Keistimewaan Pernikahan

Pernikahan yang disyariatkan Allah ‘azza wa jalla untuk para hamba-Nya merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat-Nya yang agung. Dengan pernikahan, akan tercapai maslahat dan manfaat yang tak terhingga.

Allah ‘azza wa jalla mengaitkan pernikahan dengan banyak hukum syar’i berikut hak dan kewajibannya. Allah ‘azza wa jalla juga menjadikannya sebagai bagian dari sunnah para rasul dan jalan para hamba yang saleh, di samping sebagai kebutuhan mendasar segenap insan.

Ada banyak keutamaan dan kelebihan pernikahan bila dibanding dengan akad-akad perjanjian yang selainnya. Untuk masuk ke dalam akad pernikahan ada syarat-syarat dan adabnya. Untuk keluar pun, ada batasan dan pintunya.

Di antara keistimewaan pernikahan adalah sebagai berikut.

  1. Pernikahan merupakan syariat yang diperintahkan.

Hukumnya bisa jadi wajib atau mustahab, tergantung pada kondisi yang ada.

 

  1. Dihalalkan bagi seorang lelaki memandang wanita ajnabiyah (nonmahram) saat ingin meminang wanita.

Sementara itu, di luar prosesi nazhar memandang a jnabiyah hukumnya haram. Nazhar dimaksudkan untuk mendapatkan kecocokan dan kemantapan menikahi si wanita.

 

  1. Penetap syariat memerintahkan untuk memilih pasangan yang memiliki sifat-sifat kebaikan dalam agama; sifat-sifat aqliyah (pandai, cakap), dan akhlak yang indah.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَٱنكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَآءِ

        “Nikahilah wanita-wanita yang menyenangkan bagi kalian.” (an-Nisa’: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

        تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ: لِحسَبِهَا وَمَالِهَا وَجَمَالِهَا وَدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَمِيْنُكَ

 “Wanita itu dinikahi karena empat sebab; karena keturunannya (nasab), hartanya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya, taribat yaminuk.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran untuk memerhatikan sisi agama sebelum sisi lain, karena agama akan memperbaiki urusan yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Wanita yang baik agamanya tentu akan menjaga kehormatannya untuk suaminya, menjaga harta suami, anak-anak, dan seluruh yang terkait dengan suaminya.

 

  1. Seluruh akad selain nikah boleh dilakukan berapa kali pun tanpa pembatasan bilangan.

Adapun pernikahan, seorang lelaki hanya diperbolehkan mengumpulkan empat istri, tidak boleh lebih. Sebab, pernikahan adalah urusan yang mulia. Selain itu, dikhawatirkan seseorang akan menanggung kewajiban di luar batas kemampuannya. Di samping itu, karena memerhatikan kemaslahatan bagi istri.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُواْ فَوَٰحِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۚ

        “Jika kalian khawatir tidak dapat berlaku adil (di antara para istri), nikahilah seorang istri saja atau budak wanita yang kalian miliki….” (an-Nisa: 3)

 

  1. Seseorang tidak bisa masuk dalam ikatan pernikahan terkecuali dengan ijab dan qabul sebagai rukun nikah.

Yang dimaksud ijab adalah ucapan wali mempelai wanita,

زَوَّجْتُكَ أَوْ أَنْكَحْتُكَ فُلَانَةَ

“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah,” atau kalimat yang semisalnya.

Qabul adalah ucapan mempelai pria,

قَبِلْتُ النِّكَاحَ أَوْ زَوَاجَهَا

“Aku terima nikahnya,” atau kalimat semisalnya.

Adapun akad selain nikah, sudah terlaksana dengan ucapan dan perbuatan.

 

  1. Dalam akad nikah, harus dinyatakan secara tertentu, siapa mempelai pria dan siapa mempelai wanitanya; jelas menunjuk orangnya, namanya, ataupun ciri dan sifat pengenalnya.

Untuk mempelai wanita, disebutkan dengan ucapan wali nikah, “Aku nikahkan engkau dengan putriku yang bernama Fulanah.” Disebut namanya dan dibedakan dari yang lain atau disebutkan sifatnya seperti, “Aku nikahkan engkau dengan putri sulungku,” “putri bungsuku”, atau hanya disebut ‘putriku’; apabila si wali tidak memiliki putri selainnya.

Adapun penentuan mempelai pria dari dua sisi:

  • Saat meminang calon mempelai wanita.

Tidak cukup keluarga calon mempelai pria atau wakilnya mengatakan kepada keluarga si wanita, “Aku ingin meminang Fulanah untuk salah satu putraku, saudara laki-lakiku, atau untuk salah seorang pria dari Bani Fulan.”

Akan tetapi, harus disebutkan siapa lelaki yang akan menjadi mempelai pria tersebut.

  • Waktu qabul.

Jika mempelai pria itu sendiri yang menjawab ijab, dia berkata, “Aku terima dia,atau, “Aku terima nikahnya dia.”

Apabila perwakilan mempelai pria yang berhadapan dengan wali, saat ijab wali harus berkata, “Aku nikahkan Fulan yang mewakilkan kepadamu, dengan putriku.”

Wali mempelai perempuan tidak boleh berkata kepada si wakil, “Aku nikahkan engkau….”

Saat qabul si wakil berkata, “Aku terima untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku,” atau, “Aku terima dia untuk Fulan yang mewakilkan kepadaku.”

Sementara itu, pada akad-akad lain, hal seperti ini tidaklah menjadi persyaratan.

 

  1. Dipersyaratkan harus ada minimal dua saksi yang adil dalam akad nikah.

Adapun akad-akad yang lain tidak wajib dihadirkan saksi, hukumnya sunnah.

 

  1. Dipersyaratkan adanya wali dalam pernikahan.

Pernikahan tidak sah tanpa adanya wali. Yang menjadi wali nikah adalah ayah si wanita. Jika ayah berhalangan atau tidak ada lagi, digantikan oleh pihak lelaki dari garis ayah (‘ashabah) yang paling dekat kekerabatannya dengan si wanita. Jika semua tidak ada, hakim/pemerintah yang menjadi walinya.

Secerdas dan secakap apa pun seorang wanita, dia tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Berbeda halnya dengan akad-akad yang lain, pengurusan baru diserahkan kepada wali apabila seseorang yang hendak melakukan akad tersebut kurang akalnya sehingga tidak cakap untuk bertindak, saat itulah walinya yang berperan mewakilinya. Jika dia seorang yang cakap, dia bebas mengurusi sendiri akadnya dan bertanggung jawab atas tindak-tanduknya.

 

  1. Apabila hendak menikahkan gadis kecil berusia sembilan tahun yang di bawah perwaliannya, wali selain ayah harus meminta izin kepada si gadis.

Berbeda halnya dengan akad jual beli; wali anak yang masih kecil dan belum cakap tidak wajib meminta izin kepada si anak saat hendak berbuat terhadap harta si anak, baik membeli maupun menjual sesuatu dari hartanya.

 

  1. Ada akad-akad lain yang harus memberi ganti dan ada pula tanpa ganti alias gratis, pemberian dengan suka rela.

Sementara itu, dalam akad nikah harus ada penyerahan sesuatu dari pihak lelaki kepada pihak wanita yang disebut mahar, sedikit atau banyak.

Jika mahar itu disebutkan atau ditentukan, wajib ditunaikan sebagaimana yang disebutkan. Jika mahar tidak disebutkan, pihak lelaki harus memberikan mahar yang sesuai untuk si wanita dengan melihat wanita-wanita yang setaraf dengannya dalam hal kecantikan, harta, agama, kecerdasan dan sifat-sifat yang lain, berapa biasanya mahar yang diberikan kepada mereka.

Jika dipersyaratkan tidak ada mahar dalam suatu pernikahan, syarat tersebut batil, tidak boleh ditunaikan. Mahar adalah suatu kemestian dalam akad nikah, bisa dalam bentuk harta, kemanfaatan agama[1], atau kemanfaatan duniawi[2].

 

  1. Dalam urusan pernikahan, penetap syariat membagi wanita menjadi dua macam[3].
  2. Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan kekerabatan/nasab, karena penyusuan, atau hubungan kekeluargaan yang terjalin lewat pernikahan.
  3. Wanita-wanita yang halal untuk dinikahi, yaitu selain yang di atas. Untuk yang haram dinikahi, berikut perinciannya.

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab adalah:

– ibu kandung, nenek kandung dan seterusnya ke atas.

– putri kandung, cucu perempuan dari anak kandung, dan seterusnya ke bawah.

– keturunan ayah dan ibu dan seterusnya ke bawah, seperti: saudari perempuan, anak-anak perempuan mereka (keponakan), anak-anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan).

– saudari perempuan ayah dan ibu (disebut dalam bahasa Arab; amah untuk saudari ayah dan khalah untuk saudari ibu).

Selain mereka yang disebutkan di atas dari kalangan kerabat maka halal dinikahi, seperti putri paman dari pihak ayah maupun ibu, putri bibi dari pihak ayah maupun ibu (sepupu atau saudara misan).

 

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan penyusuan adalah sama dengan wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan nasab dari pihak ibu susu dan ayah susu, dengan syarat terjadi minimal lima kali penyusuan dalam masa usia menyusu (kurang dari dua tahun).

Adapun anak susu, hubungan kemahramannya dengan keluarga susunya tidak tersebar kepada keluarga senasabnya kecuali sebatas dirinya sendiri dan anak keturunannya seterusnya ke bawah.

  • Wanita-wanita yang haram dinikahi karena hubungan pernikahan (mushaharah) adalah:

– istri ayah (ibu tiri) dan seterusnya ke atas (ibu mertua ayah, dst)

– istri anak kandung (menantu) dan seterusnya ke bawah.

– ibu istri (ibu mertua) dan seterusnya ke atas.

Para wanita yang telah disebutkan ini haram dinikahi dengan semata-mata adanya akad nikah.

Ada yang selainnya, tetapi keharamannya tidak semata dengan akad nikah, namun dipersyaratkan telah terjadi ‘dukhul’ (mempelai pria mencampuri wanita yang telah resmi menjadi istrinya), yaitu anak-anak perempuan istri. Jika si lelaki telah ‘dukhul’ dengan si ibu, putri-putri si ibu dari pernikahan dengan selain si lelaki, haram dinikahi oleh si lelaki. Namun, jika belum sempat ‘dukhul’ lantas pernikahan berakhir, dibolehkan bagi si lelaki menikahi putri mantan istrinya.

Semua wanita yang telah disebutkan di atas, baik karena hubungan nasab, karena penyusuan, ataupun karena mushaharah, haram dinikahi selama-lamanya atau diistilahkan tahrim muabbad.[4]

Ada pula wanita-wanita yang haram dinikahi namun pengharamannya tidak selamanya, diistilahkan tahrim ila amad (haram sampai waktu tertentu), seperti saudari perempuan istri (ipar perempuan) dan bibinya istri (dari pihak ayah maupun dari pihak ibunya).

Selama seorang lelaki masih bersama istrinya dalam ikatan pernikahan, haram bagi si lelaki menikah lagi (berpoligami) dengan ipar perempuannya atau bibi istrinya, karena dikhawatirkan akan merusak hubungan si istri dengan saudari/kerabatnya dan dikhawatirkan si suami tidak dapat menunaikan kewajibannya dengan semestinya.

Adapun apabila telah bercerai, baik cerai hidup maupun cerai mati, halal baginya menikahi bekas iparnya atau bibi mantan istrinya.

Diharamkan pula menikahi wanita yang masih berstatus istri orang, istri orang yang sedang menjalani iddah karena kematian suaminya[5], atau karena talak raj’i (talak satu dan dua)[6]. Pengharaman ini disebabkan masih tersisanya hak suami pertama terhadap wanita tersebut.

Satu lagi wanita yang haram dinikahi, yaitu wanita muhrimah. Yang dimaksud muhrimah adalah wanita yang sedang berihram haji atau umrah. Dia haram dinikahi sampai tahallul dari ihramnya[7].

Termasuk yang haram dinikahi adalah wanita kafir selain ahlul kitab. Adapun wanita muslimah haram dinikahi oleh lelaki kafir secara mutlak, ahlul kitab atau selainnya[8].

 

  1. Terjalinnya akad nikah menyebabkan ada wanita-wanita dari kerabat istri yang haram dinikahi selama-lamanya (tahrim mu’abbad), seperti ibunya istri (mertua).

Hal ini tetap berlaku walaupun pernikahan itu berujung perceraian. Saat masa iddah telah habis, si istri akan menjadi ajnabiyah (bukan mahram lagi bagi mantan suaminya).

Adapun akad-akad yang lain, hukum pemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu, hanya terkait dengan orang yang melakukan akad, tidak terkena kepada selainnya.

 

  1. Untuk keluar dari pernikahan, ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuannya.

Apabila seorang suami berniat menceraikan istrinya, dianjurkan sebelumnya untuk bersabar, tidak terburu-buru menjatuhkan talak. Sebab, bisa jadi dengan tetap menahan istrinya dalam pernikahan, Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan untuknya kebaikan yang besar.

Apabila seorang suami memang harus menceraikan istrinya, tidak bisa lagi bersabar bersamanya, dia harus menceraikannya pada saat si istri bisa menghadapi masa iddahnya dengan semestinya. Maksudnya, saat ditalak, si istri langsung bisa menghitung awal masa iddahnya dengan yakin.

Dengan demikian, suami tidak dibolehkan menceraikan istrinya di masa haid atau masa suci namun sudah digauli sampai dipastikan si istri hamil, karena dengan kehamilan tersebut diperoleh kepastian bahwa masa iddah akan berakhir dengan melahirkan.

Istri yang dalam masa suci belum digauli, apabila dijatuhkan talak padanya, dia bisa langsung menghadapi masa iddahnya dengan tiga kali quru’. Istri yang masih kecil yang belum mengalami haid dan istri yang sudah berhenti haid (menopause) bisa dijatuhkan talak padanya kapan saja. Sebab, keduanya bisa langsung menghadapi iddah tanpa terkait dengan haid. Hitungan iddah mereka adalah tiga bulan.[9]

Seorang suami hanya diberi kesempatan tiga kali menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak satu demi satu, apabila memang dibutuhkan[10]. Langsung menjatuhkan talak tiga sekaligus tidak diperbolehkan.

Dibolehkan pula khulu’ dalam pernikahan apabila memang dibutuhkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَا فِيمَا ٱفۡتَدَتۡ بِهِۦۗ

“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

Dalam khulu’ ini, istri menyerahkan tebusan dirinya kepada si suami. Hal ini menunjukkan bahwa khulu’ termasuk perpisahan selamanya (seperti halnya talak bain, tidak ada rujuk lagi setelah itu)[11]. Khulu’ pun tidak terhitung dalam tiga kali talak. Artinya, talak berbeda dengan khulu’.

 

  1. Dalam hubungan yang terjalin karena pernikahan, apabila seorang suami menceraikan istrinya, selama masa iddah si istri tetap terkait dengan suaminya.

Ini tentu berbeda dengan hubungan karena selain pernikahan. Segala sesuatu apabila dipindahkan pemilikannya oleh seseorang dengan cara dijual, dihibahkan, atau lainnya, terputuslah keterkaitan si pemilik pertama yang telah memindahkan haknya tersebut. Pemilik kedua menjadi pihak yang menggantikan posisinya dalam hal kepemilikan dan kewenangan berbuat terhadap sesuatu tersebut.

Apabila suami menjatuhkan talak raj’i kepada istrinya (sebelum talak tiga), selama masa iddah, si suami berhak merujuk istrinya tanpa memperbarui akad. Ikatan pernikahan pun kembali sebagaimana sedia kala. Selama masa iddah pula, istri tetap berhak mendapat nafkah, pakaian, dan tempat tinggal.

Apabila dalam masa iddah tersebut salah satunya meninggal dunia, yang hidup menjadi salah satu dari ahli warisnya.

Selama iddah tidak halal bagi lelaki lain meminang si istri, dengan sindiran apalagi secara terang-terangan.

Apabila talak yang dijatuhkan adalah talak bain, iddah yang dijalani istri adalah untuk pemenuhan hak suami yang menalaknya dan memastikan bersihnya rahim (istibra’ rahim) dari kemungkinan mengandung anak dari suami yang menalaknya.

Semua ini dilakukan untuk kehati-hatian dalam rangka menjaga hak anak dan hak suami berikutnya bila dia menikah lagi.

Selama iddah dari talak bain ini, tidak halal lelaki lain menikahinya atau meminangnya secara terang-terangan. Adapun meminang dengan kalimat sindiran[12] tidaklah terlarang.

 

  1. Dalam akad nikah tidak ada yang namanya khiyar majlis, khiyar ghabn, khiyar syarth[13] dan selainnya sebagaimana yang ditetapkan dalam akad jual beli.

Yang ada hanya khiyar ‘aib, yaitu jika salah seorang dari sepasang insan yang melangsungkan pernikahan nantinya mendapati cacat, aib, atau kekurangan pada pasangannya yang membuat ‘lari’ (tidak nyaman berdekatan dengannya) dia boleh memilih untuk melanjutkan pernikahan tersebut atau membatalkannya.

 

  1. Akad-akad yang lain harus ditentukan masa berlakunya, yakni sampai kapan dilangsungkan.

Adapun akad nikah, tidak halal ditetapkan batas waktunya. Apabila sampai terjadi penetapan waktu nikah, itu teranggap nikah mut’ah yang telah diharamkan dalam sunnah yang sahihah.

Pernikahan seharusnya diniatkan bertahan seumur hidup sampai maut memisahkan keduanya, terkecuali apabila tidak ada lagi kecocokan di antara keduanya.

 

  1. Dalam akad-akad yang lain dibolehkan bermuamalah dengan orang-orang kafir.

Dalam pernikahan, tidak boleh seorang lelaki kafir menikahi seorang wanita muslimah selama-lamanya. Demikian pula lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita kafir terkecuali wanita ahlul kitab, Yahudi dan Nasrani.

Hikmahnya dinyatakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

أُوْلَٰٓئِكَ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلنَّارِۖ وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ وَٱلۡمَغۡفِرَةِ بِإِذۡنِهِۦۖ

“Mereka mengajak ke neraka sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.”(al-Baqarah: 221)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Diringkas oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam, karya al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di, hlm. 172—184, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal ‘Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, kitab yang berisi kumpulan fatwa sejumlah ulama terkemuka, hlm. 821—829. Catatan kaki dari yang meringkas)

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

[1] Dalam hadits Sahl ibn Sa’d as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, disebutkan ada seorang sahabat yang tidak memiliki harta walaupun hanya sebuah cincin dari besi untuk dijadikannya sebagai mahar pernikahannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Apa yang engkau hafal dari surah al-Qur’an?”

“Surah ini dan surah itu,” jawabnya menyebutkan beberapa surah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Kamu betul bisa membaca semua surah itu dari hafalanmu?”

Sahabat itu menjawab, “Ya.”

Rasulullah pun menikahkan sahabat tersebut dengan wanita yang ingin diperistrinya dengan mahar berupa pengajaran surah-surah al-Qur’an yang dihafalnya.

[2] Mahar berupa kemerdekaan dari perbudakan diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menikahi Shafiyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha. Kisahnya dibawakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dalam hadits yang muttafaq ‘alaihi.

[3] Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surah an-Nisa ayat 23—24 tentang wanita-wanita yang haram dinikahi sebagaimana dirinci di no. 11.

[4] Keharaman menikahi seorang wanita terbagi dua:

– haram dinikahi selamanya (tahrim mu’abbad)

– haram dinikahi dalam batas waktu tertentu (tahrim ila amdin).

[5] Iddahnya selama 4 bulan 10 hari, bila dia tidak sedang hamil sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 234.

Adapun bila dia mengandung, iddahnya berakhir dengan melahirkan kandungannya, dengan dalil firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah ath-Thalaq ayat 4.

[6] Iddahnya selama tiga quru’ sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam surah al-Baqarah ayat 228.

[7] Sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ يَنْكِحُ الُحْمْرِمُ وَلاَ يُنْكِحُ

“Orang yang muhrim tidak boleh menikah dan tidak boleh menikahkan.” (HR. Muslim)

[8] Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang hal ini dalam surah al-Baqarah ayat 221.

[9] Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah surah ath-Thalaq ayat 4.

[10] Misalnya ditalak satu kemudian rujuk. Suatu ketika ditalak lagi sehingga sudah terhitung dua kali talak (talak dua), lalu rujuk. Tersisa satu talak lagi yang merupakan talak terakhir (talak tiga). Apabila sampai suami menjatuhkan talak lagi untuk ketiga kalinya, mantan istri tidak bisa dirujuk lagi selama-lamanya, sampai mantan istri dinikahi lelaki lain dengan dasar suka sama suka (bukan nikah muhallal, melainkan nikah yang syar’i), lalu karena ketidakcocokan pernikahan tersebut kandas. Di saat selesai iddah dari pernikahan yang kedua, barulah mantan istri bisa dinikahi oleh mantan suami pertamanya tersebut.

[11] Apabila suatu saat suami istri yang berpisah karena khulu’ tersebut ingin bersatu kembali, tidak ada jalan bagi keduanya selain memperbarui nikah. Sebab, tidak ada kata rujuk untuk khulu’.

[12] Seperti berkata, “Wanita seperti kamu tidak sepantasnya ditolak untuk menjadi istri.”

[13] Macam-macam khiyar dalam akad.

Wanita Menikah Tanpa Izin Wali

Seorang pemuda yang taat beragama sekaligus memiliki sifat-sifat yang terpuji melamar saya. Akan tetapi, ayah saya menolak lamarannya dengan alasan tidak sekufu dengan saya dari sisi kedudukan dan nasab. Ayah menginginkan saya menikah dengan seorang pemuda dari keluarga ningrat yang kaya dan punya martabat/kedudukan.

Sementara itu, saya telah ridha dengan pemuda yang melamar saya dan tidak menginginkan yang selainnya. Apakah dibolehkan bagi saya menikah dengannya tanpa sepersetujuan wali saya? Saya pernah membaca dalam Fiqh as-Sunnah, bahwa Abu Hanifah membolehkan pernikahan yang demikian.

Sungguh Allah ‘azza wa jalla menyerahkan urusan seorang hamba kepada dirinya sendiri, termasuk di antaranya urusan pernikahan. Apabila ayah saya menghalangi saya untuk menikah dengan lelaki yang sesuai bagi saya, seorang lelaki yang begitu bersungguh-sungguh ingin menjaga kemuliaan saya, menjaga kehormatan saya, dan dia sendiri seorang yang berpegang teguh dengan agama, namun ayah saya justru ingin saya menikah dengan lelaki yang tidak memiliki sifat-sifat yang saya sebutkan; bukankah berarti saya berhak untuk tidak meminta izinnya dalam urusan pernikahan saya dengan seorang yang salih tersebut?

Saya urusi sendiri pernikahan saya di hadapan qadhi (hakim) atau saya meminta izin kepada salah seorang kerabat saya yang lain yang mau menerima pandangan saya dan menjadi wali dalam urusan pernikahan saya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berfatwa sebagai berikut.

Seorang wanita tidak boleh menikahkan dirinya sendiri. Siapa pun yang melakukannya, pernikahan tersebut batil, menurut mayoritas ulama, baik yang terdahulu maupun yang belakangannya. Sebab, dalam urusan pernikahan, Allah ‘azza wa jalla menujukan pembicaraan kepada para wali yang mengurusi para wanita (bukan wanita yang diajak bicara).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَأَنكِحُواْ ٱلۡأَيَٰمَىٰ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri (belum punya pasangan) di antara kalian dan orang-orang salih dari kalangan budak-budak kalian.” (an-Nur: 32)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذَا أَتَاكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ ديْنَهُ وَحُلُقَهُ فَزَوِّجُوْهُ

“Apabila datang kepada kalian (untuk melamar wanita kalian) seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah dia (dengan wanita yang berada di bawah perwalian kalian).”[1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ نكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ

“Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”[2]

Adapun pendapat yang Anda baca dalam sebagian kitab fiqih bahwa wanita boleh menikahkan dirinya sendiri, itu adalah pendapat yang dhaif/lemah dan marjuh (tidak kuat, lawan dari rajih). Pendapat yang benar, yang tegak di atas dalil, adalah pendapat yang menyelisihinya, sehingga pendapat yang lemah tersebut tidak boleh diamalkan.

Penanya mengajukan pertanyaan terkait dengan adanya perselisihan pendapat antara dia dan ayahnya. Ayahnya menginginkannya bersuamikan seseorang yang punya martabat, dari keturunan yang sekufu dengan dirinya, sementara si wanita sendiri tidak memandang demikian. Dia hanyalah condong untuk menikah dengan seorang lelaki yang dipandangnya memiliki agama, walaupun tidak memiliki kedudukan dan tidak bernasab tinggi.

Dalam hal ini, kebenaran bersama ayahnya karena ayahnya lebih jauh pandangannya daripada dirinya. Terkadang dibayangkan oleh si wanita bahwa lelaki yang datang melamarnya tersebut sesuai untuknya padahal sebenarnya tidak sesuai.[3] Oleh karena itu, tidak sepantasnya dia menentang ayahnya selama si ayah menginginkan kemaslahatan putrinya.

Namun, jika ternyata dipastikan lelaki yang datang melamar si wanita itu memang sesuai, pantas dan cocok dengannya, sekufu dalam hal kedudukan, martabat, dan agamanya, sementara si ayah enggan menikahkan putrinya dengan lelaki yang demikian, si ayah menjadi ‘adhil.[4] Jika demikian, perwalian dalam pernikahan berpindah kepada wali yang berikutnya setelah sang ayah.

Akan tetapi, urusan ini harus dengan pertimbangan qadhi/hakim yang nantinya memindahkan perwalian dari ayah yang berbuat ‘adhal kepada wali yang setelahnya dari kalangan para lelaki yang berhak menjadi wali si wanita.

Dalam hal ini, si wanita tidak boleh mengurusi sendiri urusan seperti ini. Tidak boleh pula salah seorang wali mengurusinya tanpa ada keridhaan dari ayahnya. Jadi, dalam urusan ini harus kembali kepada qadhi yang syar’i. Hakim yang akan melihat permasalahan dan menilai fakta yang ada. Apabila dia memandang bolehnya perpindahan wali kepada yang lain, dipindahkan sesuai kemaslahatan. Oleh karena itu, dalam hal pernikahan ini harus dipastikan perkaranya.

Para wanita tidak boleh mengurus sendiri urusan pernikahannya. Urusan ini harus ditangani dengan semestinya oleh walinya yang berhak. Sebab, wanita itu pandangannya terbatas/dangkal, tidak jauh ke depan. Para wali dari kalangan lelaki yang mengurus wanita tentu harus memiliki semangat untuk memberikan penjagaan kepada wanita yang di bawah perwaliannya dan punya kecemburuan terhadap mereka. Semua ini tentu tidak dimiliki oleh para wanita. Oleh karena itu, sepantasnya hal ini menjadi perhatian.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 2/536—537)


[1] HR at-Tirmidzi (no. 1085), Ibnu Majah (no. 1968), dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami no. 270.

[2] HR ad-Daraquthni dalam as-Sunan (3/226), Ibnu Hibban (no. 1247) dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ (no. 7557).

[3] Sebab, wanita lebih sering menilai dengan perasaannya, tanpa pertimbangan yang matang dan jauh ke depan sebagaimana halnya kaum lelaki.

[4] Lafadz ‘adhal, yang pelakunya disebut ‘adhil, terambil dari ayat,

فَلَا تَعۡضُلُوهُنَّ أَن يَنكِحۡنَ أَزۡوَٰجَهُنَّ

“… maka janganlah kalian (para wali) berbuat ‘adhal/mencegah atau menghalangi mereka (wanita yang di bawah perwalian kalian) untuk menikah kembali dengan (mantan) suami-suami mereka.” (al-Baqarah: 232)

Makna ‘adhal sama dengan mana’a, yaitu menahan, mencegah, atau menghalangi.

Apabila seorang ayah mencegah, melarang, atau tidak menerima pinangan seorang lelaki terhadap putrinya dan enggan menikahkannya, padahal si lelaki sekufu dengan putrinya dalam hal agama, akhlak, atau harta, dalam keadaan putrinya sendiri ridha/suka dengan si lelaki, perwalian ayah bisa dipindahkan kepada wali berikutnya. Misalnya, saudara laki-laki si wanita, paman (dari pihak ayah/saudara lelaki ayah), atau keponakan lelaki dari saudara lelakinya. Sebab, tidak ada hak bagi si ayah untuk menolak pinangan lelaki baik-baik tersebut. Sebagai wali, seharusnya dia melakukan apa yang paling bermaslahat atau yang terbaik untuk putrinya. Apabila si ayah tidak mau melakukannya, hak perwaliannya berpindah kepada selainnya. Demikian keterangan dalam asy-Syarhu al-Mumti’ (12/86).

Ternyata Istri Sudah Tidak Perawan

Seorang lelaki menikahi seorang gadis. Ketika berhubungan intim si lelaki mendapati istrinya tersebut tidak perawan lagi. Apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Kehilangan keperawanan bisa karena beberapa sebab selain zina. Yang wajib bagi si lelaki untuk berbaik sangka apabila secara zahir si istri adalah perempuan baik-baik dan istiqamah. Sekali lagi wajib husnuzhan dalam hal ini.

Memang dahulu si perempuan telah melakukan perbuatan zina kemudian dia bertobat dan menyesal. Keperawanan juga bisa hilang karena mengalami haid yang deras. Hal ini disebutkan oleh ulama. Bisa pula keperawanan hilang karena melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, atau si perempuan jatuh dari tempat yang tinggi. Tidak mesti keperawanan hilang karena perbuatan zina.

Jika si perempuan mengaku keperawanannya hilang karena selain perbuatan zina, tidak ada permasalahan bagi si lelaki. Bisa jadi, dia mengaku hilang karena zina, tetapi dia diperkosa ketika itu, hal ini juga tidak bermudarat, apabila telah berlalu pada si perempuan satu kali haid setelah kejadian tersebut.[1]

Bisa jadi pula dia melakukannya dahulu saat dia masih lugu dan bodoh, namun sekarang dia telah bertobat dan menyesali perbuatannya. Hal ini pun tidak memudaratkan si lelaki (suaminya). Tidak sepantasnya si lelaki menyebarkan hal tersebut, justru seharusnya ditutupi/dirahasiakan. Apabila besar prasangkanya bahwa si perempuan itu jujur dan istiqamah, hendaklah tetap dia pertahankan sebagai istri. Jika tidak, dia bisa menceraikannya dengan baik-baik dengan menutupi keadaannya dan tidak membongkar rahasianya yang akan menjadi sebab fitnah dan kejelekan.

(Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibni Baz, pertanyaan no. 152, 20/286—287)


[1] Istibra’ rahim: tidak ada janin yang tumbuh dalam rahimnya dengan dia mengalami satu kali haid.

Engkau Istimewa Karena Takwa

        Pernikahan insan selalu saja menjadi saat yang berharga dan spesial dalam hidupnya. Siapa gerangan yang tidak berbahagia menghadapinya, kecuali mungkin mereka yang “kawin paksa”, dan kejadian yang seperti itu sedikit.

Sebelum ke jenjang pernikahan, orang biasa pilah pilih, siapa yang bakal menjadi teman hidupnya. Si lelaki memilih, si perempuan pun memilih. Karena perempuan berhak memilih, dia boleh menolak pinangan lelaki yang datang apabila memang dia tak suka.

Perempuan biasa dipilih karena empat hal, sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ، لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Perempuan dinikahi karena empat hal; karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya, dan karena agamanya. Utamakanlah oleh kalian perempuan yang baik agamanya, taribat yadak.” (HR. Muslim no. 3620)

Perhatikan hadits di atas! Memang, ketaatan beragama selalu saja menjadi prioritas terdepan dalam urusan pernikahan. Siapa pun dia dan dari mana pun dia. Jadi, apabila seorang perempuan cantik jelita, kaya raya, memiliki kedudukan dan martabat tinggi di tengah-tengah manusia, dari keturunan bangsawan pula, namun agamanya ‘hampa’, dia bukan perempuan salihah. Adakah kebaikan yang diharapkan darinya, padahal kebaikan yang hakiki adalah kebaikan agama?

Apabila perempuan dituntut kesalihannya, demikian pula lelaki. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada para wali perempuan yang didatangi oleh lelaki saleh yang ingin melamar putri atau saudari mereka,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجُوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. at-Tirmidzi, hadits hasan sahih, lihat Shahih at-Tirmidzi no. 1084, al-Irwa no. 1868, ash-Shahihah no. 1022)

Dalam Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan makna hadits di atas sebagai berikut. Jika seseorang yang kalian anggap baik agama dan pergaulannya meminta kalian untuk menikahkannya dengan seorang perempuan dari kalangan anak-anak atau karib kerabat kalian, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Apabila tidak kalian lakukan, padahal agama dan perangai si lelaki bagus, karena kalian hanya menginginkan seseorang yang terpandang nasabnya, bagus fisiknya (tampan rupawan), atau hartanya, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) dan kerusakan yang besar.

Sebab, kalau kalian tidak mau menikahkan perempuan kalian kecuali dengan lelaki yang berharta atau berkedudukan, bisa jadi banyak perempuan kalian yang hidup tanpa memiliki suami. Akan banyak pula lelaki kalian yang tidak memiliki istri. Akhirnya. merebaklah bencana dengan terjadinya perbuatan zina. Bisa jadi, para wali perempuan mendapatkan cela hingga bergejolaklah bencana demi bencana dan kerusakan, dan berdampak terputusnya nasab, sedikitnya kesalihan dan sedikitnya iffah ( kehormatan diri). (Kitab an-Nikah, bab “Ma Ja’a, Idza Ja’akum man Tardhauna Dinahu Fa Zawwijuhu”)

Demikianlah bimbingan agama yang mulia bagi para pendamba kemuliaan. Akan tetapi, banyak manusia berpaling darinya, sadar ataupun tidak. Tidak murni salah memang apabila seseorang memilih pasangan karena kebagusan fisiknya. Tidak pula disalahkan seseorang yang mengutamakan nasab tertentu atau memilih yang sesuku. Ingin yang bangsawan dan orang terpandang, ingin yang berharta… dst.

Semuanya keinginan yang manusiawi, boleh-boleh saja. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati dan memberikan arahan kepada Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha agar tidak menerima lamaran Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, karena Muawiyah seorang yang fakir, tidak berharta?[1]

Sebelum jauh mengurus proses pernikahan, bukankah disyariatkan nazhar (melihat calon pasangan) terlebih dahulu? Kira-kira apa fungsinya? Melihat fisik, bukan?

Yang dicela hanyalah apabila sisi agama diabaikan dan tidak dijadikan prioritas. Maka dari itu, janganlah manusia hanya dinilai dari kedudukan, keturunan, dan kekayaannya. Yang keturunan bangsawan enggan menikah dengan yang bukan bangsawan. Kabilah yang dianggap mulia hanya mau menikah dengan yang sederajat. Keturunan Arab berpikir seribu kali untuk menikah dengan orang ajam (non-Arab).

Apabila ada yang beralasan bahwa menikah haruslah dengan yang sekufu, perlu dipahami terlebih dahulu apa maksud sekufu tersebut. Makna sekufu, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, adalah sama dan semisal. Sekufu yang teranggap adalah sekufu dalam hal agama. (Subulus Salam, 6/57)

Jadi, si lelaki dan si perempuan seagama[2], dan keduanya adalah orang baik-baik. Sebab, Allah ‘azza wa jalla mengingatkan dalam Tanzil-Nya,

ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ وَٱلطَّيِّبَٰتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَٰتِ

“Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan lakilaki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji pula. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.” (an-Nur: 26)

Al-Imam Malik rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa kafa’ah (sekufu) yang teranggap hanyalah dalam masalah agama, bukan yang lain. (al-Mughni, Kitab an-Nikah, Mas’alah Wal Kuf’u Dzud Din wa al-Manshib)

Dinukilkan pula pendapat seperti ini dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu dan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Demikian pula Ibnu Sirin rahimahullah dan Umar bin Abdil Aziz rahimahullah dari kalangan tabi’in. (Fathul Bari, 9/165—166)[3]

Dalilnya, kata al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah, ialah ayat 13 dari surah al-Hujurat dan hadits,

النَّاسُ كُلُّهُمْ وَلَدُ آدَمَ

“Manusia semuanya adalah anak Adam.” (HR. Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat 1/25. Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dalam Sunannya dengan sedikit perbedaan lafadz no. 5116 dan at-Tirmidzi no. 3955; dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi) (Subulus Salam, 6/57)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengisyaratkan dukungan terhadap pendapat ini. Dalam Kitab an-Nikah dalam Shahih-nya, beliau membuat judul bab: al-Ikfa’ fid Din (bab “Sekufu Itu dalam Agama”). Kemudian beliau membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ مِنَ ٱلۡمَآءِ بَشَرٗا فَجَعَلَهُۥ نَسَبٗا وَصِهۡرٗاۗ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ٥٤

“Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan bermushaharah (hubungan yang terjalin karena pernikahan)….” (al-Furqan: 54)

Beliau bawakan pula beberapa hadits, di antaranya hadits Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha tentang Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah radhiallahu ‘anhu yang memiliki anak angkat bernama Salim, seorang maula (bekas budak), dan dinikahkannya dengan keponakannya, Hindun bintu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah. (Hadits no. 5088)

Dengan demikian, apabila engkau, wahai lelaki, ingin menikah dengan perempuan yang mulia, carilah perempuan yang bertakwa. Sebab, kemuliaan ada pada takwa, bukan yang lain. Setelah itu, baru engkau memperhitungkan paras si perempuan, nasabnya, dan seterusnya. Demikian pula dirimu, wahai perempuan, pilihlah seorang yang bertakwa sebagai suamimu, setelah itu baru engkau melihat sisi yang lain.

Jadi, tidak masalah engkau yang bangsawan menikah dengan yang bukan bangsawan, asal saling ridha. Tidak masalah engkau yang kaya menikah dengan yang miskin. Sebab, semua itu bukan standar kemuliaan. Kemuliaan, sekali lagi, hanya ada pada takwa.

Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Ulama Islam sepakat tentang bolehnya seorang lelaki menikahi perempuan yang bukan dari kabilahnya, apabila agama mereka sama. Ulama pun sepakat tentang bolehnya seorang muslim menikahi perempuan ahlul kitab yang menjaga kehormatan dirinya, walaupun si perempuan bukan dari kalangan bangsa Arab. Dalil tentang hal ini banyak didapatkan dari al-Quran, as-Sunnah, dan amalan salaf. Di antaranya,

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Dalam ayat yang mulia di atas, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan kepada para hamba-Nya, tidak ada kelebihan atau keistimewaan seseorang terhadap orang lain di sisi Allah ‘azza wa jalla selain dengan takwa. Maka dari itu, orang yang paling mulia di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah yang paling bertakwa di antara mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling mulia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yang paling bertakwa di antara manusia.”

Ayat dan hadits yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa kabilahkabilah yang ada di tengah-tengah masyarakat manusia adalah sekufu, sama, dan sederajat. Oleh karena itu, seorang lelaki dari kabilah Quraisy (Qurasyi) dan dari Bani Hasyim (Hasyimi) boleh menikah dengan seorang perempuan dari Bani Tamim dan Qahthan, atau selain keduanya. Demikian pula sebaliknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, yang merupakan seorang dari Bani Hasyim yang paling mulia, menikah dengan Zainab bintu Jahsyin dari Bani Asad bin Khuzaimah. Zainab bukanlah dari suku Quraisy. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikah dengan Ummu Habibah bintu Abi Sufyan, Hafshah bintu Umar, Juwairiyah bintu al-Harits, Saudah bintu Zam’ah, Ummu Salamah dan Aisyah, semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka, semuanya bukan dari kalangan Bani Hasyim. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi Shafiyah bintu Huyai, seorang keturunan Bani Israil.

Umar ibnu al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menikahi Ummu Kultsum bintu Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal Umar dari Bani ‘Adi sedangkan Ummu Kultsum dari Bani Hasyim.

Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu menikah dengan dua putri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam , secara berurutan yang satu setelah meninggal yang lain, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Utsman dari Bani Umayyah sementara dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jelas dari Bani Hasyim.

Kenyataan seperti ini banyak sekali (menikah dengan kabilah yang berbeda). Semua ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau g adalah orang-orang yang tidak lagi memedulikan urusan nasab ketika urusan agama telah lurus.

Termasuk bukti yang menunjukkan akan hal ini adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Usamah bintu Zaid radhiallahu ‘anhu dengan Fathimah bintu Qais, seorang perempuan dari suku Quraisy. Padahal, Usamah adalah seorang bekas budak dari Bani Kalb.

Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams radhiallahu ‘anhu menikahkan putri saudara lelakinya (keponakannya) dengan bekas budaknya yang bernama Salim, padahal keponakannya dari suku Quraisy, sedangkan Salim seorang mantan budak.

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan al-Asy’ats bin Qais. Abu Bakr dari Bani Tamim dari suku Quraisy, sedangkan al-Asy’ats dari Bani Kindah (al-Kindi).

Abdur rahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu menikahkan saudara perempuannya dengan Bilal bin Rabah, sang muazin, padahal saudarinya adalah Zuhriyah Quraisyiyah sedangkan Bilal seorang Habasyi (dari Afrika).

Semua ini menunjukkan kepada pencari ilmu tentang bolehnya pernikahan dengan selain kabilahnya jika memang urusan agama sudah lurus. Dalil dan kenyataan yang disebutkan di atas kiranya mencukupi, insya Allah.” (Fatwa ini disampaikan Samahatusy Syaikh tatkala beliau masih menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Islam Madinah. Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, hlm. 401—403)

Seseorang hanyalah istimewa dengan takwa. Maka dari itu,ketika memilih pasangan ataupun memilihkan pasangan untuk orang lain, utamakan takwa, setelahnya baru mempertimbangkan hal lain. Tidak boleh menganggap remeh urusan agama si calon. Periksalah, apakah dia seorang yang senantiasa menegakkan shalat dan menjalankan rukun-rukun Islam yang lain? Apakah dia seorang yang selalu berupaya meninggalkan kemaksiatan? Apakah dia seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, suka beramar ma’ruf nahi mungkar, dan berbagai kebaikan lainnya?

Seseorang yang mengesampingkan perkara agama dalam urusan ini menunjukkan bahwa dia seorang yang lemah agamanya, lemah keimanannya, dan sedikit takwanya.

Para wali yang mengurusi perempuan mereka, baik putri, saudara perempuan, maupun keponakan perempuan, hendaknya mengedepankan kesalihan seorang lelaki yang meminang perempuan mereka.

Apabila si perempuan ridha terhadap lelaki yang datang, tanpa ada cela pada agama dan akhlak si lelaki, wali wajib menikahkannya, walaupun si lelaki bukan dari kasta atau “kelas” yang sama dengan mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas,

إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِيْنَهُ وَخُلُقَهُ، فَزَوِّجوْهُ، إِلاَّ تَفْعَلُوْا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيْضٌ

“Jika melamar kepada kalian, seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, nikahkanlah perempuan kalian dengannya. Jika tidak kalian lakukan, niscaya akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Wali tidak boleh memaksa seorang perempuan untuk menikah dengan lelaki pilihan walinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ

“Anak gadis tidak boleh dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR. al- Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian, tidak ada kehinaan bagi seorang bangsawan menikah dengan bukan bangsawan. Tidak ada kerendahan bagi seorang Arab ketika menikah dengan non-Arab. Tidak ada cela satu suku menikah dengan suku yang berbeda. Manusia semuanya sama, anak keturunan Adam q. Yang membuatmu istimewa hanyalah karena takwa. Karena takwa pula engkau pantas diutamakan.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Ketika Fathimah bintu Qais radhiallahu ‘anha selesai dari iddahnya, datanglah Muawiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm melamarnya. Fathimah menyampaikan perihal lamaran tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam guna meminta bimbingan beliau. Beliau menasihatkan, “Adapun Abu Jahm, dia tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya. Sementara itu, Muawiyah seorang yang fakir, tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid….” (HR. Muslim)

[2] Walaupun ada kebolehan bagi lelaki untuk menikah dengan perempuan dari kalangan ahlul kitab.

[3] Adapun jumhur ulama memandang bahwa selain agama maka nasab juga termasuk dalam kafa’ah. (Fathul Bari, 9/166)

Menikah, Memperbanyak Umat Rasul

 

 Janur Kuning

Pernikahan dalam Islam sebagai satu sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia memiliki banyak tujuan yang bermanfaat bagi insan. Di antara tujuannya yang paling agung adalah mendapatkan keturunan.

Mengapa dikatakan paling agung? Karena anak-anak yang terlahir dari pernikahan yang syar’i akan melanggengkan keberadaan manusia di muka bumi, selama umur bumi masih ada. Selain itu, anak-anak tersebut akan memperbanyak umat manusia, terkhusus umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dorongan untuk hal tersebut dalam titahnya yang agung,

“Nikahilah perempuan yang wadud, yang walud karena aku membanggakan banyaknya kalian[1].” (HR. an-Nasa’i, al- Imam al-Albani rahimahullah menyatakan derajat hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zifaf hlm. 61)

Wadud adalah sangat mencintai suami[2]. Adapun walud adalah banyak melahirkan atau subur rahimnya[3]. Lalu apa hubungannya sifat wadud dengan walud? Karena rasa cinta adalah perantara menuju hubungan yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al- Imam as-Sindi, 6/66)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian karena kata Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, “Datang seorang lelaki menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Aku menyenangi seorang wanita yang punya nasab yang mulia dan punya kedudukan (di mata manusia), hanya saja dia mandul[4]. Apakah boleh saya menikahinya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si lelaki untuk menikahi wanita tersebut. Sampai-sampai dia datang meminta izin untuk ketiga kalinya, namun tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan justru mengucapkan titah di atas.”

Di kali lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mendorong para sahabatnya untuk “mencampuri” istri-istri mereka sepulang dari safar, dengan tujuan salah satunya adalah akan didapatkan anak dari hubungan tersebut. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian terburu-buru menemui keluarga kalian sampai kalian tiba di waktu malam, yakni isya (awal malam), agar para istri (yang mendengar kepulangan kalian) sempat merapikan/menyisiri rambutnya yang acak-acakan dan yang belum mencukur rambut kemaluannya sempat pula melakukannya[5]. Kemudian (setelah bertemu istri kalian) al-kais, al-kais.” (HR. al-Bukhari no. 5245 dan Muslim no. 3625)

Al-Kais yang dimaksud di sini adalah mencampuri istri, demikian kata al- Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan selainnya. (Fathul Bari, 9/424)

Maknanya adalah dorongan untuk mendapatkan keturunan (dari hubungan tersebut). (al-Minhaj, 10/296)

Apabila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki umat beliau menjadi umat yang terbanyak dibanding umat nabi-nabi selain beliau, tentu keinginan yang menyelisihinya berupa ‘pembatasan keturunan’ tidaklah pantas. Menetapkan jumlah anak harus sekian dan sekian adalah aturan yang menyimpang dari syariat.

Kalau alasan ekonomi yang dikemukakan, ‘zaman semakin sulit, susah memberi makan’, ‘takut tidak bisa memberi makan’, ‘sekarang lagi krisis moneter’, atau ‘sedang masa krisis ekonomi’, telah dijawab oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kalian membunuh anakanak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Allah ‘azza wa jalla yang memiliki nama ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Memberikan rezeki)-lah yang menanggung rezeki hamba-hamba-Nya, baik di langit maupun di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya.

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.” (Hud: 6)

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepada kalian.” (al-Ankabut: 60)

Bukankah sejak janin berusia empat bulan dalam kandungan ibunya telah ditetapkan rezekinya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu?

Karena itu, harus diyakini tanpa keraguan bahwa setiap anak lahir membawa rezekinya masing-masing. Orang tuanya tidak perlu mengkhawatirkan rezeki mereka. Berbeda halnya kalau pengaturan jarak untuk ‘punya anak lagi’ atau pembatasan ‘tidak bisa punya anak lagi’ karena alasan yang dibolehkan oleh syariat, sebagaimana akan dijelaskan.

 

Hukum Pemutusan Keturunan

Memutus keturunan sama sekali hukumnya haram sebagaimana pernyataan para ulama karena menentang apa yang diinginkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari umat beliau. Selain itu, perbuatan tersebut termasuk sebab kelemahan dan kehinaan kaum muslimin. Apabila kaum muslimin jumlahnya banyak, itu adalah kemuliaan dan ketinggian bagi mereka.

Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan anugerah-Nya kepada bani Israil ketika Dia ‘azza wa jalla memperbanyak jumlah mereka,

“Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar.” (al-Isra: 6)

Nabi Syu’aib q mengingatkan kaumnya tentang nikmat Allah ‘azza wa jalla atas mereka dengan banyaknya jumlah mereka,

“Ingatlah waktu dahulu kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian.” (al-A’raf: 86)

Kenyataan membuktikan hal ini. Umat yang banyak tidak akan tergantung dan membutuhkan yang selain mereka. Karena itu, mereka berwibawa di hadapan musuh-musuhnya.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan sesuatu yang mengarah pada memutus keturunan sama sekali, kecuali karena alasan darurat, mau tidak mau harus

dilakukan. Misalnya, jika seorang wanita berisiko kematian apabila sampai hamil, menurut keterangan dokter muslim yang tepercaya. Keadaan seperti ini adalah darurat, tidak apa-apa dilakukan terhadap si ibu. Inilah uzur yang membolehkan pemutusan keturunan (tidak punya anak lagi).

Demikian pula apabila rahim ibu mengalami gangguan/penyakit yang apabila hamil dikhawatirkan akan memudaratkan dirinya dan rahimnya terpaksa diangkat, yang seperti ini tidak apa-apa. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 2/836)

 

Hukum Pembatasan Keturunan

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang pembatasan jumlah anak. Beliau menegaskan, “Membatasi keturunan karena khawatir rezeki yang sempit tidaklah dibolehkan, karena rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla, Dialah yang menentukan ajal dan rezeki hambahamba- Nya. Tidak ada satu anak pun yang lahir melainkan telah ditentukan rezekinya sebagaimana telah ditentukan ajalnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Perbuatan membatasi keturunan serupa dengan perbuatan orang-orang jahiliah yang membunuh anak-anak mereka karena takut fakir. Hanya saja, perbuatan orang-orang belakangan dalam bentuk mencegah punya anak karena takut miskin, sedangkan orangorang jahiliah benar-benar membunuh anak mereka yang sudah lahir karena takut miskin.

Bagaimana pun keadaannya, alasannya sama dan tentu hal semisal ini tidak dibolehkan. Yakinlah rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla. Perbuatan membatasi keturunan karena takut miskin adalah sikap berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang wajib bagi kita, orang tua, adalah bertawakal kepada Allah ‘azza wa jalla. Percayalah bahwa Allah ‘azza wa jalla memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batasan. Karena itu, berbaik sangkalah kepada Rabbmu. Jangan sampai berbagai bisikan dan kekhawatiran yang tidak sepantasnya mengusikmu, sedangkan engkau tidak tahu mana yang baik dan bermaslahat bagimu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagi kalian. Allah-lah Yang Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Di kesempatan lain, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menginginkan anak dan keturunan adalah hal yang disyariatkan. Hal itu akan memperbanyak jumlah umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberikan anjuran agar seorang lelaki menikahi perempuan yang subur rahimnya. Kata beliau, ‘Aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain dengan banyaknya kalian pada hari kiamat’.”

Jadi, menginginkan anak adalah hal yang disyariatkan bagi kaum muslimin dan sepantasnya menjadi perhatian dan semangat (orang-orang didorong untuk memperbanyak keturunan).

Adapun membatasi keturunan, ini adalah pemikiran buruk yang disisipkan oleh musuh-musuh Islam yang ingin melemahkah kaum muslimin dan meminimalkan jumlah mereka.

Membatasi keturunan tidak dibolehkan oleh Islam karena bertentangan dengan tujuan syar’i, yaitu memperbanyak individu umat Islam dan memperbanyak orang-orang yang beramal di tengah masyarakat.

Membatasi keturunan berarti juga mengurangi kemampuan manusia yang telah Allah ‘azza wa jalla ciptakan mereka untuk memakmurkan alam ini. Dengan banyaknya keturunan anak manusia, akan tercapai kemaslahatan bagi individu, masyarakat, dan umat.

Pemikiran untuk membatasi keturunan yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin berhasil memengaruhi sebagian orang yang lalai atau lemah iman. Mereka terpengaruh dan mengikutinya (bahkan turut mempropagandakannya dan menjadi pendukungnya di garis depan). Padahal yang wajib atas mereka adalah menghapus pemikiran ini dari benak mereka (dan dari orang lain). Semestinya mereka justru bersemangat punya keturunan yang banyak. Rezeki anak-anak itu di tangan Allah ‘azza wa jalla.

Banyaknya keturunan akan mendatangkan kebaikan, karena Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan satu jiwa kecuali telah menciptakan rezekinya. Selain itu, Dia memudahkan kemaslahatan bagi jiwa tersebut. Adapun keluhan atau ancaman dengan krisis ekonomi dan (teori bahwa) banyaknya penduduk akan berdampak kurangnya pangan dan rezeki, adalah wahyu dari setan dan pengikutnya yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan takdir-Nya.

Orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)

Kebiasaan orang-orang musyrikin dahulu mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin maka Allah ‘azza wa jalla melarang dengan firman-Nya,

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Hal ini menunjukkan rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla dan setiap jiwa telah Dia ‘azza wa jalla tentukan rezekinya. Memperbanyak keturunan akan memperbanyak rezeki, meningkatkan produksi/hasil, dan memperbanyak orang-orang yang bekerja (untuk memakmurkan alam ini), atau orang-orang yang beramal. (al- Muntaqa, 4/172—173)

 

Hukum Pengaturan Jarak Kehamilan

Apabila pengaturan ‘punya anak’ atau menunda kehamilan karena faktor kesehatan istri, seperti tidak bisa menanggung kehamilan atau tidak boleh melahirkan karena sakit yang dideritanya, tidak apa-apa dia menggunakan ‘sesuatu’ yang bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (tidak selamanya) hingga hilang kondisi yang memberatkannya untuk menanggung kehamilan dan persalinan.

Perbuatan seperti ini termasuk penjagaan dan pengobatan, bukan pembatasan keturunan atau tidak ingin punya keturunan (lagi) karena takut miskin. (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 3/157)

Al-Imam al-Albani rahimahullah berfatwa tentang pengaturan keturunan bahwa hal tersebut termasuk problem yang menimpa kaum muslimin pada hari ini di negeri-negeri Islam. Apabila pengaturan tersebut dilakukan karena mengikuti saran dokter muslim yang pakar dalam bidangnya, yang benar-benar ingin memberikan nasihat yang baik, untuk menjaga kesehatan istri yang terganggu karena sering melahirkan, banyak anaknya, hal ini adalah uzur yang membolehkan.

Namun, apabila pendorong untuk melakukan pengaturan tersebut adalah karena takut miskin, perhitungan materi yang layaknya dilakukan oleh orang-orang kafir, tentu tidak dibolehkan. Sampai-sampai salah seorang yang melakukan pengaturan keturunan ini menyatakan, “Aku dan istriku sudah berdua. Aku cukup punya dua anak.”

Masing-masing melakukan perhitungan jumlah penghasilannya, berapa anggota keluarga yang bisa dihidupi dengan penghasilan sejumlah itu? Hal ini tidak dibolehkan oleh Islam karena faktor melakukan pengaturan keturunan muncul dari perbuatan orang jahiliah yang telah dinasihatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Lebih-lebih lagi kaum muslimin, seharusnya mengimani bahwa anak itu datang (lahir ke dunia) dalam keadaan rezekinya bersamanya, karena sebelum si anak lahir ke alam dunia, saat dia masih berada dalam perut ibunya telah dicatat rezekinya. Pembatasan anak karena alasan materi tidaklah diperkenankan selama-lamanya. (al-Hawi min Fatawa asy-Syaikh al-Albani, hlm. 332-333)

 

Obat Pencegah Kehamilan

Samahatul Walid al-Imam Ibnu Baz rahimahullah menyatakan, seorang wanita tidak boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan. Sebab, Allah ‘azza wa jalla justru mensyariatkan sebaliknya, yaitu berupaya mendapatkan keturunan dan memperbanyak umat Islam. Umat sangat membutuhkan jumlah yang banyak untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berjihad fi sabilillah, dan melindungi eksistensi muslimin, dengan izin dan taufik Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula apabila seseorang memiliki anak yang banyak, dengan jarak kelahiran yang dekat dan menyusahkan ibu apabila hamil lagi, tidak apa-apa si ibu memakai obat-obatan pencegah kehamilan dalam masa tertentu, seperti setahun atau dua tahun selama masa penyusuan. Dengan demikian, urusannya menjadi ringan dan dia bisa mendidik anak-anaknya dengan semestinya.

Adapun seorang wanita menggunakan obat-obatan pencegah kehamilan karena ingin berkonsentrasi pada profesi/pekerjaannya, mengejar karir, atau yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari ini, tidaklah dibolehkan. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 285-286)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Di hadapan para nabi pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Ibnu Hibban.

[2] Hal ini tercapai dengan menikahi wanita yang masih gadis/perawan. Karena sebelumnya si gadis tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya, sehingga cintanya kepada suaminya adalah cinta yang awal; atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya. Berbeda halnya apabila yang dinikahi adalah janda, bisa jadi cintanya sudah atau masih terpaut pada suami yang sebelumnya.

[3] Hal ini bisa diketahui dengan melihat ibu si wanita atau saudara perempuannya, atau karib kerabatnya yang perempuan, apakah mereka punya banyak anak atau tidak.

Untuk melihat apakah seorang wanita bersifat wadud—memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami—bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya, ibunya misalnya, bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[4] Bisa jadi, si lelaki mengetahui wanita tersebut mandul karena tidak mengalami haid, atau si wanita pernahmenikah dengan lelaki lain dan tidak punya keturunan. (Hasyiyah as-Sindi)

[5] Istri sempat berdandan menata dirinya dan menghilangkan apa yang tidak pantas terlihat oleh suami dalam rangka menyambut kedatangan sang suami, sehingga suami tidak kecewa ketika melihatnya.

Dikisahkan bahwa mereka hendak datang tiba-tiba di awal siang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka dan memerintahkan agar mereka menundanya hingga akhir siang. Dengan demikian, berita kedatangan mereka telah sampai kepada istri-istri mereka sehingga para istri telah bersiap untuk menyambut suaminya. (Tuhfatul Ahwadzi)

Dalam Fathul Bari (9/391) dijelaskan, perintah untuk masuk menemui keluarga di waktu malam ketika pulang bepergian yang ada pada hadits ini dan larangan masuk menemui keluarga di waktu malam pada hadits yang lain, bisa dikompromikan Perintah dalam hadits ini yang dimaksud adalah masuk pada awal malam, sedangkan larangan dalam hadits yang lain ialah masuk pada tengah malam.

Bisa juga dikompromikan bahwa perintah masuk menemui keluarga di malam hari ini bagi orang yang telah mengabari keluarganya tentang kepulangannya, sedangkan larangan dalam hadits lain berlaku bagi orang yang belum memberitahu keluarganya tentang kepulangannya.

Ritual Munkar Seputar Kehamilan dan Kelahiran

Selamatnya kandungan dan sehatnya bayi yang dilahirkan adalah dambaan setiap orang yang ingin memiliki keturunan. Untuk mewujudkan harapan tersebut, umumnya manusia menempuh beragam cara, dari upaya-upaya medis (bahkan) hingga mistis. Seorang muslim yang taat beragama tidak mau asal-asalan melakukan sebuah upaya karena sikap, keyakinan, dan perbuatannya akan selalu ia cocokkan dengan nilai-nilai agamanya yang luhur dan yang selaras dengan akal sehat.

 

Ritual Mungkar Seputar Kehamilan

Sesuatu dikatakan mungkar apabila dihukumi tidak baik, tidak boleh, atau dinyatakan keharamannya oleh syariat, meskipun menurut pandangan sebagian orang itu baik dan sah-sah saja.

Di setiap daerah atau suku biasanya ada ritual-ritual khusus terkait kehamilan yang sulit bagi kita untuk menyebutkan jumlahnya, karena saking banyaknya.

Bagi sebagian orang, ritual-ritual tersebut menjadi budaya leluhur yang harus dilestarikan. Orang yang tidak mau melakukannya akan dicibir di tengah-tengah keluarga dan masyarakat, bahkan bisa jadi akan mendapatkan teror. Bagi mereka, ritual-ritual warisan leluhur adalah menu wajib yang terkadang lebih wajib daripada shalat berjamaah, bahkan shalat lima waktu.

Yang amat disayangkan, masih ada sebagian kaum muslimin yang ikut-ikutan menghidupkan ritual-ritual tersebut. Padahal tidak sedikit dari ritual-ritual itu yang hanya mitos tanpa bukti nyata dan sebagiannya diadopsi dari budaya non-Islam.

Di antara bentuk ritual tersebut adalah adat mitoni (adat Jawa). Upacara mitoni ini dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan dengan tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandungnya senantiasa memperoleh keselamatan.

Upacara-upacara yang dilakukan dalam masa kehamilan yaitu siraman, memasukkan telur ayam kampung ke dalam kain calon ibu oleh sang suami, ganti busana, memasukkan kelapa gading muda, memutus lilitan benang/janur, memecah periuk dan gayung, dan seterusnya. Upacara ini tidak bisa dilangsungkan di sembarang hari dan tempat. Di antara maksud ritual ini adalah agar sang ibu kelak diberi kemudahan ketika melahirkan.

Ritual mitoni ini tidak hanya dilakukan oleh wanita yang baru pertama kali mengandung. Cara-caranya terkadang berbeda antara satu tempat dan tempat yang lain. Bagi seorang muslim, ritual tersebut dan semisalnya, sangat sulit diterima oleh akal yang sehat, lebih-lebih apabila dilihat dari kacamata agama.

Apabila ada yang mengatakan bahwa ritual tersebut hanya sebuah ikhtiar/ usaha, kita jawab bahwa suatu usaha akan dibenarkan apabila memang menjadi sebab tercapainya tujuan dan tidak bertentangan dengan agama.

Pernyataan bahwa upacara seperti ini adalah ikhtiar, berarti mengaitkan sesuatu dengan hal yang tidak menjadi sebab terjadinya. Selain itu, tindakan ini mengandung bentuk ketergantungan kepada selain Allah ‘azza wa jalla yang akan menodai akidah seorang.

Bisa jadi, ada yang mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah tradisi leluhur yang menunjukkan kepada kita bahwa negeri ini kaya akan budaya dan peradaban. Kita katakan, benar bahwa hukum asal adat kebiasaan manusia yang biasa mereka lakukan di tengah masyarakat adalah boleh (mubah) selama tidak berseberangan dengan kaidah-kaidah agama. Adapun dalam upacara ini, tidak demikian keadaannya.

Karena itu, mengapa kita tidak mengubah tradisi yang keliru, yang mengandung bentuk penyia-nyiaan waktu, harta, tenaga, dan justru mencederai akidah; dengan upaya-upaya yang sesuai dengan syariat, semisal memohon kemudahan dan kebaikan kepada Allah ‘azza wa jalla serta upaya-upaya lain yang dibenarkan secara medis dan nalar yang sehat.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah: 186)

Ada pula tradisi neloni atau ngupati (ngapati), yaitu tradisi membuat makanan tertentu untuk disedekahkan kepada para tetangga ketika kandungan menginjak usia tiga atau empat bulan dengan tujuan yang tidak jauh dari yang disebut di atas.

Amal sedekah memang salah satu sebab yang bisa menjaga seorang dari kejelekan dengan seizin Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, yang jadi masalah, mengapa jenis makanan yang disedekahkan harus ditentukan, misalnya nasi ketan yang dibungkus, buah pekarangan, jenis umbiumbian, labu/waluh, dan lainnya? Lagi pula, mengapa harus dilakukan pada usia kehamilan tertentu?

Ada pula yang ketika hamil membaca surat tertentu al-Qur’an, seperti surat Yusuf dan surat Maryam agar ketika lahir kelak menjadi anak saleh atau salihah, ganteng atau cantik, dan semisalnya.

Sebatas yang kami ketahui, hal ini tidak datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sehingga termasuk dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam agama kami yang tidak ada padanya, ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Seandainya orang yang hamil membaca al-Qur’an kemudian berdoa semisal, “Ya Allah, dengan bacaan al-Qur’an ini, mudahkanlah aku saat melahirkan, atau jadikanlah anakku anak yang saleh,” yang seperti ini adalah tawassul yang dibolehkan.

Di antara perkara mungkar yang acap dilakukan/diyakini oleh sebagian orang, orang hamil tidak boleh duduk di tengah pintu, tidak boleh makan dengan piring nasi diletakkan di atas telapak tangan, dan tidak boleh membunuh binatang. Demikian pula suaminya memiliki pantangan-pantangan tertentu. Apabila dicermati, semua itu hanyalah takhayul.

Ada pula yang sampai pada tingkat kesyirikan, seperti membuat rajah-rajah agar mudah melahirkan. Rajah-rajah ini semacam jimat yang nasib seseorang digantungkan kepadanya. Pada rajahrajah itu ada huruf/kalimat-kalimat serta angka-angka yang tidak dipahami.

Di antara hal lain yang termasuk kesyirikan ialah orang hamil mendatangi kuburan tertentu lalu meminta keselamatan dan kemudahan kepada orang yang dikubur di dalamnya.

Kemungkaran di Hari Kelahiran

Di antara kemungkaran di hari melahirkan adalah perawat/bidan lelaki menangani proses kelahiran padahal ada bidan perempuan.

Demikian pula keyakinan sebagian orang bahwa apabila bayi laki-laki terlahir saat bulan purnama, kuncup kemaluannya akan melebar hingga seperti sudah terkhitan. (Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah hlm. 139)

 

Ritual Setelah Kelahiran

Seperti yang sudah disebutkan bahwa setiap daerah atau suku memiliki budaya dan ritual yang berbeda-beda yang tidak mungkin sebagian besarnya ditampilkan di sini.

Di antara tradisi yang mungkar adalah upacara mendhem (mengubur) ari-ari atau plasenta. Dalam praktiknya, upacara adat ini terkadang berbeda-beda caranya. Ada yang dengan cara plasenta dicuci lalu dimasukkan ke dalam periuk/kendi yang terbuat dari tanah. Ada beberapa barang yang ikut dimasukkan ke dalam kendi sebagai persyaratan, semisal minyak wangi, jarum, beras merah, kunyit, garam, pensil, buku, bawang merah, dan lainlain. Setelah itu, plasenta dikuburkan di samping rumah dan diberi lampu.

Ada yang melabuh plasenta di sungai atau melarungnya (dihanyutkan) di laut. Mereka berharap supaya bayinya pintar, banyak rezeki, jalannya terang, apabila bepergian tahan lama, suka merantau, dan semisalnya.

Sebagian orang meyakini bahwa plasenta adalah saudara kembar bayi yang harus dirawat.

Ritual-ritual di atas tentu bukan dari Islam. Seandainya pun ari-ari harus di kubur, mengapa harus ada ritual-ritual seperti itu?! Lebih parah lagi ketika ritual tersebut diiringi zikir-zikir dan lantunan ayat suci, karena termasuk kebid’ahan.

 

Kaidah untuk Mengenal Bid’ah

Sesungguhnya, kebid’ahan yang telah ditegaskan oleh syariat tentang kesesatannya adalah:

  1. Semua ucapan, perbuatan, atau keyakinan yang menyelisihi sunnah walaupun sumbernya adalah ijtihad.
  2. Setiap perkara yang dijadikan bentuk pendekatan kepada Allah ‘azza wa jalla padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarangnya.
  3. Semua perkara yang tidak mungkin disyariatkan kecuali dengan adanya nash atau penjelasan dari syariat, padahal tidak ada, maka itu adalah bid’ah.

Berbeda halnya jika sebuah amalan ada sumbernya dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dilakukan oleh sahabat tersebut secara berulang-ulang tanpa ada pengingkaran.

  1. Segala adat-istiadat orang kafir yang dimasukkan ke dalam ritual ibadah.
  2. Penegasan sebagian ulama, lebih-lebih ulama belakangan, tentang sunnahnya (sesuatu) padahal tidak ada dalilnya.
  3. Semua bentuk ibadah yang tidak disebutkan tata caranya kecuali oleh hadits dhaif (lemah) atau maudhu’ (palsu).
  4. Berlebih-lebihan dalam ibadah.
  5. Semua ibadah yang tidak diberi batasan oleh syariat lantas manusia memberikan batasan-batasan (persyaratan-persyaratan) seperti tempat, waktu, bentuk, dan jumlah tertentu. (Ahkamul Janaiz hlm. 306)

Penutup

Sebagai penutup, kami akan menyebutkan hukum membatasi keturunan.

Sesungguhnya nash-nash (dalildalil) syariat dari al-Qur’an dan Sunnah, demikian pula ijma’ dan qiyas telah menetapkan bahwasanya tidak boleh secara mutlak membatasi keturunan dan tidak boleh mencegah kehamilan apabila alasannya takut fakir (miskin). Sebab, Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat Pemberi Rezeki lagi Mahakuat. Membatasi kehamilan bertentangan dari tujuan syariat (yaitu perintah) memperbanyak umat Islam.

Adapun melakukan upaya pencegahan kehamilan yang bersifat sementara dalam kondisi personal karena adanya mudarat yang nyata, seperti seorang wanita tidak bisa melahirkan secara normal dan perlu operasi cesar untuk mengeluarkan janinnya, atau wanita tesebut mudah hamil sementara kehamilan menjadikannya sangat letih (repot) sehingga ia ingin mengatur kehamilannya, umpamanya setiap dua tahun dan semisalnya; maka yang seperti ini dibolehkan, dengan syarat mendapat izin dari suami dan tidak berisiko bagi wanita tersebut.

Dalilnya, para sahabat dahulu melakukan ‘azl (mengeluarkan sperma di luar kemaluan istri) di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar istri-istri mereka tidak hamil, dan mereka tidak dilarang dari hal tersebut.

Bisa jadi, mencegah kehamilan menjadi sesuatu yang harus dilakukan, yakni ketika ada mudarat yang jelas (baginya). (Al-Fiqhu wa Ushuluhu lish Shaffi ats-Tsalits ats-Tsanawi hlm. 62. Lihat juga ketetapan Hai’ah Kibar ‘Ulama no. 42 pada tanggal 13/4/1396 H)

Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.ajian Utama

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Bimbingan Islam untuk Mendapat Keturunan yang Saleh

Di antara tujuan pernikahan adalah mengharapkan munculnya keturunan yang akan meneruskan kehidupan manusia di muka bumi ini sampai batas waktu yang Allah ‘azza wa jalla tentukan.

Demi tercapainya kemaslahatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat, Islam telah memberikan perhatian yang serius sejak seorang manusia terlahir di bumi ini hingga dewasa dan masa tuanya. Bahkan, sebelum bayi terlahir, Islam telah membimbing kedua orang tua untuk mempersiapkan generasi penerus yang baik dan jauh dari gangguan makhluk yang jahat semisal setan.

Di antara bimbingan yang mulia tersebut adalah:

  1. Memilih pasangan hidup yang baik dari sisi agamanya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya; hendaklah kamu pilih yang beragama (bagus agamanya) niscaya kamu akan bahagia.” (HR . al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kesalehan orang tua merupakan faktor utama lahirnya anak-anak yang baik, sebagaimana juga menjadi sebab dijaganya anak keturunannya oleh Allah ‘azza wa jalla.

  1. Mencari istri yang penyayang dan banyak anaknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak, karena saya berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan para umat.” (Sahih, HR . Abu Dawud, an-Nasai, al-Hakim, dan Ibnu Hibban)

  1. Berdoa saat berhubungan badan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Jika salah seorang kalian menggauli istrinya ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari yang Kau anugerahkan kepada kami.’ Lalu ia ditakdirkan memiliki anak dari hubungannya itu, anak itu tidak termudarati oleh setan selama-lamanya.” (HR . al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Ulama berbeda pendapat tentang maksud sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Anak itu tidak termudarati oleh setan.” Ada yang menafsirkan bahwa anak tersebut tidak akan dirasuki oleh setan. Ad-Dawud rahimahullah menerangkan, “Maksud dari ‘tidak termudarati oleh setan’ ialah setan tidak menyesatkannya dari agama menuju kekafiran. Bukanlah yang dimaksud di sini bahwa anak itu terjaga dari berbuat maksiat.” (‘Aunul Ma’bud 6/198).

Hadits di atas memberikan bimbingan kepada para ayah untuk melakukan faktor-faktor yang bisa menjaga dan melindungi anak dari godaan setan saat anak tersebut masih di rahim ibunya. Sebab, setan selalu menempel kepada manusia dan tidak lepas darinya kecuali ketika ia berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlindung kepada-Nya dari setan. Seperti inilah syariat Islam yang cemerlang. Ia telah meletakkan kaidah untuk menjaga janin sejak tercipta di rahim ibunya hingga lahir ke dunia dalam keadaan kuat dan sempurna fisiknya.

 

  1. Memohon kepada Allah ‘azza wa jalla untuk dikaruniai keturunan yang baik.

Al-Qur’an telah mengabadikan doa sebagian rasul Allah ‘azza wa jalla seperti doa Nabi Zakariya ‘alaihissalam,

Di sanalah Zakariya berdoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali Imran: 38)

 

Kesalehan anak akan membawa keberkahan bagi orang tuanya secara khusus serta bagi masyarakat dan umatnya secara umum. Orang tua akan tenteram hatinya dan sejuk matanya memandang anaknya yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla. Saat orang tuanya masih hidup, anak yang saleh akan menyuguhkan beragam kebaikan bagi orang tuanya sebagai bentuk balas budi atas kebaikan keduanya yang selama ini mereka curahkan. Saat orang tuanya meninggal di atas Islam, ia tidak kikir untuk mendoakan ampunan dan rahmat untuk keduanya. Jika orang tuanya masuk surga kelak, akan diangkat derajatnya lantaran kesalehan anaknya.

  1. Menghindari hal-hal yang bisa berefek buruk pada janin, semisal melihat ular jenis tertentu yang bisa menggugurkan kandungan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bunuhlah ular-ular itu, serta bunuhlah ular yang di atas punggungnya ada dua garis putih dan ular yang ekornya terputus. Sebab, kedua jenis ular ini bisa membutakan mata dan menggugurkan kandungan.” ( Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar c no. 3297)

An-Nadhr bin Syumail rahimahullah menerangkan tentang ular yang ekornyaterputus, yang dimaksud adalah ula berwarna biru yang jika orang hamil melihatnya, kandungannya akan gugur.

(Ahkam at-Thifl, Ahmad al-‘Isawi hlm. 57)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Syariat Poligami Kasih Sayang Allah Subhanahu wata’ala

 

مُكْرَهٌ أَخَاكَ لاَ بَطَلٌ

“Saudaramu ini terpaksa, bukan karena berani.”

Hanya Allah Subhanahu wata’ala sajalah tempat meminta tolong, dan Dia sajalah sandaran bertawakal. Kalimat di atas, terus terang ingin kami ucapkan ketika kami ditunjuk dan diberi amanat untuk menyusun materi kajian utama di majalah ini dengan tema poligami. Bukan karena apa-apa, melainkan masih banyak ustadz dan dai Ahlus Sunnah—yang memiliki ilmu dan amal yang melebihi penyusun—yang lebih pantas dan lebih utama menulisnya. Selain itu, kalau hanya berteori, semua orang bisa.

Tetapi, giliran pengamalan, inilah yang sulit. Penyusun sendiri khawatir terjatuh pada perkara menggurui dalam agama Allah Subhanahu wata’ala tanpa ilmu dan amal. Lebih-lebih, dalam masalah yang mungkin masih dianggap peka dan banyak yang menolaknya karena keawaman (kejahilan) atau hawa nafsu. Ditambah lagi, masih banyak praktik yang salah dari para pelakunya, jauh dari ilmu yang benar dan bimbingan para ulama rabbani.

Akibatnya, syariat poligami yang mulia ini dipandang buruk oleh manusia. Secara panjang lebar kita bisa memaparkan tentang poligami karena kitab-kitab ulama telah menerangkannya. Akan tetapi, yang menjadi masalah mungkin pengamalan kita sendiri atau pasangan kita, istri-istri kita. Sudahkah kita dan mereka benar-benar menerima, tunduk, dan mengamalkannya dengan benar dan sesuai dengan tuntunan? Wallahul musta’an.

Namun, amanat tetaplah amanat. Ia harus ditunaikan sesuai dengan kemampuan, terlepas dari pengamalan keseharian kami sebagai hamba yang lemah, banyak kelalaian dan kealpaan. Wallahul musta’an wa waffaqaniyallahu ilash shawab wal ‘amal bihi.

Apa yang kami paparkan di sini bukanlah hasil dan kesimpulan dari pikiran dan pengamalan kami pribadi, atau hasil pengalaman seorang praktisi/ pakar ahli yang sudah berpengalaman dalam masalah ini, nastaghfiruka ya Rabbi wa natubu ilaika. Kami semata-mata menukilkan dari Kitabullah dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta menyusun kembali dari ilmu para ulama yang merupakan pewaris ilmu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari sini, kami mengajak diri kami, keluarga kami, dan segenap kaum muslimin untuk becermin dari penjelasan ilmu yang syar’i, guna mengamalkannya dan memperbaiki amalan. Kita tengadahkan tangan, memohon taufik dari Allah Subhanahu wata’ala. La haula wa la quwwata illa billah.

Penyusun menyadari, apa yang tertuang dan terangkum di sini masih terlalu banyak kekurangannya, bisa jadi terlalu jauh dari apa yang diharapkan, dan belum memenuhi apa yang dibutuhkan para pembaca. Karena itu, kami meminta uzur dan maaf kepada semuanya. Hanya Allah Subhanahu wata’ala-lah yang memiliki kesempurnaan.

Poligami yang Ditentang

Serasa disambar petir di siang bolong, ketika seorang istri—yang tidak bisa menerima syariat poligami, seakan-akan tak sudi untuk diduakan—mendengar suaminya sudah punya istri lagi selainnya, atau bahkan baru sekadar berencana menikah lagi.

Poligami memang masih menjadi hal yang mengganjal bagi para istri dan kaum hawa secara umum, selain yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, tak heran apabila syariat ini mengundang protes dan kritikan di mana-mana. Padahal, syariat poligami bukan buatan kaum lelaki untuk menzalimi perempuan, melainkan Allah Subhanahu wata’ala—Dzat Yang Maha Mengetahui kemaslahatan para hamba—yang menetapkannya.

Bisa jadi, lubuk hati kita akan bertanya, “Sekejam itukah aturan syariat  yang diturunkan dari tujuh lapis langit ini oleh Allah Subhanahu wata’ala, sehingga mengundang protes dari para hamba-Nya?” Jelas, jawabannya, “Tidak.” Sebab, Allah Subhanahu wata’ala sendiri amat penyayang kepada para hamba-Nya dan tidak akan menzalimi mereka sedikit pun. Kebencian kepada poligami ini diperparah dengan propaganda dan slogan-slogan ‘merendahkan perempuan’, buku-buku, lagu-lagu, dan film-film yang menggambarkan kelamnya poligami, ditambah praktik yang salah dari pelakunya, dan sebagainya.

Kalau dirunut, sebenarnya ada otak yang bermain di balik semua kebencian ini. Ya, ini sebenarnya ulah orangorang kafir dan kaki tangannya yang memang ingin menjelekkan Islam dan tidak akan pernah meridhainya. Salah satu yang mereka anggap sebagai celah mencacati Islam adalah syariat poligaminya. Dikaranglah sekian igauan untuk memperburuk perkara yang halal ini. Yang menyedihkan, kaum muslimin juga mau mendengarkan igauan mereka tersebut, wallahul musta’an.

Bahkan, penyusun—afahullahu min kulli khatha’in wa zallatin/semoga Allah menjaganya dari kesalahan dan ketergelinciran—pernah melihat sebuah pelat kendaraan bermotor di negeri yang katanya mayoritas kaum muslimin ini, bertuliskan: antipoligami. Islam dianggap kelam dengan syariat poligaminya. Lantas bagaimana dengan orang-orang kafir di negeri Barat, yang laki-laki dan perempuannya hidup bebas, tidak peduli istri orang, perselingkuhan, perzinaan, kemudian dijiplak oleh sebagian artis atau selebritas yang mengaku muslim di negeri kita; tidakkah itu dianggap kelam, bahkan pekat dan sangat kotor? Mengapa orang mau memaklumi sesuatu yang haram, menerima, dan memaafkannya, sedangkan untuk sesuatu yang halal seolah-olah tidak ada maaf? Kenyataan yang terjadi, ketika seorang istri mengetahui suaminya selingkuh, punya kekasih gelap, ia masih bisa memaafkan suaminya, memaklumi, dan mau berbaikan kembali. Tetapi, tidak ada maaf ketika suaminya menikahi perempuan lain secara sah, ‘Pilih dia ceraikan aku, atau pilih aku ceraikan dia!’ Wallahul musta’an.

Kasih Sayang-Nya yang Mahaluas

Suara protes jelas banyak datang dari perempuan sebagai pihak yang merasa dirugikan dengan aturan ini. Cemburu, merasa dizalimi, direndahkan, diduakan, takut kehilangan cinta, dan sebagainya, menjadi alasan. Kalau bisa protes kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya, mereka akan protes (dan sudah mereka lakukan!). Padahal seperti yang telah dinyatakan sebelum ini, Allah Subhanahu wata’ala sebagai Pencipta, Pemberi segalanya, dan Pengatur alam semesta ini, tentu lebih tahu kebutuhan para hamba dan yang menyebabkan kebaikan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 “Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal sesuatu itu tidak baik bagi kalian. Allahlah yang mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Dari nama-Nya yang agung, Ar- Rahman dan Ar-Rahim, kita juga tahu bahwa Allah Subhanahu wata’ala amat penyayang kepada para hamba-Nya. Sama sekali Dia tidak pernah menzalimi mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

“Sesungguhnya Allah tidak pernah menzalimi walaupun sebesar zarrah2….” (an-Nisa: 40)

Bahkan, Dia adalah Dzat Yang Mahaadil, yang keadilan-Nya ada pada puncak kesempurnaan. Dengan demikian, ketika menetapkan syariat poligami, Dia Mahatahu bahwa hal itu memberikan kemaslahatan kepada para hamba. Bisa kita katakan, Dia menetapkan syariat poligami sebagai kasih sayang-Nya kepada para hamba- Nya, baik lelaki maupun perempuan.

Banyaknya Jumlah Perempuan

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang mulia, pernah menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَالْجَهْلُ وَيَكْثُرَ الزِّنَا وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ وَيَقِلَّالرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ حَتَّى يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَامْرَأَةٍ الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ.

“Termasuk tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, banyaknya kebodohan, banyaknya perzinaan, dan banyaknya diminum khamr (minuman memabukkan). Di samping itu, jumlah para lelaki sedikit sedangkan jumlah perempuan banyak, sampai-sampai untuk lima puluh orang perempuan hanya dipimpin oleh seorang lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 81 dan Muslim no. 2671)

Karena jumlah perempuan lebih banyak dibanding lelaki, tentu banyak perempuan yang tidak memperoleh pasangan yang akan memimpin hidupnya apabila seorang lelaki hanya boleh Sebesar debu atau sesuatu yang paling kecil yang bertebaran di udara. menikahi seorang perempuan. Seandainya tidak ada syariat poligami, niscaya akan banyak perempuan menjadi perawan tua. Tentu kasihan sekali hidup para perempuan yang tidak mendapat pasangan tersebut. Tidak terbayang kejelekan yang mungkin bisa menimpa mereka, karena harus diakui bahwa perempuan butuh hidup berdampingan dengan lelaki yang dicintai dan mencintainya, seperti halnya lelaki membutuhkan perempuan.

Maka dari itu, alangkah egoisnya para perempuan yang memprotes poligami! Di manakah kasih sayangnya kepada sesama, padahal Dzat yang memberinya kehidupan amat sayang kepada para hamba?

Seorang Istri Tidak Bisa Memenuhi Semua Keinginan Suami

Sebagai seorang istri, perempuan memiliki keterbatasan. Tidak semua “keinginan” suaminya bisa dia penuhi. Ada kalanya dia sakit, haid, nifas, repot mengurus anak, letih dengan pekerjaan rumah tangga, dan sebagainya. Ketika suami meminta khidmat/pelayanannya, istri salehah yang ingin menyenangkan suami tidak pantas menolaknya.

Lantas bagaimana kiranya jika ia memiliki penghalang atau uzur untuk menjalankan khidmat tersebut? Kalau itu berupa pekerjaan, bisa jadi istri masih bisa menyerahkannya kepada orang yang membantunya di rumah. Namun, apabila terkait “hubungan khusus”nya dengan suami, tentu tidak bisa diserahkan kepada siapa-siapa saat ia haid atau nifas, misalnya. Andai tidak ada syariat poligami, niscaya kebutuhan lelaki akan

tersia-siakan dan na’udzubillah, bisa jadi semakin banyak lelaki jatuh pada perzinaan.

Menutup Pintu Perzinaan

Apabila mau jujur, bisa dikatakan bahwa lelaki tidak merasa cukup dengan satu wanita. Namun, apabila ia hanya memiliki satu istri di rumahnya, ke mana gerangan ia palingkan kebutuhannya yang tidak terpenuhi dari seorang istri saja?

Apabila si lelaki tidak memiliki rasa takut kepada Allah l, ia akan salurkan hasrat yang kurang itu kepada yang tidak halal. Bisa jadi dengan memandang wanita yang bukan mahram, mencari kekasih gelap, selingkuh, zina, …. Na’udzubillah, kita mohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala!

Tiga alasan di atas, cukuplah mewakili pernyataan kita bahwa syariat poligami adalah tanda rahmat dan kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba. Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah, seorang ulama besar dan ahli ilmu tafsir di zamannya, menyatakan dalam tafsirnya, anggapan sebagian musuh-musuh Islam bahwa poligami akan selalu menimbulkan pertikaian dan kegaduhan yang mengantarkan kepada keruhnya kehidupan adalah salah besar. Menurut mereka, setiap kali suami membuat senang salah satu istrinya, niscaya akan membuat marah istri yang lain (madunya), sehingga suami selalu berada di antara dua kemarahan.

Ucapan ini amat jelas batilnya bagi setiap orang yang berakal. Sebab, pertikaian di antara individu dalam keluarga, mau tidak mau, memang selalu ada. Pertikaian bisa terjadi antara seseorang dan ibunya, ayahnya, anak-anaknya, bahkan dengan istri satu-satunya. Sebab, pertikaian dan perselisihan itu sebenarnya perkara biasa dalam kehidupan insan. Pertikaian yang dikhawatirkan akan muncul karena poligami tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kebaikan besar yang diperoleh dari poligami,

yaitu penjagaan terhadap perempuan, memudahkan seluruh perempuan untuk menikah/mendapat pasangan hidup, dan memperbanyak jumlah umat yang akan terlahir dari pernikahan tersebut,

sehingga memberi kekuatan besar untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Kebaikan yang besar ini tentu lebih dikedepankan daripada menolak mafsadat atau dampak negatif yang kecil. Kalaupun kita anggap kericuhan yang terjadi karena poligami sebagai mafsadat, atau dianggap menyakiti hati istri pertama dengan memberinya ‘madu’, niscaya sisi positif yang diperoleh dengan poligami lebih dikedepankan karena lebih kuat apabila dibanding dengan mafsadat yang mungkin terjadi. Kaidah dan prinsip seperti ini sudah dikenaldalam ilmu ushul.

Al-Qur’an membolehkan poligami demi kemaslahatan perempuan agar mereka tidak terhalang dari menikah dan untuk kemaslahatan lelaki agar tidak tersia-siakan kemanfaatan mereka saat istrinya yang satu sedang beruzur. Selain itu, tentu ada kemaslahatan bagi umat dengan bertambah banyaknya jumlah mereka sehingga mereka bisa menghadapi musuh-musuh agama.

Poligami adalah syariat dari Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, Maha Mengetahui lagi Memberitakan, sungguh tidak ada yang mencela aturan-Nya ini selain orang yang dibutakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan gelapnya kekafiran. Pembatasan jumlah istri dengan bilangan empat adalah ketentuan dari Dzat Yang Maha Memiliki hikmah, bersifat pertengahan antara jumlah yang sedikit yang menyebabkan tersia-siakannya kemanfaatan lelaki dan jumlah banyak yang menyebabkan seorang suami tidak mampu menunaikan semua kebutuhan dan keperluan kehidupan berumah tangga4. (Adhwa’ul Bayan, 3/416— 417, dengan sedikit perubahan) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari