Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Lanjutkan membaca Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Sungguh, beliau memiliki ketabahan yang luar biasa saat menghadapi sakit dan kepayahan. Dalam kondisi sakit, beliau tetap berakhlak mulia, mengajar, mengulang pelajaran, dan tetap bersenyum. Orang yang melihatnya akan menyangka bahwa beliau sehat-sehat saja.

Jika ditanya tentang keadaannya yang sedang sakit, beliau berkata, “Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak dapat menghitung pujian terhadap Allah.” Lanjutkan membaca Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Di antara nasihat dan pengarahan beliau rahimahullah adalah sebagai berikut.

  1. Beliau sering menasihatkan agar betul-betul memerhatikan masalah akidah (iman, keyakinan).

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Memerhatikan masalah akidah sangat penting. Tanpa akidah, seorang muslim tidak akan mampu berhadapan dengan musuhnya. Bahkan, tidak mungkin dia melakukan suatu tindakan atau aktivitas Islami. Oleh sebab itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dari akidah. Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah dakwah kepada akidah dan hukum yang disertai dengan praktik pengalamannya.”

Lanjutkan membaca Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Berkaca Pada Ulama

Ulama adalah sosok manusia yang memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasa takut yang lekat pada dirinya adalah rasa takut yang lahir dilatari oleh ilmu yang dimilikinya. Ulama adalah sosok manusia yang benar-benar mengetahui dan memahami siapa yang ditakuti. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan hal itu melalui firman-Nya,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena itu, ulama adalah sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa menerapkan ilmunya di dalam kehidupan sehari-hari. Tindak-tanduk, perbuatan, tutur kata, dan amaliah hatinya senantiasa bersendi pada apa yang telah difirmankan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan disabdakan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ilmu yang disandangnya tidak semata tecermin dari lisannya. Tak semata dari kefasihannya berbicara. Lebih dari itu, segenap amal perbuatan mencerminkan bahwa sosok hamba Allah Subhanahu wata’ala tersebut adalah seorang alim. Asy-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaim bin Abdirrahman al-‘Utsaimin al-Wuhaibi at-Tamimi termasuk salah seorang ulama. Apa yang telah beliau rahimahullah perbuat, memberikan manfaat yang teramat banyak pada umat ini. Lebih dari 90 kitab, baik dalam bentuk risalah maupun yang berjilid, telah beliau rahimahullah wariskan kepada kaum muslimin. Kecintaan beliau rahimahullah terhadap ilmu telah tampak sejak usia pertumbuhan. Al-Qur’an telah dihafal pada usia dini.

Belum menginjak usia 15 tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan kitab Zadul Mustaqni’ dan Alfiyah Ibn Malik. Beliau rahimahullah telah mendapat bimbingan dari para ulama sejak usia yang teramat muda. Meski hidup dalam kesederhanaan, beliau tetap bersemangat menuntut ilmu hingga menyelesaikan pendidikan di Universitas al-Imam Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Beliau adalah hamba Allah Subhanahu wata’ala yang hidup diselimuti kezuhudan. Meski demikian, sebagai seorang yang mencintai ilmu dan amal, beliau senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian diri. Sikap zuhud beliau tergambar saat beliau menerima bantuan dari Raja Khalid bin Abdul Aziz. Setelah diterima, bantuan tersebut beliau wakafkan untuk kepentingan para penuntut ilmu syar’i.

Demikian pula saat diberi sesuatu dalam jumlah besar, beliau langsung mengumumkan bahwa pemberian itu digunakan untuk para penuntut ilmu syar’i. Pemberian itu tidak dijadikan sebagai milik pribadi, tetapi diserahkan kepada umat. Sikap zuhud yang sedemikian agung. Sikap zuhud demikian tertanam pada diri beliau rahimahullah. Sikap itu pula yang beliau ajarkan kepada umat. Kata asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Seseorang wajib menjadi manusia yang zuhud. Dia zuhud dalam urusan dunia dan lebih mencintai urusan akhirat. Apabila Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai harta, jadikanlah harta itu sebagai pembantu ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Hendaklah dia jadikan dunia sebatas di tangannya, tidak sampai merasuk ke dalam hati, sehingga dirinya meraup dua keberuntungan, yaitu keberuntungan dunia dan keberuntungan akhirat.” Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)

Zuhud, kata beliau rahimahullah adalah upaya meninggalkan sesuatu yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan akhirat. (Syarhu Riyadhi ash-Shalihin I/790 dan 799, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah) Suatu hari, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menyerahkan bantuan dalam jumlah yang besar. “Wahai Abdullah, aku dan engkau di sini hanya berdua. Tak ada yang melihat selain Allah Subhanahu wata’ala. Ambillah dana ini. Bantuan ini murni dari hartaku. Belikan mushaf al-Qur’an dan bagikan mushaf tersebut kepada orang-orang yang membutuhkan di penjara-penjara yang berada di Amerika,” ucap beliau kepada orang yang diamanati membagikan bantuan tersebut. Beliau berpesan, “Engkau yang bertanggung jawab membelikan dan membagikannya. Aku minta kepadamu, demi Allah, agar tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 23)

Beliau zuhud, dermawan, suka membantu, dan rendah hati. Sedemikian kokoh ketawadhuan menyelimuti beliau hingga membentuk sikap tak suka memamerkan keadaan diri. Jauh dari publisitas, sebuah sikap terpuji nan luhur yang patut ditiru. Sebagai seorang ulama yang banyak dikenal masyarakat luas, beliau sangat dekat dengan umat. Kemasyhuran namanya tak lantas menjadikan dirinya tinggi hati. Kisah berikut menggambarkan sikap “hangat” beliau terhadap umat. Kejadian ini di kota Makkah sebelum asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah wafat. Setelah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menunaikan shalat di Masjidil Haram, Makkah, beliau hendak pergi ke satu tempat. Karena tempat yang dituju cukup jauh, beliau naik taksi. Di tengah perjalanan, sang pengemudi taksi menyapa dan ingin mengenal lebih dekat penumpangnya. Terjadilah obrolan di antara keduanya.

Pengemudi taksi itu bertanya, “Siapakah Anda, wahai syaikh (panggilan akrab untuk orang yang telah tua, red.)?” Jawab asy-Syaikh, “Muhammad bin ‘Utsaimin.” Mendengar nama tersebut, sang pengemudi taksi heran dan bertanya, “Syaikh (Ibnu Utsaimin yang itu)?” Pengemudi taksi menyangka bahwa penumpangnya membohonginya. “Ya, saya asy-Syaikh,” kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menegaskan guna meyakinkannya. Namun, pengemudi taksi itu justru menggeleng-gelengkan kepalanya lantaran heran dan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, asy-Syaikh berbalik tanya kepada pengemudi taksi, “Siapakah Saudara?” Pengemudi taksi menjawab, “Asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz!” Mendengar jawaban tersebut, asy- Syaikh ‘Utsaimin tertawa. “Engkau asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz?” tanya asy-Syaikh. Sang pengemudi berbalik tanya, “Apakah engkau juga asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin?” Kata asy-Syaikh, “Akan tetapi, asy- Syaikh bin Baz memiliki keterbatasan fisik (buta). Beliau tentu tidak mampu mengemudikan mobil.” (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 39—40)

Dialog ringan di atas begitu cair mengalir bagaikan air, menggambarkan salah satu akhlak beliau. Kesabaran beliau teramat kental kala menghadapi orang awam. Dengan santun penuh rahmat dan ramah, ungkapan-ungkapan polos itu ditanggapi dengan bijak. Tidak ada ketersinggungan apalagi amarah. Semua dihadapi secara wajar. Saat menjelaskan firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku “Wahai  mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Beliau sebutkan bahwa ‘ala bashirah bermakna ‘ilmu’. Dakwah ini harus diliputi keikhlasan dan ilmu. Sungguh, kebanyakan dakwah ini hancur berderai lantaran hampa dari keikhlasan dan ilmu. Yang dimaksud ‘ala bashirah adalah ilmu, bukan semata ilmu syar’i. Namun, meliputi pula ilmu tentang mad’u (orang yang didakwahi). Ilmu yang mengantarkan pada keberhasilan meraih yang dituju, yaitu hikmah. Karena itulah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda saat hendak mengutus Abu Musa al- Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma ke negeri Yaman,

إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab.” (HR. al-Bukhari, Kitab al-Maghazi dan HR. Muslim, Kitab al-Iman, dari Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Lihat kitab karya beliau al-Qaulul Mufid ‘ala Kitabi at-Tauhid, hlm. 85)

Keutamaan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin terekam pula dari kebiasaannya dalam beribadah. Beliau rahimahullah senantiasa menegakkan ibadah yang bersifat fardhu, sunnah, dan ketaatan lainnya. Hal itu tergambar di antaranya dari amalan haji yang dilakukannya setiap tahun dalam jangka waktu yang panjang. Demikian pula umrah, beliau selalu berumrah saat Ramadhan atau waktu lainnya saat musim liburan. Bagaimana dengan shalat malam? Tentu, shalat malam selalu beliau tunaikan walau saat kelelahan mendera. Asy- Syaikh Hamd al-‘Utsman, salah seorang murid beliau bertutur, bahwa saat safar bersama asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ke Riyadh, mereka menyempatkan singgah ke Jeddah untuk selanjutnya menunaikan umrah di Makkah (sekadar diketahui, jarak Riyadh-Jeddah sekitar 851 km, dan Jeddah-Makkah sekitar 66 km, -red.).

Setelah selesai menunaikan umrah, keadaan fisik diliputi kelelahan yang sangat sehingga mereka tertidur pulas. Namun, tengah malam asy-Syaikh Hamd al-‘Utsman terbangun karena ada keperluan ke kamar kecil. Saat itulah beliau melihat asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin tengah menegakkan shalat malam. Melihat peristiwa tersebut, asy- Syaikh Hamd al-Utsman berkata, “Subhanallah, saya masih muda, tetapi justru tidur nyenyak. Sementara itu, beliau adalah orang yang telah lanjut usia. Dalam keadaan fisik kepayahan, beliau tetap menegakkan shalat malam.” Apa yang dilakukan oleh asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin malam itu memberi dorongan kepada teman seperjalanannya untuk menunaikan shalat malam. Dia pun bersegera mengambil air wudhu, lantas berusaha untuk shalat malam walau kantuk hebat menerpanya. (Fath Dzi al-Jalal wa al-Ikram, hlm. 29—30)

Prinsip untuk senantiasa mengerjakan amal kebaikan secara berkesinambungan termasuk nasihat emas beliau rahimahullah. Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Hendaklah seseorang senantiasa mengerjakan kebaikan.” (Syarhu Riyadhi as-Shalihin, hlm. 403) Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku,

يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

‘Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan. Dahulu ia senantiasa shalat malam, lantas ia tinggalkan kebiasaannya’.” (HR. al-Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 185)

Yang diperbuat oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin adalah dakwah berupa keteladanan. Beliau memberi contoh dengan landasan ikhlas hanya karena Allah Subhanahu wata’ala. Keteladanan beliau, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, telah mampu menyadarkan hamba Allah Subhanahu wata’ala yang terlelap. Membangunkan jiwa yang tertidur untuk kemudian bangkit menegakkan ketaatan. Betapa dalam dampak keteladanan pada umat. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dalam dakwah ini manakala para pendakwah hanya mampu menyampaikan pada tataran lisan atau yang diserukan oleh lisan tidak diikuti oleh amalan. Tak ada kesesuaian antara kata dan amal nyata. Padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ () كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)

Dalam menyikapi ahlul bid’ah, asy- Syaikh bin ‘Utsaimin memiliki pandangan bahwa ahlul bid’ah wajib di-hajr. Makna hajr menurut beliau adalah menjauhi mereka, tidak mencintai, tidak berloyalitas, tidak memberi salam, mengunjungi, menengok mereka, dan lainnya. Menghajr ahlul bid’ah wajib berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling menyayangi dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al-Mujadilah: 22)

Kepada yang bukan ahli bid’ah pun, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menerapkan hajr terhadap sahabat Ka’b bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dua orang temannya tatkala mereka enggan mengikuti Perang Tabuk. (HR. al-Bukhari no. 4418 dan HR. Muslim no. 2869 dan no. 53) Termasuk dalam kerangka hajr pula, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berpandangan bahwa seseorang dilarang menelaah bukubuku ahlul bid’ah. Sebab, dikhawatirkan akan terpengaruh dengan buku-buku tersebut. Terlarang pula menyebarkan dan mengedarkan buku ahlul bid’ah. Akan tetapi, manakala dibaca untuk dibantah dan diluruskan ke arah pemahaman yang benar, selama pelakunya mampu, tidak mengapa buku tersebut diteliti. Sebab, bagaimana pun, membantah kebid’ahan itu adalah kewajiban. (Lum’atul I’tiqad al-Hadi ila Sabili ar-Rasyad, disyarah oleh asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin, hlm. 157—158)

Sikap ini diajarkan kepada umat, tak lain demi menjaga umat dari berbagai penyimpangan dalam memahami Islam. Beliau menghendaki agar umat berada di atas pemahaman salafus shalih, pemahaman yang telah diajarkan dan diamalkan oleh para imam terdahulu. Inilah tugas ulama. Kini, beliau telah tiada di tengah umat. Namun, karya-karya beliau tetap menjadi rujukan. Karya-karya beliau memberi pencerahan terhadap umat, mengalir tiada henti. Sudah sepantasnya apabila kita berkaca pada ulama. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Asy Syaikh Ibnu Utsaimin Pelita Di Tengah Umat

Wafatnya Ulama,Musibah Bagi Umat

Diriwayatkan dari Salman radhiyallahu ‘anhu, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama generasi awal masih ada sehingga generasi berikutnya belajar darinya. Jika generasi pertama mati sebelum yang berikutnya belajar, manusia akan hancur.” (Riwayat ad-Darimi dalam Sunan-nya) Saat Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu meninggal, Ibnu Abbas c berkata, “Demikianlah hilangnya ilmu. Pada hari ini ilmu yang banyak telah dikubur.” (Riwayat al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak) Abu ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Pelajarilah ilmu oleh kalian sebelum ilmu itu dicabut. Dicabutnya itu dengan diwafatkannya para pemiliknya….” sampai beliau katakan, “Mengapa aku melihat kalian kenyang dengan makanan tetapi lapar dari ilmu?” (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Wafatnya seorang ulama adalah celah dalam Islam yang tidak dapat ditutup oleh apa pun, selama malam dan siang silih berganti.” Ayyub as-Sikhtiani t mengatakan, “Sungguh, apabila sampai kepadaku berita kematian seorang Ahlus Sunnah, seolah-olah satu bagian tubuhku terlepas.” (Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah) Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Alam ini menjadi baik dengan adanya ulama. Apabila tidak ada mereka, tentu manusia ibarat hewan ternak, bahkan lebih jelek. Maka dari itu, kematian seorang ulama adalah musibah, tidak ada yang menambalnya melainkan ada penggantinya yang lain. Demikian pula para ulama, merekalah yang mengatur manusia, negeri-negeri, dan budakbudak. Jadi, kematian mereka berarti kerusakan tatanan alam.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menancapkan para ulama dalam agama ini, yang belakangan menggantikan yang terdahulu. Dengan mereka, Allah Subhanahu wata’ala menjaga agama-Nya, kitab-Nya, dan para hamba-Nya. Renungkanlah, jika di alam ini ada seseorang yang mengungguli yang lain di dunia ini dalam hal kecukupan (harta) dan kedermawanan. Sementara itu, orang-orang sangat membutuhkannya dan dia selalu memberikan apa yang dia mampu. Lantas dia mati dan bantuan kepada mereka berhenti. Musibah kematian seorang ulama jauh lebih besar daripada kematian orang semacam itu. Padahal kematian orang yang semacam ini saja akan menyebabkan kematian banyak orang.” (Miftah Daris Sa’adah, dikutip dari buku asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

 

 Nama dan Nasab Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Shalih bin Sulaiman bin Abdurahman bin Utsman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muqbil, dari keluarga besar al-Wahbah dari bani Tamim. Kakek beliau yang keempat, yaitu Utsman, biasa dipanggil dengan sebutan Utsaimin. Akhirnya, keluarga tersebut populer dengan sebutan al-Utsaimin. Jadi, Utsaimin terambil dari nama Utsman. Beliau sendiri lebih dikenal sebagai Ibnu Utsaimin, anak Utsaimin. Maksudnya, anak keturunan Utsaimin. Dalam adat Arab penasaban langsung kepada kakek dan melewati ayah adalah hal yang biasa. Kuniah beliau ialah Abu Abdillah.

 

Tumbuh Kembang & Masa Belajar

Beliau terlahir di kota Unaizah, sebuah kota setingkat kabupaten (muhafazhah) yang termasuk dalam wilayah manthiqah (setingkat provinsi) al-Qashim. Unaizah termasuk kota tertua di manthiqah al- Qashim, kota yang sangat bersejarah bagi Kerajaan Saudi Arabia. Letaknya juga memiliki posisi strategis, yakni di tengah-tengah wilayah Kerajaan Saudi Arabia, tepatnya di sebelah timur laut pegunungan Najed. Beliau lahir pada 27 Ramadhan 1247 H. Beliau tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang yang menjalankan bisnisnya antara Unaizah dan Riyadh, lalu pekerjaannya menetap di Unaizah. Sebelum wafatnya, ayah beliau bekerja di Darul Aitam di Unaizah. Pernah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya, “Apakah Anda berdagang di samping kegiatan belajar Anda?” Beliau menjawab, “Tidak, karena ayah dalam keadaan ekonomi yang lancar di Riyadh.” Suatu saat, beliau menyebutkan kondisi ruang belajarnya, “Sebuah kamar yang terbangun dari tanah dan dapat melihat langsung ke kandang sapi.” Di samping itu, keluarga tersebut dikenal dengan keistiqamahan dan perhatian mereka terhadap urusan agama. Keluarga besar Utsaimin adalah bibi asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Kakek beliau dari pihak ibu, yaitu asy-Syaikh Abdurahman bin Sulaiman al-Damigh t, adalah seorang guru dan imam masjid al-Khazirah di kota Unaizah.

Oleh karena itu, ayah asy-Syaikh Ibnu Utsaimin memercayakan pendidikan anaknya kepada sang kakek. Jadi, beliau terhitung sebagai guru pertama asy- Syaikh Ibnu Utsaimin. Dari sang kakek ini, beliau belajar al-Qur’an sampai selesai menghafalnya dalam usia yang sangat muda, sebelum genap 14 tahun. Dari beliau pula, Ibnu Utsaimin kecil belajar beberapa bidang ilmu yang lain, seperti menulis, berhitung, dan dasar-dasar bahasa. Semua itu terjadi sebelum beliau melanjutkan thalabul ilmi (menuntut ilmu) di madrasah asy-Syaikh Ali bin Abdullah asy-Syuhaitan. Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau kecerdasan, kesucian fitrah, dan semangat yang tinggi untuk mendapatkan ilmu dari para ahlinya. Dengan itu, ayahnya pun mengarahkan beliau untuk konsentrasi belajar agama. Beliau pun belajar langsung dari seorang ulama besar di negeri itu, yakni asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, penulis kitab Taisir al-Karimir-rahman fi Tafsiri Kalamil- Mannan dan berbagai karya lain yang agung lagi bermanfaat.

Kegiatan belajar mengajar asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di dilakukan di masjid al-Jami’ al-Kabir di kota Unaizah dan perpustakaan. Beliau memercayakan pengajaran anak-anak kepada dua orang muridnya: asy-Syaikh Ali ash-Shalihi dan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al-Muthawwa’. Dari keduanya, asy-Syaikh Utsaimin belajar kitab Mukhtashar al-Aqidah al-Wasithiyyah dan Minhajus Salikin— keduanya karya as-Sa’di—, kitab al- Ajurrumiyah dan al-Alfiyah dalam bidang nahwu, serta ilmu sharaf. Setelah itu, beliau mulai duduk di majelis asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di dan belajar dari beliau beberapa bidang ilmu, di antaranya: tafsir, hadits, tauhid, fikih, ushul fiqih, sirah nabawiah, faraidh (ilmu waris), dan nahwu.

Beliau pun menghafal matan-matan dalam bidang-bidang ilmu tersebut. As-Sa’di dianggap sebagai syaikh besar pertama yang berpengaruh pada manhaj (metode) beliau dalam hal mengikuti dalil dan tata cara mengajar. Beliau juga sempat belajar dari asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan dalam bidang faraidh, yaitu saat asy-Syaikh Abdurrahman bin Ali bin ‘Udan menjabat sebagai qadhi (hakim) di Unaizah. Selain itu, beliau juga pernah menimba ilmu nahwu dan balaghah dari asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi—kelak menjadi wakil mufti di masa asy-Syaikh bin Bazyaitu saat asy-Syaikh Abdurrazzaq berada di kota Unaizah sebagai guru. Ketika dibuka al-ma’hadul ilmi— jenjang setara SMA—di kota Riyadh, beliau melanjutkan thalabul ilmi di sana pada 1372 H, tentu setelah mendapat izin dari sang guru, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di. Beliau berkisah, “Aku masuk ke al-ma’had al-ilmi langsung di kelas dua. Aku melanjutkan belajar di sana setelah bermusyawarah dengan asy- Syaikh Ali ash-Shalihi dan setelah memohon izin dari guruku, asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah. Saat itu, al-ma’had al-ilmi dibagi menjadi dua, bagian umum dan bagian khusus. Aku saat itu berada di bagian khusus. Saat itu juga, bagi siapa yang ingin melompat (ke jenjang berikutnya), dipersilakan. Artinya, dia diperbolehkan mempelajari kurikulum tahun berikutnya pada saat liburan, lalu mengikuti ujian pada awal tahun berikutnya. Apabila lulus, dia bisa mengikuti kelas berikutnya lagi.

Dengan demikian, aku mempersingkat waktu. Setelah itu, aku melanjutkan di jurusan syariah di Riyadh dengan sistem intisab, sampai lulus.” Dengan demikian, beliau belajar di kelas dua, lalu pada liburan musim panas mempelajari kurikulum kelas tiga, kemudian diuji pada awal tahun, dan beliau lulus. Kemudian pada tahun ajaran baru, beliau sudah masuk ke kelas empat. Keberadaan beliau di al-ma’had al-ilmi memberikan kesempatan bagi beliau untuk menimba ilmu dari sebagian ulama terkemuka yang mengajar di sana, di antaranya asy-Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan. Beliau mengisahkan perjumpaan awalnya dengan asy – Syaikh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi yang berpenampilan tidak meyakinkan. Ibnu Utsaimin bergumam, “Aku tinggalkan guruku, as-Sa’di, lalu aku duduk di depan Arab badui ini?” Akan tetapi, ketika beliau memulai pelajaran, bertaburanlah mutiara-mutiara faedah ilmiah dari lautan ilmunya yang dalam. Saat itulah kami tahu, kami sedang berada di hadapan salah seorang dari ulama besar dan jantan. Kami pun dapat mengambil manfaat dari ilmu, penampilan, akhlak, kezuhudan, dan sifat wara’ beliau.”

Beliau pun bisa belajar kepada asy- Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid, penulis at-Tanbihat as-Saniyyah Syarah al-Aqidah al-Washitiyyah, yang juga seorang qadhi, dan seorang syaikh ahli hadits, Abdurrahman al-Ifriqi. Di saat itu pula beliau berkesempatan menjalin hubungan dengan asy-Syaikh bin Baz sehingga beliau berkesempatan besar menimba ilmu dari beliau di masjid. Beliau pun belajar dari asy-Syaikh bin Baz tentang kitab Shahih al-Bukhari, bukubuku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab-kitab hadits dan pendapat-pendapat para ahli fikih serta perbandingan mazhab. Karena begitu besarnya pengaruh asy-Syaikh bin Baz terhadap diri beliau, asy-Syaikh bin Baz dianggap sebagai syaikh besar kedua yang berpengaruh terhadap beliau dalam bidang ilmu agama dan manhaj. Beliau membenarkan hal itu, “Sungguh, aku sangat terpengaruh oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz hafizhahullah dalam hal perhatian terhadap hadits, akhlak, dan kelapangan dadanya terhadap orang lain.” Setelah itu, beliau pulang ke Unaizah dan kembali berguru dengan syaikh beliau, asy-Syaikh Abdurahman as- Sa’di. Di saat yang sama dibuka al- Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1373 H. Beliau ikut mengajar di ma’had tersebut. Di saat yang sama pula beliau melanjutkan belajar di jurusan syariah di Fakultas Syariah di Riyadh—kelak menjadi bagian dari Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Suud—dengan sistem intisab, semacam sistem kejar paket, yakni hanya mengikuti ujian saat diadakannya ujian, sampai beliau lulus dan mendapatkan ijazah aliyah.

Terjun Berdakwah

Sang guru, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, menangkap kecerdasan beliau dan perolehan yang besar dalam mencari ilmu, sehingga beliau memotivasi sang murid, Ibnu Utsaimin, untuk mulai mengajar. Beliau pun mulai mengajar di masjid al-Jami’ al-Kabir di Unaizah pada 1370 H, walaupun beliau masih berstatus sebagai murid as-Sa’di, di masjid yang sama. Setelah beliau lulus dari al-Ma’hadul Ilmi Riyadh, beliau ditunjuk menjadi pengajar di al-Ma’hadul Ilmi di Unaizah pada 1374 H. Pekerjaan ini terus berlangsung sampai 1398 H. Saat itulah beliau pindah mengajar di Fakultas Syariah dan Ushuluddin di kota al-Qashim, cabang Universitas Islam Muhammad bin Su’ud. Beliau menjadi dosen di universitas tersebut sampai wafat. Pada 1376 H, sang guru besar, asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah, meninggal. Setelah itu, beberapa syaikh dicalonkan untuk menggantikan asy- Syaikh as-Sa’di mengimami masjid. Namun, hal itu berjalan sangat singkat. Akhirnya, ditunjuklah beliau sebagai pengganti asy-Syaikh di masjid tersebut, sebagai imam dan khatibnya. Selain itu, beliau juga menggantikan posisi as-Sa’di sebagai pengajar di perpustakaan al-Wathaniyah yang secara struktural masuk ke dalam kepengurusan masjid. Perpustakaan tersebut didirikan oleh asy-Syaikh as-Sa’di pada 1359 H. Ketika para penuntut ilmu semakin banyak, perpustakaan tidak lagi menampung mereka. Beliau memindahkan pelajarannya di masjid sehingga terkumpullah banyak penuntut ilmu. Jumlah mereka semakin banyak dengan datangnya para penuntut ilmu dari dalam Kerajaan Saudi Arabia dan mancanegara. Duduklah ratusan orang di majelis ilmu tersebut.

Pelajarannya berlangsung pada waktu pagi, setelah asar, dan setelah maghrib. Pelajaran setelah maghrib terus berlangsung dan tidak pernah berhenti sepanjang tahun, kecuali saat beliau safar. Keistimewaan dari pelajaran beliau adalah pembekalan ilmu yang serius, bukan sekadar mendengar uraian mauizhah. Asy-Syaikh al-Abbad mengatakan, “Total masa mengajar beliau di masjid al-Jami’ al-Kabir ialah 45 tahun. Adapun total masa mengajar beliau di al-ma’hadul ilmi dan universitas ialah 47 tahun.” Di sela-sela kegiatan beliau, ketika datang bulan Ramadhan, beliau menyempatkan diri untuk menghabiskan mayoritas waktu Ramadhan di Makkah, yaitu mengajar di Masjidil Haram. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkisah, “Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin sering pergi ke Makkah pada beberapa kesempatan yang berbeda dan mengajar di Masjidil Haram, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Di antara kebiasaan beliau setelah berlalu sebagian dari bulan Ramadhan, beliau pergi ke Makkah dan mengajar di sana. Beliau banyak dikerumuni oleh para penuntut ilmu yang bersemangat mengambil ilmu beliau secara langsung. Apabila datang ke Madinah untuk memberikan ceramah atau keperluan yang lain, beliau juga mengajar di Masjid Nabawi. Para penuntut ilmu pun senang dengan kehadiran beliau di Madinah. Mereka menghadiri pelajaran dan mengambil faedah dari ilmu beliau. Saya sendiri adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi, maka para penuntut ilmu meminta saya untuk meliburkan pelajaran saya supaya mereka bisa mengikuti pelajaran beliau.

Saya pun meliburkan pelajaran saya agar para pelajar dapat mengambil faedah dari beliau. Saya sendiri terkadang ikut menghadiri pelajaran beliau bersama para penuntut ilmu tersebut.” Beliau mulai mengajar di al-Masjidil Haram dalam kesempatan-kesempatan tersebut sejak 1402 H sampai meninggal, yaitu bulan Ramadhan yang Syawwalnya beliau meninggal dunia. Saat itu kaum muslimin hanya mendengar suaranya karena beliau dalam keadaan sakit dan berceramah dalam ruangan tertutup. Penulis pun mengetahui hal itu hanya dari suaranya. Saat penulis mengikuti pelajaranpelajaran beliau—alhamdulillah—baik di Madinah maupun di Masjidil Haram, ada ciri khas yang jarang penulis dapati pada ulama yang lain:

1. Majelis yang sangat hidup

Pelajaran beliau tidak terlepas dari pertanyaan-pertanyaan beliau kepada pada pendengar di sela-sela pelajaran. Hal ini tentu menggugah konsentrasi para penunut ilmu terhadap pelajaran yang beliau sampaikan dan membuat mereka bersiap menjadi sasaran pertanyaan.

2. Membahas sebagian ayat yang dibaca oleh imam dalam shalat.

Sebagaimana diketahui, di Masjidil Haram beliau memberikan pelajaran usai shalat tarawih dan usai shalat subuh. Bacaan surat imam menjadi bahan pembahasan. Biasanya beliau memulai pelajaran setelah pembukaan dengan mengatakan, “Qara’a imamuna….” (Imam kita membaca…) lalu beliau membahasnya. Hal ini tentu menunjukkan beberapa hal. Paling tidak, konsentrasi dalam shalat terhadap bacaan imam dan keluasan ilmu beliau, karena beliau bisa menjabarkan ayat-ayat secara langsung tanpa persiapan. Hal ini karena ilmu sudah berada di dada beliau sehingga tinggal menyampaikan. Di samping kegiatan dakwah tersebut, beliau juga memberikan ceramahceramah di beberapa kota dan beberapa negara Eropa dan AS melalui telepon. Di antara lahan dakwah yang beliau terjuni—sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, “Ikut serta dalam muktamar-muktamar di Saudi Arabia dalam tau’iyatul (bimbingan) para jamaah haji.

Di Jami’ah Islamiyyah (Universitas Islam Madinah) sendiri telah dilangsungkan tiga muktamar: dua muktamar dengan tema bimbingan dakwah dan persiapan para dai; satu muktamar lagi dengan tema memerangi narkoba. Beliau menghadirinya dan memberi banyak faedah dengan pembahasanpembahasan dan diskusinya. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaan beliau dalam tau’iyatul haj di musim haji dengan berfatwa, memberikan kajian, dan ceramah-cermah. Terkadang beliau memimpin para dai dalam kegiatan tau’iyatul haj di beberapa tahun yang asy-Syaikh Ibnu Utsaimin termasuk di dalam kepanitiaannya. Aku sendiri saat itu juga masuk dalam kepanitiaan itu. Para anggota berkumpul untuk mempelajari permasalahan-permasalahan seputar urusan haji sehingga syaikh memberikan faedah dengan pandangan-pandangan beliau dan ilmunya. Di antara lahan dakwah beliau adalah memberikan faedah kepada kaum muslimin berupa fatwa terhadap pertanyaan-pertanyaan yang sampai kepada beliau, baik dari dalam maupun dari luar Saudi Arabia, baik dengan suratmenyurat, bertemu langsung, maupun melalui telepon. Beliau memberikan waktu khusus untuk berfatwa lewat telepon dan disiplin dengan jadwal tersebut untuk memberikan fatwa sedangkan beliau berada di kotanya, Unaizah.

Apabila beliau keluar kota, beliau meninggalkan pesan pada pesawat teleponnya untuk menyambungkan ke nomer telepon di kota tempat beliau berada. Di antara lahan dakwahnya juga adalah keikutsertaannya yang banyak dan bermanfaat dalam acara radio (Idza’atul Qur’an al-Karim), yaitu dalam acara “Nurun’Ala Darb” (yang berisi jawaban atas pertanyaan pendengar melalui surat), “Su’al ala Hatif” (Tanya Jawab Interaktif), dan “Min Ahkamil Qur’anil Karim” (Tafsir al-Qur’an). Beliau juga memiliki jadwal acara yang tidak tetap di radio dalam beragam tema. Acara “Min Ahkamil Qur’an” sendiri sangat penting dan berfaedah besar. Acara tersebut sangat menitikberatkan pada kandungankandungan al-Qur’an dan mengungkap berbagai hikmah dan hukumnya. Ini menunjukkan kekokohan pemahaman beliau pemahaman terhadap agama. (Untuk acara ini) beliau telah sampai pada akhir juz ke-3 dari al-Qur’anil Karim. (Lihat asy-Syaikh Ibnu Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin)

Jasa dan Jabatan

Selama kiprahnya dalam berkhidmah kepada Islam dan muslimin, beliau sempat menduduki beberapa jabatan penting:

1. Anggota Hai’ah Kibar Ulama (badan ulama ulama besar) di Kerajaan Arab Saudi di Saudi Arabia sejak 1407 H sampai wafatnya.

2. Anggota al-Majlisul Ilmi di Universitas Islam al-Imam Muhammad bin Su’ud selama dua tahun akademik, 1398—1400 H.

3. Anggota Majlis Fakultas Syariah dan Ushuluddin, Universitas Islam Muhammad bin Su’ud cabang al-Qashim, sekaligus sebagai Dekan Fakultas Akidah.

3. Di akhir masa mengajar di alma’hadul ilmi, beliau ikut menjadi anggota panitia penyusunan kurikulum al-Ma’had al-Ilmi dan sempat menulis beberapa buku paket.

4. Anggota panitia tau’iyatul haj pada tahun 1392 H sampai wafatnya.

5. Pimpinan Jum’iyyah (organisasi) Tahfidzul Qur’an al-Khairiyyah di kota Unaizah sejak didirikannya pada 1405 H sampai wafatnya.

Kedudukan Ilmiah

Satu hal yang tidak diragukan adalah kedudukan ilmiah beliau. Para ulama abad ini, baik yang lebih tinggi dari beliau, sepadan, ataupun yang di bawah beliau, sangat mengakui keilmuan beliau. Asy-Syaikh al-Albani dalam salah satu majelisnya menyebut beliau sebagai salah seorang faqih yang langka pada abad ini. Beliau mengatakan, “Bumi kosong dari ulama sehingga aku tidak tahu dari ulama tersebut kecuali beberapa orang yang sedikit jumlahnya. Aku sebut secara khusus di antara mereka adalah al-Allamah Abdul Aziz bin Baz dan al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.” (Fatawa Ulama al-Akabir hlm. 6) Bahkan Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim t, berulang kali meminta beliau untuk menjabat sebagai qadhi (hakim), namun beliau menolaknya. Bahkan, sempat terbit surat keputusan yang menetapkan beliau sebagai pimpinan mahkamah di wilayah al-Ahsa’. Namun, beliau momohon agar surat keputusan tersebut dibatalkan. Setelah melalui beberapa proses, akhirnya permohonan beliau dikabulkan. Ini menujukkan sikap wara’ yang tinggi pada beliau. Di kemudian hari, beliau memperoleh kehormatan dengan diberikan kepada beliau Jaizah Malik Faishal al-Alamiyah (Penghargaan Internasional Raja Faishal) untuk khidmat terhadap Islam pada 1414 H. Disebutkan padanya prestasi-prestasi sebagai berikut.

1. Berhias dengan akhlak ulama yang mulia, yang paling menonjol adalah sifat wara’, kelapangan dada, menyuarakan kebenaran, bekerja demi maslahat kaum muslimin, dan keinginan baiknya terhadap orang-orang khususnya serta muslimin pada umumnya.

2. Banyakmya orang yang mengambil manfaat dari ilmunya, baik dari pelajaran yang disampaikan, fatwa atau buku yang ditulis.

3. Penyampaian ceramah-ceramah umum yang bermanfaat di berbagai wilayah Saudi Arabia.

4. Keikutsertaan beliau yang sangat bermanfaat dalam banyak muktamar Islami.

5. Memiliki ciri yang khas dalam metode berdakwah menuju jalan Allah l dengan hikmah dan mauizhah alhasanah, serta mempersembahkan teladan hidup bagi manhaj as-salafus shalih, dalam bentuk pemikiran dan perilaku. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad pernah menyampaikan sebuah ceramah di Universitas Islam Madinah yang kemudian dibukukan dengan judul asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin minal Ulama ar-Rabbaniyyin. Di antara yang beliau sampaikan, “Beliau adalah seorang ulama besar dan seorang ahli fikih yang mapan, seorang yang dihormati oleh para penguasa dan para ulama serta para penuntut ilmu. Di antara penghormatan para penguasa di negeri ini kepada beliau, ketika melakukan kunjungan ke kota al-Qashim, mereka mengunjungi beliau di rumahnya. Raja Khalid dahulu pernah mengunjunginya, demikian pula Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah, dan Pangeran Sulthan. Beliau sendiri memang pantas untuk dihormati dan dihargai. Namun, beliau orang yang sangat tawadhu’, mencintai kebaikan dan manfaat untuk manusia, serta orang yang penuh kasih sayang kepada para penuntut ilmu, bersemangat memberi mereka faedah, ilmu, serta menggabungkan antara ilmu dan amal.”

Wafat Beliau

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap jiwa pasti merasakan kematian.” (Ali Imran: 185)

Apabila saatnya ajal datang, Allah Subhanahu wata’alal pun menyiapkan sebab-sebabnya. “Sakit kronis menimpa beliau sehingga beliau pergi ke AS untuk berobat selama beberapa hari saja. Itulah satu-satunya safar beliau ke luar Saudi Arabia. Beliau pun memanfatkan keberadaannya di AS untuk berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menyampaikan khutbah jumat di sana. Sesampainya di kerajaan Saudi Arabia, beliau langsung menjalani perawatan di Rumah Sakit Khusus di Riyadh. Namun, sakit beliau semakin parah. Setelah lewat beberapa hari di bulan Ramadhan, beliau ingin pergi ke Makkah untuk kembali mengajar di Masjidil Haram, sebagaimana kebiasaan beliau sebelumnya. Dipersiapkanlah ruang khusus di masjid untuk beliau. Beliau pun menyampaikan pelajaran dengan berbaring di atas kasurnya menggunakan pengeras suara. Orang-orang pun mendengar suaranya yang tampak berubah karena sakit tanpa melihat beliau. Usai Ramadhan, beliau dipindahkan ke sebuah rumah sakit di Jeddah dan meninggal di sana, saat senja hari Rabu, 25 Syawwal 1421 H. Beliau dishalatkan pada hari Kamis selepas shalat ashar, lalu dimakamkan di permakaman al-Adl, Makkah. Telah menyalatkan dan mengiringi jenazah beliau—semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya— sejumlah besar manusia. Saya termasuk orang yang berkesempatan ikut menyalati dan mengiringi jenazah beliau. Saya melihat banyak orang saat menyalatinya dan saat di permakaman. Sungguh, banyak orang merasa sedih dengan wafat beliau karena tingginya kedudukan dan besarnya manfaat ilmu beliau bagi muslimin,” demikian tutur asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad. Beliau meninggalkan seorang istri, 5 anak laki-laki, dan 3 anak perempuan. Kelima anak laki-lakinya adalah Abdullah, Abdurrahman, Ibrahim, Abdul Aziz, dan Abdurrahim.

Karya Ilmiah

Beliau meninggalkan karya ilmiah yang cukup banyak, baik dalam bentuk buku kecil maupun karya besar yang berjilid-jilid, baik dalam bidang akidah, hukum fikih, tafsir, musthalah hadits, akhlak, dakwah, maupun lainnya. Karyakarya beliau sangat bermanfaat karena beliau sampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan sangat jelas, mudah dinalar, di samping bobot ilmiah yang sangat kuat dan menggabungkan antara manqul dan ma’qul. Secara garis besar, karya beliau ada dua macam: hasil tulisan beliau sendiri dan hasil transkrip dari pelajaran-pelajaran beliau yang terekam. Di antaranya adalah:

1. Fathu Rabbil Bariyyah ringkasan dari kitab al-Hamawiyyah, dan ini adalah karya pertama beliau.

2. Asy-Syarhul Mumti’ syarah Zadul Mustaqni’, terdiri dari beberapa jilid.

3. Al-Qaulul Mufid syarh Kitab at-Tauhid.

4. Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah.

5. Al-Ushul min Ilmil Ushul. Masih banyak lagi karya beliau. Dalam kitab yang berjudul Ibnu Utsaimin, al-Imam az-Zahid disebutkan sampai 56 karya. Sementara itu, dalam situs Maktabah asy-Syamilah disebutkan mencapai angka 78.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akidah Salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah

Asy-Syaikh Utsaimin adalah seorang ulama yang punya perhatian besar terhadap akidah. Karya, ceramah, dan syarah (penjelasan) beliau terhadap matan-matan akidah sangatlah banyak, menyangkut akidah dalam bidang uluhiyah, rububiyah, dan asma wa shifat, atau akidah secara umum. Tentu, akidah yang beliau yakini dan dakwahkan adalah akidah salafiah Ahlus Sunnah wal Jamaah, mengikuti para sahabat nabi. Dalam salah satu karyanya yang berjudul Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya di atas jalan lurus yang sangat terang malamnya bagaikan siangnya.

Tidaklah tergelincir darinya melainkan orang yang binasa. Umatnya yang menyambut seruan Allah dan Rasul-Nya berjalan di atas jalan tersebut. Mereka adalah makhluk pilihan Allah Subhanahu wata’ala dari kalangan para sahabat dan tabi’in, serta yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka menegakkan syariatnya dan berpegang dengan ajarannya serta menggigitnya dengan gigi geraham, dalam hal akidah, ibadah, akhlak, dan adab, sehingga mereka menjadi kelompok yang selalu unggul di atas kebenaran. Tidak mencelakakan mereka orang yang mengacuhkan mereka atau menyelisihi mereka, sampai datang ketetapan Allah Subhanahu wata’ala dan mereka tetap di atasnya. Kami—segala puji bagi Allah— berjalan di atas jejak mereka. Kami mencontoh perilaku mereka yang didukung oleh al-Qur’an dan sunnah. Kami katakan hal itu sebagai bentuk menyebutkan nikmat Allah Subhanahu wata’ala dan menerangkan terhadap kewajiban yang semestinya di atasnya seorang mukmin.”

Demikian jelas jalan yang beliau tempuh. Karya-karya beliau menjadi bukti tentang akidah yang beliau anut. Karya yang lain dalam bab akidah sangat banyak, kecil maupun besar, dalam bentuk syarah (penjelasan) buku-buku akidah, Kitabut Tauhid, al-Aqidah al-Wasithiyah, dan Lum’atul I’tiqad; atau dalam bentuk ringkasan buku akidah, semacam Fathu Rabbil Bariyah ringkasan Hamawiyah, Taqrib Tadmuriyah ringkasan kitab Tadmuriyah; atau buku-buku yang khusus beliau tulis dalam bab akidah, seperti Syarh Ushulil Iman, al-Iman bil Qadar, dan al-Qawaid al-Mutsla. Ciri khas yang sangat tampak pada tulisan-tulisan beliau adalah sangat sistematis, sederhana, jelas, dan selalu didukung dengan dalil aqli dan naqli.

 

Fikih Ibadah dan Ittiba’

Sekilas, jika seseorang melihat beliau, mungkin akan menganggap beliau sebagai ulama Hanbali. Sebab, beliau tumbuh di lingkungan yang sarat dengan mazhab Hanbali dan perhatian besar terhadap buku-buku ulama Hanbali. Namun, apabila seseorang menyelami karya-karya beliau dan mendengar pelajaran-pelajaran fikih beliau, dia pasti mengetahui bahwa beliau adalah seorang yang sangat terikat dengan dalil dan selalu ittiba’ dengannya, serta sangat memerangi takllid buta dan fanatik golongan. Taklid hanya dibolehkan pada kondisi tertentu. Untuk melihat hal itu secara nyata, bisa kita baca kitab asy-Syarhul Mumti’. Betapa sering beliau menyatakan lemahnya pendapat penulis Zadul Mustaqni’. Beliau mengatakan, “Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam atas kita, yang hal itu di atas hak kedua orang tua kita, adalah kita memurnikan ittiba’ kepadanya. Artinya, kita tidak boleh mendahuluinya. Jadi, kita tidak boleh mensyariatkan dalam agamanya sesuatu yang tidak beliau syariatkan dan tidak melampaui apa yang beliau syariatkan, atau menyepelekan syariatnya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kalian (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31).”

Tentang taklid, beliau katakan, “Dalam atsar ini terdapat peringatan dari taklid buta dan fanatik mazhab yang tidak terbangun di atas dasar yang selamat. Sebagian orang melakukan kesalahan yang parah, saat dikatakan kepadanya, “Rasulullah bersabda…,” ia menjawab, “Tetapi, dalam kitab fulan begini dan begini….” Hendaklah ia bertakwa kepada Allah l yang berfirman dalam kitab-Nya,

وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ

Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata, “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” (al-Qashash: 65)

Allah Subhanahu wata’ala tidak mengatakan, apa jawaban kalian terhadap fulan dan fulan.” “Jika suatu hukum tidak tampak bagi seseorang, dia wajib bertawaqquf. Ketika itulah taklid baru diperbolehkan dalam kondisi darurat. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Salah satu contoh praktik beliau dalam mengikuti dalil adalah dalam hal batas berhentinya darah di masa haid jika kurang dari satu hari, apakah menjadi tanda suci atau tidak. Beliau mengatakan, “Yang masyhur dalam mazhab Hanbali bahwa ‘darah berarti haid dan bersih berarti suci,’ kecuali apabila penggabungan antara keduanya melebihi masa kebiasaan haid, berarti darah yang lewat dari masa tersebut adalah darah istihadhah. Tetapi, dalam kitab al-Mughni disebutkan, masa suci yang kurang dari satu hari tidak perlu dianggap. Pendapat itulah yang benar, insya Allah. Sebab, darah itu terkadang mengalir dan terkadang berhenti, dan mewajibkan mandi atas orang yang suci sesaat demi sesaat adalah hal yang memberatkan. Ini adalah sebuah keberatan yang mestinya ditiadakan berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian suatu kesempitan dalam agama.” (al-Hajj: 78)

Jadi, atas dasar ini terhentinya darah yang kurang dari satu hari bukan berarti suci, kecuali engkau melihat hal yang menunjukkan kesuciannya. Misalnya, apabila kesuciannya itu di akhir kebiasaan masa haidnya atau engkau melihat cairan lendir putih.” (Risalah Fi Dima ath-Thabi’iyyah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Ciri-ciri ‘Ulama

Mengenal ciri-ciri ulama yang benar adalah sangat penting. Karena di negeri kita, banyak orang yang hanya karena pandai berbicara dan melawak, bisa dianggap sebagai ulama. Padahal tak jarang di antara mereka setelah memiliki pengikut banyak kemudian berubah haluan menjadi seorang politikus.

Lanjutkan membaca Ciri-ciri ‘Ulama

Menjahui Popularitas

Dari Habib bin Abi Tsabit rahimahullah, katanya, “Pada suatu hari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu keluar dari rumahnya, lantas (ada beberapa) orang membuntutinya. Ia bertanya, ‘Apakah kalian punya keperluan?’

‘Tidak, akan tetapi kami ingin berjalan bersamamu,’ jawab mereka.

‘Kembalilah, sesungguhnya hal itu sebuah kehinaan bagi yang mengikuti dan membahayakan (fitnah) hati bagi yang diikuti,’ tukas Ibnu Mas’ud.” (Shifatush Shafwah, 1/406)


Dari al-Harits bin Suwaid rahimahullah, katanya, “Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, ‘Seandainya kalian mengetahui diriku (seperti) yang aku ketahui, pasti kalian akan menaburi tanah di atas kepalaku’.” (Shifatush Shafwah, 1/406, 497)


Dari Bistham bin Muslim rahimahullah, katanya, “Adalah Muhammad bin Sirin rahimahullah jika berjalan bersama seseorang, ia berdiri dan berkata, ‘Apakah kamu punya keperluan?’

Jika orang yang berjalan bersamanya mempunyai keperluan, maka ia tunaikan. Jika kembali berjalan bersamanya, ia bertanya lagi, ‘Apakah kamu mempunyai keperluan?’.” (Shifatush Shafwah 3/243)


Dari al-Hasan rahimahullah, salah seorang murid Ibnul Mubarak rahimahullah, katanya, “Pada suatu hari aku bepergian bersama Ibnul Mubarak. Lalu kami mendatangi tempat air minum yang manusia berkerumun untuk mengambil airnya. Ibnul Mubarak mendekat untuk minum. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya sehingga mereka mendesak dan menyingkirkannya. Ketika telah keluar, berkatalah ia kepadaku, ‘Inilah kehidupan, yaitu kita tidak dikenal dan tidak dihormati.’

Ketika berada di Kufah, kitab manasik dibacakan kepadanya, hingga sampai pada hadits dan terdapat ucapan Abdullah bin al-Mubarak (Ibnul Mubarak, red.) dan kami mengambilnya. Ia berkata, ‘Siapa yang menulis ucapanku ini?’

Aku katakan, ‘Penulis.’

Maka ia mengerik tulisan itu dengan jari tangannya hingga terhapus kemudian berkata, ‘Siapakah aku hingga ditulis ucapannya?’.” (Shifatush Shafwah, 4/135)


Dari seseorang, katanya, “Aku melihat wajah al-Imam Ahmad sangat muram setelah dipuji seseorang (dengan ucapan) ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah subhanahu wa ta’la membalas Anda dengan kebaikan, red.) atas perjuangan Islam Anda.’

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, ‘Bahkan Allah subhanahu wa ta’la telah memberi kebaikan Islam kepadaku. Siapakah dan apa aku ini?’.” (Siyar A’lamin Nubala, 11/225)