Waktu Shalat Isyraq

  1. Bismillah. Afwan nanya kalau waktu syuruq jam 5.45 kapan kita shalat isyraqnya? Khawatirnya kita shalat di waktu yang terlarang (matahari terbit). Jazakallahu khairan wa barakallahu fik.

  2. Bismillah, bolehkah kita setelah shalat shalat subuh di rumah duduk ibadah sampai waktu syuruq, terus shalat isyraq, walaupun tidak dapat pahala seperti umrah, tetapi bolehkah shalat isyraq di rumah?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Syariat shalat isyraq datang pada hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah (di masjid), lalu duduk berzikir hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, adalah hal itu berpahala seperti pahala satu haji dan satu umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

Kata at-Tirmidzi, “Ini adalah hadits hasan gharib. Aku telah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il (yakni al-Imam al-Bukhari, pen) prihal Abu Zhilal. Ia menjawab, ‘Muqaribul hadits (riwayat haditsnya mendekati).’ Kata Muhammad, ‘Namanya adalah Hilal’.”

Kata al-Albani, “Akan tetapi, jumhur ahli hadits menvonis Abu Zhilal sebagai rawi yang dha’if (lemah riwayatnya). Oleh karena itu, adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya yang berjudul al-Mughni, ‘Mereka mendha’ifkan Abu Zhilal’.”

Namun, menurut al-Albani terdapat beberapa syahid (penguat) dari riwayat yang lain. Hal itu beliau sebutkan dalam kitab ash-Shahihah (no. 3403) dan menghukuminya sebagai hadits hasan dalam kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 586) dan hasan lighairih (hasan karena penguatnya) dalam kitab Shahih at-Targhib wat Tarhib (no. 464).

Di antara penguatnya adalah hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فِيْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيْهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سَبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah di masjid jami’, kemudian tetap tinggal di tempatnya hingga melaksanakan shalat dhuha (dua rakaat), adalah hal itu berpahala seperti pahala orang berhaji atau berumrah dengan haji dan umrah yang sempurna.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Abul Hasan ‘Ubaidullah al-Mubarakfuri menukil dalam kitab Mir’atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih[1] bahwa ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah lalu shalat setelah matahari meninggi seukuran batang tombak agar waktu terlarang telah berakhir. Shalat ini dinamakan shalat isyraq dan merupakan awal shalat dhuha.”

Begitu pula keterangan imam-imam ahli fikih di masa ini, seperti Ibnu ‘Utsaimin dan Ibnu Baz.

Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha. Namun, jika kamu menunaikannya di awal waktu saat matahari terbit dan telah meninggi (dari ufuk) seukuran batang tombak (menurut pandangan kasat mata), itu dinamakan shalat isyraq. Apabila ditunaikan di akhir waktu atau di pertengahan waktu, itu dinamakan shalat dhuha.

Akan tetapi, shalat isyraq tergolong shalat dhuha, karena ulama –rahimahumullah– mengatakan bahwa waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak sampai menjelang zawal (matahari bergeser ke ke arah barat).”[2]

Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Shalat isyraq adalah shalat yang dilaksanakan setelah matahari meninggi seukuran batang tombak. Lamanya menurut perhitungan jam sekitar lima belas menit atau semisal itu. Itu adalah shalat isyraq dan merupakan shalat dhuha, karena pelaksanaan shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak hingga menjelang zawal. Shalat dhuha lebih utama dilaksanakan di akhir waktu daripada di awal waktu.

Kesimpulannya, dua rakaat shalat isyraq adalah dua rakaat shalat dhuha. Hanya saja, jika disegerakan pelaksanaannya di awal waktu, yaitu saat matahari meninggi seukuran batang tombak, itu adalah shalat isyraq dan dhuha. Jika diakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, itu adalah shalat dhuha, bukan shalat isyraq.”[3]

Ibnu ‘Utsaimin menerangkan perbedaan istilah syuruq dan isyraq. Syuruq artinya terbitnya matahari tanpa meninggi seukuran batang tombak. Isyraq artinya terbitnya matahari dengan meninggi seukuran batang tombak.[4]

Kata asy-Syaikh Ibnu Baz, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha di awal waktu. Yang lebih utama adalah dilaksanakan ketika waktu dhuha telah meninggi dan terik matahari amat panas. Hal itu sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat orang-orang yang gemar bertobat adalah ketika anak-anak onta kepanasan dari teriknya matahari.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah ketika panas terik matahari menyengat anak-anak onta. Inilah makna hadits tersebut. Shalat dhuha setidaknya dua rakaat.”[5]

Kata asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazamul dalam kitabnya yang bertajuk Bughyatul Mutathawwi’ fi Shalatit Tathawwu’, Shalatul Isyraq, “Telah tsabit (tetap) penamaan shalat dhuha yang dilaksanakan di awal waktu sebagai shalat isyraq dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. ‘Abdullah bin Harits bin Naufal meriwayatkan,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ لَا يُصَلِّي الضُّحَى. فَأَدْخَلْتُهُ عَلَى أُمِّ هَانِئٍ، فَقُلْتُ: أَخْبِريْ هَذَا بِمَا أَخْبَرْتِنِيْ

بِهِ. فَقَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمَ الْفَتْحِ فِيْ بَيْتِيْ، فَأَمَرَ بِمَاءٍ، فَصَبَّ فِيْ قَصْعَةٍ، ثُمَّ أَمَرَ بِثَوْبٍ، فَأَخَذَ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ رَشَّ نَاحِيَةَ الْبَيْتِ، فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، وَذَلِكَ مِنَ الضُّحَى، قِيَامُهُنَّ وَرُكُوعُهُنَّ وَسُجُودُهُنَّ وَجُلُوسُهُنَّ سَوَاءٌ، قَرِيبٌ بَعْضُهُنَّ مِنْ بَعْضٍ.

فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ يَقُولُ: لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ، مَا عَرَفْتُ صَلاَةَ الضُّحَى إِلَّا الْآنَ: { يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ }، وَكُنْتُ أَقُولُ: أَيْنَ صَلاَةُ الْإِشْرَاقِ؟ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ: هُنَّ صَلاَةُ الْإشْرَاقِ.

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak pernah shalat dhuha. Lantas aku membawanya masuk ke Ummu Hani’, aku berkata, “Beritakan padanya apa yang kamu beritakan padaku.”

Ummu Hani’ berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui aku di rumahku pada hari penaklukan kota Mekah, lalu memerintahkan agar disiapkan air, lalu beliau menuangnya ke dalam bejana, lalu memerintahkan disiapkan pakaian, lalu mengambil tempat terpisah antara dirinya dan aku, lalu beliau mandi, lalu memerciki salah satu sudut rumah, lalu shalat delapan rakaat. Itu adalah shalat dhuha. Lama berdirinya, rukuknya, dan sujudnya hampir sama.”

Kemudian Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma keluar seraya berkata, “(Demi Allah) sungguh aku telah membaca di mushaf, tetapi tidaklah aku mengetahui shalat dhuha kecuali sekarang. (Allah berfirman),

يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ١٨

“Gunung-gunung itu bertasbih di pagi hari dan petang hari.” (Shad: 18)

Adalah aku sebelumnya bertanyatanya, ‘Mana shalat isyraq itu?’ Ternyata itulah shalat isyraq.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan al- Hakim[6]

Dari keterangan di atas tampaklah jawaban untuk pertanyaan pertama bahwa Anda bisa melaksanakan shalat isyraq ketika telah berlalu sekitar lima belas menit (seperempat jam) dari waktu syuruq (terbitnya matahari).

Adapun jawaban pertanyaan kedua, kami nukil fatwa al-Imam Ibnu Baz ketika ditanya dengan pertanyaan yang teksnya sebagai berikut, “Apakah tinggal di rumah setelah shalat fajar untuk membaca al-Qur’an hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat syuruq, akan mendapat pahala yang sama yang diraih dengan berdiam menunggu di masjid? Kami berharap dari kemuliaan Anda agar memberi faidah dalam masalah ini. Semoga Allah memanjangkan umur Anda di atas ketaatan kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Amal tersebut memiliki kebaikan yang banyak dan pahala yang besar. Akan tetapi, lahiriah hadits-hadits yang datang tentang hal itu menunjukkan bahwa amalan di atas tidak mendapat pahala yang dijanjikan untuk orang yang duduk di tempat shalatnya di masjid.

Namun, jika dia shalat subuh di rumah karena uzur sakit atau takut, kemudian duduk di tempat shalatnya berzikir atau baca Qur’an hingga matahari meninggi, kemudian shalat dua rakaat, ia meraih pahala yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu lantaran dia beruzur tatkala shalat di rumahnya.

Demikian pula halnya jika seorang wanita duduk di tempat shalatnya (di rumah) setelah shalat subuh, berzikir atau membaca Qur’an hingga matahari meninggi lalu shalat dua rakaat, sesungguhnya ia mendapatkan pahala tersebut yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu, bahwa Allah ‘azza wa jalla menuliskan bagi orang yang melakukannya pahala berhaji dan umrah yang sempurna.

Hadits-hadits dalam hal itu jumlahnya banyak, saling menguatkan satu sama lainnya dan tergolong dalam jenis hadits hasan lighairih (hasan karena penguatnya). Hanya Allah yang memberi taufik.”[7]

Wallahu a’lam.


[1] Pada Kitab ash-Shalah, Bab adz-Dzikri ba’da ash-Shalah, al-Fashlu ats-Tsani (3/328).

[2] Lihat kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (141/25).

[3] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/305).

[4] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/298-299).

[5] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/400-401).

[6] Kata guru besar kami al-Imam al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim (4/142, no. 6952), “Asal hadits ini dalam Shahih Muslim dari riwayat Ummu Hani’.”

[7] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/403-404).

Tanya Jawab Ringkas Edisi 97 (2)

Pertanyaan-pertanyaan berikut dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Shalat Sunnah bagi Wanita Haid

Bolehkah wanita haid melaksanakan shalat sunnah?

0899xxxxxxx

  • Jawaban:

Wanita haid tidak boleh shalat apa pun, wajib atau sunnah.

 

Menutup Telinga Saat Iqamat

Apakah sewaktu iqamat untuk shalat disyariatkan menutup telinga seperti saat adzan?

08214xxxxxxx

  • Jawaban:

Sebagian ulama berpendapat demikian, tetapi kebanyakan ulama berpendapat tanpa menutup telinga.

 

Gadai Sawah

Ada orang punya utang 4 juta dengan menggadaikan sawah, tenggang waktu 4 musim penghujan atau biasanya 4 tahun. Akan tetapi, sawah itu sekarang diolah dan hasil panennya diambil si pemberi utang.

Pertanyaannya:

1) Apakah boleh utang dibayar sekarang, walaupun belum 4 tahun, takut dilaknat karena memberi riba karena baru tahu hukumnya setelah baca Asy Syariah?

2) Apakah dia dikatakan menyalahi janji, karena yang berlaku di desa kami seperti itu. Kalau belum mencapai waktu yang disepakati, belum mau dibayar, karena belum dapat untung?

081392xxxxxx35

  • Jawaban:

Ya, bahkan harus segera dilunasi untuk menghindari riba.

 

Imunisasi

Apa hukumnya pemberian imunisasi pada bayi?

08774xxxxxxx

  • Jawaban:

Imunisasi pada dasarnya boleh. Adapun tinjauan secara medis, bisa ditanyakan kepada ahlinya.

 

Shalat di Belakang Shaf Sendirian

Dalam shalat berjamaah ketika shaf depan sudah penuh dan kita berada pada shaf kedua sendirian, apakah yang harus kita lakukan? Apakah tetap saja shalat meskipun sendirian dalam shaf kedua?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, tetap shalat dan sah, insya Allah, jika shaf pertama memang sudah penuh. Tidak perlu menarik orang dari shaf di depannya untuk menemani.

 

Shalat Sunnah Rawatib Empat Rakaat

Apakah boleh shalat 4 rakaat sekaligus tanpa salam sebelum zuhur? Siapakah ulama yang berpendapat demikian?

08575xxxxxxx

  • Jawaban:

Yang rajih dikerjakan dua rakaat dua rakaat, walaupun ada yang membolehkan dengan satu salam. Keterangan tentang hal ini bisa dilihat pada buku Tuntunan Shalat Sunnah karya asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul.

 

Ibu Mengimami Anak Perempuan

Bolehkah ibu mengimami anak perempuannya yang berusia 7 tahun yang masih sering bercanda dalam shalat? Apakah sebaiknya shalat sendiri-sendiri atau bagaimana?

081227xxxxxx

  • Jawaban:

Boleh mengimaminya.

 

Bacaan Saat Sujud Syahwi

Apa yang bisa dibaca seseorang ketika sujud sahwi? Apa perlu bertakbir ketika hendak sujud sahwi?

08386xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada riwayat yang sahih yang menyebutkan bacaan tertentu sehingga bisa baca seperti sujud biasanya. Untuk sujud sahwi, memakai takbir.

 

Kapan Allah subhanahu wa ta’ala Mengampuni Dosa?

Sejak kapan Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa hambanya, apakah setelah tobat ataukah setelah disiksa di neraka?

08536xxxxxxx

  • Jawaban:

Bisa jadi hamba diampuni sebelum tobat dengan sebab tertentu. Bisa jadi pula setelah dia bertobat. Yang jelas, tobat itu wajib hukumnya.

 

Doa Khusus Bagi Ayah yang Sudah Meninggal

Apa doa yang dibacakan untuk ayah yang sudah meninggal? Apakah ada doa khusus yang dibacakan supaya dikabulkan?

0898xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada doa khusus, seperti yang biasa saja, “Rabbighfirli wa li walidayya.”

 

Doa Antara Azan dan Iqamat

Ada hadits yang menyatakan bahwa waktu berdoa yang afdal adalah setelah dikumandangkan azan. Yang saya tanyakan, apakah kita berdoa dengan menengadahkan kedua tangan?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, dengan mengangkat tangan.

 

Hukum Karma dalam Islam

Apakah benar di dalam Islam ada istilah “hukum karma”?

08214xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak ada istilah hukum karma dalam Islam.

 

Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu?

Apakah bersentuhan kulit dengan istri itu membatalkan wudhu?

08538xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak membatalkan wudhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berwudhu kemudian mencium istrinya, lalu pergi shalat tanpa berwudhu lagi.

 

Membaca al-Qur’an Saat Haid

Bolehkah wanita membaca/menulis al-Qur’an saat haid?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh.

 

Keluar Rumah Tanpa Izin Suami

Bolehkah wanita keluar rumah (bukan safar) tanpa seizin suami, karena suami merantau di Arab?

081327xxxxxx

  • Jawaban:

Izin dari suami, bisa jadi dengan ucapan langsung, bisa jadi pada sesuatu yang sudah maklum dia izinkan. Hal yang seperti itu boleh juga. Wallahu a’lam.

 

Tempat Afdal untuk Akikah

Seorang wanita saat lahirnya belum diakikahi dan sekarang dia ikut suaminya. Jika dia ingin mengakikahi dirinya, di mana tempat yang afdal?

0899xxxxxxx

  • Jawaban:
    Di tempat dia berada sekarang.

 

Membaca al – Qur ’an Tanpa Berkerudung

Bolehkah seorang perempuan membaca al-Qur’an tidak berkerudung?

08525xxxxxxx

  • Jawaban:

Boleh.

 

Cairan Coklat setelah Haid

Seorang wanita yang tidak mempunyai kebiasaan (adat haid) melihat cairan kecoklatan setelah terputusnya darah. Apa yang seharusnya dia lakukan?

08534xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak termasuk haid.

 

Kapur Ajaib

Bagaimana hukumnya menggunakan kapur ajaib untuk mengusir serangga?

085227xxxxxx

  • Jawaban:

Boleh insya Allah.

 

Celana di Atas Mata Kaki

Mengapa celana kita harus dipotong di atas mata kaki?

02195xxxxxx

  • Jawaban:

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita memanjangkan celana sampai di bawah mata kaki. Di antara hikmahnya, hal demikian identik dengan kesombongan, terbukti biasanya yang memanjangkan memandang sinis kepada yang di atas mata kaki. Bisa jadi ada hikmah lain. Yang jelas, kita harus taat.

 

Nisbat Wahabi

Mau tanya. Apa boleh menisbahkan diri sebagai wahabi, soalnya itu kan penisbahan kepada seseorang?

08384xxxxxxx

  • Jawaban:

Nisbah yang benar adalah kepada salaf.

 

Menahan Buang Angin Saat Shalat

Apa boleh menahan kentut pada saat shalat?

08564xxxxxxx

  • Jawaban:

Kalau tekanan kentut tidak kuat dan tetap bisa khusyuk maka boleh, tetapi makruh.

 

Waktu Larangan Shalat Sunnah

Apa hukum shalat sunnah pada saat matahari terbit di ufuk timur dan pada saat matahari terbenam di ufuk barat?

08539xxxxxxx

  • Jawaban:

Tidak boleh shalat saat itu, tunggu matahari terbit dan agak meninggi sekitar 5—10 menit setelahnya. Demikian pula pada saat sore hari, tunggu sampai matahari tenggelam.

 

Waktu Sepertiga Malam

Kapan waktu sepertiga malam terakhir itu?

08521xxxxxxx

  • Jawaban:

Sejak sekitar jam 1 sampai dengan terbit fajar (azan subuh).

 

Membersihkan Bulu Ketiak

Apakah membersihkan bulu ketiak itu sunnah? Bagaimana cara membersihkannya agar tidak tumbuh lagi?

08963xxxxxxx

  • Jawaban:

Ya, termasuk sunnah. Caranya, lebih baik dicabut meski boleh saja dikerik. Bulu tersebut tumbuh terus tidak mengapa, sehingga tetap bisa melaksanakan sunnah. Hanya saja tidak boleh melebihi waktu 40 hari kecuali harus dicabut.

 

Maulid Nabi

Mengapa kita dilarang memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj, dan Nuzulul Qur’an?

08524xxxxxxx

  • Jawaban:

Karena tidak dicontohkan oleh Nabi. Seandainya baik, tentu hal itu akan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Shalat Sunnah Qabliyah Maghrib

Apakah ada shalat sunnah qabliyah maghrib?

08233xxxxxxx

  • Jawaban:

Ada, dua rakaat. Sebagian ulama tidak memasukkannya sebagai shalat rawatib.