Kriteria Imam dalam Shalat

Sahabat mulia, Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَتَيْنَا النَّبِيَّ, وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا  وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kami pernah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu, kami semua pemuda sebaya. Kami pun bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 20 hari 20 malam. Setelah memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan. Kami pun menceritakannya kepada beliau. Ternyata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah itu beliau bersabda, ‘Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah di antara mereka, ajari dan perintahkan mereka (untuk melaksanakan Islam). Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat. Jika waktu shalat telah tiba, salah seorang di antara kalian hendaknya mengumandangkan azan untuk kalian dan yang paling tua di antara kalian menjadi imam’.”

Kedudukan Hadits Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Hadits di atas, dengan tambahan lafadz ( وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ), dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah di tiga tempat dalam Shahih al-Bukhari,

1. Kitab al-Azan (no. 631)

2. Kitab al-Adab (no. 6008)

3. Kitab Akhbarul Ahad (no. 7246)

Ketiga riwayat tersebut bersumber dari jalur Ayyub dari Abu Qilabah dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Mengenai sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, beliau adalah Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairits bin Asyam bin Zabalah bin Hasyis. Beliau berasal dari suku Sa’d bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Beliau menetap di Bashrah hingga wafatnya pada 74 H. Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu memiliki beberapa hadits di dalam Shahih al- Bukhari, seluruhnya berkenaan dengan tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa datangnya Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu bersama rombongan dari suku Laits disebutkan oleh sebagian ahli sejarah terjadi pada tahun al- Wufud (tahun kedatangan utusan secara bergelombang dari berbagai negeri untuk menyatakan keislaman). Ibnu Sa’d rahimahullah menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum Perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. (Fathul Bari, 13/292—293)

Pandangan Ulama tentang Hadits Ini

Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan, “Hadits ini adalah landasan yang kuat untuk menyatakan bahwa apa yang dilakukan dan yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat adalah bayan (penjelasan) tentang perintah shalat yang masih mujmal (global) di dalam al-Qur’an.” (Subulus Salam) Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang wajibnya seluruh perbuatan dan ucapan di dalam shalat yang tsabit (sahih) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mendukung hal ini adalah tata cara tersebut merupakan bentuk bayan (penjelasan) terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala yang masih mujmal (global) dari ayat,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

‘Dan dirikanlah shalat.’ (al- Baqarah: 43)

Perintah di atas adalah perintah al- Qur’an yang menunjukkan wajib. Dan bayan (penjelasan) untuk bentuk mujmal (global) yang wajib juga dihukumi wajib.” (Nailul Authar 2/175)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat,”

diterangkan oleh al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “ (Kalimat ini) adalah bentuk perintah yang mencakup segala hal yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalatnya. Hal-hal yang dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya di dalam shalat. Adapun yang tidak dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka hal itu adalah perintah yang tidak boleh ditinggalkan oleh kaum muslimin seluruhnya, apa pun alasannya.” (al- Ihsan, 3/286)

Beberapa Hukum dan Faedah dari Hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Ada banyak hukum dan faedah yang dapat dipetik dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu antara lain,

1. Semangat setiap muslim untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul bab untuk hadits di atas di salah satu pembahasannya, “Motivasi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Utusan Suku Abdul Qais Agar Mereka Menghafalkan Iman dan Ilmu lalu Menyampaikannya kepada Masyarakat Mereka.” Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada kami, ‘Pulanglah kepada keluarga kalian dan ajarkanlah ilmu kepada mereka’.”

2. Azan dan iqamat disyariatkan untuk shalat saat sedang safar.

Hukum ini diambil dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits di atas,

وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكمْ

“Jika waktu shalat telah tiba, hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan untuk kalian.”

Al-Imam Bukhari rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Azan dan Iqamat bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah”. Dalil lain adalah hadits Abu Qatadah rahimahullah dalam riwayat Muslim (no. 681) yang secara panjang mengisahkan salah satu safar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tertidur sampai matahari terbit. Kemudian Bilal Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan. Dalil berikutnya adalah hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2203), beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ وَيُصَلِّي فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“Rabb kalian kagum terhadap seorang penggembala kambing yang berada di puncak bukit. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat. Lalu Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman, ‘Lihatlah hamba- Ku ini. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat karena takut kepada-Ku. Sungguh, Aku telah memberikan ampunan untuknya dan Aku akan memasukkannya ke dalam surga’.”

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas, bab “Azan di Saat Safar.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/65).

3. Bersikap kasih sayang dan lembut kepada sesama manusia.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Bersikap Rahmat kepada Binatang dan Manusia”. Faedah ini dipahami dari keterangan Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menilai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih dan kelembutan.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada dua riwayat di dalam Shahih al-Bukhari untuk lafadz

,(رَفِيقًا)

رَفِيقًا) ), dengan huruf fa’ kemudian qaf

رَقِيقًا) ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Adapun di dalam riwayat Muslim hanya dengan lafadz ( رَقِيقًا ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Namun, kedua lafadz tersebut satu makna.

4. Keterangan tentang salah satu kriteria imam shalat.

Adapun kriteria seorang muslim yang berhak menjadi imam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  dalam sebuah hadits secara berurutan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an. Jika mereka setara dalam bacaan al- Qur’an, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim no. 673 dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu) Dalam riwayat lain, ada tambahan lafadz,

فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا

“Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang paling tua di antara mereka.”

Dengan demikian, yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan adalah;

1. Yang paling pandai membaca al-Qur’an. Jika sama-sama pandai,

2. Yang paling mengerti tentang sunnah Nabi radhiyallahu ‘anhu. Jika sama-sama mengerti,

3. Yang paling pertama melaksanakan hijrah. Jika sama dalam hal hijrah,

4. Yang lebih dahulu masuk Islam. Jika bersama masuk Islam,

5. Yang lebih tua.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan al-aqra’, apakah yang paling baik bacaannya ataukah yang paling banyak hafalannya? Jawabannya adalah yang paling baik bacaannya. Maknanya, yang bacaannya sempurna dengan pengucapan huruf sesuai dengan makhrajnya. Adapun keindahan suara bukanlah syarat. Jika ada dua orang;

1. Bacaan al-Qur’annya sangat baik.

2. Bacaannya baik, namun tidak sebaik orang pertama, hanya saja ia lebih menguasai fikih tentang shalat dibandingkan dengan orang pertama. Dalam hal ini, orang kedua lebih berhak untuk menjadi imam shalat. Pembahasan ini tidak berlaku jika pada pelaksanaan shalat berjamaah di sebuah masjid telah ditunjuk imam tetap, maka imam tetap tersebut yang paling berhak selama tidak ada uzur.

(asy-Syarhul Mumti’, Ibnu Utsaimin)

5. Riwayat ahad dapat diterima meskipun di dalam masalah akidah.

Hal ini berseberangan dengan yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menamakan sebuah bab untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Keterangan tentang Diperbolehkannya Khabar dari Satu Orang yang Jujur Tepercaya dalam Masalah Azan, Shalat, Puasa, Kewajiban- Kewajiban Islam, dan Masalah Ahkam.”

6. Perjuangan dakwah Islam tidak pernah lepas dari peran dan andil para pemuda.

Di dalam hadits di atas, suku Laits mengutus kaum muda untuk mempelajari syariat Islam agar dapat diajarkan kembali kepada masyarakatnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Ashabul Kahfi,

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan (tentang Ashabul Kahfi) bahwa mereka adalah para pemuda. Kaum muda lebih mudah menerima al-haq (kebenaran) dan lebih cepat mengikuti jalan kebaikan dibandingkan dengan kaum tua. Sebab, kaum tua telah terlalu jauh dan tenggelam di dalam agama kebatilan. Oleh sebab itu, kalangan sahabat yang menyambut seruan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya didominasi oleh kaum muda. Adapun kalangan tua Quraisy, mayoritas mereka tetap memilih agama nenek moyang. Hanya sedikit saja dari kalangan tua yang masuk Islam.” Di dalam ayat lain, tentang dakwah Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ ۚ

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.” (Yunus: 83)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala memberikan kabar, meskipun Nabi Musa ‘Alaihissalam membawa ayat-ayat yang kuat, argumen-argumen pasti, dan alasan-alasan yang jelas, tetap saja kaumnya tidak beriman kecuali sedikit sekali. Yang sedikit itu adalah kaum dzurriyah, yaitu kaum muda. Itu pun masih dibayangi oleh kecemasan dan kekhawatiran dari makar Fir’aun dan pengikutnya yang berusaha mengembalikan mereka kepada kekufuran sebagaimana dahulu.”

Mudah-mudahan beberapa pelajaran dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu di atas bermanfaat.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Duduk di antara Dua Sujud & Gerakan Setelahnya

 

1. Duduk dengan thuma’ninah

Ketika duduk di antara dua sujud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan untuk thuma’ninah, duduk dengan tenang dan batasannya adalah gerakan sebelumnya tidak tampak lagi (Fathul Bari, 2/357).

Beliau melakukan duduk ini dengan lama hingga mendekati lama sujudnya sebagaimana ditunjukkan dalam hadits al-Barra ibnu ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 كاَنَ رُكُوْعُ رَسُوْلِ اللهِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ ، وَسُجُوْدُهُ، وَمَا بَيْنَ السَّجَدَتَيْنِ قَرِيْبًا مِنَ السَّوَاءِ.

“Adalah ruku’ Rasulullah n , mengangkat kepalanya (bangkit) dari ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujudnya, hampir sama lamanya.” (HR . al-Bukhari no. 792, 820 dan Muslim no. 1057)

Terkadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk sangat lama, sebagaimana dicontohkan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dikabarkan oleh Tsabit al-Bunani, murid Anas radhiyallahu ‘anhu. Disebutkan bahwa Anas berkata, “Aku akan shalat di hadapan kalian sebagaimana tata cara yang pernah aku lihat dari Rasulullah n saat shalat di hadapan kami.”

Kata Tsabit, “Dalam shalat tersebut (yang dicontohkan/diajarkan kepada kami) Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. Bila ia bangkit dari ruku’, ia berdiri lurus (lama) hingga ada orang yang berkata, ‘Sungguh ia lupa.’ Bila ia duduk di antara dua sujud (dalam riwayat Muslim: dan bila ia mengangkat kepalanya dari sujud), ia diam lama, hingga ada yang berkata, ‘Sungguh ia lupa’.” (HR . al-Bukhari no. 821 dan Muslim no. 1060)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mmengatakan, sunnah ini telah ditinggalkan banyak orang setelah berlalunya masa sahabat, karena itulah Tsabit pernah berkata, “Anas melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. Ia duduk lama saat duduk di antara dua sujud hingga kami berkata, ‘Anas lupa’.” (Zadul Ma’ad, 1/60—61)

Di saat duduk di antara dua sujud ini, disenangi meletakkan kedua tangan  di atas kedua paha dekat dengan kedua lutut, siku berada di atas paha, sedangkan ujung jari di atas lutut dalam keadaan jari-jemari ini agak direnggangkan dan dihadapkan ke arah kiblat. (al-Majmu’, 3/415, Zadul Ma’ad, 1/60)

Amalan duduk di antara dua sujud dan thuma’ninah dalam pelaksanaannya hukumnya wajib menurut pendapat yang rajih (kuat) dan ini merupakan pendapat kebanyakan/jumhur ulama, menyelisihi pendapat Abu Hanifah yang mengatakan tidak wajib. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada orang yang salah shalatnya,

“Kemudian angkat kepalamu (dari sujud) hingga engkau duduk tenang.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sedangkan Abu Dawud dan at-Tirmidzi meriwayatkannya dari Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu. (al-Majmu’, 3/418)

2. Zikir-zikir

Di saat duduk di antara dua sujud ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, pernah membaca zikir dan doa di bawah ini.

1. Bacaan:

اللَّهُمَّ (وَفِي لَفْظٍ: رَبِّ) اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي،
(وَاجْبُرْنِي)، (وَارْفَعْنِي)، وَاهْدِنِي، (وَعَافِنِي)
وَارْزُقْنِي

“Ya Allah (dalam satu lafadz: Wahai Rabbku), ampunilah aku, rahmatilah aku, [perbaikilah aku]2, [angkatlah derajatku]3, berilah petunjuk kepadaku, [hapuskanlah dosaku]4, dan berilah rezeki kepadaku.”

Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang dikeluarkan Abu Dawud no. 850, at- Tirmidzi no. 284, Ibnu Majah no. 898, al-Hakim 1/262, 271, al-Baihaq 2/122, Ahmad 1/315, 371, dll. Hadits ini sahih sebagaimana dinyatakan oleh al-Imam Albani t dalam Shahih Kutubus Sunan.

Menurut al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu’ (3/415), yang lebih hati-hati seluruh lafadznya diucapkan, yaitu ada tujuh kalimat sebagaimana disebutkan di atas.

2. Bacaan:

رَبِّ اغْفِرْ لِي، رَبِّ اغْفِرْ لِي.

“Wahai Rabbku, ampunilah aku. Wahai Rabbku, ampunilah aku.”

Hadits Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah no. 897, dan dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan Ibni Majah serta Irwa’ul Ghalil no. 335.

Sujud yang Kedua

Setelah bertakbir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kembali bersujud (sujud kedua dalam shalat) dengan tata cara, ketentuan, dan bacaan yang telah disebutkan dalam pembahasan sujud (sujud yang pertama). Ulama sepakat tentang wajibnya sujud yang kedua ini, berdalil haditshadits yang sahih lagi masyhur dan ijma’/kesepakatan kaum muslimin. (al- Majmu’, 3/418)

Bangkit dari Sujud

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengangkat kepala dari sujudnya dan bertakbir untuk melanjutkan ke rakaat kedua. Apa saja yang dilakukan pada rakaat pertama juga diulang lagi pada rakaat kedua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda kepada orang yang salah shalatnya,

ثُمَّ اصْنَعْ ذلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ وَ سَجْدَةٍ. فَإِذَا فَعَلْتَ ذلِكَ, فَقَدْ تَمَّتْ صَلاَتُكَ، وَإِنِ انْتَقَصْتَ مِنْهُ شَيْئًا, اِنْتَقَصْتَ مِنْ صَلاَتِكَ.

“Kemudian lakukanlah hal tersebut pada setiap ruku’ dan sujud. Apabila kamu lakukan hal itu, sungguh telah sempurna shalatmu. Jika ada sesuatu yang kamu kurangi, berarti kamu mengurangi shalatmu.” (HR . at-Tirmidzi no. 302, 303, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri

Sebelum bangkit berdiri untuk melanjutkan ke rakaat berikutnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, duduk tegak sejenak di atas kaki kiri beliau, hingga setiap tulang kembali pada posisinya. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

 أَلآ أُحَدِّثُكُمْ عَنْ صَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ؟ فَصَلَّى  فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلاَةٍ. فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ، اسْتَوَى قَاعِدًا، ثُمَّ قَامَ فَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ.

“Maukah aku gambarkan kepada kalian cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Lalu Malik shalat di luar waktu shalat6. Tatkala ia mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua pada rakaat yang awal, ia duduk tegak. Kemudian baru bangkit dengan bertumpu di atas tanah. (HR . asy-Syafi’i dalam al-Umm no. 198, an-Nasa’i no. 1153, dan al-Baihaqi 2/124,125. Sanadnya sahih di atas syarat Syaikhani sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa 2/82)

 Dalam riwayat al-Bukhari (no. 824) disebutkan Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu mencontohkan shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang. Ketika Ayyub, salah seorang perawi hadits ini, bertanya kepada Abu Qilabah, syaikhnya yang menyampaikan hadits ini dari Malik radhiyallahu ‘anhu, tentang bagaimana cara shalat yang dicontohkan Malik, maka kata Abu Qilabah seperti shalat yang dilakukan syaikh kita ‘Amr ibnu Salamah, dia menyempurnakan takbir, dan bila mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, ia duduk dan bertumpu di atas bumi/tanah, kemudian baru bangkit berdiri.

Dalam hadits yang sebelumnya (no. 823) disebutkan Abu Qilabah bahwa Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu memberitakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak bangkit ke rakaat kedua hingga beliau duduk tegak (HR . Bukhari no. 823)

Diriwayatkan pula duduk istirahat ini dari Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu. Adapun penyebutan duduk ini sebagai duduk istirahat, asalnya dari para fuqaha. (al-Irwa, 2/82)

Perbedaan Pendapat dalam Masalah Ini

Memang ada silang pendapat dalam masalah duduk istirahat dan bangkit berdiri dengan bertumpu di atas kedua tangan ini.

Pertama: Sunnah secara mutlak. Ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i, Abu Dawud, dan Ahmad rahimahumullah. (al-Muhalla, 3/40)

Al-Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan, orang yang bangkit dari sujud atau duduk dalam shalat untuk bertumpu dengan kedua tangannya secara bersama-sama dalam rangka mengikuti sunnah, karena hal ini lebih mendekati sikap tawadhu dan lebih membantu orang yang shalat. (al-Umm, kitab ash-Shalah, bab “al- Qiyam minal Julus”)

Ibnu Hani dalam Masailnya dari al- Imam Ahmad t mengatakan (1/57),

“Aku melihat Abu Abdillah (yakni al- Imam Ahmad) kerap kali bertumpu di atas kedua tangannya ketika bangkit ke rakaat berikutnya. Kerap kali beliau duduk tegak, kemudian bangkit.”Ibnu Hazm rahimahullah menganggap duduk istirahat ini mustahab dilakukan sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat. (al-Muhalla, 3/39)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits dalam bab “Kaifa an-Nuhudh minas Sujud” (artinya: bagaimana tata cara bangkit/berdiri dari sujud) pada kitab Sunannya mengatakan, “Hal ini diamalkan oleh sebagian ahlul ilmi. Teman-teman kami, para ulama hadits, juga berpendapat seperti ini.” Setelah membawakan hadits riwayat al-Bukhari dalam bab “Man Istawa Qa’idan fi Witrin min Shalatihi Tsumma Nahadha” (no. 823 yang telah dibawakan di atas), al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam penjelasannya menyatakan bahwa duduk istirahat ini disyariatkan, bukan karena hajat/ada kebutuhan. Tidak ada zikir khusus yang dibaca saat duduk ini, karena duduknya hanya sebentar sehingga ucapan takbir yang disyariatkan saat berdiri sudah cukup. (Fathul Bari 2/391)

Kedua: Tidak sunnah secara mutlak. Mereka berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya:

• Hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia menyampaikan saat bangkit ke rakaat berikutnya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bangkit di atas kedua lutut beliau dan bersandar di atas paha beliau.” (HR . Abu Dawud no. 839, namun riwayat ini dhaif/lemah. Dinyatakan dhaif oleh al-Imam an- Nawawi t dalam al-Majmu’ 3/422. Demikian pula dalam al-Irwa no. 363)

• Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bangkit dalam shalat (bertumpu) di atas bagian dalam kedua telapak kaki beliau.” (HR . at- Tirmidzi no. 288, namun haditsnya dhaif sebagaimana disebutkan dalam al-Irwa no. 362)

Ketiga: Pendapat yang merinci. Jika duduk ini dibutuhkan karena fisik yang lemah, usia senja, sakit, dan yang semisalnya, dia duduk dahulu lalu bangkit. Namun, apabila tidak dibutuhkan, ia tidak duduk. Alasannya, dalam duduk ini tidak ada doa/zikir yang dibaca dan tidak ada takbir perpindahan, yang ada hanya satu takbir, yaitu takbir dari sujud ke berdiri. Karena sebelum dan sesudahnya tidak ada takbir, dan tidak ada pula zikir yang diucapkan, hal ini menunjukkan duduk ini tidaklah dimaksudkan sebagai bentuk amalan/gerakan yang disyariatkan dalam shalat sebagaimana gerakan lainnya. Tentang hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menyebutkan Nabi n bersandar di atas kedua tangan beliau saat bangkit berdiri, mereka menyatakan bersandar pada kedua tangan umumnya karena ada kebutuhan dan karena tubuh yang berat sehingga tidak bisa bangkit terkecuali harus ada tumpuan.  Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Qudamah radhiyallahu ‘anhu sebagai wujud pengumpulan dalil yang menetapkan dan dalil yang meniadakan duduk ini. Pendapat yang merinci seperti ini memiliki kekuatan argumen daripada pendapat yang kedua, wallahu ‘alam.

Menurut pendapat yang ketiga ini, apabila orang yang shalat butuh duduk sebelum bangkit ke posisi berdiri, ia duduk dan apabila ia butuh tumpuan ia bisa bertumpu dengan kedua tangannya, bagaimana pun caranya, apakah bertumpunya di atas punggung jarijemari, seluruh jari-jemari, atau yang lain, tanpa ada tata cara tertentu. Yang penting, dilakukan apabila dibutuhkan. Apabila tidak dibutuhkan, tidak dilakukan.

(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh al-Imam Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin, 13/182)

Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan, dalam masalah ini didapatkan tiga tingkatan kekuatan argumen (yang awal lebih kuat dari yang setelahnya. –pen.):

1. Apabila ada kebutuhan, disyariatkan melakukan duduk seperti ini. Tentang hal ini, tidak ada permasalahan.

2. Disyariatkan duduk seperti ini secara mutlak, ada kebutuhan ataupun tidak. Pendapat ini memiliki kekuatan argumen atau bisa dianggap kuat.

3. Tidak disyariatkan secara mutlak, maka ini pendapat yang lemah, karena hadits yang menyebutkan duduk ini tsabit/kokoh, akan tetapi yang jadi permasalahan apakah tsabitnya karena ada kebutuhan ataukah secara mutlak? Inilah yang menjadi pembahasan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 13/383—385)

Dari tiga pendapat di atas, sebagaimana telah kami isyaratkan sebelumnya dalam subjudul Duduk Istirahat dan Bangkit Berdiri, pendapat yang lebih kuat adalah yang pertama karena tidak ada berita yang tsabit/kuat yang menentang sunnah ini, meskipun orang yang tidak mengerjakannya dalam shalatnya juga tidak diingkari. Adapun menjawab pendapat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan, dijawab bahwa anggapan seperti ini tidak boleh dipakai untuk menolak sunnah yang sahih. Apalagi duduk istirahat ini telah diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang mencapai lebih dari sepuluh orang. Kalau memang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya karena ada kebutuhan, bukan karena sunnah, bagaimana bisa hal tersebut tersembunyi bagi para sahabat yang mulia tersebut. Lebih-lebih lagi, di antara mereka ada Malik ibnul Huwairits  radhiyallahu ‘anhu yang menyampaikan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Adapun hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu (yang telah dibawakan di atas), kalaupun sahih, wajib dipahami (kepada makna yang) menyepakati hadits lain yang menetapkan duduk istirahat. Sebab, dalam hadits Wail tidak disebutkan secara nyata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan duduk istirahat. Kalau pun ada secara nyata, niscaya hadits Malik ibnul Huwairits, Abu Humaid, dan para sahabat  lebih didahulukan daripada hadits Wail radhiyallahu ‘anhu, dari dua sisi:

a. Sanad-sanadnya sahih.

b. Banyak perawinya. Bisa jadi, Wail radhiyallahu ‘anhu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dalam satu waktu atau beberapa

waktu untuk menerangkan bolehnya hal tersebut. Namun, yang sering beliau lakukan adalah apa yang diriwayatkan oleh orang-orang yang lebih banyak. Yang lebih memperkuat adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu setelah ia shalat bersama beliau  dan menghafal ilmu dari beliau selama dua puluh hari lantas ingin pulang kepada keluarganya,

اذْهَبُوا إِلَى أَهْلِيْكُمْ، وَمُرُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Pulanglah kalian kepada keluarga kalian, perintahlah dan ajarilah mereka. Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!”

Semua ini ada dalam Shahih al-Bukhari dari beberapa jalan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan demikian kepada Malik sedangkan Malik telah menyaksikan Nabi n duduk istirahat. Seandainya duduk istirahat ini tidak termasuk amalan yang disunnahkan bagi setiap orang, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutlakkan ucapan beliau, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (al-Majmu’, 3/422)

Beliau  menyatakan, “Perlu diketahui, sepantasnya bagi setiap orang untuk terus melakukan duduk ini (dalam shalatnya) karena sahihnya hadits-hadits tentang duduk ini dan tidak ada riwayat sahih yang menentangnya. Janganlah tertipu dengan banyaknya orang yang bermudah-mudah meninggalkannya (mutasahilin). Allah Subhanahu wata’ala sungguh berfirman,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

ڃ ڃڃ

‘Katakanlah, jika memang kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ (Ali Imran: 31)

Firman-Nya,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ

‘Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian, maka ambillah….’ ( al-Hasyr: 7).” (al-Majmu’, 3/420—421)

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang masalah duduk istirahat. Mereka berfatwa sebagai berikut. Ulama sepakat bahwa duduk setelah mengangkat kepala dan tubuh dari sujud yang kedua pada rakaat pertama dan ketiga serta sebelum bangkit ke rakaat kedua dan keempat, bukanlah amalan yang termasuk kewajiban shalat, bukan pula sunnah yang ditekankan (mu’akkadah) dalam shalat. Ulama berbeda pendapat setelah itu, apakah duduk ini sunnah saja, atau bukan termasuk gerakan shalat sama sekali, atau boleh dilakukan oleh orang yang membutuhkannya karena tubuh yang lemah karena usia, sakit, atau kegemukan?

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan sekelompok ahlul hadits berpandangan sunnah. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari dua riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah. Dasar mereka adalah hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Namun, banyak ulama, di antaranya Abu Hanifah rahimahullah dan Malik rahimahullah, tidak memandang adanya duduk ini, demikian pula satu riwayat al-Imam Ahmad rahimahullah.Alasannya, hadits-hadits lain tidak ada yang menyebutkan duduk ini.

Bisa jadi, duduk yang disebutkan oleh Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu tersebut dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, di akhir umur beliau tatkala tubuh beliau sudah berat atau karena sebab lain. Maka dari itu, ada kelompok ketiga yang berpendapat bahwa duduk ini disyariatkan saat ada kebutuhan, dan tidak disyariatkan apabila tidak tidak dibutuhkan. Namun, yang tampak adalah duduk ini disunnahkan secara mutlak. Adapun alasan bahwa duduk ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits yang lain tidaklah menunjukkan duduk ini tidak ada. Yang memperkuat pendapat ini adalah:

1. Hukum asal dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah beliau melakukannya untuk ditiru oleh umatnya.

2. Duduk ini disebutkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang jayyid (bagus). Abu Humaid radhiyallahu ‘anhumenjelaskan tata cara shalat Nabi n di tengah-tengah sepuluh orang sahabat, dan mereka membenarkannya. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/447—448, Ketua: asy- Syaikh Ibnu Baz, Wakil: Abdurrazzaq Afifi, dan Anggota: Abdullah bin Ghudayyan) Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari

Duduk di antara Dua Sujud

 

Sujud yang Lama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sujud beliau mendekati lamanya ruku’ beliau, namun terkadang beliau sangat lama sujudnya karena ada satu perkara/kejadian. Syaddad ibnul Had radhiyallahu anhu menceritakan, “Pada waktu salah satu shalat siang (Zhuhur atau Ashar), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju kami dalam keadaan menggendong Hasan atau Husain radhiyallahu anhu .

Beliau lalu maju untuk mengimami jamaah shalat, sementara cucu beliau diletakkan di sisi telapak kakinya yang kanan. Beliau bertakbir untuk shalat. Di saat sujud, beliau melakukannya dengan demikian panjang, hingga aku mengangkat kepalaku di antara manusia untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ternyata si cucu menunggangi pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud. Aku kembali kepada sujudku. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, orang-orang pun bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sujud dalam shalat ini demikian panjangnya hingga kami menyangka telah terjadi suatu perkara atau turun wahyu kepada Anda!” Beliau menjawab, “Semua itu tidak terjadi, melainkan karena anakku1 ini menunggangiku. Aku tidak suka menyudahi kesenangannya sampai ia sendiri menyelesaikan hajatnya.” (HR. an-Nasa’i no. 1141, Ahmad 3/493, 6/467, al-Hakim 3/164, sanadnyasahih di atas syarat syaikhani, kata al- Hakim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.Hadits ini dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

Keutamaan Sujud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ،

“Ketika Allah Subhanahuwata’ala ingin merahmati siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara penghuni neraka, Ia   memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari dalam neraka orang yang dahulunya pernah beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala .Para malaikat pun mengeluarkan orang-orang yangdemikian. Para malaikat mengenali mereka dengan bekas-bekas (tanda) sujud.Allah Subhanahuwata’ala mengharamkan bagi api neraka melahap bekas sujud. Mereka itu keluar dari neraka. Seluruh bagian tubuh bani Adam( yang masuk neraka) dilahap oleh api neraka terkecuali bekas sujud.” (Potongan hadits yang panjang tentang hari kebangkitan dan syafaat yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu , dikeluarkan oleh al-Bukhari no. 6573 dan Muslim no. 450).

Tsauban radhiyallahu anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan suatu amalan yang paling dicintai Allah Subhanahuwata’ala atau amalan yangbisa memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ لِلهِ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لله

“Hendaknya engkau memperbanyak sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala ,karena tidaklah engkau sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan satu sujud saja melainkan Allah Subhanahuwata’ala akan mengangkat derajatmu karenanya dengan satu derajat  dan Diahapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim no. 1093)

Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku siapkan air wudhu beliau dan air untuk keperluan buang hajat beliau. Beliau lalu bertanya, ‘Mintalah sesuatu.’ Aku katakan, ‘Aku minta agar aku bisa menemanimu di surga.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Atau permintaan yang lain?’ ‘Itu saja yang kuminta,’ jawab Rabi’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

‘Kalau begitu bantulah aku dengan engkau banyak melakukan sujud (dengan shalat)’.” (HR. Muslim no. 1094)

Bangkit dari Sujud

Seraya bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya, dan beliau perintahkan hal ini kepada orang yang salah shalatnya.

Duduk di antara Dua Sujud

Setelah mengangkat kepalanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh dengan menjulurkan telapak kaki kiri dan duduk di atas kaki kirinya dengan tenang/ thuma’ninah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu anha yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumullah no. 1108. Demikian pula hadits Aisyah radhiyallahu anha yang menyebutkan,

وَكَانَ يَفْتَرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Beliau menjulurkan ( telapak) kaki kirinya dan menegakkan (telapak) kaki kanannya.”(HR. Muslim no. 1110)

Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata,

مِنْ سُنَّةِ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَم الْيُمْنَى

“Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki yangkanan, menghadapkan jari-jemari kaki ke arah kiblat, dan duduk diatas kaki kiri.” (HR. an-Nasa’i no. 1157, 1158, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan al-Irwa’ no. 317)

Duduk seperti inilah yang diistilahkan duduk iftirasy. Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk iq’a, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma Thawus pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang iq’a di atas dua tumit, maka beliau menjawab bahwa duduk seperti itu sunnah. (HR. Muslim no. 1198)

Thawus rahimahumullah berkata, “Aku melihat tiga Abdullah: Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair melakukannya.” Ini dilakukan pula oleh Salim, Nafi’, Thawus, Atha’, dan Mujahid. Al-Imam Ahmad radhiyallahu anhu menyatakan pula, “Penduduk Kufah melakukannya.” (al-Isyraf‘alaMadzahibil‘Ulama, 2/35—36)

Tata cara duduk iq’a ditunjukkan oleh riwayat al-Baihaqi. Disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan dua tumit beliau dan bagian dalam (yang dipakai untuk menapak) kedua telapak kaki atau duduk bertumpu di atas ujung-ujung jari kedua kaki. Duduk iq’a ini diamalkan oleh kebanyakan salafus shalih. At-Tirmidzi rahimahumullah menerangkan, “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegang dengan hadits ini (hadits Ibnu Abbas), sehingga mereka memandang tidak apa-apa duduk iq’a. Ini adalah pendapat sebagian penduduk Makkah dari kalangan ahli fikih dan ilmu.” (Sunan at-Tirmidzi, kitabash-Shalah, bab“Fi ar-Rukhshah fil Iq’a”)

Sementara itu, sebagian ulama lain tidak menyenangi iq’a, di antara mereka adalah Ali radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu . Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah pula mengatakan kepada anak-anaknya, “Jangan kalian meneladani aku dalam hal iq’a, karena aku melakukannya hanyalah ketika usiaku telah lanjut.” Ibrahim ibnu Yazid an-Nakha’i rahimahumullah berkata, “Mereka membenci amalan iq’a dalam shalat.”

Ini juga pendapat al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, ashabur ra’yi, dan kebanyakan ulama. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama, 2/36)

Sebagian ulama yang lain menyatakan boleh memilih. Dia bisa menjulurkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy), bisa pula duduk iq’a di atas kedua tumitnya. Iftirasy dan iq’a keduanya sunnah, hanya saja iftirasy lebih dikenal dan lebih banyak yang memberitakannya, sebagaimana diriwayatkan dan dibenarkan oleh sepuluh orang sahabat. Ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamshallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukannya dan terkenal di kalangan para sahabat. Jadi, iftirasy lebih utama dari iq’a, walaupun duduk iq’a ini pernah dilakukan oleh beliau pada satu keadaan. (al-Ashl, 2/806—807)

Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini, wallahua’lambish-shawab. Adapun ahlul ilmi yang berpendapat makruhnya duduk iq’a berhujah dengan hadits-hadits yang melarang iq’a, yaitu hadits riwayat at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu , Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu , Ahmad bin Hanbal dari riwayat Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu , al-Baihaqi dari riwayat Samurah radhiyallahu anhu dan Anas radhiyallahu anhu .

Semua sanadnya dhaif, sebagaimana dinyatakan demikian oleh al-Imam an- Nawawi rahimahumullah dalam al-Minhaj/Syarhu Muslim (5/22) dan asy-Syaukani rahimahumullah dalam Nailul Authar (2/143), selain dua hadits berikut.

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata,

ثلاَثٍ: عَنْ نَقْرَةٍ �َ عَنْ n نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku dari tiga hal (dalamshalat): mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq ’a seperti iq’a anjing, dan menoleh seperti tolehan serigala.” (HR. Ahmad 2/265, hadits ini hasan lighairihi sebagaimana dalam Shahih at-Targhib no. 555)

2. Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu ,ia berkata,

عَنِ الْإِقْعَاءِ فِي الصَّلاَةِ n نَهَى رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk iq’a dalam shalat.” (HR. al-Hakim 1/272)

Dalam sanadnya ada al-Hasan al-Bashri rahimahumullah yang meriwayatkan dari Samurah radhiyallahu anhu, sementara itu Hasan al-Bashri adalah rawi yang banyak melakukan tadlis dalam periwayatannya sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib dengan membawa kalimat periwayatan yang memungkinkan tadlis itu bisa terjadi dari sisi beliau, seperti riwayat di atas.

Lebih-lebih lagi, riwayat beliau dari Samurah radhiyallahu anhu bermasalah—apakah beliau mendengarkannya secara langsung atau tidak—kecuali hadits akikah yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahumullah dalam Shahih-nya yang al-Hasan secara terang-terangan menyatakan mendengar hadits ini dari Samurah radhiyallahu anhu.

Adapun yang beliau tidak secara terang-terangan menyatakan mendengar maka tidak bisa menjadi hujah sebagaimana hadits ini. Karena itulah, al-Imam an- Nawawi rahimahumullah menyatakannya lemah. Jadi, yang tertinggal sekarang adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berderajathasan. Sebenarnya, hadits Abu Hurairah di atas tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tentang sunnahnya iq’a karena yang dilarang dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu adalah iq’a yang khusus, yaitu iq’a anjing; menempelkan dua pantatnya ke bumi/tanah dan menegakkan keduabetisnya serta meletakkan kedua tangan di atas bumi.

Demikian yang ditafsirkan oleh ahli bahasa, di antaranya Abu Ubaid dalam kabar yang diriwayatkan al-Baihaqi. Dengan demikian iq’a yang terlarang ini berbeda dengan iq’a yang ditetapkan dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, hadits-hadits yang ada dalam masalah iq’a ini, yang satu menyatakan sunnah dan yang lainnya melarang, bisa dipadukan. Demikian diterangkan oleh al- Baihaqi, diikuti oleh Ibnu ash-Shalah, an-Nawawi, dan para muhaqqiq selain mereka—semoga Allah Subhanahuwata’ala merahmatimereka semua. (al-Ashl, 2/806)

A l – Imaman – Nawawi rahimahumullah menyatakan, yang benar iq’a itu ada dua macam. Yang satu dibenci, yaitu seperti duduknya anjing; dan yang kedua sunnah, yaitu duduk (menempatkan pantat) di atas dua tumit, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dan itulah yang dilakukanoleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Minhaj, 5/22—23) Wallahu ta’ala a’lam.

Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

Tanya Jawab Ringkas Edisi 82

Buang Angin Terus-Menerus

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Saya seorang wanita yang memiliki masalah dengan shalat. Terkadang saya harus berwudhu berkali-kali karena buang angin yang tidak bisa ditahan, apakah itu penyakit atau bukan? Saya sedih karena hal itu sering terjadi sehingga shalat tidak bisa tenang karena sering buang angin dan terkadang shalat belum selesai karena harus berkali-kali wudhu, sedangkan anak sedang menangis. Apa yang harus saya lakukan supaya shalat saya bisa khusyuk? Mohon jawaban dari ustadz. (Ummu Fulan)

Jawab :

Anda tidak perlu bersedih. Bersabarlah atas takdir Allah Subhanahu wata’ala. Hal itu adalah ujian bagi Anda yang harus dihadapi dengan kesabaran. Ada kemungkinan hal itu karena masuk angin. Cobalah atasi dengan menggunakan jaket dan kaos kaki serta ikhtiar-ikhtiar lainnya. Carilah waktu redanya buang angin itu untuk melaksanakan shalat di waktu itu. Selain itu, upayakanlah menenangkan anak Anda dengan memberinya makanan atau mainan, lalu Anda melaksanakan shalat agar dapat lebih khusyuk. Jika anak Anda menangis saat shalat, tidak mengapa mempercepat shalatnya. Sebab, pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami di masjid dan bermaksud memanjangkan shalat, tetapi mendengar suara tangis bayi di belakangnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempercepat shalatnya. Wallahua ’lam.

 

Tidur Sebelum Zhuhur, Bangun Waktu Ashar

Ustadz, saya mau tanya. Kalau kita ketiduran melewati waktu zhuhur kemudian baru bangun waktu ashar, terus shalat yang kita lakukan bagaimana tata caranya? Apakah boleh diringkas jadi

dua rakaat dua rakaat? Terima kasih. (timxxxx@yahoo.co.id)

Jawab :

Ketika Anda terbangun, maka langsung mengqadha shalat zhuhur tersebut empat rakaat, setelah itu baru shalat Ashar empat rakaat. Tidak boleh diqashar menjadi dua rakaat dua rakaat karena qashar khusus untuk musafir.

 

Urutan Shalat Ketika Jamak Ta’khir

Saya mau bertanya tentang shalat yang dijamak ta’khir, seperti shalat maghrib dan isya. Urutan shalat yang dikerjakan pertama shalat apa dahulu? Kemudian masalah mandi janabah, bagaimana tata caranya menurut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Terima kasih. (Nusa)

Jawab :

  1. 1.    Sesuai urutan shalat : shalat zhuhur kemudian shalat ashar; shalat maghrib kemudian shalat isya.
  2. 2.    Tata cara mandi janabah menurut tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
  • Berniat untuk mandi suci dalam kalbu.
  • Kemudian membaca basmalah.
  • Kemudian berwudhu dengan wudhu yang sempurna.
  • Kemudian mengguyurkan air di atas kepala dengan cidukan tangan (dan meratakannya di seluruh kulit kepala)
  • Setelah itu mengguyur kepala tiga kali; dimulai dengan mengguyur belahan kanan kepala kemudian belahan kiri, kemudian mengguyur pertengahan kepala.
  • Terakhir, mengguyur sekujur tubuh yang tersisa; dimulai dengan belahan kanan tubuh, kemudian yang kiri. Wallahu a’lam.

 

Menikahi Wanita yang Dizinai

Bolehkah seorang lelaki yang sudah bertobat menikahi wanita yang pernah dizinainya?

Jawab :

Boleh, dengan dua syarat :

  1. 1.    Wanita tersebut juga telah bertobat.
  2. 2.    Wanita tersebut telah menjalani istibra’ (pembebasan) rahim dari kemungkinan adanya janin hasil hubungan zina itu dengan haid satu kali (jika tidak hamil) atau melahirkan bayinya (jika hamil).

Puasa Dawud

Apa ada sunnahnya puasa Dawud dan apa pernah ada sahabat yang menjalankan puasa itu?

Jawab :

Puasa Dawud adalah puasa sunnah yang afdal (paling utama), tidak ada puasa sunnah yang lebih utama darinya. Hal ini sebagaimana bimbingan Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat yang mulia Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma (dalam hadits yang muttafaqun ‘alaih).

 Puasa Ayyamul Bidh

Bagaimana cara puasa sunnah ayyamulbidh (tanggal13,14, dan15) tiap bulan, sedangkan kita tidak tahu kapan tanggal 1 setiap bulan hijriah. Apakah boleh bersandar kepada kalender hijriah karena kita susah ru’yatul hilal?

Jawab :

Anda dapat melihat langsung bulan yang bersinar terang diatas langit pada tanggal 13,14, dan 15 bulan qamariah. Tidak mengapa menggunakan kalender yang ada sebagai acuan untuk membantu Anda mengamati bulan yang ada di atas Anda, karena pada malam malam itu bulan terlihat sangat terang di atas langit. Anda dapat mengetahui secara langsung dengan melihat bulan tersebut, insya Allah. Wallahu a’lam.

 

Wali Nikah Seorang Dukun

Bismillah. Sahkah sebuah perkawinan yang akhwat tersebut walinya seorang dukun?

Jawab :

Jika walinya itu telah dinasihati dan ditegakkan hujah atasnya tentang kafirnya perdukunan yang bekerja dengan ilmu sihir (kerjasama dengan setan), mengklaim ilmu gaib, dan semacamnya, namun dia tetap menekuninya karena hawa nafsu, dia kafir. Jika demikian, tidak sah perwaliannya. Wallahu a’lam.

 

Mertua Tetap Mahram Meski Sudah Bercerai

  1. Setelah wanita bercerai dari suaminya, apakah mertua laki-laki tetap menjadi mahram bagi wanita tersebut?
  2. Jika suami istri cerai dan hak asuh jatuh kepada wanita, sampai usia berapa si anak berhak dinafkahi oleh ayahnya?
  3. Apakah merencanakan untuk mencerai sudah termasuk talak?

Jawab :

  1.    Ya, tetap mahram.
  2.   Seorang ayah yang punya kemampuan menafkahi berkewajiban menafkahi anaknya sampai si anak mampu menafkahi dirinya sendiri dengan penghasilannya.
  3.   Rencana mencerai tidak termasuk mencerai.

Suami Mengancam Talak

Seorang suami mengancam istrinya dengan kata-kata, “Kalau berani pulang ke rumah orang tuamu, kau bukan istriku lagi. “Apakah termasuk talak? Suami hanya ingin mengancam agar istri takut, karena istri tidak betah di tempat mertua. Mohon penjelasannya.

Jawab :

Hukumnya adalah sumpah yang dapat ditebus dengan kafarat sumpah jika dilanggar. Jadi, jika ternyata suatu saat istrinya pulang kerumah orang tuanya, si suami terkena kafarat sumpah yang dilanggar itu.

 

Puasa Sunnah Hari Sabtu

Bagaimana hukum melakukan puasa sunnah bertepatan dengan hari Sabtu? Sebab, saya membaca hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud, terdapat larangan puasa pada hari Sabtu kecuali apa-apa yang diwajibkan. Kalau jadwal puasa Dawud kami bertepatan dengan hari Sabtu, apa yang harus kami lakukan? Apakah kami melompatinya ke hari Ahad atau bagaimana? (Rahmat-Situbondo)

Jawab :

Yang rajah (kuat), boleh berpuasa sunnah pada hari Sabtu. Hadits larangan puasa sunnah pada hari Sabtu adalah hadits yang keliru dan tidak bisa dijadikan hujah. Apalagi terkait dengan puasa Dawud, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma agar berpuasa Dawud; berpuasa sehari dan berbuka sehari (Muttafaq ‘alaih), tanpa mengecualikan hari Sabtu. Artinya, meskipun puasa Dawud itu bertepatan jatuhnya dengan hari Sabtu, tetap berpuasa. Masalah ini telah kami kupas tuntas dengan taufik Allah Subhanahu wata’ala  pada buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

 

Halalkah Kadal?

Apakah kadal boleh dimakan?

Jawab :

Terdapat perbedaan pendapat. Yang kami pandang lebih hati-hati adalah pendapat jumhur ulama yang mengatakan haram.

 

Qadha Shalat Lail

  1. Bolehkah qadha shalat lail? Seseorang shalat lail beberapa rakaat. Belum sebelas rakaat, ternyata masuk waktu subuh. Dia ingin menyempurnakan menjadi sebelas rakaat, bagaimana caranya? Kapan waktu qadhanya? Apakah pakai witir?
  2. Kapan mulai waktu puasa Syawal, apakah harus berurutan?

Jawab :

  1. Yang disyariatkan diqadha apabila luput karena uzur adalah shalat witir. Seperti halnya jika ketiduran dan terlambat bangun, lalu shalat lail beberapa rakaat, tetapi ternyata waktu subuh telah tiba, yang artinya waktu shalat witir telah habis. Jika demikian, shalat witirnya diqadha di waktu dhuha ditambah satu rakaat untuk menggenapkannya sesuai jumlah rakaat shalat witir yang menjadi kebiasaan seseorang. Jika biasanya dia shalat witir tiga rakaat, diqadha dengan empat rakaat; dengan cara dua rakaat dua rakaat. Jika biasanya dia shalat witir lima rakaat, diqadha dengan enam rakaat; dengan cara dua rakaat dua rakaat. Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwaRasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengqadha shalat witirnya yang luput karena sakit atau tertidur di waktudhuha dua belas rakaat (HR. Muslim).
  2. Mulai tanggal 2 Syawal dan tidak harus berurutan.

_______________________________________________________________________________________

Contoh Kasus Pembagian Warisan

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Seorang bapak meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta. Ahli warisnya terdiri dari istri, dua anak perempuan, dua anak laki-laki, seorang saudara perempuan sekandung dan dua orang saudara laki-laki sekandung. Bagaimana pembagian harta waris tersebut? Jazakallahu khair. (+6285868xxxxxx)

Jawab :

Istri mendapatkan 1/8 karena ada anak. Saudara dan saudari gugur karena adanya anak laki-laki. Sisa harta dibagi untuk anak laki-laki dan perempuan, dengan anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian anak perempuan.

 

Bisnis Valuta Asing

Saat ini marak orang tertarik bisnis valuta asing dengan keuntungan 10% dari modal, dengan cara menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain tanpa tahu proses pembelian valuta tersebut. Setiap bulan kita menerima 10% dari modal kita. Bagaimana hukumnya? Jazakumullah khairan. (+6281354XXXXXX)

Jawab :

Jual beli valas disyaratkan harus serah terima di tempat. Sistem online tidak boleh karena terkena riba nasiah. Adapun hakikat akad di atas adalah mudharabah. Penetapan laba dengan nominal atau persentase tertentu adalah riba karena ada unsure pertaruhan dengan spekulasi tinggi. Yang benar, laba menggunakan persentase sesuai dengan kesepakatan, tergantung untung rugi usaha yang dijalankan. Apabila rugi, investor pun harus ikut menanggungnya. Lihat masalah mudharabah di Asy-Syariah edisi 28 dan 53. Waffaqakumullah.

Kriteria Azan Yang Wajib Dihadiri

Saya hamba Allah Subhanahuwata’la dipedalaman Kabupaten Pasar, Kalimantan Timur. Saya mau tanya. Saya punya kebunyang jauh dari rumah, jaraknya±40km. Jika saya shalat dikebun itu, apakah sah menurut syariat?

Saya mohon jawabannya karena saya menyadari kebodohan saya. Saya mohon dimuat di majalah Asy-Syari’ah. Saya senang sekali membaca majalah ini, mudah mudahan bisa mengurangi kemaksiatan saya kepada Allah Yang MahaPenciptaalamini. Saya pelanggan majalah Asy-Syari’ah. Mohon dijelaskan dengan dalil-dalilnya. Jazakallahu khairan

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah yang Anda tanyakan bermuara kepada dua hadits berikut.

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu

رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله،ِ n أَتَى النَّبِيَّ

إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ

أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ، n رَسُولَ اللهِ

فَرَخَّصَ لَهُ، فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ: هَلْ تَسْمَعُ

النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَجِبْ.

Seorang lelaki buta1 datang menemui Nabi dan berkata,“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke masjid.” Lantas ia meminta Nabi memberi keringanan untuknya agar ia Bisa shalat dirumahnya. Maka dari itu,Nabi n memberi keringanan untuknya.Tatkala ia berbalik meninggalkan Nabi

beliau memanggilnya dan bertanya, “Apakah kamu mendengar azan untuk shalat?” Ia menjawab,“Ya.” Nabi bersabda, “Kalau begitu, jawablah!” (HR. Muslim)

2. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّ

مِنْ عُذْرٍ.

“Barangsiapa mendengar azan lalu ia tidak datang (menghadiri shalat jamaah dimasjid), tidak ada shalat baginya, kecuali jika ia tidak datang karena uzur (halangan).” (HR. IbnuMajah, ad- Daraquthni, dan al-Hakim)

Hadits ini diperselisihkan apakah marfu’ (sabda Nabi n) atau mauquf (ucapan Ibnu Mas’ud z sendiri). Al- Imam al-Hakim menyatakannya sahih secara marfu’, serta disetujui oleh adz- Dzahabi dan al-Albani.

Kata al-Hafizh Ibnu Hajar, “Sanadnya sesuai syarat al-Imam Muslim, tetapi sebagian ahli hadits merajihkan riwayat yang mauquf.”2 Kedua hadits ini menunjukkan wajib bagi lelaki muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid jika ia mendengar azan, kecuali yang punya uzur (halangan), seperti halnya sakit atau lainnya.

Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini. Kriteria mendengar azan yang dimaksud pada kedua hadits di atas adalah mendengar azan yang dikumandangkan dengan suara biasa tanpa pengeras suara (speaker) di keheningan tanpa ada penghalang sampainya suara ke tempat yang bersangkutan. Untuk itu kami nukilkan keterangan beberapa ulama ahli fatwa pada masa ini.

1. Kata al-Imam ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Baz  pada salah satu fatwanya, “Wajib atasmu melaksanakan shalat berjamaah bersama saudara-saudaramu kaum muslimin di masjid jika kamu mendengar azan dari tempatmu, yaitu azan dengan suara biasa tanpa pengeras suara yang

dikumandangkan di keheningan dan tidak ada penghalang yang menghalangi sampainya suara azan itu ke tempatmu. Adapun jika kamu berada di tempat yang jauh sehingga tidak mendengar azan yang dikumandangkan tanpa pengeras suara, boleh bagimu shalat di rumahmu atau berjamaah bersama tetanggamu.

Hal itu sebagaimana telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Kemudian beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu dan hadits Ibnu ‘Abbas  di atas.

2. Kata al-Imam Ibnu ‘Utsaimin dalam syarahkitab Riyadhash-Shalihin, “Akan tetapi, yang dimaksud adalah mendengar azan yang dikumandangkan dengan suara biasa, bukan dengan mikrofon.” Beliau juga berkata pada syarah kitab Bulughul Maram, “

Diantara faedah yang dipetik dari hadits ini (hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu) adalah jika seseorang tidak mendengar azan, tidak wajib atasnya hadir shalat berjamaah di masjid.

Apakah yang dimaksud dengan ini adalah mendengar secara hakiki ataukah berada di tempat yang darinya ia akan mendengar azan kalau tidak ada sesuatu yang menghalangi terdengarnya azan itu (mendengar secara hukum)? Andaikan masjid dekat darimu, tetapi kamu tidak mendengar azan karena banyaknya suara, keramaian,dan kesibukan, apakah hal itu berarti kamu tidak wajib shalat berjamaah di masjid? Jawabannya, ‘Tidak begitu.’ Yang dimaksud oleh hadits ini adalah jika seseorang berada di suatu tempat yang terjangkau suara azan, wajib baginya hadir shalat jamaah di masjid.

Oleh karena itu, jika ia tuli sedangkan ia bertetangga dengan masjid, kewajiban shalat jamaah tidak gugur atasnya. Sebab, yang diperhitungkan adalah dekatnya tempat seseorang dari masjid. Jika muazin memperdengarkan azannya dari jauh kepada seseorang, yang tampak dari hadits adalah wajibbaginya mememenuhi seruan itu walaupun memberatkan dirinya.

Akan tetapi ,jika muazin memperdengarkan azannya kepadanya melalui alat, seperti pengeras suara yang ada pada masa ini, speaker dapat menjangkau pendengaran seseorang meskipun dia berada di tempat yang sangat jauh—yang tampak bagi kami adalah tidak wajib baginya memenuhi panggilan itu.

Barang siapa berpegang dengan makna yang tampak dari lafadz hadits, ia akan mewajibkan hadir walaupun seseorang berada di tempat yang jauh selama dirinya mendengar azan melalui pengeras suara.

Barang siapa berpendapat bahwa yang diperhitungkan adalah alunan suara dan seseorang wajib hadir jika mendengarnya dengan suara biasa, ia akan mengatakan tidak wajib hadir apabila jaraknya jauh dan memberatkan.”

Yang terakhir ini yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin sebagaimana telah beliau nyatakan secara jelas sebelumnya.

3. Kata al-‘Allamah Shalih al-Fauzan pada salah satu fatwanya, “Yang menjadi kriteria dalam hal wajibnya menghadiri shalat jamaah di masjid adalah mendengar azan. Jika engkau mendengar azan dengan suara biasa tanpa pengeras suara, wajib atasmu shalat di masjid dan memenuhi panggilan muazin.

Lain halnya jika engkau terhalangi oleh sebuah uzur syar’i, seperti halnya sakit atau yang kamu sebutkan6 bahwa istrimu merasa ngeri dan ketakutan di malam hari apabila engkau meninggalkannya pergi ke masjid untuk menghadiri shalat berjamaah. Hal itu adalah uzur syar’i bagimu untuk dibolehkan shalat di rumah, karena istrimu merasa ngeri dan takut sehingga ia membutuhkan kehadiranmu di sisinya.”

Asy-Syaikh al-Fauzan t juga ditanya tentang makna hadits Abu Hurairah z tersebut, beliau berfatwa, “Ya. Hal itu seperti yang datang dari Nabi n, barang siapa mendengar azan, wajib atasnya menjawab panggilan muazin untuk pergi ke masjid jika ia berada dekat dari masjid dan memungkinkan baginya pergi ke masjid untuk mendapatkan shalat jamaah.

Adapun jika ia jauh dari masjid dengan jarak yang memberatkannya dan ia tidak bisa mendapatkan shalat jamaah di masjid itu, tidak wajib atasnya menghadiri seruan azan yang didengarnya melalui mikrofon lantaran jaraknya yang jauh sebagaimana disebutkan.”

Alhasil, berdasarkan keterangan di atas, jawaban pertanyaan Anda tidak keluar dari rincian berikut ini. Jika yang terdekat dari kebun Anda adalah kampung Anda yang berjarak ±40 km, tidak wajib mendatanginya karena jaraknya yang sangat jauh dan sangat memberatkan untuk mendatanginya.

Begitu pula halnya jika ada perkampungan dan masjid lain, tetapi letaknya jauh dan memberatkan Anda untuk berjalan mendatanginya, Anda tidak wajib menghadirinya walaupun azannya terdengar melalui pengeras suara. Dengan demikian, boleh bagi Anda melaksanakan shalat sendiri di kebun atau berjamaah dengan kaum muslimin lainnya yangada di sana.

Jika ada perkampungan dan masjid yang dekat dari kebun Anda dengan azan yang terdengar, walapun dengan suara biasa (tanpa pengeras suara) jika dikumandangkan di keheningan tanpa ada penghalang untuk menjangkau kebun Anda, wajib atas Anda memenuhi panggilan azan itu untuk shalat jamaah di masjid itu. Wallahu a’lam.

Kapan Wanita Boleh Shalat?

Kapan seorang wanita mengerjakan shalat fardhu di rumahnya, apakah setelah azan ataukah setelah iqamah?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab, “Bila telah masuk waktu shalat, maka para wanita yang berada di rumah-rumah bisa mengerjakan shalat tanpa menanti iqamah. Begitu terdengar adzan muadzin yang memang menyerukan adzannya saat telah masuk waktu shalat maka para wanita bisa langsung shalat dan boleh juga mereka menunda dari awal waktunya, wallahu a’lam. (al-Muntaqa, 3/181)

Waswas ketika Shalat

Saya seorang wanita yang mengerjakan ibadah yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta’ala kepada saya, hanya saja di saat mengerjakan shalat saya banyak lupa di mana saya shalat sedangkan pikiran saya bisa melayang-layang mengingat beberapa kejadian pada hari tersebut.

Padahal sebelumnya pikiran itu tidak terlintas di benak saya melainkan setelah saya mulai melakukan shalat. Saya tidak mampu lepas dari hal ini kecuali ketika membaca bacaan shalat dengan keras. Lalu apa yang Anda nasihatkan kepada saya?

Jawab:
“Masalah yang Anda keluhkan ini banyak pula dikeluhkan oleh orang yang shalat, ketika setan membuka pintu waswas baginya di tengah shalat. Terkadang ada orang selesai dari mengerjakan shalatnya dalam keadaan ia tidak tahu apa yang tadi diucapkan/dibacanya saat shalat. Akan tetapi penyakit yang demikian telah diberikan bimbingan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengatasinya yaitu dengan meniup (meludah kecil) ke arah kiri tiga kali dan mengucapkan ‘audzu billahi minasy syaithani rajim. Bila ia lakukan hal ini, akan hilanglah darinya apa yang didapatinya dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Bagi orang yang masuk dalam amalan shalat hendaknya meyakini ia sedang berada di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, sedang bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, bertaqarrub/mendekat kepada-Nya dengan membesarkan dan mengagungkan-Nya serta membaca kalam-Nya, disertai doa yang dipanjatkan pada tempat-tempat yang memang disyariatkan untuk berdoa dalam shalat.

Apabila seseorang bisa merasakan perasaan seperti ini dalam shalat maka ia bisa masuk menghadap Rabbnya dengan khusyuk, penuh pengagungan, mencintai kebaikan yang ada di sisi-Nya, serta takut akan hukuman-Nya apabila ia sampai tidak serius menunaikan kewajiban yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan atasnya,” demikian jawaban dari Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. (Fatawa al-Mar’ah, 1/32—33)

 

Shalat Menggendong Anak

Apakah seorang ibu boleh shalat sambil menggendong anaknya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Shalat wanita sambil menggendong anaknya tidak apa-apa bila anaknya dalam keadaan suci dan memang butuh digendong karena mungkin anaknya menangis dan bisa menyibukkan si ibu apabila tidak menggendongnya.

Telah pasti kabar yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan beliau pernah shalat sambil menggendong cucu beliau Umamah bintu Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengimami orang-orang dalam keadaan Umamah dalam gendongan beliau. Bila berdiri, beliau menggendong Umamah dan di saat sujud beliau meletakkannya3.

Apabila seorang ibu melakukan hal tersebut maka tidak apa-apa, tetapi yang lebih utama tidak melakukannya melainkan jika ada kebutuhan.” (Nurun ‘alad Darb, hlm. 17)

Imam Shalat ditempat yang Lebih Tinggi

Bagaimana kedudukan hadits tentang larangan imam lebih tinggi dari makmum di terjemahan Nailul Authar? Ana benar-benar ingin tahu. Syukran.

Sugeng—Surabaya (0317708xxxx)

Jawab:
Posisi imam yang berada di tempat yang lebih tinggi dari makmum telah dilarang oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hal ini terdapat beberapa hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya:

Dari Hammam bahwasanya sahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhuma mengimami orang-orang di kota Mada’in di atas tempat yang lebih tinggi. Sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu lalu memegang bajunya dan menariknya. Ketika selesai dari shalatnya Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidakkah kamu tahu bahwa mereka melarang dari perbuatan itu?” Hudzaifah menjawab, “Ya, aku baru ingat ketika engkau menarikku.” (Sahih, HR. Abu Dawud 1/163 no. 597 dan disahihkan oleh al-Albani)

Dari Adi bin Tsabit al-Anshari, seseorang telah memberitahukan kepadaku bahwa ia bersama ‘Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu di kota Mada’in. Kemudian dikumandangkan iqamat. Lalu ‘Ammar maju dan berdiri di atas tempat yang lebih tinggi melakukan shalat, sementara orang-orang di bawah. Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pun maju lalu menarik dua tangannya hingga ‘Ammar mengikutinya sampai Hudzaifah menurunkannya. Ketika ‘Ammar selesai dari shalatnya Hudzaifah berkata, “Tidakkah kamu mendengar Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Bilamana seseorang mengimami sebuah kaum, janganlah ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari tempat mereka atau semakna dengan itu.’ Ammar pun berkata, ‘Karena itulah saya menuruti engkau ketika kamu memegang tanganku’.” (Hasan, HR. Abu Dawud, 1/163 no. 598, dihasankan oleh al-Albani dengan dukungan riwayat sebelumnya secara global)

Dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah melarang imam untuk berdiri di atas sesuatu sementara orang-orang di belakangnya lebih rendah darinya.” (Hasan, HR. ad-Daruquthni, dihasankan oleh al-Albani dalam Tamamul Minnah no. 281)

Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, seorang imam tidak diperbolehkan berada pada tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum. Inilah yang kemudian dipegangi oleh beberapa ulama, di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud, an-Nakha’i, ats-Tsauri, Malik, Abu Hanifah, al-Auza’i, dan Ahmad dalam salah satu riwayat dari beliau sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Rajab1 dalam kitab Fathul Bari.

Ini juga merupakan pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm (hlm. 310, cet. Qutaibah). Beliau rahimahullah berkata, “Kalau imam pernah mengajari orang shalat (yakni dengan berdiri di tempat yang tinggi) satu kali, saya menyukai baginya (setelah itu) untuk shalat sejajar dengan makmum. Hal ini karena tidak pernah diriwayatkan dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat di atas mimbarnya2, melainkan hanya satu kali. Tempat beliau selain waktu itu adalah di atas tanah bersama para makmum. Oleh karena itu, yang dipilih adalah imam sejajar dengan makmum. Seandainya lebih tinggi atau lebih rendah, shalatnya dan shalat mereka tidak rusak (tetap sah).”

Adapun kadar ketinggian yang dimaksud adalah, “Setiap tempat yang sah untuk dikatakan—menurut bahasa dan kebiasaan—bahwa yang demikian lebih tinggi dari tempat makmum maka itu terlarang.” Demikian penjelasan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab ats-Tsamarul Mustathab.

Sebagian ulama berpendapat bahwa ukuran yang terlarang adalah jika melebihi tinggi postur tubuh menusia. Jika kurang dari itu diperbolehkan. Kembali asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa perincian yang semacam itu tidak ada dalilnya dalam hadits. Itu hanya sekadar pendapat akal. Oleh karena itu, asy-Syaukani rahimahullah mengatakan setelah menyebutkan pendapat-pendapat ulama dalam hal perbedaan kadar tinggi tersebut bahwa kesimpulan dari dalil-dalil tersebut adalah dilarangnya imam lebih tinggi dari makmum tanpa adanya perbedaan antara di masjid dan di tempat lain, tanpa perbedaan antara setinggi postur tubuh manusia, kurang atau lebih dari itu.

Sebagian ulama belakangan berfatwa bahwa jika lebih tinggi sedikit diperbolehkan, sebagaimana pendapat mazhab Hanbali dan Maliki. (Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Liqa Bab Maftuh dan Fiqh Islami wa Adillatuhu)

Namun, fatwa dan pendapat ini juga lemah jika kita menengok keterangan di atas.
Bilamana bersama imam pada tempat yang tinggi tersebut ada sebagian shaf makmum, hal ini diperbolehkan karena imam saat itu tidak menyendiri di tempat tersebut. Ini semakna dengan yang disebutkan dalam kitab al-Inshaf karya al-Mirdawi rahimahullah dan kemudian difatwakan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah. (al-Imamah fish Shalah, al-Qahthani, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Ibnu Baz, dan Majmu’ Fatawa wa Rasail, Ibnu Utsaimin)

Hukum di atas berlaku bilamana tidak ada maslahat dan kepentingan saat imam berposisi lebih tinggi dari makmum. Adapun jika ada maslahat untuk mengajari orang shalat dengan praktik langsung, hal ini diperbolehkan. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah shalat di atas mimbar sebagaimana dalam hadits berikut.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus (seseorang) kepada Fulanah—seorang wanita yang telah disebut namanya oleh Sahl (bin Sa’d) radhiallahu ‘anhu—, “Perintahlah budakmu yang tukang kayu untuk membuatkan bangunan kayu untuk aku duduk di atasnya ketika aku berceramah di hadapan manusia.” Kemudian wanita itu memerintahkannya sehingga ia membuatnya dari tharfa’ (sejenis pohon cemara) di daerah al-Ghabah lalu dia bawa. Wanita itu mengutus seseorang untuk membawanya kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan agar mimbar tersebut diletakkan di sini. Setelah itu, aku melihat beliau shalat di atas mimbar tersebut. Beliau bertakbir di atasnya, kemudian ruku’ di atasnya, kemudian turun mundur lalu sujud di dasar mimbar. Setelah itu beliau kembali lagi. Setelah selesai, beliau menghadap kepada manusia lalu berkata, “Wahai manusia, aku melakukan hal ini hanya agar kalian mengikuti aku dan kalian mempelajari shalatku.” (Shahih, Muttafaqun ‘alaihi dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Hibban rahimahullah berkata, “Jika seseorang menjadi imam lalu dia shalat sebagai imam orang-orang yang baru masuk Islam sehingga ia berdiri di tempat yang lebih tinggi dari makmum untuk mengajari mereka hukum-hukum shalat yang langsung dilihat mata, hal itu diperbolehkan sesuai dengan hadits sahabat Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu. Tetapi, kalau alasan ini tidak ada, janganlah ia shalat di tempat yang lebih tinggi dari tempat makmum, sesuai dengan hadits dari sahabat Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Dengan demikian, kedua hadits itu tidak bertentangan dan saling membantah. (Shahih Ibnu Hibban)

Pendapat lain dalam masalah ini adalah membolehkan imam lebih tinggi dari makmum secara mutlak. Ini adalah salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, Ibnu Hazm, dan ad-Darimi (Shahih al-Bukhari, Fathul Bari karya Ibnu Rajab, dan ats-Tsamarul Mustathab).

Ibnu Rajab rahimahullah berkomentar, “Pendapat ini sangat aneh dari al-Imam Ahmad. Tidak dikenal pendapat ini dari beliau selain melalui jalur ini, dan Ibnu Hazm rahimahullah bersandar padanya. Mereka menukilkan dari Ahmad bolehnya seorang imam di tempat yang lebih tinggi dari makmum. Hal ini bertentangan dengan mazhab beliau yang sudah tersebar (dalam hal ini), yang telah dinukil oleh para pengikut mazhab beliau di kitab-kitab mereka, serta disebutkan oleh al-Khiraqi dan yang setelahnya. Demikian juga, Hanbal dan Ya’qub bin Bakhtan menukilkan dari Ahmad bahwa beliau berkata, ‘Janganlah tempat imam lebih tinggi dari tempat orang yang di belakangnya. Akan tetapi, tidak mengapa yang di belakangnya lebih tinggi’.” (Fathul Bari)

Dalam kitab bermazhab Hanbali pula, al-Inshaf, disebutkan bahwa yang benar dalam mazhab Hanbali adalah tidak boleh.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan tentang pendalilan mereka dengan hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu tentang shalat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar untuk mendasari pendapat mereka, “Hal ini adalah pendalilan yang aneh dari para imam tersebut. Keherananku hampir-hampir tidak habis. Bagaimana bisa mereka berdalil untuk membolehkan hal itu secara mutlak, padahal perbuatan beliau itu (jelas-jelas) terkait dengan pengajaran, sebagaimana ucapan Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri.” (ats-Tsamarul Mustathab)

Ibnu Daqiqil Ied rahimahullah pun sebelumnya telah membantah pendapat tersebut, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Tempat Makmum Boleh Lebih Tinggi dari Imam

Secara ringkas tempat makmum boleh lebih tinggi dari imam. Hal itu pernah dilakukan oleh Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma.

“Abu Hurairah shalat di lantai atas masjid dengan shalatnya imam (mengikuti imam).” (Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq dan dikuatkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari)

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau melakukan shalat Jum’at di rumah Abu Nafi’ radhiallahu ‘anhu di sebelah kanan masjid, di sebuah ruangan setinggi postur tubuh manusia. Ruangan yang pintunya mengarah ke masjid, di kota Bashrah. Anas radhiallahu ‘anhu mengikuti shalat Jum’at di tempat tersebut dan menjadi makmum. (Riwayat Sa’id bin Manshur sebagaimana dalam kitab al-Muntaqa, dan al-Imam Ahmad berdalil dengannya sebagaimana kata Ibnu Rajab dalam Fathul Bari)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Shalat pada tempat yang dibangun di atas tanah semacam sebuah ruangan di masjid atau di atas loteng masjid, semuanya boleh dan tidak ada kemakruhan dalam hal ini tanpa ada perbedaan, kecuali pada beberapa permasalahan yang diperselisihkan.” (Fathul Bari)

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Adapun tinggi (tempat) makmum jika berlebihan yang lebih dari 300 hasta sehingga makmum tidak mungkin mengetahui gerakan imam, hal itu dilarang menurut kesepakatan ulama, tanpa ada perbedaan antara masjid dan yang lain. Adapun kurang dari ukuran tersebut, pada asalnya boleh, sampai adanya dalil yang melarang. Hal yang mendukung hukum asal ini adalah perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tersebut dan tidak ada yang mengingkarinya.”

Namun, apakah kebolehan ini secara mutlak atau saat keadaan menuntut demikian dengan tetap memerhatikan aturan-aturan shaf/barisan shalat?

Di sini terjadi perbedaan pendapat. Yang kuat/rajih dari dua pendapat yang ada adalah yang kedua.

Al-Imam Ahmad rahimahullah ditanya, “Seseorang shalat di atas loteng bermakmum dengan imam?”

Beliau menjawab, “Jika antara dia dengan imamnya ada jalan atau sungai, tidak boleh.”
Beliau ditanya lagi, “Anas (bin Malik) shalat Jum’at di loteng.”

Beliau menjawab, “Pada hari Jum’at tidak ada jalan orang-orang.”
Beliau memaksudkan bahwa pada hari Jumat jalan-jalan penuh dengan orang-orang sehingga shaf-shaf bersambung. Demikian penjelasan Ibnu Rajab rahimahullah dalam kitab Fathul Bari.

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Atsar-atsar yang lain dari Umar, asy-Sya’bi, dan Ibrahim an-Nakha’i dalam kitab Ibnu Abi Syaibah (2/223) dan Abdurrazzaq (3/81—82), menyebutkan hal itu tidak boleh jika antara dia dengan imam ada jalan dan yang semacamnya.

Bisa jadi, apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat yang pertama (semacam perbuatan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dipahami bahwa itu saat ada uzur/alasan, seperti penuhnya masjid, sebagaimana ucapan Hisyam bin Urwah, “Suatu saat aku bersama ayahku datang (ke masjid). Ternyata kami dapati masjid telah penuh. Kami pun tetap shalat bersama imam di sebuah rumah di sisi masjid, dan antara keduanya ada jalan (Riwayat Abdurrazzaq, 3/82 dengan sanad yang sahih dari beliau).” (Tamamul Minnah)

Beliau juga mengatakan bahwa jika makmum shalat di tempat yang tinggi, ada kemungkinan karena keadaan darurat seperti tempat yang sempit dan selainnya, atau tidak ada darurat. Jika kemungkinan yang pertama, tidak ada pembicaraan karena hal darurat menyebabkan bolehnya sesuatu yang terlarang. Tetapi kalau tidak, mengakibatkan terputusnya shaf/barisan dan menyendiri dari barisan yang ada, sebagaimana yang dilakukan banyak muadzin atau yang lain, juga orang yang shalat di halaman padahal di depan mereka masih kosong dan cukup untuk banyak shaf, hal yang semacam ini tidak boleh. (ats-Tsamarul Mustathab)

Pendapat lain dalam hal ini adalah boleh secara mutlak tanpa perincian di atas. Ini adalah riwayat lain dari pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah (Fathul Bari karya Ibnu Rajab), tetapi pendapat ini lemah. Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Sifat Shalat Nabi (4)

Telah kita lewati pembicaraan tentang qiraah (membaca Al-Qur’an) di dalam shalat. Termasuk hal yang perlu diperhatikan dalam membaca Al-Qur’an adalah membacanya dengan tartil, karena Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membaca Al-Qur’an dengan tartil, tidak tergesa-gesa atau cepat-cepat. Al-Qur’an dibaca huruf demi huruf, kata demi kata. Membaca Al-Qur’an dengan cara seperti ini juga berlaku di dalam shalat. Maka dari itu, orang yang shalat harus memerhatikan bacaannya. Ia tidak boleh tergesa-gesa ingin segera menyelesaikan bacaannya.

Ulama berbeda pendapat dalam menentukan mana yang lebih utama atau afdhal, apakah mentartil Al-Qur’an dalam keadaan surat/ayat yang dibaca pendek/sedikit atau cepat dalam membaca Al-Qur’an namun banyak ayat yang bisa dibaca. Pendapat yang pertama dipegangi oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka, dan dipilih oleh Ibnu Sirin rahimahullah. Adapun pendapat kedua dipegangi oleh pengikut Syafi’iyah dengan berdalil sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.” (HR. at-Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469) (al-Ashl, 2/562)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/125) menggabungkan dua pendapat ini dan al-Hafizh rahimahullah mengikutinya dalam Fathul Bari (9/73). Dinyatakan bahwa masing-masing memiliki keutamaan, baik yang cepat maupun yang tartil. Namun, dengan syarat orang yang membaca dengan cepat tidak terluputkan darinya satu huruf pun, harakat atau sukun yang wajib. Salah satunya bisa lebih utama daripada yang lain dan bisa pula sama. Orang yang mentartil dan memerhatikan apa yang dibacanya, meresapi dan merenungkannya, ibarat orang yang bersedekah dengan satu permata yang sangat mahal. Sementara itu, orang yang membaca dengan cepat, ibarat orang yang bersedekah dengan sejumlah permata, tetapi nilai semua permata tersebut sama dengan satu permata yang mahal. Terkadang satu permata lebih bernilai dari sejumlah permata, namun terkadang pula sebaliknya, sejumlah permata lebih mahal daripada satu permata. Wallahu a’lam.

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Pada hari kiamat nanti dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah! Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Sungguh, kedudukanmu (derajat di surga) menurut akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Daud no. 1464, at-Tirmidzi no. 2914, dll. Hadits ini hasan sebagaimana dalam al-Misykat no. 2134 dan ash-Shahihah no. 2240)

Isti’adzah dan Meludah Kecil dalam Shalat

Utsman ibnu Abil Ash radhiallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Wahai Rasulullah, sungguh setan menghalangi antara aku dan shalatku serta bacaanku. Ia membuatku kacau dan ragu-ragu saat membaca Al-Qur’an (dalam shalat).”

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Itu adalah setan yang disebut Khinzib. Jika engkau merasakan gangguannya, berta’awudzlah (mintalah perlindungan) kepada Allah darinya dan meludah kecillah ke arah kirimu tiga kali.” Utsman berkata, “Aku pun melakukan bimbingan Rasul tersebut maka Allah menghilangkan gangguan setan itu dariku.” (HR. Muslim no. 5702)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan disunnahkannya berta’awwudz kepada Allah subhanahu wa ta’ala ketika ditimpa waswas, disertai dengan meludah kecil ke arah kiri tiga kali[1].” (al-Minhaj 14/411)

Ruku’

Selesai membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak. Demikianlah yang beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan setiap selesai membaca satu ayat. Setelah itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan untuk bertakbir, sebagaimana mengangkat tangan saat takbiratul ihram, lalu ruku’. Tentang mengangkat tangan sebelum ruku’ ini beritanya mutawatir dari Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah mazhab imam yang tiga dan selain mereka dari kalangan jumhur ahli hadits dan fuqaha. (Mausu’ah ash-Shalah ash-Shahihah, 2/868)

 

Tata Cara Ruku’

Pada awalnya Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan tathbiq dalam ruku’, yaitu mengumpulkan jari-jemari kedua telapak tangannya, dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain, lalu diletakkan di antara dua paha atau dua lutut beliau sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 1191, “Kitabul Masajid”, bab an-Nadb ila wadh’il aydi ‘alar rukab fir ruku’ wa naskhut tathbiq)
Cara ruku’ seperti ini kemudian ditinggalkan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan beliau melarangnya. Yang kemudian beliau lakukan saat ruku’ adalah:

  1. Meletakkan dua telapak tangan beliau di atas kedua lutut beliau.
    Cara seperti inilah yang belakangan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Sa’d ibnu Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami shalat. Beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Kemudian ruku’ dan mengumpulkan jari-jemari kedua tangannya dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain lalu meletakkannya di antara dua lututnya.”

Hal ini sampai kepada Sa’d, maka ia berkata, “Benar saudaraku itu. Dahulu kami memang melakukan cara seperti itu. Kemudian Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami dengan cara seperti ini.” Sa’d memegang kedua lututnya (dengan kedua telapak tangannya). (HR. al-Bukhari dalam Raf’ul Yadain hlm. 12, dll. Al-Imam ad-Daraquthni rahimahullah berkata, “Isnadnya tsabit sahih.” Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini di atas syarat Muslim.” Lihat al-Ashl, 2/628)

Mush’ab ibnu Sa’d berkata, “Aku shalat di samping ayahku. Aku mengumpulkan jari-jemari telapak tanganku dengan menempelkan bagian dalam telapak tangan satu dengan yang lain dan aku letakkan di antara kedua pahaku. Ayahku melarangku ruku’ dengan cara demikian. Ia menyatakan, ‘Dahulu kami melakukan cara seperti yang kau lakukan, lalu kami dilarang. Kemudian kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kami di atas lutut’.” (HR. al-Bukhari no. 790 dan Muslim no. 1197)

Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata, “Sungguh, termasuk sunnah (ajaran/petunjuk Nabi) adalah memegang lutut saat ruku’.” (HR. at-Tirmidzi no. 258 dan an-Nasa’i no. 1035, sanadnya sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits di atas, “Ini yang diamalkan oleh ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Tidak ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini, selain yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan sebagian muridnya. Mereka mengumpulkan jari-jemari mereka (saat ruku). Cara tathbiq (yang mereka lakukan) ini mansukh menurut ahlul ilmi.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/162—163)

  1. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangan beliau di atas kedua lutut, beliau seakan menggenggam keduanya.

Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam tambahan hadits Abu Humaid as-Sa’idi[2] radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi no. 260:

“Rasulullah ruku’ dan meletakkan dua telapak tangan di atas kedua lutut. Beliau mengokohkan kedua tangan tersebut pada kedua lututnya seakan-akan menggenggam keduanya.” (Disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Hadits Umar radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan hal demikian.

  1. Jari-jemari direnggangkan (dijauhkan satu dari yang lain) ketika menggenggam lutut.
    Hal ini pernah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang yang salah shalatnya. Dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (al-Musnad, 4/340) disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang yang salah shalatnya:

“Apabila engkau ruku’, letakkanlah dua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu satu dari yang lain, lalu diam/tenanglah hingga seluruh anggota mengambil bagian/posisinya.” (“Sanadnya hasan,” kata al-Imam al-Albani rahimahullah dalam al-Ashl, 2/633)

Hadits di atas memiliki syahid dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Ia menyebutkan bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang A’rabi:

“Jika engkau ruku’, letakkanlah kedua telapak tanganmu di atas kedua lututmu, kemudian renggangkanlah jari-jemarimu, lalu diam/tenanglah hingga setiap anggota mengambil tempat/posisinya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya)
Posisi jari-jemari ini ke arah yang lebih rendah di atas kedua betis, seperti ditunjukkan oleh hadits Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri radhiallahu ‘anhu, yang dibawakan oleh Atha’ ibnus Saib, dari Salim al-Barad, ia berkata, “Kami mendatangi Abu Mas’ud Uqbah ibnu Amr al-Anshari. Kami mengatakan kepadanya, ‘Sebutkan kepada kami tentang shalat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Abu Mas’ud pun berdiri di hadapan kami di dalam masjid. Ia bertakbir. Tatkala ruku’, ia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan ia menjadikan jari-jemari lebih rendah dari lututnya, serta menjauhkan kedua sikunya dari rusuknya, hingga segala sesuatu tenang/menetap pada tempat/posisinya…’.”

Setelah menyelesaikan shalatnya, Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demikianlah kami melihat Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (HR. Abu Dawud no. 863, disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

  1. Dari hadits Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu di atas kita dapati pula tata cara ruku’ yang berikutnya, yaitu menjauhkan kedua siku dari rusuk.

Hal ini ditunjukkan pula oleh hadits dari sejumlah sahabat. Di antaranya adalah hadits Abu Humaid radhiallahu ‘anhu dengan lafadz, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya seakan-akan memegangi kedua lututnya. Beliau juga menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 260, disahihkan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang dipilih oleh ahlul ilmi, yaitu seseorang yang shalat hendaknya menjauhkan kedua tangannya dari kedua rusuknya ketika ruku’ dan sujud.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/163)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dari seorang ulama pun tentang sunnahnya hal ini. Hikmah dilakukannya cara seperti ini adalah lebih sempurna dalam penampakan dan bentuk shalat.”

Catatan
Sunnah menjauhkan kedua tangan dari kedua rusuk ini dilakukan dengan syarat tidak mengganggu orang lain yang shalat di sampingnya dalam shalat berjamaah. Yang wajib dalam ruku’, kata sebagian ulama (sebagaimana dalam al-Inshaf 3/480), ia membengkokkan punggungnya di mana keberadaannya lebih dekat kepada ruku’ yang sempurna daripada berdiri sempurna. Artinya, orang yang melihatnya mengetahui bahwa ia sedang ruku’, tidak sedang berdiri. (asy-Syarhul Mumti’, 3/91)

Insya Allah bersambung

 Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

[1] Ia sedikit mengarahkan kepalanya ke arah kiri tubuhnya, bukan ke arah orang lain yang ada di sebelah kirinya apabila ia shalat berjamaah, karena hal tersebut akan mengganggu orang lain.

[2]  Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits Abu Humaid tanpa tambahan yang disebutkan.