Menghilangkan Pengaruh Sihir

Pertanyaan:

Saya seorang istri yang telah menikah sejak 17 tahun silam. Saya memiliki enam anak. Kehidupan bahagia dalam masa pernikahan ini hanya saya rasakan selama lima tahun awal, sedangkan sisanya saya jalani dengan perasaan benci terhadap suami. Saya tidak suka dia mempergauli saya sebagaimana pergaulan suami istri. Saya tidak sanggup tidur bersamanya. Saya menyangka apa yang saya alami ini karena pengaruh sihir. Saya pun pergi ke tukang sihir dan ‘orang pintar’ untuk melepaskan pengaruh sihir tersebut. Mereka memberi saya beberapa ramuan. Namun, saya tidak mendapatkan manfaat apa pun dan tidak lagi percaya dengan seorang pun dari mereka. Lalu saya pergi ke dokter jiwa, namun juga tidak ada perkembangan. Saya ingin suami saya dan tidak menginginkan seorang pun selainnya. Hampir-hampir rumah tangga saya mengalami kehancuran. Apabila seperti ini keadaan saya, apa yang harus saya lakukan? Barakallahu fikum.

 Separate

Jawab:

Penyakit seperti yang Anda ceritakan yang terjadi waktu-waktu terakhir kehidupan pernikahan Anda, bisa jadi memang karena pengaruh sihir, karena ‘ain (penyakit karena pandangan mata hasad ataupun kagum), atau sebab penyakit lain. Anda tidak boleh mendatangi tukang sihir dan dukun untuk bertanya kepada mereka. Karena itu, kepergian Anda ke tukang sihir dan dukun adalah perkara yang tidak dibolehkan dalam agama ini. Anda telah berbuat kesalahan sehingga harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla. sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

‘Arraf adalah orang yang mengaku-aku tahu urusan gaib dengan bantuan jin atau perantara lain yang tersembunyi atau samar. Bertanya kepadanya tentang yang demikian tidak boleh, demikian pula membenarkannya; berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau dukun, lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Untuk berobat, Anda bisa datang ke dokter yang dikenal tahu cara mengobati penyakit/masalah yang sedang Anda hadapi dengan memakai obat-obat yang memang diketahui sebagai obat, baik dengan suntikan, tablet/kapsul, atau yang lainnya.

Anda bisa pula berobat kepada seorang pembaca al-Qur’an atau wanita salehah yang bisa membacakan al-Qur’an untuk Anda (meruqyah). Apabila ada wanita yang bisa mengobati Anda, dia didahulukan daripada berobat kepada lelaki. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menghilangkan sakit/masalah Anda lewat bantuan si peruqyah. Kalau tidak ada wanita yang bisa meruqyah Anda, tidak apa-apa berobat kepada lelaki yang membacakan al-Qur’an untuk Anda tanpa khalwat (berdua-duaan dengan si peruqyah). Harus ada yang menemani Anda, apakah ibu, saudara lelaki, ayah, atau semisal mereka. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kemanfaatan dengannya.

Adapun meruqyah sakit yang diderita bisa dengan membacakan surat al-Fatihah, ayat kursi, ayat penangkal sihir yang dikenali dalam surat al-A’raf, Yunus, Thaha, al-Kafirun, al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas. Surat-surat dan ayat-ayat tersebut dibacakan di air (yang diletakkan dalam wadah), setelahnya dibacakan doa, seperti

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah gangguan ini, sembuhkanlah, Engkau-lah Dzat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan seluruh jiwa atau mata yang hasad, Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Doa-doa ini diulang sebanyak tiga kali. Doa ini tsabit (pasti kabarnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu sebagian air yang sudah diruqyah diminum oleh si penderita dan sisanya untuk mandi. Cara seperti ini sudah terbukti mujarab—dengan izin Allah ‘azza wa jalla—dalam pengobatan sihir.

Cara ini juga bisa untuk mengobati suami yang “tertahan” dari menggauli istrinya dan pengobatan ‘ain. ‘Ain juga diobati dengan cara ruqyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak ada ruqyah (yang paling tampak pengaruh/manfaatnya) daripada ruqyah terhadap penyakit ‘ain atau hummah.”

Pengobatan bisa juga dilakukan dengan campuran air dengan tujuh lembar daun bidara hijau yang sudah ditumbuk/dihaluskan. Kami telah melakukan hal ini pada banyak orang dan Allah ‘azza wa jalla memberikan manfaat dengannya. Ulama telah menyebutkan cara pengobatan seperti ini, di antaranya ialah al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh rahimahullah, penulis kitab Fathul Majid, Syarhu Kitab at-Tauhid. Beliau menyebutkan hal ini dalam bab Ma Ja’a fi an-Nusyrah. Apabila Anda memiliki kitabnya, silakan melihat dan membacanya.

Anda tidak boleh bertanya atau meminta obat kepada tukang sihir, dukun, dan tukang ramal. Anda tidak boleh membenarkan omongan mereka. Bertanyalah kepada ulama yang sebenarnya dan para pembaca al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan. Mereka bisa membacakan untuk Anda bacaan-bacaan yang telah disebutkan. Anda bisa juga bertanya kepada wanita-wanita salihah dari kalangan pengajar/guru dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan hingga mereka bisa melakukannya pada Anda. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan anugerah berupa kesembuhan dengan sebab-sebab ini.

Di antara yang sepantasnya Anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar Dia menghilangkan apa yang menimpa Anda, karena Allah ‘azza wa jalla itu harus dimintai. Dia ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi permintaan/doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan Aku masukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dia ‘azza wa jalla berfirman pula,

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi semua perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Anda harus memohon kesembuhan hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula suami Anda memohon kesembuhan Anda kepada Allah ‘azza wa jalla, karena seorang mukmin seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Demikian pula ayah dan ibu Anda. Doa adalah senjata orang yang beriman. Allah ‘azza wa jalla telah mejanjikan pengabulan doa, maka Anda harus berdoa dan bersungguhsungguh dalam berdoa. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kesembuhan.

Saya nasihatkan pula kepada Anda agar meniup pada dua telapak tangan Anda yang dibentangkan (seperti posisi mengangkat tangan saat berdoa) ketika hendak tidur dan membaca al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, masing-masing 3 kali. Lalu Anda usapkan kedua telapak tangan tersebut ke kepala, wajah, dan dada (serta anggota tubuh yang lain yang dapat dijangkau) sebanyak 3 kali (pada setiap bacaan/tiupan). Cara ini juga termasuk sebab kesembuhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengamalkannya. Di saat sakit2 beliau melakukannya ketika hendak tidur, sebagaimana berita yang sahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha.

 

(Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.)

Wallahu a’lam.

Perbedaan Mukjizat, Karamah, dan Sihir

Tukang-tukang sihir, dukun, dan manusia semodel mereka seringkali memamerkan “kehebatan” mereka, kebal api atau kebal bacokan pedang. Sebagian mereka tidur di atas paku-paku tajam atau dengan bangganya memakan pecahan-pecahan kaca. Aneh memang. Televisi pun tak ketinggalan menayangkan acara-acara tersebut. Anehnya, perbuatan syirik tersebut dianggap kesenian, budaya yang mendatangkan devisa, dan lebih menyedihkan manakala seorang yang menyatakan dirinya muslim berdecak kagum menyaksikan “kehebatan” mereka. Allahul Musta’an. Sepintas, fenomena aneh di hadapan kita itu mirip dengan mukjizat Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yang utuh tidak terbakar tatkala dilempar kaumnya di tengah kobaran api. Karena kemiripan antara mukjizat dan sihir dari sisi keduanya menyelisihi adat kebiasaan dan hukum alam, maka kita perlu memahami perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir.

Di antara hal penting yang menjadi kaidah membedakan antara mukjizat dan sihir:

1. Mukjizat berasal dari Allah Subhanahu wata’ala sebagai bentuk pemuliaan terhadap nabi dan rasul-Nya. Adapun sihir adalah amalan-amalan setan.

Bagaimana sihir terwujud? Tukang sihir dan dukun tidak mungkin melakukan perkara-perkara aneh tersebut melainkan jika mau memberikan persembahan kepada setan-setan, seperti menyembelih untuk jin, memberikan sesaji, atau yang semisalnya. Oleh karena itu, sihir adalah bentuk kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala dan pelakunya kafir sebagaimana firman-Nya,

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

“Mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102)

2. Di antara perbedaan mendasar antara mukjizat dan sihir, mukjizat mengandung tantangan yang bersifat umum bagi penentang dakwah rasul untuk menghadapi mukjizat itu, kalau memang mereka mampu.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang mukjizat al-Qur’an,

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (al-Isra’: 88)

Berbeda halnya dengan sihir, tidak ada seorang penyihir pun berani membuka tantangan secara umum. Sebab, mereka tahu, banyak pula manusia yang seprofesi yang mungkin mendatangkan sihir yang lebih kuat, dan ini merugikan mereka sendiri. Apalagi saat sihir dihadapkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan zikir, niscaya mereka akan menuai kekalahan dan kebinasaan.

3. Mukjizat diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada nabi dan rasul-Nya tanpa laku/latihan tertentu, belajar, atau kaidah-kaidah yang harus senantiasa diterapkan.

Tidak pernah Nabi Musa ‘Alaihissalam mempelajari bagaimana tongkatnya berubah menjadi ular atau membelah lautan. Demikian pula semua mukjizat nabi dan rasul. Adapun sihir, ilmu ini memiliki kaidah-kaidah yang bisa dipelajari setiap orang, dengan syarat dia mau menjual agamanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُم بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ ۚ

Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedangkan keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan, “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir.” Mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat. (al-Baqarah: 102)

4. Sihir selalu bisa dikalahkan, baik dengan sihir yang lebih kuat maupun dengan zikir dan bacaan al-Qur’an. Berbeda halnya dengan mukjizat, tidak mungkin dikalahkan.

Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kekalahan sihir-sihir terhebat di zaman Musa ‘Alaihissalam. Sihir tidak mampu berhadapan dengan mukjizat Nabi Musa ‘Alaihissalam.

وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ () فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانقَلَبُوا صَاغِرِينَ

Dan kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Sekonyongkonyong tongkat itu menelan apa yang mereka sihirkan. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. (al-A’raf: 117—119)

Demikian empat hal di antara pokok-pokok perbedaan antara sihir dan mukjizat. Lantas bagaimana halnya dengan karamah, yaitu kejadian menakjubkan di luar kebiasaan yang mungkin terjadi pada wali-wali Allah Subhanahu wata’ala sebagai karamah (pemuliaan) bagi mereka, apakah sama dengan mukjizat? Karamah diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada wali-wali-Nya, seperti apa yang Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada Ashabul Kahfi berupa penjagaan dari kejelekan kaumnya dengan cara yang luar biasa. Mereka tidur selama 309 tahun dalam goa, seperti dikisahkan oleh al-Qur’an,

لَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

“Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (al-Kahfi: 25)

Karamah hampir sama dengan mukjizat. Keduanya dari Allah Subhanahu wata’ala, hanya saja karamah tidak diiringi dengan pengakuan kenabian. Pembahasan tentang karamah insya Allah akan kita khususkan pada rubrik “Hadits.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Membentengi Diri dari Sihir

Saya seorang ibu rumah tangga yang telah menjalani pernikahan selama 17 tahun, dan telah dikarunia 6 anak. Selama 17 tahun berumah tangga, hanya 5 tahun saya hidup bahagia. Selebihnya, saya jadi benci kepada suami saya. Saya tidak suka dia berhubungan dengan saya sebagaimana hubungan suami istri. Saya merasa tidak sanggup tidur bersamanya. Saya mengira semua ini karena pengaruh sihir, maka untuk menanggulanginya saya pergi ke tukang sihir dan “orang tua pintar”.

Mereka memberi saya beberapa jimat, namun saya tidak mendapatkan manfaat apapun darinya. Sebenarnya saya tidak percaya dengan seorang pun dari mereka. Saya juga pergi ke para dokter ahli jiwa (psikiater), namun juga tidak mendapat faedah apa-apa. Saya menginginkan suamiku dan tidak menginginkan seorang pun selainnya. Namun rumah tangga saya hampir hancur. Apa yang harus saya lakukan -semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberkahi anda-?

 

Samahatusy Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah menjawab dengan cukup panjang sebagai berikut:

Penyakit yang datang belakangan itu memang bisa jadi karena pengaruh sihir. Bisa jadi pula pengaruh ‘ain[1] (mata), atau yang dinamakan orang dengan nazhlah dan nafs. Mungkin juga karena penyakit lain yang menyebabkan timbulnya hal tersebut.

 

Dalam ajaran Islam, tidak diperkenankan mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal serta bertanya kepada mereka. Jadi, perbuatan anda mendatangi tukang sihir dan dukun/tukang ramal merupakan perkara yang tidak diperbolehkan. Anda benar-benar telah berbuat salah. Anda harus bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya)

 

‘Arraf adalah orang yang mengaku-ngaku mengetahui perkara-perkara (gaib), dengan bantuan jin, dengan cara gaib atau tersembunyi. Orang seperti ini tidak boleh dijadikan tempat bertanya (ketika ada masalah) dan tidak boleh dibenarkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau kahin (dukun) lalu ia membenarkan apa yang diucapkannya, maka orang itu telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

 

Maka tidak boleh mendatangi kahin (dukun), tidak pula tukang sihir, serta bertanya kepada mereka. Namun, anda bisa berobat kepada tabib (dokter) yang ma’ruf (dikenal) yang bisa jadi mengetahui obat apa yang dikenal bisa menyembuhkan perkara-perkara tersebut, baik berupa suntikan, pil, atau yang lainnya. Atau anda bisa mendatangi seorang pembaca al-Qur`an atau seorang wanita shalihah yang akan membacakan ayat-ayat al-Qur`an (pada tangannya) lalu meniup-niupnya (dan diusapkan) kepada anda.

 

Tentunya meminta bantuan kepada wanita shalihah untuk mengobati anda lebih diutamakan (karena kalian sama-sama wanita) daripada memintanya kepada seorang lelaki. Semoga dengannya Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkan pengaruh ‘ain atau sihir tersebut. Kalau terpaksa berobat kepada seorang lelaki, maka jangan sampai terjadi khalwat (berdua-duaan dengannya). Anda harus disertai orang lain, baik ibu anda, saudara laki-laki anda, ayah anda atau semisal mereka. Orang itu cukup membacakan ayat-ayat Al-Qur`an dan anda mendengarkannya.

 

Mungkin pula pengobatan dengan cara menyediakan air dalam wadah, lalu dibacakan padanya surat Al-Fatihah, ayat Kursi, ayat-ayat yang berbicara tentang sihir dalam surat al-A’raf (ayat 117-122,–pent.), surat Yunus (ayat 81-82,–pent.), dan surat Thaha (ayat 69,–pent.) Juga membaca surat al-Kafirun, Al-Ikhlas, dan al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Naas). Dibacakan pula di air tersebut doa-doa seperti:

 

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan/penyakit ini, sembuhkanlah. Sesungguhnya Engkau Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan dengan kesembuhanmu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sakit.

 

Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan setiap jiwa atau mata yang hasad, semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.

 

Doa ini dibaca tiga kali, karena doa ini tsabit (pasti datangnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebagaimana termuat dalam Ash-Shahihain,-pent.)

 

Bila orang yang mengobati anda telah melakukan hal di atas, maka sebagian air itu anda minum, sisanya untuk membasuh tubuh anda. Pengobatan seperti ini mujarab untuk menyembuhkan pengaruh sihir dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula untuk mengobati seorang suami yang tercegah (tidak dapat) untuk menggauli istrinya. Juga untuk pengobatan ‘ain, karena ‘ain itu diobati dengan ruqyah sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak ada pengobatan dengan ruqyah (yang paling tampak hasilnya/ mujarab-pent.) kecuali dari pengaruh ‘ain atau sengatan binatang berbisa.”

 

Pengobatan seperti di atas merupakan faktor-faktor kesembuhan yang terkadang Allah subhanahu wa ta’ala menjadikannya bermanfaat.

 

Bisa pula pengobatan dengan cara mencampur air dengan tujuh daun sidr (bidara) hijau yang telah ditumbuk, lalu dibacakan bacaan-bacaan yang telah disebutkan di atas. Pengobatan seperti ini terkadang Allah subhanahu wa ta’ala jadikan bermanfaat. Dan kami telah melakukannya untuk mengobati banyak orang, Allah subhanahu wa ta’ala pun menjadikannya bermanfaat. Cara ini disebutkan oleh ulama, di antaranya Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh penulis kitab Fathul Majid Syarhu Kitabit Tauhid. Beliau sebutkan dalam bab Ma Ja`a fin Nusyrah. Bila anda memiliki kitabnya, silahkan menelaahnya. Atau tanyakan kepada orang-orang yang berilmu dien, mereka Insya Allah subhanahu wa ta’ala akan menunaikan apa yang pantas.

 

Adapun kepada tukang sihir, kahin dan ‘arraf, janganlah anda bertanya dan membenarkan mereka. Hendaknya anda menemui orang-orang yang berilmu haq dan para pembaca al-Qur`an yang dikenal dengan kebaikan, sehingga mereka mengobati anda dengan bacaan-bacaan ruqyah. Atau anda mendatangi wanita-wanita shalihah dari kalangan pengajar/guru agama dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala  menganugerahkan kesembuhan dan kesehatan  kepada anda dengan sebab-sebab tersebut.

 

Termasuk perkara yang sepantasnya anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menghilangkan gangguan yang menimpa anda, karena Allah subhanahu wa ta’ala menyukai bila diajukan permintaan pada-Nya. Dia telah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)

Dan juga firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (al-Baqarah : 186)

 

Sepantasnya anda mohon kesehatan dan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula suami anda, ayah dan ibu anda, karena seorang mukmin itu seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Doa itu senjata orang mukmin, dan Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah men-janjikan untuk menga-bulkan doa. Maka anda harus ber-sungguh-sungguh dan jujur dalam doa anda, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kesembuhan.

 

Selain itu, aku nasehatkan agar menjelang tidur, anda menggabungkan dua telapak tangan anda, lalu meniupnya dengan sedikit meludah dengan membacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, tiga kali. Setelahnya dengan kedua telapak tangan tersebut anda mengusap kepala, wajah dan dada (berikut apa yang bisa dicapai oleh kedua telapak tangan dari bagian tubuh,-pent.), dilakukan sebanyak tiga kali. Perbuatan seperti ini termasuk sebab kesembuhan.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri melakukannya saat menjelang tidur dan ketika sakit, sebagaimana disebutkan dalam berita yang shahih dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha (dan ketika sakitnya bertambah parah, beliau memerintahkan ‘Aisyah agar melakukannya untuk beliau[2]-pent.).

 

Wallahu a’lam.  (Kitab Fatawa Nur ‘alad Darb, hal. 200-203)

 

 

[1] Lihat pembahasan ‘ain dalam rubrik Permata Hati, Majalah Syariah Vol. subhanahu wa ta’ala /No. 04/ Desember 2003/ Syawwal 1424 H.

 

[2] Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya

 

Sihir Melenyapkan Aqidah

Sihir dan segala bentuknya adalah amalan yang sangat berbahaya bagi keutuhan akidah seorang muslim. Bahkan pada keadaan tertentu, ia bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam (kafir). Ironisnya, sangat sedikit yang menyadari bahaya perbuatan ini. Bahkan akhir-akhir ini, dengan dukungan berbagai media massa, makin banyak orang yang menyukai perbuatan ini. Laa haula walaa quwwata illa billah.

  Lanjutkan membaca Sihir Melenyapkan Aqidah

Sihir di Sekitar Kita

Sihir berkedok ‘pengobatan spiritual’, ‘transfer bioenergi’, ‘penggalian jatidiri’, ‘ruwat’, ‘ilmu khodam’, ‘daya laduni’, dan sejenisnya, kian menjamur di negeri ini. Sebutan untuk sang pakar pun kian ‘ilmiah’, bukan lagi dukun/orang pintar, tetapi juga supranaturalis, ahli metafisika dan geopati, paranormal, penghusada, dan sebagainya. Bahkan tak sedikit yang menyandang gelar doktor walau cuma honoris causa—itu pun diduga palsu. Meski tak semua bentuk pengobatan alternatif yang ada menggunakan klenik mistis, tetapi kehati-hatian tetap harus kita kedepankan.

Lanjutkan membaca Sihir di Sekitar Kita