Taat Pemerintah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Keburukan pemerintah bisa jadi adalah menu hangat yang tersaji di banyak obrolan. Banyak orang yang berbicara dengan berapiapi ketika membincangkan keburukan penguasa. Seakan-akan mereka lebih cakap atau lebih baik berlipat-lipat daripada pemerintah yang berkuasa. Yang ironis, mereka yang berbicara meledak-ledak cuma bermodal menonton televisi atau membaca koran.

Permasalahan dan akar sesungguhnya yang terjadi sangat mungkin mereka tidak tahu. Pengetahuan mereka ya sebatas apa yang ia dapat dari media. Repotnya, mediamedia sendiri punya sudut pandang masingmasingyang berbeda.

Saat demokrasi telah mengakar, pemerintah apa pun dan di negara mana pun, memang hampir niscaya menjadi sasaran hujatan, entah oleh media, musuh-musuh politiknya (oposisi), pengamat politik, ataupun rakyat jelata. Pemerintah seolaholah isinya hanya cacat dan cacat. Tidak ada kebaikan sama sekali. Bagaimana pemerintah bisa menjalankan roda pemerintahan jika terus digoyang, bahkan kadang kebijakan yang belum dijalankan saja sudah dianggap salah?

Sebagai rakyat jelata, kita semua memang berharap mendapat pemimpin yang punya kemampuan sekaligus saleh. Namun, di zaman sekarang, hal itu seakan mencari jarum dalam jerami. Sekadar punya kemampuan saja, sudah luar biasa. Apalagi jika dilengkapi dengan kesalehan, bersih dari cela dan kekurangan.

Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada pemimpin yang banyak kekurangan dan korup, misalnya, sudah semestinya kita bersikap sesuai dengan bimbingan syariat. Nasihati dia jika mampu, bisa langsung, berkirim surat, atau lewat orang-orang terdekatnya. Namun, semua itu benar-benar dilatarbelakangi niat untuk memberikan  nasihat, bukan karena ambisi jabatan, cari muka, berharap materi, dan sebagainya.

Membeberkan kekurangan pemerintah di media, di forum-forum, atau mimbar bebas demonstrasi tidaklah menyelesaikan masalah. Yang dikhawatirkan, kewibawaan pemerintah akan menurun dan akan menyulut kebencian rakyat terhadap penguasanya. Jika sampai terjadi pemberontakan, bukanlah perbaikan yang didapat, kerusakanlah yang justru meluas. Pemerintah yang tadinya “hanya” korup, bisa jadi malah menjadi pemerintah yang kejam, membunuhi rakyatnya.

Padahal darah kaum muslimin demikian berharga. Pemberontakan juga hanya akan memperburuk keadaan. Kepada pemerintah kafir yang kita diperbolehkan memberontak saja dipersyaratkan banyak hal, seperti punya kemampuan, tidak menimbulkan kemudaratan yang lebih besar, dan sebagainya. Kalau pemberontakan itu hanya sekadar merecoki, kecil kemungkinan untuk mampu menggulingkan pemerintah berkuasa, atau kian memperburuk keadaan, itu tetap dilarang syariat.

Sejarah juga telah memberi pelajaran. Dahulu pernah ada penguasa yang superzalim, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Disebutkan, telah membantai lebih dari 150 ribu orang di masa pemerintahannya. Padahal waktu itu sebagian sahabat masih hidup. Di antara rakyatnya juga ada para tabi’in. Namun, tidak ada seorang pun sahabat dan tabi’in yang merekomendasikan pemberontakan. Semestinya kita menyadari, pemerintah adalah manusia biasa yang banyak kekurangan. Kesabaran menjadi kunci kita dalam bermuamalah dengan pemerintah kita. Taati mereka dalam segala kebijakannya selama itu bukan maksiat. Dengan kesabaran dan doa, semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan ganti yang lebih baik.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah Dalam Pandangan Islam

Manusia terfitrah sebagai makhluk sosial. Hidup mereka saling bergantung satu dengan yang lainnya. Allah Subhanahu wata’ala menciptakan mereka dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lantas menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lakilaki dan perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kalian saling mengenal.” (al-Hujurat: 13)

Manakala menjalani kehidupannya dengan berbangsa-bangsa dan bersukusuku, secara sunnatullah manusia membutuhkan pemimpin yang dapat mengurusi berbagai problem yang mereka hadapi. Itulah manusia, makhluk Allah Subhanahu wata’ala yang mendapatkan kepercayaan dari-Nya untuk memakmurkan bumi ini. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniakan berbagai fasilitas kehidupan untuk mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami mengangkut mereka di daratan dan di lautan, Kami memberi mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami melebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (al-Isra’: 70)

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan ketika dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai penguasa di bumi? Adakah selainAllahsembahan yang lain?! Amat sedikitlah kalian dalam mengingat(Nya).” (an- Naml: 62)

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang tak membiarkan manusia hidup begitu saja. Berbagai aturan hidup dan jalan yang terang pun Dia Subhanahu wata’ala berikan kepada merekasupaya berbahagia di dunia dan di akhirat. Termasuk dalam hal hubungan antara rakyat dan pemerintahnya dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

Rakyat dan Pemerintah, Kesatuan yang Tak Bisa Dipisahkan

Dalam Islam, rakyat selaku anggota masyarakat dan pemerintah selaku penguasa yang mengurusi berbagai problem rakyatnya adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Berbagai program yang dicanangkan oleh pemerintah tak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dan sambutan ketaatan dari rakyat. Berbagai problem yang dihadapi oleh rakyat juga tak akan usai tanpa kepedulian dari pemerintah. Gayung bersambut antara pemerintah dan rakyatnya menjadi satu ketetapan yang harus dipertahankan.

Ka’b al-Akhbar rahimahumallah berkata, “Perumpamaan antara Islam, pemerintah, dan rakyat laksana kemah, tiang, dan tali pengikat berikut pasaknya. Kemah adalah Islam, tiang adalah pemerintah, sedangkan tali pengikat dan pasaknya adalah rakyat. Tidaklah mungkin masingmasing dapat berdiri sendiri tanpa yang lainnya.” (Uyunul Akhbar karya al-Imam Ibnu Qutaibah 1/2)

Maka dari itu, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintahnya, dengan saling bekerja sama di atas Islam dan saling menunaikan hak serta kewajiban masing-masing, akan menciptakan kehidupan yang tenteram, aman, dan sentosa. Betapa indahnya bimbingan Islam dalam masalah ini. Sebuah aturan hidup dan jalan yang terang bagi manusia. Namun, ada pihak-pihak yang tak rela dengan semua itu. Salah satunya adalah Taqiyuddin an-Nabhani, pendiri Hizbut Tahrir (HT). Dia menyatakan, “Oleh karena itu, menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antaranggota masyarakat dalam rangka memengaruhi masyarakat tidaklah cukup, kecuali dengan menyerang seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dan rakyatnya, harus digoyang dengan kekuatan penuh, dengan cara diserang sekuat-kuatnya dengan penuh keberanian.” (Mengenal HT, hlm. 24 dan Terjun ke Masyarakat, hlm. 7)

Lebih dari itu, dia mengungkapkan, “Keberhasilan gerakan diukur dengan kemampuannya untuk membangkitkan rasa ketidakpuasan (kemarahan) rakyat dan kemampuannya untuk mendorong mereka menampakkan kemarahannya itu setiap kali mereka melihat penguasa atau rezim yang ada menyinggung ideologi, atau mempermainkan ideologi itu sesuai dengan kepentingan dan hawa nafsu penguasa.” (Pembentukan Partai Politik Islam, hlm. 35—36)

Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيْرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيْرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa menaatiku, ia telah menaati Allah Subhanahu wata’ala. Barang siapa menentangku, ia telah menentang Allah l. Barang siapa menaati pemimpin (umat)ku, ia telah menaatiku; dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku, ia telah menentangku.” (HR. al-Bukhari no. 7137 dan Muslim no. 1835, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumallah berkata, “Di dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang kewajiban menaati penguasa dalam hal-hal yang bukan kemaksiatan. Hikmahnya adalah menjaga persatuan dan kesatuan (umat). Sebab, perpecahan mengandung kerusakan.” (Fathul Bari 13/120)

Jika Pemerintah Melakukan Kemaksiatan

Bagaimanakah jika pemerintah melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya? Apakah rakyat melepaskan ketaatan kepadanya secara total dan memberontaknya? Pemerintah adalah manusia biasa yang terkadang jatuh pada dosa. Ketika mereka melakukan kemaksiatan, bahkan memerintahkannya, setiap pribadi muslim harus membenci perbuatan maksiat tersebut dan tidak boleh menaatinya dalam hal itu. Akan tetapi, ia tetap berkewajiban mendengar dan menaatinya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan), serta tidak boleh memberontak karenanya. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Maka dari itu, umat Islam wajib menaati pemerintah dalam hal yang ma’ruf (kebaikan), tidak dalam hal kemaksiatan. Jika mereka memerintahkan kemaksiatan, tidak boleh ditaati. Akan tetapi, mereka tetap tidak boleh memberontak karenanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَلَا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Ingatlah, barang siapa mempunyai seorang penguasa lalu melihatnya berbuat kemaksiatan, hendaknya ia membenci perbuatan maksiat yang dilakukannya itu, namun jangan sekali-kali melepaskan ketaatan (secara total) kepadanya.” (HR. Muslim no. 1855, Ahmad 4/24, dan ad-Darimi no. 2797, dari Auf bin Malik al-Asyja’i radhiyallahu ‘anhu)

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa keluar dari ketaatan (terhadap pemerintah) dan memisahkan diri dari al-jamaah lalu mati, niscaya matinya dalam keadaan jahiliah (di atas kesesatan, tidak punya pemimpin yang ditaati, pen.).” (HR. Muslim no. 1848, an-Nasa’i no. 4114, Ibnu Majah no. 3948, dan Ahmad 2/296, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِم السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Setiap pribadi muslim wajib mendengar dan menaati (pemerintahnya) dalam hal yang dia sukai dan yang tidak disukai, kecuali jika diperintah untuk melakukan kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk melakukan kemaksiatan, tidak ada mendengar dan ketaatan kepadanya (dalam hal itu, pen.).” (HR. al-Bukhari no. 7144, Muslim no. 1839, at-Tirmidzi no. 1707, Abu Dawud no. 2626, Ibnu Majah no. 2864, dan Ahmad 2/142, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/201—203)

Asy-Syaikh Abdus Salam Barjas rahimahumallah berkata, “Hadits ini tidak memaksudkan tidak menaati pemerintah secara total ketika mereka memerintahkan kemaksiatan. Akan tetapi, yang dimaksud adalah wajib menaati pemerintah secara total selain dalam hal kemaksiatan. Ketika demikian, tidak boleh didengar dan ditaati.” (Muamalatul Hukkam, hlm. 117)

Al-Imam al-Mubarakfuri rahimahumallah berkata, “Hadits ini mengandung faedah bahwa jika seorang penguasa memerintahkan sesuatu yang bersifat sunnah atau mubah, wajib ditaati.” (Tuhfatul Ahwadzi 5/365)

Jika Pemerintah Mementingkan Diri Sendiri

Bagaimanakah jika pemerintah mementingkan dirinya sendiri? Misalnya, memperkaya diri, korupsi, tidak memedulikan kesejahteraan rakyat, bahkan berbuat zalim? Menyikapi hal ini, setiap pribadi muslim hendaknya bersabar dan tetap menunaikan hak-hak pemerintah yang harus ditunaikan. Dia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala haknya yang tidak dipedulikan oleh pemerintah dan tidak memberontak kepadanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا تَأْمُرُنَا؟ قَالَ: تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَتَسْأَلُونَ اللهَ الَّذِي لَكُمْ

“Akan ada perbuatan mementingkan diri sendiri (mengumpulkan harta dan tidak memedulikan kesejahteraan rakyat) pada pemerintah dan hal lain yang kalian ingkari.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepada kami (jika mendapati kondisi tersebut, pen.)?”

Beliau bersabda, “Hendaknya kalian menunaikan hak (pemerintah) yang wajib kalian tunaikan, dan mohonlah kepada Allah Subhanahu wata’ala hak kalian.” (HR. al-Bukhari no. 3603 dan Muslim no. 1843, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

يَكُونُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ، لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلاَ يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ (حُذَيْفَةُ) قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ، فَاسْمَعْ وَأَطِ عْ !

“Akan ada sepeninggalku para penguasa yang tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti cara/ jalanku. Akan ada pula di antara para penguasa tersebut orang-orang yang berhati setan dalam jasad manusia.” Hudzaifah z berkata, “Apa yang aku perbuat bila mendapatinya?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hendaknya engkau mendengar dan menaati penguasa tersebut! Walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu dirampas, (tetap) dengarkanlah (perintahnya) dan taatilah (dia).” (HR. Muslim no. 1847, dari Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu)

Apabila berbagai bimbingan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas dicermati, semuanya menunjukkan bahwa rakyat dan pemerintah adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Dengan penuh hikmah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan bahwa berbagai penentangan dan pemberontakan terhadap pemerintah bukanlah solusi untuk mendapatkan hak atau memperkecil ruang lingkup kejelekan yang dilakukan oleh pemerintah.

Solusinya justru sebaliknya. Bersabar dengan berbagai kejelekan itu, menaati mereka dalam hal yang ma’ruf (kebajikan) dan tidak menaati mereka dalam hal kemaksiatan, menunaikan hak mereka dan memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala hak yang tidak dipedulikan oleh pemerintah, serta tidak menentang dan tidak memberontak terhadap mereka.

Berbagai bimbingan itu beliau n sampaikan agar hubungan (kesatuan) antara rakyat dan pemerintahnya senantiasa utuh, tak terkoyak, dan tercerai-berai. Sebab, manakala hubungan (kesatuan) itu terkoyak dan terceraiberai, kerusakan dan musibah besarlah yang terjadi.

Al-Imam Ibnu Abil ‘Iz al-Hanafi rahimahumallah berkata, “Kewajiban menaati pemerintah tetap berlaku walaupun mereka berbuat jahat. Sebab, menentang (tidak menaati) mereka dalam hal yang ma’ruf (kebaikan) akan mengakibatkan kerusakan yang jauh lebih besar dari kejahatan yang mereka lakukan. Bersabar terhadap kejahatan mereka justru mendatangkan ampunan dari segala dosa dan pahala yang berlipat dari Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarh al-Aqidah ath-Thahawiyah, hlm. 368)

Al-Imam al-Barbahari rahimahumallah berkata, “Ketahuilah, kejahatan penguasa tidaklah menghapuskan kewajiban (menaati mereka, -pen.) yang Allah Subhanahu wata’ala wajibkan melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kejahatannya akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikan-kebaikan yang engkau kerjakan bersamanya mendapat pahala yang sempurna, insya Allah. Kerjakanlah shalat berjamaah, shalat Jum’at, dan jihad bersama mereka. Berperan sertalah bersamanya pada seluruh jenis ketaatan (yang dipimpinnya).” (Thabaqat al-Hanabilah karya al-Imam Ibnu Abi Ya’la rahimahumallah 2/36, dinukil dari Qa’idah Mukhtasharah, hlm.14)

Merajut Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah

Gesekan antara rakyat dan pemerintah merupakan fenomena yang sering terjadi. Penyebabnya terkadang dari pihak rakyat dan terkadang dari pihak pemerintah. Demikianlah manusia, tak ada yang sempurna. Kelalaian sering kali menghinggapinya walaupun telah berilmu tinggi dan berkedudukan mulia. Menurut Islam, hubungan yang baik antara rakyat dan pemerintah merupakan satu kemuliaan. Karena itu, gesekan yang terjadi di antara mereka pun termasuk sesuatu yang tercela dan harus segera diselesaikan.

Tak mengherankan apabila banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menjelaskan seputar masalah ini. Para ulama yang mulia pun tiada henti mengingatkannya. Petuah dan bimbingan mereka terukir dalam kitab-kitab yang terkenal. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا () يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), serta ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 58—59)

Ayat pertama di atas berkaitan dengan pemerintah agar menjalankan amanat kepemimpinan yang diemban dengan sebaik-baiknya. Adapun ayat yang kedua berkaitan dengan rakyat agar mereka taat kepada pemerintahnya. Dengan dilaksanakannya hak dan kewajiban oleh setiap pihak, akan terajut hubungan yang baik di antara mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Menurut para ulama, ayat pertama (dari dua ayat di atas) turun berkaitan dengan pemerintah (ulil amri), agar mereka menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkannya dengan adil.

Adapun ayat yang kedua turun berkaitan dengan rakyat, baik dari kalangan militer maupun sipil, supaya senantiasa menaati pemerintahnya dalam hal pembagian (jatah), keputusan/ kebijakan, komando perang, dan lainnya. Berbeda halnya jika mereka memerintahkan kemaksiatan, rakyat tidak boleh menaati makhluk (pemerintah tersebut) dalam hal bermaksiat kepada Al-Khaliq (Allah Subhanahu wata’ala). Jika terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan rakyatnya dalam suatu perkara, hendaknya semua pihak merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, jika pemerintah tidak mau menempuh jalan tersebut, rakyat masih berkewajiban menaatinya dalam hal yang tergolong ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Sebab, ketaatan kepada pemerintah dalam hal ketaatan adalah bagian dari ketaatan kepada AllahSubhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula hak mereka (pemerintah), tetap harus dipenuhi (oleh rakyatnya), sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa- Nya’ (al-Maidah: 2).” (Majmu’ Fatawa 28/245—246)

Di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah agar hubungan mereka dengan rakyat senantiasa terajut dengan baik ialah berlaku adil dan memerhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sebab, semua itu adalah amanat yang kelak dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ

“Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” ( HR. al-Bukhari no. 2554, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu)

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba diberi amanat sebuah kepemimpinan oleh Allah Subhanahu wata’ala, lalu meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim no. 227, dari Ma’qil bin Yasar al-Muzani radhiyallahu ‘anhu)

Apabila pemerintah berlaku adil dalam mengemban amanat kepemimpinan tersebut, Allah Subhanahu wata’ala akan menganugerahinya sebuah naungan di hari kiamat, hari ketika manusia sangat membutuhkan naungan dari terik matahari yang amat menyengat di Padang Mahsyar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ القِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ

“Ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan (Arsy) Allah Subhanahu wata’ala pada hari kiamat, hari yang tidak ada naungan melainkan naungan dari-Nya; penguasa yang adil….” (HR. al-Bukhari no. 6806, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Adapun hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat agar hubungan mereka dengan pemerintah senantiasa terajut dengan baik adalah memuliakan pemerintah, menaati mereka dalam hal kebajikan, dan membangun kerja sama yang baik dengan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا، أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa memuliakan penguasa (yang diberi amanat oleh) Allah Subhanahu wata’ala di dunia, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memuliakannya di hari kiamat. Barang siapa menghinakan penguasa (yang diberi amanat oleh) Allah Subhanahu wata’ala di dunia, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menghinakannya di hari kiamat.” (HR. Ahmad 5/42, 48—49, dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 5/376)

Al-Imam Sahl bin Abdullah at- Tustari rahimahumallah berkata, “Manusia (rakyat) akan senantiasa dalam kebaikan selama memuliakan pemerintah dan ulama. Jika mereka memuliakan keduanya, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memperbaiki urusan dunia dan akhirat mereka. Namun, jika mereka menghinakan keduanya, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan menjadikan jelek urusan dunia dan akhirat mereka.” (Tafsir al-Qurthubi 5/260—261)

Kala pemerintah terjatuh dalam kesalahan dan kemungkaran, hendaknya diingatkan dengan cara yang terbaik. Tidak dengan cara demonstrasi, orasi di mimbar-mimbar, atau menghujatnya di media. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً، وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ

Adapun hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat agar hubungan mereka dengan pemerintah senantiasa terajut dengan baik adalah memuliakan pemerintah, menaati mereka dalam hal kebajikan, dan membangun kerja sama yang baik dengan mereka.

مِنْهُ فَذَاكَ، وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“ Barang siapa hendak menasihati orang yang mempunyai kekuasaan (pemerintah), janganlah menyampaikannya secara terangterangan. Namun, dia mengambil tangannya dan menyampaikan nasihat tersebut secara pribadi. Jika (pemerintah itu) mau menerima nasihatnya, itu yangdiharapkan. Jika tidak, sungguh dia telah menyampaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Iyadh bin Ghunm al-Fihri radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani dalam Zhilalul Jannah Fi Takhrijis Sunnah no. 1096)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Bukan termasuk manhaj salaf menyebarkan kejelekan-kejelekan pemerintah dan menyampaikannya di mimbar/forum publik. Sebab, hal itu akan mengantarkan kepada kekacauan dan hilangnya ketaatan kepadanya dalam hal yang ma’ruf (kebajikan). Selain itu, tindakan tersebut akan mengantarkan kepada hal-hal yang membahayakan (rakyat) dan tidak ada manfaatnya. Adapun cara yang dijalani oleh as-salaf (pendahulu terbaik umat ini) adalah menyampaikan nasihat secara pribadi kepada pemerintah, menulisnya dalam bentuk surat, atau menyampaikannya kepada ulama agar bisa diteruskan kepada yang bersangkutan dengan cara yang terbaik.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/210)

Termasuk hal penting yang harus diperhatikan oleh rakyat adalah tidak mengambil alih tugas yang menjadi kewenangan pemerintah, seperti mengingkari kemungkaran dengan kekuatan, sweeping kemaksiatan, penentuan awal Ramadhan dan hari raya, serta yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh beberapa ormas yang mengatasnamakan Islam. Wallahul musta’an.

Al-Imam Abu Abdillah bin al- Azraq rahimahumallah—ketika menyebutkan beberapa bentuk penentangan terhadap pemerintah—berkata, “Penentangan yang ketiga adalah menyempal dari pemerintah dengan cara mengambil alih tugas yang menjadi kewenangannya. Yang paling besar kerusakannya adalah mengingkari kemungkaran (dengan kekuatan, – pen.) yang tidak boleh dilakukan oleh selain pemerintah. Apabila perbuatan itu dibiarkan, niscaya hal ini akan berkembang dan justru dilakukan terhadap pemerintah. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa termasuk dari siyasah (politik syar’i) adalah segera menangani orang yang gemar melakukan perbuatan menyempal itu.” (Bada’ius Sulk fi Thiba’il Mulk 2/45, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam, hlm. 189)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Adapun dalam hal yang di luar kekuasaan dan kewenangannya, seseorang tidak boleh melakukan perbuatan mengubah kemungkaran dengan kekuatan. Sebab, jika dia mengubah kemungkaran dengan kekuatan terhadap pihak-pihak yang berada di luar kekuasaan dan kewenangannya, akan muncul kejelekan yang lebih besar.

Selain itu, akan memunculkan problem besar antara dia dan orang lain, serta antara dia dan pemerintah.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 8/208) Demikianlah catatan penting tentang hubungan rakyat dan pemerintah menurut pandangan Islam. Semoga hal ini menjadi titian emas bagi pemerintah dan rakyat untuk menuju kehidupan yang tenteram, aman, dan sentosa yang diberkahi oleh Allah l. Amin….

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Mengenal Waliyyul Amr

Tidak ada kehidupan tanpa ada kebersamaan. Urusan agama dan dunia juga tidak akan berjalan dengan baik tanpa ada kebersamaan. Karena itulah, Allah Subhanahu wata’ala melarang berpecah belah dan berselisih, serta memerintahkan bersatu dan bersepakat di atas ketaatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan ketika itu kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang berat.” (Ali Imran: 105)

Kesatuan dan kebersamaan haruslah di bawah kepemimpinan. Sebab, dengan adanya pemimpin akan tercapailah kemaslahatan bersama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah mengatakan, “Wajib diketahui bahwa adanya pemimpin yang mengatur urusan manusia merupakan kewajiban agama yang agung. Sebab, urusan agama dan dunia tidak akan berjalan lancar kecuali dengan keberadaannya. Kemaslahatan bani Adam pun tidak akan sempurna kecuali dengan kebersamaan. Sebab, pada prinsipnya satu sama lain saling membutuhkan. Karena itu, kebersamaan haruslah di bawah seorang pemimpin.” (Majmu’ al-Fatawa)

Di dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala secara khusus menyinggung dan memerintahkan ketaatan kepada waliyyul amri sebagai wujud dari pemimpin, setelah taat kepada-Nya, dan kepada Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (an-Nisa’: 59)

Siapakah Waliyyul Amri?

Waliyyul amri adalah pemilik suatu hukum yang mempunyai kewenangan di dalamnya, seperti yang biasa disebutkan bahwa para ulama adalah yang mempunyai wewenang dalam hal agama, sedangkan penegak hukum mempunyai kewenangan dalam urusan dunia. Artinya, yang berkecimpung mengurusi urusan agama yang menyangkut tentang hukum halal dan haram, menjelaskan hukum yang datang dari Allah Rabbul ‘alamin adalah para ulama. Maka dari itu, ulama dari sisi ini disebut waliyyul amri.

Begitu pun para penegak hukum yang mengurusi urusan dunia, yang kata-katanya didengar di hadapan rakyat, yang dapat memutuskan ini dipenjara dan itu dibebaskan, yang dapat menentukan bepergian dengan itu dan kembali dengan ini, yang memiliki kekuasaan dan berkuasa, maka itulah waliyyul amri.

Berikut ini beberapa perkataan ulama tentang siapakah waliyyul amri.

• Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahumallah “Pendapat yang paling benar tentang (siapakah waliyyul amri), mereka adalah para umara dan pemimpin, karena sahihnya berita dari Rasulullah n agar taat kepada para imam dan pemimpin dalam urusan yang dituntut ketaatan di dalamnya dan bermaslahat bagi kaum muslimin.” (Tafsir ath-Thabari)

• Al-Imam an-Nawawi rahimahumallah “Para ulama mengatakan bahwa yangdimaksud waliyyul amri ialah yang Allah Subhanahu wata’ala wajibkan untuk diberikan ketaatan kepadanya, yaitu para pemimpin dan umara/pemerintah. Inilah pernyataan jumhur salaf dan khalaf (ulama masa belakangan) dari kalangan ahli tafsir, fuqaha, dan selainnya. Ada yang mengatakan waliyyul amri adalah ulama, ada juga yang menyebutkan ulama dan umara. Adapun yang mengatakan waliyyul amri adalah para sahabat secara khusus, dia telah salah.” (Syarah Shahih Muslim)

• Al-Imam asy-Syaukani rahimahumallah “Ulil amri ialah para imam, para penguasa, para hakim, dan setiap yang mempunyai wilayah/kewenangan yang syar’i.” (Fathul Qadir)

Dengan demikian, banyaknya jumlah waliyyul amri adalah hal yang dimaklumi, yang tiap-tiap waliyyul amri itu mempunyai wilayah dan kekuasaan masing-masing.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah mengemukakan, “Yang sesuai dengan sunnah, hendaknya seluruh kaum muslimin memiliki satu imam/pemimpin, sedangkan yang lain menjadi perwakilannya. Jika

keadaan umat menyelisihi hal ini karena sebab kemaksiatan, ketidakmampuan, atau sebab yang lain sehingga muncul sejumlah pemimpin negara, dalam kondisi seperti ini setiap pemimpin wajib menegakkan hudud dan menunaikan hak-hak.” (Majmu’ Fatawa)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahumallah berkata, “Sesudah menyebarnya Islam, meluasnya wilayah dan berjauhan batas-batasnya, merupakan hal yang dimaklumi bahwa setiap wilayah memiliki seorang imam atau penguasa yang kekuasaannya tidak berlaku di wilayah yang lain. Maka dari itu, tidak mengapa ada beberapa imam dan penguasa negeri. Penduduk setiap negeri wajib menaati penguasa masing-masing sesudah melakukan bai’at atasnya, dan berlakulah perintah dan larangannya.” (as-Sailul Jarrar)

Pemimpin Jamaah/Organisasi Bukan Waliyyul Amri Waliyyul amri adalah yang memimpin urusan manusia, mempunyai wilayah dan kekuasaan yang jelas, sebagaimana telah dijelaskan. Adapun pemimpin sebuah jamaah atau organisasi, tidaklah disebut sebagai waliyyul amri secara istilah. Apalagi tidak sedikit pengikut sebuah jamaah yang hingga bertahuntahun hidup dalam ikatan jamaahnya tanpa mengetahui siapa pemimpinnya. Bagaimana bisa pemimpin itu akan diketahui oleh orang-orang yang di luar jamaahnya jika seperti itu?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah menegaskan, “Sesungguhnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menaati para imam (penguasa) yang ada, diketahui (siapa dia), dan memiliki kekuasaan yang menjadikannya mampu mengatur urusan manusia; tidak menaati imam yang tidak ada, tidak dikenal, tidak memiliki kekuasaan, dan tidak memiliki kekuatan sama sekali.” (Minhajus Sunnah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Eksistensi Waliyyul Amri

Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar, dan itu tidak dapat dilaksanakan secara optimal kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan. Demikian pula seluruh syariat yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, seperti jihad, menegakkan keadilan, menunaikan ibadah haji, shalat ied, menolong yang tertindas, menerapkan hukuman, dan lain-lain. Semua itu tidak dapat berjalan dengan baik kecuali dengan kekuatan dan kepemimpinan. Karena itu, telah diriwayatkan,

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ

Pemimpin (penguasa) adalah naungan Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi.” (HR. Ibnu Abi Ashim, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

Demikian pula dikatakan, “Enam puluh tahun bersama pemimpin yang jahat, jauh lebih baik daripada satu malam tanpa ada pemimpin.” Pentingnya keberadaan pemimpin, dalam hal ini waliyyul amri, adalah halyang tidak dapat ditolak. Keberadaannya dapat mencegah mudarat dan senantiasa menjaga lima tujuan utama dari syariat ini, yaitu menjaga agama, jiwa, kehormatan, harta benda, dan akal.

Jika tidak ada waliyyul amri, dapat dipastikan kekacauan dan kerusakan akan terus terjadi. Al-Imam Ahmad rahimahumallah mengatakan, “Akan ada kekacauan apabila tidak ada imam (penguasa) yang mengatur urusan manusia.” (ad-Dur al- Mantsur fi Bayani ‘Aqidati Ahlis Sunnah wal Jamaah fi Wulatil Umur)

Dalil yang menunjukkan eksistensi waliyyul amri di tengah-tengah manusia, antara lain firman Allah Subhanahu wata’ala,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (an- Nisa’: 59)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala mewajibkan seluruh kaum muslimin taat kepada waliyyul amri dari kalangan mereka. Perintah untuk memberikan ketaatan ini menjadi dalil harus adanya waliyyul amri di tengah-tengah mereka. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala tidaklah memerintahkan ketaatan kepada pihak yang tidak ada wujudnya. Tegasnya, keberadaan pemimpin (penguasa) adalah wajib. (al-Imamah al-‘Uzhma)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah berkata, “Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah umatnya agar mengangkat seorang waliyyul amri yang akan mengurusi segala urusan mereka. Beliau juga memerintah waliyyul amri agar menyampaikan amanat kepada yang berhak dan menerapkan hukum di tengah-tengah manusia dengan adil.”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar taat kepada waliyyul amri dalam lingkup taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dalam Sunan Abu Dawud (diriwayatkan) dari sahabat Abu Said radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَ مرُ و ا أَحدَ هُم

“Apabila tiga orang keluar dalam sebuah safar, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antaranya sebagai pimpinan.”

Dalam Musnad Ahmad ada riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِثَلَاثَةٍ يَكُونُوا بِفَلَاةٍ مِنَ الْأَرْضِ إِلاَّ أَمَّرُوا أَحَدَهُمْ

“Tidak halal bagi tiga orang yang berada di sebuah padang pasir kecuali mereka mengangkat salah satunya sebagai pemimpin.” (asy-Syaikh al- Albani menyatakan hadits ini dhaif dalam Silsilah adh-Dha’ifah, pen.) (Majmual-Fatawa)

Pernyataan Ulama Tentang Eksistensi Waliyyul Amri

Berikut ini pernyataan ahlul ilmi tentang eksistensi waliyyul amri.

• Abu Hamid al-Ghazali rahimahumallah “Sesungguhnya keberadaan dunia dan keselamatan atas jiwa dan harta benda tidak akan terorganisir dengan baik kecuali dengan adanya pemimpin (penguasa)…. Maka dari itu, jelaslah bahwa adanya pemimpin adalah hal yang sangat penting untuk mengatur urusan agama dan dunia.

Keteraturan urusan dunia sangat penting untuk mewujudkan keteraturan urusan agama, sedangkan teraturnya urusan agama sangat penting untuk mewujudkan keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Jadi, keberadaan pemimpin sebagai waliyyul amri termasuk tuntutan syariat yang tidak dapat ditawar lagi.” (al-Imamah al-‘Uzhma)

• Al-Imam al-Qurthubi rahimahumallah “Ayat ini,

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi seorang khalifah,’ menjadi dasar harus adanya seorang pemimpin yang didengar dan ditaati agar tercipta persatuan dan kesatuan, sehingga hukum yang ditetapkan dapat dijalankan dengan baik. Tidak ada perbedaan pandang tentang wajibnya hal itu (keberadaan pemimpin) di kalangan umat, tidak pula di kalangan ulama.” (Tafsir al-Qurthubi)

• Al-Imam al-Mawardi rahimahumallah

“Menetapkan imam (pemimpin) bagi yang mendudukinya adalah wajib berdasarkan ijma’ (kesepakatan).” (Ahkam as-Sulthaniyyah)

• Al-Imam asy-Syaukani rahimahumallah

“Dalam hadits (dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, dalam Sunan Abu Dawud, ‘Apabila tiga orang keluar dalam sebuah safar, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antaranya sebagai pemimpin’) ada dalil bagi yang menyatakan wajib atas kaum muslimin mengangkat imam, pemimpin, dan pemerintah.” (Nailul Authar)

• Al-Imam an-Nawawi rahimahumallah

“(Ulama) telah sepakat, wajibnya kaum muslimin mengangkat khalifah (pemimpin).” (Syarah Shahih Muslim)

• Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm rahimahumallah

“Sudah diketahui dengan pasti secara akal dan nalar bahwa tugas manusia ialah menjalankan apa yang diwajibkan Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan hukum-hukum, harta benda, kriminal, darah, pernikahan, perceraian, dan seluruh urusan yang berkaitan; kemudian mencegah kezaliman dan menyelamatkan orang-orang yang dizalimi. Dengan tempat yang berjauhan dan cara pandang yang berbeda-beda, semua itu tidak mungkin dapat diwujudkan, dan ini pasti. Inilah keadaan sebuah negara yang tidak memiliki kepala negara, tidak akan tegak di dalamnya hak dan hukum, bahkan urusan keagamaan pun umumnya tidak terlihat.” (al-Fashl fi al-Milal wan Nihal)

Waliyyul Amri Tidak Maksum

Waliyyul amri bukan pihak yang maksum (terbebas dari kesalahan) dan tidak mungkin tidak melakukan kesalahan. Mereka pada prinsipnya adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Mereka senantiasa membutuhkan nasihat dan arahan dari orang-orang yang bertakwa.

Menasihati waliyyul amri dengan cara yang syar’i merupakan salah satu pilar agama dan petunjuk para salaf. Dengan mengedepankan keikhlasan, pemikiran yang matang, lemah lembut, dan metode yang tepat, tentu akan membuahkan hasil dalam meluruskan kesalahan waliyyul amri.

Al-Imam Malik bin Anas rahimahumallah berkata, “Menjadi hak setiap muslim atau orang yang memiliki ilmu dan pemahaman yang benar, mengarahkan waliyyul amri kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kejelekan, serta menasihatinya. Sebab, orang yang berilmu berhubungan dengan pemerintah hanya sebatas mengarahkannya kepada kebaikan dan mencegahnya dari kejelekan. Apabila berhasil, itulah karunia yang tidak ada karunia lain setelahnya (tak ternilai).” (Fiqh Siyasah asy-Syar’iyyah)

Adapun memaki dan melontarkan kata-kata yang kotor setiap kali melihat kesalahan waliyyul amri, ini tidak dibenarkan. Ibnul Jauzi rahimahumallah mengatakan, “Bentuk amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada penguasa yang diperbolehkan adalah memberi tahu dan menyampaikan wejangan serta nasihat. Adapun dengan perkataan kasar, seperti ‘hai pemerintah zalim’, atau ‘pemerintah yang tidak takut kepada Allah Subhanahu wata’ala’, jika sampai menyulut fitnah dan menyebabkan tersebarnya kejelekan, hal ini tidak diperbolehkan.” (al-Adab asy-Syar’iyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Menghormati Pemerintah Sebagai Waliyyul Amri

Pemerintah adalah waliyyul amri.

Rasulullah n telah menjelaskan bahwa al-hakim al-muslim (pemerintah yang muslim), tidak lepas dari dua keadaan:

1. Pemerintah ini adalah seorang muslim, adil, bijaksana, taat beragama, tepercaya, menampakkan kasih sayang kepada kaum muslimin, mengerahkan segenap upayanya demi kebaikan kaum muslimin dan kebaikan Islam. Pemerintah yang seperti ini wajib dihormati dan dimuliakan sebagai bagian dari mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, seperti yang disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits yang sahih,

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِجْلَالُ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِم،ِ وَذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرُ الْغَالِي فِيهِ أَوِ الْجَافِي عَنْهُ

“ Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati orang tua yang muslim, penguasa yang adil, dan penghafal al-Qur’an; tanpa berlebihan di dalamnya atau menyepelekannya.” (HR. Abu Dawud no. 4843)

Penguasa yang adil adalah yang memimpin manusia dengan perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dan perintah Rasul- Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, menerapkan syariat Allah Subhanahu wata’ala, menegakkan keadilan, dan kasih sayang. Penguasa seperti ini wajib dimuliakan, dihormati, dan diagungkan, karena hal ini bagian dari mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala. Penguasa ini adalah naungan Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi, sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

السُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الْأَرْضِ، مَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ ا للهُ

“Penguasa adalah naungan Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi, siapa yang memuliakannya, Allah Subhanahu wata’ala akan memuliakannya, dan siapa yang menghinakannya Allah Subhanahu wata’ala akan menghinakannya.” (HR. Ibnu Abi Ashim, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah)

2. Pemerintah yang muslim, namun zalim atau pribadinya fasik, dan pelaku kemaksiatan, tetapi tidak sampai keluar dari ruang lingkup keislaman. Pemerintah seperti ini tidak boleh diberontak dan tidak boleh (bagi siapa pun) untuk memprovokasi rakyat melakukan pemberontakan kepadanya, berdasarkan keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّهُ سَيَكُو ن عَلَيْكم أُ مَرَ ا ءُ تَعرِ فُو ن وَ تنْكرُ و نَ

“Sesungguhnya akan ada para umara yang memimpin kalian, kalian mengenal (perbuatan baiknya) dan mengingkari (perbuatan buruknya).”

Beliau juga mengabarkan bahwa di akhir zaman akan ada para pemimpin yang memberi petunjuk tidak dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menetapkan sunnah tidak dengan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau ditanya, “Apa yang harus dilakukan menghadapi pemimpin yang seperti ini?” Beliau menjawab ditujukan kepada semua orang, “Kita hendaknya memohon (hak kita) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tetap taat (kepada mereka).”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, bahwa di akhir zaman akan ada para pemimpin atau umara yang bertindak semenamena— korupsi, kolusi, dan nepotisme— terhadap dunia dan harta benda serta berbagai kemungkaran yang diingkari, namun beliau tetap memerintahkan agar kita mendengar dan taat kepada pemimpin itu.

Beliau mengabarkan, kita akan dipimpin oleh umara yang mengakhirakhirkan shalat dari waktunya, tetapi masih menunaikan shalat. Sebagian sahabat beliau bertanya, “Bolehkah kami bunuh? Kami penggal dengan pedang?” Beliau menjawab, “Tidak! Selama mereka masih menunaikan shalat.”

Dalam sebagian riwayat, beliau memerintah para sahabatnya agar bersabar. Bahkan, beliau memerintah orang yang datang bersama mereka (umara) agar menunaikan shalat pada waktunya, dan jika kebetulan mereka sedang menunaikan shalat, hendaknya shalat bersamanya.

Semua itu, sebagai bentuk penjagaan terhadap kewibawaan pemerintah, menjaga persatuan kaum muslimin, mengatur urusan-urusannya, dan menguatkan barisannya. Sebab, kewibawaan Islam tidak akan tegak kecuali dengan adanya kewibawaan pemerintah dalam setiap jiwa. Kewibawaan itu tidak dapat dicapai kecuali dengan penghormatan terhadap mereka yang tertanam dalam setiap dada manusia, mengajak semua pihak untuk memuliakan mereka, taat dan mendengar, serta tidak merendahkannya. Kemaslahatan seluruh rakyat dalam urusan agama dan dunianya tidak akan terwujud kecuali dengan kewibawaan pemerintah dan kehormatannya yang ada dalam diri setiap orang.

Al-Imam Ibnu Hazm rahimahumallah telah menukil kesepakatan ulama menyangkut persoalan ini, (beliau menyatakan), “Sesungguhnya kemaslahatan Islam tidak akan tegak kecuali dengan dihormatinya (pemerintah), dipenuhinya hak-haknya, dan adanya kewibawaan mereka dalam jiwa-jiwa manusia. Dengan inilah urusan agama dan dunia berjalan, sebagaimana pernyataan para ulama Islam, (al-Imam al-Qarafi) dalam adz-Dzakhirah, (al- Imam Badruddin Ibnu Jamaah) dalam Tahrir al-Ahkam bi Tadbir Ahli al- Islam, dan selainnya. Semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati mereka. Semua menegaskan bahwa tertatanya kemaslahatan rakyat dan negara adalah dengan cara mewujudkan apa yang menjadi faktor pendukungnya. Apa yang menjadi faktor pendukungnya? Ya, menumbuhkan kewibawaan pemerintah dalam dada kaum muslimin.

Apabila pemerintah tidak lagi memiliki kewibawaan, bahkan diupayakan agar kewibawaannya lenyap dari hati manusia, lepaslah ikatan kepemimpinan itu. Saat itu pula tidak ada sikap taat dan mendengar (dari rakyat) sehingga terjadilah berbagai kekacauan dan kerusakan.” (diambil dari ceramah asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, 10 Jumadil Akhir 1432 H, yang kemudian diberi judul al-Hakim wa Anwa’uhu fi Sunnah an-Nabawiyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Pemerintah Yang Kafir

Terkait dengan pemerintah yang kafir, asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi hafizhahullah menjelaskan, “Adapun pemerintah yang kafir—jika benar-benar kafir—, wajib atas kaum muslimin memberontak kepadanya apabila mereka memiliki kekuatan dan kemampuan menggulingkannya serta tidak menimbulkan kerusakan. Akan tetapi, kapan pemerintah itu benar-benar dikafirkan? Ada beberapa poin penting terkait persoalan ini. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللهِ بُرْهَانٌ

“Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata, padanya ada hujah dari Allah Subhanahu wata’ala di sisi kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

1. Perkara yang menjadikan pemerintah itu dapat diberontak adalah perkara yang benar-benar merupakan kekafiran.

Jadi, hal itu bukan sekadar prasangka atau dugaan dan sebatas isu yang berkembang, tidak juga semata karena kefasikan, seperti berbuat zalim, minum khamr, taruhan, berjudi, dan sebagainya.

2. Kekafiran itu adalah kekafiran yang jelas dan terang, tidak samar dan bukan lantaran adanya syubhat atau takwil (penafsiran sendiri).

Sebab, syubhat dan takwil terkadang muncul dalam diri seseorang, sehingga dia tidak dapat dikafirkan karenanya dan tidak boleh memberontak kepadanya. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah berkata, “Pada intinya, tidak boleh dilakukan pemberontakan selama yang diperbuatnya mengandung kemungkinan takwil.”(Fathul Bari)

Lihatlah bagaimana al-Imam Ahmad rahimahumallah dipaksa mengatakan bahwa al- Qur’an adalah makhluk, bukan kalamullah. Perkataan tersebut jelas merupakan kekufuran, bukan dari Islam. Perkataan itu adalah kekafiran menurut kesepakatan ulama. Pemerintahan bani Abbas pada saat itu, seperti Khalifah al-Ma’mun, al- Mu’tashim, dan al-Watsiq, menjatuhkan hukuman kepada siapa saja yang tidak mau menyatakan hal ini.

Para ulama mengatakan, siapa yang mengatakan al-Qur’an makhluk, maka dia kafir. Meski demikian, al-Imam Ahmad rahimahumallah tetap mendoakan pemerintahnya. Beliau berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, tentu aku jadikan doa ini untuk kebaikan pemerintah.”

Para fuqaha Baghdad pernah berkumpul di hadapan al-Imam Ahmad. Mereka duduk dan meminta pandangannya serta berdiskusi dengannya soal pemberontakan. Mereka menyampaikan bahwa masalah perkataan al-Qur’an adalah makhluk sudah menyebar; para ulama diuji dengannya; dan keadaan menjadi tidak menentu, hingga tahap mereka tidak bisa terus bersabar. Mereka berkata, “Tidak ada gunanya lagi sikap taat dan mendengar kepada pemerintah semacam ini.”

Al-Imam Ahmad rahimahumallah menjawab, “Tidak! Semua ini menyelisihi haditshadits yang telah diriwayatkan. Bersabarlah kalian. Kita telah menjumpai dalam hadits ‘selama mereka masih menunaikan shalat’. Berhati-hatilah dalam urusan yang menyangkut darah kaum muslimin.”

Al-Imam Ahmad rahimahumallah melarang mereka membuka pintu keburukan. Mereka berkata, “Tidakkah engkau lihat apa yang kita hadapi saat ini?” Al-Imam Ahmad t menjawab, “Ini ujian khusus yang hanya menimpa sebagian orang. Adapun keburukan yang besar ialah apabila pedang sudah dihunuskan. Berhati-hatilah kalian terhadap darah kaum muslimin. Lindungilah darah mereka. Sungguh, semua ini telah menyelisihi hadits.”

Al-Imam Ahmad rahimahumallah tidak mengafirkan pemerintahnya. Beliau justru memerintahkan agar mereka tetap mendengar dan taat, karena pemerintah saat itu dipengaruhi oleh ta’wil dan syubhat.

Dalam peristiwa ini, beliau sendiri  dihukum lantaran tidak mengatakan al- Qur’an makhluk. Beliau dipukul, didera, dan dicambuk dengan cemeti hingga pingsan beberapa kali. Meski demikian, kezaliman pemerintah tidak lantas mendorong beliau untuk mengatakan sesuatu di luar perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Inilah kepatuhan yang sempurna terhadap sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. (Apabila kekafirannya sudah nyata dan jelas), hendaknya kaum muslimin memiliki kekuatan dan kemampuan untuk menggulingkannya tanpa menimbulkan mudarat yang lebih besar.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahumallah berkata, “Apabila pemerintah jatuh kepada kekafiran yang jelas, tidak boleh ditaati. Siapa yang mempunyai kemampuan wajib melawannya.” (Fathul Bari)

Jika tidak punya kemampuan, kaum muslimin tidak diperbolehkan melakukan pemberontakan. Hendaknya mereka tetap bersabar hingga Allah lmemberikan kelapangan dan jalan keluar. Hendaknya mereka tetap berdakwah di tengah-tengah manusia, mengajari, dan memahamkan manusia kepada kebenaran serta mengajak mereka untuk menerima sepenuhnya apa yang diajarkan oleh makhluk yang paling mulia, yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Asy-Syaikh al-Allamah Shalih al- Fauzan hafizhahullah berkata, “Adapun bermuamalah dengan pemerintah yang kafir, ini berbeda-beda tergantung keadaannya. Jika kaum muslimin memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memeranginya dan menggulingkannya dari kursi kepemimpinan, lalu diangkat seorang pemimpin yang muslim, wajib bagi mereka melakukan hal itu, bahkan termasuk jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala.”

Akan tetapi, apabila mereka tidak memiliki kemampuan untuk menggesernya, maka tidak diperbolehkan bagi mereka untuk menyalakan api permusuhan dengan cara-cara atau tindakan zalim karena akan menimbulkan mudarat yang akan kembali kepada kaum muslimin sendiri.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menetap di Makkah selama tiga belas tahun setelah diutus. Tampuk kepemimpinan dan kekuasaan pada waktu itu ada pada orang kafir. Namun, ada di antara mereka yang masuk Islam dan menjadi sahabat-sahabat beliau. Mereka (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya) tidak mengkudeta atau menurunkan orang-orang kafir dari kepemimpinannya. Mereka justru dilarang memerangi orang-orang kafir pada masa itu.

Mereka tidak diperintah berperang kecuali setelah hijrah dan memiliki negara dan jamaah (pengikut) yang membuat mereka mampu untuk memerangi orangorang kafir. Inilah manhaj Islam.

Apabila kaum muslimin berada di bawah pemerintah yang kafir dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk menggulingkannya, kewajiban mereka adalah berpegang teguh dengan keislaman dan akidah mereka….” (al-Hakim wa Anwa’uhu dan ad-Dur al-Mantsur)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Hukum Merendahkan Waliyyul Amri

Syariat yang lurus telah melarang dari tindakan merendahkan waliyyul amri karena hal itu akan menyebabkan hilangnya ketaatan yang semestinya diberikan kepada mereka. Melemahkan kewibawaan waliyyul amri dan sibuk mencelanya, mencari-cari kekurangannya, adalah satu kesalahan besar dan pelanggaran yang fatal serta pangkal terjadinya kerusakan agama dan dunia.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tokoh dan pembesar dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari merendahkan dan mencela umara.”

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahumallah juga menegaskan bahwa kewajiban semua orang adalah menahan kesalahan-kesalahannya (waliyyul amri) dan tidak boleh menyibukkan diri dengan mencelanya, tetapi hendaknya berdoa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk waliyyul amri, sebab mencelanya justru akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang merata. (ad-Dur al-Mantsur)

REC_021

Barang siapa merendahkan waliyyul amri atau pemerintah, berarti ia melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلَامِ مِن عنُقِهِ

“Sesungguhnya akan ada setelahku penguasa, maka janganlah kalian merendahkannya. Siapa yang hendak merendahkannya, sungguh ia melepas ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Segala hal yang mengandung unsur penghinaan dan merendahkan waliyyul amri adalah haram. Yang wajib adalah menghormatinya, karena menghormati waliyyul amri berarti menghormati Islam dan muslimin. Mereka layak dihormati karena kedudukannya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzanhafizhahullah berkata, “Perkara ini (menghormati waliyyul amri) wajib mendapatkan perhatian serius, karena di sinilah letak kemaslahatan Islam dan muslimin. Kemaslahatan yang akan kembali kepada kaum muslimin dalam menghormati waliyyul amri jauh lebih banyak dibandingkan kemaslahatan yang kembali kepada waliyyul amri itu sendiri. Maka dari itu, mengetahui perkara ini dan mengamalkannya adalah hal yang dituntut. Sebab, kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan kerja sama dengan waliyyul amr, terkhusus pada masa yang banyak keburukan seperti sekarang ini. Tidak sedikit dai yang justru mengajak kepada kesesatan. Mereka menyebarkan kejelekannya di tengah-tengah kaum muslimin dengan segala cara untuk merusak kewibawaan pemerintah dan melemahkan pemerintahan. Seluruh kaum muslimin hendaknya betul-betul memerhatikan hal ini. Apabila ada pihak yang ingin memecah belah urusan kaum muslimin dan menggunjing waliyyul amri, hendaknya dinasihati dan diberitahu bahwa hal ini tidak boleh, bukan jalan keluar dari problem.” (al-‘Ilam bi kaifiyyati Tanshibil Imam fil Islam)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Ahlus Sunnah Mendoakan Waliyyul amri

CIMG0517
Al-Imam al-Barbahari rahimahumallah berkata, “Apabila engkau melihat ada orang yang mendoakan kebaikan untuk penguasa, ketahuilah dia seorang Ahlus Sunnah, insya Allah.”

Al-Imam Fudhail bin Iyadh rahimahumallah berkata, “Sekiranya aku mempunyai doa (yang terkabul), aku tidak akan mengarahkannya kecuali untuk penguasa.”
Seseorang bertanya, “Hai Abu Ali (Fudhail), jelaskan maksud kalimat ini kepada kami semua.”

Al-Imam Fudhail rahimahumallah menjawab, “Jika aku arahkan pada diriku, kebaikannya tidak akan kembali kecuali kepada diriku. Akan tetapi, jika aku arahkan kepada penguasa, penguasa itu akan menjadi baik sehingga baiklah keadaan rakyat dan negara.”

Maka dari itu, kita diperintah mendoakan waliyyul amri dengan kebaikan serta dilarang mencemooh atau memberontaknya walaupun penguasa itu zalim dan jahat. Sebab, kezaliman dan kejahatannya kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan kebaikannya selain kembali kepada dirinya juga untuk seluruh muslimin.” (Syarhu Sunnah) Di dalam kitab I’tiqad Ahlus Sunnah,al-Imam al-Isma’ili rahimahumallah mengemukakan bahwa mereka, Ahlus Sunnah, memandang harusnya mendoakan kebaikan bagi penguasa dan mendorongnya berbuat adil. Ahlus Sunnah tidak memandang bolehnya memberontak dengan pedang/ senjata.

Al-Imam ath-Thahawi rahimahumallah mengatakan, “Kami, Ahlus Sunnah, mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk waliyyul amri.” (al-Aqidah ath- Thahawiyyah)
Asy-Syaikh al-Allamah Shalih al- Fauzan menambahkan catatan penting atas apa yang telah dikemukakan al-Imam ath-Thahawi rahimahumallah di atas.
Beliau berkata, “Kami, Ahlus Sunnah, senantiasa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala mengembalikan waliyyul amri kepada kebenaran dan meluruskan kesalahan yang ada pada mereka. Kami mendoakan kebaikan untuk mereka.

Sebab, kebaikannya adalah kebaikan untuk kaum muslimin dan petunjuknya adalah petunjuk bagi kaum muslimin. Kemanfaatan yang ditimbulkannya pun akan meluas dan dirasakan oleh semua pihak. Ketika Anda berdoa kebaikan
untuk mereka, secara otomatis berdoa untuk kebaikan kaum muslimin.” (Ta’liq ala ath-Thahawiyyah)
Samahatul Allamah Ibnu Baz rahimahumallah berkata, “Sebagai bentuk tuntutan dari bai’at (janji setia) adalah menyampaikan nasihat kepada waliyyul amri. Salah satu bentuk nasihat itu ialah mendoakan waliyyul amri agar mendapatkan taufik, hidayah, dan kebaikan dalam hal niat dan amal, serta diberi pendamping yang
baik.” (ad-Dur al-Mantsur)
Menggunjing & Membicarakan Kejelekan Waliyyul amri, Ciri Ahlul Bid’ah

Al – Imam Ibnul Jauzi rahimahumallah menyebutkan dalam kitab Adab al- Hasan al-Bashri, al-Hasan Basri rahimahumallah mendengar seseorang membicarakan kejelekan pemerintah lantas mengajak melakukan pemberontakan kepada al- Hajjaj (seorang penguasa yang zalim).

Al-Imam al-Hasan Bashri rahimahumallah berkata, “Jangan engkau lakukan itu, semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatimu. Sesungguhnya kalian diberi pemimpin itu dari kalangan kalian sendiri. Kami khawatir, jika al-Hajjaj lepas dari kursi kepemimpinannya atau mati, yang menggantikannya justru dari bangsa kera dan babi (Yahudi dan Nasrani).”
Al-Allamah al-Fauzan hafizhahullah menegaskan, “Tidak boleh menjelekjelekkan atau menggunjing waliyyul amri. Sebab, hal ini berarti pemberontakan secara maknawi layaknya pemberontakan menggunakan pedang. Yang wajib adalah mendoakannya agar mendapatkan
kebaikan dan petunjuk.”

Inilah ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah. Apabila Anda mendapati ada orang yang menjelek-jelekkan dan menggunjing waliyyul amri, ketahuilah bahwa orang itu sesat akidahnya dan tidak berada di atas manhaj salaf. Sebagian orang menganggap membicarakan kejelekan dan memberontak kepada waliyyul amri adalah bentuk kecemburuan dan benci karena Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, hal itu sebenarnya adalah kecemburuan dan kebencian yang tidak pada tempatnya. Sebab, jika pemberontakan itu berhasil menggulingkan waliyyul amri, terjadilah berbagai kerusakan.” (Ta’liq ala ath- Thahawiyyah)
Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Waliyyul Amr, Rujukan Umat

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Jauzi rahimahumallah dalam Zadul Masir menyebutkan bahwa ada dua pendapat tentang sebab turunnya ayat ini.

1. Berdasarkan riwayat yang hanya dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengasingkan diri dari istri-istri beliau, Umar masuk ke dalam masjid dan mendengar manusia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istriistrinya. Lalu beliau menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar pun keluar sambil menyeru, “Ketahuilah, Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya.” Lalu turunlah ayat ini.

2. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sariyyah (pasukan khusus yang jumlahnya 4 sampai 400 orang). Kemudian terdengar berita bahwa mereka menang atau kalah. Akhirnya orang-orang  membicarakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Mereka tidak bersabar hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan berita itu, kemudian turunlah ayat ini.

Mufradat Ayat

وَإِذَا جَاءَهُمْ

Dan apabila telah datang kepada mereka.”

Mereka yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang munafik, menurut penafsiran Ibnu Abbas c dan jumhur ulama.

الْأَمْنِ

Kemenangan.

Terdapat beberapa penafsiran di kalangan ulama ahli tafsir tentang maknanya . Mayoritas mereka memaknainya dengan kemenangan dan harta rampasan perang yang diperoleh pasukan (sariyyah).

 الْخَوْفِ

Ketakutan.

Mayoritas ulama ahli tafsir memaknainya sebagai musibah atau bencana (kekalahan) yang menimpa pasukan muslimin.

أَذَاعُوا بِهِ

Mereka lalu menyiarkannya,

yaitu menyebarluaskan. Asy-Syaukani rahimahumallah berkata dalam kitab tafsirnya,

أَذَاعَ الشَّيْءَ وَأَذَاعَ بِهِ: إِذَا أَفْشَاهُ وَأَظْهَرَهُ

Adza’a artinya menyiarkan, menyebarkan, dan mengumumkan. Menurut Ibnu Jarir rahimahumallah, dhamir ha’ pada kalimat ini kembali ke amrun (berita).

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ

Dan kalau mereka mau menyerahkannya kepada Rasul….

Maksudnya, menunggu hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyampaikan (berita).

 وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ

Dan ulil amri di antara mereka.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mereka seperti Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali . Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij rahimahumullah berpendapat bahwa mereka adalah para ulama.

Adapun menurut Ibnu Zaid dan Muqatil, mereka adalah para pemimpin pasukan. Asy-Syaukani rahimahumallah mengatakan bahwa mereka adalah para ulama dan orang-orang yang memiliki akal yang kokoh—yang kepada merekalah urusan kaum muslimin dikembalikan (ditanyakan)—atau para penguasa.

يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Mereka akan dapat mengetahuinya.

Kata istinbath berasal dari kata istikhraj (mengeluarkan). Az-Zajjaj mengatakan, istinbath berasal dari kata النَّبْطُ , yaitu air yang pertama kali keluar dari sumbernya ketika sumur digali.

 فَضْلُ اللَّهِ

Karunia Allah.

Ada yang memaknainya sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Islam, al-Qur’an, atau ulil amri.

 وَرَحْمَتُهُ

Dan rahmat-Nya.

Sebagian ulama memaknainya sebagai wahyu, kelembutan, kenikmatan, atau taufik.

Makna Ayat

Asy-Syaukani rahimahumallah menyatakan, kaum muslimin yang memiliki sikap lemah, ketika mendengar salah satu urusan kaum muslimin—seperti berita kemenangan mereka, terbunuhnya musuh, atau ketakutan seperti kekalahan dan terbunuhnya mereka—mereka menyiarkannya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak bermasalah. (Alangkah baiknya) kalau mereka tidak melakukannya (yakni tidak menyiarkannya dengan segera) dan sabar menunggu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri atau ulil amri di antara mereka yang menyampaikannya. Sebab, merekalah yang lebih mengetahui, berita mana yang seharusnya disiarkan dan berita mana yang harus disembunyikan.

Sebagian ulama tafsir memaknainya, “Kalau bukan karena karunia Allah l kepada kalian, yaitu diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab (al-Qur’an), tentulah kalian mengikuti setan dan tetap berada di atas kekufuran, kecuali sebagian kecil saja.”

Ada pula yang memaknainya, “Mereka lalu menyiarkannya kecuali sebagian kecil saja.” Ada pula yang memaknainya, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja.”

Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahumallah mengatakan, (ayat ini mengandung) pengingkaran terhadap orang yang begitu mendapat berita (perkara) lalu tergesa-gesa memberitakan, menyiarkan, dan menyebarkan, sebelum memastikan keberadaannya. Sebab, bisa jadi berita tersebut tidak benar.

Al-Imam Muslim rahimahumallah—dalam mukadimah kitab Shahih-nya— menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Seorang dianggap telah berdusta apabila memberitakan seluruh perkara yang ia dengar.

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahumallah dalam “Kitabul Adab”, dari jalan Muhammad bin Husain bin Asykab, dari Ali bin Hafsh, dari Syu’bah secara musnad (sanadnya sampai kepada Nabi n). Selain itu, dikeluarkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dan Abu Dawud rahimahumallah dari jalan yang lain secara mursal (sanadnya tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu suka menyiarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa memastikan, mencermati, dan mencari kejelasan terlebih dahulu tentang ucapan orang lain tersebut.

Asy – Syaikh as – Sa ’di rahimahumallah mengatakan, ini adalah pengajaran dari Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya terhadap tindakan mereka yang tidak patut dilakukan. Seharusnya, ketika suatu perkara (berita)—yang penting; atau menyangkut kemaslahatan bersama terkait dengan kemenangan dan kegembiraan orang-orang mukmin; atau ketakutan, seperti musibah yang menimpa—sampai kepada mereka, hendaknya mereka pastikan terlebih dahulu dan tidak tergesagesa menyiarkannya. (Yang sepantasnya mereka lakukan ialah) mengembalikannya kepada Rasul n atau ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, penasihat, orang yang memahami permasalahan, bagus pendapatnya, yang mengetahui urusan(dengan baik), mana yang membawa maslahat dan mana yang tidak. Jika mereka pandang menyiarkan berita mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, menambah semangat dan menyenangkan mereka, serta terjaga dari musuh, mereka akan menyebarkannya.

Jika mereka pandang tidak ada maslahat, atau ada maslahat namun kemadaratan yang terjadi lebih besar, mereka tidak menyiarkannya. Ayat di atas menjadi pedoman yang mendidik, yaitu apabila terjadi penelitian tentang suatu masalah, hendaknya diserahkan kepada ahlinya dan kita tidak mendahului mereka. Hal ini lebih mendekatkan kita kepada kebenaran dan lebih patut bagi kita agar selamat dari kesalahan.

Ayat di atas juga mengandung larangan seseorang terburu-buru menyiarkan sebuah berita saat pertama kali mendengarnya. Dia diperintahkan untuk memikirkan dan memandang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, apakah hal itu membawa maslahat sehingga disampaikan atau tidak ada manfaat sehingga tidak boleh disebarkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Sosok Yang Suci Bukan Syarat Penguasa Negeri

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لَا، مَا صَلَّوْا لَكُمُ الْخَمْسَ

“Sungguh akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka, -pen.) dan kalian ingkari (kemaksiatan mereka, -pen.). Barang siapa mengingkari kemaksiatannya, dia terlepas dari tanggung jawab; dan barang siapa membencinya, dia selamat, tetapi (yang berdosa adalah) mereka yang ridha dan ikut.” Sahabat bertanya, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka mengerjakan shalat lima waktu bersama kalian.”

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam al-Musnad (6/295), melalui jalan Yazid dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari Dhabbah bin Mihshan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Sanad hadits ini sahih, semua perawinya termasuk perawi al-Bukhari dan Muslim kecuali Dhabbah bin Mihshan, dia perawi Muslim. Hadits diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah rahimahumallah dalam al-Mushannaf (15/71), at-Tirmidzi rahimahumallah no. 2265, Abu Ya’la al-Mushili rahimahumallah no. 6980, dan Abu ‘Awanah melalui jalan Yazid bin Harun. At-Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Hadits ini hasan sahih.” Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya 3/1481, Abu Dawud no. 4760, Abu ‘Awanah (4/471, 473), ath-Thabarani dalam al-Kabir No.95/VIII/1434 H/2013 43 (23/761, 762), al-Baihaqi dalam as- Sunan al-Kubra (3/367) dan (8/158), serta al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 2459, semua melalui jalan Hisyam bin Hassan.

Shahabiyah Perawi Hadits

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhua adalah Ummul Mukminin, Ibunda Kaum Mukminin, Hindun binti Abu Umayyah, Hudzaifah bin al-Mughirah al-Qurasyiah al- Makhzumiyyah. Kuniah beliau ialah Ummu Salamah, lebih masyhur dari namanya, Hindun. Beliau termasuk shahabiyah yang masuk Islam di awal-awal dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hijrah bersama suaminya Abu Salamah ke Habasyah sebagaimana keduanya juga hijrah ke Madinah. Abu Salamah, suami pertamanya adalah putra dari bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekaligus saudara sesusuan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Salamah meninggal dalam PerangUhud pada 3 H. Selesai masa ‘iddah, pada 4 H, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Beliau wafat di kota Madinah tahun 62 H. Ummu Salamah adalah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terakhir meninggal, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya.

Makna Hadits

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan sebuah perkara gaib dari Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan apa yang akan menimpa kaum muslimin. Kemudian terbukti apa yang beliau kabarkan. Muncul umara (penguasa/ pemimpin) kaum muslimin yang melakukan kemungkaran dan kezaliman, di samping ada kebaikan-kebaikan pada diri mereka. Menaati penguasa kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf termasuk salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Kita tentu berharap, yang menjadi pemimpin dan penguasa kaum muslimin adalah seorang yang adil dan istiqamah di atas Islam, sebagaimana umat ini pernah merasakannya, seperti al-Khulafa ar-Rasyidin: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib, demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan , di masa tabi’in, seperti Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah, sebagaimana umat ini akan dipimpin oleh seorang yang adil di akhir zaman, yakni Imam Mahdi.

Akan tetapi, jika yang menjadi penguasa negeri kaum muslimin adalah pelaku berbagai kemungkaran (ahlul maksiat) dan sering berbuat zalim, masihkah mereka dianggap sebagai penguasa muslimin yang sah? Apakah tetap wajib bagi kita menaati mereka dalam hal-hal yang ma’ruf? Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi jawaban atas dua pertanyaan ini. Mereka masih sebagai pemimpin kaum muslimin. Mereka masih memiliki hak untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Perhatikan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha di atas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umat untuk tetap taat dan tidak memerangi pemimpin selama mereka masih menegakkan shalat, selama mereka masih muslim walaupun melakukan berbagai kemungkaran yang kita ingkari. As-Sindi rahimahumallah menjelaskan beberapa lafadz hadits Ummu Salamah. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ( تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُون ) “kalian mengetahui dan kalian mengingkari,” maknanya (akan ada penguasa-penguasa) yang kalian mengenal beberapa perbuatan baik mereka dan mengingkari sebagian perbuatan buruk mereka (menyelisihi syariat).”

(Maksudnya, ada kebaikan pada penguasa kalian sebagaimana halnya ada keburukan pada mereka, -pen.). Sabda beliau, ( فَمَنْ أَنْكَرَ ) “barang siapa mengingkari,” maksudnya mengingkari perbuatan buruk mereka dengan lisan, sungguh dia telah terbebas dari ikatan kewajiban untuk nahi mungkar. Barang siapa tidak mengingkari dengan lisan, namun ada kebencian dalam hatinya, diajuga selamat dari kebinasaan. Akan tetapi, barang siapa ridha dengan tingkah laku mereka yang mungkar dan mencocokinya, dia binasa atau berserikat dengan mereka dalam kejelekan. Demikian penjelasan as-Sindi rahimahumallah.

Menasihati dengan lisan yang dimaksud adalah menasihati penguasa muslim dengan lisan secara sembunyisembunyi, tidak terang-terangan di hadapan umum semacam demonstrasi atau orasi di atas mimbar. Hal ini dituntunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذي سُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barang siapa ingin menasihati pemimpin, janganlah menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya ia membawanya lalu menyepi dengannya (untuk menasihatinya). Jika diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam takhrij kitab as- Sunnah no. 1097)

Demikianlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kita mengingkari keburukan penguasa dan menasihati mereka tidak dengan terang-terangan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan dengan tegas dalam hadits yang mulia ini. Kemaksuman Bukan Syarat Sahnya Seorang Penguasa Sering menjadi bahan perdebatan bahwa kezaliman penguasa, seperti korupsi, dst., adalah perkara yang membolehkan rakyat untuk melakukan pemberontakan dan melepaskan diri dari ketaatan, bahkan mengingkari kepemimpinan mereka. Semua ini adalah persangkaan batil, bagian dari bisikan-biskan iblis dan bala tentaranya.

Kemaksuman bukanlah syarat sahnya seorang sebagai waliyul amr, sebagaimana kemaksuman bukan syarat berlakunya hak mereka untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Mereka yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa kaum muslimin dengan semata-mata kezaliman penguasa telah menyelisihi nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka yang tidak mengakui kepemimpinan penguasa dengan sebab kemaksiatan-kemaksiatan tersebut juga telah jatuh dalam kesalahan, padahal mereka—para penguasa—masih menegakkan shalat, masih muslim. Banyak dalil menetapkan perkara ini. Di antaranya ialah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ada di hadapan kita. Demikian pula sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut.

• Disebutkan dalam Shahih Muslim, sahabat Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik penguasa (pemerintah) kalian adalah pemerintah yang kalian sayangi mereka dan mereka menyayangi kalian. Kalian senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. (Adapun) sejahat-jahat pemerintah adalah mereka yang kalian membencinya, dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang?” Beliau berkata, “Tidak boleh, selama mereka menunaikan shalat. Apabila kalian melihat perkara yang kalian benci dari penguasa kalian, bencilah perbuatan mungkar mereka dan jangan kalian mencabut ketaatan kepada mereka.”

• Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dalam Shahihnya dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَايَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ: قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُك،َ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan ada pula di tengahtengah mereka orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, wahai Rasulullah, jika saya menjumpai hal itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat.”

Dalam hadits ini, tampak bahwa penguasa muslim ketika itu melakukan banyak kemungkaran berupa penyelisihan syariat, sebagaimana mereka melakukan tindak aniaya. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf.

• Dalam hadits yang lain dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.” ( Mutafaq ‘alaih, dan ini adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumallah)

• Al-Imam al-Bukhari rahimahumallah meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّو إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku, kalian akan melihat sikap (penguasa) yang mementingkan diri sendiri dan banyak perkara yang kalian mengingkarinya.” Para sahabat bertanya, “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dengan baik dan mohonlah hak kalian kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

An-Nawawi rahimahumallah berkata “Dalam hadits ini ada perintah untuk selalu mendengar dan taat, meskipun yang menjadi pemimpin berlaku zalim dan berbuat aniaya. Ketaatan yang menjadi haknya tetap harus ditunaikan, tidak boleh memberontak kepadanya dan melepaskan ketaatan kepadanya. Adapun kezaliman yang menimpa kalian, kembalilah selalu kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam menyingkirkannya, demikian pula hak-hak kalian yang tertahan serahkanlah urusannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarh Shahih Muslim dengan beberapa perubahan)

Akidah Ulama Ahlus Sunnah dalam Masalah Ini

Beberapa hadits yang telah lalu menunjukkan bahwasanya kemaksuman bukan syarat sahnya seorang menjadi penguasa muslim. Demikian pula bukan syarat untuk ditaatinya seorang penguasa muslim, keberadaan mereka sebagai sosok yang selalu lurus di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka tidaklah maksum. Di atas akidah inilah, ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan. Mereka tidak mensyaratkan sahnya waliyul amr sebagai seorang yang istiqamah dalam agama, sebagaimana hal itu bukan syarat untuk ditaatinya mereka dalam perkara yang ma’ruf.

• Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi rahimahumallah menjelaskan, di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah “Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim, dan Kami tidak mendoakan kejelekan atas mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan bukan kemaksiatan. Kami mendoakan untuk mereka kebaikan dan keselamatan.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah)

• Al – Imam al – Ajurri rahimahumallah mengatakan, “Siapa saja yang menjadi pemimpinmu, dari bangsa Arab atau bukan, berkulit hitam atau putih, atau berasal dari bangsa non-Arab sekalipun, taatilah dalam perkara yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, walaupun hakmu dizalimi, punggungmu dipukul, kehormatanmu dilanggar, dan hartamu dirampas…. Akan tetapi, bersabarlah!” (asy-Syari’ah lil Imam al-Ajurri)

• Al-Imam al-Qurthubi rahimahumallah menerangkan, “Yang menjadi pegangan mayoritas ulama ialah bahwa bersabar untuk tetap taat kepada pemimpin yang jahat itu lebih utama daripada memberontaknya, karena melepaskan ketaatan dan melakukan pemberontakan terhadapnya berarti mengubah keamanan dengan ketakutan, menumpahkan darah, dan memberi peluang kepada orangorang yang jahat, menebar bahaya bagi kaum muslimin, dan menciptakan kerusakan di muka bumi.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

• Al-Imam ash-Shan’ani rahimahumallah dalam kitabnya, Subulus Salam, berkata, “Lafadz-lafadz hadits menunjukkan bahwa barang siapa memberontak kepada pemimpin yang telah disepakati oleh umat Islam dalam sebuah wilayah (negara), dia berhak dibunuh kerena telah menyusupkan kerusakan kepada masyarakat, sama saja apakah pemimpin tersebut seorang yang zalim atau adil. Dalam haditshadits lain dijelaskan, selama mereka menegakkan shalat dan selama kalian tidak melihat kekufuran yang nyata.” (Subulus Salam, 3/261)

Peringatan!

Keyakinan Ahlus Sunnah di atas tidak berarti bahwa Ahlus Sunnah membenarkan dan menyetujui kemungkaran para penguasa. Sama sekali tidak!

Bermudah-Mudah Memberikan Vonis Kafir

]Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan sabda-sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya menunjukkan bahwa selagi para penguasa dalam keislaman, mereka adalah penguasa sah yang wajib kita taati dalam perkara yang ma’ruf, walaupun mereka bermaksiat, zalim, dan aniaya. Adapun jika yang menjadi penguasa, yang memerintah adalah orang-orang kafir, saat itu tidak ada lagi ketaatan. Boleh bagi kaum muslimin mengadakan pemberontakan, mengadakan kudeta kekuasaan untuk menggulingkan penguasa kafir dan menggantinya dengan penguasa muslim, tentu setelah kaum muslimin mempersiapkan kekuatan yang dengan itu insya Allah tujuan kudeta tercapai, dan setelah menempuh jalan yang paling mudah dan bermaslahat bagi kaum muslimin dalam menggulingkan penguasa kafir tersebut. Dalam sebuah riwayat, Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ  فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Kami berbaiat (bersumpah setia) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/pemimpin kaum muslimin) baik dalam keadaan senang atau susah dan tidak memberontak. (Rasulullah bersabda,) “Kecuali jika kalian melihat dari para penguasa kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Perhatian!

Penting pula kita ungkapkan di sini meskipun sekadar isyarat, di antara tindakan berbahaya dalam masalah menentukan sikap kepada penguasa adalah tasarru’ (bermudah-mudah dan tergesa) memberikan vonis kufur. Bahkan, yang sungguh menyedihkan, di antara para aktivis pergerakan bukan hanya bermudah-mudah memberi vonis kafir kepada kepala negara. Lebih dari itu, dengan sembrono mereka memberikan hukum kafir kepada semua aparatur pemerintah dan menetapkan negara tersebut sebagai negara kafir. Allahul musta’an.

Memutuskan hukum kafir atas seseorang adalah hukum syariat yang benar-benar harus dibangun di atas ilmu. Apalagi menilai satu negeri sebagai negeri kafir. Yang berbicara masalah tersebut adalah orang-orang yang berilmu, memiliki hujah yang kuat di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Selain itu, vonis kafir tersebut tidak boleh ditujukan kepada siapa pun kecuali setelah semua sempurna syuruth at-takfir (syaratsyarat pengafiran) dan telah hilang semua mawani’ takfir (faktor yang menghalangi pengafiran). Bisa jadi, ada orang yang secara lahiriah melakukan perbuatan kekufuran, namun tidak bisa dihukumi kafir karena adanya (penghalangpenghalang) vonis kafir, atau tidak terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran.

Khatimah

Sesungguhnya banyak syubhat (kerancuan) berpikir beberapa golongan yang menginginkan kerusakan di muka bumi—baik yang menisbatkan dirinya kepada Islam, atau agen-agen Yahudi dan sejenisnya yang terus berupaya merusak kekuatan kaum muslimin— dengan melakukan upaya pemberontakan kepada penguasa sah kaum muslimin. Di antara syubhat mereka, kebanyakan penguasa kaum muslimin saat ini bukan dari Quraisy, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قُرَيْشٌ وُلَاةُ النَّاسِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Quraisy adalah pemimpinpemimpin bagi manusia baik dalam kebaikan, demikian pula dalam kejelekan, hingga hari kiamat.”

Betapa dangkalnya pemahaman agama mereka. Mereka mengambil sebagian ayat dan membuang sebagian lainnya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Benar, sabda Rasulullah n menetapkan bahwa Quraisy adalah pemimpin manusia, baik dalam kebaikan maupun dalam keburukan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Abu Bakr ash- Shiddiq z sebagai khalifah sepeninggal beliau. Namun, harus kita ingat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan bahwa pemimpin dari Quraisy, beliau pula yang memerintahkan kita untuk taat kepada penguasa muslim, walaupun bukan dari Quraisy. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُوصِيْكُم بِتَقْوَى اللهَ وَالسَمْعُ وَالطَاعَة وَاِنْ كَانَ عَبْدَا حَبَشِيَا

“Aku wasiatkan kepada kamu semua supaya bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan patuh serta taat walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak Habsyi.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahumallah, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,

إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) memberi wasiat kepadaku supaya patuh dan taat walaupun yang memimpin adalah seorang hamba yang cacat (hina).” (HR. Muslim, 9/367, no. 3420)

Inilah sebagian jawaban dari beberapa kerancuan yang menyebar di tengah manusia di tengah-tengah keburukan dan musibah akhir zaman. Sungguh, tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala serta kembali kepada al- Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc