Yahudi dan Nasrani dalam Perspektif Islam Nusantara

Judul di atas mungkin membuat heran sebagian orang. Pasalnya, setiap muslim sejati pasti meyakini kebatilan agama Yahudi dan Nasrani. Dalam sanubarinya terpatri hanya Islamlah satu-satu agama yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala. Islam yang mana? Tentu, Islam yang dibawa Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yangdiridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Amat banyak dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menjelaskan kebatilan agama Yahudi dan Nasrani baik darisisi tauhid, ibadah, maupun muamalah. Mengingat orang-orang Yahudi dan Nasrani sangat getol menjajakan kebatilan dan kesesatannya maka Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan umat Islam dari makar mereka. Firman-Nya subhanahu wa ta’ala,

        وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰۗ وَلَئِنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِي جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ وَلَا نَصِيرٍ ١٢٠

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).’ Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah: 120)

وَدَّت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَوۡ يُضِلُّونَكُمۡ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ ٦٩ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تَكۡفُرُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَأَنتُمۡ تَشۡهَدُونَ ٧٠

“Segolongan dari ahli kitab ingin menyesatkan kalian, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. Hai ahli Kitab, mengapa kalian mengingkari ayatayat Allah, padahal kalian mengetahui (kebenarannya).” (Ali Imran: 69—70)

Berbeda halnya dengan Islam Nusantara. Justru sikap “toleransi” yang lebih dikedepankan. Seakan ayat-ayat peringatan itu berlalu begitu saja. Tak mengherankan apabila di antara pegiat sejatinya ada yang berposisi sebagai penasihat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PMKRI).

Bagaimanakah sejatinya sikap mereka terhadap agama Yahudi dan Nasrani? Simaklah pernyataan berikut ini.

  • Ulil Abshar Abdalla berkata, “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran.” (Gatra, 21 Desember 2002)

“Bagi saya Yahudi, Kristen, Islam adalah agama tauhid. Tetapi tauhid dengan versi yang berbeda-beda.” (icrponline.org)

  • Said Aqi Siradj berkata, “Agama yang membawa misi tauhid adalah Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ketiga agama tersebut datang dari Tuhan melalui nabi dan rasul pilihan. Yahudi diturunkan melalui Musa, Nasrani diturunkan melalui Isa, dan Islam diturunkan melalui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kedekatan ketiga agama samawi yang sampai saat ini dianut manusia semakin tampak jika dilihat dari genealogi ketiga utusan (Musa, Isa, Muhammad) yang bertemu pada Ibrahim. Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai the Founding Father’s bagi agama tauhid. Jadi, ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid….” (Menuju Dialog Teologis Kristen Islam karya Bambang Noorsena)

Terkait Kristen Ortodoks Syria (KOS), Said Aqil Siradj berkata, “Dari ketiga macam tauhid di atas (tauhid al-rububiyyah, tauhid al-uluhiyyah dan tauhid asma’ wa shifat), maka tauhid Kanisah Ortodoks Syria jelas mengakui bahwa Allah adalah Tuhan sekalian alam yang wajib disembah. Secara al-uluhiyyah, ia juga mengikrarkan Laa ilaaha illallah, “Tiada tuhan (ilah) selain Allah”, sebagai ungkapan ketauhidannya. Sementara dari sisi tauhid sifat dan asma Allah, secara substansial tidak jauh berbeda. Hanya ada perbedaan sedikit tentang sifat dan asma Allah tersebut…

Walhasil, keyakinan Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syariah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid.” (Menuju Dialog Teologis Kristen Islam karya Bambang Noorsena, hlm. 165)

Dari pernyataan-pernyataan di atas dapat diambil beberapa kesimpulan tentang pandangan mereka, antara lain:

  1. Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran.
  2. Yahudi, Nasrani, dan Islam adalah agama tauhid.
  3. Ketiga agama tersebut sama-sama memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat tauhid.
  4. Ketiga agama tersebut mengakui Ibrahim sebagai the Founding Father bagi agama tauhid.
  5. Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syari’ah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala, apakah semua agama sama, dan semuanya menuju jalan kebenaran?

Kalau yang dimaksud adalah sebagaimana yang diturunkan pada setiap rasul, sebelum terjadinya penyimpangan dan penyelewengan pada agama-agama tersebut, termasuk Yahudi dan Nasrani, pernyataan di atas dapat dibenarkan dalam hal tauhid.

Namun, tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke muka bumi ini melainkan setelah terjadinya penyimpangan dan penyelewengan pada kedua agama tersebut, baik dalam masalah tauhid, pengubahan kitab suci, maupun yang lainnya.

Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawa Islam kepada segenap umat manusia sebagai satu-satunya agama yang benar sekaligus menggantikan semua agama yang ada kala itu dalam semua aspek keberagamaan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ ٩

“Dialah (Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah memenangkan agama tersebut atas semua agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (ash-Shaf: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seseorang dari umat ini dari kalangan Yahudi atau Nasrani kemudian meninggal dunia dalam keadaan belum beriman terhadap agama yang aku diutus dengannya, melainkan dia tergolong dari penduduk neraka.” (HR . Muslim no. 218, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Tak mengherankan, pada 6 H, tepatnya setelah Perundingan Hudaibiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggencarkan dakwah kepada mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka kepada Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melayangkan surat kepada Raja Romawi Heraclius yang beragama Kristen, mengajaknya dan segenap rakyat Romawi kepada Islam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melayangkan surat kepada raja-raja besar dunia lainnya; Persia dan Mesir, mengajak mereka semua kepada Islam.

Adapun Yahudi, sudah terlebih dahulu diajak kepada Islam, karena memang mereka hidup berdampingan di Kota Madinah. Namun, Yahudi menentang keras ajakan tersebut, bahkan menyeret kaum muslimin kepada pertempuran fisik. Tak urung, meletuslah pertempuran dengan Yahudi Bani Qainuqa’, Yahudi Bani Quraizhah, dan Yahudi Bani Nadhir di waktu yang berbeda-beda. Mereka semua porak-poranda dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada awal tahun 8 H meletus pertempuran dahsyat melawan Kerajaan Romawi di Mu’tah. Gugur sebagai syahid tiga orang panglima umat Islam: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah radhiallahu ‘anhum. Pasukan pun berhasil dikendalikan oleh Panglima Besar Khalid bin al-Walid radhiallahu ‘anhu.

Pada tahun 9 H, berdasarkan informasi intelijen yang valid, diketahui bahwa Kerajaan Romawi sedang mempersiapkan pasukan besar untuk menyerang Kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengumpulkan para sahabat agar mempersiapkan segala sesuatunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertindak langsung sebagai Panglima Perang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa pasukan Islam menuju wilayah Tabuk, guna menyongsong kedatangan pasukan Romawi di wilayah tersebut.

Mendengar pasukan Islam sudah siap menyongsong di Tabuk, kegentaran pun menghantui pasukan Romawi. Akhirnya, mereka urungkan operasi yang telah dirancang secara matang itu.

Pada tahun 11 H, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyiapkan pasukan besar untuk menggempur salah satu wilayah strategis Kerajaan Romawi di Syam dan menunjuk Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma sebagai panglima perangnya. Pasukan bergerak sampai di wilayah Jurf, hingga terdengar berita kematian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu selaku khalifah pertama yang menggantikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, melanjutkan misi mulia itu dan berhasil meraih target yang diinginkan.

Episode ini terus berlanjut, hingga berkecamuk perang terdahsyat dalam sejarah perang Islam-Romawi di wilayah Yarmuk pada akhir masa kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dan awal masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Kemenangan akhir pun berada di tangan pasukan Islam. Dengan itu, runtuhlah Kerajaan Romawi yang telah menguasai belahan dunia bagian barat selama berabad-abad.

Sekiranya agama Yahudi dan Nasrani masih terhitung di atas tauhid dan memiliki komitmen untuk menegakkan kalimat Tauhid setelah kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi mengajak mereka kepada Islam dan tidak akan terjadi pula episode pertempuran yang memakan waktu panjang.

Adapun klaim Yahudi dan Nasrani bahwa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah the founding fathers (pendiri) dari agama (baca: tauhid) mereka, Allah subhanahu wa ta’ala telah mendustakan klaim tersebut di satu sisi, dan di sisi yang lain meneguhkan agama Islam yang dibawa Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٦٧ إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٦٨

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, melainkan seorang yang lurus (jauh dari syirik) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 67)

Adapun pernyataan bahwa Kristen Ortodoks Syria dengan Islam (Sunni) walaupun berbeda dalam hal peribadatan (syariah), pada hakikatnya memiliki persamaan yang sangat substansial dalam bidang tauhid. Jadi, pernyataan tersebut tidak dapat dibenarkan. Ia justru sebuah penyimpangan yang nyata.

Kristen Ortodoks Syria meyakini bahwa Tuhan mereka adalah Isa al-Masih. Berbeda halnya dengan Islam, Isa al-Masih tidak lain adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Apabila dikatakan bahwa Kristen Ortodoks Syria mengikrarkan Laa ilaaha illallah, “Tiada tuhan (ilah) selain Allah,” ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan Allah menurut mereka adalah Isa al-Masih.

Berbeda halnya dengan Islam, manakala mengikrarkan Laa ilaaha illallah, yang dimaksud dengan Allah adalah Allah yang menciptakan Isa al-Masih. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَۖ قَوۡلَ ٱلۡحَقِّ ٱلَّذِي فِيهِ يَمۡتَرُونَ ٣٤ مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٣٥ وَإِنَّ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ٣٦

“Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah,” maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka beribadahlah kalian semua hanya kepada-Nya. Ini adalah jalan yang lurus.” (Maryam: 34—36)

Kristen Ortodoks Syria meyakini bahwa Maryam adalah walidatul ilah (Bunda Tuhan). Berarti, Tuhan diperanakkan. Berbeda halnya dengan Islam yang meyakini bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَمۡ يَلِدۡ وَلَمۡ يُولَدۡ ٣

“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.” (al-Ikhlas: 3)

Demikian gamblangnya perbedaan antara Kristen Ortodoks Syria dan Islam dalam substansial tauhid. Kristen Ortodoks Syria menjadikan Isa al-Masih sebagai Rabb yang diibadahi (baca: syirik), sedangkan Islam menjadikan Allah subhanahu wa ta’ala (bukan Isa al-Masih, melainkan yang menciptakan Isa al-Masih) sebagai satu-satu-Nya Dzat yang dibadahi (baca: tauhid). Janganlah Anda tertipu oleh orang-orang yang menyamakan keduanya.

Akhir kata, demikianlah sajian pencerahan Islam yang dapat kami sampaikan, semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.