Siapa gerangan yang tak ingin berbahagia dalam hidup ini? Tentu kita sepakat menjawab, “Tidak ada seorang pun.” Ya, semua pasti mendamba yang namanya bahagia.

Insan yang menjalin rumah tangga pun ingin meraih bahagia. Pengantin barukah atau pengantin lama, tidak ada beda dalam keinginan yang satu ini. Namun kenyataan yang ada walau semua ingin beroleh bahagia, ada yang berhasil meraihnya dan banyak pula yang gagal. Dalam kehidupan rumah tangga pula, tidak semua sukses meraih bahagianya. Awalnya saja bahagia, setelah waktu berlalu, entah ke mana raibnya bahagia itu….?

Ambisi meraih bahagia dalam hidup ini tidaklah tercela dan tidak pula seseorang disalahkan ketika menempuh sebab-sebab bahagia, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat. Sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, menyampaikan hadits yang agung dari sang junjungan shallallahu ‘alaihi wa sallam,

اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ. اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ باِللهِ وَلاَ تَعْجَزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَ لكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah. Pada semuanya ada kebaikan. Berambisilah untuk beroleh apa yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta jangan kamu merasa lemah.

Jika menimpamu sesuatu, janganlah kamu berkata, “Seandainya aku melakukan ini dan itu niscaya akan begini dan begitu.” Akan tetapi katakanlah, “Qadarullah wa masya’a fa’ala (Ini adalah ketetapan takdir Allah subhanahu wa ta’ala dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan),” karena kalimat ‘lau’ (seandainya) itu membuka perbuatan setan. (HR. Muslim)

Yang tercela hanyalah bila seseorang berambisi terhadap sesuatu yang bermudarat dengan kebodohannya dan buruk sangkanya, sementara dia yakin upayanya itu merupakan kebahagiaan. Padahal sejatinya merupakan kesengsaraan walaupun ada nikmat sesaat yang dirasa. Seperti seseorang yang mencari kebahagiaan dengan menghisap obat-obat terlarang. Disangkanya apa yang dihisapnya adalah obat bahagia padahal racun yang membunuh bahagianya.

Banyak manusia yang keadaannya seperti itu. Mereka mencari kebahagiaan namun tidak mengetahui jalan yang harus ditempuh dan tidak mengerti pintu mana yang harus diketuk. Jadilah mereka berdiri dalam keadaan bimbang, ke sana kemari, atau berjalan serampangan menuju kebahagiaan semu, hingga datanglah suatu hari yang mereka meratap di dalamnya:

قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ١٠٦

Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kesengsaraan kami dan adalah kami orang-orang yang sesat.” (al-Mukminun: 106)

Ada manusia yang menganggap kebahagiaan itu terletak pada materi. Mereka pun berlomba-lomba mengumpulkannya karena disangka sumber bahagia. Ada yang mencari bahagia dalam jabatan, kedudukan, dan kekuasaan hingga mereka rakus untuk menggapainya. Segala cara ditempuh tanpa peduli halal atau haram. Ada yang memandang kebahagiaan itu dengan memuaskan syahwat perut dan kemaluan. Apa saja yang dituntut oleh perut dan kemaluan diturutinya karena disangkanya kebahagiaan ada di situ. Semua yang telah disebutkan tidak lain hanyalah kesenangan dalam kehidupan dunia. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلۡبَنِينَ وَٱلۡقَنَٰطِيرِ ٱلۡمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلۡفِضَّةِ وَٱلۡخَيۡلِ ٱلۡمُسَوَّمَةِ وَٱلۡأَنۡعَٰمِ وَٱلۡحَرۡثِۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسۡنُ ٱلۡمَ‍َٔابِ ١٤

“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran: 14)

Lalu apa sebenarnya bahagia itu? Benarkah kebahagiaan hanya dimiliki orang berduit, berkedudukan, dan terkenal serta bisa mendapatkan apa saja yang dimaui? Bagaimana dengan orang-orang miskin, tidak punya apaapa, tidak kedudukan, tidak pula jabatan, apakah mereka tidak bisa berbahagia?

Anda, wahai pendamba bahagia dalam rumah tangga, kebahagiaan apakah yang Anda cari dalam kehidupan rumah tangga?

Seperti yang telah disinggung di atas, Anda jangan mematok kebahagiaan itu hanya dalam pandangan materi. Namun, lihatlah bahagia itu dengan makna yang lain yang lebih mendalam dan jauh ke depan, kebahagiaan yang sebenarnya! Jadi, walaupun rumah tangga Anda sulit ekonominya misalnya, Anda dan pasangan bisa tetap berbahagia.

Anda belum dapat keturunan dalam kebersamaan Anda dengan pasangan sehingga Anda tidak merasa bahagia?

Oh… jangan demikian. Anda tetap bisa berbahagia bila Anda menyadari tentang keadilan Allah subhanahu wa ta’ala dalam ketetapan takdir-Nya.

Anda tidak berbahagia karena tidak dicintai atau tidak bisa mencintai pasangan Anda? Rumah tangga Anda banyak masalah sehingga jauh dari kebahagiaan?

Semua ini telah diberikan solusinya oleh Islam, tinggal Anda mau mencarinya atau tidak, mau mempelajarinya ataukah tidak. Sungguh, dengan belajar Islam yang haq kemudian diamalkan, hati menjadi lapang. Persoalan dapat dicarikan solusinya hingga kebahagiaan pun lebih dekat.

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (ath-Thalaq: 2—3)

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

Apabila Anda ingin mengetahui tanda-tanda seseorang telah benar langkahnya dalam menempuh jalan orang-orang yang berbahagia, renungkanlah ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya al-Fawaid (hlm. 400) berikut.

“Di antara tanda kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat tawadhu (rendah hati kepada sesama), dan kasih sayangnya. Semakin bertambah umurnya, berkuranglah ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanannya, dan kegemarannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kedekatannya dengan orang-orang, semakin bersemangat memenuhi kebutuhan mereka dan rendah hati terhadap mereka.

Sementara itu, di antara tanda kesengsaraan dan kecelakaan seorang hamba adalah semakin bertambah ilmunya, bertambah pula sifat sombongnya. Semakin bertambah amalnya, bertambah congkaknya, merendahkan manusia, dan berbaik sangka kepada dirinya sendiri. Semakin bertambah umurnya, bertambah pula ambisi dunianya. Semakin bertambah hartanya, bertambah pula kikirnya dan keengganannya untuk memberi. Semakin bertambah kedudukan dan kemuliaannya, bertambah pula kesombongannya.

Ini merupakan ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang Dia timpakan atas para hamba, maka ada orang-orang yang berbahagia dengannya dan ada yang sengsara karenanya.”

Kesimpulan dari apa yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah adalah orang yang berbahagia adalah orang yang mana kala ditambah nikmat untuknya, maka dihadapinya nikmat tadi dengan amalan kebaikan.

Dalam kitab lain, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kenikmatan kepadanya, maka dia bersyukur. Jika dia diberikan ujian, dia pun bersabar. Jika dia berbuat dosa, dia memohon ampun. Tiga perkara ini (syukur, sabar, dan istighfar) merupakan alamat kebahagiaan hamba dan tanda kesuksesannya di dunia dan di akhirat. Tidak bisa seorang hamba terlepas darinya selama-lamanya. Senantiasa dia berbolak-balik di antara tiga tingkatan ini.” (al-Wabil ash-Shayib, hlm. 11)

Kesimpulannya, orang yang benar-benar bahagia adalah yang bersyukur ketika mendapat tambahan nikmat dan bersabar saat hilang nikmat. Dia menggunakan nikmat tersebut dalam perkara yang Allah subhanahu wa ta’ala ridhai sebagai bentuk rasa syukur dan enggan menggunakan nikmat dalam urusan maksiat kepada Sang Pemberi nikmat.

Dia adalah orang yang suka kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala (inabah), bertobat dari seluruh dosa, enggan menceburkan diri dalam maksiat walaupun di dalamnya ada kenikmatan dan kelezatan sesaat.

Karena itu, Anda yang mendamba kebahagiaan sejati dalam rumah tangga, jadikanlah kehidupan rumah tangga Anda beredar di antara syukur dan sabar, inabah (selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala) tobat dan istighfar, niscaya Anda akan dapati bahagia itu dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah