Seputar Qunut Witir (2)

Berikut ini adalah lanjutan jawaban al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini seputar masalah qunut witir.

 Qunut Witir Pada Rakaat Terakhir

Qunut witir dilakukan pada rakaat terakhir dari shalat witir. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ( muttafaq ‘alaih) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah pada shalat zhuhur, isya, dan subuh pada rakaat terakhir. Sebab, qunut nazilah dan qunut witir adalah dua ibadah yang sejenis.

 

Waktu Qunut Witir

Ada perbedaan pendapat, apakah qunut witir dilakukan sebelum rukuk atau setelahnya?

  1. Sebelum rukuk, seusai membaca surah.

Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan Malik.

 

  1. Setelah rukuk, seusai membaca zikir i’tidal.

Ini adalah pendapat asy-Syafi’i dan Ahmad.

 

  1. Sebelum rukuk atau setelahnya.

Ini riwayat lain dari Ahmad. Ini yang dipilih oleh Ibnu Baz, al-Albani, dan Ibnu ‘Utsaimin.

 

Dalil pendapat pertama adalah hadits Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir sebelum rukuk. Telah diterangkan sebelumnya bahwa hadits ini diperselisihkan kebenarannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan al-Albani menghukuminya sahih. Di antara hadits yang dijadikan penguat oleh al-Albani adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. ‘Ashim al-Ahwal berkata,

        سَأَلْتُهُ عَنِ الْقُنُوتِ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَ الرُّكُوعِ؟ فَقَالَ: قَبْلَ الرُّكُوعِ. قُلْتُ: فَإِنَّ نَاسًا يَزْعُمُونَ أَنَّ رَسُولَ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ. فَقَالَ: إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا يَدْعُو عَلَى أُنَاسٍ قَتَلُوا أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ يُقَالُ لَهُمْ الْقُرَّاءُ

Aku bertanya tentang qunut, apakah sebelum rukuk atau sesudahnya. Anas menjawab, Sebelum rukuk.

Aku berkata, Sekelompok orang menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut setelah rukuk.

Anas menjawab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah melakukan qunut (setelah rukuk) selama sebulan penuh mendoakan kejelekan terhadap sekelompok orang yang membunuh beberapa sahabat beliau yang disebut para qurra.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Menurut al-Albani, sudah pasti yang dimaksud dengan ‘qunut sebelum rukuk’ oleh Anas radhiallahu ‘anhu adalah qunut witir, tidak mungkin qunut nazilah, sebagaimana hal itu tampak pada seluruh riwayat hadits ini—bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut nazilah setelah rukuk.[1]

Hal ini didukung pula oleh atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa ia melakukan qunut witir sebelum rukuk (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani).

 

Ibnu Abi Syaibah mengeluarkannya dalam Mushannaf-nya dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Albani, dengan lafadz,

        أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ كَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْوِتْرِ قَبْلَ الرُّكُوعِ

“Ibnu Masud dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu melakukan qunut witir sebelum rukuk.”[2]

 

Dalil pendapat kedua adalah penyamaan hukum terhadap qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dilakukan setelah rukuk menurut qiyas, sebagaimana pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas dan semisalnya.

Pada kitab Qiyamul Lail karya Muhammad bin Nashr al-Marwazi disebutkan bahwa al-Imam Ahmad ditanya tentang qunut pada shalat witir, apakah sebelum rukuk atau setelahnya? Apakah kedua tangan diangkat pada doa qunut witir?

Ahmad menjawab, “Qunut witir dilakukan setelah rukuk dan mengangkat kedua tangan, berdasarkan qiyas terhadap amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada qunut nazilah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di shalat subuh.”

Yang beliau maksud adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu dan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, keduanya muttafaq ‘alaih.

Al-Imam Ahmad rahimahullah beralih kepada qiyas dalam masalah ini sepertinya karena beliau memvonis dha’if hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu tentang qunut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum rukuk, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Dasar qiyas ini adalah mengingat bahwa keduanya amalan sejenis, samasama qunut dalam shalat sehingga keduanya sama dalam hal ini.

Qiyas ini didukung oleh amalan Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu qunut witir setelah rukuk pada separuh terakhir Ramadhan, sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan.

 

Dari keterangan di atas, tampaklah bahwa pendapat ketiga lebih tepat. Qunut witir sebelum rukuk atau setelah rukuk termasuk amalan yang beragam, terkadang yang ini dan terkadang yang itu.[3]

 

Qunut dengan Mengangkat Kedua Tangan

Terdapat perbedaan pendapat mengenai mengangkat kedua tangan ketika qunut witir. Yang benar, disunnahkan mengangkat kedua tangan.

Ini adalah mazhab Hanbali, sebagaimana dalam al-Mughni (2/584) dan al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap benar pada mazhab Syafi’i oleh mayoritas fuqaha mazhab Syafi’i, termasuk al-Baihaqi dan an-Nawawi, sebagaimana dalam kitab al-Majmu’ (3/479 & 487).

Pendapat ini telah difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (30/51) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18).

Pendapat ini berdalil dengan hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu tentang qunut nazilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan 70 qari’ (penghafal Qur’an) dari kalangan sahabat yang dibantai oleh kaum musyrikin.

Kata Anas,

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ كُلَّمَا صَلَّى الْغَدَاةَ رَفَعَ يَدَيْهِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ

“(Demi Allah), sungguh, aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali shalat subuh mengangkat kedua tangannya mendoakan kebinasaan atas mereka (para pembantai itu).” ( HR. Ahmad, ath-Thabarani, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ashlu Shifat ash-Shalah, 3/957958)

 

Telah sahih pula atsar dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu,

كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يخرج ضَبْعَيْهُ

“Adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu melakukan qunut bersama kami pada shalat subuh dan mengangkat kedua tangannya hingga mengeluarkan kedua lengan atasnya.” (Riwayat Ibni Abi Syaibah, al-Bukhari dalam kitab Raf’ul Yadain, Ibnu Nashr, dan al-Baihaqi; dinyatakan sahih oleh al-Bukhari, al-Baihaqi, dan al-Albani dalam kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/958—959)

 

Meskipun dalil-dalil ini pada qunut nazilah, tetapi keduanya adalah amalan yang sejenis sehingga disamakan secara metode qiyas.

Berdasarkan atsar-atsar tersebut, al-Imam Ahmad rahimahullah menyatakan bahwa kedua telapak tangan diangkat setinggi dada dengan bagian telapak menghadap ke atas, sebagaimana dalam al-Mughni dan al-Inshaf.

Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menambahkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/18) bahwa yang tampak dari keterangan ulama adalah kedua telapak tangan ditempelkan satu sama lainnya seperti halnya orang yang meminta sesuatu. Adapun memisah dan menjauhkan antara keduanya, Ibnu ‘Utsaimin menimpali bahwa hal itu tidak ada asal usulnya, baik dari as-Sunnah maupun dari keterangan ulama.

 

Teks Doa Qunut Witir

Adapun teks doanya adalah yang disebutkan pada hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma. Pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid ada tambahan lafadz doa di akhir yang dinilai tsabit (benar) oleh al-Albani dan ditetapkan olehnya pada kitab Qiyam Ramadhan, yaitu,

وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ

        “Tidak tempat berlindung dari-Mu kecuali hanya kepada-Mu.”[4]

 

Adapun menutup lafadz doa dengan shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, hal itu disebutkan pula pada tambahan riwayat an-Nasa’i dengan lafadz,

وَصَلَّى اللهُ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

“Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad.”

Riwayat ini dinilai sahih oleh an-Nawawi, tetapi dibantah oleh Ibnu Hajar dan al-Albani yang memvonisnya dha’if (lemah). Meski demikian, al-Albani menetapkan shalawat di akhir doa qunut pada kitab al-Irwa’ dan Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), berdasarkan amalan sahabat pada qunut witir di separuh terakhir Ramadhan pada masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu, sebagaimana pada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah yang telah disebutkan di atas.[5]

Al-Albani berpendapat dalam kitab Qiyam Ramadhan (hlm. 23) bahwa tidak mengapa menambah selain doa ini dengan mendoakan laknat atas orang-orang kafir dan mendoakan kaum muslimin pada qunut witir dalam rangkaian tarawih di separuh terakhir Ramadhan, berdasarkan amalan sahabat di masa ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Hal ini sebagaimana pada riwayat Ibnu Khuzaimah di atas.

Ibnu Baz berfatwa dalam Majmu’ al-Fatawa (11/355) bahwa yang lebih utama bagi imam tarawih apabila melakukan qunut witir agar memilih kalimat-kalimat singkat dan bermakna luas dan tidak memperpanjang doa yang akan memberatkan para makmum. Imam hendaknya membaca doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma dan menambahnya dengan doa-doa yang baik yang dimudahkan baginya, sebagaimana ‘Umar radhiallahu ‘anhu menambahnya.

Begitu pula fatwa Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/no. 775, 778, & 779).

Pada shalat witir berjamaah, seperti halnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan, dalam rangka mencontoh sahabat, imam men-jahrkan (memperdengarkan) bacaannya dan mengganti lafadz dhamir mufrad (tunggal) dengan lafadz dhamir jam’in (jamak), yaitu,

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ

“Ya Allah, berilah kami hidayah bersama orang-orang yang engkau beri hidayah, berilah kami keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang engkau beri keselamatan dunia akhirat, dekatkanlah kami kepadamu dan tolonglah kami bersama orang-orang yang engkau dekatkan dan engkau tolong, berkahilah kami pada apa-apa yang yang engkau berikan, jagalah kami dari kejelekan apa-apa yang engkau tetapkan/takdirkan.”[6]

 

Adapun makmum, cukup mengaminkan setiap penggalan doa yang dibaca oleh imam. Dengan itu, mereka juga terhitung telah berdoa dengan doa tersebut untuk diri mereka secara hukum. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma,

الظُّهْرِ قَنَتَ رَسُولُ اللهِ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ؛ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ، عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut sebulan berturut-turut pada shalat zhuhur, asar, maghrib, isya, dan shalat subuh, pada setiap akhir shalat setelah mengucapkan Sami’allahu liman hamidah’ pada rakaat terakhir. Beliau mendoakan kebinasaan bagi sekelompok orang dari Bani Sulaim, Ri’subhanahu wa ta’ala, Dzakwan, dan Ushayyah. Orang-orang yang di belakang beliau mengaminkannya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dinilai berderajat hasan oleh al-Albani dalam al-Irwa’, 2/163)

 

Ini pada qunut nazilah dan begitu juga hukumnya pada qunut witir, karena keduanya adalah amalan sejenis. Masalah ini seperti halnya mengaminkan bacaan al-Fatihah imam pada shalat jahriyah, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin dalam Majmu’ al-Fatawa war-Rasa’il (13/139).

 

Perhatikan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          قَالَ قَدۡ أُجِيبَت دَّعۡوَتُكُمَا فَٱسۡتَقِيمَا وَلَا تَتَّبِعَآنِّ سَبِيلَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ٨٩

“Sungguh, doa kalian berdua telah dikabulkan.” (Yunus: 89)

 

Yang berdoa hanya Nabi Musa ‘alaihissalam, sedangkan Nabi Harun ‘alaihissalam hanya mengaminkan.

 

Ini telah ditegaskan oleh Ahmad dan menjadi mazhab fuqaha Hanbali, sebagaimana dalam kitab al-Inshaf (2/172).

Ini pula yang dianggap paling benar pada mazhab Syafi’i sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481482, 511). Pendapat ini yang difatwakan oleh Ibnu Baz dalam Majmu’ al-Fatawa (9/397) dan Ibnu ‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/47).

 

Apabila makmum tidak mendengar doa qunut imam, terdapat dua pendapat.

  1. Makmum mengaminkan saja.
  2. Makmum membaca doa qunut sendiri.

Pendapat kedua difatwakan oleh al-Imam Ahmad, sebagaimana dalam kitab al-Mughni (2/584).

Pendapat ini yang paling benar pada mazhab Syafi’i, sebagaimana dalam al-Majmu’ (3/481 & 511).

Wallahu a’lam.

[1] al-Irwa’ (92/168)

[2] Lihat al-Irwa’ (2/166) dan Ashlu Shifat ash-Shalah hlm. 971.

[3] Lihat kitab al-Mughni (2/581-582), al-Inshaf (2/171), al-Majmu’ (3/520-521), al-Irwa’ (2/163-164), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970-971), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 27), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (11/357), asy-Syarh al-Mumti’ (4/20).

[4] Lafadz adalah tambahan pada riwayat Ibnu Mandah dalam kitab at-Tauhid dan Abu Bakr al-Ashbahani dalam kitab Fawaid-nya. Riwayat ini sempat divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani pada kitab Ashlu Shifat ash-Shalah (3/972 & 976). Namun, kemudian al-Albani condong menyatakan sahih riwayat ini dalam kitab al-Irwa’ (2/168-169) dan menetapkannya pada kitab Sifat ash-Shalah (hlm. 181), Talkhish Shifat ash-Shalah (hlm. 38), dan Qiyam Ramadhan (hlm. 23).

[5] Lihat selengkapnya Talkhish al-Habir (1/448), Ashlu Shifat ash-Shalah (3/976-978), dan al-Irwa’ (2/176-177).

[6] asy-Syarh al-Mumti’

Seputar Qunut Witir (1)

Ada beberapa pertanyaan yang masuk ke Redaksi seputar qunut witir. Di antaranya:

Saya mau bertanya, saat imam membaca qunut witir, apa yang dilakukan oleh makmum? Apakah mengamini di sela-sela doa qunut ada syariatnya? Saat itu bolehkah mengangkat kedua tangan menengadah?

IRT di Wonosari

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

 Kesimpulan masalah qunut witir kami rangkum sebagai berikut.

  1. Hukumnya sunnah, tidak hanya di separuh terakhir Ramadhan, tetapi disunnahkan dilakukan sepanjang tahun; tidak secara terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang qunut dan terkadang tidak. Ini menurut pendapat yang rajih.
  2. Dilakukan di rakaat terakhir, bisa sebelum rukuk (setelah membaca surat) atau setelah rukuk (seusai baca zikir i’tidal).
  3. Qunut dilakukan dengan mengangkat kedua tangan.
  4. Membaca doa qunut yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada al-Hasan radhiallahu ‘anhu dan bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Pada shalat jamaah, imam mengeraskan doa qunut dengan mengganti dhamir (kata ganti diri) dengan dhamir yang bermakna “kami” agar doa itu mencakup imam dan makmum. Adapun makmum cukup mengaminkan saja.

Adapun keterangannya secara detail akan kami jabarkan satu per satu, bi idznillah.

 Hukum Qunut Witir

Terdapat perbedaan pendapat yang cukup alot di antara ulama mengenai hukum qunut witir dan intensitas pelaksanaannya. Kami menyimpulkan pendapat-pendapat itu menjadi tiga golongan.

  1. Golongan yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.
  2. Golongan yang berpendapat tidak ada ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

radhiallahu ‘anhuma. Golongan yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat yang melakukan qunut witir sepanjang tahun, tanpa pembatasan di separuh terakhir Ramadhan.

 Golongan pertama, ulama yang tidak qunut witir dan mengingkari qunut witir.

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau tidak qunut witir. Diriwayatkan pula pengingkaran terhadap qunut witir dari al-Imam Malik.

Ibnu Abdil Barr menerangkan dalam kitab al-Istidzkar (2/Kitab ash-Shalah

fi Ramadhan, Bab Ma Ja’a fi Qiyam Ramadhan) bahwa ada perbedaan versi riwayat dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, “Salah satunya adalah riwayat Ibnu Numair, dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Nafi’, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ وَلاَ فِي الْوِتْرِ

        “Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak pernah qunut pada shalat subuh dan shalat witir.”[1]

Riwayat Malik dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma semisal dengan itu.”

Riwayat dengan versi lain dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma akan disebutkan pada pengkhususan qunut witir di pertengahan terakhir Ramadhan.

Dalam kitab al-Istidzkar, Ibnu ‘Abdil Barr menukil pengingkaran al-Imam Malik terhadap riwayat ahlu Mishr (sahabat Malik dari kalangan penduduk Mesir, yaitu Ibnul Qasim, Asyhab, dan Ibnu Wahbin) bahwa Malik ditanya apakah disyariatkan seseorang melakukan qunut witir? Ia menjawab, “Tidak.”

 Golongan kedua, yang berpandangan tidak ada hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir, tetapi dari ‘Umar dan sekelompok sahabat lainnya pada separuh terakhir Ramadhan.

Al-Khallal meriwayatkan bahwa al-Imam Ahmad berkata, “Tidak ada hadits sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan qunut witir. Akan tetapi, ‘Umar radhiallahu ‘anhu lah yang melakukan qunut witir.”

Kata Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, “Tidak ada hadits musnad (yang sanadnya bersambung) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih tentang qunut witir.”

Ibnul ‘Abdil Barr juga berkata, “Adapun (pengamalan) qunut witir oleh sahabat radhiallahu ‘anhum telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat radhiallahu ‘anhum.”

Ibnu ‘Abdil Barr kemudian berkata, “Ulama yang membolehkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarawih di sepuluh terakhir Ramadhan berhujah dengan riwayat-riwayat tersebut. Sebab, hal itu telah dicontohkan oleh sejumlah sahabat yang mulia. Ia adalah amalan yang nyata di kota Madinah di zaman itu, dan tidak diketahui seorang pun dari kalangan sahabat yang mengingkarinya.”

Di antara riwayat-riwayat itu adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/no. 1100, terbitan al-Maktab al-Islami) dengan sanad yang dinilai sahih oleh al-Albani[2] dengan lafadz,

أَنَّ عُمَرَ خَرَجَ لَيْلَةَ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ مَعَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْقَارِي، فَطَافَ بِالْمَسْجِدِ وَأَهْلُ الْمَسْجِدِ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّيْ الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّيْ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ.

فَقَالَ عُمَرُ: وَاللهِ إِنِّيْ أَظُنُّ لَوْ جَمَعْنَا هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ. ثُمَّ عَزَمَ عُمَرُ عَلَى ذَلِكَ وَأَمَرَ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَنْ يَقُوْمَ لَهُمْ فِي رَمَضَانَ، فَخَرَجَ عُمَرُ عَلَيْهِمْ وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ.

فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَ الْبِدْعَةُ هِيَ، وَالَّتِيْ تَنَامُوْنَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِيْ تَقُوْمُوْنَيُرِيْدُ آخِرَ اللَّيْلِفَكَانَ النَّاسُ يَقُوْمُوْنَ أَوَّلَهُ.

وَكَانُوْا يَلْعَنُوْنَ الْكَفَرَةَ فِي النِّصْفِ: اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ، وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ، وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمْ، وَأَلْقِ فِي قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، إِلهُ الْحَقُّ.

 ثُمَّ يُصَلِّيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَدْعُو لِلْمُسْلِمِيْنَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ خَيْرٍ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ. وَكَانَ يَقُوْلُ إِذَا فَرَغَ مِنْ لَعْنَةِ الْكَفَرَةِ وَصَلاَتِهِ عَلَى النَّبِيِّ وَاسْتِغْفَارِهِ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَمَسْأَلَتَهُ: اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ، وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ، وَإِلَيْكَ نَسْعَى وَنَحْفِدُ، وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا، وَنَخَافُ عَذَابَكَ الجِدَّ، إِنْ عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ؛ ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَهْوِيْ سَاجِدًا.

Sesungguhnya Umar radhiallahu ‘anhu pernah keluar dari rumahnya di bulan Ramadhan dan Abdur Rahman bin Abdil Qari ikut keluar bersamanya. Umar radhiallahu ‘anhu berkeliling di dalam masjid, sementara penghuni masjid shalat tarawih berjamaah dengan berpencar-pencar; setiap imam mengimami sekitar 3—10 orang.

Lantas Umar berkata, “Demi Allah, sungguh aku beranggapan bahwa seandainya kami kumpulkan mereka semua dengan seorang imam, hal itu lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Umar kemudian bertekad atas hal itu dan memerintah Ubay bin Ka’ab mengimami mereka shalat tarawih pada bulan Ramadhan. Lalu Umar keluar untuk melihat mereka, sementara mereka shalat tarawih berjamaah dengan imam mereka.

Umar berkata, “Ini adalah sebaik-baik perkara baru (yang dihidupkan kembali setelah lama ditinggalkan). Shalat tarawih di akhir malam (saat kalian tidur) lebih baik daripada shalat yang kalian laksanakan sekarang di awal malam.”

Mereka melaksanakannya di awal malam. Mereka berdoa qunut melaknat orang-orang kafir di separuh terakhir Ramadhan, “Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu, mendustakan para rasul-Mu, tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai-beraikanlah persatuan mereka, campakkanlah ke dalam kalbu-kalbu mereka rasa takut, timpakanlah azab atas mereka. Engkaulah Ilah (sembahan) yang Mahabenar.”

Ubay kemudian bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendoakan semampunya kebaikan bagi kaum muslimin, kemudian memintakan ampun bagi mereka. Setelah melaknat orang-orang kafir, bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beristigfar untuk kaum mukminin dan mukminat, dan apa yang dimintanya, Ubay membaca,

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud, hanya kepada-Mu kami bergegas dan bersegera dalam beramal, kami berharap rahmat-Mu, wahai Rabb kami. Kami takut azab-Mu yang benar adanya, sesungguhnya azab-Mu pasti akan menimpa orang yang memusuhi-Mu.”

Ia kemudian bertakbir dan sujud.

 Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah mengeluarkan riwayat Ibnu Juraij dari Atha’ dari Umar radhiallahu ‘anhuma,

قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: الْقُنُوتُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ؟ قَالَ: عُمَرُ أَوَّلُ مَنْ قَنَتَ. قُلْتُ: النِّصْفُ الْآخِرُ؟ قَالَ: نَعَمْ.

Kata Ibnu Juraij, “Aku berkata kepada Atha’, apakah qunut dilakukan pada bulan Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Yang pertama kali melakukannya adalah ‘Umar radhiallahu ‘anhu.”

Ibnu Juraij berkata, “Di pertengahan terakhir Ramadhan?”

Atha’ menjawab, “Ya.”[3]

Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya dan Abu Dawud dalam Sunan-nya juga mengeluarkan riwayat al-Hasan al-Bashari bahwa Umar radhiallahu ‘anhu memerintah Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu untuk mengimami kaum muslimin shalat tarawih dan menyuruhnya qunut witir di separuh terakhir Ramadhan.

Namun, riwayat ini divonis dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if Sunan Abi Dawud—al-Umm (2/no. 258, terbitan Muassasah Ghiras), karena sanadnya putus antara al-Hasan dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu.

Hal ini juga telah diamalkan oleh Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pada riwayat versi kedua darinya yang dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam kitab al-Istidzkar, yaitu riwayat Ibnu ‘Ulayyah, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma,

أَنَّهُ كَانَ لاَ يَقْنُتُ إِلاَّ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ.

“Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma tidak melakukan qunut witir kecuali pada separuh terakhir Ramadhan.”[4]

Kata asy-Syaukani dalam Nailul Authar (Kitab ash-Shalah, Bab Waqti Shalatil Witri wal Qira’ah fiha wal Qunut), “Muhammad bin Nashr telah meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma tidak qunut subuh dan tidak qunut witir selain pada separuh terakhir Ramadhan.”

Berdasarkan ini, muncullah pendapat bahwa qunut hanya disunnahkan pada rakaat terakhir shalat witir pada separuh terakhir Ramadhan (setelah 16 Ramadhan), tidak di malam-malam selainnya sepanjang tahun. An-Nawawi menukil dalam kitab al-Majmu’ (3/510) bahwa ini yang masyhur pada mazhab Syafi’i, yang dipegang oleh jumhur fuqaha Syafi’iyah dan telah ditegaskan langsung oleh al-Imam asy-Syafi’i.

Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Istidzkar menukil pendapat ini dari Malik pada riwayat penduduk Madinah.

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni (2/580) dan al-Murdawi dalam kitab al-Inshaf (2/170) menukil bahwa ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad.

Ibnu Qudamah juga menukil bahwa ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan az-Zuhri dari kalangan tabi’in, sebagaimana telah diriwayatkan hal itu dari keduanya.[5]

 Golongan ketiga, yang berpendapat telah datang hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qunut witir secara mutlak dan didukung oleh amalan sekelompok sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun di setiap shalat, tanpa pembatasan pada separuh terakhir Ramadhan.

Hadits itu adalah hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma,

عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ : اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku kalimat-kalimat untuk kubaca pada qunut witir,

“Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang-orang yang Engkau beri hidayah; berilah aku keselamatan dunia akhirat bersama orang-orang yang Engkau beri keselamatan dunia akhirat; perhatikan dan jagalah urusan-urusanku bersama orang-orang yang Engkau perhatikan dan jaga urusannya; berkahilah aku pada apa-apa yang yang Engkau berikan; jagalah aku dari kejelekan apa saja yang Engkau tetapkan; sesungguhnya tidak akan hina orang yang menjadi wali-Mu (dalam penjagaan dan pertolongan-Mu) dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi; Mahaberkah Engkau, wahai Rabb kami, lagi Mahatinggi.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, al-Baihaqi, dan lainnya; dinilai sahih oleh al-Albani dalam kitab al-Irwa’ [2/no. 429] dan al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih [2/144—147])[6]

Hal ini didukung pula oleh beberapa amalan sahabat melakukan qunut witir sepanjang tahun. Di antaranya adalah atsar Umar, Ali, dan Ibnu Mas’ud yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Nashr, sebagaimana kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalah.

Berdasarkan ini semua, sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada rakaat terakhir setiap shalat witir yang dilakukan sepanjang tahun, bukan hanya pada separuh terakhir Ramadhan.

Setelah meriwayatkan hadits al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma tersebut, at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tirmidzi (2/Kitab ash-Shalah, bab Ma Ja’a fil Qunut fil Witri) mengatakan, “Ini adalah pendapat sebagian ulama. Yang berpendapat dengan ini ialah Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ishaq, dan ulama penduduk Kufah.”

Ini juga pendapat al-Imam Ahmad—pada riwayat lain darinya—yang dipilih oleh mayoritas fuqaha mazhab Hanbali dan menjadi pegangan pada mazhab tersebut.

Ibnu Qudamah menukil riwayat al-Marrudzi dari Ahmad bahwa beliau rujuk kepada pendapat ini dan meninggalkan pendapat yang mengkhususkan qunut witir hanya dilakukan pada pertengahan terakhir Ramadhan. Al-Murdawi juga menukil riwayat Khaththab dari Ahmad mengenai rujuknya beliau dalam masalah ini.

Al-Imam Ibnu Baz mendukung pendapat ini dalam Majmu’ al-Fatawa (30/32—33) dengan hujah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa qunut witir, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahnya untuk terkadang meninggalkannya ataupun untuk terus-menerus melakukannya.

Dengan demikian, ini menunjukkan bahwa qunut witir disunnahkan terus-menerus sepanjang tahun.

Menurut Ibnu Baz, amalan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu meninggalkannya pada separuh pertama Ramadhan, barangkali untuk menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib.

Adapun al-‘Utsaimin dan al-Albani, keduanya berpendapat bahwa qunut witir disunnahkan secara mutlak kapan saja sepanjang tahun, tidak khusus pada separuh terakhir Ramadhan. Hanya saja, qunut tidak dilakukan terus-menerus setiap kali witir, tetapi terkadang dilakukan dan terkadang tidak.

Kata al-‘Utsaimin dalam asy-Syarh al-Mumti’ (4/19-20), “Yang mengamati shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak qunut pada witirnya, tetapi hanya mengakhiri shalat malamnya dengan satu rakaat witir. Inilah yang terbaik.

“Anda jangan melakukan qunut witir terus menerus karena hal itu tidak tsabit (benar) riwayatnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari al-Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma doa yang dibaca pada qunut witir, yang menunjukkan bahwa qunut witir hukumnya sunnah. Hal itu berdasarkan sabdanya, bukan berdasarkan amalannya shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Bahkan, dalam hal ini al-Albani menilai sahih hadits Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ.

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa qunut witir sebelum rukuk.” (HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya)

Dengan pendapat ini, al-Albani menyelisihi sejumlah imam-imam ahli hadits masa lalu yang memvonis hadits ini dha’if (lemah), terutama al-Imam Ahmad—sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Abu Dawud memvonis hadits ini cacat dengan alasan penyebutan qunut pada riwayat ini berstatus syadz (keliru/ganjil). Begitu pula Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi memvonisnya dha’if.

Akan tetapi, al-Albani berupaya menghukuminya dengan menilainya sebagai tambahan riwayat dari sejumlah rawi tsiqah (tepercaya) yang patut diterima (ziyadah ats-tsiqah) dan dikuatkan pula oleh hadits-hadits yang semakna dengannya (syawahid).[7]

Lantas al-Albani berkata dalam Ashlu Shifat ash-Shalah (3/970), “Ketahuilah, kami mengatakan bahwa qunut witir hanyalah disunnahkan dengan sifat kadang-kadang (tidak terus-menerus setiap kali witir). Sebab, kami telah menelusuri/meneliti hadits-hadits mengenai witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang jumlahnya banyak—lantas kami menemukan mayoritas hadits-hadits itu tidak menyinggung qunut sama sekali, seperti hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, dan lainnya.

“Kaidah menuntut untuk memadukan antara hadits-hadits itu, hadits Ubay, dan hadits yang semakna dengannya, dengan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang qunut witir dan terkadang tidak. Sebab, andaikan beliau melakukan qunut terus-menerus, tentulah tidak akan tersembunyi dari pengetahuan mayoritas sahabat yang telah meriwayatkan shalat witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[8]

Inilah yang terbaik dalam masalah ini. Wallahul muwaffiq.

(insya Allah bersambung)

[1] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Kana La Yaqnutu fil witri, no. 7018).

[2] Pada kitab Shifat ash-Shalah (hlm. 180).

[3] Lihat kitab Mushannaf Abdir Razzaq (4/Kitab ash-Shiyam, bab Qiyam Ramadhan, no. 7728, terbitan al-Maktabah al-Islami) dan Mushannaf Ibni Abi Syaibah (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7009).

[4] Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf (Kitab ash-Shalah, bab Man Qala al-Qunut fi an-Nishfi min Ramadhan, no. 7005)

[5] Sebagian ulama berpendapat disunnahkan qunut pada shalat witir pada rangkaian shalat tarwih di bulan Ramadhan sebulan penuh, tidak di luar Ramadhan. Ibnu ‘Abdil Barr menukil pendapat ini dari al-Auza’i; dan an-Nawawi menukilnya dari sebagian fuqaha mazhab Syafi’i.

[6] Guru besar kami, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menukil bahwa hadits ini termasuk dari sederetan hadits-hadits yang ad-Daraquthni menuntut al-Imam al-Bukhari dan Muslim seharusnya mengeluarkannya dalam kitab Shahih keduanya.

[7] Lihat kitab Talkhish Habir (2/39, no. 533, Muassasah Qurthubah), al-Irwa’ (2/167-168, no. 426), dan Ashlu Shifat ash-Shalah (3/968-969).

[8] Kata al-Albani dalam kitab Ashlu Shifati ash-Shalati (3/970) , “Hal itu menunjukkan bahwa qunut witir tidak wajib, tetapi hanya sunnah sebagaimana mazhab jumhur sahabat, tabi’in dan ulama setelahnya. Ini pula mazhab Abu Yusuf dan Muhammad (asy-Syaibani), berbeda dengan mazhab ustadz mereka yang mengatakan bahwa qunut witir wajib.” Maksudnya, wajib pada setiap kali witir.