang ma’ruf dan yang mungkar itu?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah (2/329) menjelaskan bahwa sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik oleh syariat. Adapun yang mungkar adalah yang dinilai jelek oleh syariat. Segala sesuatu yang diperintahkan dalam syariat adalah ma’ruf, sedangkan segala sesuatu yang dilarang dalam syariat adalah mungkar. Dalam Syarh Riyadhish Shalihin “Bab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar”, beliau memperjelas bahwa sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik dan ditetapkan oleh syariat, berupa berbagai ibadah yang bersifat ucapan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin. Adapun yang mungkar adalah segala sesuatu yang diingkari oleh syariat dan dilarangnya, berupa berbagai kemaksiatan, kekufuran, kefasikan, pelanggaran, dusta, ghibah (menceritakan kejelekan sesama muslim), namimah (mengadu-domba), dan sebagainya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab al-Istiqamah (2/311) berkata, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menyeru kita agar berbuat yang ma’ruf, yaitu ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang ma’ruf itu mencakup ash-shalah (kesalehan), al-hasanat (kebagusan), al-khair (kebaikan), dan al-bir (kebajikan). Allah subhanahu wa ta’ala juga mencegah dari kemungkaran, yaitu kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesuatu yang mungkar itu mencakup al-fasad (kerusakan), as-sayyiat (keburukan), asy-syar (kejelekan), dan al-fujur (kejahatan).”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menyatakan bahwa sesuatu yang ma’ruf itu adalah yang dinilai baik oleh syariat dan akal sehat, yang meliputi hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dan hak-hak sesama hamba. Beliau rahimahullah juga menjelaskan bahwa segala sesuatu yang tanpa keberadaannya tidak terwujud yang ma’ruf maka ia juga termasuk hal yang ma’ruf. Demikian pula segala sesuatu yang dengan keberadaannya menjadi terwujud sebuah kemungkaran maka ia juga termasuk dari kemungkaran. (Lihat Taisir al-Karimirrahman, tafsir al-Hajj: 41)

Para Pembaca yang mulia, dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sesuatu yang ma’ruf adalah yang dinilai baik oleh syariat dan akal sehat. Ini mencakup semua yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai ibadah yang bersifat ucapan dan perbuatan, yang berkaitan dengan hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala dan juga hak-hak hamba, baik yang lahir maupun yang batin.
  2. Segala bentuk ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dari yang ma’ruf.
  3. Segala sesuatu yang tanpa keberadaannya tidak terwujud yang ma’ruf maka ia juga termasuk hal yang ma’ruf.
  4. Sesuatu yang ma’ruf mencakup semua yang diistilahkan dalam syariat dengan ash-shalah (kesalehan), al-hasanat (kebagusan), al-khair (kebaikan), dan al-bir (kebajikan).
  5. Sesuatu yang mungkar adalah yang dinilai jelek oleh syariat dan akal sehat.
  6. Segala sesuatu yang diingkari oleh syariat dan dilarang olehnya berupa berbagai kemaksiatan, kekufuran, kefasikan, pelanggaran, dusta, ghibah, namimah, dan sebagainya termasuk hal kemungkaran.
  7. Segala bentuk kemaksiatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kemungkaran.
  8. Segala sesuatu yang dengan keberadaannya akan terwujud sebuah kemungkaran, ia juga termasuk kemungkaran.
  9. Sesuatu yang mungkar mencakup semua yang diistilahkan dalam syariat dengan al-fasad (kerusakan), as-sayyiat (keburukan), asy-syar (kejelekan), dan al-fujur (kejahatan).

Jika demikian, apa contoh nyata dari yang ma’ruf dan yang mungkar itu?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab al-Istiqamah (2/209) menyebutkan beberapa contoh nyata dari yang ma’ruf, antara lain:

  1. Syariat Islam yang dikandung oleh rukun Islam: shalat lima waktu yang dikerjakan pada waktunya, berbagai sedekah yang diperintahkan dalam syariat, puasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah.
  2. Rukun iman: iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala, iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para rasul-Nya, iman kepada hari akhir, serta iman kepada takdir (ketentuan) Allah subhanahu wa ta’ala yang baik dan yang buruk.
  3. Ihsan, yaitu engkau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika tidak melihat-Nya sungguh Dia subhanahu wa ta’ala melihatmu.
  4. Segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang bersifat lahir maupun batin.
  5. Mengikhlaskan agama ini untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata, bertawakal hanya kepada-Nya, mendahulukan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada selain keduanya, mengharap rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, takut akan azab-Nya, sabar terhadap keputusan Allah subhanahu wa ta’ala, dan menerima apa yang datang dari-Nya.
  6. Jujur ketika berkata, menepati janji, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturahmi, tolong-menolong dalam hal kebajikan dan ketakwaan, berbuat baik terhadap tetangga, menyantuni anak yatim dan orang miskin, berbuat baik dengan ibnu sabil (orang yang sedang melakukan perjalanan), teman sejawat, istri, dan hamba sahaya, serta bersikap adil dalam ucapan dan perbuatan.
  7. Menganjurkan kepada akhlak mulia seperti ucapan, “Sambunglah orang yang telah memutuskan hubungan denganmu!”, “Berilah orang yang tak mau memberimu!”, atau “Maafkanlah orang yang menzalimimu!”.
  8. Anjuran kepada persatuan dan larangan dari perselisihan, dll.
    Adapun contoh nyata dari yang mungkar, disebutkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab al-Istiqamah (2/210), antara lain:
  9. Perbuatan syirik kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan kemungkaran terbesar dalam kehidupan ini. Syirik adalah sikap menduakan dalam berdoa atau beribadah (berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala di satu sisi dan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di sisi yang lain). Semisal berdoa kepada matahari, bulan, dan bintang, atau malaikat, nabi, orang saleh, jin, patung-patung mereka, kuburan-kuburan mereka, dan lain sebagainya yang dipanjatkan kepadanya sebuah doa (selain Allah subhanahu wa ta’ala). Berdoa kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala agar dientaskan dari musibah yang sedang melanda (istighatsah), atau sujud kepadanya. Semua yang disebutkan di atas dan yang semisalnya merupakan perbuatan syirik yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala melalui lisan para rasul.
  10. Segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala seperti membunuh jiwa tanpa haq, memakan harta orang lain dengan cara yang batil, baik dengan cara merampasnya, transaksi riba, maupun perjudian.
  11. Semua jenis jual beli dan muamalah yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  12. Memutuskan tali silaturahmi, durhaka kepada kedua orang tua, curang dalam sukatan (takaran) dan timbangan.
  13. Semua jenis ibadah yang tidak ada tuntunannya dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dll.

Dinamika Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Para Pembaca yang mulia, telah berlalu keterangan seputar kedudukan amar ma’ruf nahi mungkar, perannya yang besar dalam kehidupan, dan kewajiban untuk menegakkannya dengan terlebih dahulu mengilmui (memahami dengan baik) kaidah penentuan yang ma’ruf dan yang mungkar. Bagaimanakah agar penegakan amar ma’ruf nahi mungkar itu berjalan dengan baik, mendapat ridha dari Allah subhanahu wa ta’ala, dan berbuah berkah dalam kehidupan? Untuk meraih semua itu, hendaknya memerhatikan hal-hal penting berikut ini.

  1. Meluruskan niat dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.

Di antara niat yang lurus dalam beramar ma’ruf nahi mungkar adalah mengharapkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala, kekhawatiran akan azab-Nya jika tidak melakukannya, marah karena Allah subhanahu wa ta’ala ketika syariat-Nya dilanggar, untuk menasihati orang-orang yang beriman dan menyayangi mereka, menginginkan keselamatan bagi mereka dari kemarahan dan azab Allah subhanahu wa ta’ala di dunia dan akhirat, serta karena pengagungan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan kecintaan kepada-Nya bahwa Dialah yang berhak ditaati tanpa dimaksiati, diingat tanpa dilupakan, dan disyukuri tanpa dikufuri nikmat-Nya. Demikian faedah dari al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul Ulum wal Hikam, hadits ke-34.

  1. Memenuhi syarat-syarat amar ma’ruf nahi mungkar, yaitu:
  2. Mengilmui (memahami dengan baik) sesuatu yang ma’ruf dan yang mungkar.
  3. Mengetahui kondisi seorang yang akan diseru, apakah dia berkewajiban untuk mengerjakannya (mukallaf) ataukah tidak.
  4. Mengetahui dengan yakin bahwa orang yang akan diseru kepada yang ma’ruf itu akan meninggalkannya dan orang yang akan dicegah dari kemungkaran itu akan mengerjakannya.
  5. Adanya kemampuan untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, tanpa adanya sesuatu yang membahayakan.
  6. Tidak menimbulkan kerusakan (kemungkaran) yang lebih besar dengan sebab amar ma’ruf nahi mungkar tersebut. Demikian secara global faedah dari asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Aqidah al-Wasithiyyah (2/230—235) dan Syarh Riyadhish Shalihin “Bab al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar”.

Ada tambahan faedah dari asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam koleksi fatwa beliau no. 199, yaitu:

  1. Mengedepankan sikap hikmah dan lemah lembut dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
    g. Bersabar atas segala gangguan.
  2. Melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan tahapan yang dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi mungkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam, hadits ke-34)

  1. Tahapan mengingkari/mencegah kemungkaran yang dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah melakukannya dengan tangan; jika tidak mampu dengan tangan, dengan lisan; dan jika tidak mampu dengan lisan, dengan hati.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya, dengan lisannya. Jika tidak mampu dengan lisannya, dengan hatinya; dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, no. 78 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Siapakah pelaku pada masing-masing tahapan tersebut? Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah menjelaskan bahwa yang berhak mengingkari/mencegah kemungkaran dengan menggunakan tangan adalah pihak yang berwenang dari pemerintah kaum muslimin,[1] demikian pula setiap kepala rumah tangga terhadap anggota keluarganya secara khusus. Adapun selain mereka, dengan menggunakan lisan apabila memang ada kemampuan. Jika tidak mampu dengan lisan, dengan hati, yaitu dengan cara membencinya dan merasakan kebencian tersebut pada hati, itulah selemah-lemah iman. (Lihat Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arbain, hadits ke-34)

  1. Ada beberapa kesalahan dalam beramar ma’ruf nahi mungkar yang harus dihindari oleh semua pihak yang beramar ma’ruf nahi mungkar, antara lain:
  2. Tidak mengilmui (memahami dengan baik) yang halal dan yang haram, demikian pula yang ma’ruf dan yang mungkar.
  3. Tidak adanya sikap hikmah, yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan tidak memahami urut-urutan pentingnya permasalahan.
  4. Beramar ma’ruf nahi mungkar dengan kekerasan dan jauh dari sikap lemah lembut.
    d. Kurangnya kesabaran dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.
  5. Tidak memedulikan tahapan amar ma’ruf nahi mungkar yang dibimbingkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Tergesa-gesa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap permasalahan besar yang terjadi di tangah umat, tanpa berkonsultasi terlebih dahulu kepada para ulama yang mumpuni. (Diringkas dari koleksi fatwa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah no. 204)

Para Pembaca yang mulia, demikianlah sajian “Manhaji” seputar amar ma’ruf nahi mungkar. Semoga berbuah faedah bagi kehidupan kita semua; amar ma’ruf nahi mungkar ditegakkan, dilakukan sesuai dengan bimbingan, dan dibangun di atas lurusnya niatan. Dengan harapan, semua itu dapat mengantarkan kepada ridha ar-Rahman dan berbuah berkah dalam kehidupan.

Amin, Ya Mujibas Sailin.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

[1] Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah dalam koleksi fatwa beliau no. 203, agar penegakan amar ma’ruf nahi mungkar itu berjalan lebih rapi dan membuahkan hasil yang maksimal, maka pemerintah kaum muslimin bisa membentuk secara resmi badan khusus di bidang tersebut yang terdiri dari para ulama dan orang-orang yang mempunyai semangat tinggi untuk menegakkan kebaikan, dengan segala sarana penunjangnya, sebagaimana yang ada di Kerajaan Saudi Arabia.

 

Keutamaan Ilmu Atas Harta

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata,
“Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya. Ilmu itu semakin berkembang dengan diinfakkan, sedangkan harta akan berkurang jika dinafkahkan. Ilmu adalah yang mengaturmu, sedangkan harta, engkau yang akan mengaturnya. Mencintai ilmu adalah agama yang seseorang itu beribadah dengannya.

Ilmu akan membuahkan ketaatan di dalam kehidupan pemiliknya serta mengharumkan namanya setelah ia meninggal dunia. Kebaikan para pemelihara harta akan melenyap bersamaan dengan kepergiannya. Para penimbun harta (pada hakikatnya) telah mati (meskipun) mereka itu masih hidup. Adapun para ulama tetap kekal sepanjang masa. Jasad mereka telah tiada, namun kenangan tentang mereka senantiasa melekat di hati manusia.”

(Durus fil Qira’ah al-Mustawa ar-Rabi’ hlm. 16)