Permusuhan Terhadap Dakwah Tauhid

Sesosok tubuh diseret di padang pasir, di bawah terik panas matahari yang menyengat, bagaikan bangkai yang mengeluarkan bau yang menjijikkan. Ia diseret menjadi bulan-bulanan, bahan olokan dan ejekan “anak-anak yang terhormat”.

Tubuh manusia yang dihormati oleh Penciptanya menjadi tidak bernilai dalam pandangan mereka. Lebih berharga anjing piaraan, keledai tunggangan, dan binatang yang tidak berakal.

Betapa sengsara tubuh yang diperlakukan sedemikian rupa dan dipermalukan menjadi tontonan semua orang. Di padang pasir, di bawah sengatan matahari, badan tidak dibungkus dengan secarik kain. Betapa panasnya, betapa sakitnya. Betapa kejamnya, betapa menyayatnya.

Semua itu mereka lakukan kepadanya agar dia jera, menyesal, tobat, dan segera meninggalkan keyakinan baru yang dia anut. Ternyata, yang mereka hadapi adalah seorang insan berjiwa besar. Keyakinannya kokoh bak gunung batu yang tidak bisa digoyahkan.

Mereka bisa menyobek-nyobek tubuhnya. Namun, jangan harap bisa menyentuh kalbu yang sudah disinari hidayah, apalagi menyobeknya. Justru mereka yang menyesal dan merugi. Mereka dipermalukan oleh adegan sikap manusia pengecut. Langkah kediktatoran tidak menghasilkan apa-apa.

Mereka lalu mencoba langkah diplomasi dengan menawarkan berbagai kesenangan dunia, yang harus dibayar membuang hidayah yang telah mendiami hatinya. Akan tetapi, sekali lagi, sosok tubuh yang menuntut keadilan dan ingin lepas dari belenggu kezaliman tersebut tidak menggubrisnya. Bahkan, tidak pula ia melakukan tawar-menawar dengan dunia yang fana. Dialah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu.

Mengapa dia diperlakukan sedemikan rupa? Apakah Bilal mengusik dunia mereka? Ataukah dia mengambil harta benda mereka? Ataukah karena keyakinannya berbeda dengan keyakinan mereka?

 Awal Permusuhan terhadap Dakwah Tauhid

Sejarah permusuhan terhadap dakwah tauhid telah berlangsung sejak lama. Ia akan terus berlangsung sampai datang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala. Generasi demi generasi datang, abad demi abad menyusul, tahun demi tahun berganti, genderang permusuhan terhadap dakwah tauhid terus ditabuh. Dalang utamanya adalah Iblis la’natullah ‘alaih.

Permusuhan terhadap dakwah tauhid kemudian diteruskan oleh sederetan tokoh yang memiliki ilmu, hujah, dan kitab yang banyak. Inilah yang digambarkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab Kasyfus Syubuhat,

“Ketahuilah, termasuk hikmah Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dia tidak mengutus seorang nabi membawa tauhid ini, melainkan Dia menjadikan untuknya musuh yang banyak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا شَيَٰطِينَ ٱلۡإِنسِ وَٱلۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ زُخۡرُفَ ٱلۡقَوۡلِ غُرُورٗاۚ

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia).” (al-An’am: 112)

Terkadang, musuh-musuh tauhid memiliki ilmu yang banyak, kitab-kitab, dan hujah-hujah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ

“Tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka membawa keterangan-keterangan, mereka merasa bangga dengan pengetahuan yang ada pada mereka.” (Ghafir: 83) (Matan Kasyfus Syubuhat hlm. 3)

Telah menjadi sunnatullah yang tidak akan berganti, permusuhan dan bendera peperangan melawan dakwah tauhid terus dikibarkan. Jangan heran ketika yang menyuarakan permusuhan tersebut justru orang Islam.

Ini menunjukkan bahwa ideologi Iblis la’natullah ‘alaih mudah diterima dan cocok untuk diterapkan, sesuai dengan hawa nafsu dan sejalan dengan ajaran nenek moyang. Kita pun teringat dengan sumpah Iblis,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢

Iblis berkata, “Demi kekuasaan-Mu, sungguh aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (Shad: 82)

Manuver-manuver jahat dan segala syubhat yang dilontarkan telah menelan banyak korban. Contoh nyata adalah sederetan lembaga yang berlambangkan dan menyuarakan Islam. Isinya adalah para cendekiawan. Akan tetapi, mereka ikut melancarkan ketidaksukaannya terhadap dakwah tauhid. Mereka mengeluarkan berbagai pernyataan yang mendiskreditkan ajaran tauhid yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٣٢

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (at-Taubah: 32)

Hal ini terjadi karena sebagian kaum muslimin lebih mengikuti dan mengagumi cara pandang orang-orang kafir. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan umat Islam agar tidak mengambil orang di luar mereka sebagai teman yang tepercaya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ ١١٨ هَٰٓأَنتُمۡ أُوْلَآءِ تُحِبُّونَهُمۡ وَلَا يُحِبُّونَكُمۡ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱلۡكِتَٰبِ كُلِّهِۦ وَإِذَا لَقُوكُمۡ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوۡاْ عَضُّواْ عَلَيۡكُمُ ٱلۡأَنَامِلَ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۚ قُلۡ مُوتُواْ بِغَيۡظِكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ١١٩ إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيۡ‍ًٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ ١٢٠ وَإِذۡ غَدَوۡتَ مِنۡ أَهۡلِكَ تُبَوِّئُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ مَقَٰعِدَ لِلۡقِتَالِۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ١٢١

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu. Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.

Beginilah kalian. Kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila menjumpaimu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu.

Katakanlah (kepada mereka), “Matilah kalian karena kemarahan kalian itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.

Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati. Akan tetapi, jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak memudaratkan kalian. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan. (Ali ‘Imran: 118—121)

Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ

“Sesungguhnya, kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (al-Maidah: 82)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Kedua kelompok ini (Yahudi dan musyrikin) adalah orang yang paling keras permusuhannya terhadap Islam dan kaum muslimin, secara mutlak.

Mereka adalah kaum yang paling sering melakukan makar untuk menimpakan malapetaka terhadap kaum muslimin. Hal itu didasari oleh kebencian mereka yang memuncak, kezaliman, hasad, penentangan, dan kekafiran mereka.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 203 )

 Berbagai Makar Musuh Tauhid

  1. Mencela para pembawa risalah Allah subhanahu wa ta’ala, mencela, dan merendahkan para pengikutnya.

Mereka melakukannya dengan menyematkan berbagai gelar, julukan, dan sifat yang jelek lagi memalukan.

فَقَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦ مَا نَرَىٰكَ إِلَّا بَشَرٗا مِّثۡلَنَا وَمَا نَرَىٰكَ ٱتَّبَعَكَ إِلَّا ٱلَّذِينَ هُمۡ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ ٱلرَّأۡيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمۡ عَلَيۡنَا مِن فَضۡلِۢ بَلۡ نَظُنُّكُمۡ كَٰذِبِينَ ٢٧

Berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihatmu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Dan Kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang berdusta.” (Hud: 27)

وَعَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡۖ وَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا سَٰحِرٞ كَذَّابٌ ٤

Mereka heran karena didatangi seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta.” (Shad: 4)

وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۢ ٣٦

Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (ash-Shaffat: 36)

 

  1. Tokoh-tokoh mereka berusaha menanamkan kebencian yang besar dalam jiwa para pengikutnya.

Mereka menyebut bahwa para utusan Allah subhanahu wa ta’ala adalah perusak, pembawa ajaran sesat dan menyesatkan. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan dan mengarahkan ke jalan yang lurus.

Mereka menuduh orang-orang yang mengikuti langkah para rasul sebagai pembawa paham radikal, menghidupkan mazhab baru, pengacau dan perusak ukhuwah di tengah-tengah umat.

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ٢٦

Dan Fir’aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya. Sungguh, aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

قَالَ فِرۡعَوۡنُ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ٢٩

Fir’aun berkata, “Aku tidak mengemukakan kepada kalian melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tidak menunjuki kalian selain ke jalan yang benar.” (Ghafir: 29)

 

  1. Mengancam, menyiksa, mengucilkan, memboikot, bahkan membunuh para utusan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka lakukan hal ini terhadap Nabi Yahya ‘alaihissalam dan Nabi Zakariya ‘alaihissalam. Demikian juga yang mereka perbuat terhadap para pengikut rasul-rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Mereka melakukannya sebagai jalan terakhir untuk meluapkan kebencian mereka terhadap dakwah tauhid.

Kisah tentang para nabi dan rasul yang menggambarkan hal ini masih demikian lekat di benak kita. Dalam al-Qur’an, Allah subhanahu wa ta’ala menceritakan sekian banyak kehidupan para nabi dan rasul, berikut segala rintangan yang menimpa mereka dan para pengikutnya.

Terhadap Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, inilah yang mereka lakukan.

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ ٦٨

Mereka berkata, “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak.” (al-Anbiya: 68)

Terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam, inilah yang mereka perbuat.

قَالَ ءَامَنتُمۡ لَهُۥ قَبۡلَ أَنۡ ءَاذَنَ لَكُمۡۖ إِنَّهُۥ لَكَبِيرُكُمُ ٱلَّذِي عَلَّمَكُمُ ٱلسِّحۡرَۖ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَرۡجُلَكُم مِّنۡ خِلَٰفٖ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمۡ فِي جُذُوعِ ٱلنَّخۡلِ وَلَتَعۡلَمُنَّ أَيُّنَآ أَشَدُّ عَذَابٗا وَأَبۡقَىٰ ٧١

Fir’aun berkata, “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepada kalian? Sesungguhnya, ia adalah pemimpin kalian yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Sesungguhnya, aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik. Sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.” (Thaha: 71)

 Mengapa Mereka Memusuhi Dakwah Tauhid?

Berikut ini adalah beberapa alasan yang menyebabkan mereka memusuhi dakwah tauhid.

  1. Mempertahankan ajaran nenek moyang

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ ١٠٤

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul”, mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati dikerjakan oleh bapak-bapak kami.” Apakah mereka akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (al-Maidah: 104)

  1. Mempertahankan kedudukan mereka di mata umat

وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرۡعَوۡنَ قَالُوٓاْ إِنَّ لَنَا لَأَجۡرًا إِن كُنَّا نَحۡنُ ٱلۡغَٰلِبِينَ ١١٣ قَالَ نَعَمۡ وَإِنَّكُمۡ لَمِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ ١١٤

Beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun dan mengatakan, “(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kami yang menang?”

Fir’aun menjawab, “Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (al-A’raf: 113—114)

 

  1. Kekhawatiran mereka kehilangan kenikmatan dunia

Yang tidak kalah penting adalah mereka mengobarkan permusuhan terhadap dakwah tauhid karena dunia fana yang mereka kejar. Janji-janji dunia telah memikat hati mereka. Mereka cenderung ingin hidup bahagia meski di atas penderitaan para pengikut yang telah mereka sesatkan.

 Akibat Memusuhi Dakwah Tauhid

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَتِلۡكَ عَادٞۖ جَحَدُواْ بِ‍َٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ وَعَصَوۡاْ رُسُلَهُۥ وَٱتَّبَعُوٓاْ أَمۡرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٖ ٥٩ وَأُتۡبِعُواْ فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا لَعۡنَةٗ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ أَلَآ إِنَّ عَادٗا كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّعَادٖ قَوۡمِ هُودٖ ٦٠

“Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka. Mereka mendurhakai rasul-rasul Allah dan menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Mereka selalu diikuti oleh kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.” (Hud: 59—60)

وَأَخَذَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ٱلصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٦٧ كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡاْ فِيهَآۗ أَلَآ إِنَّ ثَمُودَاْ كَفَرُواْ رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدٗا لِّثَمُودَ ٦٨

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (Hud: 67—68)

 Dakwah Tauhid Pasti Akan Menang

Musuh-musuh dakwah tauhid sering berkhayal akan kemenangan yang gemilang dan mampu memadamkan cahaya dakwah tauhid. Mereka berusaha menyusun berbagai strategi jitu, langkah yang terorganisir, organisasi yang rapi dan tangguh, tokoh-tokoh yang handal, berani, berilmu, dan bermartabat.

Usaha-usaha seperti ini pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliah terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Akan tetapi, mereka mengalami kekalahan yang telak dan kegagalan yang nyata. Akankah kalian, wahai musuh dakwah tauhid, akan mencobanya lagi?

إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ ١٢٨

“Sesungguhnya bumi (ini) milik Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf: 128)

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡ‍ٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٥٥

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. dan Barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)

Suatu kali, Khabbab ibnul Arat radhiallahu ‘anhu melapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbaring berbantalkan selendangnya di salah satu naungan Ka’bah. Dia mengatakan, “Tidakkah engkau mau memintakan pertolongan untuk kami, mendoakan kebaikan untuk kami?”

Beliau menjawab, “Sungguh, ada orang sebelum kalian disiksa dan digalikan lubang lalu diletakkan di dalamnya. Kemudian kepalanya digergaji dan dibelah menjadi dua. Yang lain disisir dengan sisir besi hingga mengelupas kulit kepalanya. Akan tetapi, semuanya tidak menyebabkan dia terhalang dari jalan agama Allah.

Demi Allah, Dia akan benar-benar meyempurnakan agamanya hingga seseorang yang melakukan perjalananan dari Shan’a menuju Hadhramaut tidak takut lagi selain kepada Allah dan serigala yang akan menerkam kambing. Akan tetapi, kalian tergesa-gesa.” (HR. al-Bukhari no. 6943)

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Kasyfus Syubuhat mengatakan, “Orang awam dari kalangan ahli tauhid akan mengalahkan seribu ulama ahlu syirik, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ ١٧٣

‘Dan tentara-tentara Kami pasti menang’. (ash-Shaffat: 173)

Jadi, tentara Allah subhanahu wa ta’ala selalu menang dengan hujah dan lisan, sebagaimana halnya mereka selalu menang dengan pedang dan tombak. Akan tetapi, yang dikhawatirkan adalah seorang yang bertauhid dan menempuh jalan tanpa membawa senjata.” (Matan Kasyfus Syubuhat hlm. 3)

Wallahul Musta’an.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abu Usamah Abdur Rahman

Menyoal Urusan Gaib

Di antara hal yang penting dalam akidah Islam adalah beriman terhadap urusan gaib.

Telah banyak orang tersesat dalam masalah ini. Sebagian mereka terjatuh dalam kekufuran karena mengaku tahu ilmu gaib. Sebagian orang membenarkan pengakuan orang yang mengaku tahu ilmu gaib tersebut.

Tidak sedikit pula orang-orang yang tidak meyakini sebagian urusan gaib, mengingkari masalah-masalah akidah, seperti azab kubur, telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lainnya.

  Lanjutkan membaca Menyoal Urusan Gaib

Tauhid Awal Dakwah Ilallah

Dakwah kepada jalan Allah subhanahu wa ta’ala menurut pandangan syariat adalah amalan dan bentuk ibadah yang besar, agung, dan mulia, apabila syaratnya terpenuhi dan tidak ada penghalangnya.

Dalil yang menunjukkan agungnya tugas ini sangat banyak, baik dari al- Qur’an, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maupun amalan para nabi, rasul, serta orang-orang saleh.

Di antaranya ialah firman Allah, Lanjutkan membaca Tauhid Awal Dakwah Ilallah

Jangan Kau Duakan Ibadahmu

Kesyirikan tidak hanya terjadi pada zaman jahiliah saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diutus. Kesyirikan juga merebak di masa kini meski dikemas dengan bungkus baru. Kehati-hatian agar tidak terjatuh pada perbuatan syirik sangatlah penting karena Allah ‘azza wa jalla menyebut perbuatan ini sebagai dosa besar yang paling besar dan tidak akan memberi ampunan bagi pelakunya kecuali jika ia telah bertaubat.

Lanjutkan membaca Jangan Kau Duakan Ibadahmu

Tauhid

Istilah tauhid memang telah menjadi istilah yang sangat populer di tengah masyarakat muslim. Namun tak sedikit yang memahaminya dengan pemahaman yang salah. 

Makna tauhid yang sebenarnya adalah mengesakan Allah pada sesuatu yang menjadi kekhususan-Nya baik Rububiyah, Uluhiyah, atau Asma serta Sifat-sifat-Nya.

Rububiyah artinya penciptaan alam, kepemilikan serta pengaturannya. Uluhiyah artinya ibadah, sementara Asma dan Sifat artinya nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala serta sifat-sifat-Nya yang sangat baik dan agung sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala tetapkan dalam kitab-Nya atau yang Rasul-Nya tetapkan dalam haditsnya (lihat al-Qaulul Mufid 1/hal 9,14,16 oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin)

Inilah tauhid hakiki yang dibawa oleh para Rasul Allah subhanahu wa ta’ala. Namun banyak orang yang menyelewengkan dari makna yang hakiki ini, sebagai contoh:

  1. Orang-orang ahli filsafat menamakan ilmu kalam atau filsafat dan mantiq Yunani yang dipakai untuk mempelajari permasalahan-permasalahan aqidah sebagai tauhid (lihat al Haqiqatus Syariyyah, oleh Bazmuul hal: 73)
  2. Orang-orang Mu’tazilah mendefinisikan kata tauhid dengan pembahasan seputar sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala, apa yang wajib untuk-Nya, dan apa yang tidak. Walaupun pada akhirnya mereka mengingkari semua sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang kemudian hal ini menjadi salah satu dari 5 prinsip mereka (lihat Firaq Mu’asirah 2/1032).
  3. Orang-orang penganut tarekat Tasawuf khususnya ekstrim mereka, justru meyakini tauhid sebagai “wihdatul wujud”, yakni bersatunya Allah subhanahu wa ta’ala dengan makhluk. Menurut mereka, tauhid ada 3 tingkatan:
    1. Tauhid orang awam, yaitu hanya beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala tidak mempersekutukan-Nya.
    2. Tauhidnya orang-orang khusus, hakekatnya adalah tenggelam dalam tauhid Rububiyah yakni meyakini Rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala dan meniadakan sebab atau hikmah (penciptaan mahkluk) sebagaimana keyakinan orang-orang Jabriyah. (Minhajus Sunnah Nabawiyah, 5/3588 355)
    3. Tauhidnya Khashshatul Khashshah (orang khususnya orang-orang khusus), yaitu wihdatul wujud. (lihat Madhahir Inhirafat Aqadiyah, 1/ 228-230)

Ditulis oleh  al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.