Tokoh-tokoh Teroris Khawarij Internasional

Mengenal tokoh-tokoh teroris Khawarij adalah hal yang penting agar kita mengetahui jauhnya mereka dari pemahaman Islam yang benar dan agar kaum muslimin seluruhnya mewaspadai pemikiran, buku, serta tulisannya yang tersebar luas, tak terkecuali di negeri kita.

 

Abul A’la al-Maududi

Abul A’la al-Maududi adalah nama yang tidak asing lagi di kalangan teroris Khawarij. Mereka begitu menyanjung laki-laki ini dan menggandrungi tulisan dan buku-bukunya. Ia menjadi rujukan utama para teroris Khawarij di seluruh dunia.

Bagaimanakah pemahaman keislaman tokoh teroris yang satu ini? Berikut ini kami akan sebutkan sebagiannya.

 

  1. Mengingkari dan meragukan berita dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal

Dalam bukunya Rasail wa Masail hlm. 57, ia menuliskan, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengira akan keluar Dajjal di masanya atau dekat dari masanya. Akan tetapi, telah berlalu seribu tiga ratus lima puluh tahun namun Dajjal tidak juga keluar. Nyatalah bahwa apa yang disangkakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam itu tidak benar.”

Ia juga menegaskan, “Semua hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang Dajjal hanyalah pemikiran dan analogi dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri ragu tentangnya.”

 

  1. Mencela para sahabat

Abul A’la al-Maududi menuduh sahabat Utsman radhiallahu ‘anhu telah berbuat curang ketika menjabat sebagai khalifah. Dia mengklaim bahwa Utsman secara diam-diam memberikan jabatan-jabatan penting kepada kerabatnya.

Ia juga menuduh sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dengan kebid’ahan, mencela sahabat Sa’d bin Ubadah dan Abu sufyan radhiallahu ‘anhum. Semua itu dituangkan dalam bukunya al-Khilafah wal Mulk.

Penting diketahui, buku al-Khilafah wal Mulk yang berisi celaan-celaan kepada para sahabat justru dijadikan referensi oleh Syiah Rafidhah.

Seorang pentolan Syiah Rafidhah dalam surat kabar yang dimuat di Teheran pada Rajab 1407 H menyatakan, “Kami menasihati siapa yang menghendaki agar merujuk pada buku al-Khilafah wal Mulk karya Abul A’la al-Maududi.”

 

  1. Memuji Revolusi Iran yang dilakukan oleh Khomeini sang Majusi

Dalam kitab asy-Syaqiqan, Abul A’la al-Maududi menyatakan tentang Revolusi Syiah Rafidhah ala Khomeini,

“Sesungguhnya revolusi Khomeini adalah revolusi Islam. Yang menegakkannya adalah kelompok Islam dan para pemuda Islam yang mendapatkan pendidikan dalam harakah Islamiyah. Segenap kaum muslimin secara umum dan khususnya harakah (pergerakan) Islamiyah, hendaknya mendukung revolusi ini dan bekerja sama dalam seluruh aspeknya.”

 

Sayyid Quthb

Sayyid Quthb adalah sosok yang sangat dielu-elukan oleh para teroris Khawarij. Ia dianggap sebagai tokoh perbaikan. Dakwahnya disejajarkan dengan dakwah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahumallah.

Karena itu, al-‘Allamah Syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan penyimpangan dan kesesatan-kesesatannya dalam lima atau enam buku yang ditulisnya. Berikut beberapa penyimpangannya:

 

  1. Meyakini aqidah al-hulul wal ittihad (manunggaling kawula gusti/wihdatul wujud)

Sayyid Quthb menyatakan dalam bukunya Fi Dzil al-Qur’an, ketika menjelaskan surat al-Ikhlas, “Sesungguhnya ia adalah kesatuan wujud. Tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya. Tidak ada wujud hakiki kecuali wujud-Nya. Segala hal lainnya yang wujud, itu hanyalah berasal dari wujud-Nya yang hakiki. Hakikat wujud itu berasal dari hakikat Dzat.”

Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengomentari tafsir Sayyid Quthb terhadap surat di atas tadi, beliau rahimahullah berkata, “Sungguh, dia (Sayyid Quthb) telah mengucapkan perkataan yang besar, menyelisihi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini menunjukkan bahwa dia meyakini wihdatul wujud.” (Majalah Da’wah, 1418 H)

 

  1. Menakwil sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla

Dalam buku Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb rahimahullah berkata, “Istiwa’-nya (Allah ‘azza wa jalla) di atas Arsy adalah gambaran kesempurnaan kekuasaan.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Ini maknanya adalah pengingkaran terhadap istiwa’ yang sudah dikenal, yang berarti tinggi di atas Arsy. Apa yang dinyatakan Sayyid Qutb ini adalah batil, menunjukan bahwa dia miskin dan lemah dalam hal ilmu tafsir.” (Kaset ceramah Aqwalul Ulama fi Mu’allafaati Sayyid Quthb)

 

  1. Mengkafirkan masyarakat muslimin

Sayyid Quthb dalam hal ini sangat terpengaruh dengan gaya pengkafiran Abul ‘Ala al-Maududi. Parahnya lagi, Sayyid Quthb mengklaim bahwa masyarakat muslim yang ada sekarang ini adalah masyarakat jahiliah, telah keluar dari Islam.

Sayyid Quthb berkata, “Sesungguhnya jahiliah adalah sebuah keadaan dan fenomena. Ia bukan masa yang terkait dengan penanggalan zaman. Jahiliah pada hari ini telah menyebar di setiap penjuru bumi dan pada aneka ragam keyakinan, mazhab, dan undang-undang serta hukum.”

Ia juga berkata, “Sesungguhnya tidak ada di muka bumi pada hari ini, negara muslim dan masyarakat muslim yang kaidah muamalah di dalamnya adalah syariat Allah ‘azza wa jalla dan fikih Islam.” (Fi Zhilalil Qur’an cet. Darusy Syuruq)

 

Umar Mahmud Abu Qatadah al-Falistini

Namanya Umar Mahmud Abu Umar, namun lebih dikenal dengan Abu Qatadah. Ia seorang tokoh takfir teroris Khawarij yang terkenal dengan fatwa berdarah di Aljazair yang menyebabkan terbunuhnya ribuan orang yang tidak berdosa.

Umar Mahmud Abu Qatadah sangat membenci Arab Saudi. Uniknya, dia memilih tinggal di kota London, bahkan menerima gaji dari Pemerintah Inggris. Di sisi lain, dia mengharamkan gaji pegawai di pemerintahan Saudi dengan alasan itu harta yang tidak halal. Bagi Umar Mahmud Abu Qatadah harta pemerintahan Inggris itu halal, sedangkan harta pegawai di negeri-negeri Islam adalah haram.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ

        “(Mereka) memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala (kafir).” ( Tandzim al-Qaeda Jaraim Fadzi’ah)

 

Usamah bin Laden

Pada awalnya, Usamah pergi ke Afganistan untuk menolong kaum muslimin. Ia menginfakkan hartanya dalam jumlah besar. Adapun manhaj dan pemikirannya adalah seperti keumumannya para anak muda yang hanya semangat belaka. Tidak diketahui dirinya sebagai seorang ahli dalam bidang (ilmu) syar’i. Tidak pula diketahui ia memiliki guru dalam bidang ilmu syar’i.

Usamah bin Laden banyak terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthb dan Abul A’la al-Maududi, sehingga akidah takfir (pengkafiran) begitu kental dalam dirinya.

Ia pun senantiasa menyanjung para teroris Khawarij yang menjadi pelaku-pelaku peledakan di berbagai tempat. Ia berkata, “Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati saudara-saudara kami para syuhada di setiap tempat, di Palestina, Irak, Haramain, Maroko, Kashmir, Afganistan, Chechnya, Nigeria, Indonesia, dan Filipina serta Thailand….” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Usamah bin Laden meyakini bahwa Islam akan lenyap manakala sebuah negara dipimpin oleh seorang yang tidak menerapkan hukum Islam, dan dia telah kafir karenanya. Demikian juga seluruh rakyat yang hidup di bawahnya menjadi kafir.

Ia (Usamah bin Laden) berkata, “Agama tidak akan abadi apabila yangmenjadi pemimpin negara telah kafir. Pemahaman seperti ini harus tetap ada, tampak dan jelas. Ketika pemimpin telah kafir, manusia akan kacau sehingga Islam akan lenyap. Oleh karena itu, harus ada sebuah gerakan untuk menetapkan pemimpin baru yang menegakkan hukum Allah ‘azza wa jalla di tengah-tengah manusia.”

Inilah sejatinya akidah Khawarij, yang secara mutlak mengkafirkan siapa saja yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla. Tentu saja, ini menyelisihi akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebab, persoalan tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla dikembalikan kepada keadaan orangnya dan apa yang mendorongnya untuk melakukan hal itu.

Al-Qur’an pun telah merinci hal tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٤٤

        “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang kafir.” (al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٤٥

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang zalim.” (al-Maidah: 45)

 وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ٤٧

“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 47)

Usamah bin Laden meyakini bahwa jihad adalah membunuh, menghancurkan, merusak, mengusir, melakukan makar, dan memancing musuh ke negeri-negeri Islam. Tentu saja, jihad yang seperti ini akan membuat kaum muslimin yang berakal berlepas diri dan menjauh darinya.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Aku berlepas diri dari (Usamah) bin Laden. Dia adalah kejelekan dan bencana yang menimpa umat. Perbuatan-perbuatannya sangat buruk.” (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

 

Ayman al-Zhawahiri

Ayman al-Zhawahiri adalah seorang dokter spesialis mata. Ia sangat terpengaruh dengan pemikiran Sayyid Quthb, sebagaimana pengakuannya sendiri dalam bukunya, al-Washiyah al-Akhirah.

Di antara keyakinan Ayman al-Zhawahiri, menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah rukun akidah yang paling penting. Karena urusan inilah, terjadi front pertempuran antara yang haq dan yang batil.

Inilah akidah teroris Khawarij sejak dahulu. Mereka selalu menyatakan, “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah ‘azza wa jalla,” yang kemudian dikomentari oleh sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, “Kalimat yang benar, namun yang dimaukan darinya adalah kebatilan.”

Misi dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah untuk menegakkan negara dengan hukum Allah ‘azza wa jalla, tetapi untuk menegakkan tauhid, mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam ibadah, dan memerangi berbagai kemusyrikan. Adapun kekhalifahan atau kepemimpinan adalah janji Allah ‘azza wa jalla yang akan diberikan kepada orang-orang yang mentauhidkan-Nya dengan benar.

Ayman al-Zhawahiri meyakini bolehnya membunuh seluruh orang kafir, termasuk wanita, anak kecil, orang tua yang lemah, serta yang tidak terlibat dalam peperangan sekalipun.

Ia juga mengimbau untuk mencuri dan merampok harta milik negara (yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla), dan menganggapnya sebagai ghanimah serta bentuk perang melawan negara tersebut. (al-Qishshah al-Kamilah li Khawarij Ashrina)

Keyakinan-keyakinan di atas jelas bertentangan dengan syariat Islam yang senantiasa memerhatikan keadilan, etika, dan adab, sekalipun dalam situasi jihad.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

وَإِنۡ عَاقَبۡتُمۡ فَعَاقِبُواْ بِمِثۡلِ مَا عُوقِبۡتُم بِهِۦۖ

“Dan jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.” (an-Nahl: 126)

وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَ‍َٔانُ قَوۡمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعۡدِلُواْۚ ٱعۡدِلُواْ هُوَ أَقۡرَبُ لِلتَّقۡوَىٰۖ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa (al-Maidah: 8)

 

Abu Muhammad al-Maqdisi

Nama lengkapnya adalah ‘Isham al-Barqawi. Tokoh teroris ini sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb. Ia termasuk tokoh teroris Khawarij yang dijadikan rujukan oleh kelompok teroris yang ada di negara kita, baik kelompok JI ataupun kelompok dan jaringan lainnya.

Di antara keyakinan-keyakinannya adalah:

  1. Meyakini bahwa seluruh negara di dunia ini adalah negara kafir. Ia berkata, “Di dunia pada hari ini semuanya adalah negeri kafir. Tidak ada yang aku kecualikan, termasuk Makkah dan Madinah.” (Tsamaratil Jihad hlm. 14, karya al-Maqdisi)
  2. Meyakini bahwa pemerintah yang tidak menerapkan hukum Allah ‘azza wa jalla adalah kafir, murtad, dan lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. (al-Qishshah al-Kamilah)

Pernyataan Abu Muhammad al-Maqdisi di atas adalah sikap yang ekstrem. Sekalipun mereka yang dia sebutkan telah melakukan kekufuran, namun mereka tidaklah lebih jelek daripada Yahudi dan Nasrani. Apalagi mereka yang menisbatkan dirinya kepada Islam secara zahir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik dari semua yang mengkufurinya. Walaupun pada diri yang beriman itu ada satu jenis kebid’ahan; bid’ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyyah, atau yang lainnya.

“Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani telah kafir dengan kekafiran yang diketahui secara pasti dari agama Islam. Seorang pelaku bid’ah, jika dia mengira bahwa dirinya menyepakati Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyelisihinya, dia tidak kafir karenanya. Andaikata dia menjadi kafir, kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ul Fatawa, 35/122)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Organisasi Teroris Khawarij Internasional

Sesungguhnya tegaknya agama yang lurus ini dibangun di atas dua perkara penting, yaitu benarnya sumber pengambilan ilmu dan benarnya metodologi (manhaj) penerapan dalil. Jika salah satunya rusak—atau bahkan kedua-duanya rusak—, segala persoalan akan menjadi rancu dan melahirkan hal-hal yang berakibat tidak terpuji, baik di dunia maupun di akhirat. Sunnah akan menjadi bid’ah dan bid’ah menjadi sunnah. Syirik menjadi tauhid dan tauhid menjadi syirik. Benar menjadi batil dan yang batil menjadi yang benar.

Di masa belakangan ini, terjadi musibah besar yang menimpa negara-negara kaum muslimin dan menghentakkan hati orang-orang yang beriman. Musibah tersebut adalah munculnya kembali sebuah pemahaman jelek yang terlahir dari pemahaman Khawarij, sebuah sekte yang menjadi bencana bagi umat ini sejak terbunuhnya Amirul Mukminin sang khalifah yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga hari ini.

Kaum Khawarij dan seluruh kelompok yang berafiliasi kepadanya telah melakukan tindak terorisme berikut dua pelanggaran dan dosa besar setelah kesyirikan, yaitu melakukan bom bunuh diri dan menumpahkan darah kaum muslimin.

Sebutan teroris adalah kata yang pantas disematkan kepada orang-orang Khawarij, baik generasi terdahulu maupun yang sekarang; merujuk pada pemahaman agamanya yang ekstrem dan tindakannya yang radikal.

Persoalan darah kaum muslimin yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

        “Hilangnya dunia di sisi Allah jauh lebih ringan daripada terbunuhnya jiwa seorang muslim.” (HR. an-Nasai)

Bagi orang-orang Khawarij teroris darah tak ubahnya seperti mainan. Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menegaskan dalam satu rekaman khutbah Jum’at beliau, “Inilah pemahaman Khawarij. Hari ini mereka membunuh orang kafir dzimmi, dan besok mereka menumpahkan darah kaum muslimin.” (al-Hadits al-‘Ajib fi Baladil Habib)

Tindakan tersebut diyakini oleh para teroris Khawarij masa kini sebagai jalan yang dapat mendekatkan diri ke surga. Inilah yang kemudian memicu terjadinya aksi-aksi pembunuhan atas nama Islam. Bahkan, ada sebagian dari mereka sebelum memulai aksinya sudah merasa yakin bahwa dirinya sangat dekat dengan ridha Allah dan surga.

Fenomena ini semakin menguatkan dan memberikan gambaran bahwa teroris Khawarij adalah seperti yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: anak-anak muda usia yang dangkal ilmunya dan jelek pemahamannya, membunuh umat Islam dan membiarkan kaum musyrikin.

Berikut ini sejumlah organisasi internasional yang berhaluan teroris Khawarij.

 

Gerakan Pemuda Taliban

Kata taliban adalah bentuk jamak dari kata thalib (pelajar) menurut bahasa Bastuniyah. Maksud kata tersebut adalah (kumpulan) para pelajar di sekolah sekolah agama yang tersebar di Afganistan. Sekolah-sekolah tersebut adalah cabang sekolah agama yang ada di Pakistan dan India yang menganut paham Deobandi Sufi. Kelompok Taliban notabene berpemahaman Sufi Maturidi.

Gerakan ini mendapatkan pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh al-Qaeda, seperti Usamah bin Laden, dalam siaran al-Jazeera 20/09/2001. Ia berkata, “Kami menyeru kaum muslimin agar membantu negeri ini (Taliban) dengan segenap kekuatan, kemampuan, dan pikiran serta harta dan zakatnya. Sebab, dengan izin Allah ‘azza wa jalla negeri tersebut menjadi gambaran bendera Islam. Perlawanan Amerika pada hari ini terhadap Afganistan, sesungguhnya Afganistan yang telah mengangkat bendera Islam di dunia, Islam yang benar mujahid di jalan Allah.”

Sulaiman Abu Ghaits, juru bicara resmi al-Qaeda, dalam surat kabar al-Wathan al-Quwaitiyah menegaskan bahwa undang-undang hukum di negara-negara Islam dan Arab adalah undang-undang kafir, kecuali undang-undang hukum di Afganistan.

Sungguh aneh pernyataan para tokoh al-Qaeda bahwa gerakan Taliban adalah satu-satunya gerakan yang memberlakukan syariat dan undang-undang Islam. Sebab, faktanya banyak sekali kuburan dan kuil yang diibadahi di samping ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla oleh orang-orang Taliban. Bahkan, sampai pada tingkatan bertabaruk (mencari berkah) dari kuburan relawan-relawan al-Qaeda yang terbunuh di Afganistan. Manakah syariat Islam yang katanya mereka berhukum kepadanya?! (Tanzhimul Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

 

Al-Qaeda

Kelompok al-Qaeda didirikan dalam rentang waktu akhir 1989 hingga 1990 di Afganistan. Saat itu, para pemuda Arab secara serentak dari berbagai wilayah menuju Afganistan untuk berjihad melawan Rusia.

Sebab penamaan al-Qaeda bermula dari relawan-relawan Arab yang datang ke bumi Afganistan. Mereka menuliskan nama, tanggal kedatangan, dan tanggal keikutsertaannya di medan perang agar mudah untuk mendata dan mengetahui tempatnya. Muncullah dari pendataan ini nama al-Qaeda.

Pimpinan pertama al-Qaeda adalah Usamah bin Laden. Sekarang dia digantikan seorang dokter mata bernama Aiman azh-Zhawahiri yang tinggal di Denmark dan Norwegia dengan paspor dan dokumen palsu.

Aiman azh-Zhawahiri mulai bergabung dengan kelompok al-Qaeda pada era 90-an. Dahulu ia bergabung dengan Tanzhim Jihad di Mesir. Dia tidak berada di Afganistan saat perang melawan Rusia.

Banyak sekali tindakan jahat dan radikal yang dilakukan oleh kelompok ini yang kemudian diklaim sebagai jihad, seperti menawan dan menculik turis-turis asing dan wartawannya. Bahkan, mereka tidak sungkan untuk membunuhnya di depan umum lalu diekspos secara terbuka.

Mereka juga merusak fasilitas umum dan kantor milik negara. Pernah terjadi di Tanzania pada 1998, mereka meledakkan bom di Kedubes Amerika. Korban dalam peristiwa itu mencapai jumlah 224 jiwa, dua belas orang di antaranya warga AS. Sisanya adalah warga sipil dan orang-orang yang tidak berdosa.

 

Jamaah Islamiyah di Mesir

Jamaah ini dipimpin oleh Umar bin Abdurrahman al-Mishri. Sejak awal kemunculannya, mereka sudah mengumumkan perang melawan pemerintah.

Umar sendiri hidup di Amerika. Inilah salah satu sisi keanehan teroris Khawarij semacam Umar bin Abdurrahman, Abu Hamzah al-Mishri, Abu Qatadah al-Falistini, dan yang lainnya. Mereka menjauhi negeri kaum muslimin dengan alasan negeri tersebut kafir meskipun ramai dengan syiar-syiar Islam, tetapi mereka justru tinggal di negeri gereja dan salib yang penuh dengan syiar Nasrani, daging babi, dan minuman khamar.

 

Gerakan Pemuda Somalia

Gerakan ini dinamai juga dengan Harakatul Mujahidin dan Harakatus Syababil Islami atau Harakatus Syababil Mujahidin. Gerakan ini didirikan pada 2004, namun baru mulai mencuat dan dikenal pada 2007. Gerakan ini dipimpin oleh Aden Hasyi ‘Airu yang berkuniah Abu Husein al-Anshari.

Tujuan utama gerakan ini adalah mendirikan negara Islam. Inilah yang kemudian mendorong mereka berulang kali melakukan percobaan revolusi dengan melakukan pembunuhan dan merampas harta benda yang dianggapnya sebagai ghanimah.

Parahnya, mereka mengklaim bahwa gerakannya adalah gerakan Salafiyah Jihadiyah. Tentu ini adalah sebuah kesalahan besar sekaligus menunjukkan dangkalnya pemahaman mereka terhadap Salafiyah. Sebab, sangat jelas perbedaan antara Salafiyah dan Jihadiyah Takfiriyah.

 

Hamas

Gerakan ini berbeda dengan al-Qaeda dan organisasi jihad lainnya karena hanya melibatkan warga setempat, yakni jihad di Palestina. Pelan tetapi pasti, gerakan ini mengarah kepada Ikhwanul Muslimin.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “Adapun Hamas, mereka adalah sekte hizbiyah, tidak menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, justru memerangi Ahlus Sunnah. Seandainya mereka mendapat kemenangan, akan terjadi seperti apa yang telah terjadi di Afganistan; yaitu saling menyerang antarkelompok karena mereka tidak satu hati.” (Tanzhim al-Qaidah Jaraim Fadzi’ah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Teroris di Balik Jeruji Takfir

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa teror adalah usaha menciptakan ketakutan, kengerian, dan kekejaman oleh seseorang atau golongan. Pelakunya disebut teroris.

Menengok sejarahnya, teroris senantiasa meresahkan. Keberadaannya di tengah kehidupan mengoyak kedamaian. Aksinya mengguratkan trauma ketakutan, kengerian, dan kekejaman. Betapa tidak? Teroris haus darah. Teroris berdarah dingin. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan berbagai aksi sadis lainnya senantiasa mengiringi derap langkahnya di muka bumi. Syahdan, ketenangan berubah menjadi kecemasan. Keamanan berubah menjadi keketakutan. Kehidupan pun hampa dari ketenteraman.

Dalam kacamata Islam, teroris bukan “viral” hari ini semata. Sejak paruh kedua dari pemerintahan al-Khulafa’ ar-Rasyidin, teroris telah mengguncang dunia. Peletak batu pertamanya adalah kaum Khawarij[1], kelompok sesat pertama dalam Islam yang amat radikal.

Prinsip keagamaannya jauh dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat yang mulia. Sejarah hitam mereka menunjukkan bahwa,

  • Merekalah yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, hingga berhasil membunuh sang Khalifah. Pimpinan tertinggi mereka ketika itu adalah Abdullah bin Saba’ al-Himyari.
  • Merekalah yang membantai Gubernur Madain di masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, Abdullah bin Khabbab bin al-Art dan istrinya yang hamil saat melintasi perkampungan mereka. Bahkan, mereka merobek perut wanita tersebut dan mengeluarkan janin dari perutnya. Pimpinan utama mereka ketika itu adalah Abdullah bin Kawwa’ al-Yasykuri dan Syabats at-Tamimi.
  • Merekalah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, saat beliau menuju masjid menunaikan shalat subuh. Sang Khalifah pun gugur bersimbah darah dengan seketika. Pelakunya adalah seorang teroris Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam al-Muradi.
  • Merekalah yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu, Gubernur Syam (sekarang meliputi; Palestina, Suriah, Lebanon, dan Jordania, ). Operasi tak berhasil, karena beliau berhalangan mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang menggantikan beliau ketika itu.
  • Merekalah yang melakukan upaya pembunuhan terhadap sahabat Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhu selaku Gubernur Mesir. Operasi tak berhasil, karena beliau udzur mengimami shalat subuh di hari itu. Tak pelak, sebagai korbannya adalah imam shalat subuh yang mewakili beliau ketika itu. Peristiwanya sama persis dengan yang menimpa sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu. (Lihat Fathul Bari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani 12/296—298, al-Bidayah wan Nihayah karya al-Hafizh Ibnu Katsir 7/281 dan Lamhatun ‘Anil Firaq adh-Dhallah karya asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, 31—33)[2]

 

Akidah Takfir dalam Kehidupan Kaum Teroris

Demikianlah serangkaian aksi teror berskala internasional yang dilakukan oleh jaringan teroris Khawarij internasional kala itu. Tak kepalang tanggung, target operasi mereka adalah dua Khalifah mulia kaum muslimin Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, para menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah memetik janji surga. Berikutnya, dua tokoh sentral kaum muslimin di Negeri Syam dan Mesir yang keduanya tergolong sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.

Tidaklah serangkaian operasi terkutuk itu dilaksanakan kecuali karena vonis kafir yang mereka sematkan kepada target operasi. Lebih dari itu, mereka meyakininya sebagai jihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. “Takfir dan jihad” pun nyaris menjadi ikon kaum teroris untuk pembenaran operasi terornya, sejak zaman dahulu hingga hari ini.

Dalam aturan Islam, jihad yang syar’i tidak boleh dilakukan secara serampangan. Jihad mempunyai tahapan-tahapan. Setiap tahapan harus dipahami dengan baik dan benar. Bahkan, termasuk hal mendasar bahwa jihad harus dilakukan bersama penguasa dan tak bisa dilakukan oleh perseorangan atau kelompok tertentu.[3]

Demikian halnya takfir. Permasalahan besar yang mengharuskan kehati-hatian dan kejelian. Tak boleh gegabah dilakukan. Tak sembarang orang pula berkewenangan menjatuhkan vonisnya. Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan umatnya dalam permasalahan takfir ini.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِصَاحِبِهِ: يَا كَافِرُ! فَإِنَّهَا تَجِبُ عَلَى أَحَدِهِمَا فَإِنْ كَانَ الَّذِي قِيْلَ لَهُ كَافِرًا فَهُوَ كَافِرٌ وَإِلاَّ رَجَعَ إِلَيْهِ مَا قَالَ

“Jika seorang lelaki berkata kepada kawannya, ‘Hai Kafir!’, sungguh perkataan itu mengenai salah satu dari keduanya. Bila yang divonis kafir itu memang kafir maka jatuhlah vonis kafir itu kepadanya. Namun bila tidak, vonis kafir itu kembali kepada yang mengatakannya.” ( HR. Ahmad dari sahabat Abdullah bin ‘Umar, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq Musnad al-Imam Ahmad no. 2035, 5077, 5259, 5824)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjatuhkan vonis kafir dan fasiq bukan urusan kita. Namun, permasalahan ini harus dikembalikan kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Sebab, ia termasuk hukum syariah yang rujukannya adalah al-Quran dan as-Sunnah. Maka dari itu, wajib ekstra hati-hati dan teliti dalam masalah ini.

“Tidaklah seseorang dikafirkan dan dihukumi fasiq kecuali bila al-Qur’an dan as-Sunnah telah menunjukkan kekafiran dan kefasikannya. Mengingat hukum asal seseorang yang nampak nyata ciri-ciri keislamannya adalah sebagai muslim sampai benar-benar terbukti adanya sesuatu yang menghapusnya berdasarkan dalil syar’i. Tidak boleh bermudah-mudahan mengafirkan seorang muslim atau menghukuminya sebagai fasiq.” (al-Qawa’idul Mutsla fi Shifatillahi wa Asma-ihil Husna, hlm. 87—88)

Bencana takfir terus bergulir bak bola salju yang menggelinding. Semakin lama semakin besar. Tak luput pula, di era globalisasi modern ini. Melalui berbagai media yang ada baik cetak maupun elektronik, takfir berembus kian kencang. Betapa banyak pemuda dan pemudi yang terpengaruh doktrin takfir teroris melalui dunia maya. Bahkan, siap melakukan ‘amaliah’ (operasi teror) di lingkungan dan negaranya.

Di antara tokoh takfir yang buku-bukunya sarat dengan doktrin takfir teroris adalah Sayyid Quthb, salah seorang tokoh fenomenal kelompok radikal Ikhwanul Muslimin. Di antara buku karangannya ialah Ma’alim fith-Thariq, Fii Zhilalil Qur’an, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah, dan al-Islam wa Musykilatul Hadharah.[4]

Hal ini sebagaimana kesaksian para tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri.

  • Yusuf al-Qaradhawi berkata, “Pada fase ini telah muncul buku-buku karya tulis Sayyid Quthub sebagai pemikirannya yang terakhir, yaitu pengafiran masyarakat secara luas… Hal itu tampak jelas dalam kitab Tafsir Fii Zhilalil Qur’an cetakan ke-2, Ma’alim fith Thariq yang kebanyakannya diambil dari Fi Zhilalil Qur’an, dan al-Islam Wamusykilatul Hadharah, dan lain-lain.” (Aulawiyat al-Harakah al-Islamiyah, hlm. 110. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 102)
  • Farid Abdul Khaliq berkata, “Telah kami singgung dalam pernyataan sebelumnya bahwa pemikiran takfir (dewasa ini) bermula dari sebagian pemuda Ikhwanul Muslimin yang meringkuk di penjara al-Qanathir pada pengujung tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an. Mereka terpengaruh oleh pemikiran Sayyid Quthub dan buku-buku karya tulisnya. Mereka mendapatkan doktrin dari karya-karya tulis tersebut bahwa masyarakat saat ini berada dalam kejahiliahan dan segenap pemerintah yang ada telah kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula rakyatnya, karena kerelaan mereka terhadap selain hukum Allah ‘azza wa jalla” (al-Ikhwanul Muslimun fii Mizanil Haq, hlm. 115. Dinukil dari Adhwa’ Islamiyah, hlm. 103)

Dari sini diketahui bahwa peran Sayyid Quthb dalam menggulirkan doktrin takfir sangatlah nyata. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa pemikiran takfir pada masa sekarang ini muaranya adalah Sayyid Quthb. Para teroris yang tergabung dalam berbagai kelompok “jihad” dewasa ini pun, mayoritasnya adalah buah buruk dari doktrin takfir Sayyid Quthb melalui buku-bukunya.

Maka dari itu, sudah seharusnya kaum muslimin menjauhkan diri dari buku-buku tersebut dan yang semisalnya, serta berusaha untuk menimba ilmu dari buku-buku para ulama salafiyyin Ahlus Sunnah wal Jamaah yang bersih dari berbagai syubhat dan pemikiran menyimpang.

Demikian pula toko-toko buku hendaknya tidak lagi menjual buku-buku tersebut, sebagaimana yang telah diserukan oleh asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali di dalam kitabnya al-Irhab wa Atsaruhu ‘alal Afrad wal Umam, hlm. 128—142.

Berbeda halnya dengan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah. Beliau sangat berhati-hati dalam permasalahan takfir ini. Tak seperti klaim buruk musuh-musuh dakwah salafiyah yang sangat tendensius menyudutkan beliau sebagai muara takfir pada masa sekarang ini. Jauh panggang dari api.

Simaklah perkataan beliau berikut ini,

“Ringkas kata, wajib bagi orang yang memerhatikan keselamatan dirinya agar tidak berbicara dalam permasalahan ini (takfir, pen.) kecuali dengan ilmu dan keterangan dari Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya pula dia berhati-hati mengeluarkan seseorang dari Islam dengan sebatas pemahaman dan anggapan baik akalnya. Sebab, mengeluarkan seseorang dari Islam atau memasukkan seseorang ke dalamnya sungguh merupakan hal terbesar agama ini.” (ad-Durar as-Saniyyah 10/374)

 

Geliat Takfir Antarsesama Teroris

Sikap keagamaan kaum teroris tak bisa dipisahkan dari sikap bermudah-mudahan dalam mengafirkan (takfir) orang lain. Bahkan, takfir antarmereka pun kerap terjadi. Fanatisme kelompok, perbedaan visi dan misi pergerakan, menjadi salah satu pemicu utamanya.

Mengapa demikian?

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Sejauh yang aku pahami, sebabnya kembali kepada dua hal:

  • Dangkalnya ilmu dan kurangnya pemahaman tentang agama.
  • (Ini yang terpenting), memahami agama tidak dengan kaidah syar’i (tidak mengikuti Sabilul Mukminin, jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya -pen.).

Barang siapa menyimpang dari (jalan) jamaah yang dipuji oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak sabdanya dan telah disebut oleh Allah ‘azza wa jalla (dalam al-Qur’an), ia telah menentang Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Yang saya maksud adalah firman- Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا ١١٥

“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Kemudian beliau berkata, “Dari sinilah banyak sekali kelompok-kelompok yang tersesat sejak dahulu hingga kini. Sebabnya adalah mereka tidak mengikuti jalan orang-orang mukmin dan semata-mata mengandalkan akal. Mereka justru mengikuti hawa nafsu di dalam menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah, hingga kemudian membuahkan kesimpulan-kesimpulan yang sangat berbahaya, dan akhirnya menyimpang dari jalan as-Salafush Shalih.” (Fitnatut Takfir, hlm. 13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menambahkan sebab ketiga, yaitu jeleknya pemahaman yang dibangun di atas jeleknya niat. (Fitnatut Takfir, hlm. 19)

Demikian pula asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menambahkan sebab yang lain, yaitu adanya kecemburuan  (ghairah) terhadap agama yang berlebihan atau semangat yang tidak pada tempatnya. (Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat Takfir wa Dhawabithuha, hlm. 14)

Sebut saja al-Qaeda dan ISIS. Dua kelompok teroris yang terkenal dewasa ini. Mereka mudah mengafirkan orang lain. Bahkan, keduanya saling bermusuhan dan saling mengafirkan. Tak hanya itu, berbagai pertempuran sengit pun terjadi antarmereka.

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang merasa aneh seraya bergumam, “Mengapa hal itu bisa terjadi padahal keduanya sama-sama mengusung nama “jihad”?!”

Untuk bisa memahaminya, simaklah keterangan berikut ini.

Al-Qaeda (AQ) adalah kelompok ekstremis (baca: teroris) berbasis agama dengan jangkauan global (internasional). Kelompok ini didirikan oleh Usamah bin Laden di Afghanistan pada 1988.

Adapun ISIS, berawal dari kelompok “Jamaat al-Tawhid wal-Jihad” yang didirikan oleh Abu Mush’ab al-Zarqawi, seorang radikal asal Jordania, pada 1999 di Irak. Kemudian pada tahun 2004, kelompok ini menginduk kepada al-Qaeda dan berganti nama dengan “Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn” atau lebih dikenal dengan sebutan al-Qaeda di Irak (AQI).

Pada Januari 2006, AQI bergabung dengan sejumlah kelompok pemberontak Sunni Irak dan membentuk Dewan Syura Mujahidin (DSM). Abu Mush’ab al-Zarqawi ditunjuk sebagai pemimpin mereka. Seiring dengan berlangsungnya pertempuran antara mereka dan pasukan militer Irak yang didukung oleh Amerika ketika itu, al-Zarqawi dilaporkan tewas oleh pasukan khusus Amerika. Peristiwa itu terjadi pada Juni 2006. Kepemimpinan pun berpindah kepada Abu Umar al-Baghdadi.

Pada 13 Oktober 2006, Dewan Syura Mujahidin (DSM) memproklamasikan pembentukan Islamic State of Iraq (ISI) atau Negara Islam Irak. Namun kelompok tersebut tampak melemah dalam pertempuran dengan pasukan Amerika dan militer Irak. Pada 2010, Abu Umar al-Baghdadi dilaporkan tewas. Pada saat itulah, Ibrahim Awwad al-Badri as-Samarrai yang kemudian dikenal dengan sebutan Abu Bakar al-Baghdadi tampil menggantikannya.

Ketika konflik Suriah pecah pada Maret 2011, Islamic State of Iraq (ISI) di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi mengirim pasukannya ke Suriah. Pengiriman pasukan terjadi pada Agustus 2011. Komandan yang ditunjuk adalah Usamah al-Absi al-Wahidi yang lebih dikenal dengan sebutan “Abu Muhammad al-Jaulani”. Dia adalah seorang petinggi pasukan ISI, berkewarganegaraan Suriah yang berdomisili di Irak sejak 2003 hingga 2011. Pasukan ini menamakan diri dengan “Jabhat an-Nusrah li-Ahli asy-Syam (Front al-Nusra).”

Dalam waktu yang tidak lama, Front al-Nusra berhasil menguasai daerah-daerah yang mayoritas dihuni warga Sunni di Provinsi ar-Raqqah, Idlib, Deir ez-Zor, dan Aleppo.

Pada 8 April 2013 setelah memperluas wilayahnya ke Suriah, Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan penyatuan ISI dengan Front al-Nusra dengan nama baru “Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS)”, artinya Negara Islam Irak dan Suriah.

Namun, Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra yang selama ini memimpin gerakan di Suriah dan Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menolak penyatuan tersebut.

Alhasil, perseteruan di antara mereka tak dapat dihindari. Semakin lama semakin meruncing. Pada 3 Februari 2014, ISIS mengumumkan berpisah dengan al-Qaeda. Demikian pula al-Qaeda, memutus semua hubungan dengan ISIS. Adapun Front al-Nusra, berjalan seiring dengan al-Qaeda. Sejak saat itu, tak ada lagi ikatan antara Front al-Nusra dengan ISIS.

Di tengah konflik internal yang sedang memanas tersebut, pada 29 Juni 2014 Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan kekhilafahan dunia. Dia menobatkan diri sebagai khalifah dan mengharuskan semua kelompok “jihad” (baca: teroris) untuk berbaiat kepadanya. Dia pun mengganti penamaan ISIS dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam, sebagai pertanda bahwa kekhilafahannya bersifat global, tak sebatas Irak dan Suriah saja.[5]

Hal ini semakin membuat berang pemimpin al-Qaeda dan Front al-Nusra. Tak pelak, aksi saling hujat pun terjadi di antara mereka.

Ayman al-Zawahiri selaku pemimpin al-Qaeda menyampaikan bahwa ISIS lebih jahat daripada Khawarij. ISIS mengafirkan kelompok-kelompok “jihad” lainnya yang berseberangan dengannya tanpa bukti, termasuk al-Qaeda. Dia pun mengkritisi bahwa di antara orang dekat Abu Bakar al-Baghdadi adalah mantan orang-orang Saddam Husein (yang berakidah Ba’ts), terkhusus dari kalangan intelejennya. (https://youtu.be/BZ19gMp2lqA)

Dalam kesempatan lain Ayman al-Zawahiri mengatakan, “Aku berjumpa dengan asy-Syaikh Abu Muhammad al-Maqdisi (salah seorang tokoh teroris asal Yordania, pen.) di Peshawar. Aku sampaikan kepadanya bahwa ada sebuah kelompok yang mengafirkanku, karena aku tidak mengafirkan para mujahidin Afghanistan! Dia pun tertawa, kemudian bergumam, ‘Anda tidak tahu, sesungguhnya mereka juga mengafirkanku karena aku tidak mengafirkan Anda!’.” (https://youtu.be/YnHVJpbyyfQ)

Atas dasar itu, pada 11 September 2015 bertepatan dengan 14 tahun peringatan serangan 11 September 2001 terhadap WTC, Ayman al-Zawahiri menyatakan perang terhadap ISIS.[6]

Adapun ISIS, melalui juru bicara resminya, Abu Muhammad al-Adnani, menegaskan bahwa al-Qaeda hari ini telah melenceng dari jalan kebenaran. Agamanya bengkok dan manhajnya menyimpang. Al-Qaeda tidak lagi menjadi pangkalan jihad. Pangkalan jihad, bukanlah yang disanjung oleh orang-orang rendahan, didekati oleh para thaghut, dan dininabobokan oleh orang-orang yang menyimpang lagi sesat. Sungguh, al-Qaeda telah menyimpang, berubah, dan bergeser.

Abu Muhammad al-Adnani juga mengklaim bahwa al-Qaeda menghalalkan darah orang-orang ISIS dan membunuhi mereka. Jika dibiarkan, akan terus menghabisi ISIS. Namun, jika dibalas, mereka merengek-rengek di media massa dan menjuluki ISIS dengan Khawarij. (https://youtu.be/3YCh60YWerU)

Secara khusus, Abu Muhammad al-Adnani mengeluarkan hujatan keras terhadap Ayman al-Zawahiri, dalam sebuah audio visual dengan judul “Udzran Ya Amiral Qa’idah.” (https://youtu.be/HUOEWsBEojQ)

Adapun Abu Mush’ab at-Tunisi, salah seorang anggota Dewan Syariah ISIS di Suriah, secara terang-terangan telah mengafirkan Ayman al-Zawahiri. (https://youtu.be/EeCXxZNdXTw)

Hal serupa dilakukan oleh ISIS terhadap Front al-Nusra. Abu Muhammad al-Jaulani selaku pemimpin Front al-Nusra, dalam wawancaranya dengan channel al-Jazirah, menyatakan bahwa ISIS mengafirkan Front al-Nusra, membunuhi banyak anggota dan komandannya. ISIS menyalib, memenggal kepala-kepala anggota al-Nusra, dan melemparkan mayat mereka di jalan-jalan. (https://youtu.be/oossAtDYbrs)

Tak mengherankan apabila kemudian Abu Muhammad al-Jaulani memerintah pasukannya untuk bertempur melawan ISIS.[7]

Berbagai pertempuran sengit antara keduanya pun terjadi. Sebut saja pertempuran di Jadid Aqidat pada 7 Mei 2014[8] dan di Deir ez-Zor pada 2 Juni 2014. Dua pertempuran sengit tersebut menelan banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.[9]

 

Keterkaitan ISIS dan al-Qaeda dengan Syiah Rafidhah Iran

Bisa jadi, di antara pembaca ada yang bertanya, “Apakah ISIS dan al-Qaeda yang notabene mudah mengafirkan dan menghalalkan darah seorang muslim memiliki hubungan dengan Syi’ah Rafidhah Iran yang mengafirkan mayoritas sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Ahlus Sunnah?”

Terkait hal ini, asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah mengatakan, “Tidak menutup kemungkinan bahwa ISIS kepanjangan tangan dari Iran Persia yang senantiasa mengafirkan Ahlus Sunnah, berupaya dengan serius menghabisi Ahlus Sunnah, dan menjadikan yang tersisa dari mereka sebagai Syiah Rafidhah.

“Mereka mengafirkan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum dan menuduh Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha berbuat zina. Mereka menuhankan ahlul bait, padahal ahlul bait berlepas diri dari mereka dan akidah mereka yang kufur.

“Di antara bukti bahwa ISIS adalah kepanjangan tangan Iran, tak sedikit pun mereka menyentuh (baca: memerangi) Iran. Sama dengan induk semangnya (al-Qaeda) yang didirikan tidak lain untuk memerangi Ahlus Sunnah, mengafirkan mereka, dan merusak para pemudanya. Al-Qaeda tak sedikit pun menyentuh (baca: memerangi) Iran. Iran justru menjadi tempat berlindung (suaka) bagi al-Qaeda dan para pemimpinnya.

“Maka dari itu, ISIS, Hizb Syaithan (maksudnya Hizbullah, pen.) di Lebanon, dan Houthi di Yaman adalah mesin penghancur yang digerakkan oleh Iran, baik dengan materi maupun nonmateri. Teramat besar permusuhan mereka terhadap Kerajaan Saudi Arabia. Semoga Allah ‘azza wa jalla menjaga Kerajaan Saudi Arabia dari tipu daya dan kekejian mereka.”

(https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152634)

 

Akhir kata, betapa bahaya prinsip keagamaan kaum teroris. Betapa mengerikan operasi-operasi yang mereka lakukan. Pengeboman, pembunuhan senyap, dan aksi teror lainnya. Semua berawal dari sikap bermudahan-mudahan mengafirkan. Karena itu, tak berlebihan, apabila dikatakan bahwa kaum teroris berada di balik jeruji takfir.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

[1] Dan Syiah (-ed.)

[2] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 004, rubrik “Manhaji” dengan judul “Khawarij Kelompok Sesat Pertama dalam Islam”.

[3] Silakan membaca Asy-Syariah edisi 013, rubrik “Manhaji” dengan judul “Jihad Bersama Penguasa”.

[4] Lihat bantahannya dalam kitab Adhwa’ Islamiyyah ‘Ala Aqidati Sayyid Quthub wa Fikrihi, karya asy-Syaikh Prof. Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, hlm. 71—107.

[5] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Irak_dan_Syam/,

https://m.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/31/o06vvx377-ini-awal-mula-pembentukan-isis, dan

https://www.alarabia.net/ar/mob/arab-and-word/syiria/2014/02/06/ .

Diakses pada bulan Desember 2016.

[6] https://m.tempo.co/amphtml/read/news/2015/09/11/115699685/pemimpin-al-qaeda-nyatakan-perang-denganisis-ini-alasannya/

Diakses pada bulan Maret 2017.

[7] https://youtu.be/A05AW59YVrw/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[8] https://youtu.be/90777Cee_CY/ Diakses pada bulan Desember 2016.

[9] https://youtu.be/dHjlg9y0oSc/ Diakses pada bulan Desember 2016.

Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama ‘Ulama Ahlussunnah

Siapa tak kenal Imam Samudra? Ia begitu populer karena menjadi tersangka dalam kasus Bom Bali. Sebuah buku atas namanya meluncur. Repotnya, buku yang sarat syubhat itu justru menggunakan berbagai ‘dalil’ yang kemudian ditafsiri seenak perut. Tujuannya tentu, mencari pembenaran atas aksi yang mengatasnamakan Islam itu!

Lanjutkan membaca Aku Melawan Teroris, Sebuah Kedustaan Atas Nama ‘Ulama Ahlussunnah