Wanita di Bulan Puasa

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Ramadhan sebentar lagi tiba. Perjalanan waktu yang banyak kita isi dengan berbagai rutinitas keseharian, tak terasa hampir membawa kita kepada bulan yang penuh berkah. Mari kita siapkan diri kita untuk memaksimalkan waktu Ramadhan sebagai bulan penuh ibadah.

Ramadhan telah datang. Insan beriman rindu dengan saat-saat penuh ibadah itu. Dan waktu pun berlalu dengan cepat. Bulan demi bulan, pekan demi pekan, hari demi hari, sehingga yang jauh pun semakin dekat saatnya.
Sudah sepantasanya kita bersiap untuk menyambutnya, seraya berharap kepada Ar-Rahman agar masih diperkenankan berjumpa dengannya.
Persiapan iman, fisik dan ilmu tentang puasa Ramadhan tak patut diabaikan agar tidak ada sesal mendalam ketika bulan itu telah berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pengampunan dari Al-Ghaffar (Dzat Yang Maha Pengampun). Abu Hurairah z mengisahkan:

Nabi n naik ke atas mimbar lalu berkata: “Amin, amin, amin.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tadi naik mimbar lalu mengatakan: “Amin, amin, amin.” Beliau menjawab: “Jibril u datang kepadaku lalu mengatakan: “Siapa yang mendapati bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni hingga ia masuk ke dalam neraka maka semoga Allah menjauhkannya. Katakanlah: Amin. Aku pun mengatakan: “Amin.” … dan seterusnya. (HR. Ibnu Khuzaimah 3/192, Ahmad 2/246, 245, Al-Baihaqi 4/204 dari beberapa jalan dari Abu Hurairah z. Hadits ini shahih sebagaimana dalam Shifat Shaumin Nabi n fi Ramadhan, hal. 24)

Ramadhan Bulan Ibadah
Allah U memberikan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya dengan ditetap-kannya satu bulan yakni Ramadhan sebagai bulan yang sarat dengan kebajikan dan limpahan pahala. Sehingga setiap insan yang beriman kepada Allah U dan hari akhir tidak akan membiarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa amal shalih. Tepatlah jika dikata-kan Ramadhan sebagai bulan ibadah, bulan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Dengan demikian tidak sepantasnya Ramadhan dilewati dengan bermalas-malasan, tidur sepanjang siang, dengan alasan lemas tidak ada tenaga karena perut sedang kosong, sedang menahan lapar dan dahaga.
Ada sebagian muslimah yang bersung-guh-sungguh melakukan amalan ketaatan di bulan Ramadhan. Namun bila datang kebiasaan “bulanan”nya, ia jadi lemah semangat, malas dan tidak lagi giat dalam kebaikan seperti sedia kala. Padahal pintu-pintu kebaikan banyak terbentang di hadapannya. Bila ia tidak dapat puasa dan shalat, ia dapat mengerjakan amalan-amalan yang lain.
Di hadapannya ada doa yang kata Rasulullah n:

“Doa itu adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2969, Ibnu Majah no. 3828. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)
Adapula dzikrullah seperti tasbih, tahmid, tahlil dan takbir, dalam hadits disebutkan:

“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah daripada dzikrullah.” (HR. Ahmad 5/239. Dishahihkan dalam Shahihul Jami’ no. 5644)
Sa’d bin Abi Waqqash z berkata: “Kami berada di dekat Nabi n, maka beliau bersabda:

“Apakah salah seorang dari kalian merasa lemah untuk memperoleh setiap harinya seribu kebaikan?” Bertanyalah seseorang di antara mereka yang duduk-duduk bersama beliau: “Bagaimana salah seorang dari kami dapat memperoleh seribu kebaikan?” Beliau menjawab: “Dia bertasbih kepada Allah seratus tasbih maka akan dicatat baginya seratus kebaikan atau dihapus darinya seratus kesalahan.” (HR. Muslim no. 6792)
Rasulullah n juga bersabda:

“Siapa yang mengucapkan ‘subhanallah wa bihamdihi’ dalam sehari 100 kali akan dihapuskan kesalahannya, walaupun kesalahan itu sebanyak buih lautan.” (HR. Muslim no. 6783)
Di hadapannya ada istighfar, permo-honan ampun dan taubat, di mana Rasulullah n telah memerintahkan:

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari 100 kali.” (HR. Muslim no. 6799)
Adapula sedekah yang kata Rasulullah n:

“Tidak ada seseorang yang bersedekah dengan sebiji kurma pun yang diperolehnya dari penghasilan yang baik/halal kecuali Allah mengambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu Dia mengembangkan/menumbuhkannya sebagai-mana salah seorang dari kalian menjaga/merawat anak untanya hingga menjadi sebesar gunung atau lebih besar lagi.” (HR. Muslim no. 2340)
Termasuk pintu kebaikan yang dapat pula dilakukannya adalah membantu orang yang puasa, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Anas z:

“Kami bersama Nabi n, yang paling banyak di antara kami mendapatkan naungan dari terik matahari adalah yang berlindung dengan pakaian/kainnya. Adapun orang-orang yang berpuasa ketika itu mereka tidak melakukan apa-apa, sedangkan orang-orang yang berbuka (tidak puasa) mereka mengurusi hewan-hewan tunggangan, melakukan pekerjaan dan mencurahkan kesungguhan dan menangani beberapa urusan, maka Nabi n bersabda ketika itu: ‘Pada hari ini orang-orang yang berbuka berlalu dengan membawa pahala (yang besar)’.”1 (HR. Al-Bukhari no. 2890)
Dalam riwayat Muslim (no. 2617) disebutkan dengan lafadz:

“Kami bersama Nabi n dalam safar, di antara kami ada yang puasa dan ada pula yang berbuka (tidak puasa). Lalu kami singgah di suatu tempat pada hari yang panas, yang paling banyak mendapatkan naungan di antara kami adalah yang memiliki pakaian/kain. Di antara kami ada yang berlindung dari matahari dengan tangannya. Maka berjatuhanlah orang-orang yang berpuasa sementara orang-orang yang berbuka bangkit (untuk mengerjakan beberapa pekerjaan dan menolong orang-orang yang puasa). Mereka mendirikan bangunan/tenda-tenda dan memberi minum kepada hewan-hewan tunggangan. Rasulullah n pun bersabda: “Pada hari ini orang-orang yang berbuka berlalu dengan membawa pahala.”
Termasuk kebaikan yang dapat dilakukan adalah memberi makan kepada orang yang puasa. Nabi n bersabda:

“Siapa yang memberi makanan berbuka untuk seorang yang puasa maka ia mendapatkan semisal pahala orang yang puasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang puasa tersebut.” (HR. Ahmad 4/114-115, At-Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi dan Shahih Ibni Majah)

Hukum-hukum Puasa Ramadhan
Di antara muslimah mungkin ada yang belum sepenuhnya tahu bagaimana tuntunan yang benar ketika seseorang menjalani puasa Ramadhan. Karenanya berikut ini kami ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa Ramadhan, semoga dapat memberi manfaat.
1. Berniat
Seseorang yang hendak berpuasa Ramadhan ia wajib berniat sejak malam hari atau sebelum terbit fajar berdasarkan sabda Nabi n:

“Siapa yang tidak meniatkan puasa sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud  no. 2454, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)

2. Waktu puasa
Allah I berfirman:

“Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar.” (Al-Baqarah: 187)
Yang dimaksud dengan benang putih dan benang hitam diterangkan oleh Nabi n dengan sabda beliau:

“Yang demikian itu adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” (HR. Al-Bukhari no. 1916 dan Muslim no. 2528)
Sahl bin Sa’d z berkata:

Tatkala turun ayat ini: “Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam”, maka seseorang bila hendak puasa ia mengikatkan benang putih dan benang merah pada kedua kakinya. Terus menerus ia minum dan menyantap makanannya sampai jelas baginya melihat perbedaan benang putih dari benang yang hitam. Setelahnya Allah I menurunkan ( kelanjutan ayat tersebut): “… dari fajar.” Hingga mereka pun tahu bahwa yang Allah maksudkan dalam ayat tersebut adalah malam dan siang (jelas terbitnya fajar dan berlalunya malam).” (HR. Al-Bukhari no. 1917 dan Muslim no. 2530)
Dengan demikian waktu puasa itu dimulai dari terbitnya fajar subuh, dan berakhir ketika kegelapan malam datang dari arah timur setelah tenggelamnya bulatan matahari, walaupun cahayanya masih tampak. Sebagaimana dinyatakan Rasulullah n:

“Apabila malam datang dari arah sana (timur) dan siang berlalu ke arah sana (barat), sedangkan matahari telah tenggelam berarti orang yang puasa telah berbuka (telah masuk waktu berbuka).” (HR. Al-Bukhari no. 1954 dan Muslim no. 2553)

3. Sahur
Rasulullah n bersabda:

“Pembeda antara puasa kita dan puasa ahlul kitab adalah makan sahur.”2 (HR. Muslim no. 2545)
Anas bin Malik z berkata: “Rasulullah n bersabda:

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu ada barakah.” (HR. Muslim no. 2544)
Yang paling utama untuk dimakan ketika sahur adalah kurma, sebagaimana sabda Rasulullah n:

“Sebaik-baik sahur seorang mukmin adalah kurma kering (tamar).” (HR. Abu Dawud  no. 2345, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
Disenangi mengakhirkan sahur sampai menjelang terbit fajar. Karena Nabi n dan Zaid bin Tsabit z pernah makan sahur bersama, setelah itu Nabi n bangkit untuk mengerjakan shalat. Anas bin Malik z bertanya kepada Zaid bin Tsabitz: “Berapa jarak waktu antara keduanya?”3 Zaid menjawab: “Sekadar bacaan limapuluh ayat.” (HR. Al-Bukhari no. 575 dan Muslim no. 2547)

4. Perkara yang wajib diting-galkan oleh orang yang puasa
Selain wajib meninggalkan makan dan minum serta jima’, seorang yang berpuasa harus pula meninggalkan ucapan dusta. Rasulullah n bersabda:

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan berbuat dusta maka Allah tidak berhajat/tidak butuh dengan dia (sekedar) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)

5. Yang boleh dilakukan orang yang berpuasa
Di antara perkara yang boleh dilakukan ketika sedang berpuasa adalah:
q Bersiwak
Abu Hurairah z mengabarkan dari Nabi n:

“Seandainya tidak memberatkan bagi umatku niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab Ash-Shaum dan Muslim no. 588)
Hadits di atas diberi judul oleh Al-Imam Al-Bukhari: Bab Siwak Ar-Rathbi wal Yabis Lish-Sha’im. Maknanya, siwak yang basah dan kering untuk orang yang sedang puasa. Al-Imam Al-Bukhari memberikan isyarat dengan judul yang beliau berikan ini untuk membantah pendapat yang memakruhkan bersiwak dengan siwak yang masih basah bagi orang yang sedang puasa, seperti pendapat Malikiyyah dan Asy-Sya’bi. (Fathul Bari, 4/202)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “(Hadits Abu Hurairah ini) mengandung kebolehan bersiwak di setiap waktu dan setiap keadaan.” (Fathul Bari, 4/202). Dengan demikian orang yang sedang berpuasa termasuk di dalamnya.
q Mendapati fajar dalam keadaan junub
‘Aisyah dan Ummu Salamah c mengabarkan bahwa Rasulullah n menemui waktu fajar dalam keadaan junub karena menggauli istrinya, kemudian beliau mandi dan puasa. (HR. Al-Bukhari no. 1925 dan Muslim no. 2584)
q Memasukkan air ke hidung (istinsyaq) namun tidak bersungguh-sungguh
Rasulullah n bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam istinsyaq kecuali bila sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmidzi no. 788, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih At-Tirmidzi)
q Mencicipi makanan
Tidak apa-apa bagi orang yang berpuasa untuk mencicipi makanan guna mengetahui asin atau tidaknya, ataupun rasa lainnya. Demikian pula mengunyahkan makanan untuk anaknya, selama tidak ada sedikitpun dari makanan tersebut yang masuk ke kerongkongannya. Hal ini tersebut dalam beberapa atsar dari salaf berikut ini:
u Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan secara mu’allaq (tanpa menyebutkan sanadnya) dalam Shahih-nya dengan shighat jazm perkataan Ibnu ‘Abbas c: “Tidak apa-apa seseorang mencicipi makanan dari bejana atau sedikit dari makanan.” (Kitab Ash-Shaum, bab Ightisal Ash-Sha`im4)
u Ibnu ‘Abbas c berkata: “Tidak apa-apa seseorang yang sedang berpuasa merasai cuka atau makanan lain selama tidak ada yang masuk ke kerongkongannya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47)
u Ma’mar berkata: “Aku pernah bertanya kepada Hammad tentang seorang wanita yang sedang puasa mencicipi kuah dari masakannya. Hammad berpendapat bahwa hal itu tidak apa-apa.” (Riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, no. 7510)
u Al-Hasan Al-Bashri berpandangan tidak apa-apa orang yang puasa mencicipi madu, samin/mentega dan semisalnya kemudian mengeluarkannya (tidak menelan-nya). (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47)
u Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t pernah ditanya tentang mencicipi makanan bagi orang yang puasa. Beliau menjawab: “Mencicipi makanan bagi orang puasa makruh bila tanpa ada kebutuhan. Namun bila dilakukan tidaklah membatalkan puasa. Adapun bila ada keperluan maka hukumnya seperti hukum berkumur-kumur bagi orang puasa.” (Majmu’atul Fatawa libni Taimiyyah, 13/142)

q Memakai celak
Ada beberapa hadits yang menyebutkan masalah bercelak bagi orang yang sedang puasa. Namun semua hadits itu tidak lepas dari perbincangan. Karena itulah Al-Imam At-Tirmidzi t mengatakan: “Tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi n dalam bab ini.” (Sunan At-Tirmidzi, Kitab Ash-Shaum, bab Ma Ja`a fil Kuhli Lish-Sha`im)
Adapun mayoritas ahlul ilmi/jumhur berpandangan bahwa bercelak bagi orang yang puasa hukumnya mubah, sebagaimana diisyaratkan oleh Asy-Syaukani t dalam Nailul Authar (4/260).
‘Atha`, Ibrahim An-Nakha’i dan Az-Zuhri berkata: “Tidak apa-apa bercelak bagi orang yang puasa.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/46 dan riwayat Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 7514, 7515)
Ibnu Hazm berpendapat dalam Al-Muhalla (4/326) bahwa bercelak tidak membatalkan puasa. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syai-khul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid-nya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t.
6. Berbuka (Ifthar)
Beda halnya dengan sahur yang sunnah untuk diakhirkan, dalam berbuka (ifthar) dituntunkan untuk ta’jil (disegerakan). Karena Rasulullah n bersabda:

“Manusia terus menerus dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Al-Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 2549)
Hal ini merupakan Sunnah Rasul n menyelisihi Yahudi dan Nasrani sebagaimana disabdakan Nabi n:

“Terus-menerus agama ini dzahir/tampak selama manusia menyegerakan berbuka, karena Yahudi dan Nasrani mereka mengakhirkan berbuka.” (HR. Abu Dawud  no. 2353, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/420)
Nabi n telah mencontohkan makanan yang beliau makan ketika berbuka seperti yang disampaikan Anas bin Malik z:

“Adalah Rasulullah n berbuka sebelum shalat Magh-rib dengan memakan beberapa butir kurma basah (ruthab), bila tidak ada ruthab beliau berbuka dengan kurma kering (tamar), bila tidak ada tamar beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim, Al-Jami’ush Shahih Mimma Laisa fish Shahihain, 2/419-420)
Dan dituntunkan ketika berbuka membaca doa:

“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat (hilang kekeringan yang disebabkan rasa haus) serta telah tetap pahala Insya Allah.” (HR. Abu Dawud no. 2357, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)
Demikian sedikit bekal yang dapat kami berikan kepada pembaca muslimah.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani t berkata: “Bukanlah yang dimaksudkan di sini bahwa orang-orang yang puasa kurang pahalanya. Namun yang dimaukan adalah orang-orang yang berbuka memperoleh pahala dari pekerjaan mereka dan memperoleh semisal pahala orang yang berpuasa. Karena mereka melakukan kesibukan/pekerjaan mereka dan mengambil alih pekerjaan orang-orang yang sedang puasa.” (Fathul Bari, 6/104)
2 Sementara terdapat perintah beliau n agar kita menyelisihi ahlul kitab dan tidak tasyabbuh dengan mereka. Sehingga makan sahur ketika hendak puasa di keesokan harinya merupakan penyelisihan terhadap puasa yang dilakukan ahlul kitab.
3 Yakni jarak antara selesai makan sahur dengan mulainya shalat. Demikian kata Ibnu Hajar dalam Al-Fath, 4/138, Kitabush Shiyam Bab Qadru Kam baina Sahur wa Shalatil Fajr.
4 Dibawakan secara maushul (bersambung sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Abbas z) oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 3/47