Bahaya Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Alangkah banyak sekarang ini orang-orang yang lancang, tanpa rasa takut mereka berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla atau atas nama agama, tanpa ilmu. Padahal Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah perkara yang lebih besar dari kesyirikan. Berikut ini kami bawakan nukilan penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hal di atas.

Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam fatwa dan memutuskan hukum, serta menjadikannya sebagai perkara haram yang paling besar, bahkan pada tingkatan tertinggi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Allah ‘azza wa jalla menyebutkan urutan perkara yang diharamkannya menjadi empat tingkatan. Allah ‘azza wa jalla memulai dengan yang paling ringan, yaitu fawahisy (perbuatan keji). Urutan kedua ialah yang lebih keras keharamannya, yaitu dosa dan perbuatan zalim. Urutan ketiga, yang lebih besar keharamannya dari dua hal sebelumnya, yaitu perbuatan syirik. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan pada urutan keempat, sesuatu yang lebih besar keharamannya dari semua hal di atas, yaitu berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hal ini mencakup berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam hal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam agama serta syariat-Nya. (I’lamul Muwaqqi’in)

 

Setan Memerintah Manusia Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Perlu diingat, setan terus berupaya menyesatkan bani Adam. Di antara langkah mereka menyesatkan bani Adam adalah membisikkan dan memerintahkan seseorang untuk berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ١٦٩

“Wahai manusia, makanlah oleh kalian apa yang di bumi yang halal dan baik, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.

Dia hanyalah memerintahkan kalian untuk berbuat jelek dan kekejian dan agar kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-Baqarah: 169)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu termasuk perkara haram yang paling besar. Ini merupakan jalan setan yang dia serukan. Ini adalah jalan setan dan bala tentaranya yang mereka serukan. Mereka mengerahkan makar dan tipu muslihat mereka. Hal tersebut (mereka lakukan) untuk menyesatkan makhluk dengan cara apa pun yang mereka bisa.” (Tafsir as-Sa’di)

 

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

halal-haram 

Bentuk Nyata Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak bentuk amaliah yang menunjukkan seorang terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Di antaranya:

  1. Seseorang berkata bahwa ini halal dan itu haram, tanpa didasari ilmu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

“Jangan katakan atas sesuatu yang disipati oleh lisan kalian yang dusta; ini halal dan ini haram, untuk mengadakan kedustaan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang berdusta atas nama Allah tidak akan mendapatkan kemenangan.” (an-Nahl: 116)

 

  1. Berbagai bentuk kebid’ahan

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Masuk dalam bab ini ialah semua yang melakukan kebid’ahan yang tidak ada sandaran syar’i padanya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, atau mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla bolehkan, dengan berlandaskan ra’yu (akal pikiran) dan keinginannya semata.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

  1. Menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan, melakukan tahrif dan takwil batil terhadap ayat-ayat tentang nama dan sifat Allah ‘azza wa jalla

Asy-Syaikh Khalil Harras rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah bab yang luas. Masuk padanya semua pemberitaan (mengatasnamakan) tentang Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tanpa dalil dan hujah. Misalnya, menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan dan menetapkan apa yang Allah ‘azza wa jalla nafikan, atau berbuat ilhad terhadap ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dengan men-tahrif dan menakwilnya.” (Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah hlm. 146)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Masuk ke dalam bab ini ialah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tentang syariat dan takdir-Nya. Barang siapa menyifati Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu yang tidak disifati oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya untuk Diri-Nya, atau menafikan sifat yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Barang siapa menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki tandingan berupa berhala, yang mampu mendekatkan orang yang beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Barang siapa berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla menghalalkan itu, mengharamkan ini, memerintahkan itu, dan melarang ini tanpa bashirah, berarti telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu….” (Tafsir as-Sa’di surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla terkait Dzat, nama, sifat, dan perbuatan Allah ‘azza wa jalla, serta hukum-hukum-Nya

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu terkait Dzat-Nya, namanama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan, dan hukum-hukum-Nya adalah termasuk perintah-perintah setan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169, 2/240)

 

  1. Berfatwa tanpa ilmu

Al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Sungguh, ada di antara kalian yang berfatwa tentang sebuah masalah, yang apabila masalah itu ditanyakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu niscaya beliau akan bermusyawarah dengan para sahabat yang ikut Perang Badr.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Saya ingin memberikan peringatan kepada seluruh saudaraku kaum muslimin agar tidak berfatwa tanpa ilmu. Sebab, berfatwa tanpa ilmu adalah pelanggaran besar yang telah Allah ‘azza wa jalla gandengkan dengan kesyirikan dalam firman-Nya,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Sebab, firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

itu mencakup berkata tentang nama-nama Allah ‘azza wa jalla, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukumhukum-Nya, tanpa ilmu.”

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

Maka dari itu, dia harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan menahan diri. Hendaknya dia berhenti dari perbuatan menghalangi manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla.

 

Upaya Agar Terhindar dari Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak upaya yang bisa kita lakukan agar terhindar dari perbuatan di atas. Di antara sebab yang terpenting adalah:

 

  1. Terus memperdalam ilmu agama

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu sangatlah besar bahaya dan kerusakannya. Sebab, seorang yang berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu akan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, akan melarang yang haq dan memerintahkan yang batil, karena kebodohannya.

Maka dari itu, para ulama dan penuntut ilmu wajib menjauhkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hendaknya mereka memiliki perhatian penuh pada dalil-dalil syar’i. Dengan demikian, mereka berlandaskan ilmu ketika menyeru dan melarang sesuatu, serta tidak terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.” (Fatawa Ibn Baz, 4/82)

 

  1. Menjauhkan diri dari rasa cinta ketenaran, senang ditokohkan, dan senang kedudukan

Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji, seperti tawadhu, disertai dengan menjauhkan diri dari akhlak-akhlak yang jelek. Sebab, ada beberapa akhlak yang jelek menyeret pada perbuatan yang haram ini.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mayoritas sebab yang membawa seorang berbuat demikian (berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu) adalah senang kemuliaan, ditokohkan, dan ingin kedudukan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berani menyatakan “Wallahu a’lam (Allah lebih tahu), saya tidak tahu”

Di antara upaya untuk menghindarkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu ialah menghiasi diri dengan ucapan, “Allahu a’lam, saya tidak tahu.”

Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat beliau, dan para ulama kita.

Ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Muslim)

Demikian juga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Umar bin al-Khaththab menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” (HR. Muslim)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, apa hak Allah ‘azza wa jalla atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah ‘azza wa jalla?”

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu menjawab, “Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Dengan membiasakan diri berterus terang menyatakan tidak tahu dalam masalah yang memang dirinya tidak mengetahui ilmunya, seseorang akan terjaga dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan kepada kita taufik untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui serta menjadikannya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Bahasa Arab Semata Tidaklah Cukup

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(al-An’am: 82)

 pintu-gelap

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, para sahabat merasa berat ketika ayat ini turun. Mereka lalu menyampaikan (apa yang mereka pahami tentang makna ayat tersebut) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat zalim (menganiaya) terhadap diri sendiri?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya (penafsirannya) bukanlah seperti yang kalian maksud. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh pada firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezaliman yang besar.(Luqman: 13)”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman (dalam ayat ini) adalah syirik.

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat g memahami kesyirikan (memiliki makna) yang lebih besar daripada sekadar kezaliman. Mereka memahami makna ‘zhulm’ (kezaliman) dalam ayat ini ialah selain syirik, yaitu kemaksiatan. Kemudian mereka menanyakan hal tersebut sehingga turunlah ayat ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pendapat al-Khaththabi ini perlu ditinjau ulang. Yang tampak bagi saya, mereka (para sahabat) memahami kata ‘zhulm’ dengan makna yang umum, baik syirik maupun yang lainnya (kemaksiatan). Sebab, kata ‘zhulm’ berbentuk nakirah (tidak tertentu) dalam konteks nafi (kalimat peniadaan, sehingga bermakna umum). Akan tetapi, makna yang umum di sini ditinjau dari sisi zahirnya.

Ternyata, (keumuman makna yang) dipahami sebatas yang tampak dari ayat (mencakup syirik dan kemaksiatan) bukan itu yang dikehendaki dalam ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata tersebut tergolong dalam bab ‘sesuatu yang umum, namun dimaksudkan untuk hal yang khusus’. Dengan demikian, maksud kezaliman di sini ialah jenis yang tertinggi darinya, yaitu syirik.” (Fathul Bari, 1/109—111)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ

Tidak mencampuradukkan.”

Maknanya adalah لَمْ يَخْلِطُوا  , yaitu tidak mencampurkan.

Muhammad bin Ismail at-Taimi berkata, “(Ada kemungkinan maknanya) ialah mencampurkan antara keimanan dan kesyirikan, meskipun ini makna yang tidak bisa dibayangkan. Yang dimaksud ialah tidak terkumpul pada mereka dua sifat, yakni kekufuran setelah keimanan; tidak akan terjadi kemurtadan. Bisa jadi pula, maknanya ialah mereka tidak mengumpulkan antara keimanan dan kekufuran secara lahir dan batin, yaitu tidak terdapat kemunafikan.”

بِظُلۡمٍ

Dengan kezaliman.”

Maknanya adalah ‘dengan syirik’. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Pada riwayat yang lain, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzalimi dirinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Maknanya) bukan seperti yang kalian katakan. Makna ayat ‘mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman’, ialah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan Luqman?”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat, “Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Penafsiran ini juga diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Ubay bin Ka’b, Salman, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Amr bin Syarahbil, Abu Abdurrahman as-Sulami, Mujahid, ‘Ikrimah, an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan selain mereka. (Fathul Bari, 1/111; Ibnu Katsir, 2/145)

 

Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.

 

Kandungan Ayat

Seperti yang terdapat dalam riwayat di atas, ketika ayat itu turun, para sahabat radhiallahu ‘anhum merasa berat.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Yang menyebabkan mereka merasa berat adalah sangkaan mereka bahwa kezaliman yang harus ditiadakan adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya. (Maknanya,) tidak ada yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk kecuali orang yang sama sekali tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa makna (yang benar) ialah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kitabullah, yaitu syirik merupakan kezaliman. Barang siapa tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezaliman (yakni syirik), ia termasuk golongan yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang pilihan, seperti firman Allah,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٣٢

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan ada di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu sudah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat lain yang menerangkan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat dari kezaliman dirinya sendiri—yakni berbuat dosa—akan dihukum. Firman Allah,

(فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ (٧)  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُ  (٨

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,  niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.(az-Zalzalah: 7—8)

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kejelekan?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Bakr, bukankah kamu pernah ditimpa letih (sakit), sedih, dan cobaan? Dengan itulah kalian mendapatkan balasan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, seorang mukmin yang jika meninggal masuk ke dalam jannah (surga), terkadang kejelekannya dibalas sewaktu di dunia dengan ditimpa berbagai musibah. Barang siapa selamat dari tiga jenis kezaliman: syirik, menzalimi orang, dan menzalimi diri sendiri selain kesyirikan, ia akan mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Barang siapa tidak selamat dari berbuat kezaliman, ia akan mendapatkan jaminan dan petunjuk yang tidak sempurna. Maknanya, ia pasti akan masuk ke dalam jannah, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat lain. Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah kepada jalan yang lurus, yang kesudahannya berakhir masuk ke jannah. Akan tetapi, jaminan keamanan dan petunjuk yang didapatnya tidak sempurna, sesuai dengan kadar berkurangnya keimanannya akibat kezaliman yang dia lakukan.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menafsirkan makna kezaliman) dengan syirik tidaklah bermakna bahwa siapa yang tidak melakukan syirik akbar lantas mendapat jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna. Sebab, sekian banyak hadits dan dalil yang ada dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa para pelaku dosa besar (muslim yang tidak berbuat syirik) akan menghadapi keadaan yang menakutkan (mencemaskan). Mereka tidak mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Dengan sebab keduanya (jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna), seseorang mendapatkan petunjuk menuju ash-shirath al-mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ‘azza wa jalla anugerahkan nikmat kepada mereka, tanpa harus mengalami proses azab terlebih dahulu.

Namun, pada diri mereka (yang melakukan kezaliman selain syirik akbar) ada pokok hidayah dan pokok kenikmatan sehingga mereka akan dimasukkan ke dalam jannah.

Jadi, jika makna syirik dalam pembahasan ini diartikan dengan syirik besar, maksudnya adalah orang yang tidak berbuat syirik (besar) akan aman dari ancaman yang ditimpakan kepada kaum musyrikin, yaitu azab di dunia dan di akhirat.

Adapun jika yang dimaksud syirik di sini adalah jenisnya (semua jenis syirik), maknanya adalah seseorang menzalimi diri sendiri. Contohnya, kekikiran karena cinta harta akan mendorong seseorang membenci hal yang wajib (semisal menunaikan zakat, -ed.), ini tergolong dalam syirik ashghar. Seseorang mencintai sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla benci sehingga hawa nafsu lebih dia kedepankan daripada cintanya kepada Allah, ini syirik ashghar, dan yang semisalnya.

Orang yang semacam ini akan kehilangan jaminan keamanan dan hidayah sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Oleh karena itu, dari tinjauan dan sisi inilah para ulama salaf memasukkan perbuatan dosa sebagai bentuk syirik.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “(Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum atas tafsir ayat di atas) merupakan jawaban yang menenteramkan dan melegakan. Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.” (Fathul Majid, hlm. 48—50)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, hadits yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini mengandung beberapa faidah sebagai berikut:

  1. Suatu kalimat dimaknai umum hingga datang dalil yang mengkhususkannya.
  2. Bentuk kalimat nakirah dalam konteks nafi, mengandung makna umum.
  3. Pengkhususan menerangkan hal yang umum, dan yang rinci menerangkan hal yang global.
  4. Sebuah lafadz (kata) dapat dibawa kepada makna yang berbeda dengan makna yang tampak secara zahir, untuk sebuah kemaslahatan dalam rangka menolak pendapat yang bertentangan (keliru).
  5. Kezaliman itu bertingkat-tingkat, terjadi perbedaan (antara satu dan yang lain).
  6. Kemaksiatan tidak disebut sebagai kesyirikan.
  7. Seorang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun mendapat jaminan keamanan dan mendapat petunjuk.

Jika muncul pertanyaan, seorang pelaku dosa kadang harus diazab, jaminan keamanan dan petunjuk apakan yang diperoleh? Jawabannya adalah dia akan mendapatkan jaminan untuk tidak kekal di dalam api neraka. Dia akan masuk ke dalam jannah. (Fathul Bari, 1/111)

Wallahu a’lam. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Kitab-kitab Tafsir Ahlussunnah dan Keistimewaannya

Dari uraian sebelumnya, jelas bagi kita bahwa secara umum, manhaj tafsir al-Qur’an terbagi dua; tafsir bil ma’tsur dan tafsir bir ra’yi (dirayah, ijtihad). Kedua manhaj tafsir ini mempunyai tokoh dengan kitab tafsir mereka masing-masing. Akan tetapi, yang akan dikemukakan di sini hanya tafsir yang disusun oleh ulama ahlis sunnah yang dikenal keilmuan dan ketakwaan mereka serta keteguhan mereka dalam mengamalkan ilmu yang mereka miliki.

Adapun kitab tafsir di luar ahlis sunnah, baik yang dibuat para pengikut hawa nafsu maupun kebid’ahan, tidak dipaparkan di sini. Sebab, ahli bid’ah dan para pengikut hawa nafsu tidak ada tujuan mereka selain menyelewengkan makna ayat dari yang haq untuk membela keyakinan mereka yang rusak.

Telah pula dijelaskan bahwa yang menjadi patokan benar tidaknya tafsir yang ada adalah sesuai atau tidaknya tafsir tersebut dengan manhaj salafus saleh g. Sebab, salaf kita yang saleh, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling tahu, sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kandungan al-Qur’an dan paling semangat mengamalkannya. Wallahu a’lam.

 al-quran

Kitab-kitab Tafsir Ahlis Sunnah

  1. Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, yang diberi judul Jami’ul Bayan fi Tafsiril Quran.

Tafsir ini ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari yang lahir tahun 224 H di Thabristan.

Beliau adalah salah seorang imam kaum muslimin yang dijadikan rujukan karena keilmuannya. Dalam bidang tafsir, beliau dikatakan sebagai Bapak Tafsir al-Qur’an, demikian pula di bidang sejarah (tarikh).

Tafsir Ibnu Jarir adalah tafsir yang paling kokoh dan terkenal, bahkan menjadi rujukan pertama bagi mufasir yang menekuni tafsir bir riwayah. Namun, pada saat yang sama, tafsir ini juga merupakan rujukan bagi tafsir ‘aqli karena adanya upaya ijtihad di dalamnya.

Para ulama sepakat menilai tinggi kedudukan tafsir Ibnu Jarir ini.

As-Suyuthi menyebutkan bahwa Kitab Tafsir ath-Thabari adalah kitab tafsir yang paling besar dan paling utama. Sebab, Ibnu Jarir memberikan arahan bagi setiap pendapat, melakukan pentarjihan, menerangkan segi-segi i’rab (kedudukan kata dalam tata bahasa Arab), dan melakukan istinbath (pengambilan hukum dari dalil).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa umat ini sepakat bahwa belum ada yang menyusun tafsir sehebat Tafsir ath-Thabari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memuji, “Adapun kitab tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling sahih adalah Tafsir ath-Thabari. Beliau menyebutkan pendapat para salaf dengan sanad yang jelas dan tidak ada kebid’ahan di dalamnya; serta tidak menukil dari orangorang yang tertuduh seperti Muqatil bin Sulaiman dan al-Kalbi.”

Manhaj yang diikuti Ibnu Jarir dalam tafsirnya ialah, jika hendak menafsirkan ayat, beliau menyebutkan, “Pendapat mengenai takwil firman Allah ‘azza wa jalla ini adalah demikian dan demikian.”

Kemudian, beliau menafsirkan ayat itu dengan berpegang pada pendapat sahabat dan tabi’in dengan sanadnya. Beliau memaparkan sejumlah riwayat mengenai ayat yang dibahas, sekaligus membandingkannya satu sama lain dan mentarjih salah satunya.

Tidak jarang pula beliau mengoreksi beberapa sanad dari periwayatan tersebut. Rawi yang dipandang tsiqah, beliau nyatakan tsiqah, yang dha’if, beliau tolak riwayatnya.

Meskipun dalam tafsir ini tercantum juga berita Israiliyat, beliau sering menyusulkan pembahasan dan kritikan.

Dalam masalah akidah, beliau menyanggah pendapat ahli kalam dan menguatkan mazhab ahlis sunnah wal jama’ah.

Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir al-Qurthubi

Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang imam yang menguasai berbagai disiplin ilmu.

Dikenal dengan Jami’ Ahkamil Quran. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab ini jauh lebih baik dari Tafsir az-Zamakhsyari, lebih dekat kepada jalan ahlil kitab was sunnah serta lebih jauh dari kebid’ahan.

Tafsir beliau boleh dikatakan sebagai sebuah ensiklopedi dengan berbagai disiplin ilmu di dalamnya.

Di antara keistimewaannya ialah tafsir dengan pembahasan fikih yang sangat luas, menyandarkan hadits kepada yang mengeluarkannya.

Di dalam tafsir ini, beliau sedikit menukil kisah Israiliyat dan hadits palsu tanpa mengomentarinya.

Akan tetapi, ketika riwayat seperti ini menodai kesucian malaikat dan kemaksuman seorang nabi, beliau menyanggahnya dan menyatakan kebatilannya atau kelemahan riwayat tersebut. Sebagaimana yang beliau terangkan tentang kisah Harut dan Marut.

Meskipun judul kitab beliau menitikberatkan pembahasan fikih, beliau juga menafsirkan al-Qur’an secara menyeluruh. Beliau menerangkan kata yang asing (gharib) dan menjelaskan macam-macam qira’at dan i’rab. Beliau juga mengutip pendapat ulama terdahulu yang tsiqah, khususnya para penulis kitab tentang hukum.

Dalam masalah akidah dan manhaj, beliau juga menyerang pemikiran Mu’tazilah, Qadariyah, Rafidhah, ahli filsafat, dan kaum tarekat sufiyah yang keterlaluan (melampaui batas). Akan tetapi, semua itu beliau tulis dengan bahasa yang halus, walaupun bernada kritik terhadap tokoh tertentu.

Di antara kekurangannya ialah menukil riwayat Israiliyat tanpa mengomentarinya, kemudian menukil dari beberapa sumber lain tanpa menyebutkan namanya.

Demikian pula riwayat yang lemah dan palsu, masih mengisi halaman kitab besar ini.

 

  1. Tafsir Ibnu Katsir

Beliau adalah ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir. Seorang hafizh dan imam kaum muslimin. Belajar dari Ibnu Taimiyah dan banyak mengadopsi pemikirannya.

Para ulama mengakui keluasan ilmu beliau baik dalam hadits, sejarah dan tafsir.

Kitab beliau al-Bidayah wan Nihayah adalah rujukan utama tentang sejarah Islam. Kitab tafsirnya, Tafsirul Quranil ‘Azhim adalah tafsir yang paling terkenal dari sejumlah kitab tafsir bil ma’tsur yang menjadi rujukan. Sebab, Ibnu Katsir sangat menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti tentang sunnah, sejarah orang-orang terdahulu dan yang kemudian.

Dalam tafsirnya ini, beliau selalu mencantumkan hadits yang marfu’, mengemukakan perkataan salafussaleh, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in dan imam-imam sesudah mereka yang mumpuni dalam bidang tafsir.

Di antara keistimewaannya ialah beliau sering memperingatkan akan riwayat Israiliyat yang munkar yang ada dalam sejumlah kitab tafsir bil ma’tsur. Kadang beliau juga mendiskusikan beberapa pendapat mazhab fikih dengan dalil masing-masing mazhab.

Di samping menyandarkan pendapat tentang tafsir yang beliau pilih kepada yang mengucapkannya, beliau juga melakukan kritik terhadap rawi yang menyampaikan. Karena itu, beliau menyatakan sahih yang beliau anggap kuat dan melemahkan yang cacat.

Termasuk keistimewaannya yang menonjol ialah perhatiannya terhadap apa yang dikenal sebagai tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an. Selain itu, beliau menjauhi pembahasan tentang i’rab dan ilmu lain yang tidak begitu diperlukan dalam menafsirkan al-Qur’an.

 

  1. Tafsir asy-Syinqithi

Yang dikenal dengan Adhwaul Bayan fi Idhahil Quran bil Qur’an. Penulisnya adalah asy-Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi.

Dia menguasai ilmu-ilmu alat yang diperlukan seorang mufasir, seorang ahli usul fikih dari kalangan mazhab Maliki. Akan tetapi, beliau tidak terbelenggu oleh taklid buta.

Tafsir ini adalah kitab tafsir yang cukup lengkap, tidak hanya membahas tentang tafsir ayat al-Qur’an semata, tetapi juga sejumlah ilmu syariat lainnya, seperti ilmu usul fikih, hadits, akidah, bahasa Arab, dan balaghah.

Keistimewaannya, beliau menerangkan metode istinbath hukum fikih melalui suatu ayat kemudian menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Beliau kemukakan dalil mereka dan mendiskusikannya lalu merajihkan pendapat yang paling kuat dalilnya tanpa fanatik terhadap mazhab tertentu.

Inilah yang beliau terangkan dalam mukadimah kitab beliau Adhwaul Bayan, yaitu memaparkan hukum yang terkait dengan ayat tertentu berikut dalilnya dari as-Sunnah dan pendapat para ulama. Kemudian merajihkan mana yang menurut beliau paling kuat dalilnya.

Hampir tidak ada satu pun ayat yang dilewati beliau kecuali beliau keluarkan dari ayat tersebut sebagian hukum fikihnya yang bermacam-macam.

Misalnya, dari firman Allah ‘azza wa jalla, Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah: 30)

Beliau mengeluarkan imamah dan hukumnya.

Ketika mendiskusikan beberapa masalah fikih, beliau sebutkan pendapatnya dan menerangkan apa yang beliau pilih dengan menyebut, “Yang tampak menurut saya adalah….” atau, “Inilah yang tampak, yang tidak boleh beralih kepada yang lain….” atau, “Yang benar dalam masalah ini ialah….” dsb.

Kitab ini tidak termasuk kitab tafsir bir ra’yi, tetapi merupakan istinbath dari al-Qur’an dengan berpegang pada kitab ulama terdahulu dan merajihkan yang beliau pandang kuat.

Hampir sebagian besar beliau mengambilnya dari tafsir al-Qurthubi.

Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir as-Sa’di

Beliau adalah asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr Alu Sa’di, ulama dari ‘Unaizah.

Tafsir beliau yang berjudul Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalimil Mannan adalah kitab tafsir yang ringkas.

Meskipun kecil, kitab ini mencakup sebagian pembahasan yang pernah diterangkan ulama dalam tafsir mereka. Kitab ini sesuai dengan judulnya, ringkas dan mudah. Beliau memaparkannya dengan bahasa yang memikat dan jelas yang mencakup semua yang dimaksud oleh ayat yang sedang ditafsirkan baik makna maupun hukum, melalui teks (manthuq) maupun hal-hal yang tersirat (mafhum), tanpa memperluas atau istithrad (membakukan), menyebutkan kisah dan dongeng Israiliyat, serta hikayat sebuah perkataan, sehingga keluar dari tujuan sebenarnya.

Dalam tafsir ini, beliau hanya memfokuskan diri pada makna yang dimaksud oleh suatu ayat dengan ungkapan yang mudah dipahami oleh semua yang membacanya bagaimanapun status keilmuannya.

Beliau lebih memerhatikan pemantapan akidah salaf, mengarahkan kepada Allah ‘azza wa jalla, memetik kesimpulan hukum syar’i, kaidah usul fikih, faedah fikih dan faedah lainnya, yang tidak ditemukan pada tafsir lainnya. Di samping itu, beliau juga memerhatikan penafsiran ayat sifat sesuai dengan tuntutan akidah salaf, berbeda dengan penakwilan sebagian ahli tafsir.

Jauh dari keterangan yang bertele-tele dan panjang lebar yang tidak ada faedahnya, serta membuang-buang waktu dan mengeruhkan pikiran.

Menjauhi pemaparan tentang perselisihan kecuali yang sangat kuat dan perlu disebutkan. Keistimewaan ini penting bagi pembaca sehingga kokoh pemahamannya terhadap sesuatu.

Berjalan di atas manhaj salaf dalam ayat-ayat sifat, tanpa tahrif (menyelewengkan makna) dan takwil yang menyelisihi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya, dan ini adalah pilar dalam membina akidah.

Tajamnya penarikan faedah, hukum, hikmah yang ditunjukkan oleh suatu ayat. Hal ini terlihat jelas dalam sebagian ayat, seperti ayat tentang wudhu pada surat al-Maidah, dengan menguraikan lima puluh hikmah, juga sebagaimana dalam kisah Nabi Dawud ‘alaihissalam dan Sulaiman pada surat Shad.

Kitab ini adalah kitab tafsir dan tarbiyah (pendidikan, pembinaan) akhlak yang mulia, sebagaimana terlihat ketika beliau menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat al-A’raf ayat 199,

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Masih banyak tafsir lainnya yang menjadi rujukan kaum muslimin.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar

Madzhab Tafsir dan Konsekuensinya

Setelah berakhirnya masa sahabat dan kemenangan kaum muslimin dalam membebaskan beberapa kota besar di sekitar Jazirah Arab, datanglah murid-murid mereka yang mengambil ilmu tentang Kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mereka. Masing-masing tingkatan tabi’in itu mempelajari ilmu dari sahabat yang ada di tengah-tengah mereka.

Akhirnya, muncul beberapa madrasah tafsir sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ketiga madrasah tersebut (Makkah, Madinah, dan Irak) mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan tafsir, khususnya tafsir bil ma’tsur. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Adapun tafsir, maka yang paling tahu adalah penduduk Makkah, karena mereka adalah murid-murid Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.”

Pada akhir dinasti Umayyah, awal munculnya dinasti ‘Abbasiyah, tafsir masih dalam bentuk riwayat (bil ma’tsur). Baru pada pertengahan masa ‘Abbasiyah, setelah berkembangnya mazhab fikih, akidah, dan spesialisasi keilmuan, muncul berbagai penafsiran dengan ra’yu.

Sebagian mereka berusaha menarik makna ayat untuk mendukung mazhab yang dianutnya, baik dalam masalah akidah maupun fikih.

Alhasil, setiap kelompok menafsirkan al-Qur’anul Karim dengan penafsiran yang berbeda satu sama lain. Tidak jarang penafsiran itu tidak diterima oleh kelompok lainnya yang berbeda mazhab dan akidah.

Semua itu adalah sebuah keniscayaan dalam menafsirkan al-Qur’an. Ketika seorang mufasir menggunakan manhaj yang berbeda dengan mufasir lain, maka akan melahirkan tafsir yang berbeda pula. Sebagai contoh, menafsirkan al-Qur’an dengan pendekatan filsafat akan lahir produk yang bercorak filosofis. Demikian juga ketika upaya penafsiran terhadap ayat al-Qur’an tersebut menggunakan pendekatan fikih atau sufistik, maka akan menghasilkan tafsir fikih dan sufistik.

Wallahu a’lam.

 quran

Sebab Kesalahan dan Contohnya

Kita tidak meragukan bahwa semua yang terkait dengan tafsir telah cukup lengkap dipaparkan oleh ulama kaum muslimin pada masa awal pembukuan berbagai khazanah ilmu Islam. Jasa mereka cukup besar, hingga patut dihargai, karena orang yang datang sesudah mereka tidak perlu menempuh kesulitan yang berarti untuk meneliti dan menyingkap makna al-Qur’anul Karim.

Meskipun besar jasa dan pengorbanan serta khidmat mereka terhadap Kitab Allah, kita tetap yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati al-Imam Malik yang pernah menyebutkan, “Semua orang bisa diterima dan ditolak perkataannya, kecuali pemilik kubur ini (beliau menunjuk ke arah kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Sebab itu, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’shum, bisa diterima perkataan mereka jika sesuai dengan yang haq dan ditolak apabila bertentangan dengan yang haq. Asas dan kaidah ilmu pengetahuan seperti akar atau fondasi bagi bangunan ilmu yang berdiri di atasnya. Berpegang kepada kaidah dan asas ini akan menguatkan ilmu tersebut dan mengembangkannya secara baku sehingga jelas perbedaan mana yang benar dari yang salah.

Secara ringkas, salah adalah lawan dari benar, atau menyelisihi manhaj yang selamat dan jalan yang lurus, atau menyelisihi hakikat yang sesungguhnya.

Sebuah kesalahan bisa karena sengaja, bisa pula tidak; apakah karena lupa, ataupun tidak mengetahui. Akan tetapi, yang paling baik adalah mereka yang menyadari kesalahannya lalu bertaubat dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Dari hasil penelitian, munculnya kesalahan banyak terjadi pada tafsir bir ra’yi yang menyimpang dari manhaj salafussaleh dalam menafsirkan al-Qur’anul Karim. Kesalahan tersebut adalah karena mereka menafsirkan nash al-Qur’anul Karim dengan penalaran (logika) semata dan hawa nafsu tanpa bersandar kepada pokok dan syarat yang wajib dipenuhi oleh seorang mufasir.

Akhirnya, penafsiran dan penakwilan mereka terhadap ayat al-Qur’an berlawanan dengan hakikat risalah al-Qur’an, tidak sesuai dengan petunjuk (hidayah)-nya, tidak pula mencapai tujuannya yang mulia, dan tidak sesuai pula dengan tujuan utama diturunkannya kitab yang mulia ini.

Tidak ada satu pun kelompok bid’ah dan pengikut hawa nafsu kecuali melakukan kesalahan dengan membawakan ayat al-Qur’an kepada makna yang mendukung kesesatan mereka dan membela mazhab mereka. Fakta paling jelas adalah tafsir mereka yang tersebar dan disusun berdasarkan keyakinan yang palsu dan mazhab yang menyimpang.

Tidak pula satu pun di antara mereka yang menjadikan nash al-Qur’an sebagai pendukung kesesatan mereka, kecuali di dalam al-Qur’an pula terdapat bantahannya.

Tentang mereka ini, Syaikhul Islam mengatakan, “Mereka menggunakan istilah al-Qur’an dan as-Sunnah, lantas memberinya makna yang sesuai dengan keyakinan mereka. Kemudian mereka berdialog dengan istilah tersebut dan menjadikan apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya sejenis dengan kehendak mereka.”[1]

Mereka menuntut ilmu agama tetapi tidak melalui jalannya yang benar. Sebab, mereka kembali bersandar kepada akal dan pikiran serta penalaran mereka. Apabila mendengar sebagian ayat atau hadits, mereka membenturkannya dengan penilaian akal mereka. Jika sesuai dan menguatkan mereka, tentu mereka menerimanya, kalau tidak sesuai dengan akal mereka, ayat atau hadits itu mereka tolak. Seandainya harus mereka terima juga (hadits atau ayat), mereka akan berusaha menakwilkannya dengan penakwilan yang jauh dan makna yang tidak disukai. Akhirnya mereka menyimpang dari al-haq, menyeleweng, dan membuang yang haq itu ke belakang punggung mereka; serta menempatkan sunnah di bawah tapak kaki mereka.[2]

Intinya, golongan seperti mereka ini lebih dahulu mempunyai sebuah keyakinan atau ideologi. Kemudian mereka membawa lafadz al-Qur’an kepada keyakinan itu, dalam keadaan tidak ada yang mendahului mereka (yang mereka ikuti) sebelum itu di kalangan salaf, baik sahabat, tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, maupun para imam kaum muslimin….[3]

Ada beberapa sebab yang memicu terjadinya kesalahan dalam menafsirkan.Secara ringkas, sebagai berikut.

 

  1. Melakukan ijtihad padahal ada nash yang menafsirkan ayat yang dibahas

Seperti ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa semua makna yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’anul Karim) dan as-Sunnah adalah batil dan hujah yang mentah.[4]

Sebagai contoh, mereka yang mengingkari ru’yah (melihat Allah ‘azza wa jalla) yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Tambahan ini adalah ru’yah (melihat Wajah Allah ‘azza wa jalla). Inilah prinsip akidah yang diyakini oleh salafus saleh (sahabat dan tabi’in).[5]

Adapun al-Jubbai, pimpinan Mu’tazilah, menafsirkannya sebagai tambahan pahala.

 

  1. Berpegang kepada hadits lemah dan palsu

Telah dijelaskan bahwa jalan kedua dalam menafsirkan al-Qur’an adalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah dengan hadits-hadits yang maqbul (hasan dan sahih). Artinya, mufasir hendaknya memastikan atau menguatkan dugaan bahwa tafsir tersebut memang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang jelas, al-Qur’anul Karim tidak memerlukan kedustaan dan hal yang dibuat-buat untuk menerangkan keutamaannya, apalagi penjelasan maknanya. Sebagai contoh di sini ialah tafsir firman Allah ‘azza wa jalla,

Dialah (Allah) yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-A’raf: 189-190)

Yang dimaksud adalah Adam dan Hawa.[6]

Al-Imam at-Tirmidzi yang meriwayatkannya menyebutkan bahwa hadits hasan gharib (3077). Asy-Syaikh al-Albani menyatakannya lemah (Shahih Dha’if Sunan at-Tirmidzi).

 

  1. Bersandar kepada kisah Israiliyat

Telah dijelaskan pengertian Israiliyat dan pembagiannya. Sebagai contoh ialah ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla surat al-Maidah ayat 21—22, sebagian ahli tafsir mengisahkan pertemuan beberapa utusan Nabi Musa q dengan orang-orang Jabbarin yang ada di negeri yang diperintahkan untuk dimasuki Bani Israil. Ternyata tinggi orang-orang tersebut lebih dari tiga ribu hasta.[7]

 

  1. Berpedoman kepada prasangka dan cerita hikayat

Kisah al-‘Utbi tentang istighatsah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tawasul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinukil oleh al-Qurthubi, an-Nasafi, dan Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsir mereka tentang firman Allah ‘azza wa jalla surat an-Nisa’ ayat 64.

Sanad kisah ini tidak sahih, matannya menyelisihi riwayat yang sahih yang menunjukkan kepada tawasul yang terlarang.

 

  1. Hanya bertumpu kepada bahasa dan meninggalkan atsar yang sahih

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul dalam Syarah Muqaddimah fi Ushulit Tafsir menyebutkan bahwa tidak semua yang berlaku secara bahasa, boleh untuk dijadikan tafsir.

Berpegang dengan atsar salaf yang saleh dalam tafsir adalah perkara yang jelas dan tidak terbantah, karena hal yang telah dijelaskan. Sebagai contoh, penafsiran terhadap firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat Ali ‘Imran ayat 39,

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

bahwa kalimat dari Allah ‘azza wa jalla ini adalah Kitab Allah, karena hanya berpegang kepada bahasa, tidak melihat susunan dan sebab turunnya ayat. Sebab itu, para ulama menyebutkan bahwa menguasai bahasa Arab saja tidak cukup untuk menjadi bekal dalam menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla.

 

  1. Bertumpu pada simbol atau kiasan (majaz) dan tamsil

Para ulama berbeda pendapat ada tidaknya majaz (kiasan) dalam al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah. Syaikhul Islam merajihkan tidak adanya majaz dalam bahasa al-Qur’an secara mutlak.

Mereka yang berpegang dengan majaz ini menjadikannya jalan untuk membelokkan makna ayat tentang sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla ketika mereka tidak mampu untuk mengingkarinya.

 

  1. Bersandar kepada ilmu kalam dan filsafat

Seperti Ibnu Sina yang menafsirkan ‘Arsy sebagai falak yang sembilan sedangkan malaikat yang memikulnya adalah falak yang delapan.[8]

Atau, tafsir mereka tentang malaikat sebagai kekuatan kebaikan dalam diri seseorang, sedangkan setan adalah kekuatan dorongan kejelekan dalam dirinya.

 

  1. Bersandar hanya kepada logika dan mendahulukannya dari atsar yang sahih

Seperti yang dilakukan orang-orang yang menolak tafsir al-Qur’anul Karim dengan hadits yang sahih. Ketika mereka tidak mampu menolaknya, mereka menakwilkannya.

Misalnya, mereka yang membatasi makanan yang diharamkan hanya empat yang disebutkan dalam al-Qur’an. Sebetulnya, selain berpegang dengan akal, mereka mengacu pada pengertian lahiriah bahasa. Tidak melihat dalil lain yang menerangkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang tidak hanya menafsirkan makna ayat al-Qur’an, tetapi juga menetapkan hukum yang tidak ada di dalam al-Qur’an. Dan itu semua adalah ketetapan dan izin dari Allah ‘azza wa jalla.

Prinsip mereka, apabil akal bertentangan dengan wahyu, dahulukan akal daripada wahyu. Wallahul Musta’an. Lihat pembahasan yang telah lewat tentang manhaj tafsir yang benar.

 

  1. Mengambil tafsir dari ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu

Semua yang menyelisihi petunjuk Allah ‘azza wa jalla, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jalan orang yang beriman (yang pertama adalah para sahabat radhiallahu ‘anhum –red.) adalah ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Pengertian ini tidak hanya mencakup ahli bid’ah seperti Syi’ah, Khawarij, atau sufi, tetapi juga orang yang berjalan di atas pemahaman sekuler, liberalis, sosialis komunis, dsb. Wallahu a’lam.

Selain itu, termasuk salah satu bentuk kesalahan tafsir adalah adanya pendapat yang syadz (nyeleneh) di dalam menafsirkan al-Qur’an. Ibnu Hazm mendefinisikan syadz ini sebagai sebuah pendapat yang menyelisihi al-haq. Semua yang bertentangan dengan hal yang sudah benar dalam satu masalah, dikatakan syadz. Karena tidak mungkin al-haq itu disebut syadz, maka yang ada hanya al-haq dan yang batil, sehingga sah dikatakan bahwa syadz itu batil.[9]

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar


[1] Bughyatul Murtad, hlm. 235 dalam Asbabul Khatha’ fit Tafsir (1/17)

[2] Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah (2/492) dalam Asbabul Khatha’ fit Tafsir (1/17)

[3] Syarah Muqaddimah fi Ushulit Tafsir, hlm. 184

[4] Asbabul Khatha’, hlm. 96

[5] Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah al-Lalikai (2/455) dalam Asbabul Khatha’, hlm. 96

[6] Asbabul Khatha’, hlm. 143

[7] Lihat Tafsir ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baghawi

[8] Risalah Ibnu Sina dalam Asbabul Khatha’, hlm. 276

[9] Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam

Menyikapi Riwayat Israiliyat

Sejak zaman Ibnu Jarir sampai masa belakangan ini, hampir tidak pernah sepi buku-buku tafsir dari penukilan riwayat Israiliyat. Meskipun berbeda-beda dalam hal banyak dan sedikitnya, atau tujuan menukilkannya.

Ada yang mencantumkannya begitu saja tanpa memberikan komentar, seakan menyutujui kisah yang dipaparkan dalam riwayat tersebut. Ada pula yang memberikan komentar bahkan kritikan, dan ada yang mencantumkannya sebagai pembanding.

Apakah Israiliyat itu? Bagaimana para ahli tafsir menyikapinya?

Ada yang menyebutkan bahwa Israiliyat adalah kisah atau peristiwa yang diriwayatkan dari sumber Bani Israil, mencakup periwayatan dari Yahudi dan Nasrani.

Al-Qur’an memaparkan kisah-kisah umat terdahulu, baik mereka yang bertauhid dan menjalankan konsekuensinya berupa amalan atau ketaatan, maupun mereka yang musyrik dengan hukuman yang mereka terima. Dalam mengisahkan keadaan mereka, yang menonjol tentu saja nasihat dan peringatan yang berharga bagi orangorang yang datang sesudah umat-umat tersebut.

Tidak dimungkiri bahwa jiwa kita sering cenderung ingin mengetahui sesuatu lebih lengkap. Oleh sebab itu, ada sebagian kaum muslimin yang bertanya tentang rincian ihwal umat-umat terdahulu kepada saudaranya yang sebelumnya berasal dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani), yang mungkin dipaparkan lebih lengkap dalam Taurat dan Injil.

Namun, belum tentu mufasir yang memasukkan berita Israiliyat ke dalam tulisan mereka menjadikannya sumber pemahaman, arahan, dan pedoman hukum. Alasan mereka umumnya adalah untuk menutupi celah sejarah yang diyakini kaum muslimin bahwa itu pernah ada, sedangkan al-Qur’an dan sunnah, tidak menguraikan secara rinci sejarah awal penciptaan alam semesta dan berita umat-umat terdahulu. Al-Qur’an dan as-Sunnah menguraikan kejadian tersebut dengan sesuatu yang bisa merealisasikan tujuan hidayah dan penetapan syariat.

Jadi, ketika pada sebagian kaum muslimin ada keinginan mendapat tambahan untuk lebih dalam mengenal rincian kisah ini, mereka bertanya kepada ahli kitab dan mendengarkan berita mereka, yang mungkin saja ada yang sahih, tetapi kebanyakannya belum jelas statusnya atau palsu.

Akan tetapi, sebagian berita tersebut pada keadaan tertentu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama yang mulia ini, sehingga tidak merugikan kaum muslimin apakah mereka menerima kebenarannya ataukah sebaliknya (menolaknya red.), selama tidak bersentuhan dengan prinsip keyakinan dan hukum syariat.

Inilah yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang mengatakan, “Dahulu, ahli kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab kepada kaum muslimin. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَ تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ

“Janganlah kamu menganggap benar ahli kitab. Jangan pula menganggap mereka dusta. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu’.” [1]

 

Pengertian Israiliyat

Israiliyat adalah kisah atau peristiwa yang riwayatnya bersumber dari Bani Israil (anak cucu Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim al-Khalil ‘alaihissalam), meliputi semua yang dinukil dari Yahudi dan Nasrani.

Namun, perlu dipertegas lagi apakah yang dimaksud Israiliyat ini adalah riwayat yang bersumber dari mereka sendiri, ataukah berasal dari riwayat yang berbicara tentang mereka. Dengan kata lain, jika yang dimaksud adalah yang kedua, termasuk di dalamnya hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memaparkan kisah tentang Bani Israil.

Adapun penamaan riwayat yang dinukil dari ahli kitab sebagai Israiliyat adalah karena pada hukum asalnya bahwa orang-orang Nasrani adalah keturunan Israil (Nabi Ya’qub). Alasan kedua ialah memandang pada keadaan yang lebih dominan. Artinya, mayoritas berita yang ada pada umat terdahulu dinukil dari orang-orang Yahudi, keturunan Israil.

Ada juga yang berpendapat bahwa Israiliyat meliputi semua yang disisipkan dalam tafsir, khususnya hal-hal yang berlebihan, palsu, dusta, atau bersifat menakut-nakuti; meskipun tidak berasal dari Israiliyin atau tidak berkaitan dengan kisah Israili. Sebab, banyak di dalam tafsir hal yang bersifat khayal dan berlebihan, seperti perihal tokoh yang tidak ada dalam kitab-kitab ahli kitab, misalnya kisah Nabi Hud dan bangsa ‘Ad, Nabi Saleh dan Tsamud, Syu’aib, Luqman dsb.

Wallahu a’lam.

 

Pembagian Israiliyat

Berita Israiliyat terbagi menjadi beberapa bagian dalam beberapa kategori. Akan tetapi, adanya perubahan dan penyelewengan yang menimpa Taurat dan Injil, menyebabkan syariat ini melarang kitab-kitab tersebut dibaca. Oleh sebab itu, yang diperhatikan dalam kisah tersebut ialah sesuai atau tidaknya berita itu dengan syariat yang mulia ini.

Yang pertama adalah berita yang sesuai dengan syariat kita, yaitu berita yang kita ketahui kesahihannya melalui keterangan yang ada pada kita, maka berita Israiliyat itu sahih.

Yang kedua, yang kita ketahui kedustaannya, dengan apa yang ada pada kita, yang menyelisihinya.

Yang ketiga, berita yang tidak ada penegasan tentang kebenaran atau kedustaannya. Inilah yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, ketika ahli Kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani, lalu menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk orang-orang Islam,

لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ. قُولُوا: آمَنَّا بِا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ.

“Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka, ucapkanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kamu’.”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً ، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat. Ceritakanlah tentang Bani Israil, dan tidak apa-apa. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatilah tempat duduknya di neraka.”[3]

Jenis yang ketiga ini, seringnya berisi hal yang tidak ada faedahnya, seperti: nama pemuda yang tertidur di dalam gua, warna anjing yang menyertai mereka, burung yang dihidupkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk Nabi Ibrahim, serta penentuan bagian tubuh sapi yang mana yang dipukulkan kepada korban pembunuhan di tengah-tengah Bani Israil dahulu.

Karena itu, terhadap berita yang ketiga ini, kita tidak boleh mengakui kebenarannya, tidak pula boleh mendustakannya sama sekali. Sebab, bisa jadi, kita mengakui kebenarannya, ternyata hal itu adalah sebuah kebatilan, atau kita mendustakannya, ternyata itu adalah sebuah kebenaran.

Dengan demikian, yang ketiga inilah yang diizinkan meriwayatkannya, sebagaimana dalam hadits di atas. Akan tetapi, hadits di atas tidaklah menunjukkan bolehnya mengada-adakan dusta terhadap Bani Israil, tetapi sekadar sebuah keringanan (rukhshah) akan bolehnya menceritakan sesuatu tentang mereka, meskipun sanadnya tidak sahih, karena sulit melacaknya.[4]

Wallahu a’lam


tanda-tanya 

Sikap Para Ulama

  1. Pandangan Para Sahabat radhiallahu ‘anhum

Ada yang aneh pada sebagian kaum muslimin, apabila mereka melihat pendapat sahabat tentang satu kasus yang tidak ditemukannya dalam al-Qur’an ataupun sunnah, mereka menganggap bahwa sahabat tersebut menukilnya dari Bani Israil. Padahal, belum tentu demikian.

Yang harus kita yakini, bahwa para sahabat tidak mungkin menukil dari ahli kitab sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ada dalam syariat kita yang mulia ini. Inilah yang harus kita sepakati lebih dahulu. Ketakwaan, kejujuran, dan kecintaan mereka terhadap syariat ini adalah hal-hal yang sangat kuat menghalangi mereka untuk melakukannya.

Seandainya kita melihat ada juga yang menukil dari ahli kitab, itu berarti nukilan tersebut tidak bertentangan dengan syariat kita, atau bisa jadi termasuk dalam hal-hal yang disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدِّثُوا عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَج

“Ceritakanlah tentang Bani Israil, tidak ada salahnya.”

Artinya, tidak apa-apa kamu menyampaikan tentang Bani Israil. Oleh sebab itu, menolak keterangan dari sahabat dengan anggapan bahwa uraian tersebut dinukil dari ahli kitab, tidak sesuai dengan keilmuan dan keutamaan mereka, g.

Artinya, jika seorang sahabat menguraikannya sebagai tafsiran satu ayat, hal itu sangat besar kemungkinannya berasal dari ilmu yang mereka terima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Atau, berasal dari keterangan yang dikuatkan oleh dalil lain. Tidak mungkin mereka menafsirkan satu ayat, dalam keadaan memahami bahwa hal itu termasuk berita yang tidak bisa dibenarkan begitu saja, tidak pula dapat didustakan sama sekali.

Kata Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Hai kaum muslimin, bagaimana kamu bertanya kepada ahli kitab, sementara Kitab kamu yang diturunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah berita terbaru dari Allah ‘azza wa jalla, kamu membacanya dalam keadaan murni, tidak bercampur (dengan sesuatu apa pun). Allah ‘azza wa jalla telah menerangkan kepada kamu bahwa ahli kitab itu telah menukar apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan dan mengubah kitab mereka dengan tangan-tangan mereka lalu mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah ‘azza wa jalla,’ untuk menukarnya dengan harga yang sedikit. Bukankah ilmu yang datang kepada kamu melarang kamu menanyai mereka? Padahal, demi Allah, kami tidak pernah sama sekali melihat salah seorang dari mereka, bertanya kepadamu tentang apa yang diturunkan kepadamu.”[5]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyebutkan, “Dahulu, ahli kitab biasa membacakan Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkannya dengan bahasa Arab untuk kaum muslimin, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kamu membenarkan ahli kitab, jangan pula mendustakan mereka, dan katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan-Nya kepada kami’.”

Menurut asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi al-Yamani rahimahullah, yang dilarang dalam hadits ini adalah sikap membenarkan yang didasari oleh baik sangka (husnuzhan) terhadap kitab mereka, dan (larangan) untuk mendustakannya tanpa hujah, sehingga jika tegak hujah yang benar, wajib mengikutinya.[6]

Di antara hal yang dituduhkan kepada sebagian sahabat bahwa mereka menukil dari ahli kitab adalah perkataan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Al-Qur’anul Karim dipisahkan dari Lauh Mahfuzh dan diturunkan ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama 23 tahun.”[7]

Sebagian ulama yang datang belakangan mengklaim bahwa ucapan ini berasal dari dongeng Israiliyat dan diadopsi oleh Ibnu ‘Abbas dari mereka. Bahkan, di dalam berita itu sendiri ada hal-hal yang menegaskan bahwa hal itu tidak benar, seperti: ketegasan Ibnu ‘Abbas dalam menguraikannya, tidak ada kaitannya dengan Taurat dan Injil, karena beliau berbicara tentang al-Qur’an, beliau menerangkan tentang turunnya al-Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada yang menyelisihi Ibnu ‘Abbas dalam masalah ini di kalangan sahabat.

Inilah beberapa hal yang meskipun sanadnya mauquf sampai pada Ibnu ‘Abbas, tetapi dihukumi marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –red.).

Bahkan, Ibnu ‘Abbas sendiri melarang mengambil ilmu dari ahli kitab, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya. Sebab itu, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa uraian beliau ini termasuk berita Israiliyat?

Demikian pula ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma. Meskipun beliau memperoleh dua buah kantong besar berisi berita tentang ahli kitab, bahkan sering menyampaikannya. Akan tetapi, sangat mustahil bahwa sahabat sekelas beliau dalam menafsirkan satu ayat dengan mengacu kepada sebagian dari berita tersebut.

Oleh sebab itu, seharusnya seorang muslim memahami kedudukan para sahabat dalam agama ini. Ingatlah bahwa mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti tentang Islam, paling tinggi dan lurus pemahamannya, paling dalam dan besar cintanya terhadap Islam, paling takwa dan paling takut (khasyyah) kepada Allah ‘azza wa jalla daripada orang-orang yang datang sesudah mereka.

Wallahu a’lam.

 

  1. Pandangan Ahli Tafsir Selain Sahabat

Dari sisi sedikitnya penukilan riwayat Israiliyat, sebagian ulama meletakkan tafsir Fathul Qadir al-Imam asy-Syaukani pada tempat yang lebih menonjol. Bahkan, menurut mereka hampir tidak ada riwayat ini, kecuali sedikit dan itu pun untuk dibantah secara ilmiah.

Sebagai contoh, kisah Harut dan Marut dalam surat al-Baqarah. Menurut asy-Syaukani, rincian kisah ini kembali kepada riwayat Israiliyat, karena tidak ada hadits yang sahih dan sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya. al-Qur’an memaparkannya secara global tanpa merinci kejadian dan sebabnya, maka kita beriman kepada apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla dan Dia Maha Mengetahui hakikatnya.

Beliau mengomentari pendapat Sa’id bin Jubair yang menerangkan alwah (lembaran yang diterima Nabi Musa ‘alaihissalam), “Menurut mereka berasal dari permata yaqut, sedangkan aku (Sa’id) berpendapat bahwa alwah ini dari zamrud dan tulisannya dari emas. Allah ‘azza wa jalla menuliskannya dengan Tangan-Nya dan penduduk langit mendengar goresan pena tersebut.”

Kata asy-Syaukani, “Saya berkata, ‘Semoga Allah merahmati Sa’id, dia tidak perlu mengatakan yang seperti ini dari dirinya. Sebab, hal semisal ini tidak mungkin diuraikan melalui akal semata. Besar dugaan bahwa banyak di antara salaf yang bertanya kepada orang Yahudi tentang hal seperti ini. Karena itulah pendapat mereka berbeda-beda dan goncang. Yang satu mengatakan dari kayu, sedangkan yang lain mengatakan berasal dari batu. Kita beriman akan adanya alwah ini sebagaimana disebutkan al-Qur’an tanpa menyusahkan diri membahas sesuatu yang tidak ada dalilnya. Wallahu a’lam’.”

Ringkasnya, pandangan asy-Syaukani terhadap Israiliyat adalah sebagai berikut.

  1. Beliau tidak menukil riwayat Israiliyat kecuali dalam jumlah yang sedikit.
  2. Beliau tidak membiarkan riwayat itu tanpa memberikan kritikan secara ilmiah.
  3. Beliau berpandangan riwayat ini sebagai sebab terjadinya kontradiksi dalam tafsir.
  4. Kisah yang aneh dari umat terdahulu dalam tafsir adalah berasal dari Bani Israil, bukan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Menurut beliau, keringanan (rukhshah) bolehnya meriwayatkan dari mereka adalah dalam kejadian-kejadian yang menimpa mereka, bukan yang terkait dengan tafsir. Pandangan ini disetujui oleh asy-Syaikh as-Sa’di dalam tafsirnya.
  6. Yang dinukil dari mereka sering bertentangan dan mengandung hal-hal yang umumnya tidak masuk akal.
  7. Tujuan sebagian orang yang memaparkan hal-hal yang bertentangan ini adalah untuk menumbuhkan keraguan dalam hati kaum muslimin dan mempermainkan mereka.
  8. Menguraikan rincian kisah-kisah itu termasuk tindakan menyusahkan atau memberat-beratkan diri.

Wallahu a’lam.

 

  1. Pandangan asy-Syaikh as-Sa’di terhadap kisah Israiliyat

Beliau termasuk yang sangat sedikit menukil kisah Israiliyat, bahkan hampir tidak ditemukan.

Asy-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz in ‘Uqail dalam pengantarnya untuk Tafsir as-Sa’di (Taisir Karimir Rahman) menyebutkan bahwa beliau (as-Sa’di) memaparkannya (tafsirnya) dengan bahasa yang indah, dekat, dan tidak tersembunyi atau samar. Jadi, as-Sa’di memerhatikan penjelasan makna yang dituju oleh suatu ayat dengan kalimat yang ringkas dan bernas, tetapi mencakup semua yang dikandung oleh ayat tersebut, baik makna maupun hukum, melalui teks (manthuq) atau pengertian balik (mafhum), tanpa memperluas atau istithrad (membakukan), atau menyebutkan kisah-kisah dan dongeng Israiliyat, serta hikayat sebuah perkataan, sehingga keluar dari tujuan sebenarnya.

As-Sa’di rahimahullah berpandangan tidak boleh menjadikan kisah Israiliyat sebagai tafsir bagi Kalam Allah ‘azza wa jalla. Kata as-Sa’di dalam tafsirnya, “Ketahuilah bahwa kebanyakan ahli tafsir rahimahumullah acapkali memenuhi tafsir mereka dengan kisah-kisah Bani Israil dan menjadikan al-Qur’an itu turun dengan sebab mereka serta membuatnya sebagai tafsir Kitab Allah, berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

حَدِّثُوْا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ وَلاَ حَرَجَ

“Ceritakanlah tentang Bani Israil, tidak mengapa (tidak berdosa).”[8]

Aku berpendapat bahwa meskipun boleh menukil cerita mereka secara terpisah, dan tidak diposisikan sebagai sebab turunnya ayat-ayat Allah, karena tidak boleh menjadikannya sebagai tafsir bagi Kitab Allah sama sekali, apabila tidak sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu karena kedudukan kisah itu adalah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ

‘Janganlah kamu membenarkan ahli kitab dan jangan pula mendustakan mereka.’[9]

Sebagaimana sudah dimaklumi dalam ajaran Islam bahwa al-Qur’an wajib diimani, lafadz dan maknanya adalah pasti. Maka dari itu, kisah/berita yang diriwayatkan oleh orang yang tidak diketahui kebenarannya—yang diduga kuat semua atau sebagian besarnya adalah dusta—tidak boleh dijadikan sebagai tafsir bagi Kitab Allah yang pasti kebenarannya dan tidak boleh diragukan oleh siapa pun. Akan tetapi, karena kelalaian terhadap hal ini, terjadilah apa yang kita lihat sekarang ini.”[10]

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar


[1] HR. al-Bukhari (7362)

[2] HR. al-Bukhari (4485) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

[3] HR. al-Bukhari (3461)

[4] Tuhfatul Ahwadzi (8/370)

[5] Al-Anwar al-Kasyifah, hlm.131

[6] Al-Anwar al-Kasyifah, hlm.131

[7] ath-Thabarani (al-Kabir no. 12243), al-Hakim (2932), dan al-Bazzar (2/210)

[8] HR. Ahmad (2/474) dan Abu Dawud (3662), dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah

[9] HR. al-Imam al-Bukhari (2684)

[10] Tafsir surat al-Baqarah ayat 74

Metode Tafsir Al-Qur’an

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)

Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “(Yaitu) agar mereka mentadaburi hujah-hujah Allah ‘azza wa jalla yang ada di dalamnya dan syariat yang ditetapkan-Nya, sehingga mereka memetik pelajaran dan mengamalkannya.”

Dari sinilah pentingnya ilmu tafsir, yaitu untuk mengenal makna-makna Kalam Allah ‘azza wa jalla, memahami sasarannya, serta menggali hukum dan hikmahnya. Namun, tidak setiap orang bisa dan berhak menafsirkan al-Qur’an. Sebab, di dalam makna-makna dan hukumhukum al-Qur’an terkandung hikmah dan rahasia yang dalam.

Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Sahl bin ‘Abdullah at-Tustari yang pernah mengatakan, “Seandainya seorang hamba diberi seribu pemahaman terhadap masing-masing huruf al-Qur’an, belum tentu dia dapat mencapai batas akhir apa yang Allah ‘azza wa jalla letakkan di dalam satu ayat dari Kitab-Nya. Sebab, al-Qur’an adalah Kalam Allah ‘azza wa jalla, sedangkan Kalam-Nya adalah sifat-Nya. Dan sebagaimana tidak adanya batas bagi Allah ‘azza wa jalla, demikian pula tidak ada batas akhir untuk memahami Kalam-Nya….

Akan tetapi, Kalam Allah ‘azza wa jalla dapat dipahami sesuai dengan apa yang dibukakan oleh Allah ‘azza wa jalla bagi hati hamba tersebut, dan Kalam Allah ‘azza wa jalla bukanlah makhluk, sehingga tidak mungkin pemahaman makhluk yang muhdats ini dapat mencapai batas akhir memahami Kalam-Nya.”

Ungkapan beliau adalah fakta yang juga dapat diperoleh dari pengalaman. Sebab, tingkatan pemahaman setiap manusia berbeda-beda, demikian pula daya tangkapnya terhadap ayat-ayat al-Qur’anul Karim, dan kemampuannya mengaplikasikan ayat-ayat itu dalam semua aspek kehidupannya. Selain itu, masing-masing orang bisa jadi saat itu diberi pemahaman terhadap sebagian ayat dan memperoleh kesan yang sangat mendalam, namun pada kesempatan lain dia terpaku di hadapan beberapa ayat tanpa bisa memahaminya, ke mana hilangnya pemahaman dan kesan tersebut?

 cahaya

Manhaj Tafsir yang Benar

Tujuan utama mempelajari ilmu tafsir adalah mengenal makna-makna Kalam Allah ‘azza wa jalla, memahami sasarannya, serta menggali hukum dan hikmahnya. Adapun penafsiran yang paling utama untuk memahami hal ini adalah tafsir bil ma’tsur atau tafsir bir riwayah ash-shahihah. Sebab, kedudukannya yang sangat penting dalam memahami al-Qur’anul Karim dengan pemahaman yang benar serta selamat dari kesalahan dan penyimpangan.

Dari segi sumber dan asalnya, tafsir terbagi dua:

 

  1. Tafsir bil ma’tsur atau tafsir bir riwayah

Yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan menukil riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dari para sahabat, dari tabi’in, tanpa tambahan apa pun kecuali dari segi bahasa, atau penggabungan beberapa pendapat yang ma’tsur yang datang tentang suatu ayat.

Para ahli yang menggunakan manhaj ini berusaha untuk tidak melakukan istinbath selama mereka merasa cukup dengan riwayat yang mereka terima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerima al-Qur’an, atau dari orang-orang yang semasa dengan beliau dan mendengar dari beliau. Inilah manhaj penafsiran yang lebih dahulu diterapkan, lebih tepat, dan lebih selamat, serta menjadi dasar semua penafsiran, sehingga wajib merujuk kepada manhaj ini apabila sudah jelas kesahihan sanadnya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir yang dinukil dari tabi’in. Sebagian ulama memasukkan tafsir tabi’in ke dalam tafsir bil ma’tsur dengan pertimbangan mereka hidup sezaman dengan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil ilmu dari mereka.

Yang jelas, tafsir bil ma’tsur adalah manhaj penafsiran yang paling baik secara mutlak dan wajib diikuti serta dijadikan pedoman. Inilah jalan yang paling aman untuk terjaga dari kesalahan dan penyimpangan dari Kitab Allah.

Ada empat bentuk tafsir bil ma’tsur:

 

  1. Tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an

Inilah cara menafsirkan al-Qur’an yang paling baik dan paling sahih. Hal yang mujmal (global) di satu ayat, akan diuraikan pada tempat yang lain. Hal-hal yang ringkas di satu tempat akan dijelaskan panjang lebar pada tempat yang lain.[1]

Demikian pula mengembalikan ayat-ayat mutasyabihnya kepada yang muhkamnya.[2]

Asy-Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah menyebutkan bahwa ulama sepakat (ijma) bahwa jenis tafsir yang paling utama dan mulia adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an.[3]

Ada banyak bentuk tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, antara lain:

Yang pertama, penjelasannya tersembunyi di dalam ayat itu sendiri, seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara.” (ar-Ra’d: 31)

Kalimat dalam ayat di atas belum lengkap meski telah dipahami kelengkapannya, ‘tentu al-Qur’an itulah dia’. Artinya, seandainya ada bacaan yang membuat gunung-gunung digoncangkan, bumi menjadi terbelah, dan orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, maka al-Qur’an inilah yang dimaksud. Wallahu a’lam.

Yang kedua, suatu ayat mengisyaratkan kepada makna yang dikhususkan dari tengah-tengah ayat itu meskipun tidak secara tegas menerangkannya. Misalnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar 22)

Syarat yang terdapat dalam ayat ini, tidak ada jawabnya, tetapi diisyaratkan pada bagian akhir ayat, yaitu firman Allah ‘azza wa jalla,

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah.”

Maka dari itu, diperkirakan bahwa makna ayat ini ialah “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam sama dengan orang yang membatu hatinya?” Wallahu a’lam.

 

Yang ketiga, penjelasannya sudah terang bagi siapa saja yang memerhatikan Kitab Allah ‘azza wa jalla dan kadang-kadang ada juga keterangannya langsung sesudah memaparkan yang mubham (belum jelas), seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (al-Ma’arij: 19—21)

Kalimat halu’a (keluh kesah lagi kikir) pada ayat pertama masih belum jelas dari sisi apa, lalu diterangkan oleh ayat berikutnya. Wallahu a’lam.

Bisa jadi pula penjelasannya terpisah pada bagian lain, seperti tafsir firman Allah ‘azza wa jalla,

“(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 7)

Allah ‘azza wa jalla menerangkan siapa orang-orang yang telah diberi nikmat ini dalam firman-Nya,

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (an-Nisa: 69)

Masih banyak contoh lainnya di dalam al-Qur’an.[4] Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir al-Qur’an dengan as-Sunnah

Allah ‘azza wa jalla mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa petunjuk dan agama yang haq. Allah ‘azza wa jalla memberi beliau mukjizat yang paling agung dan kekal serta memerintahkan beliau agar menyampaikannya kepada seluruh manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

 “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.(al-Maidah: 67)

Beliau pun menyampaikannya dengan sempurna dan sejelas-jelasnya sebagaimana yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada yang beliau sembunyikan atau beliau kurangi. Menyampaikan (wahyu -red.) adalah sebuah keharusan dari sebuah penjelasan. Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang menerima al-Qur’an dan ditugaskan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk menjelaskan al-Qur’an ini dari Allah ‘azza wa jalla. Beliaulah orang pertama yang berhak menafsirkan Kitab Suci ini.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (an-Nahl: 44)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ إِنِّى أُوتِيتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ أَلاَ يُوشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ

 أَلاَ لاَ يَحِلُّ لَكُمْ لَحْمُ الْحِمَارِ الأَهْلِىِّ وَلاَ كُلُّ ذِى نَابٍ مِنَ السَّبُعِ وَلاَ لُقَطَةُ مُعَاهِدٍ إِلاَّ أَنْ يَسْتَغْنِىَ عَنْهَا صَاحِبُهَا

 وَمَنْ نَزَلَ بِقَوْمٍ فَعَلَيْهِمْ أَنْ يَقْرُوهُ فَإِنْ لَمْ يَقْرُوهُ فَلَهُ أَنْ يُعْقِبَهُمْ بِمِثْلِ قِرَاهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi al-Kitab (al-Qur’an) dan yang serupa dengannya bersamanya. Ingatlah, hampir-hampir seseorang yang kekenyangan di atas dipannya berkata, ‘Tetaplah kamu berpegang dengan al-Qur’an ini. Apa yang kamu dapatkan di dalamnya tentang yang halal, maka halalkanlah dia, dan apa saja yang kamu dapati tentang yang haram di dalamnya, maka haramkanlah dia.’

Ketahuilah, tidak halal bagi kamu daging keledai jinak, dan tidak halal pula semua yang bertaring dari sebagian binatang buas, tidak pula halal bagi kamu temuan milik orang kafir mu’ahad (yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin –red.), kecuali jika pemiliknya tidak memerlukannya lagi.

Siapa yang singgah pada suatu kaum, maka mereka wajib menjamunya, kalau mereka tidak mau menerimanya, maka dia berhak mengambil ganti sebanding dengan haknya yang mereka halangi sebagai tamu.”[5]

Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjadikan sunnah beliau sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua jenisnya (ucapan, perbuatan, atau persetujuannya/taqrir -red.) adalah tafsiran bagi al-Qur’an, bahkan menentukannya; mengecualikan yang umum, membatasi yang mutlak, dan menjelaskan apa yang dikehendaki dalam ayat tersebut.[6]

Menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah adalah urutan kedua setelah al-Qur’an, baik dari segi sanad maupun matan. Adapun wajibnya beramal dengan yang sahih dari sunnah tersebut adalah dasar atau landasan pokok ketetapan syariat, sebagaimana halnya al-Qur’anul Karim.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 1—4)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan maksud ayat ini ialah antara lain menunjukkan bahwa sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wahyu dari Allah kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu.” (an-Nisa’: 113)

Demikian pula bahwa beliau terjaga (ma’shum) dalam semua hal yang beliau beritakan tentang Allah ‘azza wa jalla dan syariat-Nya. Sebab, perkataan beliau itu tidaklah bersumber dari hawa nafsu, tetapi dari wahyu yang diwahyukan kepadanya.

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menegaskan, “Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya.  Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.” (al-Haqqah: 44-47)

Seandainya ditakdirkan—dan Mahasuci Allah, sekali-kali tidak mungkin—Rasul ini mengada-adakan satu perkataan atas nama Allah ‘azza wa jalla, dengan menambah atau mengurangi risalah ini, atau mengatakan sesuatu dari pikirannya sendiri, lalu menyandarkannya kepada Kami, padahal tidak demikian,  tentulah Allah ‘azza wa jalla menyegerakan hukuman baginya dan Allah ‘azza wa jalla akan menyiksanya dengan siksaan Zat Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.

Sesuai dengan hikmah-Nya, Allah ‘azza wa jalla tidak akan membiarkan orang yang berdusta atas nama-Nya, yang menganggap bahwa Allah ‘azza wa jalla mengizinkannya menumpahkan darah dan harta orang menyelisihinya.

Al-Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Semua yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebagian yang beliau pahami dari al-Qur’an.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam risalah beliau Muqaddimah fi Ushulit Tafsir pada halaman 50 menyebutkan bahwa kita wajib mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan makna-makna al-Qur’an ini kepada para sahabatnya, sebagaimana beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan lafadz-lafadznya kepada mereka.

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Bazmul hafizhahullah memerinci pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam syarah beliau terhadap risalah tersebut sebagai berikut.

Apabila dikatakan bahwa buku-buku kumpulan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di tangan kita, tidak ada yang menyebutkan tafsir al-Qur’an ayat demi ayat, maka bagaimana mungkin dinyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak wafat kecuali telah menerangkan kepada para sahabat semua isi al-Qur’an?

Jawabnya: Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat kecuali telah menerangkan kepada para sahabat semua isi al-Qur’an. Akan tetapi, keterangan tersebut adalah melalui beberapa cara, sebagai berikut.

Yang pertama, menerangkan secara langsung, misalnya penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang arti al-Kautsar,

الْكَوْثَرُ نَهْرٌ أَعْطَانِيْهِ اللهُ

“Al-Kautsar adalah sebuah sungai yang diberikan oleh Allah ‘azza wa jalla untukku.”[7]

Demikian pula penjelasan beliau tentang makna zalim yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

Beliau menerangkan kepada para sahabat bahwa zalim yang dimaksud adalah syirik. Makna ayat ini ialah bahwa orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan….

Inilah bentuk pertama penjelasan beliau dan sangat sedikit ditemukan dalam hadits.

Yang kedua, penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap makna ayat al-Qur’an melalui praktik amaliah dalam kehidupan kaum muslimin di masa beliau.

Ketika beliau mengajari mereka shalat, itu adalah penjelasan beliau tentang makna firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”

Begitu pula ketika menerangkan waktu-waktunya, menjelaskan ukuran dan batas minimal (nishab) zakat, serta pelaksanaan hukuman zina dan mencuri.

Bentuk yang kedua ini lebih banyak daripada yang pertama. Jika hanya membatasi pada yang pertama, seseorang akan kehilangan banyak hal (terkait dengan makna ayat al-Qur’an).

Yang ketiga, perilaku dan akhlak beliau yang sesuai al-Qur’an, hingga dikatakan oleh Bunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ditanyakan bagaimana akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau radhiallahu ‘anha mengatakan, “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.” Budi pekerti, adab, dan sikap beliau sehari-hari, tidak lain adalah penjelasan sekaligus penerapan makna-makna al-Qur’an.

Ringkasnya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan seluruh al-Qur’an ini kepada para sahabat, dengan cara langsung, akhlak beliau sehari-hari, atau dengan persetujuan beliau terhadap suatu makna yang sudah dipahami oleh para sahabat sesuai dengan ‘urf (pengertian) di antara mereka; atau taqrir (persetujuan) beliau terhadap suatu makna yang sesuai dengan bahasa Arab.[8] Wallahu a’lam.

 

radhiallahu ‘anhuma. Tafsir al-Qur’an dengan Penjelasan Para Sahabat

Para sahabat juga memahami al-Qur’an. Sebab, selain al-Qur’an turun dalam bahasa mereka sekaligus karena mereka menerima tafsir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana halnya hadits. Akan tetapi, kemampuan antara satu sahabat dan yang lainnya berbeda-beda, sehingga terkadang menimbulkan perbedaan pula dalam memahami sebagian makna al-Qur’an. Meskipun perbedaan tersebut, lebih sedikit dibandingkan perbedaan yang muncul di kalangan tabi’in dan sesudahnya.

Sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian sahabat merasa enggan menafsirkan al-Qur’an. Sebab, mereka khawatir jika keliru, kekeliruan itu akan dinukil dari mereka dan tersebar. Namun, pada masa mereka, dalam menafsirkan Al-Qur’an, tidak lepas dari tiga urutan ini:

  1. Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an
  2. Menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah
  3. Ijtihad dan istinbat

Telah dijelaskan bagaimana metode menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an dan menafsirkan Al-Qur’an dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketika para sahabat tidak menemukan tafsir ayat dengan ayat lainnya, atau dengan hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka merujuk kepada ijtihad dengan mengerahkan segenap ra’yu mereka. Itu pun dalam hal-hal yang memang memerlukan ijtihad dan pemikiran.

Adapun yang mungkin dipahami sesuai dengan bahasa, mereka tidak perlu berijtihad, karena mereka orang-orang Arab asli dan menguasai seluk-beluk bahasa Arab.

Para ulama berpendapat bahwa tafsir para sahabat statusnya marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –red.) jika terkait dengan sebab nuzul (sebab turunnya ayat) dan hal-hal yang tidak mungkin dimasuki oleh nalar. Adapun yang bisa dimasuki ra’yu hanya sampai pada sahabat (mauquf). Namun, sebagian ulama mengharuskan untuk menerima tafsir yang mauquf ini, karena mereka lebih memahami seluruh aspek bahasa Arab, menyaksikan langsung konteks ayat dan realitas yang hanya diketahui oleh mereka.

Karena itu pula, manhaj atau metode paling tepat dalam memahami al-Qur’an adalah metode para sahabat g. Ada tiga alasan pokok, mengapa tafsir para sahabat mempunyai kedudukan penting dalam tafsir bil ma’tsur, yaitu:

  1. Siapa pun di antara para sahabat tersebut tidak ada yang berani menyanggah atau menentang al-Qur’an dan sunnah yang sahih dengan logika akal mereka, atau membantahnya dengan perasaan dan intuisi.

Mereka justru menjadikan al-Qur’an sebagai imam yang diikuti dan berjalan di belakangnya dalam setiap keadaan.

Mereka tidak berbicara sebelum al-Qur’an dan sunnah yang sahih berbicara, sebagai pengamalan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

  1. Tidak seorang pun dari mereka menggagas ajaran baru selain yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka tidak mempunyai buah pikiran atau pendapat yang menyalahi al- Qur’an. Bahkan, ketika ‘Umar membawa beberapa lembaran catatan milik ahli kitab dan berkata, “Ini adalah naskah Taurat, bagus juga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، فَوَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، لاَ تَسْأَلُوهُمْ، عَن شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ، أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إلاَ أَنْ يَتَّبِعَني

“Apakah kamu merasa ragu-ragu, wahai putra al-Khaththab? Demi yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh aku telah membawakan kepada kamu sesuatu yang putih bersih. Janganlah kamu menanyai mereka tentang sesuatu lalu mengabari kamu dengan yang benar tapi kamu mendustakan mereka, atau (mengabari) yang batil lalu kamu membenarkan mereka. Demi yang jiwaku di Tangan- Nya, seandainya Musa masih hidup, tidak boleh baginya kecuali mengikutiku.”[9]

Mereka tidak mempunyai pemahaman yang dianut sebagai keyakinan, lalu mencari pembenarannya dalam al-Qur’an.

  1. Apabila salah seorang dari sahabat ingin memahami masalah agama atau berbicara tentang urusan agama, dia melihat apa yang dikatakan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lebih dahulu.

Jadi, mereka belajar dari al-Qur’an dan sunnah yang sahih, berbicara dengan al-Qur’an dan sunnah, serta menjadikan keduanya sebagai dalil dan selalu memikirkan kandungannya. Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir Al-Qur’an dengan Penjelasan Tabi’in

Tabi’in ialah orang-orang yang bertemu dengan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan mati di atas Islam.

Adanya perpindahan beberapa sahabat di sejumlah kota besar, mendorong munculnya beberapa madrasah tafsir di kota-kota besar tersebut.

Di Makkah dengan pengajarnya adalah Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. Para tabi’in yang menimba ilmu dari beliau seperti: Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah Maula Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’ bin Abi Rabah, dan Thawus bin Kaysan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menilai bahwa yang paling tahu tentang tafsir adalah penduduk Makkah karena mereka adalah murid-murid Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Di Madinah, dengan pengajarnya adalah Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Para tabi’in yang dikenal menimba ilmu dari beliau dalam bidang tafsir seperti Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah, dan Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi rahimahumullah.

Di Irak, pengajarnya ialah ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, meskipun ada beberapa sahabat lain. Akan tetapi, beliau ditunjuk oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu sebagai pembimbing bagi penduduk Kufah (Irak). Adapun tabi’in yang dikenal mempelajari tafsir dari beliau adalah ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, Murrah al-Hamadani, asy- Sya’bi, al-Hasan al-Bashri, dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.

Para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan tafsir dari kalangan tabi’in. Ada yang berpandangan boleh mengambil perkataan tabi’in dalam bidang tafsir, karena para tabi’in umumnya mengambil ilmu mereka dari para sahabat. Itu pun jika diyakini aman dari kemungkinan mereka mengambilnya dari ahli kitab dan bukan dalam hal-hal yang tidak ada tempat bagi ijtihad di dalamnya (seperti perkara gaib dsb –red.).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah menukil perkataan Syu’bah bin al-Hajjaj yang mengatakan bahwa perkataan tabi’in bukan hujah, bagaimana mungkin berlaku sebagai hujah pula dalam tafsir? kemudian berpendapat, “Ini benar. Akan tetapi, jika mereka (tabi’in) sepakat atas satu masalah, tidak diragukan bahwa itu adalah hujah. Apabila mereka berselisih, maka pendapat sebagian mereka tidak bisa menjadi hujah terhadap yang lain ataupun yang sesudah mereka. Dalam masalah tersebut mereka merujuk kepada bahasa al-Qur’an, sunnah atau keumuman bahasa Arab atau pendapat sahabat tentang hal itu.[10]

Pada bagian lain, beliau menganggap salah, bahkan bid’ah jika seseorang menyimpang dari tafsir para sahabat dan tabi’in.[11]

Beliau mengisyaratkan pula, bahwa terjerumusnya ahli bid’ah ke dalam takwil yang batil terhadap nash syariat (al-Qur’an dan hadits) adalah karena tidak memahami Kitab Allah ‘azza wa jalla sebagaimana yang dipahami oleh sahabat dan tabi’in dan menentang apa yang ditunjukkannya dengan sesuatu yang berlawanan dengannya.[12]

Wallahu a’lam.

Pada masa ini, tafsir masih dalam bentuk periwayatan. Akan tetapi, setelah banyak ahli kitab yang masuk Islam, para tabi’in pun mulai banyak menukil dari mereka dan memasukkannya dalam tafsir mereka. Misalnya, yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Salam, Wahb bin Munabbih, dan Ka’b al-Ahbar.

Pada akhir masa tabi’in, pembukuan mulai berkembang. Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai dikumpulkan dalam satu buku meliputi sejumlah bab, sedangkan tafsir termasuk salah satu babnya.

Di samping memfokuskan diri pada pengumpulan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama di masa pembukuan hadits ini, juga memberikan perhatian sangat besar terhadap tafsir yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat dan tabi’in.

Tokoh yang terkenal di antara mereka ialah Syu’bah bin al-Hajjaj, Waki’ bin al-Jarrah, Ibnu ‘Uyainah, Rauh bin ‘Ubadah, ‘Abdurrazzaq bin Hammam ash-Shan’ani, dan ‘Abdul ‘Aziz bin Juraij. Akan tetapi, tafsir mereka hanya sampai kepada kita berupa nukilan yang disandarkan kepada mereka dalam kitab tafsir bil ma’tsur.

Setelah itu muncul generasi berikutnya, yang menyusun tafsir secara khusus sebagai ilmu tersendiri. Yang paling masyhur pada masa ini adalah Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah.

Tafsir generasi ini selain memuat riwayat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, juga berisi ijtihad mereka dalam memilih yang rajih dari beberapa pendapat yang mereka riwayatkan.

Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir Bir Ra’yi

Disebut juga tafsir bil ijtihad, yaitu penjelasan terhadap suatu ayat menurut pandangan mufasir dari sisi bahasa, ijtihad, dan persoalan yang umum.

Di sini, mufasir tidak membatasi diri dengan hanya menerangkan makna ayat melalui penukilan dari ulama salaf.

Para ulama berbeda pendapat tentang tafsir dengan cara ini, antara yang membolehkan dan yang melarang.

Tafsir bir ra’yi terbagi dua; yaitu tafsir bir ra’yil mahmud dan tafsir bir ra’yil madzmum.

 

  1. Tafsir bir ra’yil mahmud (tafsir dengan akal yang terpuji)

Adalah tafsir yang bersandar kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, ditopang pula oleh pengetahuan tentang bahasa Arab dengan semua uslubnya dan tentang kaidah syariat serta dasar-dasarnya.

Di sini, seorang mufasir harus bersungguh-sungguh memahami nash al-Qur’an, menangkap maknanya dengan bersandar kepada bahasa, nash-nash lain, dan dalil syariat.

 

  1. Tafsir bir ra’yil madzmum (tafsir dengan akal yang tercela)

Adapun tafsir bir ra’yil madzmum ialah menafsirkan al-Qur’an dengan logika dan hawa nafsu, tanpa dasar ilmu, ditambah tidak adanya penguasaan terhadap kaidah bahasa dan syariat.

Tidak dibenarkan siapa pun menempuh cara yang kedua ini dalam menafsirkan al-Qur’an. Terhadap merekalah berlaku atsar yang menyebutkan larangan untuk berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu,

مَنْ قَالَ فِي كِتَابِ اللهِ بِرَأْيِهِ ، فَأَصَابَ ، فَقَدْ أَخْطَأَ

“Barang siapa berbicara tentang Kitab Allah k dengan akalnya, lalu benar, sungguh dia telah salah.”[13]

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّار

“Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu, hendaklah siap menempati tempat duduknya dari neraka.”

Kedua riwayat ini dianggap lemah oleh asy-Syaikh al-Albani.[14]

Sebagian orang berpendapat bahwa tafsir al-Qur’an itu wajib bersandar kepada riwayat (ma’tsur). Akan tetapi, mereka tidak merinci patokan terhadap apa yang mereka inginkan dengan ma’tsur ini. Kalau yang dimaksud dengan ma’tsur adalah tafsir yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sanad yang maqbul (sahih atau hasan), kemudian mereka berpegang teguh dengan kaidah ini, berarti mereka mempersempit makna al-Qur’an yang luas, bahkan bertentangan dengan tafsir yang mereka susun sendiri. Mereka menuduh para pendahulu mereka salah dalam menafsirkan. Sebab, tidak ada jalan lain kecuali mengakui bahwa imam-imam kaum muslimin, sejak sahabat sampai yang datang belakangan, tidak membatasi diri mereka hanya meriwayatkan tafsir dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah menanyai beberapa ahli ilmu tentang makna sejumlah ayat dan tidak mensyaratkan mereka harus menukil dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau yang dimaksud oleh mereka dengan ma’tsur adalah tafsir yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat secara khusus, seperti yang terlihat dari tulisan Suyuthi dalam ad-Dur al-Mantsur, tetap tidak memberi kelapangan kecuali sedikit. Sebab, tidak dinukil dari mayoritas sahabat tentang tafsir ini kecuali sedikit, selain yang dinukil dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, meski ada yang sahih, dhaif, dan palsu.

Telah sahih dari ‘Ali bahwa beliau menyatakan, “Tidak ada padaku sesuatu yang bukan berada dalam Kitab Allah, selain pemahaman yang dikaruniai oleh Allah ‘azza wa jalla.”

Demikian pula dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar, dan Anas serta Abu Hurairah g. Oleh karena itu, para ulama menetapkan syarat untuk diterimanya tafsir bir ra’yi ini, sebagai berikut.

  1. Tidak boleh bertentangan dengan tafsir bil ma’tsur
  2. Harus bersesuaian dengan susunan
  3. Tidak saling menafikan dengan kandungan lafadz dari segi bahasa
  4. Tidak bertentangan dengan landasan syariat
  5. Tidak mengarah kepada upaya membela dan mendukung ahli bid’ah

Adapun atsar yang memperingatkan manusia agar tidak menafsirkan al-Qur’an dengan akal semata, seperti dua riwayat di atas, merujuk kepada salah satu dari lima hal berikut.

Yang pertama, ra’yu yang dimaksud adalah pendapat yang berasal dari rasio semata tanpa merujuk kepada dalil kebahasaan dan tujuan syariat serta semua aturannya. Demikian pula, tidak merujuk kepada sesuatu yang seharusnya dipedomani, seperti nasikh dan mansukh serta sebab nuzul ayat.

Karena itu, meskipun dia kebetulan benar, tetap dikatakan salah, karena penggambarannya (penjelasan atau penafsirannya) tidak didasari oleh ilmu pengetahuan.

Ada yang mencontohkan seperti orang yang menafsirkan alif laam miim, bahwa artinya ialah Allah ‘azza wa jalla menurunkan Jibril kepada Muhammad membawa al-Qur’an. Penafsiran seperti ini, tidak ada sandarannya.

Adapun yang diriwayatkan dari Abu Bakr radhiallahu ‘anhu tentang tafsir sebuah ayat, tidak lain adalah karena ketakwaan dan rasa takut beliau jatuh dalam kesalahan terkait dengan hal yang tidak ada dalilnya atau masalah-masalah yang tidak ada kepentingannya untuk ditafsirkan.

Mengapa demikian? Sebab, beliau sendiri pernah ditanya tentang kalalah, lalu mengatakan, “Ini menurut pendapat saya. Kalau benar, itu dari Allah ‘azza wa jalla. Kalau salah, itu dari saya dan syaitan….”

Yang kedua, tidak mentadabur al-Qur’an dengan benar lalu menafsirkannya dengan penalaran yang lemah tanpa memahami lingkup ayat dan materi tafsir. Misalnya, menyandarkan diri kepada pemahaman sisi bahasa Arab semata. Seperti orang yang menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Apa saja yang menimpamu dari kebaikan, maka itu dari Allah….” (an-Nisa: 79)

Secara lahiriah, bahwa kebaikan itu dari Allah ‘azza wa jalla, tetapi kejelekan itu adalah perbuatan manusia, tanpa memerhatikan dalil syara’ yang menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali adalah apa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki, dan tanpa menoleh kepada firman Allah ‘azza wa jalla yang sebelumnya,

Katakanlah, “Semua itu berasal dari sisi Allah.” (an-Nisa: 78)

Penafsirkan dengan pengertian lahiriah bahasa padahal tidak pernah digunakan orang Arab, di antaranya menafsirkan kata مُبْصِرَةً dalam ayat,

وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً

            “Dan telah Kami berikan kepada Tsamud unta betina itu (sebagai mukjizat) yang dapat dilihat,” bahwa unta itu mempunyai penglihatan, tidak buta. Inilah penafsiran yang termasuk tafsir bir ra’yi yang tercela (madzmum).

Yang ketiga, mempunyai kecenderungan kepada salah satu mazhab atau aliran agama, lalu menakwilkan al-Qur’an sesuai dengan ra’yunya dan membelokkannya dari makna yang diinginkan, meskipun tidak didukung makna yang sudah dikenal.

Akhirnya, dia menyeret al-Qur’an untuk mendukung ra’yunya dan menghalanginya dari memahami al-Qur’an secara benar, selama dia terbelenggu oleh sikap fanatik terhadap mazhab atau golongannya.

Sikap fanatik ini menutup mata hatinya untuk menerima kebenaran, meskipun dia telah melihat bukti nyata kesalahan pemahamannya. Karena itu, kalau dia tidak berani mengingkari ayat tersebut, dia akan menakwilkan dan menyeretnya kepada analogi yang mendukung keyakinannya.

Contoh seperti ini ialah penafsiran kaum Muktazilah tentang firman Allah ‘azza wa jalla pada surat al-Qiyamah ayat 23,

“Kepada Rabbnyalah mereka melihat.”

Yaitu, menunggu nikmat Rabbnya.

Atau seperti pendapat kaum Bayaniyah terhadap firman Allah ‘azza wa jalla pada surat Ali ‘Imran ayat 138,

“(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia.”

Yaitu, Bayan bin Sam’an, tokoh besar mazhab mereka.

Demikian pula seperti penafsiran pengikut Abu Manshur al-Kasf bahwa kasf dalam firman Allah ‘azza wa jalla pada surat ath-Thur ayat 44,

Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, “Itu adalah awan yang bertindih-tindih.”

Yang dimaksud kisaf adalah imam mereka yang akan turun dari langit. Itu pun, andaikata benar dinukil demikian dari mereka, bukan sisipan dari lawan-lawan mereka, adalah upaya mengubah al-Qur’an dan keluar dari agama.

Yang keempat, menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yu yang bersandar kepada kandungan lafadznya, lantas meyakini bahwa hanya itulah makna yang dimaksud, bukan yang lain. Hal ini tentu saja mempersempit kesempatan bagi para penafsir lain.

Yang kelima, atsar terebut bermaksud untuk memmperingatkan manusia agar mau mentadabur dan menakwil serta menjauhi sikap terburuburu dalam masalah ini.

Dalam kondisi ini, para ulama berbeda-beda tingkatannya. Bahkan muncul sikap berlebihan dalam ketakwaan pada sebagian mereka, sehingga hampir-hampir tidak mau menyebutkan tafsir sesuatu tanpa menyandarkannya kepada yang lainnya, seperti al-Ashma’i yang tidak menafsirkan satu kata bahasa Arab jika sudah ada dalam al-Qur’an.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar


[1] Muqaddimah Ushulit Tafsir Ibnu Taimiyah.

[2] Tafsir wal Mufassirun (1/34).

[3] Adhwaul Bayan (1/5) dalam Asbabul Khatha’ fit Tafsir (53).

[4] Lihat juga Adhwaul Bayan asy-Syaikh asy-Syinqithi, Tafsir wal Mufassirun (1/32)

[5] HR. Ahmad dan Abu Dawud (4606) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

[6] Syarah Muqaddimah Ushulit Tafsir Ibnu Taimiyah hlm. 58.

[7] HR. at-Tirmidzi (2542), kata asy-Syaikh al-Abani, “Hasan sahih.”

[8] Syarah Muqaddimah fi Ushulit Tafsir hlm. 58

[9] HR. ad-Darimi (1/115), Ibnu Abi ‘Ashim (as-Sunnah 5/2)

[10] Muqaddimah Ushulit Tafsir Ibnu Taimiyah

[11] Syarh Muqaddimah Ushulit Tafsir Ibnu Taimiyah hlm. 192.

[12] Dar’ut Ta’arudh (5/383) dalam Asbabul Khatha’ (1/62)

[13] HR. Abu Dawud (3654) dan dinyatakan lemah oleh asy-Syaikh al-Albani.

[14] Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi (2950) ayat, baik sebelum maupun sesudahnya.

Rambu-rambu Penting dalam Mengkaji, Memahami, dan Menafsirkan al-Qur’an

Di antara nikmat terbesar yang Allah ‘azza wa jalla karuniakan kepada umat Islam adalah Kitab Suci al-Qur’an. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah ‘azza wa jalla menjadikannya sebagai pedoman dan lentera bagi kehidupan umat manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Rabb-mu (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (al-Qur’an).” (an-Nisa’: 174)

Al-Qur’an adalah kitab suci yang paling mulia. Hikmah yang dikandungnya pun sangat luas dan berharga. Di dalamnya terdapat lautan ilmu, petunjuk kepada jalan yang lurus, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri kepada Allah ‘azza wa jalla. Firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)

“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya.

Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Al_Quran

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kitabullah (al-Qur’an) adalah yang paling berhak untuk dicurahkan kepadanya perhatian dan kesungguhan, yang paling agung untuk dikerahkan kepadanya pemikiran dan ditorehkan dengannya pena. Sebab, ia adalah sumber segala ilmu dan hikmah, tempat setiap petunjuk dan rahmat. Al-Qur’an adalah bekal termulia bagi ahli ibadah dan pegangan terkuat bagi orang-orang yang berpegang teguh (istiqamah). Barang siapa berpegang teguh dengannya, sungguh telah berpegang dengan tali yang kuat; barang siapa berjalan di atasnya, sungguh telah berjalan di atas jalan yang lurus dan terbimbing menuju ash-shirathal mustaqim.” (al-Fawaid al-Musyawwiq ila Ulumil Qur’an wa Ilmil Bayan, hlm. 6—7)

 

Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an

Kitab Suci al-Qur’an tidaklah diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk dibaca dan dihafalkan semata. Allah ‘azza wa jalla menurunkannya supaya direnungkan ayat-ayatnya dan dipetik pelajaran-pelajaran berharga darinya. Itulah hikmah diturunkannya al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapatkan pelajaran.” (Shad: 29)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla menerangkan (dalam ayat ini) bahwa hikmah dari penurunan al-Qur’an yang penuh berkah itu, supaya manusia mentadabburi (merenungkan) ayat-ayatnya dan mengambil pelajaran berharga darinya. Maksud dari mentadabburi adalah merenungkan lafadz-lafadznya hingga dapat memahami kandungan maknanya. Jika upaya perenungan tersebut tak dilakukan, hilanglah hikmah penurunan al-Qur’an. Jadilah ia lafadz-lafadz yang tak bermakna. Lebih dari itu, tidaklah mungkin pelajaran-pelajaran berharga dapat dipetik darinya tanpa memahami kandungan maknanya.” (Tafsir al-Qur’an karya asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/20)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Telah maklum bahwa target dari setiap perkataan yang diucapkan adalah agar dipahami maknanya dan tidak sekadar dikenali lafadz-lafadznya. Sudah barang tentu, yang lebih utama untuk dipahami makna-maknanya adalah kalamullah (firman Allah ‘azza wa jalla).

Demikian pula menurut kebiasaan, tidaklah dibenarkan sekelompok orang yang mempelajari suatu disiplin ilmu seperti ilmu kedokteran atau matematika, namun tidak berupaya memahaminya dengan baik. Bagaimanakah dengan kalamullah yang merupakan pedoman hidup mereka, dan dengannya akan diraih keselamatan, kebahagiaan, dan tegaknya urusan agama dan dunia mereka?! (Majmu’ Fatawa 13/332)

 

Kewajiban Mengkaji dan Memahami Kitab Suci Al-Qur’an dengan Baik dan Benar

Betapa besar hikmah dari penurunan Kitab Suci al-Qur’an. Hikmah itu pun tak mungkin terwujud tanpa adanya upaya mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an dengan baik dan benar.

Atas dasar itu, mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an dengan baik dan benar merupakan kewajiban setiap muslim. Dengannya, pengamalan terhadap al-Qur’an menjadi benar dan sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Demikianlah yang dilakukan oleh para pendahulu umat ini (salaful ummah).

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Para pendahulu umat ini (salaful ummah) berjalan di atas kewajiban ini, mereka mempelajari al-Qur’an lafadz dan maknanya. Karena itu, mereka lebih mudah mengamalkan al-Qur’an sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Sebab, tidak mungkin beramal dengan sesuatu yang tidak dipahami.

Abu Abdirrahman as-Sulami rahimahullah berkata, ‘Telah memberitakan kepada kami orang-orang yang mengajarkan al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dan selain keduanya bahwa mereka dahulu mempelajari sepuluh ayat al-Qur’an dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidaklah mereka melanjutkannya hingga memahami kandungan maknanya dari ilmu dan pengamalannya. Mereka pun mengatakan, kami mempelajari al-Qur’an, ilmu, dan pengamalannya secara sekaligus’.” (Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/21)

Mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an adalah amalan mulia. Dengannya, hati seseorang akan hidup. Sebaliknya, sikap enggan mengkaji dan memahami Kitab Suci al-Qur’an adalah perbuatan tercela. Karena itu, hati seseorang akan mati terkunci. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memerhatikan al-Quran ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla berfirman memerintahkan agar al-Qur’an ditadabburi dan dipahami, serta melarang dari sikap berpaling darinya.” (Tafsir Ibnu Katsir 7/320)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tidakkah orang-orang yang berpaling dari kitabullah mau merenungi dan memerhatikannya dengan saksama? Sungguh, jika mereka mau merenunginya. niscaya ia akan mengarahkan mereka kepada seluruh kebaikan dan memperingatkan mereka dari seluruh kejelekan. Kalbu mereka akan dipenuhi iman. Hati mereka pun akan dipenuhi keyakinan.

Al-Qur’an mengantar mereka kepada cita-cita yang mulia dan karunia yang tak terhingga; menjelaskan kepada mereka jalan yang mengantarkan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Jannah-Nya, serta hal-hal yang dapat menyempurnakan jalan tersebut dan merusaknya. Demikian pula jalan yang mengantarkan kepada azab-Nya dan bagaimana cara menghindarinya; mengenalkan kepada mereka Rabb mereka; nama-nama dan sifat-sifat- Nya serta kebaikan-Nya; memotivasi mereka untuk selalu merindukan pahala yang besar dan mewanti-wanti mereka dari azab yang pedih.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 788)[1]

Asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Allah ‘azza wa jalla mencela orang-orang yang enggan mentadabburi al-Qur’an, dan mengisyaratkan bahwa itu termasuk penguncian terhadap hati mereka dan tidak sampainya kebaikan kepadanya.” (Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/21)

Tak mengherankan apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya supaya mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Dengan begitu, predikat terbaik akan diraih. Dengannya pula berbagai kebaikan akan selalu mengiringi perjalanan hidup seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” ( HR. al-Bukhari no. 5027, dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

 

Jangan Salah Mengkaji, Memahami, dan Menafsirkan Al-Qur’an!

Mengkaji dan memahami al-Qur’an tak boleh asal-asalan. Kecerdasan atau kebersihan jiwa semata tak cukup untuk mengkaji dan memahaminya. Sebab, al-Qur’an adalah wahyu ilahi yang datang dari Allah Rabb Semesta Alam. Kedudukannya pun sangat sakral dalam agama ini.

Tak mengherankan apabila para pendahulu terbaik umat ini (as-salafush shalih) selalu berpegang dengan atsar (riwayat-riwayat) dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkannya. Tidak bermudah-mudahan menggunakan logika atau ijtihad, padahal mereka adalah orang-orang yang jenius. Tidak gegabah mengeluarkan gagasan jiwa, meski mereka adalah orang-orang yang dikaruniai kebersihan jiwa. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an haruslah dikaji, dipahami, dan ditafsirkan sesuai dengan yang dimaukan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara metode yang tepat dan benar dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkan al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat yang lainnya.

Sebab, Allah ‘azza wa jalla yang menurunkannya dan Dia ‘azza wa jalla lebih mengetahui maksudnya. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Yunus: 62)

Siapakah wali-wali Allah ‘azza wa jalla itu? Mereka adalah orang yang beriman dan selalu bertakwa sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang sesudahnya,

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 63)

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (as-Sunnah).

Sebab, beliau adalah utusan Allah ‘azza wa jalla yang bertugas menyampaikan segala yang datang dari Allah ‘azza wa jalla. Tentunya, beliaulah orang yang paling mengetahui kandungan makna Al-Qur’an. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Yang dimaksud dengan “tambahan” di sini adalah kenikmatan melihat wajah Allah ‘azza wa jalla sebagaimana keterangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahih Muslim no. 297—298 dari Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu dan hadits-hadits selainnya.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan perkataan para sahabat g terutama para ulama mereka yang mumpuni di bidang tafsir.

Sebab, al-Qur’an turun dengan bahasa mereka dan di masa mereka. Merekalah orang yang paling bersungguh-sungguh mencari kebenaran setelah para nabi, orang yang paling jauh dari kesesatan, dan paling bersih dari hal-hal yang menghalangi mereka dari kebenaran. Contohnya firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu sakit atau sedang bepergian atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan.” (an-Nisa’: 43)

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menafsirkan “menyentuh perempuan” dengan jima’.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan perkataan para tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu tafsir dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebab, mereka adalah orang terbaik umat ini setelah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih terselamatkan dari kesesatan daripada generasi sesudah mereka, dan bahasa Arab pun belum banyak berubah di masa mereka. Pemahaman mereka tentang al-Qur’an jauh lebih benar daripada generasi sesudah mereka.

 

  1. Mengkaji, memahami, dan menafsirkan ayat al-Qur’an dengan pengertiannya secara terminologi (istilah) atau etimologi (bahasa) yang sesuai dengan redaksinya.

(Diringkas dari Tafsir al-Qur’an, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/23-24)

Demikianlah lima tahapan penting dalam mengkaji, memahami, dan menafsirkan al-Qur’an. Barang siapa berpegang teguh dengannya niscaya akan terbimbing kepada kebenaran. Barang siapa tak mengindahkannya, niscaya akan terjauhkan dari kebenaran.

 

Menelisik Syarat-Syarat Penafsir

Tafsir ( التَّفْسِير ), secara etimologi berasal dari kata al-fasr ( الفَسْر ) yang bermakna; menyingkap dari sesuatu yang tertutup. Secara terminologi bermakna; penjelasan tentang kandungan makna al-Qur’anul Karim.[2] Orang yang menjelaskan kandungan makna al-Qur’anul Karim disebut mufassir ( المفَسِّر ) atau penafsir.

Mengingat betapa rawan dan bahayanya menafsirkan Al-Qur’an dengan logika atau ijtihad, maka para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah memberikan syarat-syarat yang ketat sebagaimana berikut.

  1. Berilmu tentang akidah as-Salaf dan tauhid dengan tiga jenisnya, agar tidak terkontaminasi dengan akidah kelompokkelompok sesat ketika menafsirkan semisal; Jahmiyah, Khawarij, Mu’tazilah, Qadariyah, Murji’ah, dan yang lainnya.
  2. Berilmu tentang al-Qur’an dan menghafalnya, agar memungkinkan baginya menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat yang lainnya atau mampu menempatkan al-mutasyabih pada tempatnya dan al-muhkam pada tempatnya. Lebih bagus lagi jika menguasai ilmu qiraat.
  3. Berilmu tentang as-Sunnah, sehingga ijtihadnya tentang tafsir ayat tertentu bersandarkan riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Berilmu tentang perkataan-perkataan sahabat, sehingga tafsirnya tidak berseberangan dengan tafsir mereka.
  5. Berilmu tentang peradaban bangsa Arab, agar dapat menempatkan sebuah ayat pada tempatnya.
  6. Menguasai bahasa Arab dan berbagai disiplin ilmu yang terkait dengannya seperti; nahwu, sharaf, ilmu al-ma’ani, dan balaghah. (Diringkas dari kitab Manahij al-Mufassirin karya asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh 1/15-16)

Asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata, “Tujuan dari semua ini adalah agar orang-orang yang mengira dirinya layak menafsirkan al-Qur’an padahal tidak layak, tidak gegabah menafsirkan dengan ijtihad dan istinbath sementara perangkat-perangkatnya belum dimiliki. Sebab, permasalahan tafsir itu berat.

Oleh karena itu, sekelompok as-Salaf mengharamkan tafsir dengan ijtihad. Mereka pun mengatakan, ‘Kami tidak menafsirkan al-Qur’an kecuali dengan apa yang dinukil dari para sahabat. Adapun setelah sahabat, maka tak seorang pun berhak menafsirkan al-Qur’an.’ Namun, ini pendapat sekelompok kecil dari tabi’in. (Manahij al-Mufassirin karya asy-Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh 1/17)

 

Sekelumit Tentang Sejarah Penyelewengan Tafsir

Sejarah telah mencatat bahwa Khawarij, kelompok sesat pertama dalam Islam tidaklah tersesat melainkan karena memahami dan menafsirkan al-Qur’an dengan logika mereka tanpa metode yang tepat dan benar. Mereka mengambil ayat-ayat yang berisi ancaman azab (wa’id) dan mengesampingkan ayat-ayat lainnya yang berisi rahmat dan ampunan Allah ‘azza wa jalla. Kemudian mereka mengembangkannya dengan logika hingga terjatuh ke dalam praktik takfir (pengkafiran) terhadap pelaku dosa besar di bawah dosa syirik. Kafir di dunia dan kekal abadi di neraka.

Sejarah pun mencatat, tatkala terjadi rekonsiliasi antara pihak Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Gubernur Syam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, pasca-Perang Shiffin, dengan kesepakatan mengembalikan amar putusan (bertahkim) kepada para juru pendamai (hakam), yaitu Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu dari pihak Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma, maka kaum Khawarij tanpa keraguan sedikit pun mengkafirkan kedua belah pihak dengan alasan “telah berhukum kepada manusia dan tidak berhukum kepada Allah ‘azza wa jalla”. Mereka berdalil dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengingatkan mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla memerintahkan agar mengutus juru pendamai dari pihak suami dan pihak istri manakala terjadi pertikaian antara keduanya, guna mendapatkan solusi yang terbaik. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu khawatirkan ada pertikaian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (an-Nisa’: 35)

Kalaulah mengutus dua juru pendamai untuk urusan rumah tangga diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla, lebih berhak lagi mengutus dua juru pendamai untuk urusan yang lebih besar, dalam hal ini berkaitan dengan darah dan kehormatan kaum muslimin. Beliau radhiallahu ‘anhuma juga membawakan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.” (al-Maidah: 95)

Kalaulah putusan harga (denda) hewan buruan tersebut diserahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada dua orang yang adil, tentunya boleh juga menyerahkan amar putusan kepada para juru pendamai terkait dengan kemaslahatan kaum muslimin yang jauh lebih besar. Kalaulah permasalahan hewan buruan tergolong penting untuk segera diselesaikan dengan dipercayakan kepada ahlinya, lebih-lebih lagi permasalahan yang berkaiatan dengan darah dan kehormatan kaum muslimin.[3]

Demikianlah di antara contoh kasus memahami dan menafsirkan al-Qur’an tanpa menggunakan metodologi yang tepat dan benar. Akibatnya, mereka terjatuh dalam takfir (pengkafiran) yang sesat dan menyesatkan. Bahkan, kesudahannya adalah mengkafirkan siapa saja yang bukan kelompoknya, serta menghalalkan darah dan hartanya.[4] Wallahul Musta’an.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi


[1] Beliau juga berkata, “Membaca al-Qur’an dengan penuh tadabbur lebih utama daripada membacanya dengan cepat (banyak) tanpa mentadabburinya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 712)

[2]Tafsir Al-Qur’an karya asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 1/20.

[3] Lihat Kitab al-Khashaish karya al-Imam an-Nasa’i hlm. 195, Talbis Iblis karya al-Imam Ibnul Jauzi hlm. 82, dan al-Ajwibah al-Atsariyyah ‘anil Masail al-Manhajiyyah karya asy-Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali hlm. 91-93.

[4] Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Kemudian mereka berpendapat bahwa siapa saja yang tidak berkeyakinan dengan aqidah mereka, maka ia kafir, halal darah, harta dan keluarganya.” (Fathul Bari, 12/297)

Mencari Tafsir yang Benar

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebagai produk intepretasi, tafsir niscaya akan beragam. Walaupun objek tafsirnya sama, namun keilmuan penafsir, serta pemikiran dan kultur yang memengaruhi, akan membedakan hasilnya.

Benar memang jika dikatakan bahwa al-Qur’an bagaikan permata, dipandang dari sudut mana pun akan tetap memancarkan cahaya. Namun, bukan berarti semua “sudut pandang” ini lantas dikatakan benar semua.

Objektivitas tetaplah dibutuhkan. Secara akal sehat, tafsir yang benar adalah tafsir yang penafsirnya tidak menaruh pemikirannya di dalamnya. Ketika tafsir sudah dirancukan oleh pemikiran penafsir atau menitikberatkan pada paham tertentu, produk tafsirnya jelas akan berkurang nilainya.

Tafsir yang dalam memahami kandungan ayat al-Qur’an lebih menitikberatkan pada ayat al-Qur’an dan riwayat hadits, tentunya akan lebih selamat. Karena tafsir sejatinya menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai sisi, baik konteks historisnya maupun sebab turunnya, dengan menggunakan penjelasan yang dapat menunjuk kepada makna yang dimaukan.

Sebagai hasil penalaran, kajian, dan ijtihad para mufassir (baca: manusia) yang terbatas, tafsir memang bisa saja salah. Para sahabat yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, memahami konteksnya, serta mengerti struktur bahasa dan makna kosa katanya, bisa berbeda pendapat dalam memahaminya, tentu kita yang ilmunya dangkal dan dipisahkan oleh rentang waktu yang panjang dari turunnya wahyu, sangat mungkin salah.

Oleh karena itu, seseorang yang mengaku ahli tafsir atau suka menafsirkan ayat tapi tidak paham ilmu bahasa Arab, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu ma’any, ilmu bayan, ilmu badi’, ilmu qiraah, asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, musthalah hadits, dan ilmu lain yang dipersyaratkan dimiliki oleh seorang mufassir, dijamin dia akan gegabah dalam menafsirkannya.

Maka menjadi aneh jika muncul metode-metode tafsir kontemporer seperti: hermeneutik, tematik, dan semiotik, yang tidak berpijak pada ilmu-ilmu tersebut, bahkan tidak menggunakan sumber penafsiran yang jelas: yakni al-Qur’an sendiri, hadits-hadits Nabi n yang berkaitan dengan topik penafsiran, riwayat para sahabat dan tabi’in, kaidah-kaidah bahasa Arab, pendapat salafush shalih, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan, produk tafsir macam apa yang dihasilkannya.

Wajar jika tafsir berlabel “kontekstualisasi” yang kuat bersentuhan dengan pemikiran Barat ini, tidaklah dianggap sama sekali. Di saat Rasulullah masih hidup, umat memang tidak menemukan kesulitan dalam memahami “petunjuk” karena mereka memiliki tempat untuk bertanya. Namun, sepeninggal Rasulullah n, umat Islam banyak menemukan kesulitan. Meskipun ada yang mengerti bahasa Arab al-Qur’an, namun dalam kenyataannya, tidak semua orang bisa dengan mudah memahami al-Qur’an.

Oleh sebab itu, mereka membutuhkan tafsir yang bisa membimbing dan mengantarkan mereka untuk memahami kandungan yang terpendam di dalamnya.

Maka dari itu, ulama tafsir memegang posisi yang sentral. Melalui produk tafsirnya, mereka banyak memberikan kemaslahatan bagi umat. Tinggal kita sebagai umat sekaligus masyarakat pembacanya, bisa memilih dan memilah produk tafsir yang benar dan selamat.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته