Menjaga Diri Dari Ujian & Godaan

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

debu

Anda pernah menghadapi soal-soal tes yang diujikan oleh penguji Anda? Bagaimana rasanya menghadapi ujian tersebut, menegangkan bukan? Akan tetapi, alhamdulillah kita tidak mesti menghadapinya. Kalaupun harus menjalani tes seperti itu karena satu urusan, sebagai pelajar misalnya, itu pun tidak setiap hari. Betul bukan?

Nah, ada ujian yang mau tidak mau akan kita jumpai, siapa pun kita.

Ketahuilah wahai saudariku, dunia yang sedang kita huni ini adalah ujian yang sesungguhnya. Tentu saja, kita diuji bukan dengan soal tes tertulis atau tes lisan, melainkan dengan beragam kesenangan dan kesulitan. Apakah kita bersyukur ataukah kita bersabar? Siapakah yang memberi ujian tersebut? Jelas jawabannya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah berfirman, Alif laam miim. Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman,” sementara mereka belum diuji? (al-Ankabut: 1—2)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.”

Ujian yang dihadapi oleh seorang mukmin dalam kehidupan dunia ini bisa jadi besar dan bisa pula kecil. Bisa jadi datang dari dalam (internal kaum muslimin) dan dari luar (dari nonmuslim).

Karena dahsyatnya akibat ujian ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dalam sabda beliau,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الْمَرْءُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ أَحَدُكُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ قَلِيْلٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal, sebelum datang ujian seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu seseorang di pagi hari beriman, namun di sore harinya dia kafir. Ada yang sorenya beriman, ketika pagi hari dia telah kafir; salah seorang dari kalian menjual agamanya dengan harta dunia yang sedikit.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dengan rinci ujian tersebut. Beliau telah pula memberikan solusinya, dan melarang kita menceburkan diri ke dalamnya. Beliau telah menerangkan sebab-sebab terjadinya, di antaranya:

  1. Sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan
  2. Ditinggalkannya aturan Islam
  3. Banyaknya diperbuat dosa dan maksiat
  4. Adanya pelanggaran kehormatan

Dua sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dan Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, memberitakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ؛ الْهَرْجُ الْقَتْلُ

“Menjelang hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun kebodohan, ilmu diangkat (hilang), dan banyak al-harj. Al-Harj adalah pembunuhan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ujian dan godaan akan sampai pada puncaknya hingga seorang muslim berangan-angan mati daripada hidup dipenuhi ujian. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَهُ

Tidak akan tegak hari kiamat sampai seseorang melewati kubur orang lain lantas berkata, “Duhai kiranya aku yang menempati tempatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di masa fitnah (ujian) berkecamuk, akal manusia hilang. Mereka dikuasai olehnya, tercampur dan kaburlah yang baik dari yang buruk. Sampai-sampai seorang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh, dan orang yang dibunuh pun tidak tahu sebab dia dibunuh.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيْمَ قَتَلَ وَلاَ الْمَقْتُوْلُ فِيْمَ قُتِلَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah dunia ini hilang sampai datang kepada manusia suatu hari di mana orang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh dan orang yang dibunuh tidak tahu mengapa dia dibunuh.” (HR. Muslim)

Hati-hati dari Dua Macam Ujian

Ujian dan godaan itu bisa berupa syubhat (kerancuan pemikiran) dan bisa berupa syahwat (keinginan hawa nafsu).

  1. Ujian syubhat datang dari arah keyakinan (i’tiqad) dan ibadah yang berdampak pada kebimbangan dan keguncangan.

Selanjutnya, syubhat mengantarkan pelakunya kepada perbuatan bid’ah dalam agama dan menggiringnya kepada suul khatimah (akhir hidup yang buruk). Na’udzu billah.

  1. Godaan syahwat datang dari jalan harta, ketenaran, dan hal-hal lain yang dapat dirasakan indra.

Dalam menghadapi dua ujian ini, manusia terbagi dua:

  1. Orang yang imannya kokoh dan tidak terguncang ketika godaan menghampiri.

Dia menolak syubhat dengan al-haq yang ada padanya. Demikian pula ketika syahwat mengajak pada maksiat dan dosa atau hal yang memalingkan dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, dia pun beramal dengan kandungan imannya dan memerangi syahwatnya. Hal ini menunjukkan kejujuran dan kesahihan imannya.

  1. Syubhat yang datang berdampak pada munculnya keraguan dalam kalbunya.

Ketika syahwat menghampiri, dia menceburkan dirinya dalam maksiat atau berpaling dari kewajiban. Hal ini menunjukkan kelemahan imannya.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengucapkan salam di dalam shalat adalah memohon perlindungan dari fitnah kehidupan.

“(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari)… dari fitnah kehidupan…”

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah ujian yang menguji manusia dalam hidupnya. Ujian ini beredar di atas dua hal: (1) kebodohan, syubhat/kerancuan, dan tidak mengetahui al-haq/kebenaran. Orang yang keadaannya demikian akan terjatuh dalam kebatilan. Akibatnya, dia pun binasa; (2) syahwat, yaitu hawa nafsu. Seseorang sebenarnya mengetahui al-haq, tetapi dia tidak menginginkannya. Yang dia inginkan hanyalah kebatilan.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 3/559)

Berbagai Ujian yang Datang

Harta, kedudukan, anak, dan istri termasuk ujian dalam kehidupan, karena manusia akan diuji dengan halhal tersebut.

Seorang muslim akan diuji dan dicoba dengan harta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan di antara mereka ada orang-orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sungguh jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kamitermasuk orang-orang yang saleh.”

Setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya, merekakikir dengan karunia itu dan berpaling. Memang mereka itu adalah orang-orang yang suka membelakangi kebenaran. (at-Taubah: 75—76)

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan bagi kalian.Dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Seorang muslim akan diuji dengan kedudukan, maka ada di antara mereka yang berambisi memperolehnya walauharus mengorbankan agamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia….” (al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya dua ujian ini (harta dan kedudukan/tahta) dalam sabda beliau yang agung,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ بِغَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di sekawanan kambing lebih merusak kawanan tersebut daripada rusaknya agama seseorang karena rakusnya terhadap harta dan kemuliaan (kedudukan).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 3/460, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 5496)

Maksud hadits di atas, ambisi seseorang untuk beroleh kedudukan dan harta lebih merusak agamanya daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala lapar yang dilepas di tengah sekawanan kambing. Anda bisa membayangkan serigala yang lapar ketika berhasil beroleh mangsanya. Tentu dia akan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun dan tanpa belas kasih.

Berbeda halnya dengan orang yang berambisi terhadap dunia. Dia tidak akan berhenti memangsa, karena dunia tidak pernah membuatnya kenyang. Dia terus memburu dan memburu dunia tanpa peduli halal haram hingga rusaklah agamanya. Sungguh mengerikan akibatnya.

Seorang muslim akan diuji dengan istri dan anak-anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kaliandan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah dari mereka….” (at-Taghabun: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَلَدُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَحْزَنَةٌ

“Anak itu membuat seseorang menjadi penakut, pelit, dan sedih.” (HR. Abu Ya’la, 2/305, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 3073)

Seseorang diuji dengan istri dan anaknya, apakah dia perintah mereka untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau tidak? Apakah dia telah berusaha melindungi mereka dari api neraka? Apakah dia memerintah mereka mengerjakan shalat pada waktunya? Apakah dia melarang mereka berteman dan duduk-duduk dengan orang yang jelek?

Ujian bagi seorang muslim bisa pula datang dari orang-orang zalim. Semakin kuat imannya, semakin besar pula cobaannya. Kita teringat kisah umat terdahulu yang dikisahkan oleh Allah dalam surat al-Buruj berikut ini.

“Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk-duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Mereka tidaklah menyiksa orang-orang yang beriman itu melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Dzat Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Buruj: 4—9)

Luar biasa ujian sakitnya fisik yang mendera mereka demi mempertahankan keimanan dan keyakinan. Bagaimana halnya dengan kita?

Para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah merasakan ujian keimanan dari orang-orang kafir. Bilal bin Abi Rabah, Khabbab ibnul Art, Ammar bin Yasir dan kedua orang tuanya—semoga Allah meridhai mereka semuanya—termasuk deretan dari sekian namayang harus menanggung siksa demi mempertahankan keimanan mereka.

Khabbab radhiallahu ‘anhu misalnya, orang-orang kafir menyiksanya dengan menempelkan punggung Khabbab di batu yang panas membakar hingga hilang daging yang ada di punggungnya.

Said bin Jubair rahimahullah, seorang tabi’in yang mulia, pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Apakah orang-orang musyrik dahulu menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan yang sampai pada taraf mereka diberi uzur untuk berpura-pura meninggalkan keimanan mereka?”

Dijawab oleh Ibnu Abbas, “Ya, demi Allah! Orang-orang kafir dahulu memukuli orang-orang beriman, membuat mereka kelaparan dan kehausan (tidak diberi makan dan minum). Sampai-sampai di antara mereka ada yang tidak bisa duduk dengan lurus karena hebatnya rasa sakit yang dirasakannya. Karena siksaan demikian keras, mereka terpaksa mengikuti kemauan orang-orang kafir.

Orang-orang kafir berkata kepada mereka yang disiksa, ‘Latta dan Uzza adalah sembahanmu selain Allah?!’

Yang disiksa pun terpaksa menjawab, ‘Ya.’

Sampai-sampai ketika ada seekor kumbang melewati mereka, orang-orang kafir berkata, ‘Kumbang ini adalah sesembahanmu selain Allah?!’

Dia pun terpaksa menjawab, ‘Ya’.

Mereka menjawab demikian karena sudah tidak mampu lagi menanggung sakitnya siksaan. Demikianlah perbuatan orang-orang kafir, orang-orang zalim, dan orang-orang yang melampaui batas terhadap orang-orang beriman di setiap zaman sampai datangnya hari kiamat.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang fitnah yang akan terjadi antara masaku dan hari kiamat. “ (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat orang-orang bertanya tentang kebaikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu bertanya tentang keburukan karena khawatir tertimpa oleh kejelekan tersebut. (HR. al-Bukhari)

Tameng dari Ujian & Godaan

Berikut ini beberapa hal yang dengan izin Allah akan menjaga diri kita dari fitnah:

  1. Menguatkan keimanan dalam jiwa dan beramal untuk menambah keimanan.
  2. Mempersenjatai diri dengan ilmu yang bermanfaat, banyak berzikir, dan terus-menerus dalam keadaan berzikir.
  3. Bersegera dan tidak menunda-nunda beramal saleh.
  4. Mengenali jalan orang-orang yang beriman dan berusaha mengikutinya. Di sisi lain, mengenali jalan orang-orang pendosa agar bisa menjauhinya.
  5. Berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ikhlas dalam melakukannya.
  6. Tolong-menolong dalam hal kebaikan dan takwa.
  7. Menjauhi perpecahan dan perselisihan.

Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.

  1. Mensyukuri kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
  2. Berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari fitnah.
  3. Memerangi hawa nafsu dan kebid’ahan, serta menjaga diri dari syubhat.
  4. Menolak syahwat, sangat berhati-hati darinya dan menjauh dari tempat-tempatnya.
  5. Berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauh dari orangorang yang jelek.

Inilah yang bisa kami kumpulkan dari sebab-sebab menjaga diri dari fitnah. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Saat Ujian Menerpa

Ketika iman bersemayam di hati, menetap, tumbuh, dan mewarnai setiap perilaku seorang hamba, ujian pun sejenak menghampiri. Keimanan yang menyembul di dada akan diuji, seberapa kokoh keimanan itu ada. Demikianlah ketentuan yang ada. Setiap manusia akan mendapatkan ujian sesuai dengan kadar kemampuan dirinya. Allah Subhanahu wata’ala telah menggambarkan perihal ujian keimanan itu melalui firman-Nya,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ {} وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)

Ingatkah kisah ashhabul-ukhdud? Saat para pembesar Najran (saat itu masuk wilayah Yaman) membuat parit. Di dalam parit tersebut diletakkan kayu bakar yang kemudian disulut api. Parit itu pun diliputi bara api. Para pembesar Najran itu duduk-duduk di sekitar parit dengan jilatan api yang menyala-nyala. Mereka berada di sekitar parit guna menyaksikan penyiksaan terhadap orangorang yang beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Allah Subhanahu wata’ala  abadikan kisah ini dalam firman-Nya,

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ {}النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ {} إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ {} وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ {} وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Binasa dan terlaknatlah orangorang yang membuat parit yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (al-Buruj: 4—8)

Mereka dilahapkan ke dalam parit dengan api yang menyala tiada lain karena iman yang ada pada mereka. Mereka diuji dengan hal tersebut. Hal ini juga menimpa para sahabat saat awal kemunculan Islam di Makkah. Keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia pun tak luput menghadapi kesadisan kaum musyrikin Quraisy. Penyiksaan demi penyiksaan terus mendera keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhu. Selain diri Yasir radhiyallahu ‘anhu, istri pun tak luput mendapat siksaan.

Begitu pula putranya, Ammar radhiyallahu ‘anhu. Ayah, ibu, dan anak mendapat perlakuan tidak manusiawi. Mengapa mereka mengalami hal yang demikian? Tak lain karena iman telah singgah di lubuk hati mereka nun dalam. Walau tubuh mereka disakiti, jasad mereka dicabik tiada henti, namun iman yang teguh kukuh memaksanya bertahan dalam keislaman. Keluarga Yasir tetap menyimpan itu di dalamnya. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Sekali lagi, karena iman mereka disiksa, disakiti, dan dizalimi tiada henti. Bilal bin Rabah z juga mengalami hal serupa. Sahabat yang mulia ini mengalami penyiksaan fisik nan teramat sadis.

Walau demikian, imannya terus menyuarakan, “Ahad… ahad….” sebuah ucapan yang menerangkan secara nyata bahwa al-Khaliqur ar-Rahman, Allah ksebagai satu-satu-Nya yang diibadahi. Tubuhnya kerap menerima deraan yang menyedihkan karena iman yang ada padanya. Ia disiksa, disakiti. Namun, semua itu tak memadamkan cahaya di hatinya. Tentu saja, masih banyak para sahabat lainnya yang pada awal kemunculan Islam mengalami tindak kekerasan. Semakin tekanan menguat, iman yang ada pada mereka pun semakin kokoh. Mereka tergolong as-sabiqunal awwalun. Mereka itulah yang telah mendapat pujian dari AllahSubhanahu wata’ala. Hal ini tergambar dalam firman-Nya,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Lantaran keimanan mereka, kaum musyrikin pun menggasak libas mereka. Namun, mereka justru makin kokoh keimanannya. Mereka senantiasa terus diingatkan untuk senantiasa bersabar menghadapi kekerasan kaum tak beriman. Mereka terus dibimbing oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menghadapi penindasan kaum yang memusuhi Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya. Mereka sabar dan terus bersabar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (al-Baqarah: 214)

Cobaan demi cobaan datang silih berganti. Beragam ujian pun menimpa para nabi dan rasul. Orang-orang yang shiddiq (jujur keimanannya), para syuhada (yang mati syahid), hamba-Nya yang saleh, dan yang beriman, mereka bersabar. Demikianlah apa yang digambarkan dalam hadits sahih berikut,

وَ
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ  رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras dikenai cobaan?” Jawab beliau, “Para nabi, lantas yang semisal, dan yang semisal. Seseorang akan tertimpa cobaan sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kuat, cobaan itu pun keras. Jika agamanya masih lemah, ia akan diuji sesuai dengan agamanya. Tiadalah cobaan itu senantiasa menimpa seorang hamba sampai ia meninggalkan si hamba berjalan di muka bumi tanpa ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2398, hadits dari Mush’ab bin Sa’d, dari ayahnya)

Para ulama yang teguh memegang syariat pun tak lepas dari cobaan. Sebut saja al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau adalah seorang ulama yang diliputi kesabaran luar biasa kala cobaan menimpanya. Selain itu, al-Imam al- Barbahari rahimahullah juga termasuk salah seorang ulama yang diuji dengan sikap keras masyarakat pada waktu itu. Beliau dikucilkan di tengah masyarakat. Beliau hidup menyendiri hingga akhir hayat. Demikianlah cobaan hidup yang

bisa menimpa siapa pun dan di mana pun. Hanya orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala dan diberi kesabaran yang akan berhasil melewati masa-masa ujian tersebut. Mereka akan tetap kokoh di atas agama Allah Subhanahu wata’ala dan teguh memegang as-Sunnah. Berbeda halnya dengan orang-orang yang munafik. Ketika ujian menerpa, mereka akan lari meninggalkan prinsip agamanya. Ia berbalik kembali kepada kekafiran. Wal ‘iyadzubillah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tanpa keyakinan). Jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu. Jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (al-Hajj: 11)

Melalui cobaan itulah akan terbukti keimanan seseorang. Jika ia seorang hamba yang jujur dan benar keimanannya, ia akan tetap memegang teguh agamanya. Sebaliknya, jika ia lemah, maka prinsip agamanya akan dicampakkan dan ia berpaling untuk meraup kepentingan dunia. Ia menjadi manusia yang terfitnah oleh keadaan dunia. Rasulullah n telah mengingatkan hal itu. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian melakukan berbagai macam amal sebelum tiba beragam fitnah yang seperti potonganpotongan malam yang gelap gulita. Yang seseorang pada pagi hari dia beriman, sore harinya ia menjadi kafir. Pada sore hari beriman dan pagi hari ia menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan barang keduniawian.” (HR. at- Tirmidzi no. 2195 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani rahimahullah)

Para ulama di masa sekarang pun tak lepas dari beragam ujian. Mereka dicerca, dihujat, dan diolok-olok. Kalangan hizbiyyun mengumbar tuduhan keji terhadap para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sebut saja misalnya para tokoh FIS di Aljazair, mereka menyebut asy- Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin sebagai antek-antek Amerika. Hujatan yang mereka lontarkan terkait Krisis Teluk yang saat itu sedang menghangat. Demikian pula Muhammad Surur Zainal Abidin, para pengikutnya lebih dikenal dengan sebutan sururiyyun menghujat para ulama di Saudi Arabia.

Muhammad Surur Zainal Abidin yang lebih senang hidup di negara kafir Inggris ini menyebut para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai budak Amerika. Cercaan Muhammad Surur Zainal Abidin ini dilatarbelakangi fatwa para ulama yang memperkenankan meminta bantuan (pasukan) asing dalam upaya menghadapi agresi Sadam Husain kala itu. Tak ketinggalan Abdurrahman Abdul Khaliq, ia menyebut para ulama Ahlus Sunnah dengan pelecehan, “… hanya mengerti qusyur (kulit) Islam yang setingkat masa lalu….”

Para ulama dituduh tidak memahami perkembangan kekinian. Sebuah tuduhan gegabah dalam menyikapi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyatakan bahwa hal itu (mencaci maki ulama) dalam rangka memisahkan umat ini dari ulamanya. Apabila berhasil, akan memudahkan bagi mereka (kalangan ahlul bid’ah) untuk menyusupkan berbagai kerancuan pemikiran (syubhat) dan kesesatan yang menyesatkan umat dan memecah belah kekuatan umat. Kata beliau, “Tak seorang pun yang melanggar kehormatan para ulama yang istiqamah di atas jalan yang haq, kecuali satu di antara tiga keadaan berikut ini.

Pertama, bisa jadi ia seorang munafik yang telah diketahui kemunafikannya.

Kedua, ia seorang fasik yang membenci ulama karena mereka (para ulama) telah mencegahnya dari kefasikan/ tindakan fasik.

Ketiga, dia seorang hizbi, sesat, membenci ulama karena ulama tersebut tidak mencocoki selera hizbiyah mereka dan pemikiran-pemikirannya yang menyimpang.” (al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 51)1 Ulama adalah orang-orang yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana

disebutkan Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Begitulah para ulama. Amalnya senantiasa dilandasi karena Allah Subhanahu wata’ala. Niat dan perilakunya senantisa bersendikan pada apa yang telah dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’aladan Rasul-Nya. Bagaimana tidak? Para ulamalah yang mewarisi ilmu yang dibawa oleh para nabi. Para ulamalah yang menjabarkan ilmu tersebut dengan perbuatan. Nabi n bersabda,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Barang siapa mampu mendapatkannya, (berarti) ia telah mendapatkan keberuntungan yang banyak.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, no. 6297)

Karena itu, sungguh tercela orang yang meremehkan dan mencela seorang alim atau para ulama yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, ulama yang istiqamah di atas al-haq. Berikut sejumlah kisah dari kehidupan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t. Seorang ulama yang masyhur lantaran keluasan ilmu dan kedermawanannya. Selain tentu saja sifat-sifat terpuji lainnya yang tak bisa disebut satu demi satu dalam lembaran ini.

Suatu hari, asy-Syaikh Muhammad Hamid, ketua perhimpunan Ashabul Yaman di Eritria tiba di Riyadh. Malam itu begitu dingin, padahal dirinya tak memiliki bekal untuk bisa menyewa kamar hotel. Saat itu timbul pikiran untuk bertamu ke rumah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Malam itu waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Awalnya, beliau ragu untuk bertamu ke rumah asy-Syaikh Abdul Aziz. Namun, akhirnya diputuskan tetap berkunjung. Kata asy-Syaikh Muhammad Hamid, “Saya tiba di rumah beliau yang sederhana dan bertemu dengan seseorang yang sedang tidur di pintu pagar. Setelah terbangun, ia bukakan pintu untuk saya.

Saya memberi salam kepadanya secara pelan agar tak ada orang lain mendengar lantaran malam yang masih larut. Tak berapa lama, saya melihat asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjalan menuruni tangga seraya membawa semangkuk makanan. Beliau ucapkan salam dan memberikan makanan itu kepada saya.” Beliau katakan, “Saya mendengar suara Anda kemudian saya mengambil makanan itu karena saya berpikir Anda belum makan malam ini.” “Demi Allah, saya tidak bisa tidur malam itu. Saya menangis karena telah mendapat perlakuan yang sedemikian baik.” (Mawaqif Madhiyah fi Hayati al- Imam Abdul Aziz bin Baz, hlm. 223, lihat Mereka Adalah Teroris, al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh, hlm. 312)

Cermatilah betapa kehidupan beliau yang demikian sederhana. Tak tampak gemerlap kemewahan padanya. Betapa beliau begitu peduli, begitu peka terhadap sesama. Sungguh, contoh akhlak terpuji dan menjadikan hati terasa sejuk karenanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ب

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)

Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sungguh, keutamaan seorang alim (yang berilmu) dibandingkan dengan seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan di malam purnama dibandingkan atas segenap bintang kemintang.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’ ash- Shagir no. 6297)

Hanya orang-orang yang rendahan yang akan merendahkan para ulama yang senantiasa berpegang pada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin