Selamatkan Indonesia dari Makar Syiah Rafidhah!

Indonesia adalah sebuah negara yang berpotensi besar. Negeri yang subur, kaya dengan sumber daya alam, memiliki wilayah darat yang sangat luas membentang dari timur ke barat. Indonesia juga memiliki wilayah perairan yang lebih luas dari daratan dengan kekayaan bahari yang luar biasa. Walhamdulillah.

Lebih istimewa dari itu semua, Indonesia adalah negara dengan sumber daya manusia yang sangat besar dengan mayoritas penduduknya kaum muslimin.

Dengan kekayaan yang demikian besar, tidak mengherankan kalau dahulu Belanda menjajah negeri ini selama kurang lebih 350 tahun. Jepang tidak pula ketinggalan menginginkan kekuasaan di negeri ini.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, upaya-upaya untuk menumbangkan negeri kita tidak berhenti. Muncul berbagai pemberontakan seperti pemberontakan G30S/PKI dan gerakan-gerakan separatis yang berusaha merusak stabilitas dan keamanan negeri. Kasus Timor Leste, pemberontakan RMS di Maluku, adalah sekian dari upaya orang kafir untuk mengobrak-abrik negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Kita tidak boleh merasa aman, dipastikan Yahudi terus berupaya menggoyangkan stabilitas NKRI dalam menghancurkan kaum muslimin atau negeri Islam. Syiah Rafidhah telah berhasil memanaskan suhu politik Timur Tengah, yang mana berhasil melemahkan negeri-negeri Islam di Tanah Arab.

Yahudi sepertinya—bahkan dipastikan, dengan senantiasa melihat sejarah masa lalu—berupaya menancapkan kekuasaan Syiah Rafidhah di Republik Indonesia.

Syiah Rafidhah di negeri kita ini ternyata terus bekerja, berupaya keras menyusup di tengah kaum muslimin demi menebarkan kesesatan mereka seperti yang dilakukan kakek mereka, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi.

Tokoh Syiah Rafidhah Indonesia sekaligus ketua IJABI, Jalaludin Rahmat pernah berkata, “… Kita adalah sebuah kelompok keagamaan yang mendunia, jadi berbeda dengan kelompok Ahmadiyah yang menyambut pukulan yang mematikan itu dengan senyuman. Orang-orang Syiah pada suatu saat tidak akan membiarkan tindakan kekerasan itu terus-menerus terjadi. Karena buat mereka, mengorbankan darah dan mengalirkannya bersama darah Imam Husein adalah satu mimpi yang diinginkan oleh orang Syiah. Saya tidak bermaksud mengancam ya, tapi apakah kita harus memindahkan konflik Sunnah-Syiah dari Irak ke Indonesia?”

Kita harus menyadari rekam jejak yang buruk dari kaum Rafidhah, kebusukan makar mereka sudah semestinya menjadikan kita berhati-hati. Kita juga harus menyadari bahwa, saat ini Rafidhah telah memiliki daulah yang cukup kuat dengan persenjataan lengkap, Republik Iran.

Dalam Perang Yaman, Iran punya andil besar dalam memasok senjata untuk kaum Rafidhah Houthi dalam memerangi Ahlus Sunnah. Hingga saat ini perang masih terus berkecamuk.

Kita juga harus menyadari bahwa mereka benar-benar bekerjasama dengan Yahudi (Amerika) dalam meluluskan misinya, walaupun di media massa ditampakkan seolah-olah mereka anti-Amerika, termasuk bualan Khomeini di masa revolusinya. Namun semua itu dusta dan skenario Yahudi.

Dalam kurun terakhir ini, kita saksikan perkembangan Syiah di negeri ini cukup pesat. Banyak bentuk makar Rafidhah di negeri ini. Di antara upaya yang mereka lakukan adalah sebagai berikut.

 

Pengiriman Pelajar ke Iran

Pengiriman ini telah mereka lakukan cukup lama. Banyak mahasiswa Indonesia yang sedang dan telah belajar di Iran. Pada 20 Mei 2014, situs Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menayangkan berita tentang wisuda sejumlah mahasiswi Indonesia di Iran. Disebutkan bahwa mahasiswi Indonesia yang tengah kuliah di beberapa universitas di Iran berjumlah 200 orang yang terdiri dari 148 orang di kota Qom, 10 orang di Tehran, 8 orang di Esfahan, 7 orang di Gorgan, 14 orang di Mashhad, dan 13 orang di Qeshm.[1]

Sumber lain menyebutkan bahwa pada 2007, ada ribuan pemuda Indonesia yang belajar Syiah langsung di Iran. Beberapa tahun lagi mereka akan kembali. Sekembalinya dari Iran, banyak kader mereka menjadi pegiat dakwah Syiah di negeri ini dengan berbagai lembaga pendidikan atau yayasan yang mereka bina dan kelola.

 

Pendirian Islamic Cultural Center (ICC)

Di Indonesia, Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran disebut ICC (Islamic Cultural Center). Lembaga ini berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah kemudian didirikan Iranian Corner di beberapa tempat di UIN dan Universitas Muhammadiyah.

Di antara tokoh-tokoh yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab (salah seorang Ketua MUI—Majelis Ulama Indonesia Pusat) dan Prof. Quraish Shihab (mantan Menteri Agama), Dr. Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.

 

Pendirian Iranian Corner di Perguruan Tinggi

Di antara upaya menyebarkan agama Syiah yang menyasar kalangan mahasiswa dan akademisi, Rafidhah membuka Iranian Corner. Perkembangan Iranian Corner di Indonesia khususnya perguruan tinggi cukup marak. Pada tahun 2015 saja sudah didirikan 12 Iranian Corner di berbagai perguruan tinggi. Yang sangat menyedihkan, Iranian Corner ditempatkan di universitas-universitas bernuansa Islam, IAIN, UIN, dan Universitas Muhammadiyah.

Di Jakarta, Iranian Corner ada di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Di Yogyakarta, kota sejarah dan kota pelajar, bahkan ditempatkan tiga Iranian corner, yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di Malang, Universitas Muhammadiyah Malang tidak ketinggalan menempatkan Iranian Corner di universitasnya. Demikian pula di UIN Bandung dan UIN Riau. Allahul Musta’an.

Melalui Iranian Corner, terbuka lebar pintu pertukaran budaya dan transfer ideologi Syiah Rafidhah, pemutaran film, seminar-seminar tentang Khomeini dan revolusinya. Demikian pula hibah gratis buku-buku budaya, beasiswa gratis di negeri Iran bagi kader-kader yang diharapkan menjadi ujung tombak perjuangan Rafidhah di Indonesia pada masa depan.

 

Kampanye Persaudaraan Sunni Syiah

Di antara makar Syiah Rafidhah adalah upaya menyerukan bahwa Syiah Rafidhah sama dengan Ahlus Sunnah. Tidak ada perbedaan prinsip yang mendasar antara Sunni dan Syiah Rafidhah. Hebatnya, kampanye ini juga dilakukan dengan meminjam tangan orang-orang yang ditokohkan di negeri ini.

Sebuah pernyataan aneh diungkapkan Grand Syekh Al-Azhar Prof. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Ahmad ath-Thayyeb saat dimintai pandangannya oleh Dirjen Bimas Islam terkait permasalahan Sunni dan Syiah di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jakarta, Senin (22/02/2016).

Dia mengatakan bahwa Ahlus Sunnah bersaudara dengan Syiah, tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, ajaran Syiah dekat dengan Ahlus Sunnah. Perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya pada masalah imamiah. Syiah mengatakan imamiah bagian dari ushuluddin, adapun kita mengatakan sebagai masalah furu’.

Ini di antara kampanye besar-besaran di Indonesia untuk memasukkan agama Syiah Rafidhah di negeri ini. Di Indonesia, benar-benar ada upaya menebarkan opini di tengah masyarakat bahwa Syiah dan Sunni bedanya sedikit, hanya masalah furu’ (cabang) dan tidak menyentuh masalah ushul. Banyak masyarakat awam menilai bahwa Syiah (Rafidhah) adalah “mazhab kelima” dalam Islam. Penilaian ini semakin kuat dengan ucapan para penyeru kesesatan yang menyatakan tidak ada beda antara Sunni dan Syiah.

Mengapa ucapan ini dibesar-besarkan di negeri Indonesia, saat mata manusia menyaksikan kekejian Syiah Rafidhah terhadap Sunni di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman?

Seakan-akan mereka mengatakan, “Tenanglah kalian, wahai muslimin Indonesia, Syiah Rafidhah di Indonesia tidak sama dengan Syiah Rafidhah yang ada di negara-negara konflik. Tetap tidurlah kalian dan tetaplah nyaman di negeri kalian.”

Mengapa kalimat ini diucapkan di Indonesia, bahkan di Kantor MUI Jakarta? Padahal ulama Ahlus Sunnah bersepakat tentang kesesatan Rafidhah. Bahkan, MUI sendiri telah menerbitkan buku tentang kesesatan Syiah?

 

Upaya Merusak Akhlak dan Moral Kaum Muslimin

Termasuk daya tarik (baca: kebejatan moral) dari agama sesat adalah ajaran kawin kontrak (mut’ah) yang sesungguhnya adalah zina, mengatasnamakan agama. Di satu sisi ajaran kotor ini akan merekrut banyak pengikut. Di sisi lain, ajaran ini akan merusak moral bangsa dan melemahkan negara.

Praktik nikah mut’ah (baca: kawin kontrak) tenyata sangat laris di dunia kampus di kota-kota besar di Indonesia, seperti Bandung, Surabaya, Makassar, dan Yogyakarta.

Seorang penulis skripsi yang berjudul “Perempuan dalam Nikah Mut’ah” memaparkan hasil survei yang dilakukannya bahwa nikah mut’ah banyak dilakukan oleh kalangan civitas akademika. Jenis perjanjiannya pun bermacam-macam. Sebagian data yang didapat menunjukkan bahwa di antara mereka ada yang memilih periode/jangka waktu selama si perempuan dalam masa studi. Jika si perempuan sudah lulus kuliah, nikah mut’ahnya pun turut selesai.

Kawin kontrak dalam agama Syiah Rafidhah adalah ibadah. Bahkan, Khomeini melakukan kawin kontrak dengan bocah perempuan berumur lima tahun. Sebuah kebejatan moral yang tidak pernah terbayangkan.

Salah satu doktrin Syiah yang keji dalam hal ini disebutkan dalam kitab tafsir mereka, Minhajus Shadiqin, yang dikarang oleh Fathullah al-Kasyani. Disebutkan di dalamnya, “Barang siapa melakukan nikah mut’ah sekali, akan dibebaskan sepertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah dua kali, akan dibebaskan dua pertiga tubuhnya dari api neraka. Barang siapa melakukan nikah mut’ah tiga kali, akan dibebaskan seluruh tubuhnya dari api neraka.”

 

Menebarkan Kebencian Terhadap Islam

Ini makar lain dari musuh-musuh Islam. Mereka memahami bahwa kemuliaan Islam akan diperoleh dengan kembali kepada ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni. Sungguh, apabila kaum muslimin bersemangat menempuh jalan untuk mempelajari Islam, mengerti tentang ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, niscaya jalan menuju kemuliaan benar-benar terbuka lebar. Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan jalan menuju jannah.

Agar kaum muslimin berpaling dari ajaran Islam, musuh-musuh Islam berupaya mencoreng Islam dengan menyematkan label terorisme dan radikalisme kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah. Intinya ialah agar umat Islam jauh dari agama yang lurus.

Sungguh, makar Rafidhah di negeri ini sangat banyak. Dengan taqiyah, penganut Syiah membaur di tengah masyarakat awam dan menampakkan diri sebagai pecinta dan pembela ahlul bait. Di lingkungan putih mereka berwarna putih, di lingkungan hitam mereka berwarna hitam, sembari menebarkan racun-racun kesesatannya.

Yayasan-yayasan Syiah dan lembaga pendidikan mereka dirikan. Buku-buku Syiah mereka terbitkan dan tebarkan. Mereka terus bekerja mengusahakan kebinasaan Islam—menurut anggapan mereka—padahal merekalah yang akan binasa.

يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٩

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (al-Baqarah: 9)

Sesungguhnya berbagai usaha mereka di atas semakin menunjukkan adanya gerakan mensyiahkan negeri ini. Dipastikan, mereka memiliki program yang sistematis.

Apa yang disebutkan tidak bermaksud melemahkan semangat Ahlus Sunnah. Kita yakin, makar mereka pasti akan dikalahkan. Akan tetapi, sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang mencintai Islam, sudah seharusnya kita menempuh jalan guna memberikan andil bagi kemenangan Islam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] http://www.kemlu.go.id/tehran/id/berita-agenda/berita-perwakilan/Pages/UNIVERSITAS-TEHRAN-WISUDAMAHASISWA-INDONESIA.aspx

Negeri Islam Target Operasi Syiah

Seperti nenek moyangnya, yaitu Yahudi, Syiah Rafidhah tidak akan ridha kepada kaum muslimin sampai mengikuti millah (agama) mereka[1]. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)

Tarikh membuktikan berbagai pengkhianatan Syiah Rafidhah kepada Islam dan negeri-negeri Islam, serta kerja samanya yang erat dan mesra dengan ahlul kitab, baik Yahudi dan Nasrani.

Daulah Abbasiyah tumbang karena pengkhianatan Syiah. Demikian pula lemah dan runtuhnya daulah Turki Utsmani. Bahkan, hingga saat ini, huru-hara yang terjadi di Irak, Lebanon, Suriah, Bahrain, Yaman, sesungguhnya adalah ulah Syiah Rafidhah.

 

Ambisi Mendirikan & Meluaskan Daulah

Rafidhah telah dan terus berupaya merusak akidah umat—dalam upayanya menguasai kaum muslimin dan negeri-negeri Islam.

Syiah Rafidhah tidak semata-mata bertujuan menyebarkan akidah, tetapi juga berupaya keras mendirikan daulah Rafidhah, dan bertekad meluaskan kekuasaan daulah Rafidhah dengan segala cara, termasuk dengan membantai Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sejarah telah membuktikan, demikian pula kenyataan di lapangan saat ini yang tidak bisa didustakan bahwa Rafidhah adalah kaum yang berambisi menguasai negara-negara Islam dan menciptakan berbagai kekacauan dan kerusakan, sama dengan nenek moyang mereka, Yahudi.

Lihatlah perang berkepanjangan yang terjadi di Irak, berakhir dengan dikuasainya Irak oleh orang-orang Syiah. Lihat pula berapa ribu Ahlus Sunnah dibantai di Irak dengan sadis, hampir tidak pernah diekspose.

 

Benarkah Mereka Berambisi Mendirikan Negara Syiah Rafidhah?

Dalam lintasan sejarah, tercatat bahwa kaum Syiah selalu berupaya mendirikan daulah. Apa yang mereka cita-citakan telah terwujud. Yang perlu pula dicatat, setiap daulah Syiah selalu membuat kerusakan di muka bumi, menyebarkan akidah kufur, berbagai kebid’ahan, dan menumpahkan darah Ahlus Sunnah.

 

Di antara daulah Syiah yang berhasil mereka tegakkan adalah:

  1. Daulah Qaramithah

Nama daulah ini dinisbahkan kepada pemimpin mereka, Hamdan Qirmith. Selanjutnya para pengikutnya dikenal dengan Qaramithah. Daulah Qaramithah didirikan oleh Abu Said al-Jannabi pada 278 H dan berpusat di Bahrain.

Daulah Qaramithah berideologi Syiah Isma’iliyah, ideologi sesat yang meyakini imamah (kepemimpinan) Ismail bin Ja’far ash-Shadiq. Kurang lebih 188 tahun daulah ini eksis. Mereka menguasai daerah Ahsa’, Hajar, Qathif, Bahrain, Oman, dan Syam[2].

 

  1. Daulah Fathimiyah

Daulah yang berasas Syiah ini berdiri pada 287 H, berpusat di Maroko, selanjutnya pindah ke Mesir. Daulah ini mengusung pemikiran Syiah Ismailiyah dan berkuasa selama kurang lebih 280 tahun. Mereka menguasai Syam, Mesir, Nablus, Asqalan, Beirut, Sis, dan sekitarnya.

 

  1. Daulah Buwaihiyah (321 H—447 H)

Buwaihiyah adalah salah satu sekte Syiah yang dinisbatkan kepada Buwaihi bin Fannakhasru ad-Dailami al-Farisi. Mereka berkuasa di Irak dan Persia lebih kurang satu abad ketika kekhalifahan ‘Abbasiyah sedang melemah di Baghdad.

 

  1. Hingga berdirilah Negara Iran

Republik Iran adalah negara Syiah Rafidhah, dibangun di atas asas Rafidhah dan berjuang untuk kepentingan Rafidhah. Dalam UUD Iran, Bab I, pasal ke-12 disebutkan asas tunggal negeri tersebut.

The official religion of Iran is Islam and the Twelver Ja’fari school [in usual al-Din and fiqh], and this principle will remain eternally immutable.”

“Agama resmi Iran adalah Islam di atas mazhab Imamiyah Itsna ‘Asyariyah Ja’fari [dalam hal akidah dan fikih], dan prinsip ini akan tetap abadi selamanya.”

Dengan tegas tanpa tedeng aling-aling, mereka menyatakan asas tunggal negara mereka adalah mazhab Itsna ‘Asyariah atau Rafidhah, yang sejatinya Islam berlepas diri darinya. Mereka juga telah bertekad untuk tidak pernah mengubah asas tersebut selama-lamanya.

Semua ini membuktikan bahwa Rafidhah tidak semata memperjuangkan pemikiran, tetapi juga berjuang memiliki wilayah dan menguasai negeri-negeri Islam.

 

Syiah Rafidhah Selalu Membuat Kerusakan dalam Islam dan Menguasai Negeri Islam

Sejarah Syiah yang kelam adalah bukti atas apa yang kita sebutkan. Berbagai aksi teror kepada kaum muslimin, makar kepada Islam dan daulah-daulah Islam, adalah catatan yang kita tidak boleh melupakannya. Dengan itu, kita akan memahami berbagai fitnah yang terjadi saat ini dan makar-makar Syiah yang telah dipancangkan di bumi Indonesia.

Pembunuhan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu didalangi oleh Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, sang arsitek agama Rafidhah.

Pada masa Daulah Qaramithah, kaum Syiah sering melakukan teror, bahkan pembantaian kepada kaum muslimin. Sebagai contoh, pada 317 H, Qaramithah dengan tentara sebanyak 700 orang dipimpin oleh Abu Thahir, menuju Makkah saat musim haji.

Mereka membantai para jamaah haji yang berada dalam Masjidil Haram lalu membuang mayat-mayatnya ke sumur Zamzam. Mereka bunuh pula orang-orang di jalan-jalan kota Makkah dan sekitarnya.

Makkah bersimbah darah. Jumlah korban dalam peristiwa itu mencapai tiga puluh ribu jiwa. Kelambu Ka’bah mereka rampas dan dibagi-bagikan kepada pasukan Syiah. Rumah-rumah penduduk dijarah, Hajar Aswad mereka cungkil dan mereka bawa ke Hajar, ibukota daulah mereka di Bahrain[3].

Demikian pula di masa daulah Buwaihiyah. Dinasti ini membuat banyak tradisi baru dalam Syiah. Mereka memperingati hari Ghadir Khum pada 18 Dzul Hijjah. Mereka membuat sebuah keyakinan dusta bahwa pada hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat Ali sebagai washi (orang yang diserahi wasiat) dan khalifah sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari raya besar Rafidhah.

Tradisi Buwaihi ini kemudian diikuti oleh penguasa-penguasa Syiah lainnya. Dari keyakinan dusta ini nantinya mereka mengafirkan Abu Bakr, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya karena dianggap murtad mengingkari wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menuduh Abu Bakr, Umar, dan Utsman merebut kekhalifahan Ali.

Masih pada masa Daulah Buwaihiyah, pada 351 H kaum Syiah di Baghdad dengan dukungan Mu’izzud Daulah—seorang penguasa daulah Buwaihiyah—mewajibkan masjid-masjid untuk melaknat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dan tiga Khalifah Rasyid (Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman radhiallahu ‘anhum). (al-Kamil, 8/542)

Bahkan, pada 352 H, Mu’izzud Daulah menyuruh kaum muslimin untuk menutup toko-toko mereka, mengosongkan pasar, meliburkan jual beli, dan menyuruh mereka untuk meratap. Para wanita disuruh keluar rumah tanpa penutup kepala dan wajah dicoreng-moreng, lalu berkeliling kota sambil meratap dan menampar-nampar pipi atas kematian Husain bin ‘Ali radhiallahu ‘anhuma.

Kaum muslimin pun melakukannya. Sementara itu, Ahlus Sunnah tidak mampu mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syiah dan kekuasaan kala itu berada di tangan mereka (kaum Buwaihiyun).

Sampai-sampai al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkomentar, “Sungguh, telah telantar urusan agama Islam dengan berdirinya daulah Bani Buwaihi dan Bani ‘Ubaid yang bermazhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad dan mendukung kaum Nasrani Romawi, serta merampas kota Madain.”[4]

 

Runtuhnya Baghdad dan Daulah Abbasiyah

Inilah bukti lain pengkhianatan Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka berkhianat terhadap Khalifah al-Musta’shim Billah. Pengkhianatan ini dimotori oleh dua tokoh Rafidhah, Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi. Di mata orang-orang Rafidhah kedua orang ini dianggap sebagai pahlawan.

Keruntuhan kota Baghdad yang kala itu adalah ibukota Daulah Abbasiyah di tangan pasukan Tatar (Mongol) tak lepas dari konspirasi yang dilakukan oleh Ibnul Alqami dan ath-Thusi.

Ia sangat berambisi meruntuhkan kekuatan Ahlu Sunnah dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. Hal itu ia lampiaskan ketika memegang jabatan menteri dalam pemerintahan Khalifah al-Musta’shim billah dengan cara memberi jalan bagi pasukan Tatar untuk masuk Baghdad.

Pada 656 H, Hulagu Khan dan pasukannya yang berjumlah dua ratus ribu personil mengepung Baghdad dan menghujani istana Khalifah dengan anak panah. Pengamanan sekitar istana saat itu lemah karena sebelumnya Ibnul Alqami secara diam-diam telah mengurangi jumlah personil tentara Khalifah. Dia memecat sejumlah besar perwira dan mencoret nama mereka dari dinas ketentaraan.

Pada masa kekhalifahan sebelumnya, Khalifah al-Mustanshir, jumlah pasukan mencapai 100.000 personil. Sementara itu, pada masa al-Musta’shim billah jumlahnya menyusut menjadi 10.000 personil saja.

Saat kelemahan sudah tampak di Baghdad, Ibnul Alqami mengirim surat rahasia kepada bangsa Tatar dan memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Dalam surat rahasia itu dia menyebutkan kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah di Baghdad. Itulah sebabnya bangsa Tatar dengan sangat mudah dapat merebutnya.

Terwujudlah cita-cita Ibnul Alqami. Baghdad dikepung oleh Tatar sejak 12 Muharram 656 H. Ibnul Alqami segera menemui pasukan Tatar. Bersama keluarganya, dia menemui Hulagu Khan mencari perlindungan darinya. Kemudian ia membujuk Khalifah agar ikut keluar bersamanya menemui Hulagu Khan untuk mengadakan perdamaian, dengan memberikan separuh hasil devisa negara kepada bangsa Tatar.

Berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, fuqaha, tokoh-tokoh negara dan masyarakat, serta para pejabat tinggi negara lainnya dengan 700 kendaraan. Ketika sudah mendekati markas Hulagu Khan, mereka ditahan oleh pasukan Tatar dan tidak diizinkan menemui Hulagu Khan kecuali Khalifah bersama 17 orang saja. Permintaan ini dipenuhi oleh Khalifah. Ia berangkat bersama 17 orang, sementara yang lain menunggu.

Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan itu dirampok dan dibunuh oleh pasukan Tatar. Selanjutnya Khalifah dibawa ke hadapan Hulagu Khan seperti seorang pesakitan yang tak berdaya.

Atas permintaan Hulagu Khan, Khalifah kembali ke Baghdad ditemani oleh Ibnul Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi. Di bawah rasa takut dan tekanan yang hebat, Khalifah mengeluarkan emas, perhiasan, dan permata dalam jumlah yang sangat banyak.

Tanpa disadari oleh Khalifah, para pengkhianat Syiah ini telah membisiki Hulagu Khan agar menampik tawaran damai dari Khalifah. Ibnul Alqami ini berhasil meyakinkan Hulagu Khan dan membujuknya untuk membunuh Khalifah.

Tatkala Khalifah kembali membawa perbendaharaan negara yang banyak untuk diserahkan, Hulagu Khan memerintahkan agar Khalifah dieksekusi. Yang mengisyaratkan untuk membunuh Khalifah adalah Ibnul Alqami dan ath-Thusi.

Dengan terbunuhnya Khalifah, pasukan Tatar leluasa menyerbu Baghdad tanpa perlawanan berarti. Jatuhlah Baghdad ke tangan musuh. Disebutkan bahwa jumlah korban tewas saat itu lebih kurang dua juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali Yahudi, Nasrani, dan orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Tatar, atau berlindung di rumah Ibnul Alqami dan orang-orang kaya yang menebus jiwa mereka dengan menyerahkan harta kepada pasukan Tatar[5].

 

Pengkhianatan Syiah Dinasti Shafawi

Dinasti Shafawi adalah cikal bakal negara Iran. Syah pertama Dinasti Shafawi adalah Syah Ismail yang naik takhta pada 907 H. Ketika itu Iran belum menjadi kawasan Syiah secara keseluruhan. Hanya beberapa kota yang penghuninya adalah orang-orang Syiah, seperti Qum, Qasyan, dan Naisabur.

Syah Ismail memiliki fanatisme yang tinggi untuk menyebarkan agama Syiah ke seluruh penjuru Iran. Ia mengutus delegasi dai dan para propagandis Syiah ke negeri-negeri yang akan ditaklukkan guna mengajak mereka memeluk agama Syiah.

Di samping bekerja sama dengan ulama-ulama Syiah, Syah Ismail sering melakukan teror dan mengancam bunuh orang yang tidak mau memeluk ajaran Syiah.

Pada masa Syah Ismail, telah terjalin hubungan kerjasama politik keamanan dan ekonomi dengan barat (Eropa) untuk menghadapi musuh bersama, yaitu Daulah Turki Utsmani yang bukan Syiah.

Hal itu bermula dengan adanya persetujuan Syah Ismail atas pakta militer dengan Portugal. Perjanjian tersebut menyatakan bahwa Syah Ismail tidak akan menuntut Portugal mengembalikan Pulau Hurmuz dan pelabuhan Kamberun, sementara Portugal sepakat untuk membantu Syah Ismail ash-Shafawi melawan Turki Utsmani.

Berdasarkan kajian yang merujuk ke berbagai literatur tentang Iran, baik yang ditulis dalam bahasa Persia, Arab, maupun Inggris, didapatkan fakta-fakta adanya kerja sama erat antara Dinasti Shafawi dan negara-negara Eropa untuk melawan musuh bersama, yaitu Turki Utsmani. Kerja sama tersebut semakin meningkat pada masa Syah Abbas ash-Shafawi (966—1038 H/1588—1629 M).

Penguasa dinasti Shafawi sadar sepenuhnya bahwa satu-satunya cara untuk menghadapi dan mengalahkan Turki Utsmani adalah kerja sama di bidang militer dengan Barat. Untuk kepentingan itulah dikirim utusan ke berbagai negara Eropa, antara lain Spanyol, Jerman, Rusia, Inggris, dan Belanda, guna mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan menghadapi dan memerangi Daulah Turki Utsmani.

Syah Abbas bahkan menghubungi Paus Paulus V dan memintanya untuk mendorong agar raja-raja Eropa yang beragama Kristen bersatu padu dan bekerja sama dengan Iran untuk memusnahkan Daulah Turki Utsmani.

Kesempatan ini digunakan oleh Paus untuk mengirim berbagai surat ke Syah Abbas guna mengukuhkan posisi orang Kristen di Iran, agar mereka selalu dihormati, diizinkan membangun gereja, dan melaksanakan peribadatan mereka.

Di antara surat Paus Paulus V adalah ucapan selamat atas kemenangan Syah Abbas mengalahkan orang-orang Uzbek yang Sunni sambil terus mendorongnya untuk terus memerangi Turki Utsmani. Selain itu, dia menegaskan kesediaannya mendorong bersatunya raja-raja Nasrani di Eropa untuk bersama-sama menyerbu Turki Utsmani dari arah barat sementara Syah Abbas menyerbu Turki Utsmani dari arah timur.

Paus juga berjanji untuk mengirimkan ahli-ahli militer dan persenjataan dalam rangka memperkuat pasukan Iran. Syah Abbas kemudian mendapatkan bantuan delegasi ahli militer Inggris, yang melatih serta memodernisasi angkatan perang Iran.

Mereka juga menjadi supervisor pendirian pabrik-pabrik senjata di Isfahan, yang memungkinkannya untuk mengalahkan pasukan Turki Utsmani di Azerbaijan. Bahkan salah seorang delegasi Inggris, yaitu Robert Carles, pernah menjadi panglima salah satu pasukan Iran dalam perang melawan pasukan Turki Utsmani pada 1013—1014 H.

 

Republik Iran Mengikuti Jejak Para Pendahulunya

Demikian pula Iran saat ini. Sesungguhnya mereka telah dan sedang melakukan berbagai aksi teror, perusakan dan makar kepada Islam, kaum muslimin dan negeri-negeri Islam.

Apa yang terjadi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman, merekalah otak dan dalang segala kerusakan yang terjadi. Tentu saja bersama nenek moyang mereka, Yahudi. Hingga saat ini pun kita masih menyaksikan peperangan sengit antara tentara tauhid “Asifatul Hazm”, koalisi negara-negara Islam di bawah kepemimpinan Raja Salman bin Abdul Aziz Alu Su’ud, melawan tentara Houthi Rafidhah yang didukung Republik Iran.

Khomeini sebagai tokoh tertinggi Republik Iran pernah berwasiat, “Inilah wasiatku: Apabila perang dengan Irak telah usai, kita wajib memulai perang dengan negara yang lainnya. Saya memimpikan bendera kita (Syiah Iran -pen.) berkibar di Amman (ibukota Yordania -pen.), Riyadh (ibukota Saudi Arabia -pen.), Damaskus (ibukota Suriah -pen.), Kairo (ibukota Mesir -pen.), dan (negara) Kuwait.”

Sungguh, wasiat Khomeni adalah titah agung bagi kaum Rafidhah untuk mewujudkannya. Sebab, sesuai isi Undang Undang Dasar Negara Syiah Iran, Khomeini memiliki kedudukan fundamental sebagai Rujukan Utama Taqlid Agung Republik “Islam” Iran.

Kedudukan ini mengikat segenap penganut ajaran Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah untuk tunduk patuh melaksanakan titahnya (sebagaimana yang diyakini Syiah) selaku wakil Imam Mahdi Syiah yang masih bersembunyi sejak ratusan tahun yang lalu dalam gua di Samarra, Irak.

Disebutkan dalam UUD Iran, Bab 1 Pasal 1:

“The form of government of Iran is that of an Islamic Republic, endorsed by the people of Iran on the basis of their longstanding belief in the sovereignty of truth and Qur’anic justice, in the referendum of Farwardin 9 and 10 in the year 1358 of the solar Islamic calendar, corresponding to Jamadi al-Awwal 1 and 2 in the year 1399 of the lunar Islamic calendar (March 29 and 30, 1979), through the affirmative vote of a majority of 98.2% of eligible voters, held after the victorious Islamic Revolution led by the eminent marji’ al-taqlid, Ayatullah al-Uzma Imam Khumayni.[6]

“Sistem pemerintahan Iran adalah Republik Islam yang telah disetujui oleh rakyat Iran, berdasarkan keyakinan tradisional mereka dalam kedaulatan kebenaran dan keadilan Qur’an dan mengikuti kemenangan revolusi mereka di bawah pimpinan Rujukan Taklid Agung, Ayatullah Imam Khomeini, dengan mayoritas 98,2% suara dari semua yang berhak memilih dalam referendum yang diadakan pada 9 dan 10 Farwardin[7] 1358 tahun Hijriah matahari, 1 dan 2 Jumadil Awal 1399 Hijriah bulan (29 dan 30 Maret 1979).”

Itulah fakta Wasiat Agung Revolusi Syiah Khomeini yang mengikat seluruh kaum Syiah di mana pun berada. Ucapan Khomeini Rujukan Taklid Agung Konstitusi negara Syiah Iran diterbitkan oleh majalah Dustur Lebanon pada 1983, edisi no. 297, hlm. 16—18.

Lihatlah tahun-tahun terakhir ini, bagaimana kuku-kuku revolusi Syiah Imamiyah Khomeini telah ditancapkan kuat-kuat di Suriah dan Lebanon (dengan milisi Hizbullahnya). Mereka mulai memasuki negeri Yaman, tentu untuk menuju Haramain: Makkah dan Madinah.

 

Makkah Menjadi Sasaran Teror Syiah Rafidhah

Makkah dan Madinah adalah dua kota suci, dua kota pusat peradaban Islam, sumber awal cahaya Islam. Sudah barang tentu Syiah Rafidhah sangat membenci dan memusuhi dua negeri ini. Data dan fakta menunjukkan bahwa permusuhan Iran sungguh sangat kental terhadap Haramain: Makkah dan Madinah.

Permusuhan ini tampak dalam perkataan Khomeini, “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran sekarang lebih utama daripada masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah -pen.) pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta lebih utama daripada masyarakat Kufah dan Irak pada masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (al-Washiyah al-Ilahiyah, hlm. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hlm. 192)

Dalam sebuah pidatonya, Khomeini berkata, “Aku katakan dengan terus terang, wahai saudara-saudaraku kaum muslimin di seluruh dunia, Makkah al-Mukarramah sebagai tanah suci Allah yang aman sedang dijajah oleh sekelompok orang yang lebih jelek daripada Yahudi….”

Pidato Khomeini ini disiarkan oleh Suara Revolusi Islam dari Abadan jam 12 siang pada 17 Maret 1979.

Pidato dan statemen-statemen Khomeini menunjukkan kebencian yang luar biasa terhadap Islam dan negeri-negeri Islam, terkhusus Makkah dan Madinah. Bukan hanya ucapan, makar-makar Syiah untuk membuat kekacauan di dua kota suci ini sangat banyak buktinya.

Bukti terdekat yang mungkin bisa kita sebutkan adalah Tragedi Mina pada Musim Haji tahun 2015. Jamaah haji Iran sengaja membuat keonaran di kota Makkah.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Kita akan menyaksikan sebagian kemesraan Syiah dengan Nasrani, ketika mereka bekerjasama guna menghadapi Daulah Turki Utsmani.

[2] Lihat al-Milal wan Nihal (I/191—192).

[3] Lihat Tarikh Akhbar Qaramithah hlm. 54.

[4] Siyar A’lamin Nubala’ (16/232)

[5] Lihat al-Bidayah wan Nihayah (18/213—224)

[6] Lihat http://www.iranonline.com/iran/iran-info/government/constitution-1.html

[7] Bulan pertama dalam kalender Persia.

Syiah Rafidhah Anak Yahudi ; Memusuhi Islam dan Negeri Islam

Syiah Rafidhah adalah musuh Islam dan negeri-negeri Islam. Sejarah adalah fakta yang tidak pernah berdusta. Mereka adalah kepanjangan tangan Yahudi dalam memusuhi Islam dan negeri Islam, karena kelahiran Syiah Rafidhah sebagai sekte sesat, secara historis tidak lepas dari peran Yahudi.

Rafidhah dan Yahudi ibarat dua saudara kembar. Banyak kesamaan dan kemiripan di antara keduanya. Rafidhah adalah anak Yahudi. Hakikat ini tidak boleh dilupakan, agar kita waspada dan memahami berbagai makar Yahudi dan Rafidhah terhadap Islam dan negara Indonesia serta negeri Islam lainnya.

Di masa kejayaan Islam, Yahudi berhasil menanamkan salah satu agennya, Abdullah bin Saba’ al-Himyari menyusup di tengah kaum muslimin. Lelaki dari negeri Yaman ini secara lahiriah menampakkan keislamannya pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, namun hakikatnya seorang zindiq (munafik). Ia adalah seorang Yahudi yang telah menyiapkan berbagai makar.

Di balik topeng kemunafikannya inilah, ia menghembuskan api kerusakan yang demikian besar di tengah umat hingga berkobar kerusakan demi kerusakan. Peran Ibnu Saba’ sangat besar dalam tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu. Demikian pula peristiwa-peristiwa berikutnya pada masa Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Termasuk kelahiran agama Syiah Rafidhah, dialah yang membidaninya.

Dalam upaya menyusupkan pemahaman-pemahaman sesatnya, Ibnu Saba’ menyisir wilayah-wilayah Islam dari Hijaz, Bashrah, Kufah, dan Syam. Akan tetapi, di negeri-negeri tersebut usahanya gagal. Abdullah bin Saba’ kemudian menuju Mesir. Di negeri inilah, dia bisa menyemai pemahaman-pemahaman sesatnya dan berhasil mengelabui sebagian umat yang jahil hingga terprovokasi.

Ibnu Saba’ melakukan gerakan propaganda anti-‘Utsman bin ‘Affan. Masyarakat dihasut agar menentang pemerintah. Fitnah dan api kebencian terhadap pemerintah disebar. Tuduhan-tuduhan miring tertuju kepada pribadi Utsman radhiallahu ‘anhu dan pemerintahannya, dia ramu dengan pikiran-pikiran busuknya. Keadaan bertambah parah hingga terjadilah musibah besar, terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu ‘anhu.

Dalam tragedi pembunuhan Utsman bin Affan, Yahudi—melalui Abdullah bin Saba—berhasil memengaruhi kaum muslimin yang jahil untuk keluar dari prinsip-prinsip agama yang sangat agung, yaitu (1) taat kepada waliyul amr (pemerintah) muslim, (2) prinsip mencintai sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum, dan (3) mengikuti jalan al-Khulafa ar-Rasyidin.

Kabut kelam menyelimuti kaum muslimin. Api fitnah tak kunjung memadam. Sepeninggal Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, ia melancarkan makar baru. Ia membangkitkan fanatisme buta terhadap kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya. Akhirnya, tertanam akidah (keyakinan) di kalangan para pengikut Abdullah bin Saba’ bahwa keimamahan (kepemimpinan) yang pertama dipegang oleh ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan berakhir pada imam ke-12, Muhammad bin al-Husain al-Mahdi.

Inilah keyakinan kalangan Syiah; sebuah keyakinan yang sesat. (‘Aqa’idu asy-Syiah, asy-Syaikh Mahmud Abdul Hamid al-‘Asqalani, hlm. 21)

 

Antara Ibnu Saba’ al-Yahudi dan Syiah Rafidhah

Rafidhah (Syiah) adalah agama baru yang berakar dari agama Yahudi. Sisi kesamaan antara agama Syiah Rafidhah dan Yahudi banyak kita dapati. Semua itu menunjukkan keterkaitan yang sangat erat antara Yahudi dan Rafidhah.

Berikut adalah beberapa sisi kesamaan antara Rafidhah dan pemikiran Ibnu Saba’ al-Yahudi.

  1. Dia adalah orang pertama yang menyebarkan keyakinan rububiyah dan uluhiyah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ali radhiallahu ‘anhu adalah ilah (sesembahan) dan Rabb (pengatur alam semesta).

Keyakinan Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah. Referensi Syiah sendiri yang menyebutkan bahwa Ibnu Saba’ menyebarkan keyakinan kufur tersebut. Lihat sebagai bukti pada kitab rujukan mereka: (1) Rijal al-Kisysyi hlm. 98 cetakan Karbala, dan (2) Tanqihul Maqal fi Ahwali ar-Rijal (2/183—184) cetakan Najef 1350 H.[1]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang memunculkan akidah wasiat, yaitu keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan kepada Ali radhiallahu ‘anhu untuk menjadi khalifah sepeninggal beliau.

Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ ini ada pada Rafidhah, bahkan bagian penting dari akidah Rafidhah. Bukankah hal ini menunjukkan keterkaitan yang erat antara agama Rafidhah dan Ibnu Saba? Keyakinan wasiat Ibnu Saba’ adalah hasil pemikiran Yahudinya sebelum ia menyusup di tengah-tengah muslimin.

Buku-buku rujukan Syiah sendiri yang menetapkan bahwa keyakinan wasiat berasal dari Abdullah bin Saba’. Al-Mamaqani dalam bukunya Tanqih al-Maqal (2/184) menukil ucapan Muhammad bin ‘Umar al-Kisysyi—seorang tokoh Rafidhah, “Ahlul ilmi menyatakan bahwa Abdullah bin Saba’ dahulu seorang Yahudi lalu masuk Islam dan berwala’ kepada ‘Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, dia mengatakan bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang mendapat wasiat dari Musa. Adapun setelah masuk Islam, dia juga mengatakan hal semisal (yakni wasiat –pen.) terhadap ‘Ali.”[2]

  1. Ibnu Saba’ adalah orang pertama yang menyebarkan kebencian terhadap Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.

Keyakinan ini adalah bagian terpenting dalam akidah Rafidhah.

Abu Ishaq al-Fazari menyebutkan riwayat dengan sanadnya kepada Suwaid bin Ghafalah, bahwa dia mengunjungi ‘Ali radhiallahu ‘anhu di masa kekhalifahannya. Suwaid berkata, “Sungguh, aku melewati suatu kaum yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar. Mereka juga menyatakan bahwa engkau menyembunyikan celaan padakeduanya (yakni Abu Bakr dan ‘Umar). Di antara kaum itu adalah Abdullah bin Saba’.”—dan dia adalah orang pertama yang menampakkan keyakinan ini.

Ali berkata, “Apa urusanku dengan si hitam yang busuk ini (Ibnu Saba’)?! Aku berlindung kepada Allah dari memendam dalam hati sesuatu terhadap keduanya selain kebaikan.” Kemudian ‘Ali radhiallahu ‘anhu membuang Ibnu Saba’ ke Madain.

Ibnu Hajar rahimahullah membawakan riwayat kisah di atas dalam Lisanul Mizan (3/290) dengan sanad yang sahih.

Itulah beberapa akidah Ibnu Saba’ si Yahudi yang diembuskan di tengah kaum muslimin untuk merusak akidah. Akidah tersebut benar-benar serupa dengan akidah Rafidhah (Syiah) yang memang ditumbuhkan oleh Ibnu Saba’ al-Yahudi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, Minhajus Sunnah, menyebutkan banyak sisi kesamaan Syiah Rafidhah.[3]

Tidak diragukan, ketika akidah batil ini masuk dalam tubuh kaum muslimin dan berkembang di sebuah negeri Islam, akan sangat mudah bagi musuh-musuh Islam melumpuhkan negeri Islam.

Wallahul Musta’an.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

[1] Lihat Ibnu Saba’ Haqiqah La Khayal karya Dr. Sa’di al-Hasyimi.

[2] Dinukil dari ta’liq Muhibudin al-Khathib terhadap kitab al-Muntaqa Min Minhajil I’tidal hlm. 318.

[3] Untuk menyembunyikan hubungan mesranya dengan Yahudi, Syiah Rafidhah bersama dengan orientalis berusaha menghilangkan jejak Ibnu Saba’. Namun, usaha mereka sia-sia. Sebab, keberadaan Ibnu Saba’ adalah kesepakatan (ijma’) Ahli Hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, demikian pula kesepakatan ahli tarikh. Bahkan, kitab-kitab rujukan Rafidhah sendiri menetapkan keberadaan Ibnu Saba’.

Apakah masuk akal, jika mereka mengingkari kitab-kitab yang mereka sucikan dan agungkan? Mustahil tentunya, kecuali jika mereka telah dungu atau kehilangan akal, atau telah berubah menjadi kera sebagaimana nenek moyang mereka. Dan inilah kenyataannya!

Iran, Syiah, dan Stabilitas Negara

Maret 2016 lalu, negara-negara kawasan Teluk berkumpul di Ibukota Mesir, Kairo. Negara-negara Teluk, yang tergabung dalam kelompok Liga Arab, menyepakati keputusan yang menetapkan bahwa kelompok Syiah yang berbasis di Lebanon, Hizbullah merupakan organisasi teroris.

Negara-negara Arab sepakat pula untuk mengutuk intervensi Iran terhadap negara-negara Arab. Keputusan Liga Arab ini didasari fakta di lapangan adanya persekongkolan jahat antara Pasukan Pengawal Revolusi Iran dengan Hizbullah. Kedua kelompok tersebut membiayai dan melatih kaum teroris di negara Bahrain.

Pada 10—15 April 2016, negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bersidang di Istanbul, Turki. Hasil sidang organisasi yang beranggotakan 57 negara ini menyebutkan bahwa kelompok Hizbullah adalah kelompok teroris.

Selain itu, negara-negara yang tergabung OKI itu pun mengutuk aksi teroris Hizbullah di negara Bahrain, Yaman, Suriah, dan Kuwait. Keputusan lainnya dari sidang OKI, menolak campur tangan negara Syiah Iran dalam urusan dalam negeri negara-negara Timur Tengah. OKI juga menyesalkan serangan terhadap kedutaan dan Konsulat Arab Saudi di Teheran dan Mashad oleh pengunjuk rasa Syiah Iran pada Januari 2016.

Para pemimpin negara yang tergabung dalam Liga Arab maupun OKI tentu bukan sekadar mengeluarkan pernyataan. Para pemimpin negara tersebut telah mempertimbangkan segala sesuatunya terkait keputusan yang ditetapkan. Termasuk mempertimbangkan sikap Iran dan Irak yang menganut pemahaman Syiah.

Pernyataan para pemimpin negara tersebut, baik OKI maupun Liga Arab, mengungkapkan bukti kejahatan negara Iran serta bahaya dasar ideologi negaranya yang menganut Syiah. Pernyataan yang disepakati para pemimpin negara tersebut menunjukkan keresahan masyarakat Islam atas aksi-aksi Iran yang menggalang gerakan terorisme. Negara-negara Timur Tengah, seperti Bahrain, Kuwait, Arab Saudi, dan Yaman, merupakan negara-negara yang langsung merasakan aksi terorisme kaum Syiah Iran.

Dalam skala yang lebih kecil, stabilitas negara Republik Indonesia pun sempat diganggu oleh kaki tangan Syiah Iran di Indonesia. Sebut saja kasus di Madura. Juga kasus di Bukit adz-Dzikra, Sentul, Bogor. Gerakan untuk mengganggu keamanan dan stabilitas negara ini patut diwaspadai. Walau masih dalam skala kecil, mengingat secara kuantitas pengikut ideologi Syiah masih sedikit, tentu tidak bisa diabaikan begitu saja.

Pernyataan para pemimpin negara-negara Islam di atas hendaknya menjadi peringatan bagi pemerintah dan rakyat Indonesia bahwa ideologi Syiah akan terus dipompakan ke dalam benak masyarakat Indonesia melalui berbagai media masa, pengajian, dan aksi sosial yang dikemas penuh tipu daya. Kaum Syiah di Indonesia memanfaatkan isu kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia untuk menjadi tameng dalam menebarkan ideologinya.

Dalam kondisi minoritas dan belum memiliki kekuatan, kaum Syiah di Indonesia menggalang kerjasama dengan berbagai elemen bangsa. Kerjasama ini selain menguntungkan dari sisi memperoleh dukungan, juga bisa menguntungkan dari sisi penyebaran ideologi Syiah dan gerakan infiltrasi.

Karena itu, sungguh bukan satu hal yang berlebihan bila sejak dini pemerintah dan masyarakat Indonesia diingatkan tentang bahaya Syiah. Negara Iran, sebagai pengekspor ideologi berbahaya ini, telah melakukan tindakan yang mengganggu stabilitas negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.

Sungguh, tidak berlebihan pula bila tindakan yang dilakukan negara Malaysia yang melarang ideologi Syiah bisa ditiru oleh pemerintah Indonesia. Atau, apabila itu belum memungkinkan, setidaknya negara memperketat ruang gerak kaum Syiah dan melakukan penyuluhan secara sistematis agar rakyat tidak terpengaruh ajaran Syiah. Penjelasan tentang bahaya ideologi Syiah hendaklah dilakukan secara lintas lembaga negara, tak hanya bertumpu di Kementerian Agama (yang sudah mulai disusupi paham Syiah).

 

Syiah dalam Lintasan Sejarah

Abdullah bin Saba adalah keturunan Yahudi yang lahir di Shan’a, Yaman. Peran Abdullah bin Saba tidak bisa lepas dari kemunculan paham Syiah. Sosok keturunan Yahudi ini berpura-pura memeluk Islam, namun senyatanya hendak merusak dari dalam.

Abdullah bin Saba adalah orang yang memprovokasi kaum muslimin untuk menentang Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Ia menebarkan pemahaman tentang masalah al-washiyyah (wasiat). Kepada kaum muslimin di Mesir, ia memprovokasi untuk memberontak kepada penguasa yang sah.

Kaum muslimin di Mesir dijejali keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu adalah al-washi (orang yang diserahi wasiat) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia katakan, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi. Adapun Ali radhiallahu ‘anhu adalah penutup para penerima wasiat.

Setelah itu, ia menuduh sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu sebagai orang yang merampas wasiat. Utsman dituduh telah merampas tanpa haq. Lalu Abdullah bin Saba memprovokasi kaum muslimin dengan mengajak berdemonstrasi dengan mengepung kediaman Khalifah Utsman radhiallahu ‘anhu di Madinah.

Akibat ulah Abdullah bin Saba, terjadilah tindak anarkis. Pengepungan rumah khalifah menggapai puncak anarkis dengan terbunuhnya sahabat mulia, menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Dzun Nurain, Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Tikaman senjata tajam merobek tubuhnya. Darah mengalir. Menetesi mushaf al-Qur’an yang tengah dibaca.

Ulah orang munafik, zindiq, Abdullah bin Saba menjadi catatan kelam dalam lintasan sejarah kaum muslimin. Abdullah bin Saba, dengan lisan berbisanya, telah melakukan tipu daya seakan dirinya orang yang paling mencintai Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Seakan dirinya orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Senyatanya, ia orang yang paling membenci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia pula sosok yang paling tak suka kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Kebencian dan dendam terhadap orang-orang berpegang teguh kepada perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diwariskan oleh Abdullah bin Saba. Kini, lihatlah kaum Syiah Rafidhah, begitu besar kebencian dan permusuhannya kepada orang-orang yang dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana Abdullah bin Saba membenci sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu seraya menyanjung Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, maka para pewaris kebusukannya pun kini melakukan hal yang sama. Kaum Syiah Rafidhah, sebagai pewaris kebusukan Abdullah bin Saba, pun mencerca dan menampakkan kebencian yang akut terhadap sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Kedua sahabat mulia tersebut benar-benar dihinakan oleh Syiah Rafidhah. Keduanya dijuluki shanamay Quraisy (dua berhala Quraisy).

Tak sampai di situ, para sahabat lain pun dicaci maki. Bahkan, Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah, putri sahabat mulia Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu, tak selamat dari kebejatan lisan kaum Syiah Rafidhah. Ibunda orang-orang beriman itu dituduh sebagai pelacur. Sebuah tuduhan penuh dusta.

Tidaklah semua itu keluar dari kaum Syiah, kecuali menjadi bukti bahwa keyakinan yang melekat di hati kaum Syiah Rafidhah adalah keyakinan batil. Keyakinan yang dihembuskan Iblis. Sebab, tidak mungkin Islam sebagai agama yang mulia mengajarkan caci maki, kebencian, permusuhan terhadap orang-orang memiliki kemuliaan seperti para sahabat.

Adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencela sahabat Abu Bakr ash- Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, dan Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhum? Tentu tidak! Justru mereka telah menduduki derajat yang mulia, derajat diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Perhatikan firman-Nya yang secara jelas tegas bernas memuliakan para sahabat,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Perhatikan pula firman-Nya yang memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha dan menghinakan orang-orang yang menuduhnya dengan kedustaan,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ١٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar perbuatan sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur:19)

Kemudian dalam ayat lain disebutkan,

          أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٢٦

“… Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (an-Nur: 26)

Apa kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan tiga sahabat beliau (Abu Bakr, Umar, dan Utsman)?

Cermati hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berikut ini.

إِنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَعِدَ أُحُدًا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ فَرَجَفَ بِهِمْ فَقَالَ: اثْبُتْ أُحُدٌ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman telah mendaki Gunung Uhud. Lantas Gunung Uhud pun berguncang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tenanglah Uhud, sungguh yang ada di atasmu adalah Nabi, ash-Shiddiq, dan dua orang syahid.” (HR. al-Bukhari)

Kini, nyata sudah bahwa sejak dahulu kala kaum Syiah Rafidhah hanya selalu membuat onar. Dari dahulu hingga kini selalu membuat ricuh, anarkis, dan teror. Syiah Rafidhah pada zaman kiwari mewarisi kebusukan penghulunya dahulu kala, Abdullah bin Saba.

Coba telisik, adakah kaum Syiah Rafidhah sekarang menciptakan kedamaian, keharmonisan, dan kerukunan? Tidak. Sekali-kali tidak! Lihatlah ulah Syiah Rafidhah Iran, Hizbullah di Lebanon, Syiah di Irak, atau kaum Syiah Hutsi di Yaman.

Semuanya menjadi biang pertumpahan darah. Semuanya menjadi para pelaku dan penyokong terorisme. Para pemimpin negara-negara OKI dan Liga Arab akhirnya harus bersikap tegas terhadap ulah kaum Syiah yang bisa menggoyahkan stabilitas negara.

Sebagai negara yang tergabung dalam OKI, sudah seharusnya Indonesia turut melaksanakan kesepakatan yang telah dicapai di Istanbul, Turki, April 2016. Indonesia harus mengambil sikap tegas terhadap Iran yang telah mencampuri urusan dalam negeri negara-negara Islam. Pemerintah dan masyarakat Indonesia jangan sampai terlambat melakukan langkah pencegahan terhadap bahaya pemahaman Syiah Rafidhah.

Sekian banyak kader-kader muda Indonesia yang telah dikirim ke Iran. Kepulangan mereka ke Indonesia tentu akan membawa pemahaman Syiah Rafidhah yang militan. Bila itu yang ada, Indonesia menghadapi ancaman khusus.

Ambillah pelajaran dari negara Yaman, Bahrain, Syiria, dan negara-negara Teluk lainnya. Sungguh, Iran—yang menganut pemahaman Syiah—telah mengguncangkan stabilitas dalam negeri negara-negara tersebut. Iran sangat ambisius menjejalkan pemahaman Syiah Rafidhah yang sangat memusuhi Ahlu Sunnah wal Jamaah. Padahal pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah pemahaman mayoritas di Indonesia.

Dalam lintasan sejarah, ditemukan pula pengkhiatan Syiah terhadap kehidupan bernegara. Pada 656 H terjadi tragedi kemanusiaan yang sangat kelam di Kota Baghdad, yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya adalah penganut Syiah Rafidhah.

Saat pemerintahan dipimpin al-Mu’tashim Billah, sebagai seorang yang menyusup ke pemerintahan pusat, Ibnu al-Alqami melakukan gerakan pembusukan di dalam sistem militer Daulah Abbasiyah.

Dengan kekuasaan yang ada padanya, Ibnu al-Alqami melakukan reduksi besar-besaran terhadap kekuatan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah. Kekuatan pasukan yang awalnya berjumlah seratus ribu personil, dikurangi hingga berjumlah kurang dari sepuluh ribu personil. Pengurangan besar-besaran personil angkatan perang menyebabkan lemahnya pertahanan pemerintah Daulah Abbasiyah.

Seiring dengan melemahnya kekuatan pemerintahan Baghdad, kedua orang Syiah Rafidhah ini bermain mata dengan tentara Tatar. Keduanya mengharap bala tentara Tatar segera menyerbu Baghdad sehingga Ahlus Sunnah musnah. Keduanya tengah memperjuangkan agar Syiah Rafidhah menguasai pemerintahan melalui tangan tentara Hulagu Khan.

Terjadilah apa yang terjadi. Hulagu Khan beserta bala tentaranya menyerbu secara tanpa perikemanusiaan. Kaum muslimin di Baghdad dibantai. Karya-karya para ulama di perpustakaan paling besar dan maju pada waktu itu, diluluhlantakkan. Kitab-kitab karya para ulama dibuang ke sungai yang melintasi Baghdad. Air sungai pun berubah warna menjadi berwarna tinta. Tak cuma itu, korban-korban pembantaian pun dilempar ke sungai hingga air sungai berubah warna menjadi warna merah darah. (Lihat kisah selengkapnya pada Asy Syariah No. 101/1435 H/2014)

Sekian banyak kisah pengkhiatan kaum Syiah Rafidhah tertulis dalam sejarah. Untuk menggambarkan jiwa khianat dan suka mengganggu stabilitas kehidupan bangsa, maka cukup dua lintasan sejarah yang diketengahkan.

Semoga dengan itu masyarakat tergugah untuk bersikap hati-hati terhadap Syiah Rafidhah. Kini, kaum Syiah yang berkiblat ke negara Iran, telah banyak yang menyusup ke dalam partai politik, legislatif, pemerintahan dan lainnya.

 

Taqiyah adalah Ibadah

Taqiyah atau berbohong sebagai keyakinan sesat kaum Syiah merupakan strategi licik untuk menguasai dan melumpuhkan lawan. Taqiyah bagi kaum Syiah adalah bentuk ibadah. Seorang penganut Syiah dibolehkan berbohong terutama saat dirinya terancam.

Teknik mengelabui lawan dengan cara pengecut ini bisa memperdayai masyarakat. Orang-orang yang tak mengenal keyakinan Syiah akan mudah digiring sehingga bisa menerima kehadiran Syiah. Itulah Syiah.

Para pengikut Hutsi di Yaman, yang menganut agama Syiah Rafidhah menjalin hubungan kuat dengan Iran. Mereka kerap membohongi masyarakat Yaman dengan yel-yel yang terkesan anti-Amerika dan Israel.

Namun, kenyataan berbicara lain. Teriakannya memusuhi Amerika dan Israel, namun yang digempur habis adalah kaum muslimin. Inilah slogan yang selalu diteriakkan di hadapan umat,

اللهُ أَكْبَرُ

الْمَوْتُ لِأَمْرِيكَا

الْمَوْتُ لِإسْرَائِيلَ

النَّصْرُ لِلْإِسْلَامِ

“Allahu Akbar…

Kematian bagi Amerika…

Kematian bagi Israel…

Kemenangan bagi Islam.”

 

Sungguh, dusta apa yang keluar dari lisan mereka. Mereka tidak pernah memerangi Amerika. Mereka tidak pula memerangi Israel sebagaimana mereka memerangi dan mengusir Ahlu Sunnah di Provinsi Sha’dah, Republik Yaman. Mereka tidak memaksudkan kemenangan itu bagi Islam, sebab kaum muslimin yang tidak segaris dengan mereka nyatanya tetap dibantai.

Keyakinan boleh berbohong adalah keyakinan Yahudi dan orang-orang munafik. Keyakinan yang melekat kini pada kaum Syiah merupakan bentuk warisan dari pendahulunya. Bukankah Syiah itu lahir dari seorang Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi?

Maka dari itu, tidaklah mengherankan bila kaum Syiah sekarang gemar berdusta, bohong yang dikemas dengan istilah taqiyah.

Al-Qur’an mengungkap karakter Yahudi (orang munafik) yang suka berbohong. Firman-Nya,

وَإِذَا جَآءُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَقَد دَّخَلُواْ بِٱلۡكُفۡرِ وَهُمۡ قَدۡ خَرَجُواْ بِهِۦۚ وَٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِمَا كَانُواْ يَكۡتُمُونَ ٦١

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafiran (pula). Dan Allah lebih mengetahui dari apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Taqiyah dilakukan dengan menampakkan kepada orang lain sesuatu yang bertentangan dengan isi hatinya. Taqiyah ditujukan kepada orang yang tidak satu paham dengan mereka.

Karena itulah, taqiyah bisa diberlakukan kepada kaum muslimin. Manakala timbul kekhawatiran pada diri seorang penganut Syiah, maka dirinya boleh berbohong. Syiah agama penuh tipu. Syiah agama sarat dusta.

 

Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah ala Syiah adalah keyakinan batil. Mereka membolehkan melakukan pernikahan hanya dalam kurun tertentu. Bisa cuma semalam, tiga hari, sebulan, atau tergantung kontraknya.

Apa yang akan terjadi pada satu bangsa bila pernikahan semacam ini menjadi mewabah di tengah masyarakat?

Bisa jadi, kehidupan masyarakat menjadi kacau. Tatanan masyarakat menjadi rusak. Sendi-sendi kehidupan rumah tangga yang telah dibina sekian tahun bisa hancur. Akan lahir anak-anak tanpa ayah, karena sang ayah sudah tak bersama ibunya lagi. Sekian banyak lagi permasalahan bisa timbul seiring nikah mut’ah ala Syiah. Semoga kita diselamatkan dari paham Syiah.

Kekacauan sosial bisa muncul dan setelah itu mengganggu stabilitas negara. Sebab, negara yang baik ditopang oleh unsur keluarga-keluarga yang baik, harmonis, beriman, dan taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta bersahaja. Dari keluarga yang semacam itu akan lahir generasi yang baik, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Dari generasi yang baik akan melahirkan para pengelola negeri yang bertakwa, jujur, cerdas, dan penuh tanggung jawab. Biidznillah.

 

Radikalisme Syiah

Semangat untuk menjadikan seluruh negeri muslimin menjadi Syiah adalah fakta. Lihat Syiria. Cermati Yaman. Selisik Bahran. Teliti Kuwait. Perhatikan pula Indonesia. Negara-negara yang disebutkan merupakan contoh berapa kaum Syiah begitu keras mensyiahkan negeri-negeri kaum muslimin.

Di Yaman, diawali dari membentuk komunitas anak muda yang dinamai Syabab al-Mukmin, yang setelah berkembang berubah menjadi partai politik yang bernama Hizbul Haq. Setelah dirasa mampu menyusupkan kadernya di berbagai lini kekuasaan, mereka menyusun rencana mensyiahkan Yaman melalui penggulingan kekuasaan.

Sebelumnya, mereka terus bekerja sama dengan Iran dalam hal pelatihan militer, penyediaan logistik, bantuan persenjataan, penyediaan instruktur/pelatih, dan bantuan keuangan. Semua itu dalam rangka melakukan aksi radikalisme, terorisme, dan penggulingan kekuasaan yang sah. Kemudian terjadilah gerakan bersenjata terhadap penguasa yang sah.

Di Indonesia, hampir sama dengan upaya G30S/PKI. Sebagaimana diketahui, PKI juga berencana menjadikan Indonesia sebagai negara komunis melalui aksi bersenjata.

Di Yaman, mereka menginginkan mensyiahkan wilayah selatan Jazirah Arab yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Dari arah selatan inilah upaya menghancurkan Arab Saudi dan merebut Kota Suci Makkah dan Madinah. Sebagaimana diketahui, permusuhan kaum Syiah terhadap Arab Saudi sedemikian besar. Terutama setelah pemimpin Syiah berkewarganegaraan Arab Saudi dihukum mati.

Gerakan radikalisme Syiah adalah gerakan berbahaya bagi stabilitas negara. Di Suriah, mereka bekerja sama dengan negara komunis, Rusia. Bagi Syiah bekerja sama dengan siapa pun dan negara mana pun bisa saja dilakukan. Bagi Syiah, yang terpenting tujuan tercapai walau dengan menghalalkan segala cara.

Berbeda halnya dengan keyakinan Ahlus Sunnah yang senantiasa menanamkan prinsip untuk taat kepada penguasa dalam hal yang makruf. Ini sebagaimana diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ

“Saya wasiatkan kepada kalian, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski yang memerintah kalian adalah seorang budak Habasyi.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Itulah prinsip yang dipegang kaum salaf sejak dahulu hingga kini. Orang-orang yang memegang teguh prinsip salaf pasti tidak akan melakukan aksi mengangkat senjata kepada penguasa, memberontak. Tidak. Sebab, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah sangat tegas dan jelas.

Maka dari itu, waspadalah terhadap gerakan makar kaum Syiah di mana pun berada. Allahu a’lam.

 ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Islam Nusantara Pro Syi’ah?

Para ulama yang mulia rahimahumullah, sejak dahulu sudah melakukan kajian yang panjang dan cermat tentang Syi’ah. Hasilnya, Syi’ah adalah kelompok sesat yang telah menyimpang dari kebenaran.

Mereka berambisi untuk menghancurkan Islam dengan cara menghujat al-Qur’an, menjatuhkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengafirkan para sahabat beliau yang mulia. Tiga pilar utama dalam agama Islam. Tanpa ketiganya, agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh. Mereka beragama dengan perkataan dusta dan persaksian palsu (taqiyah). Simaklah keterangan para ulama berikut ini,

  1. Al-Imam Amir asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (as-Sunnah karya Abdullah bin al-Imam Ahmad 2/549)
  2. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah ketika ditanya tentang seseorang yang mencela Abu Bakr dan Umar (Syi’ah, pen.) berkata, “Ia telah kafir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Kemudian beliau ditanya, “Apakah kita menyalatinya (bila meninggal dunia)?”

Beliau berkata, “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala karya al-Imam adz-Dzahabi 7/253)

  1. Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menjatuhkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak mampu. Akhirnya mereka mencela para sahabatnya agar dikatakan bahwa beliau (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) seorang yang jahat. Sebab, kalau memang beliau orang saleh, niscaya para sahabatnya adalah orang-orang saleh.” (ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 580)
  2. Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah (Syi’ah) dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal karya al-Imam adz-Dzahabi 2/27—28)
  3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata, “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah) sebagai orang Islam.” (as-Sunnah karya al-Khallal 1/493)
  4. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bagiku sama saja shalat di belakang Jahmi (seorang penganut akidah Jahmiyah) dan Rafidhi (Syi’ah) atau di belakang Yahudi dan Nasrani. Mereka tidak boleh diberi salam, tidak boleh pula dikunjungi ketika sakit, dinikahkan, dijadikan saksi, dan dimakan sembelihannya.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hlm. 125)

Bisa jadi, Anda terheran terhadap kesimpulan para ulama terkemuka di atas. Sejauh itukah kesimpulan mereka? Apa yang melandasi berbagai kesimpulan itu? Mengapa Syi’ah bisa seperti itu? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang menggelitik di hati Anda.

Jawaban ringkasnya, karena Syi’ah adalah sekte (baca: agama) tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan Islam.

Bukankah mereka amat berambisi untuk merobohkan tiga pilar utama agama dalam Islam, yang tanpa ketiganya agama seseorang menjadi rapuh dan sekejap akan runtuh? Tiga pilar utama itu adalah al-Qur’an, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan pemahaman para sahabat (salaful ummah).

Al-Qur’an yang merupakan Kitab Suci umat Islam tak lagi dianggap suci oleh mereka, bahkan tidak sah dan kurang dari yang aslinya.

Disebutkan dalam kitab al-Kafi (yang kedudukannya menurut Syiah Rafidhah seperti Shahih al-Bukhari bagi kaum muslimin) karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini (2/634) dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq), dia berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu (ada) 17.000 ayat.”

Pada (1/239—240) disebutkan dari Abu Abdillah, dia berkata, “Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fatimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fatimah itu.

Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fatimah itu?’

Dia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf yang isinya 3 kali lipat dari yang ada di mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian’.” (Dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal Qur’an karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 31—32)

Adapun Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merobohkannya dengan berbagai cara. Di antaranya,

  1. Mengklaim bahwa para istri Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia adalah pelacur, agar timbul kesan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang tidak baik, sehingga sunnahnya tak bisa diamalkan.

Disebutkan dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal karya ath-Thusi, hlm. 57—60, menukilkan (secara dusta) perkataan sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu terhadap Ummul Mukminin Aisyah, “Kamu tidak lain adalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha, hlm. 11)

  1. Mengafirkan para sahabat kecuali beberapa orang saja dari mereka. Dengan pengafiran para sahabat, berarti gugur pula semua Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan melalui mereka.[1]

Disebutkan dalam kitab mereka Rijalul Kisysyi (hlm. 12—13) dari Abu Ja’far Muhammad al-Baqir, dia berkata, “Manusia (para sahabat) sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan murtad kecuali tiga orang.”

Aku (perawi) berkata, “Siapa tiga orang itu?”

Dia (Abu Ja’far) berkata, “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi…” kemudian menyebutkan surah Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari asy-Syi’ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah fi Mizanil Islam, hlm. 89)

Adapun sahabat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, dua manusia terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka cela dan laknat.[2] Bahkan, berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Tak heran apabila didapati dalam kitab bimbingan doa mereka (seperti dalam Miftahul Jinan, hlm. 114), wirid laknat untuk keduanya,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَالْعَنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهِمَا وَطَاغُوْتَيْهِمَا وَابْنَتَيْهِمَا

“Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya. Laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud adalah Ummul Mukminin Aisyah dan Hafshah).(Dinukil dari kitab al-Khuthuth al-‘Aridhah karya as-Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, hlm. 18)

Dengan robohnya pilar kepercayaan kepada para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan roboh pula pilar kepercayaan kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, melalui merekalah keduanya sampai kepada kita.

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berkata, “Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita, Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Satu hal penting yang tak boleh dilupakan, Syi’ah kerap kali melakukan pengkhianatan terhadap umat Islam. Mereka telah berkhianat terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Khalifah Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu, dan Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu.[3] Sejarah pun mencatat bahwa runtuhnya Daulah Abbasiyah (tahun 656 H) yang mengendalikan kepemimpinan umat Islam dalam skala internasional, adalah karena pengkhianatan sang Perdana Menteri, Muhammad Ibnul Alqami yang beragama Syi’ah.

Akibatnya, Khalifah Abdullah bin Manshur yang bergelar al-Musta’shim Billah dan para pejabat pentingnya tewas mengenaskan dibantai oleh pasukan Tartar yang dipimpin oleh Hulaghu Khan. Kota Baghdad (ibu kota Daulah Abbasiyah) porak-poranda. Kebakaran terjadi di mana-mana. Umat Islam yang tinggal di Kota Baghdad dibantai secara massal; tua, muda, anak-anak, laki-laki, perempuan, orang awam, dan ulama.

Selama 40 hari pembantaian terus-menerus terjadi. Kota Baghdad bersimbah darah. Tumpukan mayat umat Islam berserakan di mana-mana. Bau mayat yang sudah membusuk, semakin menambah duka nestapa. Nyaris sungai Tigris menjadi merah karena simbahan darah umat Islam, sementara sungai Dajlah nyaris menjadi hitam karena lunturan tinta kitab-kitab berharga umat Islam yang mereka buang ke dalamnya.[4] Wallahul Musta’an.

Bagaimanakah sikap Islam Nusantara terhadap Syiah? Apakah mereka berada satu barisan dengan para ulama terkemuka semisal al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Malik, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya tersebut? Simaklah penuturan mereka berikut ini.

 Ulil Abshar Abdalla

Dalam akun twitternya @ulil, 26/6/2015 berkata, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah. Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam. Beda dengan Islam Wahabi atau simpatisannya.”

  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Ciri Islam Nusantara: tidak memusuhi Syi’ah.

Tanggapan:

  1. Ini menunjukkan bahwa Jaringan Islam Liberal (JIL), Islam Nusantara, dan Syi’ah adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Karena itu, mereka tidak saling memusuhi.
  2. Fakta di lapangan membuktikan kebenaran perkataan Ulil tersebut. Tak heran apabila mereka saling mendukung dan membela.
  3. Hal ini semakin memperjelas betapa buruknya wajah Islam Nusantara.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Dan menganggap mereka bagian sah dari umat Islam.”

Tanggapan:

  1. Ini merupakan legitimasi dan rekomendasi bahwa Syi’ah bukan aliran sesat.
  2. Betapa nekatnya Ulil menabrak fatwa sesat Syi’ah yang dikeluarkan oleh ulama terkemuka umat Islam; al-Imam asy-Sya’bi, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad bin Hanbal, al-Imam al-Bukhari, dan yang lainnya rahimahumullah. Tidakkah Ulil mengerti kapasitas dirinya?!
  3. Faktor penyebab kenekatan Ulil di atas, bisa jadi karena mengekor hawa nafsu, bisa jadi pula karena kebodohannya. Kedua-duanya tercela. Namun, lebih tercela lagi apabila penyebabnya adalah keduanya, yaitu mengekor hawa nafsu ditambah kebodohan.
  4. Jika fatwa ulama terkemuka di atas tidak dia hiraukan, sudah barang tentu fatwa orang yang di bawah mereka pun akan dicampakkan. Wallahul Musta’an.
  • Perkataan Ulil Abshar Abdalla, “Beda dengan Islam Wahabi atau

Tanggapan:

  1. Ini merupakan agresi verbal yang dilancarkan oleh Ulil terhadap pihak yang tak sependapat dengannya. Itu kerap kali terjadi, baik di akun twitternya maupun yang lainnya.
  2. Begitulah “orang-orang” Islam Nusantara. Mereka kerap kali mengangkat tentang etika sosial, keramahan-tamahan, sikap santun, antiradikalisme, cinta damai, dan lain-lain, namun kenyataannya justru merekalah yang kerap berkonfrontasi, mencerca, menghina, dan “menyerang” pihak yang tak disukai melalui media-media yang ada. Justru mereka mendukung kelompok radikal, yaitu Syiah. Fakta dan data di lapangan cukup menjadi bukti.
  3. Islam Wahabi atau simpatisannya memang meyakini bahwa Syi’ah itu sesat, berbeda dengan Islam Nusantara. Lantas, apa yang dipermasalahkan? Bukankah dengan itu berarti Islam Wahabi atau simpatisannya sejalan dengan fatwa para ulama terkemuka di atas? Sungguh, ini suatu kemuliaan, bukan kehinaan.
  4. Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah), selalu buruk di mata pegiat-pegiat Islam Nusantara dan konco-konconya. Mereka menjadikan dakwah Salafiyah yang dibawa asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah sebagai musuh bersama. Bahkan, sering kali dijadikan tumbal untuk meraih berbagai kepentingan. Itulah salah satu dari fenomena sosial keberagamaan di Tanah Air kita.

Apabila seseorang mengetahui Islam Wahabi (baca: Dakwah Salafiyah) yang sebenarnya, sungguh tak akan sanggup lisan dan pena mengumpatnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah, edisi 22, “Konspirasi Meruntuhkan Dakwah Islam”.

  1. Bagi Ulil Abshar, mengkritisi Kitab Suci al-Qur’an saja enteng, apalagi mengkritisi Islam Wahabi!

Simaklah perkataannya berikut ini, “Alkitab memiliki kekuatan yang tak saya temukan di Qur’an, yaitu narasi atau kisah. Di Qur’an, kita jumpai banyak qasas atau kisah. Tetapi kisah-kisah di Qur’an diceritakan tidak secara urut, lengkap, dengan ‘drama’ yang memikat pembaca. Di Alkitab, kisah-kisah tentang bangsa Israel diceritakan dengan cara yang sangat menarik. Saya bisa menyebut bahwa Alkitab mungkin adalah salah satu kitab suci yang terbaik dari segi ‘story telling’.” (Pengalaman Saya Dengan Alkitab-islamlib.com 31/10/2015)

 Said Aqil Siradj

Dalam sambutannya pada peringatan hari Asyura yang diunggah di Youtube, https://youtu.be/bW-S9ch8Slk, pada 14 Desember 2013, dia berkata,

“Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala.

Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi.

Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.

Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya. Karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah…musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Nah, kita yang mencintai Ali, kita yang mencintai Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mari kita pertahankan ini, keyakinan yang benar ini. Mari kita pertahankan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah. Sedikit saja amal saleh mari kita pertahankan, yaitu ihya’i Asyura’, ihya’il Arba’in, ihya’i syuhada’i Karbala. Mari kita hidupkan tragedi Karbala dengan pertemuan seperti ini, syukur-syukur lebih dari ini, syukur-syukur lebih besar lagi. Mari kita pertahankan shautul haq ini, suara kebenaran, mari kita pertahankan. Nggak apa-apa lah sekarang orang sedikit, insya Allah yang penting harus ada tidak dilupakan, insya Allah lama-kelamaan akan dipahami oleh orang banyak.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj secara terang-terang membela kegiatan keagamaan Syi’ah, dalam hal ini peringatan hari Asyura untuk mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain untuk mengenang 40 hari setelah kematian beliau.

Peringatan batil ini berisi ratapan tangis, bahkan adakalanya (di luar Indonesia) sambil melukai diri dengan senjata tajam: pedang, pisau, rantai, dan yang semisalnya. Ini dilakukan oleh laki-laki, wanita, bahkan anak-anak.

Tak seorang pun dari as-Salaf ash-Shalih yang membenarkannya, apalagi melakukannya. Mereka memvonis Syi’ah itu sesat, sebagaimana imam-imam terkemuka di atas, maka bagaimana mungkin mereka melakukan kegiatan keagamaan Syi’ah yang sesat itu?!

  1. Said Aqil Siradj melegitimasi dan merekomendasi kegiatan keagamaan Syi’ah yang batil tersebut dengan beberapa pernyatannya, “keyakinan yang benar”, “baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah”, “shautul haq, suara kebenaran.”

Padahal kegiatan tersebut mungkar, suara kebatilan, dan bukan baqiyyah min baqaya al-a’mal ash-shalihah.

  1. Said Aqil Siradj mengasung kaum Syi’ah agar peringatan hari Asyura, mengenang tragedi terbunuhnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma di Karbala dan hari Arbain dipertahankan, tidak dilupakan, dan supaya terus dihidupkan. Bahkan, membesarkan hati mereka manakala orang yang hadir pada kegiatan batil itu berjumlah sedikit.

Tampak sekali kesan bahwa dia ikut memiliki kegiatan keagamaan Syi’ah tersebut. Bukankah ini pertanda kuat bahwa Said Aqil Siradj hatinya dekat dengan kaum Syi’ah?!

  1. Apabila ditarik mundur, ternyata kedekatan Said Aqil Siradj dengan kaum Syi’ah sudah terjalin lama. Terkhusus dengan Negara Iran yang merupakan markas Syi’ah terbesar di dunia saat ini. Setidaknya sejak tahun 2005 (10 tahun yang lalu), ketika dia menjadi Ketua Biro Urusan Kerjasama Beasiswa PBNU untuk Timur Tengah.

Di masa jabatannya itu, untuk pertama kalinya pendaftaran beasiswa program S2 di Iran dibuka. Jurusan yang dapat diambil adalah filsafat dan agama. Adapun universitas tujuan ada beberapa, seperti Universitas Qum. Sebagaimana pula ada model pendidikan ala pesantren yang dipromosikan lebih bagus kualitasnya. (m.nu.or.id, 15/4/2005)

  • Perkataan Said Aqil Siradj, “Di kalangan NU sendiri masih banyak yang belum paham. Nggak apa-apa maklum belum ngerti, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Berilah kepengertian kepada orang-orang yang belum paham dengan peringatan Asyura’, peringatan Arba’in.

Ya Allah berilah petunjuk kepada umat Islam warga Nahdhiyyin, pesantren-pesantren yang belum mengerti apa itu yaumu Asyura, apa itu yaumul Arba’in. Maafkan mereka ya Pak, ya..karena mereka fainnahum laa ya’lamuun karena belum mengerti.

Kata Imam Ali Zainal Abidin, “Alhamdulillah alladzi ja’ala a’da-ana humaqo’.” Alhamdulillah… musuh-musuh saya itu goblok-goblok semua, kira-kira itu gitu. Orang yang dungu-dungu, ahmaq-ahmaq.”

Tanggapan:

  1. Said Aqil Siradj berkesimpulan bahwa umat Islam, terkhusus warga Nahdhiyyin dan pesantren-pesantren yang tidak mengikuti atau menolak kegiatan keagamaan kaum Syi’ah yaumu Asyura dan yaumul Arba’in, sebagai orang-orang yang belum mengerti, goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq. Maka dari itu, perlu didoakan, Allahummahdihim fainnahum laa ya’lamuun. Ya Allah berilah petunjuk kepada Umat Islam, maklum mereka belum mengerti.

Silakan pembaca yang menilai, apakah itu merangkul atau memukul? Membina atau menghina? Memakai hati atau memaki-maki?

  1. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan Imam Ali Zainal Abidin yang mendiskreditkan kaum Sunni, maka Imam Ali Zainal Abidin juga pernah berkata tentang Syi’ah sebagai berikut, “Mereka (Syi’ah) bukan dari kami, dan kami pun bukan dari mereka.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 111, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)
  2. Jika Said Aqil Siradj menyebutkan perkataan al-Imam Ali Zainal Abidin bahwa musuh-musuhnya (baca: Sunni) humaqa’ yaitu goblok-goblok, dungu-dungu, dan ahmaq-ahmaq, al-Imam Muhammad al-Baqir yang juga diklaim sebagai imam oleh Syi’ah berkata, “Seandainya semua manusia ini Syi’ah, niscaya tiga perempatnya adalah orang-orang yang ragu dengan kami, dan seperempatnya adalah orang-orang dungu.” (Lihat Rijalul Kisysyi, hlm. 179, dinukil dari asy-Syi’ah Wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 303)

Dari sini, dapat diambil kesimpulan bahwa Islam Nusantara tak bisa dipisahkan dari Syi’ah, sebagaimana tak bisa dipisahkan dari Islam Liberal. Mereka adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan: Jaringan Islam Liberal-Islam Nusantara-Syi’ah (JIS).

Setelah penjelasan ini, para pembaca tentu tidak tidak kesulitan lagi menjawab pertanyaan pada judul artikel ini, “Islam Nusantara Pro Syi’ah?”

Sebagai penutup, simaklah kembali mutiara kata Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi rahimahullah berikut ini, semoga menjadi pelengkap jawaban untuk pertanyaan di atas.

“Jika Anda melihat orang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa ia zindiq (seorang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran). Sebab, bagi kita Rasul adalah haq dan al-Qur’an adalah haq. Sesungguhnya yang menyampaikan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka (kaum Syi’ah, -pen.) mencela para saksi kita (para sahabat) dengan tujuan untuk meniadakan al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (al-Kifayah karya al-Khathib al-Baghdadi, hlm. 49)

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.

[1] Untuk mengetahui kemulian sahabat dan pembelaan terhadap mereka, silakan membaca Majalah Asy-Syari’ah Vol. II/No. 17 “Membela Kemuliaan Sahabat Nabi” dan Majalah Asy-Syari’ah Vol. VII/No. 78 “Sahabat Nabi Dihujat, Pembelaan Terhadap Mu’awiyah.”

[2] Lebih dari itu, mereka menjadikan Abu Lu’lu’ al-Majusi, si pembunuh Khalifah Umar bin al-Khaththab, sebagai pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Bahkan, hari kematian Umar dijadikan sebagai hari “Idul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari berkah, serta hari suka ria. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 18)

[3] – Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, aku telah bosan dengan mereka (Syi’ah) dan mereka pun telah bosan denganku. Gantikanlah untukku orang-orang yang lebih baik dari mereka, dan gantikan untuk mereka seorang yang lebih jelek dariku mereka seorang yang lebih jelek dariku….” (Nahjul Balaghah, hlm. 66—67, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah! Menurutku Mu’awiyah lebih baik daripada orang-orang yang mengaku sebagai Syi’ah-ku. Mereka berupaya membunuhku dan mengambil hartaku.” (al-Ihtijaj, karya ath-Thabrisi hlm. 148, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 300)

– Sahabat Husain bin Ali radhiallahu ‘anhu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau memberi mereka (Syi’ah) kehidupan hingga saat ini, porak-porandakan mereka dan jadikan mereka berkeping-keping. Janganlah Engkau jadikan para pemimpin (yang ada) ridha kepada mereka (Syi’ah) selama-lamanya. Sebab, kami diminta membantu mereka, namun akhirnya mereka justru memusuhi kami dan menjadi sebab kami terbunuh.” (al-Irsyad, karya al-Mufid hlm. 341, dinukil dari asy-Syi’ah wa Ahlul Bait karya Dr. Ihsan Ilahi Zhahir, hlm. 302)

[4] Untuk lebih rinci, silakan membaca al-Bidayah wan Nihayah karya al-Imam Ibnu Katsir, 13/200—211, Tarikhul Islam wa Wafayatul Masyahir wal A’lam karya al-Imam adz-Dzahabi 48/33—40, dan Tarikhul Khulafa’ karya al-Imam as-Suyuthi, hlm. 325—335

Kesesatan kesesatan syiah pada hari Asyura

Hari Asyura adalah hari kesepuluh bulan Muharam. Pada hari tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan Nabi Musa ‘alaihissalam dan Bani Israil dari musuh mereka. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkisah,

قَدِمَ النَّبِىُّ الْمَدِينَةَ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ: مَا هَذَا. قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى. قَالَ: فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Rasulullah datang ke Madinah, ketika itu beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau berkata, “Ada apa mereka(berpuasa)?”

Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang baik, Allah subhanahu wa ta’ala selamatkan di hari ini Musa dan bani Israil dari musuhnya.” Musa pun berpuasa di hari tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku lebih berhak untuk mengikuti Musa dibandingkan kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpuasa di hari tersebut dan memerintahkan untuk berpuasa di hari tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

وَصَيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura—aku berharap kepada Allah subhanahu wa ta’ala—akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah tuntunan dalam Islam, disunnahkan bagi kaum muslimin berpuasa di hari Asyura, dan dianjurkan berpuasa juga di tanggal sembilan, hari tasu’a, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Jika (bertemu) tahun depan, aku akan berpuasa juga di tanggal sembilannya.” (HR. Muslim)

Tuntunan yang ada dalam Islam di hari Asyura adalah berpuasa dan tidak ada ritual apa pun.

Namun, kemudian muncul orang-orang yang melakukan kebid’ahan dalam agama ini. Sebagian mereka menampakkan kesedihan di hari tersebut dan sebagian mereka menampakkan kegembiraan merayakan hari tersebut.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab meninggalnya al-Husain, setan mengadakan dua kebid’ahan bagi manusia;

(1) bid’ah kesedihan dan meratap di hari Asyura dengan menampar pipi, menjerit, menangis, dan membaca syair duka…; dan

(2) bid’ah kegembiraan dan kebahagiaan, mereka menganjurkan di hari Asyura untuk bercelak, mandi, memberi kelapangan untuk keluarga, membuat makanan yang tidak biasa dibuat….

Semua ini adalah kebid’ahan yang sesat, tidak ada satu pun dari imam yang empat mengajurkan bersedih ataupun bergembira.” (Diringkas dari Minhajus Sunnah)

 Bid’ah dan Kesesatan Syiah pada Hari Asyura

Di antara orang yang melakukan kebid’ahan di hari Asyura adalah Syiah, mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabung, hari bersedih, dan meratap. Mereka mengaku sedang meratapi meninggalnya Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Berbagai macam kesesatan dan kemungkaran mereka lakukan di hari tersebut; meratap, menempeleng pipi, wajah bahkan menyayat tubuh-tubuh mereka, melukai kepala, mengucurkan darah-darah mereka, memukul pundakpundak mereka dengan rantai, dan perbuatan mungkar lainnya.

Mereka menampakkan kesedihan pada hari meninggalnya al-Husain, padahal mereka sendiri penyebab meninggalnya. Mereka telah menipunya dan menyerahkan al-Husain radhiallahu ‘anhu hingga beliau terbunuh.

Apa yang dilakukan Syiah di hari Asyura sangat bertentangan dengan akidah Islam. Islam melarang meratap, melakukan perbuatan yang menunjukkan tidak menerima takdir Allah subhanahu wa ta’ala ketika ada musibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُودَ، وَشَقَّ الْجُيُوبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّة

“Bukanlah termasuk golongan kami seorang yang menempeleng pipi, merobek kerah baju, dan meratap seperti ratapan jahiliah.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

اثْنَتَانِ فِي النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ؛ الطَّعْنُ فِي النَّسَبِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ

“Dua hal ada pada manusia, dengan keduanya mereka terjebak dalam kekufuran: mencela nasab dan meratap mayit.” (HR. Muslim)

Apa yang dilakukan oleh Syiah, meratapi meninggalnya al-Husain di setiap hari Asyura dengan melakukan berbagai kemungkaran, sangatlah bertentangan dengan hadits-hadits di atas.

 

Pelajaran Penting dari Kisah Terbunuhnya al-Husain

Ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat menjadi khalifah, al-Husain tidak berbaiat kepadanya. Ketika orang-orang Irak mendengar berita tersebut, mereka pun mengirim utusan dan surat panggilan untuk berbaiat kepadanya.

Mengapa demikan? Karena mereka tidak menginginkanYazid bin Muawiyah, bapaknya, tidak juga menginginkan Utsman, Umar, dan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhum. Mereka hanya ingin berbaiat kepada Ali dan anak keturunannya.

Al-Husain kemudian mengutus Muslim bin Aqil bin Abi Thalib untuk berangkat ke Kufah dalam rangka memastikan berita yang sampai kepadanya.

Sesampai di Kufah, Muslim bin Aqil pun yakin bahwasanya mereka menginginkan al-Husain. Orang-orang Kufah pun membaiat Muslim bin Aqil sebagai wakil baiat kepada al-Husain.

Ketika berita ini sampai kepada Yazid bin Muawiyah di Syam, maka Yazid pun mengutus Ubaidillah bin Ziyad untuk menanganinya, mencegah orang Kufah memberontak kepadanya. Ketika datang di Kufah, Ubaidillah bin Ziyad mencari-cari berita hingga dia tahu bahwa rumah Hani bin Urwah yang pernah jadi tempat baiat adalah merupakan tempat tinggal Muslim bin Aqil.

Muslim bin Aqil pun keluar bersama 4.000 pendukungnya (penduduk Kufah???) mengepung istana Ubaidillah bin Ziyad. Ubaidillah bin Ziyad berdiri menakut-nakuti mereka dengan kedatangan pasukan dari Syam. Mereka pun pergi meninggalkan Muslim bin Aqil, kecuali tinggal 30 orang saja. Namun, tidak berapa lama beliau tinggal seorang diri. Beliau ditangkap dan diperintah untuk dibunuh. Sebelum dibunuh, Muslim bin Aqil meminta izin untuk menulis surat kepada al-Husain, yang isinya,

Kembalilah engkau bersama keluargamu. Janganlah engkau tertipu oleh penduduk Kufah, karena penduduk Kufah telah berdusta kepadamu dan kepadaku….

Sebagian sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada ketika itu sempat meminta beliau untuk mengurungkan niatnya berangkat ke Kufah, menasihati beliau untuk tidak memenuhi panggilan para pengkhianat tersebut.

Namun, takdir Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki terjadinya peristiwa Karbala. Al-Husain dan sebagian keluarga beliau dari ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal di sana. Beliau meninggal dikhianati oleh kalian, wahai Syiah!

Mengapa kalian menampakkan diri sebagai orang yang berduka, padahal kalian yang telah berbuat?!

Demikianlah Syiah Rafidhah….

Makar dan pengkhianatan mereka lakukan, namun mereka menampakkan sebagai seorang yang bersih, sebagai seorang pembela….

Padahal tangan-tangan mereka berlumuran darah kaum muslimin… .

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya, sumber keburukan dan musibah adalah Rafidhah dan yang tergabung bersama mereka. Kebanyakan pedang yang ada dalam Islam adalah dari arah mereka, dengan sebab mereka orang-orang zindiq bisa menyembunyikan diri.” (Minhajus Sunnah)

Beliau juga berkata, “Mereka berwala’ kepada musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala, yang semua orang tahu itu adalah musuh, baik Yahudi, Nasrani, atau munafikin. Memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, padahal mereka adalah orang-orang pilihan di agama ini dan tokoh orang bertakwa. Merekalah yang menjadi sebab kaum Nasrani menguasai Baitul Maqdis, sampai akhirnya kaum muslimin merebutnya kembali.”

Di antara makar dan pengkhianatan yang mereka lakukan adalah, makar yang mereka lakukan di musim haji tahun ini. Ratusan kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji meninggal dunia, ratusan lainnya terluka, ketika hendak melempar jumrah di Mina.

Siapa yang berulah?

Mereka Syiah, jamaah Iran yang berbuat, tidak patuh aturan, bahkan di beberapa kesempatan membuat provokasi dan kegaduhan. Lihat, mereka yang berbuat, tetapi justru mereka yang lantang berkata keras kepada pemerintah negeri tauhid.

Justru tokoh Iran, para tokoh Syiah, menghujat penguasa negeri tauhid, dengan berbagai macam tuduhan dan hujatan nista. Inilah di antara makar Syiah kepada kaum muslimin.

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

“Mereka berbuat makar dan Allah akan membalas makar mereka, Allah adalah sebaik-baik yang membalas makar.” (Ali ‘Imran: 54)

Jika kita kembali membaca sejarah, maka kita akan dapatkan kejahatan Syiah di tanah suci ketika kaum muslimin sedang menunaikan ibadah haji bukanlah sesuatu yang baru.

Mereka telah berulangkali melakukan makar dan pengkhianatan kepada kaum muslimin di musim haji. Ketika kaum muslimin sedang menunaikan rukun Islam yang kelima.

1985: Mereka menyelundupkan 51 kg bahan peledak C4 di tas jamaah haji.

1986: Mereka terlibat dalam kejahatan yang menyebabkan meninggalnya 300 orang jamaah haji karena saling dorong.

1987: Mereka melakukan pengeboman di Tanah Suci, di depan Masjidil Haram, yang menyebabkan meninggalnya 400 orang haji.

1990: Mereka membunuh para jamaah haji dengan gas yang menyebabkan meninggalnya 1.426 orang.

Bahkan, ada yang lebih dahsyat dari itu semua, yaitu yang dilakukan oleh Syiah Qaramithah pada 317 H, tepatnya di hari Tarwiyah. Mereka membantai 30 ribu jamaah haji. Kubah sumur Zamzam mereka bongkar. Pintu Ka’bah mereka cungkil. Mereka mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya kemudian mereka bawa ke negeri mereka di Ahsa’.

Demikianlah Syiah Rafidhah, mereka adalah kelompok yang lebih jelek dari Khawarij. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Mazhab Rafidhah lebih jelek dari mazhab Khawarij yang telah lepas dari Islam. Puncak perbuatan Khawarij adalah mengafirkan Utsman dan Ali radhiallahu ‘anhuma. Adapun Rafidhah, mereka mengafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan jumhur orang-orang terdahulu. Mereka juga menentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dari penentangan Khawarij. Mereka berdusta, mengada-ada, ghuluw, dan melakukan berbagai penyimpangan yang tidak ada dilakukan oleh Khawarij. Mereka juga membantu orang kafir ketika melawan kaum muslimin.”

Hendaknya kita waspada dari makar orang-orang Syiah, terlebih sekarang mereka mulai menyusupkan orang-orang mereka ke posisi-posisi strategis. Mereka sebarkan pemikiran Syiah melalui buku, audio-video, pendirian sekolah, bahkan telah berani merayakan perayaan mereka secara terbuka di hadapan khalayak umum.

Kita meminta kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga kita dari kesesatan dan bahaya makar Syiah, memberikan bimbingan kepada kaum muslimin dan penguasa kaum muslimin kepada perkara yang diciantai dan diridhai-Nya.

Wallahul Muwaffiq.

Ditulis oleh al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Dusta, Prinsip Agama Rafidhah (Syiah)

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

dusta

Fitrah manusia mencintai kejujuran dan membenci kedustaan. Namun, apabila hawa nafsu telah menguasai seorang dan fanatik buta telah merasuki dirinya, fitrah kesuciannya menjadi rusak dan berubah. Kedustaan yang sebelumnya ia benci akan menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan, ada yang lebih parah dari itu, kedustaan dijadikan sebagai salah satu prinsip beragama, seperti agama Rafidhah (Syiah).

 

Kedustaan, Ciri Khas Munafik

Orang-orang munafik yang tinggal bersama masyarakat muslimin ibarat duri dalam daging. Di satu sisi, orang-orang munafik secara lahiriah menampakkan seolah-olah bagian muslimin. Akan tetapi, di sisi lain mereka memendam kebencian kepada Islam dan muslimin.  Kapan pun ada peluang untuk menjelek-jelekkan Islam, akan mereka lakukan. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan tentang mereka, di antaranya,

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, sesungguhnya kamu benarbenar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, memungkirinya; dan apabila diamanahi, ia berkhianat.” ( HR. al-Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Kemunafikan Yahudi dan Syiah

Kemunafikan merupakan sifat Yahudi yang menonjol. Watak jahat ini sudah muncul sejak awal munculnya bangsa Yahudi. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan di antara bentuk kemunafikan mereka,

Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman”; dan apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. (Ali Imran: 119)

Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan, “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (darimu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (al-Maidah: 61)

Bisa jadi, seseorang akan heran, bagaimana bisa orang-orang Yahudi suka bermunafik padahal mereka memiliki kitab agama? Bahkan, bermunafik merupakan sifat yang selalu melekat pada mereka?

Apabila seseorang menelaah kitab-kitab Yahudi, terkhusus kitab Talmud, niscaya akan didapatkan jawaban bahwa sifat jelek tersebut ada pada mereka karena para penulis kitab Talmud telah menanamkan kemunafikan pada jiwa mereka. Mereka memoles kedustaan sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan sebuah cara untuk mencapai tujuan-tujuan mereka yang berkaitan dengan agama atau pribadi mereka.

Di antara yang disebutkan dari mereka ialah seorang Yahudi boleh berbasa-basi dengan non-Yahudi secara lahiriah demi menghindari kejelekannya, dengan syarat ia tetap memendam kebencian kepadanya.

Salah seorang penulis Talmud mengatakan, “Bermunafik dibolehkan. Seorang—Yahudi—memungkinkan untuk berlaku sopan dengan orang kafir dan mengatakan kecintaan kepadanya secara dusta, apabila dikhawatirkan ia akan tertimpa mudarat.”

Selain itu, mereka menampakkan seolah-olah mengucapkan salam kepada muslimin padahal mereka menyembunyikan pada diri mereka apa yang tidak mereka tampakkan. Oleh karena itu, setelah penjelasan ini seorang muslim tidak pantas tertipu oleh trik-trik Yahudi dalam bermunafik, seperti apa pun mereka menampakkan kecintaan.

Allah ‘azza wa jalla telah membeberkan trik-trik jahat mereka dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah firman-Nya,

“Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu.” (al-Mujadalah: 8)

Di antara bentuk kemunafikan mereka ialah menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang berseberangan dengan mereka, dengan cara ikut serta dalam perayaannya, bahkan berpura-pura memeluk agama orang lain.

Hal ini seperti tertera dalam kitab Talmud, “Apabila seorang Yahudi bisa menipu para penyembah berhala dengan mengaku-ngaku bahwa ia termasuk penyembah bintang (berhala), boleh ia lakukan.”

Sengaja kami menyebutkan trik-trik kemunafikan Yahudi agak panjang, karena ada sisi kesamaan dengan orang-orang Rafidhah (Syiah). Bagaimana tidak?! Bahkan, yang memunculkan agama Syiah adalah seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’. Ia berpura-pura masuk Islam demi merusak kaum muslimin dari dalam. Hal ini juga diakui oleh orang-orang Syiah sendiri, sebagaimana yang dinukil oleh al-Mamiqani dalam kitab mereka, yaitu Tanqihul Maqal (2/184), dari al-Kisysyi—pimpinan ulama Syiah dalam bidang al-jarh wat ta’dil.

Berikut ini teks terjemahannya, “Ulama telah menyebutkan bahwa dahulu Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi, lalu masuk Islam dan menyatakan kecintaannya kepada Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika masih beragama Yahudi, Abdullah bin Saba’ mengatakan tentang Yusya bin Nun bahwa ia adalah orang yang diwasiati oleh Nabi Musa (untuk memimpin Bani Israil sepeninggal Musa). Ketika masuk Islam, dia pun mengatakan seperti itu tentang Ali (yaitu yang paling berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang memasyhurkan keyakinan tentang keimaman Ali dan menampakkan sikap benci kepada lawan-lawan Ali[1].” (lihat mukadimah Muhibbuddin al-Khathib terhadap kitab Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsnai al-‘Asyariyah)

Dari penjelasan di atas, teranglah bahwa memang ada benang merah antara Yahudi dan Syiah. Karena itu, didapatkan banyak titik kesamaan antara dua agama tersebut, tak terkecuali dalam masalah tipu-menipu dan berdusta.

Orang-orang Syiah membolehkan berdusta terhadap orang yang bukan kelompoknya, terlebih lagi terhadap Ahlus Sunnah.

Orang-orang Syiah punya trik untuk menyembunyikan keyakinan dan agamanya di sisi orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, bahkan sampai pada tingkatan berpura-pura mengikuti agama atau kelompok selain mereka. Mereka mengatakan bahwa ini adalah bentuk taqiyyah ( تَقِيَّةٌ ), yang sebenarnya merupakan bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, apabila mereka merasa memiliki kekuatan, mereka berterus terang tentang agamanya (Syiahnya) dan menampakkan permusuhan serta kebencian kepada selain kelompok mereka, lebih-lebih terhadap Ahlus Sunnah. Mereka akan membuka agama yang selama ini mereka sembunyikan.

 

Hakekat Taqiyyah Menurut Syiah

Yusuf al-Bahrani—salah seorang pembesar Syiah di abad ke-12 H—, “Yang dimaksud dengan taqiyyah adalah menampakkan kecocokan kepada orang yang tidak sepaham pada apa yang mereka yakini karena takut.”

Al-Khumaini berkata, “Taqiyah artinya seseorang mengatakan suatu perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan timbangan syariat. Hal itu dilakukan demi menjaga darah, kehormatan, atau hartanya.”

Dari pemaparan para tokoh Syiah di atas, bisa diambil empat kesimpulan, yaitu:

  1. Makna taqiyah adalah menampakkan kepada orang lain sesuatu yang menyelisihi batinnya.
  2. Taqiyyah digunakan terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, sehingga seluruh muslimin masuk dalam keumuman (orang yang tak sepaham dengan mereka).[2]
  3. Taqiyyah digunakan pada perkara agama yang diyakini oleh orang-orang yang tidak sepaham.
  4. Taqiyyah dilakukan ketika dia mengkhawatirkan agama, jiwa, atau hartanya.

 

Kedudukan Taqiyyah Menurut Syiah

Taqiyyah dalam agama Rafidhah (Syiah) memiliki posisi yang tinggi, seperti yang disebutkan dalam kitab-kitab induk mereka.

Al-Kulaini dan yang lainnya meriwayatkan dari Ja’far ash-Shadiq bahwa ia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyyah.”

Ali bin Muhammad berkata kepada Dawud ash-Sharmi, “Wahai Dawud, kalau aku katakan kepadamu bahwa orang yang meninggalkan taqiyyah seperti orang yang meninggalkan shalat, niscaya aku benar (ucapannya).”

Diriwayatkan juga dari al-Baqir bahwa ia berkata, “Akhlak termulia dari para imam dan orang mulia kalangan Syiah kita adalah menggunakan taqiyyah.”

Orang-orang Syiah melakukan taqiyyah berdalilkan dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan kepada Allah kembali (mu).” (Ali Imran: 28)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Orang-orang Rafidhah mengaku mengamalkan ayat ini (Ali Imran ayat 28), padahal ayat ini merupakan bantahan atas mereka. Sebab, yang pertama kali diajak bicara dengan ayat ini adalah orang-orang mukmin yang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikatakan kepada mereka, ‘Orang-orang yang beriman tidak (boleh) menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong/teman dekat selain orang-orang yang beriman…’

Dan telah maklum bahwa tidak ada dari kaum mukminin yang ada di Madinah pada zaman Nabi yang menyembunyikan keimanannya dan tidak menampakkannya kepada orang-orang kafir, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rafidhah terhadap mayoritas (kaum muslimin)…

Orang Rafidhah adalah orang yang paling besar menampakkan “kecintaan” kepada Ahlus Sunnah, kala mereka tidak mau menampakkan agamanya. Mereka justru menghafal (dalil-dalil) tentang keutamaan sahabat Nabi dan syair-syair yang memuji sahabat dan mencela Rafidhah. Suatu hal yang dengan itu mereka mengharapkan kecintaan dari Ahlus Sunnah.

Salah seorang mereka tidak mau menampakkan agama (Syiah)nya sebagaimana halnya orang-orang beriman menampakkan agamanya kepada orangorang musyrikin dan ahli kitab.

Dari penjelasan ini, diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling jauh pengamalan ayat ini. Adapun firman Allah ‘azza wa jalla,

“Kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)

Mujahid rahimahullah berkata, “Kecuali karena siasat. Siasat (di sini) bukan dengan (mengatakan), ‘Aku berdusta dan mengatakan dengan lisanku apa yang tidak ada pada hatiku.’ Sebab, yang seperti ini adalah bentuk kemunafikan.

Akan tetapi, yang dimaksud dengan siasat adalah aku melakukan (agama) sesuai kemampuanku….

Apabila seorang mukmin berada di antara orang-orang kafir dan jahat, tidak bisa menjihadi mereka dengan tangan karena tidak mampu, jika mampu ia lakukan dengan lisannya; apabila tidak mampu, dengan hatinya. Namun, dia tidak melakukan kedustaan dan mengatakan dengan lisannya apa-apa yang tidak ada pada hatinya.

Adakalanya seorang mukmin yang tinggal di tengah-tengah mereka menampakkan agamanya, adakalanya menyembunyikannya, namun bersamaan dengan itu ia tidak mencocoki agama orang-orang kafir….

Adapun orang Rafidhah tidaklah bergaul dengan seorang pun kecuali menggunakan cara-cara kemunafikan. Sebab, agama yang ada pada hatinya adalah agama rusak yang mendorongnya untuk berdusta, berkhianat, menipu manusia, dan menghendaki kejelekan kepada manusia.” (Minhajus Sunnah 6/421—425)

 

Rafidhah Berkolaborasi dengan Orang-Orang Kafir

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (1/20) tentang mereka, ‘Sesungguhnya, mereka adalah para pengekor hawa nafsu yang paling bodoh dan zalim. Mereka memusuhi waliwali Allah ‘azza wa jalla yang terbaik setelah para nabi, dari orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta yang mengikuti mereka dengan baik yang Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka (Rafidhah) loyal kepada orang-orang kafir dan munafik dari Yahudi, Nasrani, dan musyrikin, serta segenap orang-orang atheis seperti kelompok Nushairiyah, Isma’iliyah, dan orang-orang sesat selain mereka.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 133)

Husain bin Ali Hasyimi mengatakan, “Kerjasama militer antara Israel dan Iran terus berlanjut dan tidak terputus.”

Menteri Luar Negeri Israel (negeri Yahudi) di masa pemerintahan Netayahu, David Levi, mengatakan, “Sesungguhnya Israel tidak pernah mengatakan pada suatu hari bahwa Iran (negeri Syiah) adalah musuh.”

Mantan Perdana Menteri Yahudi, Ariel Sharon, mengatakan, “Aku tidak memandang bahwa Syiah adalah musuh Israel lebih lanjut.” (al-Watsaiq at-Ta’amuriyyah hlm. 134)

Dari sini, jelas bahwa apa yang sering diberitakan di beberapa media bahwa negeri Syiah akan menyerang Israel hanyalah sandiwara politik guna menarik simpati dunia Islam kepada negeri Syiah, Iran.

 

Orang-Orang Rafidhah (Syiah) di Mata Ulama

Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Jangan ajak bicara mereka dan jangan ambil riwayat dari mereka. Sebab, mereka biasa berdusta.”

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Belum pernah aku melihat seorang lebih berani bersaksi palsu daripada orang Rafidhah.”

Yazid bin Harun rahimahullah berkata, “(Riwayat) ditulis dari setiap ahli bidah—apabila ia bukan penyeru kebid’ahan—selain orang-orang Rafidhah, karena mereka biasa berdusta.” (al-Muntaqa min Minhajil I’tidal, adz-Dzahabi hlm. 23)

Setelah pemaparan di atas, bisa jadi ada yang bertanya, mengapa Syiah menjadikan taqiyyah sebagai bagian agama mereka?

Jawabannya, di antara sebabnya adalah bobroknya keyakinan-keyakinan mereka. Mereka sadar, jika manusia sampai mengetahui hakikat agama Syiah, akan membahayakan orang-orang Syiah dan agamanya. Sebab, dalam agama Syiah terdapat kebatilan besar yang tidak bisa diterima oleh syariat yang benar, fitrah, dan akal sehat.

Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita dari makar-makar jahat mereka. Wallahu a’lam.


[1] Yang dimaksud “lawan-lawan Ali” oleh al-Kisysyi ini sebenarnya adalah teman-teman Ali radhiallahu ‘anhu, yaitu para sahabat Nabi g.

[2] Bahkan, terkadang mereka bertaqiyah dengan sesama mereka sendiri. (-ed.)

Ternyata Syiah Juga Penyembah Kubur

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

makam-keramat-cinunuk-garut

Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk bertauhid dan melarang mereka berbuat syirik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan hendaknya kalian beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah maka janganlah berdoa kepada Allah diserta berdoa kepada selain-Nya.” (al-Jin: 18)

Sangat banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang memerintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi perbuatan syirik. Namun, masih banyak hamba Allah ‘azza wa jalla yang terus melakukan berbagai kesyirikan, kekufuran, dan kebid’ahan. Di antara mereka yang banyak melakukan kesyirikan dan kebid’ahan adalah orang-orang Syiah Rafidhah.

 

Siapakah Rafidhah?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Rafidhah adalah orang-orang yang ghuluw (berlebihan dalam mengagungkan) terhadap ahlul bait, mengafirkan para sahabat yang lainnya, dan menyatakan bahwa para sahabat adalah orang fasik (bahkan kafir, -ed.). Mereka terdiri dari banyak kelompok. Di antara mereka ada golongan ekstrem yang menyatakan Ali adalah ilah, ada pula yang kesesatannya di bawah itu.

Awal mula kemunculan mereka adalah di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ketika Abdullah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkau adalah ilah.” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pun memerintahkan mereka dibakar, sementara tokoh mereka Abdullah bin Saba melarikan diri ke Madain.

Mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ‘azza wa jalla berbeda-beda: di antara mereka ada musyabbihah, ada yang mu’athilah, dan di antara mereka ada yang tidak demikian.

Mereka dinamakan Rafidhah karena menolak (meninggalkan) Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Hal ini terjadi ketika mereka minta beliau berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma, namun beliau justru mendoakan rahmat bagi keduanya. Maka dari itu, mereka pun menolak dan menjauhkan diri dari beliau.

Mereka menamakan diri mereka dengan Syiah karena mengklaim sebagai orang yang membela dan menolong ahlul bait dan menuntut hak mereka menjadi imam. (Syarah Lum’atul Itiqad, Ibnu Utsaimin)

 

Rafidhah Adalah Syiah

Sebuah pertanyaan pernah disampaikan kepada asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah, “Apakah benar menamakan Syiah dengan Rafidhah, jika benar mengapa mereka dinamakan demikian?”

Rafidhah asalnya adalah Syiah. Tasyayu’ asalnya adalah menolong. Namun, keadaan mereka sebagaimana kelompok-kelompok sesat lainnya, mengklaim menolong Ali dan ahlul bait, mengaku sebagai kelompok Ali dan pembela Ali radhiallahu ‘anhu—padahal itu hanyalah pengakuan belaka, -pen.

Sebagaimana telah maklum mereka terpecah karena mereka menuntut Zaid bin Ali untuk berbara’ dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata, “Ma’adzallah, keduanya adalah orang dekat kakekku.” Mereka pun menjauhkan Zaid bin Ali hingga mereka disebut Rafidhah, dan terbagilah Syiah menjadi Zaidiyah dan Rafidhah.

Para ulama yang menulis tentang firqah-firqah seperti al-Asy’ari, as-Syihristani, dan al-Baghdadi menyebutkan kelompok-kelompok Syiah, bahwa mereka terbagi sekian kelompok, namun mereka lebih senang dinamakan Syiah padahal kenyataannya mereka adalah Rafidhah, Kisaniyah, Qaramithah, Ismailiyah, Nashiriyah, atau (sekte Syiah) lainnya (Fatwa asy-Syaikh Hamud at- Tuwaijiri).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Asal ucapan sesat Rafidhah adalah (pernyataan mereka) bahwa nabi telah menetapkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah dengan nash yang memutuskan adanya uzur dan menegaskan bahwasanya Ali radhiallahu ‘anhu adalah imam yang maksum. Karena itu, barang siapa menyelisihinya berarti telah kafir. Mereka berpandangan bahwa Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan nash tersebut dan mengingkari imam maksum dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Menurut mereka, Muhajirin dan Anshar telah mengubah agama dan syariat, berbuat zalim dan melampaui batas, bahkan telah kafir kecuali segelintir orang yang berjumlah sedikit….” (Majmu’ Fatawa, 3/356)

 

Syiah, Kelompok yang Paling Mirip dengan Yahudi

Sebelum kita menyebutkan bentuk kesyirikan Syiah Rafidhah, kita akan mengingat kembali kemiripan Rafidhah dengan Yahudi. Jika kita membaca dalam al-Qur’an dan hadits tentang celaan Allah ‘azza wa jalla kepada Yahudi dan Nasrani, kemudian kita melihat keadaan Rafidhah, niscaya akan didapati bahwasanya perbuatan Yahudi telah banyak ditiru oleh Syiah Rafidhah.

Imam ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi pernah berkata kepada Malik bin Muawiyah, “Wahai Malik, aku peringatkan engkau dari kebid’ahan-kebid’ahan yang menyesatkan. Yang paling jeleknya adalah Rafidhah, karena Rafidhah adalah Yahudinya umat ini. Mereka membenci Islam sebagaimana Yahudi membenci Nasrani….”

Di antara contoh persamaan mereka:

  1. Yahudi paling benci kaum muslimin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras kebenciannya kepada orang beriman adalah orang-orang Yahudi….” (al-Maidah: 82)

Demikian juga Syiah Rafidhah, demikian membenci kaum muslimin khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  1. Yahudi membenci dan memusuhi Malaikat Jibril.

Demikian juga Syiah, mereka membenci dan memusuhi Malaikat Jibril karena menurut mereka telah salah dalam menyampaikan wahyu.

  1. Ahlul kitab membenci, bahkan membunuh nabi-nabi mereka. Demikian juga Syiah sangat membenci Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab meninggalkan kitab-kitab mereka. Demikian juga Syiah, meninggalkan al-Qur’anul Karim.
  3. Di antara perbuatan syirik Yahudi adalah:
  4. Menyembah rahib dan ahbar Yahudi mengultuskan orang-orang saleh mereka hingga menjadikannya sesembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Mereka menjadikan rahib dan ahbar mereka sebagai Rabb selain Allah.” (at- Taubah: 31)

  1. Menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah ‘azza wa jalla melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari)

Demikian juga Syiah, mereka adalah orang-orang yang sangat mengultuskan imam-imam mereka dan mengagungkan kubur mereka.

 

Bukti Syiah Mengultuskan Tokoh-Tokoh Mereka

Di antara bukti bahwa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka adalah:

  1. 1. Seorang Rafidhi, yakni al-Kulaini penulis kitab al-Kafi, kitab yang merupakan kitab terbesar di sisi mereka seperti kedudukan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah.

Dia telah membuat beberapa bab dalam kitabnya yang berjudul Ushulul Kafi kemudian menyebutkan beberapa hadits yang semuanya menunjukkan ghuluw mereka dalam hal mengultuskan tokoh-tokoh mereka.

Kita cukupkan dengan menyebutkan beberapa bab yang menunjukkan rendahnya Rafidhah karena ghuluw yang telah menyebabkan binasanya orang-orang terdahulu. Di antara bab yang dia sebutkan:

  • BAB PARA IMAM ADALAH WULATU AMRILLAH DAN PENJAGA ILMUNYA
  • BAB PARA IMAM MENGETAHUI ILMU YANG DIKELUARKAN KEPADA PARA MALAIKAT, NABI, DAN RASUL
  • BAB PARA IMAM TAHU KAPAN AKAN MATI DAN MEREKA TIDAK MATI KECUALI DENGAN PILIHAN MEREKA
  • BAB PARA IMAM TAHU APA YANG TELAH TERJADI DAN YANG AKAN TERJADI

Dan beberapa bab lainnya yang menunjukkan betapa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka hingga terjatuh dalam syirik dalam hal rububiyah dengan meyakini bahwa tokoh mereka tahu perkara gaib, kapan akan meninggal, dan kekufuran lainnya.

 

Ternyata, Syiah Penyembah Kubur

Bentuk praktik amalan syirik sangatlah beragam. Kalau kita mau menelaah keadaan orang-orang Rafidhah maka akan kita dapati mereka banyak melakukan bentuk kesyirikan di atas dan perbuatan kesyirikan lainnya. Di antara bukti akan hal tersebut adalah:

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab Rafidhahlah dibangunnya kubah-kubah di atas kubur dan disembahnya orang-orang yang telah mati.” (Lihat Syarah Wasithiyah, Alu Syaikh)

Yang dimaksud oleh beliau adalah Rafidhah yang telah mendirikan Daulah Fatimiyah di Maroko yang banyak melakukan kesyirikan dan kekufuran.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa tokoh Rafidhah yang bernama Ibnu Nu’man membuat satu kitab dia beri judul Manasikul Masyahid (Amalan- Amalan ketika Menziarahi Bangunan-Bangunan Kubur), di dalam kitab tersebut dia membolehkan menjadikan kuburan sebagai tempat haji sebagaimana Makkah. (Minhajus Sunnah)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan seluruh kebid’ahan dibangun di atas kedustaan dan mengada-ada. Oleh karena itu, orang yang paling jauh dari tauhid dan sunnah adalah orang yang paling dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan mengada-ada, seperti halnya Rafidhah yang merupakan kelompok ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling besar kesyirikannya.”

Tidak ada ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan Rafidhah. Oleh karena itu, mereka merobohkan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang disebut di situ nama Allah ‘azza wa jalla, mengosongkannya dari shalat jamaah dan Jumat, serta memakmurkan tempat-tempat berbuat syirik yang ada di atas kubur, padahal Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya melarang berbuat demikian.” (Iqtidha Shiratal Mustaqim)

 

Ada Apa dengan Karbala?

Rafidhah sangat mengagungkan Karbala, mereka menganggapnya sebagai salah satu tanah suci, bahkan sebagian mereka meyakininya lebih utama dan lebih suci dari Makkah al-Mukaramah. Karbala adalah satu tempat berjarak 100 km dari kota Baghdad. Mereka menganggapnya suci karena di sanalah al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, syahid dalam keadaan terzalimi, padahal mereka sendiri yang menyebabkan terbunuhnya beliau.

Setiap tanggal 10 Muharam diadakan ritual berdarah di sana sebagai bentuk perayaan meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Di antara keburukan Rafidhah adalah menjadikan hari meninggalnya al-Husain sebagai hari berkabung. Di hari tersebut mereka tidak berhias dan menampakkan kesedihan, mengumpulkan orang-orang yang mau meratap untuk menangis, kemudian mereka menggambar kubur al-Husain menghias dan mengaraknya di ganggang seraya menyeru: Ya Husain….

Adapun meninggalkan berhias adalah termasuk ihdad yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih. Adapun niyahah adalah di antara kemungkaran jahiliah yang paling besar dan terjadilah dari perbuatan tersebut berbagai kemungkaran dan keharaman yang tidak bisa terhitung.

Semua perbuatan tersebut adalah bid’ah. Pelakunya, orang yang ridha dengannya, yang membantunya dan pekerjaannya, semua mereka bersekutu dalam kebid’ahan…. (ar-Rudud ‘ala Rafidhah, dengan sedikit perubahan redaksi)

 

Ternyata Merekalah Pembunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma

Mereka rayakan tanggal sepuluh ‘Asyura sebagai hari berkabung, karena itu adalah hari meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Muncul pertanyaan: Siapa sebenarnya yang telah membunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma?

Disebutkan dalam tarikh, al-Husain datang ke Kufah karena panggilan penduduk Kufah yang hendak membaiatnya.

Ketika beliau hendak berangkat beliau dinasihati oleh beberapa orang sahabat, di antaranya oleh saudara beliau Muhamad bin al-Hanafiyah rahimahullah, putra Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah tahu pengkhianatan mereka kepada ayah dan saudaramu, aku khawatir keadaanmu seperti keadaan orang yang terdahulu.”

Diriwayatkan juga dalam tarikh, al-Husain sendiri pernah berkata di hadapan mereka, “… Apabila kalian tidak melakukannya dan kalian membatalkan perjanjian kalian dan melepaskan baiat kepadaku, itu bukanlah sesuatu yang aneh, kalian telah melakukannya kepada ayahku, saudaraku, dan anak pamanku muslim.…”

Demikianlah yang terjadi, mereka ahlul Kufah yang mengundang beliau untuk berbaiat kepadanya. Kemudian mereka berkhianat dan memerangi beliau radhiallahu ‘anhu hingga terbunuh. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh Syiah sendiri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Minhajus Sunnah, “Allah Mahatahu, dan cukuplah Allah ‘azza wa jalla yang tahu bahwasanya tidak ada pada kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam—dengan kebid’ahan dan kesesatan yang ada pada mereka—yang lebih jahat, lebih bodoh, lebih dusta, lebih zalim, dan lebih dekat kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dan paling jauh dari hakikat iman dibandingkan Rafidhah.” (Minhajus Sunnah)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita semua dari kesesatan Syiah dan memberikan taufik kepada penguasa negeri ini kepada al-haq dan membimbing mereka dalam menyikapi Rafidhah sesuai dengan bimbingan syariat Allah ‘azza wa jalla. Amin.

Dusta Syiah Dalam Riwayat

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifa’i

 

لاَ تَكْذِبُوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّار

“Jangan berdusta atas namaku. Sungguh, siapa saja berdusta atas namaku, silakan masuk dalam neraka!”

Ucapan di atas adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari (no. 106), Muslim di dalam Muqaddimah Shahih-nya (Bab “Taghlizhul Kadzib” no. 1), at-Tirmidzi (no. 2660), dan Ibnu Majah (no. 31).

 151528_bola-api-dari-ledakan-matahari_663_382

Tentang Hadits

Madar (sumber) inti hadits di atas terletak pada perawi bernama Manshur bin al-Mu’tamir, dari Rib’i bin Hirasy, dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Tentang Ali radhiallahu ‘anhu, lembaran kertas dalam tulisan ini tidak akan cukup untuk berkisah tentang kelebihan, keistimewaan, dan keutamaan beliau. Perlu karya tersendiri untuk bercerita tentang figur Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama, jazahumullahu khairan.

Murid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah Rib’i bin Hirasy. Siapakah beliau? Ahli hadits dari Kufah ini tercatat sebagai seorang tabi’in mulia yang tidak pernah berdusta walau sekali dalam hidupnya. Beliau pernah bersumpah untuk tidak tertawa sebelum mengetahui, di surga atau neraka tempatnya kelak?

Salah seorang yang memandikan jenazah Rib’i mengatakan, “Rib’i terus terlihat dalam senyum di atas ranjangnya, sampai kami selesai memandikannya.”

Beliau wafat pada 101 H di masa kekuasaan al-Hajjaj bin Yusuf. Sebagai madar hadits, Manshur bin al-Mu’tamir memang termasuk perawi di dalam kutubus sittah (kitab hadits yang enam). Banyak ulama menyebut beliau sebagai atsbatu ahli Kufah, perawi paling kuat di kota Kufah. Karena sering menangis, beliau mengalami gangguan penglihatan. Manshur wafat pada 132 H, semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

 

Makna Hadits

Sebagian ulama pensyarah hadits (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi) menyatakan bahwa riwayat di atas termasuk dalam kategori mutawatir. Artinya, pada setiap tingkatan sanad hadits, ada banyak perawi yang meriwayatkan hadits ini.

Abu Bakr al-Bazzar menyebutkan ada sekitar 40 orang sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, ada yang mengatakan 62 sahabat, termasuk sepuluh orang sahabat yang dijamin masuk surga.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hadits (النَّار فَلْيَلِجِ) diterangkan oleh ulama menyimpan dua makna.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas dimaknai, “Semoga kelak ia masuk ke dalam neraka.”

  • Khabar bi lafdzi amr (kalimat berita dalam konteks perintah).

Dengan demikian, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berarti, “Kelak ia akan masuk neraka, maka bersiap-siaplah.”

Makna mana pun dari kedua kemungkinan tersebut, seharusnya hal tersebut menjadi sebuah rambu hidup untuk tidak bermain-main ketika berbicara atas nama Islam, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berdusta adalah menyampaikan sesuatu yang bertolak belakang dengan fakta. Hal ini bisa terjadi secara disengaja maupun tidak, lupa atau karena tidak tahu. Akan tetapi, di dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan ancaman siksa bagi mereka yang secara sengaja melakukan tindak dusta atas nama beliau. Apa pun alasan dan tujuannya!

Apakah pelakunya dapat dikafirkan?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa dusta termasuk perbuatan dosa yang keji dan kesalahan yang membinasakan. Akan tetapi, dikafirkan atau tidak, menurut pendapat yang masyhur dari mayoritas ulama di berbagai mazhab, pelakunya tidak dikafirkan, kecuali jika ia meyakini hal tersebut halal dilakukan.

Bagaimana pun, ancaman yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas harusnya menjadi garis pengingat untuk kita agar berhati-hati jika berbicara atas nama agama. Tanpa ilmu syar’i sebagai landasan dan sikap ilmiah dalam bertindak, seorang muslim dilarang berucap atau berpendapat lantas mengatasnamakannya sebagai ajaran Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam al-Qur’an, Katakanlah, “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan (mengharamkan) mengadaadakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui.” (al-A’raf: 33)

 

Putar Balik Fakta Ala Syiah

Kalangan Syiah dengan berbagai sektenya, sangat tepat untuk dijadikan contoh nyata dalam pembahasan kita. Sengaja kami memilih riwayat hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu—bukan dari sahabat lain—, karena pengakuan kalangan Syiah yang menghormati dan mengagungkan beliau.

Adapun kenyataannya? Silakan Anda menelaah tulisan ringkas ini.

Dalam kalangan Syiah tidak dikenal istilah yang cukup populer di bidang ilmu hadits. Tidak ada pembahasan hadits sahih, hasan, ataupun dha’if, menurut keyakinan mereka. Jika pun ditemukan dalam beberapa kitab rujukan mereka, hal itu dilakukan demi prinsip taqiyyah (dusta demi keyakinan).

Hal ini dinyatakan sendiri oleh salah satu tokoh besar mereka yang bernama al-Faidh al-Kasyani. Selain itu, al-Faidh menyebut pembagian hadits menjadi sahih, hasan, dan dhaif, hanyalah mustahdats. Artinya, sesuatu yang dibuatbuat oleh Ahlus Sunnah. Pernyataannya ini dimuat di dalam kitab al-Wafi pada mukadimah keduanya (1/11).

Bukankah hal ini menyelisihi prinsip utama kaum muslimin? Bukankah hal ini akan membuka lebar pintu berbicara dan bersikap tanpa dasar ilmiah? Bukankah hal ini secara tidak langsung telah membuktikan bahwa kalangan Syiah tidak peduli dengan sahih atau tidaknya riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Buku-buku referensi utama mereka penuh dengan riwayat palsu dan dusta. Bagaimana tidak, para perawi andalan kaum Syiah adalah kumpulan para pendusta. Sebut saja Zurarah bin A’yan, Jabir al-Ju’fi, Abu Bashir al-Laits, Barid al-‘Ijli, Humran bin A’yan, dan yang semisalnya.

Zurarah bin A’yan disebut ulama sebagai tokoh ekstrem kaum Syiah, terutama sebagai tokoh pendiri sekte Zurariyah (al-A’lam karya az-Zirikli 3/43).

Akan tetapi, apa pendapat Abu Abdillah, seorang ulama yang ditokohkan oleh kaum Syiah tentangnya? Kata Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq (Rijalul Kusysyi hlm. 149—151), “Zurarah lebih jahat dibandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani!”

Seorang perawi yang telah dicacat oleh tokohnya sendiri, mengapa kemudian dijadikan sebagai salah satu sumber utama riwayat kaum Syiah?

Tidak perlu kaget atau heran! Kaum Syiah pada dasarnya memang tidak mengakui disiplin ilmu hadits, apalagi ilmu al-jarh wat ta’dil!

Sekalipun ditemukan sejenis ilmu al-jarh wat ta’dil di kalangan Syiah, pasti diiringi oleh kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan.

Buktinya?

Adalah pengakuan dari seorang tokoh mereka yang dikenal dengan sebutan al-Kasyani. Dalam mukadimah kedua dari kitab al-Wafi (1/11/12), ia mengatakan, “Di dalam al-jarh wat ta’dil serta syarat yang berlaku, terdapat kontradiksi, pertentangan, dan pendapat yang saling berlawanan. Hampir-hampir hal ini membuat hati tidak tenang, sebagaimana hal ini tidak tersembunyi bagi orang yang mengetahuinya.”

 

Sikap Syiah Terhadap Referensi Islam

Kejahatan kaum Syiah ternyata tidak cukup sampai di situ. Selain membuat dan bersandar pada riwayat palsu dan dusta, mereka tidak menerima kitab hadits yang telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai rujukan utama di dalam riwayat hadits.

Apa sikap mereka terhadap Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim? Dua referensi hadits yang disepakati ulama, bahkan kaum muslimin secara umum, sebagai dua kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan dalam Syarah Shahih Muslim, “Para ulama rahimahumullah telah bersepakat bahwa kitab paling sahih setelah al-Qur’an al-Aziz adalah ash-Shahihain; al-Bukhari dan Muslim. Bahkan, seluruh umat dapat menerimanya.”

Namun, bagaimanakah sikap Syiah? Mereka tidak dapat menerima riwayat hadits di dalam kedua kitab tersebut. Sebab, mereka meyakini bahwa para sahabat telah murtad setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, kecuali tiga orang, yaitu Abu Dzar, al-Miqdad, dan Salman al-Farisi radhiallahu ‘anhum.

Bukankah ini bentuk pelecehan terhadap sahabat? Bukankah hal ini bentuk cela mereka terhadap sahabat? Jika demikian, dari mana ajaran Islam dapat sampai kepada umat jika para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dicerca?

Mereka menuduh para sahabat masuk Islam karena paksaan, faktor ekonomi, penuh keraguan, munafik, dan celaan lainnya. Hal ini seperti yang dinyatakan oleh tokoh mereka, Husain bin Abdus Shamad dalam Musthalah Hadits-nya. Lihatlah pernyataan tokoh besar mereka, Alu Kasyif al-Ghitha’ (Ushulus Syiah, hlm. 79) yang berkata, “Kaum Syiah tidak menganggap sunnah kecuali riwayat dari ahlu bait yang dinilai sahih. Adapun seperti riwayat Abu Hurairah dan Samurah bin Jundub, tidak berharga bagi kalangan Imamiyah walau senilai sayap nyamuk.”

Pantas saja apabila Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dicela dan dijatuhkan kredibilitasnya! Sebab, riwayat Abu Hurairah banyak membongkar kesesatan dan kedustaan kaum Syiah. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits Abu Sa’id radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabat-sahabatku! Sungguh, jika salah salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan bisa menyamai infak satu mud mereka, bahkan setengahnya.”

Parahnya lagi, kaum Syiah mencela imam kaum muslimin yang empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Bahkan, dalam kitab asy-Syiah Hum Ahlus Sunnah (hlm. 109), sang penulis mengatakan, “… Empat mazhab yang diakui oleh Ahlus Sunnah hanyalah mazhab yang direkayasa oleh kaum politikus.”

Astaghfirullah! Sungguh keji dan dusta tuduhan mereka! Akidah Syiah semacam itu, apakah seorang muslim memakai perasaan dan empati untuk menganggap Syiah sebagai saudaranya?

Apakah ia ingin memaksakan kehendak, dengan pura-pura buta dari fakta, untuk menyatukan antara Sunnah dan Syiah?!

 

Kontradiksi Riwayat-Riwayat Syiah

Setelah membaca keterangan ringkas di atas, kita dapat mengukur keakuratan dan kevalidan sistem riwayat di kalangan Syiah. Oleh sebab itu, jangan heran apabila riwayat-riwayat kaum Syiah memiliki banyak kontradiksi dan pertentangan. Tidak ada satu pun riwayat kecuali pasti ditemukan riwayat lain yang bertentangan.

Fakta ini diakui sendiri oleh mereka, seperti oleh as-Sayyid Dildar as-Syi’i dalam kitab Asasul Ushul (hlm. 5), Husain bin Syihabudin al-Kurki dalam kitab Hidayatul Abrar (hlm. 264), dan as-Sayyid Hasyim Ma’ruf al-Husaini dalam kitab al-Maudhu’at (hlm. 165 cetakan pertama).

Simak saja pernyataan seorang tokoh terkemuka Syiah di dalam sebuah referensi utama mereka. Di dalam mukadimah kitab Tahdzibul Ahkam, Abu Ja’far Muhammad bin al-Hasan at-Thusi mengatakan, “… Sampai-sampai setiap kabar yang ada, pasti di sana ada yang bertentangan dengannya. Tidak ada satu pun hadits yang selamat kecuali di sisi lain ada yang menafikannya. Hal ini menjadi salah satu kritikan terbesar dari orang yang menyelisihi mazhab kita.”

 

Jangan Mudah Tertipu oleh Syiah!

Setelah sedikit mengenal metode periwayatan hadits yang berlaku di kalangan Syiah, semestinya kita berhatihati dan tidak mudah terpengaruh oleh riwayat-riwayat mereka. Kita justru harus mengubur rasa penasaran atau rasa ingin tahu tentang riwayat-riwayat Syiah. Khawatirnya, riwayat mereka yang kita baca kemudian menimbulkan syak dan syubhat (kerancuan pemikiran) di hati.

Nukilan tentang Syiah di atas kiranya cukup. Nukilan tersebut penulis ambil dari dua buah kitab, yaitu Haqiqatus Syiah karya Abdullah al-Maushili, dan Aqa’idus Syiah karya Abdurrahman as-Syatsri.

Mudah-mudahan kaum muslimin memperoleh pencerahan dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla sehingga semakin memahami tentang hakikat gerakan Syiah.

Amin ya Arham ar-Rahimin.

Ternyata Syiah Juga Mu’tazilah

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Tafsir

إنّ جعلنه قرءنا عربيّا

Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az- Zukhruf: 3)

Mu'tazilah

Sa’id bin Jubair rahimahullah menjelaskan bahwa makna جعلنه (Kami menjadikan) ialah أَنْزَلْنَاهُ (Kami turunkan). (Zadul Masir, Ibnul Jauzi)

Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Maknanya adalah Kami turunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Kami menjadikan, yaitu Kami turunkan dalam bahasa Arab yang fasih lagi jelas.”

As-Suyuthi dalam tafsirnya, ad-Durrul Mantsur, menyebutkan sebuah riwayat Ibnu Mardawaih dari Atha’, beliau mengatakan bahwa seorang yang berasal dari Hadramaut datang kepada Ibnu Abbas lalu bertanya, “Wahai Ibnu Abbas, beritakan kepadaku tentang al-Qur’an, apakah al-Qur’an itu kalam (firman) dari kalam Allah ‘azza wa jalla atau makhluk dari ciptaan Allah ‘azza wa jalla?”

Beliau menjawab, “Al-Qur’an adalah kalam dari kalam Allah ‘azza wa jalla.”

Beliau bertanya kepada orang tersebut, “Apakah kamu tidak mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah(at-Taubah: 6).

Orang itu balik bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Sesungguhnya Kami menjadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab’?”

Beliau menjawab, “Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh dengan bahasa Arab. Tidakkah kamu mendengar firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur’an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.(al-Buruj: 21—22)

Makna al-Majid adalah al-‘Aziz, yaitu Allah ‘azza wa jalla mengabadikannya di Lauh Mahfuzh.”

Sebagian kita mungkin mengira, penyimpangan yang ada pada ajaran Syiah hanya Mut’ah dan mencela sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perlu diketahui bahwa dari sekian penyimpangan ajaran Syiah yang sesat, salah satunya adalah kebencian mereka terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berapa banyak ayat mereka tafsirkan menurut versinya, kandungan atau muatan tafsir tersebut berupa celaan, cercaan, bahkan pengafiran terhadap sebagian sahabat yang mulia, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, maupun yang lainya radhiallahu ‘anhum.

Sementara itu, salah satu prinsip dari sekian prinsip-prinsip Ahlus Sunnah adalah memuliakan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengenal hak-hak mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَ نَصِيفَه

Janganlah kalian mencela sahabatku. Kalau saja ada salah seorang dari kalian yang menginfakkan harta berupa emas seberat Gunung Uhud, sungguh (hal itu) belum dapat menyamai apa yang telah mereka infakkan, meskipun hanya dua genggam atau satu genggaman tangan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Zamanin dalam kitabnya, Ushulus Sunnah, darial-Imam Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtiyani, beliau berkata, “Barang siapa mencintai Abu Bakr, ia telah menegakkan agama. Barang siapa mencintai Umar, ia telah memperjelas jalan agama. Dan Barang siapa mencintai Ali, ia telah berpegang dengan tali yang kuat.

Barang siapa memuji para sahabat Rasulullah, ia telah membersihkan dirinya dari kemunafikan. Barang siapa mencela salah seorang dari sahabat dan membenci salah satu perkara yang ada pada mereka, ia adalah mubtadi’ (ahli bid’ah), serta telah menyelisihi sunnah dan salafush shalih. Dikhawatirkan amal baik yang telah ia lakukan tidak diangkat ke langit (tidak diterima), sampai ia mencintai seluruh sahabat dan hatinya selamat (dari mencela dan mengkritik mereka).”

Al-Imam Abu Zur’ah ar-Razi berkata, “Apabila kamu melihat seseorang yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa dia adalah zindiq. Sebab, di sisi kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hak, dan al-Qur’an adalah hak. Hanya para sahabatlah yang menjadi penyampai al-Qur’an dan sunnah kepada kami. Adapun mereka (para pencela sahabat) menghendaki persaksian sahabat ditolak, dengan tujuan agar al-Qur’an dan sunnah ditolak juga. Maka dari itu, mengkritik mereka (para pencela) lebih utama dan mereka adalah kaum zindiq.”

Ternyata Syiah tidak hanya memiliki paham sesat dalam hal kehormatan dan kemuliaan para sahabat—walaupun hal ini sudah cukup sebagai catatan buruk bagi mereka—namun mereka juga memiliki penyimpangan-penyimpangan lain yang tidak ringan bahaya dan akibatnya bagi pengikut kaum muslimin dan agama Islam.

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i dalam kitabnya Sa’qatul Zilzal (2/486) menerangkan, “Kaum Rafidhah juga teranggap Khawarij, karena mereka mengafirkan siapa saja yang menyelisihi mereka—dan cukup banyak (bukti) tentang hal ini bagi Anda.

Mereka teranggap Mu’tazilah dalam urusan akidah. Mereka juga memusuhi para penyeru tauhid dan sunnah. Mereka senantiasa menjauhkan manusia dari Ahlus Sunnah dan para penyeru tauhid. Bahkan, hal ini menjadi proyek terbesar bagi mereka.

Mereka juga membangun kubah di atas kuburan, berdoa (meminta) kepada selain Allah ‘azza wa jalla, seperti berdoa kepada yang sudah meninggal.

Mereka pun membenci para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuat mereka menyerupai perbuatan orang kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).(al-Fath: 29)

Mereka membantu orang-orang kafir guna memerangi orang-orang muslim. Di Yaman mereka telah membantu partai komunis dalam memerangi kaum muslimin.”

Sebagaimana telah dijabarkan di atas, Syiah ikut menyebarkan akidah sesat Mu’tazilah. Hal ini bukanlah tuduhan tanpa bukti atau tidak beralasan. Bukan para ulama sunni salafi atau Ahlus Sunnah saja yang berbicara tentang hal ini sehingga mereka (kaum Syiah) dengan gampangnya mengatakan bahwa itu hanyalah pendapat Sunni Salafi, sedangkan mereka (kaum Syiah) punya tokoh ulama tersendiri.

Jika benar demikian, kalau ada tokoh ulama mereka yang mengakui adanya keyakinan sesat tersebut, apakah mereka akan mengakuinya?!

Jika hal itu benar adanya, apakah keyakinan yang sesat itu harus dipertahankan dan dibela?! Lantas apa yang menjadi pijakan seorang dalam beragama?

Tidak ada jawaban yang lain kecuali al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafush shalih.

Al-Hadi (salah satu tokoh Syiah, yang darinya muncul sekte Syiah Hadawiyyah) dalam Majmu’ Rasailnya, tatkala menjabarkan kesesatannya bahwa al-Qur’an ialah makhluk, berdalil dengan beberapa ayat al-Qur’an.

Di antaranya ialah firman Allah ‘azza wa jalla,  “Sesungguhnya Kami menjadikan[1] al-Qur’an dalam bahasa Arab.(az-Zukhruf: 3)

Firman Allah ‘azza wa jalla, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan darinya Dia menciptakan istrinya.” (al-A’raf: 189)

Demikianlah Allah ‘azza wa jalla menciptakan al-Qur’an. Tatkala Ia menjadikannya (menciptakan al-Qur’an) dalam bahasa Arab, sebagaimana Ia menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, karena keduanya juga diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla, “Atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (Thaha: 113)

Pada ayat ini Allah ‘azza wa jalla memberitakan bahwa al-Qur’an adalah perkara yang muhdats (sesuatu yang diadakan), bukan qadim (sesuatu yang dahulu dan tidak diawali oleh apa pun). Apabila al-Qur’an adalah sesuatu yang muhdats, berarti Allah ‘azza wa jalla yang mengadakannya. Dengan demikian, (al-Qur’an) adalah makhluk, dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

Demikian pula, Allah ‘azza wa jalla menamai kalam-Nya sebagai wahyu dengan perintah-Nya. Ini maknanya, al-Qur’an adalah makhluk dari ciptaan-Nya, sebuah aturan dari pengaturan dan perintah-Nya.

Dengan ayat-ayat ini dan yang lainnya, telah menyelisihi orang yang berpendapat bahwa al-Qur’an bukan makhluk telah menyelisihi pendapat kami. Kami meyakini bahwa al-Qur’an adalah makhluk, sesuatu yang diadakan dan Allah ‘azza wa jalla yang menciptakannya.

-selesai nukilan ucapan al-Hadi-

Keyakinan Syiah bahwa al-Qur’an adalah makhluk membawa mereka sampai pada tingkatan menjadikan hal ini sebagai salah satu perkara yang prinsip. Hingga sekarang mereka masih berkeyakinan bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

Dengan keyakinan ini, mereka telah keluar dari al-Qur’an dan as-Sunnah, keyakinan para ulama salaf secara umum, dan keyakinan ahlul bait secara khusus.

‘Amr bin Dinar berkata, “Aku berjumpa dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang hidup setelah mereka sejak tujuh puluh tahun yang lalu. Mereka berpendapat bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Pencipta; Apa saja selain Allah ‘azza wa jalla adalah makhluk; Al-Qur’an adalah kalamullah (yakni bukan makhluk, -ed.), dari-Nya keluar dan kepada-Nya kembali.”

Telah diriwayatkan oleh al-Baihaqi, dari jalan Muhammad bin Ishaq bin Rahawaih, dari ayahnya, yang berkata, “Amr bin Dinar telah berjumpa dengan para sahabat Rasul yang mulia dari kalangan ahli Badar, para Muhajirin dan Anshar, seperti Jabir bin Abdillah, Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin ‘Amr, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair—semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka—dan para tabiin yang mulia—semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati mereka—dan di atas keyakinan inilah (al-Qur’an kalamullah) generasi awal umat ini berlalu. Mereka tidak berselisih dalam hal tersebut.”

Al-Humaidi berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah. Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata bahwa al-Qur’an adalah kalamullah, barang siapa berkata bahwa al-Qur’an adalah makhluk, dia mubtadi’. Kami belum pernah mendengar seorang pun berkata demikian.”

Al-Imam Muhammad bin Ibrahim al-Wazir berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk. Para imam ‘itrah (keturunan ahli bait): Zaid bin Ali, Ja’far ash Shadiq, Abdullah bin Musa, Hasan bin Yahya, dan yang lainnya, berpendapat demikian.

Kaum muslimin yang hanya melihat tampilan lahiriah kaum Syiah, bisa jadi akan menyangka bahwa ajaran mereka mengandung sesuatu yang membahayakan. Ketahuilah, sekian banyak sekte dalam Islam yang memiliki ajaran sesat, namun karena dibungkus dengan kebaikan, ibadah, dan perbuatan yang banyak memberi manfaat, membuat banyak pihak yang tertipu.

Asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan menerangkan, “Dampak buruk dari sebuah pemikiran (yang menyimpang) lebih membahayakan dan lebih besar, apabila pemikiran tersebut dibungkus dengan pakaian (tampilan) ketakwaan, menampakkan cinta kepada kebaikan dan hal yang bermanfaat. Sebab, manusia—alhamdulillah—memiliki tabiat senang kepada kebaikan.”

Oleh karena itu, apabila kita melihat para penyeru kebid’ahan di zaman dahulu, kita dapati mereka seluruhnya tidaklah mengibarkan bendera dakwahnya kecuali berada di bawah naungan tampilan lahiriah yang agamis dan ahli ibadah.

Wallahul muwaffiq.

 

Sumber Bacaan

  • Tamamul Minnah fi Syarh Ushulis Sunnah, asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari
  • Syarh Qauli Ibni Sirin, asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar Bazmul

 


 

[1] Dalam bahasa Arab, fi’il (kata kerja) ja’ala ada yang muta’addi (membutuhkan) satu maf’ul bih (objek), ada yang membutuhkan dua maf’ul bih. Yang membutuhkan satu objek memang berarti menciptakan. Akan tetapi, yang membutuhkan dua objek artinya bukanlah menciptakan. Oleh karena itu, para ulama tafsir menafsirkan ayat di atas dengan “menurunkan”. Jadi, tidak ada dalil pada ayat di atas bagi kaum Syiah untuk menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. (-ed.)