Ziarah Makam Wali

Ustadz, bagaimana hukumnya berziarah ke makam para wali?

085273xxxxxx

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Alhamdulillah, ziarah kubur memang ada yang bersifat syar’i, ada yang bersifat bid’ah, dan ada yang bersifat syirik. Namun pada umumnya, ziarah kubur banyak mengandung bid’ah, bahkan kesyirikan, terkhusus ziarah kubur tertentu yang diklaim sebagai wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka dari itu, seorang muslim wajib mengetahui syariat Islam dalam masalah ziarah kubur agar beramal dengan benar dan terjaga dari kebid’ahan serta kesyirikan.

Menilik sejarah Islam, di awal mula datangnya Islam, ziarah kubur dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai keislaman dan keimanan kaum mukiminin benar-benar kokoh lantas kemudian disyariatkan.

Buraidah bin al-Hushaib radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur, maka ziarahlah (sekarang).” (HR. Muslim)

Pada riwayat at-Nasa’i dengan lafadz,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur. (Sekarang) barang siapa ingin ziarah kubur, hendaknya melakukannya dan jangan mengucapkan ucapan yang batil.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz hlm. 227)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam kitab al-Majmu’ (5/285), “Mulanya kaum mukminin dilarang ziarah kubur karena masa keislaman mereka masih dekat dengan masa jahiliah, sehingga terkadang mereka mengucapkan ucapan jahiliah yang batil.

Ketika telah kokoh kaidah-kaidah Islam dan telah terbentang hukum-hukumnya serta telah masyhur lambang-lambangnya, saat itulah diizinkan dilakukan ziarah kubur. Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhati-hati dengan bersabda, ‘Dan jangan mengucapkan ucapan yang batil’.”

Keterangan an-Nawawi rahimahullah ini dinukil dan dibenarkan oleh al-Albani dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm. 227).

Al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan dalam asy-Syarh al-Mumti’ (5/379), “Pada awalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur, karena kaum muslimin baru saja lepas dari kekufuran dan kesyirikan, sehingga beliau khawatir ziarah kubur akan menjadi wasilah (sarana) terjadinya kesyirikan. Oleh karena itu, tatkala keimanan telah mengakar dalam kalbu-kalbu kaum muslimin, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan ziarah kubur.”

Menurut pendapat yang rajih (kuat), ziarah kubur disunnahkan bagi kaum lelaki dan wanita, tetapi bagi kaum wanita tidak boleh sering melakukannya.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syar’i

Ziarah kubur yang syar’i ialah ziarah kubur yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunnahnya yang suci nan mulia.

Sifat-sifatnya adalah:

  1. Tujuan ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dengan dua tujuan, yaitu:

  1. Untuk memberi manfaat dan kebaikan kepada jenazah muslim yang diziarahi dengan mengucapkan salam, mendoakannya, dan beristighfar (memohon ampunan Allah subhanahu wa ta’ala) untuknya. Telah datang hadits-hadits sahih yang mengajarkan hal ini. Di antaranya hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوا إِلَى الْمَقَابِرِ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari mereka apabila keluar ziarah ke perkuburan (agar membaca), ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian wahai para penghuni kuburan dari kalangan kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah, aku memohon keselamatan buat kami dan kalian’.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

كَانَ رَسُولُ اللهِ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللهِ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ، فَيَقُولُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ، غَدًا مُؤَجَّلُونَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali di malam giliran ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, biasa keluar di akhir malam ke perkuburan Baqi’, kemudian membaca, ‘Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai para penghuni kuburan kaum mukminin. Telah datang kepada kalian apa yang dijanjikan buat kalian. Kalian ditunda sampai esok di akhirat (pemberian pahala kalian secara sempurna). Sesungguhnya kami akan menyusul kalian, insya Allah. Ya Allah, ampunilah para penghuni perkuburan Baqi’ al-Gharqad’.” (HR. Muslim)

  1. Untuk mengingat kematian dan orang-orang yang telah mati bahwasanya mereka akan masuk jannah (surga) atau masuk neraka, agar menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya menyambut kematian dengan amal-amal saleh. Dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

زَارَ النَّبِيُّ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kuburan ibunya lantas beliau menangis dan membuat menangis orang-orang di sekelilingnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku minta izin kepada Rabbku untuk memohonkan ampunan buat ibuku, tetapi tidak diizinkan. Aku meminta izin pula untuk menziarahi kuburannya, dan aku diizinkan. Oleh karena itu, ziarahlah kalian ke kuburan, sebab kuburan-kuburan itu akan mengingatkan kematian.” (HR. Muslim)

 

  1. Klasifikasi ziarah kubur yang syar’i.

Ziarah kubur yang syar’i ada dua macam:

  • Ziarah perkuburan kaum mukminin secara umum

Hal ini seperti yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu dan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha di atas, pada sifat yang pertama.

Caranya adalah mendatangi perkuburan lantas berdiri di depan perkuburan, kemudian mengucapkan salam kepada mereka dan berdoa untuk kebaikan mereka sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Ziarah khusus ke kuburan tertentu,

seperti yang ditunjukkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, pada sifat yang pertama.

Hanya saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak diizinkan berdoa dan beristighfar untuk ibunya karena ia meninggal dalam keadaan kafir. Caranya adalah mendatangi kuburan yang dituju lantas berdiri atau duduk di sisi kuburan bagian kepalanya dengan menghadap ke kuburan, kemudian mengucapkan salam dan berdoa untuknya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ

“Ya Allah, ampuni dan rahmati dia, beri dia keselamatan dan maafkan dia.”

Peziarah mendoakan untuk yang dikubur doa apa saja yang diinginkan, kemudian meninggalkan kuburan itu.[1]

baqi 

  1. Waktu ziarah kubur.

Ziarah kubur disyariatkan dilakukan setiap saat tanpa ada pembatasan waktu tertentu. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya secara mutlak tanpa pembatasan waktu tertentu.

Dengan demikian, tidak boleh mengkhususkan waktu tertentu untuk melakukan ziarah kubur. Penentuan waktu khusus dalam melakukan ziarah kubur tergolong bid’ah yang tercela.

Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan dalam kitab Majmu’ Fatawa war Rasa’il (17/288), “Ziarah kubur tidak terbatas hanya di waktu-waktu tertentu, tetapi disunnahkan dilakukan kapan saja dari hari-hari yang ada dalam sepekan, siang atau malam.”

Al-Imam Ibnu Baz rahimahullah mengatakan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (13/336), “Yang disyariatkan adalah ziarah kubur kapan saja ada kesempatan, baik siang hari atau malam hari. Adapun pengkhususan waktu tertentu untuk ziarah kubur, hal itu tergolong bid’ah yang tidak ada dasarnya.”

Di antara kebid’ahan yang terjadi dalam hal ini adalah pengkhususan ziarah kubur di hari Jum’at, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz. Begitu pula, pengkhususan ziarah kubur di Hari Raya (hari ‘Id), sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Baz dan Ibnu ‘Utsaimin.[2]

Al-‘Utsaimin juga berkata dalam kitab Syarhu Riyadh ash-Shalihin, Bab “Istihbab Ziyarah al-Qubur”, “Intinya, semestinya seseorang melakukan ziarah kubur setiap saat, di malam dan siang hari, di pagi dan sore hari, di hari Jum’at dan hari lainnya, tidak ada waktu khusus.

Setiap kali kalbumu lalai dan jiwamu larut dengan kehidupan dunia, ziarahlah ke kuburan dan renungkanlah nasib mereka yang telah mati itu. Kemarin mereka seperti kalian, masih makan, minum, dan bersenang-senang di muka bumi. Sekarang, ke mana mereka pergi? Mereka tergadaikan dengan amalan-amalan mereka.

Tidak ada yang bermanfaat buat mereka selain amalan-amalan yang telah mereka persembahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga yang mengiringi mayat (ke kuburan), dua di antaranya akan kembali dan hanya satu yang akan tinggal bersamanya. Yang mengiringinya adalah keluarga, harta, dan amalannya. Keluarga dan hartanya akan kembali, hanya amalannya yang akan tinggal bersamanya.”[3]

Maka dari itu, renungkan nasib orang-orang mati itu, kemudian ucapkan salam atas mereka, kemudian doakan mereka sebagaimana yang telah diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kamu tidak mengetahui doa yang diajarkan tersebut, berdoa saja dengan apa yang mudah bagimu.”

 

  1. Jenis kuburan yang diziarahi.

Syariat ziarah kubur bersifat umum meliputi seluruh kuburan kaum muslimin. Tidak ada pengkhususan terhadap kuburan tertentu yang diistilahkan sebagai kuburan wali.

Al-Imam Ibnu Baz menerangkan dalam kitab Majmu’ al-Fatawa (7/422), “Wajib bagi kaum muslimin mengikat diri dengan syariat yang suci dan waspada dari bid’ah dalam hal ziarah kubur dan selainnya. Ziarah kubur disyariatkan terhadap seluruh kuburan kaum muslimin, baik yang dinamakan sebagai wali maupun tidak. Sebenarnya, setiap orang beriman, pria atau wanita, adalah wali Allah subhanahu wa ta’ala.”

Bahkan, boleh ziarah kuburan orang kafir dengan tujuan untuk mengambil pelajaran (‘ibrah), yaitu mengingat kematian. Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ziarah kuburan ibunya yang kafir. Namun, tidak boleh mengucapkan salam dan mendoakannya.[4]

 

  1. Lokasi kuburan yang diziarahi.

Ziarah kubur disyariatkan terhadap kuburan yang berlokasi di daerah setempat tanpa memerlukan safar. Tidak boleh dilakukan safar secara khusus untuk ziarah kubur. Sebab, safar untuk ziarah kubur adalah bid’ah tercela yang tidak pernah diamalkan oleh kaum salaf.

Terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini, yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى

“Tidaklah diikat (dipasang) pelana-pelana unta itu untuk safar (kunjungan ibadah) selain menuju tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Makna hadits ini adalah tidak diperbolehkan melakukan safar menuju masjid mana pun atau tempat mana pun yang diyakini memiliki keistimewaan (keutamaan) dengan tujuan melakukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala padanya, selain tiga masjid ini.[5]

Makna hadits ini umum meliputi tempat permakaman (kuburan) siapa pun, termasuk makam Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun.

Hanya saja, saat seseorang berkunjung ke Madinah dengan niat mengunjungi Masjid Nabawi karena keutamaannya, lantas dia manfaatkan pula untuk ziarah kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dua sahabat terdekatnya (kuburan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu dan ‘Umar radhiallahu ‘anhu), perkuburan Baqi’, perkuburan syuhada’ Uhud, dan Masjid Quba.

Artinya, tujuan inti yang diniatkan adalah ziarah (mengunjungi) Masjid Nabawi, sedangkan ziarah ke Masjid Quba dan kuburan-kuburan tersebut mengikut secara hukum lantaran sedang berada di tempat itu.

Ini pendapat terkuat dalam masalah ini yang telah dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, al-Albani, dan Muqbil al-Wadi’i.[6]

Dengan demikian, jika kuburan kerabat terdekat kita, seperti ayah dan ibu, berada di tempat lain yang membutuhkan safar, tidak boleh safar untuk menziarahinya. Cukup dengan mendoakannya dari jauh, dan sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahadekat lagi Maha Mengabulkan doa. Demikian fatwa Ibnu ‘Utsaimin.[7]

jalan-tanah 

Ziarah Kubur yang Bersifat Bid’ah & Menjadi Wasilah/Sarana Kesyirikan

Ini adalah ziarah kubur dengan tujuan untuk beribadah di sisi kuburan, seperti membaca al-Qur’an, berdoa kepada Allah, shalat, menyembelih di sisi kuburan, atau semisalnya. Tidaklah hal itu dilakukan kecuali karena adanya keyakinan bahwa beribadah di tempat itu punya keutamaan.

Ini adalah wasilah/sarana yang akan menyeret kepada penyembahan terhadap penghuni kuburan itu, yang merupakan syirik besar.

 

Ziarah Kubur yang Bersifat Syirik Besar yang Membatalkan Keislaman

Yaitu ziarah kubur dengan tujuan untuk menyembahnya, seperti mengusap kuburan untuk mencari barakah dari penghuninya, dengan berdoa meminta sesuatu kepada penghuni kubur, memohon kelapangan rezeki, memohon pertolongan agar diselamatkan dari marabahaya yang mengancam, memohon kemenangan atas musuh, menyembelih untuk penghuni kubur, bernazar untuk penghuni kubur, mendekatkan diri kepada penghuni kubur, atau semisalnya.

Ini semisal dengan amalan kaum musyrik di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Lata, ‘Uzza, dan Manat, serta berhala-berhala lainnya yang dipertuhankan selain Allah subhanahu wa ta’ala dan disembah untuk mendekatkan diri kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala.[8]

Ibnu Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/291—292), “Haram atas seseorang mencari barakah dari orang mati atau kuburannya, berdoa kepadanya selain Allah subhanahu wa ta’ala, memohon kepadanya agar dipenuhi kebutuhannya, minta kepadanya kesembuhan bagi yang sakit, atau semacamnya.

Sebab, ibadah adalah murni hak Allah subhanahu wa ta’ala saja, sedangkan meminta barakah termasuk salah satu ibadah. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberi barakah, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang telah menurunkan atas hamba-Nya agar menjadi pemberi peringatan bagi alam semesta.” (al-Furqan: 1)

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١

“Mahaagung lagi Mahabarakah Dia yang di Tangannya seluruh kekuasaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Mulk: 1)

Maknanya, Allah subhanahu wa ta’ala mencapai puncak keagungan dan keberkahan. Adapun hamba Allah subhanahu wa ta’ala, dia berbarakah jika Allah subhanahu wa ta’ala menunjukinya, memberinya kesalehan, dan menjadikannya bermanfaat kepada hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala lainnya. Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang hamba dan rasul-Nya, Nabi ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam,

قَالَ إِنِّي عَبۡدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِيَ ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلَنِي نَبِيّٗا ٣٠ وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ وَأَوۡصَٰنِي بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمۡتُ حَيّٗا ٣١

“Nabi ‘Isa berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah hamba Allah yang diberi kitab oleh-Nya dan Dia menjadikanku sebagai nabi. Dia menjadikanku berbarakah di mana saja aku berada’.” (Maryam: 30—31)

Demikian Ibnu Baz menerangkan masalah ini. Hal ini semakin jelas dengan hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiallahu ‘anhu,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللهِ إِلَى حُنَيْنٍ وَنَحْنُ حَدِيْثُوْ عَهْدٍ بِكُفْرٍ وَكَانُوْا أَسْلَمُوْا يَوْمَ الْفَتْحِ، فَمَرَرْنَا بِشَجَرَةٍ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ وَكَانَ لِلْكُفَّارِ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ حَوْلَهَا وَيُعَلِّقُوْنِ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يَدْعُوْنَهَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ. فَلَمَّا قُلْنَا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ) وَفِيْ رِوَايَةِ التِّرْمِذِيِّ: سُبْحَانَ اللهِ (وَقُلْتُمْ وَالذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى} : ٱجۡعَل لَّنَآ إِلَٰهٗا كَمَا لَهُمۡ ءَالِهَةٞۚ قَالَ إِنَّكُمۡ قَوۡمٞ تَجۡهَلُونَ {  لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ.

Kami keluar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Hunain sedangkan kami baru saja masuk Islam—mereka masuk Islam pada Fathu Makkah. Kemudian kami melewati sebuah pohon, lantas berkata, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath!”

Adalah orang kafir memiliki pohon bidara yang mereka berdiam di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senajata mereka padanya. Mereka menyebutnya Dzatu Anwath.

Tatkala kami mengatakan demikian kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Allah Mahabesar (pada riwayat at-Tirmidzi: Mahasuci Allah), kalian telah mengatakan—Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya—sebagaimana kata Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Buatkan untuk kami Tuhan sebagaimana mereka punya tuhan-tuhan. Musa menjawab, ‘Sesungguhnya kalian kaum yang jahil.’ (al-A’raf: 138)

Sungguh, kalian akan menempuh jalan umat-umat sebelum kalian.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah—dan lafadz ini adalah riwayatnya—dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Zhilal al-Jannah no. 76)

Al-‘Allamah Shalih al-Fauzan mengatakan dalam kitab I’anah al-Mustafid Syarh Kitab at-Tauhid (1/216), “Dengan demikian, barang siapa mencari barakah dari sebuah batu, pohon, atau kuburan, berarti dia telah menjadikannya sebagai tuhan yang disembah Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun pelakunya beranggapan itu bukan tuhan.

Istilah yang dibuat tidak bisa mengubah hakikat sebenarnya. Jika suatu perbuatan syirik diberi istilah tawasul, cinta orang saleh, menunaikan hak orang saleh, kami katakan bahwa istilah-istilah itu tidak bisa mengubah hakikat yang sebenarnya.”

Wallahul muwaffiq ila sawa’is sabil. Wallahu a’lam.


[1]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/288—289) dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/339).

[2]  Lihat kitab Majmu’Fatawa Ibni Baz (13/336, 337) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/287).

[3]  Muttafaq ‘alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.

[4]  Lihat kitab Syarhu Muslim li an-Nawawi (7/Kitab al-Jana’iz, bab “Isti’dzan an-Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam”), Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 454), Ahkam al-Jana’iz (hlm. 2237—239), dan Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/298 & 337).

[5] Lihat pada kitab FathulBari (Kitab al-Jum’ah pada bab “Fadhl ash-Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah”) dan Fath Dzil Jalali wal Ikram (pada syarah hadits ini).

[6] Lihat kitab Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim (hlm. 455—457) dengan ta’liq al-‘Utsaimin, Ahkam al-Jana’iz (hlm. 285—293), Manasik al-Hajj wal ‘Umrah li al-Albani (hlm. 56), Majmu’ Fatawa Ibni Baz (13/327), Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/293—294), al-Manhaj li Murid al-‘Umrah wal Hajj li Ibni ‘Utsaimin (hlm. 31—34), dan Ijabatus Sa’il (hlm. 145).

[7]  Lihat kitab Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/290).

[8]  Lihat keterangan tentang ziarah bid’ah dan ziarah syirik tersebut dalam kitab Majmu’ Fatawa Ibnu Baz (13/287—288, 301) dan Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibni ‘Utsaimin (17/291).

Ternyata Syiah Juga Penyembah Kubur

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

makam-keramat-cinunuk-garut

Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan hamba-Nya untuk bertauhid dan melarang mereka berbuat syirik. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan hendaknya kalian beribadah kepada Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah maka janganlah berdoa kepada Allah diserta berdoa kepada selain-Nya.” (al-Jin: 18)

Sangat banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang memerintahkan untuk beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla dan menjauhi perbuatan syirik. Namun, masih banyak hamba Allah ‘azza wa jalla yang terus melakukan berbagai kesyirikan, kekufuran, dan kebid’ahan. Di antara mereka yang banyak melakukan kesyirikan dan kebid’ahan adalah orang-orang Syiah Rafidhah.

 

Siapakah Rafidhah?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Rafidhah adalah orang-orang yang ghuluw (berlebihan dalam mengagungkan) terhadap ahlul bait, mengafirkan para sahabat yang lainnya, dan menyatakan bahwa para sahabat adalah orang fasik (bahkan kafir, -ed.). Mereka terdiri dari banyak kelompok. Di antara mereka ada golongan ekstrem yang menyatakan Ali adalah ilah, ada pula yang kesesatannya di bawah itu.

Awal mula kemunculan mereka adalah di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ketika Abdullah bin Saba berkata kepada Ali radhiallahu ‘anhu, “Engkau adalah ilah.” Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pun memerintahkan mereka dibakar, sementara tokoh mereka Abdullah bin Saba melarikan diri ke Madain.

Mazhab mereka dalam masalah sifat Allah ‘azza wa jalla berbeda-beda: di antara mereka ada musyabbihah, ada yang mu’athilah, dan di antara mereka ada yang tidak demikian.

Mereka dinamakan Rafidhah karena menolak (meninggalkan) Zaid bin Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib. Hal ini terjadi ketika mereka minta beliau berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma, namun beliau justru mendoakan rahmat bagi keduanya. Maka dari itu, mereka pun menolak dan menjauhkan diri dari beliau.

Mereka menamakan diri mereka dengan Syiah karena mengklaim sebagai orang yang membela dan menolong ahlul bait dan menuntut hak mereka menjadi imam. (Syarah Lum’atul Itiqad, Ibnu Utsaimin)

 

Rafidhah Adalah Syiah

Sebuah pertanyaan pernah disampaikan kepada asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri rahimahullah, “Apakah benar menamakan Syiah dengan Rafidhah, jika benar mengapa mereka dinamakan demikian?”

Rafidhah asalnya adalah Syiah. Tasyayu’ asalnya adalah menolong. Namun, keadaan mereka sebagaimana kelompok-kelompok sesat lainnya, mengklaim menolong Ali dan ahlul bait, mengaku sebagai kelompok Ali dan pembela Ali radhiallahu ‘anhu—padahal itu hanyalah pengakuan belaka, -pen.

Sebagaimana telah maklum mereka terpecah karena mereka menuntut Zaid bin Ali untuk berbara’ dari Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma. Maka beliau berkata, “Ma’adzallah, keduanya adalah orang dekat kakekku.” Mereka pun menjauhkan Zaid bin Ali hingga mereka disebut Rafidhah, dan terbagilah Syiah menjadi Zaidiyah dan Rafidhah.

Para ulama yang menulis tentang firqah-firqah seperti al-Asy’ari, as-Syihristani, dan al-Baghdadi menyebutkan kelompok-kelompok Syiah, bahwa mereka terbagi sekian kelompok, namun mereka lebih senang dinamakan Syiah padahal kenyataannya mereka adalah Rafidhah, Kisaniyah, Qaramithah, Ismailiyah, Nashiriyah, atau (sekte Syiah) lainnya (Fatwa asy-Syaikh Hamud at- Tuwaijiri).

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Asal ucapan sesat Rafidhah adalah (pernyataan mereka) bahwa nabi telah menetapkan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sebagai khalifah dengan nash yang memutuskan adanya uzur dan menegaskan bahwasanya Ali radhiallahu ‘anhu adalah imam yang maksum. Karena itu, barang siapa menyelisihinya berarti telah kafir. Mereka berpandangan bahwa Muhajirin dan Anshar telah menyembunyikan nash tersebut dan mengingkari imam maksum dengan mengikuti hawa nafsu mereka. Menurut mereka, Muhajirin dan Anshar telah mengubah agama dan syariat, berbuat zalim dan melampaui batas, bahkan telah kafir kecuali segelintir orang yang berjumlah sedikit….” (Majmu’ Fatawa, 3/356)

 

Syiah, Kelompok yang Paling Mirip dengan Yahudi

Sebelum kita menyebutkan bentuk kesyirikan Syiah Rafidhah, kita akan mengingat kembali kemiripan Rafidhah dengan Yahudi. Jika kita membaca dalam al-Qur’an dan hadits tentang celaan Allah ‘azza wa jalla kepada Yahudi dan Nasrani, kemudian kita melihat keadaan Rafidhah, niscaya akan didapati bahwasanya perbuatan Yahudi telah banyak ditiru oleh Syiah Rafidhah.

Imam ‘Amir bin Syarahil asy-Sya’bi pernah berkata kepada Malik bin Muawiyah, “Wahai Malik, aku peringatkan engkau dari kebid’ahan-kebid’ahan yang menyesatkan. Yang paling jeleknya adalah Rafidhah, karena Rafidhah adalah Yahudinya umat ini. Mereka membenci Islam sebagaimana Yahudi membenci Nasrani….”

Di antara contoh persamaan mereka:

  1. Yahudi paling benci kaum muslimin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sungguh kamu akan dapati orang yang paling keras kebenciannya kepada orang beriman adalah orang-orang Yahudi….” (al-Maidah: 82)

Demikian juga Syiah Rafidhah, demikian membenci kaum muslimin khususnya Ahlus Sunnah wal Jamaah.

  1. Yahudi membenci dan memusuhi Malaikat Jibril.

Demikian juga Syiah, mereka membenci dan memusuhi Malaikat Jibril karena menurut mereka telah salah dalam menyampaikan wahyu.

  1. Ahlul kitab membenci, bahkan membunuh nabi-nabi mereka. Demikian juga Syiah sangat membenci Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab meninggalkan kitab-kitab mereka. Demikian juga Syiah, meninggalkan al-Qur’anul Karim.
  3. Di antara perbuatan syirik Yahudi adalah:
  4. Menyembah rahib dan ahbar Yahudi mengultuskan orang-orang saleh mereka hingga menjadikannya sesembahan selain Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Mereka menjadikan rahib dan ahbar mereka sebagai Rabb selain Allah.” (at- Taubah: 31)

  1. Menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah ‘azza wa jalla melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari)

Demikian juga Syiah, mereka adalah orang-orang yang sangat mengultuskan imam-imam mereka dan mengagungkan kubur mereka.

 

Bukti Syiah Mengultuskan Tokoh-Tokoh Mereka

Di antara bukti bahwa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka adalah:

  1. 1. Seorang Rafidhi, yakni al-Kulaini penulis kitab al-Kafi, kitab yang merupakan kitab terbesar di sisi mereka seperti kedudukan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah.

Dia telah membuat beberapa bab dalam kitabnya yang berjudul Ushulul Kafi kemudian menyebutkan beberapa hadits yang semuanya menunjukkan ghuluw mereka dalam hal mengultuskan tokoh-tokoh mereka.

Kita cukupkan dengan menyebutkan beberapa bab yang menunjukkan rendahnya Rafidhah karena ghuluw yang telah menyebabkan binasanya orang-orang terdahulu. Di antara bab yang dia sebutkan:

  • BAB PARA IMAM ADALAH WULATU AMRILLAH DAN PENJAGA ILMUNYA
  • BAB PARA IMAM MENGETAHUI ILMU YANG DIKELUARKAN KEPADA PARA MALAIKAT, NABI, DAN RASUL
  • BAB PARA IMAM TAHU KAPAN AKAN MATI DAN MEREKA TIDAK MATI KECUALI DENGAN PILIHAN MEREKA
  • BAB PARA IMAM TAHU APA YANG TELAH TERJADI DAN YANG AKAN TERJADI

Dan beberapa bab lainnya yang menunjukkan betapa Syiah mengultuskan tokoh-tokoh mereka hingga terjatuh dalam syirik dalam hal rububiyah dengan meyakini bahwa tokoh mereka tahu perkara gaib, kapan akan meninggal, dan kekufuran lainnya.

 

Ternyata, Syiah Penyembah Kubur

Bentuk praktik amalan syirik sangatlah beragam. Kalau kita mau menelaah keadaan orang-orang Rafidhah maka akan kita dapati mereka banyak melakukan bentuk kesyirikan di atas dan perbuatan kesyirikan lainnya. Di antara bukti akan hal tersebut adalah:

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan sebab Rafidhahlah dibangunnya kubah-kubah di atas kubur dan disembahnya orang-orang yang telah mati.” (Lihat Syarah Wasithiyah, Alu Syaikh)

Yang dimaksud oleh beliau adalah Rafidhah yang telah mendirikan Daulah Fatimiyah di Maroko yang banyak melakukan kesyirikan dan kekufuran.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa tokoh Rafidhah yang bernama Ibnu Nu’man membuat satu kitab dia beri judul Manasikul Masyahid (Amalan- Amalan ketika Menziarahi Bangunan-Bangunan Kubur), di dalam kitab tersebut dia membolehkan menjadikan kuburan sebagai tempat haji sebagaimana Makkah. (Minhajus Sunnah)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesyirikan dan seluruh kebid’ahan dibangun di atas kedustaan dan mengada-ada. Oleh karena itu, orang yang paling jauh dari tauhid dan sunnah adalah orang yang paling dekat kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan mengada-ada, seperti halnya Rafidhah yang merupakan kelompok ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling besar kesyirikannya.”

Tidak ada ahlul bid’ah yang paling pendusta dan paling jauh dari tauhid dibandingkan Rafidhah. Oleh karena itu, mereka merobohkan masjid-masjid Allah ‘azza wa jalla yang disebut di situ nama Allah ‘azza wa jalla, mengosongkannya dari shalat jamaah dan Jumat, serta memakmurkan tempat-tempat berbuat syirik yang ada di atas kubur, padahal Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya melarang berbuat demikian.” (Iqtidha Shiratal Mustaqim)

 

Ada Apa dengan Karbala?

Rafidhah sangat mengagungkan Karbala, mereka menganggapnya sebagai salah satu tanah suci, bahkan sebagian mereka meyakininya lebih utama dan lebih suci dari Makkah al-Mukaramah. Karbala adalah satu tempat berjarak 100 km dari kota Baghdad. Mereka menganggapnya suci karena di sanalah al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, syahid dalam keadaan terzalimi, padahal mereka sendiri yang menyebabkan terbunuhnya beliau.

Setiap tanggal 10 Muharam diadakan ritual berdarah di sana sebagai bentuk perayaan meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, “Di antara keburukan Rafidhah adalah menjadikan hari meninggalnya al-Husain sebagai hari berkabung. Di hari tersebut mereka tidak berhias dan menampakkan kesedihan, mengumpulkan orang-orang yang mau meratap untuk menangis, kemudian mereka menggambar kubur al-Husain menghias dan mengaraknya di ganggang seraya menyeru: Ya Husain….

Adapun meninggalkan berhias adalah termasuk ihdad yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sahih. Adapun niyahah adalah di antara kemungkaran jahiliah yang paling besar dan terjadilah dari perbuatan tersebut berbagai kemungkaran dan keharaman yang tidak bisa terhitung.

Semua perbuatan tersebut adalah bid’ah. Pelakunya, orang yang ridha dengannya, yang membantunya dan pekerjaannya, semua mereka bersekutu dalam kebid’ahan…. (ar-Rudud ‘ala Rafidhah, dengan sedikit perubahan redaksi)

 

Ternyata Merekalah Pembunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma

Mereka rayakan tanggal sepuluh ‘Asyura sebagai hari berkabung, karena itu adalah hari meninggalnya al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma.

Muncul pertanyaan: Siapa sebenarnya yang telah membunuh al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma?

Disebutkan dalam tarikh, al-Husain datang ke Kufah karena panggilan penduduk Kufah yang hendak membaiatnya.

Ketika beliau hendak berangkat beliau dinasihati oleh beberapa orang sahabat, di antaranya oleh saudara beliau Muhamad bin al-Hanafiyah rahimahullah, putra Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Wahai saudaraku, engkau telah tahu pengkhianatan mereka kepada ayah dan saudaramu, aku khawatir keadaanmu seperti keadaan orang yang terdahulu.”

Diriwayatkan juga dalam tarikh, al-Husain sendiri pernah berkata di hadapan mereka, “… Apabila kalian tidak melakukannya dan kalian membatalkan perjanjian kalian dan melepaskan baiat kepadaku, itu bukanlah sesuatu yang aneh, kalian telah melakukannya kepada ayahku, saudaraku, dan anak pamanku muslim.…”

Demikianlah yang terjadi, mereka ahlul Kufah yang mengundang beliau untuk berbaiat kepadanya. Kemudian mereka berkhianat dan memerangi beliau radhiallahu ‘anhu hingga terbunuh. Hal ini diakui oleh tokoh-tokoh Syiah sendiri.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Minhajus Sunnah, “Allah Mahatahu, dan cukuplah Allah ‘azza wa jalla yang tahu bahwasanya tidak ada pada kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam—dengan kebid’ahan dan kesesatan yang ada pada mereka—yang lebih jahat, lebih bodoh, lebih dusta, lebih zalim, dan lebih dekat kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan dan paling jauh dari hakikat iman dibandingkan Rafidhah.” (Minhajus Sunnah)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan kita semua dari kesesatan Syiah dan memberikan taufik kepada penguasa negeri ini kepada al-haq dan membimbing mereka dalam menyikapi Rafidhah sesuai dengan bimbingan syariat Allah ‘azza wa jalla. Amin.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 93

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Muhammad Afifuddin.

Bagi Hasil dalam Usaha

Pemilik modal memberi pinjaman 1 juta dengan syarat penerima modal memberikan bagi hasil 100 ribu per bulan dan penerima modal menyanggupi. Apakah kerjasama ini sesuai syariat? 083878XXXXXX

Kerjasama seperti itu tidak sesuai syariat karena ada unsur spekulasi dan judi. Pemodal bisa merugi karena keuntungan yang didapat ternyata sangat berlipat atau sebaliknya. Yang benar keuntungan dibagi menggunakan persentase sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Sebagai tambahan, hakikat kerjasama tersebut adalah pinjaman berbunga, karena status modal adalah pinjaman yang harus dikembalikan.

 

Ziarah Kubur bagi Wanita

Bolehkah seorang wanita menziarahi makam orang tuanya? Jika wanita tersebut tidak berziarah kubur sekali pun, bagaimana hubungan wanita itu dengan orang tuanya di akhirat kelak? 085383XXXXXX

Ziarah kubur dahulu terlarang kemudian disyariatkan oleh Islam dalam rangka ingat mati dan akhirat. Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan untuk laki-laki. Adapun wanita, sebagian ulama ada yang mengharamkan secara mutlak dan ada yang mengharamkan jika terlalu sering. Namun, jika aman dari fitnah (gangguan) dan tidak ada pelanggaran syariat, boleh sesekali wanita berziarah. Berbakti kepada orang tua yang wafat bagi wanita dengan cara mendoakan.

 

Bekerja di Pabrik Wig

Apa hukum bekerja di tempat pembuatan wig (rambut palsu)? 085729XXXXXX

Bekerja di tempat pembuatan wig hukumnya haram karena merupakan ta’awun di atas dosa. Sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu sangat keras mengingkari wig karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambutnya dengan wig.

 

Hukum Uang Pungli

Bagaimana tindakan yang seharusnya jika kita menerima uang dari pungutan liar (pungli)? 085740XXXXXX

Harta yang haram tidak boleh untuk sesuatu yang berhubungan dengan ibadah seperti masjid, pondok pesantren, kitab agama, dan semisalnya. Namun, untuk yang sifatnya umum, seperti jalan dan WC umum, sebagian ulama membolehkan untuk fakir miskin.

 

Jualan di Kantor Ribawi

Bolehkah titip jual makanan ke kantin kantor yang terdapat perniagaan yang mengandung riba? 081945XXXXXX

Hukum asal jualan adalah halal selama tidak ada akad yang diharamkan. Namun, berjualan/titip jual di tempat yang sudah dikenal dengan kemungkaran atau kemaksiatan tidak diperbolehkan karena ada unsur ridha, mendukung, dan memperbanyak jumlah ahli maksiat.

 

Gadai Riba

Bagaimana hukum menggadaikan barang yang pelunasan uang dari gadai tersebut harus melebihi jumlah uang yang dipinjamkan sebelumnya? Apakah hal ini sama seperti riba? 085747XXXXXX

Gadai dengan pinjaman seperti itu jelas riba.

 

Riba Koperasi

Saya saat ini sedang terjerat riba (pinjam uang di koperasi), sudah setengah setoran. Apakah saya wajib melunasi seluruh setoran atau pokoknya saja? Sebab, kemungkinan besar pihak koperasi tidak mau menerima pinjaman pokoknya saja. 087830XXXXXX

Segera selesaikan tanggungan Anda kepada koperasi. Jika Anda bisa melobi supaya hanya membayar utang pokok, itu lebih baik. Namun, jika tidak mungkin, selesaikan seluruhnya dan yang menanggung dosa adalah mereka. Perbanyak istighfar dan tobat untuk tidak mengulangi lagi.

 

Asuransi Syariah

Apakah asuransi syariah pada masa kini sesuai dengan syariat Islam? 0819XXXXXX

Hukum asal suatu akad adalah mubah sampai ada bukti yang menunjukkan keharamannya, termasuk asuransi. Namun, secara umum asuransi bisnis tidak ada yang syar’i sampai saat ini.

Pahala Berbakti kepada Mertua

Apakah berbakti kepada kedua orang tua pahalanya senilai dengan pahala berbakti kepada mertua? Terutama jika kedua orang tua telah meninggal. 085796XXXXXX

Berbakti kepada orang tua dibandingkan dengan mertua jelas lebih wajib dan lebih utama. Meskipun demikian, Islam sangat menganjurkan berbuat baik kepada mertua. Berbakti kepada orang tua yang sudah wafat adalah dengan mendoakan, berbuat baik kepada keluarga, handai taulan orang tua, dan teman dekat orang tua.

 

Berdoa saat Sujud

Apa boleh kita berdoa saat sujud dalam shalat dengan bacaan doa yang ada di dalam al-Qur’an? 085385XXXXXX

Boleh, namun dengan niat berdoa, bukan tilawatul Qur’an.

 

Uang Hasil Usaha dari Pinjaman Bank

Jika suatu usaha didirikan dengan meminjam uang dari bank, apakah uang hasil dari usaha tersebut halal? 081347XXXXXX

Usaha dari pinjaman bank riba hukumnya haram, hasilnya tidak berkah. Hartanya tercampur dengan yang haram. Selesaikan segera utang kepada bank, selebihnya gunakan untuk usaha.

 

Makanan Pemberian Orang Kafir

Bolehkah kita memakan makanan pemberian orang kafir hasil syukuran? 081575XXXXXX

Makanan orang kafir dalam rangka hari besar atau syukuran mereka tidak boleh dimakan.

 

Masbuk Tanpa Baca Iftitah

Apakah sah ketika seorang makmum masbuk dan mengikuti imam yang sedang sujud tetapi tidak membaca iftitah lebih dahulu? 085729XXXXXX

Shalatnya sah, karena saat itu makmum diperintahkan untuk mengikuti imam dalam kondisi apa pun. Di sisi lain, bacaan iftitah adalah sunnah.

 

Zikir Sambil Memejamkan Mata

Bolehkah zikir sesudah shalat sambil memejamkan mata? 085640XXXXXX

Zikir setelah shalat sambil memejamkan mata dalam rangka kekhusyukan dan konsentrasi tidak masalah, walau bukan suatu keharusan. Yang tidak ada sunnahnya adalah shalat sambil memejamkan mata, kecuali apabila tempat shalatnya terdapat banyak hal yang mengganggu kekhusyukan.

 

Mazhab Hanafi

Apakah mazhab Hanafi itu sesat? Karena pendapatnya selalu berbeda dengan mazhab yang lain. 085318XXXXXX

Mazhab Hanafi tidak dikatakan sesat. Mereka disebut ashabu ar-ra’yi (mazhab yang mengutamakan logika) karena kurang dalam bidang hadits. Tidak semua pendapat mereka salah. Banyak juga yang rajih atau sesuai dengan pendapat jumhur.

 

Shalat Memakai Celana Panjang

Bolehkah kita shalat dengan memakai kemeja dan celana panjang? 085646XXXXXX

Kalau celana tersebut adalah sirwal yang lebar sehingga tidak membentuk aurat, diperbolehkan. Jika celana tersebut semacam pantalon, tidak boleh. Afdalnya ketika shalat seseorang menggunakan pakaian yang syar’i, suci, bersih, dan rapi; bisa jubah, gamis, atau sarung.

 

Perbedaan Mandi Haid dan Janabah

Apakah perbedaan mandi haid dengan mandi janabah dan bagaimana caranya? 085642XXXXXX

Mandi haid caranya dengan me mbersihkan seluruh badan menggunakan air, sebersih dan sewangi mungkin, lalu membersihkan bekas darah pada kemaluan dengan kapas yang sudah diberi minyak wangi. Adapun mandi janabah ada dua cara:

1) Cara yang mencukupi, yaitu dengan mengguyurkan air merata ke seluruh tubuh tiga kali disertai kumurkumur dan memasukkan air ke dalam hidung.

2) Cara yang sempurna. Lihat riwayatnya dalam kitab Bulughul Maram bab mandi janabah.

Bila Kuburan Diagungkan (2)

Bagian ke-2


Bagi sebagian kaum muslimin, kuburan telah menjadi tempat yang istimewa. Bagaimana tidak, di sejumlah kuburan, terutama bila yang dikubur dianggap sebagai orang saleh dan kuburannya dianggap keramat, berduyun-duyun orang dari berbagai tempat datang untuk menyampaikan hajat kepadanya. Lanjutkan membaca Bila Kuburan Diagungkan (2)

Bila Kuburan Diagungkan

Suatu ketika mungkin kita pernah menyaksikan sebuah bus besar membawa rombongan yang di sampingnya terdapat sebuah tulisan “Rombongan Ziarah Makam Sunan Fulan”. Mereka terkadang datang dari tempat yang jaraknya ratusan kilometer, semata hanya ingin berdoa di sisi kuburan Sunan Fulan karena memiliki keyakinan bahwa doanya akan lebih terkabul. Pemandangan seperti ini dan yang sejenisnya banyak dijumpai di sekitar kita. Padahal kalau kita mau menelaah, praktik demikian merupakan perbuatan yang dilarang oleh Islam. Lebih jauh lagi ia merupakan bagian dari perilaku jahiliah, yaitu amalan orang-orang sebelum Islam datang.

Lanjutkan membaca Bila Kuburan Diagungkan