Asal Usul Zam-zam dan Manasik Haji (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Sebagian ulama menyebutkan beberapa alasan Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Isma’il q. Akan tetapi, semua itu bukan bersumber dari riwayat yang sahih dari Rasulullah n. Oleh sebab itu, kita kembalikan kepada asalnya, bahwa Nabi Ibrahim q membawa Hajar adalah karena perintah dari Allah l. Inilah yang sesuai dengan riwayat yang sahih dari Ibnu ‘Abbas c, dari Nabi n.

Hijrah ke Makkah
Wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah Ummu Isma’il (Hajar). Benda itu digunakannya untuk menyembunyikan tanda-tanda (kehamilan)nya dari Sarah. Setelah Isma’il lahir, bertambahlah kecintaan Ibrahim terhadap ibu dan anak itu. Akan tetapi, rasa cinta itu tidak mampu menggeser kecintaannya kepada Allah l.
Allah l berkehendak mengatur segalanya sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Allah Maha Melakukan apa yang diinginkan-Nya. Tidak seorang pun berhak dan pantas untuk bertanya mengapa Allah l melakukannya, tetapi merekalah yang pantas untuk ditanya mengapa berbuat ini dan itu.
Setelah jelas mendapat perintah untuk membawa Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim q pun mulai berangkat melintasi sahara yang panas. Dari Palestina ke Makkah, menembus padang pasir dan kerikil yang membara. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan.
Berbekal tekad melaksanakan perintah Allah l, yang pasti mengandung kebaikan, Ibrahim membawa Hajar bersama putranya yang sedang disusuinya sampai di dekat Baitullah, di dekat sebatang pohon besar, di atas cikal bakal sumur Zamzam di bagian masjid yang tertinggi. Saat itu tak ada seorang pun berada di Makkah selain mereka. Tidak pula ada air.
Begitu tiba di lokasi yang kemudian dibangun di atasnya Baitullah (Ka’bah), Ibrahim segera meninggalkan keduanya sambil meletakkan sebuah kantung berisi kurma dan tempat minum. Setelah itu, Nabi Ibrahim q berbalik meninggalkan Hajar dan putranya.
Hajar heran melihat Ibrahim pergi begitu saja tanpa berkata sepatah pun. Dengan cepat dia mengejar Ibrahim sambil bertanya, “Hai Ibrahim, Anda hendak ke mana? Apakah Anda hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya?”
Ibrahim tak menoleh sedikit pun. Hajar semakin heran, tetapi tetap mengikuti langkah Ibrahim dan bertanya. Ibrahim masih diam.
Akhirnya kata Hajar, “Apakah Allah yang menyuruhmu demikian?”
“Ya,” jawab Ibrahim tegas.
Mendengar jawaban tersebut, Hajar berkata, “Kalau begitu, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Dengan tenang, Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim terus berjalan. Hingga ketika tiba di dekat sebuah tikungan dan sudah tak terlihat lagi oleh mereka, Ibrahim berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Baitullah, lalu berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, seperti diceritakan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Wahai Rabb Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)
Setelah itu, Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Palestina.
Hajar yang ditinggalkan di tempat sunyi itu mulai menyusui Isma’il dan meminum air yang ada dalam perbekalan mereka. Tak lama, air itu mulai habis. Hajar mulai kehausan. Bayi mungil itu pun mulai kehausan.
Di lembah yang tandus dan sunyi itu, seorang wanita muda dengan bayinya menghadapi kesulitan. Kalau bukan karena keyakinannya kepada Allah l, tidak mungkin Hajar rela ditinggal sendirian oleh Ibrahim, suaminya, bersama anaknya pula, yang masih membutuhkan perawatan dan kasih sayang.
Isma’il kecil mulai menangis tak tahan merasakan panas di lembah tandus itu. Semakin pilu hati Hajar melihat keadaan anaknya, sementara dia tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada anaknya. Air susunya sudah kering, bekal pun habis.
Hajar menoleh ke sana ke mari, mencari-cari sesuatu yang dapat menghentikan tangis anaknya. Akhirnya, dia pun beranjak dari situ karena tak tahan melihat keadaan putranya, Isma’il.
Dia memandang ke depan, dan dia lihat bukit Shafa di hadapannya adalah bukit yang terdekat dengannya. Hajar pun melangkah mendaki bukit itu. Setelah berada di atas dia memandang ke arah lembah apakah ada orang di sekitar situ? Tetapi, dia tak melihat siapa-siapa. Akhirnya, Hajar turun dari Shafa. Hingga ketika tiba di perut lembah, dia mengangkat ujung kainnya dan berjalan secepat-cepatnya sampai melewati lembah, menuju bukit Marwah yang berhadapan dengannya dan mendaki bukit itu.
Setelah tiba di atas, dia kembali melihat-lihat apakah ada orang di sekitar situ. Tujuh kali Hajar turun naik antara Shafa dan Marwah.
Perbuatan Hajar ini, akhirnya diabadikan dalam syariat Islam sebagai salah satu amalan haji dan umrah yang sangat penting, yaitu sa’i.1
Setelah berada di puncak Marwah, Hajar sayup-sayup mendengar suara, tetapi dia membantah, “Diamlah,” maksudnya ditujukan kepada dirinya sendiri (khawatir halusinasi). Kemudian dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya dan kembali mendengar suara.
Akhirnya Hajar berkata, “Anda sudah memperdengarkannya. Kalau memang Anda memiliki air.…”
Ketika melihat ke arah putranya, ternyata dia melihat malaikat di dekat lokasi Zamzam. Malaikat itu sedang mengorek sesuatu dengan sayapnya hingga tampaklah air. Hajar pun mendekat dan segera membendung air itu dengan tangannya. Mulailah dia menuangkan air itu ke dalam tempat minumnya, sementara air itu terus memancar sesudah diciduk.
Kata Ibnu ‘Abbas c, “Nabi n bersabda, ‘Semoga Allah l merahmati Ummu Isma’il. Seandainya dia membiarkan Zamzam—atau kata beliau, ‘Seandainya Hajar tidak menciduknya,’—pastilah Zamzam menjadi mata air yang terus mengalir.”
Hajar mulai minum sepuasnya dan menyusui putranya. Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut tersia-sia karena di sini akan dibangun Baitullah oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”
Rumah itu di tempat tinggi seperti bukit yang dilewati aliran air di kiri kanannya.
Tahun demi tahun berlalu. Isma’il semakin besar, sedangkan keadaan di sekitar itu tak banyak berubah.

Masyarakat Baru
Suatu ketika, serombongan bangsa Jurhum datang dari arah Kida’ dan singgah di bagian bawah Makkah. Tiba-tiba, mereka melihat burung-burung menuju ke satu arah. Salah seorang dari mereka mengatakan, “Burung-burung ini pasti menuju tempat air, padahal kita sudah sering melewati tempat ini dan tidak pernah ada air di sini.”
Karena penasaran, akhirnya mereka mengutus satu atau dua pencari air, dan ternyata mereka menemukannya. Mereka segera kembali dan menceritakan apa yang mereka lihat. Rombongan itu pun bersiap-siap untuk mendekat ke tempat air. Pada waktu itu, Ummu Isma’il kebetulan berada di dekat sumur Zamzam.
Melihat Hajar di sana, rombongan itu berkata, “Apakah Anda mengizinkan kami tinggal di sini?”
Hajar yang menyukai kebersamaan, segera saja menerima, “Ya, tetapi kalian tidak punya hak atas air ini.”
“Baiklah,” kata mereka.
Mereka pun turun dan menetap di sana. Sesudah itu, mereka mulai mengundang keluarga mereka dan tinggal bersama di lembah itu.
Semakin lama semakin banyaklah keluarga bangsa Jurhum itu pindah dan bermukim di sana, sementara pemuda Isma’il pun tumbuh dan belajar bahasa Arab dari mereka. Hal ini mengagumkan dan menyenangkan mereka.
Melihat Isma’il sudah beranjak menjadi pemuda gagah dan cerdas serta berbudi, mereka pun berniat menikahkannya dengan salah seorang gadis di kalangan mereka.
Tak lama, sesudah pernikahan itu Ummu Isma’il meninggal dunia. Tetapi, tidak ada riwayat menjelaskan apakah Ibrahim datang menjenguk ketika istrinya ini wafat.
Selang beberapa waktu setelah itu, datanglah Ibrahim yang ingin melihat putranya yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Sesampainya di Makkah, Ibrahim tidak menemukan Isma’il, maka dia bertanya kepada istri Isma’il.
Wanita itu pun menjawab, “Isma’il sedang pergi mencari nafkah.” Kemudian Ibrahim menanyakan tentang penghidupan dan keadaan mereka.
Wanita itu menjawab, “Kami dalam kesulitan dan kesempitan.” Dia mengeluhkan keadaannya kepada Ibrahim. Nabi Ibrahim q melihat kekurangan pada menantunya ini. Wanita ini tidak pandai bersyukur, banyak mengeluh, dan tidak pandai menutupi kekurangan keluarga, terkhusus suami.
Ini bukanlah akhlak yang baik. Akhirnya, Nabi Ibrahim q pun berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya agar menukar cagak pintunya.” Lalu Nabi Ibrahim q pergi meninggalkan Makkah, kembali ke Palestina yang jaraknya satu bulan perjalanan.
Sesampainya Isma’il di rumah, dia seperti merasakan ada orang asing yang pernah datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Adakah seseorang yang datang mengunjungi kalian?”
“Ya,” kata istrinya, “Seorang pria tua, begini dan begitu. Dia bertanya kepada kami tentang kamu, lalu saya ceritakan. Dia menanyakan pula bagaimana kehidupan kita, maka saya katakan kami dalam kesulitan dan kesusahan.”
“Apakah dia memesankan sesuatu?” tanya Isma’il.
“Ya. Dia menyuruhku menyampaikan salam buatmu dan berpesan agar kamu menukar cagak pintumu.”
Kata Isma’il, “Dia adalah ayahku, dan menyuruhku menceraikanmu. Susullah keluargamu.” Isma’il pun menceraikan wanita itu dan menikah lagi dengan gadis lain dari suku tersebut.
Tinggallah Nabi Ibrahim q jauh dari mereka, sebagaimana dikehendaki oleh Allah l. Kemudian, beliau kembali mengunjungi mereka, tetapi tidak bertemu dengan Isma’il. Beliau pun mendengar bahwa Isma’il sudah menikah dengan wanita lain dari suku tersebut. Karena tidak bertemu dengan putranya, beliau mendatangi menantunya dan menanyakan tentang Isma’il.
“Dia keluar mencari nafkah untuk kami,” jawab wanita itu.
“Bagaimana mata pencarian dan keadaan kalian?” tanya Ibrahim.
“Alhamdulillah. Kami, dalam keadaan baik dan lapang,” kata wanita itu.
“Apa makanan kalian?”
“Daging.”
“Apa minuman kalian?”
“Air.”
Ibrahim pun berdoa, “Ya Allah, berilah berkah untuk mereka pada daging dan air ini.”
Wanita itu ternyata seorang istri yang salehah. Tahu bagaimana bersyukur kepada Allah l, menghargai pekerjaan suaminya. Dia sudah merasa cukup dengan keadaan yang dirasakannya, bahkan menganggap sangat baik sehingga dia menampakkannya kepada orang lain.
Pada waktu itu belum ada biji-bijian. Seandainya sudah ada, tentu beliau akan mendoakannya juga.
Melihat sikap santun wanita itu, Nabi Ibrahim q berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah dia agar meneguhkan cagak pintunya.”
Setibanya di rumah, Isma’il merasakan ada bekas-bekas orang asing datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Apakah ada seseorang yang mengunjungi kalian?”
“Ya. Seorang pria tua yang gagah, dia menanyaiku tentang dirimu, lalu saya ceritakan kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, maka saya ceritakan bahwa kita dalam keadaan baik.”
“Apakah dia menitipkan pesan?”
“Ya. Dia menitipkan salam buatmu dan menyuruhmu agar meneguhkan cagak pintumu.”
Isma’il pun menerangkan, “Dia adalah ayahku, dan engkau adalah cagak pintu itu. Beliau menyuruhku agar aku tetap menahanmu (sebagai istri).”

Mulai Membangun Ka’bah
Tinggallah Ibrahim jauh dari putranya Isma’il selama yang dikehendaki oleh Allah l. Beberapa waktu kemudian, beliau kembali berkunjung ke Makkah. Pada waktu itu, Isma’il sedang meruncingkan panahnya di bawah sebatang pohon besar dekat Zamzam.
Begitu melihat ayahandanya, Isma’il segera menyambut dan memeluk ayahnya.
Setelah keduanya melepaskan rindu antara ayah dan anak, Ibrahim berkata, “Hai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.”
“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Dan engkau membantuku?”
“Saya akan membantu ayah.”
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun sebuah rumah di sini,” kata Ibrahim sambil menunjuk dataran yang lebih tinggi dari sekelilingnya.
Sejak saat itu mulailah keduanya menaikkan dasar-dasar rumah itu. Isma’il membawakan batu, sementara Ibrahim memasangnya. Setelah agak tinggi, Isma’il datang membawa sebuah batu untuk tempat berdiri Ibrahim. Terus demikian; Ibrahim memasang, Isma’il memberikan batunya. Keduanya tak henti-hentinya berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Beliau berdua terus bekerja sambil mengitari rumah itu tanpa berhenti berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Itulah rumah pertama yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Isma’il, sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah l.
Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang awal mula pembangunan Ka’bah. Benarkah Ibrahim yang mula-mula membangunnya ataukah sudah ada sebelum itu?
Tidak ada riwayat yang sahih yang menjelaskan bahwa malaikatlah yang membangun Ka’bah yang mulia. Kalaupun ada pendapat yang sahih sampai generasi tabi’in atau sesudah mereka (tabi’ut tabi’in), tidak lebih dari kisah Israiliyat.
(insya Allah bersambung)