Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.

Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….

Kita tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Bahkan kita mohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari itu semua.

Selain doa yang kita panjatkan, tentu ada upaya yang harus ditempuh oleh orang tua dalam membimbing anaknya. Kita harus mengetahui bimbingan syariat dalam hal ini. Sembari memohon pertolongan dan taufik dari Allah ‘azza wa jalla, kita akan menelaah masalah ini melalui kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.

Dalam poin pembahasan Tarbiyatuhum ‘ala Mahabbatil ‘Ulama wa Wulatil Amr dijelaskan bahwa di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu adalah mendidik anak-anak untuk mencintai ulama dan pemimpin negerinya.

Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham atau dinar, tetapi sematamata mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang melimpah dari warisan tersebut.

Di samping itu, apabila orang tua menanamkan pada diri anak sikap keraguan terhadap para ulama dan ilmu mereka, tidak menghormati mereka, serta menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan anak, semua ini akan menimbulkan bahaya besar bagi umat. Sebab, ilmu diambil dari para ulama, begitu juga syariat Islam diambil dari jalan mereka pula. Sikap yang demikian kadangkala akan membawa kehancuran bagi syariat Islam.

Ketika anak tumbuh dewasa kelak, dia akan mencari orang yang akan diambil ilmunya. Dia tidak akan mengambil dari para ulama, karena sudah dibuat ragu terhadap para ulama dan ilmu mereka. Mereka akan mengambil ilmu dari para ulama sesat dan orang-orang yang berpemikiran menyimpang. Akhirnya, anak akan menjadi alat untuk merusak masyarakat.

Adapun ulil amri adalah orang-orang yang menangani segala urusan rakyat, menegakkan syariat, memelihara stabilitas keamanan, serta menjaga persatuan kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan taatilah ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah para ulama dan penguasa. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di berbagai forum melakukan ghibah dan namimah terhadap penguasa. Mereka menyingkap dan mengungkap kesalahan-kesalahan mereka. Padahal kalau dia mau melihat kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri, niscaya lebih banyak daripada kesalahan penguasa yang dia ungkapkan. Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa jika dia memberitakan semua yang didengarnya.

Amat disayangkan pula, anak-anak duduk di majelis yang semacam ini. Mereka menyerap ucapan seperti ini dan tumbuh dewasa di atas kebencian terhadap para ulama dan penguasanya. Semua ini akan menjadi sebab timbulnya kerusakan, munculnya tuduhan bid’ah atau fasik terhadap ulama dan penguasa tanpa dilandasi ilmu.

Seringkali ucapan yang dinukil tentang ulama dan penguasa tersebut adalah kedustaan dan kebohongan, tanpa ada hujah dan bukti. Itu semata-mata propaganda musuh Islam dan musuh akidah yang murni ini.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah berkata, “Bukan merupakan manhaj salaf, perbuatan menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebut-nyebutnya di atas mimbar. Ini akan menyeret pada penentangan serta keengganan untuk mendengar dan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan tersebut juga akan menyebabkan sikap memberontak yang amat berbahaya dan sama sekali tak ada manfaatnya.

“Jalan yang ditempuh oleh para salaf adalah menasihati penguasa secara empat mata, menulis surat kepada mereka, atau menyampaikannya melalui para ulama yang dapat menyampaikan hal itu kepada penguasa, sehingga ulama tersebut bisa mengarahkan sang penguasa pada kebaikan.” (al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqah bainal Hakim wal Mahkum, hlm. 22)

Manhaj salaf dalam menyikapi kesalahan penguasa adalah tidak mengingkari kemungkaran penguasa secara terbuka, tidak pula menyebarkan kesalahan-kesalahan penguasa di hadapan banyak orang. Sebab tindakan tersebut bisa menyeret pada berbagai hal buruk yang lebih besar, dan berujung pemberontakan kepada penguasa.

Pernah ada yang bertanya kepada Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu, “Mengapa Anda tidak menemui Utsman untuk menasihatinya?”

Usamah pun menjawab, “Apakah kalian anggap aku ini harus memperdengarkan kepada kalian jika aku menasihatinya? Sungguh, aku telah menasihatinya empat mata. Aku tidak ingin menjadi orang pertama yang membuka (secara terang-terangan, -ed.) suatu perkara!” (Dikeluarkan al-Imam Ahmad dalam al-Musnad, 36/117, 21784, al-Bukhari no. 3267, Muslim no. 2989; dan lafadz ini dalam riwayat Muslim)

Diterangkan oleh al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh Usamah, beliau tidak ingin membuka pintu mujaharah (terang-terangan) mengingkari penguasa, karena mengkhawatirkan berbagai dampak buruknya. Beliau justru bersikap lemah-lembut dan menasihatinya secara diam-diam.

Sebab, nasihat dengan cara seperti ini lebih layak diterima.” (Dinukil dalam Fathul Bari, 13/67, 7098)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan, “Ada orang-orang yang setiap majelisnya berisi pembicaraan jelek terhadap penguasa, menjatuhkan kehormatan mereka, menyebarkan keburukan dan kesalahan mereka, tanpa memedulikan sama sekali berbagai kebaikan dan kebenaran yang ada pada penguasa tersebut. Tidak diragukan lagi, melakukan cara-cara seperti ini dan menjatuhkan kehormatan penguasa tidak akan menambah apa-apa selain memperberat masalah.

“Cara seperti ini tidak bisa memberikan solusi dan tidak melenyapkan kezaliman. Ia justru hanya menambah musibah bagi suatu negeri, menimbulkan kebencian dan antipati terhadap pemerintah, serta memunculkan keengganan untuk melaksanakan perintah penguasa yang seharusnya wajib ditaati.”

“Tidaklah kita ragukan bahwa terkadang pemerintah melakukan hal-hal yang negatif atau berbuat kesalahan, seperti halnya anak Adam yang lainnya. Setiap anak Adam pasti banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak salah adalah yang banyak bertobat (sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Kita pun tidak menyangsikan bahwa kita tidak boleh mendiamkan seorang pun yang berbuat kesalahan. Semestinya kita menunaikan kewajiban nasihat bagi Allah ‘azza wa jalla, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah muslimin, serta bagi seluruh kaum muslimin sesuai kemampuan kita.”

“Apabila kita melihat kesalahan penguasa, kita sampaikan secara langsung, baik melalui lisan maupun tulisan yang ditujukan kepada mereka (bukan dengan mengumbar aib mereka di hadapan khalayak, di mimbar-mimbar atau media massa), menasihati mereka dengan menempuh jalan yang paling dekat untuk menjelaskan kebenaran kepada mereka dan menerangkan kesalahan mereka. Kemudian kita beri nasihat, kita ingatkan kewajiban mereka agar menunaikan dengan sempurna hak orang-orang yang ada di bawah kekuasaan mereka dan menghentikan kezaliman mereka terhadap rakyatnya.” (Wujubu Tha’atis Sulthan fi Ghairi Ma’shiyatir Rahman, hlm.23—24)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menerangkan, “Membicarakan aib penguasa adalah perbuatan ghibah dan namimah, di mana keduanya adalah keharaman terbesar setelah syirik. Apalagi jika ghibah atau namimah itu ditujukan pada ulama dan penguasa, ini lebih parah lagi. Sebab, bisa menyeret pada berbagai kerusakan: memecah-belah persatuan, buruk sangka terhadap pemerintah, dan menumbuhkan pesimisme serta keputusasaan pada diri rakyat.” (al-Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilatil Manahijil Jadidah, hlm. 60)

Tentang masalah ini, para ulama Ahlus Sunnah—baik yang terdahulu maupun sekarang—berdalil dengan hadits-hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

  1. Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat pada penguasanya sesuatu yang dia benci, hendaknya dia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jamaah (penguasa) satu jengkal saja lalu dia mati, matinya seperti mati orang jahiliah.”[1]

 

  1. Dari ‘Iyadh bin Ghunm radhiallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي السُّلْطَانِ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً، فَلْيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَإِنْ سَمِعَ مِنْهُ فَذَلِكَ، وَإِ كَانَ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah dia sampaikan secara terbuka. Hendaknya dia gamit tangan penguasa itu (untuk menasihatinya secara diam-diam). Jika penguasa itu mau mendengar (nasihatnya –pen.), itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajibannya.”[2]

 

  1. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata,

نَهَانَا كُبَرَاؤُنَا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ، قَالُوا :قَالَ رَسُولُ اللهِ: لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ، وَ تَغُشُّوهُمْ، وَ تُبْغِضُوهُمْ، وَاتَّقُوا اللهَ، وَاصْبِرُوا فَإِنَّ الْأَمْرَ قَرِيبٌ

“Dahulu kami dilarang oleh para tokoh kami dari kalangan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan mengkhianati mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat’.”[3]

 

  1. Dari Ziyad al-‘Ad i , beliau menceritakan, “Aku pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu ‘Amir yang saat itu sedang berkhutbah sembari mengenakan pakaian sutra.

Abu Bilal berkata, ‘Coba kalian lihat pimpinan kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasik!’

Abu Bakrah pun menyahut, ‘Diam! Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ

Barang siapa menghinakan penguasa Allah di dunia, niscaya Allah akan hinakan dia.”[4]

 

Demikian ini adalah pengajaran dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap hamba, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk ditanamkan kepada anak-anaknya.

Wallahu a’lamu bish-shawab.

(Diterjemahkan dari kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah, karya ‘Abdus Salam bin ‘Abdillah as-Sulaiman, hlm.39—42, oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

[1] HR. al-Imam Ahmad (4/290)(2487), al-Imam al-Bukhari (7053,7143), dan al-Imam Muslim (1849)(55).

[2] HR. al-Imam Ahmad (24/48-49)(15333) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/507)(1096).

[3] HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (2/474)(1015) dan al-Baihaqi dalam al-Jami’ li Syu’abil Iman (10/27) (7117).

[4] HR. al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (34/79)(20433), at-Tirmidzi (2224) dan lafadz ini dalam riwayat beliau. Beliau mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib.

Mendidik Anak dan Pemuda

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ

“Ada tujuh golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah….” (HR. Muslim)

 

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula memberikan nasihat khusus kepada para pemuda dengan menyerukan,

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kesanggupan hendaknya dia menikah. Siapa yang tidak mampu, hendaknya dia berpuasa karena puasa itu tameng baginya.” (HR. al-Bukhari)

 

Pada kesempatan lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat tangan Amr ibnu Abi Salamah radhiallahu ‘anhuma, anak istri beliau yang dalam asuhan beliau, ke sana ke mari saat santap bersama. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai bocah, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu!” (HR. Muslim)

 

Kepada saudara sepupu yang saat itu masih kecil, yaitu Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan nasihat,

يَا غُلَامُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ

“Wahai bocah, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah subhanahu wa ta’ala maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjagamu, jagalah Allah maka engkau akan dapati Dia dihadapanmu, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau minta tolong, minta tolonglah kepada Allah!” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits-hadits di atas menunjukkan perhatian dan bimbingan Islam kepada anak, baik yang masih kecil maupun yang remaja. Hal ini menjadi tugas utama orang tua, ayah dibantu oleh ibu, selaku pihak yang akan dimintai pertanggungjawaban perihal anak-anak tersebut di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala.

Di antara hadits yang juga menunjukkan kewajiban orang tua mengajari dan mendidik anak-anak mereka adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوْا أَوْ دَالَكُمْ باِلصَّلاَةِ لِسَبْعٍ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia 7 tahun. Pukullah mereka bila tidak mau mengerjakan shalat pada usia 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Hadits di atas menyebutkan ibadah shalat, namun tidak berarti pendidikan anak hanya sebatas pengajaran shalat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan shalat di dalam hadits tersebut karena ia adalah ibadah yang terpenting. Siapa yang menjaga shalatnya, niscaya ibadah yang selain shalat pun akan dia jaga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (al-Ankabut: 45)

Berilah anak-anak kalian arahan yang lurus. Didiklah mereka dengan baik. Jadikan diri kalian sebagai teladan yang baik bagi diri kalian sehingga mereka dapat meneladani kalian.

Bersihkan rumah-rumah kalian dari hal-hal yang tidak pantas. Hilangkan sarana yang mengantarkan kepada api kejelekan di dalam rumah sehingga menjadi “steril”. Artinya, hal-hal yang menjadi perantara menyimpangnya anak-anak kalian tidak boleh masuk ke dalamnya.

Para ayah menanggung amanat terkait urusan anak-anak mereka. Apabila orang tua dapat menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada mereka, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala kepada mereka.

Orang tua hendaknya menjadi sebab kebaikan bagi anak-anak mereka sehingga anak-anak bisa menjadi qurratu a’yun bagi mereka di dunia dan di akhirat. Kelak di dalam surga, jika anak-anak itu saleh karena usaha ayah mereka—dengan izin Allah—ketika hidup di dunia, Allah subhanahu wa ta’ala akan mengumpulkan mereka di tempat yang sama di dalam surga.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ

        “Orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, maka Kami gabungkan anak keturunan mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (ath-Thur: 21)

Mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kemauan menanggung kesulitan dari para orang tua. Ia membutuhkan kesungguhan total dari para orang tua. Terkhusus pada zaman ini, saat gelombang keburukan bergejolak dari segala arah. Gelombang keburukan tersebut mengakibatkan para pemuda menjadi seperti kambing-kambing di daerah yang dipenuhi hewan buas yang berbahaya.

Karena itu, para ayah harus mengupayakan agar anak-anak mereka tumbuh di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Para pendahulu terbaik umat ini, assalafus shalih, memberikan perhatian yang besar terhadap anak-anak mereka. Mereka membimbing anak-anak mereka untuk menghafal Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka serahkan anak-anak mereka kepada para guru dan pendidik yang saleh. Mereka rela mengorbankan harta dan waktu yang tidak sedikit untuk kepentingan pengarahan dan pengajaran anak-anak mereka. Semuanya demi buah yang baik di masa depan yang mereka harapkan akan dipetik.

Mereka tidak meninggalkan anak-anak mereka. Waktu luang, materi, dan masa muda anak-anak tersebut, tidaklah diabaikan (namun digunakan sebaik-baiknya). Sebab, semua itu berbahaya bagi anak-anak tersebut.

Seorang penyair mengatakan,

إِنَّ الشَّبَابَ وَالْفَرَاغَ وَالْجِدَةَ

مُفْسِدَةٌ لِلْمَرْءِ أَيَّ مَفْسَدَةٍ

“Sungguh masa muda, waktu luang, dan kekayaan, merusak seseorang dengan kuatnya.”

Apabila mereka memiliki waktu luang, kemudaan dan kekuatan, didukung kekayaan, semua ini merupakan sebab yang dapat merusak.

Karena itu, hati-hatilah dari hal tersebut. Sibukkan waktu mereka dengan perkara yang bermanfaat. Jagalah waktu mereka agar tidak berlalu sia-sia. Jangan memberikan harta yang banyak kepada mereka. Berilah mereka sesuai kebutuhan dan kecukupan mereka yang harus dipenuhi.

Wahai kaum muslimin, ketahuilah, orang-orang kafir menyusun makar untuk anak-anak kalian. Mereka membuat rencana untuk merusak para pemuda muslimin. Sebab, mereka tahu bahwa masyarakat muslimin tegak dengan para pemuda mereka.

Di antara para pemuda itu akan ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi hakim, ada yang menjadi dai yang mengajak kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi mujahid fi sabilillah, apabila para pemuda tersebut saleh dan tetap istiqamah.

Orang-orang kafir menyadari pentingnya keberadaan pemuda muslimin tersebut. Karena itu, mereka mengarahkan sarana-sarana perusak dan penghancur kepada para pemuda.

Mereka berupaya mengubah metode pembelajaran di sekolah-sekolah, dari metode Islam menjadi metode kufur, metode di luar Islam. Mereka ingin memalingkan para pemuda muslimin dari jalan yang benar.

Mereka menguasai media massa: siaran radio, televisi, dan surat kabar, untuk dijadikan sarana penyebaran kerusakan yang dapat mengubah akidah atau keyakinan para pemuda muslimin.

Orang-orang kafir memasukkan candu-candu dan minuman yang memabukkan kepada para pemuda, untuk melemahkan tubuh dan akal mereka. Jadilah para pemuda ini sebagai alat perusak dan penghancur di tengah masyarakat atau menjadi beban hidup bagi orang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          مَّا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ وَلَا ٱلۡمُشۡرِكِينَ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ خَيۡرٖ مِّن رَّبِّكُمۡۚ

        “Orang-orang kafir dari kalangan ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidaklah menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepada kalian dari Rabb kalian.” (al-Baqarah: 105)

          وَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ كَمَا كَفَرُواْ فَتَكُونُونَ سَوَآءٗۖ

        “Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka kafir, sehingga samalah kalian dengan mereka.” (an-Nisa’: 89)

Allah subhanahu wa ta’ala telah memperingatkan kalian dari musuh-musuh kalian,

          إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ لِيَصُدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ فَسَيُنفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيۡهِمۡ حَسۡرَةٗ ثُمَّ يُغۡلَبُونَۗ

        “Sesungguhnya orang-orang kafir itu membelanjakan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka akan membelanjakan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan.” (al-Anfal: 36)

Orang-orang kafir itu akan menyesal dan akan kalah menurut ayat di atas. Akan tetapi, kapankah hal tersebut terjadi?

Itu akan terjadi saat kaum muslimin bangkit menghadapi mereka dengan berjihad yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, menentang kebatilan mereka, dan mewaspadai bahaya mereka.

Apabila kaum muslimin tunduk terhadap musuh-musuh tersebut, mengikuti dan berloyalitas kepada mereka, niscaya mereka akan mengawal kaum muslimin menuju neraka guna menemani mereka di sana.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمۡ عَدُوّٞ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ٦

        “Sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

Hendaknya kita menyadari bahwa anak-anak kaum muslimin kelak akan menjadi tiang penyangga dan kekuatan masa depan dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, apabila mereka tumbuh sebagai pribadi yang saleh. Mereka akan menjadi pengganti kalian sepeninggal kalian untuk mengurusi harta dan peninggalan kalian, termasuk mengurusi adik-adiknya yang masih kecil.

Jika bertakwa, tentu mereka akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik dan menjadi penerus kehidupan ayah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ، انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَ ثَالٍ؛ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحِ يَدْعُو لَهُ

        “Jika anak Adam meninggal, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Sebagai penutup, kita tekankan kepada para orang tua agar bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan meneladani assalafus salih dalam mendidik anak-anak mereka. Dahulu, para salaf sangat perhatian terhadap urusan anak-anak mereka. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan tarbiyah yang baik dan arahan yang lurus.

Satu contoh seperti yang diberitakan oleh al-Imam Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, “Mereka (para orang tua dan pendidik dari kalangan salaf) memukul (sebagai pukulan pendidikan) kami apabila bermudah-mudah memberikan persaksian dan berjanji, padahal kami masih kecil.”

Jika mereka mendengar anak kecil bersumpah, mereka memukulnya agar si anak terdidik untuk mengagungkan urusan sumpah dengan nama Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi sifat dusta (bersumpah palsu).

Apabila anak kecil bermudah-mudah bersaksi tanpa dimintai persaksiannya, mereka memukulnya, agar si anak mendapat peringatan dan jera dari bersaksi palsu dan dusta.

Mereka tidak beralasan, “Anak ini masih kecil, biarkan. Jangan disalahkan, jangan dimarahi!”, atau kalimat semisalnya.

Sebab, anak kecil itu akan tumbuh di atas kebiasaan yang dia lakukan. Si anak akan tumbuh bersama akhlak yang dibiasakan atasnya, akhlak yang baik ataupun yang buruk.

Janganlah kalian menganggap enteng urusan anak-anak kalian dengan beralasan bahwa mereka masih kecil.

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kalian untuk menyuruh anak-anak kalian shalat pada saat mereka masih berusia 7 tahun? Padahal mereka belum baligh. Mereka masih kecil, belum diwajibkan shalat.

Akan tetapi, mereka diperintah shalat dengan tujuan menumbuhkan mereka di atas ibadah dan membiasakannya. Dengan begitu,mereka tahu pentingnya ibadah shalat. Diharapkan saat baligh nanti mereka merasa mudah mengerjakannya, karena sudah terbiasa dan dibiasakan sejak kecil.

Kesungguhan salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka semua, tampak sekali dari buah yang dihasilkan dan yang mereka petik dari anak-anak tersebut.

Kisah mereka terukir dengan tinta emas sejarah yang bisa terus dibaca sampai hari ini.

Di antara anak-anak generasi salaf tersebut ada yang tumbuh menjadi panglima yang membuka negeri-negeri di penjuru barat dan timur bumi, seperti Khalid ibnul Walid, al-Mutsanna ibnul Haritsah, Usamah ibnu Zaid, Muhammad ats-Tsaqafi, dan selain mereka.

Mereka semua memimpin pasukan dalam keadaan usia mereka masih belia. Mereka berhasil menaklukkan negeri-negeri kafir untuk tunduk di bawah kekuasaan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Mengapa bisa demikian? Karena mereka diarahkan dengan bimbingan yang lurus dan tumbuh dengan saleh berkat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terkumpul pada diri anak-anak muda tersebut kekuatan pemuda dan kekuatan iman.

Di antara generasi muda salaf ada yang menjadi fuqaha besar, yang tidak pernah didapati yang semisal mereka di kalangan umat.

Di antara mereka ada yang menjadi hakim yang menjadi permisalan atau teladan yang agung dalam hal keadilan saat memberi keputusan dan hukum di antara manusia.

Ada pula di antara mereka yang menjadi dai ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala. Melalui tangan mereka, banyak penduduk di berbagai belahan bumi, baik dari kalangan Arab maupun non-Arab, yang mendapatkan hidayah.

Semua itu tercapai dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian berkat kesungguhan para pemuda yang saleh, yang tercetak dari tarbiyah yang saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala memberi kekuatan fisik, kekuatan berpikir dan menalar kepada mereka. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, mereka akan menjelma menjadi kekuatan yang tidak tertandingi di tangan kaum muslimin.

Namun, sayang seribu sayang….

Di antara anak-anak muda tersebut dipermainkan oleh syahwat, candu, minuman yang memabukkan, dan serbaboleh (tidak peduli aturan agama).

Mereka duduk tekun di depan televisi, bioskop, teater, bermain game, dan terus terikat dengan sarana-sarana penghancur mereka. Jika sudah telanjur demikian, apa gerangan yang bisa diharapkan dari mereka?

Hanya Allah subhanahu wa ta’ala tempat mengadu dan Dia satu-satu-Nya yang dimintai pertolongan.

(Lihat al-Khuthab al-Mimbariyah fi al-Munasabat al-Ashriyah, 5/177—183, oleh Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, dialihbahasakan Ummu Ishaq al-Atsariyah dengan beberapa perubahan)

Peran Ibu dalam Tarbiyah Anak

Sebelum ini sudah panjang kita berbicara tentang peran wanita dalam kehidupan berumah tangga yang dimainkannya dalam istananya. Tersisa satu peran yang belum kita sebutkan, sementara ia amatlah penting, yaitu peran dalam mendidik anak-anak.

Mengapa dikatakan peran yang penting? Karena tarbiyah diarahkan kepada anak-anak, sementara mereka adalah umat masa depan. Bagaimana kondisi anak-anak tersebut dan pendidikannya pada hari ini, demikianlah gambaran umat pada masa mendatang.

Apabila mereka terdidik dengan baik, berarti disiapkan sebuah umat yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, apabila pendidikan mereka disia-siakan, niscaya pada masa depan nanti yang muncul adalah umat yang buruk. Wallahul musta’an.

Sebenarnya, pendidikan anak bukan hanya tugas seorang ibu, melainkan tanggung jawab bersama dengan ayah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي بَيْتِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْؤُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam lembaran al-Qur’an yang mulia termaktub ayat Allah subhanahu wa ta’ala,

          يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)

 

Tanggung jawab mendidik anak berada pada pundak ayah dan ibu. Hanya saja, bila melihat praktik kesehariannya, kita dapati waktu seorang ayah bersama anak-anaknya di rumah tidak sebanyak waktu yang dihabiskan seorang ibu bersama anak-anaknya. Sebab, ayah harus keluar rumah untuk bekerja guna menanggung biaya kehidupan istri dan anak-anaknya atau untuk tugas-tugas lain yang lazim dipikul oleh seorang lelaki.

Memang ada saatnya seorang ayah berada seharian di rumahnya karena hari libur kerja atau tidak ada aktivitas di luar rumah. Namun, biasanya lelaki ingin memanfaatkannya untuk beristirahat dari kelelahan di hari-hari kerja.

Oleh karena itulah, seorang ibu mengambil porsi yang lebih besar dalam hal tarbiyah anak-anaknya daripada ayah, tanpa menampik kenyataan bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama.

Satu pelajaran dapat kita petik dari hadits Jabir bin Abdilah radhiallahu ‘anhuma berikut ini. Beliau radhiallahu ‘anhuma memberitakan tentang keadaannya,

هَلَكَ أَبِي وَتَرَكَ سَبْعَ بَنَاتٍ أَوْ تِسْعَ بَنَاتٍ، : فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً ثَيِّبًا. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ تَزَوَّجْتَ يَا جَابِرُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ. فَقَالَ: بِكْرًا أَمْ ثَيِّبًا؟ قُلْتُ: بَلْ ثَيِّبًا. قَالَ: فَهَلَّا جَارِيَةً تُلاَعِبُهَا وَتُلاَعِبُكَ وَتُضَاحِكُهَا وَتُضَاحِكُكَ. قَالَ: قُلْتُ لَهُ: إِنَّ عَبْدَ اللهِ هَلَكَ وَتَرَكَ بَنَاتٍ وَإِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُجِيْئَهُنَّ بِمِثْلِهِنَّ، فَتَزَوَّجْتُ امْرَأَةً تَقُوْمُ عَلَيْهِنَّ وَتُصْلِحُهُنَّ. فَقَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ-أَوْ قَالَ: خَيْرًا

Ayahku meninggal dunia dan beliau meninggalkan tujuh atau sembilan putri. Aku pun menikahi seorang janda.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apakah engkau sudah menikah, wahai Jabir?”

“Ya,” jawabku.

Beliau bertanya lagi, “Dengan gadis atau janda?”

Aku jawab, “Dengan janda.”

“Mengapa engkau tidak menikah dengan gadis saja sehingga engkau bisa mula’abah dengannya dan dia bisa mula’abah denganmu? Engkau bisa bercanda dengannya dan dia bisa bercanda denganmu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi.

Aku menerangkan kepada beliau, “Sungguh, ayahku, Abdullah, meninggal dunia dan meninggalkan banyak anak perempuan. Aku tidak suka mendatangkan di tengah-tengah mereka perempuan yang semisal mereka (masih muda/belum dewasa). Aku pun menikahi seorang perempuan (janda/sudah dewasa) yang bisa mengurusi mereka dan merawat mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Jabir, “Semoga Allah memberkahimu.” Atau beliau berkata, “Bagus (apabila demikian).” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa seorang istri turut berperan mendampingi suaminya dalam mentarbiyah anak-anaknya, sekalipun anak-anak tersebut tidak terlahir dari rahimnya.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah memberi judul hadits di atas dalam kitab Shahihnya, bab ‘Aunul Mar’ah Zaujaha fi Waladihi, artinya Istri membantu suaminya dalam mengurus anak suami.

Seorang ibu tidak boleh asal-asalan atau sekenanya menjalankan peran yang penting ini. Karena itu, ibu harus membekali dirinya dengan pengetahuan yang memadai terkait dengan tugas mengasuh, merawat, dan mendidik anak.

Ada beberapa sisi yang perlu diperhatikan oleh seorang ibu agar tarbiyah bisa berjalan dengan baik, di antaranya adalah sisi kesehatan anak.

Mengapa demikian?

Anak yang sakit dan tumbuh dalam keadaan tidak sehat tentu tidak akan bisa menjadi pribadi yang sempurna yang bisa bermanfaat bagi umat. Karena itulah, seorang ibu harus memerhatikan bagaimana anaknya tumbuh dengan sehat. Seorang ibu perlu membekali dirinya dengan pengetahuan tentang hal ini.

Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah memberikan tarbiyah akhlak kepada anak, menumbuhkannya di atas akhlak tersebut, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepadanya, serta menjauhkannya dari kebiasaan yang buruk. Diharapkan kelak dia tumbuh menjadi anak yang saleh sebagai penyejuk mata bagi kedua orang tuanya.

Tabiat Khusus Setiap Jenjang Usia

Seorang ibu harus memahami bahwa setiap jenjang usia dari kehidupan anak memiliki tabiat yang khusus dan cara khusus yang sesuai untuk mendidiknya. Ibu harus mengenali berbagai kekhususan anak agar bisa mendidiknya di atas manhaj tarbiyah yang lurus.

Di antara kekhususan tersebut:

  1. Qabiliyah, siap menerima.

Anak yang masih kecil ibarat lembaran putih yang belum tertulis apapun. Dia siap menerima arahan yang dimaukan oleh pendidiknya. Semisal ranting yang lunak, ia mengikuti tekukan ke arah mana pun yang diinginkan oleh orang membentuknya.

Oleh karena itu, seorang ibu harus bersiap mengisi lembaran putih tersebut dengan kebaikan.

 

  1. Madiyah fit Tafkir

Anak kecil belum bisa memahami dengan baik karena akalnya belum sempurna.

Oleh karena itu, seorang ibu tidak boleh merasa galau ketika anaknya tidak memahami beberapa hal. Sebab, anak menyerap apa yang ada di hadapannya dengan pikirannya yang belum sempurna.

Andai ibu mengatakan kepada anaknya, “Tiga ditambah tiga berapa?”

Bisa jadi, si anak tidak paham. Akan tetapi, apabila si ibu meletakkan tiga pena dan menambahkan tiga pena lagi, barulah si anak bisa menjawab, “Enam.”

Karena pikirannya belum sempurna, anak tidak dibebani syariat kecuali setelah baligh. Mendidik anak di atas sifat-sifat yang terpuji haruslah dikaitkan dengan amaliah (amal nyata) yang bisa disaksikannya.

Misalnya, ibu hendak mendidik anak agar memiliki sifat suka memberi. Dalam hal ini, ibu memberi contoh di hadapan anak dengan menyedekahkan uang, makanan, atau pakaian kepada fakir miskin.

 

  1. Al-Fardiyah wal Ananiyah, egois mau menang sendiri.

Ibu harus mengetahui bahwa sifat seperti ini ada pada anak-anak. Dengan demikian, ibu berusaha mengarahkannya dengan sabar hingga si anak akhirnya bisa menghormati orang lain.

 

  1. Anak punya kebutuhan-kebutuhan

Apabila kebutuhan ini tidak terpenuhi, pertumbuhannya akan terganggu atau akan muncul perangai yang buruk pada dirinya.

Di antara kebutuhan anak adalah:

  • Mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya
  • Memperoleh rasa aman, tidak ada kekhawatiran atau ketakutan yang terus menghantuinya.
  • Ingin dihargai dan diberikan kepercayaan. Apabila merasa tidak dihargai dan tidak diberikan kepercayaan, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri.
  • Ingin memiliki teman. Dalam hal ini, ibu perlu mencarikan teman yang baik untuknya. Teman yang bisa mendukungnya menjadi pribadi yang baik agar tidak bertentangan dengan tarbiyah yang ditanamkan kepadanya.

Cara Mentarbiyah Anak

Ketahuilah, seluruh cara yang kita lakukan dan upayakan kembali kepada salah satu dari beberapa jalan berikut ini.

 

  1. Sekadar mendiktekan perintah dan larangan

Misalnya dengan mengatakan kepada anak, “Tidak boleh begini, tidak boleh begitu”, “Lakukan ini dan itu.”

Sangatlah disayangkan, cara seperti ini sering dilakukan oleh banyak orang tua, padahal pengaruhnya kurang terasa.

 

  1. Menyampaikan perintah dan larangan disertai cara lain, seperti memberikan nasihat, atau memberikan targhib (memberikan harapan kepada kebaikan) dan tarhib (menakut-nakuti dengan hukuman).

Cara seperti ini lebih berhasil daripada yang pertama.

 

  1. Mencontohkan dan memberikan teladan.

Seorang ibu harus memerhatikan dan memperbaiki adab dan akhlaknya agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang dididiknya.

Dia tidak boleh memerintahkan sesuatu, sementara dia sendiri tidak mengerjakannya. Jangan pula dia melarang sesuatu, tetapi dia sendiri mengerjakannya.

Misalnya, ibu menyuruh anaknya membaca al-Qur’an, sementara dia sendiri tidak pernah terlihat membuka lembaran mushaf apalagi membacanya.

Ibu mengajari anaknya untuk bersifat jujur dan melarang berdusta, tetapi ibu sendiri berdusta di hadapan anak-anaknya.

Ada pula beberapa hal penting yang perlu diketahui terkait pendidikan anak, di antaranya:

  • Kapan diperkenankan untuk memukul anak?

Pukulan memang termasuk sarana pendidikan. Akan tetapi, seorang ibu yang baik tentu tidak asal memukul anaknya.

 

  • Menakut-nakuti anak dengan sesuatu dan pengaruhnya bagi kejiwaan anak.

Untuk mendiamkan atau menenangkan anak, orang tua biasa menakut-nakutinya dengan sesuatu. Dalam hal ini orang tua harus mempelajari, sejauh mana hal tersebut berpengaruh pada kejiwaan anak.

  • Menjauhkan anak dari pergaulan dengan anak-anak yang tidak terdidik dengan baik dan teman-teman buruk yang dapat menyeretnya jatuh dalam kejelekan.

 

  • Mengikuti perkembangan belajar anak, apa yang sudah dipelajarinya, sejauh mana pemahamannya terhadap ilmu yang telah disampaikan kepadanya.

  • Mendidik anak perempuan agar memiliki rasa malu.

Di antaranya dengan menyuruh dan membiasakannya memakai kerudung sejak kecil.

  • Tidak bolehnya menampakkan pertentangan antara ayah dan ibu saat memberikan arahan kepada anak.

Misalnya, ayah memerintah anak untuk berbuat sesuatu, sementara ibu melarangnya. Hal ini akan menimbulkan kebingungan pada anak, siapa yang harus diikuti.

  • Ucapan dan perbuatan tidak boleh bertentangan.

Jangan sampai ibu berkata kepada anaknya, ‘Nak, kamu jangan menunda-nunda shalat!’ sementara anak melihat ibunya kerap menunda-nunda shalat.

 

  • Senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak dan menjaga lisan dari mendoakan keburukan untuk anak, apapun yang diperbuat anak yang membuat orang tuanya marah.

Hal-hal di atas perlu dipelajari lebih lanjut oleh seorang ibu yang ingin sukses mendidik anak-anaknya.

Apa yang kami tuangkan dalam ulasan di atas bukanlah dari pikiran kami sendiri, melainkan bimbingan seorang alim besar zaman ini, seorang murabbi (pendidik/pengajar) umat; Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah.

Beliau menyampaikan bimbingan di atas pada sebuah ceramah yang berjudul Daur al Mar’ah fi Tarbiyah al-Usrah (Peran Wanita dalam Mendidik Keluarga).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas beliau dengan limpahan kebaikan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Nasib Malang Anak-Anak dalam Cengkeraman Syiah

Berbicara tentang anak-anak, tentu yang tergambar di benak adalah sesosok makhluk yang lemah. Cinta dan kasih sayang, itu yang terlintas untuk diberikan kepada mereka. Namun, apakah manusia-manusia yang terbelenggu pemahaman Syiah seperti itu juga?

Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahkan cinta dan kasih sayang yang amat besar kepada seorang anak melalui kedua orang tuanya. Syariat ini pun memuji setiap orang yang memiliki rasa kasih sayang kepada anak-anak.

Bila kita membuka lembaran kitabullah, tercantum ayat-ayat tentang kisah Luqman tatkala mewujudkan kasih sayangnya kepada anaknya dalam bentuk bimbingan yang penuh hikmah. Luqman menyampaikan wasiat kepada putranya, seseorang yang paling dikasihi dan dicintainya serta paling berhak mendapatkan ilmu pengetahuan yang paling utama. Karena itulah, wasiat pertama yang dia sampaikan adalah agar sang putra hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim, 6/192)

Pada ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintah hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menjaga keluarga—termasuk anak-anak mereka—dari ancaman api neraka.

        يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di neraka itu ada malaikat-malaikat penjaga yang keras lagi kasar, yang tidak pernah mendurhakai Allah dalam segala yang diperintahkan-Nya dan senantiasa melaksanakan apapun yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Karena itulah, seorang hamba yang beriman harus menjaga dirinya dengan mewajibkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala , menjauhi segala larangan Allah subhanahu wa ta’ala, serta bertobat dari setiap perbuatan yang membuat murka Allah subhanahu wa ta’ala dan mendatangkan azab-Nya. Diiringi pula dengan upaya menjaga istri dan anak-anak dengan cara mendidik dan mengajari mereka, serta mengharuskan mereka melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta’ala. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

Dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, betapa mudahnya kita menemukan berbagai bimbingan dan teladan untuk orang tua dalam mencurahkan kecintaan dan kasih sayang kepada anak-anak.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengungkapkan, bagaimana rasa sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putranya yang lahir dari rahim Mariyah al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha.

مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَرْحَمَ بِالْعِيَالِ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ: كَانَ إِبْرَاهِيمُ مُسْتَرْضِعًا لَهُ فِي عَوَالِي الْمَدِينَةِ، فَكَانَ يَنْطَلِقُ وَنَحْنُ مَعَهُ، فَيَدْخُلُ الْبَيْتَ وَإِنَّهُ لَيَدَّخِنُ، وَكَانَ ظِئْرُهُ قَيْنًا، فَيَأْخُذُهُ فَيُقَبِّلُهُ ثُمَّ يَرْجِعُ

“Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih besar kasih sayangnya kepada keluarganya dibandingkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Anas berkata lagi, “Waktu itu Ibrahim sedang dalam penyusuan di daerah ‘Awali dekat Madinah. Beliau berangkat untuk menjenguknya dan kami menyertai beliau. Kemudian beliau masuk rumah yang saat itu tengah berasap hitam, karena ayah susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Kemudian beliau merengkuh Ibrahim dan menciumnya, lalu beliau kembali. (HR. Muslim no. 2316)

Tak hanya kepada putra-putri beliau sendiri, bahkan pada keumuman anak-anak para sahabat. Tak cukup satu-dua lembar untuk mengungkapkan teladan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wujud kasih sayang dan bimbingan beliau kepada mereka. Begitu pula anjuran beliau terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum untuk memupuk kasih sayang pada anak-anak.

Demikianlah Islam menjaga dan memupuk anugerah Allah subhanahu wa ta’ala kepada orang tua, berupa rasa kasih sayang yang besar kepada anak-anak.

Namun, betapa tersayat jika kita menyaksikan perlakuan penganut agama Syi’ah terhadap anak-anak, baik anak sendiri, terlebih lagi anak-anak kaum muslimin. Sungguh, hampir tak sanggup tangan menuliskan ungkapan gambaran kebengisan dan kekejaman mereka. Tak sekadar merusak fisik dan mental, agamanya pun mereka berangus.

 

Syiah Mengajari Anak Kekufuran dan Kesesatan

Dalam Islam, orang tua memikul kewajiban untuk mengajari anak mengucapkan kalimat tauhid. Ketika anak beranjak dewasa, orang tua berkewajiban memahamkan makna kalimat mulia tersebut. Orang tua juga berkewajiban menanamkan kecintaan dan keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang mencipta, memberi rezeki, dan menolong saat berada dalam kesusahan, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Namun, apa yang diajarkan oleh penganut agama Syiah kepada anakanak? Amat jauh bertolak belakang dengan Islam. Bagaimana tidak? Karena mereka bukan Islam, tentu yang mereka ajarkan pada anak-anak mereka adalah akidah dan agama kufur. Agama yang jauh dari sebutan agama rahmah, tetapi agama sadis dan bengis!

Dalam perayaan hari Asyura, dengan dalih mengenang penderitaan Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala, mereka tak sekadar membacok dan melukai kepala mereka sendiri. Sampai hati pula mereka mengarahkan dan mengayunkan pisau besar nan tajam atau sebilah pedang, lalu membacok dan melukai kepala anak-anak dan bayi-bayi mereka. Sembari tersenyum mereka menyaksikan anak-anak itu bersimbah darah, seakan-akan itu bukan buah hati mereka!

Mendapatkan bukti tentang hal ini insya Allah tidaklah sulit bagi yang menginginkannya. Berbagai media informasi yang tersebar di seluruh penjuru dunia telah memuatnya.

Masih berkenaan dengan hari Asyura, mereka mengajari anak-anak mereka melakukan ritual penyiksaan diri. Diiringi dendangan “Ya Husain… Ya Husain…!” dengan bertelanjang dada, anak-anak laki-laki itu sepenuh tenaga memukuli tubuhnya sendiri dengan segepok besi berbentuk pisau.

(lihat http://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=jgtOlAiJnhs)

Nas’alullaha as-salamah!

Penindasan terhadap agama anak tak hanya terjadi pada anak-anak mereka. Sebutlah apa yang terjadi di Suriah, negeri yang hancur di bawah kekuasaan seorang Syiah Nushairiyah. Pemerintahnya memaksa rakyat untuk menuhankan pemimpin negerinya, sebagai bagian dari akidah sesat mereka.

Yang menolak mengikrarkan atau bersujud pada potret penguasa, niscaya akan berhadapan dengan beragam bentuk siksaan atau pembunuhan yang sadis. Wal ‘iyadzu billah… Kaum muslimin di sana benar-benar tertindas dan terusir.

Kekufuran semacam itu tidak hanya mereka jejalkan kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak. Suatu ketika, seorang anak kaum muslimin tertangkap oleh tentara Syiah. Dia pun diancam dan dipaksa menyatakan ucapan kufur. Akhirnya terjadi dialog antara orang-orang Syiah dengan anak yang malang ini. Berikut ini kurang lebih isi dialog itu.

“Siapakah penciptamu?”

“Bashar Assad.”

“Kepada siapa kamu berdoa?”

“Bashar Assad.”

“Siapa yang kamu sembah?”

“Bashar Assad.”

“Sekarang kamu paham…. Siapa Allah?”

“Bashar Assad.”

“Siapa Muhammad?”

“Bashar Assad.”

“Siapa        yang lebih kuat? Allah atau Bashar?”

“Allah Syria, Bashar.”

“Siapakah yang lebih baik? Allah atau Bashar?”

“Bashar.”

Anak itu pun dipaksa mengatakan, “Laa ilaha illa Bashar!”

(https://youtu.be/nkB0in0mtkg)

Sungguh, sekali lagi terasa berat untuk menukilkan dan menuliskan peristiwa semacam ini. Suatu peristiwa yang akan menghunjamkan luka yang tak terperikan sakit dan pedihnya dalam kalbu seorang yang bertauhid. Ini bukanlah satu-satunya kejadian yang ada di sana.

 

Syiah Melegalkan Prostitusi terhadap Anak

Salah satu syariat yang menunjukkan rusaknya agama Syiah adalah nikah mut’ah. Nikah yang telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pun dianggap sebagai bagian dari agama mereka. Bahkan, mereka hiasi dengan sederet janji palsu bagi pelakunya.

Kenyataan ini semakin menyesakkan dada orang yang mengetahui kebenaran, manakala melihat pelaksanaan mut’ah tak hanya pada wanita dewasa. Anak-anak balita, bahkan bayi yang masih menyusu pun menjadi incaran pelampiasan syahwat mereka.

Sayyid Husain al-Musawi, seorang ulama Syiah yang akhirnya kembali kepada kebenaran, adalah satu di antara murid dan orang terdekat pemimpin besar Syiah pada masanya, Khomeini. Dia menuturkan apa yang pernah terjadi pada pemimpin besar Syiah ini dalam perjalanan pulang dari salah satu lawatannya.

Ketika tiba di Baghdad, mereka melepas lelah di rumah Sayyid Shahib, seorang lelaki asal Iran, yang berada di kawasan al-’Athifiyah. Mereka disambut hangat oleh tuan rumah yang memang kenal dekat dengan Khomeini. Singkat cerita, dituturkan oleh al-Musawi berikut ini.

Menjelang waktu tidur, saat semua hadirin meninggalkan tempat kecuali sang tuan rumah, Imam Khomeini melihat gadis kecil berusia empat atau lima tahun yang sangat cantik. Imam meminta kepada ayahnya, Sayyid Shahib, untuk mut’ah dengan gadis kecil itu. Ayahnya pun menyetujui dengan amat gembira.

Imam Khomeini bermalam dan gadis kecil itu berada dalam dekapannya. Sementara itu, kami mendengar suara tangisan dan teriakannya! Yang jelas, imam telah melalui malam itu.

Ketika pagi tiba, kami duduk sarapan pagi bersama. Imam memandangku dan melihat tanda ketidaksenangan tampak jelas di wajahku. Bagaimana dia bisa melakukan mut’ah dengan seorang anak kecil, sedangkan di rumah itu banyak wanita muda yang baligh, berakal, yang memungkinkan bagi Khomeini melakukan mut’ah dengan salah seorang dari mereka? Mengapa dia tidak berbuat demikian?

Dia pun bertanya, “Sayyid Husain, apa pendapatmu tentang mut’ah dengan anak kecil?”

Aku menjawab, “Kata pemutus adalah ucapan Anda, kebenaran adalah perbuatan Anda, dan Anda adalah imam mujtahid. Orang seperti saya tidak mungkin berpandangan dan berpendapat kecuali sebagaimana pandangan dan pendapat Anda.”

Amat tidak memungkinkan bagiku untuk membantahnya saat itu.

Dia lalu mengatakan, “Sayyid Husain, sesungguhnya dibolehkan mut’ah dengan anak kecil, tetapi hanya dengan cumbuan, ciuman, dan tafkhidz (menghimpitkan kemaluan di antara dua paha, –pent). Adapun jima’, dia belum mampu melakukannya.”

Imam Khomeini juga membolehkan mut’ah dengan bayi perempuan yang masih menyusu. Dia mengatakan, “Tidak mengapa mut’ah dengan bayi yang masih menyusu, dengan pelukan, tafkhidz, dan ciuman.” Lihat kitabnya Tahrirul Wasilah 2/241, masalah no. 12. (Lillahi Tsumma lit Tarikh, hlm. 36—37)

 

Syiah Membenarkan Hubungan sejenis

Satu lagi yang menunjukkan tindakan amoral Syiah kepada anak-anak. Dituturkan oleh al-Musawi, ulama Syiah tidak hanya membolehkan menggauli

istri melalui duburnya, bahkan membolehkan liwath (hubungan seks sejenis) dengan laki-laki atau anak lelaki yang masih belia. Pembolehan itu didukung dengan riwayat palsu yang mereka sandarkan kepada imam mereka, Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq.

Dalam kitabnya ini, al-Musawi juga menuturkan kejadian-kejadian liwath yang dilakukan oleh para sayyid kepada anak-anak lelaki yang masih belia. (Lillahi tsumma lit Tarikh, hlm. 52—55)

Apakah masih ada orang yang sehat akalnya dan bersih jiwanya merasa aman dan yakin dengan agama palsu ini? Nas’alullaha as-salamah!

 

Syiah Membantai Anak-anak Kaum Muslimin

Apabila kaum muslimin hidup di negeri yang dikuasai oleh orang-orang Syiah, mereka hidup dalam keadaan dinistakan, dianiaya, bahkan dibunuh dengan berbagai cara yang sungguh jauh dari kata beradab. Sebutlah negeri-negeri seperti Iran, Lebanon, dan Suriah. Peperangan dilancarkan oleh penguasa Syiah beserta kaki-tangannya untuk menindas kaum muslimin, tanpa pandang bulu. Tak memandang usia, wanita, anak-anak dan lanjut usia, semua dibinasakan tanpa sedikit pun belas kasihan.

Sudah terlalu banyak bukti terpampang di berbagai media. Keterangan saksi mata, foto dan video sudah banyak tersebar berbicara kepada dunia, mengungkap tindakan sadis dan bengis mereka terhadap anak-anak. Padahal mereka bukanlah orang yang dibolehkan dibunuh dalam peperangan.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ مَغَازِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ

Didapati seorang wanita terbunuh di salah satu peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah pun melarang membunuh wanita dan anak-anak.” (HR. al-Bukhari no. 3015)

Memang, Syiah bukan Islam. Mereka sangat membenci Islam dan kaum muslimin. Karena itu, mereka tumpahkan kebencian itu dalam tindakan-tindakan yang sesuai dengan ajaran agama mereka, yang tentu saja jauh dari kata beradab sebagaimana yang diajarkan oleh Islam.

Masihkah kita akan percaya dengan agama amoral seperti ini?

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

Hijab & Anak-Anak

Tidak Wajib Berhijab di Hadapan Anak yang Belum Baligh

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyah wal Ifta’,

“Apakah ada dalil bahwa seorang wanita harus berhijab bila ditemui oleh anak kecil yang berusia 7 atau 9 tahun? Sebab, ada wanita yang jika melihat anak berusia tujuh tahun, dia mengenakan penutup wajahnya. Tentu tidak diragukan lagi, wahai Syaikh, wanita harus berhijab apabila bertemu dengan laki-laki yang sudah baligh. Ini hal yang disepakati.

Namun, apakah ada dalil tentang anak-anak? Jika memang harus berhijab, apakah makna ayat,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Kami mengharapkan jawaban Anda.

Jawab:

Hijab wanita wajib hukumnya (bila berhadapan, -pent.) dengan lakilaki baligh yang bukan mahramnya. Adapun terhadap anak-anak atau laki-laki dari kalangan mahramnya, wanita tidak wajib berhijab. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣١

“Dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak dari mereka, dan hendaknya mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan hendaknya mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka, atau anak laki-laki mereka, atau anak laki-laki suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau anak laki-laki saudara mereka, atau anak laki-laki saudari mereka, atau wanita-wanita mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak memiliki keinginan terhadap wanita, atau anakanak yang belum mengerti tentang aurat wanita, dan hendaknya mereka tidak memukulkan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka, dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, mudah-mudahan kalian beruntung.” (an-Nur: 31)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

       وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ فَلۡيَسۡتَ‍ٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَ‍ٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ

“Dan apabila anak-anak kalian telah sampai pada usia baligh, hendaknya mereka meminta izin sebagaimana orang-orang sebelum mereka meminta izin.” (an-Nur: 59)

(Fatawa al-Lajnah no. 16390)

 

Kapan Anak Laki-laki Dilarang Masuk Menemui Wanita?

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Kapan anak laki-laki dilarangmasuk menemui wanita yang bukan mahramnya? Dan apa makna firman Allah,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak laki-laki yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jawab:

Jika anak laki-laki itu masih kecil dan belum ihtilam, belum paham sedikit pun tentang berbagai keadaan wanita, tidak mengapa dia masuk menemui wanita.Para wanita pun tidak harus berhijab darinya.

Adapun makna firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Karena kecilnya (usia, -pent.) mereka, mereka belum memahami segala macam keadaan wanita dan auratnya, seperti ucapan mereka yang lembut, gemulainya mereka ketika berjalan, gerakan dan diamnya mereka. Jika si anak masih kecil, belum memahami itu semua, ia boleh masuk menemui wanita.”

(Fatawa al-Lajnah no. 6011)

 

Usia Anak Laki-laki yang Mewajibkan Wanita Berhijab Darinya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullah pernah ditanya,

“Berapa batasan usia anak laki-laki yang para wanita diwajibkan berhijab darinya? Apakah usia tamyiz ataukah baligh?”

Jawab:

“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ketika menerangkan pihak yang para wanita boleh menampakkan perhiasan mereka kepadanya,

أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ

“Atau anak kecil yang belum mengerti tentang aurat wanita.”

Jika anak kecil telah mengerti aurat wanita sehingga tertarik memandang wanita dan sering membicarakan tentang mereka, wanita tidak boleh membuka hijab di hadapannya. Ini berbeda-beda tergantung dengan siapa mereka biasa bergaul. Terkadang anak kecil punya pikiran tertentu tentang wanita karena sering bergaul dengan orang-orang yang sering membicarakan wanita. Kalau tidak demikian, biasanya anak kecil tidak punya perhatian khusus terhadap wanita.

(Majmu’atu As’ilah Tuhimmul Usrah)

 

Batasan Usia Anak Perempuan Harus Berhijab

Pernah ditanyakan kepada al-Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmi yah wal Ifta’,

“Berapa batasan usia seorang remaja putri diwajibkan mengenakan hijab? Apakah kami juga harus mewajibkannya terhadap para siswi, meski mereka tidak suka mengenakannya?”

Jawab:

“Jika anak perempuan telah mencapai usia baligh, dia wajib mengenakan pakaian yang menutup seluruh auratnya, termasuk wajah, kepala, dan telapak tangan, baik dia seorang siswi maupun bukan.

Walinya wajib mengharuskan dia untuk mengenakannya jika dia enggan. Semestinya, walinya melatihnya berhijab sebelum dia mencapai usia baligh sehingga akan terbiasa dan akhirnya mudah untuk melaksanakannya.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4470)

 

Anak Perempuan Keluar Tanpa Mengenakan Hijab

Pernah ditanyakan kepada Lajnah Daimah lil Buhuts al-’Ilmiyyah wal Ifta’,

“Bagaimana hukum anak perempuan yang belum baligh, bolehkah keluar tanpa mengenakan hijab? Bolehkah dia shalat tanpa mengenakan kerudung?”

Jawab:

“Wajib atas wali anak itu untuk mendidiknya dengan adab Islami. Maka dari itu, walinya harus memerintah si anak agar tidak keluar rumah kecuali mengenakan pakaian yang menutup auratnya karena dikhawatirkan terjadi fitnah. Di samping itu, perintah ini juga agar anak mengenal akhlak yang mulia, sehingga dia tidak menjadi penyebab tersebarnya kerusakan.

Selain itu, hendaknya wali juga memerintahnya untuk shalat mengenakan kerudung. Kalaupun dia shalat tanpa mengenakan kerudung, shalatnya sah. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat seorang wanita yang telah haid kecuali dengan mengenakan kerudung.”

(Fatawa al-Lajnah no. 4246)

(Dinukil dan diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-’Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cetakan ke-2, 1435H/2014M, hlm. 39—43)

Fatwa Ulama Seputar Pembenahan Perilaku Anak

Anak Bermain-Main Saat Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Jika anak menolah-noleh ketika berdiri di tengah shaf shalat atau terlalu sering bergerak, bagaimana bimbingan Anda tentang hal ini?”

Beliau menjawab, “Hendaknya diberi isyarat agar tenang, sampai dia bisa tenang. Selama di dalam shalat, maka dilakukan dengan isyarat. Anak-anak harus terus dibimbing sampai dia terbiasa dengan kebaikan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no. 301)

Anak Lewat di Depan Ibunya yang Sedang Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ketika shalat, apakah seorang wanita wajib mencegah anaknya lewat di hadapannya? Dia tahu bahwa hal itu akan terjadi berkali-kali di tengah shalat, sehingga tindakannya akan menghilangkan kekhusyukan. Jika shalat sendirian, dia mengkhawatirkan terjadi bahaya pada anaknya.”

Beliau menjawab, “Tidak mengapa dalam keadaan seperti ini dia menahan anaknya agar tidak lewat di hadapannya ketika shalat, jika anak itu berkali-kali lewat dan dia mengkhawatirkan kekhusyukannya dengan tindakannya menahan anaknya itu, sebagaimana dikatakan oleh para ulama.

Akan tetapi, dalam keadaan seperti ini anaknya diberi sesuatu yang mengasyikkan, namun tetap berada di dekat ibunya. Jika anak diberi sesuatu yang mengasyikkan, ia akan lalai dari hal-hal yang lainnya.

Jika si anak menggelayuti ibunya karena lapar atau haus, sebaiknya sang ibu menunda shalatnya untuk memenuhi keperluan anaknya. Setelah itu, ia kembali menunaikan shalat.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

Menggambar Makhluk Bernyawa

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ada siswa beberapa sekolah diminta untuk menggambar makhluk bernyawa. Misalnya, ditugaskan menggambar bagian badan ayam, kemudian diperintahkan untuk menyempurnakan bagian yang lainnya. Terkadang dia diminta menggunting gambar itu kemudian menempelkannya di kertas, atau diberi gambar semacam itu untuk diwarnai. Bagaimana pandangan Anda tentang hal ini?”

Beliau menjawab, “Saya memandang hal ini haram dan wajib dilarang. Hendaknya para penanggung jawab bidang pendidikan mengharuskan para pengajar untuk menunaikan amanat dalam urusan ini.

Selain itu, mereka juga harus melarang hal-hal semacam ini. Jika ingin menguji tingkat inteligensi siswa, masih memungkinkan untuk memerintah si anak menggambar sebuah mobil, pohon, atau apa saja yang diketahui oleh si anak. Dengan demikian, akan diketahui sejauh mana tingkat kecerdasan atau inteligensi anak dalam berbagai hal.

Perbuatan ini (menyuruh anak menggambar makhluk bernyawa, -ed.) termasuk menguji seseorang menggunakan sarana setan. Akan tetapi—tak diragukan lagi—sebenarnya tidak ada perbedaan bagusnya gambar atau lukisan antara seseorang menggambar pohon, mobil, istana, ataupun manusia.

Karena itu, saya berpandangan agar otoritas bidang pendidikan melarang hal-hal semacam ini. Jika seorang siswa diperintah menggambar hewan dan ini harus dilakukan, hendaknya dia menggambar hewan tanpa kepala.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/332)

Tidak Lulus Ujian Apabila Tidak Menggambar Kepala

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Dalam fatwa Anda di atas, Anda mengatakan bahwa jika seorang siswa diperintahkan menggambar hewan dan ini harus dilakukan, hendaknya dia menggambar hewan tanpa kepala. Namun, terkadang murid dianggap tidak lulus ujian jika tidak mau menggambar kepala. Apa yang harus dilakukan?”

Beliau menjawab, “Kalau demikian, maka siswa tersebut dalam keadaan terpaksa. Dosanya ditanggung oleh orang yang memerintah dan membebaninya dengan hal itu. Namun, aku berharap, pihak-pihak yang berkompeten tidak membiarkan urusannya sampai seperti ini, hingga memaksa hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala untuk durhaka kepada-Nya subhanahu wa ta’ala .” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/333)

Memukul Anak

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Ada seorang pria yang sedang berhaji bersama putrinya yang masih kecil. Kemudian dia memukul putrinya ini dalam rangka ta’dib (mendidik). Apa hukum perbuatan seperti ini?”

Beliau menjawab, “Memukul anak dalam rangka mendidik tidak mengapa. Abu Bakr pernah memukul budaknya ketika beliau dalam keadaan ihram.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 24/56)

Menghukum Anak dengan Pukulan Atau Hukuman Lain

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah boleh seorang ayah atau ibu menghukum anak dengan memukul atau memasukkan sesuatu yang pahit atau pedas di dalam mulut si anak, seperti cabai, jika anak berbuat suatu kesalahan?”

Beliau menjawab, “Memberikan ta’dib (pendidikan) dengan pukulan diperbolehkan jika si anak memang telah mencapai usia yang layak untuk diberikan ta’dib, dan umumnya pada usia sepuluh tahun.

Adapun memberi sesuatu yang pedas, ini tidak boleh, karena akan berdampak negatif pada anak. Bisa jadi, mulutnya terasa terbakar atau perutnya terasa panas. Ini justru bisa membahayakan.

Berbeda halnya dengan pukulan, ia hanya mengenai bagian luar tubuh. Tidak mengapa dilakukan dalam rangka mendidik, dengan pukulan yang tidak melukai.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

Beliau ditanya pula, “Bolehkah memukul anak yang berumur kurang dari sepuluh tahun?” Beliau menjawab, “Dilihat terlebih dahulu. Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan pukulan pada anak yang berumur sepuluh tahun karena meninggalkan shalat.

Adapun yang umurnya kurang dari itu, dilihat dahulu. Terkadang ada anak yang memiliki pemahaman, cerdas, dan badannya besar, sehingga dia mampu menanggung pukulan, kemarahan, dan tindakan pendidikan. Akan tetapi, ada pula yang keadaannya tidak seperti itu.” (Majmu’atu As’ilah Tahimmul Usrah)

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 23—24, 26—28, 36—39 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Buku Pendidikan Tulisan Orang Kafir

Tentang buku-buku pendidikan dan kesehatan yang ditulis oleh orang kafir, dan tidak menyelisihi syariat kita, apakah boleh kita mengambil faedah dari buku-buku tersebut dalam hal mendidik anak-anak kita dan memerhatikan kesehatan selama tidak menyelisihi syariat yang lurus ini?

Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah menjawab:

Buku-buku atau artikel-artikel yang ditulis dalam bab ini—tentang pendidikan—ada dua macam. Ada yang bermanfaat, ada yang bermadarat.

Tidak diragukan lagi, yang bermadarat tentu saja dijauhi. Bisa jadi, madaratnya ada pada tulisan, bisa jadi pula pada penulisnya. Maksudnya, penulisnya diketahui memiliki penyimpangan atau kesesatan. Apabila demikian, tentu tidak dirasa aman bahwa dalam tulisannya yang tampak baik dia menyusupkan ungkapan-ungkapan yang membekas, lantas bercokol dalam kalbu seorang mukmin. Akhirnya hal itu menjadi syubhat, kemudian berubah menjadi pemikiran atau akidah. Oleh karena itu, kami katakan bahwa jenis yang ini dijauhi sama sekali.

Jenis yang kedua adalah (tulisan) yang bermanfaat, yaitu yang mengandung kebaikan dan bisa dibaca oleh manusia. Akan tetapi, pertanyaannya adalah hal apa yang ada pada orang kafir dan tidak dimiliki oleh pemeluk kebenaran?

Pertanyaan ini wajib dilontarkan, atau sebagaimana dikatakan: terlontar dengan sendirinya. Kebenaran mana yang mereka miliki dan tidak kita punyai?

Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak meninggalkan sebuah solusi dan jalan (melainkan telah beliau jelaskan). Sejak dahulu, para ulama pun telah menyusun berbagai tulisan terkait dengan anak-anak dan tarbiyah mereka. Bahkan, karena agungnya urusan anak, sebagian ulama menulis kitab untuk menyabarkan para orang tua ketika anak mereka tiada karena meninggal atau yang semacamnya.

Ibnul Jauzi rahimahullah menulis kitab Laftul Kabid ‘inda Faqdil Walad. Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi rahimahullah menulis kitab Bardul Akbad ‘inda Faqdil Aulad. Demikian pula ulama selain mereka berdua.

Apabila pada buku tersebut ada hal-hal yang tidak ada di sisi pemeluk kebenaran, dilihat. Jika yang mereka tulis tidak menyelisihi syariat kita dan pokok-pokoknya, tidak mengapa mengambil faedah darinya. Bahkan, terkadang harus, apabila ada kebutuhan yang mendesak. Hanya saja, untuk menentukan harus atau tidaknya, dikembalikan kepada para ulama. Wallahu a’lam.

(Huququl Aulad ‘ala Aba wal Ummahat, hlm. 53—54)

Membiasakan Anak Shalat

Batasan Taklif Seorang Anak untuk Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah balighnya seorang anak dianggap sebagai batasan dia harus dibebani untuk mengganti shalat yang terluput darinya karena tertidur ataupun yang dia tinggalkan?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ketika seorang anak—baik laki-laki maupun perempuan—telah baligh, maka dia harus melaksanakan shalat, puasa Ramadhan, haji dan umrah apabila dia mampu. Dia berdosa jika meninggalkan itu semua dan berdosa pula jika dia berbuat maksiat. Ini berdasarkan keumuman dalil-dalil syar’i.

Taklif (pembebanan syari’at) terjadi jika anak telah mencapai usia lima belas tahun, atau keluar mani dengan syahwat—baik dalam keadaan tidur ataupun terjaga, tumbuhnya rambut di sekitar qubul. Pada anak perempuan ditambah satu lagi, yaitu haid. Selama anak laki-laki ataupun perempuan belum mengalami salah satu dari perkara-perkara ini tadi, maka dia belum mukallaf.

Namun, dia diperintahkan untuk shalat sejak umur tujuh tahun, dan dipukul karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun. Begitu pula dia diperintah untuk puasa Ramadhan dan disemangati untuk melakukan berbagai kebaikan, seperti membaca al-Qur’an, shalat nafilah, haji, umrah, memperbanyak tasbih, tahlil, takbir, dan tahmid. Di samping itu, dia juga dilarang melakukan segala bentuk kemaksiatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْ دَالَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِ الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari perbuatan al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tatkala makan kurma sedekah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada al-Hasan,

أَمَا عَلِمْتَ أَنَّهُ تَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَةُ ؟

“Tidakkah kamu tahu bahwa tidak halal bagi kita sedekah?”

Beliau menyuruh al-Hasan untuk membuang kurma yang telah diambilnya. Padahal, al-Hasan baru berumur tujuh tahun lebih beberapa bulan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.” (Majmu’ Fatawa Samahatusy Syaikh Ibn Baaz, 10/371)

Mengajak Anak-Anak Hadir di Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum mengajak anak-anak kecil hadir di masjid, namun anak-anak ini mengganggu orang-orang yang shalat.

Beliau rahimahullah menjawab, “Tidak boleh mengajak anak-anak ke masjid apabila mereka mengganggu orang-orang yang shalat. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui para sahabat ketika mereka shalat dan saling melantangkan suaranya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur,

يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقُرْآنِأَوْ قَالَ: فِي الْقِرَاءَةِ

“Janganlah sebagian kalian melantangkan suara terhadap sebagian yang lainnya dalam bacaan Qur’annya!” atau beliau mengatakan, “Dalam bacaannya.”

Kalau mengganggu itu dilarang, padahal itu adalah bacaan al-Qur’an, bagaimana kiranya dengan anak-anak yang bermain-main? Adapun jika tidak mengganggu, mengajak mereka ke masjid itu merupakan suatu kebaikan. Sebab, hal itu akan membiasakan mereka menghadiri shalat jamaah, menjadikan mereka cinta dan akrab dengan masjid.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Tidak boleh Melarang Anak-anak Berada di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hukum melarang anak-anak duduk di shaf pertama.

Beliau rahimahullah menjawab, “ Tidak boleh dilarang anak-anak untuk shalat di shaf pertama di masjid, kecuali apabila mengganggu. Selama mereka beradab, tidak boleh mengeluarkan mereka dari shaf pertama. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

مَنْ سَبَقَ إِلَى مَا لَمْ يَسْبَقْ إِلَيْهِ مُسْلِمٌ فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ

“Barang siapa lebih dahulu mendapatkan apa yang belum didahului oleh seorang muslim, dia lebih berhak atasnya.”

Mereka lebih dahulu mendapatkan apa yang tidak didahului orang lain, maka mereka lebih berhak atasnya daripada orang lain.

Kalau ada yang mengatakan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

maka jawabannya, yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah dorongan kepada orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju. Ya, seandainya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

يَلِيْنِي مِنْكُمْ إِ أُولُوا الأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Tidaklah boleh shalat di belakangku kecuali orang-orang yang telah baligh dan berakal.”

tentu ini merupakan larangan bagi anak-anak maju ke shaf pertama. Namun, ketika beliau mengatakan,

لِيَلِينِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

maka maknanya adalah anjuran bagi orang-orang yang telah baligh dan berakal untuk maju, agar mereka menjadi orang-orang yang shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain itu, jika kita undurkan anak-anak itu dari shaf pertama, mereka semua akan berada di shaf kedua, sehingga mereka akan bermain-main. Hal ini tidak akan terjadi jika mereka berada di shaf pertama namun kita pisah-pisahkan mereka. Ini adalah perkara yang jelas. Wallahul muwaffiq.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/397)

Apabila Anak-Anak Mendahului Orang Dewasa di Shaf Pertama

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Ada anak-anak yang datang lebih awal pada hari Jum’at. Kemudian ada beberapa orang dewasa datang, menyuruh anak-anak itu bangkit, lalu menduduki tempat duduk mereka. Mereka beralasan dengan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيْنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

‘Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal.’

Apakah hal ini boleh dilakukan?”

Beliau menjawab, “Dikatakan oleh sebagian ahlul ilmi dan mereka berpendapat bahwa yang lebih utama, anak-anak dibariskan di belakang shaf laki-laki dewasa. Namun, pendapat ini perlu tinjauan. Yang lebih sahih, jika anak-anak datang terlebih dahulu, tidak boleh dikebelakangkan.

Jika mereka mendapatkan shaf pertama atau kedua, tidak boleh orang yang datang setelah mereka menyuruh mereka bangkit dari tempat duduknya, karena anak-anak itu telah mendahului mendapatkan suatu hak yang tidak didahului oleh orang lain.

Karena itu, tidak boleh menyuruh mereka mundur, berdasarkan keumuman hadits-hadits tentang hal ini.

Jika mereka disuruh mundur, ini akan membuat mereka lari dari shalat dan dari berlomba-lomba datang untuk shalat. Jadi, tidak layak hal ini dilakukan.

Namun, jika orang-orang datang shalat bersamaan, dalam safar atau karena suatu sebab, maka laki-laki dewasa berada di shaf terdepan, yang kedua anak-anak, kemudian setelah itu para wanita. Ini jika terjadi yang seperti itu, dan mereka datang bersamaan.

Adapun menyuruh anak-anak menyingkir dari shafnya kemudian tempat mereka ditempati oleh orang-orang dewasa yang datang belakangan, ini tidak boleh dilakukan dengan alasan yang telah kami sebutkan.

Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُوا الْأَحْ مَالِ وَالنُّهَى

“Hendaknya yang shalat di belakangku adalah orang-orang yang telah baligh dan berakal di antara kalian.”

Yang dimaksudkan di sini adalah dorongan agar orang-orang yang telah baligh dan berakal bersegera untuk shalat, sehingga mereka menjadi orang-orang yang terdepan. Maknanya bukanlah menyuruh mundur orang yang telah mendahului mereka, karena ini menyelisihi dalil-dalil syar’i yang telah kami sebutkan.” (Majmu’ Fatawa Ibni Baz , 12/399)

Memerintah Anak di Bawah Sepuluh Tahun untuk Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Berkaitan dengan shalat anak-anak di bawah usia sepuluh tahun, apakah orang tua berdosa jika tidak mengharuskan mereka shalat?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Orang tua hanya sebatas memerintah saja, dan mereka tidak berdosa. Ketika anak telah berusia sepuluh tahun, orang tua wajib memerintah mereka dan menta’dib (memberi hukuman/sanksi berupa pukulan) hingga mereka mau melaksanakan shalat.

Adapun umur 7—10 tahun, yang disyariatkan adalah memerintah saja. Apabila sudah berumur tujuh tahun, mereka diperintah untuk shalat dan tidak dipukul (jika meninggalkannya -pen). Setelah sepuluh tahun atau lebih, barulah si anak dipukul jika meninggalkan shalat.” (Fatawa Nur ‘alad Darb , kaset no. 435)

Tidak Semangat Mengajak Anak Menunaikan Shalat

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Banyak orang tua/wali anak—semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi mereka petunjuk—tidak bersemangat mengajak anak-anak mereka menunaikan shalat fardhu. Mereka amat bermudah-mudahan dalam hal ini. Apa nasihat Samahatusy Syaikh seputar masalah ini? Apakah mereka berdosa dalam hal ini?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ya. Yang wajib atas seluruh kaum muslimin adalah memerhatikan urusan shalat dan membimbing anak-anak mereka untuk menunaikannya. Yang wajib atas setiap ayah dan ibu serta saudara adalah memerhatikan hal ini.

Seorang ayah harus mengarahkan anak-anaknya, begitu pula ibu, kakak laki-laki, dan paman. Semua harus saling menolong di atas kebaikan dan takwa, karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan tolong-menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ

“Dan laki-laki yang beriman dan wanita-wanita yang beriman, sebagian mereka adalah penolong bagi yang lain, mereka saling memerintahkan pada kebaikan dan melarang dari kemungkaran.” (at-Taubah: 71)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

وَٱلۡعَصۡرِ ١  إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢  إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati di atas kebenaran, dan saling menasihati di atas kesabaran.” (al-’Ashr: 1—3)

Apabila orang tua bermudah-mudah dalam urusan ini, ia berdosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

“Dan perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah untuk menunaikannya.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, padanya ada malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak pernah mendurhakai Allah pada segala sesuatu yang Dia perintahkan dan senantiasa melaksanakan segala yang diperintahkan kepada mereka.” (at-Tahrim: 6)

Begitu pula, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ

“Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, kalian memerintahkan kepada perkara yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran, serta beriman kepada Allah.”

Karena itu, ayah, ibu, saudara laki-laki dan yang lainnya wajib saling menolong dalam hal ini dan tetap beristiqamah di atas kebenaran, serta mengharuskan anak-anak mereka untuk menunaikan dan menjaga shalatnya dan memberikan ta’dib kepada yang meninggalkannya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.391)

Hukum Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang mengajak anak-anak ke masjid? Apakah hal ini haram, makruh, atau boleh? Mengingat, saya pernah mendengar dari banyak orang adanya suatu hadits.

Mereka mengatakan bahwa diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

“Jauhkanlah masjid-masjid kalian dari anak-anak dan orang-orang gila dari kalangan kalian.”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ini hal yang disenangi (mustahab). Bahkan, disyariatkan membawa anak-anak ke masjid ketika telah berumur tujuh tahun lebih, dan memukul mereka jika enggan ketika sudah berumur sepuluh tahun.

Dengan demikian, anak akan terbiasa shalat dan diajari urusan shalat. Ketika baligh nanti dia sudah mengetahui dan terbiasa menunaikan shalat bersama saudara-saudara mereka kaum muslimin.

Adapun anak-anak kecil di bawah usia tujuh tahun, yang lebih utama tidak mengajak mereka. Sebab, mereka hanya akan menyempitkan dan mengganggu jamaah serta bermain-main. Maka dari itu, yang lebih utama adalah tidak mengajak mereka ke masjid, karena mereka belum disyariatkan menunaikan shalat.

Adapun hadits,

جَنِّبُوا مَسَاجِدَكُمْ صِبْيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

adalah hadits yang dha’if, tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anak-anak justru diperintah untuk menghadiri shalat jika telah berusia tujuh tahun lebih sehingga dia terbiasa menunaikan shalat. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوا عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mencapai usia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka.”

Dalam hadits ini terdapat pensyariatan bagi kaum mukminin untuk mengajak anak-anak mereka sehingga mereka terbiasa menunaikan shalat. Ketika baligh kelak mereka sudah terbiasa shalat dan menghadirinya bersama kaum muslimin. Hal ini akan lebih memudahkan dan mendekatkan mereka untuk menjaga shalatnya.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.169)

Mengajak Anak-Anak ke Masjid

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana pandangan Anda tentang orang-orang yang mengajak anak-anaknya ke masjid untuk menunaikan shalat? Mengingat anak-anak itu belum bisa membaca atau menghafal al-Qur’an walaupun al-Fatihah? Berikanlah fatwa kepada kami, jazakumullahu khairan.”

Beliau menjawab, “Apabila memungkinkan mereka tetap ada di rumah, ini lebih baik, sehingga mereka tidak mengganggu siapa pun.

Namun, jika tidak memungkinkan, karena anak atau ayah senang untuk shalat bersama jamaah, atau mendengarkan pelajaran, penyampaian faedah atau khutbah, tidak mengapa (hadir di masjid –pen.) walaupun membawa anak-anak kecil.

Sebab, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dalam hadits yang sahih bahwa beliau memulai shalat dan ingin memperlamanya. Kemudian beliau mendengar tangisan anak kecil. Beliau pun meringankan shalat agar tidak menyusahkan ibunya. Ini menunjukkan bahwa mereka shalat sambil membawa anak-anak. Beliau tidak melarang mereka membawa anak-anak kecil.

Demikian pula di dalam sebuah hadits yang shahih, ketika beliau pada beberapa malam mengakhirkan pelaksanaan shalat isya’. ‘Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Wahai Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur….” Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga hadir.

Kesimpulannya, hadirnya anak-anak bersama ibu atau ayah mereka diperbolehkan. Jika si anak belum masanya untuk shalat dan dia dibawa oleh ibunya dan sang ibu bisa menenangkannya sehingga bisa menunaikan shalat berjamaah, serta mendengar khutbah dan penyampaian faedah, ini tidak mengapa.

Jika memungkinkan untuk menjaga si anak di rumah sehingga si anak tidak mengganggu, sang ibu juga tidak mengganggu siapa pun dengan anaknya ini, ini lebih utama dan lebih baik, jika memungkinkan.” (Fatawa Nur ‘alad Darb, kaset no.229)

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari Fatawa Tarbiyatil Aulad, al-Qismu al-‘Ilmi Dar al-Ikhlash wa ash-Shawab, cet. 2, 1435H/2014M, hlm. 22—23, 28—35 oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)

Nasihat Ulama Seputar Pendidikan Anak

Orang Tua Tidak Memerhatikan Anaknya

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya, “Sebagian orang tua tidak memerhatikan urusan agama anak-anaknya, seperti tidak menyuruh mereka untuk shalat, membaca al-Qur’an, atau berteman dengan orang-orang yang baik. Akan tetapi, dia amat memerhatikan sisi pendidikan sekolah, bahkan bisa marah apabila anaknya membolos. Apa nasihat Anda, wahai Samahatusy Syaikh?” Lanjutkan membaca Nasihat Ulama Seputar Pendidikan Anak

Anak Adalah Amanat

KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah sidang Jumat rahimakumullah!

Anak, di samping sebagai buah hati bagi kedua orang tuanya, anak merupakan amanat yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan di pundak kedua orang tuanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ

“Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian memerhatikan anak-anak kalian.” (an-Nisa: 11)

Maksudnya, hendaknya kalian memerhatikan kemaslahatan dunia dan akhirat mereka dengan memberi pendidikan, pembekalan jasmani, dan rohani mereka.

Pada kesempatan khutbah Jumat yang berbahagia ini, kami ingin mengajak para hadirin untuk mengevaluasi tanggung jawab yang mulia ini. Kebahagiaan dunia dan akhirat putra-putri adalah dambaan setiap mukmin.

 

Kaum muslimin rahimani wa rahimakumullah,

Kita tidak boleh menutup mata dari kenyataan kemerosotan nilai agama dan akhlak pada anak remaja akhir-akhir ini. Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Pada hari kiamat kelak, kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap keluarga dan anak-anak kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَا مْألَِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Kalian semua adalah penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dijaganya. Seorang pemimpin adalah penjaga bagi rakyatnya. Seorang laki-laki (kepala keluarga) adalah penjaga bagi keluarganya. Wanita (istri) adalah penjaga rumah tangga dan anak suaminya. Kalian semua adalah para penjaga yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dijaganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

 

Ma’asyiral muslimin rahimani wa rahimakumullah!

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan semaraknya media komunikasi, kondisi agama putra-putri kita semakin buruk dan semakin rusak. Jarang sekali orang tua yang peduli dengan hal ini, kecuali orang-orang yang mendapat taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Sebagian orang tua merasa sangat terpukul saat prestasi sekolah anaknya menurun, tetapi mereka tidak merasa terpukul saat menjumpai anaknya tidak melaksanakan ibadah yang wajib semisal shalat dan puasa. Sebagian orang tua justru lebih condong membantu anaknya untuk melampiaskan hawa nafsunya daripada membekali anaknya dengan pendidikan agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa ketika dia menelantarkan asuhannya.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Tentu saja, menelantarkan agama mereka jauh lebih buruk daripada menelantarkan makan dan minumnya. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba yang Allah subhanahu wa ta’ala amanahi untuk menjaga orangorang tanggungannya kemudian mati pada hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati mereka, kecuali akan Allah subhanahu wa ta’ala haramkan baginya surga.” (HR. an-Nasai dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)

Dan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

إنَّ اللهَ سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعَاهُ أَحَفِظَ أَمْ ضَيَّعَ حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Sesungguhnya Allah bertanya kepada setiap pemimpin tentang kepemimpinannya, apakah dia menjaganya atau menyia-nyiakannya. Sampai-sampai Allah bertanya kepada seseorang tentang tanggung jawabnya terhadap keluarganya.” (HR. an-Nasai, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

 

Hadirin rahimani wa rahimakumullah!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

        وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤

“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

مُرُوا أَوْ دَالَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka telah berumur tujuh tahun. Pukullah mereka yang tidak mau mengerjakan shalat setelah umur sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم،ِ أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْد

 

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Anak-anak juga merupakan ujian bagi orang tuanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian bagi kalian. Dan di sisi Allah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Keberhasilan mendidik anak-anak akan membuahkan kebahagiaan yang abadi bagi orang-orang yang beriman.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡهُمۡ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَيۡءٖۚ كُلُّ ٱمۡرِيِٕۢ بِمَا كَسَبَ رَهِينٞ ٢١

“Dan orang-orang yang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, niscaya Kami akan pertemukan mereka dengan anak cucu mereka di surga.” (ath-Thur: 21)

Jika anak tersebut menjadi anak yang saleh, niscaya dia akan mendoakan orang tuanya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِ مِنْ ثَ ثَالٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, amalannya terputus kecuali tiga hal: amal/sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda,

مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ سِتْرًا لَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka sebagai pelindung baginya dari api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiallahu ‘anhua)

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyejuk mata kami. Jadikanlah kami sebagai imam bagi orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar