Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (2)

Gangguan Quraisy Terhadap ‘Umar

Bagaimana pun, beberapa riwayat— meskipun lemah—yang kami nukilkan dalam edisi yang lalu, saling menguatkan bahwa keislaman ‘Umar terjadi karena pengaruh ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya. Yang jelas, keislaman beliau z adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri juga kaum muslimin. Setelah masuk Islam, ‘Umar bertanya kepada beberapa orang temannya, “Siapa penduduk Makkah yang paling cepat menyebarkan berita?” “Jumail bin Ma’mar al-Jumahi,” kata mereka. ‘Umar segera mencarinya dan berkata, “Hai Jumail, apakah engkau sudah tahu bahwa aku masuk Islam?” Jumail tidak menjawab sepatah kata pun, tetapi segera mengambil mantelnya dan keluar diikuti oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Setibanya di Masjdil Haram, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Hai orang-orang bagian ke-2 Quraisy, ‘Umar sudah menjadi orang Shabi’!”1 “Dia dusta. Aku sudah masuk Islam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Subhanahu wata’ala dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Mendengar seruan ‘Umar, seluruh musyrikin Quraisy yang ada di sekitar Masjidil Haram segera menyerang ‘Umar. Dengan beringas mereka memukuli ‘Umar. Tetapi ‘Umar adalah ‘Umar, yang sudah bertekad ingin merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya kaum muslimin. Dia juga bertekad, tidak satu pun tempat yang dahulu diisinya dengan kekufuran, kecuali akan diisinya dengan keimanan.‘Umar tidak membiarkan dirinya dipukuli begitu saja, dia pun membalas pukulan mereka. Pukulan dan tendangannya mengenai beberapa orang musyrik. Tetapi, mereka seakan tiada habisnya. Satu roboh, sepuluh maju menyerang.

Sampai matahari di puncak kepala mereka, barulah mereka berhenti memukuli ‘Umar yang juga kelelahan. Melihat ‘Umar kelelahan, mereka pun mengepung ‘Umar, dan ‘Umar berkata, “Lakukanlah apa yang kalian mau!” Orang-orang musyrik itu masih mencoba mengerubuti ‘Umar. Tiba-tiba, datanglah seorang tokoh tua Quraisy dengan pakaian mentereng, berdiri di antara mereka, “Ada apa dengan kalian?” Kata mereka, “Umar ini telah menjadi Shabi’.” “Biarkan saja dia. Orang sudah memilih sesuatu untuk dirinya. Apa yang kalian inginkan? Apa kalian kira banim ‘Adi akan membiarkan anak kabilah mereka kalian perlakukan seperti ini? Tinggalkan dia!” Akhirnya, mereka meninggalkan ‘Umar yang kelelahan. Musyrikin Quraisy semakin beringas dan putus asa melihat keislaman ‘Umar.

Mereka melihat, dengan masuknya Hamzah dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ke dalam barisan muslimin, berarti kekuatan kaum muslimin semakin bertambah. Kaum muslimin mulai berani menampakkan syiar agama mereka secara terang-terangan. Mereka mulai berani duduk di Masjidil Haram, padahal tidak jauh di situ orang-orang musyrikin juga berkelompok-kelompok. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami selalu merasa lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam. Keislaman ‘Umar adalah pembebasan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.

Sesudah beliau masuk Islam, beliaulah yang menghadang mereka sampai mereka membiarkan kami shalat.” Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan. “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah n merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.” An-Nawawi rahimahullah menukilkan bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, maka Islam itu seperti orang yang datang, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah dia terbunuh, maka Islam itu seperti seseorang yang pergi, semakin lama semakin jauh.”

Hijrah Ke Madinah
Semakin hari tekanan kaum musyrikin terhadap pribadi Nabi n dan kaum muslimin semakin berat. Akhirnya, Rasulullah n memerintah kaum muslimin hijrah ke Madinah. Kaum muslimin yang masih ada di Makkah mulai bersiap-siap meninggalkan tanah kelahiran mereka. Satu demi satu, rombongan demi rombongan, mulai pergi meninggalkan Makkah dengan diamdiam. Berbeda halnya dengan ‘Umar. Ibnu ‘Asakir rahimahullah menukil dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Saya tidak mengetahui ada seseorang yang hijrah kecuali sembunyi-sembunyi, selain ‘Umar bin al-Khaththab. Ketika hendak hijrah, ‘Umar menghunus pedangnya, menyandang busur dan anak panahnya, lantas mengunjungi Ka’bah. Sementara itu, beberapa pemuka Quraisy sedang duduk di halaman Ka’bah. Kemudian ‘Umar tawaf tujuh kali dan shalat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu beliau mendatangi kumpulan musyrikin itu satu demi satu, dan dengan lantang ‘Umar berkata, ‘Wajah-wajah buruk. Siapa yang mau ibunya kehilangan anak, istrinya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim, hadanglah aku di balik lembah ini.’ Ternyata, tidak ada seorang pun yang berani mengejarnya.”

Itulah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, hijrahnya menjadi lambang kepahlawanan. Beliau berangkat hijrah setelah tersebar beritanya di tengah-tengah para pembesar Quraisy, di saat kaum muslimin hijrah dengan sembunyi-sembunyi, beliau justru mengeluarkan tantangan dan berangkat terang-terangan di bawah tatapan hampa para pembesar itu.5 Dalam riwayat lain diceritakan, ‘Umar berangkat hijrah bersama dua puluh orang lainnya. ‘Umar menceritakan, “Sebetulnya kami berjalan sembunyi-sembunyi dan berjanji untuk bertemu di Tanadhub dari Idha’ah bani Ghifar. Siapa yang tidak menepati kesepakatan, hendaknya menyusul pagi hari di Idha’ah. Ternyata, sebagian mendapat halangan (terkena cobaan), sementara saya dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah ketika itu meneruskan perjalanan sampai ke Madinah. Setibanya di al-‘Aqiq, kami berbelok ke ‘Ashabah sampai ke Quba lalu berhenti di rumah Rifa’ah bin ‘Abdul Mundzir.

Tidak lama, sampai pula dua saudara seibu ‘Ayyasy, yaitu Abu Jahl dan al- Harits bin Hisyam. Ibu mereka adalah putri Mukharribah dari bani Tamim. Adapun Nabi n masih berada di Makkah. Keduanya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Ibumu telah bernazar bahwa dia tidak akan berteduh dan tidak akan meminyaki kepalanya sampai dia melihatmu.’ Saya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Demi Allah, mereka berdua tidak punya keinginan lain selain mengeluarkan kamu dari agamamu. Hati-hatilah terhadap agamamu. Bawalah untaku, dia sangat cerdik, dan jangan turun dari punggungnya.’ Kata ‘Ayyasy, ‘Saya masih memiliki harta di Makkah, mungkin bisa saya ambil dan menjadi kekuatan bagi kita. Saya ingin meluluskan sumpah ibuku.’

Akhirnya, dia ikut bersama mereka berdua. Setibanya di Badhjanan, dia turun dari kendaraan. Kedua saudaranya itu menyusul dan mengikatnya dengan kuat, lalu membawanya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, mereka berseru, ‘Hai penduduk Makkah, seperti inilah yang harus kalian lakukan terhadap orang-orang yang bodoh di antara kalian.’ Lalu mereka memenjarakannya.” Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Tidak lama setelah ‘Umar tiba di Madinah, rombongan Rasulullah n juga tiba. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka di atas al-haq dan saling berbagi, bahkan saling mewarisi.

Namun, yang terakhir dihapus dengan turunnya ayat tentang faraidh (waris). Persaudaraan itu juga dimaksudkan agar hilang rasa asing dari para sahabat dan saling membela satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu dengan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dipersaudarakan dengan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Di Madinah, ‘Umar tinggal di perkampungan bani Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf, di dataran tinggi Madinah (4 mil dari Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau bertetangga dengan seorang sahabat Anshar dan bergantian menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah keadaan ‘Umar di Madinah, selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap kesempatan. Kecerdasan dan kesungguhannya meraih hidayah— setelah taufik Allah Subhanahu wata’ala—menjadikannya sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tibalah Perang Badr al-Kubra. Gembong-gembong kesyirikan bertekad untuk menumpas kaum muslimin dan memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala. Dengan kekuatan 900—1.000 orang, para pemimpin dan tokoh utama mereka keluar dengan angkuh. Perlengkapan dan perbekalan yang lengkap dengan jumlah yang banyak, membuat mereka merasa yakin akan berhasil membunuh Rasulullah n sekaligus memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala tidak menginginkan kecuali memenangkan agama-Nya. Para pemuja berhala itu dihancurkan oleh tentara Allah Subhanahu wata’ala, baik yang berasal dari langit maupun bumi. Dengan kekuatan hanya tiga ratus orang lebih, perlengkapan seadanya, karena semula Rasulullah n dan kaum muslimin tidak berniat untuk berperang, setelah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, mereka berhasil meluluhlantakkan kesombongan para pengusung kesyirikan itu. Tujuh puluh orang berikut para pemimpinnya, seperti Abu Jahl, Walid bin Utbah, dan Umayyah bin Khalaf, tewas dan dilemparkan ke dalam sumur Badr. Tujuh puluh orang lainnya, ditawan oleh kaum muslimin. Perang Badr usai. Kemenangan telak berada pada tentara Allah Subhanahu wata’ala, dan itulah kepastian yang tidak tertolak. Tentara Allah Subhanahu wata’ala pasti menang, meskipun suatu ketika mereka diuji dengan kekalahan. Yang jelas, akhir yang baik dan menyenangkan pasti diraih oleh orang-orang yang bertakwa.

Mulailah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mengurusi tawanan Perang Badr itu. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutuskan sendiri, apa yang harus diperbuat terhadap mereka. Itulah kebiasaan yang beliau ajarkan kepada umatnya. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memberi saran agar menerima tebusan dari keluarga tawanan untuk memperkuat kaum muslimin, juga dengan harapan suatu saat tawanan itu mendapat hidayah kepada Islam. Tidak demikian halnya dengan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Kebenciannya kepada kekafiran setelah dia mengenal dan mencintai Islam benar-benar tidak rela menyisakan segala bentuk kekafiran berdiri di hadapannya.

Dengan tegas ‘Umar berkata, “Mereka ini adalah gembong-gembong kesyirikan, wahai Rasulullah. Tebaslah leher mereka. Serahkan bani ‘Adi kepadaku agar kutebas lehernya, serahkan ‘Aqil kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka telah menyakiti Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Itulah ganjaran yang pantas buat mereka.” Dengan lembut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat sayang kepada umatnya, yang sangat ingin manusia menerima hidayah dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala, berkata, “Engkau wahai Abu Bakr, kalau di kalangan malaikat adalah seperti Mikail yang membawa rahmat dan hujan, menumbuhkan tanaman.

Kalau dari kalangan para nabi, engkau seperti Nabi Ibrahim dan ‘Isa e. Adapun engkau, hai ‘Umar, perumpamaanmu di kalangan malaikat adalah seperti Jibril yang membawa azab kepada para pembangkang dan pendurhaka, sedangkan dari kalangan nabi adalah seperti Nabi Nuh dan Musa ‘Alaihissalam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memilih pendapat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, menerima tebusan dan membiarkan sebagian tawanan itu kembali ke kampung mereka. Ada juga tawanan yang menebus dirinya dengan mengajari anak-anak kaum muslimin membaca dan menulis.

Bahkan, ada pula yang dibebaskan tanpa membayar tebusan. Tidak lama setelah itu, ‘Umar datang ke tempat Rasulullah n. Dia terkejut melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu duduk sambil menangis tersedusedu. Sambil terheran-heran, ‘Umar bertanya, “Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda ini menangis, wahai junjungan? Ceritakanlah, kalau saya bisa menangis, saya akan menangis bersama Anda berdua. Kalau tidak, saya akan menangis karena melihat Anda berdua menangis.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan,

أَبْكِي لِلَّذِي عَرَضَ عَلَيَّ أَصْحَابُكَ مِنْ أَخْذِهِمُالْفِدَاءَ، لَقَدْ عُرِضَ عَلَيَّ عَذَابُهُمْ أَدْنَى مِنهَذِهِ الشَّجَرَةِ-شَجَرَةٍ قَرِيبَةٍ مِنْ نَبِيِّ اللهِوَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ } إِلَى قَوْلِه: {فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ} فَأَحَلَّ اللهُ الْغَنِيمَةَ لَهُمْ.

“Aku menangis karena tawaran sahabat-sahabatmu agar menerima tebusan dari mereka (tawanan itu). Padahal sungguh, azab mereka telah ditampakkan kepadaku lebih dekat dari pohon ini.”—pohon yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ

‘Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.’ (al-Anfal: 67) sampai (ayat 69),

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ

‘Makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik,’ maka Allah menghalalkan ghanimah itu bagi mereka.”
Itulah salah satu kesesuaian beliau radhiyallahu ‘anhu dengan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Tahun berikutnya, genderang Perang Uhud mulai memanggil para mujahidin. Mereka yang tertinggal, tidak ikut dalam Perang Badr, berlombalomba mendaftarkan diri sebagai prajurit. Tidak ketinggalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang belum baligh juga mendaftarkan dirinya meskipun tidak diterima karena belum cukup umur. Ibnu ‘Umar dengan lesu kembali sambil tetap berharap suatu saat dapat tampil sebagai prajurit Islam. ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang lain dengan terpincangpincang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu, “Wahai junjungan, kata anakanak ini—kemenakannya—saya diberi keringanan untuk tidak ikut serta dalam jihad ini, benarkah demikian?” Dengan lembut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan. ‘Amr tidak mundur, dengan bersungguh-sungguh dia mendesak, “Ya Rasulullah, demi Allah, saya ingin memasuki surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ‘Amr berbalik dan segera menyiapkan perlengkapan perangnya. Tekad dan sumpahnya diluluskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ‘Amr gugur setelah bertempur hebat membela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setelah pertempuran usai, Abu Sufyan yang menjadi pemimpin Quraisy ketika itu berteriak sampai tiga kali, “Apakah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) masih hidup?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjawabnya. Abu Sufyan berteriak lagi sampai tiga kali, “Apakah putra Abu Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?” Abu Sufyan berteriak lagi tiga kali, “Apakah Ibnul Khaththab (‘Umar) masih hidup?” Kemudian dia kembali kepada teman-temannya dan berkata, “Agaknya tiga orang ini sudah terbunuh.” ‘Umar tidak dapat menahan kemarahan, lalu membalas, “Kamu dusta, hai musuh Allah. Sesungguhnya yang kamu sebut itu semua masih hidup dan masih tersisa apa yang menyakitkanmu.” Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman , tiba-tiba gunung itu bergetar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah, wahai Uhud, karena sesungguhnya di atasmu ini adalah nabi, shiddiq, dan dua orang syuhada.”
(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (1)

Pengantar Tiga belas tahun setelah hancurnya Tentara Bergajah, bani ‘Adi bin Ka’b, terkhusus keluarga al- Khaththab bin Nufail, kembali merayakan kegembiraan karena telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat. Bayi yang menjadi kebanggaan bagi setiap suku apabila wanita mereka melahirkan anak. Bayi yang akan menguatkan barisan mereka dan menaikkan pamor mereka. Bayi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bani ‘Adi saat itu, tetapi juga di masa yang akan datang. Bayi itu kelak akan menjadi saksi bagi para penguasa dan politikus di belahan dunia mana pun. Bayi itu adalah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi.

Nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’b bin Luai. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumi. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hajar. Kulitnya putih kemerah-merahan, dadanya bidang, tubuhnya tegap, dan tingginya melebihi yang lain, seolaholah kalau berjalan bersama sahabat sahabatnya, dia seperti sedang menaiki kendaraan. Rambutnya terjurai di kedua sisi kepalanya, dan bagian atasnya botak, kumisnya lebat, sedangkan janggutnya diberi warna kuning dan rambutnya dipoles inai. Di masa jahiliah, ‘Umar sering ikut meramaikan pasar ‘Ukkazh dengan kemampuannya bergulat, bahkan sering mengalahkan lawannya. Selalu terlihat berpakaian kasar, dan biasanya dari wol dengan hampir dua puluh tambalan dari kulit. Ini juga yang diikuti oleh semua pejabatnya, yang ada di tempat (Madinah dan sekitarnya) ataupun yang ada di negeri yang jauh. Bahkan, gaya hidup sederhana ‘Umar ditiru oleh mereka, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kemenangan untuk mereka.

 

Di Masa Jahiliah

Hampir separuh usianya beliau habiskan di Makkah, pada zaman jahiliah, tumbuh di lingkungan keluarga besar bani ‘Adi bin Ka’b. Seperti kebanyakan anak-anak Quraisy lainnya, ‘Umar tidak asing dengan pemujaan terhadap berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Bahkan, ia termasuk penganut agama paganis yang sangat fanatik. Begitu pula dengan kebiasaan minum khamr di sebagian kalangan masyarakat Quraisy. Masa kecilnya dihabiskan di tanah suci Makkah, di kaki gunung bernama al-‘Aqir, yang kemudian dinamai gunung ‘Umar. Meskipun langka, ‘Umar termasuk salah seorang yang sempat belajar membaca dan menulis. Bahkan, di masa dewasanya, termasuk orang yang andal dalam hal menilai sebuah tulisan, bermutu ataukah tidak. Ia tumbuh dengan sehat dan cerdas, serta kasar. Sikap kasar dan kaku ini, mungkin karena didikan ayahnya, al-Khaththab, yang memaksa ‘Umar menggembalakan unta-unta ayahnya di Dhajnan.

Selain itu, ‘Umar juga menggembalakan unta-unta milik kerabat ibunya dari bani Makhzum. Sejak kecil, ‘Umar tidak pernah mengenal hidup mewah. Bahkan, beliau sendiri pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya yang penuh kesulitan dan kekerasan. Setiap hari dia harus bekerja, tidak kenal istirahat dan santai. Keadaan tersebut mendorongnya untuk sanggup memikul beban di usia yang relatif muda. Beranjak dewasa, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, ‘Umar juga ikut merantau berniaga. Di musim dingin, dia ikut berangkat ke Yaman, dan di musim panas menuju Syam. Keuletannya membuat ‘Umar layak menempati salah satu posisi penting dalam elite masyarakat Makkah, meskipun usianya masih muda. Karena kekayaan, kecerdasan, dan kedudukan nenek moyangnya, ‘Umar diterima dalam majelis para pemuka Quraisy. Itu pula sebabnya tugas sebagai duta diberikan kepadanya dan mereka menyetujui semua tindakannya.

 

Sebab-Sebab Keislaman

Kita kembali mengenang keadaan ketika kaum muslimin bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di awal Islam. Kaum muslimin mendapat tekanan yang semakin berat dengan ikut sertanya ‘Umar mengganggu dan menyakiti mereka. Tanpa belas kasihan, ‘Umar menyiksa seorang budak wanita bani Muammil, dan baru berhenti menyiksa setelah dia bosan dan kecapaian. Akhirnya, budak itu dibeli dan dibebaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Semakin hari tekanan Quraisy semakin bertambah. Melihat keadaan kaum muslimin semakin menyedihkan, tidak lagi mampu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tenang, Rasulullah memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah (Etiopia). Tahun keenam setelah Nabi n diutus, ‘Umar menyerahkan tangannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan sumpah setia dan keislamannya. Kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu bertakbir dan memuji Allah Subhanahu wata’ala. Kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami dalam keadaan lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam.

Keislaman ‘Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.” Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab tumbuhnya Islam di dalam hati ‘Umar. Riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, menyebutkan: Pada suatu hari ‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari bani Zuhrah dan dia berkata, “Akan ke mana engkau, hai ‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab, “Mau membunuh Muhammad.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Bagaimana engkau bisa merasa aman dari bani Hasyim dan bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula, “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu mengelak sambil mengatakan, “Maukah aku tunjukkan hal yang lebih mencengangkan? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.” Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik menuju ke rumah saudari dan iparnya. Kebetulan Khabbab sedang berada di sana mengajari mereka al- Qur’an. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, Khabbab segera bersembunyi di dalam salah satu ruangan di rumah itu. ‘Umar pun masuk dan berkata, “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata, “Tidak ada, kami hanya berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar, “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab, “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?” Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya.

Tetapi ‘Umar segera meninjunya hingga darah mengucur dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah, “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Mungkin melihat darah di wajah adiknya, ‘Umar merasa menyesal dan kasihan. Dia pun berkata, “Coba berikan apa yang kalian baca tadi, aku mau melihat.” Saudarinya menjawab, “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha sampai pada ayat,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

‘Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata, “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’ (Abu Jahl).” Waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah al-Arqam bin Abil Arqam di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lainnya. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kebaikan buat dia, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalam, beliau pun diberi tahu lalu keluar.

Begitu ‘Umar masuk, beliau segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar, sampai Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin Mughirah?!” ‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada ilah selain Allah dan engkau (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dalam riwayat lain, Ibnu Ishaq menyebutkan sebagian sebab ‘Umar masuk Islam, dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari ibunya, Laila radhiyallahu ‘anha: ‘Umar adalah salah seorang pemuda Quraisy yang sangat keras memperlakukan kami karena keislaman kami. Ketika kami bersiap-siap hendak hijrah ke Habasyah, ‘Umar mendatangiku yang sudah berada di atas unta, hendak berangkat.

Dia pun berkata, “Hendak ke mana, hai Ummu ‘Abdillah?” “Kalian telah menyakiti kami karena agama kami, maka kami hendak pergi ke bumi Allah Subhanahu wata’ala yang lain. Di sana kami tidak akan disakiti karena beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.” “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyertai kalian,” katanya lalu dia pergi. Setelah itu, suamiku ‘Amir bin Rabi’ah tiba dari keperluannya. Saya pun menceritakan rasa iba yang kulihat pada ‘Umar tadi, padahal selama ini belum pernah seperti itu. Suamiku berkata, “Apakah engkau mengharapkan dia akan masuk Islam?” “Ya,” jawabku. “Demi Allah, dia tidak akan masuk Islam, kecuali bila keledai al-Khaththab masuk Islam.” Dia merasa putus asa mengharapkan keislaman ‘Umar karena bengisnya terhadap kaum muslimin. Riwayat lainnya, dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan, “Saya pernah keluar untuk menghadang Rasulullah n sebelum masuk Islam.

Ternyata saya dapati beliau telah lebih dahulu masuk ke Masjidil Haram. Diam-diam saya pun berdiri di belakangnya. Beliau mulai membaca surat al-Haqqah. Saya pun merasa takjub dengan susunan al-Qur’an. Dalam hati, saya berkata, ‘Demi Allah, orang ini adalah penyair, seperti kata orangorang Quraisy.’ Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (ayat 40—41),

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ () وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ

‘Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya.’ Kemudian saya berkata, ‘(Orang ini) dukun.’ Beliau pun membaca (ayat 42—47),

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ () تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ () وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ () لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ () ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ () فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

‘Dan bukan pula perkataan tukang tenung (dukun), sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,’ sampai akhir surat ini, hingga masuklah Islam ke dalam hati saya.”

Ada pula riwayat lain dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan: “Dahulu, saya sangat jauh dari Islam. Di zaman jahiliah, saya sangat menyukai minuman keras. Kami mempunyai majelis tempat berkumpul beberapa pemuka Quraisy, di Hazwarah (dekat tempat sa’i, dari arah terbitnya matahari, sekarang bernama Qasysyasyiyah, salah satu pasar Makkah dan telah digusur untuk perluasan Masjidil Haram, -pen.). Suatu malam, saya keluar untuk berkumpul dengan teman-teman di majelis itu. Ternyata, tidak seorang pun yang saya temui di sana. Saya berkata dalam hati, ‘Mungkin di warung tuak si Fulan.’ Saya pun ke sana untuk membeli khamr. Di sana juga tidak ada seorang pun yang saya temui. Saya coba ke Ka’bah lalu thawaf 7 kali atau 70 kali. Sesampainya di Masjidil Haram, ternyata ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat. Beliau menghadap ke arah Baitul Maqdis di Syam dan memosisikan Ka’bah di hadapan beliau.

Beliau berdiri di antara Hajar Aswad dan Yamani. Melihat beliau, saya berkata dalam hati, ‘Demi Allah, seandainya saya bisa mendengarkan apa yang dibacanya malam ini. Coba saya mendekat dari arah Hijr, lalu sembunyi di balik kelambu Ka’bah. Perlahan-lahan saya mulai mendekati beliau yang sedang membaca al-Qur’an. Begitu mendengar beberapa ayatnya, hati saya menjadi lembut, saya pun menangis. Islam mulai menyelinap dalam hati saya. Saya terus berdiri di sana sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan pulang menuju rumahnya. Diam-diam, saya mengikuti beliau. Tetapi, beliau mendengar suara saya, dan mengira bahwa saya ingin menyakiti beliau, maka beliau membentak saya, “Ada apa denganmu, hai putra al-Khaththab, malam-malam begini?” ‘Saya, datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa yang datang dari sisi Allah.’ Mendengar ucapan saya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah Subhanahu wata’ala dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu hidayah, hai ‘Umar.”

Kemudian beliau mengusap dada saya dan mendoakan keteguhan bagi saya. Setelah itu, saya meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun memasuki rumahnya. Bagaimanapun, beberapa riwayat ini saling menguatkan. Yang jelas, keislaman beliau radhiyallahu ‘anhu adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri dan juga kaum muslimin. (bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits