Gerakan Menyusup Kaum Pendusta

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Apel-beda-warna

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.

Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”

Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)

Sejak revolusi kaum Syiah berlangsung di negeri Iran, penyebaran paham agama Syiah mendapat suntikan kekuatan. Poster-poster Khomeini dengan berbagai ukuran merebak di kalangan aktivis pergerakan, tak terkecuali di Indonesia. Demam revolusi mewabah para aktivis pergerakan. Revolusi kaum Syiah di Iran seakan-akan menginspirasi semangat para pemuda Islam di Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan yang kala itu masih di tampuk pemerintahan Orde Baru. Kantor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjadi markas penyebaran paham Syiah kala itu. Banyak umat Islam yang berdecak kagum terhadap revolusi ala kaum Syiah Iran tersebut.

Namun, seiring perjalanan waktu, sebagian kaum muslimin di Indonesia mulai tersadar. Revolusi yang mengusung nama Islam yang digembar-gemborkan kaum Syiah ternyata dusta. Bukan Islam yang mereka usung, melainkan akidah Syiah dengan segala kesesatannya yang mereka taburkan ke dalam benak para aktivis pergerakan Islam.

 

Upaya Menyusupkan Paham

Hangatnya revolusi kaum Syiah di Iran benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menularkan virus sesat kaum Syiah. Beberapa pemuda, di antaranya dari Solo, Pekalongan, dan kota lainnya di Indonesia diberangkatkan ke Iran.

Sejak saat itu, gelombang pengiriman anak muda yang dibius ajaran sesat Syiah terus berlangsung. Dari merekalah kemudian bercokol satu demi satu markas penyebaran Syiah di Indonesia. Lampung, Bandung, Pekalongan, Jepara, Yogyakarta, Bangil, dan beberapa kota lainnya mulai unjuk taring. Mereka suarakan paham Syiah. Walau di antara mereka, kala itu, ada yang masih menyembunyikan kesyiahannya alias bertaqiyah. Ada juga yang lantaran semangat langsung mendendangkan paham Syiah ke tengah-tengah masyarakat.

Generasi awal ini terolong militan. Untuk kalangan intelektual, terkhusus di kampus, sosok Jalaluddin Rakhmat tak bisa diabaikan peranannya. Melalui sekolah menengah yang dirintisnya, Jalaluddin Rakhmat giat melakukan kaderisasi kesyiahan. Berbagai beasiswa ditawarkan kepada tunas muda tersebut untuk melanjutkan studi ke Qum atau perguruan tinggi di kota lainnya di Iran. Seiring dengan itu, di barisan media masa, Surat Kabar Republika pun kerap menjadi corong menyusupkan paham Syiah. Tak jarang, Republika menuai protes lantaran dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengemudikan kebijakannya ke arah pemahaman Syiah.

Melalui media buku, surat kabar, dan lainnya kerap diusung tema-tema mendekatkan antara Sunni-Syiah. Mereka berupaya menghembuskan titik kesamaan antara Sunni-Syiah. Di antaranya, disebutkan bahwa “baik Sunni maupun Syiah sama-sama menyembah Allah,” “Allah dan Rasul Syiah sama dengan Sunni,” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menjadikan umat tertipu. Syubhat (kesamaran) inilah yang bisa menggelincirkan akidah seorang muslim sehingga berubah menjadi seorang Syi’i (penganut agama Syiah).

Padahal, apa yang ada di dalam ajaran Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Syiah. Perbedaan tersebut justru terkait masalah yang bersifat prinsip. Misal, dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk tidak mencela seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai ada seorang dari kalian yang menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, yang demikian itu belum bisa menyamai sesuatu yang telah mereka infakkan (walau) satu mud (segenggam) atau seperduanya.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana bisa dikatakan ada titik dekat antara Islam dan Syiah? Seorang muslim menghormati sahabat yang mulia, Muawiyah radhiallahu ‘anhuma, sedangkan orang Syiah mencelanya, bahkan mengafirkannya.

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam dengan Syiah? Padahal Islam mengajarkan penghormatan terhadap sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sedangkan Syiah mencercanya dengan segala penghinaan yang mendalam. Bahkan, mereka menyebut beliau munafik dan murtad.

Islam mengajari umatnya untuk memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, sedangkan Syiah menuduhnya sebagai pelacur.

Islam mengajari kita untuk memuliakan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, sementara Syiah mencaci maki dan mengafirkan keduanya, serta menggelari keduanya dengan gelar buruk, “dua berhala Quraisy”.

Padahal para sahabat yang dicerca oleh orang Syiah adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas, jika mereka bukan orang-orang terpercaya, bagaimana halnya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka?

Ini sebuah tipu daya musuh Islam. Sungguh, orang-orang Syiah adalah musuh Islam dan kaum muslimin. Mereka menebarkan berbagai kerusakan ke dalam tubuh umat. Berbagai kerusakan itu mereka susupkan melalui beragam cara.

 

Menyusup ke Kalangan Intelektual dan Masyarakat

Dalam rangka mendekatkan pemahaman Syiah kepada masyarakat, pemerintah Syiah Iran melakukan langkah-langkah pendekatan ke berbagai ormas Islam. Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berhasil dirangkul.

Untuk hal ini, pemerintah Syiah Iran mengutus pejabat setingkat menteri guna mengunjungi pimpinan tertinggi ormas Islam. Langkah ini pun diikuti para pengurus organisasi Syiah di daerah untuk berdialog dengan pimpinan daerah ormas Islam.

Penyebaran ajaran Syiah makin meruyak ke kalangan intelektual melalui pendirian Iran Corner. Di beberapa perguruan tinggi berlabel Islam, Iran Corner dijadikan semacam syiahisasi berbaju pertukaran budaya. Paham Syiah langsung ditebarkan di jantung kalangan akademisi yang memang rentan disusupi pemahaman agama warna-warni.

Tak kurang dari 12 Iran Corner berhasil didirikan di perguruan-perguruan tinggi berlabel Islam. Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, UIN Ciputat adalah beberapa perguruan tinggi yang telah berhasil dirangkul oleh negara Syiah Iran. Program ini akan terus bergulir sebagai manifestasi dari tekad kaum Syiah untuk menebar pemahaman Syiah Rafidhahnya di Indonesia.

Sisi lain, berbagai yayasan dan pondok pesantren Syiah pun tak tinggal diam. Mereka menggarap kalangan kaum muslimin menengah ke bawah. Melalui pendekatan kemasyarakatan, mereka mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Awal dakwah mereka mengesampingkan perbedaan paham yang ada. Mereka mengusung jargon bahwa tuhan mereka sama, nabi mereka sama, kiblatnya pun sama, serta unsur-unsur yang sama lainnya. Apabila diungkit tentang nikah mut’ah dan kesesatan lainnya, mereka pun akan bertaqiyah. Dusta dalam hal ini adalah ibadah menurut keyakinan mereka.

Beberapa waktu lalu sebagian kaum muslimin sempat dihebohkan dengan munculnya nama Jalaluddin Rakhmat di jajaran caleg salah satu partai politik. Bahkan, rumor dirinya akan menduduki jabatan menteri agama sempat pula merebak. Kemunculan Jalaluddin Rakhmat di barisan partai politik tanpa embel-embel agama ini tentu memiliki target dan tujuan tersendiri.

Seiring maraknya intimidasi terhadap kalangan Syiah di berbagai daerah, tentu Jalaluddin Rakhmat telah berkalkulasi menetapkan pilihannya pada salah satu partai politik. Setidaknya, partai politik yang dijadikan pilihannya memiliki satgas yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari itu, partai politik ini memiliki masa fanatik yang lumayan solid. Dengan figur Jalaluddin Rakhmat, kaum Syiah di daerah bisa menyusup dan berlindung di balik kandang banteng.

Setelah melebur, ke depan akan teropini, bahwa mengganggu orang Syiah sama dengan mengganggu kader partai. Itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan satgas dan masa fanatik partai politik satu ini. Implikasi semacam ini tentu yang diharap. Akhirnya, kaum Syiah yang masih minoritas di berbagai daerah bisa terlindungi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,  “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 41)

Lebih dari itu, hal ini diharap bisa memengaruhi para pengikut partai politik satu ini untuk menjadi penganut Syiah atau bersimpati pada kaum Syiah. Nas’alullaha as-salamah.

Menilik perjalanan sejarah, sungguh tidak mengherankan apabila kaum Syiah melakukan gerakan penyusupan. Infiltrasi model Syiah telah ada pendahulunya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah, ratusan ribu kaum muslimin tertumpah darah hingga memerahkan air sungai Dajlah di Baghdad, Irak, serta berikutnya air sungai itu berganti warna biru lantaran kitab-kitab karya ulama dibuang ke sana, merupakan akibat ulah penyusup Syiah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya penganut Syiah Rafidhah yang mendendam kepada Ahlus Sunnah, berhasil menyusup ke pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan. Dari sanalah keduanya menyusun makar hingga pasukan Tartar pimpinan Hulagu Khan berhasil masuk Baghdad dan melakukan perbuatan keji. (Lihat Asy-Syariah, edisi 101)

Gerakan penetrasi ke berbagai perguruan tinggi, pemerintahan, ormas-ormas Islam merupakan salah satu strategi dakwah kaum Syiah di Indonesia. Melalui strategi dakwah semacam itu, kaum Syiah berupaya mendekatkan ajarannya kepada umat. Dengan demikian, umat tidak merasa asing dengan paham Syiah, dan akan menganggap bahwa Syiah adalah salah satu mazhab sebagaimana mazhab lainnya yang diakui oleh Ahlus Sunnah. Akhirnya, paham Syiah tidak lagi dianggap sebagai paham sempalan yang sesat dan menyesatkan.

 

Syiah Itu Radikal

Radikalisme melekat kuat dalam ajaran Syiah. Para ulama mereka mengajarkan kepada penganutnya bahwa seluruh sahabat telah murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. (al-Kulaini dalam al-Kafi 8/245, lihat Taudhihu an-Naba’ ‘an Mu’assisi asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, hlm. 121)

Sikap radikal ini ditanamkan sedemikian rupa sehingga bagi penganut syiah hanya ada ahlu bait dan sahabat yang disebutkan saja yang patut mereka cintai. Selain yang disebutkan di atas, para sahabat lainnya dianggap manusia tercela.

Radikalisme dalam ajaran Syiah tergambar dari ungkapan yang ditulis Jalaluddin Rakhmat saat mengungkap makna syahadah. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Syahadah, atau mencari kematian di dalam jihad fi sabilillah, sebenarnya merupakan salah satu nilai penting dalam perjuangan hidup seorang muslim. Akan tetapi, nilai syahadah di kalangan kaum Syiah merupakan nilai yang relatif lebih meresap daripada yang diresapi oleh kaum Sunni. Ini tercermin dalam slogan-slogan saat terjadinya revolusi Iran, ‘Mihrab Syi’ah adalah mihrab darah,’ ‘Dalam hidup Syiah, tiap hari merupakan Asyura; setiap tempat adalah Karbala,’ atau seperti diucapkan Husein, Imam Syiah yang ketiga, ‘Kematian bagiku hanyalah kebahagiaan (Inni laa aral mauta illas sa’adah)’.” (Islam Alternatif, hlm. 245—246)

Bau amis darah menyengat kuat dalam paham Syiah. Sejarah telah membuktikan betapa kaum Syiah telah menulis perjalanan sejarah umat inidengan darah. Sebuah radikalisme telah dipertontonkan secara vulgar di hadapan umat. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya laten kaum Syiah juga perlu ditingkatkan.

Sejarah berdarah yang telah ditoreh oleh Syiah jangan sekali-kali dilupakan. Sedikit saja kaum Syiah memiliki kekuatan, niscaya kaum muslimin bisa mendapat perlakuan tidak patut. Dalam keadaan lemah saja kaum Syiah berani mencerca para sahabat yang dimuliakan oleh kaum muslimin. Apalagi ketika kekuatan itu ada pada mereka. Entah, apa yang akan diperbuat mereka terhadap kaum muslimin. Nas’alullaha as-salamah.

Kaum Syiah merasa lebih agung dan tinggi kedudukannya dibanding dengan umat lainnya. Bahkan, para imam Syiah memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan para nabi dan rasul sekalipun. Dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (hlm. 47-48), Khomeini mengungkapkan, “Kedudukan para imam kami lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan rasul.”

Maka dari itu, dengan segala paham sesat dan menyesatkan, akankah paham Syiah dibiarkan? Kaum Syiah di Indonesia benar-benar memanfaatkan celah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang ada di Indonesia, walau harus mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walau dengan cara merendahkan martabat para nabi dan rasul, sebagaimana diungkapkan oleh Khomeini. Masihkah mereka layak mendapat tempat di negeri ini?

Siapa pun kita, selama mencintai Islam sebagai agamanya, hendaknya mewaspadai gerakan kaum Syiah ini. Jangan sampai terulang lagi sejarah yang bersimbah darah. Wallahu a’lam.

 

Teror Ala Syiah

Pemerintah Malaysia menyikapi secara tegas pemahaman dan penganut syiah. Pihak pemerintah memberi label kepada komunitas Syiah di Malaysia sebagai gerakan yang mempunyai elemen militan. Bahkan, pernah beberapa orang ditahan unit anti terorisme, dan mereka mengaku sebagai pengikut Syiah.

Sebagai sebuah paham, Syiah memiliki doktrin yang menjadikan pengikutnya bersikap militan dan radikal. Revolusi di Iran yang dilakukan kaum Syiah memberi gambaran betapa radikalisme kaum Syiah sedemikian kuat.

Penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Teheran juga memberi sinyal kuat unsur radikalisme dalam komunitas Syiah. Drama penyanderaan yang berawal 4 Nopember 1979 tersebut berlangsung selama 444 hari. Penyanderaan ini didukung pihak pemerintah Iran, bahkan di bawah kendali langsung Khomeini.

Aksi-aksi teror biasanya didukung oleh pemahaman radikal yang membabi buta. Saat musim haji pun, sekelompok pengikut Syiah memanfaatkannya untuk melakukan demo. Khomeini pernah memerintah jamaah haji Iran untuk melakukan demo terhadap pemerintah Saudi. Tragedi 31 Juli 1987 menewaskan ratusan orang. Sebuah tindakan tak patut dilakukan oleh kaum Syiah di Tanah Haram. Kekhusyukan beribadah sirna akibat radikalisme membabi buta yang dilakukan para pengikut syiah. Sejarah tentu mencatat tragedi menyedihkan ini.

Dalam perjalanan sejarah, aksi kaum Syiah diwarnai merah darah. Tengoklah apa yang terjadi di Suriah. Pemerintahan Syiah membantai sekian banyak manusia. Darah tertumpah di bumi Syam. Sebuah tragedi yang memilukan.

Mewaspadai gerakan kaum Syiah tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, fakta sejarah telah mengungkapkan tentang perbuatan licik kaum Syiah yang berakhir dengan aksi teror dan banjir darah. Katanya, mereka mencintai Husain, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nyatanya, sejarah mengungkap bahwa kaum Syiahlah yang membunuh Husain di Karbala. Mereka licik. Sejarah pun diputarbalikkan. (Lihat Asy Syariah edisi 101)

Lebih dari itu, mewaspadai gerakan kaum Syiah merupakan upaya membentengi umat dari pemahaman sesat yang dijejalkan ke tengah-tengah umat.

Apabila dusta menjadi inti ajarannya, lantas kebaikan apa yang bisa diperoleh darinya? Apabila mut’ah dilegalkan, lantas kehidupan bermasyarakat yang bagaimana yang hendak dibentuk? Apabila para imam mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan para nabi dan rasul, lantas agama model apakah yang akan ditanamkan pada umat?

Kerusakan demi kerusakanlah yang akan dituai manakala ajaran Syiah ini menjalar di tubuh umat. Islam justru berlepas diri dari model pemahaman yang diyakini oleh kaum Syiah. Ingatlah, tangan Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi, saat melahirkan agama Syiah ini dilumuri darah.

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila umat Islam tetap harus mewaspadai ajaran sesat satu ini. Nas’alullaha as-salamah.

Wallahu a’lam.

Syiah dan Taqiyah

Taqiyah adalah sikap kehati-hatian dengan tidak menampakkan keyakinan yang terdapat di dalam hati di hadapan orang lain. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 12/314)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Taqiyah dengan lisan, sedangkan hati tetap tenang dengan keimanannya.” Ini pula yang dikuatkan oleh Abu Aliyah, Abu Sya’tsa’, adh-Dhahhak, Rabi’ bin Anas, dan yang lainnya. (Fathul Bari, 12/314, Tafsir Ibnu Katsir, 1/358) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barang siapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (an-Nahl: 106)

لَّا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَن تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (Ali ‘Imran: 28)

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini, “Taqiyah yang disebut oleh Allah k dalam ayat ini adalah taqiyah terhadap orang-orang kafir, bukan kepada selain mereka.” (Tafsir at-Thabari, 6/316, Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 806)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan takut dirinya akan dibunuh (jika tidak melakukannya), sementara hatinya tetap tenang dengan keimanan, ia tidak dihukumi kafir.” Namun, jika ia memilih dibunuh dan bersabar di atas siksaan tanpa melakukan taqiyah, hal tersebut lebih utama. Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa siapa yang dipaksa melakukan kekafiran dan lebih memilih dibunuh, ia mendapatkan pahala yang lebih besar di sisi Allah Subhanahu wata’ala.” (Fathul Bari, 12/314)

Adapun versi agama Syiah, Syaikh Mufid menyebutkan definisi taqiyah adalah ‘menyembunyikan kebenaran dan menutupi keyakinan, serta menyembunyikannya di hadapan orang-orang yang menyelisihinya dan tidak menampakkan sesuatu di hadapan mereka yang dapat menyebabkan bahaya bagi agama atau dunianya.’ (Syarah Aqaidis Shaduq, al-Mufid, hlm. 261)

Sebagian lagi mengatakan bahwa taqiyah adalah seseorang mengatakan atau mengucapkan selain apa yang diyakini agar diri dan hartanya tidak ditimpa kemudaratan, atau agar kehormatannya tetap terjaga. (Muhammad Jawad, asy- Syiah fil Mizan, hlm. 48. Lihat pula Mas’alatut Taqrib, hlm. 330)

Menurut agama Syiah, melakukan taqiyah adalah salah satu rukun agama yang harus diamalkan. Ibnu Babawaih berkata, “Keyakinan kami tentang taqiyah, ia adalah kewajiban. Siapa yang meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” (al-I’tiqadat, 114) Ash-Shadiq berkata, “Seandainya aku katakan bahwa meninggalkan taqiyah seperti meninggalkan shalat, aku benar.”

(as-Sarair, Ibnu Idris, 479; Man La Yahdhuruhul Faqih, Ibnu Babawaih, 2/80; Ushul Madzhabis Syiah, hlm. 807) (al-Kafi, 2/219)

Bahkan, mereka menganggap orang yang tidak melakukan taqiyah adalah orang yang tidak beragama. Al-Kulaini meriwayatkan bahwa Ja’far bin Muhammad berkata, “Sesungguhnya sembilan persepuluh agama ini dalam taqiyah. Tidak ada agama bagi yang tidak melakukan taqiyah.” (Ushul al- Kafi, 2/217)

Al-Kulaini juga meriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ia berkata, “Taqiyyah itu termasuk agamaku dan agama nenek moyangku. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak bertaqiyyah.” Ibnu Babawaih juga mengatakan, “Taqiyyah itu wajib dan tidak boleh dihapus (hukumnya) sampai al-Qaim (Imam Mahdi, -pen.) keluar. Barang siapa meninggalkannya sebelum keluarnya al- Qaim, sungguh ia telah keluar dari agama  Allah l dan agama Imamiyah (Syiah Rafidhah, -pen.). Dan ia menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan para imam.” (al-I’tiqadat, hlm. 114—115)

Mereka juga meriwayatkan dari Ali bin Musa ar-Ridha bahwa ia berkata, “Tidak ada iman bagi yang tidak melakukan taqiyah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling banyak melakukan taqiyah.” Ada yang bertanya kepadanya, “Wahai anak Rasulullah, sampai kapan?” Ia menjawab, “Sampai waktu yang telah ditentukan, yaitu keluarnya al- Qaim. Barang siapa meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya al-Qaim, dia bukan dari kami.” (Ikmalu ad-Din, Ibnu Babawaih, hlm. 355; A’lam al-Wara, ath-Thabarsi, hlm. 408; Kifayatul Atsar,  Abul Qasim ar-Razi, hlm. 323. Lihat Ushul Madzhab asy-Syiah, hlm. 808)

Jadi, wajar jika mayoritas kaum Syiah Rafidhah adalah para pendusta yang sangat mudah bersaksi palsu, berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lebih-lebih lagi atas nama selain beliau. Benar apa yang  dikatakan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah,

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Aku tidak melihat seseorang yang lebih berani bersaksi palsu daripada kaum Syiah Rafidhah.” (Diriwayatkan al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/208; Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 9/114; al-Kifayah, al-Khatib al-Baghdadi, hlm. 126)  

UCAPAN ULAMA TENTANG KEDUSTAAN SYIAH RAFIDHAH

Diriwayatkan dari Yunus bin Abdil A’la bahwa al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku membolehkan seluruh persaksian ahli bid’ah, kecuali kaum Rafidhah.” (al- Kubra, al-Baihaqi, 10/208)

Al-Imam Malik rahimahullah ditanya tentang kaum Rafidhah. Beliau menjawab, “Jangan engkau berbicara dengan mereka dan jangan meriwayatkan dari mereka, karena sesungguhnya mereka suka berdusta.” Yazid bin Harun t juga berkata, “Hadits setiap pelaku bid’ah (bisa) dicatat selama ia tidak mengajak kepada bid’ahnya, kecuali Rafidhah, karena mereka suka berdusta.” Diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’id al-Asbahani bahwa Syarik berkata, “Aku mengambil ilmu (hadits, -pen.)

dari setiap yang aku temui kecuali Rafidhah, karena mereka memalsukan hadits dan menjadikan perbuatan itu sebagai bagian dari agama.” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ulama riwayat dan pembawa sanad telah bersepakat bahwa kaum Rafidhah adalah kelompok yang paling pendusta. Dusta pada mereka adalah hal yang klasik. Oleh karena itu, para imam Islam mengetahui ciri khas kelompok ini adalah banyak berdusta.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyah, 1/60—61)

Jelaslah bagi kita, bahwa ajaran taqiyah (baca: dusta) kaum Syiah Rafidhah adalah ajaran yang turun-temurun, diwariskan oleh para pendusta mereka melalui kitab-kitab hadits karya tokoh Rafidhah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Taqiyah=Dusta

Makna Taqiyah

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata, “Taqiyah menurut mereka (Syiah) adalah menampakkan sesuatu dengan menyelisihi yang mereka sembunyikan atau menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan.” (asy-Syiah was- Sunnah, hlm. 100)

Taqiyah adalah perlindungan dengan maksud seseorang melindungi keselamatan  dan kehormatan diri dan harta dari bahaya musuh dengan menyembunyikan sesuatu serta melahirkan apa yang berlainan dengan hakikat (yang benar) yang tersembunyi di dalam hati. Dengan kata lain, taqiyah ialah tindakan berpura-pura atau hipokrit karena terpaksa. (Wikipedia)

Taqiyah dan Keyakinan Syiah

Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qumi (salah seorang ahli hadits Syiah) berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban. Barang siapa meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” Dia juga berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sampai keluar penegak keadilan (Imam Mahdi versi mereka). Barang siapa meninggalkannya sebelum penegak keadilan tersebut keluar, berarti dia keluar dari agama Allah Subhanahu wata’ala dan dari ajaran Imamiyah serta menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam (mereka). (al-I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1374 H)

Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah berkata, “Sebab utama yang menghalangi terjadinya tanya jawab yang jujur dan ikhlas di antara kita dan mereka (Syiah) adalah taqiyah. Sebab, taqiyah adalah keyakinan agama yang menghalalkan mereka untuk menampakkan kepada kita segala sesuatu yang menyelisihi apa yang mereka sembunyikan di dalam hati. Karena itu, ada sebagian kita (Ahlus Sunnah) yang pada dasarnya hatinya selamat (baik) bisa tertipu oleh zahir yang mereka tampakkan karena ambisi mereka supaya dipahami dan dimengerti. Padahal mereka sendiri tidak ingin dan tidak ridha melakukannya. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 8—9)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 100), “Taqiyah adalah ajaran dan keyakinan mereka. Hakikatnya adalah menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebatilan. Sampai-sampai mereka membuat hadits palsu untuk melegalkannya. Mereka meriwayatkan dari Sulaiman bin Khalid, ia berkata, “Abu Abdillah (Jafar bin al-Baqir yang mereka gelari dengan ash-Shadiq), mengatakan, “Wahai Salman, sesungguhnya engkau berada di atas suatu ajaran agama yang barang siapa menyembunyikannya, niscaya Allah akan memuliakannya; dan barang siapa menampakkannya niscaya Allah akan menghinakannya’.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 222 terbitan Iran)

Selanjutnya asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan, “Setelah penjelasan ini, apakah mungkin seseorang memercayai dan membenarkan ucapan mereka, berjalan bersama dan membuat kesepakatan dengan mereka?” Sungguh benar pengakuan seorang ulama Syiah, “Sesungguhnya, mazhab Imamiyah dan mazhab Ahlus Sunnah ibarat dua mata air yang mengalir berlawanan arah. Sampai hari kiamat, dua mata air tersebut demikianlah berjauhan sehingga tidak mungkin bertemu selamalamanya.” (Mishbahu azh-Zhulam, hlm. 41—42)

Mengapa dan Sampai Kapan Bertaqiyah?

Syiah melakukan taqiyah untuk menjaga jiwa, harta, dan yang lainnya. Mereka menukil dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Taqiyah termasuk amalan-amalan yang paling mulia. Dengan taqiyah, seseorang menjaga diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 163)

Al-Kulaini meriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Jafar, dia berkata, “Taqiyah (dilakukan) pada kondisi darurat.Pelakunya lebih paham, kapan harus melakukannya.” (al-Kafi fi al-Ushul, bab at-Taqiyah) Dalam riwayat lain, Abu Jafar berkata, “Ada tiga perkara yang aku tidak akan bertaqiyah terhadapa seorang pun: minum arak (khamr), mengusap bagian atas kedua khuf, dan haji tamattu’.

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir (seorang ulama Sunni) berkomentar, “Yang benar adalah mereka berkeyakinan bahwa taqiyah itu wajib dalam seluruh perkara apakah untuk menjaga (melindungi) jiwa atau yang lainnya. Mereka membiasakan dusta, kemudian melegalisasikannya dan menyebutnya dengan nama yang lain (baca: taqiyah). Setelah itu, mereka membuat hadits-hadits palsu yang menunjukkan keutamaannya.” (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 117)

Mereka melakukan taqiyah ini sampai mati atau keluarnya imam Mahdi versi mereka. Ali bin Musa bin Jafar (imam ke-8 versi Syiah) berkata, “Tidak ada agama bagi orang yang memiliki sikap wara’ dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah karena yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah yang paling bertakwa (baca: bertaqiyah).” Lalu dia ditanya sampai kapan? Dia menjawab, “Sampai waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari keluarnya (Imam Mahdi) yang menegakkan keadilan. Barang siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi, berarti dia bukan golongan kita.” (Kasyful Ghummah [sebuah buku Syiah], hlm. 241)

Dusta, Ajaran Agama Syiah

Dalam rangka melegalisasikan ajaranajarannya yang sesat dan menyesatkan, Syiah menghalalkan dusta demi agama (baca: agama Syiah) Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan di dalam kitabnya, asy- Syiah was-Sunnah (hlm. 100), “Tidaklah terucap kata-kata Syiah kecuali akan tergambarkan kedustaan senantiasa bersamanya, seakan-akan dua kata yang sinonim (semakna) yang tidak ada perbedaannya. Dua perkara tersebut saling menuntut dari sejak awal munculnya mazhab ini (baca: agama ini). Syiah sejak awal munculnya berasal dari kedustaan dan diiringi dengan kedustaan pula.” Tatkala Syiah adalah induknya kedustaan, maka mereka memberi label kedustaan tersebut dengan bungkus pengultusan dan pengagungan yang mereka menamainya (at-Taqiyah) yaitu nama yang bukan aslinya. Mereka menginginkan dengan taqiyah supaya bisa menampakkan segala sesuatu yang menyelisihi dengan apa yang mereka sembunyikan dan menyatakan (segala sesuatu) yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan, sampai-sampai mereka berlebih-lebihan dengan taqiyah ini sehingga mereka menjadikannya sebagai keyakinan agama mereka dan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip ajaran agama mereka. Lalu mereka menisbatkan prinsip ini kepada salah seorang imam mereka yang ma’shum menurut mereka yaitu Abu Jafar bin Yaqub al-Kulaini, “At-Taqiyah itu termasuk agamaku (keyakinanku) dan keyakinannya bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 terbitan Iran)

Macam-Macam Kedustaan Syiah

1. Dusta atas Nama Allah Subhanahu wata’ala Rabb kita Subhanahu wata’ala mengharamkan kedustaan atas nama-Nya di dalam firman-Nya,

ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-An’am: 144)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al- Baqarah: 169)

Namun dengan larangan Allah Subhanahu wata’ala itu yang sangat keras, mereka orangorang Syiah berarti mengada-ngadakan kedustaan atas nama Rabb kita Subhanahu wata’ala dalam rangka membenarkan prinsip taqiyah yang jahat dengan tujuan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Mereka menukilkan ucapan Abu Abdillah al-Baqir, imam ke-6 versi Syiah, yang mereka gelari ash-Shadiq, Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah  tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. tatkala ditanya tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13)

Lalu dia menjawab, “Yang beramal dengan taqiyah di antara kalian.” (al- I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1347 H) Demikian juga “Imam Bukhari” mereka yang bernama Muhammad bin Yaqub al-Kulaini meriwayatkan di dalam Shahih-nya (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 yang diterbitkan di Iran) dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah berkata, “Taqiyah itu bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.” Maka aku (Abu Bashir) bertanya, “Termasuk dari agama Allah Subhanahu wata’ala?” Lalu dia menjawab, “Ya, demi Allah, termasuk bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.”

2. Dusta atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam umatnya yang berani berdusta atas namanya dengan sabdanya,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Golongan manusia yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah. Sebab, tidak ditemukan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang lebih sering berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada mereka. Hal ini ditegaskan oleh para ulama ahli hadits tatkala membahas tentang hadits palsu. Merekaberkata, ‘Sesungguhnya yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah.’ Ini adalah realitas yang dapat diketahui oleh orang yang meneliti kitab-kitab mereka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 4/70)

Adapun bukti kedustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut. Mereka menukil dari Abu Abdillah, dia berkata bahwa ketika Abdullah bin Ubai bin Salul (pemimpin munafikin)meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri jenazahnya. Umar berkata kepada Rasulullah, “Bukankah Allah Subhanahu wata’ala telah melarangmu dari menyalatinya?” Beliau diam. Umar bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah melarangmu dari menshalatinya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya, “Celaka kamu! Apa yang kamu ketahui tentang apa yang aku ucapkan (pada doaku)? Sesungguhnya aku telah berdoa, ‘Ya Allah, penuhilah rongga perutnya dengan api neraka dan masukkanlah dia ke dalam neraka’.” Abu Abdillah berkomentar, “Dia (Umar) mendapat kejelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah (yang mulanya) dia membencinya.” (al-Kafi fi al-Furu’, Kitab al-Janaiz hlm. 188 terbitan Iran)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengomentarinya, “Inilah akidah Syiah dalam masalah taqiyah. Menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdaya para sahabat, wal-iyadzubillah. Beliau tampakkan seolah-olah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk si munafik padahal Allah Subhanahu wata’ala telah melarangnya. Demikian pula, beliau tampakkan bahwa beliau menyelisihi perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan sebuah amalan yang tidak dilakukan oleh para sahabat  sesuai dengan apa yang mereka lihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Sebab, mereka tidak mengetahui apakah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan ataukejelekan bagi si munafik. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menampilkan diri sebagai hamba yang belas kasih terhadapnya, padahal yang beliau rahasiakan adalah menyelisihi yang beliau tampakkan. Jadi, lahiriah beliau menyelisihi batinnya (berdasarkan riwayat mereka).”

Beliau berkata pula, “Anda boleh bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan beliau takut sehingga memaksa beliau menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul si munafik, padahal waktu itu Islam dalam posisi yang sangat kuat. Demikian pula, tidaklah si munafik ini menyembunyikan kekafirannya kecuali karena takut terhadap Islam dan kekuatan Islam serta ambisi mendapatkan keuntungan pribadi dari Islam. Syiah tidaklah mengada-adakan kedustaan ini kecuali untuk melegalkan akidah mereka yang najis ini, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan taqiyah atau dusta sebagaimana halnya yang dilakukan oleh imam-imam mereka. Inilah taqiyah menurut Syiah. Taqiyah yang mereka nyatakan, Tidak dilakukan kecuali dengan menyembunyikan suatu perkara untuk menyelamatkan jiwa dan menjaga diri dari kejahatan.Adakah seorang muslim yang bimbang bahwa ini adalah kemunafikan dan kedustaan?” (asy-Syiah wa as- Sunnah, hlm. 106—107)

Ash-Shadiq meriwayatkan dari Jabir, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.” Beliau menjawab, “Wahai Jabir, Rabbmu lebih mengetahui yang gaib. Tatkala aku isra mi’raj ke langit dan sampai di Arsy, aku melihat empat cahaya. Dikatakan kepadaku, ‘Ini Abdul Muthalib, ini pamanmu Abu Thalib, ini bapakmu Abdullah, dan ini anak laki-laki pamanmu, Ja’far bin Abu Thalib.’ Aku bertanya, ‘Sembahanku, mengapa mereka bisa mendapatkan kedudukan yang mulia ini?’ Dia menjawab, ‘Mereka menyembunyikan keimanan dan menampakkan kekafiran, sampai mereka mati dalam keadaan seperti itu’.” (Jami’ al-Akhbar, hlm. 140)

Mereka membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Permisalan seorang muslim yang tidak bertaqiyah seperti tubuh yang tidak berkepala.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 162)

Taqiyah dan Tauriyah

Taqiyah berbeda dengan tauriyah. Tauriyah, menurut an-Nawawi radhiyallahu ‘anhu dalam Riyadhus Shalihin, adalah memaksudkan perkataannya dengan maksud yang benar, bukan maksud dusta kalau dilihat niatnya; walaupun perkataan itu kalau dilihat zahirnya adalah dusta kalau dilihat dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara’. (Sebagai contoh) apabila seorang muslim bersembunyi dari orang zalim yang ingin membunuhnya atau mengambil hartanya dan dia menyembunyikan harta itu. Jika seorang ditanya tentang orang muslim itu, wajib dia berdusta dengan cara menyembunyikannya. Demikian pula apabila dirinya dititipi sebuah barang yang ingin dirampas oleh orang zalim, ia harus berdusta dengan menyembunyikan titipan itu. Yang lebih hati-hati dalam hal ini semuanya adalah melakukan tauriyah. (Riyadhus Shalihin, bab “Bayanu ma Yajuzu minal Kadzib”)

Dusta Atas Nama Ahlul Bait

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik yang salah satu tandanya adalah,

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Apabila berbicara, dia berdusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullan bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

Syiah menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib z berkata, “Taqiyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling mulia. Dengan taqiyah itu dia menjaga/ melindungi diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang yang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Husain bin Ali berkata, “Kalau tidak ada taqiyah, tidak bisa dibedakan antara wali/saudara kita dengan musuh kita.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Ali bin Husain bin Ali berkata, “Allah Subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan akan menyucikannya dari dosa di dunia dan di akhirat, kecuali dua macam dosa, yaitu meninggalkan taqiyah dan meninggalkan hak-hak saudara.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 164)

Semua ini adalah nukilan dusta dari ahlul bait, padahal mereka lebih suci dari mengatakan hal tersebut.

Islam Mengajarkan Kejujuran dan Melarang Dusta

Agama Islam membawa syariat yang mulia dan sempurna. Ia senantiasa memerintah para hamba-Nya untuk berlaku jujur dan menjauhi dusta. Sebagian bukti yang menunjukkannya adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintah hamba-hamba-Nya agar berjalan bersama dengan orang-orang jujur setelah perintah untuk bertakwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

Orang-orang yang jujur adalah salah satu golongan yang Allah Subhanahu wata’ala janjikan bagi mereka ampunan dan pahala yang agung,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al- Ahzab: 35)

Demikianlah karena kejujuran akan mendatangkan ketenangan, keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib berkata,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا :n حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رَيْبَةٌ

“Aku hafal dari Rasulullah, ‘Tinggalkanlah segala sesuatu yang membingungkanmu kepada yang tidak membingungkanmu, karena kejujuran itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta menimbulkan kegundahan/ ketidaktenangan’.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau menyatakan, “Ini hadits yang sahih)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menuntun untuk masukke dalam jannah. Sungguh seseorang berbuat jujur sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai orang yang sangat jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan menyeret pelakunya ke dalam kejahatan dan kejahatan akan menyeret pelaku ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang berbuat dusta sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai pendusta.”

Adapun dusta adalah ciri khas orang-orang munafik sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orangorang munafik itu benar-benar orang pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Ciri khas mereka yang lain adalah nifaq (kemunafikan), yaitu menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setansetan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah berolokolok.” (al-Baqarah: 14)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلُةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal; barang siapa yang ada pada dirinya empat hal itu, berarti dia adalah orang yang munafik; dan barang siapa yang ada pada dirinya salah satu darinya, berarti ada pada dirinya perangai nifaq sehingga dia meninggalkannya. (Empat perkara tersebut adalah) apabila dia dipercaya dia khianat, apabila dia berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkarinya, dan apabila dia berbantah-bantahan maka dia curang.” (Muttafaqun alaih)

Pembahasan ini kita akhiri dengan sebuah pertanyaan, “Apakah mungkin mempertemukan dan menyatukan antara Islam dengan Syiah atau antara Sunnah dengan Syiah?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang alim yang sangat paham dengan kesesatan dan kebobrokan Syiah, yaitu asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Beliau katakan, “Bagaimana mungkin menyatukan orang yang jujur dengan pendusta? Perbuatan dustanya bukan karena keadaan darurat yang mengharuskan dusta, melainkan keyakinan bahwa dusta adalah kewajiban. Terlebih lagi dusta itu diyakini sebagai amalan ibadah yang agung yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan