Mengenal Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Long-Road-Home

Makna Salaf

Kata ‘salaf’ ( سلف ) sesungguhnya adalah lafadz Qur’ani dan lafadz nabawi, bukan lafadz baru yang muncul di era belakangan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka kami jadikan mereka sebagai salaf dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf: 56)

Maksudnya, sebagai salaf (pendahulu) untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah mereka.

Al-Imam al-Bukhari (no. 6285—6286) dan Muslim (2450/98) rahimahumallah meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Fathimah radhiallahu ‘anha berkata bahwa ketika memberitakan tentang ajalnya yang sudah dekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati putrinya,

فَاتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Maka bertakwalah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla dan bersabarlah sesungguhnya sebaik-baik ‘salaf’ bagimu adalah aku.”

An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Salaf adalah yang mendahului. Makna (hadits) ini adalah aku mendahului di depanmu, nanti engkau akan menyusulku.”

Kata ‘salaf’ secara bahasa berarti berlalu/terdahulu. (al-Mishbahul Munir hlm. 285) Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (6/330) menjelaskan, “Kata السلف والسليف والسلفة adalah sekelompok orang yang mendahului.”

Salaf bisa juga diartikan orang yang mati mendahului orang lain, baik orang tua, nenek moyangnya, maupun kerabatnya. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits 2/390)

Adapun ‘salaf’ menurut istilah syariat memiliki dua makna dari sudut pandang yang berbeda, namun kembali kepada satu pengertian.

  1. Makna ‘salaf’ secara waktu.

Mereka adalah generasi terdahulu umat ini. Yang dimaksud adalah generasi para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, tiga generasi pertama umat ini yang tersebut dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.” (HR. al-Bukhari no. 2651 dan Muslim no. 2535 dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu)[1]

  1. Makna ‘salaf’ secara manhaj/metodologi.

Dalam Fatawa Lajnah Daimah (2/240) pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 6149 disebutkan bahwa salaf adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari kalangan sahabat g dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka hingga hari kiamat….

Jadi, makna ‘salaf’ secara metodologi tidak terbatas waktu pada tiga generasi pertama umat ini, tetapi masuk di dalamnya siapa saja yang meniti manhaj dan jejak langkah para sahabat dari masa ke masa hingga akhir masa dan dari generasi ke generasi hingga akhir generasi.

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Hukmul Intima Ilal Firaq (hlm. 46—47) menjelaskan, ‘Apabila lafadz ini (salaf) disebutkan secara mutlak, yang dimaksud adalah setiap orang yang meneladani para sahabat walaupun di masa kini…’.”

Ucapan para ulama semuanya demikian. Jadi, lafadz ini adalah penisbatan yang tidak memiliki tanda/atribut yang keluar dari kandungan al- Kitab dan as-Sunnah. Selain itu, lafadz ini adalah penisbatan yang sekejap pun tidak akan terpisah dari generasi awal. Bahkan, lafadz ini dari mereka dan kembali kepada mereka….”

Sementara itu, kata السلفية adalah nisbat kepada سلف. Maknanya adalah mengikuti thariqah (jalan yang ditempuh) oleh salaf ash-shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dalam beragama secara lahir dan batin, yaitu berpegang teguh dengan kitab dan sunnah. (Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab as-Salafiyah hlm. 195 dengan penambahan dan perubahan)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Salafiyah adalah berjalan di atas manhaj salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi-generasi yang utama dalam hal akidah, pemahaman, dan suluk. Setiap muslim wajib menempuh manhaj ini.…” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 103—104)

Adapun “mazhab salaf“ dijelaskan maknanya oleh al-Imam as-Safarini rahimahullah, “Yang dimaksud mazhab salaf adalah apa yang ada di atasnya para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, tokoh-tokoh tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, para pengikut mereka, dan para imam agama (ulama) yang dipersaksikan keimamannya, dikenali keagungan martabat mereka dalam agama, diakui oleh generasi setelahnya, bukan orang yang tertuduh dengan suatu (paham) bid’ah atau masyhur dengan gelar yang tidak diridhai, semisal Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji’ah, Jabriyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Karramiyah, dan yang semisalnya.” (Lawami’ul Anwar 1/20)

Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri menjelaskan tentang manhaj salaf, “Mengikuti (ittiba’) semua yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang teguh dengannya secara ucapan dan amalan. Inilah manhaj salafi dan thariqah salafi, metode yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Ushul wa Qawaid fil Manhaj as-Salafi hlm. 7)

Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam yang sahih, yang dibangun di atas dasar al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Al-Muhaddits al-‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Prinsip-prinsip dakwah salafiyah, seperti yang telah diketahui oleh semua pihak, berdiri di atas tiga tonggak:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. As-Sunnah yang sahihah.

Salafiyun di seluruh dunia fokus pada sisi ini, yaitu sunnah yang sahihah. Sebab, dengan kesepakatan ulama, sunnah telah disisipi sesuatu yang bukan darinya sejak sepuluh abad silam….

  1. Inilah yang membedakan dakwah salafiyah dengan dakwah-dakwah yang lain yang ada di permukaan bumi. Dakwah salafiyah berbeda karena tonggak ketiga ini, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah wajib dipahami dengan manhaj salaf as-shalih dari kalangan tabi’in dan para pengikut mereka, yakni tiga generasi yang dipersaksikan kebaikannya oleh hadits yang banyak dan ma’ruf.

Poin ini yang sering kita bicarakan dalam banyak kesempatan. Telah kita sertakan pula argumentasi yang cukup sehingga kita dapat memastikan bahwa siapa saja yang ingin memahami Islam dari al-Kitab dan as-Sunnah tanpa tonggak ketiga ini, sungguh dia akan mendatangkan Islam yang baru (baca: bid’ah, –pen.)….” (As’ilah Haula ad-Da’wah as-Salafiyah hlm. 22)

Salafiyyun, bentuk jamak dari kalimat سلفي (salafi), adalah setiap orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Dalam Fatawa Lajnah Daimah (2/243 soal ke-2 dari fatwa no. 1361) disebutkan, “Salafiyun adalah bentuk jamak dari salafi, nisbat kepada salaf yang telah berlalu penjelasan maknanya. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj salaf, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkannya. Dengan demikian, mereka pun menjadi Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Samahatul ‘Allamah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Sesungguhnya salaf adalah orang-orang yang ada pada generasi-generasi utama. Siapa saja yang meniti langkah mereka dan berjalan di atas manhaj mereka, dia adalah salafi. Siapa saja yang menyelisihi mereka pada prinsip tersebut, dia termasuk khalaf.” (Ta’liq asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri atas al-Aqidah Hamawiyah hlm. 203)

Ahli hadits negeri Yaman, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menyatakan, “Yang terpenting adalah terealisasinya nama yang mulia ini pada orang yang menisbatkan diri kepadanya. Jadi, dia tidak boleh menjadi seorang pengikut demokrasi, Sufi, atau Syi’ah. Sebab, salafi dan sunni, dua nama yang sama, disematkan pada setiap orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pemahaman salafus shalih. Atas dasar itu, kedua nama di atas tidak bisa disematkan pada hizbiyin atau ahli bid’ah.

“Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli kitab barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu.” (an-Nisa: 123) (Muqaddimah Irsyadul Bariyah hlm. 78)

Salafiyyun juga dikenal dengan sejumlah nama, semuanya kembali kepada satu manhaj.

  1. Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dinamakan Ahlus Sunnah karena mereka mengamalkan sunnah dan teguh menetapi sunnah. Disebut ahlul jamaah karena mereka bersatu, tidak berpecah belah. Manhaj mereka satu, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka bersatu di atas al-haq dan pada satu pemimpin. Demikian uraian asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. (al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 127)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan definisi Ahlus Sunnah, “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa yang disepakati oleh generasi pertama (umat ini) dari kalangan Muhajirin dan Anshar; serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa 3/375)

  1. Al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).

Nama ini diambil dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memberitakan perpecahan yang terjadi pada umatnya. Beliau menyebutkan bahwa yang selamat hanya satu. Maka dari itu, golongan ini dikenal dengan sebutan al-Firqah an-Najiyah (kelompok yang selamat). Najiyah (selamat) maknanya selamat di dunia dari beragam bid’ah dan selamat di akhirat dari api neraka. Demikian penjelasan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarah ‘Aqidah al-Wasithiyah (hlm. 31 cet. Maktabah Thabariyah).

Dalam beberapa riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kriteria al-Firqah an- Najiyah, di antaranya:

  1. Al-Jamaah, dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma riwayat Abu Dawud dll. Lihat Silsilah Shahihah 204.
  2. Apa-apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya. Ini diambil dari hadits Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma riwayat at-Tirmidzi (no. 2650) dll. Lihat Shahihul Jami’ 5343.
  3. As-Sawad al-A’zham (jumlah mayoritas pada masa nabi). Ini diambil dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dll, riwayat al-Ajurri dalam asy- Syariah 29. Lihat Silsilah Shahihah pada penjelasan hadits no. 204.

Semua lafadz di atas maknanya satu, demikian penjelasan al-Imam al-Ajurri rahimahullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Apabila sifat al-Firqah an-Najiyah adalah mengikuti para sahabat di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu adalah syiar Ahlus Sunnah, berarti al-Firqah an-Najiyah adalah Ahlus Sunnah.” (Minhajus Sunnah 3/457)

Dalam Majmu’ Fatawa (3/345) beliau mengatakan, “Oleh sebab itu, (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebut al-Firqah an-Najiyah sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah dan merekalah al-Jumhur al-Akbar dan as-Sawadul A’zham.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang al-firqah an-najiyah, dan beliau menjawab, “Mereka adalah salafiyun dan setiap orang yang berjalan di atas metode salafus shalih, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (al-Firqah an-Najiyah, Muhammad Jamil Zainu)

  1. Ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong).

Nama ini juga diambil dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّىتَقُومَ السَّاعَةُ.

“Akan senantiasa ada suatu kelompok dari umatku yang ditolong. Tidak membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka, hingga (menjelang) bangkit kiamat.” (HR. Ahmad 4/436, dll., dari Qurrah bin Iyas al-Muzani radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Shahihah no. 403)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Apabila mereka bukan ahlul hadits, aku tidak tahu siapa mereka?!”

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud oleh (al-Imam) Ahmad adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan yang meyakini akidah ahli hadits.” (Syarah Muslim lin-Nawawi 13/66—67)

Termasuk pemahaman aneh yang dimunculkan oleh Salman al-Audah—salah satu gembong Sururiyah—adalah membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah, lantas memasukkan sekte-sekte tak dikenal ke dalam barisan al-Firqah an-Najiyah sekaligus menyifati ahlul hadits dengan kriteria-kriteria yang mengeluarkan mereka dari al-Firqah an-Najiyah.

Pemahaman aneh ini—bihamdillah wa ‘inayatih— telah diuraikan penyimpangannya oleh pembawa bendera al-jarh wat ta’dil masa ini, al-‘Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali. Beliau bawakan penjelasan 45 ulama terdahulu hingga sekarang yang menyatakan tidak ada perbedaan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah. Semuanya satu, yaitu ahli hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, salafiyun. Lihat kitab beliau Ahlul Hadits Hum ath-Thaifah al-Manshurah an-Najiyah Hiwar Ma’a Salman al-Audah.

Fadhilatus Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang seseorang yang membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah. Beliau menjawab, “Pernyataan ini tidak benar, ath-Thaifah al-Manshurah adalah al-Firqah an-Najiyahwalillahil hamd. Tidak akan ditolong (manshurah) kecuali apabila dia selamat (najiyah). Sebaliknya, tidak mungkin selamat (najiyah) kecuali apabila dia ditolong (manshurah). Kedua sifat ini saling berkaitan untuk sesuatu yang sama. Pembedaan ini bisa jadi dari seorang yang jahil (bodoh) atau dari seorang yang punya tujuan jelek, yaitu membuat para pemuda muslim ragu tentang ath-Thaifah al-Manshurah an-Najiyah.” (Ajwibah Mufidah hlm. 73—74)

Perlu dipahami, pada dasarnya kaum muslimin yang di atas as-Sunnah tidak mempunyai nama dan gelar khusus selain muslimin, mukminin, dan hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla. Tanda pengenal mereka hanyalah Islam dan sunnah. Tidak ada atribut lain yang keluar dari kandungan Islam dan sunnah.

Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (4/130) meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari al-Harits al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَادْعُوا الْمُسْلِمِينَ بِأَسْمَائِهِمْ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Maka panggillah kaum muslimin dengan nama-nama mereka, nama yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka: al-Muslimun, al-Mukminun, hamba-hamba Allah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini.” (al-Hajj: 78)

Al-Imam Malik rahimahullah menyatakan, “Ahlus Sunnah tidak memiliki gelar (khusus) yang mereka dikenal dengannya, bukan Jahmiyah, bukan pula Qadariyah atau Rafidhah.” (Tartibul Madarik al-Qadhi ‘Iyadh 172/1)

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang berjalan di atas manhaj nubuwah. Sekejap pun mereka tidak pernah terlepas darinya, baik dengan nama maupun simbol tertentu. Mereka tidak memiliki seseorang untuk menisbatkan diri kepadanya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang meniti jejak beliau.

Mereka juga tidak mempunyai simbol dan manhaj selain manhaj nubuwah (al-Kitab dan as-Sunnah),” ujar asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima (hlm. 28).

Bahkan, para ulama mengecam siapa saja yang terikat dengan nama-nama selain Islam dan sunnah atau dengan seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata,

“Mu’awiyah berkata kapadaku, apakah engkau di atas millah (agama) ‘Ali?” Aku jawab, “Tidak, tidak pula di atas millah Utsman. Aku di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah 1/355)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma juga berkata, “Barang siapa berikrar dengan salah satu nama dari nama-nama yang baru (baca: bid’ah, pen.) ini, sungguh dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (al-Ibanah as-Shughra hlm. 137, Ibnu Baththah)

Malik bin Mighwal rahimahullah menyatakan, “Apabila ada seseorang yang bernama dengan selain Islam dan sunnah, gabungkanlah ia dengan agama apa pun yang engkau kehendaki.” (al-Ibanah as-Shughra hlm. 137, Ibnu Batthah)

Nama Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits, ahlul atsar, salafi/salafiyun, al-Firqah an-Najiyah, dan ath-Thaifah al-Manshurah dimunculkan oleh para ulama kita dengan menimbang beberapa hal.

  1. Munculnya ragam sekte sesat dalam kubu umat Islam yang semuanya mengaku sebagai muslimin dan mendakwahkan Islam.
  2. Terjadinya pengaburan tentang hakikat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tumbuh suburnya aneka paham menyimpang berwajah Islam.
  3. Upaya kelompok sesat tersebut untuk meruntuhkan pilar-pilar akidah Islam dan menebarkan opini di tengah kaum muslimin bahwa apa yang mereka dakwahkan adalah haq.

Nama-nama syar’i di atas dimunculkan dan disebarluaskan oleh para ulama dahulu hingga sekarang dengan tujuan:

  1. Menjelaskan kepada umat Islam hakikat Islam yang sahih sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang senantiasa istiqamah meniti jejak langkah beliau.
  2. Membedakan diri dari ragam kelompok sesat dengan aneka nama dan atribut yang mereka miliki sehingga umat Islam tahu siapa ahlul haq dan siapa pula ahlul batil.

Gelar-gelar yang mulia ini berbeda dengan gelar apa pun yang ada pada kelompok manapun dari beberapa sisi:

  1. Gelar-gelar tersebut adalah penisbatan yang tidak terpisah—sekejap pun—dari umat Islam semenjak terbentuk di atas manhaj nubuwah. Gelar-gelar ini meliputi seluruh kaum muslimin di atas jalan generasi pertama dan yang mengikuti mereka dalam hal menerima ilmu, cara memahaminya, dan mendakwahkannya.
  2. Gelar-gelar tersebut mencakup Islam secara keseluruhan: al-Kitab dan as-Sunnah, tidak khusus untuk sebuah metode yang bertentangan dengan kitab dan sunnah baik secara penambahan maupun pengurangan.
  3. Gelar-gelar tersebut di antaranya ada yang ditetapkan dengan sunnah shahihah, ada pula yang tidak ditampilkan kecuali untuk menghadapi manhaj ahlul bid’ah dan sekte-sekte sesat dalam rangka membantah bid’ah mereka, membedakan diri dari mereka, tidak tercampur dengan mereka, dan memutuskan hubungan dengan mereka.

Tatkala muncul bid’ah, mereka (Ahlus Sunnah) membedakan diri dengan sunnah. Tatkala ra’yu (akal) dijadikan hakim, mereka membedakan diri dengan hadits dan atsar.

  1. Ikatan wala dan bara, cinta dan benci di kalangan mereka (Ahlus sunnah) adalah di atas Islam, bukan yang lain. Tidak di atas sebuah simbol tertentu, tidak pula di atas simbol terbatas. Yang ada hanya al-Kitab dan sunnah.
  2. Gelar-gelar tersebut tidak mengundang mereka untuk fanatik kepada seseorang tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Gelar-gelar tersebut tidak menjerumuskan kepada bid’ah, maksiat, atau pun fanatik kepada orang atau sekte tertentu.

Tatkala dikatakan “Ahlus Sunnah wal Jamaah” gelar ini akan mengandung/ merangkum semua keistimewaan di atas.

Demikian penjelasan panjang dari asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima (hlm. 41—45).

Adapun gelar dan nama yang ada pada sekte-sekte sesat, ada beberapa sebab, di antaranya:

  1. Penisbatan kepada tokoh pencetus bid’ah[2] tersebut seperti:
  • Jahmiyah, nisbat kepada Jahm bin Shafwan.
  • Zaidiyah, nisbat kepada Zaid bin ‘Ali bin Husain.
  • Asy’ariyyah, nisbat kepada Abul Hasan al-Asy’ari pada periode ke-2 kehidupannya.[3]
  1. Gelar yang diambil dari asal-muasal bid’ah mereka. Contohnya:
  • Rafidhah, dinamakan demikian karena mereka me-rafdh (meninggalkan) Zaid bin ‘Ali atau karena merafdh( menolak) kepemimpinan Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.
  • Qadariyyah, dinamakan demikian karena mereka berbicara tentang takdir dan mengingkarinya.
  • Murji’ah, karena mereka mengirja (menangguhkan/mengeluarkan) amalan dari iman.
  1. Disebabkan karena mereka keluar dari prinsip akidah Islam atau keluar dari ulama Islam. Contohnya:
  • Khawarij, karena mereka khuruj (memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan penguasa-penguasa setelah beliau) dan karena khuruj dari prinsip akidah Islam, yaitu mendengar dan menaati penguasa muslim.
  • Mu’tazilah, karena tokoh mereka, Wasil bin ‘Atha i’tizal (meninggalkan) majelis al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

Walhasil, dari penjabaran panjang ini kita dapat memetik satu kesimpulan penting, yaitu salafiyah dan dakwah salafiyah bukanlah agama baru. Ia bukan pula mazhab ke-5 seperti yang dinyatakan oleh sebagian pihak. Ia bukan sekte sesat sebagaimana kelompok-kelompok sesat lainnya, bukan pula ajaran dan pemahaman baru yang dimunculkan oleh al-Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, atau Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah seperti yang diopinikan oleh Gerakan Anti Wahabiyah (GAW).

Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf as-shalih yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau amalkan beserta para sahabatnya.

Al-‘Allamah Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah pernah dengan tegas menyatakan,

مُؤَسِّسُ الدَّعْوَةِ السَّلَفِيَّةِ هُوَ رَسُولُ اللهِ

“Perintis dakwah salafiyah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Burkan li Nasfi Jami’atil Iman, hlm. 36)

Tentu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merintis dakwah yang mulia ini dengan wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Beliau pula yang menyampaikan dan menjalankannya.

“Salafiyah itu datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, para nabi, dan rasul yang menyampaikan dari Allah ‘azza wa jalla syariat yang dikehendaki-Nya. Begitu pula para da’i kebenaran setelah mereka, menyampaikan sesuai dengan syariat ini….” (Ushul wa Qawaid fi Manhaj as-Salafi hlm. 6)

Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dailami al-Madani rahimahullah, salah seorang ulama India, menyatakan, “Sesungguhnya telah tetap dengan dalil-dalil yang pasti, jelas, dan gamblang, bahwa ahli hadits adalah kelompok yang sudah lama ada sejak zaman kenabian. Generasi pertama mereka adalah para sahabat.…” Kemudian beliau menyebutkan sepuluh bukti dalam kitabnya, Tarikh Ahlil Hadits (hlm. 22—56).

Setelah ini semua, apakah ada seseorang yang ragu atau tidak berani menisbatkan diri kepada salafiyah?! Tentu saja bukan pengakuan semata, melainkan harus disertai dengan pembuktian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada aib atas seseorang yang menampilkan mazhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya. Bahkan, hal itu wajib diterima menurut kesepakatan (ulama). Sebab, mazhab salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fatawa 4/149)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang seseorang yang bernama dengan salafi dan atsari, apakah termasuk tazkiyah?”

Beliau menjawab, “Apabila dia jujur (benar) sebagai atsari atau salafi, tidak mengapa. Sebagaimana halnya dahulu salaf mengatakan, ‘Fulan salafi, Fulan atsari.Ini adalah tazkiyah yang harus, tazkiyah yang wajib!” (Ceramah dengan tema “Hak Muslim” di Thaif, lihat catatan kaki Ajwibah Mufidah hlm. 17)

“Wahai para pemuda Islam (secara khusus) dan kaum muslimin (secara umum)! Sungguh, jangan sampai ada rasa berat di hati Anda semua untuk menisbatkan diri kepada salafiyah. Angkatlah kepala kalian dengan (salafiyah) ini! Suarakan kebenaran dengannya! Jangan Anda merasa kecil hati karena celaan orang (ketika memperjuangkannya)!” ujar asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri dalam kitabnya, Ushul Wa Qawaid fi Manhaj as-Salafi (hlm. 8).

Wallahul Muwaffiq.


[1] Adapun dengan lafadz خير الناس datang dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam riwayat al-Bukhari (no. 2652) dan Muslim (no. 2533/212).

[2] Atau yang mereka tokohkan, meski tokoh tersebut berlepas diri dari paham tersebut atau telah rujuk kepada kebenaran.

[3] Semisal Sururiyah, nisbat kepada Muhammad Surur bin Nayif Zaenal Abidin; atau Haddadiyah, nisbat kepada Abu Abdillah Mahmud al-Haddad al-Mishri.

Apa Itu Salafiyah?

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

mahiya

Pernahkah Anda mendengar nama asy-Syaikh Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhahullah? Sosok ulama Ahlus Sunnah yang pernah berkunjung ke Indonesia dua tahun silam. Penampilannya sederhana, namun memendam ilmu nan melimpah.

Alkisah, suatu pagi ada seseorang yang menawarkan diri untuk membacakan kitab yang akan dikaji di majelis asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. Mendengar permohonan tersebut, beliau hafizhahullah menjawab, “Saya adalah orang yang diperintah.”

Beliau mengatakan demikian karena beliau bukan orang yang memiliki kekuasaan untuk menentukan dan mengatur acara kajian tersebut. Beliau adalah pihak yang diundang. Jadi, segala sesuatu beliau serahkan kepada pihak penyelenggara. Demikianlah akhlak dan adab yang bisa dipetik dari kehadiran seorang ulama Ahlus Sunnah. Begitu tawadhu’. Begitu menghargai dan menghormati keberadaan pihak lain.

Berinteraksi dengan ulama tak semata meraih ilmu yang diajarkannya. Lebih dari itu, interaksi itu menjadi media pembelajaran yang sangat berguna dari sisi bentuk amalan. Seseorang akan langsung melihat contoh perilaku kebaikan pada diri ulama tersebut.

Berinteraksi dengan ulama tak semata belajar mengambil ilmu, namun mengambil pula nilai aplikatif ilmu yang diajarkan. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bertutur,

كُنَّا لَا نَتَجَاوَزُ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ فَمِ رَسُولِ اللهِ حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَعْنَاهَا وَالْعَمَلَ بِهَا. فَقَالَ :كُنَّا نَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ

Kami mempelajari tak lebih dari sepuluh ayat dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kami mempelajari makna ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya.” “Kami mempelajari ilmu dan amal,” kata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Demikian salafu ash-shalih mengajarkan kepada kita. Sebab, sebagaimana disebutkan para ulama, sesungguhnya buah dari ilmu adalah amal. Maka dari itu, ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tiada berbuah. Karena itu, tak mengherankan apabila ada dari kalangan salafu ash-shalih yang hidup bersama al-Imam Ahmad rahimahullah sekadar mempelajari akhlak beliau. Tidak menulis hadits sekian tahun, hanya mempelajari bagaimana al-Imam Ahmad berperilaku dalam keseharian. Demikian pula yang dilakukan Abdullah bin Mubarak rahimahullah yang menghabiskan waktunya sekitar 30 tahun hanya untuk mempelajari adab.

Demikian penting masalah aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim. Keislaman seseorang tak sekadar dinilai dari kepiawaiannya bercakap dan memaparkan kajian. Sebab, Islam tak cukup semata dengan retorika.

Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah mengungkapkan bahwa Yahudi disebut maghdhub ‘alaihim (mereka dimurkai) lantaran mereka tak mau mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya, kaum Nasrani beramal, namun tidak dilandasi oleh ilmu. Mereka beribadah didasari kejahilan dan kesesatan. (Ithafu al-‘Uqul bi asy-Syarhi ats-Tsalati al-Ushul, hlm. 10)

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (Al-Baqarah: 44)

Firman-Nya ‘azza wa jalla,

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.(ash-Shaff: 2—3)

Kelekatan antara ilmu dan amal tiada bisa dipisahkan. Keduanya bagai keping mata uang, tak bisa pupus salah satunya. Ketiadaan salah satuya akan membawa konsekuensi yang amat berat bagi seorang muslim. Ia bisa terjatuh menyerupai Yahudi atau Nasrani. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi dan menjaga kita semua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa kebaikan, kebahagiaan, kesalehan, dan kesempurnaan disimpul dalam dua hal, yaitu pada ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh. (Majmu’ Fatawa 19/169. Lihat Ma Hiya as- Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 51).

Prinsip berilmu dan beramal adalah prinsip yang diajarkan oleh salafu ash-shalih. Siapakah salafu ash-shalih itu? Sebagaimana disebutkan oleh hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha mengungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga’.”

 

Arti Salaf

Salaf secara bahasa bermakna orang yang terdahulu. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.(az-Zukhruf: 56)

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya (7/218) menyebutkan bahwa kata as-salaf dalam ayat di atas bermakna orang terdahulu dari kalangan bapak-bapak (mereka). Maknanya, Kami jadikan mereka orang-orang yang terdahulu agar bisa memberi pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.

“… dan (diharamkan) mengumpulkan dalam pernikahan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau (terdahulu).(an-Nisa’: 23)

Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara kepada putrinya, Fathimah radhiallahu ‘anha,

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

Sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarhu Shahih Muslim (16/7) bahwa as-salaf ialah orang yang terdahulu. Makna dari pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah aku adalah orang yang mendahuluimu. Maka dari itu, dalam urusan agama lihatlah aku. Secara istilah, salaf bisa dilihat melalui firman Allah ‘azza wa jalla,

“Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.(at-Taubah:100)

Kemudian sebagaimana disebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha diungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ’Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga.”

Dengan pemaparan di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud salafu ash-shalih adalah orang-orang terdahulu yang saleh dari generasi utama (dalam hal) ilmu dan iman, yaitu para sahabat dan dua generasi berikutnya. (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 11—15)

 

Beragama Mengikuti Tuntunan Salaf

Saat seorang muslim shalat, salah satu yang dibaca dalam shalatnya ialah surat al-Fatihah. Ia ucapkan,

Tunjukilah kami jalan yang lurus.(al-Fatihah: 6)

Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya (1/75) dengan sanad yang hasan, sesungguhnya Hamzah bin al-Mughirah berkata, “Aku bertanya kepada Abul ‘Aliyah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Tunjukillah kami jalan yang lurus.’

Abul ‘Aliyah menjawab, ‘Itu adalah (jalan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabat sepeninggal beliau, Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma.’

Lantas, Hamzah bin al-Mughirah mendatangi (dan menyampaikan hal itu) kepada al-Hasan. Jawab al-Hasan, ‘Benar’.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu. Hendaklah kalian berhatihati dari perkara yang diada-adakan dalam agama. Sebab, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya dari ‘Irbadh bin Sariyyah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Dzammi at-Ta’wil (hlm. 7) menyebutkan, barang siapa suka menetap bersama salaf di akhirat dan menempati kedudukan yang telah dijanjikan, yaitu surga, hendaklah mengikuti mereka (salafu ash-shalih) dengan baik. Barang siapa mengikuti selain jalannya, berarti ia masuk dalam keumuman firman Allah ‘azza wa jalla di atas.”

Disebutkan lebih lanjut, “Telah ada perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah al-Khulafa (para pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya perintah untuk memegang teguh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dikabarkan pula bahwa mengada-adakan satu perkara dalam agama adalah bid’ah dan kesesatan, sesuatu yang tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tak ada sunnah para sahabatnya.” (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, hlm. 29—31)

Seorang muslim yang menginginkan keselamatan hendaklah mengikuti apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh salafu ash-shalih. Sebab, banyak orang dan kelompok menawarkan pemahaman agama dengan mengenakan baju Islam, tetapi bukan pemahaman agama yang lurus. Mereka menawarkan pemahaman agama berdasar hawa nafsu mereka.

Di antara mereka ada yang berusaha memahami agama hanya berdasar mengikuti orang yang ditokohkan. Sebagian lagi menawarkan agama dalam rangka mengikuti tradisi semata, mengikuti nenek moyangnya yang menyelisihi syariat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.(al-Baqarah: 170)

Sebagian mereka mengemas agamanya dengan warna akal. Segala sesuatu yang berasal dari agama mereka selaraskan dengan akal. Sesuatu yang tak sesuai dengan akal ditolak, walaupun itu berasal dari hadits yang sahih. Akal dijadikan sebagai sandaran untuk menentukan sesuatu itu sah atau tidak. Padahal Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاهُ

Seandainya agama itu dengan akal, maka mengusap khuf (sepatu atau yang sejenis) lebih utama diusap bagian bawah daripada (mengusap) bagian atasnya.” (HR. Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan, penetapan satu hukum dalam agama tidaklah dengan akal. Sebuah hukum agama ditetapkan berlandaskan kepada syariat. Adapun akal tidak termasuk dalam unsur yang digunakan untuk menetapkan sebuah hukum agama. (Tashil al-Ilmam, 1/159)

Karena itu, hendaklah seseorang senantiasa mengikuti tuntunan yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagaimana disebutkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosadosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali Imran: 31)

Mengikuti pemahaman salafu ash-shalih dalam beragama menjadikan seorang muslim terbebas dari pemahaman yang berdasar hawa nafsu. Ia akan mengamalkan agamanya sesuai dengan tuntunan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dengan pemahaman yang benar. Ia akan terjauhkan dari pengikut hawa nafsu dan kalangan ahlu bid’ah, seperti kelompok sempalan Syi’ah, Mu’tazilah, Sufi, Islam liberal, dan yang lainnya.

 

Adab Para Penyeru Dakwah Salafiyah

Di antara adab yang harus dijunjung tinggi oleh setiap da’i Ahlus Sunnah, selain memancangkan keikhlasan dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah memiliki semangat untuk menabur hidayah dan menyampaikan agama Allah ‘azza wa jalla kepada segenap manusia. Seorang da’i hendaklah pula senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut. Sebab, tiadalah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya indah. Sebaliknya, apabila kelemahlembutan itu tercerabut dari sesuatu, tiada lain akan menjadikannya buruk.

Bagi yang berdakwah, bekalilah diri dengan sikap hikmah, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Lalu sampaikanlah nasihat dalam bentuk memotivasi mengamalkan kebaikan dan memberikan peringatan untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Apabila harus berdiskusi, hendaklah dengan cara yang baik. Demikian beberapa arahan dari asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. (Ithafu al-‘Uqul hlm. 12)

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mulia. Dakwah yang menyeru manusia untuk senantiasa berjalan di atas tauhid dan memberantas kesyirikan serta menjauhi para pelaku kesyirikan. Dakwah yang senantiasa berupaya menghidupkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi bid’ah dan para pelakunya. Dakwah ini merujuk kepada kalamullah dan Rasul-Nya, bukan merujuk pada pemikiran manusia, apalagi bersikap taklid dan ta’ashub (fanatik buta) pada seseorang. Namun, dalam dakwah ini, seorang muslim dididik untuk senantiasa menghormati para ulama sebagai pewaris para nabi, yang menyampaikan nilai-nilai kebenaran sesuai dengan pemahaman salafu ash-shalih.

Barang siapa meniti hidup ini dengan pemahaman agama yang benar, yang selaras dengan salafu ash-shalih, ia telah menempuh jalan kebenaran. Ia menempuh jalan keselamatan. Karena itu, orang-orang yang mengusung manhaj salaf ini disebut pula dengan al-Firqatu an-Najiyah (kelompok yang selamat). Kata al-Imam Muhammad bin Muslim az-Zuhri rahimahullah,

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.” (Dikeluarkan oleh ad-Darimi dalam as-Sunan 1/44 dengan sanad yang sahih. Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah hlm. 61).

Allahu a’lam.

SALAFI: Tujuan atau Penyucian Diri?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

jalan-masih-panjang

Dakwah salaf bukanlah ruang di dalam sebuah bangunan bernama Islam. Akan tetapi, dakwah salaf adalah bangunan itu sendiri. Peletak batu pertamanya adalah Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam, bukan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagaimana sering dikicaukan oleh para penentang dakwah tauhid wa sunnah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanyalah mengembalikan gerbong Islam pada relnya, saat kereta bernama Islam itu disesaki para penumpang gelap berwajah Islam, para pedagang asongan sufi dan kuburanisme (baca: kesyirikan), para penjaja “makanan” yang menaburi racun-racun Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, dan sebagainya pada “jualan”-nya.

Apa yang beliau usung sejatinya adalah gerakan pemurnian, kembali kepada ajaran yang dibawa Rasulullah n dan generasi salaf (sahabat, tabi’in, dan seterusnya). Jadi, salafiyah dan dakwah salaf bukanlah agama baru. Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam dan beliau amalkan beserta para sahabatnya.

Ikatan wala dan bara, cinta dan benci di kalangan Ahlus Sunnah adalah di atas Islam, bukan yang lain. Tidak di atas sebuah simbol tertentu, tidak pula karena partai tertentu. Yang ada hanya al-Kitab dan sunnah. Juga tidak mengundang mereka untuk fanatik kepada orang tertentu selain Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam.

Seseorang yang mengaku bermanhaj salaf tidak akan membabi buta membela syaikhnya, karena semua ada timbangannya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Di sisi lain, seorang muslim juga tidak akan menghujat ulama hanya karena tidak sejalan dengan“pemikiran”-nya yang hanya dibangun di atas fanatisme atau semangat buta, tidak di atas dalil apa pun.

Seorang muslim bukanlah orang rendah yang mau menukar agamanya dengan mi instan, mengaburkan manhajnya demi dunia. Ahlus Sunnah lebih rela disebut tidak“cerdas”, namun tidak akan rela melunturkan agamanya demi segepok dana yang tidak seberapa. Salafi tidak akan memelintir agamanya demi dunia atau memelintir kata-kata di dunia maya demi mengaburkan manhajnya. Juga jauh dari sikap membenturbenturkan fatwa antarulama demi mendapat pembenaran atas pemikirannya.

Saat sekte sesat dalam kubu umat Islam kian menjamur, yang semua mengaku mendakwahkan Islam, serta menjadikan hakikat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam kian kabur, tentu menjadi sikap yang tidak cerdas jika orang yang mengaku Ahlus Sunnah justru merangkul pihak-pihak yang bermudah-mudah terhadap kesesatan mereka.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita menisbatkan diri kepada manhaj salaf yang sebenarnya. Ia adalah stasiun terakhir yang setiap muslim semestinya menuju ke sana. Tatkala muncul bid’ah, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan sunnah. Tatkala ra’yu (akal) dijadikan hakim, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan hadits dan atsar. Istilah Ahlus Sunnah, ath-Thaifah al-Manshurah, dan al-Firqatun an-Najiyah sendiri dimunculkan dan disebarluaskan oleh para ulama dahulu hingga sekarang untuk menjelaskan kepada umat Islam tentang hakikat Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi ‘alaihi ash-shalatu wa sallam dan orang-orang yang senantiasa istiqamah meniti jejak langkah beliau.

Tinggal bagaimana kejujuran kita terhadap penisbatan tersebut. Salafi bukanlah tazkiyah (penyucian), melainkan sebuah upaya, tujuan dari keislaman kita. Semoga!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته