Ulama Kita Bukan Berhala

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Ada saja tuduhan dari orang-orang yang asal bunyi (asbun) dalam menentang dakwah tauhid ini. Caci-maki, hujatan, hingga fitnah sudah menjadi menu keseharian bagi “Ahlul Asbun”. Yang paling asbun adalah tuduhan bahwa sejumlah ulama dituding sebagai berhala kaum Wahabi. Na’udzubillah.

Memahami apa itu Wahabi saja masih belepotan, bisa-bisanya tudingan keji itu terlontar oleh mereka yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaah”. Sebagai “Ahlus Sunnah”, semestinya mereka mengagungkan sunnah. Tetapi, alih-alih mengagungkan sunnah, mereka acap berada di barisan terdepan dalam mengolok-olok sunnah dan gandrung dengan ritual-ritual bid’ah (dan syirik), termasuk ritual-ritual yang bersumber dari agama Hindu, na’udzubillah. Dalam menyikapi ulama, Ahlus Sunnah bukanlah orang yang membabi buta, bukan orang yang membebek alias taklid seperti orang-orang “asbun” tadi. Berfatwa nyeleneh— bahkan menjurus kufur—justru diikuti, dibela mati-matian, dianggap wali, dan kuburannya dikeramatkan.

Kalau begitu, siapa yang lebih pantas disebut memberhalakan? Ahlus Sunnah juga bukan orang yang gemar mengultuskan. Percaya diri menggelari tokoh tertentu dengan “asy-Syahid”, menganggap imam seorang tokoh hanya karena tokoh itu meletup-letup kebenciannya terhadap Amerika Serikat dan mengampanyekan terorisme, atau menyematkan gelar ahli fatwa terhadap tokoh yang hanya tahu soal “politik”. Kapasitas keilmuan, seperti ilmu hadits, akidah, tafsir, fikih, dll., menjadi tidak penting lagi. Yang dipegangi Ahlus Sunnah sejatinya adalah kebenaran, bukan individunya. Jadi ia bersikap dengan tarjih, memilih dalil mana yang paling sahih. Jadi sangat mungkin dalam amaliah tertentu—seperti gerakan shalat—, ia mengikuti pendapat ulama A, namun dalam gerakan shalat yang lain, ia memegangi pendapat ulama B.

Sikap ini juga yang dipegangi asy- Syaikh bin Baz, salah satu ulama masa kini yang dimiliki umat ini. Walaupun dalam memahami fikih beliau memakai thariqah (mazhab) Ahmad bin Hanbal rahimahullah (mazhab secara istilah, bukan mazhab syakhshi, yaitu mengambil semua pendapatnya), namun dalam menghadapi ikhtilaf ulama, beliau tetap memakai metodologi tarjih, dengan mengambil pendapat yang didukung oleh dalil yang paling sahih. Demikian pula ketika mengeluarkan fatwa, karena sebagaimana kata beliau, al-haq itulah yang pantas diikuti. Kebutaan total yang dialami beliau sejak usia dua puluh tahun, tak menyurutkan semangat beliau dalam menggali banyak ilmu. Alhasil, kealiman ulama yang bernama lengkap Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Muhammad bin Abdillah Ali Baz ini tidak diragukan lagi.

Penjelasan dan fatwa beliau sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat. Semangat ibadah, kesungguhan, kedermawanan, dan kasih sayang beliau menjadi teladan bagi kaum muslimin. Akidah dan manhaj dakwah beliau tecermin dari tulisan atau karya-karyanya. Aqidah Shahihah dan at-Tahdzir minal Bida’ adalah di antara karya beliau yang menunjukkan pembelaan beliau kepada sunnah dan kebenciannya terhadap kebid’ahan, serta komitmennya yang kuat dalam menegakkan tauhid dan membersihkan sekaligus memerangi kesyirikan dan pelakunya. Jabatan Rektor Universitas Islam Madinah, Ketua Hai’ah Kibaril ‘Ulama (Majelis Ulama Besar), Ketua al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) Kerajaan Saudi Arabia, dan pimpinan Majelis Tinggi Rabithah ‘Alam Islami yang pernah disandangnya, setidaknya menunjukkan kapasitas beliau, sekaligus kepercayaan dan keridhaan umat terhadapnya.

Maka dari itu, kala menyikapi ulama, yang terpenting, kita tidak terperangkap dalam jeruji taklid. Menutup seluruh dinding hati dari menerima kebenaran, hanya karena ulama tersebut berfatwa yang tidak sesuai dengan hawa nafsu kita. Hanya karena dia berasal dari Arab Saudi kemudian aroma kebencian kita tersulut, sedikit-sedikit langsung berkomentar, “Ini ajaran Wahabi,” tanpa melihat bahwa dalil yang beliau bawa demikian gamblang dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Jangan sampai fanatisme melilit mati hati kita, sehingga kita justru memberhalakan kesesatan.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Akibat Mencela Ulama

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al-Ahzab: 58)

Sebab Turunnya Ayat

Sebagian ulama tafsir, seperti al- Baghawi, al-Alusi, al-Baidhawi, dan yang lain, menyebutkan dalam kitab tafsirnya, beberapa pendapat terkait dengan sebab turunnya ayat ini. Ada yang menyatakan bahwa ayat ini turun sehubungan dengan tindakan kaum munafikin terhadap sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, seperti pada riwayat Muqatil. Pendapat lain menyatakan, ayat ini turun kepada Abdullah bin Ubay dan orang-orang yang bersamanya yang mereka melontarkan tuduhan palsu terhadap Aisyah x, seperti pada riwayat adh-Dhahhak. (al-Maktabah asy-Syamilah)

Makna Ayat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

 “Dan orang-orang yang menyakiti.”

Al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa makna al-adza adalah menyelisihi perintah Allah Subhanahu wata’ala dan berbuat maksiat kepada-Nya. Lalu beliau menukil ucapan Mujahid rahimahullah, menyakiti bermakna mereka yang mencela, memfitnah, dan menuduh kaum mukminin tanpa dosa dan kesalahan. Adapun ath-Thabari rahimahullah menyatakan, makna ucapan Mujahid rahimahullah dengan tafsir seperti ini adalah orangorang yang mencela kaum mukminin dan mukminat, serta menjelek-jelekkannya, dengan harapan kejelekan dan keburukan itu ada pada mereka (kaum mukminin).

Al-Alusi rahimahullah berkata bahwa maknanya adalah mereka yang melakukan tindakan yang menyakiti kaum mukminin, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Ibnu Katsir rahimahullah (3/496) menjelaskan, maknanya adalah mereka yang menisbatkan (menuduh) kaum mukminin suatu perkara, yang kaum mukminin sendiri berlepas diri darinya, yaitu perkara yang tidak mereka lakukan dan tidak mereka perbuat.

بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا

“Tanpa kesalahan yang mereka perbuat.”

Artinya, tanpa dosa dan kesalahan yang mengharuskan mereka (kaum mukminin) disakiti. Mujahid rahimahullah berkata, Dengan perkara yang tidak mereka lakukan.

فَقَدِ احْتَمَلُوا

“Maka sesungguhnya mereka telah memikul.”

Maksudnya, di atas punggungpunggung mereka.

بُهْتَانًا

“Kebohongan dan dosa yang nyata.”

Al-Alusi rahimahullah menerangkan, kata buhtan bermakna perbuatan jelek, keji. Ada pula yang memaknai dengan kebohongan, berupa kebohongan yang sangat jelek. Ath-Thabari rahimahullah menjelaskan, maknanya adalah kebohongan, kedustaan, fitnah, laporan yang jahat, dan keji (palsu). “Buhtan” adalah kebohongan yang paling buruk, keji, dan jelek. (asy- Syamilah) Disebutkan oleh asy-Syaukani rahimahullah dalam tafsirnya, Fathul Qadir (1/814), al-buhtan diambil dari kata al-buht. Artinya, kebohongan yang dituduhkan kepada orang yang bersih (dari tuduhan) dengan sesuatu yang diada-adakan. Dikatakan, bahata buhtan wa buhtaanan, jika seseorang mengatakan terhadap orang lain yang tidak ia ucapkan (yang tidak ada padanya). Kata buhita bisa dibaca dengan mengkasrah ha’ atau mendhammahnya, bahuta, bermakna tercengang, heran, diam dalam kebingungan. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ

Lalu heran terdiamlah orang kafir itu.(al-Baqarah: 258)

وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dosa yang nyata,” yaitu yang tampak dan jelas.

Tafsir Ayat

Ibnul Jauzi t dalam kitabnya Zadul Masir berkata, “Ulama tafsir sepakat bahwa makna ayat ini adalah menjelaskan adanya orang-orang yang menuduh kaum mukminin dan mukminat dengan perkara yang tidak ada pada mereka.” Ibnu Katsir rahimahullah (3/496—497) berkata, “Kebohongan terbesar adalah menceritakan dan menukil dari orangorang mukmin laki-laki ataupun perempuan, perkara yang tidak mereka perbuat, dengan tujuan mengaibkan, mencemarkan, dan mencela mereka. Kebanyakan orang yang masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya.

Kemudian kaum Rafidhah, yang mencela dan menjelek-jelekkan para sahabat dengan perkara yang Allah Subhanahu wata’ala telah menyucikan mereka darinya. Mereka (Rafidhah) juga menyifati para sahabat dengan hal-hal yang bertentangan dengan yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan tentang mereka. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan bahwa Ia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar serta memuji mereka. Adapun mereka adalah orang-orang yang bodoh dan dungu, yang selalu mencaci maki dan mencela para sahabat, selalu menyebutkan perkara yang tidak ada pada mereka dan yang sama sekali tidak mereka lakukan. Maka dari itu, mereka (kaum Rafidhah) pada hakikatnya adalah orangorang yang terbalik hatinya karena mencela orang-orang yang terpuji dan memuji orang-orang yang tercela.” Kemudian beliau memaparkan riwayat dengan sanadnya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Wahai Rasulullah, apa itu ghibah?” Beliau menjawab, “Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai.” Lalu beliau ditanya, “Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku sebut itu memang ada pada saudaraku?” Beliau menjawab, “Jika yang engkau sebut itu ada pada dirinya, engkau telah mengghibah dia. Namun, jika yang engkau sebut itu tidak ada padanya, engkau telah berbuat buhtan (berdusta) terhadap dia.” (HR. at-Tirmidzi)

Beliau juga memaparkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Hatim rahimahullah dari Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya,

“Apakah perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’ala?” Mereka menjawab, “Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Perkara riba yang paling jelek di sisi Allah Subhanahu wata’alaadalah orang yang menghalalkan kehormatan/harga diri seorang muslim.” Kemudian beliau membaca ayat,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(al- Ahzab: 58)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Oleh karena itu, mencela atau memaki salah seorang dari kaum mukminin mengharuskan dia diberi hukuman, sebatas keadaan dan kedudukan orang yang dicelanya. Jadi, hukuman bagi orang yang mencela sahabat lebih berat. Hukuman bagi orang yang mencela para ulama dan orang-orang yang beragama Islam dengan baik, lebih besar daripada yang selain mereka.” Ulama yang sesungguhnya adalah mereka yang disifati oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana tersebut dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Asy-Syaikh bin Baz pernah ditanya tentang tafsir ayat ini, (Majmu’ Fatawa, 24/268—270). Beliau menjawab, “Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ulama itu adalah orang yang tahu tentang Allah Subhanahu wata’ala, agama, kitab (al-Qur’an) yang agung, dan sunnah Rasul-Nya yang mulia. Mereka adalah manusia yang sempurna takutnya kepada Allah Subhanahu wata’ala, sempurna takwanya kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan sempurna ketaatannya kepada-Nya. Yang terdepan dari mereka adalah para rasul dan nabi.” Maka dari itu, yang dimaksud dengan “sesungguhnya yang takut kepada Allah” adalah rasa takut yang sempurna dari hamba-Nya, yaitu para ulama. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-Nya serta keagungan hak-Nya. Mereka memahami syariat-Nya, mengimani apa yang ada di sisi-Nya, yaitu kenikmatan bagi yang bertakwa kepada-Nya serta azab bagi yang durhaka dan menyelisihi perintah-Nya.

Karena kesempurnaan ilmu tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kesempurnaan pemahaman tentang kebenaran, mereka menjadi manusia yang paling takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia yang banyak rasa takutnya dan pengagungannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ayat ini tidaklah bermakna bahwa tidak ada yang takut kepada Allah Subhanahu wata’ala selain para ulama. Sebab, setiap muslim laki-laki dan perempuan serta setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun, rasa takut tersebut berbeda, tidak sama. Setiap orang mukmin yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih paham terhadap agama, tentu ia akan memiliki lebih banyak rasa takut dan lebih sempurna khasyahnya.

Demikian pula halnya dengan seorang wanita yang beriman, jika keadaannya seperti itu. Setiap orang yang berkurang ilmu dan bashirahnya, akan berkurang pula rasa takut dan khasyahnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Manusia tidak sama dalam hal ini. Bahkan, keadaan para ulama pun demikian. Setiap alim yang lebih mengenal Allah Subhanahu wata’ala, lebih menjalankan hak dan agama-Nya, lebih berilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takutnya kepada Allah l tentu lebih sempurna daripada alim yang lain. Semakin sedikit ilmunya, semakin sedikit pula rasa takutnya. Namun, setiap mukmin laki-laki dan perempuan memiliki rasa takut kepada Allah l, sebatas ilmu dan derajat mereka dalam hal iman. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ {} جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada- Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya. (al-Bayyinah: 7—8)

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.(al- Mulk: 12)

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua surga. (ar-Rahman: 46)

Jadi, mereka adalah orang-orang yang mendapatkan balasan sebatas rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala, meskipun mereka bukan para ulama, melainkan kalangan orang biasa. Akan tetapi, kesempurnaan rasa takut hanya ada pada ulama karena kesempurnaan pengetahuan dan ilmu mereka terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Dengan demikian, rasa takut mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala lebih agung.

Wallahu waliyyu at-taufiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Akhlak Orang Berilmu

Para ulama adalah orang-orang yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala karena ilmu mereka, yaitu ilmu tentang kitabullah dan sunnah Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan mereka di kehidupan dunia yang fana ini dan kelak di akhirat. Mereka adalah orang-orang yang paling beruntung karena menjadi pewaris para nabi. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa berhasil mengambilnya berarti dia telah berhasil mendapatkan keuntungan yang banyak.” (HR . Abu Dawud dan at- Tirmidzi dari Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu)

Sebagaimana telah diketahui, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mewariskan selain apa yang telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada umatnya selama hidupnya, yaitu kitabullah al-Qur’an al-Karim dan sunnah-Nya yang suci. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayatayat- Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)

Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“ Aku telah meninggalkan (mewariskan) dua hal bagi kalian. Apabila berpegang teguh dengan keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamalamanya sepeninggalku. (Dua hal itu) adalah kitabullah dan sunnahku.”

Di antara hal-hal termulia yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para ulama adalah akhlak dan kepribadian yang terpuji. Allah Subhanahu wata’ala memuji Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam karena sifat tersebut dalam firman-Nya,

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ {} مَا أَنتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ {} وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ {} وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 1—4)

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah adalah al-Qur’an, sebagaimana disebutkan oleh sebuah hadits sahih yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahih-nya. Al-Imam al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,

“Apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ini adalah sebuah kalimat yang agung. Beliau membimbing kita untuk berakhlak seperti akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu mengikuti al-Qur’an, istiqamah di atas (ajaran) al-Qur’an pada seluruh urusan yang diperintahkan dan yang dilarang. Di samping itu, menjauhi seluruh akhlak jelek yang dicela oleh al-Qur’an dan dicela pula pemiliknya. Ini adalah akhlak yang dipuji dan disanjung oleh al-Qur’an. Orang-orang berilmu, seperti para dai, pendidik, dan penuntut ilmu, seyogianya benar-benar memerhatikan kitabullah dan menerimanya dengan sepenuh hati. Dengan demikian, mereka akan berhasil mengambil akhlak-akhlak yang dicintai oleh Allah l dari al-Qur’an itu. Setelah itu, mereka beristiqamah di atasnya. Akhirnya, mereka menjadi orang-orang yang memiliki akhlak dan manhaj (metodologi) di atasnya (al- Qur’an) di mana pun berada.” (Akhlaqu Ahlil ‘Ilmi, hlm. 1)

Melalui rubrik “Akhlak” edisi kali ini, penulis ingin menukilkan sebagian persaksian seorang ulama besar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah, tentang akhlak al-Mujaddid al-‘Allamah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz. Pemaparan beliau ini disampaikan dalam ceramah pada malam Jumat, 6 Safar 1420 H, di masjid Universitas Islam di Madinah. Diharapkan penjelasan ini bisa menjadi pelajaran dan teladan yang baik bagi kita semua. Inti pembahasan yang beliau sampaikan pada kesempatan tersebut adalah sebagai berikut.

Kesabaran dan Kesungguh-Sungguhan dalam Menuntut Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Mushin al-‘Abbad berkata, “Beliau, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dilahirkan di kota Riyadh pada 12 Dzulhijjah1330 H. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang mulia. Di dalamnya ada orang-orang yang berilmu dan mulia. Sejak kecil beliau memiliki cita-cita yang tinggi, rajin, dan bersemangat mendapatkan ilmu. Bahkan, beliau telah hafal al-Qur’an sebelum baligh. Beliau dahulu memiliki penglihatan yang sempurna. Sakit yang beliau derita pada umur 16 tahun mengakibatkan penglihatan beliau melemah. Indra penglihatan beliau bertambah lemah sampai tidak mampu melihat sama sekali pada umur 20 tahun. Akan tetapi, Allah Subhanahu wata’ala mengaruniai beliau pandangan, cahaya, dan iman di dalam hatinya sehingga beliau tumbuh di atas ilmu, keutamaan, semangat, dan kesungguhsungguhan untuk mencari ilmu.

Mengamalkan Ilmu

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad melanjutkan, “Beliau adalah alim yang besar. Hal ini diketahui oleh orang-orang khusus dan orang-orang umum. Beliau adalah seorang yang alim lagi pendidik. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menulis di dalam kitabnya, Fathul Bari, dari Ibnu A’rabi rahimahullah bahwa dia berkata, ‘Seorang alim tidak disebut sebagai rabbani (pendidik) hingga dia mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya.’ Sungguh, asy-Syaikh Abdul Aziz adalah orang yang seperti itu. Beliau berilmu, beramal, dan mengajarkan ilmunya sekaligus mengajak kepada mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dengan bashirah (ilmu dan keyakinan).

Khasyah (Rasa Takut) dan Ibadah

Asy-Syaikh Abdul Muhsin berkata, “Asy-Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang senantiasa mengamalkan ilmunya karena buah ilmu adalah amal. Beliau sering berzikir, berdoa, dan senantiasa berusaha untuk menunaikan ibadah haji hingga 47 kali. Saya (asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad) mengetahui hal itu tatkala beliau berkunjung ke daerah al-Bahah pada Sya’ban 1400 H. Ketika itu beliau ditanya tentang hal tersebut. Di antara jawabannya, beliau menyebutkan bahwa umurnya saat itu 70 tahun dan telah menunaikan haji 28 kali. Salah seorang hadirin mengabarkan hal itu kepada saya.

Setelah itu beliau setiap tahun menunaikan ibadah haji hingga terhenti pada 1418 H. Jadi, beliau berhaji 28 kali ditambah 19 kali, jumlahnya 47 kali. Termasuk bukti perhatian beliau yang sangat besar terhadap ibadah dan menyibukkan diri dengannya adalah sebuah peristiwa pada 1397 H akhir bulan Dzul Qa’dah. Ketika itu, saya pergi dari Madinah ke Makkah karena sebuah urusan yang terkait dengan pekerjaan saya. Saat itu saya menjadi wakil beliau (beliau menjabat rektor, -red.) di Universitas Islam Madinah. Saya bermalam di rumah beliau. Di rumah beliau ada sebuah tempat yang luas. Di tempat itu beliau berjamjam mondar-mandir sambil membaca al-Qur’an. Beliau ingin menggerakkan badan (sambil membaca al-Qur’an).

Saya juga mengingat sebuah kejadian pada saat beliau masih memimpin Universitas Islam Madinah. Saya bersama beliau masuk ke Masjid Nabawi setelah azan zuhur. Saya berada di samping beliau. Beliau lantas shalat empat rakaat, sedangkan saya shalat dua rakaat. Sudah dimaklumi jumlah shalat rawatib ada 10 rakaat menurut sebuah riwayat, dan menurut riwayat lainnya 12 rakaat. Namun, yang lebih utama dan sempurna adalah 12 rakaat. Tatkala selesai shalat, beliau menoleh kepada saya sambil berkata, ‘Engkau tidak shalat selain dua rakaat saja.’ Saya menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya yang dua belas rakaat itu lebih utama dan lebih sempurna.’ Beliau senantiasa memilih yang lebih utama dan lebih sempurna. Beliau senantiasa memberi peringatan, bimbingan, dan arahan untuk meraih yang paling mulia dan paling sempurna.”

Ketegaran dan Keberanian Berdakwah

Beliau senantiasa berusaha memberi manfaat kepada umat baik dengan ilmu maupun nasihatnya, baik dengan amar ma’ruf maupun nahi munkar, dengan ajakan maupun dakwah ke jalan yang baik, serta membantu mereka dengan harta dan kedudukan beliau. Beliau berdakwah dengan hikmah dan nasihat yang baik, melalui ceramah, nasihat, dan tulisan. Ketika beliau mendapatkan kesalahan-kesalahan yang terdapat di koran atau majalah, beliau akan memperingatkannya. Peringatan beliau itu disebarkan melalui koran-koran ataupun risalah-risalah yang ditulis dan dicetak oleh beliau sendiri.

Ketawadhuan dan Kepedulian

Rumah beliau senantiasa didatangi oleh orang-orang fakir dan orang-orang yang punya berbagai keperluan. Ada yang datang meminta fatwa, ada pula yang meminta bantuan. Mereka semua makan siang atau makan malam bersama beliau. Beliau telah menyiapkan makanan setiap hari dengan jumlah yang cukup bagi tamunya. Musim haji tahun 1419 H. Beliau berhalangan menunaikan ibadah haji karena sakit yang menyebabkan beliau meninggal. Para dokter menyarankan beliau untuk tidak pergi haji. Karena itu, beliau menugaskan beberapa orang untuk membuka pintu rumahnya di Makkah dan tempat kemahnya di Mina. Beliau perintahkan pula untuk membuatkan jamuan guna diberikan kepada orang-orang yang biasa datang untuk mendapatkan faedah dari ilmu beliau dan makan bersama beliau. Beliau pun senantiasa menelepon orang-orang yang diberi tugas tersebut supaya tenang.

Beliau sangat bersemangat membantu orang-orang yang membutuhkan dan membangun masjid-masjid, baik di dalam maupun di luar negeri. Di atas meja khusus beliau di rumahnya, tertumpuk daftar orang-orang dan proposalproposal yang mengharapkan bantuan, baik orang-orang yang fakir maupun para dai, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Bukan hanya ini usaha beliau untuk memberi manfaat kepada umat dan semangat beliau membantu mereka. Beliau menulis surat kepada seorang syaikh besar pada tanggal 8-3-1418 H. Beliau tuliskan di dalam surat itu, “Saya senang memberi kabar kepadamu yang sudah sekian tahun saya berusaha banyak membantu orang-orang berhajat, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, membangun masjid-masjid baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi, menunjuk para dai di luar Kerajaan Saudi, yang itu semua dengan biaya Raja Saudi, para pembantunya, beberapa pejabat, orang-orang yang dermawan, dan pengusaha.” Beliau lalu berkata, “Kekekalan itu hanya milik Allah Subhanahu wata’ala…. Jika saya meninggal, saya berharap engkaulah yang akan menggantikan saya mengurusi tugas-tugas ini dan hendaknya engkau mengharap pahalanya di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Kasih Sayang terhadap Umat

Beliau sangat penyayang, dermawan, dan menghormati tamu. Tatkala datang kepada beliau tamu yang berasal dari berbagai daerah atau negara, beliau segera mengundangnya untuk makan siang atau makan malam. Beliau juga akan bertanya tentang kabarnya dan kabar ayah ibunya, bertanya tentang sebagian kerabatnya, serta tentang orang-orang yang dikenal sebagai ulama di negeri asal sang tamu. Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah mengisahkan kunjungannya kepada gurunya, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah, “Pada tahun terakhir sebelum beliau meninggal, saya pergi ke Makkah, dua hari sebelum pergi ke Thaif bertepatan dengan hari Kamis, 29 Dzulhijah. Saya dan beberapa anak saya pergi untuk mengunjungi beliau secara khusus. Tatkala kami sampai dan mengucapkan salam, sebagaimana biasanya beliau rahimahullah segera bertanya kepada kami tentang kabar kami dan kabar kedua orang tua kami, sekaligus mengundang makan siang. Saya katakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya kami datang dari Madinah dengan tujuan khusus untuk mengunjungi Anda dan makan siang bersama Anda. Setelah itu, kami kembali ke Madinah.” Beliau menjawab, ‘Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam hadits qudsi,

وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِيْنَ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ

‘Kecintaan-Ku wajib didapatkan oleh orang-orang yang saling mencintai dan mengunjungi karena Aku’.

Adab Terhadap Para Ulama

“Beliau rahimahullah sangat memerhatikan permasalahan fikih. Beliau sendiri adalah rujukan dalam hal fatwa, baik di dalam maupun di luar Kerajaan Saudi. Beliau adalah seorang mufti (ahli fatwa) dunia. Sebagaimana yang telah saya sebutkan, umat manusia atau kaum muslimin bahkan merujuk kepada beliau dalam berbagai masalah yang diperselisihkan. Beliau rahimahullah sangat teliti menyebutkan sebuah pendapat atau hukum dengan disertai dalilnya dan menjelaskan sisi pendalilannya, baik dalil-dalil wahyu maupun dalil secara logika. Ketika mengkritisi sebuah pendapat yang menurut keyakinan beliau menyelisihi kebenaran, beliau sangat beradab terhadap para ulama rahimahumullah. Beliau berkata, ‘Pendapat ini perlu diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian.’ Barang siapa menelaah catatan kaki beliau dalam kitab Fathul Bari jilid ketiga, niscaya dia akan mendapatkan hal itu dengan jelas dan terang.

Tatkala beliau mengkritisi al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah atau para ulama yang beliau nukil pendapatnya, beliau mengawali kritikannya dengan ucapan, ‘Pendapat ini butuh diteliti, dan yang benar adalah demikian dan demikian,’ sambil menyebutkan dalilnya. Adapun pendapat yang jelas-jelas salah atau batil yang menyelisihi alhaq dan dalil, beliau akan berkata, ‘Pendapat ini sangat jelas kebatilannya’, ‘Pendapat ini tidak benar’, atau ‘Ini adalah pendapat yang batil’, atau ungkapan yang semisalnya.” Demikianlah sedikit gambaran yang menakjubkan tentang akhlak dan kepribadian sebuah pribadi yang menjadi suri teladan. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik kepada kita semua untuk terus-menerus berusaha memperbaiki akhlak dan kepribadian kita sehingga termasuk golongan para hamba-Nya yang beruntung dengan mendapatkan bagian warisan dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam. Amin ya Rabbal-alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan