Riba Mendatangkan Petaka

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

 KHUTBAH PERTAMA:

 

إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 29 sebagai seruan bagi kaum muslimin,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian sesama kalian dengan cara batil.”

Memakan harta manusia dengan cara batil adalah makan harta yang haram dan makan makanan yang tidak baik. Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintah manusia agar mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban, halal dan baik, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

“Wahai manusia, makanlah dari makanan yang halal dan yang baik dari apa yang terdapat di bumi ini. Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 168)

Anjuran agar mengonsumsi makanan yang halal dan baik ini ditinjau dari sisi zat makanannya dan dari sisi cara mendapatkannya. Daging babi dan minuman keras, misalnya. Secara asal zatnya, keduanya merupakan makanan dan minuman yang haram sehingga dikatakan tidak halal dan tidak baik. Misal yang kedua, harta riba dan hasil curian. Keharamannya karena didapatkan dan diperoleh dengan cara yang batil, meski asal muasal zatnya halal.

 

Hadirin rahimakumullah,

Ketahuilah, pertumbuhan jasmani seseorang yang berasal dari makanan dan minuman haram akan terancam siksa neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ جِسْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka yang paling berhak dengannya.” (HR. Ahmad)

Makanan, minuman, dan pakaian haram yang dikonsumsi atau dikenakan oleh seseorang merupakan salah satu penyebab tidak terkabulnya doa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisahtentang seseorang yang menengadahkan kedua tangannya untuk berdoa, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku!” Akan tetapi, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sumber gizinya dari harta yang haram. Bagaimana mungkin doanya akan terkabulkan?! (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara harta haram yang didapatkan dengan cara batil adalah harta riba. Semoga kita dijauhkan dari harta yang mendulang petaka ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ١٣٠

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba yang berlipat-lipat (bunganya) dan bertakwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (Ali ‘Imran: 130)

Pada ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (al-Baqarah: 275)

Riba adalah harta yang tidak berkah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَمۡحَقُ ٱللَّهُ ٱلرِّبَوٰاْ وَيُرۡبِي ٱلصَّدَقَٰتِۗ

“Allah akan mencabut berkah dariharta riba. Dan Allah akan memelihara harta yang disedekahkan.” (al-Baqarah: 276)

Bermuamalah dengan praktik riba dan makan harta dari riba merupakan dosa besar yang akan membinasakan pelakunya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اجْتَنِبُو السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ

“Jauhilah tujuh hal yang membinasakan!”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum bertanya, “Apa saja wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الشِّرْكُ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِ تَالِ

Ketujuh dosa yang membinasakan tersebut adalah:

  1. Syirik
  2. Sihir
  3. Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah tanpa alasan yang dibenarkan
  4. Memakan harta riba
  5. Memakan harta anak yatim
  6. Lari ketika perang sedang berkecamuk
  7. Menuduh wanita mukminah yang menjaga kehormatannya dengan tuduhan keji. (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Pemakan, pemberi, juru tulis, saksi muamalah harta riba adalah orang-orang yang dilaknat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat si pemakan riba dan pemberinya.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi ada tambahan lafadz,

وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ

“Juga yang menjadi saksi dan juru tulisnya.”

Sungguh, keberadaan riba di rumah tangga dan lingkungan kita sangat mengerikan bahayanya dan sangat buruk akibatnya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum muslimin untuk segera meninggalkannya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ ٱلرِّبَوٰٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ٢٧٨

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.”

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ فَأۡذَنُواْ بِحَرۡبٖ مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۖ

“Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”

وَإِن تُبۡتُمۡ فَلَكُمۡ رُءُوسُ أَمۡوَٰلِكُمۡ لَا تَظۡلِمُونَ وَلَا تُظۡلَمُونَ ٢٧٩

“Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 278—279)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمِ

 

 KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ وَالصَّ ةَالُ وَالسَّ مَالُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛ أَمَّا بَعْدُ: فَإِلَى اللهِ الْمُشْتَكَى

Hanya kepada Allah-lah kita mengadu atas merebaknya praktik riba di masyarakat kita sekarang ini. Berbagai bentuk muamalah riba ada dan terjadi di lingkungan kita.

Ada yang melakukan jual beli emas atau perak dengan sistem tukar tambah. Perhiasan emas yang lama langsung ditukar dengan yang baru di toko emas dengan tambahan biaya.

Praktik riba seperti inilah yang disebut riba fadhl dan dilarang keras oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

لاَ تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلاَّ مِثْلاً بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian berjual-beli emas dengan emas, kecuali harus sama dengan timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

“Janganlah kalian melebihkan sebagian atas yang lain (maksudnya tukar tambah emas).”

وَلَا تَبِيْعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلاَّ مِثْ بِمِثْلٍ

“Janganlah kalian jual beli perak dengan perak kecuali sama timbangannya.”

وَلَا تَشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ

Janganlah kalian melakukan tukar tambah antara perak dengan perak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ مِثْ بِمِثْلٍ فَمَنْ زَادَ أَوِ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

“Emas dengan emas harus dengan timbangan yang sama, perak dengan perak harus dengan timbangan yang sama. Barang siapa melebihkan atau meminta untuk dilebihkan, maka itulah riba.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di antara praktik riba yang terjadi di tengah masyarakat kita adalah jual beli emas/perak dengan sistem bayar angsur (kredit) atau sebaliknya, dengan pembayaran di muka sedangkan emas/perak yang dibeli diterima pada lain waktu.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءً وَهَاءً

“Emas dibayar dengan perak adalah riba kecuali jika dibayar tunai.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Umar radhiallahu ‘anhu)

وَلاَ تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ

“Janganlah kalian jual beli emas/perak dengan utang-piutang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu)

 

Hadirin rahimakumullah,

Hal yang semisal dengan emas dan perak adalah mata uang yang berfungsi sebagai alat tukar/transaksi. Tidak dibenarkan tukar-menukar mata uang yang sejenis (misalnya rupiah dengan rupiah) kecuali harus sama jumlah nominalnya dan harus tunai diterima pada satu majelis.

Tidak dibenarkan pula tukar-menukar dua mata uang yang berbeda (misalnya rupiah dengan dollar) kecuali keduanya harus diterima secara tunai dan pada satu majelis.

Di antara praktik riba yang tumbuh subur di masyarakat kita adalah simpan-pinjam dengan sistem bunga. Riba jenis inilah yang dimaksud dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali ‘Imran ayat 130,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَأۡكُلُواْ ٱلرِّبَوٰٓاْ أَضۡعَٰفٗا مُّضَٰعَفَةٗۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan

bertambah berlipat-lipat….” sebagaimana yang telah dijelaskan oleh para ahli tafsir.

Perlu kita sadari bahwa praktik riba seringkali disitilahkan dengan bahasa yang menarik dan memikat. Padahal penamaan tidaklah mengubah hakikat. Dengan istilah yang baru, riba tersebut menjadi terselubung.

Akan tetapi, riba tetaplah riba meskipun dinamakan “dana kredit” atau “mudharabah”, yang hakikatnya adalah pinjaman berbunga. Praktik-praktik seperti inilah yang menjadi salah satu sebab kehinaan pada suatu kaum. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memperingatkan kita dari hal ini,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem ‘inah, kalian memegang ekor-ekor sapi (sibuk dengan ternak), kalian puas dengan cocok tanam, dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Sistem ‘inah adalah salah satu bentuk riba yang terselubung. Gambarannya, Si A menjual barang kepada Si B secara kontan. Kemudian barang tersebut dibeli kembali oleh Si A dengan harga yang lebih tinggi dengan pembayaran secara tempo.

Hakikatnya, Si A meminjam uang dari Si B dan harus mengembalikannya dengan nilai lebih tinggi.

نَسْألُ اللهَ السَّ مَالَةَ وَالْعَافِيَةَ

Kita memohon kepada Allah keselamatan dan kesejahteraan.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَ مُتَقَبَّلَا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tanya Jawab Ringkas edisi 94

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Hadits Puasa

Ada hadits yang bunyinya, “Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim, Ashabu as-Sunan, dan Ahmad)

Jika kita biasa mengerjakan puasa sunnah tanpa mengerjakan makan sahur, salahkah seperti itu? 08998XXXXXX

Hadits itu hanya menunjukkan makan sahur sunnah, tidak wajib. Lihat lebih lengkap buku kami Fikih Puasa Lengkap.

 

Mengubur Ari-Ari

Apakah menguburkan ari-ari bayi harus dibungkus dengan kain kafan? Bagaimanakah cara yang syar’i? 085740XXXXXX

Ari-ari bayi dikuburkan begitu saja di sembarang tempat tanpa dikafani.

 

Anak Meninggal Usia 11 Tahun

Jika anak meninggal di usia sekitar 11 tahun dan belum diajari shalat, apakah nantinya akan ditanya di akhirat? 085260XXXXXX

Anak yang belum balig belum mukallaf, tetapi diwajibkan bagi walinya atau pendidik yang dipercayanya untuk mengajarinya shalat sejak dia mumayyiz. Anak yang meninggal sebelum balig termasuk penghuni surga jika kedua orang tuanya atau salah satunya muslim, menurut jumhur ulama. Ini hukum yg bersifat umum.

Namun, secara adab jangan memastikan anak tertentu (fulan atau allan) bahwa ia masuk surga, sebagaimana yang diajarkan Nabi n kepada ‘Aisyah ketika memastikan seorang anak yang meninggal bahwa anak itu masuk surga (HR. Muslim).

 

Menikahi Mantan Istri Saudara

Saya mempunyai saudara kembar meninggal 4 bulan lalu dengan meninggalkan seorang istri dan bayi. Bagaimana hukumnya saya menikahi janda kakak kembar saya? Mohon penjelasannya. 087764XXXXXX

Boleh menikahi janda saudara kembar Anda yang ditinggal mati olehnya setelah masa iddahnya berakhir, yaitu 4 bulan 10 hari.

 

Hak Orang Tua sebagai Wali

Seorang wanita yang hendak menikah harus dengan persetujuan wali (ayah) jika memang walinya masih ada. Bagaimana jika wali tersebut tidak penah memberi nafkah dan tidak bertanggung jawab hampir seumur hidup wanita tersebut? 081217XXXXXX

Hal itu tidak menggugurkan hak kewalian dia atas anaknya. 

 

Menghadiri Undangan

Bagaimana hukumnya memenuhi undangan seorang muslim selain walimah? Misalnya acara syukuran. 085377XXXXXX

Menghadiri undangan sesama muslim adalah hak muslim yang mengundang. Rasulullah n bersabda, “Jika ia mengundangmu, penuhilah undangannya.” Hukum menghadiri undangan selain walimahan diperselisihkan apakah wajib atau sunnah.

 

Penerima Zakat Karena Utang

Saya mempunyai utang untuk usaha dan renovasi rumah. Sekarang saya kesulitan melunasi. Apa saya digolongkan orang yang berhak menerima zakat? Apakah boleh meminta-minta zakat? 085239XXXXXX

Anda tergolong orang yang berhak menerima zakat untuk membayar utang, bukan untuk nafkah. Jika pada saat yang sama Anda miskin, Anda berhak pula mendapatkan zakat untuk nafkah Anda.

 

Belum Melaksanakan Nazar

Sebelum saya mengetahui nazar muqayyad, saya pernah melakukannya. Pada waktu saya sakit, saya bernazar untuk puasa sekian hari jika sembuh, Ketika sembuh, saya belum melaksanakan nazar saya tepat pada waktu saya sembuh. Apakah saya harus membayar kafarat nazar saya atau melaksanakan nazar saya? 083190XXXXXX

Kewajiban Anda adalah melaksanakan nazar itu sekarang, berpuasalah sejumlah hari yang Anda nazarkan sekarang juga, tanpa menundanya lagi agar tanggung jawab Anda terlepas dan meraih pahala menunaikan nazar.

 

Berdoa Pada Sujud Terakhir

Bolehkah berdoa saat sujud terakhir pada shalat fardhu? Doa apakah yang boleh dilafadzkan? 08987XXXXXX

Disyariatkan banyak berdoa dalam sujud baik pada shalat sunnah maupun shalat wajib dengan doa yang bermanfaat untuk dunia akhirat. Tidak ada dalil pengkhususan pada sujud terakhir saja, tetapi pada seluruh sujud.

 

Jual Beli Kredit yang Mengandung Ribawi

Apakah proses jual beli motor secara kredit sebagaimana yang ada pada zaman sekarang ini termasuk dalam praktik ribawi? 085730XXXXXX

Akad jual beli motor/mobil dengan cara kredit yang ada pada zaman sekarang adalah riba, dari dua sisi:

1. Ada syarat denda pada akad bagi yang menunggak. Tidak bisa dikatakan boleh dengan alasan dia akan membayarnya tanpa menunggak sehingga tidak terkena denda. Sebab, hal itu adalah akad riba dari asalnya walaupun dengan niat akan melunasinya tanpa denda. Lagi pula, siapa yang bisa memastikan peminjam tidak akan menunggak?

2. Angsuran dibayarkan ke lembaga pembiayaan (leasing) yang menalangi setiap motor/mobil yang dicicil nasabah, bukan ke dealer (penjual). Hal itu karena motor/mobil yang dikreditkan oleh dealer telah dibayar tunai oleh lembaga pembiayaan tersebut. Artinya, pembeli sebenarnya diutangisecara tidak langsung oleh lembaga pembiayaan tersebut agar bisa membeli motor/mobil yang diinginkan. Lalu pembeli membayar utang itu kepadanya dengan nilai lebih besar (harga cicil) Ini adalah rekayasa riba yang dikenal dengan istilah ‘inah model tiga pihak. Wallahu a’lam.

 

Ingat Kena Najis Setelah Shalat

Saat kita shalat, kita lupa bahwa pakaian kita kena najis dan baru ingat setelah shalat, apakah shalat tersebut harus diulangi lagi? 085381XXXXXX

Jika ingat terkena najis setelah shalat, hal itu dimaafkan dan shalat Anda sah. Adapun lupa wudhu, hal itu tidak dimaafkan dan shalat itu wajib diulangi.

 

Uang Pinjaman Dikembalikan dari Hasil Judi

Bismillah. Jika kita meminjamkan uang kepada seseorang, kemudian uang tersebut dikembalikan kepada kita dengan wujud hasil keuntungan judi, bagaimana hukum uang tersebut? 08561XXXXXX

Pada asalnya, keharaman uang dari penghasilan yang haram adalah bagi pemiliknya, tidak bagi orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya. Berdasarkan hal ini, boleh menerima pembayaran utang itudari hasil judinya. Sikap wara’ adalah  menolaknya dan minta dibayar dengan harta selainnya.

 

Suami Suruh Gugurkan Kandungan

Jika suami menyuruh istri untuk menggugurkan kandungan yang berusia satu setengah bulan, apakah diperbolehkan? Sebab, pendapatan suami sedikit, banyak utang, dan masih mempunyai anak-anak kecil. 085732XXXXXX

Tidak boleh menuruti kemauan suami untuk menggugurkan kandungan, karena tidak ada kebutuhan mendesak yang menuntut. Adapun kesulitan nafkah dan mengurus anak tidak bisa dijadikan alasan.

 

Ambil Gaji di Bank

Saya bekerja di satu perusahaan dan penggajiannya melalui bank. Apakah tidak termasuk riba jika gaji saya simpan di bank dalam jangka waktu lama? Saya hanya mengambil gaji saya dan bunganya tidak saya ambil? 087841XXXXXX

Hal itu bukan riba. Akan tetapi, tidak boleh menabung di bank kecuali jika uang Anda tidak aman ketika disimpan sendiri.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 93

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Muhammad Afifuddin.

Bagi Hasil dalam Usaha

Pemilik modal memberi pinjaman 1 juta dengan syarat penerima modal memberikan bagi hasil 100 ribu per bulan dan penerima modal menyanggupi. Apakah kerjasama ini sesuai syariat? 083878XXXXXX

Kerjasama seperti itu tidak sesuai syariat karena ada unsur spekulasi dan judi. Pemodal bisa merugi karena keuntungan yang didapat ternyata sangat berlipat atau sebaliknya. Yang benar keuntungan dibagi menggunakan persentase sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sebagai tambahan, hakikat kerjasama tersebut adalah pinjaman berbunga, karena status modal adalah pinjaman yang harus dikembalikan.

 

Ziarah Kubur bagi Wanita

Bolehkah seorang wanita menziarahi makam orang tuanya? Jika wanita tersebut tidak berziarah kubur sekali pun, bagaimana hubungan wanita itu dengan orang tuanya di akhirat kelak? 085383XXXXXX

Ziarah kubur dahulu terlarang kemudian disyariatkan oleh Islam dalam rangka ingat mati dan akhirat. Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan untuk laki-laki. Adapun wanita, sebagian ulama ada yang mengharamkan secara mutlak dan ada yang mengharamkan jika terlalu sering. Namun, jika aman dari fitnah (gangguan) dan tidak ada pelanggaran syariat, boleh sesekali wanita berziarah. Berbakti kepada orang tua yang wafat bagi wanita dengan cara mendoakan.

 

Bekerja di Pabrik Wig

Apa hukum bekerja di tempat pembuatan wig (rambut palsu)? 085729XXXXXX

Bekerja di tempat pembuatan wig hukumnya haram karena merupakan ta’awun di atas dosa. Sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu sangat keras mengingkari wig karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan wig.

 

Hukum Uang Pungli

Bagaimana tindakan yang seharusnya jika kita menerima uang dari pungutan liar (pungli)? 085740XXXXXX

Harta yang haram tidak boleh untuk sesuatu yang berhubungan dengan ibadah seperti masjid, pondok pesantren, kitab agama, dan semisalnya. Namun, untuk yang sifatnya umum, seperti jalan dan WC umum, sebagian ulama membolehkan untuk fakir miskin.

 

Jualan di Kantor Ribawi

Bolehkah titip jual makanan ke kantin kantor yang terdapat perniagaan yang mengandung riba? 081945XXXXXX

Hukum asal jualan adalah halal selama tidak ada akad yang diharamkan. Namun, berjualan/titip jual di tempat yang sudah dikenal dengan kemungkaran atau kemaksiatan tidak diperbolehkan karena ada unsur ridha, mendukung, dan memperbanyak jumlah ahli maksiat.

 

Gadai Riba

Bagaimana hukum menggadaikan barang yang pelunasan uang dari gadai tersebut harus melebihi jumlah uang yang dipinjamkan sebelumnya? Apakah hal ini sama seperti riba? 085747XXXXXX

Gadai dengan pinjaman seperti itu jelas riba.

 

Riba Koperasi

Saya saat ini sedang terjerat riba (pinjam uang di koperasi), sudah setengah setoran. Apakah saya wajib melunasi seluruh setoran atau pokoknya saja? Sebab, kemungkinan besar pihak koperasi tidak mau menerima pinjaman pokoknya saja. 087830XXXXXX

Segera selesaikan tanggungan Anda kepada koperasi. Jika Anda bisa melobi supaya hanya membayar utang pokok, itu lebih baik. Namun, jika tidak mungkin, selesaikan seluruhnya dan yang menanggung dosa adalah mereka. Perbanyak istighfar dan tobat untuk tidak mengulangi lagi.

 

Asuransi Syariah

Apakah asuransi syariah pada masa kini sesuai dengan syariat Islam? 0819XXXXXX

Hukum asal suatu akad adalah mubah sampai ada bukti yang menunjukkan keharamannya, termasuk asuransi. Namun, secara umum asuransi bisnis tidak ada yang syar’i sampai saat ini.

Pahala Berbakti kepada Mertua

Apakah berbakti kepada kedua orang tua pahalanya senilai dengan pahala berbakti kepada mertua? Terutama jika kedua orang tua telah meninggal. 085796XXXXXX

Berbakti kepada orang tua dibandingkan dengan mertua jelas lebih wajib dan lebih utama. Meskipun demikian, Islam sangat menganjurkan berbuat baik kepada mertua. Berbakti kepada orang tua yang sudah wafat adalah dengan mendoakan, berbuat baik kepada keluarga, handai taulan orang tua, dan teman dekat orang tua.

 

Berdoa saat Sujud

Apa boleh kita berdoa saat sujud dalam shalat dengan bacaan doa yang ada di dalam al-Qur’an? 085385XXXXXX

Boleh, namun dengan niat berdoa, bukan tilawatul Qur’an.

 

Uang Hasil Usaha dari Pinjaman Bank

Jika suatu usaha didirikan dengan meminjam uang dari bank, apakah uang hasil dari usaha tersebut halal? 081347XXXXXX

Usaha dari pinjaman bank riba hukumnya haram, hasilnya tidak berkah. Hartanya tercampur dengan yang haram. Selesaikan segera utang kepada bank, selebihnya gunakan untuk usaha.

 

Makanan Pemberian Orang Kafir

Bolehkah kita memakan makanan pemberian orang kafir hasil syukuran? 081575XXXXXX

Makanan orang kafir dalam rangka hari besar atau syukuran mereka tidak boleh dimakan.

 

Masbuk Tanpa Baca Iftitah

Apakah sah ketika seorang makmum masbuk dan mengikuti imam yang sedang sujud tetapi tidak membaca iftitah lebih dahulu? 085729XXXXXX

Shalatnya sah, karena saat itu makmum diperintahkan untuk mengikuti imam dalam kondisi apa pun. Di sisi lain, bacaan iftitah adalah sunnah.

 

Zikir Sambil Memejamkan Mata

Bolehkah zikir sesudah shalat sambil memejamkan mata? 085640XXXXXX

Zikir setelah shalat sambil memejamkan mata dalam rangka kekhusyukan dan konsentrasi tidak masalah, walau bukan suatu keharusan. Yang tidak ada sunnahnya adalah shalat sambil memejamkan mata, kecuali apabila tempat shalatnya terdapat banyak hal yang mengganggu kekhusyukan.

 

Mazhab Hanafi

Apakah mazhab Hanafi itu sesat? Karena pendapatnya selalu berbeda dengan mazhab yang lain. 085318XXXXXX

Mazhab Hanafi tidak dikatakan sesat. Mereka disebut ashabu ar-ra’yi (mazhab yang mengutamakan logika) karena kurang dalam bidang hadits. Tidak semua pendapat mereka salah. Banyak juga yang rajih atau sesuai dengan pendapat jumhur.

 

Shalat Memakai Celana Panjang

Bolehkah kita shalat dengan memakai kemeja dan celana panjang? 085646XXXXXX

Kalau celana tersebut adalah sirwal yang lebar sehingga tidak membentuk aurat, diperbolehkan. Jika celana tersebut semacam pantalon, tidak boleh. Afdalnya ketika shalat seseorang menggunakan pakaian yang syar’i, suci, bersih, dan rapi; bisa jubah, gamis, atau sarung.

 

Perbedaan Mandi Haid dan Janabah

Apakah perbedaan mandi haid dengan mandi janabah dan bagaimana caranya? 085642XXXXXX

Mandi haid caranya dengan me mbersihkan seluruh badan menggunakan air, sebersih dan sewangi mungkin, lalu membersihkan bekas darah pada kemaluan dengan kapas yang sudah diberi minyak wangi. Adapun mandi janabah ada dua cara:

1) Cara yang mencukupi, yaitu dengan mengguyurkan air merata ke seluruh tubuh tiga kali disertai kumurkumur dan memasukkan air ke dalam hidung.

2) Cara yang sempurna. Lihat riwayatnya dalam kitab Bulughul Maram bab mandi janabah.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 91

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Membayarkan Pinjaman Berbunga

Bolehkah menuruti perintah mertua untuk membayarkan pinjaman berbunga? mApakah sebaiknya dibayarkan tanpa bunganya saja? 085290XXXXXX

Jika Anda mampu, beri penjelasan kepada mertua tentang hukum meminjam uang dengan riba agar tidak terulangi lagi. Minimalnya mertua tahu bahwakita tidak mungkin disuruh  untuk hal demikian.

 

Membagikan Makanan Saat

Menempati Rumah Baru Di tempat kami, jika ada rumah/ warga baru, kebiasaannya membagikan dus berisi makanan kepada tetangga. Apakah hal tersebut termasuk bid’ah? 085229XXXXXX

Kalau niat membagikan makanan dalam rangka syukur nikmat atas rumah tersebut atau sedekah, tidak masalah. Kalau ada niat tolak bala, tolak jin penunggu rumah, atau semisalnya, termasuk khurafat dan bid’ah.

 

Makanan Acara Tahlilan

Bagaimana hukumnya memakan makanan tahlilan yang diantarkan ke rumah kita? Bagaimana kalau yang yang mengadakan tahlilan adalah orang serumah dengan kita? 085387XXXXXX

Jika makanan tahlilan dalam bentuk sembelihan, jangan dimakan. Jika dalam bentuk yang lain, ada perbedaan pendapat. Namun, sebaiknya ditinggalkan karena syubhat, hal ini sebagai sikap wara’ kita.

 

Imam Tidak Tuma’ninah

Saya singgah di masjid yang imamnya tidak tuma’ninah. Apakah saya harus membatalkan shalat dan pindah ke masjid lain? 085657XXXXXX

Jika imam tersebut tidak tuma’ninah sampai pada tingkat kita tidak mampu mengerjakan rukun dan wajib dalam shalat, shalatnya tidak sah, harus diulang. Atau cari masjid lain.

 

Warisan Orang Tua Nonmuslim

Jika orang tua murtad dan meninggal, kepada siapakah harta warisan dibagikan? 085266XXXXXX

Jika orang tua murtad, harta warisnya masuk baitul mal. Ahli warisnya yang muslim tidak mendapat bagian sedikit pun karena berbeda agama.

 

Istri Tidak Mau Belajar Al-Qur’an

Mohon nasihatnya mengenai istri yang tidak bisa membaca al-Qur’an dan tidak mau berusaha belajar. Dia sudah dinasihati berkali-kali, tetapi tidak berubah; bahkan menentang suami. Bagaimana cara mendidiknya agar segera bertobat dari kesalahannya? 085725XXXXXX

Mendidik istri harus sabar, telaten, dengan cara yang lembut, dan melihat kondisinya. Tidak bisa dipaksakan, apalagi istri yang latar belakang agamanya awam. Perlu proses panjang. Lebih baik dimulai dengan melembutkan hatinya supaya punya semangat beragama dan belajar.

 

Riba Sistem Kredit

Seseorang meminjam uang dengan pembayaran cicilan menggunakan sistem kredit yang menyebabkan peminjam dan yang meminjamkan terjatuh pada riba (jumlah total uang cicilan lebih besar dibandingkan dengan jumlah uang pinjaman). Untuk menghindari riba, orang yang meminjamkan bermaksud membelikan cincin emas seharga uang yang akan dipinjamkan sehingga si peminjam bisa menjualnya dan mendapatkan uang yang diharapkan. Bagaimana hukum sistem kredit ini? 085275XXXXXX

Hakikatnya tetap pinjaman dengan riba, emas itu hanya kamuflase saja.

 

Investasi Valas

Apa hukumnya investasi valuta asing ketika membeli dolar saat turun kemudian dijual ketika dolar naik? 085869XXXXXX

Investasi valuta asing boleh dengan syarat taqabudh (serah terima di tempat). Apabila via transfer atau semisalnya, yang tidak terjadi padanya taqabudh, termasuk riba nasi’ah.

Jika transfer untuk menghindari mudarat (misal uang dalam jumlah banyak, kita takut membawanya) bagaimana? 085869XXXXXX

Kondisi tersebut bisa disiasati dengan menggunakan cek. Menurut sebagian ulama sekarang, cek yang sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku kedudukannya sama dengan uang.

Jika orang yang menanam modal investasi tersebut berada di Jawa dan yang menjalankan usaha investasi di Sumatra, bagaimana? 085869XXXXXX

Yang dianggap adalah orang yang bersentuhan langsung dengan akad tersebut. Status pengelola adalah wakil dari penanam modal.

 

Orang Murtad Tetap Dibunuh?

Saya memahami bahwa orang murtad tetap harus dibunuh khalifah walaupun sudah kembali masuk Islam. Apakah hal ini benar? 085657XXXXXX

Kalau orang murtad sudah tertangkap khalifah sebelum tobat, ia dibunuh karena kemurtadannya. Jika sudah bertobat sebelum tertangkap khalifah, ia kembali seperti kondisi sebelumnya saat muslim. Zaman dahulu banyak orang yang murtad lalu bertobat dan dibiarkan oleh umara.

 

Mengubah Huruf dalam Al-Qur’an?

Bagaimana hukumnya mengubah satu huruf dari al-Qur’an? Misal rabbayani menjadi rabbayana, shaghira menjadi shighara. 081541XXXXXX

Kalau yang dia maksud adalah tilawatul Qur’an, hukumnya haram, seperti tindakan Yahudi yang menambah huruf dalam ayat. Namun, jika yang dia maksud adalah doa, bukan tilawah, tidak masalah.

Agar Tidak Terjerat Riba

Ranjau riba ada di mana-mana. Ia ada di berbagai sendi kehidupan manusia. Sistem muamalah riba telah memasuki bidang pertanian, perikanan, perkebunan, lebih-lebih lagi perdagangan. Bahkan,di zaman sekarang ini, sebagian ibadah pun tidak selamat dari riba, seperti pendaftaran calon jamaah haji dengan sistem pinjaman bank (dana talangan) untuk setoran awal, tabungan haji di bank riba, dan sebagainya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dengan berbagai cara mereka menawarkan produk-produk riba yang menggiurkan bagi yang diperbudak oleh dunia—melalui berbagai media. Bahkan, sering kita jumpai para pemburu mangsa itu datang ke rumah-rumah menawarkan produk mereka disertai bujukan dan rayuan. Misalnya, kredit murah dapat hadiah, pinjaman bunga ringan tanpa jaminan, kartu kredit yang praktis dan aman untuk melakukan berbagai transaksi, dan sebagainya.

Para pembaca yang budiman, barakallahu fikum. Allah Subhanahuwata’ala adalah Dzat yang menciptakan kita. Dialah yang paling mengetahui kemaslahatan kehidupan para hamba-Nya. Oleh karena itu, Dia mengharamkan riba dengan berbagai ragam dan penamaannya di dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamukepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. Dan taat tilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (al-‘Imran: 130-132)

Allah juga mengabarkan kepada para hamba-Nya bahwa orang yang memakan hasil riba pada hari kiamat akan dibangkitkan dari kubur mereka laiknya orang yang kerasukan jin, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah karena mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambilriba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambirl iba),m akao rangit ua dalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (al-Baqarah: 275)

Bahkan, Rasulullah  juga menegaskan tentang keharaman riba di dalam sabdanya,

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ

وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ

النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِ بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ مَالِ

الْيَتِيمِ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ،

وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِ تَالِ الْمُؤْمِنَاتِ

“Tinggalkanlah tujuh perkara yang membinasakan!” Para sahabat bertanya, “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab“, Mempersekutukan Allah, sihir,membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah  untuk dibunuh selain dengan alasan yang haq, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh wanita-wanita mukminat (yang menjaga kehormatan) berbuat zina.” (Muttafaqunalaih dari dari Abu Hurairah)

Terkait dosa yang sangat menakutkan dengan sebab riba, Rasulullah melaknat lima golongan, sebagaimana berita dari Ibnu Mas’ud ,

آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ , لَعَنَ رَسُولُ اللهِ

“Rasulullah  melaknat orang yang memakan hasil riba dan orang yang memberi riba.” (HR. Muslim dan at-Tirmidzi, yang lainnya menambahkan, “Dan dua orang saksinya serta penulisnya.”)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Kelima golongan ini dilaknat melalui lisan Rasulullah. Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa orang yang berbuat dosa, dia bersekutu dengan pelakunya, dan demikianlah keadaannya.” (Syarh Riyadush Shalihin, 4/152)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata, “Seorang muslim yang mengharapkan kebaikan dan keselamatan dirinya dari azab Allah serta berhasil mendapatkan keridhaan dan rahmat-Nya, hendaknya menjauhi kerja sama dengan bank-bank riba, menyimpan dana untuk mendapatkan bunga, dan meminjam dengan bunga, karena menanam saham, meminjam, dan menyimpan uang dengan bunga pada bank-bank tersebut termasuk muamalah dengan cara riba dan kerja sama (ta’awun) dalam hal dosa dan permusuhan, yang dilarang oleh Allah dalam firman-Nya,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tolong-menolonglah kamu dalam(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangantolong-menolongdalamberbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu Kepada Alah, sesungguhnya Alah amat berat siksa-Nya.” (al-Maidah: 2)

Wahai hamba Allah , bertakwalah kepada-Nya. Selamatkanlah diri Anda dan jangan tertipu dengan banyaknya jumlah bank ribawi, tersebarnya riba di setiap tempat, dan banyaknya orang yang bermuamalah dengan cara tersebut.

Sebab, itu bukan dalil yang menunjukkan halalnya. Hal itu justru menunjukkan banyaknya penyimpangan terhadap perintah Allah Subhanahuwata’ala dan penyelisihan terhadap syariat-Nya. Allah  Ta’ala berfirman,

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta( terhadap Allah). (al-An’am: 116).”

(NashihahHammahfi at-Tahdziri minal Mu’amalah ar-Ribawiyah, hlm. 9—10)

 

Selanjutnya, beliau  berkata, “Termasuk perkara yang sudah dimaklumi dalam agama Islam berdasarkan dalil dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah bahwa keuntungan yang didapatkan oleh para pemilik dana sebagai imbalan atas tindakan menabung di bank-bank riba adalah haram. Hal ini termasuk (muamalah) dengan sistem riba yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ini termasuk dosa besar, dan akan dicabut berkahnya, dibenci oleh-Nya, serta menyebabkan tidak diterimanya amalan (atau tidak dikabulkannya doa).”

Rasulullh bersabda , “Sesungguhnya Alah Maha baik dan Tidak akan menerima selain yang baik. SesungguhnyaAllah Subhanahuwata’ala telah memerintahkan orang-orang yang beriman sebagaimana perintah-Nya kepada para rasul. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik,dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mu’minun: 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman,makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Kemudian beliau  menceritakan tentang seseorang yang menempuh perjalanan jauh sampai kusut rambutnya dan berdebu pakaiannya. Dia menengadahkan kedua tangannya kelangit sambil berkata, ‘Wahai Rabbku! Wahai Rabbku! ’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari hal-hal yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)

 

Faktor Utama Terjatuh Dalam Riba

Banyak faktor yang menyebabkan orang-orang terjatuh ke dalam jerat riba. Di sini kami akan menyebutkan beberapa faktor yang paling pokok. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz t mengatakan,

“Yang sangat memprihatinkan adalah mayoritas orang—setelah Allah Subhanahuwata’la mengaruniakan dan melapangkan hartanya karena keutamaan-Nya serta menjadikan mereka kaya—justru tidak peduli terhadap pengamalan hukumhukum Islam. Mereka pun tidak merasa cukup dengan apa yang dikaruniakan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada mereka sehingga tidak membutuhkan segala sesuatu yang telah diharamkan-Nya. Perhatian mereka justru terhadap hal-hal yang bisa menghasilkan materi dengan cara apa pun, halal atau haram. Hal ini tidaklah terjadi selain karena lemahnya keimanan dan sedikitnya rasa takut mereka terhadap Allah ,sementara itu kecintaan terhadap harta telah memenuhi hati mereka. (Nashihah Hammah fiat-Tahdziriminal Mu’amalah ar-Ribawiyah, hlm. 10—11)

1. Lemahnya keimanan

Para pembaca yang budiman, kalau kita perhatikan, berbagai kemaksiatan tidaklah terjadi selain karena kelemahan atau ketiadaan iman dalam hati pelakunya. Oleh karena itu, Allah l di dalam banyak ayat dan Rasul-Nya di dalam hadits-hadits mengaitkan sebuah larangan atau perintah dengan iman. Iman inilah yang mendorong pemiliknya untuk melakukan kebaikan, dengan cara melaksanakan perintah atau meninggalkan larangan-Nya. Termasuk di antaranya adalah larangan Allah l terhadap riba, sebagaimana firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 278)

Allah Subhanahuwata’ala menjelaskan sikap yang mulia bagi para hamba-Nya karena keimanan mereka terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya, terkhusus hukum riba. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

“Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ

يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ

أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan Tangannya. Apabilati dak mampu, ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, dengan hatinya,dan itu adalah selemah lemah iman.” (HR. Muslim)

2. Tidak takut kepada Allah

Coba kita perhatikan ancaman-  ancaman Allah Subhanahuwata’la terhadap para pelaku riba yang tidak mau meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka Baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal didalamnya.” (al-Baqarah: 275)

Dia juga berfirman,

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

“Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak(pula) dianiaya.” (al-Baqarah: 279)

Ibnu Abbas berkata, “Akan dikatakan kepada orang yang memakan hasil riba nanti pada hari kiamat, ‘Ambillah pedangmu untuk bertempur!’ Kemudian beliau  membaca,

‘Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), ketahuilah bahwa Allah danRasul-Nya akan memerangimu’.” Beliau juga mengatakan, “Barang siapa tetap melakukan muamalah riba dan tidak meninggalkannya, wajib bagi imam (pemerintah) kaum muslimin untuk meminta tobatnya. Kalau dia mau meninggalkannya (itulah yang diharapkan), (jika tidak demikian) dia dihukum mati (oleh penguasa).” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/296)

Kesimpulannya, orang yang tidak memedulikan larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya dalam hal bermuamalah riba dengan berbagai sistemnya, berarti tidak ada rasa takut kepada Allah l di dalam hatinya.

3. Diperbudak oleh dunia Allah l dengan hikmah-Nya yang sempurna menciptakan manusia dengan salah satu tabiat jeleknya, yaitu rakus (tamak, serakah). Hal itu ujian dan cobaan bagi mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ,

لَوْ أَنَّ بِالْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ

لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ إِ التُّرَابُ وَيَتُوبُ

اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya anak Adam memiliki satu lembah yang berisi emas, sungguh dia akan berambisi memiliki dua lembah (yang berisi emas pula), dan tidak ada yang akan memenuhi mulutnya selain tanah. Akan tetapi, Allah l menerima tobat siapa saja dari hamba-Nya.”(Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas )

Rasulullah  juga mengabarkan bahwa ujian yang paling besar bagi umatnya adalah harta. Sabda beliau,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya, bagi setiap umat ada ujian (tersendiri), dan ujian bagi umatku adalah harta.” (HR. at-Tirmidzi dari Ka’b bin ‘Iyadh radhiyallahu anhu)

Asy-Syaikh Muhammad al-Imam menjelaskan, “Apabila kita perhatikan keadaan kaum muslimin (khususnya), niscaya kita akan mendapatkan fakta bahwa harta itu benar-benar menjadi ujian. Bagaimana tidak, kita menyaksikan orang yang telah diperbudak oleh harta mengumpulkannya dari mana saja, walaupun dengan cara haram, walaupun jalan untuk mendapatkan yang haram tersebut sangat sulit; seperti riba, suap, merampas, mencuri, menzalimi, khianat, bahkan kekafiran sekalipun. Padahal cara itu akan menghinakan mereka karena telah menjual kehormatan dan kebenaran. Bahkan, dengan sebab itu terjadilah peperangan dan pertumpahan darah, kehormatan terkorbankan, serta kalbu mereka terpenuhi oleh kedengkian, kebencian, dan permusuhan. Dengan sebab itu pula, terjadilah berbagai fitnah (gejolak) yang sangat besar, seperti pemberontakan, penggulingan kekuasaan,  dan penculikan. Dengan sebab itu pula, berubahlah ibadah kepada Allah l menjadi peribadahan terhadap harta.” (TahdzirulBasyarminUshuliasy-Syar, hlm. 94)

Itulah yang dikhawatirkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  atas umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda dalam hadits Amr bin Auf al- Anshari radhiyallahu anhu ,

فَوَاللهِ، مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى

أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ

كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا فَتُهْلِكَكُمْ

كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan akan menimpa kalian. Akan tetapi, aku khawatir akan dibukakan dunia kepada kalian sebagaimana telah dibukakan kepada orang-orang sebelum kalian. Lantas kalian berlomba-lomba(dengan menghalalkan berbagai cara) untuk mendapatkannya sebagaimana mereka telah berlomba-lomba mendapatkannya, hingga dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”( Muttafaqunalaih)

Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahuwata’ala dari berbagai hal yang menyelisihi syariat-Nya.

 

Upaya Menyelamatkan Diri dari Riba

1. Bertakwa kepada Allah ,  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Takwa adalah takut kepada Dzat Yang Mahamulia, beramal dengan wahyu, merasa cukup (qana’ah) dengan yang sedikit, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari akhir.” Oleh karena itu, bagaimanapun sulitnya urusan kita, dengan takwa akan datang jalan keluarnya, bukan dengan muamalah riba. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

Dengan sebab takwa pula, urusan kita menjadi mudah, sebagaimana janji Allah subhanahuwata’ala,

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Dengan sebab takwa, kita akan bisa memilah antara yang halal dan yang haram, sebagaimana firman-Nya,

إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا

“Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (alat pemilah).” (al-Anfal: 29)

Dengan sebab takwa pula, akibat yang baik pasti akan didapatkan olehmereka yang bertakwa, sebagaimana berita dari Allah Subhanahuwata’ala ,

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakandi(muka) bumi. Dan kesudahan (yangbaik) itu adalah bagi orang-orang yangbertakwa.” (al-Qashash: 83)

Oleh karena itu, Rasulullah menasihati kita untuk bertakwa dalam urusan harta pada khususnya. Dalam hadits Abi Sa’id al-Khudri z, Rasulullah bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ

فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا

وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ

كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (enak rasanya dan menyenangkan tatakala dipandang), dan sungguh Allah menjadikan kalian silih berganti atasnya. Kemudian Dia akan melihat bagaimana kalian akan beramal (dengan dunia itu).  Oleh karena itu, hati-hatilah kalian terhadap urusan dunia dan wanita, karen awal petaka yang menimpa Bani Israil adalah dalam hal wanita.”( HR.Muslim)

2. Kesabaran menghadapi problematika kehidupan Allah dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sempurna menjadikan dunia sebagai medan ujian dan cobaan.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al- Baqarah: 155)

3. Zuhuddanwara’ terhadap dunia Ibnul Qayyim  menukilkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak memberi manfaat di akhirat. Adapun wara’ adalah meninggalkan segala sesuatu yang engkau khawatirkan akan menyusahkan atau merugikan di akhirat.”(MadarijusSalikin, hlm. 283)

Allah mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang hakikat kehidupan dunia,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali‘Imran: 185)

Rasulullah bersabda,

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ، هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: وَاللهِ، يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ، هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟ فَيَقُولُ: وَاللهِ، يَا رَبِّ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Pada hari kiamat akan didatang kan seorang yang paling nikmat kehidupannya didunia dan dia termasuk calon penghuni neraka. Dia dicelupkan kedalam neraka dengan satu kali celupan lalu ditanya, ‘Wahai anak Adam apakah kamu pernah melihat kebaikan (walaupun sedikit)?Apakah pernah terlintas kenikmatan kepadamu(walaupun sedikit)?’ Dia menjawab,‘Tidak, demi Allah wahai Rabb!’Didatangkan pula seorang yang paling susah kehidupannya di dunia Dan dia termasuk calon penghuni surga. Dia dicelupkan sekali celupan didalam surga, lalu ditanya,‘Wahai anak Adam, pernahkah engkau merasakan kesusahan (walaupun sedikit)? Pernahkah engkau melewati kesulitan walaupun sedikit?’Dia menjawab,‘Tidak, demi Allah, tidak pernah lewat satu kesusahan pun dan aku tidak pernah merasakan suatu kesulitan’.” (HR. Muslim)

Tatkala menghadap Allah kelak, kita tidak membawa harta yang kita miliki di dunia. Harta justru bisa mempersulit kita ketika dimintai pertanggung jawaban di hadapan-Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan didunia itu).” (at-Takatsur: 8)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَ ثَالٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga pihak yang ikut mengantarkan jenazah: keluarga, harta, dan anaknya. Dua pihak akan kembali, dan yangs atu akan tinggal bersamanya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (Muttafaqun‘alaih dari Anas bin Malik )

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin t berkata, “Sabar terhadap hal-hal yang diharamkan oleh Allah maknanya adalah menahan diri dari segala sesuatu yang telah diharamkan-Nya.

Hal ini membutuhkan kesabaran karena jiwa itu cenderung kepada yang buruk, mengajak kepada hal-hal yang buruk pula. Oleh karena itu, seseorang harus berusaha menahan dirinya dari berdusta dan bermuamalah dengan memakan harta dengan cara yang batil, seperti riba atau lainnya, dan (menahan diri) dari perbuatan zina, minum khamr, mencuri, dan sebagainya.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/62-63)

4. Qana’ah

Qana’ah adalah seorang hamba menerima atau merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah l kepada dirinya. Rasulullah  memuji sifat yang mulia ini,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh bahagia orang yang masuk Islam dan dikaruniai rizeki yang cukup, sertaAllah l menjadikannya merasa cukup dengan apa yang Dia telahkaruniakankepadanya.”(HR. Muslim dari Ibnu Umar)

Dengan qana’ah, seorang muslim akan selamat dari perbudakan harta dan dunia. Dia akan selamat dari penyakit rakus dan serakah sehingga selamat dari berbagai jebakan dan jeratan riba.

5. Mencari rezeki yang halal dengan cara yang halal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk mencari rezeki dan keutamaan dari-Nya. Dia berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah, dan seringlah mengingat Allah supaya kamu beruntung.”(al-Jumu’ah: 10)

Dari al-Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu anhu , dari Nabi bersabda (yang artinya), “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil jerih payahnya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud senantiasa  makan darijerih payahnya sendiri.” (HR. al-Bukhari)

Cara ini akan memudahkan pertanggungjawaban seorang hamba di hadapan Allah l pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ

عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ،

وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ

جِسْمِهِ فِيمَ أَبْ هَالُ

“Tidak akan bergeser kedua telapak kakinya seorang hamba nanti pada Hari kiamat sampai  dia ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan,tentang ilmunya pada apa dia amalkan,tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia belanjakan, serta tentang badannya pada perkara apa dia pergunakan.” (HR. at-Tirmidzi)

6. Kepedulian dan bantuan orang-orang kaya Harta adalah nikmat dari Allah yang harus disyukuri. Di antara wujud rasa syukur seorang hamba yang diberi limpahan materi adalah membantu saudaranya dengan pinjaman tanpa riba. Allah l berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, serta jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,sesungguhnya Allah amat  berat siksa-Nya.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا

نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ،

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا

وَا خْآلِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا

وَا خْآلِرَةِ، وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ

فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barang siapa menghilangkan atau meringankan kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan dunia, niscaya Allah Subhanahuwata’ala akan menghilangkan atau meringankan kesusahannya nanti pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan urusan orang yang dalam kesulitan, niscaya Allah Subhanahuwata’ala akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan  barang siapa menutupi kekurangan seorang muslim, niscaya Allah Subhanahuwata’ala akan menutupi kekurangannya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut membantu saudaranya.” (HR. Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Rajab radhiyallahu anhu berkata, “Keringanan yang diberikan kepada orang yang tertimpa kesulitan terwujud dengan dua hal, (1) memberi kelonggaran waktu sampai mendapatkan kemudahan (untuk melunasinya) dan hal itu adalah wajib (hukumnya) sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jikakamumengetahui.”(al-Baqarah: 280)

(2) merelakan tanggungan tersebut darinya apabila dia adalah orang yang mengutangi. Kalau tidak demikian, dengan cara memberi sesuatu yang bisa digunakan untuk melunasi utangnya; dan keduanya adalah keutamaan yang agung.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/289)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Ada seorang pedagang yang suka memberikan pinjaman (utang)kepada orang lain.Apabila dia melihat ada orang yang kesulitan ( melunasi utangnya),dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Relakanlah tanggungannya, mudah mudahan Allahl mengampuni dosa dosa kita.’ Allah Subhanahuwata’ala pun mengampuni dosa-dosanya.” (Muttafaqun‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu )

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula (yang artinya), “Barang siapa memberi kelonggaran atau merelakan tanggungannya seorangyangdalam kesulitan, niscayaAllah l akan menaunginya dinaungan(Arsy-Nya) Pada hari yang tidak ada naungan selain naungan (Arsy-Nya).” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya), “Pada hari kiamat nanti, Allahl akan mendatangkan salah seorang hamba-Nyalalubertanya, ‘Apa  yang engkau amalkan karena-Ku ketika hidup di dunia?’Dia menjawab,‘Aku tidak beramal di dunia melainkan karena-Mu, wahai Rabb, walaupun sebiji sawi yang aku harapkan(pahala dengannya),’ dia mengucapkan tiga kali. Hamba tersebut akhirnya berkata,‘Wahai Rabb, sesungguhnya Engkau telah mengaruniakan harta yang banyak kepadaku dan akua dalah orang yang melakukan jual beli dengan orang-orang.Diantara akhlakku adalah suka merelakan (mengikhlaskan). Aku biasa memberi Kelonggaran orang yang kesulitan dan memberikan tangguh kepada orang yang dalam kesulitan.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Subhanahuwata’ala berfirman, “Aku lebih berhak untuk memberikan kemudahan, (maka) masuklah kesurga!” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akhirnya,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَ مُتَقَبَّل

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang Bermanfaat ,rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.”

Amin, ya Rabbal ‘alamin.

oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Tanya Jawab Ringkas Edisi 80

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Hukum Imunisasi

Apakah hukum imunisasi dalam Islam?
087863XXXXXX

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah memperbolehkannya.

Zikir Sambil Bekerja
Bagaimana tata cara zikir pagi dan petang? Apakah diperbolehkan zikir pagi sambil mencuci piring bagi muslimah karena kalau tidak segera mencuci piring orang tua akan marah?
085227XXXXXX

Bekerja sambil berzikir diperbolehkan dengan tetap berusaha konsentrasi.

Wanita Bersisir Setiap Hari
Bolehkah seorang wanita menyisir rambutnya setiap hari?
085725XXXXXX

Diperbolehkan, insya Allah.

Hukum Pakaian Muslim yang Bercorak
Apakah seorang muslim salafy tidak layak memakai gamis/jubah bermotif sehingga dianggap seperti mengikuti selera orang keumuman? Haruskah dia mengganti pakaiannya dengan warna yang polos ketika hendak shalat walaupun ia sedang bepergian?
085711XXXXXX

Mengenai warna gamis (laki-laki), yang terpenting tidak terdapat gambar makhluk bernyawa dan tidak menyerupai corak seperti wanita. Jika gamis dianggap masih terlalu asing di masyarakat, disarankan untuk menggunakan sarung atau pakaian lain yang syar’i, seperti sirwal (celana panjang yang lebar).

Belajar Bahasa Inggris
Bolehkah mempelajari bahasa Inggris dengan tujuan memanfaatkan teknologi saat ini? Bolehkah menggunakan HP berteknologi tinggi untuk mendapatkan informasi kajian? Mengingat dampak negatif dari teknologi sekarang begitu besar.
087793XXXXXX

Boleh mempelajari bahasa Inggris dan menggunakan HP yang canggih (ponsel pintar/smartphone) asal digunakan untuk tujuan syar’i atau mubah.

Doa Khusus Antartakbir pada Shalat ‘Id
Adakah doa khusus di antara takbir pada shalat ‘ld?
087839XXXXXX

Tidak ada doa khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keyakinan Aliran MTA
Apa benar keyakinan aliran MTA bahwa mereka tidak memercayai sihir dan orang yang sudah berada di neraka tidak bisa keluar lagi?
085647XXXXXX

Keyakinan tersebut salah. Tidak mempercayai sihir adalah keyakinan Mu’tazilah yang sesat. Memasuki neraka tidak keluar lagi meskipun muslim adalah keyakinan Khawarij yang sesat.

Hukum KB untuk Menunda Kehamilan
Bagaimana hukum KB untuk menunda kehamilan dan bukan untuk membatasi menurut syariat?
085327XXXXXX

KB dengan tujuan tersebut diperbolehkan apabila memang diperlukan, dengan tetap berusaha memperbanyak keturunan.

_______________________________________________________________________________________

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Sarbini

Menambal Gigi
Apa hukumnya menambal gigi?

Boleh.

Cairan yang Keluar dari Kemaluan Wanita Setelah Jima’
Cairan keluar dari kemaluan wanita beberapa menit setelah jima, padahal si wanita sudah mandi junub. Apakah si wanita harus mandi junub lagi untuk melakukan shalat?

Jika keluar tanpa disertai syahwat (nikmat), tidak mewajibkan mandi. Hal itu bukan janabah, melainkan hadats kecil yang mengharuskan wudhu.

Qadha Puasa Ramadhan Sehari Sebelum Ramadhan
Apa hukum berpuasa sebelum Ramadhan sehari atau dua hari, karena saya membayar puasa sebelas hari juga. Syukran.

Boleh apabila puasa itu berupa puasa qadha Ramadhan yang lalu. Lihat penjelasan lebih lengkap mengenai larangan puasa sunnah sehari atau dua hari sebelum Ramadhan pada buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

Anak dari Ayah/Ibu Tiri Mahram?
Bismillah. Ustadz, saya mau tanya. Si A (laki-laki duda) menikah dengan Si B (wanita janda). Sebelum menikah, masing-masing sudah mempunyai anak. Apakah anak laki-laki Si A dan anak perempuan Si B itu mahram?

Keduanya bukan mahram.

Masa Iddah Bagi Laki-Laki
Adakah masa ‘iddah bagi laki-laki?

Tidak ada.

Menalak Istri Karena Sering Kumat
Apa hukumnya menalak istri karena si istri sering kumat, karena dahulunya pernah kesurupan jin. Perlu diketahui, pernikahan mereka baru berjalan enam bulan. Sebelumnya, ketika ta’aruf lelaki tersebut sudah diberi tahu keadaan si wanita. Mohon penjelasan dan nasihatnya. Jazakumullah.

Jika Anda bisa bersabar bersamanya tanpa terkena mudarat, hal itu lebih baik, apalagi Anda sendiri yang memilihnya dalam keadaan tahu kondisinya. Namun, jika Anda tidak sanggup lagi bersabar dan butuh mencerainya, tidak mengapa insya Allah.

Menikahi Wanita yang Sedang Mengandung Anak dari Calon Suami
Apakah sah menikah pada saat wanita yang dinikahi mengandung anak dari calon suaminya ini?
Abu Abdillah—Kalbar

Tidak sah menurut pendapat yang rajih. Masalah ini telah kami rincikan dengan dalil-dalilnya pada “Problema Anda” edisi 26 dengan judul Status Anak Zina.

Perbedaan antara Riba dan Bukan
Bagaimana mengetahui sesuatu itu termasuk riba atau bukan?
0819XXXXXX

Apabila transaksi tersebut dilarang oleh syariat. Rinciannya terdapat pada Ahkamul Buyu’, Kitab Fiqh. Pernah pula dimuat sebagiannya di Majalah Asy-Syariah edisi 28.

Seragam Sekolah
Bagaimana hukumnya seragam TK di suatu lembaga pendidikan yang bermanhaj salaf?
08532XXXXXX

Afdal tanpa seragam karena tidak ada contoh dari salaf. Namun, apabila memang terpaksa harus menggunakannya, diperbolehkan dengan syarat:
1. Tidak ada gambar makhluk bernyawa,
2. Bukan pakaian yang tasyabuh dengan orang kafir (ciri khas mereka),
3. Menutup aurat,
4. Tidak ada unsur wala’ dan bara’ karenanya.
Lebih baik semua memakai jubah putih dan yang putri memakai jubah hitam lengkap dengan cadarnya. Waffaqakumullah.

Dipaksa Jima’ Saat Berpuasa Wajib
Jika saat berpuasa wajib saya dipaksa oleh suami untuk berhubungan padahal sudah menolak sehingga saya melakukannya dengan terpaksa, apakah saya wajib membayar kafarat atau tetap meneruskan puasa?
085733XXXXXX

Jika Anda memang dipaksa dan tidak ada pilihan lain karena tidak mampu melepaskan diri, puasa Anda tidak batal (tetap diteruskan) dan tidak ada kewajiban kafarat. Wallahu a’lam.

Shalat Penderita Skizofrenia
Apakah boleh seseorang meninggalkan shalat karena menderita penyakit jiwa/skizofrenia yang membuatnya terkadang sadar dan terkadang tidak?
085292XXXXXX

Saat ia tidak sadar, ia bukan mukallaf. Saat ia sadar, ia mukallaf yang terkena kewajiban shalat.