Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dia juga berfirman,

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Apa makna kedua ayat ini? Bagaimana menggabungkan keduanya, karena seakan-akan bertentangan?

 ContradictionPic

Jawab [1]:

Tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini, wahai saudaraku. Allah ‘azza wa jalla menerangkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita karena sebab perbuatan kita dan Dia menerangkan pula bahwa apa yang terjadi itu adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Ilmu Allah, ketetapan, dan kitabah-Nya (penulisan takdir di Lauh Mahfuzh sebagaimana yang diperintahkan kepada qalam/pena) telah mendahului segala sesuatu. Namun Allah ‘azza wa jalla mengaitkan perkara yang memudaratkan kita karena sebab maksiat-maksiat yang kita lakukan, walaupun semua itu juga sudah tertulis dan sudah ditakdirkan. Sebab, kita memiliki upaya, kita yang berbuat, dan kita sendiri yang memilih.

Segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya, sama saja apakah berupa ketaatan ataupun kemaksiatan. Namun, maksiat yang terjadi pada kita itu adalah usaha kita dan amalan kita, karenanya kita akan dihukum. Kita memiliki akal, keinginan, kemampuan, dan amalan. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dalam ayat yang lain,

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan/ulah dirimu sendiri.” (an-Nisa: 79)

Takdir dan amal usaha tidaklah saling bertentangan. Takdir itu telah terdahulu dan Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang ditetapkan-Nya. Perbuatan yang terjadi adalah amal usaha kita, seperti maksiat berupa zina, minum khamr, meninggalkan shalat, berbuat durhaka, dan memutus hubungan rahim. Semuanya kita yang berbuat, bukan siapa-siapa, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman karena sikap kita yang meremehkan. Kita sadar bahwa kita bisa memilih tanpa paksaan dalam berbuat, sehingga perbuatan yang ada pantas bila disandarkan kepada kita walaupun memang ilmu Allah ‘azza wa jalla, penulisan, dan ketetapan-Nya telah jauh mendahului.

Takdir tidak boleh menjadi alasan atas perbuatan tercela dan kemungkaran yang dilakukan seorang hamba. Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang telah lewat pada takdir-Nya, ilmu, dan kitabah-Nya. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan sikap kita yang menggampangkan berbuat dosa. Kita bisa disiksa karena perbuatan tersebut terkecuali bila Allah ‘azza wa jalla mengampuni.

Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui tidak adanya pertentangan antara kedua ayat yang ditanyakan. Yang satu menunjukkan bahwa amalan itu merupakan hasil usaha kita, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman bila perbuatan yang dilakukan bukan amalan yang salih. Semua itu adalah amalan kita dengan pilihan kita sendiri.

Ayat yang lain menunjukkan musibah yang terjadi itu telah terdahulu dalam ilmu Allah ‘azza wa jalla, kitabah, dan takdir-Nya. Ada hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,

“Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun dan arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Allah Yang Maha Memiliki hikmah lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui segala sesuatu, ilmu-Nya telah mendahului segala sesuatu, dan Dia telah mencatat segala sesuatu. Dalam satu ayat, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Penulisan takdir Allah ‘azza wa jalla telah terdahulu, ilmu-Nya pun telah terdahulu, demikian pula ketetapan-Nya. Amal kita dihitung untuk kita, disandarkan kepada kita, dicatat untuk kita, karena amal tersebut adalah hasil usaha kita, yang kita lakukan dengan pilihan kita, tanpa ada pemaksaan. Karena itu, perbuatan kita yang baik, berupa ketaatan, macam-macam kebaikan dan zikir, dibalas dengan balasan yang baik pula. Sebaliknya kita pantas mendapatkan hukuman atas amalan buruk yang kita lakukan, apakah berupa kedurhakaan, zina, mencuri, seluruh maksiat, dan perbuatan penyelisihan. Wallahul musta’an. (hlm. 128-130)


[1] Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Allah ‘azza wa jalla Menghalangi Antara Seseorang & Kalbunya

Apa makna firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan ketahuilah sesungguhnya Allah menghalangi antara seseorang dan kalbunya.” (al-Anfal: 24)

 Tirai

Jawab [1]:

Makna ayat ini sesuai dengan zahirnya. Allah ‘azza wa jalla berbuat apa saja terhadap hamba-hamba-Nya. Ada yang diberi taufik dan dilapangkan kalbunya untuk menerima keimanan dan diberi hidayah kepada Islam. Terkadang ada yang Allah ‘azza wa jalla jadikan rasa berat dalam kalbunya dan sulit menerima agama Allah ‘azza wa jalla, yang jelas menjadi penghalang baginya untuk menerima Islam.

Allah ‘azza wa jalla memang menghalangi antara seseorang dan kalbunya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberikan petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya kepada Islam. Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.” (al-An’am: 125)

Allah ‘azza wa jalla lah yang berbuat sekehendaknya terhadap hamba-hamba- Nya sebagaimana yang diinginkan-Nya. Ada yang dilapangkan kalbunya menerima iman dan petunjuk. Ada pula yang tidak mendapatkan taufik. (hlm. 131)


 

Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Semua Telah Ditakdirkan

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (al-Qamar: 49—50)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

“Segala sesuatu.”

Mayoritas qurra’ (ahli qiraah) membacanya dengan (كلَّ) yang di-fathah. Adapun Abu Sammal membacanya dengan marfu’/di-dhammah (كلَُ) sebagai mubtada. (Fathul Qadir karya asy-Syaukani, 5/171, Tafsir al-Qurthubi, 20/105)

“Menurut ukuran.”

Ibnu Athiyah berkata, “Yang dimaksud takdir sesuatu adalah membatasi sesuatu dengan tempat, waktu, ukuran, dengan kemaslahatan dan ketelitian.” (Adhwa’ul Bayan, asy-Syinqithi, 6/8)

“Seperti kejapan.”

Asal makna lamh adalah melihat dengan tergesa-gesa dan cepat. Dalam kamus ash-Shihah disebutkan, lamaha artinya melihat dengan pandangan yang ringan. (Tafsir al-Qurthubi)

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2656) dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Kaum musyrikin Quraisy datang untuk mendebat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah takdir. Turunlah firman-Nya:

Pada hari mereka diseret dalam neraka di atas muka mereka (dan dikatakan), “Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 48—49)

Tafsir Ayat

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang menetapkan adanya takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Ayat-ayat lain yang menetapkan adanya takdir adalah sebagai berikut.

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, kandungan rahim yang kurang sempurna, dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (ar-Ra’d: 8)

“Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la: 3)

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menetapkan adanya takdir Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, para imam Ahlus Sunnah berdalil dengan ayat ini untuk menetapkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang telah mendahului penciptaannya, yaitu ilmu Allah subhanahu wa ta’ala terhadap segala sesuatu sebelum terjadinya, dan bahwa segala sesuatu telah tertulis (di Lauhul Mahfuzh) sebelum Dia menciptakannya. Mereka menjadikan ayat ini dan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala semisalnya yang semakna dengannya serta hadits-hadits yang sahih sebagai bantahan terhadap kelompok Qadariyah yang muncul pertama kali pada masa-masa akhir sahabat g.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/268)

Al-Alusi rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Yaitu ditakdirkan dan ditulis Lauhul Mahfuzh sebelum terjadinya, takdir dengan makna yang masyhur, yaitu ketetapan. Memaknai ayat ini dengan pemahaman tersebut telah diriwayatkan dari banyak ulama salaf.” (Ruhul Ma’ani, 27/93)

Hal ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Zurarah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau membaca ayat ini:

“Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 48—49)

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَزَلَتْ فِي أُنَاسٍ مِنْ أُمَّتِي يَكُونُونِ فِي آخِرِ الزَّمَانِ يُكَذِّبُونَ بِقَدَرِ اللهِ

“(Ayat ini) turun tentang sebagian manusia dari kalangan umatku di akhir zaman yang mendustakan takdir Allah.” (HR. ath-Thabarani 5/276 dan Ibnu Abi Hatim sebagaimana yang disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, 4/268. Asy-Syaikh al-Albani mensahihkan hadits ini karena dikuatkan oleh beberapa jalur. Lihat ash-Shahihah 4/1539)

Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi berkata, “Tatkala manusia berbicara tentang takdir, aku pun memerhatikan bahwa ternyata ayat-ayat ini turun tentang mereka:

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. Pada hari mereka diseret dalam neraka di atas muka mereka (dan dikatakan), “Rasakanlah sentuhan api neraka. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (al-Qamar: 47—49)(Tafsir ath-Thabari 22/162)

Adapun makna firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.”
Kata-kata “kulla syai’in (segala sesuatu)” menunjukkan bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan semuanya merupakan ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala yang telah ditetapkan berdasarkan takdir.

Al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini mencakup seluruh makhluk dan jagat raya yang atas dan yang bawah. Allah subhanahu wa ta’ala sajalah yang menciptakannya. Tiada pencipta selain-Nya, dan tiada sekutu bagi-Nya dalam menciptakannya. Dia menciptakannya dengan ketetapan yang telah didahului oleh ilmu-Nya dan telah ditulis oleh pena takdir-Nya, berdasarkan waktu dan kadarnya, beserta seluruh sifatnya. Hal itu sangat mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Termasuk “segala sesuatu” yang telah menjadi ketetapan dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala adalah perbuatan-perbuatan manusia, yang baik dan yang buruk. Seorang yang beramal saleh telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk mengamalkannya. Demikian pula halnya dengan seseorang yang berbuat kekafiran, kemaksiatan, dan perbuatan dosa, juga telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada satu pun yang keluar dari ketetapan-Nya.

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Telah menjadi ketetapan Ahlus Sunnah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan segala sesuatu, yaitu: mengetahui takdirnya, keadaannya, dan zaman sebelum diwujudkannya. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mewujudkannya berdasarkan apa yang telah ditetapkan oleh ilmu-Nya bahwa Dia mewujudkannya. Dengan demikian, tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di alam atas dan bawah kecuali bersumber dari ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya, bukan kehendak makhluk-Nya. Makhluk tidak ikut campur padanya selain dalam hal usaha, upaya, dan penisbahan perbuatan kepadanya. Semua itu terjadi pada mereka dengan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, kekuasaan, taufik, dan ilham-Nya. Mahasuci Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia semata. Tiada pencipta selain Dia, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Bukan seperti anggapan kaum Qadariyah (pengingkar takdir) dan selainnya yang mengatakan, ‘Kamilah yang menciptakan amalan kami sendiri. Adapun ajal tidak berada dalam kekuasaan kami’.” (Tafsir al-Qurthubi)

Hal ini dikuatkan pula oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Kata مَا pada kalimat ada dua kemungkinan:

  1. مَا tersebut adalah mashdariyah, sehingga maknanya adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan kalian dan perbuatan kalian.
  2. مَا tersebut sebagai isim maushul yang bermakna , sehingga bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan kalian dan apa yang kalian buat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata setelah menyebutkan dua makna ini, “Kedua makna ini saling berkaitan, dan yang pertama lebih jelas.” Ini juga yang dikuatkan oleh al-Qurthubi. (Tafsir Ibnu Katsir,12/35—36, Tafsir al-Qurthubi,18/57—58)
Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini adalah mazhab Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan (hamba) adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala juga usaha dari hamba-hamba tersebut. Ini menunjukkan batilnya mazhab Qadariyah dan Jabariyah.” (Tafsir al-Qurthubi, 20/106)

Lalu beliau menyebutkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ اللهَ يَصْنَعُ كُلَّ صَانِعٍ وَصَنْعَتِهِ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan setiap pembuat dan buatannya.” (HR. al-Bukhari dalam Khalqu Af’al al-‘Ibad, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah, Ibnu Mandah dalam at-Tauhid, dan lainnya, dari hadits Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu. Lihat ash-Shahihah, 4/1637)

Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apakah penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”

Lalu beliau ditanya lagi, “Lalu bagaimana dengan amalan orang-orang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

كُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Setiap orang akan dimudahkan kepada sesuatu yang dia telah ditakdirkan untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزِ وَالْكَيْسِ –أَوْ: الْكَيْسِ وَالْعَجْزِ

“Segala sesuatu berdasarkan takdir, sampai pun kelemahan dan kecerdasan. –Atau kecerdasan dan kelemahan.” (HR. Muslim dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Diriwayatkan pula dari Ali radhiallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak seorang pun dari kalian dan tidak satu jiwa pun kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau neraka. Telah ditetapkan pula baginya kesengsaraan atau kebahagiaan.” Lalu ada seseorang bertanya, “Mengapa kami tidak cukup bersandar kepada kitab yang telah ditetapkan dan meninggalkan amalan? Siapa di antara kita yang telah ditetapkan menjadi orang yang bahagia maka dia akan menjadi orang yang berbahagia. Siapa di antara kita yang ditetapkan menjadi orang sengsara maka dia akan menjadi orang sengsara?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

“Orang yang bahagia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang yang berbahagia, sedangkan orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang yang sengsara.”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman-Nya:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5—10) (Muttafaqun ‘alaihi)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti satu kejapan mata.” (al-Qamar: 50)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata menjelaskan makna ayat ini, “(Ayat) ini mengabarkan tentang terlaksananya apa yang menjadi kehendak-Nya terhadap makhluk-Nya, sebagaimana Allah mengabarkan tentang terlaksananya kekuasaan-Nya. Dia berkata, ‘Tidaklah urusan Kami melainkan hanya sekali saja’, yaitu sesungguhnya kami memerintahkan sesuatu hanya sekali, tidak membutuhkan kali kedua untuk menegaskannya. Apa yang Kami perintahkan itu langsung terjadi seperti kejapan mata, tidak terlambat sekejap pun.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Dalam ayat yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya, ‘Jadilah,’ lalu jadilah dia.” (Ali Imran: 47)

Masih banyak lagi ayat yang semakna dengan ini. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 

Iman Kepada Takdir Tidak Meniadakan Ikhtiar

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengisahkan kala Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Syam. Ketika sampai di Sargh1, beliau ditemui oleh para amir kota-kota wilayah Syam2, Abu Ubaidah dan para sahabatnya3. Mereka mengabarkan bahwa wabah tha’un sedang melanda Syam.

Umar berkata, “Kumpulkan kepadaku sahabat muhajirin yang pertama!”4 Umar memberitahukan kepada mereka bahwa wabah tha’un telah berjangkit di Syam lalu meminta pendapat mereka. Ternyata sahabat Muhajirin berselisih pendapat.

Sebagian mereka berkata, “Engkau pergi untuk suatu urusan dan kami tidak sepakat jika engkau kembali.” Sebagian lain berkata, “Bersama engkau masih banyak rakyat dan para sahabat. Kami tidak sepakat jika engkau membawa mereka menuju wabah tha’un.”

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku. Tolong panggilkan sahabat-sahabat Anshar!” Aku pun memanggil mereka. Ketika dimintai pertimbangan, mereka juga bersikap dan berbeda pendapat seperti halnya orang-orang Muhajirin.

Umar berkata, “Tinggalkanlah aku!” Lalu ia berkata, “Panggilkan sesepuh Quraisy yang dahulu hijrah pada waktu penaklukan (Fathu Makkah) dan sekarang berada di sini!” Aku pun memanggil mereka. Mereka ternyata tidak berselisih. Mereka semua berkata, “Menurut kami, sebaiknya engkau kembali bersama orang-orang dan tidak mengajak mereka mendatangi wabah ini.”

(Setelah mendengar berbagai pendapat –pen.) Umar berseru di tengah-tengah manusia (berijtihad memutuskan apa yang beliau anggap mendekati kebenaran –pen.), “Sungguh aku akan mengendarai tungganganku untuk pulang esok pagi. Hendaknya kalian mengikuti!”

Abu Ubaidah bin Jarrah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apakah untuk menghindari takdir Allah?”

Umar menjawab, “Kalau saja bukan engkau yang mengatakan itu, wahai Abu Ubaidah (tentu aku tidak akan heran –pen.). Ya, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Apa pendapatmu seandainya engkau mempunyai seekor unta yang turun di sebuah lembah yang memiliki dua lereng, salah satunya subur dan yang kedua tandus. Jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, bukankah engkau menggembalakannya dengan takdir Allah? Begitu pun sebaliknya. Kalau engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, bukankah engkau menggembalakannya juga dengan takdir Allah?” (Demikian pula, apa yang kita putuskan tidak lepas dari takdir Allah, sebagaimana yang dilakukan penggembala yang mengarahkan kambingnya dari tanah yang tandus menuju tanah yang subur tidak lepas dari takdir Allah –pen.)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tiba-tiba datanglah Abdurrahman bin ‘Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena keperluannya. Ia berkata, ‘Sungguh aku memiki ilmu tentang masalah ini. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَاراً مِنْهُ

‘Jika engkau mendengar wabah tha’un di sebuah negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan seandainya wabah tha’un terjadi di negeri yang engkau tinggali, janganlah engkau meninggalkan negerimu karena lari dari tha’un’.”
Ibnu Abbas berkata, “(Begitu mendengar hadits tersebut), Umar memuji Allah lalu meninggalkan majelis.”

Takhrij Hadits

Riwayat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikeluarkan al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab ath-Thib (Pengobatan), “Bab Tentang Penyakit Tha’un” (10/178 no. 5729 dengan Fathul Bari). Lihat pula no. 5730 dan 6973.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, Kitab As-Salam (4/1740 no. 2219), Abu Dawud dalam as-Sunan, Kitab Jenazah, “Bab Keluar dari Penyakit Tha’un” (no. 3103), al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/194), Malik dalam al-Muwaththa’, dan Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra.

Penjelasan Hadits

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan kepada kita perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menuju Syam bersama rombongan sahabat di masa kekhilafahan beliau.

Badruddin Mahmud bin Ahmad al-‘Aini (wafat 855 H) rahimahullah berkata, “Perjalanan tersebut terjadi pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 18 H. Adapun Khalifah bin Khayyath (wafat 240 H) menyebutkan bahwa keluarnya Umar menuju Syam kali itu terjadi di tahun 17 H untuk melihat keadaan rakyat dan para gubernur. Sebelumnya, di tahun 16 H, Umar juga pernah pergi ke Syam, yaitu ketika Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu mengepung Baitul Maqdis (hingga dikuasai oleh kaum muslimin). Penduduk Baitul Maqdis menginginkan sulh (perjanjian damai) dilakukan oleh Umar sendiri. Oleh karena itu, pergilah beliau (menuju Syam) untuk tujuan tersebut. (Umdatul Qari, 21/283)5

Di tengah perjalanan, datang berita bahwa tha’un tengah melanda Syam. Umar bin al-Khaththab zdan para sahabat bermusyawarah merumuskan kebijakan menyikapi berita tersebut. Terjadi perbedaan pandangan di antara sahabat. Masing-masing memiliki ijtihad, apakah tetap melanjutkan perjalanan masuk ke Syam atau kembali ke Madinah. Dari musyawarah yang cukup panjang dan dengan segenap pertimbangan, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berijtihad memutuskan kembali ke Madinah bersama sahabat. Beliau radhiallahu ‘anhu merajihkan pendapat kebanyakan sahabat yang ternyata mencocoki sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu.

Saudaraku, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati Anda. Tha’un adalah penyakit yang mewabah secara merata, menimpa wilayah tertentu, dengan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Tha’un memakan korban yang sangat banyak.

Tha’un yang terjadi di zaman Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, yang dikisahkan dalam riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu terkenal sebagai tha’un ‘Amwas, nama sebuah kota di wilayah Palestina yang berjarak lebih kurang enam mil dari kota Ramallah.6

Menurut pendapat jumhur, Tha’un ‘Amwas terjadi pada tahun 18 H. Akibat wabah tersebut, sekitar 25 hingga 30 ribu muslimin meninggal. Termasuk di antara mereka adalah sahabat Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu, salah seorang dari sepuluh sahabat yang mendapat jaminan jannah (masuk surga) dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tha’un ‘Amwas termasuk salah satu tanda kiamat yang telah dikabarkan sebelumnya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

اعْدَدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ: مَوْتِي، ثُمَّ فَتْحَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ مَوْتَانِ يَأْخُذُ فِيْكُمْ كَقُعَاصِ الْغَنَمِ …

“Nantikan enam perkara sebelum hari kiamat: Kematianku, kemudian ditaklukkannya Baitul Maqdis, lalu kematian besar menimpa kalian seperti penyakit Qu’ash7 pada kambing ….” (HR. al-Bukhari dalam ash-Shahih, Kitab Jizyah, no. 3176 dari Auf bin Malik radhiallahu ‘anhu)8

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Tanda kiamat yang disebut dalam hadits ini terwujud pada Tha’un ‘Amwas di masa kekhilafahan Umar, sesudah direbutnya Baitul Maqdis.” (Fathul Bari 6/278)

Iman Kepada Takdir, Pokok Keimanan

Kisah perjalanan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu kita fokuskan dalam pembahasan ini untuk menunjukkan bagaimana sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beriman kepada takdir. Mereka memahami bahwa iman kepada takdir tidak bermakna putus asa dan lari dari usaha.

Perhatikan kisah di atas. Ketika Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu bertanya kepada Umar, “Apakah engkau akan lari dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala dengan kembali ke Madinah?” Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menjawab dengan sebuah permisalan yang indah tentang seorang penggembala yang selalu berusaha mencari tempat yang paling banyak rumputnya untuk hewan gembalaannya. Jika ia dapatkan dua lahan, yang satu gersang dan yang lain subur, tentu ia akan mengarahkan unta atau kambingnya menuju lahan yang subur. Semua itu tidak luput dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Iman kepada takdir adalah salah satu pokok keimanan yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an, as-Sunnah, dan kesepakatan kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan qadar.” (al-Qamar: 49)

Hakikat iman kepada takdir adalah mengimani ilmu Allah subhanahu wa ta’ala yang Mahasempurna. Ilmu Allah subhanahu wa ta’ala meliputi segala sesuatu: yang belum terjadi, yang sedang terjadi, yang telah terjadi, dan yang tidak terjadi. Seandainya sesuatu yang tidak terjadi itu terjadi, Allah Mahatahu bagaimana terjadinya. Dengarlah firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang penduduk neraka yang kekal di dalamnya ketika mengharapkan kembali ke alam dunia. Allah Mahatahu apa yang akan mereka lakukan seandainya dikembalikan ke dunia:

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Rabb kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi, (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (al-An’am: 27—28)

Demikianlah ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada sedikit pun yang luput dari ilmu-Nya. Berdasarkan ilmu yang sempurna itu, Allah subhanahu wa ta’ala menulis segala sesuatu yang akan terjadi di Lauhul Mahfuzh, 50 ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Dia ciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim, Kitab al-Qadar, no. 2653 dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma)

Apa yang telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh terjadi dengan rinci, satu per satu. Semua dengan penciptaan dari Allah subhanahu wa ta’ala dan di bawah kehendak-Nya. Tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu Akbar.

Tidak Beriman, Orang yang Mengingkari Takdir

Pengingkar takdir bukanlah golongan orang yang beriman. Amalan mereka sia-sia dan tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, ketika sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mendengar berita munculnya Qadariyah—yaitu kaum yang mengingkari takdir, yang ditokohi oleh Ma’bad al-Juhani—di Bashrah, dengan tegas Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ، مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Jika engkau berjumpa dengan mereka (Qadariyah), kabarkanlah bahwasanya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu diinfakkan, sungguh Allah tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir.”

Di atas keyakinan inilah para sahabat berpijak. Di atas akidah inilah salafus shalih bersandar. Al-Imam Ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan kisah Ibnu Dailami rahimahullah saat ia mengadukan kegelisahan hatinya mengenai takdir kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum hingga mendapatkan jawaban yang sangat menyejukkan.

Ibnu Dailami rahimahullah berkata, “Ada sesuatu yang tidak baik dalam diriku tentang takdir. Aku sangat khawatir hal ini merusak agama dan urusanku. Aku pun datang kepada Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu dan bertanya, ‘Wahai Abul Mundzir, sungguh dalam diriku ada bisikan yang kurang baik tentang takdir. Aku mengkhawatirkan agamaku dan urusanku. Nasihati aku tentang hal itu, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan manfaat kepadaku dengannya.’

Ubai radhiallahu ‘anhu berkata, ‘(Wahai Ibnu Dailami, janganlah engkau bimbang dengan takdir). Seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit dan bumi-Nya, sungguh Ia tidak menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah subhanahu wa ta’ala merahmati mereka (memasukkan mereka ke dalam jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka.9 Seandainya engkau memiliki emas sejumlah Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir. Hingga engkau yakin bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan menimpamu. Sungguh, seandainya engkau mati dalam keadaan tidak beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka. (Wahai Ibnu Dailami), kalau engkau mau, pergilah kepada saudaraku, Abdullah bin Mas’ud dan bertanyalah.’

Aku pun mendatangi Ibnu Mas’ud dan bertanya kepadanya. Ternyata, ia menjawab seperti jawaban Ubai. Lalu Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Coba engkau datangi Hudzaifah!’

Aku pun mendatangi beliau. Aku tanyakan masalahku. Beliau menjawab seperti jawaban Ibnu Mas’ud. Kemudian Hudzaifah berkata, ‘Cobalah engkau datangi Zaid bin Tsabit, tanyakan kepadanya!’

Aku pun bertanya kepada Zaid, lalu beliau berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ اللهَ عَذَّبَ أَهْلَ سَمَوَاتِهِ وَأَهْلَ أَرْضِهِ لَعَذَّبَهُمْ وَهُوَ غَيْرُ ظَالِمٍ لَهُمْ، وَلَوْ رَحِمَهُمْ لَكَانَتْ رَحْمَتُهُ خَيْرًا لَهُمْ مِنْ أَعْمَالِهِمْ. وَلَوْ كَانَ لَكَ مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا أَوْ مِثْلُ جَبَلِ أُحُدٍ تُنْفِقُهُ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا قَبِلَهُ مِنْكَ حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ كُلِّهِ. فَتَعَلَّمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ. وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ. وَأَنَّكَ إِنْ مُتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Sungguh, seandainya Allah mengazab penduduk langit-langit-Nya dan bumi-Nya sungguh Dia mengazab tanpa menzalimi hamba-Nya. Demikian pula, seandainya Allah merahmati mereka (memasukkan mereka ke jannah-Nya), sungguh rahmat-Nya melebihi amalan-amalan mereka. Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud yang engkau infakkan fi sabilillah, amalanmu tidak akan diterima hingga engkau beriman kepada takdir seluruhnya dan engkau meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpamu tidak akan meleset darimu, apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan mengenaimu. Sungguh, seandainya engkau mati tanpa beriman kepada takdir, engkau akan masuk ke dalam neraka.” (Muqaddimah Sunan Ibnu Majah, Bab al-Qadar, no. 77, disahihkan oleh al-Albani rahimahullah)

Renungilah jawaban para sahabat yang mulia saat Ibnu Dailami bertanya tentang takdir! Semua memiliki keyakinan yang sama tentang takdir. Sebuah keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara hadits yang menunjukkan takdir Allah subhanahu wa ta’ala adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (air mani), kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama waktu itu juga, kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging) selama itu juga. Setelah itu, diutuslah seorang malaikat kepadanya, kemudian meniupkan ruh kepadanya. Malaikat itu diperintahkan menulis empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celaka atau keberuntungannya. Demi Allah, Dzat yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya, sesungguhnya ada di antara kalian yang melakukan amalan penduduk surga hingga antara dirinya dan surga tinggal sejarak satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk neraka sehingga masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya, ada seseorang di antara kalian yang melakukan amalan penduduk neraka, dan amal itu mendekatkannya ke neraka sehingga jarak antara dia dan neraka hanya kurang satu hasta. Namun, karena takdir yang telah ditetapkan atas dirinya, dia melakukan amalan penduduk surga sehingga dia masuk ke dalamnya.”

Iman kepada Takdir Tidak Bermakna Mengabaikan Ikhtiar

Takdir bukan maknanya seseorang malas menempuh usaha. Ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan pokok yang agung ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ، فَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ.

Bersemangatlah kamu menempuh apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan sekali-kali kamu malas. Jika sesuatu menimpamu, janganlah kamu katakan, “Seandainya dahulu aku lakukan ini dan itu, niscaya akan demikian dan demikian.” Namun, katakanlah, “Ini adalah takdir Allah, apa yang Ia kehendaki pasti terjadi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing umatnya untuk bersemangat berikhtiar, menempuh usaha yang bermanfaat dalam urusan dunia dan agama. Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk berusaha, beliau gabungkan dengan iman kepada takdir. Ini menunjukkan bahwa iman kepada takdir tidak bertentangan dengan usaha.

Benar, penduduk jannah (surga) telah ditetapkan, tidak akan meleset dari apa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Demikian pula, penduduk neraka telah Dia tentukan, dan pasti mereka akan memasukinya. Namun, bersamaan dengan itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kita untuk beramal. Sungguh, seorang yang jujur dalam beramal akan Dia mudahkan jalan menuju jannah-Nya. Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaadil, tidak menzalimi hamba-Nya. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata:

Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menggores-gores tanah, ketika beliau mengangkat wajah ke langit lalu bersabda, “Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah diketahui—dalam riwayat Waki’: telah ditentukan—tempatnya di neraka dan tempatnya di Jannah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah berarti kita bersandar saja (dengan takdir dan tidak beramal)?” Rasulullah bersabda, “Tidak, beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan untuknya.”10

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (al-Lail: 5—10)

Mengapa Manusia Membedakan Urusan Dunia dan Akhirat?
Orang-orang yang malas beribadah, saat diingatkan tentang surga dan neraka, dengan enteng mengatakan, “Bukankah surga dan neraka sudah ditakdirkan? Apalah artinya beramal? Toh, seandainya aku beramal saleh tetapi neraka telah ditakdirkan untukku, akan sia-sia semua amalan. Sebaliknya, kalau aku malas beribadah namun surga telah ditakdirkan untukku, niscaya surga tidak akan lari dariku”

Saudaraku, ungkapan di atas sesungguhnya bisikan dan was-was setan. Dalam urusan akhirat, manusia dibujuk untuk meninggalkan amalan dan bersandar kepada takdir. Namun, dalam urusan dunia, setan terus mengembuskan syahwat dunia sehingga seorang berambisi terhadapnya dan melupakan negeri akhirat. Siang malam keringat diperas, semua kekuatan dicurahkan untuk mengais emas dan perak.

Sungguh sangat mengherankan! Dalam urusan akhirat, mereka meninggalkan ikhtiar. Namun, dalam urusan dunia, mereka sadar bahwa duduk di rumah dan bersandar kepada takdir tanpa usaha adalah bentuk kebodohan.
Dua sikap yang bertolak belakang ini sungguh mengherankan. Seharusnya manusia tidak membedakan urusan dunia dan akhirat dalam hal beriman terhadap takdir dan menempuh usaha. Sebagaimana ia berusaha mendapatkan rezeki di dunia, yang semuanya telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula seharusnya ia berusaha menempuh amalan yang menyelamatkan dirinya dari neraka dan melakukan amalan saleh demi kebahagiaannya di akhirat, yang semua itu juga telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa Faedah Riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma

Perjalanan Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, menyimpan banyak faedah dalam masalah akidah, ushul fiqih, hukum-hukum, dan adab. Berikut ini di antaranya.

  1. Seorang pemimpin hendaknya keluar untuk melihat sendiri keadaan rakyatnya.
  2. Perjalanan Umar radhiallahu ‘anhu adalah teladan dalam ketawadhuan. Beliau termasuk al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, beliau telah dijamin sebagai ahlul jannah. Namun, kemuliaan itu tidak menghalangi beliau untuk keluar melihat keadaan rakyatnya. Demikianlah seharusnya seorang pemimpin.
  3. Ketika pemimpin melihat sendiri keadaan rakyatnya, hal ini akan membuat takut musuh Allah subhanahu wa ta’ala dan ahlul fasad (pembuat kerusakan) sehingga mereka segera menghentikan kezaliman.
  4. Berkumpul dengan ulama, sebagaimana amir-amir Syam menjumpai Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu.
  5. Pentingnya musyawarah untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, sebagaimana hal ini diperintahkan oleh Al-Qur’an dan dicontohkan oleh Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  6. Mendahulukan ahlul fadhl (orang-orang yang memiliki keutamaan dalam hal ilmu dan amal) dalam bermusyawarah.
  7. Menempatkan manusia sesuai kedudukan mereka. Kaum Muhajirin lebih mulia daripada kaum Anshar, dan kaum Anshar lebih mulia daripada sahabat yang baru masuk Islam ketika Fathu Makkah.
  8. Disyariatkan munazharah (diskusi ilmiah), sebagaimana yang terjadi antara Umar radhiallahu ‘anhu dan Abu Ubaidah Amir bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu. Melalui diskusi yang penuh adab, akan teranglah perkara yang samar dan tampaklah kebenaran.
  9. Adanya tarjih (menguatkan satu pendapat dari beberapa pendapat yang diperselisihkan, dengan memerhatikan faktor-faktor penguat yang mengitarinya).
    Dalam kisah ini, Umar radhiallahu ‘anhu memilih pendapat kembali ke Madinah, karena pendapat ini disepakati sesepuh Quraisy yang tentu memiliki banyak pengalaman sebagai orang tua, di samping pendapat ini adalah pendapat mayoritas Muhajirin dan Anshar.
  10. Hadits di atas menunjukkan kefaqihan dan keutamaan Umar radhiallahu ‘anhu dalam hal ilmu.

Hal ini dilihat dari sisi bahwa ijtihad beliau sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu setelah berjalannya musyawarah.

  1. Imam (khalifah) memutuskan perselisihan di kalangan umat dalam masalah ijtihadiah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu memutuskan untuk kembali ke Madinah setelah adanya perbedaan pendapat dan memerintahkan rakyatnya mengikuti beliau.11
  2. Khilaf (perbedaan pendapat) dalam masalah ijtihadiah tidak menyebabkan terputusnya hubungan (boikot) atau saling mencela dan mengeluarkan pihak yang lain dari lingkaran Ahlus Sunnah, sebagaimana fenomena menyedihkan ini terjadi di sekitar kita. Allahul musta’an.
  3. Di antara sebab terjadinya khilaf di antara ulama adalah tidak sampainya dalil sehingga ulama terpaksa untuk berijtihad.
  4. Bolehnya ijtihad di saat safar atau peperangan.
  5. Boleh jadi suatu ilmu tidak diketahui oleh seorang yang alim.

Lihatlah Umar beserta sahabat Muhajirin dan Anshar. Mereka tidak mendengar hadits yang didengar oleh Abdurrahman ibnu Auf radhiallahu ‘anhu.

  1. Tetap mengambil ilmu meskipun dari orang yang lebih muda atau lebih rendah tingkat keilmuannya.
  2. Hadits ahad adalah hujjah dan wajib diamalkan.

Dalam kisah di atas, seluruh sahabat—yang tidak diragukan adalah ahlul halli wal ‘aqdi—bersepakat menerima berita Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, padahal beliau meriwayatkan hadits di atas seorang diri. Ini sekaligus bantahan terhadap Mu’tazilah dan sejalan dengan mereka dari kalangan para pengingkar hadits ahad.12

  1. Dipakainya qiyas dalam pengambilan hukum. Tentu saja dengan syarat-syaratnya, di antaranya tidak adanya nash.

Dalam kisah ini Umar mengiaskan masalah yang sedang dihadapi dengan seorang penggembala di hadapan dua lembah, yang satu gersang dan yang lain subur.
19. Semangat untuk kembali kepada al-haq (kebenaran) ketika terjadi perselisihan.

Jika ada nash, tidak ada lagi ijtihad, siapa pun orangnya. Jika telah datang dalil, yang ada hanyalah berserah diri kepada dalil tersebut.

  1. Al-Qur’an dan hadits adalah ilmu.

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu, “Aku memiliki ilmu.” Yang beliau maksud adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Menyampaikan ilmu ketika safar.
  2. Hadits ini juga menunjukkan sebuah masalah penting yang diyakini oleh para sahabat dan generasi salaf, yaitu beriman kepada takdir.
  3. Tidak ada sesuatu yang keluar dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Masuk ke Syam atau tidak, semuanya dengan takdir.
  4. Iman kepada takdir tidak meniadakan usaha, sebagaimana halnya Umar memilih kembali ke Madinah, seperti penggembala unta berusaha menggiring untanya menuju lembah yang subur.
  5. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidaklah ma’shum (terbebas dari kesalahan). Ketika berijtihad, mereka terkadang sesuai dengan al-haq, terkadang pula menyelisihinya.
  6. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui urusan gaib.

Umar bin al-Khaththab, sahabat Muhajirin, dan sahabat Anshar radhiallahu ‘anhum, tidak mengetahui terjadinya tha’un ‘Amwas. Demikian pula, mereka tidak mengetahui ilmu yang diketahui oleh Abdurrahman bin ‘Auf sehingga mereka pun harus berijtihad.

  1. Wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala selalu terikat dengan syariat: Al-Kitab dan as-Sunnah.

Lihatlah tiga orang yang dijamin masuk surga,: Umar bin al-Khaththab, Abu Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah, dan Abdurrahman bin ‘Auf, yang disebut namanya dalam hadits ini. Semuanya tunduk kepada hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, demikian pula kaum Muhajirin dan Anshar yang juga merupakan wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

  1. Terjadinya Tha’un ‘Amwas di masa Umar bin al-Khaththab adalah salah satu tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Tidak memasuki negeri yang terjadi wabah tha’un di sana.
  3. Orang yang berada di dalam negeri yang terjadi tha’un padanya tidak boleh keluar karena lari dari tha’un.
  4. Mafhum dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika seorang keluar bukan karena lari dari tha’un, hal ini diperbolehkan.
  5. Menjauhkan diri dari sebab-sebab kebinasaan dan menempuh sebab-sebab keselamatan.
    33. Berbahagia dengan nikmat ilmu dan memuji Allah subhanahu wa ta’ala atas nikmat tersebut.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Catatan Kaki:

1 Sargh adalah daerah di pinggiran Syam, di wadi (lembah) Tabuk.

2 Kota-kota Syam adalah Palestina, Jordania, Himsh, Damaskus, dan Qansirin.

3 Yakni Khalid bin al-Walid, Yazid bin Abi Sufyan, Syarahil bin Hasanah, dan Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhum.

4 Sahabat Muhajirin yang pertama adalah mereka yang shalat menghadap dua kiblat, Baitul Maqdis dan Ka’bah.

5 Jumhur ahli sejarah menyebutkan bahwa tahun dibukanya Baitul Maqdis dan kehadiran Umar untuk melakukan sulh adalah tahun 17 H.

6 Lihat Mu’jam al-Buldan (4/157).

7 Qu’ash adalah penyakit yang menimpa hewan, menyebabkan cairan mengalir dari hidung hewan tersebut dan mengakibatkannya mati mendadak. Lihat an-Nihayah (4/88) dan Fathul Bari (6/278).

8 ‘Auf radhiallahu ‘anhu berkata, “Ketika perang Tabuk, aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tenda yang terbuat dari kulit. Beliau bersabda, ‘Nantikan enam perkara….’ dst.”

9 Maksudnya, janganlah engkau bimbang dengan takdir. Penduduk neraka sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, demikian pula penduduk jannah. Semua manusia telah Dia takdirkan tempatnya di surga atau neraka. Hendaknya keimananmu kepada takdir tidak membawamu su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala tidak menzalimi hamba-Nya.

10 HR. at-Tirmidzi no. 2219 dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan sahih.”

11 Penentuan hilal Ramadhan dan Syawal, misalnya. Hendaknya masyarakat mengikuti keputusan waliyul amr (pemerintah), sehingga persatuan muslimin lebih terwujud dan kokoh, tidak terjadi pertikaian yang menyebabkan kelemahan di tubuh muslimin.

12 Lihat kembali pembahasan “Agungkan Sunnah, Penuhi Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, Majalah Asy Syariah Vol. VI/no. 63/1431 H/2010.

 

Menjawab Kejanggalan

  1. Alasan kaum musyrikin

Bagaimana memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Rabbmu, tidak ada Ilah selain Dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka.” (al-An’am: 106—107)

Dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa kesyirikan yang diperbuat kaum musyrikin, terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah subhanahu wa ta’ala.

Akan tetapi, dalam ayat yang lain, Allah mencela kaum musyrikin yang beralasan dengan kehendak Allah atas perbuatan syirik mereka. Allah berfirman:

“Orang-orang yang menyekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan-Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu pun.” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Adakah kalian mempunyai suatu pengetahuan sehingga kalian dapat mengemukakannya kepada Kami?” Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanyalah berdusta.” (al-An’am: 148)

Jawaban:
Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam ayat ini, kesyirikan mereka terjadi dengan masyi’ah (kehendak) Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk hiburan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sebagai pembelaan atau pembenaran atas kesyirikan mereka. Sangat berbeda dengan alasan kaum musyirikin, “Kami melakukannya (kesyirikan) dengan masyi’ah (kehendak) Allah.”

Dengan alasan semacam ini, kaum musyrikin ingin menghindari celaan. Selain itu, alasan ini juga merupakan bentuk pembenaran atas kesyirikan yang terus-menerus mereka perbuat. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menolak alasan mereka. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menafikan bahwa kesyirikan itu terjadi atas masyi’ah (kehendak)-Nya. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

  1. Hadits Adam dan Musa ‘alaihissalam

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6614) dan Muslim (no. 2652) dari sahabat Abu Hurairah z menjelaskan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalam dan Nabi Musa ‘alaihissalam berdialog.

Nabi Musa berkata, “Wahai Adam, engkau adalah ayah kami. Engkau membuat kami rugi dan menyebabkan kami keluar dari al-Jannah (surga).” Nabi Adam ‘alaihissalam menjawab, “Engkau, wahai Musa, Allah subhanahu wa ta’ala memilihmu menjadi rasul secara langsung dengan Kalam-Nya, Dia menuliskan Taurat untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau ingin mencela diriku disebabkan sesuatu yang telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala untukku, empat puluh tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakanku?” Nabi Adam ‘alaihissalam pun mengalahkan Nabi Musa ‘alaihissalam.

Jawaban:
Untuk memahami hadits di atas dengan benar, diperlukan dua keterangan.
1. Nabi Adam ‘alaihissalam beralasan dengan takdir untuk sebuah musibah yang telah terjadi.

Musibah itu adalah dikeluarkannya beliau dan istrinya dari al-Jannah. Nabi Musa ‘alaihissalam juga tidak bertujuan mencela Nabi Adam ‘alaihissalam karena maksiat yang Nabi Adam ‘alaihissalam telah bertaubat darinya. Dengan taubat itu, Allah subhanahu wa ta’ala memilihnya, memberikan taubat dan hidayah untuknya. Sangat jauh kemungkinannya Nabi Musa ‘alaihissalam mencela dan menyalahkan ayahnya, Nabi Adam ‘alaihissalam, karena maksiat yang diperbuat.

Akan tetapi, Nabi Musa ‘alaihissalam bermaksud membicarakan tentang musibah yang terjadi pada diri Nabi Adam ‘alaihissalam dan anak keturunannya, yaitu dikeluarkannya dari al-Jannah, yang telah ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebab adanya maksiat. Maka dari itu, Nabi Adam ‘alaihissalam pun mengemukakan alasan “takdir”. Jadi, hal ini masuk dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas musibah”, bukan dalam pembahasan “beralasan dengan takdir atas maksiat”.

Ini mirip dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah, dan janganlah merasa lemah. Jika ada sesuatu yang menimpa dirimu, jangan katakan, ‘Andaikata saya melakukan begini, tentu akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Allah subhanahu wa ta’ala telah menakdirkan, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki pasti Allah subhanahu wa ta’ala lakukan.’ Sebab, kata-kata ‘andaikata’ akan membuka amalan setan.” (HR. Muslim no. 2664)

Dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membimbing kita untuk mengembalikan segenap urusan kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala saat tujuan gagal tercapai, setelah berusaha melakukan sebab-sebab terwujudnya.

Sama kejadiannya dengan seseorang yang melakukan sebuah perjalanan jauh. Di tengah perjalanan ia mengalami musibah kecelakaan. Ketika ia ditanya, “Mengapa kamu melakukan perjalanan jauh?” Kemudian ia menjawab, “Ini sesuatu yang telah ditakdirkan. Sesuatu yang telah ditakdirkan, tidak dapat dihindari.”

Pada jawaban di atas, orang tersebut tidak beralasan dengan takdir pada perjalanan jauh yang ia tempuh. Sebab, tidak ada yang memaksanya untuk melakukan perjalanan jauh. Ia juga melakukan perjalanan jauh tidak bertujuan agar mendapat musibah kecelakaan. Akan tetapi, ia beralasan dengan takdir atas musibah kecelakaan yang menimpanya saat melakukan perjalanan jauh.

  1. Beralasan dengan takdir pada kewajiban yang ditinggalkan atau keharaman yang diperbuat, setelah bertaubat, boleh hukumnya dan bisa diterima.
    Akibat perbuatan tersebut telah terhapus dengan taubat. Oleh karena itu, terhapus juga sisi celaan yang disebabkan oleh pelanggaran. Maka dari itu, tidak ada lagi alasan yang tersisa selain semata-mata takdir. Ia tidak beralasan dengan takdir untuk terus dan tetap meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan. Namun, ia mengembalikannya (kesalahan yang diperbuat sebelum bertaubat) kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang pasti terjadi.

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnul Utsaimin, hlm. 109—112)

 Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Takdir untuk Alasan Bermaksiat?

Pernyataan: Saya melakukan perbuatan ini (maksiat/pelanggaran syariat) adalah takdir dari Allah!

Jawaban: Beralasan dengan takdir dalam melanggar hukum Allah subhanahu wa ta’ala, tidak dapat dibenarkan. Mengapa? Ada beberapa alasan.

  1. Tidak sesuai dengan Al-Qur’an.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Orang-orang yang mempersekutukan Allah akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” (al-An’am: 148)

Allah subhanahu wa ta’ala menolak alasan mereka dengan berfirman:

Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Apakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa menyampaikannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” (al-An’am: 148)

Dalam ayat lain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa’: 165)

Ayat di atas menjelaskan bahwa hujjah telah ditegakkan dengan diutusnya para rasul untuk umat manusia. Telah tertutup alasan bagi mereka selain itu. Andai saja takdir dapat diterima sebagai alasan, maka tidaklah bermanfaat pengutusan para rasul.

  1. Tidak sesuai dengan as-Sunnah.

Pada sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ؟ قَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ. ثُمَّ قَرَأَ

“Tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan telah ditulis untuknya tempat di neraka atau tempat di surga.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita menggantungkan diri pada catatan tersebut dan tidak perlu kita beramal?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan (pada jalan) yang menjadi tujuan penciptaannya. Jika ia termasuk golongan yang beruntung, Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya untuk melakukan amalan golongan yang beruntung. Jika ia termasuk golongan yang celaka, Allah subhanahu wa ta’ala akan memudahkan baginya untuk melakukan amalan golongan yang celaka.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (al-Lail: 5—10).”

  1. Tidak selaras dengan akal sehat.
  • Hamba yang meninggalkan kewajibannya atau melakukan keharaman, ia melakukannya atas pilihannya sendiri. Ia tidak merasakan adanya paksaan dari siapa pun. Ia pun tidak dapat mengetahui bahwa hal itu adalah takdir, sebab takdir adalah rahasia yang tersembunyi. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mampu mengetahui takdir Allah subhanahu wa ta’ala melainkan setelah terjadinya. Mana bisa ia beralasan dengan takdir sebelum berbuat kemaksiatan, padahal ia tidak mengetahui tentang takdir?!
  • Menjerumuskan diri dalam dosa, dengan meninggalkan kewajiban atau melanggar keharaman, adalah bentuk kezaliman dan kesalahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang para pendusta terhadap ajaran rasul:

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Hud: 101)

Andai saja orang—yang menjadikan takdir sebagai alasan untuk berbuat dosa—dizalimi (dipukul, disakiti, atau dirugikan), lantas pihak yang menzalimi (yang memukul, menyakiti atau merugikan) juga beralasan “Saya menzalimi kamu karena ditakdirkan Allah”, tentu alasan ini tidak mungkin ia terima. Lalu, kenapa ia tidak bisa menerima alasan tersebut jika ia menjadi pihak yang menzalimi? Kemudian ia menggunakan alasan itu untuk membenarkan dirinya dalam berbuat zalim?!

  • Jika orang semacam ini diberi dua pilihan yang harus ia tentukan, antara pergi menuju:
    – Sebuah negeri yang diliputi keamanan, ketenangan, terpenuhi makanan dan minuman yang lezat, serta penuh dengan kenikmatan.

– Atau pergi ke sebuah negeri yang dipenuhi ketakutan, mencekam, tidak aman, serta penuh dengan kesengsaraan.

Tentu, ia akan memilih yang pertama, negeri yang aman dan makmur. Tidak akan mungkin ia lebih memilih negeri kedua dengan beralasan bahwa hal ini merupakan takdir. Jika demikian, mengapa ia lebih memilih negeri yang baik dalam kehidupan dunia, namun tidak memilih negeri yang baik untuk kehidupan akhiratnya?

Orang yang dibolehkan beralasan dengan takdir adalah seseorang yang telah menyatakan taubat dari dosa. Jika ada orang lain yang mencela dirinya karena dosa yang pernah ia perbuat, dibolehkan dia beralasan dengan takdir. Misalnya, ada orang berkata, “Mengapa engkau melakukan maksiat ini dan itu?” Lalu ia menjawab, “Semua dengan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala, saya telah bertaubat dan istighfar.” Alasan ini tentu diterima. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 107—109)

Syaikhul Islam berkata, “Orang-orang yang berhujjah dengan takdir (dalam bermaksiat), jika demikian terus keadaan mereka dalam hal berakidah, mereka adalah orang-orang yang lebih kafir dibandingkan dengan Yahudi ataupun Nasrani.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/262)

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Siapa pun tidak boleh beralasan dengan takdir untuk melakukan perbuatan dosa, menurut kesepakatan kaum muslimin, seluruh pemeluk agama, dan kaum yang berakal. Sebab, jika alasan ini dapat diterima, siapa pun bisa melakukan perbuatan yang membahayakan, seperti menghilangkan nyawa, merampas harta, dan seluruh bentuk kejahatan di atas muka bumi, lalu beralasan dengan takdir.

Orang yang beralasan dengan takdir itu sendiri, jika diganggu lalu si pelaku yang mengganggu beralasan dengan takdir, ia tentu tidak mau menerimanya. Bahkan, ia akan melawan. Ini menunjukkan kerusakan pendapat tersebut. Maka dari itu, beralasan dengan takdir (untuk berbuat dosa) telah diketahui kerusakannya secara langsung oleh akal.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/179)

Kesimpulan
Pada contoh si A berbuat salah lalu bertaubat, dia diperbolehkan beralasan dengan takdir. Adapun si B yang sedang berbuat salah atau si C yang akan berbuat salah, mereka berdua tidak boleh beralasan dengan takdir.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Keadaan yang berbahaya jika beralasan dengan takdir adalah pada saat hal (sedang terjadi) dan mustaqbal (akan terjadi). Ia melakukan satu bentuk keharaman atau meninggalkan sebuah kewajiban, lalu ada orang yang mencelanya, kemudian ia beralasan dengan takdir untuk melakukannya dan terus melakukannya. Ia ingin meninggalkan kewajiban dan berbuat keharaman dengan alasan takdir, sebagaimana alasan yang digunakan oleh orang-orang yang terus-menerus dalam kesyirikan dan peribadahan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka mengatakan:

Orang-orang yang mempersekutukan Allah, akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Apakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa menyampaikannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” (al-An’am: 148)

Dan mereka berkata, “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka. (az-Zukhruf: 20)

Mereka beralasan seperti itu untuk membenarkan kesalahan yang ada pada mereka. Mereka menyesali kesalahan, namun tidak ingin meninggalkan kesalahan tersebut, bahkan tidak mengakui kerusakannya. Hal ini berlawanan sekali dengan orang yang beralasan dengan takdir saat tampak kesalahan dari dirinya, lalu menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya.

Inti permasalahan kita, jika kesalahan yang diperbuat telah dihentikan, dibenarkan untuk beralasan dengan takdir. Akan tetapi, jika kesalahan masih terjadi dan dia perbuat, beralasan dengan takdir menjadi alasan yang batil.” (Syifa’ul ‘Alil, Ibnul Qayyim, hlm. 32—33)

Syaikhul Islam berkata, “Jika ia berbuat baik, ia memuji Allah subhanahu wa ta’ala. Jika ia berbuat buruk, ia beristighfar kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan ia meyakini bahwa semua hal tersebut terjadi dengan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini karena sesungguhnya ketika Adam q berbuat dosa, ia bertaubat. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala memilih dan memberi hidayah kepadanya. Adapun Iblis justru terus-menerus dalam dosanya, bahkan membela diri. Allah subhanahu wa ta’ala pun melaknat dan mengusirnya. Barang siapa bertaubat, ia adalah pengikut Adam. Adapun yang terus-menerus dalam dosa dan berusaha membela diri, ia menjadi pengikut Iblis. Golongan yang berbahagia tentu mengikuti ayah mereka, sedangkan golongan yang celaka akan mengikuti musuh mereka, Iblis.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, 8/64)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Usaha, Doa, Sebab, dan Takdir

Usaha, Doa, Sebab, dan Takdir

Usaha, Bagian dari Takdir

Usaha adalah bagian dari takdir. Tidak ada kontradiksi antara usaha dan takdir. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Jika pengejar akhirat mengetahui bahwa akhirat tidak akan digapai melainkan dengan keimanan, amal saleh, dan meninggalkan lawannya (amal buruk), ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh merealisasikan keimanan dan memperbanyak wujud-wujud keimanan yang terperinci. Ia akan bersungguh-sungguh melakukan amalan saleh yang akan mengantarkan dirinya menuju akhirat. Sisi yang lain, ia akan meninggalkan kekufuran dan kemaksiatan. Ia akan segera bertaubat jika terjatuh dalam dosa.

Jika pemilik ladang mengetahui bahwa hasil kerjanya tidak akan berhasil melainkan dengan menanam dan mengairinya disertai dengan pengawasan ketat, ia akan bersemangat dan bersungguh-sungguh melakukan segala cara untuk menumbuhkan tanamannya, memaksimalkannya, dan mencegah hama penyakit.
Jika pelaku produksi mengetahui bahwa hasil-hasil produksi, dengan berbagai ragam jenis dan manfaatnya, tidak akan berhasil didapatnya melainkan dengan mempelajari disiplin ilmu produksi dan menguasainya, lalu mempraktikkannya, ia akan berusaha dan bersungguh-sungguh.

Barang siapa mengharapkan keturunan atau membiakkan hewan ternaknya, tentu ia akan bekerja dan berusaha. Demikianlah pada seluruh urusan.” (ar-Riyadh an-Nadhirah, as-Sa’di, hlm. 125—126)

Adapun dalil yang menjelaskan wajibnya si hamba berusaha sangat banyak. Antara lain:
1. Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, riwayat Muslim (4/2025).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk hal yang bermanfaat untukmu. Mohonlah pertolongan dari Allah dan jangan merasa lemah. Jika ada sesuatu menimpa dirimu, jangan ucapkan, ‘Andai saja saya melakukan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah, ‘Telah ditakdirkan Allah, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala kehendaki, Dia pasti melakukannya.’ Sesungguhnya ucapan ‘andai saja’, akan membuka amalan setan.”

  1. Hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, riwayat al-Bukhari (10/179) dan Muslim (4/1740).

Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu pernah berangkat menuju Syam. Setibanya di wilayah Sargh, beliau disambut oleh para panglima perang, Abu Ubaidah bin al-Jarrah beserta sahabat-sahabat lainnya. Mereka menyampaikan berita kepada Umar bahwa di negeri Syam sedang terjangkiti satu wabah. Umar lalu memerintahkan untuk mengundang para sahabat dalam rangka bermusyawarah. Mulai dari kalangan Muhajirin, lalu kalangan Anshar, kemudian kaum Quraisy. Dari musyawarah tersebut, Umar memutuskan untuk kembali pulang.
Lalu Umar radhiallahu ‘anhu mengumumkan, “Sesungguhnya aku akan kembali besok pagi, bersiap-siaplah besok.” Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apakah untuk lari dari takdir Allah?” Umar menjawab,

لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا، يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ، نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللهِ إِلَى قَدَرِ اللهِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالْأُخْرَى جَدْبَةٌ، أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللهِ؟

“Andai saja bukan kamu yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah. Ya, kita lari dari takdir Allah subhanahu wa ta’ala menuju takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang lain. Apa pendapatmu, jika engkau mempunyai ternak unta lalu singgah di sebuah lembah yang memiliki dua sisi. Satu sisi yang subur, sisi yang lain gersang. Bukankah dengan takdir Allah juga jika engkau menggiringnya ke sisi yang subur? Bukankah dengan takdir Allah juga engkau menggiringnya ke sisi yang gersang?”

Setelah itu, datanglah Abdurrahman bin Auf radhiallahu ‘anhu yang sebelumnya tidak hadir karena ada keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang masalah ini. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Jika kalian mendengar terjadi wabah di suatu daerah, janganlah mendatanginya. Jika kalian berada di suatu daerah yang sedang terjangkiti wabah, janganlah meninggalkannya untuk lari’.”

Umar pun memuji Allah subhanahu wa ta’ala, lalu bertolak (kembali ke Madinah).

Orang Cerdas

Orang yang benar-benar cerdas akan berusaha menghindari takdir dengan takdir juga, menghadapi takdir dengan takdir pula. Tidak akan mungkin kita menjalani kehidupan melainkan dengan cara ini. Rasa lapar dan haus, kedinginan, seluruh hal yang menakutkan dan membahayakan, adalah takdir. Seluruh makhluk berusaha untuk terhindar dari hal tersebut dengan takdir juga.

Demikianlah kondisi hamba yang memperoleh taufik dan petunjuk. Ia pasti berusaha untuk terhindar dari “takdir” siksa di akhirat dengan “takdir” taubat, iman, dan amal saleh. (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 27)

Perlu diingat, yang mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat takdir makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi,” beliau juga yang mengatakan, “Beramallah, karena masing-masing akan dimudahkan untuk apa yang diciptakan untuknya.” Lalu:

“Apakah kamu beriman kepada sebagian dari Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?” (al-Baqarah: 85)

(al-Iman bil Qadha, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 127—129)

Doa, Bagian dari Takdir

Soal: Sesuatu yang dimohon dalam doa, jika memang telah ditakdirkan untuk terjadi, pasti terjadi. Sama saja, apakah si hamba berdoa ataukah tidak. Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak terjadi, tidak akan mungkin akan terjadi, baik si hamba memohon maupun tidak.

Jawab:
Sekelompok orang memandang benar pernyataan di atas. Mereka kemudian tidak ingin berdoa dan mengatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!”

Mereka sendiri, dengan kejahilan dan kesesatan, pasti akan mengalami kontradiksi. Menerima pendapat mereka sama saja menghilangkan seluruh bentuk sebab. Coba saja ditanyakan kepada salah seorang dari mereka, “Jika kenyang dan puas dari dahaga memang telah ditakdirkan untukmu, pasti terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak? Jika memang sudah ditakdirkan untuk tidak kenyang, tidak akan mungkin terjadi, apakah engkau makan ataukah tidak?”

“Jika memang telah ditakdirkan engkau memiliki anak, pasti terjadi baik engkau berhubungan badan dengan istri maupun tidak. Jika memang sudah ditakdirkan engkau tidak memiliki anak, pasti tidak akan terjadi. Lalu, apa guna menikah?” Demikian juga hal-hal yang lain.

Pertanyaannya, “Apakah hal di atas akan diucapkan oleh seseorang yang berakal? Seorang manusia? Bahkan, hewan ternak sekalipun memiliki fitrah untuk melakukan ‘sebab’ untuk mempertahankan hidupnya. Dengan demikian, hewan lebih berakal dan lebih bisa memahami dibandingkan dengan kelompok ini. Mereka layaknya hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya.”

Ada kelompok lain, sedikit lebih pandai daripada kelompok pertama. Mereka berpendapat, “Berdoa adalah ibadah murni. Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan pahala bagi hamba yang mau berdoa. Berdoa tidak memiliki pengaruh terhadap apa yang diminta, dari sisi mana pun.”

Menurut mereka, berdoa atau tidak adalah sama saja, tidak akan memberikan pengaruh terhadap apa yang diminta. Hubungan doa dan terjadinya keinginan, menurut mereka, sama dengan hubungan diam dengan terjadinya keinginan.

Ada kelompok lain yang berpendapat, “Doa hanyalah murni pertanda, yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai tanda terpenuhinya keinginan. Barang siapa diberi taufik untuk berdoa, hal itu sebagai tanda bahwa keinginannya telah terpenuhi.” Sama halnya dengan awan hitam pekat di musim penghujan yang menjadi tanda bahwa hujan akan turun. Dengan demikian, ketaatan hanyalah pertanda adanya pahala, bukan sebab. Kekufuran dan maksiat hanyalah pertanda siksa, bukan sebab.

Masih menurut kelompok ini, tindakan memecahkan bukanlah “sebab” pecah, tindakan membakar bukan juga “sebab” kebakaran, dan melakukan perbuatan membunuh bukanlah “sebab” kematian. Hanya sebatas pertanda saja.
Pendapat semacam ini berseberangan dengan akal dan daya indra, bertentangan dengan syariat dan fitrah, serta berhadapan dengan segenap pemikir. Orang berakal juga menertawakan mereka.

Yang benar, sesuatu yang ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala juga memiliki “sebab-sebab” yang juga ditakdirkan. Berdoa termasuk “sebab” sehingga segala sesuatu tidak hanya ditakdirkan tanpa adanya “sebab”. Akan tetapi, ia ditakdirkan beserta “sebabnya”. Pada saat si hamba melaksanakan “sebab”, apa yang ditakdirkan akan terjadi. Namun, jika ia tidak melaksanakan “sebab”, yang ditakdirkan pun tidak terjadi.

Hal ini sama dengan kenyang yang ditakdirkan terjadi dengan sebab makan, puas dari dahaga dengan sebab minum, memiliki anak dengan sebab berhubungan badan, menuai panen dengan sebab menanam benih, dan matinya hewan dengan sebab disembelih. Demikian juga, masuk ke dalam surga ditakdirkan dengan melakukan amalan saleh, dan masuk ke dalam neraka dengan sebab melakukan kejahatan.

Kesimpulannya, berdoa termasuk “sebab” terbesar. Jika sesuatu yang ditakdirkan dapat terjadi dengan “sebab” doa, tidaklah benar untuk dinyatakan, “Tidak ada manfaatnya berdoa!” Sebagaimana tidak dapat dibenarkan untuk mengatakan, “Tidak ada manfaatnya makan dan minum. Tidak ada gunanya seluruh aktivitas dan perbuatan.”

Tidak ada “sebab” lain yang melebihi manfaat doa. Tidak pula ada “sebab” lain yang melebihi doa dalam hal mewujudkan keinginan. Oleh karena itu, para sahabat—sebagai generasi yang paling mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya serta generasi yang paling mengerti tentang agama—sangat kuat mewujudkan doa sebagai “sebab”, syarat-syarat dan adabnya, jika dibandingkan dengan orang lain.

Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu selalu memohon pertolongan dengan berdoa ketika menghadapi musuh. Doa merupakan bala tentaranya yang terbesar. Beliau radhiallahu ‘anhu sering mengingatkan pasukannya, “Sesungguhnya kalian tidak memperoleh kemenangan dengan jumlah yang banyak. Akan tetapi, kalian mendapat kemenangan hanyalah dengan pertolongan dari langit.”

Beliau juga sering menyampaikan, “Sesungguhnya aku tidak meragukan tentang dikabulkannya doa, namun aku khawatir hilangnya keinginan untuk berdoa. Apabila kalian mendapatkan kemudahan untuk berdoa, sesungguhnya dikabulkannya doa selalu mengiringi doa.”

Barang siapa memperoleh jalan untuk berdoa, doa itu akan dikabulkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186) (ad-Da’u wad Dawa’, Ibnul Qayyim, hlm. 22—24)

Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah doa memiliki pengaruh mengubah catatan takdir manusia yang telah ada sebelum ia diciptakan?”

Beliau menjawab, “Tidak diragukan lagi, doa dapat memberikan pengaruh untuk mengubah catatan takdirnya. Namun, perubahan itu pun telah tercatat juga sebagai takdir dengan sebab doa. Jangan mengira, jika Anda berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala berarti Anda telah meminta sesuatu yang tidak tercatat sebagai takdir! Doa juga telah tercatat sebagai takdir. Demikian juga hasil dari doa tersebut telah tercatat sebagai takdir.

Oleh sebab itu, kita menyaksikan ada orang yang membacakan doa untuk orang sakit, kemudian sembuh. Kisah pasukan perang yang ditugaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dalil akan hal ini. Mereka singgah untuk bertamu di sebuah kampung, namun mereka tidak dijamu sebagai tamu. Lalu, ditakdirkan kepala kampung tersebut digigit oleh ular berbisa. Kemudian mereka memohon orang yang dapat membacakan doa untuk si kepala kampung. Akan tetapi, para sahabat mengajukan syarat, yaitu upah untuk melakukannya. Mereka lalu menyerahkan sekawanan kambing. Salah seorang sahabat lantas berangkat untuk membacakan al-Fatihah.

Setelah itu, si sakit langsung berdiri seolah-olah ia baru saja lepas dari ikatan. Maksudnya, seperti seekor unta yang terlepas tali kekangnya. Benar, bacaan sahabat tersebut memiliki pengaruh untuk kesembuhan si sakit.

Kesimpulannya, doa memang memiliki pengaruh, namun tidak mengubah takdir. Perubahan tersebut pun termasuk bagian dari takdir, yang terjadi dengan sebuah “sebab” yang juga telah ditakdirkan. Demikian juga seluruh “sebab”, ia memiliki pengaruh pada “akibat” dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, “sebab” adalah takdir yang tercatat, “akibat” pun takdir yang tercatat. (Fatawa Aqidah, Fahd bin Nashir, hlm. 234)

Keterikatan serta Keterkaitan Takdir dan Sebab

Takdir tidak berbenturan dengan sebab yang syar’i dan qadari. Hal ini karena “sebab” termasuk takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Mengaitkan dan mengikatkan antara sebab dan akibat adalah konsekuensi dari hikmah-Nya, sebagai sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang paling tinggi, yaitu sifat yang ditetapkan sendiri oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk diri-Nya pada beberapa ayat dalam Al-Qur’an.

Contoh sebab qadari adalah firman-Nya:

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya. Maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati.

Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (ar-Rum: 48—50)

Contoh sebab syar’i adalah firman-Nya:

“Wahai ahli kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Seluruh bentuk perbuatan yang ditentukan balasannya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik pahala maupun siksa, termasuk sebab syar’i, jika dilihat dari sisi bahwa seorang hamba dituntut untuk melaksanakannya. Juga dapat dikatakan sebagai sebab qadari, jika dilihat dari aspek terjadinya berdasarkan takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Cara Pandang Manusia Terhadap Sebab

Terkait dengan posisi “sebab”, ada tiga cara pandang yang muncul di permukaan.
1. Kelompok nufat (pengingkar).

Mereka mengingkari pengaruh dan peran “sebab”. Mereka menyatakan, “Sebab hanyalah sebatas tanda yang ada pada saat terjadinya sesuatu, bukan sebagai penyebabnya.” Mereka berpendapat, “Pecahnya kaca yang dilempar batu terjadi ketika batu mengenai kaca, bukan disebabkan oleh lemparan batu.”
Kelompok ini menyelisihi dalil dan menentang daya indra. Mereka telah mengingkari hikmah Allah subhanahu wa ta’ala yang menghubungkan antara sebab dan akibat.

  1. Kelompok ghulat (berlebihan).

Mereka menetapkan pengaruh dan peran “sebab”, namun meyakininya secara berlebihan. Mereka menyatakan, “sebab” dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya tanpa kehendak Allah.

Kelompok ini tergelincir dan terjatuh dalam dosa kesyirikan. Dengan keyakinan ini, mereka menetapkan adanya “pencipta” selain Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat ini juga berseberangan dengan dalil dan daya indra.

Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’ menerangkan bahwa tidak ada pencipta selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Secara kenyataan, kita juga menyaksikan dengan jelas, kadang-kadang terjadi “sebab” namun tidak muncul “akibat”nya, seizin Allah subhanahu wa ta’ala tentunya. Contohnya, Nabi Ibrahim q yang tidak terbakar ketika dilemparkan ke dalam kobaran api. Api pun menjadi dingin dan keselamatan, beliau tidak terbakar.

  1. Kelompok wasath (berada pada kebenaran).

Mereka memperoleh petunjuk yang lurus kepada kebenaran. Mereka berada pada posisi di antara kedua kelompok sebelumnya. Mereka mengambil sisi kebenaran dari dua kelompok sebelumnya. Mereka menyatakan, “sebab” memang memiliki pengaruh dan peran pada “akibat”, namun tidak secara sendirinya. Hal itu terjadi dengan kekuatan dan kemampuan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala pada “sebab” tersebut.

Kelompok ini adalah kelompok yang adil. Mereka diberi taufik pada kebenaran dengan memadukan antara dalil, akal, dan daya indra. Sebagaimana halnya takdir tidak berbenturan dengan sebab syar’i dan qadari, demikian juga takdir tidak berbenturan dengan kehendak dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang hamba untuk melakukan perbuatan. Jadi, setiap makhluk memiliki kehendak dan kemampuan. Ia sendiri yang berbuat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 152)

“Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (an-Nisa’: 66)

“Barang siapa mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Fushshilat: 46)

“Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).” (al-Qalam: 25)

Akan tetapi, sebagai makhluk ia tidak dapat berdiri dan terpisah secara sendirian dalam kehendak, kemampuan, dan perbuatannya. Sama halnya, “sebab” tidak dapat berdiri sendiri dalam menghasilkan “akibat”. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) melainkan jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 28—29)

Kehendak, kemampuan, dan perbuatan adalah sifat yang melekat pada makhluk. Oleh karena itu, kehendak, kemampuan, dan perbuatannya pun adalah makhluk juga. Hal ini karena sifat mengikuti yang disifati. Maka dari itu, Dzat yang menciptakan makhluk, Dia pula yang menciptakan sifat makhluk. (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 105—107)

  1. Contoh Perpaduan Antara Takdir dan Kehendak Hamba

Penjelasannya demikian; jika seorang hamba menegakkan shalat, berpuasa, dan melakukan kebajikan, atau ia berbuat kemaksiatan, dialah pelaku kebajikan atau kemaksiatan tersebut. Perbuatannya, tanpa setitik keraguan, terjadi berdasarkan pilihan dan keinginannya sendiri. Secara pasti, ia merasakan dirinya tidak “dipaksa” untuk melakukan atau tidak melakukannya. Ia pun meyakini dengan pasti, jika mau, ia tidak akan melakukannya.

Sebagaimana penjelasan di atas merupakan kenyataan bahwa seperti itulah yang dinashkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an dan oleh Rasul-Nya dalam sunnahnya. Dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah, amalan kebaikan dan keburukan yang diperbuat oleh hamba dinisbahkan dan dilekatkan pada diri hamba itu sendiri. Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya juga memberitakan, merekalah pelaku perbuatan itu sesungguhnya. Mereka akan memperoleh pujian dan pahala jika yang diperbuat kebaikan. Sebaliknya, mereka akan mendapatkan celaan dan siksa jika yang diperbuat keburukan.

Maka dari itu, telah jelas dan terang, tanpa ada keraguan, seluruh perbuatan hamba dilakukan oleh mereka sendiri, dengan pilihan mereka sendiri. Jika mau, mereka lakukan. Jika mau, mereka tinggalkan. Hal ini dapat dibuktikan secara akal, daya indra, syariat, dan kenyataan. (Tanbihat al-Lathifah, as-Sa’di, hlm. 82—83)

Secara akal, tidaklah mungkin Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan siksa atas si hamba karena perbuatan yang ia “dipaksa” melakukannya. Kalau bukan karena pilihan dan kehendak si hamba sendiri, tidak mungkin ia terbebani syariat.

Secara daya indra, si hamba merasakan sendiri pada dirinya secara pasti, ia tidak dalam keadaan “dipaksa” untuk berbuat atau tidak berbuat.

Secara syariat, banyak ayat dan hadits yang menyandarkan perbuatan itu kepada si hamba. Di antaranya adalah:

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) atas amalan mereka.” (az-Zalzalah: 6)

Secara kenyataan, kita menyaksikan sendiri bahwa orang yang mengerjakan shalat, puasa, dan lainnya adalah si hamba, bukan Rabb. Maka dari itu, hambalah yang secara hakiki langsung berbuat. (Ta’liqat Yasin ‘alal Wasithiyyah, hlm. 231)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Pemahaman terhadap Takdir dan Syari’at

Setelah membahas letak penting takdir dan syariat yang harus diimani oleh setiap hamba, kali ini kita akan membahas pemahaman atau pendirian orang terhadap takdir dan syariat. Jika dikelompokkan, umat manusia dalam menyikapi takdir dan syariat akan terbagi menjadi dua.

  1. Hamba yang memperoleh petunjuk dan kebahagiaan.

Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada takdir dan qadha dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka juga beriman kepada syariat-Nya sehingga melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Mereka juga beriman kepada balasan yang dipersiapkan, pahala atau hukuman. Mereka tidak beralasan dengan takdir untuk meninggalkan syariat. Mereka juga tidak beralasan dengan syariat untuk mengingkari takdir. Mereka tidak mempertentangkan atau membenturkan antara takdir dan syariat dari Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah para pengusung kebenaran yang mewujudkan tingkatan:

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)

Mereka beriman kepada konsekuensi firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

  1. Hamba yang tersesat dan celaka, menyelisihi kebenaran.

Mereka terbagi dalam tiga tingkatan.

  1. Al-Majusiyah

Tingkatan ini alur pemikiran agama Majusi dalam memahami takdir.Mereka adalah kelompok qadariyah: beriman kepada syariat, namun mendustakan takdir. Di antara mereka ada yang berlebihan dalam mengingkari kesempurnaan ilmu Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka menyatakan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak menakdirkan perbuatan hamba. Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui perbuatan hamba sebelum terjadinya.”

Tingkatan di bawah mereka berpendapat, “Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui perbuatan hamba sebelum terjadinya.” Namun, mereka mengingkari perbuatan tersebut terjadi karena takdir Allah subhanahu wa ta’ala atau diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka adalah kaum mu’tazilah dan yang sepemikiran.

Pendapat kelompok ini terbantah pada pembahasan “Maratibul Qadar”.

2. Al-Musyrikiyah

Dalam hal memahami takdir, tingkatan ini mengikuti alur pemikiran kaum musyrikin. Mereka adalah orang-orang yang mengakui keberadaan takdir Allah subhanahu wa ta’ala, namun menetapkannya sebagai alasan untuk meninggalkan syariat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang mereka:

Orang-orang yang memper-sekutukan Allah, akan mengatakan, “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya, tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.” Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, “Apakah kalian memiliki ilmu sehingga kalian bisa menyampaikannya kepada kami? Kalian tidak mengikuti selain persangkaan belaka, dan kalian tidak lain hanya berdusta.” (al-An’am: 148)

3. Al-Iblisiyah

Kelompok ini mengikuti alur pemikiran Mereka adalah orang-orang yang mengakui keberadaan takdir dan syariat, namun membenturkan dan mempertentangkan keduanya.

Mereka mencela dan menyalahkan hikmah-Nya. Mereka menyatakan, “Bagaimana mungkin Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Dzat yang memberi perintah dan larangan untuk hamba-Nya, lantas menetapkan takdir untuk mereka, lalu ada yang menentang perintah dan larangan itu? Bukankah hal ini kontradiktif? Bukankah hal ini ketetapan yang bertentangan dengan hikmah-Nya?”

Mereka adalah para pengikut Iblis. Iblis beralasan di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai sikap penentangan, saat ia diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam q dengan mengatakan:

Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf: 12)

Pendapat kelompok ini terbantah pada pembahasan “Maksiat dengan Alasan Takdir.” (Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 115—116)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Bekal Wajib untuk Membahas Takdir

Maratibul Qadar (Tingkatan Beriman kepada Takdir)

Para ulama telah menjelaskan tentang wajibnya meyakini tingkatan-tingkatan beriman kepada takdir. Tanpa meyakini keempat hal tersebut, keimanan kepada takdir tidaklah sempurna.

Beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala memiliki empat tingkatan.

  1. Beriman bahwa Allah Maha Mengetahui, dengan ilmu-Nya yang azali (terdahulu) dan abadi, tentang seluruh yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, kecil atau besar, yang lahir atau batin, perbuatan-perbuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan makhluk-Nya.
  2. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menulis takdir atas segala sesuatu, dalam Lauh Mahfuzh, sampai saat kebangkitan hari kiamat. Tidak ada sebuah kejadian pun, yang telah atau akan terjadi, melainkan pasti telah tertulis dan telah ditentukan takdirnya, sebelum terjadinya.

Dalil kedua tingkatan di atas adalah ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun dalil dari Al-Qur’an, di antaranya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, serta tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat takdir seluruh makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.” Beliau berkata, “Arsy Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653 dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushain z (no. 7418), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

“Allah subhanahu wa ta’ala ada, tidak ada sesuatu pun sebelumnya, dan ‘Arsy Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas air. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi, serta mencatat tentang segala sesuatu dalam adz-Dzikr.”

  1. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat masyi’ah (kehendak) yang mencakup segalanya.

Tidak ada sesuatu yang terjadi atau yang tidak terjadi, baik besar maupun kecil, lahir maupun batin, di langit maupun di bumi, melainkan dengan masyi’ah Allah subhanahu wa ta’ala, apakah tentang perbuatan-perbuatan-Nya atau perbuatan-perbuatan makhluk-Nya.

  1. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat khalq (mencipta).

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang menciptakan segalanya, besar atau kecil, lahir atau batin. Penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala meliputi zat seluruh makhluk, sifat-sifat mereka, serta apa yang mereka perbuat, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun hasil dan pengaruh perbuatan makhluk.

Dalil tingkatan ketiga dan keempat di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan sesuatu melainkan berdasarkan masyi’ah-Nya. Hal ini karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya, dengan kesempurnaan kerajaan dan kekuasaan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan perbuatan-Nya yang berdasarkan masyi’ah-Nya.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (ar-Ra’d: 26)

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa perbuatan makhluk-Nya juga sesuai dengan masyi’ah-Nya.

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) melainkan jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 28—29)

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah 253)

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu Utsaimin, hlm. 103—104)

Iradah Allah subhanahu wa ta’ala (Kehendak Allah subhanahu wa ta’ala)

Di antara sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang tinggi dan suci adalah iradah (memiliki kehendak). Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama menyimpulkan bahwa iradah Allah subhanahu wa ta’ala ada dua macam.

  1. Iradah kauniyah qadariyah (kehendak Allah yang terkait dengan ketetapan alam dan takdir-Nya)

Segala yang terjadi di alam semesta ini, termasuk beriman atau kafirnya seseorang, semua terjadi dengan kehendak dan ketetapan Allah. Iradah ini disebut juga dengan masyi’ah (kehendak).

Tidak ada satu pun makhluk yang dapat lepas dari iradah jenis ini. Setiap muslim atau kafir berada di bawah iradah ini. Ketaatan dan kemaksiatan, seluruhnya dengan masyi’ah Allah subhanahu wa ta’ala dan iradah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (ar-Ra’d: 11)

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa atas orang-orang yang tidak beriman.” (al-An’am: 125)

Sifat-sifat iradah kauniyah adalah sebagai berikut.

  • Iradah kauniyah ada yang dicintai-Nya, ada juga yang tidak. Yaag dicintai-Nya misalnya keimanan seseorang, sedangkan yang tidak dicintai-Nya misalnya kekafiran seseorang.
  • Walaupun sebagian iradah kauniyah tidak dicintai oleh Allah, namun terkadang ada kebaikan yang diinginkan di baliknya. Misalnya, penciptaan Iblis dan seluruh keburukan. Tujuannya adalah memunculkan banyak kebaikan, seperti taubat dan istighfar setelah terjatuh dalam godaan Iblis, serta mujahadah (bersungguh-sungguh) melawan godaannya.
  • Iradah kauniyah pasti terjadi.
  • Iradah kauniyah terkait dengan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, segala sesuatu yang terjadi terkait dengan pengaturan Allah terhadap alam ini. Pengaturan ini merupakan sifat Allah sebagai Rabb semesta alam.

  1. Iradah syar’iyah diniyah

Artinya, Allah mencintai amalan syariat yang Dia kehendaki untuk diamalkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Iradah ini disebut juga dengan mahabbah (kecintaan). Iradah ini mengandung cinta dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala terhadap amalan-amalan tersebut.

Contohnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Allah hendak menerima taubatmu ….” (an-Nisa’: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan agar seseorang bertaubat dari dosa-dosanya, yang taubat ini merupakan sesuatu yang dicintai-Nya.Dengan demikian, taubat termasuk dalam iradah syar’iyah diniyah.

Sifat-sifat iradah syar’iyah adalah sebagai berikut.

  • Iradah syar’iyah seluruhnya dicintai dan diridhai-Nya.
  • Iradah syar’iyah memang diinginkan zatnya, seperti bentuk-bentuk ketaatan.

Allah subhanahu wa ta’ala mencintainya, mensyariatkan, dan meridhainya secara zatnya.

  • Iradah syar’iyah ada yang terjadi, ada pula yang tidak. Ketika Allah menghendaki agar manusia taat, ada yang melakukannya dan ada yang tidak.
    Jika iradah syar’iyah pasti terjadi, tentu umat manusia akan menjadi muslim seluruhnya.
  • Iradah syar’iyah terkait dengan uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, ibadah-ibadah yang disyariatkan merupakan bentuk penghambaan diri dan ketaatan kepada Allah.

Hubungan Iradah Kauniyah & Iradah Syar’iyah

Iradah kauniyah dan syar’iyah terwujud sekaligus pada seorang hamba yang berbuat ketaatan. Orang yang melaksanakan shalat, misalnya. Shalat adalah sesuatu yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala, maka disebut syar’iyah. Jika dia benar-benar menegakkan shalat, disebut kauniyah (karena benar-benar terjadi).

Iradah kauniyah berdiri sendiri tanpa iradah syar’iyah tergambar pada diri orang kafir. Kekafirannya adalah kauniyah karena benar-benar terjadi. Namun, kekafirannya itu bukan iradah syar’iyah karena kekafiran tidak dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Iradah syar’iyah berdiri sendiri tanpa iradah kauniyah tergambar pada keimanan, yang tidak terjadi orang kafir. Keimanan adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka disebut iradah syar’iyah. Namun tidak terjadi karena dia kafir, maka bukan iradah kauniyah.

“Barang siapa mampu membedakan antara iradah syar’iyah dengan iradah kauniyah, ia pasti akan selamat dari banyak kerancuan yang telah menggelincirkan kaki dan menyesatkan pikiran. Barang siapa memerhatikan amalan hamba dengan kedua mata ini, ia akan mampu melihat. Barang siapa memerhatikan syariat tanpa takdir atau sebaliknya, maka ia buta.” (al-Iman bil Qadha’, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 82—84)

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Soal: Kita meyakini keberadaan takdir buruk. Apakah tidak bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keburukan tidak (dinisbahkan) kepada-Nya”?

Jawab: Maksud takdir buruk tidaklah terkait dengan perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal menentukan takdir. Namun, terkait dengan hal-hal yang ditakdirkan. Sama halnya dengan perbedaan khalq (perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala mencipta) dan makhluq (hal-hal yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala).

Marilah kita mengambil sebuah contoh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan penjelasan mengenai kerusakan yang terjadi, sebab dan tujuannya. Kerusakan adalah sesuatu yang buruk, sebab terjadinya adalah ulah tangan manusia. Tujuannya ialah “Supaya Allah subhanahu wa ta’ala merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Oleh karena itu, bentuk kerusakan yang terjadi, baik di daratan maupun di lautan, mengandung hikmah. Pada asalnya, kerusakan tersebut adalah sesuatu yang buruk. Namun, ia memiliki hikmah yang sangat besar. Dengan demikian, adanya hikmah tersebut menyebabkan takdir “munculnya kerusakan” menjadi sesuatu yang baik.

Demikian halnya kemaksiatan dan kekufuran. Hal tersebut merupakan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, keduanya memiliki hikmah yang sungguh besar. Andai tidak terjadi kemaksiatan dan kekufuran, syariat Islam tidak akan terwujud. Jika saja tidak muncul kemaksiatan dan kekufuran, penciptaan manusia akan menjadi sia-sia.

(Syarah al-Wasithiyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 542—543)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Takdir, Wilayah Terbatas : Mendudukkan Pembahasan Takdir

Membahas masalah takdir sangatlah penting. Namun, sebagian kalangan justru keliru memahaminya dengan mengatakan, “Membahas masalah takdir hanya melahirkan keraguan dan kebingungan!”, “Membahas masalah takdir hanya akan menjadi sebab ketergelinciran dan kesesatan!”

Semua anggapan di atas tidaklah benar karena membahas masalah takdir sangatlah penting. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal berikut.

  1. Beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman.
    Keimanan seorang hamba tidak akan mungkin sempurna melainkan dengan beriman kepada takdir. Lalu, bagaimana mungkin caranya untuk mengetahui keimanan terhadap takdir, jika tidak dibicarakan dan tidak dijelaskan?
  2. Al-Qur’an banyak menyebutkan masalah takdir serta perinciannya.
    Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari dan merenungkan Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Lalu, apakah alasannya mengecualikan ayat-ayat takdir dari keumuman perintah tersebut?

  1. Beriman kepada takdir disebutkan dalam hadits terbesar dalam Islam, hadits Jibril ‘alaihissalam.

Peristiwa dalam hadits tersebut terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ

“Orang tadi adalah Jibril. Ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama manusia.” (HR. Muslim no. 8)

Jadi, mempelajari masalah takdir juga termasuk bagian dari agama. Hukumnya wajib, walaupun secara global.

  1. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah takdir yang sangat rinci.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2648) dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu. Suraqah bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).”

  1. Para sahabat menyampaikan masalah takdir kepada murid-murid mereka, kalangan tabi’in.

Mereka mengajukan pertanyaan tentang takdir untuk menguji dan mengetahui pandangan mereka. Dalam sebuah riwayat Muslim (no. 2650), Abul Aswad ad-Du’ali berkata, “Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepadaku, ‘Apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini, yakni bekerja keras?

Apakah sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah lewat takdir sebelumnya? Ataukah untuk sesuatu yang akan mereka hadapi, dari ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dan hujjah telah tegak untuk mereka?’ Aku menjawab, ‘Bahkan, sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka.’ Beliau bertanya, ‘Kalau begitu, apakah bukan sebuah kezaliman bagi mereka?’ Abul Aswad berkata, ‘Aku pun langsung benar-benar terkejut.’ Aku berkata, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala, kekuasaan di tangan-Nya. Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, akan tetapi merekalah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka.’ Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu berkata:

يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ

‘Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu, sesungguhnya aku tidak memaksudkan dari pertanyaanku kepadamu melainkan untuk memahamkan akalmu’.”

  1. Para ulama salaf telah menulis dan menyusun tulisan tentang takdir.
    Jika kita melarang pembahasan tentang takdir, sama artinya menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Telah pasti secara dalil qath’i, dari Al-Kitab, as-Sunnah, ijma’ sahabat, ijma’ ahlil halli wal ‘aqdi, dari generasi salaf dan khalaf, tentang ketetapan takdir. Banyak ulama yang menulis tentang takdir. Di antara kitab terbaik yang ditulis dan banyak memberikan faedah adalah kitab karya al-Hafizh al-Faqih Abu Bakr al-Baihaqi, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.” (Syarah an-Nawawi, an-Nawawi, 1/154—155)

Pertanyaannya, bagaimana memadukan keterangan di atas dengan beberapa riwayat yang menunjukkan larangan membicarakan takdir?
Misalnya, hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu riwayat ath-Thabarani dalam kitab al-Mu’jamul al-Kabir (no. 10448) dan yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Apabila disebut tentang takdir, tahanlah diri!” (as-Silsilah ash-Shahihah, 1/24 [34])

Atau contoh lain, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat at-Tirmidzi (no. 2133) yang dihasankan oleh al-Albani. Di dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah saat menyaksikan para sahabat sedang berselisih tentang takdir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ

“Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena memperselisihkan masalah ini (takdir). Saya mengharuskan kalian untuk tidak berselisih tentang masalah ini!”
Menjawab pertanyaan di atas sebenarnya mudah karena ajaran Islam tidak mengandung kontradiksi.

Larangan untuk membicarakan tentang takdir hanyalah pada kondisi-kondisi berikut ini.

  1. Membica-rakan tentang takdir secara batil, tanpa ilmu dan tanpa dalil.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Maksudnya, takdir termasuk rahasia. Apabila seseorang membahasnya dan memperdalam pembahasan, ia tidak akan mungkin pernah mencapai tujuan melainkan jika dia berjalan sesuai dengan keterangan nash-nash. Pada beberapa hadits disebutkan, ‘Jika perkara takdir disebut, tahanlah diri!’ Hal ini karena jika si hamba memperdalam pembahasan tentang takdir bukan di atas ilmu, ia akan terperosok dalam kesesatan. Sebab kesesatannya, karena ia mencari ‘illah (alasan) bagi perbuatan-perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dan membahas takdir tanpa memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Syarah Lum’atul I’tiqad, al-Fauzan, hlm. 70—72)

  1. Landasan membicarakan tak-dir adalah dengan akal, karena akal manusia sangat terbatas.
  2. Tidak bersikap tunduk dan menerima ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala tentang takdir, karena takdir termasuk perkara gaib.
  3. Membahas sisi dan aspek yang tersembunyi tentang takdir, sesuatu yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.
  4. Mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap nash.

Kesimpulan: Hukum Membahas tentang Takdir

  1. Jika membahasnya dengan kebenaran, dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah, disertai keterangan para ulama, boleh dan tidak dilarang bahkan terkadang wajib.
  2. Jika membahasnya dengan kebatilan, tidak boleh dan terlarang.
    (al-Iman bil Qadha wal Qadar, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 19—25)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai