Atas Nama Kebebasan

Masih ingatkah argumen yang dilontarkan para pengikut al-Qiyadah al-Islamiyah saat diseret ke penjara oleh polisi? Satu di antara argumen yang mereka lempar kepada masyarakat, bahwa mereka berpemahaman seperti itu sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM).

Prinsip kebebasan yang menjadi dasar HAM telah digunakan sebaik-baiknya oleh kalangan al-Qiyadah. Terlepas dari dibenarkan atau tidak menggunakan prinsip kebebasan tersebut, tetapi yang nyata bahwa isu HAM telah menjadi tameng bagi aksi-aksi kesesatan dan penyesatan terhadap umat.

Isu HAM telah menjadi senjata yang logis yang memberi ruang kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu untuk berpemahaman, bertindak, beramal, dan beribadah sesuai dengan apa yang diyakininya. Walaupun keyakinan yang mereka usung tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah alias sesat.

Tak semata itu, banyak kasus yang mengatasnamakan kebebasan lantas bisa eksis di tengah masyarakat. Dengan atas nama kebebasan berekspresi dan seni, seorang artis wanita dengan pakaian seronok, mendedahkan aurat, tampil dengan penuh percaya diri di media-media iklan. Tampilannya yang syur, mengumbar syahwat, dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Baca juga: Efek Negatif Media Massa

Ketika sekelompok masyarakat menggugat, sanggahannya pun bertameng atas nama kebebasan berekspresi dan seni. Lagi, isu HAM telah dijadikan wahana untuk menyebarkan hal tak patut, terlepas apakah alasan demi kebebasan berekspresi dan seni bisa dibenarkan atau tidak.

Lebih dari ini, sepasang muda-mudi atas nama kebebasan, hidup bersama dalam satu flat, didasari suka sama suka, tak ada paksaan dari siapa pun, tak ada pula tekanan dari pihak mana pun. Mereka menikmati hidup tanpa ikatan nikah yang sah. Katanya, tanpa mengganggu siapa pun dan pihak mana pun. Keduanya melakukan itu atas nama kebebasan, merupakan hak keduanya untuk saling mencurahkan kasih sayang dan melampiaskan hasrat biologisnya, walau dengan cara zina. Lagi, isu HAM menjadi alasan logis bagi terbukanya ruang perzinaan. Sekali lagi, terlepas dari dibenarkan atau tidak alasan mereka dengan mengatasnamakan kebebasan.

Sisi lain, atas dasar kebebasan mengemukakan pendapat secara lisan atau tulisan di muka umum, lantas dengan berarak mengerahkan massa turun ke jalan-jalan. Melakukan orasi yang berisi pembeberan “aib” pejabat atau pemerintah. Jalanan menjadi macet, seakan republik ini cuma mereka yang menghuni. Hajat sekian ratus, ribu, bahkan jutaan manusia menjadi terhambat, terganggu, bahkan terlanggar. Sekali lagi, semua itu dilakukan atas nama kebebasan.

Baca juga: Sepenggal Kisah Reformasi

Ini baru yang ada di jalanan. Belum yang terpampang di media elektronik, spanduk, baliho, selebaran, koran, majalah, buku, dan lainnya. Semua berangkat atas nama kebebasan. Sayang, dan amat sangat disayangkan. Seakan penghuni negeri ini sudah tak lagi memiliki adab, etika, sopan santun, tenggang rasa, akhlak terhadap pemerintah, dan nilai-nilai keluhuran yang semestinya turut serta saat menyampaikan pesan, nasihat, usul yang membangun terhadap pemerintah, kelompok masyarakat tertentu, atau yang bersifat perorangan sekali pun.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسۡنٗاا

“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (al-Baqarah: 83)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu  dia berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Dan perkataan yang baik itu merupakan sedekah.” (HR. al-Bukhari, no. 2989; Muslim, no. 56)

Baca juga: Nikmat Lisan, untuk Apa Kita Gunakan?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan ayat,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menginginkan agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

beliau menyatakan bahwa “suka menyebarkan perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” meliputi dua makna:

  1. Menyukai tersebarnya al-fahisyah di tengah-tengah masyarakat muslim.

Termasuk dalam hal ini adalah menyebarkan film-film porno dan koran (majalah, selebaran, dan yang sejenis, ed.) yang jelek, jahat, dan porno. Sungguh, media-media semacam ini, tanpa ragu lagi, termasuk yang menyukai (menghendaki) tersebarnya al-fahisyah di tengah-tengah komunitas muslimin. Orang-orang yang terlibat di dalamnya menginginkan timbul gejolak fitnah (bencana/kerusakan) agama pada diri seorang muslim, melalui apa yang mereka sebarkan melalui majalah-majalah, surat kabar-surat kabar porno yang merusak atau media-media lainnya yang sejenis.

Barang siapa menghendaki (suka) tersebarnya al-fahisyah di tengah komunitas muslim, maka baginya azab yang pedih di dunia dan akhirat.

  1. Menyukai tersebarnya al-fahisyah pada orang tertentu, bukan dalam lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh.

Balasan untuk perbuatan ini adalah azab yang pedih di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/598)

Baca juga: Makar Orang Kafir Melalui Media Massa

Kerusakan demi kerusakan akan senantiasa merambah bumi kala aksi-aksi manusia atas nama kebebasan ditolerir. Peradaban manusia akan terpuruk seiring nilai kebebasan yang lahir dari pemikiran-pemikiran kufur yang menjadi landasan perbuatan manusia. Lihatlah, bagaimana Amerika Serikat dengan mengatasnamakan HAM meluluhlantakkan Afghanistan. Pemerintah AS mengirim pasukannya ke Afghanistan untuk menjaga hukum HAM seperti yang dicantumkan dalam pasal 51 Piagam PBB. (Pengadilan HAM, Indonesia dan Peradaban, hlm. 21—22)

HAM dijadikan alat oleh negara kafir untuk melegalkan kezaliman terhadap negara kaum muslimin. Termasuk dalam konteks ini, isu HAM pun dijadikan alat untuk melemahkan instrumen pemerintahan di Indonesia saat proses reformasi berlangsung. Bersamaan dengan itu rakyat dihasung untuk berani melawan pemerintahnya. Di bawah payung HAM, rakyat memiliki kebebasan menyuarakan aspirasi sebebas-bebasnya.

Yang lebih parah, mereka menjadi kekuatan massa yang dikoordinir dan dimanfaatkan secara politis oleh kelompok tertentu. Tak sedikit yang kemudian melakukan tindakan-tindakan merusak. Anarkisme menjadi model perlawanan terhadap pemerintah yang sah. Ini dampak dibukanya kran demokrasi dan kebebasan.

Baca juga: Sikap-Sikap yang Salah Terhadap Pemerintah

Padahal dalam menyikapi pemerintah, kaum muslimin telah dibimbing Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa: 59)

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yang dimaksud ulil amri pada ayat tersebut berdasarkan penjelasan yang disebutkan ahlul ilmi (ulama) adalah ulama dan umara (pemerintah). Umat Islam wajib menaati pemerintah.

Ketaatan terhadap pemerintah di sini dalam hal ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, firman Allah subhanahu wa ta’ala penyebutannya tidaklah dalam bentuk, وَأَطِيْعُوا أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ (taatilah ulil amri di antara kamu). Ketaatan terhadap pemerintah mengikuti (ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan rasul-Nya), tidak berdiri sendiri. Atas dasar ini, apabila pemerintah memerintahkan kemaksiatan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, tidaklah wajib untuk mendengar dan taat.

Hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma menjelaskan hal ini. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat, dalam hal suka atau benci, kecuali bila yang diperintahkan terhadap hal yang maksiat. Bila diperintah terhadap kemaksiatan, janganlah mendengar dan taat.” (HR. al-Bukhari, no. 7144; Muslim, no. 1839. Lafaz di atas merupakan lafaz Muslim)

Baca juga: Hubungan Antara Rakyat dan Pemerintah dalam Pandangan Islam

Dalam hadits lain disebutkan,

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf.” (HR. Muslim no. 1840)

Kaum muslimin diberi tuntunan pula dalam menyikapi pemerintahan yang melakukan kemungkaran. Caranya dengan nasihat yang disampaikan secara tersembunyi, tidak dengan terang-terangan, atau dipublikasikan kepada masyarakat.

Disebutkan dalam hadits Syuraih bin Ubaid dan selainnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِسُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلاَ يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَّةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُو بِهِ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati penguasa karena satu perkara, janganlah menerangkannya secara terbuka (di depan publik). Akan tetapi, (lakukanlah) dengan cara mengambil tangannya di tempat tertutup bersamanya. Jika dia menerima (nasihat tersebut), itulah (yang diharapkan). Jika tidak, sungguh telah sampai nasihat kepadanya.” (HR. Ahmad, Majma’u az-Zawa`id no. 9161; dinilai sahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Zhilal al-Jannah fi Takhriji as-Sunnah, no. 1096)

Baca juga: Cara Menasihati Pemerintah

Tentang masalah ini, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan bahwa bukan manhaj salaf, menyebarkan aib (cacat, cela, kelemahan, kekurangan) pemerintah serta memublikasikannya di mimbar-mimbar (media-media umum). Sebab, yang seperti itu akan menambah parah keadaan, memupus (kepercayaan rakyat) untuk mendengar dan taat dalam hal yang makruf, dan semakin menjerembabkan ke keadaan yang membahayakan dan tiada manfaat.

Cara yang ditempuh (diikuti) pada kalangan salaf ialah menasihati antara dia dan penguasa (tidak di depan umum), menyuratinya, atau menyampaikan melalui para ulama yang (para ulama ini) akan menyampaikannya kepada penguasa hingga (tercapai) menuju kepada kebaikan. Mengingkari kemungkaran hendaknya tanpa menyebut nama pelaku. Berantaslah masalahnya dengan menyebut masalahnya. Kemungkaran zina, kemungkaran minuman keras (khamr), kemungkaran riba tanpa menyebut siapa pelakunya. Cukup dengan mengingkari kemaksiatan-kemaksiatan dan memperingatkan (masyarakat) dari hal-hal tersebut. Tanpa menyebut fulan sebagai oknumnya.

Saat terjadi fitnah (anarkisme) di zaman Utsman bin Affan radhiyallahu anhu, sebagian masyarakat berkata kepada Usamah bin Zaid radiyallahu anhu, “Apakah engkau tidak melakukan pengingkaran terhadap Utsman?”

Jawab Usamah, “Apakah aku akan melakukan pengingkaran di hadapan orang banyak? Aku akan mengingkarinya (cukup) antara aku dan dia saja. Aku tak ingin membuka pintu kejelekan atas manusia.”

Baca juga: Penerapan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Tatkala mereka telah membuka kejelekan pada masa Utsman radhiyallahu anhu, yaitu dengan melakukan pengingkaran terhadap Utsman radhiyallahu anhu secara terang-terangan, lengkaplah sudah fitnah (petaka), pembantaian, dan kerusakan-kerusakan yang pengaruhnya terus berlangsung hingga sekarang. Hingga kemudian, memunculkan fitnah antara Ali dan Muawiyah radhiyallahu anhuma. Terbunuhnya Utsman dan Ali radhiyallahu anhuma lantaran hal itu. Demikian pula, banyak dari kalangan sahabat dan selainnya yang terbunuh.

Semuanya disebabkan cara melakukan pengingkaran secara terbuka, transparan di depan umum dengan menyebutkan aib-aibnya. Hingga terbakarlah emosi massa (untuk) melawan pemerintahnya. Mereka pun lantas membunuhnya. Nas’alullaha al-’afiyah. (Mu’amalatu al-Hukkam fi Dhau`i al-Kitab wa as-Sunnah, Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah, hlm. 111—112)

Imam at-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan-nya meriwayatkan hadits, (no. 2224) dari Ziyad bin Kusaib al-Adawi yang bertutur,

“Aku sedang bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang tengah berkhotbah. Dia mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal (Mirdas bin Udayah, seorang Khawarij) berkata, ‘Lihatlah kepada pemimpin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasik!’

Abu Bakrah pun lantas angkat bicara, ‘Diam kamu. Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللهِ فِي الْأَرْضِ أَهَانَهُ اللهُ

“Barang siapa yang merendahkan (menghina) penguasa Allah di muka bumi, Allah akan merendahkan (menghinakan) dirinya.” (Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, ash-Shahihah, no. 2296)

Baca juga: Etika Terhadap Penguasa

Demikian akhlak yang dibangun dalam Islam. Selalu dan selalu memperhatikan kemaslahatan masyarakat banyak. Tak semata memfokuskan pada hak asasi orang per orang, sementara kepentingan dan hak orang lain terabaikan. Melalui proses penyampaian aspirasi yang diajarkan Islam, kepentingan umum tidak terganggu (terlanggar), hak individu atau kelompok pun tidak terabaikan. Sebab, setiap individu masih bisa tetap menyampaikan aspirasi tanpa harus mengganggu yang lain serta menimbulkan mudarat bagi masyarakat.

Bagaimana dengan sistem yang dibangun di atas kebebasan?

Ya, karena mereka memiliki hak asasi, hak untuk secara bebas meneriakkan aspirasinya, mereka tak memikirkan lagi dampak aksi-aksinya. Tak peduli lagi apakah setelah mengkritik pemerintah lantas masyarakat terprovokasi atau tidak. Tak peduli lagi, apakah setelah dia bicara suhu politik jadi memanas, ekonomi bergeser menurun, yang semua itu dampaknya kepada masyarakat secara keseluruhan. Atau menjadikan citra negeri muslim menjadi buruk di mata internasional.

Semua tak dipedulikan. Sebab, intinya atas nama kebebasan, hak asasi manusia harus terwujud. Bergulirlah Deklarasi Universal HAM PBB tahun 1948 sebagai tameng dan alat perjuangan.

Baca juga: Menyikapi Penguasa yang Kejam

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَحُكۡمَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ يَبۡغُونَۚ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ  

“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Mari, dengan hati yang jernih, kita pahami Islam ini dengan benar dan baik. Kembalikan setiap masalah yang ada kepada agama. Bukan dengan membanggakan nilai-nilai di luar Islam sebagai wujud rasa inferioritas (minder) di hadapan peradaban Barat.

Mari kita tunjukkan diri sebagai muslim yang baik. Muslim yang menapaki jejak generasi salafush shalih.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin