Di Balik Rumah Tangga Rasul (2)

Kesabaran yang luar biasa menghadapi tingkah istri, kelembutan tiada tara, tiada membalas kejelekan dengan kejelekan, keadilan, kesetiaan, tidak melupakan cinta dan kebaikan, dan sebagainya dari sifat-sifat keutamaan adalah perangai yang melekat erat pada diri Sang Rasul dalam posisi beliau sebagai seorang suami.

Alangkah indahnya penggambaran diri beliau sebagai pendamping hidup para wanita.

Kesabaran Menghadapi Istri

Tidak pernah diketahui ada suami yang paling sabar dan paling menahan diri dalam menghadapi kelakuan istri yang tidak semestinya daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal beliau adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya dan paling mulia derajatnya di sisi al-Khaliq dan di sisi para hamba.

Banyak kisah yang menjadi bukti akan hal ini, di antaranya berikut.

  1. Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkisah dengan panjang yang penggalannya sebagai berikut.

“Kami orang- orang Quraisy menguasai istri-istri kami[1]. Namun, ketika kami datang (ke Madinah) dan tinggal di kalangan orang-orang Anshar, kami dapatkan mereka itu dikalahkan istri-istri mereka. Mulailah istri-istri kami mengambil adab/kebiasaan wanita-wanita Anshar. Suatu hari, aku menghardik istriku dan bersuara keras padanya, ia pun menjawab dan membantahku. Aku mengingkari perbuatannya yang demikian.

“Mengapa engkau mengingkari apa yang kulakukan, sementara demi Allah, istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mendebat beliau, sampai-sampai salah seorang dari mereka memboikot beliau dari siang sampai malam,” kata istriku membela diri.

Berita itu mengejutkan aku, “Sungguh merugi orang yang melakukan hal itu dari mereka,” kataku kepada istriku. Lalu kukenakan pakaian lengkapku dan turun menemui Hafshah, putriku.

“Wahai Hafshah, apakah benar salah seorang kalian ada yang marah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari siang sampai malam?” tanyaku.

“Ya,” jawab Hafshah.

“Sungguh merugi yang melakukan hal itu,” tanggapku. “Apakah kalian merasa aman dari kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala karena kemarahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kamu pun binasa? Jangan kamu banyak menuntut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Jangan kamu mendebat beliau dalam satu perkara pun dan jangan memboikotnya. Minta saja kepadaku apa yang ingin kamu minta. Jangan tertipu dengan keberadaan madumu yang lebih cantik darimu dan lebih dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Yang dimaksud Umar radhiallahu ‘anhu adalah Aisyah radhiallahu ‘anhu…. (HR. al-Bukhari no. 4913, 5191 dan Muslim)

Lihatlah bagaimana Umar radhiallahu ‘anhu tersentak dengan berubahnya keadaan istrinya yang sekarang berani membantahnya. Namun, ternyata Umar radhiallahu ‘anhu dapati berita yang lebih membuatnya terkejut bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima sikap demikian dari istri-istri beliau.

Bagaimana halnya dengan diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri?

Ternyata beliau bersabar menghadapi sikap istri-istri beliau, menanggung kemarahan mereka, sampai-sampai mereka mendiamkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Masya Allah! Padahal siapakah beliau? Beliau bukan orang biasa, tapi seorang nabi yang sangat mulia dan imam yang agung.

Tidaklah beliau bersikap demikian kecuali karena besarnya sifat hilm[2] beliau dan kuatnya kesabaran beliau.

  1. Yang lebih mengagumkan lagi dari diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun istrinya menunjukkan kejengkelan terhadap beliau, namun beliau tetap lemah lembut kepada mereka. Seakan-akan mereka tidak berbuat salah. Aisyah radhiallahu ‘anha memberitakan,

قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ , وَ إِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى.قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذلِكَ؟ فَقَالَ: أَمَا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةٌ فَإِنَّكِ تَقُوْلِيْنَ: لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ. وَإِذَا كًنْتِ غَضْبَى قُلْتِ: لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيْمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ وَاللهِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Aku sungguh mengetahui kapan engkau ridha kepadaku dan kapan engkau marah kepadaku.”

Aisyah berkata, “Aku katakan, ‘Dari mana Anda tahu hal itu?’

“Jika engkau sedang ridha kepadaku, engkau akan berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Muhammad.’ Namun, jika engkau sedang marah kepadaku, engkau berkata, ‘Tidak! Demi Rabb Ibrahim,” jelas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kata Aisyah, “Benar, demi Allah, wahai Rasulullah! Yang aku tinggalkan tidak lain hanyalah sebutan namamu[3].” (HR. al-Bukhari no. 5228)

  1. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengisahkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumah salah seorang istri beliau. Lalu salah seorang ummahatul mukminin (istri beliau yang lain) mengirimkan sepiring makanan untuk beliau dengan diantar oleh seorang pelayan.

Istri yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di rumahnya tersebut memukul tangan si pelayan hingga jatuhlah piring yang berada di tangannya. Akibatnya piring tersebut pecah dan makanan yang ada di atasnya berceceran.

Mulailah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut berikut makanan yang berceceran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ibu kalian sedang cemburu.”

Kemudian beliau menahan pelayan tersebut agar tidak kembali hingga didatangkan kepadanya piring milik istri yang rumahnya sedang didiami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Piring yang masih bagus (utuh tidak pecah) tersebut diserahkan lewat si pelayan untuk istri yang piringnya dipecahkan sebagai ganti rugi. Piring yang pecah ditahan di rumah istri yang memecahkan.” (HR. al-Bukhari no. 5225) .

Lihatlah lagi sifat hilm Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istri beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diboikot seharian, tidak disebut namanya, salah seorang istrinya dengan sengaja memecahkan piring milik istri yang lain di hadapannya lantaran cemburu, lalu beliau sendiri yang mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berceceran, luar biasa!

Beliau hadapi semua itu dengan menahan diri, bersabar dan memaafkan, sementara beliau sangat bisa memarahi istri-istri beliau bahkan menceraikan mereka hingga Allah subhanahu wa ta’ala menggantikan untuk beliau dengan istri-istri yang lebih baik, seperti yang Allah subhanahu wa ta’ala janjikan dalam ayat,

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ مُسۡلِمَٰتٖ مُّؤۡمِنَٰتٖ قَٰنِتَٰتٖ تَٰٓئِبَٰتٍ عَٰبِدَٰتٖ سَٰٓئِحَٰتٖ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ٥

“Jika Nabi menceraikan kalian, Allah akan memberi ganti kepada beliau dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian; yang patuh tunduk berserah diri (kepada Allah), yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang ahli ibadah, yang gemar berpuasa, yang janda ataupun yang perawan.”[4] (at-Tahrim: 5)

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang sangat pengasih dan penyayang, suka memaafkan dan melupakan kesalahan yang diperbuat kepadanya. Tidak ada perbuatan tidak pantas yang ditujukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali menambah pada diri beliau sifat al-hilm.

Kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Kepada Cintanya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami yang setia dengan cintanya kepada istri-istrinya, tidak melupakan kebaikan mereka, terutama kepada Khadijah radhiallahu ‘anha, sampai-sampai membuat Aisyah radhiallahu ‘anha cemburu. Padahal Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat dan keduanya pun sebelumnya tidak pernah bersua. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ كَمَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ، لِكَثْرَةِ ذِكْرِ رَسُوْلِ اللهِ إِيَّاهَا وَثَنَائِهِ عَلَيْهِ.

“Tidak pernah aku cemburu kepada seorang pun dari istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terhadap Khadijah, karena beliau sering sekali menyebut dan memujinya.” (HR. al-Bukhari no. 5229 dan Muslim no. 6228, 6230)

Dengarkan ungkapan kecemburuan Aisyah radhiallahu ‘anha kepada Khadijah radhiallahu ‘anha,

كَأَنَّهَ لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلاَّ خَدِيْجَةُ؟ فَيَقُوْلُ: إِنَّهَا كَانَتْ وَكَانَتْ وَكَانَ لِي مِنْهَا وَلَدٌ.

“Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Khadijah itu begini dan begitu[5], dan aku mendapat anak darinya.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Sampai pun Khadijah radhiallahu ‘anha telah wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap terkenang kepadanya, kepada cinta dan pengorbanannya yang besar. Untuk menyambung ‘rasa’ tersebut, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat baik kepada sahabat-sahabat sang istri. Seperti kabar dari Aisyah radhiallahu ‘anha,

وَرُبَّمَا ذَبَحَ الشَّاةَ ثُمَّ يُقَطِّعُهَا أَعْضَاءً ثُمَّ يَبْعَثُهَا فِي صَدَائِقِ خَدِيْجَةَ

“Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kambing kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu mengirimnya kepada teman-teman Khadijah.” (HR. al-Bukhari no. 3818)

Dalam riwayat Muslim, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

أَرْسِلُوْا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيْجَةَ. قَالَتْ: فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ: خَدِيْجَة؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ :إِنِّي قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا

“Kirimkanlah daging-daging ini kepada para sahabat Khadijah.”

Kata Aisyah, “Suatu hari aku marah kepada Rasulullah, aku berkata, “(Lagi-lagi) Khadijah?”

Rasulullah menjawab, “Sungguh, aku dianugerahi cintanya.” (HR. Muslim no. 6228)

Kenangan terhadap Khadijah radhiallahu ‘anha pun sempat tergugah manakala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar suara Halah radhiallahu ‘anha saudari Khadijah. Lagi-lagi Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai penyampai ilmunya[6], “Halah bintu Khuwailid, saudari Khadijah, minta izin masuk ke kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam teringat dengan suara Khadijah saat minta izin (dahulu).

Beliau pun bergembira dengan kedatangan Halah. ‘Ya Allah, Halah bintu Khuwailid,’ seru beliau.” (HR. Muslim no. 6232)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senang dengan kunjungan Halah ke tempat beliau karena membuka kembali kenangan bersama Khadijah dan hari-hari indah yang dahulu dilalui bersamanya. Hal ini merupakan bukti penjagaan cinta (kesetiaan). Demikian keterangan an-Nawawi rahimahullah. (al-Minhaj, 15/198)

Contoh bukti kesetiaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berikutnya. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat takhyir,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ قُل لِّأَزۡوَٰجِكَ إِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيۡنَ أُمَتِّعۡكُنَّ وَأُسَرِّحۡكُنَّ سَرَاحٗا جَمِيلٗا ٢٨ وَإِن كُنتُنَّ تُرِدۡنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ فَإِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلۡمُحۡسِنَٰتِ مِنكُنَّ أَجۡرًا عَظِيمٗا ٢٩

Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah aku berikan mut’ah[7] untuk kalian dan aku ceraikan kalian dengan cara baik-baik. Dan jika kalian menghendaki keridhaan Allah dan Rasul-Nya serta kesenangan di negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian pahala yang besar.” (al-Ahzab: 28—29)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Aisyah radhiallahu ‘anha untuk menawarkan pilihan yang disebutkan dalam ayat di atas. Aisyah radhiallahu ‘anha-lah istri beliau yang paling awal beliau berikan pilihan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah radhiallahu ‘anha,

إِنِّي ذَاكِرٌ لَكِ أَمْرًا فَلاَ عَلَيْكِ أَنْ لاَ تَسْتَعْجِلِي حَتَّى تَسْتَأْمِرِي أَبَوَيكِ

“Aku akan menyebutkan kepadamu satu urusan. Namun, janganlah engkau terburu-buru memutuskan sampaikan engkau mengajak musyawarah kedua orang tuamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan Aisyah radhiallahu ‘anha untuk bermusyawarah dengan kedua orang tuanya, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Ummu Ruman radhiallahu ‘anha, karena beliau meyakini bahwa kedua orang tua Aisyah radhiallahu ‘anha tidak mungkin menyuruh putrinya untuk memilih berpisah (bercerai) dari beliau. (HR. al-Bukhari, kitab ath-Thalaq, bab ke-6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya kepada sang istri,

إِنَّ اللهَ قَالَ: يآ أَيُّهَا النَّبِيُّ قلْ لِأَزْوَاجِكَإِلَى تَمَامِ الْآيَتَيْنِ. فَقُلْتُ لَهُ: فَفِي أَي هذا أَسْتَأْمر أَبَوَيَّ؟ فَإِنِّي أُرِيْدُ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ وَ الدَّارَ الآخِرَةَ

Sungguh Allah telah menurunkan firman-Nya, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu….” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan dua ayat sampai sempurna.

Aku (Aisyah) katakan kepada beliau, “Apakah dalam urusan seperti ini aku perlu mengajak musyawarah kedua orang tuaku? Sungguh, aku menginginkan (memilih) Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.” (HR. al-Bukhari no. 4785) (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 6/243, karya al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dan ash-Shahihul Musnad min Asbab an-Nuzul, hlm. 164, karya asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah)

Ternyata Aisyah radhiallahu ‘anha bukanlah wanita yang mengejar kesenangan yang fana. Lihatlah pilihannya, “Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat.”

Setelah beroleh keputusan Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada istri-istri beliau yang lain. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,

إِنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَذَا وَكَذَا. فَقُلْنَ: وَنَحْنُ نَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ كُلُهُنَّ

“Sungguh, Aisyah mengatakan ini dan itu….”

Para istri yang lain semuanya mengatakan kepada beliau, “Kami mengucapkan sebagaimana ucapan Aisyah.”

Padahal sebelumnya Aisyah radhiallahu ‘anha berpesan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، لاَ تُخْبِرْ أَزْوَاجَكَ أَنِّي اخْتَرْتُكَ

“Wahai Rasulullah, jangan beri tahu kepada istri-istrimu bahwa aku memilihmu.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

إِنَّمَا بَعَثَنِيَ اللهُ مُبَلِّغًا وَلَمْ يَبْعَثْنِي مُتَعَنِّتًا

“Aku diutus Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah sebagai muballigh (penyampai) dan tidaklah aku diutus sebagai orang yang menyengsarakan.” (HR. al-Bukhari no. 5191 dan Muslim)

Semua istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kecuali memilih Allah, Rasul-Nya, dan negeri akhirat. Hal ini menunjukkan bahwa didikan akhlak nubuwwah telah tertanam dalam sanubari mereka.

Mereka memilih sebagaimana pilihan sang Rasul untuk hidup zuhud dalam kehidupan dunia dan hanya berambisi meraih kebahagiaan di negeri yang kekal abadi. (Taisir al-Karim ar-Rahman, karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah, hlm. 663)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Istri-istri mereka tidak berani melawan atau membantah suami.

[2] Hilm, kurang lebihnya kita maknakan sangat penyabar, tidak bertindak dengan emosi dan serampangan, namun tetap tenang dalam bersikap dan dalam mengambil keputusan atau tindakan. Dalam at-Ta’rifat, karya al-Jurjani al-Hanafi, disebutkan makna al-hilm adalah tetap tenang saat bergejolaknya kemarahan. Disebut pula bahwa al-hilm adalah menunda memberi balasan orang yang berbuat zalim. (hlm. 96)

[3] Kata Ibnul Munayyir, “Yang dimaukan Aisyah radhiallahu ‘anha adalah dia meninggalkan penyebutan nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam secara lafadz (tidak mau menyebut nama beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sedang marah, namun kalbu Aisyah radhiallahu ‘anha tetap saja dipenuhi cinta kepada beliau radhiallahu ‘anha) dan tidak mengosongkan kalbunya dari rasa cinta dan kasih kepada diri beliau yang mulia.” (Fathul Bari, 9/405)

[4] Tatkala istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ancaman dan peringatan dalam ayat ini, mereka bersegera membuat ridha Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat cocok diterapkan pada diri mereka. Jadilah mereka wanita-wanita mukmin yang paling utama. Ini merupakan dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah memilihkan untuk Rasul-Nya kecuali keadaan yang paling sempurna dan perkara yang paling tinggi. Ketika Allah subhanahu wa ta’ala memilih untuk Rasul-Nya agar tetap menahan istri-istri beliau yang disebutkan dalam ayat (tidak menceraikan mereka), hal ini menunjukkan mereka adalah sebaik-baik wanita dan paling sempurna. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 874)

[5] Yakni Khadijah radhiallahu ‘anha itu wanita yang memiliki keutamaan, wanita yang cerdas dan semisalnya. Dalam riwayat al-Imam Ahmad dari hadits Masruq dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku. Dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku. Dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah subhanahu wa ta’ala memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain.” (Fathul Bari, 7/170)

[6] Aisyah radhiallahu ‘anha adalah wanita cerdas yang faqih yang terlahir dari madrasah nubuwah. Beliau banyak mendengarkan hadits dan meriwayatkannya dari suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup berdampingan sebagai istri sang Rasul benar-benar digunakan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari beliau. Aisyah radhiallahu ‘anha terdepan dalam hal keilmuan dibanding para istri beliau yang lain, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya. Lebih dari itu, Aisyah radhiallahu ‘anha bahkan termasuk dari kalangan sahabat Rasul yang banyak menyampaikan hadits beliau.

Tentu untuk urusan dalam rumah sang Rasul, urusan beliau dengan istri-istrinya, kita dapati kabarnya dari orang dalam rumah beliau, yakni para istri beliau. Aisyah yang paling banyak menyampaikan ilmunya kepada kita. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai al-Humaira radhiallahu ‘anha.

[7] Mut’ah adalah pemberian sesuatu atau materi untuk menyenangkan istri yang dicerai.

Di Balik Rumah Tangga Rasul

Kisah-kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di luar rumah beliau, sebagai pengajar dan pembimbing umat, pemimpin kaum muslimin dan panglima tertinggi dalam jihad fi sabilillah, sangat sering dibicarakan. Sementara itu, ada sisi lain kehidupan manusia paling mulia tersebut yang tidak kalah pentingnya. Apakah sisi lain tersebut?

Lanjutkan membaca Di Balik Rumah Tangga Rasul

Pemimpin Rumah Tangga yang Dirahmati

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam menegakkan shalat malam, lalu ia membangunkan istrinya hingga sang istri shalat. Apabila sang istri enggan, ia percikkan (usapkan) air ke wajahnya. Sungguh, Allah subhanahu wa ta’ala juga merahmati seorang istri yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia membangunkan suaminya. Apabila sang suami enggan, ia usapkan air ke wajah suaminya.”

 

Takhrij Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan Abu Dawud, di dua tempat dalam kitabnya as-Sunan.

  1. Dalam kitab at-Tathawwu’ bab “Qiyamul Lail” (Kitab Shalat Sunnah bab “Shalat Malam”) no. 1308.
  2. Dalam kitab al-Witr bab “al-Hats ‘ala Qiyamil Lail” (Kitab Shalat Witir bab “Anjuran Shalat Malam”) no. 1450, melalui jalan gurunya Muhammad bin Basyar dari Yahya bin Sa’id al-Qaththan dari Ibnu ‘Ajlan dari al-Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan Ibnu Qaththan ini, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad (2/250), Ibnu Majah rahimahullah no. 1336, an-Nasai rahimahullah (3/205), Ibnu Khuzaimah rahimahullah no. 1148, Ibnu Hibban rahimahullah no. 2567, al-Hakim rahimahullah (1/309), dan al-Baihaqi rahimahullah (2/501).

Al-Mundziri rahimahullah berkata, “… Dalam sanadnya ada Muhammad bin ‘Ajlan, ia dinyatakan tsiqah (tepercaya) oleh al-Imam Ahmad, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim ar-Razi, al-Bukhari menjadikannya sebagai syahid (penguat), al-Imam Muslim mengeluarkan haditsnya dalam mutaba’at (sebagai penguat), dan sebagian ulama lain membicarakannya.”[1]

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih Sunan Abu Dawud (no. 1181).

 

Di Antara Sifat Suami Dambaan

Setiap insan berharap akan hadirnya pendamping hidup. Bagi seorang muslimah, sebelum datangnya peminang, pasti di benaknya terbayang pertanyaan sekaligus harapan tentang sifat-sifat suami ideal yang akan menjadi penyejuk hatinya.

Hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang taat selalu memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala pendamping yang menyejukkan hati itu, sebagaimana dalam doa yang selalu mereka panjatkan,

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri (pasangan hidup) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan: Bagaimanakah suami ideal yang diharapkan menjadi pendamping yang menyejukkan hati?

Dia adalah suami yang selalu mengajak istrinya menaati Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana sebaliknya, istri yang ideal dan menyejukkan pandangan mata adalah istri yang terus membantu dan mengajak sang suami menaati Allah subhanahu wa ta’ala. Suasana bantu-membantu di atas ketakwaan menjadi salah satu asas bagi suami dalam membangun rumah tangganya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala firmankan,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Apa yang digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah contoh dari figur pendamping yang baik. Setiap yang membaca hadits ini tentu tertegun dan berdecak kagum menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Betapa indahnya seandainya suasana ini terwujud dalam rumah tangga kita semua. Semoga.

Lihat apa yang dilakukan sang suami! Di tengah gulitanya malam ia terjaga. Tangannya segera meraih air wudhu, berdiri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, membaca ayat demi ayat al-Qur’an. Setelah tenggelam dalam lautan munajat di tengah keheningan, suami yang saleh itu tidak mencukupkan kebaikan hanya untuk dirinya, dia bangunkan sang istri hingga menyusulnya beribadah. Saat sang istri enggan, usapan air kasih sayang mengenai wajahnya, hingga sang istri pun terbangun mengikuti jejak suaminya.

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bila sang istri enggan, ia percikkan air ke wajahnya.”

Al-Imam Ahmad rahimahullah di dalam Musnad (2/247) menukilkan ucapan Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah tentang makna hadits. Sufyan rahimahullah berkata,

“Bukan (tidak harus) dipercikkan air ke wajahnya, namun diusapkan.”

Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah menerangkan, “Maksud perkataan Sufyan adalah menafsirkan kata النَّضْحُ dalam hadits ini. Pada asalnya kata النَّضْحُ bermakna memercikkan air, namun Sufyan ingin menjelaskan bahwa dalam konteks hadits ini bukan itu yang dimaksud. Sebab, percikan mungkin saja akan mengganggu seorang yang tidur dan membangunkannya dalam keadaan terkejut. Akan tetapi, maksudnya ialah mengusap dengan air, sebagai bentuk kelembutan bagi orang yang tidur dan penyemangat dari rasa malas.” Allahu a’lam.

Suami yang demikian sungguh besar pahala yang dia raih. Banyak sisi kebaikan untuknya sebagaimana ditunjukkan oleh hadits tersebut.

  1. Allah subhanahu wa ta’ala merahmati dirinya sebagaimana dalam hadits ini,

“Allah subhanahu wa ta’ala merahmati seorang suami yang bangun malam untuk mengerjakan shalat malam lalu ia bangunkan istrinya, hingga sang istri shalat. Bila sang istri enggan, ia usapkan air ke wajahnya.”

  1. Ketika dia mengajak sang istri berbuat taat, ia pun akan memperoleh pahala istri yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala istrinya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barang siapa memberikan contoh yang baik dalam Islam, dia mendapat pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelah dirinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

  1. Allah subhanahu wa ta’ala akan mencatat mereka berdua, suami dan istri, sebagai hamba-hamba- Nya yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang bangun di waktu malam lalu ia bangunkan istrinya kemudian keduanya shalat dua rakaat, niscaya keduanya akan dicatat sebagai orang yang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

 

Jagalah Diri Kalian dan Keluarga Kalian dari Api Neraka

Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang demikian agung ini juga mengingatkan kita akan sebuah tugas yang Allah subhanahu wa ta’ala embankan atas orang-orang yang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Jika shalat sunnah saja sang suami demikian bersemangat membangunkan sang istri, tentu dalam perkara yang wajib suami yang saleh lebih bersemangat dalam membimbing keluarganya.

Suami yang menyejukkan hati tidak kenal putus asa dalam mengajari keluarganya tauhid, dan memperingatkan mereka dari kesyirikan, terus membimbing mereka untuk mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat-Nya, serta membimbing keluarganya untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hak-hak beliau.

Semua itu dia lakukan dengan penuh kesabaran dan semangat sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dalam firman-Nya,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (Thaha: 132)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

 

Rumah dalam Pandangan Suami Ideal

Pelajaran lain yang dapat kita ambil dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sebagai sebuah faedah besar yang tidak boleh luput dari perhatian: Suami yang saleh adalah yang memiliki pandangan bahwa rumah bukan sekadar tempat menunaikan hajat makan, minum, beristirahat, bersenang-senang dengan keluarga, atau memenuhi kebutuhan biologis.

Bukan ini tujuan utama seorang suami saleh membangun keluarga dan menempati sebuah rumah tempat tinggal dan memimpin rumah tangga. Suami yang saleh adalah sosok yang memimpin keluarganya untuk bersama-sama memandang bahwa rumah ialah tempat menabur benih-benih kebaikan guna menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Suami yang ideal selalu berupaya menjadikan rumahnya penuh dengan suasana ibadah, tarbiyah (pendidikan) di atas manhaj nubuwwah untuk keluarganya, sebagaimana tampak dalam hadits di atas. Sang suami dengan penuh kasih sayang membangunkan sang istri untuk bangun malam, shalat tahajud, bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Jika sang istri enggan usapan kasih pun mengusap wajah sang istri dengan air sejuk, hingga terbangun untuk berdiri di hadapan Rabbul ‘alamin.

Banyak sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan akan hal ini, yakni seorang suami harus memandang rumah bukan sekadar tempat berteduh dan menunaikan beragam hajat, namun di antara yang terpenting bagaimana mewujudkan suasana ibadah dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam rumah dan keluarganya.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan-kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat al-Baqarah.” ( HR. Muslim [1/539] no. 780)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bacalah surat al-Baqarah karena sungguh mengambilnya adalah berkah dan meninggalkannya adalah kerugian, dan tukang-tukang sihir tidak mampu menghadapinya.” (HR. Muslim no. 804)

Dua hadits di atas adalah bimbingan kepada kita agar tidak menjadikan rumah seperti pekuburan, tidak ada shalat[2], tidak ada bacaan al-Qur’an dan zikir. Namun, hendaknya rumah dimakmurkan dengan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Di samping memakmurkan rumah dengan zikir dan shalat sunnah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan agar para suami membersihkan rumah-rumahnya dari perkara yang memalingkan dari zikir dan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti patung dan gambar-gambar makhluk bernyawa, juga alat-alat musik serta media-media yang menjadi sebab kerusakan dan berpalingnya seorang dan keluarganya dari jalan Allah subhanahu wa ta’ala.agi kaum lelaki, memakmurkan

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Ummul Mukminin, beliau pernah membeli numraqah berhiaskan gambar-gambar, maka ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau berdiri di depan pintu dan tidak berkenan masuk ke dalam rumah. Aisyah menangkap ketidaksukaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tampak dalam wajahnya.

Aku pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku bertobat kepada Allah dan Rasul- Nya, dosa apa yang aku lakukan?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Mengapa ada numraqah (bergambar) ini, apa yang dimaukan?’

Aku berkata, ‘Aku membelinya agar engkau duduk di atasnya.’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya para pembuat gambar-gambar ini pada hari kiamat akan disiksa, dikatakan padanya: Hidupkanlah apa yang dahulu kalian buat (berupa patung dan gambar makhluk bernyawa, -pen.).’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Sesungguhnya rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar tidak akan dimasuki malaikat’.” (HR. al-Bukhari no. 2105)

 

Suasana Ibadah di Rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan tentang sepasang suami istri yang Allah subhanahu wa ta’ala rahmati, beliau amalkan pula bersama ummahatul mukminin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak cukupkan ibadah untuk diri beliau sendiri, namun beliau bangunkan keluarganya agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah bercerita tentang kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat malam sementara Aisyah tidur melintang di hadapan beliau. Apabila tersisa shalat witir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah, hingga Aisyah menunaikan witir.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam sebagian riwayat Muslim dikatakan,

“Dan apabila tersisa shalat witir beliau bersabda, ‘Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah’.”

Aisyah radhiallahu ‘anha juga bercerita tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan beliau kencangkan ikat pinggang, beliau hidupkan malamnya dan beliau bangunkan keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Suatu malam Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha, salah seorang ummahatul mukminin shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun telah berumur, gemuk serta berat badannya, beliau terus bersemangat beribadah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di pagi harinya Saudah berkata,

“Wahai Rasulullah, semalam aku shalat di belakangmu, aku rukuk bersama rukukmu (yang cukup panjang, -pen.) hingga aku pegang hidungku, khawatir seandainya darah menetes dari hidungku!” (karena beratnya tubuh Saudah, -pen.).

Mendengar perkataan Saudah, sang istri, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. Kisah ini diriwayatkan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/54), perawi-perawinya tsiqah, hanya saja hadits ini mursal.

Allahu Akbar, suasana ibadah dan kasih sayang demikian tampak dalam kisah ini. Tawa Rasul pun memecah keheningan, menghangatkan suasana keluarga beliau yang penuh dengan berkah.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang husna (Mahaindah), dan sifat-sifat-Mu yang Mahaagung, mudahkanlah kami meneladani Nabi-Mu. Mudahkanlah kami menapakkan kedua kaki yang penuh dengan dosa ini ke dalam jannah-Mu, menatap Wajah-Mu yang mulia, dan berjumpa dengan khalil-Mu, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Faedah-Faedah Hadits

  1. Siapa pun yang mendapatkan kebaikan hendaknya senang apabila kebaikan itu juga diperoleh saudaranya, lebih-lebih orang yang sangat dekat dengannya, seperti istri dan anakanaknya.
  2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk mengerjakan shalat malam.
  3. Anjuran agar suami istri saling membantu dalam mengerjakan shalat malam. Sampai-sampai sang istri boleh menggunakan cara terbaik untuk itu, yaitu dengan mengusapkan air ke wajah suaminya, demikian pula sebaliknya.
  4. Dikhususkan penyebutan wajah, karena wajahlah bagian yang sangat peka sehingga lebih mudah untuk terbangun.
  5. Disebutkannya air dalam hadits dalam membangunkan tidak berarti harus dengan air, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan Aisyah radhiallahu ‘anha dengan perkataan beliau,
  6. “Bangunlah engkau dan shalat witirlah, wahai Aisyah!”
  7. Intinya, baik suami maupun istri berupaya membangunkan pasangan hidupnya dengan penuh kelembutan, dengan cara yang baik dan diridhai.
  8. Hadits ini menetapkan sifat rahmat bagi Allah subhanahu wa ta’ala, dan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati hamba-Nya.
  9. Keutamaan shalat malam sebagai sebab rahmat Allah subhanahu wa ta’ala.
  10. Disyariatkan mewujudkan suasana ibadah dalam rumah tangga, lebihlebih atas seorang suami yang memiliki tanggung jawab lebih atas istrinya
  11. Hadits ini menunjukkan bahwa syariat untuk kaum laki-laki pada asalnya juga berlaku untuk kaum wanita selama tidak ada dalil yang membedakan keduanya.
  12. Islam tidak mengajari umatnya untuk shalat semalam suntuk, tetapi mengajarkan keseimbangan.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc


 

[1] Seperti perkataan al-‘Uqaili, “Yadhtharibu fi Haditsi Nafi’ (Dia goncang dalam hadits Nafi’).”

[2] Bagi kaum lelaki, memakmurkan rumah dengan shalat tentulah yang dimaksud shalat sunnah. Adapun shalat lima waktu, kaum lelaki wajib menunaikannya berjamaah di masjid. Allahu a’lam.

Suami, Jauhi Perangai Ini!

Amarah bis suu’ adalah salah satu predikat yang nyata tersematkan pada jiwa manusia. Ammarah bis suu’ dimaknakan dengan sifat yang selalu mengajak, mendorong, dan menggoda untuk bertindak jelek, melakukan dosa, dan “menikmati” hawa nafsu. Seperti itulah watak asli seorang manusia! Seperti itulah Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang jiwa kita! Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Dalam konteks sederhana hidup Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai berumah tangga, ditemukan banyak kesalahan dan keburukan dalam perangai seorang suami. Menurut syariat, hal-hal tersebut dilarang karena akan merusak keharmonisan rumah tangga yang berujung pada ketidaknyamanan dalam realisasi ibadah.

Nah, sebagai seorang suami yang ideal, ada baiknya Anda mengenali perilaku-perilaku “terlarang” berikut ini lalu menjauhinya agar Anda menjadi sosok yang dicintai, selalu dirindukan dan disayang oleh istri.

Barangkali saja, istri Anda terlihat kurang mengasihi dan mencintai Anda karena ada perilaku “terlarang” yang ada pada diri Anda. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).

 

  1. Kurang Memerhatikan Hak-Hak Istri

Inilah dosa terbesar seorang suami kepada istrinya! Amanat pernikahan yang dititipkan di pundaknya diabaikan begitu saja. Seringkali seorang suami melupakan hak-hak istri karena ia hanya mengejar istrinya agar menunaikan kewajiban-kewajibannya. Tidak jarang konflik keluarga, bahkan perceraian, terjadi karena sang istri tidak tertunaikan hak-haknya dengan baik.

Padahal secara tegas Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kaum suami tentang hal ini dalam firman-Nya,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228)

Kenyataannya, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang hak-hak istrinya. Jika Anda ditanya, “Apa saja hak-hak istri yang harus Anda berikan?” kira-kira apa jawaban Anda? Tidak usah malu, tidak perlu sungkan untuk bertanya. Pelajarilah hukum-hukum agama tentang hak-hak istri. Janganlah rasa malu dan gengsi membuat kita terjatuh dalam sebuah dosa; kurang memerhatikan hak-hak istri.

Lihat saja semangat para sahabat dalam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Al-Imam Abu Dawud rahimahullah (no. 2141) meriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa saja hak-hak seorang istri yang mesti dipenuhi oleh suaminya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Engkau beri makan istrimu jika engkau makan. Engkau beri pakaian istrimu jika engkau berpakaian. Jangan pukul wajahnya. Jangan menjelek-jelekkannya. Jangan engkau diamkan istrimu kecuali di dalam rumah.”

Apakah sebatas ini saja hak-hak istri? Tidak. Masih banyak lagi hak-hak istri yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang lain. Apakah Anda telah memahami hak-hak istri secara lengkap dan utuh? Jika belum, mengapa tidak bersegera mempelajarinya? Bukankah rumah tangga yang harmonis adalah cita-cita kita semua? Jika memang demikian, tunaikanlah hak-hak istri Anda! Barakallahu fikum.

 

  1. Pemarah

Pasti Anda pernah marah kepada istri, bukan? Sejatinya, marah kepada istri sah-sah saja asalkan memiliki alasan yang tepat, cara yang benar, dan waktu yang pas. Maksudnya, marah janganlah dijadikan sebagai karakter sehari-hari ketika bersama istri.

Anda belum bisa dikategorikan suami ideal jika sering marah tanpa sebab yang jelas, melontarkan kata-kata kasar ketika marah, atau marah di sembarang waktu. Ingat, seorang wanita cenderung menyimpan luka di hati dibanding harus membalas kemarahan suami. Sudah berapa banyak luka yang Anda goreskan di hati istri?

Di mata seorang istri, suami yang mampu mengendalikan amarah sangatlah spesial. Sikap lembut dan kasih jauh lebih menghunjam dan menyentuh hati istri dibandingkan dengan dimarahi dengan kata-kata kasar, walaupun istri memang merasa bersalah.

Cobalah Anda merenungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

“Orang yang disebut kuat itu bukan karena mampu mengalahkan lawannya (dengan kekuatan fisik). Orang kuat itu sejatinya adalah yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Alangkah banyak problem rumah tangga yang berawal dari marah yang tak terkendali. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak-anak yang broken home, bahkan kasus perceraian, seringnya disebabkan marah yang tak terkendali. Betapa sering seorang suami mengancam istrinya untuk dicerai dengan kata dan nada yang kasar!

Memang, benar sekali kalimat bijak dari seorang sahabat Nabi, ”Aku renungkan hadits ini. Ternyata sikap marah itu menghimpun seluruh bentuk keburukan!”

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu sedang istirahat di rumah salah seorang istri beliau. Tiba-tiba seorang pelayan suruhan dari istri beliau yang lain datang sambil membawa talam berisi makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Langsung saja istri beliau yang berada di samping Nabi memukul tangan pelayan tersebut sehingga talam yang dibawanya jatuh dan pecah. Apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam marah?

Beliau ternyata malah mengumpulkan pecahan-pecahan talam tersebut. Beliau juga mengumpulkan makanan yang jatuh berserakan sambil bersabda,

“Ibunda kalian cemburu rupanya.” (HR. al-Bukhari no. 5225 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menahan si pelayan tersebut kemudian memberikan talam yang masih utuh milik istri beliau yang sedang cemburu sebagai pengganti. Adapun talam yang pecah disimpan di rumah istri beliau yang memecahkannya.

Subhanallah! Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meneladankan untuk kita, wahai kaum suami. Masih berniat marah kepada istri?

 

  1. Egois

Egois artinya selalu mementingkan diri sendiri. Egois adalah penyakit yang sering dialami oleh kaum suami di dalam lingkup sebuah rumah tangga. Barangkali faktor penyebab yang terbesar adalah kesan bahwa suami harus serbabisa, serba lebih baik, dan serba powerful. Padahal, rumah tangga semestinya dibangun di atas asas saling pengertian, saling memaklumi, saling mengisi, dan saling menyempurnakan.

Masih ingat dengan Perjanjian Hudaibiyah? Setelah gagal melaksanakan umrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekitar 1.400 orang sahabat membuat kesepakatan dengan kaum kafir Quraisy di daerah Hudaibiyah. Seusai perjanjian tersebut ditulis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan hadyu dan mencukur rambut. Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang bangkit melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun perintah itu diulang sampai tiga kali, tetap saja para sahabat diam.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk ke dalam tenda Ibunda Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Kepadanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Apa saran dan gagasan Ibunda Ummu Salamah?

“Wahai Nabiyullah, apakah Anda menginginkan hal itu? Silahkan Anda keluar kembali. Jangan Anda berbicara sepatah kata pun kepada seorang pun. Anda lakukan itu sampai Anda menyembelih sendiri unta Anda dan Anda memanggil tukang cukur agar ia mencukur Anda.” (HR. al-Bukhari no. 2731)

Inilah sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Seorang suami yang tidak sungkan untuk bermusyawarah, berbagi cerita dengan istrinya. Adakah suami yang lebih baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Lihatlah sosok suami seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau bermusyawarah dengan istrinya.

Setelah itu apa yang terjadi? Melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dan mencukur rambut, langsung saja para sahabat bergegas untuk menyembelih dan mencukur rambut mereka.

Wahai suami ideal, buanglah jauh-jauh sifat egois dari diri kita! Istri kita pun memiliki harapan yang sama dengan harapan kita. Kebaikan dan “kesempurnaan” apa pun yang kita impikan dari istri, ingat-ingatlah bahwa istri pun mendambakan yang sama.

Cukuplah sebagai pelajaran penting untuk kita, sentuhan penuh kasih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di dalam pernyataan beliau,

“Sungguh, aku semangat sekali berhias untuk istriku, sebagaimana halnya aku pun ingin istriku berdandan untukku. Sebab, Allah Yang Mahatinggi sebutan-Nya berfirman, ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf’.” (al-Baqarah: 228) (Tafsir ath-Thabari)

Nasihat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas bukan hanya dalam hal berpakaian! Nasihat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas hanyalah salah satu bentuk realisasi ayat yang beliau baca. Maknanya, janganlah bersikap egois! Berikanlah hak-hak istri Anda sebagaimana Anda ingin hak-hak Anda dipenuhi oleh istri Anda.

Andai saja perangai “terlarang” ini mampu kita jauhkan sejauh-jauhnya dari rumah tangga, berharaplah dan tersenyumlah sebab sakinah, mawaddah, dan rahmah akan bertaburan di setiap sentimeter rumah Anda, insya Allah.

Semoga doa-doa penuh harap dari seluruh istri di atas muka bumi agar suaminya menjadi suami ideal, selaras, dan serasi dengan doa-doa para suami,

“Ya Allah, bantulah aku dan mudahkanlah aku untuk menjadi seorang suami yang saleh, ideal, dan istimewa untuk istriku.”

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

 

Peran Istri Mewujudkan Suami Ideal

Percaya atau tidak, kenyataannya memang demikian. Istri salihah adalah unsur penting dan salah satu komponen utama untuk menjadi suami ideal. Ibarat dua sisi mata uang, suami ideal dan istri salihah memang tidak dapat dipisahkan. Walhasil, hidup berumah tangga adalah wujud dari interaksi sederhana namun mengandung berjuta-juta warna.

Pernahkah mendengar tentang cemburu yang dirasakan oleh Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha? Biarlah kita mendengar sendiri pengakuan jujur Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana rasa cemburuku kepada Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya sama sekali. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali mengenang Khadijah. Kadang-kadang beliau menyembelih seekor kambing lalu memotong-motongnya. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya untuk sahabat-sahabat dekat Khadijah. Terkadang aku mengatakan, ‘Seolah-olah di dunia ini tidak ada lagi wanita selain Khadijah!’.”

Bagaimanakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi Ibunda ‘Aisyah? Beliau justru mengenang Ibunda Khadijah dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan Ibunda Khadijah. Bahkan, di dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibunda ‘Aisyah,

“Sungguh, aku telah diberi rezeki berupa mencintai Khadijah!” ( HR. al-Bukhari no. 3818 dan Muslim no. 2435)

Sejarah telah mengabadikan peran, jasa, dan pengorbanan Ibunda Khadijah demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak terhitung lagi peristiwa-peristiwa penting yang telah dilewati oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara itu istri beliau—Ibunda Khadijah—berdiri di sisinya dengan tegar dan tabah. Masih ingatkah kita dengan hiburan indah dalam kata-kata penuh semangat yang diucapkan Ibunda Khadijah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ya, saat itu beliau baru pulang ke rumah dari Gua Hira. Masih dalam suasana kekhawatiran di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibunda Khadijah dengan pandainya menenangkan hati sang suami, “Tidak, demi Allah. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mungkin menghinakan Anda selamanya. Anda selama ini selalu menyambung tali silaturahmi, membantu orang yang kesusahan, memberi orang yang tak punya, memuliakan tamu, dan Anda selalu menolong orang-orang yang sedang membutuhkan.”

Pantas saja jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terkenang dengan Ibunda Khadijah walaupun beliau telah meninggal dunia. Pantas saja apabila Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terus menjalin hubungan baik dengan sahabat-sahabat dekat Ibunda Khadijah. Pantas saja demikian, sebab beliau telah menyatakan, “Sungguh, aku telah diberi rezeki berupa mencintai Khadijah!”

Jika seorang istri mendambakan suaminya menjadi ideal, bantulah dirinya untuk menemukan titik tepat guna memulai. Tebarkanlah kenyamanan dan doronglah dirinya dengan cara-cara hikmah penuh sensasi. Kirimkanlah pesan kepada suami Anda dengan tatapan mata, bukan hanya dengan kata-kata. Seolah-olah Anda tengah berpesan, ”Wahai suamiku, jadikanlah dirimu sungguh-sungguh ideal dan spesial untukku.”

Tentu berbeda rasanya bagi seorang suami ketika sang istri mengatakan, “Mengapa Abah selalu tampil tidak rapi?!” atau “Abah itu dari dulu tidak berubah-ubah, selalu asal-asalan kalau berpakaian!”

Sungguh, amat berbeda dengan pesan penuh cinta, “Sebaiknya Abah memakai pakaian yang telah saya setrika. Jadi, Abah selalu merasa saya ada di samping Abah.”

Jika Anda seorang laki-laki yang belum menikah, berusahalah untuk menemukan wanita salihah agar Anda pun terbantu untuk menjadi ideal baginya. Jika Anda telah menjadi seorang suami, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Kesempatan menjadi suami ideal selalu terbuka. Apalagi istri Anda tidak pernah berhenti untuk berdoa dan berharap, “Ya Allah, bimbinglah suamiku untuk menjadi suami yang saleh.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Suami Ideal, Sebuah Proses

Tema ini terhitung sensitif. Cermat adalah bekal wajib untuk melangkah demi menelusuri jejak-jejak seorang suami yang disebut ideal. Tidak mudah memang untuk menghimpun kepingan-kepingan yang terserak guna menyusunnya menjadi gambaran pribadi suami yang ideal. Sekalipun bisa dihimpun, belum tentu setiap laki-laki yang telah berstatus suami mampu mewujudkannya. Apalagi pada masa-masa sulit di akhir zaman. Zaman yang telah terpisahkan lebar dari masa-masa kenabian. Allahumma yassir (Semoga Allah memberikan kemudahan).

Suami ideal sendiri tidak hanya menjadi impian dan idaman kaum hawa. Setiap laki-laki pun bertekad untuk menjadi suami yang ideal bagi pasangan hidupnya. Hal semacam ini bisa dikatakan sebagai satu hal yang lazim dirasakan, meski tidak sempat diungkapkan secara lisan.

Hanya saja, pribadi suami seperti apakah yang bisa disebut ideal? Apakah suami ideal itu memang benar-benar ada wujudnya? Apakah mungkin seorang wanita dapat memiliki suami yang ideal? Sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (ash-Shahihah no. 284) secara ringkas namun berbobot, telah melukiskan dengan indah tentang dorongan menjadi suami yang ideal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam bersikap kepada istrinya.”

Dengan demikian, setiap suami dituntut untuk menjadi yang terbaik dalam bersikap kepada istrinya. Akan tetapi, terbaik menurut definisi siapa? Apakah berlandaskan keinginan seorang wanita yang galibnya bertumpu pada perasaan? Ataukah harus mengikuti gaya seorang laki-laki yang cenderung ingin selalu “menang” di hadapan seorang wanita?

Sekali lagi, tema ini sangat sensitif. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan taufik untuk mengulas tema ini secara adil dan proporsional.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Suami Ideal

Banyak pujian dan sanjungan yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab suci al-Qur’an. Pribadi beliau adalah pribadi yang lengkap dan utuh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan yang membangkitkan rasa rindu untuk berjumpa dengannya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang utusan Allah subhanahu wa ta’ala, seorang pemimpin besar, seorang sahabat yang mengesankan, seorang ayah yang baik, serta seorang imam agung, juga seorang suami yang ideal.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan di dalam al-Qur’an sebagai bentuk perintah,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Sebagai seorang suami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dan sempurna. Cobalah telusuri kehidupan rumah tangga beliau!

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami dari seorang wanita yang berstatus janda, dan beliau pun menikahi seorang gadis remaja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi seorang wanita yang berasal dari satu daerah, bahkan satu suku, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi wanita yang berasal dari luar daerahnya. Bukankah hal ini mengagumkan?

Beliau menjadi seorang suami sekaligus ayah dari anak-anak yang dilahirkan oleh istrinya. Istri beliau pun ada yang tidak memberikan keturunan. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang suami dari janda yang telah dikaruniai anak. Selain wanita-wanita yang merdeka, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadi suami dari seorang wanita yang berstatus budak. Bukankah fakta ini sangat menakjubkan?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjalani kehidupan selama puluhan tahun bersama seorang istri, yakni Ibunda Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha. Kemudian setelah Ibunda Khadijah wafat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati hari-harinya dengan pernikahan ta’addud (poligami). Beliau pernah mengalami kehidupan rumah tangga yang berkecukupan, namun pernah pula merasakan hidup kekurangan. Tentu, kenyataan ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dan sempurna bagi setiap suami.

Lantas apa rahasia di balik ini semua?

Apa pun warna-warni sebagai seorang suami dalam kehidupan rumah tangga, semuanya pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari kondisi air yang tenang, riak-riak kecil hingga gelombang dahsyat dalam mengarungi bahtera rumah tangga, semua ada tuntunan dan jawabannya dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, untuk menjadi suami yang ideal, contohlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Teladanilah beliau yang pernah bersabda,

“Orang yang terbaik di antara kalian adalah dia yang terbaik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dinyatakan sahih oleh al-Albani di dalam ash-Shahihah no. 285)

 

Ideal ≠ Sempurna

Satu persepsi tentang suami ideal yang mesti dihilangkan adalah gambaran suami ideal sebagai pribadi yang sempurna tanpa cacat. Ini tidak mungkin! Tidak ada seorang suami pun yang bisa 100% bersih dari kesalahan dan kekurangan, kecuali para nabi dan rasul yang memang maksum.

Jika Anda adalah seorang wanita, buanglah jauh-jauh impian untuk memiliki seorang suami yang sempurna tanpa cacat! Jika Anda seorang laki-laki, bersiap-siaplah untuk menjadi suami yang pada saatnya nanti akan tersingkap juga kekurangan dan cacatnya!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an,

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (an-Nisa: 28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karimir Rahman menjelaskan, “Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala ingin memberikan kemudahan untuk kalian, baik dalam hal perintah maupun larangan. Jika muncul semacam kesulitan dalam beberapa bentuk syariat, Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan untuk kalian (sesuatu yang mulanya dilarang) sesuai dengan keperluan. Seperti bangkai, darah, dan yang semisalnya jika dalam keadaan darurat. Demikian juga seperti menikahi budak bagi seseorang yang merdeka, dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

Semua itu adalah bentuk rahmat- Nya yang sempurna, kebaikan-Nya yang menyeluruh, ilmu, dan hikmah-Nya terhadap kelemahan manusia dari berbagai sisi. Manusia itu lemah fisiknya, lemah keinginannya, lemah tekadnya, lemah imannya, dan lemah kesabarannya. Oleh sebab itu, sangatlah tepat jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keringanan karena kelemahan dan ketidakmampuannya dalam hal iman, sabar, dan kekuatan.”

 

Harus Ada Masa Berproses

Tidak ada seorang pun terlahir di dunia membawa status sebagai suami ideal. Untuk menjadi suami ideal harus melewati sebuah proses. Ya, suami ideal adalah sebuah proses! Jangan pernah membayangkan bahwa suami ideal itu terbentuk seketika setelah ijab kabul diikrarkan! Jangan bermimpi bahwa suami ideal itu segera terwujud dalam hitungan setahun dua tahun setelah pernikahan! Untuk menjadi suami ideal harus melewati sebuah proses.

Lukisan umum seorang suami ideal adalah seorang suami yang mampu memahami, mengerti, menerima, lalu membimbing istrinya. Suami ideal adalah suami yang bisa semaksimal mungkin menyenangkan dan membahagiakan istrinya, tanpa keinginan untuk menyakitinya.

Untuk mewujudkannya harus melewati sebuah proses panjang. Semakin langgeng usia pernikahan, seorang suami tentu akan semakin matang untuk menjadi ideal. Hanya saja, jangan jadikan masa proses sebagai alasan untuk berleha-leha!

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Bahaya yang Mengancam Keharmonisan Rumah Tangga

 Sesungguhnya di antara doa seorang mukmin yang diabadikan Allah Subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an adalah,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

 “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Menurut penafsiran salaf, maksud penyejuk mata di sini bukanlah bagusnya fisik, melainkan tumbuhnya mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala yang menyebabkan mata sejuk memandangnya di dunia dan di akhirat. Al-Hasan al- Bashri rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala memperlihatkan kepada hamba-Nya yang muslim ketaatan istri, saudara, dan temannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.  Sungguh, demi Allah, tiada sesuatu yang menyejukkan mata seorang muslim yang melebihi melihat anak, cucu, saudara, atau temannya taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. (Tafsir Ibnu Katsir 3/342)

Kehidupan rumah tangga termasuk salah satu sisi kehidupan terpenting yang dilalui oleh pria dan wanita karena telah mengambil bagian yang terbesar dalam kehidupan mereka. Karena itu, apabila rumah tangga ini dibangun di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan cinta yang sejati, kecocokan yang sempurna dan saling adanya pengertian, niscaya kehidupan mereka akan bahagia.

Ketenteraman dan cinta kasih akan senantiasa menaungi kehidupan mereka. Ini artinya bahwa suami istri sedang membangun sebuah generasi yang tahu tentang arti kehidupan. Anak-anak mereka akan tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang kondusif dan dipenuhi cinta kasih.

Rumah Tangga Bahagia

Pernikahan bukan sekadar bersenangsenang menyalurkan kebutuhan biologis. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengan pernikahan, jenis manusia terus berlanjut keberadaannya untuk memakmurkan bumi ini sampai batas waktu yang Dia  tentukan.

Dengan pernikahan pula, seseorang akan mendapatkan ketenteraman batin dan terhindar dari penyimpangan seksual, dengan seizin Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

 “Di antara tanda-tanda kekuasaan- Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

Pernikahan sebagai tali ikatan cinta yang suci antara pria dan wanita menuntut masing-masing pihak untuk menunaikan kewajibannya terhadap yang lain. Setiap pihak menjalankan tugasnya dan mampu memainkan perannya demi terwujudnya keharmonisan rumah tangga yang didambakan.

Suami, sebagai kepala keluarga berkewajiban memberikan bimbingan agama kepada istrinya serta mencukupi nafkah lahir dan batin. Adapun istri, sebagai orang yang ditugasi mengurusi rumah, diharuskan menjaga harta suami, menaatinya dalam perkara kebaikan, serta mengurusi anak dan mendidiknya. Apabila suami istri tulus menjalankan tugasnya, pahala dari Allah Subhanahu wata’ala telah menunggunya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya, tidaklah engkau memberikan suatu nafkah yang dengannya engkau mengharap wajah Allah Subhanahu wata’ala  kecuali engkau diberi pahala atasnya, sampaipun makanan dan minuman yang engkau suapkan untuk mulut istrimu.” (Muttafaqun alaihi dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda,

إِذَاصَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَاوَصَامَتْ شَهْرَهَا
وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا:
ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau inginkan’.” (HR. Ibnu Hibban dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

Di antara suami istri hendaknya ada saling pengertian dan tidak bersikap egois. Ketika melihat ada kekurangan dari pihak lain, janganlah hal ini dijadikan sebagai sebab untuk menanam kebencian kepadanya yang nantinya akan mengganggu keharmonisan. Ia hendaknya melihat banyak sisi kebaikannya dan kelebihan yang disandangnya. Namun, tentu tak ada masalah apabila dia berusaha memperbaiki kekurangannya dengan cara yang bijak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

لَا يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخِرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Apabila ia tidak menyukai suatu perangai pada dirinya, ia akan suka darinya perangai yang lain.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, “Bimbingan dari Nabi n bagi suami dalam hal bergaul dengan istrinya ini adalah faktor terbesar untuk (mewujudkan) hubungan rumah tangga yang harmonis. Di sini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, melarang seorang mukmin (suami) dari pergaulan yang jelek terhadap istrinya.

Tentunya, larangan terhadap sesuatu (mengandung) perintah untuk melakukan yang sebaliknya. Beliau memerintah suami untuk memerhatikan apa yang dimiliki oleh istrinya, berupa perangai yang indah dan hal yang sesuai dengan dirinya, lalu ia jadikan hal ini sebagai pembanding terhadap perangai istrinya yang tidak dia sukai….

Seorang yang adil akan menutup mata dari kekurangan (istrinya) karena telah lebur dalam kebaikannya yang banyak. Dengan demikian, hubungan akan tetap langgeng. Akan tertunaikan pula hakhaknya yang wajib dan yang sunnah. Boleh jadi, (dengan sikap seperti ini) seorang istri akan berusaha memperbaiki apa yang tidak disukai oleh suaminya. Adapun orang yang menutup mata dari kebaikan istrinya dan (hanya) melihat kejelekannya walaupun kecil, hal ini tentu bukan sikap yang adil. Orang seperti ini kecil kemungkinannya akan bisa hidup harmonis bersama istrinya.” (Bahjah  Qulubil Abrar hlm. 101)

Demikian pula sikap seorang istri ketika melihat kekurangan yang ada pada suaminya. Adapun menuntut penampilan yang selalu prima dan pelayanan yang selalu sempurna tentu sulit, bahkan hampir-hampir mustahil.

Badai Rumah Tangga

Kadang ketenteraman rumah tangga terusik dengan adanya problem yang berasal dari pribadi suami atau istri. Hal ini membutuhkan perhatian serius dan penanganan yang tepat agar bahtera rumah tangga tetap terkendali. Apabila kita telusuri, banyak sekali faktor yang memicu munculnya problem.

Dari pihak suami, misalnya, terkadang ia tidak perhatian terhadap istrinya dari sisi pemberian nafkah, pembagian giliran bermalam yang tidak adil bagi yang beristri lebih dari satu, hubungan ranjang yang tidak memuaskan (egois), kasar dan kakunya perangai terhadap istri, anak, atau mertuanya, serta kurang memedulikan kebutuhan istri dan anakanaknya berupa perasaan aman dan nyaman.

Adapun dari pihak istri, terkadang seorang suami merasa tidak mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari istrinya. Terkadang seorang istri sibuk dengan aktivitas di luar rumah sehingga kebutuhan suaminya kurang terpenuhi. Demikian pula pendidikan terhadap anak kurang maksimal. Bisa juga karena perangai istri yang buruk dan tidak tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadap suaminya.

Intinya, apa pun faktor pemicu ketidakharmonisan tersebut sangat membutuhkan solusi yang cepat dan tepat. Mereka yang sedang dilanda masalah keluarga harusnya menyadari butuhnya mempelajari kembali kewajibankewajiban yang harus ditunaikan terhadap yang lainnya. Mereka membutuhkan bimbingan agama dan nasihat orang yang berilmu. Seorang suami hendaknya ingat firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (an-Nisa: 19)

Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوْتُ

“Cukup seseorang dikatakan berdosa manakala ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma. An-Nawawi rahimahullah menyatakannya sahih dalam Riyadhush Shalihin)

Seorang suami yang baik akan menyadari kekurangannya dan berusaha memperbaikinya. Dia akan membuang sikap egois dan siap menjadi suami yang perhatian terhadap istrinya, sekaligus bapak yang sayang terhadap anakanaknya dan tahu kebutuhan mereka. Seorang istri yang salehah akan selalu ingat besarnya hak suami atasnya sebagaimana sabda Nabi n yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

لَوْ كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ يَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh memerintah seorang untuk sujud kepada seseorang, niscaya aku perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi dan selainnya)

Dia juga tidak melakukan suatu aktivitas yang sifatnya tidak mendesak yang menyebabkan suaminya terhalangi mengungkapkan gejolak cinta yang terpendam dalam hatinya atau setidaknya mengurangi kenikmatannya. Istri salehah teringat sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ أَنْ تَصُوْمَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa padahal suaminya hadir (ada di sisinya) kecuali dengan seizinnya dan tidak boleh ia memberi izin (seorang memasuki) rumahnya kecuali dengan seizin suami.” ( HR. al-Bukhari dari jalan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Istri yang salehah juga siap mengoreksi diri demi tergapainya kebahagiaan rumah tangga. Sudah saatnya bagi suami istri untuk mempelajari agama ini secara umum dan hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dalam berumah tangga secara khusus, lalu mempraktikkannya dalam kehidupan rumah tangga mereka.  Suami istri juga perlu selalu membangun komunikasi yang baik. Dengan demikian, ketegangan dalam rumah tangga akan hilang, setidaknya bisa diminimalisir mudaratnya.

Mewaspadai Bahaya dari Luar

Keharmonisan hidup berumah tangga adalah nikmat yang besar. Dan, setiap merasakan nikmat duniawi pasti akan selalu ada orang yang tidak menyenanginya. Inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Kehidupan rumah tangga beliau yang harmonis sempat diguncang oleh dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh orang-orang munafik.

Alkisah, Rasulullah n dan para sahabat dalam perjalanan pulang ke Madinah. Beliau waktu itu juga membawa istrinya. Di tengah perjalanan, istri beliau, Aisyah, ingin buang hajat. Rombongan pun berhenti menunggu Aisyah. Setelah selesai hajatnya, Aisyah kembali ke tengah rombongan dan naik di atas sekedupnya.

Tetapi, ia ingat bahwa kalungnya tertinggal. Dia pun turun kembali dan mencarinya. Setelah kembali lagi, ia dapatkan rombongan telah pergi jauh tak terkejar. Aisyah memutuskan untuk tetap di situ. Secara kebetulan, lewatlah sahabat Shafwan bin Mu’aththal radhiyallahu ‘anhuma yang tertinggal di belakang rombongan karena suatu keperluan. Ia pun melihat seorang wanita yang tertinggal dari rombongan.

Setelah mendekat ia pun tahu bahwa ia adalah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Shafwan mendudukkan kendaraannya lalu Aisyah menaikinya. Shafwan lantas menuntun kendaraannya hingga masuk kota Madinah tanpa ada pembicaraan antara keduanya. Orang-orang munafik memanfaatkan kejadian ini untuk menebarkan isu miring bahwa Aisyah berbuat yang tidak baik dengan Shafwan. Keharmonisan rumah tangga Nabi n pun terguncang dalam beberapa hari dan para sahabat pun ikut bersedih karenanya. Lalu Allah Subhanahu wata’ala menurunkan ayat yang menegaskan kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha dari apa yang dituduhkan kepadanya. (Lihat Tahdzib Sirah Ibni Hisyam hlm. 109—195)

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil faedah, di antaranya bahwa keharmonisan rumah tangga bisa terancam karena adanya faktor dari luar. Berikut di antara faktor tersebut:

1. Setan

Kedengkian setan terhadap manusia yang sudah tertanam semenjak Allah Subhanahu wata’ala memuliakan Adam di hadapan para malaikat terus muncul dari waktu ke waktu. Di antara bukti nyatanya sebagaimana tersebut dalam hadits (yang artinya),

“Setan telah berputus asa untuk disembah oleh orang yang shalat di Jazirah Arab, tetapi ia (berusaha) untuk mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)

Juga disebutkan dalam hadits riwayat Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda (yang artinya),

“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lalu ia mengutus pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dari iblis adalah yang paling besar upaya menggodanya. Salah satu pasukannya datang (kepada iblis) lalu berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Kamu belum berbuat apa-apa.’ Datang (lagi) salah satu dari mereka lalu berkata, ‘Aku tidak tinggalkan ia (manusia) hingga aku memisahkan antara ia dan istrinya.’ Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Kamu bagus’.” ( HR. Ahmad 3/314 dan Muslim)

Tujuan Iblis terbesar adalah memutuskan keturunan manusia sehingga lenyap keberadaannya dan menjatuhkan manusia ke dalam perzinaan yang merupakan dosa besar yang paling jahat. (Faidhul Qadir 2/517)

Oleh karena itu, hendaknya seseorang senantiasa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari godaan setan.

2. Orang yang iri dan tidak suka melihat keharmonisan rumah tangga orang lain

Rasa iri orang semacam ini terkadang semata-mata ingin agar suami istri itu ribut dan bercerai. Ada pula orang yang sifat irinya diikuti keinginan untuk terjadinya perceraian lalu ia akan menikah dengan salah satunya. Orang yang iri terkadang tega melakukan cara-cara yang bengis dan keji, seperti pembunuhan atau menyampaikan berita dusta kepada salah satu dari suami istri, sehingga timbul percekcokan yang berujung perceraian padahal berita itu belum ditelusuri kebenarannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

مَنْ خَبَّبَ عَلَى امْرِئٍ زَوْجَتَهُ أَوْ مَمْلُوْكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa merusak istri seseorang atau budaknya, ia bukan termasuk golongan kami.” (HR. Ahmad, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 325)

Semoga Allah Subhanahu wata’ala melindungi kita dari kejahatan orang yang hasad/iri dengki.

3. Bermudah-mudah dengan ipar

Tidak sedikit suami bermudah-mudah dengan saudara perempuan istrinya, demikian pula seorang istri dengan saudara laki-laki suaminya. Terkadang mereka masuk kepada yang lain berduaan saja padahal bukan mahramnya. Dalam benak sebagian orang, hal itu dianggap perkara lumrah dan tidak akan terjadi apa-apa, toh itu hanya ipar. Kenyataannya, tidak sedikit keharmonisan keluarga menjadi hancur berantakan karena sikap bermudah-mudah yang seperti ini.

Bahkan, dalam kondisi tertentu sampai terjadi pertumpahan darah karenanya dan terputusnya tali silaturahmi. Ini semua akibat melanggar tuntunan agama. Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang lelaki besepisepian dengan seorang wanita kecuali bersama wanita itu ada mahramnya.” (Muttafaqun ’alaihi)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, juga bersabda (yang artinya),

“Hati-hatilah kalian dari masuk kepada para wanita!” Ada seorang lelaki dari Anshar bertanya, “Apa pendapat Anda tentang al-hamwu (ipar dan kerabat suami)?” Nabi bersabda, “Al-hamwu itu maut.” (Muttafaqun ’alaihi)

Maksudnya, masuknya ipar atau kerabat suami kepada wanita itu seperti maut, yaitu membinasakan.

Al – Munawi rahimahullah berkata ,“Diserupakan dengan maut dari sisi sama kejelekannya dan merusaknya sehingga hal ini sangat diharamkan…. Masuknya ipar kepada wanita akan mengantarkan kepada kematian agama atau kematian (berakhirnya) wanita itu karena diceraikan saat suaminya cemburu atau dirajamnya ia apabila berzina dengan ipar.” (Faidhul Qadir 3/160)

4. Mertua

Terkadang seorang mertua mendengar problem anaknya dengan suami/istrinya. Tidak jarang, seorang mertua memberikan pembelaan terhadap anaknya tanpa melihat yang benar. Karena campur tangan mertua yang tidak mencarikan solusi yang terbaik, permasalahan semakin melebar dan perselisihan semakin tajam. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh mertua adalah mencari jalan agar suasana menjadi sejuk.

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada suatu hari marah kepada istrinya, Fathimah, putri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,. Ali keluar menuju masjid dan berbaring dengan bersandar ke tembok masjid. Nabi n datang menemui Ali yang saat itu punggungnya penuh dengan debu. Rasulullah n mengusap debu dari punggung Ali dan memintanya untuk duduk. (lihat Shahih al-Bukhari no. 6204)

Seperti inilah seorang mertua yang bijak, berusaha untuk memadamkan api kemarahan dan mendinginkan suasana.

5. Pergaulan yang tidak selektif

Tidak semua orang pantas untuk dijadikan teman bergaul karena ada jenis manusia yang memiliki perangai jahat. Sementara itu, agama seseorang sangat dipengaruhi oleh teman sepergaulannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda,

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang mengikuti agama (perangai) teman sepergaulannya, maka hendaknya seorang dari kalian melihat orang yang ia jadikan teman.” ( HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi. Asy- Syaikh al-Albani menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)

Parahnya, seorang lelaki terkadang menjalin pertemanan dengan perempuan yang bukan mahram, demikian pula sebaliknya. Terkadang juga mereka bercerita/curhat tentang problem rumah tangga masing-masing. Akibatnya, seorang wanita berani bersikap kasar terhadap suaminya dan seorang suami sudah tidak peduli lagi dengan istrinya. Bahkan, ada yang sampai terjadi perzinaan dengan teman curhatnya. Wal ‘iyadzu billah.

Sungguh, ketika keimanan telah menipis dan nyaris hilang serta sifat malu menjadi suatu yang langka, sudah semestinya seseorang berhati-hati demi keselamatan agamanya dan keharmonisan rumah tangganya. Jangan menjadi orang yang latah dan hanya ikut-ikutan.

Waspadalah dari bahaya yang mengancam, seperti bergabung dengan situs jejaring sosial yang kadang dimanfaatkan untuk kejahatan. Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik kepada seluruh muslimin baik rakyat maupun penguasanya untuk kembali kepada jalan-Nya yang lurus demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan Doa.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc.

Setelah Mau’izhah

Pada edisi lalu, telah dijelaskan tahapan awal yang mesti dilakukan seorang suami ketika dihadapkan pada ‘kebengkokan’ istrinya. Selanjutnya kita akan menapaki tahapan berikutnya.

Cara nasihat sudah ditempuh tapi si istri belum juga kembali pada kelurusannya. Maka syariat mengajarkan agar dijalani tahapan kedua, hajr, sebagaimana dalam ayat:

“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuz mereka maka berilah mau’izhah kepada mereka, hajrlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)

Kata hajr mungkin lebih mudahnya kita artikan memboikot. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksudkan dengan hajr di sini adalah hajrul jima’, maknanya si suami tetap seranjang dengan istrinya namun ia tidak menggaulinya bahkan memunggunginya.” Yang lainnya mengatakan bahwa hajr di sini adalah tidak mengajaknya bicara dalam artian mendiamkannya. Adapula yang mengatakan, si suami meninggalkan tempat tidurnya, tidak tidur sekamar dengan istrinya yang berbuat nusyuz tersebut. Adapun jumhur ulama berpendapat bahwa yang dimaukan dengan hajr di sini adalah tidak masuk ke tempat si istri dan tidak tinggal di sisinya menurut dzahir ayat. (Fathul Bari, 9/374)

Ada beberapa hadits yang menyinggung tentang hajr ini, sebagiannya akan kita sebutkan dalam pembahasan kali ini.

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan:

أَنَّ النَّبِيَّ حَلَفَ لاَ يَدْخُلُ عَلَى بَعْضِ أَهْلِهِ شَهْرًا، فَلَمَّا مَضَى تِسْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ يَوْمًا غَدَا عَلَيْهِمْ– أَوْ رَاحَ –فَقِيْلَ لَهُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، حَلَفْتَ أَنْ لاَ تَدْخُلَ عَلَيْهِنَّ شَهْرًا. قَالَ: إِنَّ الشَّهْرَ يَكُوْنُ تِسْعَةً وَعِشْرِينَ يَوْمًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah tidak akan masuk menemui sebagian istrinya selama sebulan. Tatkala berlalu 29 hari, beliau berpagi hari[1] –atau di sore harinya– menuju ke tempat istri-istrinya. Maka ada yang berkata kepada beliau, “Wahai Nabiyullah, engkau telah bersumpah untuk tidak masuk menemui mereka selama sebulan (sementara baru berlalu 29 hari, –pent.).” Beliau menjelaskan, “Bulan saat ini lamanya memang hanya 29 hari[2].” (HR. Al-Bukhari no. 5202 dan Muslim no. 2519)

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata:

آلىَ رَسُوْلُ اللهِ مِنْ نِسَائِهِ شَهْرًا، وَقَعَدَ فِي مَشْرَبَةٍ لَهُ، فَنَزَلَ لِتِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّكَ آلَيْتَ شَهْرًا. قَالَ: إِنَّ الشَّهْرَ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrinya selama satu bulan, beliau tinggal di masyrabah[3] milik beliau. Setelah lewat 29 hari, beliau turun (menemui istri-istrinya, -pent.) Maka ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau telah bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrimu selama sebulan (sementara sekarang baru berjalan 29 hari, –pent.). Beliau menjawab, “Sesungguhnya bulan sekarang memang lamanya hanya 29 hari.” (HR. Al-Bukhari no. 5201)

Adapula berita dari Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu, suatu ketika ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ

“Wahai Rasulullah, apa hak istri kami  atas kami?” Beliau menjawab: “Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya[4], dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah.” (HR. Abu Dawud no. 2142 dan selainnya, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/86)

Dalam hadits Anas radhiallahu ‘anhu di atas disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghajr istri-istrinya di luar rumah tapi dalam hadits Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu disebutkan larangan menghajr istri di luar rumah. Lalu bagaimana mendudukkan kedua hadits yang seakan bertentangan ini? Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menerangkan bahwa hadits Anas lebih shahih sanadnya daripada hadits Mu’awiyah bin Haidah, namun kedua hadits ini bisa dijama’ (dikumpulkan) dan diamalkan kedua-duanya.

Hajr dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah dengan melihat keadaan. Bila memang dibutuhkan hajr di luar rumah maka dilaksanakan, tapi bila tidak perlu maka cukup di dalam rumah. Bisa jadi hajr di dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa perasaan si istri daripada hajr di luar rumah. Namun bisa jadi pula sebaliknya. Akan tetapi yang dominan hajr di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya bila yang menghadapinya kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka.” (Fathul Bari, 9/374)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghajr istri-istrinya, “Suami berhak menghajr istrinya dan memisahkan dirinya dari si istri ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari sang istri.” (Al-Minhaj, 10/334)

Mungkin tersisa pertanyaan di benak anda, apa yang menjadi penyebab sumpahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak mendatangi istri-istrinya? Jawabannya terdapat dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang panjang dari kisahnya Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Di antaranya Umar berkata:

فَاعْتَزَلَ النَّبِيُّ نِسَاءَهُ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ الْحَدِيْثِ حِيْنَ أَفْشَتْهُ حَفْصَةُ إِلَى عَائِشَةَ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ لَيْلَةً، وَكَانَ قَالَ: مَا أَنَا بِدَاخِلٍ عَلَيْهِنَّ شَهْرًا. مِنْ شِدَّةِ مَوْجِدَتِهِ عَلَيْهِنَّ حِيْنَ عَاتَبَهُ اللهُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memisahkan diri dari istri-istrinya selama 29 malam disebabkan pembicaraan (rahasia) yang disebarkan oleh Hafshah kepada Aisyah. Beliau mengatakan, “Aku tidak akan masuk menemui mereka selama sebulan.” Hal ini beliau lakukan karena kemarahan beliau yang sangat kepada mereka di mana Allah k sampai menegur beliau dikarenakan perkara dengan mereka….” (HR. Al-Bukhari no. 5191 dan Muslim no. 3679)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam penjelasannya terhadap hadits di atas menyatakan bahwa dalam jalan hadits ini tidak diterangkan pembicaraan apa yang disebarkan oleh Hafshah. Adapun teguran yang dimaksudkan adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ تَبۡتَغِي مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١

“Wahai Nabi, mengapa engkau mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, dikarenakan engkau mencari keridhaan (kesenangan hati) istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Tahrim: 1)

Ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi tentang apa gerangan yang diharamkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi diri beliau hingga Allah subhanahu wa ta’ala menegurnya, sebagaimana diperselisihkan kenapa beliau sampai bersumpah tidak akan masuk menemui istri-istrinya. Ada yang mengatakan beliau mengharamkan madu untuk dirinya dan pendapat lain mengatakan beliau mengharamkan Mariyah, budak perempuannya.

Dalam riwayat Yazid bin Ruman dari Aisyah radhiallahu ‘anha yang dibawakan Ibnu Mardawaih disebutkan kedua-duanya, yakni beliau mengharamkan madu dan juga Mariyah, budak beliau.

Istri beliau Hafshah radhiallahu ‘anha yang mendapat hadiah madu, biasa menahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya agar beliau minum madu tersebut. Mengetahui hal itu, Aisyah radhiallahu ‘anha mengajak istri-istri Rasul yang lain agar sepakat bila beliau masuk menemui mereka, semuanya mengatakan mulut beliau berbau maghafir, sementara beliau tidak suka baunya. Ketika disampaikan hal tersebut kepada beliau, berkatalah beliau:

هُوَ عَسَلاً، وَاللهِ لاَ أَطْعمُهُ أَبَدًا

“Yang tadi aku minum adalah madu. Kalau begitu demi Allah, aku tidak akan minum madu lagi selama-lamanya.”

Saat giliran Hafshah, ia minta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pergi menemui ayahnya. Rasulullah pun mengizinkannya. Sepulangnya dari tempat sang ayah, Hafshah mendapati pintu rumahnya tertutup dan ternyata Rasulullah sedang bersama Mariyah, budaknya. Hafshah pun menangis, maka Rasulullah berkata menghiburnya, “Aku persaksikan di hadapanmu, Mariyah haram bagiku. Jangan engkau beritahu kepada siapapun tentang hal ini, ini amanah bagimu.” Namun tenyata Hafshah menyampaikan rahasia tersebut kepada Aisyah, hingga turunlah ayat dalam surat At-Tahrim. (Fathul Bari, 9/359-360)

Dalam hadits yang dikeluarkan Al-Imam Muslim rahimahullah dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma disebutkan sebab lain kenapa beliau memisahkan diri dari istri-istrinya. Jabir mengisahkan:

دَخَلَ أَبُوْ بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ فَوَجَدَ النَّاسَ جُلُوْسًا بِبَابِهِ، لَـمْ يُؤْذَنْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ. قَالَ: فَأُذِنَ لِأَبِي بَكْرٍ، فَدَخَلَ. ثُمَّ أَقْبَلَ عُمَرُ فَاسْتَأْذَنَ، فَأُذِنَ لَهُ، فَوَجَدَ النَّبِـيَّ جَالِسًا، حَوْلَهُ نِسَاؤُهُ، وَاجِمًا سَاكِتًا

Abu Bakr masuk minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia dapatkan orang-orang sedang duduk di depan pintu rumah beliau, tidak ada seorang pun dari mereka yang diizinkan masuk. Jabir berkata, “Abu Bakr diizinkan maka ia pun masuk. Kemudian datang Umar meminta izin, ia pun diizinkan masuk. Umar mendapati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk dalam keadaan sedih terdiam, di sekitar beliau ada istri-istrinya.”

Lalu Jabir melanjutkan haditsnya, di antaranya disebutkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

هُنَّ حَوْلِي كَمَا تَرَى، يَسْأَلْنَنِي النَّفَقَةَ. فَقَامَ أَبُوْ بَكْرٍ إِلَى عَائِشَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، فَقَامَ عُمَرُ إِلَى حَفْصَةَ يَجَأُ عُنُقَهَا، كِلاَهُمَا يَقُوْلُ: تَسْأَلْنَ رَسُوْلَ اللهِ مَا لَيْسَ عِنْدَهُ؟ فَقُلْنَ: وَاللهِ، لاَ نَسْأَلُ رَسُوْلَ اللهِ شَيْئًا أَبَدًا لَيْسَ عِنْدَهُ. ثُمَّ اعْتَزَلَـهُنَّ شَهْرًا أَوْ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ يَوْمًا

“Mereka (istri-istri beliau) ada di sekelilingku sebagaimana yang engkau lihat, mereka meminta nafkah kepadaku.” Mendengar hal itu bangkitlah Abu Bakr menuju putrinya Aisyah lalu memukul lehernya. Bangkit pula Umar ke arah putrinya Hafshah lalu memukul lehernya. Abu Bakr dan Umar berkata, “Apakah kalian meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuatu yang tidak ada pada beliau?” Para istri Rasulullah menjawab, “Demi Allah, kami selama-lamanya tidak akan lagi meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian beliau memisahkan diri dari mereka selama sebulan atau selama 29 hari.” (HR. Muslim no. 3674)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan bahwa bisa saja semua perkara yang telah disebutkan di atas menjadi sebab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam i’tizal (memisahkan diri) dari istri-istrinya. Hal ini bersesuaian sekali dengan kemuliaan akhlak beliau, lapangnya dada beliau dan banyaknya beliau memberikan pemaafan, di mana beliau tidak melakukan i’tizal tersebut sampai terjadi berulang-ulang permasalahan yang mengharuskan para istri beliau mendapatkan hukuman demikian. Pada akhirnya Al-Hafizh menyebutkan hikmah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktu sebulan untuk i’tizal dari istri-istrinya, yaitu hajr yang disyariatkan lamanya tiga hari[5], sementara jumlah istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sembilan orang, bila masing-masingnya dihajr selama tiga hari pada hari gilirannya berarti seluruhnya ada 27 hari, tersisa dua hari untuk Mariyah karena statusnya sebagai budak maka ia mendapat hitungan yang kurang bila dibandingkan dengan orang merdeka. (Fathul Bari, 9/360)

Lantas bolehkah menghajr istri lebih dari tiga hari karena adanya hadits dalam Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثةِ أَيَّامٍ

 

“Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

Al-Khaththabi rahimahullah menyebutkan bahwa hajrnya ayah terhadap anaknya, suami terhadap istrinya dan semisalnya tidaklah dibatasi waktu tiga hari, berdalil dengan hajr yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap istri-istri beliau selama sebulan. (Fathul Bari, 10/610)

Mendiamkan seseorang karena permasalahan agama juga dibolehkan lebih dari tiga hari. Misalnya ada seorang ahlul bid’ah yang sudah diperingatkan tentang kebid’ahan namun tetap melakukannya, maka boleh mendiamkannya, tidak mengajaknya bicara walaupun lebih dari tiga hari. Dalam hal ini kita berdalil dengan hadits Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu yang panjang, dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya, tentang kisah tidak ikut sertanya Ka’b bersama dua temannya dalam perang Tabuk tanpa ada udzur. Sebagai hukuman untuk ketiganya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta kaum muslimin mendiamkan mereka selama 50 malam. Sampai akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu-Nya dari atas langit memberi taubat kepada ketiganya[6], g. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut kepada ketiga sahabatnya ini melainkan karena khawatir mereka terkena penyakit nifak. (Bahjatun Nazhirin, 1/75)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Apabila terjadi nusyuz istri berkenaan dengan hak suaminya dan sang suami telah menasihatinya namun tidak juga menarik diri dari perbuatannya, maka suami punya hak untuk memboikotnya di tempat tidur. Maksudnya, suami tetap tidur bersama istrinya namun tidak mengajaknya bicara (mendiamkannya) serta memalingkan wajahnya dari istrinya sampai si istri mau bertaubat. Dan ini tidaklah bertentangan dengan keharaman memboikot saudara lebih dari tiga hari, karena hajr yang dilakukan seorang suami dibatasi dengan pemboikotan di tempat tidur, adapun yang terlarang adalah hajr secara mutlak. Atau dikatakan, yang terlarang adalah hajr tanpa adanya sebab maksiat, sementara nusyuz istri teranggap maksiat sehingga boleh menghajrnya.” (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, 2/679)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

 

 

[1] Pagi hari dari hari yang ke-30.

 

[2]  Di antara bulan hijriyah ada yang lamanya 29 hari dan ada yang 30 hari.

 

[3] Kamar yang tinggi, untuk naik ke atasnya harus memakai tangga, sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari cerita Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu kepadanya:

فَإِذَا رَسُولُ اللهِ  فِي مَشْرَبَةٍ لَهُ يَرْقَى عَلَيْهَا بِعَجَلَةٍ.

“Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di masyrabahnya, beliau naik ke atasnya dengan menggunakan tangga dari pelepah kurma.” (HR. Al-Bukhari no. 4913 dan Muslim no. 3676)

 

[4] Maksudnya: mengucapkan pada istri ucapan yang buruk, mencaci-makinya atau mengatakan padanya, “Semoga Allah menjelekkanmu”, atau yang semisalnya. (‘Aunul Ma’bud, kitab An-Nikah, bab Fi Haqqil Mar`ah ‘ala Zaujiha)

 

[5]  Sebagaimana hadits dalam Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلاَ يَحِلُّ لِـمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثةِ أَيَّامٍ

“Tidak halal bagi seorang musim menghajr saudaranya lebih dari tiga hari.”

 

[6] Lihat surah At-Taubah: 117-119

 

Berkhidmat Pada Suami

Pulang dari bekerja, semestinya adalah waktu untuk beristirahat bagi suami selaku kepala rumah tangga. Namun, banyak kita jumpai fenomena di mana mereka justru masih disibukkan dengan segala macam pekerjaan rumah tangga sementara sang istri malah ngerumpi di rumah tetangga. Bagaimana istri salihah menyikapi hal ini?

Lanjutkan membaca Berkhidmat Pada Suami