Tahdzir Tidak Mesti Tabdi’ (Vonis Bid’ah)

Hal yang mesti dipahami ialah bahwa ketika seorang alim mentahdzir seseorang tidak berarti bahwa orang yang ditahdzir tersebut seketika menjadi seorang ahli bid’ah, apalagi sampai dipahami bahwa orang yang ditahdzir tersebut telah menjadi kafir, wal ‘iyadzu billah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul ditanya, “Wahai Syaikh kami, semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kebaikan dan keberkahan kepadamu dan kepada ilmumu. Aku memiliki sebuah pertanyaan. Apabila ada dua orang alim berselisih dalam hal mencerca dan menghukumi seseorang sebagai mubtadi’ dan mentahdzir, apa ketentuan untuk mengetahui bahwa yang mencerca telah berpindah dari tahdzir menjadi hukum tabdi’? Lalu apa sikap seorang salafi terhadap saudara-saudaranya yang memilih salah satu pendapat tersebut?”

Beliau hafizhahullah menjawab, “Disebutkan dalam pertanyaan lafadz tajrih (mencerca), tabdi’ (menghukumi mubtadi’), dan tahdzir (memberi peringatan). Tajrih berasal dari kata ‘jarah’ yang maknanya adalah menyifati seseorang dengan celaan terhadap kebagusan agamanya atau ketelitiannya. Tidak setiap tajrih itu bermakna tabdi’, tetapi setiap tabdi’ itu jarah. Tabdi’ adalah menyifati seseorang dengan kebid’ahan, dan ada beberapa keadaan.

  1. Terkadang ucapan atau perbuatannya disifati dengan bid’ah. Ketika itu ia disebut sebagai pelaku bid’ah. Apa yang dia bawa adalah bid’ah dan apa yang berasal darinya adalah bid’ah.
  2. Terkadang pula dia sendiri yang disifati dengan bid’ah. Dikatakan kepadanya bahwa dia mubtadi’. Ketika telah ditegakkan hujah kepadanya, namun dia menentangnya, mengikuti hawa nafsunya, dan tidak kembali kepada al-haq; dia termasuk dari kalangan ahlul ahwa wal bida’.

Tahdzir adalah peringatan dari seseorang dalam satu masalah, satu perkara, satu metode, atau pemikiran. Tidak mesti dia menjadi mubtadi’ yang dicerca. Terkadang seseorang ditahdzir karena sikap lembeknya, sikap kerasnya, sikap ketergesa-gesaannya, atau yang semisalnya.Kajian Utama

Terkadang seseorang ditahdzir sehingga tidak boleh diambil ucapannya secara mutlak karena banyak ungkapan dan ucapannya yang bersifat umum. Terkadang pula tahdzir itu disebabkan karena bid’ah atau kesesatan.

Seorang penuntut ilmu harus kembali kepada seorang alim atau kepada orang yang lebih berilmu darinya tentang maksud (ucapan seorang alim tersebut, pen) agar dia mengetahui hakikat keadaan yang sebenarnya.

Perselisihan ulama dalam hal tersebut kadang terjadi. Hal ini sesuai dengan pengetahuan seorang alim tentang keadaan seseorang dan berbagai urusannya. Manusia bertingkat-tingkat dalam hal mengilmuinya.

Oleh karena itu, nasihat saya kepada si penanya, hendaknya merujuk kepada alim yang mengucapkan hal tersebut dan senantiasa melakukan crosschek kepadanya. Ini adalah cara termudah untuk menghilangkan perselisihan dalam masalah ini.

Hendaknya seorang penuntut ilmu mengokohkan dirinya untuk mengikuti para ulama dalam hal ini. Ini lebih selamat. Jangan terburu-buru mengambil sikap sendiri. Serahkan hal tersebut kepada para ulama sesuai dengan arahan mereka. Aku memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mendapat taufik dan kelurusan sikap kepada kita semua.” (http://www.bazmool.com/fatawa/)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal