Fatwa Seputar Shalat Wanita dan Takziyah

Mengeraskan Bacaan dalam Sholat bagi Wanita

Apakah wanita yang sedang shalat boleh mengeraskan bacaan dengan suara yang bisa didengar, sementara shalat yang dikerjakan tersebut bukan shalat jahriyah tetapi shalat sunnah, shalat rawatib, atau shalat sirriyah. Tujuan si wanita mentartil/mengeraskan bacaannya adalah agar bisa khusyuk dan tidak lupa, dalam keadaan di dekatnya tidak ada lelaki dan tidak pula wanita yang lain?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab,

“Apabila dalam shalat yang dikerjakan pada malam hari, wanita disunnahkan mengeraskan (jahr) bacaan shalatnya, baik shalat tersebut adalah shalat fardhu (Maghrib, Isya, dan termasuk Subuh, -pent.) maupun shalat sunnah, selama suaranya tidak terdengar oleh lelaki ajnabi (nonmahram) yang dikhawatirkan akan tergoda dengan suaranya.

Jadi, apabila si wanita shalat di tempat yang suaranya tidak terdengar oleh lelaki ajnabi dan shalat yang dikerjakan adalah shalat malam hari, si wanita boleh mengeraskan bacaannya. Akan tetapi, jika hal tersebut mengganggu orang lain (mengacaukan bacaan orang lain yang juga sedang shalat -pen.), dia membaca dengan sirr/perlahan.

Adapun dalam shalat yang dikerjakan siang hari, bacaannya sirr. Sebab, shalat siang hari adalah shalat sirriyah, bacaannya dilafadzkan sebatas bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Tidak disunnahkan mengeraskan bacaan dalam shalat siang hari karena hal tersebut menyelisihi sunnah.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, oleh asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, hlm. 51)

Wanita Shalat di Rumahnya Setelah Azan atau Setelah Iqamat di Masjid?

Kapan waktunya wanita mengerjakan shalat di rumahnya? Apakah setelah terdengar azan? Ataukah menunggu setelah diserukan iqamat (di masjid)?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab,

“Apabila telah masuk waktu shalat, para wanita yang berada di rumah boleh mengerjakan shalat tanpa harus menunggu iqamat. Mereka boleh shalat setelah mendengar azan dikumandangkan, apabila memang muazin menyerukan azan ketika telah masuk waktunya.

Para wanita diperbolehkan pula menunda shalat dari awal waktunya (tidak mengerjakannya di awal waktu, tetapi setelahnya selama waktu shalat tersebut belum habis, -pent.).

Wallahu a’lam.”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 3/181)

Syarat Wanita Menjadi Imam bagi Sesamanya

Apakah ada syarat-syarat bagi wanita untuk menjadi imam sesama wanita?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdullah bin Humaid rahimahullah menjawab,

“Apabila seorang wanita memiliki bacaan al-Qur’an yang lebih bagus dan hafalan lebih banyak dibandingkan dengan para wanita yang lain, tidak ada larangan baginya (menjadi imam shalat bagi sesama wanita) sebagaimana halnya seorang lelaki. Sebab, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah memerintah Ummu Waraqah untuk mengimami penghuni rumahnya.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, siaran radio Saudi)

Hukum Wanita Mengimami Anak Lelaki

Apa hukumnya wanita mengimami anak lelaki?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Yang benar, seorang wanita tidak boleh menjadi imam bagi lelaki, baik si lelaki masih kecil (anak-anak) maupun sudah besar (remaja/dewasa). Jadi, apabila wanita ingin shalat berjamaah maka dia jadikan anak kecil tersebut sebagai imam, sementara dia shalat di belakang si anak. Sebab, anak kecil dibolehkan menjadi imam sampaipun dalam shalat fardhu.

Telah tsabit dari hadits ‘Amr bin Salamah al-Jarmi, dia memberitakan, “Ayahku berkata, ‘Aku sungguh-sungguh datang dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam—karena ayahnya dahulunya adalah salah seorang utusan dari utusan-utusan yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pada 9 H.’ Ayah berkata, ‘Aku datang kepada kalian sungguh-sungguh dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau ketika itu bersabda (kepada kami),

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً.

‘Apabila telah datang waktu shalat, hendaknya salah seorang dari kalian menyerukan adzan dan hendaknya orang yang paling banyak hafalan al-Qur’annya mengimami kalian dalam shalat.’

Amr berkata, ‘Mereka (kaumnya) melihat (siapa yang paling banyak hafalannya). Ternyata mereka tidak dapati ada orang yang paling banyak hafalannya selainku. Mereka pun mengedepankan aku (sebagai imam). Padahal ketika itu usiaku baru enam atau tujuh tahun’.”

Hadits di atas tsabit dalam Shahih al-Bukhari dan menjadi dalil bahwa anak kecil boleh menjadi imam dalam shalat fardhu.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 15/147)


Shalat Kusuf/Gerhana di Rumah

Apakah diperkenankan bagi wanita untuk mengerjakan shalat gerhana sendirian di rumahnya? Manakah yang lebih utama bagi si wanita?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Tidak apa-apa wanita shalat gerhana sendirian di rumahnya. Sebab, perintah mengerjakan shalat tersebut umum, yaitu, ‘Shalatlah kalian dan berdoalah sampai tersingkap apa yang tertutup pada kalian’.

Jika si wanita keluar ke masjid sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita sahabiyah lantas shalat bersama manusia, hal ini memiliki kebaikan.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 16/310)

 

Ucapan Ta’ziyah

Apa yang diucapkan ketika berta’ziyah ke keluarga orang yang meninggal?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab,

“Kalimat terbagus yang diucapkan ketika ta’ziyah adalah apa yang diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam kepada salah seorang putri beliau. Saat itu, putri beliau mengutus orang untuk memanggil beliau agar datang ke tempatnya karena anak lelaki atau anak perempuannya (cucu beliau) tengah menghadapi kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pun bersabda kepada si utusan,

مُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ، فَإِنَّ لِلهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَبْقَى، وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى

“Suruhlah dia agar bersabar dan mengharapkan pahala. Sebab, sungguh hanya milik Allah-lah apa yang diambil-Nya dan milik-Nya pula apa yang Dia biarkan (tidak ambil). Segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang sudah ditentukan.[1]

Adapun ucapan yang tersohor di tengah manusia,

عَظَّمَ اللهُ أَجْرَكَ

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membesarkan pahalamu.”

أَحْسَنَ اللهُ عَزَاءَك

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membaikkan [menggantikan] dukamu.”

غَفَرَ اللهُ لِمَيِّتِكَ

“Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni mayitmu.”

Sebagian ulama memilih (membolehkan) ucapan-ucapan ini. Akan tetapi, apa yang disebutkan dalam as-Sunnah tentu lebih utama dan lebih baik.”

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 17/339)


[1] HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma.

Shalat Berjamaah Menuai Banyak Keutamaan

Suatu hari, seorang lelaki buta mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kata lelaki buta itu, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seorang penuntun guna pergi ke masjid.” Pernyataannya ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam demi memohon keringanan untuk tidak menghadiri shalat berjamaah di masjid.

Saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberi keringanan kepada lelaki buta itu untuk shalat di rumahnya. Namun, saat lelaki buta itu berbalik, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya lalu bertanya, “Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat (azan)?” Jawab lelaki buta itu, “Ya, saya mendengarnya.” “Kalau begitu, penuhilah seruan tersebut!” kata beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR . Muslim, no. 255)

Kisah di atas memberi gambaran betapa menegakkan shalat berjamaah di masjid adalah kewajiban bagi seorang muslim. Menurut asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, kisah yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslimrahimahullah dalam Shahih-nya, menunjukkan hukum wajib shalat berjamaah bagi penyandang kebutaan manakala tak memiliki uzur. Riwayat itu pun mengandung sisi pendalilan bahwa shalat berjamaah tersebut wajib ditunaikan di masjid.

Sebab, hadits tersebut tidak memaksudkan semata-mata shalat berjamaah, tetapi menekankan pula pelaksanaannya di masjid. Dalam riwayat lain yang semakna disebutkan dari Abdullah bin Amr bin Qais radhiyallahu ‘anhu, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum Sang Muadzin, ia berucap,

يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ.فَقَالَ النَّبِيُّ أَتَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ :  عَلَى الْفَلَاحِ، فَحَيَّ هَل

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya di kota Madinah banyak binatang berbisa dan binatang buas.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Kalau engkau mendengar seruan ‘hayya ‘ala ash-shalah, hayya alal falah’, segeralah penuhi seruan tersebut!” (HR . Abu Dawud no. 553)

Telah menjadi kesepakatan para ulama bahwa shalat berjamaah adalah seutama-utama ibadah dan bentuk ketaatan yang termulia. Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukumnya, apakah shalat berjamaah ini sunnah, wajib, atau termasuk salah satu dari syarat sah shalat. Seperti dijelaskan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, ada tiga pendapat ulama dalam menghukumi shalat berjamaah ini, yaitu:

1. Ada yang berpendapat hukumnya sunnah. Seseorang yang menegakkan shalat berjamaah ini akan mendapat pahala dan yang meninggalkannya tiada berdosa.

2. Pendapat yang menetapkan hukumnya wajib. Seseorang berkewajiban menunaikan shalat berjamaah, apabila tak menunaikannya maka ia berdosa. Adapun shalatnya tetap sah (bila ditunaikan sendiri).

3. Sesungguhnya shalat berjamaah adalah salah satu syarat untuk keabsahan sebuah shalat. Bagi yang berpendapat demikian, shalatnya akan dinyatakan batal manakala tidak ditunaikan secara berjamaah. Shalatnya tidak diterima. Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. (Pendapat pertama di atas adalah pendapat ulama kalangan mazhab Maliki, pendapat kedua adalah pendapat ulama mazhab Hanbali dan Zhahiri). Adapun yang diriwayatkan dari al-Imam Ahmad rahimahullah bahwa seseorang yang menunaikan shalat sendirian tanpa uzur syar’i (halangan yang bersifat syar’i), maka shalatnya tidak diterima, seperti halnya orang yang shalat tanpa berwudhu. Karena itu, shalat berjamaah itu hukumnya wajib.

Dari ketiga pendapat tersebut, asy- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menilai bahwa yang rajih (kuat) adalah pendapat yang kedua, yaitu hukum shalat berjamaah adalah wajib. Siapa yang meninggalkannya, ia berdosa dan jika ditunaikan sendirian (tanpa berjamaah) shalatnya tetap diterima. Berjamaah bukanlah syarat sahnya shalat. Adapun dalil pendapat ini adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama dibanding shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” (HR . al-Bukhari no. 645 dan Muslim no. 249)

Sisi pendalilan dari hadits ini, jika shalat sendirian tidak mengandung pahala, tentu tidak sah menyebutkan keutamaan (shalat berjamaah). Karena itu, seseorang yang meninggalkan shalat berjamaah berarti telah melakukan perbuatan dosa (meskipun shalatnya sah). (Syarhu Riyadhu ash-Shalihin, 2/1297—1298)

Allah Subhanahu wata’ala menetapkan syariat kepada hamba-hamba-Nya tidak bermaksud menjadikannya sebagai sesuatu yang menyusahkan, tidak sama sekali. Justru segenap ketentuan yang Allah Subhanahu wata’ala tetapkan akan memberi kebaikan bagi mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

طه () مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ () إِلَّا تَذْكِرَةً لِّمَن يَخْشَىٰ

“Thaha, Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)

Termasuk syariat-Nya ialah ketentuan untuk menunaikan shalat secara berjamaah di masjid. Di antara hikmah yang bisa dipetik dari ketentuan shalat berjamaah ini, sebagaimana dijelaskan para ulama, di antaranya,

1. Jam’u al-kalimah (persatuan kaum muslimin).

Sungguh Islam datang dengan membawa rahmat dan kasih sayang. Islam datang untuk menyatukan segenap manusia di atas cahaya tauhid, di bawah kemilau cahaya as-Sunnah. Islam datang memupus perseteruan, meluruhkan perpecahan, dan menyatukan hati. Sebab, sesungguhnya berukhuwah (bersaudara) didasari cahaya nubuwah adalah nikmat. Adapun perselisihan dan perseteruan adalah sebuah perbuatan nan buruk. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah kamu akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu bersaudara dan berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Berselisih itu jelek.” (sebagaimana diriwayatkan al-Imam Ahmad rahimahullah)

Dalam shalat berjamaah tampak syiar persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Tampak satu kata dalam barisan. Tak menyisakan satu celah pun dalam shaf (barisan) shalat. Tak membiarkan setan menyelinap di tengah-tengah kaum muslimin. Shaf dalam shalat lurus, rapat antara satu dengan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اسْتَوُوا وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Luruskan (shaf-shaf) kalian! Jangan berselisih sehingga berselisih hati-hati kalian.” (HR . Muslim no. 122)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, atau sungguh Allah akan menyelisihkan di antara wajah-wajah kalian.” (HR . al- Bukhari no. 719 dan HR . Muslim, no. 125, hadits dari Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu)

Terkait dengan hadits di atas, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin rahimahullah menyebutkan, sebagaimana dimaklumi, perselisihan yang bersifat lahiriah bisa mengarah pada perselisihan yang bersifat batin. Apabila telah timbul perbedaan-perbedaan yang bersifat lahir, akan terjadi perselisihan di antara hati-hati mereka. Jika perselisihan itu telah menancap dalam hati-hati mereka, tentu menjadi sesuatu yang jelek dan rusak. Wal ‘iyadzubillah. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin, 2/1318)

Karena itu, menunaikan shalat berjamaah selain selaras dengan tuntunan sunnah nabi-Nya, juga akan memberi dampak yang sangat positif bagi tegaknya syiar persatuan umat. Jam’u al-kalimah (satu kata) dalam diri umat akan terpatri seiring tertunaikannya amalan-amalan yang selaras tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Melalui shalat berjamaah, tumbuh kelemahlembutan dan kasih sayang di antara orang-orang yang berjamaah.

2. Menjauhkan pelakunya dari setan.

Menurut asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah,menunaikan shalat berjamaah akan menjauhkan seseorang dari setan. Apabila kaum muslimin berkumpul lalu mereka shalat berjamaah, yang demikian ini akan menjauhkan mereka dari setan. Adapun apabila seseorang sendirian, maka setan akan menyelinap padanya. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

“Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang terpisah dari kelompoknya.” (Hasan, HR . Ahmad no. 13022)

Karena itu, shaf wajib dirapatkan dan jangan sampai ada celah di antara jamaah shalat. Ini dalam rangka menutup celah agar setan tak masuk di antara celah-celah shaf (barisan) orang-orang yang shalat berjamaah. Apabila mereka saling meluruskan, merapatkan, dan menutup celah, setan tak akan mendapat peluang untuk membisiki mereka demi merusak apa yang ada pada mereka. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ

“Rapatkanlah shaf kalian, dekatkanlah di antara shaf-shaf, dan sejajarkan tengkuk-tengkuk kalian. Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya, sungguh aku benar-benar melihat setan masuk ke sela-sela shaf seperti domba kecil.” (HR . Abu Dawud no. 667)

3. Pembelajaran bagi yang jahil.

Shalat berjamaah bisa menjadi wahana pembelajaran bagi orang yang mengerti Islam dengan baik dan benar. Bisa jadi, seseorang selama umurnya belum paham bagaimana shalat yang benar, tak paham tentang rukun, syarat, hal-hal yang wajib, atau tata caranya. Bahkan, kadang ada yang belum paham bagaimana rukuk dan sujud yang benar.

Maka dari itu, dengan menghadiri shalat berjamaah seseorang akan bisa mengambil pelajaran, terutama dalam hal shalat. Sungguh, belajar dengan metode praktik terkadang lebih mengena daripada dengan ucapan.

4. Menumbuhkan kasih sayang.

Melalui shalat berjamaah, kaum muslimin dibimbing untuk saling memerhatikan. Melalui shalat berjamaah yang terus-menerus berkesinambungan, akan tumbuh sikap rahmah, lemah lembut, dan perhatian terhadap sesama mukmin. Apabila seseorang tak tampak di masjid, jamaah yang lain akan mempertanyakan ketidakhadirannya. Yang lain akan merasa kehilangan lantaran ketidakhadirannya. Jika ketidakhadirannya itu karena sakit, jamaah akan mengunjungi dan menjenguknya. Apabila ketidakhadirannya karena meremehkan, malas, atau selain itu, jamaah yang lain bisa menasihatinya.

Dengan demikian, akan tumbuh sikap perhatian, kasih sayang, dan sifat kelemahlembutan di antara kaum muslimin. Amal yang bisa mengarahkan kepada demikian di antaranya adalah shalat berjamaah. (Tashilu al-Imam bi Fiqhi al-Ahadits min Bulughi al-Maram, 2/401—402)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan syariat bagi manusia dalam beberapa hal yang dilakukan secara berjamaah atau berkelompok. Di antara yang dilakukan secara berkelompok (dalam kurun setahun sekali) adalah haji. Yang dilakukan dalam setahun dua kali adalah Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun yang dilakukan secara berjamaah sepekan sekali adalah shalat Jumat. Yang dilakukan setiap hari, siang dan malam, adalah shalat lima waktu. (Ta’liqat ‘ala Umdati al-Ahkam, karya asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah, hlm. 202)

Hendaknya seorang muslim tidak meremehkan pelaksanaan shalat berjamaah ini di masjid. Selain hikmah hikmah di atas, shalat berjamaah di masjid memberi keutamaan yang begitu tinggi bagi seorang hamba. Di antara keutamaan itu digambarkan oleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ هِيَ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ؛ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Shalat seseorang (lelaki) secara berjamaah lebih banyak pahalanya dua puluh sekian derajat dibanding shalatnya seseorang di rumah atau di pasarnya. Hal ini (bisa diraih) manakala salah seorang dari mereka membaguskan wudhunya kemudian datang ke masjid. Tidaklah ia menggerakkan (anggota tubuhnya) kecuali untuk shalat, tiada pula yang ia inginkan kecuali selain menunaikan shalat. Tiadalah satu langkah kaki yang ia ayunkan kecuali akan meninggikan derajatnya dan ayunan langkah kaki lainnya akan menghapus dosa-dosanya hingga ia memasuki masjid. Apabila telah masuk masjid, selama ia di dalam masjid maka dihitung shalat terus-menerus dan para malaikat mendoakannya selama ia duduk menanti shalat. Para malaikat berdoa, ‘Ya Allah, rahmati dia, ampuni dia, terimalah tobatnya’ (hal itu terusmenerus berlangsung) selama dia tak berbuat aniaya (kejelekan) dan tidak batal dari hadats’.” (HR . al-Bukhari 647 dan Muslim no. 272)

Tampak, betapa banyak keutamaan bisa dituai manakala shalat berjamaah ditunaikan dengan tuntunan yang benar. Hadits di atas memberi kabar gembira kepada hamba Allah Subhanahu wata’ala yang mencintai sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara keutamaan itu adalah:

1. Besarnya pahala dan keutamaan shalat berjamaah dibanding dengan shalat yang dilakukan secara menyendiri.

2. Allah Subhanahu wata’ala meninggikan derajat orang yang shalat berjamaah.

3. Allah Subhanahu wata’ala memupus dosa melalui langkah kaki seseorang yang menuju masjid dalam rangka shalat berjamaah. Ini tentu keutamaan yang teramat agung dan luhur.

4. Keutamaan berwudhu sebelum berangkat ke masjid.

5. Seseorang yang menanti shalat ditegakkan di dalam masjid terhitung menunaikan shalat terus-menerus. Ini menunjukkan ladang untuk meraih ganjaran sebesar-besarnya.

6. Para malaikat turut mendoakan orang yang menanti shalat berjamaah ditegakkan. Seorang mukmin tentu tak akan melewatkan saat-saat emas untuk merengkuh kebaikan dan keutamaan di atas. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi kekuatan dan kemudahan untuk bisa menunaikan kewajiban kewajiban yang diembankan. Amin.Wallahu a’lam

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Shalat Berjamaah Adalah Syariat Islam

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata dalam bab “Shalatil Jama’ati min Sunanil Huda (Shalat Berjamaah termasuk Jalan Petunjuk [Syariat Islam])”, “Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkandalam Shahih-nya, dari Abdullah bin Mas’ud  radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

‘Barang siapa merasa senang apabila bertemu Allah Subhanahu wata’ala besok (pada hari kiamat) dalam keadaan muslim, hendaknya ia memelihara shalat lima waktu (berjamaah pada waktunya), di mana pun disuarakan azan. Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kalian jalan petunjuk, sedangkan shalat lima waktu (dengan berjamaah) termasuk jalan petunjuk. Kalau saja kalian melakukan shalat itu di rumah sebagaimana kebiasaan shalatnya orang yang tidak mau berjamaah, niscaya kalian telah meninggalkan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, jika demikian pasti kalian tersesat. Tidaklah salah seorang di antara kalian bersuci dengan sempurna lalu pergi menuju ke masjid dari masjid-masjid ini, kecuali Allah Subhanahu wata’ala catat dengan setiap langkah baginya kebaikan, mengangkat derajat baginya dan menghapus darinya kesalahan. Aku benar-benar melihat di antara kami, tidak ada yang meninggalkan shalat berjamaah, kecuali orang munafik yang sesungguhnya. Sungguh pernah terjadi seorang lelaki diantar ke masjid, dipapah di antara dua orang, sampai diberdirikan dalam shaf’.”

Pada riwayat yang lain beliau berkata,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kami jalan petunjuk. Sesungguhnya termasuk jalan petunjuk adalah shalat (berjamaah) di masjid yang dikumandangkan azan padanya.” (Syarh an-Nawawi, 3/168—169)

Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan bagi kaum muslimin untuk berkumpul (berjamaah) dalam melakukan ibadah. Shalat Berjamaah, Menyatukan Umat Berikut ini beberapa jenis ibadah yang pelaksanaannya disyariatkan untuk dilakukan secara berjamaah.

Ibadah Haji

Perkumpulan terbesar yang terjadi pada kaum muslimin dalam rangka melaksanakan ibadah adalah saat melaksanakan ibadah haji. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, berkumpul di satu tempat yaitu di Padang Arafah, pada hari Arafah. Bulan-bulan haji hanya pada bulan tertentu, yaitu Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

حَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi.” (al-Baqarah: 197)

 

Shalat ‘Ied

Disyariatkan bagi kaum muslimin untuk berkumpul setiap tahun, dalam rangka melakukan shalat ‘ied secara berjamaah, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Pelaksanaannya disyariatkan di tanah lapang (mushalla).

 

Shalat Jumat

Demikian pula halnya dengan shalat Jumat, kaum muslimin disyariatkan menegakkannya pada setiap pekan sekali. Jika di suatu daerah (kampung) terdapat beberapa masjid yang ditegakkan shalat berjamaah di tempat itu, yang lebih utama pelaksanaan shalat Jumat di satu masjid saja, yaitu masjid jami’. Namun, jika dalam keadaan darurat, seperti semakin banyaknya jumlah kaum muslimin, sehingga apabila dilaksanakan di satu masjid tidak cukup (sempit), diperbolehkan untuk dilaksanakan di beberapa masjid, karena keadaan yang mengharuskan.

 

Shalat Fardhu (Lima Waktu)

Islam mensyariatkan shalat lima waktu untuk dilaksanakan secara berjamaah. Sehingga pertama kali yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah adalah membangun masjid. Supaya kaum muslimin berkumpul di tempat itu, melakukan shalat dengan berjamaah. Di samping itu, masjid juga bisa dipakai sebagai tempat berkumpul untuk memusyawarahkan urusan-urusan yang penting atau untuk mempelajari ilmu agama. Karena itu, apabila setiap muslim memilih (melaksanakan shalat fardhu,-pen.) di rumah, tidak akan terwujud sikap saling menolong antarsesama, proses belajar ilmu\ agama tidak ia peroleh, dan kedekatan (saling mengenal) satu sama lain tidak pula tercapai.

Jadi, masjid adalah tempat berkumpulnya kaum muslimin. Di samping mereka akan menggapai pahala dengan shalat berjamaah, terwujud pula tolong-menolong, persatuan, dan saling mengenal.

Disyariatkannya shalat fardhu secara berjamaah adalah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Ia adalah bagian dari ibadah yang paling utama dan bagian dari ketaatan yang paling mulia. Tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini selain kaum Rafidhah (salah satu sekte Syiah). Mereka berpendapat, tidak boleh ditegakkan shalat berjamaah kecuali jika imamnya adalah seorang yang maksum. Karena itulah, mereka tidak melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah. Syaikhul Islam rahimahullah berkata (tentang mereka), “Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan dan menjauhi masjid, namun (lebih memilih) untuk memakmurkan masyhad (kuburan).” Kaum Rafidhah menganggap tidak disyariatkannya shalat berjamaah, meskipun kaum muslimin seluruhnya berpendapat tentang disyariatkannya.

Tidak ada satu pun (dari kaum muslimin) yang berpendapat tidak disyariatkan. Hanya saja mereka berbeda pendapat dalam hal hukumnya. Apakah fardhu ‘ain (diwajibkan atas setiap individu muslim) atau fardhu kifayah (diwajibkan atas sebagian saja), ataukah sunnah muakkadah (sunnah yang mendekati wajib). Pendapat yang menyatakan fardhu ‘ain terbagi lagi, apakah berjamaah menjadi syarat sahnya shalat atau tidak?

Di antara kelompok yang menyelisihi kesepakatan kaum muslimin dalam masalah ini adalah kaum Khawarij. Mereka berpendapat, shalat berjamaah tidak boleh ditegakkan kecuali apabila imamnya adalah seorang nabi atau shiddiq. Sebagaimana disyariatkan pada shalat fardhu, berjamaah juga disyariatkan pada shalat-shalat sunnah. Seperti shalat istisqa’ (meminta hujan), shalat kusuf (gerhana), dan shalat tarawih. Tidak mengapa pula shalat malam/tahajud dan shalat dhuha dilakukan secara berjamaah.

Namun, hal ini tidak boleh dijadikan sebagai suatu kebiasaan dan dilakukan terus-menerus. Sebab, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat berjamaah (bukan shalat fardhu) di rumah seorang sahabat yang bernama ‘Itban bin Malik  radhiyallahu ‘anhu dan di rumah Ummu Sulaim  radhiyallahu ‘anha. Demikian pula Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhu pernah bermakmum bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat malam, saat beliau bermalam di rumah bibinya yang menjadi istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Maimunah radhiyallahu ‘anha. Yang disunnahkan untuk terus-menerus tetap berjamaah dalam shalat sunnah adalah shalat tarawih, shalat istisqa’, dan shalat kusuf. (Tashil al-Ilmam 2/401—403, asy-Syarh al-Mumti’, 2/365)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Hikmah Di Balik Shalat Berjamaah

Disyariatkan bagi kaum muslimin untuk melaksanakan shalat berjamaah karena di balik itu ada kemaslahatan dan kebaikan yang sangat agung. Selain yang telah disebutkan pada Rubrik Manhaji edisi ini, berikut ini beberapa hikmah lain shalat berjamaah.

1. Munculnya sikap saling menyayangi, mengasihi, dan saling mencari tahu keadaan sebagian mereka atas yang lain.

Di antara faedah shalat berjamaah, jika salah satu dari jamaah tidak hadir, yang lain akan menanyakan tentang dirinya. Apabila sakit atau ada uzur syar’i, mereka pun akan mengunjungi dan menjenguknya, dengan itu tenteramlah mereka. Namun, jika yang menyebabkan tidak hadirnya adalah karena sikap meremehkan, bermalas-malas, dan yang lain, mereka pun akan menasihati dan memperingatkan dengan tegas tentang bahaya dari meninggalkan shalat berjamaah.

Jadi, shalat berjamaah memiliki kemaslahatan yang sangat agung. Kalau saja orang lebih memilih untuk shalat sendirian, kemungkinan yang terjadi ialah ia akan shalat dengan rasa malas atau menunda dan mengakhirkan dari waktunya. Kemudian setahap demi setahap, ia akan meninggalkan shalat. Begitulah sesungguhnya setan bertahap pula dalam menggoda manusia. Namun, jika senantiasa menjaga shalat secara berjamaah, ia akan tergolong orangorang yang senantiasa menjaga shalatnya.

2. Menumbuhkan cinta kasih dan persahabatan.

Bertemunya manusia satu dengan yang lain dan saling berjabat tangan, menjadi sebab timbulnya cinta kasih dan persahabatan.

3. Saling mengenal.

Menjadi suatu kebiasaan dan kewajaran, apabila kaum muslimin shalat berjamaah di masjid, lantas ketika di sisi mereka ada orang baru, mereka akan bertanya, siapa dia? Siapa orang baru yang shalat bersama kita? Dari sinilah terjadinya saling mengenal. Faedahnya, bisa jadi orang baru tersebut adalah kerabat Anda, sehingga mengharuskan Anda untuk menyambung persaudaraan sebatas kekerabatannya. Bisa jadi pula, dia orang asing dari suatu negeri, yang mengharuskan Anda untuk menunaikan haknya.

4. Menampakkan salah satu syiar Islam.

Termasuk salah satu syiar Islam yang sangat agung adalah shalat. Dengan demikian, apabila manusia shalat di rumah, tidak akan diketahui bahwa dalam Islam ada shalat.

 

5. Menampakkan kemuliaan kaum muslimin.

Hal ini terlihat tatkala kaum muslimin dalam jumlah yang banyak memasuki masjid lantas keluar darinya.

 

6. Menahan/menguasai diri.

Dengan shalat berjamaah, seseorang membiasakan diri untuk mengikuti gerakan imam dengan saksama. Jika imam takbir, ia pun harus takbir. Ia tidak boleh mendahului, tidak boleh tertinggal jauh dengan imam, dan tidak boleh bersamaan, tetapi mengikuti. Hal ini akan membiasakan seseorang untuk dapat menahan dan menguasai diri.

 

7. Menumbuhkan perasaan

berada dalam barisan jihad (perang di jalan Allah Subhanahu wata’ala). Ketika berada dalam shalat berjamaah terwujud barisan shaf yang lurus, rapat, dan teratur, mengesankan bahwa seseorang sedang berada dalam barisan jihad. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan- Nya dalam barisan yang teratur.” (ash- Shaf: 4)

Kaum muslimin yang berada dalam barisan jihad menjadi tidak diragukan, apabila terbiasa berada dalam barisan yang teratur di saat melaksanakan shalat lima waktu. Kebiasaan seperti ini akan menjadi perantara bagi mereka untuk mengikuti pemimpinnya saat berada di barisan perang sehingga tidak akan mendahului ataupun terlambat menjalankan perintahnya.

 

8. Mengingatkan orang yang shalat berjamaah terhadap shaf para malaikat di sisi Allah Subhanahu wata’ala.

Dengan demikian , bentuk pengagungan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan kecintaannya kepada malaikatmalaikat Allah Subhanahu wata’ala akan bertambah.

 

9. Memupuk persamaan.

Ketika shalat berjamaah di masjid, akan berkumpul dan bertemu orang yang paling kaya dengan orang yang paling miskin. Pemimpin berdiri di samping bawahannya, penguasa berdiri di samping rakyatnya, dan yang muda berdiri di samping yang tua. Dengan kondisi ini, manusia akan merasakan persamaan (tingkat dan kedudukan). Oleh sebab itu, kita diperintahkan untuk merapikan dan meluruskan shaf, seperti dalam hadits

 

10. Perkara paling utama dalam menjalani shalat berjamaah adalah beribadah semata-mata karena Allah Subhanahu wata’ala.

 

11. Mengingatkan umat atas keadaan di masa lalu.

Maksudnya, mengingatkan keadaan para sahabat, seolah-olah imam yang memimpin shalat adalah Rasulullah n dan yang menjadi makmum adalah para sahabat. Tidak diragukan, keadaan= ini menumbuhkan adanya keterikatan generasi akhir umat dengan generasi awalnya, memberikan dorongan yang kuat kepada umat Islam untuk mengikuti jejak salaf dan meneladani kehidupan mereka.

Andaikata setiap kali kita beramal timbul perasaan bahwa kita sedang mencontoh perbuatan Rasulullah n dan para sahabatnya yang mulia, akan tumbuh dorongan yang kuat dalam hati yang menyebabkan seseorang merasa menyatu dengan perbuatan salafush shalih. Selain itu, perasaan ini akan mendorong dirinya menjadi orang yang benar-benar salafi, baik dalam hal akidah, amal perbuatan, tingkah laku, maupun metode agama (manhaj)nya. (Tashil al-Ilmam, 2/401—403, al-Mumti’, 2/366—368)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Hukum Shalat Berjamaah

Seperti pada pemaparan sebelumnya, shalat berjamaah adalah syariat Allah Subhanahu wata’ala dan perkara yang disepakati oleh kaum muslimin. Hanya saja para ulama berbeda pendapat dalam hal hukumnya. Hal ini disebabkan karena perbedaan sisi pandang terhadap dalil – dalil yang ada.

Pendapat pertama menyatakan hukumnya fardhu ‘ain.

Maknanya, wajib bagi setiap individu muslim lelaki yang sudah baligh dan mampu untuk menghadirinya. Barang siapa meninggalkan berjamaah tanpa uzur, sah shalatnya namun ia berdosa. Inilah pendapat yang benar. Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan tentang wajibnya shalat berjamaah.

1. Dalil dari al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Kata “bersama” menunjukkan makna menemani, menyertai. Jadi, ayat ini bermakna “dirikanlah shalat bersama yang lain secara berjamaah!” Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Kebanyakan para ulama berdalil dengan ayat ini atas wajibnya shalat berjamaah.”

2. Dalil lain dari ayat al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ

Dan apabila kamu berada di tengahtengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu. (an-Nisa: 102)

Pada kalimat پ huruf lam di sini menunjukkan perintah, sedangkan asal suatu perintah adalah wajib. Yang menguatkan bahwa perintah dalam hal ini bermakna wajib ialah, Allah Subhanahu wata’ala memerintah para sahabat untuk melaksanakan shalat berjamaah, meskipun dalam kondisi takut (dalam peperangan). Sementara itu, pada umumnya, apabila manusia dalam kondisi takut (perang) dan kekacauan, berat bagi mereka untuk berkumpul. Dalam situasi kacau, umumnya orang lebih suka untuk tetap berada pada posisi masing-masing dalam rangka memantau musuh. Hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala perintahkan,

وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ

Dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.” (an- Nisa: 102)

Yang tampak dalam hal ini adalah tidak ada perbedaan antara senjata ringan dan berat, dalam keadaan suci atau najis. Para ulama berpendapat, pada saat seperti ini—karena keadaan darurat—diperbolehkan menyandang senjata meskipun dalam kondisi najis. Selanjutnya, setelah kelompok pertama menyelesaikan shalat, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ

Kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) telah sujud (telah menyempurnakan serakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh).” (an-Nisa: 102)

Sujud di sini bermakna mereka telah menyelesaikan shalatnya. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memerintah (kelompok lain yang belum shalat bersama kelompok pertama) untuk shalat berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

Dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu.

Perintah ini menunjukkan shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain. Kalau saja hukumnya fardhu kifayah, akan gugurlah kewajiban kelompok yang kedua karena telah ditunaikan oleh kelompok yang pertama.

3. Adapun dalil dari as-Sunnah di antaranya adalah hadits dari Abu Hurairah zbahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

“Sungguh, aku berkeinginan untuk memerintahkan agar shalat ditegakkan, lalu aku perintahkan seorang untuk mengimami manusia. Kemudian pergi bersamaku beberapa orang sambil membawa seikat kayu bakar menuju rumah orang-orang yang tidak menghadiri shalat berjamaah, lalu aku bakar rumahrumah mereka dengan api.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkeinginan namun tidak melakukannya. Hal ini tidak berarti shalat berjamaah bukanlah perkara yang wajib. Kalau bukan suatu yang wajib, tidak tepat untuk dikatakan dengan ungkapan seperti itu. Ungkapan ini akan dianggap sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Adapun yang menghalangi beliau melakukannya (membakar rumah)] dan ilmunya ada di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah tidak ada yang berhak menyiksa manusia dengan api selain Rabb-nya api, yaitu Allah Subhanahu wata’ala.

4. Dalil yang lain dari sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hadits yang memberitakan adanya seorang laki-laki buta yang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  untuk tidak ikut shalat berjamaah di masjid.

أَتَى النَّبِيَّ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ،  إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ  فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ

Beliau bertanya, “Apakah kamu mendengar suara azan?” Ia pun menjawab, “Ya.” Lalu beliau berkata, “Kalau begitu penuhilah (panggilan azan itu).”

Demikian pula hadits yang lain dari Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhuma,

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Barang siapa mendengar azan kemudian ia tidak mendatanginya, tidak sah shalatnya kecuali karena uzur.” (HR. Ibnu Majah)

Adapun praktik perbuatan sahabat, seperti riwayat dari Ibnu Mas’ud z beliau berkata, “Sungguh aku telah menyaksikan para sahabat, tidak ada seseorang yang tidak ikut shalat berjamaah selain munafik yang jelas kemunafikannya.”

Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat perhatian terhadap shalat berjamaah serta berpandangan akan wajibnya dan tidak ingin menyelisihinya. Yang lebih menguatkan hukum shalat berjamaah itu wajib adalah kebaikan dan manfaat yang ada padanya. Di antara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Atha’, al-Auza’i, Ahmad, Abu Tsaur, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban, Abul Abbas, mazhab Zhahiri, mazhab Hanbali, serta salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i dan Hanafi.

Pendapat kedua, hukumnya fardhu kifayah.

Yang menguatkan pendapat ini adalah mayoritas ulama mazhab Syafi’i, Hanafi, dan Maliki. Mereka berdalil dengan dalil-dalil yang dinyatakan oleh para ulama yang berpendapat tentang fardhu ain. Hanya saja dalil-dalil tersebut dipalingkan kepada makna fardhu kifayah.

Ketiga, hukumnya sunnah.

Ini adalah salah satu pendapat dalam mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanafi. Hujah mereka adalah hadits,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan kelipatan 27 derajat.”

Mereka memahami kalimat “lebih utama” bermakna hanya lebih utama dan bukan wajib. Namun, pendalilan mereka dalam hal ini sangat lemah. Sebab, hadits ini menjelaskan pahala orang yang shalat berjamaah lebih utama dan lebih banyak, bukan menjelaskan hukum shalat (berjamaah). Pun penyebutan kalimat ”lebih utama” tidak meniadakan hukum wajibnya. Kita katakan pula, apakah beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala itu wajib? Jawabannya, pasti wajib. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat meyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul- Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (ash-Shaf: 10—11)

Maksudnya, yang lebih baik dan lebih utama. Apakah akan dikatakan bahwa beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan berjihad di jalan-Nya hukumnya sunnah (dengan alasan kalimat ”itulah yang lebih baik bagimu”)? Sungguh, tidak seorang pun yang berpendapat demikian. Kita katakan pula, apakah shalat Jumat hukumnya sunnah karena firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (al-Jumu’ah: 9)

Pasti tidak seorang pun yang mengatakan bahwa shalat Jumat hukumnya sunnah (berdalil dengan kalimat “hal itu lebih baik bagimu”).

Demikian pula hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan untuk membakar rumahrumah orang yang tidak ikut shalat berjamaah. Mereka beralasan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewujudkan keinginannya sehingga hal itu hanya sebagai peringatan keras, tidak sampai pada kenyataan. Jawabannya bisa dilihat pada pembahasan sebelumnya.

Dengan demikian, berdasarkan al-Qur’an, sunnah, ijma’ sahabat, pencermatan dan pemahaman terhadap masalah, disimpulkan bahwa shalat berjamaah hukumnya wajib. (Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/57—58, asy-Syarhul al-Mumti’, 2/369—370, at-Tashil, 2/406—407) Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Keutamaan Shalat Berjamaah

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah kaidah syar’i, melaksanakan hal yang wajib lebih utama daripada melaksanakan hal yang sunnah. Di antara dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala dalam hadits qudsi,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada perkara yang Aku wajibkan atasnya.” (HR. al-Bukhari, dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullahdalam Shahih-nya mengatakan, bab “Fadhli Shalatil Jamaah” (“Keutamaan Shalat Berjamaah”). Lalu beliau menyebutkan riwayat seorang tabi’in dan seorang sahabat, sebelum menyebutkan beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adalah al-Aswad bin Yazid an- Nakha’i rahimahullah (salah seorang tabi’in senior) jika luput dari berjamaah, beliau pergi menuju ke masjid yang lain. Apabila Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu datang ke sebuah masjid yang telah selesai ditegakkan shalat padanya, beliau mengumandangkan azan dan iqamat lalu shalat berjamaah.

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, maksud al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan riwayat al-Aswad dan Anas  radhiyallahu ‘anhuma adalah sebagai isyarat bahwa keutamaan shalat berjamaah yang tersebut dalam beberapa hadits, hanya berlaku bagi mereka yang berjamaah di masjid, bukan di rumah. Sebab, jika berjamaah tidak dikhususkan di masjid, al-Aswad  radhiyallahu ‘anhu akan menegakkan shalat berjamaah di tempatnya dan tidak akan pergi ke masjid lain untuk mendapatkan jamaah.

Demikian pula Anas bin Malik  radhiyallahu ‘anhu, beliau tidak akan datang ke masjid bani Rifa’ah (untuk melaksanakan shalat berjamaah, -pen.). Kemudian al-Imam al-Bukhari rahimahullah menyebutkan beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah. Di antaranya dari Abdullah bin Umar  radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 27 derajat.”

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan lafadz,

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ

“Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak daripada shalatnya sendirian 27 kali.”

Dari Abu Sa’id al-Khudri  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan 25 derajat.”

Dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمِيعِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ وَتُصَلي يَعْنِي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ؛ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Shalat seseorang dengan berjamaah itu dilipatgandakan pahalanya 25 kali atas shalat sendirian yang dia kerjakan di rumah dan di pasar. Hal itu apabila ia berwudhu dengan sempurna, lalu ia keluar menuju ke masjid dan tidak ada yang mendorongnya keluar (menuju ke masjid) selain shalat. Tidaklah setiap langkahnya kecuali akan mengangkatnya satu derajat dan menghapuskan darinya satu kesalahan. Apabila ia shalat, malaikat akan senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’ Salah seorang di antara kalian tetap dianggap berada dalam shalat selamaia menanti shalat.”

Sebagian ulama mengompromikan riwayat yang menyebutkan 25 derajat dengan riwayat yang menyebutkan 27 derajat sebagai berikut:

• Penyebutan jumlah yang sedikit tidak meniadakan penyebutan jumlah yang banyak. Pendapat ini dianut oleh mereka yang tidak menganggap mafhum adad (jumlah bilangan tersebut tidak mengandung sebuah hukum).

• Bisa jadi, di awal waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bilangan 25, kemudian ditambahkan keutamaan padanya, lalu beliau menyampaikan dengan bilangan 27.

• Perbedaan jumlah berdasarkan pembedanya yaitu lafadz “darajah” dan “juz’an.” Dengan demikian, kata “derajat” lebih kecil daripada “juz (bagian).”

• Perbedaan jumlah berdasarkan dekat dan jauhnya masjid.

• Perbedaan keadaan orang yang shalat, seperti seorang yang keadaannya lebih berilmu atau lebih khusyuk.

• Perbedaan antara seseorang yang menunggu shalat berikutnya dan yang tidak menunggu.

• Perbedaan antara seseorang yang mendapati keseluruhan shalat dan yang hanya mendapatkan sebagiannya.

• Perbedaan jumlah orang yang berjamaah.

• Riwayat bilangan 27 khusus untuk shalat subuh dan isya, atau subuh dan ashar. Adapun yang 25 untuk selainnya.

• Riwayat 27 untuk shalat jahriyah, sedangkan yang 25 untuk shalat sirriyah.

Berikut ini beberapa keutamaan shalat berjamaah di masjid.
1. Memenuhi panggilan azan dengan niat untuk melaksanakan shalat berjamaah.
2. Bersegera untuk shalat di awal waktu.
3. Berjalan menuju ke masjid dengan tenang (tidak tergesa-gesa).
4. Masuk ke masjid sambil berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid. Semua ini dilakukan dengan niat untuk melakukan shalat berjamaah.
6. Menunggu jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat dan permohonan ampun untuknya.
8. Persaksian malaikat untuknya.
9. Memenuhi panggilan iqamat.
10. Terjaga dari gangguan setan karena setan lari ketika iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menunggu takbirnya imam.
12. Mendapati takbiratul ihram.
13. Merapikan shaf dan menutup celah (bagi setan).
1 4 . Menjawab imam saat mengucapkan sami’allah.
15. Secara umum terjaga dari kelupaan.
16. Akan memperoleh kekhusyukan dan selamat dari kelalaian.
17. Memosisikan keadaan yang bagus.
18. Mendapatkan naungan malaikat.
19. Melatih untuk memperbaiki bacaan al-Qur’an.
20. Menampakkan syiar Islam.
21. Membuat marah (merendahkan) setan dengan berjamaah di atas ibadah, saling ta’awun di atas ketaatan, dan menumbuhkan rasa giat bagi orangorang yang malas.
22. Terjaga dari sifat munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil manfaat dengan berjamaah atas doa dan zikir serta kembalinya berkah orang yang mulia kepada orang yang lebih rendah.
25. Terwujudnya persatuan dan persahabatan antartetangga dan terwujudnya pertemuan setiap waktu shalat.
26. Diam dan mendengarkan dengan saksama bacaan imam serta mengucapkan “amiin” saat imam membaca “amiin”, agar bertepatan dengan ucapan amin para malaikat. An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarh Shahih Muslim, bab “Keutamaan Shalat Isya dan Subuh dengan Berjamaah”, dari ‘Utsman bin Affan  radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

“Barang siapa shalat isya dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat setengah malam. Barang siapa shalat isya dan subuh dengan berjamaah, pahalanya seperti shalat semalam penuh.” (Syarh al-Bukhari, al-‘Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Kepada Siapa Shalat Berjamaah Diwajibkan

Diwajibkan shalat berjamaah hanya bagi kaum lelaki yang sudah baligh, terbebas dari halangan seperti sakit dan alasan lain yang dibenarkan oleh syariat seperti terdorong oleh hadats. Termasuk dalam hal ini adalah budak, menurut pendapat sebagian ulama. Hal ini berdasarkan keumuman dalil dan tidak ada pengecualian bagi para budak. Di samping itu, hak Allah k lebih dikedepankan ketimbang hak manusia.

Namun, sebagian ulama berpendapat, budak wajib shalat berjamaah dengan izin tuannya. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Adapun anak laki-laki yang belum baligh belum diwajibkan atasnya. Al- Imam an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam syarah Shahih Muslim, pada bab “Bolehnya Berjamaah dalam Shalat Sunnah”, jika seorang anak yang sudah mumayyiz ikut berjamaah, shalatnya sah. Dibenarkan baginya untuk berdiri dalam barisan shaf menurut jumhur (mayoritas) ulama.

Demikian pula khuntsa (ambiguous genetalia atau pseudohermaphrodite), yaitu yang tidak diketahui apakah dia lelaki atau perempuan, tidak diwajibkan atasnya berjamaah. Termasuk yang tidak diwajibkan shalat berjamaah adalah kaum wanita. Sebab, mereka bukan orang-orang yang dianjurkan berkumpul dan menampakkan syiar Islam, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud)

Namun, para ulama berselisih pendapat saat para wanita mendirikan shalat berjamaah tidak bersama kaum lelaki.

1. Sunnah.

Mereka berdalil bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ummu Rauqah radhiyallahu ‘anha untuk mengimami keluarganya.

2. Makruh.

Mereka menganggap hadits Ummu Rauqah radhiyallahu ‘anha lemah. Wanita bukan kaum yang dituntut untuk berkumpul dan menampakkan syiar Islam sehingga tidak disukai bagi wanita untuk mendirikan shalat berjamaah di rumahnya. Selain itu, hal ini tidak dikenal di kalangan ummul mukminin (para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) ataupun dari selain mereka (para istri sahabat dan yang lain).

3. Mubah.

Mereka berpendapat, secara umum wanita termasuk yang diperbolehkan untuk berkumpul. Oleh karena itu, mereka boleh hadir di masjid dalam rangka melaksanakan shalat berjamaah, dengan tetap menjaga diri, aurat, dan suara.

Pendapat ini tidak mengapa untuk diambil, dan jika terkadang dilakukan tidak mengapa. An-Nawawi rahimahullah berkata, bab “Khurujin Nisa ilal Masjid Idza Lam Yatarattab Alaihi Fitnah wa Annaha La Takhruj Muthayyabah” (“Keluarnya Wanita ke Masjid Apabila Tidak Menimbulkan Fitnah dan Tidak Boleh Keluar Menggunakan Wewangian”).

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

Janganlah kalian menghalangi wanita pergi ke masjid, jika mereka telah meminta izin kepada kalian.’ (HR. Muslim)

Pada riwayat yang lain,

لَا تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba (wanita) Allah Subhanahu wata’ala dari masjid Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Muslim)

Dari Zainab ats-Tsaqafiyyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْعِشَاءَ فَلَا تَطَيَّبْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ

Apabila salah seorang dari kalian menghadiri shalat isya, janganlah menggunakan wewangian pada malam itu.” (HR. Muslim)

Para ulama berpendapat bolehnya wanita menghadiri shalat berjamaah di masjid dengan syarat tidak menggunakan wewangian, tidak bersolek, tidak bergelang kaki hingga terdengar gemerincing suaranya, tidak berpakaian mewah, tidak bercampur laki-laki dan perempuan, bukan wanita muda yang dikhawatirkan menimbulkan godaan bagi lawan jenis, serta tidak ada suatu sebab kerusakan dan kejelekan yang membahayakan di jalan. (asy-Syarh al-Mumti’, 2/369—371, Syarh an-Nawawi, 2/396—399)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Shalat Berjamah, Syarat Sahnya Shalat?

Meskipun yang kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa shalat berjamaah lima waktu hukumnya fardhu ‘ain, namun shalat berjamaah bukan syarat sahnya shalat. Andaikata seorang shalat sendirian— tanpa ada uzur untuk tidak menghadiri shalat berjamaah—shalatnya sah, hanya saja ia berdosa. Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini, menurut jumhur (mayoritas) ulama.

Sebagian ulama berpendapat, shalat berjamaah menjadi syarat sahnya shalat. Pendapat ini dianut oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Aqil, yang keduanya bermazhab Hanbali, serta sebuah riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahumullah. Menurut pendapat ini, jika seseorang shalat sendirian tanpa uzur yang syar’i (untuk tidak menghadiri shalat berjamaah), shalatnya tidak sahm(batal). Keadaan ini dimisalkan seperti seorang yang shalat tanpa wudhu. Pendapat ini lemah berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan perbandingan 27 derajat.

Adanya unsur pengutamaan (antara shalat berjamaah dengan shalat sendirian), menunjukkan adanya keutamaan pada sesuatu yang diutamakan (shalat sendirian). Hal ini menjadi suatu keharusan bahwa shalatnya sah. Sebab, sesuatu yang tidak sah tentu tidak memiliki keutamaan, dan yang ada adalah dosa. (asy-Syarhu al-Mumti’, 2/373—374)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Haruskah Berjamaah Di masjid

Para ulama berselisih dalam hal ini.

1 . Sebagian ulama berpendapat, shalat berjamaah di masjid hukumnya fardhu kifayah.

Maknanya, apabila ada sebagian orang yang dianggap cukup telah menunaikannya, gugurlah kewajiban tersebut atas yang lain. Selain mereka (yang tidak hadir berjamaah di masjid) boleh shalat berjamaah di rumahnya. Mereka berpendapat, shalat berjamaah di masjid adalah salah satu syiar Islam. Sementara itu, kaum muslimin masih tetap menjalankannya di sekian banyak masjid. Kalau saja masjid-masjid yang ada (di suatu negeri) tidak dipakai untuk shalat berjamaah, tidak akan tampak bahwa negeri tersebut adalah negeri Islam.

Jawaban atas pendapat ini, untuk mencapai kesempurnaan, setiap individu wajib ikut shalat di masjid. Sebab, dengan pendapat di atas, setiap orang akan memilih tinggal di rumahnya dan ia berprasangka barangkali di masjid sudah ada yang shalat berjamaah.

2. Pendapat kedua mengatakan, shalat berjamaah boleh di rumah masing – masing dan boleh meninggalkan masjid, sekalipun jaraknya dekat, meskipun masjid lebih utama.

Menurut pendapat ini, apabila seorang berpendapat bahwa mengadakan shalat berjamaah bisa dengan dua orang, meskipun salah satunya adalah wanita, seorang suami bisa shalat berjamaah bersama istrinya di rumah dan tidak harus ke masjid. Mereka berdalil dengan hadits,

وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

Dijadikan untukku bumi, semuanya sebagai tempat shalat dan suci.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini dipahami bahwa bumi semuanya sebagai tempat shalat, sehingga meskipun di rumah sudah teranggap berjamaah meskipun di masjid lebih utama. Jawaban atas pendapat ini, hadits ini sama sekali tidak bisa menjadi dalil atas pendapat mereka. Sebab, hadits ini berisi penjelasan bahwa bumi semuanya adalah tempat ibadah. Ini adalah kekhususan bagi umat ini, berbeda halnya dengan umat yang lain. Mereka tidak beribadah selain di gereja, kuil, atau tempat peribadahan yang khusus.

Dengan demikian, hadits ini hanya menjelaskan bolehnya mengerjakan shalat di mana pun, dan tidak menjelaskan shalat berjamaah sah dikerjakan di mana pun. Selain itu, hadits di atas bersifat umum yang telah dikhususkan dengan beberapa dalil yang mewajibkan shalat berjamaah di masjid.

3. Ulama yang lain berpendapat, kewajiban shalat berjamaah di masjid hanya bagi yang diwajibkan. Dalilnya adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sungguh aku berkeinginan kuat untuk memerintahkan supaya ditegakkan shalat, lalu aku perintahkan seorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan mendatangi kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, kemudian aku bakar rumah mereka dengan api.”

Kata “kaum” pada hadits ini berarti sejumlah orang yang memenuhi syarat untuk dikatakan berjamaah. Kalau saja diperbolehkan bagi mereka untuk shalat berjamaah di rumah, beliau tentu akan mengecualikan orang yang shalat di rumahnya. Dari sini diketahui, berjamaah di masjid menjadi sebuah keharusan. Inilah pendapat yang benar. Jika dilaksanakan selain di masjid, mereka berdosa meskipun sah shalatnya. (asy-Syarhul Mumti’ 2/374—378)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Masjid Yang Di Utamakan

Yang paling utama, seseorang hendaknya shalat berjamaah di masjid yang ada di sekitar tempat tinggalnya, baik jamaahnya banyak maupun sedikit. Hal ini berdasarkan kebaikan dan kemaslahatan yang ditimbulkan. Di antaranya, ia telah ikut memakmurkan masjid tersebut, menumbuhkan kedekatan dengan imam, menjauhkan prasangka buruk yang ada pada hati seorang imam, lebih-lebih jika dirinya termasuk seorang yang dianggap oleh imam.

Berbeda halnya apabila terdapat sebuah masjid yang memiliki keutamaan daripada masjid yang lain. Misalnya, seseorang yang tinggal di Madinah atau di Makkah. Yang utama baginya adalah shalat di Masjidil Haram jika ia tinggal di Makkah; atau di Masjid Nabawi jika ia tinggal di Madinah. Berikutnya adalah masjid yang lebih banyak jamaahnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى

Shalat seseorang bersama satu orang lebih baik daripada shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang, dan apabila yang bersamanya lebih banyak, lebih Allah Subhanahu wata’ala cintai.” (HR. Abu Dawud, Shahih al-Jami no. 2242)

Selanjutnya, masjid yang semakin jauh, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah dia mengayunkan satu langkahnya kecuali dengannya Allah Subhanahu wata’ala mengangkatnya satu derajat dan menghapus satu kesalahannya.”

Demikian pula hadits,

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى

Sesungguhnya manusia yang paling agung pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh berjalan menuju padanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

Semakin jauh jarak masjid, semakin utama baginya karena lebih melelahkan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan kelelahanmu.” Urutan berikutnya adalah masjid yang lebih dahulu didirikan karena ketaatan lebih dahulu dikerjakan padanya. (asy-Syarh al-Mumti’ 2/377—378)