Sifat Shalat Nabi (5) : Doa-doa Istiftah

Doa-doa Istiftah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka bacaan beliau dalam shalat dengan mengucapkan doa-doa yang banyak lagi beragam. Di dalamnya beliau memuji Allah ‘azza wa jalla, memuliakan-Nya dan menyanjung-Nya. Doa-doa inilah yang diistilahkan dengan doa istiftah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Rifa’ah ibn Rafi’ radhiallahu ‘anhu, sahabatnya yang keliru dalam shalatnya (al-musi’u shalatuhu):

إِنَّهُ لاَ تَتِمُّ صَلاَةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ فَيَضَعَ الْوُضُوْءَ – يَعْنِي مَوْضِعَهُ – ثُمَّ يُكَبِّرَ، وَيَحْمَدَ الله، وَيُثْنِيَ عَلَيْهِ، وَيَقْرَأَ بمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang dari manusia hingga ia berwudhu lalu meletakkan wudhunya pada tempat-tempatnya, kemudian ia bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla dan menyanjung-Nya serta membaca apa yang mudah baginya dari Al-Qur’an…” (HR. Abu Dawud no. 857, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Doa istiftah ini dibaca dengan sirr (tidak dikeraskan), dan pendapat yang rajih (kuat) hukumnya mustahab (sunnah) sebagaimana pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Tidak diketahui ada yang menyelisihi pendapat ini, kecuali Al-Imam Malik rahimahullah. Beliau berkata, ‘Tidak dibaca doa istiftah ini dan tidak ada sama sekali bacaan apapun antara Al-Fatihah dan takbir. Yang seharusnya ia ucapkan adalah bertakbir: Allahu Akbar, lalu membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin sampai akhir dari surah Al-Fatihah.” (Al-Majmu’, 3/278)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Pendapat Al-Imam Malik rahimahullah ini memberikan konsekuensi batalnya tiga sunnah:

Pertama: doa istiftah

Kedua: isti’adzah (mengucapkan A’udzubillah… dst, memohon perlindungan dari gangguan setan)

Ketiga: basmalah

Padahal ini merupakan sunnah yang pasti lagi mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang nampak, sunnah-sunnah ini tidak sampai kepada Al-Imam Malik rahimahullah, ataupun sampai kepada beliau akan tetapi beliau tidak mengambilnya karena suatu sebab menurut beliau.” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/239-240)

Sebagaimana telah disinggung di atas, doa-doa istiftah itu banyak dan beragam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengganti-ganti bacaan doa istiftahnya. Terkadang membaca doa yang ini, di kali lain membaca doa yang itu dan seterusnya. Ketika shalat fardhu beliau membaca yang satu dan ketika shalat nafilah/sunnah beliau membaca yang lainnya.

Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Sepantasnya bagi seseorang beristiftah sekali waktu dengan (doa istiftah) yang ini dan di waktu lain dengan (doa istiftah) yang itu, agar ia menunaikan sunnah-sunnah seluruhnya. Dengan cara seperti itu, berarti ia juga menghidupkan sunnah serta lebih menghadirkan hati. Mengapa? Karena bila seseorang hanya membaca satu macam doa istiftah secara terus-menerus (tidak menggantinya dengan doa yang lain), niscaya hal itu akan menjadi kebiasaan baginya. Sampai-sampai saat ia bertakbiratul ihram dalam keadaan hatinya lalai (tidak perhatian dengan amalan shalatnya) sementara telah menjadi kebiasaannya beristiftah dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdik…”, maka ia akan dapati dirinya tanpa sadar mulai membaca doa istiftah tersebut.” (Asy-Syarhul Mumti’, 3/48)

Beberapa doa istiftah yang pernah diamalkan dan diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagai berikut:

  1. Bacaan:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا باَعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana dibersihkannya kain yang putih dari noda. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, hujan es, dan air dingin.” (HR. Al-Bukhari no. 744 dan Muslim no. 1353, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu.

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ، إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا, لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus mengarah kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.

Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri1.

Ya Allah, Engkau adalah Raja, tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Engkaulah Rabbku dan aku adalah hamba-Mu. Aku telah menzalimi diriku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.

Tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Dan palingkan/jauhkanlah aku dari kejelekan akhlak dan tidak ada yang dapat menjauhkanku dari kejelekan akhlak kecuali Engkau.

Labbaika (aku terus-menerus menegakkan ketaatan kepada-Mu) dan sa’daik (terus bersiap menerima perintah-Mu dan terus mengikuti agama-Mu yang Engkau ridhai). Kebaikan itu seluruhnya berada pada kedua tangan-Mu, dan kejelekan itu tidak disandarkan kepada-Mu2. Aku berlindung, bersandar kepada-Mu dan Aku memohon taufik pada-Mu. Mahasuci Engkau lagi Mahatinggi. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.” (HR. Muslim no. 1809 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat fardhu dan shalat nafilah.

Ini menyelisihi pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa doa istiftah ini dibaca dalam shalat lail (tahajud), seperti Abu Dawud Ath-Thayalisi rahimahullah dalam Musnad-Nya (23) dan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/51) mengatakan, “Yang benar, doa istiftah ini hanyalah diucapkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam qiyamul lail.” Namun pendapat yang benar sebagaimana yang telah kami sebutkan. (Ashlu Shifah Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/249)

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِي, وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ، وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحاَنَكَ وَبِحَمْدِكَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang mencipta langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan aku lurus, condong kepada al-haq lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri. Ya Allah, Engkau adalah Raja tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau. Mahasuci Engkau dan sepenuh pujian kepada-Mu.” (HR. An-Nasa’i no. 898 dari Muhammad bin Maslamah radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 821)

  1. Bacaan:

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ، لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَعْمَالِ وَأَحْسَنِ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ. وَقِنِي سَيِّئَ الْأَعْمَالِ وَسَيِّئَ الْأَخْلاَقِ، لاَ يَقِي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang telah memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya, dalam keadaan lurus condong kepada al-haq, lagi berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadah sembelihanku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan dengan itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Ya Allah, tunjukilah aku kepada amalan yang terbaik dan akhlak yang terbaik, tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada amalan dan akhlak yang terbaik kecuali Engkau. Jagalah aku dari amal yang buruk dan akhlak yang jelek, tidak ada yang dapat menjaga dari amal dan akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR. An-Nasa’i no. 896 dari Jabir radhiallahu ‘anhuma. Dishahihkan dalam Shahih Ibni Majah dan Al-Misykat no. 820)

  1. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud no. 776, An-Nasa‘i no. 899, dan selain keduanya dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang maknanya, “Ucapan yang paling dicintai oleh Allah adalah seorang hamba mengucapkan: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ… (Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dalam At-Tauhid, 2/123. Juga diriwayatkan An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, 488/849, dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Ash-Shahihah no. 2939)

  1. Bacaan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ, وَتَبَارَكَ اسْمُكَ, وَتَعَالَى جَدُّكَ, وَ لاَ إِلَهَ غَيْرُكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (ثَلَاثًا), اللهُ as(أَكْبَر كَبِيْرًا (ثَلَاثًا

“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan sepenuh pujian kepada-Mu. Berlimpah keberkahan nama-Mu, Mahatinggi kemuliaan dan keagungan-Mu, dan tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau. Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (3 kali), Allah Maha Besar (3 kali).” (HR. Abu Dawud no. 775 dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat malam (tahajud).

  1. Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً

“Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Mahasuci Allah pada waktu pagi dan petang.” (HR. Muslim no. 1357 dan yang selainnya dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Doa ini diucapkan seorang sahabat ketika beristiftah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah menanyakan siapa pengucapnya, beliau bersabda, “Aku merasa kagum dengan doa tersebut! Dibukakan untuk doa tersebut pintu-pintu langit.”

  1. Bacaan:

الْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

“Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, yang baik, lagi diberkahi di dalamnya.” (HR. Muslim no. 1356 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Doa ini diucapkan seorang sahabat yang lain ketika beristiftah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku melihat dua belas malaikat berlomba-lomba, siapa di antara mereka yang akan mengangkat doa tersebut.”

  1. Bacaan:

اللُّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيِّمُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيْهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ، لَكَ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَلِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ حَقٌّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّوْنَ حَقٌّ، وَمُحَمّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، وَلاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

“Ya Allah, hanya milik-Mu lah segala pujian. Engkau adalah Penegak (yang menjaga dan memelihara) langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Dan hanya milik-Mu lah segala pujian, hanya milik-Mu lah kerajaan langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya.

Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah pemberi cahaya langit-langit dan bumi. Hanya milik-Mu lah segala pujian, Engkau adalah Raja langit-langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Hanya milik-Mu lah segala pujian.

Engkau adalah Al-Haq (Dzat yang pasti wujudnya), janji-Mu benar, perjumpaan dengan-Mu benar, ucapan-Mu benar, surga itu benar adanya, neraka itu benar adanya, para nabi itu benar, Muhammad itu benar dan hari kebangkitan itu benar (akan terjadi).

Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku kembali, dan hanya karena-Mu aku berdebat, hanya kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah dosa-dosa yang telah kuperbuat dan yang belakangan kuperbuat, ampunilah apa yang aku rahasiakan dan apa yang kutampakkan.

Engkau adalah Dzat yang Terdahulu, dan Engkau adalah Dzat yang Paling Akhir, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1120 dan Muslim no. 1805 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, lafadz yang dibawakan adalah lafadz Al-Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan doa istiftah ini dalam shalat tahajjud.

  1. Bacaan:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَئِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كاَنُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Ya Allah, wahai Rabb Jibril, Mikail dan Israfil! Wahai Yang memulai penciptaan langit-langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya! Wahai Dzat Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak! Engkau menghukumi/memutuskan di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka berselisih di dalamnya. Tunjukilah aku mana yang benar dari apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberikan hidayah kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim no. 1808 dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dalam shalat lail (shalat malam).

  1. Bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ (عَشْرًا)، الْحَمْدُ لِلهِ (عَشْرًا)، سُبْحَانَ اللهِ (عَشْرًا), لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ (عَشْرًا)، أَسْتَغْفِرُ اللهَ (عَشْرًا) .اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي (عَشْرًا) .اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الضِّيْقِ kl(يَوْمَ الْحِسَابِ (عَشْرًا) .

Allah Maha Besar (10 kali). Segala puji bagi Allah (10 kali). Mahasuci Allah (10 kali), tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah (10 kali), aku memohon ampun kepada Allah (10 kali). (kemudian membaca) Ya Allah, ampunilah aku, berilah petunjuk kepadaku, berilah rezeki kepadaku dan maafkanlah aku. (10 kali) (kemudian diteruskan dengan membaca) Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan pada hari penghisaban (perhitungan amalan).
(HR. Ahmad 6/143 dan Ath-Thabarani dalam Al-Ausath 62/2, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, dengan sanad yang shahih sebagaimana dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/267 )

Doa-doa istiftah tersebut tidak digabungkan saat dibaca
Doa-doa istiftah di atas tidak digabungkan saat dibaca, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang bacaan istiftah beliau, beliau menjawab dengan bacaan:

اللَّهُمَّ باَعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ….

Beliau tidaklah menyebut doa istiftah yang lain setelah itu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak menggabungkan doa-doa istiftah yang ada. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/52)

Isti’adzah

Isti’adzah yaitu bersandar kepada Allah ‘azza wa jalla dan mendekat ke sisi-Nya, untuk berlindung dari kejelekan setiap makhluk yang memiliki kejelekan. ‘Iyadzah itu untuk mencegah kejelekan.

Setelah beristiftah, sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah ‘azza wa jalla terlebih dahulu dengan mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terusir/dijauhkan (dari rahmat3) dari was-wasnya4, dari kesombongannya dan dari sihirnya.”5 (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 1/92/1, Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 1/78/2, dari Jubair ibnu Muth’im radhiallahu ‘anhu, dishahihkan dalam Irwa’ul Ghalil hadits no. 342)

Terkadang dalam ta’awudz tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambah dengan:

أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terusir/dijauhkan dari rahmat, dari was-wasnya, dari kesombongannya dan dari sihirnya.” (HR. Abu Dawud no. 775, dan lainnya, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang hasan sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil pembahasan hadits no. 342)

Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Masa’il Ibni Hani’ (1/51) menyatakan, sepantasnya tambahan ini diucapkan kadang-kadang.

Jumhur ulama berpendapat hukum ta’awudz ini sunnah, dengan dalil hadits Al-Musi’u Shalatuhu, di mana dalam hadits tersebut tidak disebutkan ta’awudz. (Al-Majmu’ 3/283, Taudhihul Ahkam 2/170)

Ini merupakan pendapat Al-Hasan, Ibnu Sirin, Atha’, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ishaq, dan ashabur ra’yi. (Al-Mughni, Kitab Ash-Shalah, Fashl La Yajharul Imam bil Iftitah)

Pendapat inilah yang penulis pandang lebih kuat. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah menyebutkan, “Tidak ada dalam hadits-hadits ta’awudz kecuali menerangkan bahwa ta’awudz dilakukan pada rakaat yang pertama. Adapun Al-Hasan, Atha’, dan Ibrahim berpendapat ta’awudz ini mustahab diucapkan dalam setiap rakaat. Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah ‘azza wa jalla:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Tidaklah diragukan bahwa ayat di atas menunjukkan disyariatkannya isti’adzah sebelum membaca Al-Qur’an. Ayat ini berlaku umum, apakah si pembaca Al-Qur’an tersebut berada di luar shalat atau sedang mengerjakan shalat. Sedangkan hadits-hadits yang melarang berbicara di dalam shalat menunjukkan larangan tersebut tidak dibedakan, baik berbicara dengan mengucapkan ta’awudz ataupun ucapan-ucapan lain yang tidak ada dalil yang mengkhususkannya dan tidak pula ada izin untuk mengucapkan yang sejenisnya. Maka yang lebih hati-hati adalah mencukupkan dengan apa yang disebutkan dalam As-Sunnah, yaitu isti’adzah hanya dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an dalam rakaat pertama saja.” (Nailul Authar, 2/39)

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ افْتَتَحَ الْقِرَاءَةِ بِالْحَمْدِ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit ke rakaat kedua, beliau membuka bacaan (qiraah) dengan ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ dan beliau tidak diam.” (HR. Muslim no. 1355)

Hadits ini menunjukkan tidak disyariatkannya diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) pada rakaat yang kedua. Demikian pula tidak disyariatkan berta’awudz dalam raakat kedua ini. Dan hukum rakaat-rakaat berikutnya (setelah rakaat kedua) sama dengan hukum rakaat yang kedua. Sehingga diam sebelum membaca (Al-Fatihah dan surat) itu hanya khusus pada rakaat yang pertama. Demikian pula berta’awudz dalam rakaat pertama. (Nailul Authar, 2/136)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/86) berkata, “Mencukupkan satu ta’awudz (hanya dalam rakaat pertama, pen.) adalah pendapat yang lebih nampak, berdasarkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ، اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ وَلَمْ يَسْكُتْ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit dari rakaat yang kedua, beliau membuka dengan bacaan dan tidak diam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencukupkan satu istiftah, karena beliau tidak menyelingi dua qiraah (bacaan) dengan diam, tapi beliau menyelinginya dengan dzikir. Maka qiraah dalam shalat seperti satu qiraah apabial yang menyelinginya adalah pujian kepada Allah, atau tasbih, atau tahlil, atau shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang semisalnya.

Adapula yang berpendapat bahwa ta’awudz hukumnya wajib dan dibaca setiap rakaat dalam shalat, seperti pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam Al-Muhalla (2/278) dan yang lainnya dari ahlul ilmi6, dengan dalil firman Allah ‘azza wa jalla:

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ

“Bila engkau membaca Al-Qur’an maka mintalah perlindungan kepada Allah.” (An-Nahl: 98)

Rahasia isti’adzah

Isti’adzah memiliki berbagai kebaikan. Di antaranya sebagai penyuci lisan dari berbagai ucapan sia-sia dan kotor yang diucapkan oleh seseorang, ketika mengucapkan/membaca kalamullah. Juga merupakan isti’anah (memohon pertolongan) kepada Allah ‘azza wa jalla, serta pengakuan bahwa Allah ‘azza wa jalla-lah yang memiliki kekuasaan, sementara hamba itu lemah dan tidak mampu mengatasi musuhnya (setan) yang nyata namun tidak nampak, serta tak ada yang mampu menolak dan mencegahnya kecuali Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya. Terlebih, setan ini tidak dapat menerima keramahtamahan dan tidak peduli dengan kebaikan, berbeda dengan musuh dari kalangan manusia. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh banyak ayat dalam Al-Qur’an.

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٞۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلٗا ٦٥

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, engkau tidak memiliki kekuasaan atas mereka sama sekali. Cukuplah Rabbmu sebagai pelindung.” (Al-Isra’: 65)
Para malaikat turun untuk memerangi musuh berupa manusia. Siapa saja yang terbunuh oleh musuh yang nampak maka dia menjadi seorang syahid. Sementara orang yang binasa oleh musuh yang tidak nampak, dia akan terusir. Siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang nampak maka dia akan mendapatkan balasan pahala, sementara siapa saja yang terkalahkan oleh musuh yang tidak nampak, dia akan tertimpa fitnah dan memikul dosa.

Tatkala setan melihat manusia dari tempat yang tidak terlihat oleh manusia, maka semestinya manusia memohon perlindungan darinya kepada Dzat Yang melihatnya sedangkan setan tidak dapat melihat-Nya. (Al-Mishbahul Munir, hal.18)

Penulis mengatakan, masalah ini di luar shalat ketika membaca Al-Qur’an, maka tentunya di dalam shalat seseorang harus lebih memerhatikan lagi diri dan shalatnya. Karena pada saat itu ia dalam keadaan berdiri beribadah kepada Rabbnya yang semestinya ditegakkan dengan khusyu’ dan menjaga shalatnya dari was-was setan serta tipu dayanya. Wallahul musta’an.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلاَةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لاَ يَسْمَعُ التَّأْذِيْنَ، فَإِذَا قَضَى النِّدَاء أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثَوَّبَ بِالصَّلاَةِ أَدْبَرَ، حَتىَّ إِذَا قَضَى التَّثْوِيْبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطُرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُوْلُ: اُذْكُرْ كَذَا، اُذْكُرْ كَذَا -لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ– حَتَّى يَظِلَّ الرَّجُلُ لاَ يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Apabila diserukan adzan untuk shalat setan berlalu dan ia memiliki kentut (berlalu dengan mengeluarkan suara kentut) hingga ia tidak mendengar adzan. Apabila adzan selesai dikumandangkan, ia datang kembali hingga saat diserukan iqamah, ia berlalu lagi. Ketika telah selesai iqamah, ia datang lagi hingga ia bisa melintaskan di hati seseorang berbagai pikiran, ia berkata, ‘Ingatlah ini, ingatlah itu’, padahal sebelumnya orang yang shalat tersebut tidak mengingatnya, demikian sampai orang tersebut tidak mengetahui telah berapa rakaat shalat itu dikerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 608)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Insya Allah bersambung)

ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

Sifat Shalat Nabi : (4) Melihat ke Tempat Sujud

Semula dalam shalatnya Rasulullah n mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat:

“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (Al-Mu’minun: 2)

Beliau pun menundukkan kepala beliau. (HR. Al-Hakim 2/393. Al-Imam Al-Albani t mengatakan bahwa hadits ini di atas syarat Muslim, lihat Ashlu Shifah1/230)

Aisyah x berkata:

دَخَلَ رَسُولُ اللهِ n الْكَعْبَةَ مَا خَلَفَ بَصَرُهُ مَوْضِعَ سُجُودِهِ حَتَّى خَرَجَ مِنْهَا

“Rasulullah n masuk Ka’bah (untuk mengerjakan shalat, pen.) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (terus mengarah ke tempat sujud) sampai beliau keluar dari Ka’bah.” (HR. Al-Hakim 1/479 dan Al-Baihaqi 5/158. Kata Al-Hakim, “Shahih di atas syarat Syaikhan.” Hal ini disepakati Adz-Dzahabi. Hadits ini seperti yang dikatakan keduanya, kata Al-Imam Albani t. Lihat Ashlu Shifah 1/232)

Ulama berbeda pendapat, ke arah mana sepantasnya pandangan orang yang shalat tertuju. Al-Imam Al-Bukhari t dalam Shahihnya menyebutkan: “Bab Raf’ul bashar ilal imam fish shalah (mengangkat pandangan ke imam di dalam shalat). Lalu beliau membawakan beberapa hadits yang menunjukkan bahwasanya para shahabat dahulu melihat kepada Rasulullah n dalam keadaan shalat pada beberapa kejadian yang berbeda-beda. Seperti riwayat Abu Ma’mar, ia berkata: Kami bertanya kepada Khabbab z, “Apakah dulunya Rasulullah n membaca Al-Qur’an saat berdiri dalam shalat dhuhur dan ashar?” Khabbab menjawab, “Iya.” “Dengan apa kalian mengetahui hal tersebut[1]?” Khabbab menjawab lagi, “Dengan melihat gerakan naik turunnya jenggot beliau.” (no. 746)

Demikian pula kabar tentang shalat gerhana matahari seperti yang diberitakan Abdullah bin Abbas c. Di dalamnya disebutkan bahwa para sahabat bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, dalam shalat tadi kami melihatmu mengambil sesuatu pada tempatmu, kemudian kami melihatmu tertahan (tidak jadi mengambilnya).” (no. 748)

Al-Imam Malik t berpendapat, pandangan diarahkan ke kiblat. Adapun Al-Imam Asy-Syafi’i t dan orang-orang Kufah berpandangan disenanginya orang yang shalat melihat ke tempat sujudnya karena yang demikian itu lebih dekat kepada kekhusyuan.

Al-Hafizh t berkata, “Memungkinkan bagi kita memisahkan antara imam dan makmum. Disenangi bagi imam melihat ke tempat sujudnya. Demikian pula makmum, kecuali bila ia butuh untuk memerhatikan imamnya (guna mencontoh sang imam, pen.). Adapun orang yang shalat sendirian, maka hukumnya seperti hukum imam (yaitu melihat ke tempat sujud). Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 2/301)

Al-Imam Al-Albani t berkata, “Dengan perincian yang disebutkan Al-Hafizh t di atas dapat dikumpulkanlah hadits-hadits yang dibawakan oleh Al-Bukhari dalam babnya dan hadits-hadits yang menyebutkan tentang melihat ke tempat sujud. Ini merupakan pengumpulan yang bagus. Wallahu ta’ala a’lam.” (Ashlu Shifah 1/233)

 

Memejamkan mata ketika shalat

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Yang benar, memejamkan mata di dalam shalat adalah perkara yang dibenci, karena menyerupai perbuatan orang-orang Majusi dalam peribadatan mereka terhadap api, di mana mereka memejamkan kedua mata. Dikatakan pula bahwa hal itu termasuk perbuatan orang-orang Yahudi. Sementara menyerupai selain muslimin minimal hukumnya haram, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam t.

Oleh karena itu, memejamkan mata dalam shalat minimalnya makruh, kecuali jika di sana ada sebab, seperti misalnya di sekitarnya terdapat perkara-perkara yang bisa melalaikannya dari shalat kalau dia membuka matanya. Dalam keadaan seperti itu, dia boleh memejamkan mata untuk menghindari kerusakan tersebut.” (AsySyarhul Mumti’, 3/41)

 

Larangan melihat ke langit/ ke atas ketika shalat

Melihat ke langit/ke atas adalah perkara yang diharamkan dan termasuk dari dosa besar, sebagaimana hadits Jabir bin Samurah z bahwa Rasulullah n bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقوَامٌ يَرْفَعُوْنَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى السَّمَاءِ فِي الصَّلاَةِ أَوْ لاَ تَرجِعُ إِلَيهِم

“Hendaklah orang-orang itu sungguh-sungguh menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika dalam keadaan shalat, atau (bila mereka tidak menghentikannya) pandangan mereka itu tidak akan kembali kepada mereka.”

Dalam satu riwayat:

أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ

“Atau sungguh-sungguh akan disambar pandangan-pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 965, 966)

Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Hadits ini menunjukkan larangan yang ditekankan dan ancaman yang keras dalam masalah tersebut.” (Al-Minhaj, 4/372)

 

Larangan menoleh dalam shalat

Aisyah x pernah bertanya kepada Rasulullah n tentang menoleh ketika sedang shalat. Beliau menjawab:

هُوَ اخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ الْعَبْدِ

“Menoleh dalam shalat adalah sambaran cepat, di mana setan merampasnya dari shalat seorang hamba.” (HR. Al-Bukhari no. 751)

Abu Dzar z berkata: Rasulullah n bersabda:

لاَ يَزَالُ اللهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَإِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ عَنْهُ

“Terus-menerus Allah menghadap kepada seorang hamba yang sedang mengerjakan shalat selama si hamba tidak menoleh. Bila si hamba memalingkan wajahnya, Allah pun berpaling darinya.” (HR. Abu Dawud no. 909. Dishahihkan dalam Shahih At-Targhib no. 552)

 

Menoleh karena sesuatu yang mengejutkan atau karena suatu kebutuhan

Anas bin Malik z berkisah, “Tatkala kaum muslimin sedang mengerjakan shalat fajar, tak ada yang mengejutkan mereka kecuali Rasulullah n (yang ketika itu sedang sakit sehingga tidak dapat hadir shalat berjamaah bersama mereka, pen.) tiba-tiba menyingkap tabir penutup kamar Aisyah, lalu memandang mereka dalam keadaan mereka berada dalam shaf-shaf. Beliau pun tersenyum lalu tertawa. Abu Bakr z yang saat itu mengimami manusia hendak mundur untuk bergabung dengan shaf di belakangnya, karena ia menyangka Rasulullah n ingin keluar (untuk mengimami mereka). Kaum muslimin pun hampir-hampir terfitnah dalam shalat mereka karena gembiranya mereka melihat Rasulullah n. Namun ternyata Rasulullah memberi isyarat kepada mereka yang bermakna, “Sempurnakanlah shalat kalian.” Setelah itu beliau mengulurkan kembali tabir penutup kamar Aisyah. Ternyata beliau wafat di akhir hari tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 754)

Hadits di atas menunjukkan bahwa tatkala Rasulullah n menyingkap tabir kamar Aisyah yang posisinya di kiri kiblat, para sahabat g menoleh ke arah beliau. Karena menolehlah mereka dapat melihat isyarat beliau n kepada mereka. Dengan tolehan tadi Rasulullah n tidak memerintahkan mereka untuk mengulang shalat mereka, bahkan menetapkan shalat mereka dengan isyarat agar mereka melanjutkannya. (Fathul Bari, 2/306)

Suatu ketika, Rasulullah n terlambat datang untuk mengimami manusia karena ada keperluan yang ingin beliau selesaikan. Abu Bakr Ash-Shiddiq z pun diminta menjadi imam. Di tengah shalat, datanglah Rasulullah n bergabung dalam shaf. Orang-orang pun bertepuk tangan ingin memperingatkan Abu Bakr z tentang keberadaan Rasulullah n. Sementara Abu Bakr z tidak pernah menoleh dalam shalatnya. Namun tatkala semakin ramai orang-orang memberi isyarat dengan tepuk tangan, Abu Bakr z pun menoleh hingga ia melihat Rasulullah n. Abu Bakr n ingin mundur, namun Rasulullah n memberi isyarat yang bermakna,“Tetaplah engkau di tempatmu.” (HR. Al-Bukhari no. 684)

Hadits di atas menunjukkan Abu Bakr z menoleh dalam shalatnya karena suatu kebutuhan, dan Rasulullah n tidak menyuruh Abu Bakr z mengulang shalatnya, bahkan mengisyaratkan agar melanjutkan keimamannya.

Dengan demikian, menoleh dalam shalat tidaklah mencacati shalat tersebut terkecuali bila dilakukan tanpa ada kebutuhan. (Fathul Bari, 2/305)

Dalil lain yang juga menunjukkan bolehnya menoleh bila ada kebutuhan adalah hadits yang berisi perintah Rasulullah n untuk membunuh ular dan kalajengking bila didapati oleh seseorang yang sedang mengerjakan shalat. Sementara membunuh hewan ini berarti membutuhkan gerakan-gerakan di luar gerakan shalat dan mungkin butuh untuk menoleh. Abu Hurairah z berkata:

أَمَرَ رَسُولُ اللهِ n بِقَتْلِ الْأَسْوَدَينِ فِي الصَّلاَةِ: الْحَيَّةِ وَالْعَقْرَبِ

“Rasulullah n memerintahkan untuk membunuh dua yang hitam di dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. At-Tirmidzi no. 390, dishahihkan dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi)

Setelah membawakan hadits di atas, Al-Imam At-Tirmidzi t berkata, “Ini yang diamalkan oleh sebagian ahlul ilmu dari kalangan sahabat Nabi n dan selain mereka. Dengan ini pula Al-Imam Ahmad t berpendapat, demikian pula Ishaq. Sebagian ahlul ilmi yang lain membenci untuk membunuh ular dan kalajengking di dalam shalat. Kata Ibrahim An-Nakha’i, “Sesungguhnya dalam shalat itu ada kesibukan.” Namun pendapat pertama yang lebih shahih/benar.” (Sunan At-TirmidziKitab Ash-Shalah, Bab Ma ja’a fi qatlil hayyah wal ‘aqrab fish shalah)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab(insya Allah bersambung)

 


[1] Karena tidak terdengar suara disebabkan shalat dhuhur dan ashar adalah shalat sirriyah.

Sifat Shalat Nabi (3) : Bersedekap

Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah shalat adalah setelah mengangkat tangan dalam takbiratul ihram, tangan kanan diletakkan di atas tangan kiri saat bersedekap. Beliau bersabda:

“Kami, segenap para nabi, diperintahkan untuk menyegerakan berbuka puasa, mengakhirkan makan sahur, dan kami diperintah untuk meletakkan tangan-tangan kanan kami di atas tangan-tangan kiri kami di dalam shalat.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Kabir no. 11485, dan selainnya dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dishahihkan dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/206)

Jabir radhiallahu ‘anhuma mengabarkan, di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki yang sedang shalat dengan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, beliau pun melepaskan tangan tersebut lalu membetulkannya dengan meletakkan tangan kanan orang tersebut di atas tangan kirinya. (HR. Ahmad 3/381. Al-Haitsami rahimahullah berkata, “Rijalnya rijal Ash-Shahih.” Majma’ Az-Zawaid 2/105)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku meletakkan tangan kiri di atas tangan kananku di dalam shalat. Beliau pun mengambil tangan kananku lalu diletakkannya di atas tangan kiriku.” (HR. Abu Dawud no. 755, dihasankan dalam Shahih Abi Dawud dan Fathul Bari, 2/291)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya menyebutkan Bab Wadh’il yumna ‘alal yusra (peletakan tangan kanan di atas tangan kiri) dan membawakan riwayat Sahl ibnu Sa’d radhiallahu ‘anhu yang mengabarkan: “Adalah orang-orang diperintah agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan kiri bagian bawah (lengan bawah/hasta) di dalam shalat.”

Abu Hazim, perawi yang meriwayatkan dari Sahl mengatakan, “Aku tidak mengetahui dari Sahl kecuali dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari no. 740)

Faedah

Para ulama menjelaskan, di antara hikmah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri adalah hal ini merupakan tata cara seorang peminta yang hina (meminta dengan menghinakan diri di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala). Cara seperti ini paling menahan/menghalangi dari berbuat main-main dalam shalat dan lebih dekat pada kekhusyukan.” (Fathul Bari, 2/291)

Cara peletakannya

Tangan kanan tadi diletakkan di atas tangan kiri dengan:

– al-wadha’: diletakkan saja di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hasta/lengannya (antara siku dan telapak tangan).

Dalilnya adalah hadits Wa’il ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Sungguh-sungguh aku akan melihat kepada shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengetahui secara tepat bagaimana shalat beliau. Aku pun mengamati beliau. Beliau berdiri, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya hingga berhadapan dengan bagian atas kedua telinga beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kiri, pergelangan, dan hastanya….” (HR. Abu Dawud no. 727, An-Nasa’i no. 889, dishahihkan dalam Al-Irwa’ 2/68-69)

Atau bisa pula dengan cara:

– al-qabdh: tangan kanan menggenggam tangan kiri.

Cara ini disebutkan dalam sebagian riwayat hadits Wail ibnu Hujr radhiallahu ‘anhu seperti dalam riwayat An-Nasa’i (no. 887). Wail berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berdiri dalam shalat, beliau menggenggamkan tangan kanannya di atas tangan kirinya.” (Sanadnya shahih sebagaimana dalam Shahih Sunan An-Nasa’i)

 Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata, “Tidaklah samar bahwa antara qabdh dengan wadha’ ada perbedaan yang jelas. Karena qabath lebih khusus daripada sekadar meletakkan (wadha’). Setiap orang yang menggenggam berarti ia meletakkan dan tidak sebaliknya.” Beliau mengatakan, “Sebagaimana hadits tentang wadha’shahih, demikian pula tentang qabdh. Maka yang mana saja dari keduanya dilakukan oleh orang yang shalat berarti sungguh ia telah mengerjakan Sunnah. Yang lebih utama, bila sekali waktu ia lakukan yang ini dan di waktu yang lain ia lakukan yang itu.

Adapun menggabungkan antara wadha’ dengan qabdh yang dianggap baik oleh sebagian orang-orang yang belakangan dari kalangan Hanafiyah adalah bid’ah. Gambarannya –sebagaimana yang mereka sebutkan– adalah seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan mengambil/menggenggam pergelangan tangan kiri dengan jari kelingking dan ibu jarinya yang kanan, sementara tiga jari yang lain dibentangkan. Cara ini seperti yang disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Abidin alad Dur (1/454).” (Ashlu Shifah, 1/211­-215)

Tempat kedua tangan yang disedekapkan

Dalam hal ini terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa kedua tangan tersebut diletakkan di bawah pusar, di atas pusar, atau di atas dada. Bila hadits-hadits tersebut tsabit niscaya ini termasuk keragaman dalam ibadah, di mana masing-masing sahabat meriwayatkan apa yang ia saksikan, maka semuanya berarti disyariatkan. Akan tetapi kata guru besar kami, muhaddits dari negeri Yaman, Al-Imam Abu Abdirrahman Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah, “Hadits-hadits yang menyebutkan di bawah pusar dan di atas pusar, beredar pada rawi yang bernama Abdurrahman ibnu Ishaq Al-Kufi, sementara ia dhaif/lemah.

Diperselisihkan riwayat yang dibawakannya karena ada kegoncangan (idhthirab) dalam haditsnya. Terkadang ia meriwayatkan dari Ziyad ibnu Zaid sehinggaperiwayatannya tergolong dalam musnad Ali radhiallahu ‘anhu. Sekali waktu ia meriwayatkan dari Sayyar ibnul Hakam dan dijadikannya mauquf (berhenti sanadnya) sampai Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Terkadang pula ia meriwayatkan dari An-Nu’man ibnu Sa’d sebagaimana dalam riwayat Al-Baihaqi (juz 2, hal. 11) sehingga tergolong dalam musnad Ali. Al-Baihaqi rahimahullah telah mengisyaratkan sebagian perbedaan ini, kemudian beliau berkata, “Abdurrahman ibnu Ishaq matruk (ditinggalkan haditsnya).”

“Di sana ada riwayat lain dari jalur Ghazwan ibnu Jarir Adh-Dhibbi, dari ayahnya, dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, tidak marfu’ (sampai) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada Ghazwan dan ayahnya sendiri ada jahalah (majhul).

Hanya saja riwayat keduanya bisa dijadikan syawahid dan mutaba’ah, sebagaimana penjelasan yang telah lewat. Adapun kalau keduanya bersendiri dalam penetapan suatu hukum maka tidak bisa. Apatah lagi apa yang mereka sebutkan adalah dari perbuatan Ali radhiallahu ‘anhu, sementara perbuatan seorang sahabat bukan hujjah.

Adapun riwayat yang menyebutkan kedua tangan diletakkan di atas dada yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, maka riwayat tersebut dari jalur Muammal ibnu Ismail. Dia lebih dekat kepada kedhaifan. Terlebih lagi dia bersendiri dalam riwayatnya dari sekelompok huffazh, sebagaimana dalam ta’liq terhadap Nashbur Rayah. Akan tetapi hadits Wail diriwayatkan dari jalur Abdul Jabbar ibnu Wa’il, dari ibunya, dari ayahnya, yang dibawakan Al-Imam Ahmad dan dalam sanadnya ada Qubaishah ibnu Halb. Kata Ibnul Madini, “(Qubaishah ini) majhul, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Sammak.” An- Nasa’i berkata, “Dia majhul.” Kata Al-‘Ijli, “Dia seorang tabi’in yang tsiqah.” Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqat sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib. Yang terpilih dalam hal ini adalah ucapan Ibnul Madini dan An-Nasa’i, karena Al-‘Ijli dan Ibnu Hibban diketahui sering mentsiqahkan orang yang majhul.

Yang paling shahih dalam masalah ini adalah hadits Thawus yang diriwayatkan oleh Abu Dawud. Di dalamnya disebutkan peletakan tangan di atas dada. Akan tetapi haditsnya mursal, sementara mursal termasuk bagian hadits dhaif. Sehingga yang tampak bagiku adalah perkara di mana kedua tangan itu diletakkan ketika sedekap termasuk perkara yang lapang (tidak dibatasi), sama saja apakah diletakkan di atas pusar, di bawah pusar, ataupun di atas dada. Walaupun riwayat mursal (yang telah kami sebutkan di atas, yaitu meletakkan tangan di atas dada) merupakan riwayat yang paling shahih dalam permasalahan ini. Wallahu a’lam.” (Riyadhul Jannah fir Raddi ‘ala A’da’is Sunnah, hal. 127-128)

Hukum melepaskan tangan tanpa bersedekap

Guru kami yang mulia, Asy-Syaikh Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata, “Telah datang atsar tentang melepaskan tangan tanpa bersedekap di dalam shalat dari sebagian salaf, seperti ‘Abdullah bin Az-Zubair, Ibrahim An-Nakha’i, Sa’id bin Jubair, dan ‘Atha’ bin Abi Rabah, sebagaimana yang ada dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah (1/391) dan Mushannaf ‘Abdir Razzaq (2/276).

Jawaban akan hal ini: Bisa jadi tidak sampai kepada sebagian mereka hadits-hadits tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, sementara hadits-hadits itu sampai kepada yang lain. Juga bisa jadi mereka menganggap baik dan memandang bahwa melepaskan tangan tanpa bersedekap bisa membantu untuk khusyu’.

Adapun yang tidak sampai padanya dalil-dalil peletakan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, maka mereka mendapatkan uzur. Sementara yang menganggap baik hal itu dalam keadaan telah mendapati nash, maka anggapan mereka itu tertolak, siapa pun dia. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika beliau mengatakan: “Aku tak pernah meninggalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena pendapat seseorang”, atau ucapan yang semakna dengan ini.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

“Telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir.”(Al–Ahzab: 21)

ٱتَّبِعُواْ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡ وَلَا تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَۗ قَلِيلٗا مَّا تَذَكَّرُونَ ٣

“Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian, dan janganlah kalian ikuti selain-Nya sebagai wali. Alangkah sedikitnya kalian ingat.” (Al–A’raf: 3)

Karena itu, tidak halal bagi seseorang untuk meninggalkan syariat Allah subhanahu wa ta’ala karena pendapat Fulan dan Fulan. Adapun orang-orang yang berpendapat melepaskan tangan, bisa jadi dia tidak mengetahui dalil dan dia diberi uzur, atau dia seorang alim mujtahid yang diberi pahala dengan ijtihadnya, atau seorang pembangkang yang pantas diberikan hukuman. Tidaklah halal mengikuti mereka semua dalam perkara yang menyelisihi Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam….

Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah telah menetapkan bahwasanya melepaskan tangan itu tidak tsabit (shahih) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Riyadhul Jannah, hal. 131-133)

Larangan berkacak pinggang di dalam shalat

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang dilarang shalat dalam keadaan berkacak pinggang.” (HR. Al-Bukhari no. 1220)

Juga dari Ziyad bin Shabih Al-Hanafi, dia mengatakan:

Aku pernah shalat di sisi Ibnu ‘Umar. Maka aku meletakkan kedua tanganku di kedua pinggangku. Ketika telah selesai shalat, Ibnu ‘Umar mengatakan, “Ini adalah perbuatan yang menyerupai salib di dalam shalat, dan dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang yang seperti ini.” (HR. Abu Dawud no.903, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadits (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) di atas adalah meletakkan tangan di pinggang ketika shalat. Ini pula yang ditetapkan oleh Abu Dawud dan dinukilkan oleh At-Tirmidzi dari sebagian ahlul ilmi. Ini merupakan pendapat yang masyhur tentang penafsiran ikhtishar dalam shalat. (Fathul Bari 3/115)

Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan: “Yang dimaksud ikhtishar adalah seseorang meletakkan tangannya di pinggang ketika shalat. Sebagian ahlul ilmi membenci jika seseorang berjalan dengan berkacak pinggang. Diriwayatkan bahwa iblis bila berjalan sambil berkacak pinggang.” (Sunan At-Tirmidzi, 1/237)

Al-Imam Asy-Syaukani mengatakan: “Hadits ini menunjukkan haramnya berkacak pinggang di dalam shalat. Demikian pendapat ahlu zhahir. Sementara Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Ibrahim An-Nakha’i, Mujahid, Ibnu Majlaz, Malik, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, ulama ahlul Kufah dan yang lainnya berpendapat makruh. Yang kuat adalah apa yang dipegangi oleh ahlu zhahir, karena tidak adanya dalil-dalil penyerta yang dapat memalingkan larangan ini dari pengharaman yang merupakan maknanya yang hakiki. Inilah yang benar.” (Nailul Authar, 2/223)

 

Sifat Shalat Nabi (2)

Tidak mendahului imam dalam bertakbir

Bila seseorang shalat di belakang imam, janganlah mendahului imam dalam bertakbir karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang makmum mendahului imamnya. Seperti dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Hanyalah imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka bila ia bertakbir, bertakbirlah kalian dan jangan kalian bertakbir hingga ia bertakbir. Bila ia ruku’ maka ruku’lah kalian dan jangan kalian ruku’ sampai ia ruku’ …” (HR. Abu Dawud no. 603, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

 

Mengangkat tangan

Mengangkat kedua tangan ketika memulai shalat merupakan perkara yang disyariatkan, bahkan perkara yang disepakati (ijma’). (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)

Telah dinukilkan pernyataan ijma’ ini oleh Ibnul Mundzir, Ibnu Hazm, dan Ibnus Subki. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/6, Nailul Authar 2/11)

Akan tetapi, telah dinukilkan dari Al-Imam Malik rahimahullah riwayat tidak mengangkat tangan sama sekali. Namun demikian, dikatakan oleh Al- Imam Zainuddin Abul Fadhl Al-‘Iraqi dalam Tharhut Tatsrib (2/446) bahwa riwayat ini syadz (ganjil). Demikian pula Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah menafikannya dan menyatakan bahwa periwayatan tersebut nampaknya tidak benar dari Malik, karena hadits mengangkat tangan adalah hadits yang disepakati keshahihannya dan tidak didapati celaan seorang pun terhadap perawinya. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296)

Namun demikian para ulama berselisih, apakah hukumnya wajib atau mustahab. Sebagian besar ahlul ilmi, yakni jumhur dan termasuk dalam hal ini imam yang empat, mengatakan hukumnya sunnah (Subulus Salam 2/169). Dalilnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengajarkan perkara tersebut sebagaimana dalam hadits al-musi’i shalatahu di atas. Beliau hanya mengajarkan takbir saja. Seandainya mengangkat tangan itu seperti hukum takbir yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentunya beliau akan mengajarkan pada orang tersebut (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/297). Pendapat inilah yang rajih, wallahu a’lam.

Kata Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, mengangkat tangan dalam shalat tidaklah wajib. Tidak ada ulama yang berpendapat demikian kecuali Dawud Azh-Zhahiri. Ia mengatakan wajib mengangkat tangan ketika takbiratul ihram. Namun sebagian pengikut madzhab/murid-muridnya menyelisihi pendapatnya ini. Mereka tidak mewajibkannya. (Ikmalul Mu’lim 2/261-262)

Yang berpendapat wajib di antaranya adalah Al-Humaidi, Dawud Azh-Zhahiri, Ahmad bin Yasar, ‘Ali ibnul Madini, Ishaq, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Auza’i. (Fathul Bari, Ibnu Rajab 4/296-297, Nailul Authar 2/11)
Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram pada awal shalat adalah perkara fardhu. Shalat tidak teranggap (sah) tanpa perkara ini.” (Al-Muhalla 2/264)

Dalil mereka di antaranya adalah hadits: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

 

Keadaan tangan ketika bertakbir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:

– Bersamaan dengan takbir

Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)

Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.

– Sebelum takbir

Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma juga, ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)

– Setelah takbir

Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau….” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)

Abu Qilabah mengabarkan: Ia pernah melihat Malik ibnul Huwairits apabila shalat maka ia bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Bila ia ingin ruku’, ia mengangkat kedua tangannya. Demikian pula ketika mengangkat kepalanya dari ruku’, ia mengangkat kedua tangannya dan ia menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut. (HR. Muslim no. 862 dan Al-Bukhari no. 737)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah menerangkan, “…Masing-masing cara yang telah disebutkan merupakan sunnah yang tsabitah (pasti ketetapannya) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga semestinya seorang muslim mengamalkannya dalam shalatnya. Jangan sampai ia tinggalkan salah satu dari tiga cara ini. Yang sepantasnya, di satu waktu ia melakukan yang ini, di kali lain cara yang itu, dan di waktu selanjutnya ia amalkan cara yang satunya lagi.” (Al-Ashl 1/198-199)

 

Tata cara mengangkat tangan

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya, beliau membentangkan/meluruskan jari-jemarinya. Satu jari dengan jari yang lain tidak terlalu direnggangkan, namun tidak pula dirapatkan/digabungkan satu dengan yang lainnya, dan diarahkan ke kiblat (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61). Ini sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila masuk dalam shalatnya (memulai shalatnya dengan takbiratul ihram), beliau mengangkat tangannya dengan membentangkan jari-jarinya.” (HR. Abu Dawud no. 753 dan selainnya, dishahihkan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/95)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam mengangkat kedua tangan beliau, sampai-sampai terlihat kedua ketiak beliau. Sebagaimana kata Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, “Seandainya aku berada di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam niscaya aku dapat melihat kedua ketiak beliau.” (HR. Abu Dawud no. 746, shahih menurut syarat Muslim, seperti kata guru kami Al-Imam Al-Wadi’i rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih 2/96)

Dalam hadits yang telah dibawakan, disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya hingga setentang (sejajar) dengan kedua pundak beliau, dan di waktu lain beliau mengangkat keduanya hingga sejajar dengan kedua telinga beliau. Karena dua tata cara ini ada dalilnya, maka keduanya merupakan sunnah dan dua-duanya bisa diamalkan. Al-Imam Abul Hasan As-Sindi rahimahullah berkata, “Tidaklah saling bertentangan di antara amalan-amalan/tata cara yang berbeda-beda. Karena boleh jadi semua tata cara tersebut terjadi di waktu-waktu yang berbeda. Sehingga, semuanya merupakan sunnah, terkecuali ada dalil yang menunjukkan mansukh (terhapus)nya sebagian tata cara tersebut…” (Hasyiyah Sunan An-Nasa’i lis Sindi 2/122)

 

Faedah
Fadhilatusy Syaikh Al-Imam Al-Faqih Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ulama –semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka– berbeda pendapat tentang sejumlah ibadah yang disebutkan dengan cara yang beragam. Apakah yang afdhal mencukupkan satu cara saja, ataukah yang afdhal melakukan semuanya pada waktu-waktu yang berbeda, ataukah yang afdhal menjamak (mengumpulkan) apa yang mungkin dijamak?

Yang benar dalam hal ini adalah pendapat kedua yang pertengahan, yaitu ibadah yang datang dengan cara yang beragam sekali waktu diamalkan satu cara dan di kali lain dilakukan cara yang satunya lagi.”

Beliau melanjutkan, “Kalau engkau hanya mengamalkan satu cara dan meninggalkan cara lain, niscaya akan mati cara yang lain. Karena suatu sunnah tidak mungkin tetap hidup terkecuali bila kita sekali waktu mengamalkannya, di kali lain mengamalkan yang lain lagi. Alasan lain, bila seseorang di satu waktu mengamalkan satu cara, di kali lain ia melakukan cara yang lain lagi, niscaya hatinya akan hadir ketika menunaikan amalan yang diajarkan oleh As-Sunnah[1]. Perkara ini nyata, dapat disaksikan. Karena itulah orang yang setiap kali istiftah mengucapkan: “Subhanaka allahumma wa bihamdika…. “, engkau dapati dirinya dari awal ia bertakbir langsung lanjut dengan “Subhanaka allahumma wa bihamdika…” tanpa ia sadari. Karena ia sudah terbiasa dengan bacaan tersebut. Akan tetapi bila suatu waktu ia mengucapkan bacaan ini dan di kali lain ia mengucapkan doa yang lain, niscaya ia akan (lebih) perhatian.

Ada beberapa faedah mengamalkan ibadah yang memiliki tata cara beragam:

  1. Mengikuti sunnah
  2. Menghidupkan sunnah
  3. Menghadirkan hati (dalam melakukan ibadah)

Bisa juga kita dapati faedah yang keempat: Bila salah satu cara dari beberapa cara itu ada yang lebih pendek/ringkas dari yang lain, seperti zikir setelah shalat, maka seseorang terkadang ingin mempercepat selesai dari zikir tersebut, sehingga ia mencukupkan dengan mengucapkan Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu akbar 10 kali. Maka orang ini melakukan amalan yang menepati As-Sunnah dengan waktu yang lebih singkat, karena ingin menunaikan hajatnya. Dan tidak ada keberatan/dosa bagi seseorang melakukan hal itu, apatah lagi bila ada hajatnya yang ingin ditunaikan….” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/19-20)

 

Perhatian
Sebagian orang mengangkat kedua tangannya tanpa melewati dadanya, seakan-akan ia memberi isyarat dengan kedua tangannya. Yang seperti ini lebih mirip dengan perbuatan sia-sia/bermain-main dalam shalat. Ini sama sekali bukan termasuk dari ajaran As-Sunnah. (Fathu Dzil Jalali wal Ikram 3/61)

Faedah
Al-Hafizh rahimahullah mengatakan, “Tidak ada dalil yang menunjukkan perbedaan lelaki dan perempuan dalam hal mengangkat tangan.” (Fathul Bari 2/287)
Adapun Hanafiyah berpandangan, lelaki mengangkat tangannya sampai kedua telinganya sedangkan perempuan sampai dua pundaknya, karena ini lebih menutup (cukup) baginya. Dan dinukilkan dari Ummud Darda’  radhiallahu ‘anha bahwa beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dua bahunya. Demikian pula pendapat Az-Zuhri. Sementara ‘Atha’ bin Abi Rabah dan Hammad bin Abi Sulaiman berpendapat wanita mengangkat kedua tangannya sejajar payudaranya, dan ini yang diamalkan Hafshah bintu Sirin rahimahallah.

‘Atha’ bin Abi Rabah rahimahullah mengatakan bahwa wanita memiliki keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Kalaupun dia tidak melakukan yang demikian, maka tidak mengapa. (Tharhut Tatsrib 2/450)

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah berkata, “Yang benar, tidak ada perbedaan antara shalat laki-laki dan shalat perempuan. Perbedaan yang disebutkan oleh sebagian fuqaha tersebut tidak ada dalilnya. Sementara ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Merupakan pokok yang mencakup keseluruhan shalat. Juga, pensyariatan agama ini mencakup laki-laki maupun perempuan, kecuali bila ada dalil yang memang mengkhususkannya.

Karena itu, sunnah bagi wanita untuk shalat sebagaimana laki-laki shalat, baik dalam ruku’, sujud, bacaan, meletakkan kedua tangan di atas dada, ataupun yang lainnya. Ini lebih utama. Demikian pula dalam hal meletakkan tangan di atas lutut ketika ruku’, meletakkan tangan di atas tanah ketika sujud sejajar pundak atau sejajar telinga, meluruskan punggung ketika ruku’, apa yang dibaca ketika ruku’, sujud, setelah bangkit dari ruku’, setelah bangkit dari sujud, ataupun di antara dua sujud. Semuanya sama dengan laki-laki, sebagai pengamalan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya. (Majmu’ Fatawa 11/80)

(Insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

[1] Ia akan perhatian dengan amalan/gerakan yang sedang dilakukannya. Beda halnya bila ia terbiasa terus-menerus hanya melakukan satu cara, niscaya gerakannya ibarat gerakan yang spontan, tanpa harus dipikir terlebih dahulu. Karena sudah terbiasa dilakukan, sehingga hatinya tidak ia hadirkan. Shalatnya bergulir begitu saja tanpa ia pikirkan apa saja yang telah dilakukan dan diucapkannya dalam shalat tersebut. Wallahu a’lam. -pen.

 

Sifat Shalat Nabi (1)

Alhamdulillah pada edisi ini dan selanjutnya, insya Allah kita akan melihat beberapa penjelasan berkenaan dengan sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian besar pembahasan di sini sengaja penulis nukil dari kitab yang mubarak, Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan “Asal-nya” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Muhammad ibnu Nuh, Nashiruddin Al-Albani rahimahullah.

Karena kitab yang beliau susun tersebut merupakan karya yang paling lengkap memuat sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam babnya, sebagaimana hal ini dikatakan oleh guru besar kami, Syaikh yang mulia, Muqbil ibnu Hadi Al-Wadi’i rahimahullah. Disamping itu, penulis juga berupaya menukil dan menambahkan dari beberapa referensi lainnya sebagai tambahan faedah berkenaan dengan pembahasan ini. ‘Tak ada gading yang tak retak’, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ilash shawab.

  1. Niat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Hanyalah amal itu dengan niat dan setiap orang hanyalah beroleh apa yang ia niatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 54 dan Muslim no. 4904)

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Niat adalah maksud. Maka orang yang hendak shalat menghadirkan dalam benaknya shalat yang hendak dikerjakan dan sifat shalat yang wajib ditunaikannya, seperti shalat zhuhur sebagai shalat fardhu dan selainnya, kemudian ia menggandengkan maksud tersebut dengan awal takbir.” (Raudhatuth Thalibin, 1/243-244)

Sudah berulang kali disebutkan bahwa niat tidak boleh dilafadzkan. Sehingga seseorang tidak boleh menyatakan sebelum shalatnya, “Nawaitu an ushalliya lillahi ta’ala kadza raka’atin mustaqbilal qiblah…” (Aku berniat mengerjakan shalat karena Allah subhanahu wa ta’ala sebanyak sekian rakaat dalam keadaan menghadap kiblat…).

Melafadzkan niat tidak ada asalnya dalam As-Sunnah. Tidak ada seorang pun sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membolehkan melafadzkan niat. Tidak ada pula seorang tabi’in pun yang menganggapnya baik. Demikian pula para imam yang empat. Sementara kita maklumi bahwa yang namanya kebaikan adalah mengikuti bimbingan As-Salafush Shalih.

Ada kesalahpahaman dari sebagian pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah terhadap ucapan beliau, dalam masalah haji, “Apabila seseorang berihram dan telah berniat dengan hatinya, maka ia tidak diharuskan menyebut niat itu dengan lisannya. Haji itu tidak seperti shalat, di mana tidak shahih penunaiannya terkecuali dengan nathq (pelafadzan dengan lisan).”

Maka hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ar-Rafi’i Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-’Aziz Syarhul Wajiz yang dikenal dengan nama Syarhul Kabir (1/470): “Jumhur ulama kalangan Syafi’iyyah berkata: ‘Al-Imam Asy-Syafi’i –semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya– tidaklah memaksudkan dengan ucapannya tersebut adanya pelafadzan niat dengan lisan (tatkala hendak mengerjakan shalat). Yang beliau maksudkan adalah takbir (yaitu takbiratul ihram,-pen.), karena dengan takbir tersebut sahlah shalat yang dikerjakan. Sementara dalam haji, seseorang menjadi muhrim walaupun tanpa ada pelafadzan.”

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Bila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau langsung mengucapkan takbiratul ihram dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya, juga tidak melafadzkan niat sama sekali. Beliau juga tidak mengatakan, ‘Aku tunaikan untuk Allah subhanahu wa ta’ala shalat ini dengan menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum’. Demikian pula ucapan ada’an atau qadha’an ataupun fardhal waqti.

Melafadzkan niat ini termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama (bid’ah). Tidak ada seorang pun yang menukilkan hal tersebut dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dengan sanad yang shahih, dhaif, musnad (bersambung sanadnya), ataupun mursal (tidak bersambung). Bahkan tidak ada nukilan dari para sahabat, demikian pula tabi’in maupun imam yang empat, tak seorang pun dari mereka yang menganggap baik hal ini.

Hanya saja sebagian mutaakhirin (orang-orang belakangan) keliru memahami ucapan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah–semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya–tentang shalat. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Shalat itu tidak seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dengan zikir.”

Mereka menyangka bahwa zikir yang dimaksud adalah ucapan niat seseorang yang hendak shalat. Padahal yang dimaksudkan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dengan zikir ini tidak lain adalah takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyukai perkara yang tidak dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu shalat pun, begitu pula para khalifah beliau dan para sahabat yang lain? Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yang bisa menunjukkan kepada kita satu huruf saja dari mereka tentang perkara ini, maka kita akan menerimanya dan menyambutnya dengan penuh ketundukan dan penerimaan. Karena, tidak ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk mereka dan tidak ada sunnah kecuali yang diambil dari sang pembawa syariat shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Zaadul Ma’ad, 1/201)

  1. Takbiratul ihram

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan mengucapkan: Allahu Akbar, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha berikut ini:

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi Rabbil Alamin. Apabila ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi di antara keduanya. Apabila bangkit dari ruku’, beliau tidak sujud sampai beliau berdiri lurus. Dan ketika mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak sujud kembali hingga beliau tegak duduknya. Pada setiap dua rakaat beliau membaca tahiyat. Beliau membentangkan kakinya yang kiri dan menegakkan (telapak) kakinya yang kanan. Beliau melarang duduk seperti duduknya setan, dan melarang seseorang membentangkan kedua lengan bawahnya seperti binatang buas membentangkannya (yakni meletakkan lengan di lantai ketika sujud). Dan beliau menutup shalat dengan salam.” (HR. Muslim no. 1110)

Hadits ini memiliki jalan lain, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Yusuf bin Ya’qub, ia berkata: Abu Ar-Rabi’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Hammad telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Budail telah menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibnu Syaqiq, dari Aisyah radhiallahu ‘anha:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat beliau dengan takbir dan membaca Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Hadits lain yang menunjukkan amalan ini adalah hadits Abu Humaid As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

“Bila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit untuk mengerjakan shalat, beliau menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya dan berkata: ‘Allahu Akbar’.” (HR. Ibnu Majah no. 803 dan dishahihkan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah)

Takbiratul ihram ini merupakan salah satu rukun shalat menurut pendapat jumhur[1]. Adapun Hanafiyyah berpandangan takbir ini merupakan syarat, demikian pula satu sisi dari pendapat Syafi’iyyah. Sementara Az-Zuhri bersendirian dalam memandang sunnahnya, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Imam Ibnul Mundzir. (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama 2/7, Fathul Bari 2/282)

Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, sebagaimana telah disebutkan sebagian nashnya. Dengan demikian, tidak sah shalat bila takbir ini sampai terluputkan/ditinggalkan. Karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada seseorang yang salah shalatnya untuk melakukan takbir ini.

Hadits yang kami maksudkan adalah hadits yang masyhur dengan sebutan hadits al-musi’ shalatuhu, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Khallad ibnu Rafi’radhiallahu ‘anhu, masuk masjid untuk mengerjakan shalat, sementara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di salah satu sudut masjid. Seselesainya dari shalat, Khallad ini mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya mengucapkan salam. Beliau pun menjawab salamnya lalu bersabda kepadanya:

“Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Orang itu pun kembali lalu mengerjakan shalat sebagaimana shalatnya yang sebelumnya. Setelahnya ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengucapkan salam, maka beliau menjawab, “Wa ‘alaikas salam.” Kemudian beliau melanjutkan, “Kembalilah lalu shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Demikian Rasulullah memerintahkan sampai orang itu mengulangi shalatnya sebanyak tiga kali. Pada akhirnya orang itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan al-haq, aku tidak bisa mengerjakan shalat lebih bagus daripada apa yang telah kukerjakan. Kalau begitu ajari aku (bagaimana shalat yang benar).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memberi bimbingan, “Bila engkau hendak berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah. Setelahnya, bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’. Lalu angkat kepalamu hingga engkau berdiri lurus. Setelahnya sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan sujud. Setelah itu angkatlah kepalamu hingga engkau lurus dan thuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian lakukanlah apa yang telah disebutkan tadi dalam shalatmu seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 757 dan Muslim no. 883)

Perhatian

Semua amalan shalat yang disebutkan dalam hadits al-musi’ shalatuhu (hadits di atas) ini merupakan rukun, tidak sah shalat tanpanya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19)

Faedah

Bagi makmum yang shalat di belakang imam dan orang yang shalat sendiri (munfarid) hendaklah memerhatikan bahwa takbir ini diucapkan dengan lisan, dengan menggerakkannya, sehingga tidak cukup bila hanya diucapkan dalam hati. Namun, bilamana seseorang itu bisu, tidak bisa berbicara, maka ia meniatkan takbir dalam hatinya tanpa perlu menggerakkan bibir dan lisannya, karena hal itu perbuatan sia-sia dan melakukan gerakan tanpa hajat. Toh dengan kebisuannya, suaranya tidak akan keluar.

Ketika bertakbir ini tidak diharuskan seseorang mengeluarkan suara yang dapat didengar oleh kedua telinganya[2], walaupun dalam masalah ini ada khilaf. Namun yang rajih adalah sebagaimana yang kami sebutkan. Karena mengharuskan suara takbir itu terdengar oleh telinga pengucapnya merupakan amrun zaid (perkara yang lebih) dari ucapan dan lafadz. Sementara, apa yang lebih dari keterangan As-Sunnah harus ada dalilnya. (Asy-Syarhul Mumti’, 3/19-21)

Dengan diucapkannya takbiratul ihram berarti haram seseorang melakukan pekerjaan selain amalan shalat, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Kunci shalat adalah bersuci/wudhu, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam.” (HR. Abu Dawud no. 61, 618, At-Tirmidzi no. 3, 238 dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Dawud: “Hasan shahih.”)

Dalam hadits ini ada dalil bahwa shalat hanya bisa dibuka dengan takbir Allahu akbar, tidak sah dengan zikir-zikir yang lain. Hal ini merupakan pendapat jumhur. Adapun pendapat Abu Hanifah “Shalat bisa dibuka dengan setiap lafadz yang menunjukkan pengagungan (kepada Allah subhanahu wa ta’ala),” adalah pendapat yang marjuh (lemah). (Al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama’ 2/7, Nailul Authar 2/6)

Mengeraskan suara ketika bertakbir

Ketika bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan suaranya hingga dapat didengar oleh orang di belakang beliau, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (1/223), Ahmad (3/18), dan lainnya, dari Fulaih ibnu Sulaiman, dari Sa’id ibnul Harits, ia berkata, “Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang biasa mengimami orang-orang jatuh sakit atau sedang pergi, maka Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu pun menggantikan posisi imam. Beliau mengeraskan suara ketika bertakbiratul ihram, demikian pula ketika hendak ruku’, ketika mengatakan sami’allahu liman hamidah, ketika mengangkat kepalanya dari sujud, ketika hendak sujud, ketika mengangkat kepala dan ketika bangkit dari dua rakaat, sampai akhirnya beliau menyelesaikan shalat. Ternyata ada yang menyampaikan kepada beliau bahwa orang-orang berselisih dalam perkara shalat beliau tadi. Abu Sa’id pun naik mimbar dan berkata, “Wahai manusia! Demi Allah, aku tidak peduli apakah shalat kalian berbeda ataupun tidak dengan shalatku. Yang penting demikianlah aku dulunya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat.” (Al-Hakim menshahihkannya menurut syarat Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi rahimahullah)

Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan disenangi bagi imam untuk mengeraskan suaranya saat bertakbir agar makmum tahu perpindahan gerakan imam. Bila si imam suaranya lemah (tidak bisa keras) karena sakit atau alasan lainnya, maka sunnah bagi muadzdzin atau selainnya dari kalangan makmum untuk menjahrkan/mengeraskannya dalam kadar yang dapat didengar oleh manusia. Sebagaimana hal ini pernah dilakukan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami manusia dalam keadaan suara beliau lemah karena sakit[3]

Adapun menyampaikan takbir imam yang dilakukan makmum tanpa ada kebutuhan, sebagaimana biasa dilakukan oleh kebanyakan orang di zaman kita ini dalam bulan Ramadhan, sampaipun di masjid yang kecil, tidaklah disyariatkan menurut kesepakatan ulama, sebagaimana dihikayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Al-Fatawa (1/69-70 dan 107). Dulunya, Bilal radhiallahu ‘anhu ataupun selainnya tidak pernah meneruskan takbir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para makmum di belakang beliau. Begitu pula di masa Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, tidak ada yang menyampaikan takbir mereka di belakang mereka. Karena itulah mayoritas ulama terang-terangan menyatakannya makruh. Bahkan ada yang mengatakan batal shalat pelakunya tersebut. Ini ada dalam madzhab Malik, Ahmad, dan selain keduanya…

Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Tidaklah diragukan bahwa tabligh (menyampaikan takbir imam kepada makmum) tanpa ada kebutuhan merupakan bid’ah. Siapa yang meyakininya sebagai amalan qurbah secara mutlak maka tidak diragukan dia adalah imam yang jahil, atau memang ia seorang yang menentang dan bersengaja dengan penyelisihannya. Karena permasalahan ini telah dinyatakan oleh para ulama dari berbagai madzhab dalam kitab-kitab mereka, sampaipun dalam kitab-kitab yang ringkas. Mereka semua menyatakan, ‘Tidak boleh ada satu pun takbir yang dikeraskan di dalam shalat, terkecuali bila ia seorang imam. Siapa yang terus-menerus meyakini perbuatan seperti ini merupakan qurbah maka ia diberi hukuman karena menyelisihi ijma’.’ Wallahu a’lam.” (Al-Ashl, 1/187-188)

Takbir dalam setiap gerakan

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu di atas juga menunjukkan disyariatkannya takbir dalam setiap gerakan turun dan bangkit dalam shalat. Ini merupakan pendapat keumuman fuqaha dan para ulama. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya (1/160) menyatakan bahwa bertakbir ketika ruku’ dan sujud diamalkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, ‘Ali, dan selain mereka g, serta orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in rahimahumullah. Dan inilah yang dipegangi oleh keumuman fuqaha dan ulama.

Pendapat ini dikuatkan pula dengan hadits yang lainnya, di antaranya hadits Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu yang menyebutkan bahwa ia pernah shalat bersama Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di Bashrah, ia berkata, “Orang ini mengingatkan kami dengan shalat yang dulunya kami kerjakan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imran menyebutkan bahwa dalam shalatnya itu, Ali bertakbir setiap kalian mengangkat tubuhnya (naik) dan setiap kali meletakkannya (turun). (HR. Al-Bukhari no. 784 dan selainnya)

 Faedah

Ulama berbeda pendapat tentang hukum takbir selain takbiratul ihram. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Jumhur berpendapat sunnah. Sedang Al-Imam Ahmad rahimahullah dan sebagian ahlu zhahir menyatakan wajibnya seluruh takbir.” (Fathul Bari, 2/349)

Hujjah mereka yang menghukumi wajib adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari no. 628, 7246 dan Muslim no. 1533)

Samahatusy Syaikh Al-Imam Abdul Aziz ibnu Abdillah ibnu Baz rahimahullah dalam ta’liq beliau terhadap kitab Fathul Bari berkata: “Inilah pendapat yang lebih zhahir dari sisi dalil. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga amalan ini (terus melakukannya) serta memerintahkan umatnya untuk mengerjakannya, sementara asal perintah adalah wajib. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ‘Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.’

Adapun riwayat dari Utsman dan Mu’awiyah radhiallahu ‘anhuma, yang menyebutkan bahwa keduanya tidak menyempurnakan takbir maka dibawa kepada pemahaman bahwa keduanya tidak mengeraskan takbir, bukan keduanya meninggalkan takbir. Riwayat tersebut harus dipahami seperti ini, dalam rangka berbaik sangka kepada keduanya. Kalaupun mau diterima keduanya meninggalkan takbir, maka hujjah lebih dikedepankan daripada pendapat keduanya. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati keduanya dan seluruh sahabat. Wallahu a’lam.”

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

 

[1] Rukun adalah suatu amalan yang bila ditinggalkan sengaja ataupun tidak maka ibadah itu tidak sah. Untuk ibadah shalat, amalan itu tidak bisa diganti dengan sekadar sujud sahwi tapi harus ditunaikan sesuai aturan yang ada.

[2] Suara tersebut tidak terdengar bisa jadi karena ada suara-suara bising di sekitar tempat tersebut, atau karena lemahnya pendengaran, atau alasan lainnya.

[3] Dalam hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, ia menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit saat kami shalat di belakang beliau, dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pun memperdengarkan kepada manusia takbir beliau. Beliau lalu menoleh kepada kami, ternyata beliau melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada kami agar kami duduk. Kami pun duduk dan kami shalat diimami oleh beliau dalam keadaan duduk. Tatkala beliau mengucapkan salam pertanda selesainya shalat, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Kalian tadi hampir-hampir berbuat seperti perbuatannya orang-orang Persia dan Romawi. Mereka berdiri di hadapan raja-raja mereka sementara raja-raja ini duduk. Maka janganlah kalian lakukan. Contohlah imam kalian, jika ia shalat dalam keadaan berdiri maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Namun bila ia shalat dalam keadaan duduk maka shalatlah dengan duduk.” (HR. Muslim no. 927)

 

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Hendak Shalat

Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah  ‘azza wa jalla, pembahasan syarat-syarat shalat telah dibawakan dalam edisi terdahulu, berikut ini ada beberapa tambahan yang semoga bisa memberi faedah ilmu bagi kita semua. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

Shalat dengan pakaian yang diharamkan

Sebuah pakaian bisa diharamkan bagi seseorang, mungkin dari sisi diperolehnya pakaian tersebut dengan cara yang haram, atau zat pakaian itu sendiri yang haram atau sifatnya yang haram.

– Diperoleh dengan cara yang haram, mungkin dengan mencuri ataupun merampasnya dari orang lain atau yang semisalnya.

– Zat pakaian itu haram, seperti pakaian sutera dan emas1 yang diharamkan bagi laki-laki2 untuk memakainya atau pakaian yang bergambar makhluk hidup (manusia dan hewan).

– Sifat pakaian itu haram, seperti seorang laki-laki memakai pakaian wanita atau sebaliknya3.

Shalat mengenakan pakaian yang diharamkan tersebut hukumnya haram. Lantas, apakah shalat yang dikerjakan sah ataukah batal? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi. Namun pendapat yang menenangkan hati kami dan ini merupakan pendapat mayoritas ahlul ilmi adalah shalatnya tetap sah, tidak batal. Pelakunya dianggap telah berbuat maksiat karena melakukan perkara yang diharamkan, yakni memakai pakaian yang diharamkan. Ketika syariat melarang mengenakan sebuah pakaian secara mutlak pada saat menunaikan shalat ataupun di luar shalat, maka ini tidaklah mengandung konsekuensi batalnya shalat yang dikerjakan dengan memakai pakaian tersebut. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/448)

 

Shalat dengan memakai pakaian bercorak/bergambar4

Ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

أًنَّ النَّبِيَّ صَلَّى فِي خَمِيْصَةٍ لَـهَا أَعْلاَمٌ، فَنَظَرَ إِلَى أَعْلاَمِهَا نَظْرَةً، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اذْهَبُوْا بِخَمِيْصَتِيْ هَذِهِ إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَائْتُوْنِي أَنْبِجَانِيَّةَ أَبِي جَهْمٍ، فَإِنَّهَا أَلْهَتْنِي آنِفًا عَنْ صَلاَتِي. وَقَالَ هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ عَائِشَةَ: قَالَ النَّيِيُّ كُنْتُ أَنْظُرُ إِلَى عَلَمِهَا وَأَنَا فِي الصَّلاَةِ، فَأَخَافُ أَنْ تَفْتِنَنِي

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat mengenakan khamishah5yang memiliki corak/gambar-gambar. Beliau memandang sekali ke arah gambar-gambarnya. Maka selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Bawalah khamishahku ini kepada Abu Jahm6 dan datangkan untukku anbijaniyyah7nya Abu Jahm8, karena khamishah ini hampir menyibukkanku dari shalatku tadi9.” Hisyam bin Urwah berkata dari bapaknya dari Aisyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ketika sedang shalat tadi aku sempat melihat ke gambarnya, maka aku khawatir gambar ini akan melalaikan/ menggodaku10.” (HR. Al-Bukhari no. 373 dan Muslim no. 1239)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah dalam syarahnya terhadap Shahih Muslim memberi judul bagi hadits di atas dengan “Karahiyatush Shalah fi Tsaubin Lahu A’lam” artinya makruhnya shalat dengan mengenakan pakaian bergambar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa gambar-gambar yang ada pada khamishah tersebut sempat menyibukkan beliau. Maksudnya, hati beliau tersibukkan sesaat dari perhatian secara sempurna terhadap shalat yang sedang dikerjakan, dari mentadabburi dzikir-dzikir dan bacaannya karena memandang gambar yang ada pada khamishah yang sedang dikenakannya. Karena khawatir hati beliau akan tersibukkan dengannya, beliau pun enggan mengenakan khamishah itu dan memerintahkan agar mengembalikannya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu. Dari sini kita pahami, tidak disenanginya mengenakan pakaian yang bercorak/bergambar ketika shalat karena dikhawatirkan akan mengganggu ibadah shalat tersebut, walaupun shalat yang dikerjakan tetap sah. Diambil istimbath hukum dari hadits ini bahwa dimakruhkan segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat seperti hiasan, warna-warni, dan ukiran pada dinding masjid, atau hal-hal lain yang dapat menyibukkan serta memalingkan hati orang yang sedang shalat. (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz Dzikr ‘Aqibash Shalah, Al-Minhaj 5/46, Fathul Bari 1/627, Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/290)

Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan bersegeranya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbaiki shalat (melakukan hal-hal yang memberi kemashalatan bagi ibadah shalat) serta menyingkirkan apa yang mungkin menodai pelaksanaannya. Di mana beliau melepas khamishah yang dikenakannya, menyuruh sahabatnya untuk mengembalikannya dan meminta penggantinya berupa pakaian lain yang tidak menyibukkan.” (Ihkamul Ahkam, kitab Ash-Shalah, bab Adz-Dzikr ‘Aqibash Shalah)

Zainuddin Abul Fadhl Al-’Iraqi rahimahullah menyatakan, “Hadits ini menunjukkan keharusan menyingkirkan apa saja yang dapat menyibukkan orang yang shalat dari ibadah shalatnya dan melalaikannya. Hadits ini juga mengandung hasungan untuk menghadap sepenuhnya pada amalan shalat dan khusyuk di dalamnya. Sebagaimana pula hadits ini menunjukkan bahwa pikiran sedikit/sejenak tersibukkan dengan perkara selain shalat tidaklah mencacati keabsahan shalat.” (Tharhu At-Tatsrib, 2/585)

Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa tidak disenangi untuk shalat di tempat yang padanya ada hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyukan shalat. Sehingga, sekiranya hal yang mengganggu itu dapat disingkirkan maka hendaknya disingkirkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut ini.

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aisyah memiliki qiram11 yang dipakainya untuk menutupi sisi rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمِيْطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا، فَإِنَّهُ لاَ تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ فِي صَلاَتِي

“Singkirkan dari kami qirammu ini, karena gambar-gambarnya terus menerus terbayang-bayang dalam shalatku.” (HR. Al-Bukhari no. 374)

 

Shalat membawa gambar

Bila seseorang shalat sementara di sakunya ada dompet yang di dalamnya terdapat uang kertas bergambar makhluk hidup, KTP, SIM yang tentunya ada pas fotonya, apakah shalatnya sah?

Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjawab, “Shalatnya sah. Adapun gambar-gambar yang dibawanya dalam shalat tidaklah mencacati shalatnya karena ia dalam keadaan terpaksa atau ada kebutuhan untuk selalu membawanya. Adapun gambar/foto kenang-kenangan, untuk mengingat seseorang dan semisalnya, tidak boleh dibawa. Bahkan tidak boleh dibiarkan tetap ada di dalam rumah, namun wajib dimusnahkan. Dengan dalil sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu:

لاَ تَدَعْ صُوْرَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا وَلاَ قَبْرًا مُشْرَفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ

“Jangan engkau membiarkan satu gambar (makhluk hidup) kecuali engkau hapus dan jangan pula membiarkan ada satu kuburan yang ditinggikan kecuali engkau ratakan.” (HR. Al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Kemudian Asy-Syaikh rahimahullah menyebutkan beberapa hadits yang lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/417)

 

Shalat di tempat yang ada gambar

Shalat di tempat yang di situ ada gambar-gambar bernyawa seperti gambar-gambar pada surat kabar, majalah dan buku-buku, atau gambar yang digantung di dinding hukumnya sah apabila si muslim yang shalat tersebut menunaikan shalatnya dengan tata cara yang diajarkan dalam syariat. Akan tetapi bila ia mencari tempat lain yang tidak ada gambarnya maka itu lebih utama dan lebih afdhal. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, 10/418)

 

Shalat beralaskan tikar

Dibolehkan shalat dengan memakai alas, baik berupa tikar, sajadah, kain atau yang lainnya selama alas tersebut tidak akan mengganggu orang yang shalat. Misalnya sajadahnya bergambar dan berwarna-warni, yang tentunya dapat menarik perhatian orang yang shalat. Di saat shalat, mungkin ia akan menoleh ke gambar-gambarnya, lalu mengamatinya, terus memerhatikannya hingga ia lupa dari shalatnya, apa yang sedang dibacanya dan berapa rakaat yang telah dikerjakannya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya memakai sajadah yang padanya ada gambar masjid, karena bisa jadi akan mengganggu orang yang shalat dan membuatnya menoleh ke gambar tersebut sehingga bisa mencacati shalatnya. (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/362)

Dalil tentang bolehnya shalat dengan memakai alas adalah sebagai berikut:

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa neneknya yang bernama Mulaikah mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantap hidangan yang dibuatnya. Beliau pun datang memenuhinya serta memakan hidangan yang disajikan. Seselesainya, beliau bersabda, “Bangkitlah, aku akan shalat mengimami kalian.” Anas berkata, “Aku pun bangkit untuk mengambil tikar kami yang telah menghitam karena lamanya dipakai. Aku percikkan air untuk membersihkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri. Aku dan seorang anak yatim membuat shaf di belakang beliau, sementara nenekku berdiri di belakang kami. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat mengimami kami, kemudian beliau pergi.” (HR. Al-Bukhari no. 380 dan Muslim no. 1497)

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu menyatakan:

أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam، فَوَجَدَهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيْرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

“Ia pernah masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata ia dapatkan beliau sedang shalat di atas tikar, beliau sujud di atas tikar tersebut.” (HR. Muslim no. 1503)

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

كَانَ يُصَلِّي عَلَى الْـخُمْرَةِ

“Adalah Rasulullah shalat beralaskan khumrah12.” (HR. Al-Bukhari no. 379 dan diriwayatkan pula oleh Muslim no. 1502 dari hadits Maimunah radhiallahu ‘anha)

Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan fuqaha di berbagai negeri tentang bolehnya shalat di atas/beralas khumrah. Kecuali perbuatan yang diriwayatkan dari ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah bahwa ia pernah meminta tanah lalu diletakkannya di atas khumrahnya untuk kemudian sujud di atas tanah tersebut. Mungkin apa yang dilakukan oleh ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullah ini karena berlebih-lebihannya beliau dalam sikap tawadhu’ dan khusyuk. Dengan begitu, dalam perbuatan beliau ini tidak ada penyelisihan dengan pendapat jamaah (yang menyatakan bolehnya sujud di atas khumrah, pent.) Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari ‘Urwah ibnuz Zubair bahwa ia membenci (memakruhkan) shalat di atas sesuatu selain bumi/tanah (membenci shalat dengan memakai alas, pent.) Demikian pula riwayat dari selain ‘Urwah. Namun dimungkinkan makruhnya di sini adalah karahah tanzih (bukan haram).” (Fathul Bari, 1/633)

Namun perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini cukuplah menunjukkan kebolehan shalat di atas alas. Wallahu a’lam.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menyatakan, “Orang-orang dalam mazhab kami berkata, ‘Tidak dibenci shalat di atas wol, bulu, hamparan, permadani, dan benda-benda seluruhnya. Inilah pendapat dalam mazhab kami’.” (Al-Majmu’, 3/169)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah berkata, “Tidak apa-apa shalat di atas hamparan/tikar dan permadani dari wol, kulit, dan bulu. Sebagaimana dibolehkan shalat di atas kain dari katun, linen, dan seluruh bahan yang suci.” (Al-Mughni, kitab Ash-Shalah, fashl Tashihhu Ash-Shalah ‘alal Hashir wal Bisath minash Shuf)

 

Shalat dengan pakaian yang dikenakan saat buang hajat/di WC

Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini, karena memungkinkan ketika keluar dari WC pakaian mereka terkena najis dan tidak diragukan WC tidak lepas dari najis. Bila demikian, apakah sah shalat mereka dengan mengenakan pakaian tersebut? Beliau rahimahullah menjawab, “Sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku hendak mengatakan bahwa syariat Islam ini, alhamdulillah, telah sempurna dari seluruh sisi. Cocok dengan fitrah manusia yang Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan makhluk di atas fitrah tersebut. Di mana pula, agama ini datang dengan kemudahan dan keringanan, bahkan datang untuk menjauhkan manusia dari kebingungan dalam was-was dan bayangan-bayangan yang tidak ada asalnya. Berdasarkan hal ini, seseorang dengan pakaian yang dikenakannya berada di atas kesucian, karena hukum asalnya demikian, selama ia tidak yakin tubuh dan pakaiannya terkena najis. Inilah hukum asal yang dipersaksikan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ada seseorang mengadu kepada beliau bahwa ia merasa berhadats ketika sedang mengerjakan shalatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا

“Jangan ia berpaling (membatalkan shalatnya) sampai ia mendengar suara (angin) atau ia mendapati baunya.”13

Maka hukum asalnya adalah tetapnya sesuatu di atas keadaannya semula (dalam hal ini: suci). Dengan begitu, basahnya pakaian yang dikenakan mereka saat masuk WC, bisakah dipastikan bahwa cairan tersebut adalah cairan yang najis dari air kencing, tahi, atau semisalnya? Bila kita tidak bisa memastikan (tidak yakin) dengan perkara ini, maka dikembalikan kepada hukum asal, yaitu suci. Memang benar, menurut persangkaan yang kuat pakaian itu bisa jadi terkena sedikit najis. Akan tetapi selama kita tidak yakin (sekedar menduga-duga) maka tetap hukum asal sesuatu itu suci, sehingga tidak wajib bagi mereka membasuh pakaian mereka. Dan mereka boleh shalat mengenakan pakaian tersebut.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 12/369)

 

Shalat memakai sandal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat tanpa alas kaki dan terkadang pula dengan memakai sandal. Beliau membolehkan hal itu kepada umat beliau dengan sabdanya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ وَلاَ يُؤْذِي بِهِمَا غَيْرَهُ

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan di antara kedua kakinya, dan jangan ia mengganggu orang lain dengan kedua sandalnya.” (HR. Al-Hakim 1/259, ia berkata, “Shahih di atas syarat Muslim.” Disepakati oleh Adz-Dzahabi. Kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/108, “Hadits ini memang sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.”)

Didapatkan pula adanya penekanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar mengenakan sandal ketika shalat sebagaimana dalam hadits:

خَالِفُوا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ لاَ يُصَلُّوْنَ فِي نِعَالـِهِمْ وَلاَ خِفَافِهِمْ

“Selisihilah Yahudi, karena mereka tidak shalat dengan mengenakan sandal dan tidak pula khuf mereka.” (HR. Abu Dawud no. 652, dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Ash-Shahihul Musnad Mimma Laisa Fish Shahihain, hadits no. 471, 1/399)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata, “Hadits ini memberi faedah disenanginya shalat dengan memakai sandal14 karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya dengan alasan untuk menyelisihi Yahudi. Minimal hukumnya adalah mustahab, walaupun secara dzahir hukumnya wajib15, namun di sini tidaklah wajib hukumnya, dengan dalil sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah disebutkan sebelumnya:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَلْبَسْ نَعْلَيْهِ أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا…

“Apabila salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya ia memakai kedua sandalnya atau ia lepaskan keduanya…”

Dari ucapan beliau ini menunjukkan seseorang yang shalat diberi pilihan (antara memakai sandal atau melepaskannya) akan tetapi hal ini tidaklah meniadakan hukum mustahabnya….” (Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 1/109,110)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari berkata, “Mustahabnya dari sisi tujuan menyelisihi Yahudi.”

Sunnah ini tentunya akan dianggap asing oleh masyarakat kita karena ketidaktahuan mereka terhadap hukum-hukum yang rinci dalam agama ini. Juga karena pandangan mereka, apabila seseorang masuk masjid dalam keadaan memakai sandal berarti dia menghinakan masjid dan mengotorinya. Sehingga siapa saja yang hendak mengamalkan sunnah harus pandai-pandai melihat keadaan dan super hati-hati. Jangan sampai karena ingin menghidupkan sunnah namun hasilnya malahan mendatangkan mudarat dan membuat fitnah di tengah masyarakatnya yang awam tersebut, yang menyebabkan sunnah ini justru dibenci dan agama ini semakin dijauhi. Wallahul musta’an.

Oleh karena itu, ajarilah dulu manusia agama yang mudah ini dengan penuh hikmah, sehingga mereka mengerti dan paham, dan pada akhirnya mereka cinta terhadap agama ini dan mengamalkan semua yang datang dari agama yang mulia ini, tanpa ada paksaan dari siapa pun. Wallahul muwaffiq ila ash-shawab.

(bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari

—————————————————————————————————————————————

1 Baik emas itu berupa perhiasan seperti cincin, kalung, dan sebagainya, ataupun berupa benang emas yang dengannya ditenun sebuah kain.

2 Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunan disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

حُرِّمَ لِبَاسُ الْحَرِيْرِ وَالذَّهَبِ عَلَى ذُكُوْرِ أُمَّتِي وَأُحِلَّ لِإِنَاثِهِمْ

“Diharamkan memakai sutera dan emas bagi kalangan laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi kalangan wanitanya.”

Hadits di atas menurut lafadz At-Tirmidzi (no. 1720), dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberiku pakaian dari sutera bergaris maka akupun keluar mengenakannya. Ketika beliau melihat apa yang aku lakukan, tampaklah kemarahan di wajah beliau, maka aku pun membagi-bagikan pakaian sutera tersebut di antara wanita-wanitaku.” (HR. Al-Bukhari no. 5840 dan Muslim no. 5390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan, “Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu paham bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang ia mengenakan pakaian dari sutera. Maka ia pun memotong sutera tersebut hingga dapat digunakan sebagai kerudung lalu membagi-bagikannya kepada Fathimah bintu Rasulullah istrinya, Fathimah bintu Asad bin Hasyim ibunya, dan Fathimah bintu Hamzah bin Abdil Muththalib, sepupunya.” (Fathul Bari, 10/310)

Sutera dan emas merupakan pakaian/perhiasan yang diperuntukkan bagi wanita di dunia sehingga bila seorang lelaki memakainya berarti ia telah menyerupai wanita.

Keharaman sutera bagi laki-laki ini dikecualikan bila ada uzur seperti yang diberitakan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

رَخَّصَ النَّبِيُّ shallallahu ‘alaihi wa sallam لِلزُّبَيْرِ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ فِي لُبْسِ الْحَرِيْرِ لِحِكَّةٍ بِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada Zubair ibnul Awwam dan Abdurrahman bin Auf –semoga Allah meridhai keduanya– untuk memakai sutera karena penyakit gatal-gatal yang diderita oleh keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5839 dan Muslim no. 5398)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah menyatakan sebagaimana dinukilkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (10/308), “Hadits ini menunjukkan bahwa larangan memakai sutera (bagi laki-laki) dikecualikan bagi orang yang menderita penyakit yang penyakitnya itu dapat diringankan dengan memakai sutera.”

3 Dalam hal ini terdapat hadits dari Ibnu ‘Abbas c, beliau berkata:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam الْـمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْـمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah memaknakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dengan, “Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus bagi wanita dan tidak boleh pula sebaliknya (wanita menyerupai laki-laki).” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menambahkan: “Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun dalam penampilan/bentuk pakaian, maka ini berbeda-beda dengan adanya perbedaan adat kebiasaan pada setiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tidak membedakan model pakaian laki-laki dengan model pakaian wanita (sama saja), akan tetapi untuk wanita ditambah dengan hijab.” (Fathul Bari, 10/345)

Dalam Sunan Abi Dawud disebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ الله shallallahu ‘alaihi wa sallam الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْـمَرْأَةِ وَالْـمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud no. 3575. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Hadits ini hasan menurut syarat Muslim.”)

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitabnya Al-Jami’ush Shahih (3/92) menempatkan hadits ini dalam kitab An-Nikah wath Thalaq, bab Tahrimu Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya wanita menyerupai laki-laki), dan beliau membawakannya kembali dalam kitab Al-Libas, bab Tahrimu Tasyabbuhir Rijal bin Nisa` wa Tasyabbuhin Nisa` bir Rijal (Haramnya laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki) (4/314).

4 Tentunya bukan gambar manusia dan hewan (makhluk hidup). Karena gambar manusia dan hewan telah jelas keharamannya dan tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenakannya.

5 Khamishah adalah pakaian tipis bersegi empat terbuat dari wol. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

Dalam At-Tamhid (3/306) disebutkan, khamishah adalah pakaian tipis terkadang bergambar dan terkadang tanpa gambar, bisa jadi warnanya putih bergambar, atau kuning, merah, dan hitam. Khamishah ini termasuk pakaian para pembesar/bangsawan Arab.

6 Namanya Ubaidullah. Adapula yang mengatakan namanya ‘Amir bin Hudzaifah Al-Qurasyi Al-‘Adawi, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masyhur. (Fathul Bari 1/626, Al Minhaj 5/69)

7 Anbajaniyyah adalah pakaian yang tebal tidak bergambar.

8 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sahabatnya untuk mengirim khamishahnya kepada Abu Jahm radhiallahu ‘anhu, karena Abu Jahm yang menghadiahkannya kepada beliau, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Malik rahimahullah dalam kitabnya Al-Muwaththa` (bab 58, hadits no. 216) dari jalan lain dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata:

أَهْدَى أَبُو جَهْمٍ بْنُ حُذَيْفَةَ لِرَسُوْلِ اللهِ shallallahu ‘alaihi wa sallam خَمِيْصَةً شَامِيَّةً لَهَا عَلَمٌ فَشَهِدَ فِيْهَا الصَّلاَةَ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قاَلَ: رُدِّي هَذِهِ الْخَمِيْصَةَ إِلَى أَبِي جَهْمٍ، فَإِنِّي نَظَرْتُ إِلَى عَلَمِهَا فِي الصَّلاَةِ فَكَادَ يَفْتِنُنِي

“Abu Jahm bin Hudzaifah menghadiahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah khamishah Syamiyyah yang bergambar. Rasulullah pun mengenakannya dan mengerjakan shalat dalam keadaan memakai pakaian tersebut. Tatkala selesai dari shalatnya, beliau bersabda, “Kembalikanlah khamishah ini kepada Abu Jahm, karena ketika shalat aku sempat melihat gambarnya dan hampir-hampir gambarnya memfitnahku (menggodaku).”

9 Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pakaian yang lain kepada Abu Jahm agar Abu Jahm tahu bahwa beliau tidak menolak hadiahnya karena meremehkannya.” (Fathul Bari, 1/626)

10 Dengan demikian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak sampai terlalaikan dari shalat beliau karena godaan yang beliau khawatirkan tidak terjadi namun hampir saja terjadi. (Syarhu Az-Zarqani ‘ala Muwaththa` Al-Imam Malik, 1/289)

11 Qiram adalah satir (kain penutup) yang tipis terbuat dari wol yang berwarna-warni. (Fathul Bari, 1/628)

12 Khumrah adalah alas yang kecil sekedar untuk meletakkan wajah ketika sujud.

13 Karena angin yang keluar dari dubur ada yang mengeluarkan bunyi dan ada yang tidak. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.

14 Tentunya setelah melihatnya terlebih dahulu, apakah ada kotoran atau tidak. Bila ada, maka wajib dibersihkan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits:

إِذَا جاَءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا

“Apabila salah seorang dari kalian datang ke masjid, sebelum masuk masjid hendaklah ia melihat kedua sandalnya. Bila ia lihat ada kotoran atau najis maka hendaklah ia membersihkannya dan setelah bersih ia boleh shalat dengan mengenakan kedua sandalnya.” (HR. Abu Dawud no. 650 dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud, Irwa`ul Ghalil no. 284, dan Ashlu Shifati Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam 1/110)

15 Karena hukum asal dari perintah adalah wajib, kecuali ada nash yang memalingkannya dari hukum wajib tersebut.