Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

 Well

Berbagai kerusakan dan kehancuran terjadi dalam urusan dunia, lebih-lebih lagi urusan agama. Penyebab utamanya adalah jauhnya umat ini dari ilmu kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jauhnya mereka dari para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits yang lainnya tentang akibat dicabutnya ilmu.

يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ

“Ilmu akan dicabut, (akibatnya) akan merebak kebodohan, berbagai fitnah,dan akan timbul banyak pembunuhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Amalan-amalan jelek ibarat penyakit, sedangkan para ulama ibarat obatnya. Apabila para ulama rusak, siapa yang akan mengobati penyakit?” (al-Hilyah, 6/361)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau tidak ada para ulama, niscaya umat manusia akan menjadi seperti binatang-binatang ternak (tidak tahu halal dan haram).” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm.167)

 

Siapakah Para Ulama?

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang keutamaan mereka dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Mereka itulah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sifat-sifat para ulama yang pantas dijadikan sebagai ikutan dan suri teladan ialah orang-orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

Orang-orang yang pantas dijadikan suri teladan adalah orang-orang yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh (pada dirinya). Orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, tidak boleh diikuti. Demikian pula orang jahil yang tidak berilmu, tidak boleh diikuti.

Tidak boleh diikuti dan diteladani kecuali orang yang mengumpulkan dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh. Adapun orang yang berilmu dan tidak sengaja berbuat salah atau menyimpang dalam perjalanan atau pemikirannya, maka pantas diambil ilmunya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 251)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Orang alim adalah orang yang ada pada dirinya sifat-sifat berikut ini,

  • Mengikuti segala sesuatu yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah,
  • Mengaitkan pemahamannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf ash-shalih,
  • Komitmen dengan ketaatan dan jauh dari kefasikan, maksiat, dan dosadosa,
  • Menjauhkan dirinya dari bid’ah, kesesatan, kebodohan, dan mentahdzir (umat) darinya,
  • Mengembalikan (dalil-dalil) yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas pengertiannya) dan tidak mengikuti (dalil-dalil) yang mutasyabih itu,
  • Khusyuk dan tunduk terhadap perintah Allah,
  • Ahli istinbath (mengambil kesimpulan hukum dari dalil) dan memahaminya. (Syarh Qaul Ibni Sirin, 116—117)

 

Perintah Menimba Ilmu dari Mereka, Bukan dari Pihak Lain

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya,

“Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata, ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari salah mengambil rujukan ilmu. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat, orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini mengandung penjelasan bahwa seorang muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang muslim tidak akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Di dalamnya ada penjelasan bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)

 

Cara Mengenali Ahli Ilmu

Ada tiga cara untuk mengenali ahlul ilmu yang berhak diambil ilmunya.

  1. Orang-orang yang berilmu dan terkenal akan keilmuannya.
  2. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’bah rahimahullah, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang masyhur/terkenal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Jarh wa Ta’dil, 2/28)

Sebagai permisalan di masa kita adalah seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dll.

  1. Bertanya pada ahlul ilmi pada zaman tersebut.
  2. Orang-orang yang masyhur bahwa dia menuntut ilmu di majelis-majelis para ulama.

Syu’bah berkata, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang terkenal (keilmuannya).” (Diriwayatkan oleh al-Khatib di dalam al-Kifayah, hlm. 161)

Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Tidak boleh diambil ilmu ini kecuali dari orang-orang yang dipersaksikan dengan menuntut ilmu.”

 

Orang-Orang yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Memerhatikan keadaan orang-orang yang berbicara di majelis untuk memberi faedah kepada orang lain akan membuahkan pembeda yang akan memilah antara orang-orang yang berhak diambil ilmunya dan yang tidak berhak.”

Ibnu Sirin berkata rahimahullah, “(Salaf) dahulu tidak bertanya tentang sanad. Tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami para perawi kalian.’ Setelah itu diteliti, perawi-perawi dari Ahlus Sunnah diambil haditsnya. Adapun perawi-perawi dari kalangan ahli bid’ah tidak diambil haditsnya.”

Sungguh, sebagian orang asing telah mengaku-aku berilmu. Sebagian ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu juga telah berbicara di majelis-majelis untuk memberi faedah kepada umat (dengan bid’ahnya). Orang yang sebenarnya lebih membutuhkan ilmu dan dakwah daripada orang-orang yang bodoh, sudah berani naik mimbar. Sungguh, salaf ash-shalih telah memperingatkan umat dari mereka.

Ahlul ilmi dan iman yang mengikuti salaf ash-shalih dengan baik senantiasa mentahdzir umat dari orang yang semacam ini dan melarang mengambil ilmu darinya disebabkan bahaya mereka terhadap masyarakat dan kesesatan serta penyimpangan yang muncul darinya.

Selanjutnya, asy-Syaikh Ahmad Bazmul menjelaskan bahwa kita bisa menyimpulkan tentang sebab-sebab pokok orang yang tidak berhak diambil ilmunya.

  1. Jahil (orang bodoh)
  2. Menyelisihi kebenaran karena syahwat dan syubhat

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menggolongkan ulama menjadi tiga.

  1. Orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia), tetapi tidak berilmu tentang perintah (syariat) Allah ‘azza wa jalla.
  2. Orang yang berilmu tentang perintah Allah ‘azza wa jalla dan berilmu tentang syariat-Nya. Orang ini adalah yang takut terhadap Allah ‘azza wa jalla dan itulah orang alim yang sempurna
  3. Orang berilmu tentang syariat Allah ‘azza wa jalla, namun tidak berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah orang yang tidak takut terhadap Allah ‘azza wa jalla, dan dialah alim yang jahat. (Syarh Qaul Ibni Sirin, hlm. 121—122)

Syaikhul Islam berkata, “Setiap muslim wajib memerhatikan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas mengamalkannya. Dia juga wajib memerhatikan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas meninggalkannya. Inilah jalan Allah ‘azza wa jalla dan agama-Nya, yaitu ash-shirath al-mustaqim. Jalan orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Ash-shirath al-mustaqim adalah jalan yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu yang syar’i dan amal yang syar’i. Barang siapa telah berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, berarti dia adalah orang yang jahat. Barang siapa beramal tanpa ilmu, berarti dia sesat.” (Majmu’ Fatawa, 11/26)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita sehingga terkumpul pada diri kita semua dua hal yang mulia, yaitu ilmu dan amal.

Amin.

Yang Berguguran dari Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 Daun Gugur

Allah ‘azza wa jalla telah menjamin untuk menjaga agama-Nya hingga bangkitnya kiamat. Tanda dan cirinya adalah Allah ‘azza wa jalla menjadikan dan membangkitkan dari umat ini sekelompok orang di atas al-haq. Mereka tidak termudarati oleh orang yang menyelisihi dan merendahkan mereka hingga hari kiamat.

Sekelompok orang ini yang tampil menghadapi dai-dai penyesat umat di sepanjang masa, tidak ada satu bid’ah pun yang muncul melainkan Allah ‘azza wa jalla memunculkan dari tokoh Ahlu Sunnah seseorang yang membantahnya, membongkar aibnya, membela sunnah dan menjaganya. Alangkah mulianya mereka.

Di antara tokoh-tokoh hizbiyin masa kini yang dengan gigihnya terus melancarkan serangan-serangan tajam terhadap dakwah salafiyah dan ulamanya dengan slogan membela sunnah dan dakwah salafiyah—secara dusta—adalah:

  1. Adnan ‘Ar’ur

Dia begitu getol membela kesesatan dan penyimpangan Sayyid Quthb, seperti wihdatul wujud, melecehkan Nabi Musa ‘alaihissalam mengingkari sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla, al-Qur’an adalah makhluk, mencela sahabat terutama Utsman radhiallahu ‘anhu, memuji Abdullah bin Saba yang berhasil menghasut umat meruntuhkan kekhilafahan Utsman radhiallahu ‘anhu, dan lainnya.

  1. Muhammad al-Maghrawi

Dia dengan getol membela sahabat dekatnya, Adnan ‘Ar’ur, ditambah lagi pemahaman takfir yang ada pada dirinya, menikam ulama Ahlus Sunnah, bahkan para nabi.

  1. Abul Hasan al-Mishri Musthafa bin Sulaiman al-Ma’ribi

Dia membela Sayyid Quthb, Ikhwanul Muslimin, Firqah Tabligh, melecehkan salafiyin dan ulamanya, mencela sahabat bahkan mengkritik tarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang menyatakan bahwa manhaj Ahlus Sunnah adalah manhaj afyah (luas), mencakup umat dan Ahlus Sunnah. Dengan kaidah ini, dia hendak memasukkan semua sekte-sekte sesat ke dalam Ahlus Sunnah.

  1. Ali Hasan Abdul Hamid al-Halabi

Dialah yang sekarang menjadi motor pergerakan fitnah yang disebut fitnah al-Halabi, menyatukan, dan merangkul hizbiyin di atas bersatu menyerang salafiyin dan ulamanya.

Dia membuat situs السلفيين كل yang justru mengumpulkan seluruh fitnah hizbiyin. Selain itu, ia menulis banyak kitab dan makalah yang dipenuhi oleh makar, talbis (pengaburan) dan pemutarbalikan fakta, kaidah-kaidah yang batil, menerapkan kembali kaidah-kaidah Abul Hasan al-Mishri, membuat keraguan terhadap kaidah-kaidah al-jarh wat ta’dil, mengintimidasi siapa saja yang menerapkan kaidah-kaidah tersebut terhadap ahli bid’ah, dan membela dai-dai penyeru fitnah. Bahkan, ia membela risalah yang mengandung ajakan kepada wihdatul adyan (penyatuan agama) dengan cara-cara terselubung dan makar-makar yang jahat, dan lainnya.

Lihat lebih lengkap kesesatan orang ini dalam tulisan asy-Syaikh Rabi’, Bayan Man Hum Asbabul Fitan, halaqah ke-1. Para ulama kibar masa ini tampil membongkar makar dan kesesatan mereka. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, masyaikh Yaman murid-murid asy-Syaikh Muqbil bin Hadi, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, asy-Syaikh Muhammad Bazmul, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi, dan lainnya. Ahlus Sunnah salafiyin dari masa ke masa menjadikan para ulamanya sebagai rujukan ketika menghadapi ragam fitnah yang terjadi.

Barang siapa sejalan dengan ulama salaf dari masa ke masa dalam hal membela sunnah dan menyikapi ahli bid’ah, dia adalah salafi sunni.

Barang siapa membenci mereka dan membela dai-dai fitnah, bahkan bergabung dengan hizbiyin, dia adalah pengikut hawa nafsu.

Perlu diingat, perseteruan antara Ahlus Sunnah dan ahli bid’ah akan terus berlanjut hingga hari akhir dan akan semakin dahsyat dan samar.

Sudah menjadi sunnatullah pada para hamba-Nya, akan ada para pembela sunnah sebagaimana halnya ada pula para pembela bid’ah. Akan muncul pula orang-orang yang gugur dari manhaj salaf karena tidak istiqamah.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai para pembela sunnah dan manhaj dengan jujur dan tulus serta kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla keistiqamahan di atasnya.

Amin, Ya Mujibas Sailin.

Mengenal Ulama Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 Al_Quran_by_durooob

Konsekuensi dari pilar kedua adalah seorang salafi yang sesungguhnya harus mengenal para ulama dakwah salafiyah, terutama yang dikenal kegigihannya membela manhaj salaf dan kokoh keilmuannya dalam meruntuhkan paham hizbiyin ahli bid’ah.

Seorang salafi pasti mencintai, memuliakan, dan menghormati ulama dakwah salafiyah, serta menjadikan mereka sebagai marja’iyah (tempat rujukan) dalam segala persoalan. Ini sekaligus menjadi ciri dan tanda-tanda Ahlus Sunnah salafiyin.

Al-Imam Abu Muhammad al-Hasan bin Ali al-Barbahari rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau melihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudhair g, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah, insya Allah.

Dan apabila engkau melihat seseorang mencintai Ayyub bin ‘Aun, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Idris al- Audi, asy-Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai’, Muadz bin Muadz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, al-Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.

Apabila engkau melihat seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, al-Hajjaj bin Minhal, dan Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan dan mengambil pendapat mereka, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.” (Syarhus Sunnah hlm. 117—118)

Al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash-Shabuni rahimahullah dalam kitabnya, Aqidah Salaf wa Ashhabil Hadits (hlm. 112—113) menjabarkan, “Salah satu ciri Ahlus Sunnah adalah mencintai imam-imam sunnah, ulama sunnah, pembela-pembela dan pecinta-pecinta sunnah, serta membenci tokoh-tokoh bid’ah yang menyeru kepada neraka dan menunjukkan para pengikutnya ke negeri kehancuran.

Allah ‘azza wa jalla telah menghiasi dan menyinari hati-hati Ahlus Sunnah dengan kecintaan kepada ulama sunnah sebagai bentuk keutamaan dari-Nya ‘azza wa jalla.”

Dengan sanadnya, beliau meriwayatkan dari Abu Raja Qutaibah bin Sa’id dalam Kitab al-Iman karya beliau, disebutkan di bagian akhirnya, “Apabila engkau melihat seseorang mencintai Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-Auza’i, Syu’bah, Ibnul Mubarak, Abul Ahwash, Syarik, Waki’, Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.”

Ahmad bin Salamah rahimahullah berkata, “Saya sertakan di bawahnya dengan tulisan tanganku: Yahya bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaih.”

Tatkala kami sampai pada pembahasan ini, orang Naisabur memandang ke arah kami seraya berkata, ‘Kaum itu fanatik kepada Yahya bin Yahya.’

Kami pun bertanya kepadanya (Qutaibah), ‘Wahai Abu Raja, siapa Yahya bin Yahya?’

Beliau menjawab, ‘Seorang lelaki saleh, imam kaum muslimin, Ishaq bin Rahawaih juga imam, sedangkan Ahmad bin Hanbal menurutku adalah orang yang paling besar dari semua yang telah aku sebutkan namanya.’

Saya (ash-Shabuni, -pen.) sertakan pula dengan tokoh-tokoh yang telah disebutkan Qutaibah rahimahullah (nama-nama berikut) yang barang siapa mencintai mereka berarti dia adalah Ahlus Sunnah.

Mereka adalah tokoh-tokoh ahli hadits yang dijadikan suri teladan oleh orang-orang yang dimasukkan dalam kelompok (ahli hadits), pengikut dan pembela mereka, dan banyak orang yang didapati meniti jejak langkah mereka. Di antara tokoh-tokoh itu adalah:

  • Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muthallibi, sang imam yang dikedepankan, tokoh yang diagungkan, orang yang sangat besar jasanya untuk pemeluk Islam dan Ahlus Sunnah, orang yang diberi taufik, ilham, dan diluruskan langkahnya, orang yang berbuat pada agama Allah ‘azza wa jalla dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk pembelaan dan pertolongan yang tidak bisa diperbuat oleh seorang pun dari ulama masanya dan ulama setelahnya.
  • Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang yang sebelum masa asy-Syafi’i, seperti Said bin Jubair, az-Zuhri, asy-Sya’bi, dan at-Taimi,
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka, seperti Laits bin Sa’ad al-Mishri, al-Auza’i, ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah al-Hilali, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Yunus bin Ubaid, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu ‘Aun, dan yang semisal mereka.
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka seperti, Yazid bin Harun al-Wasithi, Abdur Razzaq bin Hammam ash-Shan’ani, dan Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabbi.
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka, seperti Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, Abu Dawud as-Sijistani, Abu Zur’ah ar-Razi, Abu Hatim ar-Razi dan putranya (yaitu Abdur Rahman, -pen.), Muhammad bin Muslim bin Warah ar-Razi, Muhammad bin Aslam ath-Thusi, Abu Said Utsman bin Said ad-Darimiy as-Sijzi, al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi—yang dikenal dengan sebutan ‘imamnya para imam’ dan sungguh beliau adalah imamnya para imam pada masanya—, Abu Ya’qub Ishaq bin Ismail al-Busti, al-Hasan bin Sufyan al-Fasawi, kakekku dari pihak kedua orang tuaku, yaitu Abu Said Yahya bin Manshur az-Zahid al-Harawi, Abu Hatim Adi bin Hamdawaih ash-Shabuni, dan kedua putranya, yaitu Saifus Sunnah Abu Abdillah ash-Shabuni dan Saifus Sunnah Abu Abdir Rahman ash-Shabuni.
  • Dan tokoh-tokoh sunnah yang selain mereka yang gigih berpegang teguh dengannya, membelanya, mendakwahkannya, dan berwala di atasnya….”

Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq al-Qasimi hafizhahullah dalam kitabnya, Sallus Suyuf Wal Asinnah ‘Ala Ahlil Hawa wa Ad’iyais Sunnah (hlm. 76—79) lebih jauh menguraikan tentang ulama sunnah, ulama dakwah salafiyah, “… Seseorang yang mencermati sejarah umat Islam sejak terbitnya fajar Islam, akan mengetahui dengan jelas bagaimana Allah ‘azza wa jalla sepeninggal Nabi-nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga agamanya dengan para ulama, ulama Ahlus Sunnah, ahlu hadits. Merekalah yang melakukan rihlah (perjalanan) dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatukannya dalam lembaranlembaran (karya tulis) dengan beragam metode, seperti kitab musnad, majma’,mushannaf, sunan, muwaththa’, serta kitab-kitab zawaid dan mu’jam.

Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemalsuan para pemalsu hadits dan tadlis para mudallisin. Mereka memisahkan antara yang sahih dan yang dhaif. Mereka menyusun kaidah-kaidah ilmu hadits untuk dapat memilah hadits-hadits yang diterima dan yang ditolak. Mereka juga mengklasifikasi para rawi. Mereka pun menulis (kitabkitab) tentang rawi-rawi tsiqah, rawi-rawi dhaif, dan para pemalsu hadits, lalu menukilkan penjelasan imam al-jarh wat ta’dil tentang rawi-rawi tersebut. Bahkan, mereka mengklasifikasi riwayat-riwayat satu orang rawi, (dijelaskan) mana yang dia riwayatkan dari penduduk Syam, mana pula yang dia riwayatkan dari penduduk Irak dan penduduk Hijaz, atau yang dia riwayatkan sebelum pikun dan yang setelah pikun kalau memang dia mengalami kepikunan. Demikian seterusnya….

Sungguh, orang yang mencermati ilmu hadits ini, berbagai bidangnya, macam dan jenisnya, dan kitab-kitab yang ditulis tentangnya, dia akan sangat tercengang dengan khidmat yang begitu jauh yang dilakukan oleh ulama hadits terhadap hadits Nabi mereka.

Mereka (ulama sunnah) pula yang tampil menjelaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah pada semua bab sekaligus membantah ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang.

Ulama sunnah mentahdzir (memperingatkan umat) dari ahlul hawa wal bida’, melarang bermajelis dan berbicara dengan mereka, tidak menjawab salam mereka, bahkan tidak menikah/menikahkan (putrinya) dengan mereka, dalam rangka menegur serta meredam mereka dan yang semisal mereka. (Ulama sunnah) juga menulis kitab-kitab bantahan yang sangat banyak….”

Mereka (ulama sunnah) juga yang tampil mengumpulkan hadits dan atsar dalam tafsir al-Qur’an, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir ash-Shan’ani, dan Tafsir an-Nasai. Di antara mereka juga ada yang menafsirkan al-Qur’an secara sempurna, seperti Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lainnya.

Selain itu, mereka pun menyusun kaidah-kaidah dan ushul tentang tafsir al-Qur’an al-Karim sekaligus memilah antara tafsir dengan atsar dan tafsir dengan ra’yu (akal).

Merekalah juga yang menulis karyakarya dalam bidang fikih. Mereka menulis semua babnya, membahas masalahmasalahnya, menjelaskan hukum syar’i amali dengan dalil-dalilnya yang rinci dari al-Kitab, sunnah, ijma’, dan qiyas. Mereka menyusun kaidah-kaidah fikih yang mengumpulkan berbagai cabang permasalahan yang disatukan oleh sebuah illat (sebab hukum).

Mereka juga menyusun ushul fikih, yaitu kaidah-kaidah untuk mengambil istinbath hukum-hukum syar’i. Tidak lupa, mereka juga menulis karya yang sangat banyak dalam bidang ini.

Mereka pula yang menulis tentang sirah, tarikh, adab, zuhud, raqaiq, lughah, nahwu, dan beragam bidang ilmu.

Ulama adalah pewaris nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi hanya mewariskan ilmu. Sungguh, para ulama sunnah telah mengambil bagian yang sangat banyak dari ilmu tersebut. Mereka mengumpulkan ilmu tersebut, menjelaskan agama kepada umat, dan membela sunnah serta akidah umat.

Ulama tersebut semisal Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, Ali bin al-Madini, Yahya bin Said al- Qaththan, asy-Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Adi, Ibnu Mandah, al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, al-Khallal, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Ibnu Abdil Barr, al-Khatib al-Baghdadi, dan banyak lagi selain mereka.

Begitu pula ulama yang berjalan di atas manhaj mereka, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya semisal Ibnul Qayyim, adz-Dzahabi, dan Ibnu Abdil Hadi. Merekalah para ulama yang telah menulis karya ilmiah yang berharga dan sangat banyak. Mereka membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menerangkan agama yang sahih dengan dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang cukup. Para pencari ilmu senantiasa mengambil fikih (pemahaman) dari karya-karya ilmiah mereka dan berdalil dengannya. Bahkan, di berbagai perguruan tinggi Islam, karya-karya di atas dijadikan sebagai kurikulum resmi untuk para mahasiswanya.

Begitu pula ulama yang berjalan di atas manhaj mereka, seperti mujaddid (pembaru) dakwah tauhid, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, putra-putranya dan murid-muridnya dari kalangan ulama Najd dan ulama dunia Islam yang sejalan dengan mereka, semisal asy-Syaukani, ash-Shan’ani, ulama India, ulama Mesir seperti Muhibbuddin al-Khatib Ahmad Syakir, Muhammad Hamid al-Faqi, ulama Sudan, ulama Maroko al-‘Arabi, dan ulama Syam yang tampil menyebarkan hadits dan akidah salafiyah di negerinya dan membelanya.

Mereka semua (ulama sunnah), walhamdulillah, terus tegak di atas manhaj ini. Inilah pembenaran yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampil hingga datang urusan Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan mereka tampil (di atas kebenaran).” (al-Fath, 13/293)

Dalam riwayat yang lain,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرَةً عَلَى الدِّينِ عَزِيزَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampil di atas agama lagi mulia hingga bangkit hari kiamat.” (al-Ibanah, 1/200)

Di antara ulama kita di masa kini—sekadar contoh, bukan pembatasan—adalah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, mufti Saudi Arabia, asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh, asy-Syaikh Shalih al-Atsram, dan para pembesar dari kalangan qadhi, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdullah al-Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan, asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, asy-Syaikh Hammad al-Anshari, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi, asy-Syaikh Shalih al-Abud, dan ulama dunia Islam selain mereka.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, al-Hayyu al-Qayyum, agar menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati yang telah wafat. Semoga Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan taufik kepada kami agar dapat meniti jejak langkah mereka dan menggabungkan kami dengan mereka semua bersama Nabi dan teladan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga al-Firdaus al-A’la.

Saya sertakan pula dalam risalah ini para ulama dakwah salafiyah masa ini yang dikenal keteguhan, kegigihan, dan ketabahannya membela sunnah dan manhaj salaf, selain juga dikenal tegas menyikapi hizbiyin yang menebar ragam syubhat, sabar, dan secara ilmiah meruntuhkan syubhat mereka. Di antara mereka adalah:

  • Al-Muhaddits Syaikh Muqbil Bin Hadiy al-Wadi’i Abu ‘Abdir Rahman rahimahullah . Beliau adalah seorang ahli hadits tersohor di negeri Yaman yang memiliki ribuan murid dari penjuru negeri, bahkan dari penjuru dunia Islam, bahkan dari negeri kafir, semisal Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Beliau adalah pendiri darul hadits di desanya, Dammaj, Provinsi Sha’dah, sekaligus tokoh dakwah salafiyah di negeri Yaman. Dakwahnya tersebar hampir ke pelosok dan bebukitan batu negeri Yaman, bahkan ke seluruh penjuru dunia melalui murid-muridnya. Yaman yang dahulu gelap gulita dengan Syi’ah dan Sufi kini terang benderang dengan sunnah.

Keteguhan beliau bermanhaj dan membela sunnah serta meruntuhkan “singgasana” ahli bid’ah menyebabkan beliau disegani dan ditakuti musuhmusuh sunnah.

Kearifan, kelembutan, perhatian, dan kasih sayang beliau kepada murid-muridnya dan salafiyin pada umumnya menjadikan beliau sebagai sosok yang dikagumi, dimuliakan, dicontoh, dan sudah dianggap sebagai “ayah” yang penyayang bagi dakwah salafiyah yang mulia ini. Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau dan menempatkannya di dalam surga Firdaus al-A’la.

  • Di antara ulama dakwah salafiyah masa kini adalah Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid bin Sulaiman Al-Jabiri hafizhahullah

Beliau adalah sosok alim besar kota Madinah, tokoh dakwah salafiyah yang masyhur dengan uraian-uraian yang jelas, padat, singkat, dengan klasifikasi penggambaran masalah yang menyeluruh dan tepat.

Orang yang duduk dengan beliau akan merasakan nyaman, senang, dan betah walaupun masih seorang pemula dalam mencari ilmu, bahkan awam sekalipun. Sebab, majelisnya penuh dengan faedah-faedah ilmiah dan amaliah, diselingi oleh candaan ringan yang menyegarkan suasana.

Beliau menjadi momok yang menghantui hizbiyin karena bantahan-bantahan beliau yang tegas dan ilmiah terhadap syubhat mereka.

Beliau bersama ulama dakwah salafiyah lainnya, semisal pembawa bendera al-jarh wat ta’dil masa ini al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, dan Fadhilatus Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, serta Samahatus Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah, dan yang lainnya, tampil dengan gagah perkasa, gigih, dan tabah menyuarakan al-haq di tengah-tengah gelombang penyimpangan dan kesesatan yang sedang digelembungkan oleh hizbiyun dan para pengaku salaf.

Satu persatu fitnah yang dimunculkan dapat dipatahkan, diredam, dan dibantah oleh mereka, dengan taufik serta pertolongan Allah ‘azza wa jalla. Dimulai dari fitnah ‘Adnan ‘Ar’ur, lalu Muhammad al-Maghrawi, kemudian Abul Hasan al-Mishri al-Ma’ribi, diteruskan oleh fitnah al-Halabi, dan disambung oleh gemuruh fitnah Hajawirah (pengikut Hajuri).

Fitnah-fitnah yang menerjang dakwah salafiyah ini, walhamdulillah, dihadapi oleh ulama besar dengan sabar, hikmah, tegar, tabah, dan kokoh, bagaikan gunung tinggi menjulang tak tergoyahkan.

Mereka dan ulama dakwah salafiyah lain di seluruh penjuru dunia menjadi rujukan umat, terkhusus salafiyin dalam segala problem yang ada.

Barang siapa mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka secara tulus dan syar’i, dia adalah Ahlus Sunnah. Sebaliknya, siapa mencela, membenci, dan merendahkan mereka, berarti dia adalah pengikut hawa nafsu. Wallahul Muwaffiq.

 

Ulama Salaf, Rujukan Umat

Secara syar’i, para ulama salaf, ulama dakwah salafiyah pada tiap generasi adalah tempat rujukan bagi umat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka bertanyalah kepada orang yang punya ilmu bila kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Mereka adalah tempat meminta fatwa, bimbingan, dan arahan. Umat mengambil ilmu dan pemahaman agama dari mereka. Di meja merekalah diletakkan semua persoalan dan problem umat.

Inilah pelajaran adab yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam firman-Nya,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya, jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (rasul & ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa’: 83)

Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullah menasihatkan dalam risalahnya, Mudawatun Nufus, sebagaimana dalam Majmu’ Rasail Ibnu Hazm (hlm. 411), “Apabila engkau menghadiri majelis ilmu, engkau harus hadir sebagai orang yang ingin menambah ilmu dan pahala, bukan orang yang merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya, orang yang mencari ketergelinciran (alim) yang hendak engkau jelekkan atau keganjilan (pendapat alim) yang hendak engkau sebar luaskan. Sebab, ini adalah perbuatan orang-orang rendah, yang selamanya tidak akan beruntung, pada seorang alim.”

Ibrahim bin Abi ‘Ablah rahimahullah menyatakan, “Barang siapa membawa ilmu-ilmu yang syadz (ganjil), dia telahmemikul kejelekan yang sangat banyak.” (Siyar ‘Alamin Nubala, 6/324)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga menegaskan, “Barang siapa mencari-cari rukhshah (keringanan) dari beragam mazhab dan ketergelinciran ahli ijtihad, berarti telah tipis/rapuh agamanya.” (as-Siyar 8/90)

Termasuk talbis (upaya pengaburan) yang dilakukan hizbiyin adalah mereka berdalil dengan ucapan para ulama untuk membenarkan kaidah-kaidah mereka yang batil.

Syaikhul Islam rahimahullah tatkala menjelaskan ahlu bid’ah berkata, “Mereka terkadang mendapati kalimat-kalimat mujmal (yang global/tidak jelas) dari ucapan sebagian ulama, lalu mereka bawa pada makna yang rusak. Ini seperti yang dilakukan oleh Nasrani tentang yang dinukil kepada mereka dari para nabi, akhirnya mereka mengikuti yang samar (mutasyabih).” (Majmu’ Fatawa 2/374)

Di antara trik yang dilakukan hizbiyin dalam melegalkan dan menguatkan penyimpangan mereka adalah menggambarkan kebenaran manhaj mereka yang menyimpang kepada alim yang tidak atau kurang mengetahui keadaan mereka sesungguhnya. Setelah mendapatkan tazkiyah atau ucapan-ucapan yang sekiranya memihak mereka dari alim tersebut, mereka pun menggunakannya untuk menghadapi ulama yang tahu keadaan mereka dan telah membongkar penyimpangan-penyimpangan mereka. Dengan cara seperti ini, banyak kalangan muslimin bahkan salafiyin tertipu oleh mereka.

Wallahul Musta’an wa ’alaihit tiklan.

‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Abu Ghalib berkata, “Ketika didatangkan kepala orang-orang Azariqah[1] dan dipancangkan di atas tangga Damaskus, datanglah Abu Umamah al-Bahili radhiallahu ‘anhu. Ketika melihat mereka, air matanya pun mengalir dari kedua pelupuknya.

كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ وَخَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْم السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ.

“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” kata Abu Umamah. “Mereka ini sejelek-jelek orang yang dibunuh di bawah naungan langit ini. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh di bawah naungan langit ini adalah orang-orang yang mereka bunuh,” lanjutnya.

Lanjutkan membaca ‘Ulama Al-Jarh Wa At Ta’dil, Sosok Penjaga dan Pembela Agama Allah

Ciri-ciri ‘Ulama

Mengenal ciri-ciri ulama yang benar adalah sangat penting. Karena di negeri kita, banyak orang yang hanya karena pandai berbicara dan melawak, bisa dianggap sebagai ulama. Padahal tak jarang di antara mereka setelah memiliki pengikut banyak kemudian berubah haluan menjadi seorang politikus.

Lanjutkan membaca Ciri-ciri ‘Ulama

Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah

Aktivitas ulama dalam berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar, meneliti hadits, dsb, sering dituding sebagai bentuk ketidakpekaan dalam menyikapi kondisi kekinian umat. Repotnya, mereka yang menuding justru sibuk dengan parpol dan segala tetek bengeknya.

Lanjutkan membaca Melecehkan ‘Ulama, Kebiasaan Yahudi dan Ahlul Bid’ah