Dari Allah Datangnya Kebenaran

Perbedaan pendapat—dalam prinsip Ahlus Sunnah—sebenarnya merupakan perkara yang dibenci. Bagaimanapun keadaannya, perbedaan pendapat semaksimal mungkin harus dihindari, karena sekecil apa pun perbedaan tersebut sangat mungkin untuk memunculkan perpecahan. Fakta dalam kehidupan nyata menunjukkan hal demikian. Berpecahnya kaum muslimin menjadi banyak kelompok berawal dari adanya perbedaan dalam memahami sebuah permasalahan. Di sisi lain, perbedaan juga merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Lantas bagaimana kita menyikapi perbedaan itu? Mungkinkah dua pendapat yang berbeda sama-sama benar?

Salah satu prinsip yang sangat agung dan wajib diyakini setiap muslim adalah kebenaran itu datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

“Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Rabbmu.” (al-Kahfi:29)

Al-Qurthubi menjelaskan, “Katakan wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada mereka yang telah kami lalaikan kalbunya dari berdzikir kepada Kami, ‘Wahai manusia, dari Rabb kalianlah kebenaran itu. Allah-lah yang memberi taufik (kepada hamba-Nya) dan yang menimpakan kehinaan’.”[1]

Ibnu Katsir mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Rasul- Nya Muhammad, “Katakanlah wahai Muhammad kepada manusia, ‘Inilah yang aku bawa dari Rabb kalian. Itulah yang benar tiada keraguan padanya…’.”[2]

Asy-Syaukani berkata, “(Katakanlah) kepada mereka yang lalai, ‘Kebenaran itu dari Rabb kalian, bukan dari arah yang lain sehingga (kalau dari yang lain) memungkinkan untuk diubah dan diganti’.”[3]

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦

“Hal itu karena sesungguhnya Allah sajalah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Hajj: 6)

Salah satu asmaul husna adalah “al-Haq” (Yang Mahabenar). Ucapan- Nya adalah benar, perbuatan-Nya benar, perjumpaaan dengan-Nya benar, para rasul-Nya benar, kitab-kitab-Nya benar, agama-Nyalah yang benar, ibadah kepada-Nya saja tiada sekutu padanya itulah yang benar, dan setiap sesuatu yang disandarkan kepada-Nya adalah benar.”[4]

Ibnul Qayyim berkata, “Sesungguhnya Allah Mahabenar, ucapan-Nya benar, agama-Nya benar, kebenaran adalah sifat-Nya, serta kebenaran dari-Nya dan untuk-Nya.”

Atas dasar itu, kebenaran adalah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kebenaran bukan suatu yang nisbi/relatif yang setiap orang bisa mengklaimnya seperti yang dikatakan oleh JIL dan para pengagumnya.

Kebenaran bukan pula diambil dari “kitab suci” atau dari selain ajaran Islam yang Allah turunkan.

Bukan pula Islam sebagai “nilai generis” yang bisa ada di Kristen, Hindu, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama, dan kepercayaan lokal. Bahkan, bisa ada dalam filsafat marxisme seperti kata Cak Nur dan orang sejenisnya, termasuk Ulil Abshar.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi


[1]  Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 10/393

[2] Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 3/86

[3] Zubdatut Tafsir, 384

[4] Tafsir as-Sa’di hlm. 949

kebenaran hakikisumber kebenaran