Topeng Tebal Islam Nusantara

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sebuah topeng baru berwajah rahmatan lil ‘alamin, muncul di negeri ini. Wajah keriput yang tebal dengan “kosmetika” moderat, toleran, cinta damai, dan menghargai keberagaman. Konon, Islam mereka adalah yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak tobat bukan menghujat, dan seterusnya.

Terbukti, kelompok bernama Islam Nusantara ini memang benar-benar merangkul mesra Syiah, Ahmadiyah, Nasrani, Hindu, Budha, dan kalangan non-Islam. Adapun terhadap saudara-saudara seislam yang mengamalkan ajaran Islam yang berbeda dengan versinya, mereka posisikan sebagai musuh sejadi-jadinya. Lebih-lebih terhadap muslimin yang mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka ajak “tobat” dengan hujatan dan fitnah juga. Tampak jelas, Islam Nusantara hanya menjual istilah. Maka dari itu, demi mengakomodasi istilah-istilah “gaib” yang ditelorkan oleh kelompok ini, tampaknya perlu dibuat kamus JIN alias Jaringan Islam Nusantara.

Sikap “membina tidak menghina” ditunjukkan oleh salah satu tokoh JIN. Dengan (katanya) “memakai hati dan tidak memaki-maki”, ia tampakkan sikap sewot terhadap jenggot. Memelihara jenggot yang merupakan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam —bahkan, banyak ulama yang mewajibkan—dikerdilkan sebagai adat Arab. Orang-orang berjenggot dibodoh-bodohkan. Lupakah dia, pendiri ormas yang dia pimpin sekarang berikut para kiainya juga berjenggot?

Kalau mengaku toleran, mengapa terhadap jenggot begitu antipati?! Kalau mengaku toleran, mengapa ketika ada orang memakai busana yang menutup aurat meradang? Kalau mengaku toleran, mengapa antipati dengan orang yang tidak mau tahlilan? Dengan logika bodoh saja, orang Nasrani, Budha, Hindu, Kong Hu Cu juga tidak tahlilan. Bukankah tidak tahlilan juga bagian dari keberagaman yang selama ini digembar-gemborkan? Lantas mengapa harus membawa-bawa nama Pancasila untuk urusan tahlilan? Siapa yang bodoh dan siapa yang diragukan Pancasila-nya?

Begitu paradoksnya Islam Nusantara. Sibuk menghina atribut Islam yang sejatinya bukan adat Arab, tetapi bungkam dengan banyaknya busana yang mengumbar aurat. Mari buka mata, hijab sebagai busana muslimah muncul setelah datangnya Islam, kala busana orang Arab jahiliah waktu itu mengumbar aurat.

Anggaplah busana itu meniru sesuatu yang telah menjadi kebiasaan di Timur Tengah, haruskah kita sesewot itu? Mengapa dia tidak sewot dengan banyaknya orang yang membebek dengan Barat, tak hanya dalam hal busana, namun juga gaya hidupnya? Mengapa tidak jujur bahwa inti ajaran Islam Nusantara hanya anti-Arab? Kalau memang mengedepankan yang berbau Nusantara, mengapa Ahmadiyah dan Syiah yang notabene bukan Nusantara dirangkul demikian mesra?

JIN juga begitu semangat mengatakan bahwa yang di luar mereka sebagai Islam yang hanya menonjolkan simbol. Padahal mereka jauh lebih parah, lebih mengedepankan seremoni namun jauh dari substansi. Seremoni yang tidak ada bimbingannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dibela mati-matian. Semakin kehilangan substansi manakala mengaku cinta Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi kala ada muslimin yang mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti memelihara jenggot, dicerca habis-habisan.

Sadar atau tidak, Islam Nusantara menahbiskan diri sebagai “karyawan” Salibis. JIN tak lebih dari aliran yang intoleran terhadap sesama Islam, tetapi begitu toleran terhadap non-Islam. Cuma mengelus dada saja dengan aliran yang paradoks ini. Aliran yang seharusnya masuk kelompok “aneh tapi nyata”.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته