Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Golongan yang Menyimpang dalam Iman Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

jalan

Iblis tidak pernah menghentikan makarnya, menyesatkan manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Segala upaya dia lakukan agar manusia berpaling dari agama Allah ‘azza wa jalla, berpaling dari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Terjatuhlah manusia dalam kesesatan. Sungguh, tidak sedikit manusia mendustakan firman Allah ‘azza wa jalla secara keseluruhan atau parsial, bukan hanya dari kalangan non-Islam, kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun banyak di antara mereka terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan dalam masalah iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

 

Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani

Mereka adalah kaum yang mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang ada di tengah mereka. Taurat dan Injil mereka ubah, mereka tambahi, mereka kurangi dan mereka sembunyikan al-haq atau mereka campur antara yang haq dan yang batil.

Demikian perlakuan ahlul kitab terhadap Taurat dan Injil sebagaimana telah kita baca ayat-ayat al-Qur’an yang mengabarkan sifat mereka yang sangat tercela, menodai kehormatan Taurat dan Injil dengan mengubah keduanya.

Adapun terhadap al-Qur’an, mereka mendustakannya walaupun sesungguhnya mereka dalam keadaan yakin akan kebenaran a-Qur’an.

Dahulu, sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahlu kitab selalu menyebut-nyebut kedatangan rasul yang terakhir, bahkan mereka mengatakan itu di hadapan Aus dan Khazraj. Namun, setelah datang kepada mereka al-Qur’an, mereka kafir sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,

“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah ‘azza wa jalla yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yangingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

 

Tarekat Tijaniyyah

Tijaniyyah adalah salah satu tarekat sufi yang dinisbatkan kepada pendirinya; Ahmad al-Tijani yang dilahirkan tahun 1150 H (1737 M) di salah satu perkampungan di Aljazair. Tarekat Tijaniyyah sebagai salah satu dari ratusan tarekat sufi sesungguhnya memiliki penyimpangan baik dalam masalah, akidah, ibadah, maupun muamalah. Di antaranya penyimpangan dalam keyakinan mereka terhadap al-Qur’an.

Tijaniyah meyakini bahwa di antara zikir-zikir atau wirid-wirid mereka lebih utama dari al-Qur’an. Tijaniyah memiliki shalawat khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebut sebagai shalawat Fatih.

Shalawat Fatih cukup populer pula diamalkan di sebagian kalangan di tanah air. Lafadz shalawat ini adalah sbb:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك الْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuka segala sesuatu yang tertutup, yang menutup sesuatu yang terdahulu, yang menolong kebenaran dengan kebenaran, yang memberikan petunjuk pada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya dengan kekuasaan dan ukuran Allah Yang Mahaagung

Sang pendiri, Ahmad at-Tijani berkata, “Barang siapa membaca shalawat Fatih sekali lebih afdal daripada mengkhatamkan al-Qur’an 6.000 kali.”

Dengan nama Allah, adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalawat ini? Dari mana kalian mengetahui shalawat bid’ah ini memiliki keutamaan seperti seorang khatam al-Qur’an 6.000 kali? Ucapan at-Tijani tidak lain adalah kedustaan, mensyariatkan apa yang tidak rasul syariatkan.

Coba bandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengabarkan bahwa surat al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat Yang Jiwaku di Tangan-Nya, sungguh surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu no. 5014)

Surat al-Ikhlas adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, dan dalam hadits di atas beliau bersumpah bahwa al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.

Bandingkan sabda Rasulullah dengan ucapan mereka bahwa shalawat Fatih senilai dengan 6.000 khatam al-Qur’an. Luar biasa! Betapa “hebat” sang pendiri tarekat! Dengan mudah membuat kalimat-kalimat yang lebih besar pahalanya dibanding surat al-Ikhlas yang merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla, yang nabi saja tidak mengucapkannya dan tidak diamalkan para sahabat nabi.

Betapa beraninya Ahmad at-Tijani berbicara perkara gaib, berbicara tentang pahala di sisi Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan sandaran.

Demikianlah ketika seorang sudah berkeyakinan adanya bid’ah hasanah, setiap orang bebas membuat dan berkreasi dalam syariat ini semaunya yang penting baik menurut akalnya, otaknya, kelompoknya, akibatnya: Islam akan berubah! Allahul musta’an.

 

Kaum Sufi Ekstrem

Orang-orang sufi ekstrem adalah model kesekian dari manusia-manusia yang mengingkari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Sisi penyimpangan mereka, mereka mengaku memiliki ilmu yang dikatakan dengan “ilmu Laduni”.

Ilmu Laduni di kalangan sufi adalah sumber syariat. Ilmu Laduni menurut mereka adalah wahyu yang mereka dapatkan langsung dari Allah ‘azza wa jalla. Dengan dalih ilmu laduni itulah kaum sufi dengan seenaknya membuat syariat, dan mereka sandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla, yakni mereka menerima langsung dari Allah ‘azza wa jalla.

Sungguh para sahabat, bersepakat bahwa wahyu Allah ‘azza wa jalla telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu terputus dan Islam telah sempurna.

Kaum sufi ekstrem tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sumber pengambilan ilmu, sumber akidah. Mereka juga menjadikan ilmu Laduni sebagai sumber syariat, demikian pula mimpi-mimpi. Bahkan, menurut mereka seorang bisa bebas dari ikatan syariat, tidak lagi terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah.

 

Syiah Rafidhah

Penyimpangan Syiah Rafidhah dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian banyak, sehingga siapa saja yang mau melihat penyimpangan Syiah Rafidhah dengan timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah akan tampak dengan terang bahwa mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Ya, Syiah Rafidhah pada hakikatnya adalah agama tersendiri yang dibangun di atas kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka telah menghancurkan segala sendi-sendi Islam termasuk dalam masalah iman kepada kitab, mereka telah menyimpang dari jalan kaum muslimin.

Di antara penyimpangan tersebut: Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada di tengah kaum muslimin, yang dibaca dan dihafalkan selama ini, bukan al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan, tidak sesuai dengan aslinya dan telah diubah oleh para sahabat.

Al-Qur’an yang sesungguhnya akan dikeluarkan nanti di akhir zaman, dan saat ini dibawa Imam Mahdi mereka yang bersembunyi di dalam Sirdab Samura’.

Dengan lancangnya mereka meyakini bahwa para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah ‘azza wa jalla yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah didustakan, ditambah dan dikurangi. Di sisi mereka al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan, al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah, mereka pun dengan seenaknya mempermainkan al-Qur’an.

Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal sahabat Ali sendiri tidak pernah mengatakan beliau menyimpannya. Keyakinan ini bukan sekadar tuduhan kepada Syiah Rafidhah. Namun keyakinan ini tertulis jelas dalam kitab-kitab induk syiah Rafidhah.

Dalam kitab al-Kafi, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan bahwasanya Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])

Dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian…’.” ( al-Kafi [1/239—240] dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Bahkan orang yang mereka anggap sebagai ahli hadits, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarangnya pada tahun 1292 H mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Betapa kafir dan dungunya mereka, sungguh seorang yang masih memiliki sedikit akal, akan menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan ini sesungguhnya justru celaan dan tikaman kepada Ali bin Abi Thalib, ahlul bait, dan bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Celaan kepada Ali karena secara langsung atau tidak langsung mereka telah menuduh Ali telah berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar.

Wahai Syiah Rafidhah, bukankah Ali bin Abi Thalib ketika itu menjadi khalifah? Kenapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Demikian pula al-Hasan, al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi kalian?

Kalian juga telah mencela Allah ‘azza wa jalla karena makna ucapan kalian bahwa al- Qur’an yang ada sekarang bukan wahyu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan kalian berkata bahwa Allah berdusta, tidak memenuhi janjinya untuk menjaga al- Qur’an, lemah tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an, dan membiarkan manusia selama 1.435 tahun dalam kesesatan tidak mengerti kitab mereka. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?

Wahai Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangkakan itu? Empat belas abad berlalu disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah mereka maksum (terbebas dari dosa) menurut kalian? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan kesalahan mereka yang sangat besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.

Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab, apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabadabad manusia dalam ketidaktahuan terhadap kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian? Sungguh, ini celaan kalian kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Mereka, orang-orang Syiah juga tersesat dalam metode penafsiran al-Qur’an Mereka tafsirkan seenak mereka dengan penafsiran Bathiniyyah.

Demikian beberapa kelompok yang tersesat dalam masalah iman kepada kitab. Semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang benar sebagai perkara yang benar dan Allah ‘azza wa jalla beri kita kemampuan untuk mengikutinya, dan semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang batil sebagai perkara yang batil dan Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita meninggalkannya. Amin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ