Apa Itu Nikah Mut’ah?

Apa nikah mut’ah itu? Adakah ayat al-Qur’an atau hadits tentang nikah mut’ah? Apakah ada hadits yang mengharamkan nikah mut’ah ataukah sekadar makruh?

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab:

“Mut’ah adalah seorang lelaki menikahi seorang perempuan untuk jangka waktu tertentu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah mengizinkan para sahabat pada sebagian peperangan untuk melakukan nikah mut’ah (dengan perempuan setempat). Beliau juga mengizinkannya pada tahun Fathu Makkah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan nikah mut’ah ini pada sebagian peperangan[1] lalu melarangnya pada tahun Perang Khaibar[2]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan lagi saat tahun Fathu Makkah sebagaimana disebutkan dalam hadits ar-Rabi’ ibnu Sabrah dari bapaknya[3], lalu melarangnya. Diizinkan juga dalam perang Hunain[4], kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.

Maka dari itu, kaum muslimin semuanya mengharamkan nikah mut’ah. Sebagian sahabat, seperti Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, membolehkan nikah mut’ah dan menyangka bahwa nikah mut’ah ini dibolehkan karena darurat. Namun, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengingkari pendapat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma tersebut. Ali berkata kepada Ibnu Abbas, “Sungguh, kamu adalah orang yang bingung yang keluar dari jalan yang lurus (dalam urusan ini).”[5] Adalah pantas Ali radhiallahu ‘anhu mengingkari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Nikah mut’ah haram sampai hari kiamat. Mereka yang membolehkan nikah mut’ah (orang-orang Syi’ah –pent.) menampakkan bukti terbesar bahwa mereka tidak mengikuti Ali bin Abi Thalib. Sebab, Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mut’ah itu haram sampai hari kiamat. Ali radhiallahu ‘anhu juga mengingkari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang membolehkan mut’ah.

Orang-orang Syi’ah menganggap secara batil bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,

فَمَا ٱسۡتَمۡتَعۡتُم بِهِۦ مِنۡهُنَّ فَ‍َٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةٗۚ

“Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mahar-mahar mereka dengan sempurna sebagai suatu kewajiban.” (an-Nisa: 24)

turun tentang nikah mut’ah, padahal tidaklah demikian.

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 534—535)


Hukum Nikah Mut’ah dalam Islam

Apa hukum nikah mut’ah dalam Islam yang marak dilakukan oleh penganut agama Syi’ah?

 

Al-Lajnah ad-Daimah’[6] menjawab:

“Nikah mut’ah diharamkan dan batil (tidak sah) seandainya terjadi, berdasar riwayat al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahullah dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa pada waktu Perang Khaibar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan melarang memakan daging keledai ahliyah (keledai negeri/peliharaan). Dalam satu riwayat disebutkan, pada hari Khaibar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memut’ah perempuan.

Al-Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Nikah mut’ah itu haram menurut ijma/kesepakatan ulama kaum muslimin, kecuali sebagian pengikut Syi’ah. Tidak sah kaidah mereka (orang-orang Syi’ah) untuk rujuk kepada Ali radhiallahu ‘anhu dalam urusan yang diperselisihkan. (Riwayat) yang sahih dari Ali radhiallahu ‘anhu justru menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah dihapus (mansukh) pembolehannya.

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah menukilkan dari Jafar bin Muhammad, yang pernah ditanya tentang nikah mut’ah. Beliau menjawab, “Nikah mut’ah adalah zina itu sendiri (tidak beda dengan perzinaan).”

Pengharaman nikah mut’ah juga didasarkan hadits yang diriwayatkan al-Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya dari Sabrah ibnu Ma’bad al-Juhani radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda,

        إِنِّي كُنْتُ قَدْ أَذَنْتُ لَكُمْ فِي الْاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيخل سَبِيْلَهُ وَلَا تَأْخُذُوْا مِمَّا آتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْئًا

“Sungguh, aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan nikah mut’ah dengan para perempuan. Sungguh, (kemudian) Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkannya sampai hari kiamat. Siapa di antara kalian memiliki istri yang dinikahi dengan cara mut’ah, hendaknya dia lepaskan dan jangan kalian ambil sedikit pun harta/pemberian yang telah kalian berikan kepada mereka.”

(Fatwa no. 3810, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 18/441)


Menikah untuk Jangka Waktu Tertentu

Apa hukumnya dalam Islam, menikah hanya untuk jangka waktu tertentu?

Al-Lajnah ad-Daimah[7] menjawab:

“Menikah hanya untuk masa tertentu (setelah itu berpisah begitu saja) adalah nikah mut’ah yang batil, menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, nikah seperti ini hukumnya mansukh[8] oleh riwayat yang pasti dari hadits-hadits sahih yang melarang mut’ah. Apa yang dinyatakan terlarang berarti pernikahan yang batil/tidak sah.

‘Hubungan intim’ yang terjadi dengan pernikahan mut’ah itu teranggap zina sehingga berlaku hukuman berzina bagi diri pelakunya[9] dalam keadaan dia tahu batilnya mut’ah tersebut.”

(Fatwa no. 15952, Fatawa al-Lajnah, 18/445)


Menikah dengan Syiah Rafidhah

Apakah sah pernikahan dengan seorang Rafidhah atau dengan orang yang berkata bahwa shalat lima waktu tidak wajib baginya?

Jika dia bertobat dari pemahaman Rafidhah atau dia melakukan shalat dalam beberapa masa, kemudian dia kembali lagi menjadi Rafidhah atau kembali meninggalkan shalat, apakah dianggap sah pernikahan yang telah dilakukan dengannya?

Syaikhul Islam rahimahullah menjawab,

“Tidak boleh seorang pun menikahkan perempuan yang di bawah perwaliannya dengan lelaki Rafidhah, sebagaimana tidak boleh menikahkannya dengan lelaki yang meninggalkan shalat.

Namun, apabila wali perempuan menikahkan perempuan mereka dengan lelaki yang dikira sunni dan mengerjakan shalat, kemudian di belakang hari diketahui bahwa si lelaki adalah Rafidhah yang tidak mengerjakan shalat, atau dia kembali menjadi Rafidhah (setelah rujuk menjadi sunni) lantas meninggalkan shalat, para wali tersebut dapat mem-fasakh pernikahannya.”

(Majmu’ Fatawa, 16/261)


Apakah Syiah Rafidhah Itu Muslim?

Apakah boleh menamakan Rafidhah dan orang-orang Iran sebagai kaum muslimin?

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah menjawab,

“Rafidhah itu berbeda-beda. Di antara mereka ada orang-orang awam yang tidak tahu apa-apa. Mereka ini tidak boleh kita kafirkan dan hukum asal mereka adalah Islam. Di antara mereka ada yang mengetahui akidah Rafidhah dan meyakininya, ini yang teranggap kafir. Yang saya maksudkan adalah akidah Khomeini.

Siapa di antara mereka yang meyakini akidah Khomeini atau akidah al-Kulaini penulis al-Kafi, dia kafir. Di antara mereka ada ulama yang tidak meyakini akidah tersebut, tetapi mereka terus-menerus di atas Rafidhahnya, maka mereka adalah mubtadi’.

Jadi, kita harus adil dalam hal ini. Siapa di antara mereka yang akidahnya seperti akidah Khomeini atau al-Kulaini, barulah dia dianggap kafir.

Mengapa kita mengatakan Khomeini kafir? Karena dia mengatakan sebagaimana dalam al-Hukumah al-Islamiyah, “Sungguh, para imam kita memiliki kedudukan yang tidak dapat dicapai oleh seorang nabi yang diutus, tidak pula bisa dicapai oleh malaikat yang dekat.” Ini baru satu kesesatan.

Yang kedua, “Nash-nash yang disampaikan oleh para imam kita sama dengan nash-nash al-Qur’an.”

Yang ketiga, “Sungguh, para nabi dan para imam ahlil bait tidak sukses melaksanakan tugas mereka sebagaimana kesuksesan yang akan diraih oleh al-Mahdi dalam tugasnya.”

Yang dimaksud al-Mahdi adalah khurafat mereka, yaitu penghuni Sirdab. Siapa yang meyakini akidah semacam ini, dia kafir. Wallahul musta’an.

Orang-orang awamnya tidak boleh kita hukumi kafir. Demikian pula ulama mereka yang tidak meyakini akidah tersebut dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kufur.”

(Ijabah as-Sail ‘ala Ahammil Masail, hlm. 526—527)

[1] Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa membawa serta istri kami.

Kami berkata, ‘Tidakkah sebaiknya kita mengebiri diri kita?’ Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukannya.

Beliau memberi rukhshah untuk kami menikahi perempuan setempat dengan mahar berupa pakaian sampai tempo waktu tertentu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, –pent.)

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. (–pent.)

[3] Kata Sabrah radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kami melakukan mut’ah pada tahun Fathu Makkah ketika kami masuk kota Makkah. Tidaklah kami keluar dari Makkah hingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami melakukan mut’ah.” (HR Muslim, –pent.)

[4] Perang Hunain terjadi setelah Fathu Makkah. (–pent.)

[5] HR. al-Bukhari dan Muslim. (–pent.)

[6] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Wakil Ketua: asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

[7] Ketua: asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz;

Anggota: asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, asy-Syaikh

Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh, dan asy-Syaikh Bakr Abu Zaid.

[8] Dahulu pernah diperbolehkan namun pada akhirnya dilarang. (–pent.)

[9] Kalau masih lajang dicambuk 100 kali dan diasingkan. Yang sudah menikah dirajam sampai mati. Penegakan hukum had ini dilakukan oleh pihak penguasa, bukan individu atau kelompok. (–pent.)

Pembelaan untuk Aisyah dari Celaan Syiah Rafidhah

Terlahir dari dua orang tua yang telah beriman dan memiliki kemuliaan, merupakan keistimewaan tersendiri bagi ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha[1]. Belum lagi sekian banyak kelebihan dan keutamaan yang disandang Humaira’[2], sebutan yang disematkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau[3], dari sisi kebaikan akhlak, kezuhudan, kecerdasan, amal ibadah, dan sebagainya.

Semua itu mengokohkan rasa cinta dan penghormatan kaum muslimin kepada beliau radhiallahu ‘anha. Apalagi Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

          ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَأَزۡوَٰجُهُۥٓ أُمَّهَٰتُهُمۡۗ

“Nabi itu lebih berhak untuk dicintai oleh orang-orang beriman daripada diri mereka sendiri, sedangkan istri-istri beliau adalah ibu-ibu mereka (orang-orang beriman).” (al-Ahzab: 6)

Tidak ada seorang Ahlus Sunnah pun kecuali mencintai dan memuliakan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha sebagai salah seorang dari ibu mereka. Bahkan, beliau adalah yang paling afdal di antara ummahatul mukminin bersama dengan Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha.

Menuliskan keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha niscaya akan memenuhi lembaran-lembaran kita. Beberapa di antaranya bisa kita nukilkan di bawah ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Keutamaan ‘Aisyah dibanding semua wanita seperti keistimewaan tsarid[4] dibanding semua makanan.” (HR. al-Bukhari no. 3770 dan Muslim no. 6249)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha menempati tempat yang istimewa di hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi ummahatul mukminin yang lain. Ini bukanlah rahasia karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakuinya.

Sahabat yang mulia, ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aisyah.[5] (HR. al-Bukhari no. 4358 dan Muslim no. 6127)

Rasa cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ini pun tak tersamarkan oleh para sahabat beliau. Jadi, apabila ingin memberi hadiah kepada Rasul, mereka menunggu saat hari giliran ‘Aisyah, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah Aisyah radhiallahu ‘anha, agar lebih menyenangkan hati dan membuat ridha beliau[6].

Kenyataannya, saat-saat bersama ‘Aisyah radhiallahu ‘anha adalah sesuatu yang dinantikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tanpa mengurangi hak istri-istri beliau yang lain karena beliau adalah suami yang sangat adil.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit menjelang wafat, beliau selalu bertanya, “Di rumah siapa saya hari ini? Di rumah siapa saya besok?”, dalam keadaan beliau mengharapkan giliran Aisyah radhiallahu ‘anha.

Saat sakit beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah parah, para istri beliau yang salihah mengizinkan beliau untuk dirawat di rumah istri yang mana pun yang beliau inginkan.

Akhirnya, asa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk selalu dekat dengan al-Humaira’ terpenuhi. Beliau dirawat di rumah ‘Aisyah hingga ajal menjemput dalam keadaan kepala beliau berada dalam dekapan ‘Aisyah[7].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertitah kepada putri beliau Fathimah radhiallahu ‘anha, “Wahai putriku, tidakkah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Tentu.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu, cintai dia ( yakni ‘Aisyah).” (HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 6240)

Pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bukan semata didorong karena ‘Aisyah adalah putri sahabat beliau yang utama, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, melainkan karena wahyu Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Aisyah, “Engkau ditampakkan padaku dalam mimpi selama tiga malam. Seorang malaikat datang membawamu dengan mengenakan pakaian sutra putih, lalu malaikat itu berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Aku menyingkap wajahmu dan ternyata engkau.” (HR. al-Bukhari no. 5125 dan Muslim no. 6233)

Keistimewaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga tampak dengan wahyu yang turun dari langit hanya saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam selimut ‘Aisyah, tidak dalam selimut istri-istri yang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada salah seorang istri beliau, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak pernah menurunkan wahyu kepadaku ketika aku sedang berada di selimut salah seorang dari kalian selain ‘Aisyah.” (HR. al-Bukhari no. 3775)

‘Aisyah radhiallahu ‘anha pernah mendapatkan salam dari malaikat yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi penyampainya, kata beliau, “Malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu.”

‘Aisyah menjawab, “Wa’alaihissalam wa rahmatullah.” (HR. al-Bukhari no. 6253 dan Muslim no. 6251)

Orang-orang munafik pernah mencoba menjatuhkan kehormatan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan menuduhnya berzina dengan sahabat Shafwan ibnul Mu’aththal radhiallahu ‘anhu saat tertinggal dari rombongan dalam perjalanan pulang dari pertempuran menghadapi Bani Musthaliq.

Allah subhanahu wa ta’ala tidak membiarkan derita ‘Aisyah dan kehormatan keluarga Nabi-Nya terus diinjak-injak. Turunlah ayat-ayat dari atas langit sebagai pembelaan atas kehormatan ‘Aisyah. Surat an-Nur ayat 11 sampai 26 membantah tuduhan keji dan dusta kepada belahan jiwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan dalam ayat-ayat tersebut bahwa ‘Aisyah adalah wanita yang baik dan menjaga kesuciannya. Adapun orang-orang yang memfitnahnya, Allah subhanahu wa ta’ala ancam dengan siksa yang pedih di dunia dan di akhirat.

Adapula satu kejadian yang menimpa ‘Aisyah radhiallahu ‘anha yang menjadi sebab keberkahan bagi umat Islam. Dalam satu safarnya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para rombongan, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha mengenakan kalung yang dipinjamnya dari saudarinya, Asma’ radhiallahu ‘anha. Kalung itu hilang dalam perjalanan. Merasa bertanggung jawab dengan kalung pinjaman tersebut, ‘Aisyah menyampaikan kepada suaminya tentang perihal kalung itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengutus sahabatnya untuk mencarinya sampai masuk waktu shalat. Padahal di tempat tersebut tidak ada air untuk berwudhu. Mereka pun shalat tanpa berwudhu. Ketika berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka adukan hal itu kepada beliau. Allah subhanahu wa ta’ala lalu menurunkan ayat tentang tayammum.

Hal ini mendorong Usaid bin Hudhair radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Jazakillahu khairan (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan). Demi Allah, tidaklah menimpamu sesuatu yang engkau benci melainkan Allah menjadikan padanya kebaikan bagimu dan keberkahan bagi kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 3773)

Menjadi istri pengajar kebaikan bagi umat manusia tidak disia-disiakan begitu saja oleh Aisyah radhiallahu ‘anha. Aisyah radhiallahu ‘anha belajar, berguru, dan mengambil ilmu serta keteladanan dari suami shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan apabila ‘Aisyah mengumpulkan banyak ilmu dan riwayat. Bahkan, ‘Aisyah termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keilmuan yang mendalam ini dipersaksikan oleh para sahabat dan tabi’in yang berguru kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Abu Musa al-As’ari radhiallahu ‘anhu, mengatakan, “Tidaklah para sahabat Rasulullah mengeluhkan sesuatu kecuali mereka bertanya kepada ‘Aisyah. Mereka akan mendapati di sisi ‘Aisyah ada ilmu tentang hal tersebut.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 2/322)

Urwah bin az-Zubair mempersaksikan keilmuan bibinya, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mengerti tentang fikih, dunia pengobatan, dan syair daripada ‘Aisyah.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/183)

Masruq pernah ditanya, “Apakah ‘Aisyah pandai dalam ilmu waris?”

Dia menjawab, “Demi Allah, aku menyaksikan para pemuka sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada ‘Aisyah tentang ilmu waris.” (Thabaqat Ibni Sa’d, 10/66)

Az-Zuhri berkata, “Kalau ilmu ‘Aisyah dibandingkan dengan ilmu seluruh wanita, pastilah ilmu ‘Aisyah lebih banyak.” (Siyar A’lam an-Nubala, 2/185)

Adz-Dzahabi menyebut ‘Aisyah sebagai wanita umat ini yang paling faqih secara mutlak. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/135)

 

Syiah Membenci Aisyah radhiallahu ‘anha

Lain Ahlus Sunnah, lain pula Syiah. Keduanya tidak bisa didekatkan apalagi disatukan. Bak minyak dan air, tidak mungkin keduanya menyatu.

Amat dekat dengan sang Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, putri dari orang yang dekat dengan Rasul dan berilmu banyak tentang syariat Islam. Bisa jadi, itu sebabnya Syiah sangat membenci ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, di samping juga membenci dan mengafirkan para sahabat yang lain, selain sejumlah nama yang tidak melampaui lima jari.

Syiah ingin meruntuhkan Islam dan membangun kembali imperium Majusi Persia yang dahulu diluluhlantakkan oleh kaum Muslimin. Caranya ialah dengan mencela para pembawa panji Islam. Syiah hendak menghancurkan kemuliaan Rasul umat Islam dengan mencacati orang-orang dekat beliau. Tujuan akhirnya ialah kesimpulan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang jelek karena beristrikan para perempuan jelek, bersahabat dengan manusia-manusia buruk. Na’udzubillah!

‘Aisyah radhiallahu ‘anha, istri yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai, justru dinista oleh Syiah. Celaan, hinaan, sumpah serapah, mereka tujukan kepada Ibunda kaum mukminin tersebut. Tujuannya agar semua hadits yang disampaikan oleh ‘Aisyah ditolak dan tidak dijadikan pedoman dalam syariat Islam. Padahal dikatakan bahwa seperempat hukum syariat dinukilkan dari ‘Aisyah. (Fathul Bari, 7/135)

Bayangkan, apa jadinya apabila Syiah berhasil menanamkan kebencian tersebut di hati kaum muslimin. Na’udzubillah.

Sebenarnya, tidak sanggup tangan ini untuk menuliskan celaan dan hinaan Syiah yang sangat keji kepada Sang Ibunda. Hati pun tidak sanggup menanggungnya. Akan tetapi, bukti perlu didatangkan agar kaum muslimin yakin bahwa Syiah amat jauh dari Islam; tidak mungkin berkompromi dengan mereka; dan tidak tertipu dengan taqiyah mereka bahwa Syiah tidak membenci ‘Aisyah.

Berikut ini beberapa bentuk penghinaan dan tuduhan mereka kepada Aisyah.

  1. Ali bin Ibrahim al-Qummi dalam Tafsir-nya (2/192) menyebutkan bahwa ‘Aisyah memiliki akhlak dan perangai yang buruk.
  2. Dalam kitab Ikhtiyar Ma’rifatur Rijal karya ath-Thusi (hlm. 57—60) dinukilkan secara dusta bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  3. Ali al-’Amili al-Bayadhi dalam kitabnya, ash Shirathal Mustaqim (3/135 & 161) mengatakan bahwa ‘Aisyah digelari Ummu asy-Syurur (ibu kejelekan) dan Ummu asy-Syaithan (ibu setan).
  4. Di dalam Tafsirul Ayyasyi (1/342) karya Muhammad bin Mahmud al-Ayyasyi disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal karena diracun oleh ‘Aisyah dan Hafshah.
  5. Al-Bayadhi juga menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala belum membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan orang-orang munafik dalam peristiwa haditsul ‘ifk.

Sebab, menurut mereka surat an-Nur ayat 26 turun tidak untuk membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan, tetapi menyucikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan zina. Jadi, mereka sepakat dengan orang-orang munafik bahwa ‘Aisyah benar-benar berbuat serong. (ash-Shirathal Mustaqim, 2/165)

  1. Ash-Shaduq dalam ‘Ilal asy-Syara’i (hlm. 303) dari Abdurrahim al-Qushahir berkata, “Abu Ja’far berkata kepadaku, ‘Ketika Imam kami (al-Qaim, imam Mahdi versi Syiah) sudah bangkit, Humaira’ akan dibawa kepadanya hingga Imam mencambuknya sebagai hukuman had dan membalaskan dendam untuk putri Muhammad, yaitu Fathimah’.”
  2. Muhammad Baqir al-Majlisi dalam kitabnya yang berbahasa Persia Haqqul Yaqin (hlm. 519) mengatakan, “Akidah kami (Syiah) dalam berlepas diri adalah sungguh kami berlepas diri dari empat berhala; Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan Mu’awiyah. Kami berlepas diri dari empat wanita; ‘Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam. Kami juga berlepas diri dari semua pengikut dan kelompok mereka. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk Allah subhanahu wa ta’ala di muka bumi.”
  3. Dalam al-Kafi (hlm. 17) disebutkan klaim mereka bahwa ‘Aisyah kafir sebagaimana istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalam.
  4. Khomeini yang dielu-elukan sebagai pahlawan revolusi Islam Iran dalam bukunya, Thaharah (3/457) berkata, “Aisyah, Thalhah, Zubair, Mu’awiyah, dan orang-orang yang sejenisnya—meskipun secara lahiriah tidak najis—lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi.”
  5. Pada 10 Muharram, orang Syiah mendatangkan kambing betina yang diberi nama ‘Aisyah. Mereka lalu mencabuti bulunya memukulinya dengan sepatu sampai mati. (Tabdhiduzh Zhalam wa Tanbihun Niyam, hlm. 27)

 

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menghancurkan kaum yang ingin merusak kehormatan wanita yang mulia ini. Wanita yang telah beroleh jaminan menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan di surga kelak[8].

Kita tentu akan mendustakan semua celaan dan hinaan Syiah terhadap wanita yang kita agungkan. Kemuliaan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tidak luntur di mata dan sanubari kaum muslimin karena celaan Syiah, kaum pendusta yang amat jahat. Al-Qur’an dan hadits yang menjadi pegangan kita, bukan ucapan para pendusta dan pendengki.

Orang Syiah jelas tidak percaya kalau kita sampaikan kepada mereka hadits-hadits tentang keutamaan ‘Aisyah. Sebab, mereka tidak memercayai hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahlus Sunnah. Mereka hanya percaya dengan hadits-hadits yang ada di kitab mereka, seperti al-Kafi yang hendak dijadikan tandingan bagi Shahih al-Bukhari, kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an.

Kita katakan, “Berbahagialah Humaira dengan keutamaan yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, dan sungguh celaka Syiah yang membencinya….”

Wallahu ta’ala bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran

[1] Beliau adalah Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah bintu Abi Bakr ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’aI al-Qurasyiyah at-Taimiyah al-Makkiyah—semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai beliau dan ayahnya.

[2] Disebut demikian karena ‘Aisyah adalah wanita jelita yang berkulit putih. (Siyar A’lam an-Nubala, 2/140)

Syiah tidak setuju bila dikatakan ‘Aisyah adalah wanita jelita berkulit putih.

[3] Silakan lihat kembali Majalah Syariah, lembar Sakinah, vol. I, No. 03, Juni 2003/Rabiul Akhir 1424 H

[4] Tsarid adalah bubur daging dan roti, makanan istimewa dan kebanggaan bangsa Arab.

[5] Dalam lanjutan hadits ini, ‘Amr bertanya siapa yang paling beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam cintai dari kalangan lelaki. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ayah ‘Aisyah.”

Ini adalah berita yang pasti, kata al-Imam adz-Dzahabi, walaupun Syiah Rafidhah membencinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin mencintai kecuali yang baik. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai lelaki yang paling utama dari umat beliau dan mencintai wanita yang paling utama dari umat beliau. Jadi, barang siapa membenci kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia pantas dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Siyar, 2/142)

[6] (HR. al-Bukhari no. 2574 dan Muslim no. 6239)

[7] (HR. al-Bukhari no. 3774 dan Muslim no. 6242)

[8] (HR. al-Bukhari no. 3772)

Syiah Rafidhah Anak Yahudi ; Memusuhi Islam dan Negeri Islam

Syiah Rafidhah adalah musuh Islam dan negeri-negeri Islam. Sejarah adalah fakta yang tidak pernah berdusta. Mereka adalah kepanjangan tangan Yahudi dalam memusuhi Islam dan negeri Islam, karena kelahiran Syiah Rafidhah sebagai sekte sesat, secara historis tidak lepas dari peran Yahudi.

Rafidhah dan Yahudi ibarat dua saudara kembar. Banyak kesamaan dan kemiripan di antara keduanya. Rafidhah adalah anak Yahudi. Hakikat ini tidak boleh dilupakan, agar kita waspada dan memahami berbagai makar Yahudi dan Rafidhah terhadap Islam dan negara Indonesia serta negeri Islam lainnya.

Di masa kejayaan Islam, Yahudi berhasil menanamkan salah satu agennya, Abdullah bin Saba’ al-Himyari menyusup di tengah kaum muslimin. Lelaki dari negeri Yaman ini secara lahiriah menampakkan keislamannya pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, namun hakikatnya seorang zindiq (munafik). Ia adalah seorang Yahudi yang telah menyiapkan berbagai makar.

Di balik topeng kemunafikannya inilah, ia menghembuskan api kerusakan yang demikian besar di tengah umat hingga berkobar kerusakan demi kerusakan. Peran Ibnu Saba’ sangat besar dalam tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu. Demikian pula peristiwa-peristiwa berikutnya pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Termasuk kelahiran agama Syiah Rafidhah, dialah yang membidaninya.

Dalam upaya menyusupkan pemahaman-pemahaman sesatnya, Ibnu Saba’ menyisir wilayah-wilayah Islam dari Hijaz, Bashrah, Kufah, dan Syam. Akan tetapi, di negeri-negeri tersebut usahanya gagal. Abdullah bin Saba’ kemudian menuju Mesir. Di negeri inilah, dia bisa menyemai pemahaman-pemahaman sesatnya dan berhasil mengelabui sebagian umat yang jahil hingga terprovokasi.

Ibnu Saba’ melakukan gerakan propaganda anti-‘Utsman bin ‘Affan. Masyarakat dihasut agar menentang pemerintah. Fitnah dan api kebencian terhadap pemerintah disebar. Tuduhan-tuduhan miring tertuju kepada pribadi Utsman radhiallahu ‘anhu dan pemerintahannya, dia ramu dengan pikiran-pikiran busuknya. Keadaan bertambah parah hingga terjadilah musibah besar, terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.

Dalam tragedi pembunuhan Utsman bin Affan, Yahudi—melalui Abdullah bin Saba—berhasil memengaruhi kaum muslimin yang jahil untuk keluar dari prinsip-prinsip agama yang sangat agung, yaitu (1) taat kepada waliyul amr (pemerintah) muslim, (2) prinsip mencintai sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum, dan (3) mengikuti jalan al-Khulafa ar-Rasyidin.

Kabut kelam menyelimuti kaum muslimin. Api fitnah tak kunjung memadam. Sepeninggal Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ia melancarkan makar baru. Ia membangkitkan fanatisme buta terhadap kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya. Akhirnya, tertanam akidah (keyakinan) di kalangan para pengikut Abdullah bin Saba’ bahwa keimamahan (kepemimpinan) yang pertama dipegang oleh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan berakhir pada imam ke-12, Muhammad bin al-Husain al-Mahdi.

Inilah keyakinan kalangan Syiah; sebuah keyakinan yang sesat. (‘Aqa’idu asy-Syiah, asy-Syaikh Mahmud Abdul Hamid al-‘Asqalani, hlm. 21)

 

Antara Ibnu Saba’ al-Yahudi dan Syiah Rafidhah

Rafidhah (Syiah) adalah agama baru yang berakar dari agama Yahudi. Sisi kesamaan antara agama Syiah Rafidhah dan Yahudi banyak kita dapati. Semua itu menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara Yahudi dan Rafidhah.

Berikut adalah beberapa sisi kesamaan antara Rafidhah dan pemikiran Ibnu Saba’ al-Yahudi.

  1. Dia adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan rububiyah dan uluhiyah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ali radhiallahu ‘anhu adalah ilah (sesembahan) dan Rabb (pengatur alam semesta).

Keyakinan Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah. Referensi Syiah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ menyebarkan keyakinan kufur tersebut. Lihat sebagai bukti pada kitab rujukan mereka: (1) Rijal al-Kisysyi hlm. 98 cetakan Karbala, dan (2) Tanqihul Maqal fi Ahwali ar-Rijal (2/183—184) cetakan Najef 1350 H.[1]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan akidah wasiat, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada Ali radhiallahu ‘anhu untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau.

Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah, bahkan bagian penting dari akidah Rafidhah. Bukankah hal ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara agama Rafidhah dan Ibnu Saba? Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ adalah hasil pemikiran Yahudinya sebelum ia menyusup di tengah-tengah muslimin.

Buku-buku rujukan Syiah sendiri yang menetapkan bahwa keyakinan wasiat berasal dari Abdullah bin Saba’. Al-Mamaqani dalam bukunya Tanqih al-Maqal (2/184) menukil ucapan Muhammad bin ‘Umar al-Kisysyi—seorang tokoh Rafidhah, “Ahlul ilmi menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulu seorang Yahudi lalu masuk Islam dan berwala’ kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang mendapat wasiat dari Musa. Adapun setelah masuk Islam, dia juga mengatakan hal semisal (yakni wasiat –pen.) terhadap ‘Ali.”[2]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan kebencian terhadap Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Keyakinan ini adalah bagian terpenting dalam akidah Rafidhah.

Abu Ishaq al-Fazari menyebutkan riwayat dengan sanadnya kepada Suwaid bin Ghafalah, bahwa dia mengunjungi ‘Ali radhiallahu ‘anhu di masa kekhalifahannya. Suwaid berkata, “Sungguh, aku melewati suatu kaum yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga menyatakan bahwa engkau menyembunyikan celaan padakeduanya (yakni Abu Bakr dan ‘Umar). Di antara kaum itu adalah Abdullah bin Saba’.”—dan dia adalah orang pertama yang menampakkan keyakinan ini.

Ali berkata, “Apa urusanku dengan si hitam yang busuk ini (Ibnu Saba’)?! Aku berlindung kepada Allah dari memendam dalam hati sesuatu terhadap keduanya selain kebaikan.” Kemudian ‘Ali radhiallahu ‘anhu membuang Ibnu Saba’ ke Madain.

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan riwayat kisah di atas dalam Lisanul Mizan (3/290) dengan sanad yang sahih.

Itulah beberapa akidah Ibnu Saba’ si Yahudi yang diembuskan di tengah kaum muslimin untuk merusak akidah. Akidah tersebut benar-benar serupa dengan akidah Rafidhah (Syiah) yang memang ditumbuhkan oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah, menyebutkan banyak sisi kesamaan Syiah Rafidhah.[3]

Tidak diragukan, ketika akidah batil ini masuk dalam tubuh kaum muslimin dan berkembang di sebuah negeri Islam, akan sangat mudah bagi musuh-musuh Islam melumpuhkan negeri Islam.

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Lihat Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.

[2] Dinukil dari ta’liq Muhibudin al-Khathib terhadap kitab al-Muntaqa Min Minhajil I’tidal hlm. 318.

[3] Untuk menyembunyikan hubungan mesranya dengan Yahudi, Syiah Rafidhah bersama dengan orientalis berusaha menghilangkan jejak Ibnu Saba’. Namun, usaha mereka sia-sia. Sebab, keberadaan Ibnu Saba’ adalah kesepakatan (ijma’) Ahli Hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, demikian pula kesepakatan ahli tarikh. Bahkan, kitab-kitab rujukan Rafidhah sendiri menetapkan keberadaan Ibnu Saba’.

Apakah masuk akal, jika mereka mengingkari kitab-kitab yang mereka sucikan dan agungkan? Mustahil tentunya, kecuali jika mereka telah dungu atau kehilangan akal, atau telah berubah menjadi kera sebagaimana nenek moyang mereka. Dan inilah kenyataannya!

Syiah dan Kemaksuman Para Imam

Kaum Syiah Rafidhah meyakini bahwa 12 imam mereka memiliki sifat ishmah (maksum). Menurut mereka, maksum adalah tidak pernah berbuat dosa besar ataupun kecil, bahkan tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali, baik ucapan maupun perbuatan. Disebutkan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Syiah Imamiyah (Rafidhah, -pen.) bersepakat atas kemaksuman para imam—‘alaihimus salam—dari dosa-dosa, yang kecil dan yang besar. Mereka sama sekali tidak memiliki dosa, baik secara sengaja, lupa, keliru dalam penakwilan, maupun Allah Subhanahu wata’ala yang menjadikannya lalai.” (Biharul Anwar, 25/211, Ushul Madzhab asy-Syiah, 775)

Demikian pula yang ditegaskan oleh seorang tokoh Syiah yang hidup di abad keempat, Ibnu Babawaih. Ia berkata, “Agama Syiah Imamiyah menyatakan, ‘Keyakinan kami tentang para imam, mereka adalah maksum, disucikan dari setiap kotoran, tidak pernah berbuat dosa kecil ataupun besar, dan tidak pernah bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal yang Allah l perintahkan, serta senantiasa mengerjakan apa saja yang diperintahkan. Siapa yang mengingkari kemaksuman mereka dalam keadaan apa pun, sungguh ia telah menuduh mereka jahil. Siapa yang menuduh mereka jahil, sungguh ia telah kafir. Keyakinan kami terhadap mereka bahwa mereka maksum, memiliki sifat yang sempurna dan ilmu yang sempurna dari awal urusan mereka hingga akhirnya. Setiap keadaan mereka tidak memiliki sifat kekurangan, maksiat, dan tidak pula kejahilan’.” (al-I’tiqadat, hlm. 108—109, Ushul Madzhab Syiah, 780)

Mereka juga berkata, “Sesungguhnya para sahabat kami dari kalangan Syiah Imamiyah telah bersepakat bahwa para imam itu maksum dari berbagai dosa kecil ataupun besar, secara sengaja, keliru, ataupun lupa, sejak mereka lahir hingga bertemu Allah Subhanahu wata’ala.” (Biharul Anwar, 25/350—351)

Kesimpulan dari apa yang disebutkan di atas, bahwa:

1. Yang dimaksud maksum menurut versi Syiah adalah tidak pernah berbuat dosa apa pun, kecil atau besar, bahkan tidak pernah keliru, lalai, dan lupa.

2. Kemaksuman para imam adalah hal yang telah disepakati/ijma’ ulama.

3. Siapa yang mengingkari kemaksuman para imam, dia kafir dan keluar dari Islam.

Anehnya, tatkala menafikan adanya sifat sahwu (lupa) dari para imam, mereka menetapkan bahwa Nabi n mengalami kelupaan. Mereka anggap pendapat yang mengingkari adanya sifat lupa dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai mazhab yang ghuluw dan melampaui batas. Al-Majlisi berkata dalam kitabnya, Man La Yahdhuruhul Faqih, “Sesungguhnya para ghulat (kelompok yang berlebihlebihan) dan ahli tafwidh—semoga Allah Subhanahu wata’ala melaknat mereka—mengingkari sifat lupa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka berkata, ‘Seandainya bisa terjadi kelupaan di dalam shalat, bisa pula terjadi kelupaan dalam menyampaikan agama. Sebab, shalat adalah kewajiban sebagaimana halnya meyampaikan agama juga kewajiban… Lupanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak sama dengan lupanya kita karena lupa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mberasal dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala yang menjadikannya lupa dalam rangka mengabarkan bahwa beliau adalah manusia biasa dan seorang makhluk, sehingga tidak dijadikan sebagai Rabb yang disembah selain-Nya.

Selain itu untuk menerangkan kepada manusia hukum sujud sahwi saat terjadi kelupaan. Adalah Syaikh kami, Muhammad bin al-Hasan bin Ahmad bin al-Walid berkata, ‘Tingkatan ghuluw yang pertama adalah mengingkari bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah lupa. Aku mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wata’ala untuk menulis sebuah kitab khusus yang menetapkan sifat lupa bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bantahan terhadap para pengingkarnya’.” (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/234)

Bahkan, ar-Ridha menetapkan bahwa sifat lupa dapat dialami oleh siapa saja, bahkan para imam mereka sekalipun. Ia berkata, “Sesungguhnya yang tidak pernah lupa hanyalah Allah Subhanahu wata’ala. Kitabkitab Syiah banyak meriwayatkan berita tentang lupanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalat.” (Man La Yahdhuruhul Faqih, 1/233)

Oleh karena itu, dalam kitab-kitab Syiah sendiri banyak sekali dinukil bahwa para imam mereka mengalami kesalahan dan kelupaan.Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah yang disebutkan dalam kitab Nahjul Balaghah—salah satu kitab kebanggaan kaum Syiah—tentang doa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي فَإِنْ عُدْتُ فَعُدْ عَلَيَّ باِلْمَغْفِرَةِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا وَأَيْتُ مِنْ نَفْسِي وَلَمْ تَجِدْ لَهُ وَفَاءً عِنْدِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا تَقَرَّبْتُ بِهِ إِلَيْكَ بِلِسَانِي ثُمَّ خَالَفَ قَلْبِي، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي رَمَزَاتِ الْأَلْحَاظِ وَسَقَطَاتِ الْأَلْفَاظِ وَشَهَوَاتِ الْجِنَانِ وَهَفَوَاتِ اللِّسَان

“Ya Allah, ampunilah aku sesuatu yang Engkau lebih mengetahui dariku, dan jika aku mengulanginya, kembalilah kepadaku dengan ampunan-Mu. Ya Allah, ampunilah aku terhadap apa yang aku janjikan pada diriku lalu Engkau mendapatiku tidak menepatinya. Ya Allah, ampunilah aku terhadap sesuatu yang aku mendekatkan diri kepada-Mu dengan lisanku, tetapi hatiku menyelisihinya. Ya Allah, ampunilah aku dari cibiran mata (merendahkan atau mengolokolok, –pen.), dan ketergelinciran lafadz ucapan, syahwat hati, dan kekeliruan lisan.” (Nahjul Balaghah, hlm. 104)

Seandainya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dianggap sebagai imam yang maksum, lantas mengapa beliau berdoa memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wata’ala  dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana yang disebutkan oleh riwayat ini? Demikian pula, mereka meriwayatkan dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq bahwa beliau berkata,

إِنَّا لَنُذْنِبُ وَنَسِيءُ ثُمَّ نَتُوبُ إِلَى اللهِ مَتَابًا

“Sesungguhnya kami berbuat dosa dan keburukan, lalu kami bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya.” (Biharul Anwar, 25/207)

Kaum Syiah juga meriwayatkan dari salah seorang imam mereka, Abul Hasan Musa al-Kazhim, ia berkata, “Wahai Rabbku, aku bermaksiat kepada-Mu dengan lisanku. Seandainya Engkau berkehendak, tentu Engkau telah menjadikanku bisu. Aku bermaksiat kepada-Mu dengan pandanganku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku buta. Aku telah bermaksiat kepada-Mu dengan pendengaranku,jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku tuli. Aku bermaksiat kepadamu dengan tanganku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku buntung. Aku telah bermaksiat kepada- Mu dengan kemaluanku, jika Engkau ingin, Engkau telah menjadikanku mandul. Aku bermaksiat kepada-Mu dengan kakiku, jika Engkau ingin, tentu Engkau telah menjadikanku lumpuh. Aku telah bermaksiat kepada-Mu dengan seluruh anggota tubuhku yang telah Engkau berikan kepadaku sebagai kenikmatan, dalam keadaan aku tidak mampu membalas-Mu.” (Biharul Anwar, 25/203)

Masih banyak riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab kaum Syiah sendiri yang menetapkan bahwa para imam pun tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, al-Majlisi bingung menyikapi masalah kemaksuman para imam ini karena banyak riwayat yang menunjukkan bahwa para imam mereka pun mengalami kelupaan dan kesalahan. Sementara itu, di sisi lain dia harus berhadapan dengan pernyataan para tokoh Syiah lainnya yang menganggap hal ini sebagai ijma’ dan mengafirkan orang yang mengingkari kemaksuman para imam. Ia berkata, “Masalah ini memang sangat rumit. Sebab, banyak riwayat dan ayat yang menunjukkan adanya kelupaan yang mereka (para imam, -pen.) alami, padahal para sahabat kami bersepakat—kecuali yang ganjil pendapatnya—tidak bolehnya hal tersebut terjadi pada mereka.” (Biharul Anwar, 25/351, Ushul Madzhab Syiah, 782)

Maksum Versi Ahlus Sunnah

Adapun Ahlus Sunnah meyakini bahwa para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallamterpelihara dan terjaga dalam menyampaikan wahyu yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Kaum muslimin sepakat bahwa mereka (para Nabi) adalah maksum (terpelihara) dalam hal yang mereka sampaikan dari Allah l. Tidak mungkin Allah Subhanahu wata’ala membiarkan mereka salah menyampaikan risalah dari-Nya. Dengan ini, tercapailah tujuan diutusnya (par rasul). Adapun sebelum diutus sebagai nabi tidak pernah bersalah atau berbuat dosa, tidak ada keharusan seperti itu dalam sifat kenabian.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah, 2/395)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Syiah dan Taqiyah

Taqiyah adalah sikap kehati-hatian dengan tidak menampakkan keyakinan yang terdapat di dalam hati di hadapan orang lain. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 12/314)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Taqiyah dengan lisan, sedangkan hati tetap tenang dengan keimanannya.” Ini pula yang dikuatkan oleh Abu Aliyah, Abu Sya’tsa’, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas, dan yang lainnya. (Fathul Bari, 12/314, Tafsir Ibnu Katsir, 1/358) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl: 106)

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Taqiyah yang disebut oleh Allah k dalam ayat ini adalah taqiyah terhadap orang-orang kafir, bukan kepada selain mereka.” (Tafsir at-Thabari, 6/316, Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 806)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan takut dirinya akan dibunuh (jika tidak melakukannya), sementara hatinya tetap tenang dengan keimanan, ia tidak dihukumi kafir.” Namun, jika ia memilih dibunuh dan bersabar di atas siksaan tanpa melakukan taqiyah, hal tersebut lebih utama. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan lebih memilih dibunuh, ia mendapatkan pahala yang lebih besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala.” (Fathul Bari, 12/314)

Adapun versi agama Syiah, Syaikh Mufid menyebutkan definisi taqiyah adalah ‘menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinan, serta menyembunyikannya di hadapan orang-orang yang menyelisihinya dan tidak menampakkan sesuatu di hadapan mereka yang dapat menyebabkan bahaya bagi agama atau dunianya.’ (Syarah Aqaidis Shaduq, al-Mufid, hlm. 261)

Sebagian lagi mengatakan bahwa taqiyah adalah seseorang mengatakan atau mengucapkan selain apa yang diyakini agar diri dan hartanya tidak ditimpa kemudaratan, atau agar kehormatannya tetap terjaga. (Muhammad Jawad, asy- Syiah fil Mizan, hlm. 48. Lihat pula Mas’alatut Taqrib, hlm. 330)

Menurut agama Syiah, melakukan taqiyah adalah salah satu rukun agama yang harus diamalkan. Ibnu Babawaih berkata, “Keyakinan kami tentang taqiyah, ia adalah kewajiban. Siapa yang meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” (al-I’tiqadat, 114) Ash-Shadiq berkata, “Seandainya aku katakan bahwa meninggalkan taqiyah seperti meninggalkan shalat, aku benar.”

(as-Sarair, Ibnu Idris, 479; Man La Yahdhuruhul Faqih, Ibnu Babawaih, 2/80; Ushul Madzhabis Syiah, hlm. 807) (al-Kafi, 2/219)

Bahkan, mereka menganggap orang yang tidak melakukan taqiyah adalah orang yang tidak beragama. Al-Kulaini meriwayatkan bahwa Ja’far bin Muhammad berkata, “Sesungguhnya sembilan persepuluh agama ini dalam taqiyah. Tidak ada agama bagi yang tidak melakukan taqiyah.” (Ushul al- Kafi, 2/217)

Al-Kulaini juga meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata, “Taqiyyah itu termasuk agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak bertaqiyyah.” Ibnu Babawaih juga mengatakan, “Taqiyyah itu wajib dan tidak boleh dihapus (hukumnya) sampai al-Qaim (Imam Mahdi, -pen.) keluar. Barang siapa meninggalkannya sebelum keluarnya al- Qaim, sungguh ia telah keluar dari agama  Allah l dan agama Imamiyah (Syiah Rafidhah, -pen.). Dan ia menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan para imam.” (al-I’tiqadat, hlm. 114—115)

Mereka juga meriwayatkan dari Ali bin Musa ar-Ridha bahwa ia berkata, “Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling banyak melakukan taqiyah.” Ada yang bertanya kepadanya, “Wahai anak Rasulullah, sampai kapan?” Ia menjawab, “Sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu keluarnya al- Qaim. Barang siapa meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya al-Qaim, dia bukan dari kami.” (Ikmalu ad-Din, Ibnu Babawaih, hlm. 355; A’lam al-Wara, ath-Thabarsi, hlm. 408; Kifayatul Atsar,  Abul Qasim ar-Razi, hlm. 323. Lihat Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 808)

Jadi, wajar jika mayoritas kaum Syiah Rafidhah adalah para pendusta yang sangat mudah bersaksi palsu, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih-lebih lagi atas nama selain beliau. Benar apa yang  dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah,

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Aku tidak melihat seseorang yang lebih berani bersaksi palsu daripada kaum Syiah Rafidhah.” (Diriwayatkan al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/208; Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 9/114; al-Kifayah, al-Khatib al-Baghdadi, hlm. 126)  

UCAPAN ULAMA TENTANG KEDUSTAAN SYIAH RAFIDHAH

Diriwayatkan dari Yunus bin Abdil A’la bahwa al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku membolehkan seluruh persaksian ahli bid’ah, kecuali kaum Rafidhah.” (al- Kubra, al-Baihaqi, 10/208)

Al-Imam Malik rahimahullah ditanya tentang kaum Rafidhah. Beliau menjawab, “Jangan engkau berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka suka berdusta.” Yazid bin Harun t juga berkata, “Hadits setiap pelaku bid’ah (bisa) dicatat selama ia tidak mengajak kepada bid’ahnya, kecuali Rafidhah, karena mereka suka berdusta.” Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’id al-Asbahani bahwa Syarik berkata, “Aku mengambil ilmu (hadits, -pen.)

dari setiap yang aku temui kecuali Rafidhah, karena mereka memalsukan hadits dan menjadikan perbuatan itu sebagai bagian dari agama.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ulama riwayat dan pembawa sanad telah bersepakat bahwa kaum Rafidhah adalah kelompok yang paling pendusta. Dusta pada mereka adalah hal yang klasik. Oleh karena itu, para imam Islam mengetahui ciri khas kelompok ini adalah banyak berdusta.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah, 1/60—61)

Jelaslah bagi kita, bahwa ajaran taqiyah (baca: dusta) kaum Syiah Rafidhah adalah ajaran yang turun-temurun, diwariskan oleh para pendusta mereka melalui kitab-kitab hadits karya tokoh Rafidhah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Kontroversi Sikap Terhadap Ahlul Bait

        Di kalangan umat, muncul perbedaan yang demikian mencolok dalam menyikapi Ahlul Bait (keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Ada yang demikian tinggi memuliakan merekasampai menganggap sebagian Ahlul Bait sebagai Tuhanada pula yang demikian merendahkan dan membenci mereka.

        Ahlus Sunnah, sebagai kelompok yang senantiasa bersikap pertengahan, memiliki sikap memuliakan mereka namun tidak terlalu berlebihan. Karena Ahlul Bait juga manusia biasa, yang kemuliaan mereka tergantung pada agama mereka.

 

Siapakah Ahlul Bait?

        Ahlul Bait (أَهۡلُ ٱلۡبَيۡتِ) merupakan sebutan lain dari Alul Bait (أَلُ ٱلۡبَيۡتِ) dan Al-’Itrah (الْعِتْرَةَُ), sebagaimana yang dinyatakan al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad, asy-Syarif Abu Ja’far, dan yang lainnya. (Minhajus Sunnah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah [7/75] dan Daf’ul Kadzibil Mubin, karya Dr. Abdul Qadir bin Muhammad ‘Atha hlm. 27)

        Mereka adalah keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik keluarga yang tinggal serumah dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (yakni para istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam) maupun keluarga yang terkait hubungan nasab dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak diperbolehkan memakan harta shadaqah. Mereka adalah semua Bani Hasyim, semua putri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan juga anak cucu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga hari kiamat. Demikian pula Bani al-Muththalib menurut salah satu pendapat para ulama. (Lihat ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya al-Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami hlm. 222, dan Minhajus Sunni, 4/595, 7/239—240)

 

Bagaimanakah Menyikapi Ahlul Bait?

        Secara garis besar, ada tiga kelompok manusia yang berkontroversi di dalam menyikapi Ahlul Bait.

  1. Kelompok Pertama: Syi’ah Rafidhah

Mereka adalah orang-orang yang sangat berlebihan di dalam memuliakan dan mengultuskan Ahlul Bait (versi mereka)[1], bahkan di antara mereka (yakni kelompok Saba’iyyah) memosisikan ‘Ali bin Abi Thalib sebagai Tuhan yang berhak diibadahi. (lihat Firaq Mu’ashirah, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Iwaji, juz 1, hlm. 144—146)

        Mereka juga menyatakan bahwa para imam Ahlul Bait adalah ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui perkara-perkara gaib. Sebagaimana disebutkan al-Kulaini dalam kitabnya al-Kaafi (setingkat Shahih al-Bukhari di sisi Ahlus Sunnah) Kitabul “Hujah” juz 1, hlm. 149, dengan menukil (secara dusta) perkataan Ja’far ash-Shadiq (salah seorang Imam Ahlul Bait),

        “Kami adalah perbendaharaan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, kami adalah penerjemah wahyu Allah subhanahu wa ta’ala, kami adalah kaum yang ma’shum, Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan (umat manusia) untuk menaati kami dan melarang mereka untuk menyelisihi kami… Kami adalah hujah Allah subhanahu wa ta’ala yang kokoh atas seluruh makhluk yang berada di bawah naungan langit dan berpijak di atas bumi.”

        Adapun keyakinan bahwa para imam Ahlul Bait mengetahui perkara-perkara gaib, maka bisa dilihat dalam kitab al-Kaafi pula juz 1, hlm. 200-203 Kitabul Hujah, bab ‘Sesungguhnya para imam mengetahui sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi dan tidak ada sesuatu pun yang terluput dari mereka.’

        Mereka juga berkeyakinan bahwa para imam Ahlul Bait lebih mulia dari malaikat dan nabi, sebagaimana yang dikatakan Khomeini, “Sesungguhnya di antara prinsip terpenting dari agama kami adalah tidak ada seorang pun yang dapat meraih kedudukan para imam (kami), walaupun malaikat terdekat di sisi Allah subhanahu wa ta’ala atau nabi utusan Allah subhanahu wa ta’ala sekalipun.” (lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 25)

        Syi’ah Rafidhah juga berpandangan, bahwa di antara konsekuensi kecintaan kepada Ahlul Bait adalah bersikap bara’ (benci/berlepas diri) dari Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma serta mayoritas para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyyah, karya al-Imam Ibnu Abil ‘Iz, hlm. 697). Sehingga—dalam kaca mata mereka—siapa saja yang mencintai Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, maka dia tergolong sebagai musuh Ahlul Bait.

 

2. Kelompok Kedua: An-Nawashib atau An-Nashibah atau Ahlun Nashb.

        Mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa membenci dan memusuhi ‘Ali bin Abi Thalib dan anak cucunya (Ahlul Bait) merupakan bagian dari agama. (Lihat Lisanul ‘Arab dan Minhajus Sunnah, 4/554)

        Mereka sangat bangga ketika berhasil menyakiti Ahlul Bait, sampai-sampai tokoh kondang mereka yang bernama ‘Imran bin Hiththan melantunkan bait-bait kegembiraannya atas keberhasilan Abdurrahman bin Muljim al-Muradi dalam operasinya membunuh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Bait “petaka” itu adalah sebagai berikut:

        “Duhai sebuah tebasan pedang dari seorang yang kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala

        Tidaklah dia melakukannya kecuali untuk meraih ridha Allah subhanahu wa ta’ala

        Sungguh hari-hariku selalu mengingatnya

Karena keyakinanku bahwa dia (Abdurrahman bin Muljim) adalah seorang yang telah meraih pahala besar di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.” (al-Milal wan Nihal, karya asy-Syahrastani, hlm. 120)

 

3. Kelompok Ketiga: Ahlus Sunnah wal Jamaah atau as-Salafiyyun.

        Mereka adalah orang-orang yang berkeyakinan bahwa mencintai Ahlul Bait merupakan suatu kewajiban dalam agama.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa mencintai Ahlu Bait Nabi merupakan kewajiban dalam agama. (Minhajus Sunnah, 7/102)

        Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Termasuk dari pemuliaan dan berbakti kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berbuat baik kepada keluarga dan keturunan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (asy-Syifa 2/47, dinukil dari catatan kaki kitab Shabbul ‘Azab, hlm. 276)

        Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kami tidak mengingkari adanya wasiat dan perintah untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait, menghormati dan memuliakan mereka. Karena mereka berasal dari keturunan yang baik, dan dari keluarga yang termulia di muka bumi ini dalam hal ketinggian derajat, kedudukan, dan nasab. Lebih-lebih jika mereka termasuk orang-orang yang mengikuti Sunnah Nabi….” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surat asy-Syuraa ayat 23)

        Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak berlebihan dalam memuliakan Ahlul Bait sebagaimana halnya Syi’ah Rafidhah, dan juga tidak membenci Ahlul Bait sebagaimana an-Nawashib. Sikap mereka penuh dengan keadilan dan jauh dari ekstrem (ghuluw). Pijakan mereka adalah wahyu Ilahi dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan hawa nafsu.

        Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Ahlus Sunnah wal Jamaah berlepas diri dari jalan Syi’ah Rafidhah yang berlebihan di dalam memuliakan sebagian Ahlul Bait dan mengklaim bahwa mereka (Ahlul Bait) ma’shum. Ahlus Sunnah juga berlepas diri dari jalan an-Nawashib yang memusuhi dan mencela Ahlul Bait yang istiqamah di atas agama ini, sebagaimana mereka berlepas diri dari jalan Ahlul Bid’ah dan Khurafat yang bertawassul dengan Ahlul Bait dan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan yang diibadahi selain Allah subhanahu wa ta’ala.” (Kitabut Tauhid, hlm. 92)

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka mereka mencintai seluruh orang-orang yang beriman, selalu berbicara dengan ilmu dan keadilan, bukan dari kalangan orang-orang bodoh lagi pengikut hawa nafsu. Mereka berlepas diri dari jalan Syi’ah Rafidhah sekaligus jalan an-Nawashib. Mereka mencintai semua sahabat yang terdahulu masuk Islam; mengerti kedudukan, keutamaan, dan keistimewaan para sahabat, serta selalu memerhatikan hak-hak Ahlul Bait yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada mereka….” (Minhajus Sunnah, 2/71)

        Namun bukan berarti pula setiap Ahlul Bait itu lebih utama dari seluruh manusia dan semuanya wajib dicintai.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Namun bukan berarti setiap Ahlul Bait itu lebih utama dan lebih berilmu dari seluruh kaum mukminin. Karena tolok ukur keutamaan adalah sempurnanya keimanan dan ketakwaan, bukan kedekatan hubungan nasab semata, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

        “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

        Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan, “Sikap Ahlus Sunnah terhadap Ahlul Bait adalah sikap yang adil, yaitu mencintai mereka yang istiqamah di atas agama ini, dan berlepas diri dari yang menyimpang dan menyelisihi Sunnah Nabi walaupun dari kalangan Ahlul Bait. Karena posisinya sebagai Ahlul Bait dan kerabat Rasul tidaklah bermanfaat hingga benar-benar istiqamah di atas agama ini.

        Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika turun firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          وَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤

        “Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.” (asy-Syu’ara’: 214)

        maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        “Wahai kaum Quraisy!atau yang senada dengan itu. Belilah (berusahalah untuk) diri-diri kalian, aku tidak bisa menjamin kalian dari azab Allah sedikit pun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththalib! Aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun. Wahai Fathimah bintu Muhammad! Mintalah harta kepadaku sekehendakmu, namun aku tidak bisa menjaminmu dari azab Allah sedikit pun.” (HR. al-Bukhari Kitabut Tauhid, hlm. 91—91)

 

Bukti Kebenaran Sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dan Kesesatan Syi’ah Rafidhah dan An-Nawashib

        Para pembaca, setelah kita ulas tiga kelompok yang berseberangan di dalam menyikapi Ahlul Bait, maka tampak jelas bagi siapa saja yang di hatinya ada kejujuran dan keadilan bahwa Ahlus Sunnahlah kelompok yang benar dan adil di dalam menyikapi Ahlul Bait. Adapun Syi’ah Rafidhah dan an-Nawashib telah terjatuh dalam sikap ekstrem (ghuluw), baik dalam hal pengultusan maupun pelecehan. Dan akan semakin jelas insya Allah, ketika mencermati ulasan berikut ini:

  1. Sikap ekstrem yang ada pada Syi’ah Rafidhah dan an-Nawashib dalam menyikapi Ahlul Bait adalah dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

        Sebagaimana dalam firman-Nya,

          يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَا تَغۡلُواْ فِي دِينِكُمۡ

        “Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian ekstrem (berlebihan) dalam agama kalian.” (an-Nisa’: 171)

        Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala selalu memerintahkan untuk berbuat adil, sebagaimana dalam firman-Nya,

          ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

        “Berbuatlah adil (karena) ia lebih dekat kepada ketakwaan.” (al-Ma’idah: 8)

  1. Sikap (permusuhan) yang ditempuh an-Nawashib terhadap Ahlul Bait merupakan sikap yang batil.

        Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

          إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ وَيُطَهِّرَكُمۡ تَطۡهِيرٗا ٣٣

        “Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)

        Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan sabdanya,

        أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتيِ

        “Aku ingatkan kalian dengan nama Allah untuk selalu berbuat baik kepada Ahlul Baitku.” (HR. Muslim, 4/1873)

  1. Sikap pengultusan Syi’ah Rafidhah terhadap Ahlul Bait juga merupakan sikap yang batil, bahkan jauh dari kejujuran dan keadilan. Perhatikanlah poin-poin berikut ini!
    • Mayoritas mereka membatasi Ahlul Bait hanya pada ‘Ali bin Abi Thalib, Fathimah, Hasan dan Husain. Mereka tidak memasukkan 12 putra dan 18/19 putri ‘Ali lainnya ke dalam lingkaran Ahlul Bait. Mereka juga tidak memasukkan putri-putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain Fathimah ke dalam lingkaran Ahlul Bait.

Lebih dari itu mereka keluarkan anak cucu Hasan dari lingkaran Ahlul Bait. Bahkan mereka keluarkan pula anak cucu Husain yang tidak disukai seperti Zaid bin ‘Ali bin Husain dan putranya yang bernama Yahya. Demikian pula putra imam mereka Musa al-Kazhim yang bernama Ibrahim dan Ja’far. (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 20 dan Shabbal ‘Azab ala Man Sabbal Ash-haab, karya al-Imam al-Alusi hlm. 279—281)

        Di dalam Shahih Muslim (2/752—753), disebutkan bahwasanya Fadhl bin ‘Abbas dan Abdul Muththalib bin Rabi’ah bin al-Harits bin Abdul Muththalib, (keduanya) meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar dijadikan sebagai petugas shadaqah, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِنَّ الصَّدَقَةَ لاَ تَحِلُّ لُحِمَمَّد وَلاَ لِآلِ مُحَمَّدٍ، وَإِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

         “Sesungguhnya shadaqah itu tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ahlul Bait), karena shadaqah merupakan kotoran manusia.”

        Para pembaca, kalau putra ‘Abbas bin Abdul Muththalib dan anak cucu al-Harits bin Abdul Muththalib masuk ke dalam lingkaran Ahlul Bait, tentunya anak cucu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, dan anak cucu ‘Ali bin Abi Thalib lebih berhak masuk ke dalam lingkaran Ahlul Bait. Tidakkah kaum Syi’ah Rafidhah mau berpikir, walau sejenak?!

        Demikian pula, mereka keluarkan para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari lingkaran Ahlul Bait. Mereka berdalil dengan surat al-Ahzab ayat 33, yakni lafadz (عَنكُمْ)[2] menunjukkan bahwa yang dituju adalah laki-laki, sehingga para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak termasuk dari Ahlul Bait.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—setelah menyebutkan surat al-Ahzab ayat 30—34—berkata, “Ini (justru -pen.) menunjukkan bahwa para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul Bait. Karena konteks ayat-ayat tersebut sesungguhnya tertuju untuk mereka (dimulai dengan seruan يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ / Wahai para istri Nabi -pen.).

        Firman-Nya, لِيُذۡهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجۡسَ أَهۡلَ ٱلۡبَيۡتِ  (untuk menghilangkan kotoran dari kalian hai Ahlul Bait) justru menunjukkan bahwa seruan tersebut juga mencakup para Ahlul Bait lainnya, seperti Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Dan Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan dengan bentuk mudzakkar (laki-laki) agar seruan ini lebih mencakup orang-orang yang dituju dari lelaki dan wanita Ahlul Bait.”[3] (Minhajus Sunnah, 4/23—24)

  • Keyakinan batil mereka bahwa para imam Syi’ah mengerti perkara-perkara gaib, sehingga ketinggian kedudukan mereka tidak bisa dicapai oleh malaikat terdekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala dan nabi utusan Allah subhanahu wa ta’ala sekalipun, merupakan pendustaan dan pelecehan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

        Bagaimana tidak?! Dialah yang telah berfirman,

          قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُۚ

        Katakanlah, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65)

        Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

        أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

        “Aku adalah pemimpin (pemuka) anak cucu Adam di hari kiamat.” (HR. Muslim, 4/1782 no. 2278)

        Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas seluruh makhluk.” (al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj 15/40)

  • Adapun klaim mereka bahwa para imam Ahlul Bait itu ma’shum berdasarkan surat al-Ahzab ayat 33, maka sungguh tidak benar.

        Karena /pembersihan dalam ayat tersebut tidak bermakna ‘ishmah (terjaga dari segala dosa). Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

          مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجۡعَلَ عَلَيۡكُم مِّنۡ حَرَجٖ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمۡ وَلِيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ٦

        “Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Ma’idah: 6)

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Di dalam ayat tersebut terdapat keterangan bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala suka, ridha, dan memerintahkan kalian untuk melakukan amalan-amalan tersebut[4].

        Siapa saja yang mengerjakannya maka dia akan meraih kecintaan dan keridhaan-Nya, dan siapa saja yang tidak mengerjakannya maka dia tidak dapat meraihnya.” (Minhajus Sunnah, 4/260)

        Adapun pembersihan dosa itu sendiri, maka dengan dua cara yaitu; tidak mengerjakan perbuatan dosa tersebut atau bertaubat dari dosa yang dilakukan. (Minhajus Sunnah, 7/79—80)

 

Aneh Tapi Nyata

        Dalam bahasan yang lalu, telah dijelaskan bahwasanya Syi’ah Rafidhah sangat berlebihan dalam mencintai Ahlul Bait (versi mereka). Namun ketahuilah, hakikatnya mereka tidak beda dengan an-Nawashib di dalam memusuhi Ahlul Bait. Memang ini terasa aneh, tapi itulah fakta dan kenyataan.

        Di antara sekian bukti dari permusuhan mereka terhadap Ahlul Bait adalah sebagai berikut:

  • Pernyataan mereka bahwa para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah “pelacur”. Dalam Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal 57—60, ath-Thusi menukilkan (secara dusta) perkataan Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah, “Kamu tidak lain hanyalah seorang dari sembilan pelacur yang ditinggalkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….” (Daf’ul Kadzibil Mubin, hlm. 11)
  • Pelecehan mereka terhadap ‘Ali bin Abi Thalib sebagaimana dalam kitab Salim bin Qais, hlm. 221, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersama ‘Aisyah hanya mempunyai satu selimut, dan beliau pun shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur (ketika itu) di antara Ali dan ‘Aisyah dengan satu selimut tersebut. Di saat bangun malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil selimut tersebut dan meletakkannya di antara Ali dan ‘Aisyah.” (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 273)
  • Pelecehan mereka terhadap Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dia menikah dengan ‘Ali bin Abi Thalib karena terpaksa. Sebagaimana dalam kitab al-Kaafi (al-Furuu’ minal Kaafi), “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan ‘Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah, maka beliau pun menemui keduanya, dan Fathimah saat itu sedang menangis.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menangis? Demi Allah, kalaulah ada dari keluargaku yang lebih baik dari ‘Ali maka aku akan nikahkan kamu dengannya, tidak dengan ‘Ali. Namun Allah subhanahu wa ta’ala yang menikahkan kamu.” (Dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 272)
  • Mereka ramai-ramai mengeroyok (memukuli) Hasan bin ‘Ali, hingga salah seorang dari mereka (al-Jarrah bin Sinan) berhasil menusuk paha Hasan hingga robek dan mengenai tulangnya. (Lihat asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm.
  • Mereka telah berkhianat kepada Husain bin Ali, hingga menyebabkan terbunuhnya beliau radhiallahu ‘anhuma. Sebagaimana yang disebutkan Muhsin al-Amin dalam A’yaanusy Syi’ah bagian I hlm. 34, “Kemudian 20.000 penduduk Irak membai’at Husain, lalu mereka berkhianat dan tidak menaatinya, padahal bai’at ada di leher mereka. Hingga akhirnya mereka membunuhnya.” (Dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 272)
  • Adapun Ahlul Bait lainnya, maka sangat banyak pelecehan terhadap mereka, sebagaimana dalam buku-buku ternama Syi’ah. (Lebih rincinya lihat kitab asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 266—297)

        Karena itu, tidaklah mengherankan bila:

  1. ‘Ali bin Abi Thalib berdoa (seperti yang mereka nukilkan), “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Maka gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 300)
  2. Hasan bin ‘Ali berkata, “Demi Allah, menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku, mereka berupaya untuk membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 300)

        radhiallahu ‘anhuma. Husain bin ‘Ali berdoa, “Ya Allah, jika Engkau beri mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, maka porak porandakanlah mereka dan jadikanlah mereka berkeping-keping. Dan janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Karena kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan membunuh kami.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 302)

  1. ‘Ali bin Husain Zainal Abidin berkata, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 303)
  2. Muhammad al-Baqir berkata, “Kalau seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait, hlm. 303)
  3. Ja’far Ash-Shadiq berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala berlepas diri dari orang-orang yang benci terhadap Abu Bakr dan ‘Umar radhiallahu ‘anhuma.” (Siyar A’lamin Nubala’, karya Adz-Dzahabi, 6/260)

        Demikianlah apa yang dapat kami sajikan seputar bahasan Ahlul Bait. Mudah-mudahan kita dibimbing Allah subhanahu wa ta’ala untuk selalu bersikap adil terhadap Ahlul Bait, dan dijauhkan dari jalan an-Nawashib yang berlebihan di dalam memusuhi mereka, serta jalan Syi’ah Rafidhah yang juga memusuhi Ahlul Bait dengan berkedok kecintaan kepada mereka.

        Amiin, ya Mujibas Sa’iliin.

 Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

 


[1] Karena mereka membatasi Ahlul Bait pada orang-orang tertentu saja, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

[2] Dhamir ‘kum’ adalah kata ganti orang kedua laki-laki dalam bentuk jamak.

[3] Di dalam bahasa Arab, dhamir (kata ganti) laki-laki terkadang ditujukan untuk laki-laki dan wanita (sekaligus).

[4] Pembersihan yang terdapat pada surat Al-Ahzab ayat 33 terkait dengan perintah dan larangan yang terdapat dalam ayat 30-32. Adapun pembersihan yang terdapat pada surat al-Ma‘idah ayat 6 terkait dengan perintah bersuci (thaharah).